Anda di halaman 1dari 25

Beban Kerja Fisik Vs Beban Kerja Mental

(Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Mata Pelajaran Ergonomi II)

Dosen Pengampu:
Tarwaka, PGDip.Sc.,M.Erg.,

(Kelas B)

Ira Pracinasari
R0012048

PROGRAM DIPLOMA III HIPERKES DAN KESELAMATAN KERJA


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2013

Beban Kerja Fisik Vs Beban Kerja Mental | 1

BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Aktifitas-aktifitas manusia memerlukan energi yang besarnya tergantung pada besar
dari beban kegiatan yang dilakukan dan kemampuan fisik dari masing-masing individu. Hal
ini dikarenakan keterbatasan kemampuan manusia sehingga menyebabkan manusia akan
mengalami fatigue, baik kelelahan fisik maupun kelelahan psikologis, yang akan berakibat
pada penurunan performance kerja.
Ketika manusia melakukan aktivitas yang melebihi kemampuannya dapat
mengakibatkan seseorang mengalami fatigue, baik kelelahan fisik maupun kelelahan
psikologis, yang dapat mengakibatkan penurunan work performance. Maka dari itu, agar
dapat mengoptimalkan kemampuan kerja, perlu memperhatikan pengeluaran dan pemulihan
setidaknya dapat diseimbangkan dengan pemulihan energinya, dan waktu istirahatnya.
Dengan demikian diharapkan dapat mengevaluasi dan merancang kembali tata cara kerja
yang harus diaplikasikan agar dapat memberikan peningkatan efektifitas dan efisiensi kerja
serta kenyamanan maupun keselamatan kerja bagi manusia pada umumnya dan pekerja pada
khususnya.
Keberhasilan kerja dipengaruhi oleh salah satu faktor diantaranyaa dalah faktor kerja
fisik (otot). Kerja fisik ( beban kerja) mengakibatkan pengeluaran energi, sehingga
berpengaruh pada kemampuan kerja manusia. Dengan kerja fisik seseorang akan
mengeluarka energi karena pekerjaan yang dilakukannya tersebut. Untuk mengoptimalkan
kemampuan kerja, perlu diperhatikan pengeluaran energi pemulihan energi selama proses
kerja berlangsung. Faktor yang mempengaruhi besarnya pengeluaran energi selama bekerja
antara lain adalah cara pelaksanaan kerja, kecepatan kerja, sikap kerja dan kondisi lingkungan
kerja. Faktor yang mempengaruhi pemulihan energi antara lain adalah lamanya waktu
istirahat, periode istirahat, dan frekuensi istirahat.
Faktor pemulihan energi sangat penting diperhatikan karena selama proses kerja
terjadi kelelahan. Hal ini diakibatkan oleh dua hal yaitu kelelahan fisiologis dan kelelahan
psikologis. Yang dimaksud kelelahan fisiologis adalah kelelahan yang timbul karena adanya
perubahan faal tubuh. Perubahan faal tubuh dari kondisi segar menjadi letih akan
mempengaruhi keoptimalan kinerja pekerja. Pemulihan kondisi faal tubuh untuk kembali
pada kondisi segar selama beraktivitas merupakan hal penting yang perlu diperhatikan. Salah
Beban Kerja Fisik Vs Beban Kerja Mental | 2

satu faktor yang dapat mempengaruhi pemulihan energi adalah istirahat. Pekerja yang bekerja
dengan beban kerja berat tentunya membutuhkan periode dan frekuensi yang berbeda dengan
pekerja yang bekerja dengan beban kerja ringan.
I.2 Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud beban kerja?
2. Apa yang dimaksud dengan beban kerja fisik dan mental?
3. Bagaimana penilaian beban kerja fisik dan beban kerja mental?
I.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud beban kerja
2. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan beban kerja fisik dan mental
3. Untuk mengetahui bagaimana penilaian beban kerja fisik dan beban kerja mental

BAB II
ISI
2.1 Beban Kerja

Beban Kerja Fisik Vs Beban Kerja Mental | 3

Workload atau beban kerja merupakan usaha yang harus dikeluarkan oleh seseorang
untuk memenuhi permintaan dari pekerjaan tersebut. Sedangkan kapasitas adalah
kemampuan/kapasitas manusia. Kapasitas ini dapat diukur dari kondisi fisik maupun mental
seseorang. Beban kerja yang dimaksud adalah ukuran (porsi) dari kapasitas operator yang
terbatas yang dibutuhkan untuk melakukan kerja tertentu.
Selain beban kerja fisik ,beban kerja yang bersifat mental harus pula dinilai. Namun
demikian Tunjungsarilaian beban kerja mental tidaklah semudah menilai beban kerja fisik.
Pekerjaan yang bersifat mental sulit diukur melalui perubahan fungsi faal tubuh. Secara
fisiologis, aktivitas mental terlihat sebagai suatu jenis pekerjaan yang ringan sehingga
kebutuhan kalori untuk aktivitas mental juga lebih rendah. Padahal secara moral dan tanggung
jawab, aktivitas mental jelas lebih berat dibandingkan dengan aktivitas fisik, karena lebih
melibatkan kerja otak (white-collar) daripada kerja otot (Blue-collar). Dewasa ini aktivitas
mental lebih banyak didominasi oleh pekerja-pekerja kantor, supervisor dan pimpinan sebagai
pengambil keputusan dengan tanggung jawab yang lebih besar. Menurut Grandjean (1993)
setiap aktivitas mental akan selalu melibatkan unsure persepsi, interpretasi dan proses mental
dari suatu informasi yang diterima oleh organ sensor untuk diambil suatu keputusan atau proses
mengingat informasi yang lampau.
Dalam suatu kerja fisik, manusia akan menghasilkan perubahan dalam konsumsi
Oksigen, Heart Rate, Temperatur tubuh dan perubahan senyawa kimia dalam tubuh.
Kerja fisik ini dikelompokkan oleh Davis dan Miller :
1. Kerja total seluruh tubuh, yang menngunakan sebagian besar otot biasanya
melibatkan dua per tiga atau tiga seperempat otot tubuh.
2. Kerja otot yang membutuhkan energi Expenditure karena otot yang digunakan lebih
sedikit.
3. Kerja otot statis, otot digunakan untuk menghasilkan gaya tetapi tanpa kerja
mekanik membutuhkan kontraksi sebagian otot
Metode Pengukuran kerja fisik dilakukan dengan menggunakan standar :
1. Konsep Horse-Power oleh Taylor, tetapi tidak memuaskan.
2. Tingkat konsumsi energi untuk mengukur pengeluaran energi.
3. Perubahan tingkat kerja jantung dan konsumsi Oksigen.
Studi Pengukuran fisiologis ditujukan untuk mengatasi :
1. Pengetahuan baru tentang performans manusia
2. Lebih memantau perilaku / sifat para atlit juara.
Beban Kerja Fisik Vs Beban Kerja Mental | 4

