Anda di halaman 1dari 99

PENGENDALIAN SUMUR

MINYAK
Oleh : M. Husni Banser

YOGYAKARTA, 29 SEPTEMBER 2014

PT PERTAMINA (PERSERO)
PERTAMINA

Legal Affairs
Page 1

PENGENDALIAN SUMUR
1. Definisi
2. Tujuan
3. Manfaat

PT PERTAMINA (PERSERO)
PERTAMINA

Legal Affairs
Page 2

DEFINISI PENGENDALIAN SUMUR


Pengendalian sumur adalah suatu sistem
untuk menghadapi efek bahaya yang disebabkan
oleh kegagalan operasi yang terjadi pada formasi
sumur seperti dalam pengeboran/pencarian gas
alam dan atau minyak mentah.
Kegagalan pengendalian sumur dapat menimbulkan :
Kick = keluarnya fluida formasi masuk ke lobang sumur.
Blowout = Semburan liar, yaitu keluarnya fluida formasi
sampai menyembur kepermukaan dan tdk dapat di
kontrol.
PT PERTAMINA (PERSERO)
PERTAMINA

Legal Affairs
Page 3

TUJUAN PENGENDALIAN SUMUR


Secara teknis pengendalian sumur bertujuan untuk mencegah
formasi sumur agar tidak terjadi kick dan masuknya fluida ke dalam
lubang sumur selama pengeboran. apabila fluida formasi masuk ke
dalam lubang sumur, hal ini akan menimbulkan terjadinya Kick.
Pengendalian sumur juga di dalamnya meliputi monitoring
sebuah sumur dari tanda-tanda akan terjadinya kegagalan dalam
pengeboran juga untuk mematikan sumur dari semburan liar (blow out).
Kegagalan sistem pengendalian sumur akan mengakibatkan kerusakan
peralatan, kecelakaan kerja atau korban jiwa dan timbulnya kebakaran.

PT PERTAMINA (PERSERO)
PERTAMINA

Legal Affairs
Page 4

MANFAAT PENGENDALIAN SUMUR


Pengendalian sumur adalah satu aspek yang sangat
penting pada operasi pengeboran minyak. Apabila kita salah
dalam menanganinya maka akan timbul kick dan akhirnya
terjadi blow out dengan kerugian besar diantaranya:
1.Money : Kehilangan sejumlah minyak/gas yang tersembur
keluar
2. Material: Kerusakan peralatan, kerusakan lingkungan.
3. Man : Korban jiwa ( luka parah/ kematian ).

PT PERTAMINA (PERSERO)
PERTAMINA

Legal Affairs

Page 5

Lanjutan..
Prosedur
pengendalian
sumur
harus
ditempatkan prioritas utama pada saat dimulainya
kondisi yang tidak normal dalam operasi pengeboran.
Idealnya ketika rig baru ditempatkan semua crew
sudah memiliki keterampilan serta pelatihan yang
mumpuni untuk menangani permasalahan yang akan
timbul pada saat pengeboran dilaksanakan.

PT PERTAMINA (PERSERO)
PERTAMINA

Legal Affairs
Page 6

KONSEP DASAR DAN TERMINOLOGI


Tekanan adalah perihal yang sangat penting yang
perlu diperhatikan pada industri minyak dan gas. Tekanan
dapat didefinisikan sebagai daya/kekuatan yang timbul per
unit area. Satuan internasionalnya adalah newton per
square meter (pascals). Dengan kata lain, satuan bar juga
digunakan dalam pengukuran tekanan. 1 bar =
100kilopascals. Pada umumnya tekanan diukur dalam
standar U.S. petroleum industry, yakni pounds force per
square inch (Psi). 1000 q Psi = 6894,76 pascals.

PT PERTAMINA (PERSERO)
PERTAMINA

Legal Affairs
Page 7

TEKANAN HIDROSTATIS
Tekanan hidrostatis (HSP) adalah tekanan yang
diakibatkan berat kolom fluida di atasnya. Tekanan ini
dihasilkan dari daya gravitasi sebuah kolom. Satuan dari
tekanan hidrostatis adalah Psi.
Tekanan Hidrostatis = Height (m) x Density (kg/m) x Gravity
(m/s)
Semua fluida dalam lubang sumur menghasilkan tekanan
hidrostatis. Dalam satuan US, tekanan hidrostatis dapat
dinyatakan sebagai berikut:
HSP = 0,052 x MW x TVD
MW = (Mud Weight or density/ppg)
TVD = (true vertical depth/feet)
PT PERTAMINA (PERSERO)
PERTAMINA

Legal Affairs
Page 8

Lanjutan
0,052 adalah faktor konversi Psi ke satuan HSP
1 ppg = 119,8264273 kg/m
1 ft = 0,3048 metres = 12 inch
1 psi = 0,0689475729 bar
1 bar = 10pascals.

PT PERTAMINA (PERSERO)
PERTAMINA

Legal Affairs
Page 9

TEKANAN GRADIENT
Tekanan gradient adalah tekanan persatuan kedalaman atau
perubahan besar nya tekanan persatuan kedalaman, tekanan ini sering
digunakan dalam pengendalian sumur. Tekanan yang digunakan untuk
fluida dinyatakan dalam tekanan gradient. Satuannya adalah
pascals/meter.
Pressure gradient (psi/ft) = HSP/TVD = 0,052 x MW (ppg)
Besarnya tekanan gradient untuk:
-air tawar (fresh water) = 0,433 psi/ft
-air garam (brine water) = 0,465 psi/ft
- Fluida (per 10 ppg = 0,520 psi/ft
PT PERTAMINA (PERSERO)
PERTAMINA

Legal Affairs
Page 10

TEKANAN FORMASI
Tekanan formasi adalah tekanan yang terjadi dalam
formasi yang mana cairan dan gas terkandung di dalamnya
(atau tekanan yang dimiliki oleh suatu formasi/ lapisan pada
kedalaman tertentu), formasi geologi kerap ditemui dalam
pengeboran minyak dan gas. Dengan istilah lain Tekanan
formasi disebut juga tekanan reservoir. Tekanan formasi
dihasilkan dari tekanan hidrostatis pada formasi fluida.
Tekanan formasi dibagi menjadi 3 tingkatan :
1. Tekanan formasi normal
2. Tekanan formasi abnormal
3. Tekanan formasi subnormal
PT PERTAMINA (PERSERO)
PERTAMINA

Legal Affairs
Page 11

TEKANAN FORMASI NORMAL


Tekanan formasi normal terjadi jika tekanan formasi
sama dengan tekanan hidrostatis. Tekanan hidrostatis
normal dari air bersih adalah 0,433 psi/ft atau 9,792
kilopascals/meter (kPa/m). Dan 0,465 Psi/ft untuk air
dengan larutan padat seperti lumpur, atau 10,516 kPa/m.
Sedangkan untuk density air laut berkisar 9,0 ppg atau
1078,43 kg/m3. Dalam keadaan normal tekanan formasi ini
dapat dikendalikan berkisar antara 9,0 ppg mud.

PT PERTAMINA (PERSERO)
PERTAMINA

Legal Affairs
Page 12

TEKANAN FORMASI ABNORMAL


Tekanan Formasi Abnormal terjadi apabila
tekanan formasi lebih besar dari tekanan hidrostatis.
Pada umumnya untuk mengendalikan ini dibutuhkan
lumpur dengan berat diatas 9,0 ppg. Tekanan ini disebut
juga overpressure atau geopressure yang dapat
menyebabkan sumur blowout sehingga sulit
dikendalikan pada saat dilakukan pengeboran.

PT PERTAMINA (PERSERO)
PERTAMINA

Legal Affairs
Page 13

TEKANAN FORMASI SUBNORMAL


Tekanan formasi subnormal terjadi jika tekanan
formasi yang timbul lebih rendah daripada tekanan normal.
Biasanya formasi seperti ini sdh pernah memproduksi
hydrocarbon. Gradient tekanan di tempat tersebut lebih kecil
dari 0.433 psi/ft.

