Anda di halaman 1dari 9

Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan ITB

Peran Kelembagaan Petani Dalam Mendukung Keberlanjutan


Pertanian Sebagai Basis Pengembangan Ekonomi Lokal
Sandy Cahyono(1), Dewi Sawitri Tjokropandojo(2)
(1)

Program Magister Perencanaan Wilayah dan Kota, Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan ITB.
Kelompok Keahlian Perencanaan Wilayah dan Perdesaan, Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan ITB.

(2)

Abstrak
Peran kelembagaan petani dalam mendukung keberlanjutan pertanian sangat diperlukan untuk
memberikan masukan dan pertimbangan bagi pelaku pembangunan dalam rangka pengembangan
ekonomi lokal. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi peran dan efektifitas peran
kelembagaan petani dan faktor-faktor yang mempengaruhinya dalam sistem agribisnis. Sistem
agribisnis dimana terdapat subsistem-subsistem dan kegiatan-kegiatan didalamnya digunakan
sebagai indikator tahapan keberlanjutan usaha pertanian. Metode yang digunakan adalah analisis
kuantitatif dengan teknis analisis deskriptif untuk menggambarkan peran, efektifitas peran
kelembagaan petani dan faktor-faktor yang mempengaruhinya dalam mendukung keberlanjutan
pertanian. Lokasi pengambilan data penelitian dilakukan di Desa Andongsari, Kecamatan Ambulu,
Kabupaten Jember, Provinsi Jawa Timur.
Kata kunci: peran, efektifitas peran, lembaga petani dan sistem agribisnis

Pengantar
Pembangunan pertanian yang tidak berwawasan
agribisnis akan menimbulkan paradoks dimana
peningkatan produksi dan produktivitas tidak
serta merta akan diikuti dengan peningkatan
pendapatan karena jatuhnya harga yang
diterima petani (Zakaria, 2003).
Sistem Agribisnis tersebut memiliki empat
subsistem yaitu subsistem sarana, usahatani,
pengolahan dan pemasaran (Nurmala dkk,
2012). Setiap subsistem memiliki lembaga yang
berperan dalam mendudukung fungsi subsistem
itu sendiri dan saling melakukan kerjasama.
Terdapat sebuah lembaga lagi yang perannya
mendorong seluruh fungsi subsistem yaitu
lembaga pendukung (Departemen Pertanian,
2009) atau lembaga subsistem pelayanan
(Zakaria, 2003).
Lembaga petani sebagai salah satu lembaga
yang berada dalan setiap subsistem tersebut
diawali dengan terjadinya kerjasama antar
petani yang sebenarnyasudah menjadi budaya

khususnya pada usaha tani komoditas tanaman


pangan.
Setiap lembaga petani tersebut memiliki tugas
dan fungsinya (peran) masing-masing. Tetapi
dalam menjalankan peran terhadap sistem
pertanian (agribisnis),lembaga petani memiliki
perbedaan tingkat kemampuan atau kinerja
yang berbeda-beda. Berbagai penelitian banyak
dilakukan untuk menggali faktor-faktor yang
mempengaruhi hal tersebut sebagai dasar
penguatan kelembagaan petani.
Menurut Undang-undang No. 7 tahun 1996
tentang Pangan dan Peraturan Pemerinah No.
68 tahun 2002 tentang Ketahanan Pangan, yang
dimaksud ketahanan pangan (Food Security)
adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah
tangga yang tercermin dari tersedianya pangan
yang cukup, baik jumlah maupun mutunya,
aman, merata dan terjangkau. Jika ketahanan
pangan rapuh maka satuan terkecil masyarakat
yaitu rumah tangga akan kesulitan dalam
mendapatkan pangan.
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota B SAPPK V2N1 | 15

Peran Kelembagaan Petani Dalam Mendukung Keberlanjutan Pertanian Sebagai Basis Pengembangan Ekonomi Lokal

