Anda di halaman 1dari 4

I.

Hemoptisis

I.5 Manifestasi Klinis


Untuk mengetahui penyebab batuk darah kita harus memastikan bahwa perdarahan
tersebut berasal dari saluran pernafasan bawah, dan bukan berasal dari nasofaring atau
gastrointestinal. Dengan perkataan lain bahwa penderita tersebut benar-benar batuk darah dan
bukan muntah darah.
Tabel 1.Tabel membedakan batuk darah dengan muntah darah
No

Keadaan

BATUK DARAH

Prodromal

Darah dibatukkan dengan Darah


rasa panas di tenggorokan

2
3
4
5
6
7

dimuntahkan

dengan rasa mual (Mual

Onset

Stomach Distress)
Darah dibatukkan, dapat Darah dimuntahkan, dapat

Tampilan
Warna
Isi

disertai dengan muntah


Darah berbuih
Merah segar
Lekosit, mikroorganisme,

disertai dengan batuk


Darah tidak berbuih
Merah tua
Sisa makanan

Ph
Riwayat

hemosiderin, makrofag
Alkalis
Penyakit paru

Asam
Peminum alkohol, ulcus

penyakit dahulu
8
9

MUNTAH DARAH

(RPD)
Anemis
Tinja

pepticum, kelainan hepar


Kadang tidak dijumpai
Blood test (-) /

Sering disertai anemis


Blood Test (+) /

Benzidine Test (-)

Benzidine Test (+)

Kriteria batuk darah:


1.Batuk darah ringan (<25cc/24 jam)
2.Batuk darah berat (25-250cc/ 24 jam)
3.Batuk darah masif (batuk darah masif adalah batuk yang mengeluarkan darah sedikitnya
600 ml dalam 24 jam).
Kriteria yang paling banyak dipakai untuk hemoptisis masif:
1. Apabila pasien mengalami batuk darah lebih dari 600 cc / 24 jam dan dalam
pengamatannya perdarahan tidak berhenti.

2. Apabila pasien mengalami batuk darah kurang dari 600 cc / 24 jam dan tetapi lebih
dari 250 cc / 24 jam dengan kadar Hb kurang dari 10 g%, sedangkan batuk darahnya
masih terus berlangsung.
3. Apabila pasien mengalami batuk darah kurang dari 600 cc / 24 jam dan tetapi lebih
dari 250 cc / 24 jam dengan kadar Hb kurang dari 10 g%, tetapi selama pengamatan
48 jam yang disertai dengan perawatan konservatif batuk darah tersebut tidak
berhenti.
Pada pasien TB paru batuk darah terjadi karena pecahnya pembuluh darah. Berat
ringannya tergantung dari besar kecilnya pembuluh darah yang pecah. Darah yang
dikeluarkan dalam dahak bervariasi, mungkin tampak berupa garis atau bercak-bercak darah,
gumpalan darah atau darah segar dalam jumlah sangat banyak.
I.6 Diagnosis
Diagnosis biasanya ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan
gambaran radiologis. Untuk menegakkan diagnosis, seperti halnya pada penyakit lain perlu
dilakukan urutan- urutan dari anamnesis yang teliti hingga pemeriksaan fisik maupun
penunjang sehingga penanganannya dapat disesuaikan.
1. Anamnesis
Hal-hal yang perlu ditanyakan dalam hal batuk darah adalah:
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

Jumlah dan warna darah yang dibatukkan


Lamanya perdarahan
Batuk yang diderita bersifat produktif atau tidak
Batuk terjadi sebelum atau sesudah perdarahan
Ada merasakan nyeri dada, nyeri substernal atau nyeri pleuritik
Hubungannya perdarahan dengan gerakan fisik, istirahat, posisi badan dan batuk
Riwayat penyakit paru atau jantung terdahulu

2. Pemeriksaan fisik
Untuk mengetahui perkiraan penyebab.
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Panas merupakan tanda adanya peradangan.


