Anda di halaman 1dari 10

Tehnik Infiltrasi dan

Blok Anestesi

Disusun oleh :
Kelas C / Kelompok 5
Witri Febrinia

(2010-11-152)

Yuliana Ratnasari

(2010-11-154)

Ella Minati Putri

(2010-11-155)

Dentadio G.

(2010-11-156)

Dhyandra Sekar A.

(2010-11-158)

Tiara Yulian U.

(2010-11-159)

Bella Furati M.

(2010-11-160)

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIV. PROF. DR. MOESTOPO (BERAGAMA)

BAB I
PENDAHULUAN

Anestesi lokal adalah cara menghilangkan rasa sakit setempat dengan memakan suatu zat
yang merintangi penerusan impuls saraf ke susunan saraf pusat tanpa meghilangkan kesadaran.
Penggunaan anestesi lokal semakin meluas dan meningkat dalam bidang kedokteran gigi
merupakan cerminan dari efisiensinya kenyamanan dan sedikitnya kontraindikasi dari bentuk
anestesi ini. Teknik-teknik anestesi lokal dapat dipelajari dengan mudah dan peralatan yang
diperlukan tidak terlalu banyak, ekonomis, serta mudah dibawa-bawa.
Tipe-tipe anestesi lokal adalah anestesi topical, anestesi infiltrasi dan anestesi blok. Jenis
anestesi yang akan dibahas dalam makalah ini adalah anestesi infiltrasi dan anestesi blok.
Anestesi infiltrasi, larutan anestesi didepositkan di dekat serabut terminal dari serabut saraf dan
akan terinfiltrasi disepanjang jaringan untuk mencapai serabut saraf dan menimbulkan efek
anestesi dari daerah terlokalisir yang disuplai oleh saraf tersebut. Sedangkan anestesi blok
biasanya digunakan untuk rahang bawah
Dalam kesempatan kali ini kami

akan membahas dua macam anastesi lokal yaitu

anestesi infiltrasi dan anestesi blok yang akan diperjelas dalam bab berikutnya.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Dalam melakukan teknik anesthesia infiltrasi maupun anestesi blok perlu adanya proses
penginjeksian syringe kedalam serabut syaraf atau batang syaraf. Maka dampak dari sikap
tenang dalam menghadapi pasien seyogyanya jangan terlalu dibesar-besarkan. Senyum dan
beberapa kata yang dapat menenangkan pasien dapat memberikan efek menguntungkan dalam
mempermudah perawatan.
Sebelum melakukan anestesi kepada pasien, sebaiknya persiapan alat-alat yang
diperlukan terlebih dahulu untuk memudahkan berlangsungnya penginjeksian. Alat seperti
syringe, cartridge, dappen glass, cotton rolls dan alat lainnya, harus tetap tersedia sonde berujung
lurus karena kadang-kadang jarum patah. Alat tersebut akan digunakan untuk memegang
sebagian dari jarum yang menonjol ke luar dari jaringan.

1. Teknik Infiltrasi
Pada anestesi infiltrasi, larutan anestesi didepositkan di dekat serabut terminal dari saraf
dan akan terinfiltrasi di sepanjang jaringan untuk mencapai serabut saraf dan menimbulkan efek
anestesi dari daerah terlokalisir yang disuplai oleh saraf tersebut.
1.1 Teknik infiltrasi dibagi menjadi:
1.

Anestesi submukosa
Istilah ini diterapkan bila larutan didepositkan tepat di balik membrane mukosa.

Suntikan ini sering digunakan baik untuk menganestesi saraf bukal panjang sebelum
pencabutan molar bawah atau operasi jaringan lunak.
2.

Anestesi supraperiosteal

Anestesi ini merupakan teknik yang paling sering digunkan pada kedokteran gigi dan
sering disebut sebagai "suntikan infiltrasi"
3.

Anestesi Subperiosteal
Pada teknik ini, larutan anestesi didepositkan antara periosteum dan bidang kortikal,

karena struktur ini terikat erat, suntikan akan menimbulkan sakit yang sangat. Pada teknik
ini biasa digunakan pada palatum dan bermanfaat bila suntikan supraperiosteal gagal
4.