PT PERTAMINA (PERSERO)
PERTAMINA

Legal Affairs

Page 14

OVERBURDEN PRESSURE
Tekanan overburden adalah tekanan yang timbul dari beratnya batu-batuan
dan kandungan minyak yang berada di atasnya. Tekanan overburden ini bervariasi
dalam region dan formasi yang berbeda. Cenderung berada di dalam formasi vertikal
yang padat. Density dari batuan-batuan itu berkisar pada range 18 22 ppg (2,157
2,636 kg/m3). Range density itu dapat menghasilkan tekanan overburden kira-kira 1
psi/ft (22,7 kPa/m). Umumnya 1 psi/ft tidak digunakan untuk endapan air laut.
Catatan, tekanan overburden yang sangat rendah akan dihasilkan di daerah laut yang
dalam.
S = b x D x g
g = gravitasi
S = Tekanan overburden
b = rata-rata density formasi
D = ketebalan vertikal lapisan sedimen

PT PERTAMINA (PERSERO)
PERTAMINA

Legal Affairs

Page 15

Lanjutan
Average formation bulk density dapat dinyatakan:
b = f + (1- )m
= rock porosity
f = formation fluid density
m = rock matrix density

PT PERTAMINA (PERSERO)
PERTAMINA

Legal Affairs

Page 16

Fracture Pressure
Fracture pressure adalah tekanan yang mengakibatkan formasi
pecah/robek. Dengan kata lain, tekanan tsb menyebabkan formasi
menjadi pecah dan aliran sirkulasi fluid hilang. Satuanya psi/ft (kg/m)
atau (ppg) atau (kPa).
Untuk mengatasi formasi yang pecah umumnya dapat dilakukan
dengan 3 cara :
1.Pompakan lumpur ke dalam formasi. Ini dibutuhkan agar tekanan
lubang sumur lebih besar dari tekanan formasi.
2.Tekanan dalam lubang sumur harus melebihi dari tekanan batuan
formasi.
3.Tekanan lubang sumur harus lebih besar dari salah satu ke-3 prinsip
tekanan dalam formasi.
PT PERTAMINA (PERSERO)
PERTAMINA

Legal Affairs

Page 17

TEKANAN POMPA
(SISTEM PRESSURE LOSSES)
Tekanan pompa sangat berhubungan dengan
kehilangan sistem tekanan. Jumlah total tekanan hilang dari
peralatan sumur minyak sepert drill pipe, drill collar, drill bit,
dan gaya gesek yang hilang sekitar drill collar dan drill pipe.
Sistem kehilangan tekanan ini diukur mulai dari Sistem
sirkulasi ditambah dengan hasil pengukuran total daya gesek.

PT PERTAMINA (PERSERO)
PERTAMINA

Legal Affairs

Page 18

SLOW PUMP PRESSURE (SPP)


Slow Pump Pressure adalah Tekanan sirkulasi yang
digunakan untuk memompa fluid kedalam sumur yang aktif,
termasuk di dalamnya lubang sumur dan semua tangkitangki serta semua perlatan utama dalam pengeboran. SPP
sangat penting pada saat sumur berhenti beroperasi dimana
sirkulasi fluida keluar dari saluran hisap dan turun ke pipa
bor, drill collars, keluar melalui mata bor naik ke atas
annulus dan kembali ke lubang sumur pada saat dilakukan
pengeboran . Ini dilakukan untuk mengurangi rate. SPP
dapat dikatakan juga sebagai Kill Rate Pressure atau Slow
Circulating Pressure atau Kill Speed Pressure.
PT PERTAMINA (PERSERO)
PERTAMINA

Legal Affairs

Page 19

SHUT IN DRILL PIPE PRESSURE


SIDPP ini tercatat pada saat sumur dalam keadaan
mati akibat kick. Ukuran ini berbeda antara tekanan bawah
sumur dengan tekanan hidrostatis dalam pipa bor. Pada saat
sumur ini mati tekanan dalam lubang sumur stabil, jadi
tekanan formasi sama dengan tekanan bawah lubang sumur.
Pipa-pipa pengeboran pada saat itu terisi penuh dengan
cairan. oleh karenanya tekanan formasi dapat dengan mudah
dihitung menggunakan SIDPP. Artinya SIDPP adalah
tekanan formasi pada saat terjadinya kick.

PT PERTAMINA (PERSERO)
PERTAMINA

Legal Affairs

Page 20

SHUT IN CASING PRESSURE (SICP)


SICP adalah suatu perbedaan ukuran antara tekanan
formasi dengan tekanan HSP di annulus ketika terjadi kick.
Tekanan yang terjadi pada annulus dapat dihitung secara
matematis sbg berikut :
FP = HSPmud + HSPinflux + SICP
FP = formation pressure (psi)
HSPmud = Tekanan hidrostatik lumpur pada annulus (psi)
HSPinflux = Tekanan hidrostatik influx (psi)
SICP = shut in casing pressure (psi)
PT PERTAMINA (PERSERO)
PERTAMINA

Legal Affairs

Page 21

BUTTOM-HOLE PRESSURE
BHP adalah tekanan bawah sumur. Tekanan ini biasanya diukur di dasar lubang
sumur. Tekanan ini statis, dapat dihitung dengan formula sebagai berikut :
BHP = D x x C
BHP = Bottom hole pressure ( tek, bawah sumur )
D = vertical depth of the well ( kedalaman vertikal dari sumur )
= Density
C = unit conversion factor ( faktor konversi )
Dalam sistem Inggris ditulis, BHP = D x MWD x 0,052
Tekanan bawah lubang sumur tergantung dari hal-hal sbb :
Hydrostatic pressure (HSP)
Shut-in surface pressure (SIP)
Friction pressure
Surge pressure ( tek. yang terjadi lebih tinggi dari tek. bawah lubang sumur )
Swab pressure ( tek. yang terjadi lebih rendah dari tek. bawah lubang sumur )
PT PERTAMINA (PERSERO)
PERTAMINA

Legal Affairs

Page 22

Lanjutan
Oleh karena itu BHP adalah merupakan jumlah semua
tekanan yang ada di dasar lubang sumur :
BHP = HSP + SIP + Friction + Surge - Swab

PT PERTAMINA (PERSERO)
PERTAMINA

Legal Affairs

Page 23

DASAR PERHITUNGAN PENGENDALIAN


SUMUR
Ada beberapa dasar perhitungan yang dibutuhkan
dalam pengendalian sumur. Keseluruhan unit itu
menggunakan satuan US oil field. Tapi unit ini dapat
dikonversikan ke dalam satuan internasional.

PT PERTAMINA (PERSERO)
PERTAMINA

Legal Affairs

Page 24

KAPASITAS
Kapasitas pipa bor adalah hal yang sangat penting dalam
pengendalian sumur, kapasitas dapat dirumuskan sbb :
Kapasitas = ID/1029,4
Kapasitas = volume in barrels/foot (bbl/ft)
ID = diameter dalam (inch)
1029,4 = faktor konversi unit
Juga total dari pipa atau volume dalam lubang sumur dapat
dirumuskan sbb:
Volume in barrels (bbls) = capacity (bbl/ft) x length (ft)
Feet of pipe (ft) = volume of mud (bbls) / kapasitas (bbls/ft)
PT PERTAMINA (PERSERO)
PERTAMINA

Legal Affairs

Page 25

Annular Capacity

PT PERTAMINA (PERSERO)
PERTAMINA

Legal Affairs

Page 26

Dengan cara yang sama dapat dirumuskan :


Annular Volume (bbls) =
Annular Capacity(bbl/ft) x length (ft)
Dan
Feet occupied by volume of mud in annulus =
Volume of mud (bbls) / Annular Capacity (bbls/ft).

