Anda di halaman 1dari 14

TEKNIK BLOK MANDIBULA

Pasien harus diposisikan sehingaa oklusal plane bawah beradadalam keadaan


horisontal pada saat mulut terbuka lebar.
Denganposisi mulut terbuka lebar, jari telunjuk dan tengah tangan yangbebas harus
meraba sulkus bukalis hingga menyentuh bagianposterior pada cekungan segitiga
retromolar (retromolar triangle),yang terletak antara linea oblique eksterna mandibula
dan lineoblique interna.
Raphe pterygomandibular harus diidentifikasi sebagai suatu garisvertikal jaringan
lunak yang berasal dari hamulus pterygoideus danberjalan turun ke daerah lingual
mandubula pada daerah molar tiga.Raphe pterygomandibula mengangkat perlekatan
otot yangberjalan lateral(m. bucinator) dan medial ( m. konstriktor superior
Pasiienharusdidudukkan
dimanaposisileher
dankepalabaikdanoklusalplane
bawahharussejajar denganlantaipadasaat mulutterbukalebar.
Denganposisimulutterbukalebar, posisikanjaritelunjuk melewatisulkusbukalisgigiRB
hinggajarimenyentuhakhirdarisulkusbukalisbawahpadadaerahtriangular retromlolar,
whichlies
between
the
(external)
yang
terletak
anataralineaoblique
mandibulaeksternaldanlinea oblique interna
Tabungsyringe
melayangdiatas
permukaanoklusalgigipremolar
padadaerahsudutmulut,
tetapibisajugaterjadivariasitergantungdaridivergensidariramus
Syringe diinsersikansejajar denganoklusalplane,melayang +10-25 mm diatas
permukaanoklusalgigiRB,ataubilaterdapat
gigimolar
tigaRA,
makasyringediinsersikantepatdisebelah distal dariggmolar tigaRA


Syringe
diinsersikanperlahan-lahankedalamjaringanhinggamenyentuhtulang,
yaituleherkondilmandibula(+25
mm
syringe
yangberpenetrasi).
Bilasyringe
tidakmenyentuhtulang,
makasyringe
ditariksedikitdandiarahkanlebihkedistal
hinggamenyentuhtulang.kadang-kadangjugasyringe
tidakmenyentuhtulangbilasaatsyringe
diinsersikanpasientidakmembukamulutlebar,
sehingga:

Kondil bergeser kedistal

Jaringanbertambah teb
Padasaatsyringe menyentuhtulang, arahkanbilateral kemudianinsersikansyringe
hinggatinggal panjangsyringe yang tidakdiinsersikan.

Arahkansyringe kontralateral, aspirasikanbilaaspirasinegatif, depositkanlarutan+1.8 -2


ml untukmenganastesin. alveolarisinferior.Bilaaspirasipositif, tarikjarumkeluar,
bersihkan,kemudianinsersikanlagi,
padaumumnyasyringemenembusarterimaksilarisinternayang
beradadibelakangdaerahtarget
n.
alveolarisinferiorSetelahitu,
tariksyringe
hinggasetengahjarum,aspirasikandandepositkanlarutananastesi+0.5mm
untukmenganastesin. lingualis. Sisalarutananastesi0.5 ml untukmenganastesin. bukalis

Prosedur :
1. Dilakukan palpasi fossa retromolaris dengan jari telunjuk sehingga kuku jari menempel pada
linea oblikua.
2. Dengan bagian belakang jarum suntik terletak di antara kedua gigi P pada sisi yang
berlawanan jarum diarahkan sejajar dengan dataran oklusal gigi-gigi mandibula ke arah
ramus dan jari.
3. Jarum ditusukkan pada apeks trigonum pterygomandibular.
4. Gerakan jarum di antara ramus dan ligamentum serta otot yang menutupi fasies interna
ramus diteruskan sampai ujungnya kontak dengan dinding posterior sulkus mandibularis.
Keluarkan 1,5 ml obat anestesi di sini (rata-rata kedalaman insersi jarum adalah 15 mm, tapi
bervariasi tergantung ukuran mandibula dan proporsinya berubah sejalan dengan
pertambahan umur).
5. Dapat juga menganestesi nervus lingualis dengan cara mengeluarkan obat anestesi pada
pertengahan perjalanan masuknya jarum.

