Anda di halaman 1dari 10

KASUS MAL PRAKTEK KEDOKTERAN

NAMA : RUTH GINAWAYI SIHITE


NIM : 01010306

I.

PENDAHULUAN

Kasus Mal praktek marak sekali terjadi di Indonesia. Mal praktek biasanya dilakukan
oleh dokter , bisa saja salah diagnosa ataupun salah penafsiran jenis penyakit yang
diderita oleh pasien . Sorotan masyarakat yang cukup tajam atas jasa pelayanan
kesehatan oleh tenaga kesehatan, khususnya dengan terjadinya berbagai kasus
yang menyebabkan ketidakpuasan masyarakat memunculkan isu adanya dugaan
malpraktek medis yang secara tidak langsung dikaji dari aspek hukum dalam
pelayanan kesehatan, karena penyebab dugaan malpraktek belum tentu disebabkan
oleh adanya kesalahan/kelalaian yang dilakukan oleh tenaga kesehatan, khususnya
dokter.
Bentuk dan prosedur perlindungan terhadap kasus malpraktek yang ditinjau dari
Undang-Undang Perlindungan Konsumen No.8 tahun 1999. peraturan tersebut
mengatur tentang pembinaan dan pengawasan yang dilakukan oleh pemerintah
melalui lembaga-lembaga yang dibentuk oleh pemerintah yang membidangi
perlindungan konsumen, selain peran serta pemerintah, peran serta masyarakat
sangat perlu dibutuhkan dalam perlindungan konsumen dalam kasus malpraktek
serta penerapan hukum terhadap kasus malpraktek yang meliputi tanggung jawab
hukum dan sanksinya menurut Hukum Perdata, pidana dan administrasi

II.

TEORI

Tenaga Kesehatan
UU No. 23/1992 Pasal 1 butir ke 3
setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki
pengetahuan dan atau ketrampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan yang
untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan.

PP No. 32/1996

Tenaga Kesehatan antara lain terdiri dari tenaga medis (dokter dan dokter gigi) dan
tenaga keperawatan (perawat dan bidan).

Pedoman Tenaga Kesehatan


Kep. Menkes RI. No: 434/MEN.KES/SK/X/1983 ttg. Kode Etik Kedokteran

Indonesia

Standar Profesi Kedokteran

Jenis-jenis Malpraktek Medis


1.

Malpraktek kriminal (pidana)

kesalahan dalam menjalankan praktek yang berkaitan dengan pelanggaran undangundang hukum pidana.
2.

Malpraktek sipil (perdata)

kesalahan dalam menjalankan praktek yang menyalahi atau melanggar atau tidak
memenuhi transaksi atau kontrak terapeutik antara dokter dengan pasien, yaitu
hubungan hukum dokter dengan pasien, dimana dokter bersedia memberikan
pelayanan/perawatan medis kepada pasien, dan pasien bersedia membayar
sejumlah honor kepada dokter tersebut.
3.

Malpraktek etik

lebih menekankan pada tindakan yang dilakukan si pelaku dengan berpedoman


kepada kode etik profesi. Sanksi yang diberikan bertujuan edukatif dan bukan
sebagai hukuman atau pengganti kurungan

Malpraktek Kriminal
a.

menyebabkan pasien meninggal/luka karena kelalaian/ketidakhati-

hatian tenaga medis


Ps. 359 KUHP - akibat kelalaian, menyebabkan matinya orang lain dengan
pidana penjara paling lama 5 thn;
Ps. 360 (1) KUHP - akibat kelalaian, menyebabkan orang lain luka berat
dengan pidana penjara paling lama 5 thn atau kurungan paling lama 1 thn;
Ps. 360 (2) KUHP - akibat kelalaian, menyebabkan orang lain menderita
luka-luka sehingga timbul penyakit atau halangan menjalankan pekerjaan,
jabatan atau pencaharian selama waktu tertentu, pidana penjara paling lama
9 bulan atau kurungan 6 bulan atau denda paling tinggi Rp. 300,-;

Ps. 361 KUHP - apabila kelalaian tersebut dilakukan dalam menjalankan

suatu jabatan atau pencaharian, pidana ditambah dan haknya untuk


menjalankan pencaharian dapat dicabut.
b.

abortus provokatus
Ps. 299 KUHP - dengan sengaja menggugurkan kandungan seorang

wanita atau berbuat dengan maksud mencari keuntungan atau sebagai mata
pencaharian atau sebagai dokter, bidan, atau juru obat, dipidana paling lama
4 tahun dan ditambah pidana;