3. Membantu kendala fisik seseorang


Tiffin mengemukakan kriteria yang dapat digunakan untuk mengetahui pengaruh
pekerjaan terhadap manusia dalam suatu sistem kerja, yaitu : Kriteria Faali, kriteria kejiwaan
dan kriteria hasil kerja. Kriteria Faali meliputi: Kecepatan denyut jantung, konsumsi
Oksigen, Tekanan darah, Tingkat penguapan, Temperatur tubuh, komposisi kimiawi dalam
darah dan air seni. Kriteria ini digunakan untuk mengetahui perubahan fungsi alat-alat tubuh.
Kejiwaan yang timbul selama bekerja. Kriteria Kejiwaan meliputi: pengujian tingkat
kejiwaan pekerja, seperti tingkat kejenuhan, emosi, motivasi, sikap dan lain-lain. Kriteria
kejiwaan digunakan untuk mengetahui perubahan Kriteria Hasil Kerja meliputi: hasil kerja
yang diperoleh dari pekerja. Kriteria ini digunakan untuk mengetahui pengaruh seluruh
kondisi kerja dengan melihat hasil kerja yang diperoleh dari pekerja tersebut.
2.1.1

Manifestasi Kerja Berat


Dengan bertambah kompleksnya aktivitas otot, maka beberapa hal yang patut

dijadikan pokok bahasan dan analisa terhadap manifestasi kerja berat tersebut antara lain :
Denyut Jantung ( heart rate )
Tekanan darah ( blood pressure )
Cardiac Output ( Keluaran paru dengan satuan liter per menit )
Komposisi kimia darah ( kandungan asam laktat )
Temperatur darah ( body temperature )
Kecepatan berkeringat ( Sweating rate )
Pulmonary vebtilation ( kecepatan membuka atau menutupnya vebtilasi paru
dengan satuan liter per menit )
Konsumsi energi
Selain dimanfaatkan untuk evaluasi dan perancangan tata cara kerja, hasil pengukuran
energi yang dikonsumsi untuk kerja juga bisa diaplikasikan untuk beberapa alasan yang
berkaitan dengan permasalahanpermasalahansebagai berikut:

Keselamatan (safety)
Pengaturan jadwal istirahat (scheduling breaks)
Spesifikasi jabatan (job spesification) dan seleksi personil
Evaluasi jabatan (job evaluation)
Tekanan dari faktor lingkungan (environment stress)

( Sritomo Wignjosoebroto,Ergonomi : Studi Gerak dan Waktu, 1995)


2.1.2

Faktor Yang Mempengaruhi Beban Kerja

Beban Kerja Fisik Vs Beban Kerja Mental | 5

Tubuh manusia dirancang untuk dapat melakukan aktivitas kerja seharihari. Adanya
massa otot yang bobotnya hampir lebih dari separuh barat tubuh, memungkinkan kita untuk
dapat menggerakkan tubuh dan melakukan pekerjaan. Pekerjaan disatu pihak mempunyai arti
penting bagi kemajuan dan peningkatan prestasi. Di pihak lain , dengan pekerjaan berarti
tubuh akan menerima beban dari luar tubuhnya. Dengan kata lain bahwa setiap pekerjaan
merupakan beban bagi yang bersangkutan. Beban tersebut dapat berupa beban fisik maupun
beban mental. Dari sudut pandang ergonomi, setiap beban kerja diterima oleh seseorang
harus sesuai atau seimbang baik terhadap kemampuan fisik, kemampuan kognitif maupun
keterbatasan manusia yang menerima beban tersebut. Menurut Sumamur (1984) bahwa
kemampuan kerja seorang tenaga kerja berbeda dari satu kepada yang lainnya dan sangat
tergantung dari tingkatan keterampilan, kesegaran jasmani, keadaan gizi, jenis kelamin, usia
dan ukuran tubuh dari pekerjaan yang bersangkutan.
Menurut Rodahl (2000), bahwa secara umum sehubungan dengan beban kerja dan
kapasitas kerja dipengaruhi oleh berbagai faktor yang sangat kompleks, baik faktor eksternal
dan internal.
2.1.2.1

Beban Kerja Karena Faktor Eksternal

Faktor eksternal adalah beban kerja yang berasal dari luar tubuh pekerja, yang
termasuk beban kerja eksternal adalah tugas (task) itu sendiri, organisasi dan lingkungan
kerja. Ketiga faktor tersebut disebut stressor.
1. Tugas (Task)
a. Bersifat fisik seperti stasiun kerja, kondisi, medan, atau sikap kerja.
b. Bersifat mental seperti tingkat kesulitan kerja yang mempengaruhi tingkat emosi pekerja,
atau kompleksitas pekerjaan.
Tugas-tugas yang (tasks) yang dilakukan baik yang bersifat fisik, seperti stasiun kerja,
kondisi atau medan, sikap kerja, dll. Sedangkan tugas-tuigas yang bersifat mental seperti
kompleksitas pekerjaan, atau tingkat kesulitan pekerjaann yang mempengaruhi tingkat emosi
pekerja, tanggung pekerja, dll.
2. Organisasi Kerja
Organisasi kerja yang dapat mempengaruhi beban kerja seperti lamanya waktu kerja,
waktu istirahat, kerja bergilir, kerja malam, sistem pengupahan, sistem keerja, musik kerja,
pelimpahan dan wewenang kerja, dll
3. Lingkungan Kerja

Beban Kerja Fisik Vs Beban Kerja Mental | 6

Lingkungan kerja fisik seperti : mikroklimat, intensitas kebisinga, intensitas cahaya, vibrasi
mekanis, dan tekanan udara. Lingkungan kerja kimiawi seperti debu, gas-gas pencemar
udara. Lingkungan kerja biologis, seperti bakteri, virus, parasit. Lingkungan kerja fisiologis
seperti penempatan dan pemiliha karyawan, hubungan sesame pekerja, pekerja dengan
atasan,pekerja dengan lingkungan sosial.
2.1.2.2