Sumber :
Anastesi lokal di bidang kedokteran gigi
Anastesi lokal pada gigi
Abdullah Fadillah. Teknik-teknik anestesi local. 2007.
Rughaidah. Teknik anestesi local gow gates dan citoject. 1994
Purwanto, drg. Petunjuk praktis anestesi local. 1993. Penerbit buku kedokteran. Jakarta: EGC
Howe, Geoffrey L. Anestesi local. 1994. Jakarta : Hipokrates

menggunakan teknik blok mandibular dengan cara meraba dulu linea oblique
eksterna dengan ibu jari atau telunjuk kalo jempolnya kegedean (Caranya adalah
raba dari gigi yang paling ujung belakang pada rahang bawah sisi yang mau
kita blok, pada sisi luar mandibula yang dekat pipi, terus ke belakang sampe
ketemu sudut dimana linea oblique itu naik).
Tahan di titik itu dengan ujung ibu jari atau telunjuk, lalu gerakkan kira-kira
setengah buku ibu jari ke arah medial dan persiapkan syringe dengan obat
anestetikumnya di tangan yang satunya, lalu ambil dari arah kontra lateral
dari M1 (Sekali lagi M1 yah M1) lalu masukkan persis di depan ibu jari,
seharusnya nanti jarum suntiknya akan amblas bisa masuk seluruhnya, langsung
aspirasi dan depositkan obat, lalu ketika 1,5 cc obat sudah masuk, mulai tarik
keluar secara perlahan-lahan sambil tetap mendepositkan obat.
Biasanya, begitu jarum suntik keluar dari mulut pasien obat anestesi akan mulai
merambati N. Alv Inferior. Pastikan untuk memeriksa lidah dan bibir, kalo
pasien sudah merasa tebal dan bibirnya miring kearah yang dianestesi, baru
tambahkan infiltrasi di bukal.

Catatan lain adalah disarankan untuk tidak menggunakan citoject saat


melakukan blok mandibular, karena selain jarumnya pendek, tidak dapat
diaspirasi, dan spesifikasi penggunaannya pada penyuntikan intraligamen saja.

Sedangkan pada penyuntikan apapun dalam rongga mulut (termasuk palatum),


mutlak melakukan aspirasi!

g sulit atau sakit pada waktu membuka mulut.


Prosedur :
1. Pasien duduk terlentang atau setengah terlentang
2. Posisi operator untuk rahang kanan atau kiri adalah posisi jam delapan
berhadapan dengan pasien.
3. Letakkan jari telunjuk atau ibu jari pada tonjolan koronoid, menunjukkan
jaringan pada bagian medial dari pinggiran ramus. Hal ini membantu
menunjukkan sisi injeksi dan mengurangi trauma selama injeksi jarum.
4. Gambaran anatomi :
- Mucogingival junction dari molar kedua dan molar ketiga maksila
- Tuberositas maksila

NEW :

Abstrak :
Anestesi blok mandibula dapat dilakukan dengan teknik Fisher, teknik Gow-gates
atau
teknik Akinosi. Pada dasarnya tujuan ketiga teknik ini sama yaitu menganestesi
setengah mandibula pada sisi yang dianestesi ,perbedaan yang prinsip adalah
pada
langkah-langkah tekniknya serta daerah saraf yang teranestesi.
Pada makalah ini akan dijelaskan modifikasi teknik Fisher sehingga N. Bukalis
dapat
teranestesi tanpa melakukan penyuntikan tambahan.
Pendahuluan :
Anestesi blok rahang bawah biasanya dilakukan apabila kita memerlukan daerah
yang teranestesi luas misalnya pada waktu pencabutan gigi posterior rahang
bawah atau
pencabutan beberapa gigi pada satu quadran. Saraf yang dituju pada anestesi
blok teknik
Gow-Gates adalah N. Mandibularis sedangkan pada Teknik Akinosi dan Teknik
Fisher
saraf yang dituju adalah :N. Alveolaris inferior dan N. Lingualis Dengan teknik
GowGates daerah yang teranestesi adalah : Gigi mandibula setengah quadran,
mukoperiosteum bukal dan membrane mukosa pada daerah penyuntikan , dua
pertiga
anterior lidah dan dasar mulut, jaringan lunak lingual dan periosteum, korpus
mandibula
dan bagian bawah ramus serta kulit diatas zigoma , bagian posterior pipi dan
region
temporal..
Sedangkan daerah yang teranestesi pada teknik Akinosi dan Teknik Fisher adalah
: gigi gigi mandibula setengah quadran, badan mandibula dan ramus bagian
bawah,

