Anda di halaman 1dari 5

LAPORAN PRAKTIKUM

MIKROBIOLOGI DAN VIROLOGI


PEMERIKSAAN JAMUR

Nama

: I Gusti Ayu Nyoman Suastini

NIM

: 1208505061

Kelompok

: V

Golongan

Tanggal Praktikum

: 15 April 2014

Asisten

: Made Mega Yuliasari

II

JURUSAN FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS UDAYANA
2014

I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Jamur merupakan cendawan sejati yang ukurannya relative besar
(makroskopik), dan dapat dilihat dengan mata telanjang, dapat dipegang atau
dipetik dengan tangan, bentuknya mencolok (Gunawan, 2008). Sel jamur
memiliki inti sejati, di dalam selnya tidak terdapat klorofil sehingga jamur
digolongkan dalam organism heterotrif karena tidak mampu melakukan sintesis
kebutuhan hidup sendiri sebagaimana tumbuhan berhijau daun. Kehidupan jamur
tergantung pada organism lain. jamur juga digolongkan sebagi organism saprofit,
yaitu hidup pada material organic yang telah mati (Hendritomo, 2010).
Tubuh buah jamur yang telah dewasa akan menghasilkan spora. Spora
pada tempat tumbuh yang cocok untuk kehidupannya akan berkecambah
membentuk benang-benang halus. Benang halus ini dinamakan hifa dan
kumpulan hifa disebut miselium. Hifa akan tumbuh bercabang-cabang dan
memenuhi tempat tumbuhnya. Pada bagian-bagian tertentu, miselium membentuk
gumpalan-gumpalan kecil seperti simpul benang. Gumpalan miselium yang
dibentuk ini memberikan tanda akan awal pembentukan tubuh buah. Gumpalan
miselium akan bertambah besar dan membentuk struktur yang membulat. Struktur
ini dinamakan primordium. Sesuai dengan jenis jamurnya primordium akan
tumbuh dan berkembang menjadi spora yang dapat berkecambah lagi membentuk
miselium untuk mengulang daur hidupnya kembali (Gunawan, 2008).
Jamur dapat berkembang biak secara aseksual atau seksual. Secara
aseksual jamur dapat berkembang biak dengan oembelahan, penguncupan, dan
pembentukan spora. Spora seksual ada beberapa macam yaitu askospora,
bisidiospora, zigospora, dan oospora (Jawetz, dkk., 1991).
1.2 Tujuan
1. Untuk mengetahui spesies jamur yang tumbuh pada masing-masing sampel
2. Untuk mengetetahui morfologi jamur yang terdapat pada sampel secara
makroskopik dan mikroskopik.
1

II. MATERI DAN METODE


Pada praktikum ini, dilakukan percobaan mengenai pemeriksaan jamur dengan
menggunakan sampel buah jeruk nipis yang telah ditumbuhi jamur. Sampel dipotong dengan
ukuran 1 x 1 cm dan kemudian dicuci dengan alkohol 70% untuk membunuh bakteri yang
mungkin terdapat pada buah. Potongan jeruk nipis selanjutnya dicuci dengan air steril dan
ditanam pada media PDA (Potato Dextrose Agar). Selanjutnya dilakukan inkubasi pada suhu
ruang selama 3 hari. Setelah 3 hari, dilakukan re-isolasi. Koloni jamur diambil dengan
menggunakan jarum isolasi dan ditanam pada 2 titik pada media. Inkubasi suhu ruang selama
3 hari. Setelah dilakukan re-isolasi, selanjutnya dilakukan identifikasi jamur. Objek glass
ditetesi dengan LP cotton blue untuk memberi warna pada jamur dan memungkinkan
spesimen untuk dapat divisualisasikan dengan mikroskop (Aneja, 2009), secara aseptic
diambil sedikit koloni jamur yang murni, selanjutnya diapuskan pada LP cotton blue dan
ditutup dengan cover glass, kemudian diamati di bawah mikroskop.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN


3.1 Hasil Pengamatan
(Terlampir)
3.2 Pembahasan
Pada praktikum ini dilakukan percobaan mengenai pemeriksaan jamur dengan
menggunakan beberapa sampel yaitu, jangung, papaya, tempe dan jeruk nipis. Media
yang digunakan adalah media Potato Dextrose Agar (PDA). PDA merupakan media
yang umum digunakan untuk membuat biakan murni suatu jamur (Gunawan, 2008).
Sampel dipotong dengan ukuran 1 x 1 cm dan dicuci dengan alcohol 70% dan
air steril. Alkohol 70% efektif digunakan untuk membunuh hampir 90% bakteri
karena bisa menembus dinding sel (Staf Pengajar, 2004). Sampel ditanam pada media
PDA dan diinkubasi pada suhu ruang. Inkubasi merupakan suatu pengkondisian
untuk pertumbuhan jamur yang ditanam (Muchrodji, 2008). Proses inkubasi tidak
boleh terlalu lama, karena keterbatasan nutrisi yang terdapat dalam media sehingga

