Anda di halaman 1dari 6

1.

Tempuyung
1.1.
Nama Latin
Nama Indonesia
Nama Simplisia
Simplisia yang dipakai
Familia
1.2.

Organoleptik
Bau
: Tidak berbau
Rasa
: Tidak berasa

1.3.

Identifikasi
1.3.1. Makroskopis

: Sonchus arvensis
: Tempuyung
: Sonchi Folium
: Daun
: Asteraceae

Daun tempuyung merupakan daun tunggal, helai daun berbentuk lonjong atau
berbentuk lanset, tepi daun berlekuk tidak teratur, pangkal daun menyempit atau
berbentuk panah sampai berbentuk jantung, panjang daun 6 cm sampai 48 cm, lebar
daun 2 cm sampai 10 cm, permukaan daun sebelah atas agak kasar dan berwarna
lebih pucat. Pada simpisia keringnya daun berwarna coklat.
1.3.2. Mikroskopis

Anatomi jaringan yang teramati yaitu epidermis, berkas pembuluh, minyak atsiri, dan
sel sel parenkim. Jika diamati dari gambar, epidermisnya berbentuk persegi panjang
pipih dan selapis, berkas pembuluhnya berbentuk spiral, dan sel sel parenkimnya
berbentuk isodiametris.
1.4.

Identifikasi Kimiawi
1.4.1. Sudan III

Sebelum ditetesi Sudan III sel berwarna putih kekuningan. Setelah ditetesi Sudan III
sel berubah menjadi berwarna merah. Menunjukkan positif mengandung minyak.
Tempuyung
mengandung
senyawa
lipida
(diacyl
galactosylycerol,
monoacylgalactosyl glycerol, dan diacyl digalactosyl glycerol), golongan flavonoid
flavon (Apigenin-7-glicosid, luteolin-7 glycoside, luteolin-7-rutinnoside)silica,
kalium, flavonoid dan inositol. Selain flavonoid juga mengandung senyawa kimia
organik seperti alkaloid, saponin, antrakinon, tannin, dan polifenol (minyak atsiri)
(Rini, 2008).
1.5.

Khasiat
Tempuyung merupakan tanaman mengandung kalium, flavonoid, taraksastrerol,
inositol, silika, alfa lactuceral, dan beta lactuceral. Tempuyung termasuk tanaman
penting untuk batu ginjal dan kencing batu. Ini disebabkan sifatnya yang dapat
menghancurkan (meluruhkan) batu dalam ginjal dan membantu memperlancar buang
air kecil. Tempuyung juga baik untuk mengobati rematik (gout), wasir, hipertensi,
radang usus buntu, radang payudara, bisul, memar, dan luka bakar(Kuncoro,2005).
Kuncoro,Sri, 2005, Hancurkan Batu Ginjal dengan Ramuan Herbal, Jakarta,
Niaga Swadaya
Rini, D.P , 2008, Efek Antidiare Ekstrak Etanol Daun Tempuyung
(Sonchus Arvensis L.) Pada Mencit Jantan Galur Swiss Webster, Skripsi,
Universitas Muhammadiyah Surakarta

2. Sambiloto
2.1.
Nama Latin
Nama Indonesia
Nama Simplisia
Simplisia yang dipakai
Familia
2.2.

Organoleptik
Bau
: Aromatik
Rasa
: Pahit

2.3.

Identifikasi
2.3.1. Makroskopis

: Andrographis paniculata
: Sambiloto
: Andrograpidis Folium
: Daun
: Acanthaceae

Daun sambiloto berbentuk lanset, panjangnya sekitar 2 cm sampai 7 cm, labar 1 cm


sampai 3 cm, rapuh, tipis, tidak berambut, pangkal daun runcing, ujung meruncing,
tepi daun rata. Permukaan atas berwarna hijau tua atau hijau kecoklatan, permukaan
bawah berwarna hijau pucat.
2.3.2. Mikroskopis

Epidermis terdiri dari sel berbentuk persegi panjang dan selapis. Terdapat trikoma
non glandular. Stomata bertipe diasitik, dimana sel penutup dan sel tetangga saling
tegak lurus. Jaringan palisade terdiri dari satu lapis sel. Jaringan sponsa terdiri dari
beberapa lapis sel bunga karang, tersusun renggang dengan rongga udara yang besar.
Berkas pembuluh berbentuk spiral.
2.4.

Identifikasi Kimiawi
2.4.1. Sudan III
Sebelum ditetesi Sudan III sel berwarna putih kekuningan. Setelah ditetesi Sudan III
sel berubah menjadi berwarna merah. Menunjukkan positif mengandung minyak.
2.4.2. FeCl3
Sebelum ditetesi FeCl3 sel berwarna bening. Setelah ditetesi FeCl3 berubah menjadi
berwarna biru kehitaman. Menunjukkan positif mengandung tanin.