PT PERTAMINA (PERSERO)
PERTAMINA

Legal Affairs

Page 27

Fluid Level drop


Fluid level drop adalah jarak antara permukaan lumpur yang akan
mengalami penurunan ketika pipa kering (mata bor tidak menyumbat)
pada saat dicabut dari lobang sumur, dapat dirumuskan sbb :
Fluid level drop= Bbl disp / (CSG cap Pipe disp)
Atau
Fluid level drop = Bbl disp / (Ann cap + Pipe cap)

PT PERTAMINA (PERSERO)
PERTAMINA

Legal Affairs

Page 28

Lanjutan..
Dan tekanan hidrostatis yang hilang dapat dirumuskan sbb:
Lost HSP = 0,052 x MW x Fluid drop
Dimana
Fluid drop = jarak penurunan fluida (ft)
Bbl disp = displacement dari pipa yang dicabut (bbl)
CSG cap = kapasitas casing (bbl/ft)
Pipe disp = pipe displacement (bbl/ft)
Ann cap = kapasitas annular antara casing dan pipa (bbl/ft)
Pipe cap = kapasitas pipa

PT PERTAMINA (PERSERO)
PERTAMINA

Legal Affairs

Page 29

Lost HSP = tekanan hidrostatis yang hilang (psi)


MW = berat lumpur (ppg)
Ketika pipa dicabut/ditarik (mata bor dalam keadaan
menyumbat) sehingga cairan dari pipa bor tidak dapat
kembali /mengalir ke lubang, maka rumusan Fluid level drop
dapat dihitung sebagai berikut :
Fluid level drop = Bbl disp / Ann cap

PT PERTAMINA (PERSERO)
PERTAMINA

Legal Affairs

Page 30

Kill Weight Fluid


Kill weight fluid atau kill weight mud (fluida/lumpur pembunuh)
adalah density/berat jenis dari lumpur/fluida yang diperlukan untuk
mengimbangi tekanan formasi yang timbul pada saat berhenti
beroperasi. Kill weight mud dapat dirumuskan sbb :
KWM = SIDPP /(0,052 x TVD) + OWM
Dimana
KWM = kill weight mud (ppg)
SIDPP = shut-in drillpipe pressure ( psi)
TVD = true vertical depth (ft)
OWM = Original weight mud (ppg)
PT PERTAMINA (PERSERO)
PERTAMINA

Legal Affairs

Page 31

Tapi jika tekanan formasi ini didapat dari sumber data


sebagaimana tekanan dasar sumur, maka KWM dapat
dihitung dengan rumus sbb :
KWM = FP / 0,052 x TVD
Dimana
FP = Formation Pressure ( Tek. Formasi ).

PT PERTAMINA (PERSERO)
PERTAMINA

Legal Affairs

Page 32

KICKS
Kicks adalah masuknya cairan formasi kedalam
lubang sumur pada saat dilakukan pengeboran,
ini terjadi dikarenakan tekanan yang dihasilkan
oleh lumpur drilling tidak cukup kuat untuk
mengatasi tekanan dari formasi sumur, pada
dasarnya pengendalian sumur dilakukan untuk
mencegah terjadinya Kicks, jika ini tidak dicegah
akan berkembang menjadi Blowout. Jika kicks
tidak dapat dikendalikan biasanya dapat
merusak peralatan drilling.
PT PERTAMINA (PERSERO)
PERTAMINA

Legal Affairs

Page 33

Penyebab terjadinya Kicks


Kicks akan terjadi ketika tekanan bawah lobang dari sebuah
sumur lebih kecil atau jauh dibawah tekanan formasi sehingga
fluida formasi akan masuk ke dalam lubang sumur. Umumnya,
kicks disebabkan beberapa hal :
Kegagalan menjaga lubang terisi penuh pada saat
sumur mati
Swabbing while tripping/swabb effect
Kehilangan sirkulasi/ fluida keliling
Density dari fluid tidak mencukupi/ berkurang
Tekanan yang tidak normal
Pengeboran sumur yang berdekatan
Kehilangan kontrol saat dilakukan stem test
PT PERTAMINA (PERSERO)
PERTAMINA

Legal Affairs

Page 34

Menghindari terjadinya kick

Menghindari
pemompaan
awal
secara
mengejut.
Menurunkan/memasukan rangkaian jangan
terlalu cepat.
Mengeluarkan/mencabut rangkaian jangan
terlalu cepat.
Pada waktu cabut rangkaian, lobang sumur
harus selalu penuh fluida.
Hindari penggunaan fluida dengan viskositas
dan gel strength yang tinggi.

PT PERTAMINA (PERSERO)
PERTAMINA

Legal Affairs

Page 35

Kegagalan menjaga lubang sumur terisi penuh


pada saat sumur mati.
Tripping adalah suatu pekerjaan melepas/mengangkat pipa
drilling dari lubang sumur dan mengembalikannya lagi
kedalam lubang. Kegiatan ini dilakukan jika mata bor yang
dipakai rusak atau tumpul karena digunakan untuk
mengebor lapisan batuan keras. Type pekerjaan ini
dilakukan pada pengeboran sumur minyak yang dalam,
biasanya dibutuhkan 8 kali bahkan lebih dilakukan
pengangkatan pipa bor dan penggantian mata bor yang
rusak untuk satu sumur.
Tripping out of the hole artinya jumlah volume seluruh pipa
bor yang dilepas/dianggkat dari sumur. Volume yang
kosong ini harus di isi cairan lumpur dengan volume yang
sama.
PT PERTAMINA (PERSERO)
PERTAMINA

Legal Affairs

Page 36

Lanjutan.
Jika
penggantian
dengan
lumpur
tidak
dilakukan,
maka
berakibat
permukaan
cairan/fluid akan jatuh/turun dan menyebabkan
hilangnya Tekanan Hidrostatis (HSP) serta
hilangnya Tekanan bawah lubang sumur ( BHP ),
Jika tekanan bawah lubang sumur/BHP lebih
rendah dibawah tekanan formasi maka akan
menyebabkan terjadi nya Kick.

PT PERTAMINA (PERSERO)
PERTAMINA

Legal Affairs

Page 37

Swabbing while tripping


Swabbing terjadi jika tekanan dasar sumur
menurun sehingga menyebabkan timbulnya efek
tarikan keatas terhadap pipa bor didalam lubang
sumur. Sewaktu peralatan bor dicabut, maka akan
menyisakan ruang yang kosong yang harus segera
di ganti biasanya dengan memompakan lumpur,
jika rate yang keluar lebih besar dari lumpur yang
dipompakan, makan akan terjadi swabb. Akibat
swabbing tekanan dasar sumur lebih rendah dari
tekanan
formasi,
ini
akan
mengakibatkan
terjadinya kick.
PT PERTAMINA (PERSERO)
PERTAMINA

Legal Affairs

Page 38

Lost Circulation (hilangnya sirkulasi)


Hilangnya aliran sirkulasi biasanya dikarenakan
tekanan hydrostatis masuk ke formasi yang
retak, pada saat sirkulasi hilang, ketinggian
volume fluida pada kolom berkurang ini
menyebabkan turunnya tekanan Hydrostatis
dalam sumur. Hal ini dapat menimbulkan
terjadinya kick jika tidak segera mengisi lubang
agar tetap penuh.

PT PERTAMINA (PERSERO)
PERTAMINA

Legal Affairs

Page 39

Hilangnya sirkulasi disebabkan :


Kelebihan berat lumpur
Terlalu banyak kehilangan gaya gesek
annular
Besarnya tekanan surge pada saat
sumur mati
Besarnya tekanan shut-in

PT PERTAMINA (PERSERO)
PERTAMINA

Legal Affairs

Page 40

Menurunnya Density Fluida


Jika density/berat jenis dari lumpur dalam lubang
sumur menurun akan berakibat
tidak dapat
mengimbangi tekanan formasi, dan akan terjadi
kick. Menurunnya Density dari fluida disebabkan:
-Menipisnya/mencairnya lumpur
-Hujan deras dalam penampung lumpur/Pits
-Mengendapnya barite dalam penampung lumpur
- Dan lain-lain.