Beban Kerja Karena Faktor Internal

Faktor internal beban kerja adalah faktor yang berasal dari dalam tubuh itu sendiri
sebagai akibat adanya reaksi dari beban kerja eksternal. Reaksi tersebut disebut strain, besarkecilnya strain dapat dinilai baik secara obyekstif maupun subyektif. Secara obyektif yaitu
melalui perubahan reaksi fisiologis, secara subyekstif dapat melalui perubahan fisiologis dan
perubahan perilaku. Secara singkat faktor internal meliputi :

2.2

Faktor somatic (jenis kelamin, umur, ukuran tubuh, kondisi kesehatan,

kondisi kesehatan)
Faktor psikis (motivasi, persepsi, kepercayaan, keinginan, kepuasan, dll)

Kerja Fisik
Kerja fisik adalah kerja yang memerlukan energi fisik otot manusia sebagai sumber

tenaganya (power). Kerja fisik disebut juga manual operation dimana performans kerja
sepenuhnya akan tergantung pada manusia yang berfungsi sebagai sumber tenaga (power)
ataupun pengendali kerja. Kerja fisik juga dapat dikonotasikan dengan kerja berat atau kerja
kasar karena kegiatan tersebut memerlukan usaha fisik manusia yang kuat selama periode
kerja berlangsung.Dalam kerja fisik konsumsi energi merupakan factor utama yang dijadikan
tolak ukur penentu berat / ringannya suatu pekerjaan. Secara garis besar, kegiatan-kegiatan
manusia dapat digolongkan menjadi kerja fisik dan kerja mental. Pemisahan ini tidak dapat
dilakukan secara sempurna, karena terdapatnya hubungan yang erat antar satu dengan
lainnya. Kerja fisik akan mengakibatkan perubahan fungsi pada alat-alat tubuh, yang dapat
dideteksi melalui :
1. Konsumsi oksigen
2. Denyut jantung
3. Peredaran udara dalam paru-paru
4. Temperatur tubuh
5. Konsentrasi asam laktat dalam darah
Beban Kerja Fisik Vs Beban Kerja Mental | 7

6. Komposisi kimia dalam darah dan air seni


7. Tingkat penguapan
8. Faktor lainnya
Kerja fisik akan mengeluarkan energi yang berhubungan erat dengan konsumsi
energi. Konsumsi energi pada waktu kerja biasanya ditentukan dengan cara tidak langsung,
yaitu dengan pengukuran :
1. Kecepatan denyut jantung
2. Konsumsi Oksigen
Pengeluaran energi relatif yang banyak dan pada jenis tersebut dapat dibedakan dalam
beberapa kerja sesuai fisik yaitu:
a. Kerja Statis, yaitu:
1. Tidak menghasilkan gerak.
2. Kontraksi otot bersifat isometris (tegang otot bertambah sementara tegangan
otot tetap).
3. Kelelahan lebih cepat terjadi.
b. Kerja Dinamis, yaitu:
1. Menghasilkan gerak.
2. Kontraksi otot bersifat isotonis (panjang otot berubah sementara tegangan
otot tetap).
3. Kontraksi otot bersifat ritmis (kontraksi dan relaksasi secara bergantian).
4. Kelelahan relatif agak lama terjadi
2.2.1

Penilaian Beban kerja Fisik


Menurut Rodahl (1989) bahwa penilaian beban fisik dapat dilakukan dengan dua

metode secara objektif , yaitu penelitian secara langsung dan metode tidak langsung. Metode
pengukuran langsung yaitu dengan mengukur oksigen yang dikeluarkan (energyexpenditure)
melalui asupan energi selama bekerja. Semakin berat kerja semakin banyak energi yang
dikeluarkan. Meskipun metode dengan menggunakan asupan oksigen lebih akurat, namun
hanya mengukur secara singkat dan peralatan yang diperlukan sangat mahal. Lebih lanjut
Christensen (2001) menjelaskan bahwa salah satu pendekatan untuk mengetahui berat
ringannya beban kerja adalah dengan menghitung nadi kerja, konsumsi energi, kapasitas
ventilasi paru dan suhu inti tubuh. Pada batas tertentu ventilasi paru, denyut jantung, dan
suhu tubuh mempunyai hubungan yang linear dengan konsumsi oksigen atau pekerjaan yang
dilakukan. Kemudian Konz (1996) mengemukakan bahwa denyut jantung adalah suatu alat
Beban Kerja Fisik Vs Beban Kerja Mental | 8

estimasi laju metabolisme yang baik, kecuali dalam keadaan emosi dan konsodilatasi.
Kategori berat ringannya beban kerja didasarkan pada metabolisme respirasi, suhu tubuh, dan
denyut jantung menurut Christensen, dapat dilihat pada table di berikut ini :
Tabel 2.1Kategori berat ringannya beban kerja didasarkan pada metabolisme respirasi,
suhu tubuh, dan denyut jantung
Kategori

Konsumsi

Temperatur

Energi

Denyut

Lung Ventilation

Oksigen

Rectal

Kkal/

Jantung

Liter / menit

Sangat

( liter/ menit )
0.25 0.3

C
37.5

Menit
< 2.5

< 60

67

Ringan
Ringan
Moderat
Berat
Sangat

0.5 - 1
1.0 - 1.5
1.5 - 2.0
2.0 2.5

37.5
37.5 38
38 38.5
38.5 39

2.5-5.0
5.0-7.5
7.5-10.00
10.00-

60 100
100 125
125 150
150 175

11 - 20
20 31
31 - 43
43 - 56

> 39

12.5
> 12.5

> 175

60 - 100

Berat
Berat

> 2.5

Ekstrim
( Sumber : Christensen, 1991 )
Berat ringannya beban kerja yang diterima oleh seorang tenaga kerja dapat digunakan
untuk menentukan berapa lama seorang tenaga kerja dapat melakukan aktivitas kerjanya
sesuai dengan kemampuan atau kapasitas kerja yang bersangkutan. Di mana semakin berat
beban kerja, maka akan semakin pendek waktu seseorang untuk bekerja tanpa kelelahan dan
gangguan fisiologis yang berarti atau sebaliknya.

Kerja fisik dikelompokkan oleh David dan Miller :


a. Kerja total seluruh tubuh, yang mempergunakan sebagian besar otot biasanya
melibatkan dua pertiga atau tiga perempat oleh otot tubuh.
b. Kerja sebagian otot, yang membutuhkan lebih sedikit energi expenditure karena
otot yang dipergunakan lebih sedikit.
c. Kerja otot statis, yaitu otot yang dipergunakan untuk menghasilkan gaya, tetapi
tanpa kerja mekanik membutuhkan kontraksi sebagian otot.