Hasil diatas sesuai dengan sebuah literatur yang mengatakan bahwa sambiloto
mengandung saponin, flavonoid, alkaloid, minyak atsiri dan tanin (Dalimunthe,2009).
2.5.
Khasiat
Kandungan kimia dari sambiloto adalah Deoksiandrografolid, andrografolid (zat
pahit), neoandrografolid, polimetoksiflavon, 14-deoksi-11-1, didehidroandrografolid,
homoandrografolid, flavonoid, alkane, keton, aldehid, mineral (kalium, kalsium, dan
natrium), asam kersik, dan dammar (Utami, 2008).
Andrografolid adalah komponen utama dalam sambiloto yang memiliki multiefek
farmakologis. Zat aktif ini mampu menghambat pertumbuhan sel kanker hati,
payudara dan prostat. Sebagai koleretik, andrografolid dapat meningkatkan aliran
empedu, garam empedu, dan asam empedu. Selain itu, zat yang terasa pahit ini juga
bisa meningkatkan produksi antibodi (immunostimulant). Berkat efek
farmakologisnya yang mampu merangsang daya tahan seluler (fagositosis) dan

memproduksi antibodi (immunostimulant), dalam dunia pengobatan modern, ekstrak


sambiloto sudah digunakan sebagai salah satu zat pengahambat HIV. Bahkan obat
tersebut sudah dipatenkan dengan merek Andro Vir TM (Prapanza dan Marianto,
2009).
Berikut ini dipaparkan beberapa efek farmakologis dari sambiloto yang sudah diketahui
(Prapanza dan Marianto, 2009) :
1. Antiradang (antiinflamasi)
2. Antiinfeksi sehingga bisa digunakan sebagai antibiotik untuk melawan virus.
3. Merangsang daya tahan sel (fagositosis) darah putih sehingga efektif untuk mengobati
infeksi.
4. Antibakteri pada Staphylococeus aureus,Pseudomonas aeruginosa, Proteus vulgans,
dan Shigella dysenteriae.
5. Mampu melawan bakteri Salmonella dan Escherichia coli pada penderita tifoid dan
disentri.
6. Penghambat reaksi imunitas (imunosupresi) dan penghilang rasa nyeri (analgesik),
pereda demam (antipiretik), penghilang panas dalam, dan penghilang bengkak.
7. Antiracun (detoksikasi)
8. Menghambat pertumbuhan trofosit placenta.
9. Bersifat kholeretis (meningkatkan sekresi empedu dalam hati).
10. Mampu mencegah penggumpalan darah (trombolisis).
11. Mempunyai efek antihistamin (antibatuk).
12. Menurunkan kadar glukosa dalam darah.
13. Berfungsi sebagai hepatoprotektor (pelindung sel hati dari zat yang bersifat toksin).
14. Membantu tubuh mengeluarkan air dan garam sehingga dapat menurunkan tekana
darah.
15. Membantu tubuh mengeluarkan air dan garam sehingga dapat menurunkan tekanan
darah.
16. Mengancurkan inti sel kanker.
17. Berperan dalam kondensasi sitoplasma sel tumor.
Prapanza, I. dan Marianto, L.A., 2009, Khasiat & Manfaat Sambiloto,
Agromedia Pustaka, Jakarta.
Utami, P., 2008, Buku Pintar Tanaman Obat 431 Jenis Tanaman Penggempur
Aneka Penyakit, Agromedia Pustaka, Jakarta
Dalmunthe,A, 2009, Interaksi Sambiloto (AndrographisPaniculata),Medan,
Universitas Sumatera Utara
3. Kumis Kucing
3.1.
Nama Latin
Nama Indonesia
Nama Simplisia

: Orthosiphon stamineus
: KumisKucing
: OrthosiphosisFolium

Simplisia yang dipakai


Familia
3.2.

Organoleptik
Bau
: Tidak berbau
Rasa
: Tidak berasa

3.3.

Identifikasi
3.3.1. Makroskopis

: Daun
: Laminaceae

Secara makroskopik, daun kumis kucing merupakan daun tunggal bertangkai,


bentuknya seperti bulat telur, lonjong, dan bisa juga seperti ujung tombak atau belah
ketupat, permukaan daunnya licin, tepi daunnya bergerigi tidak beraturan, serta tulang
daunnya menyirip. Pada keadaan kering daun berwarna hijau kehitaman.
3.3.2. Mikroskopis

Secara mikroskopik,epidermis atas dan bawah terdiri dari selapis sel berbentuk
persegi panjang. Terdapat beberapa lapis jaringan palisade yang dibawahnya diikuti
jaringan sponsa yang berongga. Terlihat pula sel sel yang mengandung minyak
atsiri.
3.4.

Identifikasi Kimiawi
3.4.1. Sudan III
Sebelum ditetesi Sudan III sel berwarna putih kekuningan. Setelah ditetesi Sudan III
sel berubah menjadi berwarna merah. Menunjukkan positif mengandung minyak.
3.4.2. FeCl3

Sebelum ditetesi FeCl3 sel berwarna bening. Setelah ditetesi FeCl3 berubah menjadi
berwarna biru kehitaman. Menunjukkan positif mengandung tanin.
3.4.3. Fluoroglusin + HCl 25%
Sebelum ditetesi Fluoroglusin + HCl 25% sel berwarna bening. Setelah ditetesi
Fluoroglusin + HCl 25% berubah menjadi berwarna kemerahan. Menunjukkan positif
mengandung lignin.
Tanaman kumis kucing mengandung orthosiphon glikosida, zat samak, minyak atsiri,
saponin, garam kalium, tannin, sinensitin, dan myoinositol (Fauziah, 1999).
3.5.

Khasiat
Kandungan kimia kumis kucing yang telah diketahui adalah orthosiphon glikosida,
minyak atsiri, saponin, sapofonin, kalium. Kumis kucing memiliki rasa pahit dan
sejuk. Tanaman ini berkhasiat untuk megobati rematik dan menurunkan asam urat
darah pada jenis komplikasi batu urat di saluran kencing. Selain itu digunakan juga
sebagai diuretik, melarutkan batu di saluran kencing, dan antibakteri (Utami,2003).
Utami, P, 2003, Tanaman obat untuk mengatasi rematik & asam urat, Jakarta,
AgroMedia
Fauziah, M, 1999, Tanaman Obat Keluarga, Jakarta, Penebar Swadaya