PT PERTAMINA (PERSERO)
PERTAMINA

Legal Affairs

Page 41

Lanjutan..
Penyebab lain timbulnya kicks pada
pengeboran minyak adalah masuknya
tekanan abnormal kedalam formasi,
sehingga tekanan formasi akan naik
melebihi tekanan dasar sumur.

PT PERTAMINA (PERSERO)
PERTAMINA

Legal Affairs

Page 42

Pengeboran Pada Sumur yang


berdekatan
Pengeboran sumur yang berdekatan ini juga dapat
menimbulkan masalah, biasanya pengeboran lepas
pantai melakukan pengeboran miring pada platform
yang sama, jika pengeboran sumur menembus
sumur lain yang sudah beroperasi, maka fluida
formasi dari sumur ini akan masuk kedalam lubang
sumur yang sedang dibor dan akan terjadi kick. Bila
ini terjadi dikedalaman yang dangkal maka akan
terjadi situasi yang sangat berbahaya timbulnya
blowout yang tidak terkendali dan tdk ada
memberikan tanda peringatan.
PT PERTAMINA (PERSERO)
PERTAMINA

Legal Affairs

Page 43

Tanda Peringatan Terjadinya Kick


Dalam Pengendalian sumur, terjadinya
kick harus segera dapat diketahui, jika
tanda-tanda kick dapat dikenal maka kita
akan dapat mengambil tindakan yang
cepat
dan tepat
untuk
mencegah
terjadinya Blowout. Dibawah ini akan
dijelaskan tanda-tanda jika akan terjadi
Kick.
PT PERTAMINA (PERSERO)
PERTAMINA

Legal Affairs

Page 44

Kenaikan Volume Cairan Drilling


secara Tiba-tiba
Kenaikan rate drilling yang tiba-tiba
biasanya disebabkan karena adanya
perubahan type dari formasi yang sedang
di bor, sehingga ada penambahan
tekanan dari dalam formasi.

PT PERTAMINA (PERSERO)
PERTAMINA

Legal Affairs

Page 45

Bertambahnya aliran di
Annulus
Seyogyanya rate cairan yang dipompa
selalu konstan, demikian pula aliran yang
ada di annulus juga tetap konstan, Jika
tiba-tiba ada kenaikan aliran tanpa
adanya
perubahan
pemompaan,
penambahan aliran ini disebabkan fluida
formasi masuk dalam lubang sumur atau
terjadi pemuaian Gas, ini menandakan
akan terjadinya kick.
PT PERTAMINA (PERSERO)
PERTAMINA

Legal Affairs

Page 46

Kenaikan Volume pada


Penampung Lumpur
Jika tiba-tiba ada kenaikan volume yang
tidak
direncanakan
dalam
bak
penampung
lumpur
atau
tangki
penampung di Rig, ini tanda-tanda akan
terjadinya Kick. Sebabnya fluida formasi
mengisi lubang sumur, juga ditambah
dengan aliran fluida dari annulus dipompa
ke pipa drilling, mengakibatkan fluida
pada bak penampung bertambah.
PT PERTAMINA (PERSERO)
PERTAMINA

Legal Affairs

Page 47

Berubahnya Tekanan/Kecepatan
Pompa.
Penurunan tekanan atau kenaikan kecepatan
pompa akan mengakibatkan turunnya tekanan
hydrostatis dalam Annulus sehingga fluida
formasi masuk kelubang sumur. Karena
masuknya aliran fluida kelubang sumur maka
tekanan hydrostatis pada kolom annular juga
turun dan aliran fluida drilling membentuk U
pada pipa annulus, jika ini terjadi tekanan
pompa akan drop/turun dan kecepatan pompa
naik. Maka akan terjadi Kick.
PT PERTAMINA (PERSERO)
PERTAMINA

Legal Affairs

Page 48

Kesalahan Pengisian pada saat Trip


Ketidak tepatan pengisian pada kondisi trip
terjadi ketika volume dari fluida yang memenuhi
lubang sumur pada saat dilakukan pengangkatan
pipa dirilling dan dipasang kembali pada lubang
tidak sebanyak perhitungan atau Catatan buku
Trip. Kondisi ini biasanya mengakibatkan Fluida
formasi masuk kedalam lubang sumur dan dapat
menimbulkan swabb pada pipa drilling, dan jika
tidak ditangani dengan segera, maka sumur akan
masuk pada fase kick.
PT PERTAMINA (PERSERO)
PERTAMINA

Legal Affairs

Page 49

Kategori Pengendalian Sumur Minyak


Ada 3 (tiga) Type kategori Pengendalian sumur minyak
yaitu,
1.
Primary
oil
well
control,
adalah
proses
menjaga/mengendalikan agar tekanan hydrostatis harus
lebih besar daripada tekanan fluida formasi selama
dilakukan pengeboran, tapi bila lebih rendah dari tekanan
formasi. Gunakanlah persediaan lumpur yang memiliki
tekanan cukup untuk mencegah masuknya fluida formasi
dalam sumur. Jika tekanan hydrostatis lebih rendah dari
tekanan formasi dan fluida formasi akan masuk kedalamPT PERTAMINA (PERSERO)
PERTAMINA

Legal Affairs

Page 50

Lanjutan.
Lubang sumur. Jika tekanan hidrostatis
dari fluida dalam sumur melebihi tekanan
formasi Fracture, maka aliran Fluida akan
hilang, ini akan menimbulkan kejadian
yang luar biasa, yaitu hilangnya Sirkulasi.
Tekanan formasi sebaiknya melebihi
tekanan hydrostatis, agar fluida formasi
masuk kedalam sumur.
PT PERTAMINA (PERSERO)
PERTAMINA

Legal Affairs

Page 51

Secondary Oil Well Control


2. Secondary Oil Well Control.
Pengendalian
ini
dilakukan
setelah
pengendalian pertama gagal mencegah fluida
formasi masuk dalam lubang sumur, Proses ini
dilakukan dengan menggunakan Blow out
preventer (BOP), untuk mencegah hilangnya
fluida
dari
sumur.
Kemudian
Langkah
selanjutnya dengan memompakan lumpur
pembunuh yang sudah diperhitungkan untuk
mematikan terjadinya semburan liar.
PT PERTAMINA (PERSERO)
PERTAMINA

Legal Affairs

Page 52

3. Tertiary oil well control


Tertiary oil well control dapat digambarkan sebagai garis
pertahanan ketiga, dimana formasi sudah tidak dapat
lagi dikendalikan baik dengan Primary maupun dengan
Secondary. Bencana ini sdh masuk pada situasi Blowout
di dasar sumur/dibawah tanah.
Berikut ini beberapa contoh pengendalian sumur
Tertiary:
-Bor miring kearah sumur yang blowout , dan matikan
alirannya dengan menggunakan lumpur berat.
-Segera pompakan lumpur berat guna mengendalikan
sumur dengan aliran sirkulasi yg memiliki density sama.
PT PERTAMINA (PERSERO)
PERTAMINA

Legal Affair

Page 53

Lanjutan..
- Pompakan Barite atau alat pemberat
untuk menyumbat lubang sumur agar
alirannya berhenti.
- Pompakan Cement untuk menutup
lubang sumur.