Beban Kerja Fisik Vs Beban Kerja Mental | 9

Namun, sampai saat ini metode pengukuran fisik dilakukan dengan menggunakan
standar :
1. Konsep Horse Power (Foot-Pounds of Work Per Minute) oleh Taylor, tapi tidak
memuaskan.
2. Tingkat konsumsi energi untuk mengukur pengeluaran energi.
3. Perubahan tingkat kerja jantung dan konsumsi oksigen (dengan metode terbaru).
( Sritomo Wignjosoebroto,Ergonomi : Studi Gerak dan Waktu, 1995 )
Menurut Rodhal (1989) dalam Tarwaka, dkk bahwa penilaian beban kerja dapat
dilakukan dengan dua metode secara objektif, yaitu metode penilaian langsung dan metode
penilaian tidak langsung.
2.2.2

Metode Penilaian Langsung


Metode pengukuran langsung yaitu dengan mengukur energi yang dikeluarkan

(energy expenditure) melalui asupan oksigen selama bekerja. Semakin berat beban kerja akan
semakin banyak energi yang diperlukan untuk dikonsumsi. Meskipun metode pengukuran
asupan oksigen lebih akurat, namun hanya dapat mengukur untuk waktu kerja yang singkat
dandiperlukan peralatan yang mahal. Berikut adalah kategori beban kerja yang didasarkan
pada metabolisme, respirasi suhu tubuh dan denyut jantung menurut Christensen (1991) pada
tabel berikut:
Tabel 2.2kategori beban kerja yang didasarkan pada metabolisme, respirasi suhu tubuh
dan denyut jantung menurut Christensen (1991)

Tabel 2.3 Konsumsi Oksigen Maksimum (VO2 max) mL/(Kg-min)

Beban Kerja Fisik Vs Beban Kerja Mental | 10

Dalam penentuan konsumsi energi biasanya digunakan suatu bentuk hubungan energi
dengan kecepatan denyut jantung yaitu sebuah persamaan regresi kuadratis sebagai berikut:
Y = 1.80411 - 0.0229038 + 4.70733 x 10-4X2
Dimana:
E = Energi (Kkal/menit)
X = Kecepatan denyut jantung/nadi (denyut/menit)
2.2.3

Metode Penilaian Tidak Langsung


Metode penilaian tidak langsung adalah dengan menghitung denyut nadi selama

bekerja. Pengukuran denyut jantung selama bekerja merupakan suatu metode untuk menilai
cardiovasculair strain dengan metode 10 denyut (Kilbon, 1992) dimana dengan metode ini
dapat dihitung denyut nadi kerja sebagai berikut:

Denyut Jantung (Denyut/Menit) =

Penggunaan nadi kerja untuk menilai berat ringannya beban kerja mempunyai
beberapa keuntungan, selain mudah, cepat, sangkil dan murah juga tidak diperlukan peraltan
yang mahal serta hasilnya pun cukup reliabel dan tidak menganggu ataupun menyakiti orang
yang diperiksa.
Denyut nadi untuk mengestimasi indek beban kerja fisik terdiri dari beberapa jenis
yaitu:
1. Denyut Nadi Istirahat (DNI) adalah rerata denyut nadi sebelumpekerjaan dimulai
2.

Denyut Nadi Kerja (DNK) adalah rerata denyut nadi selama bekerja

3. Nadi Kerja (NK) adalah selisih antara denyut nadi istirahat dengan denyut nadi kerja.
Peningkatan denyut nadi mempunyai peranan yang sangat penting didalam
peningkatan cardiat output dari istirahat sampai kerja maksimum. Peningkatan yang potensial
dalam denyut nadi dari istirahat sampai kerja maksimum oleh Rodahl (1989) dalam Tarwaka,
dkk (2004:101) didefinisikan sebagai Heart Rate Reverse (HR Reverse) yang diekspresikan
dalam presentase yang dapat dihitung menggunakan rumus sebagai berikut.
Beban Kerja Fisik Vs Beban Kerja Mental | 11

% HR Reserve =

Denyut Nadi Maksimum (DNMax) adalah: (220 umur) untuk laki-laki dan (200
umur) untuk perempuan. Lebih lanjut untuk menentukan klasifikasi beban kerja bedasarkan
peningkatan denyut nadi kerja yang dibandingkan dengan denyut nadi maksimum karena
beban kardiovaskuler (cardiovasculair load = % CVL) dapat dihitung dengan rumus sebagai
berikut.

% CVL=

Dari hasil perhitungan % CVL tersebut kemudian di bandingkan dengan klasifikasi


yang telah ditetapkan sebagai berikut:
Tabel 2.4 Klasifikasi Berat Ringan Beban Kerja Berdasar % CVL

Selain cara tersebut diatas cardivasculair strain dapat diestimasi menguunakan denyut
nadi pemulihan (heart rate recovery) atau dikenal dengan Metode Brouba. Keuntungan
metode ini adalah sama sekali tidak menganggu atau menghentikan pekerjaan, karena
pengukuran dilakukansetelah subjek berhenti bekerja. Denyut nadi pemulihan (P) dihitung
pada akhir 30 detik menit pertama, kedua dan ketiga (P1, P2, P3). Rerata dari ketiga nilai
tersebut dihubungkan dengan total cardiac cost dengan ketentuan sebagai berikut:

Jika P1 P3 10,
atau P1, P2, P3 seluruhnya < 90, nadi pemulihan normal

Beban Kerja Fisik Vs Beban Kerja Mental | 12

Jika rata-rata P1

tercatat 110, dan P1 P3 10, maka beban kerja tifak berlebihan


Jika P1 P3< 10,

dan jika P3> 90 perlu redesain pekerjaan

Laju pemulihan denyut nadi dipengaruhi oleh nilai absolute denyut nadi pada
ketergantungguan pekerjaan (the interruption of work), tingkat kebugaran (individual fitness),
dan pemaparan panas lingkungan. Jika nadi pemulihan tidak segera tercapai maka
diperluakan redesain pekerjaan untuk mengurangi tekanan fisik. Redesain tersebut dapat
berupa variabel tunggal maupun keseluruhan dari variabel bebas (tasks, organisasai kerja, dan
lingkungan kerja) yang menyebabkan beban tugas tambahan. (Tarwaka, Solichul, H.A Bakri,
2004)
2.2.4