Anestesi Intraoseus
Pada teknik ini larutan didepositkan pada tulang medularis. Prosedur ini sangat efektif

bila dilakukan dengan bantuan bur tulang dan jarum yang didesain khusus untuk tujuan
tersebut.
5.

Anestesi intraseptal
Merupakan modifikasi teknik intraoseus yang kadang-kadang digunakan bila anestesi

yang menyeluruh sulit diperoleh atau bila akan dipasang geligi tiruan immediate serta
bila teknik supraperiostel tidak mungkin digunakan.
6.

Anestesi intraligamental atau ligament periodontal


Pada teknik ini jarum diinsersikan pada sulkus gingival dengan bevel mengarah

menjauhi gigi. Jarum kemudian didorong ke membrane periodontal bersudut 30 derajat


terhadap sumbu panjang gigi. Jarum ditahan dengan jari operator untuk mencegah
pembengkokan dan didorong ke penetrasi maksimal sehingga terletak antara akar-akar
gigi dan tulang interkrestal.
Tekanan maksimal diaplikasikan pada pegangan syringe selama 5 detik dengan
tekanan ke belakang yang kuat untuk mendepositkan sejumlah kecil larutan pada membrane
periodontal. Untuk akar yang berakar jamak, dilakukan penyuntikan untuk tiap akar. Suntikan
dengan tekanan ke belakang yang kuat mempunyai angka keberhasilan yang besar. Teknik ini
mempunyai angka keberhasilan yang besar. Teknik ini mempunyai beberapa manfaat. Efeknya
yang terbatas memungkinkan dilakukan perawatan pada suatu gigi dan membantu perawatan
pada kuadran mulut yang berbeda. Suntikan ini juga tidak terlalu sakit bagi pasien yang
umumnya tidak menyukai "rasa bengkak" yang sering menyertai anestesi local.

1.2 Alat dan Bahan


Alat dan bahan yang digunakan untuk anestesi infiltrasi pada gigi sulung saat pencabutan
antara lain :
a. Syringe

Adalah peralatan anestesi lokal yang paling sering digunakan pada praktek gigi. Terdiri dari
kotak logam dan plugger yang disatukan melalui mekanisme hinge spring.
b. Cartridge

Biasanya terbuat dari kaca bebas alkali dan pirogen untuk mengindari pecah dan kontaminasi
dari larutan. Sebagaian besar cartridge mengandung 2,2 ml atau 1,8 ml larutan anestesi lokal.
Cartridge dengan kedua ukuran tersebut dapat dipasang pada syringe standart namun umumnya
larutan anestesi sebesar 1,8 ml sudah cukup untuk prosedur perawatan gigi rutin.
c. Jarum

Pemilihan jarum harus disesuaikan dengan kedalaman anastesi yang akan dilakukan. Jarum
suntik pada kedokteran gigi tersedia dalam 3 ukuran (sesuai standar American Dental
Association = ADA) ; panjang (32 mm), pendek (20 mm, dan superpendek (10 mm).
Jarum suntik yang pendek yang digunakan untuk anestesi infiltrasi biasanya mempunyai
panjang 2 atau 2,5 cm. Jarum yang digunakan harus dapat melakukan penetrasi dengan
kedalaman yang diperlukan sebelum seluruh jarum dimasukan ke dalam jaringan. Tindakan
pengamanan ini akan membuat jarum tidak masuk ke jaringan, sehingga bila terjadi fraktur pada
hub, potongan jarum dapat ditarik keluar dengan tang atau sonde.
Petunjuk:

1. Dalam pelaksanaan anastesi lokal pada gigi, dokter gigi harus menggunakan syringe
sesuai standar ADA.
2. Jarum pendek dapat digunakan untuk beberapa injeksi pada jaringan lunak yang tipis,
jarum panjang digunakan untuk injeksi yang lebih dalam.
3. Jarum cenderung tidak dipenetrasikan lebih dalam untuk mencegah patahnya jarum.
4. Jarum yang digunakan harus tajam dan lurus dengan bevel yang relatif pendek,
dipasangkan pada syringe. Gunakan jarum sekali pakai (disposable) untuk menjamin
ketajaman dan sterilisasinya. Penggunaan jarum berulang dapat sebagai transfer penyakit.
1.3 Prosedur Anastesi Infiltrasi
a. Daerah bukal/labial/RA/RB