jamur kekurangan nutrisi yang akan menyebabkan banyak koloni yang mati (Entjang,
2003).
Pada identifikasi jamur, warna dari koloni jamur diamati begitu juga warna
sebalik koloni dan bentuk koloninya secara mikroskopik. Pada sampel jagung dan
tempe, tampak warna koloni berwarna abu-abu dimana jamur yang teridentifikasi
adalah Rhizopus sp. Koloni pada sampel papaya berwarna putih dan teridentifikasi
sebagai Arthrinium sp. Pada jeruk nipis terdapat 2 koloni dengan warna yang berbeda
yaitu koloni yang berwarna hijau dan berwarna hitam. Pada jeruk nipis dengan koloni
berwarna hijau diidentifikasi sebagai Aspergillus flavus dan koloni hitam sebagai
Aspergillus niger.
Pada pembuatan tempe, jamur Rhizopus sp memiliki peranan penting dalam
fermentasi tempe (Purnawijayanti, 2001). Rhizopus sp jika diamati secara
mikroskopik tampak terdapat sporangium dan konidia. Di dalam sporangium terdapat
sporangiospora yang apabila matang maka sporangium akan pecah sehingga
sporangiospora tersebar terbawa angin dan jatuh di tempat sesuai dan akan tumbuh
menjadi hifa baru yang kemudian bercabang membentuk miselium (Setiowati dan
Furqonita, 2006). Koloni jamur Arthrinium sp yang ditemukan pada papaya
merupakan koloni jamur yang dapat tumbuh dengan cepat dan memiliki miselia aerial
seperti kapas dan berwarna putih. Sporulasi umumnya terjadi pada titik-titik hitam
yang terlihat pada miselia aerial (Gandjar, dkk., 2000). Secara mikroskopik tampak
terdapat konidiofor dan konidia. Pada literatur disebutkan bahwa konidiofor memiliki
lebar 1,0-1,5 m, bersepta, dan berwarna hialin atau coklat. Konidia berwarna coklat
tua, berbentuk lentikular, dan terdapat garis pertumbuhan ekuatorial (Gandjar, dkk.,
2000). Aspergillus flavus dan Aspergillus niger secara mikroskopik tampak adanya
konidia, vesikel, spora dan sterigma. Vesikel pada Aspergillus sp berbentuk bulat
hingga semi bulat (Gandjar, dkk., 2000). Morfologi konidium sangat penting untuk
dikenal apabila mengidentifikasi fungi secara konvensional sampai ke spesies.
Bentuk konidium globos (bulat) ditemukan pada Aspergillus niger dan semi globus
(setengah bulat) dan oval pada Aspergillus sp (Gandjar dan Sjamsuridzal, 2006).
3

IV. KESIMPULAN
4.1 Spesies jamur yang terdapat pada jagung dan tempe adalah Rhizopus sp, pada
papaya Arthrinium sp dan pada jeruk nipis terdapat Aspergillus sp.
4.2 Secara makroskopik morfologi jamur dapat diamati dari warna koloni, sebalik
koloni dan bentuk koloni. Dimana warna koloni Rhizopus sp abu-abu, Arthrinium
berwarna putih dan Aspergillus berwarna hijau dan hitam. Secara mikroskopik
jamur terdiri dari spora dan konidia serta hifa, namun pada Arthrinium tampak
adanya konidia yang berbentuk lentikular dan konidiofor.

DAFTAR PUSTAKA
Aneja, K. R. 2009. Experiments in Microbiology, Plant Pathology and
Biotechnology. Fourth Edition. New Age International. India
Entjang, I. 2003. Mikrobiologi dan Parasitologi. PT. Citra Aditya Bakti. Jakarta
Gandjar, I. dan W. Sjamsuridzal. 2006. Mikologi: Dasar dan Terapan. Yayasan Obor
Indonesia. Jakarta
Gandjar, I., R. A. Samson., K. V. D. T. Vermeulen., A. Oetari., I. Santoso. 2000.
Pengenalan Kapang Tropik Umum. Edisi I. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta
Gunawan, A. W. 2008. Usaha Pembibitan Jamur. Cetakan VIII. Penebar Swadaya.
Jakarta
Hendritomo, H. I. 2010. Jamur Konsumsi Berkhasiat Obat. Edisi I. Lily Publisher.
Yogyakarta
Jawetz, M. dan Aldberg. 1991. Mikrobiologi Kedokteran. Penerbit BUku Kedokteran
EGC. Jakarta
Muchroji, C. Y. 2008. Budi Daya Jamur Kuping. Cetakan XI. Penebar Swadaya.
Jakarta
Purnawijayanti, H. A. 2001. Sanitasi, Higiene, dan Keselamatan Kerja dalam
Pengolahan Makanan. Kanisius. Yogyakarta
Setiowati, T. dan D. Furqonita. 2007. Biologi Interaktif. Jilid 1. Azka Press. Jakarta

Anda mungkin juga menyukai