Penilaian Beban Kerja Berdasarkan Jumlah Kebutuhan Kalori


Salah satu kebutuhan utama dalam pergerakkan otot adalah kebutuhan akan oksigen

yang dibawa oleh darh ke otot untuk pembakaran zat dalam menghasilkan energi. Sehingga
jumlah oksigen yang dipergunakan oleh tubuh merupakan salah satu indikator pembebanan
selama bekerja. Dengan demikian setiap aktivitas pekerjaan memerlukan energi yang
dihasilkan dari proses pembakaran. Berdasarkan hal tersebut maka kebutuhan kalori dapat
digunakan sebagai indikator untuk menentukan besar ringannya beban kerja. Berdasarkan hal
tersebut mentri tenaga kerja, melalui keputusan no 51 tahun 1999 menetapkan kebutuhan
kalori untuk menentukan berat ringannya pekerjaan.
Beban kerja ringan :

100-200 Kilo kalori/jam

Beban kerja sedang :

> 200-350 Kilo kalori/ jam

Beban kerja berat :

> 350-500 Kilo kalori/ jam

Kebutuhan kalori dapat dinyatakan dalam kalori yang dapat diukur secara tidak
langsung dengan menentukan kebutuhan oksigen. Setiap kebutuhan oksigen sebanyak 1 liter
akan memberikan 4.8 kilo kalori (Sumamun, 1989)Sebagai dasar perhitungan dalam
menentukan jumlah kalori yang dibutuhkan oleh seseorang dalam melakukan aktivitas
pekerjannya, dapat dilakukan melalui pendekatan atau taksiran kebutuhan kalori menurut
aktivitasnya.
Menurut Grandjean (1993) bahwa kebutuhan kalori seorang pekerja selama 24 jam
ditentukan oleh tiga hal :

Beban Kerja Fisik Vs Beban Kerja Mental | 13

Kebutuhan kalori untuk metabolisme basal, dipengaruhi oleh jenis kelamin dan
usia.

Kebutuhan kalori untuk kerja, kebutuhan kalori sangat ditentukan dengan jenis
aktivitasnya, berat atau ringan.

Kebutuhan kalori untuk aktivitas lain-lain di luar jam kerja.


Kalori didapatkan dari sumber energy yang terdiri dari pada karbohidrat , lemak,

protein. Sumber sumber energy ini akan diolah dalam tubuh menghasilkan ATP , O2 dan H2O
dan sisa sisa metablisme. Salah satu kebutuhan utama dalam pergerakan otot adalah
kebutuhanakan oksigen yang dibawa darah ke ototuntuk pembakaran zat dan energi. jumlah
kalori yag dibutuhkan dalam melakukan aktifitas berbanding lurus dengan beratnya aktifitas
yang dilakukan. Maka berdasarkan hal tersebut diatas maka besarnya jumlah kebutuhan
kalori dapat digunakan sebagai petunjuk dalam menentukan berat ringannya satu pekerjaan.
Tabel 2.4 Kebutuhan Kalori Perjam Menurut Jenis Aktifitas
No
.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21

Kilokal/jam/Kg

Jenis Aktifitas
Tidur
Duduk dalam keadaan Istirahat
Membaca dengan intonasi keras
Berdiri dalam keadaan tenang
Menjahit dengan tangan
Berdiri dengan konsentrasi terhadapsatu objek
Berpakaian
Menyanyi
Menjahit dengan mesin
Mengetik
Menyetrika dengan berat setrika 2,5 kg
Mencuci peralatan dapur
Menyapu lantai dengan kecepatan 38 x/mnt
Menjilid buku
Politian Ringan
Jalan Ringan dengan kecepatan 3,9km/jam
Pekerjaan kayu,logam dan pengecatan dalam
industri
Politian sedang
Jalan agak cepat dengan kecepatan 5,6 km/jam
Jalan turun tangga
Pekerjaan tukang batu

Berat Badan
0,98
1,43
1,50
1,50
1,59
1,63
1,69
1,74
1,93
2,00
2,06
2,06
2,41
2,43
2,43
2,86
3,43
4,14
4,28
5,20
5,71

Beban Kerja Fisik Vs Beban Kerja Mental | 14

22
23
24

Politian berat
Penggergajian kayu secara manual
Berenang

6,43
6,86
7,14

Kebutuhan kalori per jam tersebut merupakan pemenuhan kebutuhan energi yang
dikeluarkan akibat beban kerja utama , sehingga masih diperlukan tambahan kalori apabila
terdapat beban kerja tambahan seperti, stasiun kerja yang tidak ergonomis, sikap paksa
waktu bekerja , suhu lingkungan yang panas dll.
Contoh: Seorang pekerja dengan berat badan sekitar 65 kg bekerja sebaga tukang
batu dibawah terik matahari , maka berdasarkan data tersebut diatas maka dapat diperoleh
jumlah kalori yang dibutuhkan adalah 5,71x65 kg = 371 Kilocal / jam. Beban kerja ini
termasuk dalam kategori beban kerja berat (> 350- 500 Kilokal /jam). Namun demikian
perhitungan tersebut belum memperhitungkan faktor tekanan panas yang memberikan beban
kerja tambahan.
Contoh tersebut baru menggambarkan kebutuhan kalori seseorang pekerja selama
waktu kerja. Menurut Grandjean (1993) bahwa kebutuhan kalori seorang pekerja selama 24
jam sehari ditentukan oleh tiga hal:
1.

Kabuuhan kalori untuk metabolisme basal


Dimana seorang laki-laki dewasa memerlukan kalori untuk metabolisme
basal 100 Kilo Joule (23.87 Kilo kalori) per 24 jam per kg-BB. Sedangkan
wanita dewasa memerlukan kalori untuk metabolisme basal 98 Kilo Joule
(23.39 Kilo kalori) per 24 jam per kg-BB. Sebaga contoh: seorang laki-laki
dewasa dengan berat badan 60 kg akan memerlukan kalori untuk

2.

metabolisme basal sebesar 6000 Kilo Joule (1432 Kilo kalori) per 24 jam.
Kebutuhan kalori untuk kerja
Kebutuhan kalori kerja sangat ditentukan dengan jenis aktivitas kerja yang
dilakukan atau berat ringannya pekerjaan, seperti yang telah ditentukan

3.

sebelumnya.
Kebutuhan kalori untuk aktivitas-aktivitas lain diluar jam kerja
Rerata kebutuhan kalori untuk aktivitas diluar jam kerja adalah 2400 kilo
Joule (573 Kilo kalori) untuk laki-laki dewasa dan sebesar 2000-2400 Kilo
Joule (477-425 Kilo kalori) per hari untuk wanita dewasa.