PT PERTAMINA (PERSERO)
PERTAMINA

Legal Affairs

Page 54

Shut-in Procedures
Shut-in Procedure/Mematikan sumur, adalah salah
satu pengendalian guna mencegah/meminimize
terjadinya Kick atau Blowout. Shut-in Procedure
adalah prosedur khusus untuk menutup sumur
bila terjadi kick. Jika ada tanda-tanda positive
akan terjadinya kick, misalnya seperti kenaikan
aliran
yang
mendadak,
kenaikan
volume
penampung lumpur, segera matikan sumur,
sebab jika tidak dimatikan dengan segera,
kemungkinan akan terjadi blowout.
PT PERTAMINA (PERSERO)
PERTAMINA

Legal Affairs

Page 55

Penyebab terjadinya Isiden


Pengendalian sumur
Beberapa Kejadian Insiden dalam Pengendalian
sumur disebabkan oleh Human Error
diantaranya,
-Kurangnya Pemahaman dan Ketrampilan Personel.
-Kurangnya praktek lapangan.
-Kurang memahami pentingnya pengendalian
sumur.
-Lemahnya penerapan SOP
-Kurang memahami Manegement Resiko.
PT PERTAMINA (PERSERO)
PERTAMINA

Legal Affairs

Page 56

Semester Genap
Lumpur Pemboran ( Workover Fluids )
Lumpur Pemboran merupakan faktor yang
penting dalam pemboran, karena akan
berpengaruh pada hal-hal sbb :
- Kecepatan pemboran.
- Effisiensi.
- Keselamatan.
- Serta biaya Pemboran.
PT PERTAMINA (PERSERO)
PERTAMINA

Legal Affairs

Page 57

Fungsi Lumpur

Mengangkat Cutting kepermukaan.


Mendinginkan dan Melumasi Bit dan Drill String.
Membentuk dinding pada lubang bor dengan Mud Cake.
Mengontrol tekanan Formasi.
Membawa cutting dan material pemberat pada suspensi
bila sirkulasi lumpur dihentikan sementara.
Melepaskan pasir dan cutting dipermukaan.
Menahan sebagian berat drill pipe dan casing.
Mengurangi effek negatif pada formasi.
Mendapatkan informasi ( Mud log, sample log ).
Media logging.

PT PERTAMINA (PERSERO)
PERTAMINA

Legal Affairs

Page 58

Ad.1. Mengangkat cutting


Cutting hasil pengeboran diangkat keatas
permukaan oleh lumpur, ini tergantung dari : Kecepatan fluida di annulus.
- Kapasitas untuk menahan
fluida yang merupakan
fungsi dari density, aliran
(laminer/turbulent),
Viscositas.
Umumnya kecepatannya 100 120 fpm sudah
cukup (kadang-kadang perlu 200 fpm tetapi jarang).

PT PERTAMINA (PERSERO)
PERTAMINA

Legal Affairs

Page 59

Ad.2. Cooling dan Lubricating


Panas dapat timbul karena gesekan bit
dan drill string yang kontak dengan
formasi. Konduksi formasi umumnya kecil,
sehingga sukar menghilangkan panas.
Dengan adanya aliranan lumpur, Volume
maupun specific heat lumpur sudah cukup
untuk mendinginkan dan melumasi.

PT PERTAMINA (PERSERO)
PERTAMINA

Legal Affairs

Page 60

Ad. 3. Wall building properties.


Lumpur akan membuat mud cake atau lapisan zat padat
tipis dipermukaan formasi yang permeable ( rembes
air ). Terbentuknya mud cake ini akan menyebabkan
tertahannya aliran fluida masuk keformasi. Mud cake
dikehendaki yang tipis agar lubang bor tidak menyempit
dan cairan tidak banyak yang hilang. Sifat wall building
ini dapat diperbaiki dengan bentonite untuk
menghasilkan sifat koloid dari mud. Juga diberi zat kimia
untuk memperbaiki distribusi zat padat dalam lumpur
agar memperkuat mud cake dan mengurangi filter loss.
( Zat kimia : Starch, CMC dan Cypan ).
PT PERTAMINA (PERSERO)
PERTAMINA

Legal Affairs

Page 61

Ad. 4. Mengontrol Tekanan Formasi.


Tekanan Fluida formasi umumnya adalah disekitar
0,465 psi/ft kedalaman. Pada tekanan normal air
dan padatan di pemboran sudah cukup untuk
menahan tekanan formasi ini. Untuk tekanan yang
lebih kecil dari Normal ( subnormal ), density
lumpur harus diperkecil agar lumpur tidak masuk
/hilang keformasi. Sebaliknya untuk tekanan yang
lebih besar dari normal (> 0,465 psi/ft) / abnormal
pressure, maka density dari lumpur harus
diperberat dengan menambahkan barite.
PT PERTAMINA (PERSERO)
PERTAMINA

Legal Affairs

Page 62

Ad. 5 dan 6. Cutting Suspension.


Kemampuan lumpur untuk menahan cutting selama sirkulasi
dihentikan, terutama tergantung dari gel strength. Dengan cairan
menjadi Gel, tahanan terhadap gerakan cutting kebawah dapat
dipertinggi. Cutting perlu ditahan agar tidak turun kebawah,
karena jika mengendap dibawah dapat menyebabkan akumulasi
cutting dan pipa akan terjepit (pipe sticking). Selain itu ini akan
memperberat rotasi permulaan dan juga memperberat kerja
pompa untuk memulai sirkulasi kembali. Tapi gel yang terlalu
besar akan berakibat buruk juga, karena akan menahan
pembuangan cutting dipermukaan (selain pasir). Pasir harus
dibuang dari aliran lumpur, karena sifatnya yang sangat abrasive
(mengikis ). Kadar pasir maksimal yang diizinkan adalah 2 %.
Alat untuk membuang pasir Desander atau Shale shaker.

PT PERTAMINA (PERSERO)
PERTAMINA

Legal Affairs

Page 63

Ad.9. Mendapatkan Informasi.


Dalam pemboran, lumpur kadangkadang di analisa untuk diketahui
apakah mengandung hydrocarbon
atau tidak (mud log). Sedangkan
selain itu dilakukan pula sample log,
yaitu analisa daripada cutting yang
naik kepermukaan untuk menentukan
Formasi yang di bor apa.
PT PERTAMINA (PERSERO)
PERTAMINA

Legal Affairs

Page 64

Ad. 10. Media Logging


Pada penentuan adanya minyak atau gas
serta juga zona-zona air dan juga untuk
korelasi
serta
maksud-maksud
lain,
dilakukan logging ( pemasukan sejenis
alat
antara
lain
alat
listrik
atau
gammaray/neutron ) seperti misalnya
electric logging, yang mana memerlukan
media untuk penghantar arus listrik pada
lubang bor.
PT PERTAMINA (PERSERO)
PERTAMINA

Legal Affairs

Page 65

Jenis Fluida Pemboran


Banyak sekali Jenis Fluida yang dipakai, namun ada
beberapa diantaranya yang sering dipergunakan
yaitu:
. Diesel Oil ( Solar )
. Crude Oil ( Minyak Mentah )
. Fresh Water ( Air Murni ) atau Treated Water.
. Formation/ Produce Water.
. Salt Water.
. Marsh Water ( Air Rawa/Payau ).
. Sea Water ( Air laut ).
PT PERTAMINA (PERSERO)
PERTAMINA

Legal Affairs

Page 66

Pertimbangan
Untuk memilih jenis Fluida yang akan dipakai, ada
beberapa faktor yang harus dipertimbangkan :
1.Cost (biaya ) : biaya yang diperlukan untuk pengadaan
fluida juga menyangkut biaya transportasi, pompa dan
biaya pembuatan (mixing, bahan/material dsb ).
2.Availability ( persediaan ) : Persediaan dari fluida harus
mencukupi minimal selama pekerjaan dilakukan, agar
tidak terganggu disebabkan persediaan yang kurang.
3.Bottom Hole Pressure ( Tekanan Dasar Sumur ) :
Tekanan
reservoir
menjadi
pertimbangan
untuk
menentukan berat/density dari fluida.
PT PERTAMINA (PERSERO)
PERTAMINA

Legal Affairs

Page 67

Lanjutan..
4. Cleanliness ( kebersihan ) : Fuida yang digunakan harus
cukup bersih agar tidak merusak formasi ( menyumbat
perforasi atau pori-pori pada formasi ).
5. Compatibility ( kesesuaian ) : Fluida harus sesuai dengan
Formation Rock ( batuan Formasi ) dan Formation fluida yang di
produksi.
6. Operation ( Jenis Pekerjaan ) : Fluida yang akan dipakai juga
harus sesuai dengan jenis pekerjaannya, apakah itu untuk Kill
Well, perforation Wash, Clean out sand, Acidizing dsb.
Catatan : apapun jenis fluida yang dipakai harus bersih dan
tidak mengandung padatan ( suspended solid ). Sebaiknya
disaring terlbih dahulu.