mukoperiosteum bukal dan membrane mukosa didepan foramen mentalis, dasar


mulut
dan dua pertiga anterior lidah, jaringan lunak dan periosteum bagian lingual
mandibula.
Karena N. Bukalis tidak teranestesi maka apabila diperlukan , harus dilakukan
penyuntikan tambahan sehingga pasen menerima beban rasa sakit.
Pada Teknik modifikasi Fisher kita menambahkan satu posisi lagi sebelum jarum
dicabut
sehingga tidak diperlukan penusukan ulang yang menambah beban sakit pada
pasen.
Anestesi blok teknik Gow-Gates :
Prosedur :
1. Posisi duduk pasien terlentang atau setengah terlentang.
2. Pasien diminta untuk membuka mulut lebar dan ekstensi leher
3. Posisi operator :
a. Untuk mandibula sebelah kanan, operator berdiri pada posisi jam 8
menghadap pasien.b. Untuk mandibula sebelah kiri , operator berdiri pada posisi
jam 10
menghadap dalam arah yang sama dengan pasien.
4. Tentukan patokan ekstra oral : intertragic notch dan sudut mulut
Daerah sasaran: daerah medial leher kondilus, sedikit dibawah insersi otot
pterygoideus eksternus.
5. Operator membayangkan garis khayal yang dibentuk dari intertragic notch ke
Sudut mulut pada sisi penyuntikan untuk membantu melihat ketinggian
penyuntikan secara ekstra oral dengan meletakkan tutup jarum atau jari
telunjuk.
6. Jari telunjuk diletakkan pada coronoid notch untuk membantu meregangkan
jari ngan .
7. Operator menentukan ketinggian penyuntikan dengan patokan intra oral
berdasarkan sudut mulut pada sisi berlawanan dan tonjolan mesiopalatinal M2

maksila.
8. Daerah insersi jarum diberi topical antiseptik.
9. Spuit diarahkan ke sisi penyuntikan melalui sudut mulut pada sisi berlawanan,
dibawah tonjolan mesiopalatinal M2 maksila, jarum diinsersikan kedalam
jaringan sedikit sebelah distal M2 maksila .
10. Jarum diluruskan kebidang perpanjangan garis melalui sudut mulut ke
intertragic
notch pada sisi penyuntikan kemudian disejajarkan dengan sudut telinga
kewajah
sehingga arah spuit bergeser ke gigi P pada sisi yang berlawanan, posisi tersebut
dapat berubah dari M sampai I bergantung pada derajat divergensi ramus
mandibula dari telingan ke sisi wajah.
11. Jarum ditusukkan perlahan-lahan sampai berkontak dengan tulang leher
kondilus,
sampai kedalamam kira-kira 25 mm. Jika jarum belum berkontak dengan tulang,
maka jarum ditarik kembali per-lahan2 dan arahnya diulangi sampai berkontak
dengan tulang. Anestetikum tidak boleh dikeluarkan jika jarum tidak kontak
dengan tulang.
12. Jarum ditarik 1 mm , kemudian aspirasi, jika negatif depositkan anestetikum
sebanyak 1,8 2 ml perlahan-lahan.
13. Spuit ditarik dan pasien tetap membuka mulut selama 1 2 menit .
14. Setelah 3 5 menit pasen akan merasa baal dan perawatan boleh dilakukan.
Anestesi blok teknik Akinosi :
Teknik ini dilakukan dengan mulut pasien tertutup sehingga baik digunakan pada
pasen yang sulit atau sakit pada waktu membuka mulut.
Prosedur :
1. Pasien duduk terlentang atau setengah terlentang
2. Posisi operator untuk rahang kanan atau kiri adalah posisi jam delapan
berhadapan dengan pasien.