Berdasarkan uraian tersebut dapat digaris bawahi, penentuan kategori beban kerja
fisik berdasarkan kebutuhan oksigen melalui penaksiran kebutuhan kalori belum dapat
menggambarkan beban sebenarnya yang diterima oleh seorang pekerja. Hal tersebut
disebabkan karena masih banyak faktor yang mempengaruhi kebutuhan kalori. Selain berat
Beban Kerja Fisik Vs Beban Kerja Mental | 15

ringannya pekerja itu sendiri, juga dipengaruhi oleh lingkungan tempat bekerja, cara dan
sikap kerja serta stasiun kerja yang dugunakan selama kerja. Berdasarkan hal tersebut,
diperlukan penilaian beban kerja yang dapat menggambarkan secara keseluruhan beban yang
diterima seorang pekerja.
2.2.5

Penilaian Beban Kerja Berdasarkan Denyut Nadi Kerja


Pengukuran denyut jantung selama bekerja merupakan suatu metode untuk menilai

cardiovasculair strain. Derajat beban kerja hanya tergantung pada jumlah kalori yang
dikonsumsi, akan tetapi juga bergantung pada pembebanan otot statis. Sejumlah konsumsi
energi tertentu akan lebih berat jika hanya ditunjang oleh sejumlah kecil otot relative terhadap
sejumlah besar otot. Beberapa hal yang berkaitan dengen pengukuran denyut jantung adalah
sebagai berikut :
1.

Astrand dan Christensen meneliti pengeluaran energi dari tingkat denyut


jantung dan menemukan adanya hubungan langsung antara keduanya. Tingkat
pulsa dan denyut jantung permenit dapat digunakan untuk menghitung
pengeluaran energi.

2.

Secara lebih luas dapat dikatakan bahwa kecepatan denyut jantung dan
pernapasan dipengaruhi oleh tekanan fisiologis, tekanan oleh lingkungan, atau
tekanan akibat kerja keras, di mana ketiga faktor tersebut memberikan pengaruh
yang sama besar. Pengukuran berdasarkan criteria fisiologis ini bisa digunakan
apabila faktor-faktor yang berpengaruh tersebut dapat diabaikan atau situasi
kegiatan dalam keadaan normal. ( Retno Megawati, 2003 )
Pengukuran denyut jantung dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain :
1.

Merasakan denyut jantung yang ada pada arteri radial pada pergelangan
tangan.

2.

Mendengarkan denyut jantung dengan stethoscope.

3.

Menggunakan ECG ( Electrocardiograph ), yaitu mengukur signal


elektrik yang diukur dari otot jantung pada permukaan kulit dada.

Salah satu yang dapat digunakan untuk menghitung denyut jantung adalah telemetri
dengan menggunakan rangsangan ElectroardioGraph (ECG). Apabila peralatan tersebut tidak
tersedia dapat memakai stopwatch dengan metode 10 denyut (Kilbon, 1992). Dengan metode
tersebut dapat dihitung denyut nadi kerja sebagai berikut

Denyut Jantung (Denyut/Menit) =


Beban Kerja Fisik Vs Beban Kerja Mental | 16

Selain metode denyut jantung tersebut, dapat juga dilakuakan penghitungan denyut
nadi dengan menggunakan metode 15 atau 30 detik. Penggunaan nadi kerja untuk menilai
berat ringanya beban kerja memiliki beberapa keuntungam. Selain mudah, cepat, dan murah
juga tidak memerlukan peralatan yang mahal, tidak menggangu aktivitas pekerja yang
dilakukan pengukuran. Kepekaan denyut nadi akan segera berubah dengan perubahan
pembebanan, baik yang berasal dari pembebanan mekanik, fisika, maupun kimiawi. Denyut
nadi untuk mengestimasi index beban kerja terdiri dari beberapa jenis, Muller ( 1962 )
Memberikan definisi sebagai berikut :
a.

Denyut jantung pada saat istirahat ( resting pulse ) adalah rata-rata denyut
jantung sebelum suatu pekerjaan dimulai.

b. Denyut jantung selama bekerja ( working pulse ) adalah rata-rata denyut


jantung pada saat seseorang bekerja.
c.

Denyut jantung untuk bekerja ( work pulse ) adalah selisish antara senyut
jantung selama bekerja dan selama istirahat.

d. Denyut jantung selama istirahat total ( recovery cost or recovery cost ) adalah
jumlah aljabar denyut jantung dan berhentinya denyut pada suatu pekerjaan
selesai dikerjakannya sampai dengan denyut berada pada kondisi istirahatnya.
e.

Denyut kerja total ( Total work pulse or cardiac cost ) adalah jumlah denyut
jantung dari mulainya suatu pekerjaan samapi dengan denyut berada pada
kondisi istirahatnya ( resting level ).

( Nurmianto, 1998 )
Denyut jantung pada berbagai macam kondisi kerja dapat dilihat dengan grafik antara
hubungan denyut jantung dengan waktu sebagai berikut :

Gambar 2.2Denyut jantung pada berbagai macam kondisi kerja


Beban Kerja Fisik Vs Beban Kerja Mental | 17

Dari grafik tersebut dapat diketahui bahwa seseorang dalam keadaan normal
a. Waktu sebelum kerja (rest) kecepatan denyut jantung dalam keadaan konstan / stabil
walaupun ada perubahan kecepatan denyutnya tetapi tidak terlalu jauh perbedaannya.
b. Waktu selama bekerja (work) kecepatan denyut jantung dalam keadaan cenderung
naik.Semakin lama waktu kerja yang dilakukan maka makin banyak energi yang keluar
sehingga kecepatan denyut jantung bertambah cepat naik.
c. Waktu setelah bekerja / waktu pemulihan / recovery kecepatan denyut jantung dalam
keadaan cenderung turun. Kondisi kerja yang lama maka perlu dibutuhkan waktu istirahat
yang digunakan untuk memulihkan energi kita terkumpul kembali setelah mencapai titik
puncak kelelahan.
Peningkatan denyut nadi mempunyai peran yang sangat penting di dalam peningkatan
cardio output dari istirahat samapi kerja maksimumk, peningkatan tersebut oleh Rodahl
(2000) didefinikan sebagai heart rate reserve (HR reserve). HR reserve tersebut
diekspresikan dalam presentase yang dihitung dengan menggunakan rumus :
...... 1.2

% HR Reserve =

Lebih lanjut Manuaba & Vanwonterghem (1996) menentukan klasifikasi beban kerja
berdasakan peningkatan denyut nadi kerja yang dibandingkan dengan denyut nadi maskimum
karena beban kardiovaskuler (cardiovasiculair = %CVL) yang dihitung berdasarkan rumus di
bawah ini :
.................... 1.3
Di mana denyut nadi maskimum adalah (220-umur) untuk laki-laki dan (200-umur)
untuk wanita. Dari perhitungan % CVL kemudian akan dibandingkan dengan klasifikasi yang
telah ditetapkan sebagai berikut :