PT PERTAMINA (PERSERO)
PERTAMINA

Legal Affairs

Page 68

Lanjutan catatan.
Sebelum dipergunakan fluida harus di test
terlebih dahulu, dengan cara mencampurnya
dengan formation fluid, untuk mengetahui kalaukalau terjadi emulsi yang tidak diharapkan atau
terbentuk presipitasi ( pengendapan ) pada saat
bercampur. Pengendapan dan emulsi yang
terbentuk pada formasi bisa merusak producing
zone. Beberapa kasus kerusakan yang diakibatkan
terjadinya emulsi dan pengendapan sangat sulit
atau sama sekali tidak bisa diperbaiki lagi.
PT PERTAMINA (PERSERO)
PERTAMINA

Legal Affairs

Page 69

Lanjutan
Kerusakan yang terjadi akibat pemakaian Fluida yang
tidak cocok (incompatible ) atau yang kotor, adalah
berkurangnya permeability dari producing
formation
karena kotoran atau kandungan zat padatnya menyumbat
saluran ( pori-pori ) bagi aliran minyak pada formasi.
Berkurangnya permeability akibat fluida yang tidak cocok
terjadi bila clay (sejenis tanah liat/lempung) pada formasi
menyerap
air
akan
menggelembung,
sehingga
mengurangi ukuran saluran tempat mengalirnya minyak
pada batuan. Fluida yang kotor atau tidak cocok juga
dapat merusak karena merubah permeability dari
producing zone terhadap beberapa fluida pada zone itu.

PT PERTAMINA (PERSERO)
PERTAMINA

Legal Affairs

Page 70

Kerusakan akibat Fluida yang tidak cocok


1. Water Block pada producing zone : dimana aliran
minyak pada zone itu terhalang/terhambat oleh air.
2. Batuan reservoir ( reservoir rock ) menjadi oil wet
: batuan reservoir diselimuti ( diselubungi )
minyak, akibatnya aliran minyak terhambat
karena daya tarik-menarik ( adhesi ) antara
minyak.
3. Kenaikan viscosity (kekentalan) dari minyak karena
adanya emulsi pada wellbore, akibatnya minyak
sulit mengalir ( lambat ).
PT PERTAMINA (PERSERO)
PERTAMINA

Legal Affairs

Page 71

Pemilihan Fluida
(

Kekurangan dan kelebihannya )

1. Diesel Oil : untuk sumur-sumur yang BHP ( Tekanan


Dasar Sumur ) nya tidak tinggi dapat memakai diesel oil
( solar ) sebagai fluidanya. Keuntungan memakai solar
bersih karena merupakan hasil dari penyulingan.
Walaupun begitu harus tetap ditest apakah cocok
dengan Fluida dari dalam sumur.
Kekurangan (kerugian ) dari Diesel oil :
- Harganya cukup mahal, memerlukan biaya yang banyak.
- Dapat menimbulkan pencemaran lingkungan.
- Mudah terjadi kebakaran, untuk pencegahannya
peralatan dan teknisi harus selalu dipersiapkan.

PT PERTAMINA (PERSERO)
PERTAMINA

Legal Affairs

Page 72

Lanjutan Pemilihan Fluida


2. Crude Oil ( Minyak Mentah ) : Crude oil dapat juga
dipakai untuk sumur-sumur yang tekanan reservoirnya
rendah dimana dibutuhkan kolom fluida yang
densitasnya rendah. Kecocokan Crude oil yang dipakai
dengan crude oil yang keluar dari sumur harus di test
dengan cara mencampurkannya. Untuk mencegah
terbentuknya emulsi atau batuan reservoir menjadi oil
wet. Adakalanya diperlukan treatment dengan bahan
kimia pada crude oil yang akan dipakai. Kekurangan
(kerugian ) pemakaian Crude oil sebagai fluida adalah
kemungkinan terjadinya kebakaran atau pencemaran
lingkungan.
PT PERTAMINA (PERSERO)
PERTAMINA

Legal Affairs

Page 73

Lanjutan Pemilihan Fluida


3. Fresh Water ( Air Segar ) : Air segar tidak baik dipakai sebagai
fluida kecuali bila di beri treatment dengan bahan kimia tertentu.
Air segar yang langsung dipergunakan tanpa treatment dapat
menyebabkan swelling ( penggembungan ) pada Clays, yang
hampir
selalu
terdapat
pada
batuan
reservoir,
dan
mengakibatkan berkurangnya permeability. Perbaikan untuk
kerusakan seperti ini sangat sulit dilakukan dan memerlukan
biaya yang sangat tinggi. Air segar bisa merusak formasi karena
kandungan chlorida atau garamnya sangat rendah, Cuma sekitar
30 150 ppm. Oleh sebab itu jika air segar yang akan dipakai,
kandungan chloridanya harus dinaikan. Bahan kimia yang sering
digunakan untuk ini adalah Potassium Chloride ( KCl ) dan
dicampur dengan surfactant. Keuntungan Air Segar, murah dan
mudah didapat.
PT PERTAMINA (PERSERO)
PERTAMINA

Legal Affairs

Page 74

4. Formation Water.
Formation water adalah fluida yang umum dan paling
banyak digunakan, karena cukup mudah dan murah
untuk mendapatkannya dan gampang penanganannya.
Selain itu juga biasanya sudah cocok (compatible) bila
diambil dari field yang sama. Namun harus diyakinkan
bahwa air dari formasi itu cukup bersih (di filter ) dan
tidak bersifat oil wetting. Jika air formasi yang akan
dipakai mengandung emulsion breaker, yang bersifat oil
wetting, maka perlu ditambahkan surfactant untuk
merubahnya menjadi water wetting. Kalau kandungan
chloridanya perlu ditingkatkan dapat ditambahkan
Potassium Chlorida ( KCl ).
PT PERTAMINA (PERSERO)
PERTAMINA

Legal Affairs

Page 75

5. Salt Water ( Brine = Air garam )


Bila Formation Water tidak cukup tersedia, atau jika kita
membutuhkan Fluida dengan density yang tinggi, kita
bisa memakai air garam ( Salt Water ). Air yang akan
dipakai untuk membuat air garam ini harus cukup bersih
dan tidak mengandung padatan seperti Clay atau Silt
( lumpur ). Garam yang biasa dipakai untuk membuat
air garam ini adalah Sodium Chloride (NaCl) atau
Calsium Chlorida (CaCl2), atau kombinasi keduanya.
Berat (density) maksimum dari air garam 74 pcf ( 10
ppg ) untuk NaCl, 82 pcf ( 11,5 ppg ) untuk CaCl2. Air
garam yang akan dipakai juga sebaiknya di Test
kompatibilitasnya dan di filter ( 20 um ).
PT PERTAMINA (PERSERO)
PERTAMINA

Legal Affairs

Page 76

6. Marsh Water ( air rawa/payau )


Kalau terpaksa, air dari rawa/payau bisa dipakai
asal disaring dahulu untuk membersihkannya
dari partikel-partikel kecil dan padatannya, dan
di Treat dengan potassium chloride untuk
mengurangi kemungkinan terjadinya swelling
pada clay. Selain itu harus ditambahkan
surfactant untuk mencegah terjadinya emulsi
bila air rawa ini bercampur dengan fluida dari
formasi.
PT PERTAMINA (PERSERO)
PERTAMINA

Legal Affairs

Page 77

7. Sea Water ( Air Laut ).


Air Laut juga bisa dipakai sebagai Fluida
bila terpaksa. Dalam beberapa hal air laut
lebih bersih dari pada air rawa, tapi harus
mendapat perlakuan yang sama seperti
air rawa, yaitu difilter, di treat dengan
potassium
chloride
dan
ditambah
surfactant.