Masuknya jarum ke dalam mukosa 2 3 mm, ujung jarum berada pada apeks dari gigi
yang dicabut. Sebelum mendeponir anastetikum, lakukan aspirasi untuk melihat apakah
pembuluh darah tertusuk. Bila sewaktu dilakukan aspirasi dan terlihat darah masuk ke dalam
karpul, tarik karpul. Buang darah yang berada di karpul dan lakukan penyuntikan pada lokasi
lain yang berdekatan. Masukkan obat dengan perlahan dan tidak boleh mendadak sebanyak
0,60 ml (1/3 karpul).
b. Daerah palatal/lingual.

Masukkan jarum sampai menyentuh tulang. Masukkan obat perlahan dan tidak boleh
mendadak sebanyak 0,2 0,3 cc. Akan terlihat mukosa daerah tersebut putih/pucat.
c. Daerah Interdental Papil

Masukkan jarum pada daerah papila interdental, masukkan obatnya sebanyak 0,2 0,3 cc.
Akan terlihat mukosa daerah tersebut memucat.

d. Anastesi Intraligamen

Suntikan intraligamen dilakukan ke dalam periodontal ligamen. Suntikan ini menjadi populer
belakangan ini setelah adanya syringe khusus untuk tujuan tersebut. Suntikan intraligamen dapat
dilakukan dengan jarum dan syringe konvensional tetapi lebih baik dengan syringe khusus
karena lebih mudah memberikan tekanan yang diperlukan untuk menyuntikan ke dalam
periodontal ligamen.
1.4 Teknik Anastesi Infiltrasi
1. Hilangkan semua kalkulus dari tempat penyuntikan, bersihkan sulkus gingiva dengan
rubber cup dan pasta profilaksis dan berikan desinfektan dengan menggunakan cotton
pellet kecil.
2. Masukkan jarum ke dalam sulkus gingiva pada bagian mesial distal gigi dengan bevel
jarum menjauhi gigi.
3. Tekan beberapa tetes larutan ke dalam sulkus gingiva untuk anastesi jaringan di depan
jarum Injeksi intra ligamen pada anak.
4. Gerakkan jarum ke apikal sampai tersendat diantara gigi dan crest alveolar biasanya kirakira 2 mm.
5. Tekan perlahan-lahan. Jika jarum ditempatkan dengan benar harus ada hambatan pada
penyuntikan dan jaringan di sekitar jarum memutih. Jika tahanan tidak dirasakan, jarum
mungkin tidak benar posisinya dan larutan yang disuntikkan akan mengalir ke dalam
mulut.
6. Suntikan perlahan-lahan, banyaknya 0,2 ml.
7. Untuk gigi posterior, berikan suntikan di sekitar tiap akar.
8. Dapat pula diberikan penyuntikan di bagian mesial dan distal akar tetapi dianjurkan
bahwa tidak lebih dari 0,4 ml larutan disuntikan ke tiap akar.
9. Cartridge harus dibuang dan tidak boleh digunakan untuk pasien yang lain, walaupun
sedikit sekali larutan yang digunakan.
2

Teknik Blok

Pada blok anastesi terdapat dua teknik, yaitu teknik blok anastesi untuk rahang atas dan
teknik blok anastesi untuk rahang bawah.
Teknik blok anastesi untuk rahang atas dibagi lagi berdasarkan letak sarafnya :

1.
2.
3.
4.
5.

Infra Orbital Blok Anestesi


Naso Palatina Blok Anestesi
Zygomatik Blok Anestesi
High Tuberosity Blok
Foremen Palatinus Mayus Blok