Auskultasi : Rales
Ada aspirasi
Ronkhi menetap , whezing lokal, kemungkinan penyumbatan oleh bekuan darah
Friction Rub : emboli paru atau infark paru
Clubbing : bronkiektasis, neoplasma

3. Pemeriksaan penunjang

Foto toraks dalam posisi PA dan lateral hendaklah dibuat pada setiap penderita
hemoptisis

masif.

Gambaran

opasitas

dapat menunjukkan tempat

perdarahannya.

Pemeriksaan bronkografi untuk mengetahui adanya bronkiektasis, sebab sebagian penderita


bronkiektasis sukar terlihat pada pemeriksaan X-foto toraks. Pemeriksaan dahak baik secara
bakteriologi maupun sitologi (bahan dapat diambil dari dahak dengan pemeriksaan
bronkoskopi atau dahak langsung).
4. Pemeriksaan bronkoskopi
Bronkoskopi dilakukan untuk menentukan sumber perdarahan dan sekaligus untuk
penghisapan darah yang keluar, supaya tidak terjadi penyumbatan. Sebaiknya dilakukan
sebelum perdarahan berhenti, karena dengan demikian sumber perdarahan dapat diketahui.
Adapun indikasi bronkoskopi pada batuk darah adalah :
a.Bila radiologik tidak didapatkan kelainan
b.Batuk darah yang berulang
c.Batuk darah masif : sebagai tindakan terapeutik.
Tindakan bronkoskopi merupakan sarana untuk menentukan diagnosis, lokasi
perdarahan, maupun persiapan operasi, namun waktu yang tepat untuk melakukannya
merupakan pendapat yang masih kontroversial, mengingat bahwa selama masa perdarahan,
bronkoskopi akan menimbulkan batuk yang lebih impulsif, sehingga dapat memperhebat
perdarahan disamping memperburuk fungsi pernapasan. Lavase dengan bronkoskop
fiberoptik dapat menilai bronkoskopi merupakan hal yang mutlak untuk menentukan lokasi
perdarahan. Dalam mencari sumber perdarahan pada lobus superior, bronkoskop serat optik
jauh lebih unggul, sedangkan bronkoskop metal sangat bermanfaat dalam membersihkan
jalan napas dari bekuan darah serta mengambil benda asing, disamping itu dapat melakukan
penamponan dengan balon khusus di tempat terjadinya perdarahan.
I.7 Diagnosis Banding
Penyakit lain yang dapat didiagnosis banding dengan hemaptoe ec tb paru bervariasi,
tergantung pada penyebab hemaptoe, yaitu :
1. Infeksi : tuberkulosis, staphylococcus, klebsiella, legionella), jamur, virus
2. Kelainan paru seperti bronchitis, bronkiektasis, emboli paru, kistik fibrosis, emfisema
bulosa
3. Neoplasma : kanker paru, adenoma bronchial, tumor metastasis

4. Kelainan hematologi

: disfungsi trombosit,

trombositopenia,

disseminated

intravascular coagulation (DIC)


5. Kelainan jantung : mitral stenosis, endokarditis tricuspid
6. Kelainan pembuluh darah : hipertensi pulmoner, malformasi arterivena, aneurisma
aorta
7. Trauma : jejas toraks, rupture bronkus, emboli lemak
8. Iatrogenik : akibat tindakan bronkoskopi, biopsi paru, kateterisasi swan-ganz,
limfangiografi
9. Kelainan sistemik : sindrom goodpasture, idiopathic pulmonary hemosiderosis,
systemic lupus erytematosus, vaskulitis (granulomatosis wagener, purpura henoch
schoenlein, sindrom chrug-strauss)
10. Obat / toksin : aspirin, antikoagulan, penisilamin, kokain
11. Lain-lain : endometriosis, bronkiolitiasis, fistula bronkopleura, benda asing,
hemoptisis kriptogenik, amiloidosis