Pemenuhan pangan ini salah satunya dapat


diperoleh dari kegiatan memproduksi sendiri.
Sebagai negara dengan 36% penduduk diatas
15 tahun bekerja di sektor pertanian (Badan
Pusat Statistik, 2011) dan luas lahan pertanian
seluas 21,3% dari luas total daratan Indonesia
(Departemen Pertanian, 2009) dapat digunakan
sebagai modal untuk kegiatan produksi pangan.
Dengan kata lain pertanian harus tetap ada atau
berlanjut bahkan menghasilkan produksi yang
surplus sehinga dapat diekspor.
Pernyataan yang juga mendukung pertanian
harus berlanjut adalah bahwa salah satu sumber
penghidupan masyarakat perdesaan adalah
kegiatan yang berbasis pertanian (Cambers dan
Conway, 1991) dan Nurmala dkk (2012) juga
menyebutkan bahwa sektor pertanian berperan
sebagai sumber mata pencaharian pokok
sebagian besar penduduk desa.
Sekarang kerjasama merupakan sebuah hal
yang mutlak dimana petani dihadapkan dengan
sebuah keadaan dimana kepemilikan lahan
mereka yang semakin sempit. Menurut Sumarno
dan Kartasasmita (2010) bahwa kemiskinan
petani padi dan petani komoditas lainnya
berakar
pada semakin
langkanya
atau
sempitnya penguasaan lahan garapan. Petani
padi di Indonesia kepemilikan lahan sawahnya
rata-rata hanya 0,5 hektar.
Hal ini sejalan dengan konsep Pengembangan
Ekonomi Lokal yaitu proses dimana pemerintah
lokal dan/atau komunitas yang berbasis
kelompok mengelola sumberdaya yang ada dan
(menciptakan) kerjasama dengan sektor swasta
atau dengan sesama (komunitas) untuk
menciptakan pekerjaan baru dan merangsang
kegiatan ekonomi pada zona tertentu (Blakely,
1989). Kerjasama tersebut dapat bersifat formal
maupun informal dan ada juga yang di fasilitasi
oleh lembaga. Sedangkan lembaga yang
dimaksud adalah lembaga yang berperan efektif
pada tahapan sistem agribinis.
Tujuan
dari
penelitian
ini
adalah
mengidentifikasi peran kelembagaan petani
dalam
mendukung
keberlanjutan
usaha
pertanian sebagai basis pengembangan ekonomi
16 | Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota B SAPPK V2N1

Metode
Peran kelembagaan petani yang mendukung
keberlanjutan pertanian diberikan kriteria
(Nurmala dkk, 2012):
1. Subsistem Sarana
Perencanaan, pengelolaan, pengadaan dan
penyaluran
sarana
produksi
yang
memungkinkan penerapan suatu teknologi
usaha tani dan pemanfaatan SDA secara
optimal
2. Subsistem Usahatani
Pembinaan dan pengembangan usaha tani
dalam rangka
peningkatan produksi
pertanian, baik usaha tani pertanian rakyat
maupun usaha tani besar
3. Subsistem Pengolahan
Pengolahan hasil secara sederhana di tingkat
petani dan penanganan pasca panen
komoditi pertanian yang di hasilkan samapai
pada tingkat pengolahan
lanjut selama
bentuk , susunan dan citarasa komoditi
tersebut tidak berubah
4. Subsistem Pemasaran
Pemasaran hasil usaha tani yang masih
segar atau hasil olahannya mencakup
kegiatan distribusi dan pemasaran di dalam
negeri dan ekspor
5. Subsistem Pelayanan atau Pendukung
(Departemen Pertanian, 2011 dan Zakaria,
2003)
Jasa perbankan, jasa angkutan, asuransi,
penyimpanan dan lain-lain
Sesuai dengan fungsi beberapa lembaga petani
sebagai kelas belajar dan unit produksi/usaha
(Permentan nomor 273/Kpts/OT.160/4/2007)
dapat disimpulkan bahwa terdapat dua jenis
peran lembaga yang penting dalam Sistem
Agribisnis yaitu sebagai penyedia informasi dan
sebagai penyedia fisik/jasa pada masing-masing
subsistem. Kedua peran tersebut sama-sama
dibutuhkan oleh petani.
Sedangkan efektifitas kelembagaan petani
diidentifikasi seberapa jauh peran yang sudah

Sandy Cahyono

dilakukan mempengaruhi petani dalam berusaha


tani secara ideal (sesuai dengan petunjuk yang
ada) pada masing-masing subsitem agribisnis
baik sebagai penyedia informasi maupun
sebagai penyedia fisik/jasa.
Adapun beberapa faktor yang mempengaruhi
peran lembaga petani diidentifikasi baik yang
berasal dari karakteristik lembaga itu sendiri
atau yang merupakan karakteristik petani
anggota dari lembagaserta adanya peran
lembaga/individu lain.
Metode Pengumpulan Data
Pengumpulan data primer dilakukan melalui
pengamatan langsung ke lokasi penelitian dan
dengan melakukan survei. Kuisioner terdiri dari
pertanyaan yang bersifat tertutup. Survei yang
dilakukan terhadap petani dan lembaga.
Lembaga yang dimaksud adalah salah satu
jajaran pengurus (ketua, seretaris, bendahara
atau seksi-seksi yang dianggap bisa mewakili
lembaga)
Sementara
pengumpulan
data
sekunder
dilakukan untuk menggali informasi yang
dibutuhkan melalui studi literatur. Data
sekunder didapat melalui instansi pemerintah
terkait di sektor pertanian seperti Dinas
Pertanian, Kantor Kecamatan dan Kantor Desa
serta KantorUnit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD)
Pertanian. Data yang lain diperoleh dari
beberapa artikel dan laporan penelitian baik
melalui internet maupun hasil cetakan guna
mendukung hasil kajian yang dikerjakan.
Metode Analisis Data
Dalam menganalisis data pada penelitian ini
digunakan metode analisis kuantitatif dengan
teknik :