Teknik blok anestesi untuk rahang bawah dibagi berdasarkan letak sarafnya :
1. Mandibular Blok Anestesi (Alveolar Berve Blok)
2. Mandibular Blok Anestesi (Alveolar Inferior Nerve Blok)
Dibagi lagi menjadi :
a. Intra Oral : - Direct
- Indirect
b. Ekstra Oral
Dalam makalah ini kami akan lebih membahas tehnik yang lebih sering digunakan di
klinik yaitu tehnik anestesi untuk rahang bawah mandibular blok anestesi (alveolar inferior nerve
blok) dengan cara indirect (Anestesi blok teknik Gow-Gates).
Tahap tahap untuk tehnik indirect :
1. Posisi duduk pasien terlentang atau setengah terlentang.
2. Pasien diminta untuk membuka mulut lebar dan ekstensi leher
3. Posisi operator :
a. Untuk mandibula sebelah kanan, operator berdiri pada posisi jam 8 menghadap
pasien.
b. Untuk mandibula sebelah kiri , operator berdiri pada posisi jam 10 menghadap dalam
arah yang sama dengan pasien.
4. Tentukan patokan ekstra oral : intertragic notch dan sudut mulut Daerah sasaran: daerah
5.

medial leher kondilus, sedikit dibawah insersi otot pterygoideus eksternus.


Operator membayangkan garis khayal yang dibentuk dari intertragic notch ke sudut
mulut pada sisi penyuntikan untuk membantu melihat ketinggian penyuntikan secara

ekstra oral dengan meletakkan tutup jarum atau jari telunjuk.


6. Jari telunjuk diletakkan pada coronoid notch untuk membantu meregangkan jaringan .
7. Operator menentukan ketinggian penyuntikan dengan patokan intra oral berdasarkan
sudut mulut pada sisi berlawanan dan tonjolan mesiopalatinal M2 maksila.
8. Daerah insersi jarum diberi topical antiseptik.

9. Syringe diarahkan ke sisi penyuntikan melalui sudut mulut pada sisi berlawanan, dibawah
tonjolan mesiopalatinal M2 maksila, jarum diinsersikan kedalam jaringan sedikit sebelah
distal M2 maksila .
10. Jarum diluruskan kebidang perpanjangan garis melalui sudut mulut ke intertragic notch
pada sisi penyuntikan kemudian disejajarkan dengan sudut telinga kewajah sehingga arah
spuit bergeser ke gigi P pada sisi yang berlawanan, posisi tersebut dapat berubah dari M
sampai I bergantung pada derajat divergensi ramus mandibula dari telingan ke sisi wajah.
11. Jarum ditusukkan perlahan-lahan sampai berkontak dengan tulang leher kondilus, sampai
kedalamam kira-kira 25 mm. Jika jarum belum berkontak dengan tulang, maka jarum
ditarik kembali per-lahan2 dan arahnya diulangi sampai berkontak dengan tulang.
Anestetikum tidak boleh dikeluarkan jika jarum tidak kontak dengan tulang.
12. Jarum ditarik 1 mm , kemudian aspirasi, jika negatif depositkan anestetikum sebanyak
1,8 2 ml perlahan-lahan.
13. Syringe ditarik dan pasien tetap membuka mulut selama 1 2 menit .
14. Setelah 3 5 menit pasen akan merasa baal dan perawatan boleh dilakukan.

BAB III
RINGKASAN
Terdapat tiga teknik anestesi lokal, yakni anestesi topical, infiltrasi dan blok. Anestesi
topical yaitu anestesi yang diberikan hanya pada permukaan mukosa mulut dan hanya mengenai
ujung dari syaraf yang biasanya diberikan kepada pasien anak-anak. Anestesi infiltrasi adalah
anestesi yang diberikan disekitar serabut saraf atau cabang-cabang saraf kecil. Sedangkan
anestesi blok dibedakan menjadi dua yaitu direct dan indirect yang biasa digunakan untuk rahang
bawah. Anestesi blok dilakukan apabila kedua anestesi lainnya tidak dapat digunakan lagi dan
harus menggunakan tehnik ini, maka tehnik anestesi blok baru dapat digunakan. Namun, selama
tehnik topical dan tehnik infiltrasi masih dapat digunakan, maka tehnik anestesi blok tidak perlu
digunakan. Selain resikonya lebih tinggi, kenyamanan pasienpun kurang apabila menggunakan
tehnik anestesi blok karena perlu adanya penyuntikan.

Daftar Pustaka

1. Malamed, Stanley F.2004.Hanbook of Local Anesthesia.California:Elsevier Mosby.


2. Howe, Geoffrey L.1994.Anestesi Lokal.Jakarta:Hipokrates
3. http://t.co/nHddaOK