PT PERTAMINA (PERSERO)
PERTAMINA

Legal Affairs

Page 78

ADDITIVE ( Baha- bahan tambahan ).


Banyak bahan tambahan yang dipergunakan untuk men
treat atau menyesuaikan kondisi air ( fluida ) dengan kondisi
sumur yang akan dikerjakan.
1. Potassium Chloride ( KCl ), adalah bahan kimia yang
berwarna putih, tidak berbau, berasa asin, dan mempunyai
bentuk kristal, butiran-butiran kecil, atau powder ( tepung ).
Mudah larut dalam air, tapi tidak larut dalam alkohol.
Potassium Chloride dipergunakan sebagai bahan campuran
untuk mencegah terjadinya kerusakan pada Formasi. Air
segar atau air yang kadar chloridenya rendah akan
menyebabkan terjadinya Swelling pada clay yang biasa
terdapat pada formasi. Kandungan Chlorida minimal yang
ditetapkan adalah 1000 ppm.
PT PERTAMINA (PERSERO)
PERTAMINA

Legal Affairs

Page 79

2. Sodium Chloride ( NaCl ) dan Calcium


Chloride ( CaCl2 ). Kedua garam ini dipakai
sebagai bahan campuran untk menaikan density
dari Fluida yang dipergunakan untuk Kill Well.
Sodium Chloride ( garam dapur ) yang dipakai
biasanya berbentuk kristal-kristal kecil yang
berwarna putih. Calcium Chloride, berbentuk
powder putih, hanya dipakai bila diperlukan
membentuk density yang lebih tinggi dari 74
pcf.
PT PERTAMINA (PERSERO)
PERTAMINA

Legal Affairs

Page 80

3. Surfactant, adalah sejenis bahan kimia yang dapat merubah


kohesi dan adhesi dari campuran, merubah kebasahan
( wettability ) dari batuan reservoir, dan memecah atau
melemahkan emulsi. Surfactant ada beberapa jenis, ada yang
bisa larut di air, ada pula yang bisa larut dalam minyak. Ada yang
bersifat water wetting, ada juga yang bersifat oil wetting.
Surfactant yang akan dipakai harus yang bisa larut dengan Fluida
yang kita gunakan, tetapi harus selalu bersifat water wetting.
Kegunaan dari surfactant adalah untuk mencegah atau
memperbaiki kerusakan yang diakibatkan oleh perubahan yang
terjadi oleh adanya percampuran dua benda. Perubahan yang
dapat merusak Formasi adalah terbentuknya emulsi yang pekat
yang menghambat, hambatan air, dan perubahan sifat dari
batuan reservoir yang tadinya water wet menjadi oil wet.

PT PERTAMINA (PERSERO)
PERTAMINA

Legal Affairs

Page 81

Emulsion block ( hambatan Emulsi ) biasanya terjadi akibat


bercampurnya beberapa macam fluida yang ber-beda2
didalam atau sekitar sumur Bor. Emulsi yang terjadi biasanya
berbentuk molekul air diselimuti oleh lapisan minyak dari
campuran Crude oil dan Formation water, juga air-air lain dari
luar. Surfactant dapat memecah emulsi ini menjadi bentuk
cairan minyak dan air yang terpisah, dengan mengurangi
daya tarik menarik antara minyak dan air dan menyatukan
butiran-butiran emulsi itu. Water Block terjadi jika batuan
reservoir yang bersifat water wet menjadi bersifat oil wet. Hal
ini bisa terjadi kalau Fluida drilling yang dipakai mengandung
Corrotion Inhibitor (pencegah korosi) atau Emulsion breaker.
Untuk itu diperlukan surfactant yang bersifat oil wetting.
PT PERTAMINA (PERSERO)
PERTAMINA

Legal Affairs

Page 82

4. Fluid Loss Control and Viscossity Building Agent. Kalau Fluida


yang kita pakai masuk kedalam formasi akan berakibat rusaknya
well. Untuk mencegah itu diperlukan Fluid loss Control dan atau
Viscosity Building Agent. Fluid Loss control banyak macamnya,
misalnya : calcium carbonate, Gilsonite Asphalt, dlsb. Bahan ini
mengandung padatan yang sangat besar yang justru dapat
menyumbat perforasi atau pori-pori pada formasi. Karena itu Fluid
Loss control hanya dipakai bila terpaksa saja. Polymer dipakai
sebagai viscosity building agent (bahan pengental ) untuk
menambah kekentalan dari Fluida. Fluida yang kental dapat
mengurangi masuknya Fluida kedalam formasi. Mencegah runtuh
atau masuknya formation influx kedalam wellbore dan juga
mempunyai daya angkat yang tinggi untuk Clean Out Sand.
Polimer yang sering digunakan yaitu HEC ( Hydroxi Etyl Cellulose ).

PT PERTAMINA (PERSERO)
PERTAMINA

Legal Affairs

Page 83

5. Foaming Agent : Foam ( busa ) adakalanya


diperlukan untuk pekerjaan seperti Clean out
Sand, Gravel packing (Kerikil ), dsb. Pada Well
yang BHP nya sangat rendah. Foam
sebenarnya
merupakan
campuran
dari
detergent, fresh water, compressed air, sangat
berguna dipakai sebagai Circulating medium
karena mempunyai lifting capability yang
tinggi dan hydrostatic Head yang rendah.
PT PERTAMINA (PERSERO)
PERTAMINA

Legal Affairs

Page 84

Hal hal Harus Diperhatikan


1. Transportasi : Pergunakan vaccuum truck yang bersih, kalau
perlu dicuci dulu sebelum dipakai untuk mengangkut Fluida.
2. Rig Pit atau Stock Tank juga harus selalu dalam keadaan
bersih, begitu juga pompa yang dipakai untuk sirkulasinya.
3. Saringlah Fluida agar benar-benar bersih sebelum
dipompakan. Ingat bahwa Fluida yang kotor akan merusak
formasi.
4. Kotoran juga dapat terakumulasi dari work String, misal
lumpur, scale, karat dan kotoran lainnya. Karena itu work
string (tubing, drill pipe dsb) harus diletakan pada rak-rak
yang bersih, yang dibersihkan lagi dengan wire brush, dan
babbit sebelum dimasukkan.

PT PERTAMINA (PERSERO)
PERTAMINA

Legal Affairs

Page 85

Pengendalian Tekanan Sumur


Didalam
melakukan
pekerjaan
Pengeboran
kadangkala
kita
menjumpai
suatu
well
Blowout/Flowing, sehingga kita tidak bisa
mencabut atau memasukan downhole equipment.
Untuk itu kita harus mematikan well tersebut
dengan selamat, itulah yang disebut dengan
Killing The Well atau Well Pressure Control.
Flowing : adalah keluarnya formation fluids (gas,
oil dan water) dari formation, masuk ke wellbore
terus keluar kepermukaan dan bisa dikontrol.
PT PERTAMINA (PERSERO)
PERTAMINA

Legal Affairs

Page 86

Lanjutan
Blowout : adalah keluarnya formation fluids (gas, oil dan
water) dari formation, masuk ke wellbore dan keluar
kepermukaan tanpa terkontrol.
Atau dengan kata lain bahwa Flowing/Blowout
disebabkan karena Formation Pressure jauh lebih besar
dari Hydrostatic Pressure. Jadi Blowout bisa terjadi pada
open hole maupun pada cased hole. Jadi yang
terpenting adalah bagaimana mengontrol suatu Well
agar
tidak
blouwout.
Sedangkan
Fluida
yang
dipergunakan untuk mengontrol well disebut Kill Fluid.
Setiap Blowout terjadi selalu dimulai dengan kick.
PT PERTAMINA (PERSERO)
PERTAMINA