Ps. 347 (1) KUHP - dengan sengaja menyebabkan gugur atau mati

kandungan seorang wanita tidak dengan ijin yang bersangkutan, dipidana


paling lama 12 tahun;

Ps. 347 (2) KUHP - apabila perbuatan tersebut menyebabkan wanita itu

mati, dipidana dengan penjara paling lama 15 tahun;

Ps. 348 (2) KUHP - apabila perbuatan itu menyebabkan wanita itu mati,

dipidana paling lama 7 tahun;

Ps. 349 KUHP - apabila seorang dokter, bidan, atau juru obat bersalah

melakukan kejahatan dalam Pasal 347 dan 348, maka pidana dapat ditambah
dan dapat dicabut hak untuk melakukan pekerjaannya;

Tambahan:

Ps. 80 (1) UU No. 23/1992,

sanksi pidanany adalah:


a.

pidana penjara 15 tahun; dan

b.

denda paling banyak Rp. 500.000.000,

c.

pelanggaran kesusilaan atau kesopanan

Ps. 285 KUHP - perkosaan, dipidana paling lama 12 tahun;

Ps. 286 KUHP - melakukan persetubuhan dengan perempuan yang

bukan istrinya yang dalam keadaan pingsan atau tidak berdaya, dipidana
paling lama 9 tahun;

Ps. 290 KUHP - pencabulan terhadap orang yang dalam keadaan

pingsan atau tidak berdaya, atau dibawah umur atau membiarkan terjadi,
dipidana paling lama 7 tahun.
d.

Membuka rahasia kedokteran

Ps. 322 KUHP - dengan sengaja membuka rahasia yang ia wajib menyimpan
oleh karena jabatan atau pekerjaan, dipidana paling lama 9 bulan atau denda
paling banyak Rp. 9.000
e.

Pemalsuan surat keterangan


Ps. 263 KUHP - membuat surat palsu atau memalsukan surat yang dapat

menjadi bukti tentang sesuatu hal, dapat dipidana paling lama 6 tahun, dan

Ps. 267 KUHP - pemalsuan surat pembukti resmi (akte otentik), dipidana

paling lama 8 tahun.


f. Sengaja tidak memberikan pertolongan pada orang yang dalam keadaan
bahaya

Ps. 304 KUHP - dengan sengaja menyebabkan atau membiarkan orang

dalam kesengsaraan, dapat dipidana paling lama 2 tahun 8 bulan atau denda
paling banyak Rp. 4.000,-; dan

Ps. 531 KUHP - menyaksikan seseorang dalam bahaya maut yang

mengancam pada saat itu juga mengalpakan memberi atau mengadakan


pertolongan jika orang yang perlu ditolong jadi mati, dipidana dengan pidana
kurungan paling lama 3 bulan atau denda paling banyak Rp. 4.500,-).
KUHAP mengatur penanganan suatu kasus melewati 3 tahapan:
1.

Penyelidikan - serangkaian tindakan penyelidik untuk mencari &

menemukan suatu peristiwa yang diduga sebagai tindak pidana guna


menentukan dapat atau tidaknya dilakukan penyidikan

(Ps. 1 ke-

5 KUHAP);
2.

Penyidikan - serangkaian tindakan penyidik untuk mencari serta

mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang tentang


tindak pidana yang terjadi dan guna menemukan tersangkanya (Ps. 1
ke-2 KUHAP);
3.

Penuntutan - tindakan penuntut umum untuk melimpahkan

perkara pidana ke pengadilan negeri yang berwenang dengan


permintaan supaya diperiksa dan diputus oleh hakim di sidang
pengadilan (Ps. 1 ke-7 KUHAP).
Operasi yang dilakukan oleh tenaga kesehatan, dalam hal ini dokter dan
suster yang berhubungan langsung dengan pasien, dilakukan karena kelalaian
sehingga dalam kasus ini didakwakan

Ps. 361 KUHP.

Dalam hukum pidana, beban pembuktian ada pada JPU, sehingga untuk
membuktikan kelalaian tersebut menggunakan alat bukti yang sah:
a.

keterangan saksi - Ps. 185 KUHAP;

b.

Keterangan ahli - Ps. 186 KUHAP;

c.

Surat - Ps. 187 KUHAP;

d.

Petunjuk - Ps. 188 KUHAP;

e.

Keterangan Terdakwa - Ps. 189 KUHAP

A.