< 30%

Tidak

terjadi kelelahan

0-<60%

Diperlukan perbaikan

Beban Kerja Fisik Vs Beban Kerja Mental | 18

60-<80

Kerja

dalam waktu singkat


80-<100%

Diperlukan

tindakan segera
>100%

Tidak

diperbolehkan beraktivitas
Selain cara-cara tersebut di atas, Kilbon (1992) mengusulkan bahwa cardiovasculair
strain dapat diestimasi denjgan menggunakan denyut nadi pemulihan (hearth rate recover)
atau dikenal dengan metode Brouba. Keuntungan dari metode ini adalah sama sekali tidaj
mengganggu atau menghentikan aktivitas kegiatan selama bekerja. Denyut nadi pemulihan
(P) dihitung pada akhir 30 detik pada menit pertama, ke dua, dan ke tiga. P 1, 2, 3 adalah
rata-rata dari ketiga nilai tersebut dan dihubungkan dengan total cardiac cost dengan
ketentuan sebagai berikut :
Jika P1 P3 10,

atau P1, P2, P3 seluruhnya < 90, nadi pemulihan normal

Jika rata-rata P1

tercatat 110, dan P1 P3 10, maka beban kerja tifak berlebihan


Jika P1 P3< 10,

dan jika P3> 90 perlu redesain pekerjaan

Laju pemulihan denyut nadi dipengaruhi oleh nilai absolute denyut nadi pada
ketergantungguan pekerjaan (the interruption of work), tingkat kebugaran (individual fitness),
dan pemaparan panas lingkungan. Jika nadi pemulihan tidak segera tercapai maka
diperluakan redesain pekerjaan untuk mengurangi tekanan fisik. Redesain tersebut dapat
berupa variabel tunggal maupun keseluruhan dari variabel bebas (tasks, organisasai kerja, dan
lingkungan kerja) yang menyebabkan beban tugas tambahan. (Tarwaka, Solichul, H.A Bakri,
2004)
2.3

Beban Kerja Mental


Beban kerja mental yang merupakan perbedaan antara tuntutan kerja mental

dengan kemampuan mental yang dimiliki oleh pekerja yang bersangkutan.


Beban kerja yang timbul dari aktivitas mental di lingkungan kerja antara lain
disebabkan oleh :

Beban Kerja Fisik Vs Beban Kerja Mental | 19

keharusan untuk tetap dalam kondisi kewaspadaan tinggi dalam waktu

lama
kebutuhan untuk mengambil keputusan yang melibatkan tanggung jawab

besar
menurunnya konsentrasi akibat aktivitas yang monoton
kurangnya kontak dengan orang lain, terutama untuk tempat kerja yang
terisolasi dengan orang lain.

Menurut Henry R. Jex dalam bukunya Human Mental Workload, definisi beban
kerja mental yakni:
Mental workload is the operators evaluation of the attentional load margin
(between their motivated capacity and the current task demands) while achieving
adequate task performance in a mission relevant context.
Seiring dengan berjalannya waktu, kemampuan seseorang dapat saja berubah sebagai
akibat dari praktek terhadap pekerjaan (Kemampuan meningkat), kelelahan yang
ditimbulkan (kemampuan menurun), dan kebosanan terhadap pekerjaan dan kondisi
(kemampuan menurun). Kemampuan seseorang akan berbeda dengan orang lain karena
perbedaan dukungan fisk dan mental, perbedaan latihan, dan perbedaan pekerjaan.
Hubungan antara beban kerja dengan kinerja dapat dilihat dalam bentuk kurva U
terbalik. Kinerja manusia pada tingkat beban kerja rendah tidak juga baik. Jika tidak banyak
hal yang dapat dikerjakan maka orang tersebut akan mudah bosan dan cenderung kehilangan
ketertarikan terhadap pekerjaan yang dilakukan. Dalam keadaan ini (underload), galat akan
muncul dalam bentuk kehilangan informasi sebagai akibat dari menurunnya konsentrasi.

2.3.1

Metode Pengukuran Objektif


Beban kerja mental dapat diukur dengan pendekatan fisologis (karena terkuantifikasi

dengan dengan kriteria obyektif, maka disebut metode obyektif). Kelelahan mental pada
seorang pekerja terjadi akibat adanya reaksi fungsionil dari tubuh dan pusat kesadaran.
Pendekatan yang bisa dilakukan antara lain :

Beban Kerja Fisik Vs Beban Kerja Mental | 20

1. Pengukuran variabilitas denyut jantung


2. Pengukuran selang waktu kedipan mata (eye blink rate)
3. Flicker test
4. Pengukuran kadar asam saliva
5. dll

2.3.2

Metode pengukuran secara Subjektif


Metode pengukuran beban kerja secara subjektif merupakan pengukuran beban kerja

mental berdasarkan persepsi subyektif responden/pekerja.


Berikut ini merupakan beberapa jenis metode pengukuran subjektif :
a. Metode dengan menggunakan Teknik Pengukuran Beban Kerja Subjektif
(Subjective Workload Assessment Technique - SWAT)
Metoda SWAT merupakan multidimensional scale. Dalam model SWAT, performansi
kerja manusia terdiri dari tiga dimensi ukuran beban kerja yang dihubungkan dengan
performansi, yaitu :

Time load atau beban waktu yang menunjukan jumlah waktu yang tersedia dalam
perencanaan, pelaksanaan dan monitoring tugas

Mental effort atau beban usaha mental, yang berarti banyaknya usaha mental dalam
melaksanakan suatu pekerjaan.

Psychological stress atau beban tekanan psikologis yang menunjukkan tingkat resiko
pekerjaan, kebingungan, dan frustasi.

b. Metode dengan menggunakan Indeks Bahan Tugas dari National Aeronautics &
Space Administration - NASA Task Load Index TLX. Langkah pengukuran
dengan menggunakan NASA TLX adalah sebagai beriku (Meshkati, 1988):
Pembobotan. Responden/pekerja diminta untuk membandingkan dua dimensi yang
berbeda dengan metode perbandingan berpasangan. Total perbandingan berpasangan
untuk keseluruhan dimensi (6 dimensi) yaitu 15. Jumlah perhitungan untuk masing

masing dimensi inilah yang akan menjadi bobot dimensi.