Legal Affairs

Page 87

Hal-hal Pokok dalam Pengendalian


Tekanan
Sumur.
Hal-hal pokok yang harus diketahui dalam Mengendalikan
Tekanan Sumur :
1.Gradient Pressure : ialah Tekanan yang disebabkan oleh
sejumlah fluida pada setiap feet of Depth (psi/foot).
a.Jika Density diketahui dalam Lbs per cu ft ( pcf ),
Maka Gradient = density ( pcf ) : 144
Contoh :
Density Fresh Water 62,4 pcf
Gradient
= 62,4 : 144
= 0,433 psi/ft.
b.Jika Density diketahui dalam lbs per gall ( ppg ), maka
Gradient
= density ( ppg ) x 0,052.
Contoh : Density Fresh Water 8,34 ppg.
Gradient
= 8,34
X 0,052 = 0,433 psi/ft

PT PERTAMINA (PERSERO)
PERTAMINA

Legal Affairs

Page 88

Lanjutan
C. Jika diketahui Specific Gravity, maka :
Gradient = Spec. Gravity x 0,433.
Contoh
: Spec. Grav Fresh Water = 1, maka
Gradient
= 1 x 0,433 psi/ft = 0,433 psi/ft.
2. Hydrostatic Pressure : ialah Pressure yang diakibatkan oleh
pressure gradient suatu fluida pada ketinggian vertical
tertentu.
Contoh : Fluid Gradient = 0,433 psi/ft. Mengisi suatu cylinder
setinggi
1000 ft. Maka Hydrostatic Pressure yang
dihasilkan..?
HP = 0,433 psi/ft x 1000 ft = 433 psi.
PT PERTAMINA (PERSERO)
PERTAMINA

Legal Affairs

Page 89

Lanjutan
3. Bottom Hole Pressure ialah Pressure yang dihasilkan oleh
density (pressure gradient) suatu kedalaman tertentu (bottom of
hole) atau bottom of string.
Contoh : Suatu Sumur dengan kedalaman 10.000 ft, diisi dengan
fluida yang beratnya 10 ppg
( 10 x 0,052
= 0,52 psi/ft )
pressure gradient.
Maka Bottom Hole Pressure = 0,52 psi/ft x 10.000 ft = 5200 psi.
Catatan : Sebelum suatu well blowout maka akan didahului Kick.
Kick adalah formation fluid yang masuk kedalam wellbore dalam
jumlah kecil, Jadi jika aliran Kick tidak terkontrol dari wellbore
kepermukaan maka itulah yang disebut Blowout. Pada prinsipnya
Kick tidak akan terjadi apabila Hydrostatic Pressure sama atau
lebih besar sedikit dari Formation Pressure.
PT PERTAMINA (PERSERO)
PERTAMINA

Legal Affairs

Page 90

Contoh soal..
Suatu Well TVD ( True Vertical Depth ) = 9800 ft, BHP
(Bottom Hole Pressure ) 4620 psi. Jika kita
menggunakan kill fluid yang beratnya 68 pcf, Berapa
Tekanan Hydrostatic nya ?
Hydrostatic Pressure = ( 68 pcf : 144 inch sq ) x 9800
ft
= 4622 psi.
Jadi dengan menggunakan Kill Fluid yang beratnya 68
pcf, menghasilkan tekanan Hydrostatic = 4622 psi,
artinya sama atau lebih besar sedikit dari BHP,
sehingga Kick tidak terjadi.
PT PERTAMINA (PERSERO)
PERTAMINA

Legal Affairs

Page 91

SIFAT-SIFAT LUMPUR
Komposisi dan sifat lumpur sangat berpengaruh pada pemboran.
Perencanaan casing, drilling rate dan completion sangat
dipengaruhi oleh lumpur yang digunakan saat itu. Misal pada
daerah batuan lunak pengontrolan sifat lumpur sangat
diperlukan, tetapi didaerah batuan keras sifat-sifat ini tidak
terlalu kritis sehingga air biasapun kadang2 dapat digunakan.
Dengan ini dapat dikatakan bahwa sifat2 Geologi suatu daerah
menentukan pula jenis lumpur yang akan digunakan.
Ada 3 sifat lumpur yang penting :
1.Berat ( density ).
2.Viscositas dan gel strength.
3.Filtration Loss.
PT PERTAMINA (PERSERO)
PERTAMINA

Legal Affairs

Page 92

Ad. 1. DENSITY
Karena Lumpur berfungsi pula sebagai penahan tekanan
formasi dan adanya density lumpur yang terlampau
besar dapat menyebabkan lumpur hilang keformasi,
maka densitynya perlu disesuaikan dengan keadaan
formasi yang ada disitu (kadang-kadang formasi yang
satu menghendaki density yang besar sedang yang
lainnya menghendaki density yang kecil), maka dalam
hal ini density perlu pengaturan yang sebaik-baiknya.
Lumpur yang terlampau berat dapat menyebabkan
terjadinya Lost Circulation, sedang yang terlampau
ringan dapat menyebabkan terjadinya Blowout.
PT PERTAMINA (PERSERO)
PERTAMINA

Legal Affairs

Page 93

Lanjutan
Density lumpur diukur dengan Mud Balance, kadangkadang pengukuran density juga dilakukan dengan
Hydrometer.
Dalam praktek untuk memperberat lumpur digunakan :
Barite ( BaSO4 ) yang mempunyai S.G = 4,25 4,35.
Limestone
S.G = 3
Galena ( PbS )
S.G = 7
Bijih Besi
S.G = 7.
Untuk mengurangi density digunakan : Penambahan
Air/minyak atau mengendapkan pasir/padatan di Sand
Screen.
PT PERTAMINA (PERSERO)
PERTAMINA

Legal Affairs

Page 94

Lanjutan..
Penambahan density lumpur dilakukan pada
satu cycle Circulasi. Viscositas harus kecil,
karena dengan penambahan ini viscositas akan
naik. Juga Mud Pit ( kolam lumpur ) harus tidak
penuh atau bila penuh perlu dibuang lumpurnya
sebagian untuk keperluan penambahan air agar
padatan lumpur tidak terlalu banyak.

PT PERTAMINA (PERSERO)
PERTAMINA

Legal Affairs

Page 95

Ad. 2. Viscositas dan Gel Strength


Ad.2.1 Viscositas.
Viscositas adalah tahanan fluida terhadap aliran atau
gerakan, yang penting untuk aliran laminair. Istilah thick
mud digunakan untuk lumpur dengan viscositas
tinggi/kental. Sedangkan sebaliknya adalah thin mud
(encer)
Viscositas lumpur yang terlalu tinggi dapat menyebabkan :
1.Penetration Rate turun.
2.Pressure lost tinggi.
3.Lost circulation dan swabbing.
4.Sukar melepaskan gas dan cutting dari lumpur.
PT PERTAMINA (PERSERO)
PERTAMINA

Legal Affairs

Page 96

Lanjutan.
Viscositas yang rendah dapat menyebabkan :
1.Pengangkatan cutting tidak baik.
2.Material2 pemberat lumpur diendapkan.
Untuk mengencerkan lumpur dapat dilakukan
dengan
mencampur
air
atau
dengan
penambahan
thinner.
Sedangkan
untuk
menaikan viscositas dapat dilakukan dengan
penambahan bentonite pada water base mud,
dan air atau asphalt pada oil base mud.
PT PERTAMINA (PERSERO)
PERTAMINA

Legal Affairs

Page 97

Ad.2.2 Gel Strength.


Gel Strength adalah pembentukan padatan karena
gaya tarik menarik antara plat2 clay kalau
didiamkan, dan ini bukan sifat dalam aliran tetapi
dalam keadaan statis. Dimana clay dapat mengatur
diri, maka dari itu dengan bertambahnya waktu
makan akan bertambah pula Gel Strength nya. Gel
Strength yang terlalu kecil akan menyebabkan
terendapnya cutting/pasir pada saat sirkulasi
berhenti, Sedang Gel Strength yang terlalu tinggi
mempersulit usaha pompa untuk mulai sirkulasi lagi.
PT PERTAMINA (PERSERO)
PERTAMINA

Legal Affairs

Page 98

TERIMA KASIH

PT PERTAMINA (PERSERO)
PERTAMINA

Legal Affairs
Page 99