Penanganan malpraktek medis pada dasarnya tidak berbeda


dengan penanganan perkara-perkara tindak pidana yang
lainnya. Perbedaannya adalah pihak yang merasa dirugikan
selain dapat mengajukan upaya pidana, juga dapat mengajukan
upaya perdata dan upaya administrasi atau melaporkan hal
tersebut pada IDI yang nantinya akan diproses secara

administratif.
B. Penanganan yang dilakukan oleh JPU dalam kasus malpraktek
medis sama dengan penanganan kasus-kasus lainnya.

III. PENJELASAN DARI TEORI


Hukum pidana, perdata, administratif atau kah Kode etik
Dalam kasus operasi dengan menggunakan silet merupakan kasus yang
berhubungan dengan pihak rumah sakit,dimana kasus ini merupakan
kasus malpraktek etik. Dokter tidak dapat di kenai hukum karena dokter
tersebut sudah melakukan tugasnya dengan baik yaitu melindungi pasien
dari

penderitaan,serta

menyelamatkan

nyawa

pasien. Pokok

permasalahannya hanya karena peralatan (pisau bedah ) tidak terdapat


dalam ruangan operasi tersebut si dokter menggunakan alat seadanya
yaitu silet steril untuk menyelamatkan nyawa si pasien tersebut, dengan
beberapa pertimbangan yaitu pasiennya sudah terlanjur di bius jadi harus
segera di lakukan tindakan emergency oleh dokter tersebut. Sebenarnya
kasus ini merupakan pelanggaran etik karena si dokter hanya berusaha
membantu menyelamatkan pasien tersebut sehingga tidak ada pilihan lain
lagi untuk membedah pasien tersebut dengan menggunakan silet,yang
sebenarnya juga mempunyai resiko medic bagi pasien.
Untuk sanksi yang di berikan ,semua telah di atur dalam sebuah lembaga
disiplin profesi MKEK (Majelis Kehormatan Etik Kedokteran) sebagai
lembaga independen yang memiliki suatu kewenangan khusus dalam
mengukur telah terjadi tindak pelanggaran terhadap kode etik kedokteran
ataukah tidak dan pemerintah melalui amanat Undang-Undang Nomor 29
tahun 2004 khususnya pasal 55 membentuk sebuah lembaga disiplin
profesi, bernama Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia
(MKDKI) yang berfungsi untuk menegakkan disiplin bagi dokter dan dokter
gigi dalam menjalankan praktik kedokteran.

IV. RINGKASAN

Secara teoritis ada tiga kategori malpraktik dokter, yaitu: Intensional


professional misconduct, negligence, dan lack of skill. Istilah malpraktik
tidak dikenal dalam sistem hukum positif Indonesia, namun dalam undangundang atau dalam hukum positif dikenal dengan istilah kesalahan dan
kelalaian.
1. Ps. 359 KUHP - akibat kelalaian, menyebabkan matinya orang lain dengan pidana
penjara paling lama 5 thn;
2. Ps. 360 (1) KUHP - akibat kelalaian, menyebabkan orang lain luka berat dengan
pidana penjara paling lama 5 thn atau kurungan paling lama 1 thn;
3. Ps. 360 (2) KUHP - akibat kelalaian, menyebabkan orang lain menderita luka-luka
sehingga timbul penyakit atau halangan menjalankan pekerjaan, jabatan atau
pencaharian selama waktu tertentu, pidana penjara paling lama 9 bulan atau
kurungan 6 bulan atau denda paling tinggi Rp. 300,-;

Ps. 361 KUHP - apabila kelalaian tersebut dilakukan dalam


menjalankan suatu jabatan atau pencaharian, pidana ditambah dan
haknya untuk menjalankan pencaharian dapat dicabut

V.

REFERENSI

1. http://www.indosiar.com/fokus/korban-meninggal-usai-operasicaesar_80541.html
Diakses pada tanggal 9 desember 2012 pukul 22.31
2. http://betaraubd.blogspot.com/2012/09/penanganan-kasus-malpraktek-medisoleh.html
Diakses pada tanggal 9 desember 2012 pukul 22.31
3. http://kesehatan.kompasiana.com/medis/2012/07/11/makalah-etika-danhukum-kesehatan-operasi-cesar-menggunakan-silet-476289.html
Diakses pada tanggal 9 desember 2012 pukul 22.31
4. http://situscoplug.blogspot.com/2011/06/pengertian-malpraktek-doktermenurut.html
Diakses pada tanggal 9 desember 2012 pukul 22.31
5. http://mengubahwindowspalsumenjadiasli.blogspot.com/2011/01/makalahmalpraktek.html
Diakses pada tanggal 9 desember 2012 pukul 22.31
6. http://futurerudi.blogspot.com/2010/12/definisi-malpraktek.html
Diakses pada tanggal 9 desember 2012 pukul 22.31