Pemberian Rating. Dalam tahap ini responden diminta memberikan penilaian/rating
terhadap keena, dimensi beban mental. Skor akhir beban mental NASA TLX
diperoleh dengan dijumlahkan dan dibagi 15. Namun dalam perkembangannya, tahap
pembobotan dinilai memiliki banyak kelemahan, sehingga hanya dengan memberikan
Beban Kerja Fisik Vs Beban Kerja Mental | 21

nilai pada masing-masing dimensi (tahap 2) dan menunjukan nilai keseluruhan


dimensi (Byers, 1989; Hart, 2006), dengan hasil yang valid.
c. Metode dengan menggunakan skala rating/skor dari pekerjaan mental (Rating
Scale Mental Effort - RSME)
Rating scale mental effort (RSME) merupakan metode pengukuran beban kerja subyektif
dengan skala tunggal. Dikembangkan oleh Zijlstra dkk (Zijlstra & Van Doorn, 1985; Zijlstra
& Meijman, 1989; Zijlstra 1993; lihat de Waard, 1996). Responden diminta untuk
memberikan tanda pada skala 0-150 dengan deskripsi pada beberapa titik acuan (anchor
point).

Gambar 1. Rating scale mental effort


d. Metode dengan menggunakan skala Cooper-Harper yang dimodifikasi (Modified
e.

Cooper-Harper scale).
Metode dengan menggunakan penilaian diri secara instam (Instaneous Self
Assessment - ISA).

f. Metode dengan menggunakan skala beban kerja yang dikembangkan oleh The
Defemce Research Agency (DRA Workload Scales - DRAWS).
g. Metode penilaian terhadap tingkat ketelitian, kecepatan maupun konstansi kerja
dengan ''Bourdon Wierma Test''.
1. Metode Pengukuran Beban Kerja Mental secara Fisiologis/Biomekanis. Diantaranya
adalah:
Metode pengukuran aktivitas otak dengan menggunakan signal (Event-Related
Potentials - ERPs): P300.
Beban Kerja Fisik Vs Beban Kerja Mental | 22

Metode pengukuran denyut jantung (Heart Rate).


Metode pengukuran denyut jantung pada aktivitas yang bervariasi (Heart Rate

Variability - HRV).
Metode dengan menggunakan respon pada pupil mata (Pupillary response).
Pengukuran selang waktu kedipan mata (Eye Blink).

2. Metode Pengukuran Beban Kerja Mental berdasarkan Performansi (Performance


Based Measures. meliputi:
Waktu reaksi (Reaction Time-RT) merupakan waktu antara terjadinya rangsangan atau
stimuli dan respon yang diberikan oleh responden. Untuk tugas dengan RT tidak lebih

dari beberapa detik, maka di catat dalam satuan terdekat dengan milidetik.
Akurasi (accuracy): akurasi sering diekspresikan dalam bentuk persentase (%) atau

proporsi kesalahan (proportion of errors).


3. Metode Pengukuran tugas sekunder (Primary-task measures. Pada metode ini yang
diukur biasanya meliputi:
Produksi interval (Interval Production). Dalam hal ini responden diminta untuk
mengetuk pada rate ketukan tertentu. Sebagaimana beban kerja meningkat, maka

interval antara ketukan akan meningkat.


Estimasi waktu (Time Estimation1. Dalam hal ini responden diminta untuk
mengestimasi beberapa banyak waktu yang telah berlalu (misalnya; sejak dimulainya
sesi stimulasi). Secara umum, interval waktu akan berada di bawah estimasi secara
progresif sebagaimana beban kerja yang meningkat, dll.
BAB III
PENUTUP

3.1

Kesimpulan
1. Workload atau beban kerja merupakan usaha yang harus dikeluarkan oleh seseorang
untuk memenuhi permintaan dari pekerjaan tersebut. Sedangkan kapasitas adalah
kemampuan/kapasitas manusia. Kapasitas ini dapat diukur dari kondisi fisik maupun
mental seseorang. Beban kerja yang dimaksud adalah ukuran (porsi) dari kapasitas
operator yang terbatas yang dibutuhkan untuk melakukan kerja tertentu.
2. Kerja fisik adalah kerja yang memerlukan energi fisik otot manusia sebagai sumber
tenaganya (power). Kerja fisik disebut juga manual operation dimana performans
kerja sepenuhnya akan tergantung pada manusia yang berfungsi sebagai sumber
tenaga (power) ataupun pengendali kerja.

Beban Kerja Fisik Vs Beban Kerja Mental | 23

Beban kerja mental yang merupakan perbedaan antara tuntutan kerja mental dengan
kemampuan mental yang dimiliki oleh pekerja yang bersangkutan.
3. Penilaian beban kerja dapat dilakukan dengan dua metode secara objektif, yaitu
metode penilaian langsung dan metode penilaian tidak langsung.
- Metabolisme
- Penilaian Beban Kerja Berdasarkan Jumlah Kebutuhan Kalori
- Penilaian Beban Kerja Berdasarkan Denyut Nadi Kerja
Penilaian beban kerja mental yaitu dengan:
- Metode Pengukuran Objektif
Beban kerja mental dapat diukur dengan pendekatan fisologis (karena terkuantifikasi
dengan dengan kriteria obyektif, maka disebut metode obyektif). Kelelahan mental
pada seorang pekerja terjadi akibat adanya reaksi fungsionil dari tubuh dan pusat
kesadaran.
-

Metode pengukuran secara Subjektif

Metode pengukuran beban kerja secara subjektif merupakan pengukuran beban kerja
mental berdasarkan persepsi subyektif responden/pekerja.

DAFTAR PUSTAKA

Materi Workshop Analysis Beban Kerja oleh Tajuddin Idris, S.Si. M.T
Sumamur. 1982. Higiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja. PT. Gunung Agung.
Jakarta.
Sastrowinoto, Suyatno. 1985. Meningkatkan Produktivitas Dengan Ergonomi. PT.
Pustaka Binaman Pessindo. Jakarta.
Tarwaka, 2011. Ergonomi Industri. Solo : Harapan Press Solo
Tarwaka, Solichul H, Bakri A, dan Sudiajeng Lilik. 2004. Ergonomi Untuk
Kesehatan dan Keselamatan Kerja dan Produktivitas. UNIBA Press. Surakarta
Theresia L, Sudri N.M, dan Yusnita E. 2006. Penentuan lamanya waktu istirahat
berdasar beban kerja. ITI. Serpong Tangerang.

Beban Kerja Fisik Vs Beban Kerja Mental | 24

Beban Kerja Fisik Vs Beban Kerja Mental | 25