3. Letakkan jari telunjuk atau ibu jari pada tonjolan koronoid, menunjukkan
jaringan pada bagian medial dari pinggiran ramus. Hal ini membantu
menunjukkan sisi injeksi dan mengurangi trauma selama injeksi jarum.
4. Gambaran anatomi :
- Mucogingival junction dari molar kedua dan molar ketiga maksila
- Tuberositas maksila5. Daerah insersi jarum diberi antiseptic kalau perlu beri
topikal anestesi.
6. Pasien diminta mengoklusikan rahang, otot pipi dan pengunyahan rileks.
7. Jarum suntik diletakkan sejajar dengan bidang oklusal maksila, jarum
diinsersikan posterior dan sedikit lateral dari mucogingival junction molar kedua
dan ketiga maksila.
8. Arahkan ujung jarum menjauhi ramus mandibula dan jarum dibelokkan
mendekati ramus dan jarum akan tetap didekat N. Alveolaris inferior.
9. Kedalaman jarum sekitar 25 mm diukur dari tuberositas maksila.
10. Aspirasi, bila negatif depositkan anestetikum sebanyak 1,5 1,8 ml secara
perlahan-lahan. Setelah selesai , spuit tarik kembali.
Kelumpuhan saraf motoris akan terjadi lebih cepat daripada saraf sensoris.
Pasien dengan
trismus mulai meningkat kemampuannya untuk membuka mulut.
Teknik Fisher :
Prosedur :
Posisi pasien duduk dengan setengah terlentang. Aplikasikan antiseptic didaerah
trigonum retromolar.
Jari telunjuk diletakkan dibelakang gigi terakhir mandibula, geser kelateral untuk
meraba
linea oblique eksterna., . Kemudian telunjuk digeser kemedian untuk mencari
linea
oblique interna, ujung lengkung kuku berada di linea oblique interna dan
permukaan
samping jari berada dibidang oklusal gigi rahang bawah.

Posisi I : Jarum diinsersikan dipertengahan lengkung kuku , dari sisi rahang yang
tidak
dianestesi yaitu regio premolar.
Posisi II : Spuit digeser kesisi yang akan dianestesi, sejajar dengan bidang oklusal
dan
jarum ditusukkan sedalam 5 mm, lakukan aspirasi bila negatif keluarkan
anestetikum
sebanyak 0,5 ml untuk menganestesi N. Lingualis.
Posisi III : Spuit digeser kearah posisi I tapi tidak penuh lalu jarum ditusukkan
sambil
menyelusuri tulang sedalam kira-kira 10-15 mm. Aspirasi dan bila negative
keluarkan
anestetikum sebanyak 1 ml untuk menganestesi N. Alveolaris inferior.
Setelah selesai spuit ditarik kembali.
Teknik modifikasi Fisher :
Setelah kita melakukan posisi III, pada waktu menarik kembali spuit sebelum
jarum lepas
dari mukosa tepat setelah melewati linea oblique interna ,jarum digeser kelateral
(
kedaerah trigonum retromolar ), aspirasi dan keluarkan anestetikum sebanyak
0,5 ml
untuk menganestesi N. Bukalis. Kemudian Spuit ditarik keluar.
Kesimpulan :Untuk melakukan anestesi blok rahang bawah dapat dilakukan
dengan memilih salah
satu teknik yaitu teknik Gow-gates, Akinosi atau teknik Fisher .
Apabila kita memilih teknik Fisher dan N. bukalis perlu dianestesi maka
modifikasi
teknik Fisher dapat digunakan.

BLOK MAKSILA :

Anestesi Blok Pada Maksila


Blok Nervus Alveolaris Superrior Anterior
Titik suntik terletak pada lipatan mukolabial sedikit mesial dari gigi kaninus, Arahkan jarum
keapeks kaninus, anastetikum dideponir perlahan ke atas apeks akar gigi tersebut.
Injeksi yang dilakukan pada kedua kaninus biasanya bisa menganastesi keenam gigi anterior.
Injeksi N.Alvolaris Superrior Anterior biasanya sudah cukup untuk prosedur operatif. Untuk
ekstraksi atau bedah, diperlukan juga tambahan injeksi palatinal pada region kaninus atau
foramen incisivum.
Blok Nervus Alveolaris Superrior Posterior
Blok syaraf alveolaris superior posterior diperoleh dengan menempatkan jarum didistal molar
terakhir, ke atas dan medial, bersudut 45, memungkinkan deposisi larutan 1,5 ke permukaan
disto bukkal maxilla.

Komplikasi umum dari teknik ini adalah bila beberapa pembuluh darah plexus vena pterigoid
pecah, menimbulkan haematoma. Karena obat-obat analgesia lokal, teknik infiltrasi meliputi
deposisi hanya 1 ml larutan digunakan.
Gigi-gigi molar kecuali akar molar satu
Processus alveolaris bagian bukkal dari gigi molar termasuk periosteum.
Jaringan ikat dan membran mukosa
Anatomi landmarks :
Lipatan zygomatikus pada maxilla
Processus zygomatikus pada maxilla
Tuberositas maxilla
Bagian anterior dan processus coronoideus dari ramus mandibula.
Tekniknya :
Bila anestesi adalah nervus alveolaris superior posterior dexter
Operator berdiri sebelah kanan depan.Masukkan jari telunjuk kiri kita ke vestibulum oris
sebelah kanan penderita, kemudian jari telunjuk pada daerah lipatan mukobukkal di sebelah
posterior gigi premolar dua sampai teraba proccesus zygomaticus. Lengan kita turun kebawah
sehingga jari telunjuk membuat sudut 90 terhadap oklusal plane gigi rahang atas, dan
membentuk sudut 45 bidang sagital penderita. Hal ini dapat dilakukan bilamana penderita
dalam keadaan setengah tutup mulut, sehingga bibir dan pipi dapat ditarik kelateral
posterior. Jari telunjuk disisi merupakan pedoman tempat penusukan jarum ambil spoit yang
telah disiapkan, dan sebelumnya tempat yang akan disuntik harus dilakukan desinfeksi
terlebih dahulu. Arah jarum harus sejajar dengan jari kita, penusukan jarum sedalam -
inch. Aspirasi, jika tidak darah yang masuk, keluarkan larutan secara perlahan-lahan
sebanyak 1,5 cc.

MANDIBULA :
Anastesi Blok Mandibula

Anestesi blok rahang bawah biasanya dilakukan apabila kita memerlukan daerah
yang teranestesi luas misalnya pada waktu pencabutan gigi posterior rahang
bawah atau pencabutan beberapa gigi pada satu quadran. Saraf yang dituju
pada anestesi blok teknik Gow-Gates adalah N. Mandibularis sedangkan pada
Teknik Akinosi dan Teknik Fisher saraf yang dituju adalah :N. Alveolaris inferior
dan N. Lingualis Dengan teknik Gow- Gates daerah yang teranestesi adalah : Gigi

mandibula setengah quadran, mukoperiosteum bukal dan membrane mukosa


pada daerah penyuntikan , dua pertiga anterior lidah dan dasar mulut, jaringan
lunak lingual dan periosteum, korpus mandibula dan bagian bawah ramus serta
kulit diatas zigoma , bagian posterior pipi dan region temporal. Sedangkan
daerah yang teranestesi pada teknik Akinosi dan Teknik Fisher adalah : gigi gigi
mandibula setengah quadran, badan mandibula dan ramus bagian bawah,
mukoperiosteum bukal dan membrane mukosa didepan foramen mentalis, dasar
mulut dan dua pertiga anterior lidah, jaringan lunak dan periosteum bagian
lingual mandibula. Karena N. Bukalis tidak teranestesi maka apabila diperlukan ,
harus dilakukan penyuntikan tambahan sehingga pasen menerima beban rasa
sakit. Pada Teknik modifikasi Fisher kita menambahkan satu posisi lagi sebelum
jarum dicabut sehingga tidak diperlukan penusukan ulang yang menambah
beban sakit pada pasen.

Anestesi blok teknik Gow-Gates : (indirect)


Prosedur :
1. Posisi duduk pasien terlentang atau setengah terlentang.
2. Pasien diminta untuk membuka mulut lebar dan ekstensi leher
3. Posisi operator :
a. Untuk mandibula sebelah kanan, operator berdiri pada posisi jam 8
menghadap pasien.
b. Untuk mandibula sebelah kiri , operator berdiri pada posisi jam 10 menghadap
dalam arah yang sama dengan pasien.
4. Tentukan patokan ekstra oral : intertragic notch dan sudut mulut Daerah
sasaran: daerah medial leher kondilus, sedikit dibawah insersi otot pterygoideus
eksternus.
5. Operator membayangkan garis khayal yang dibentuk dari intertragic notch ke
sudut mulut pada sisi penyuntikan untuk membantu melihat ketinggian
penyuntikan secara ekstra oral dengan meletakkan tutup jarum atau jari
telunjuk.
6. Jari telunjuk diletakkan pada coronoid notch untuk membantu meregangkan
jaringan .
7. Operator menentukan ketinggian penyuntikan dengan patokan intra oral
berdasarkan sudut mulut pada sisi berlawanan dan tonjolan mesiopalatinal M2
maksila.
8. Daerah insersi jarum diberi topical antiseptik.

9. Spuit diarahkan ke sisi penyuntikan melalui sudut mulut pada sisi berlawanan,
dibawah tonjolan mesiopalatinal M2 maksila, jarum diinsersikan kedalam
jaringan sedikit sebelah distal M2 maksila .
10. Jarum diluruskan kebidang perpanjangan garis melalui sudut mulut ke
intertragic notch pada sisi penyuntikan kemudian disejajarkan dengan sudut
telinga kewajah sehingga arah spuit bergeser ke gigi P pada sisi yang
berlawanan, posisi tersebut dapat berubah dari M sampai I bergantung pada
derajat divergensi ramus mandibula dari telingan ke sisi wajah.
11. Jarum ditusukkan perlahan-lahan sampai berkontak dengan tulang leher
kondilus, sampai kedalamam kira-kira 25 mm. Jika jarum belum berkontak
dengan tulang, maka jarum ditarik kembali per-lahan2 dan arahnya diulangi
sampai berkontak dengan tulang. Anestetikum tidak boleh dikeluarkan jika jarum
tidak kontak dengan tulang.
12. Jarum ditarik 1 mm , kemudian aspirasi, jika negatif depositkan anestetikum
sebanyak 1,8 2 ml perlahan-lahan.
13. Spuit ditarik dan pasien tetap membuka mulut selama 1 2 menit .
14. Setelah 3 5 menit pasen akan merasa baal dan perawatan boleh dilakukan.

Anestesi blok teknik Akinosi :


Teknik ini dilakukan dengan mulut pasien tertutup sehingga baik digunakan pada
pasen yang sulit atau sakit pada waktu membuka mulut.
Prosedur :
1. Pasien duduk terlentang atau setengah terlentang
2. Posisi operator untuk rahang kanan atau kiri adalah posisi jam delapan
berhadapan dengan pasien.
3. Letakkan jari telunjuk atau ibu jari pada tonjolan koronoid, menunjukkan
jaringan pada bagian medial dari pinggiran ramus. Hal ini membantu
menunjukkan sisi injeksi dan mengurangi trauma selama injeksi jarum.
4. Gambaran anatomi :
- Mucogingival junction dari molar kedua dan molar ketiga maksila
- Tuberositas maksila
5. Daerah insersi jarum diberi antiseptic kalau perlu beri topikal anestesi.
6. Pasien diminta mengoklusikan rahang, otot pipi dan pengunyahan rileks.

7. Jarum suntik diletakkan sejajar dengan bidang oklusal maksila, jarum


diinsersikan posterior dan sedikit lateral dari mucogingival junction molar kedua
dan ketiga maksila.
8. Arahkan ujung jarum menjauhi ramus mandibula dan jarum dibelokkan
mendekati ramus dan jarum akan tetap didekat N. Alveolaris inferior.
9. Kedalaman jarum sekitar 25 mm diukur dari tuberositas maksila.
10. Aspirasi, bila negatif depositkan anestetikum sebanyak 1,5 1,8 ml secara
perlahan-lahan. Setelah selesai , spuit tarik kembali.
Kelumpuhan saraf motoris akan terjadi lebih cepat daripada saraf sensoris.
Pasien dengan trismus mulai meningkat kemampuannya untuk membuka mulut.

Teknik Fisher :
Prosedur :
Posisi pasien duduk dengan setengah terlentang. Aplikasikan antiseptic didaerah
trigonum retromolar. Jari telunjuk diletakkan dibelakang gigi terakhir mandibula,
geser kelateral untuk meraba linea oblique eksterna. Kemudian telunjuk digeser
kemedian untuk mencari linea oblique interna, ujung lengkung kuku berada di
linea oblique interna dan permukaan samping jari berada dibidang oklusal gigi
rahang bawah.
Posisi I : Jarum diinsersikan dipertengahan lengkung kuku , dari sisi rahang yang
tidak dianestesi yaitu regio premolar.
Posisi II : Spuit digeser kesisi yang akan dianestesi, sejajar dengan bidang oklusal
dan jarum ditusukkan sedalam 5 mm, lakukan aspirasi bila negatif keluarkan
anestetikum sebanyak 0,5 ml untuk menganestesi N. Lingualis.
Posisi III : Spuit digeser kearah posisi I tapi tidak penuh lalu jarum ditusukkan
sambil menyelusuri tulang sedalam kira-kira 10-15 mm. Aspirasi dan bila
negative keluarkan anestetikum sebanyak 1 ml untuk menganestesi N. Alveolaris
inferior. Setelah selesai spuit ditarik kembali.

Teknik modifikasi Fisher :


Setelah kita melakukan posisi III, pada waktu menarik kembali spuit sebelum
jarum lepas dari mukosa tepat setelah melewati linea oblique interna ,jarum
digeser kelateral (ke daerah trigonum retromolar ), aspirasi dan keluarkan
anestetikum sebanyak 0,5 ml untuk menganestesi N. Bukalis. Kemudian Spuit
ditarik keluar.2,3