Analisis Proporsi
Proporsi penilaian petani digunakan untuk
menentukan tingkat peran dan efektifitas
peran lembaganya. Dengan menggunakan
tiga kategori yaitu Berperan (>66,67%
anggota menyatakan berperan), Kurang
Berperan (33,33% - 66,67% anggota
menyatakan berperan) dan Tidak Berperan
(<33,33% angota menyatakan berperan).

Analisis Korelasi
Analisis ini digunakan untuk menemukan
faktor yang paling berpengaruh baik yang
merupakan karakteristik lembaga maupun
karakteristik petani terhadap peran dan
efektifitas peran lembaga petani.Dengan
terlebih dahulu membuat tabel kontingensi
setiap faktor terhadap peran/efektifitas
lembaga maka berikutnya dapat dihitung
nilai chi square. Nilai tersebut dibandingkan
terhadap chi squaredistribution table dengan
tingkat kesalahan 5%. Jika nilai tersebut
menunjukkan lebih kecil dari nilai tabel maka
faktor yang tersebut tidak memiliki
hubungan dengan peran/efektifitas lembaga.
Sebaliknya jika nilai chi square hitung lebih
besar dari nilai pada tabel maka faktor
tersebut memiliki hubungan. Penghitungan
nilai korelasi dapat dilakukan untuk melihat
besarnya pengaruh yang terjadi.Jika nilai
korelasi mendekati satu maka hubungan
yang terjadi sangat erat tetapi jika nilai
korelasi mendekati nol maka hubungan yang
tejadi semakin lemah.

Kedua analisis ini dilakukan pada setiap tahapan


kegiatan subsistem agribisnis baik yang
merupakan kegiatan penyediaan informasi
maupun penyediaan fisik/jasa
Ruang Lingkup
Penelitian dilaksanakan di Desa Andongsari
Kecamatan Ambulu yang merupakan daerah di
sebelah selatan Kabupaten Jember Propinsi
Jawa Timur. Produktifitas tanaman pangan (padi
dan jagung) serta Tembakau di Kecamatan
Ambulu (dimana desa ini berada) relatif tinggi di
bandingkan dengan kecamatan lainnya di
Kabupaten Jember. Lokasi ini dipilih karena
seiring dengan berkembangnya sektor pertanian
di desa tersebut, kelembagaan petani juga aktif
dan berkembang.
Pertanian dan Petani
Menurut UU No. 16 Tahun 2006 tentang Sistem
Penyuluhan
Pertanian,
Perikanan,
dan
Kehutanan. Pertanian didefinisikan sebagai
seluruh kegiatan yang meliputi usaha hulu,
usaha tani, agroindustri, pemasaran, dan jasa
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota B SAPPK V2N1 | 17

Peran Kelembagaan Petani Dalam Mendukung Keberlanjutan Pertanian Sebagai Basis Pengembangan Ekonomi Lokal

penunjang pengelolaan sumber daya alam


hayati dalam agroekosistem yang sesuai dan
berkelanjutan, dengan bantuan teknologi, modal,
tenaga
kerja,
dan
manajemen
untuk
mendapatkan manfaat sebesar-besarnya bagi
kesejahteraan masyarakat. Pertanian yang
dimaksud
mencakup
tanaman
pangan,
hortikultura, perkebunan, dan peternakan. Studi
ini akan dilakukan di setiap kegiatan pertanian
(usaha hulu sampai dengan hilir/Sistem
Agribisnis) pada tanaman pangan khususnya
komoditas padi. Keunggulan dalam luas panen,
produktivitas dan produksi serta kerjasama
menjadi alasan pemilihan komoditas ini.
Sedangkan petani yang dimaksud dalam studi
ini merupakan yang menggarap lahan sawah
baik sebagai penyewa maupun pemilik.
Keberlanjutan Usaha Pertanian
Menurut Pretty (1995, 2002) dan DFID (2004)
dimana
keberlanjutan
pertanian
di
interpretasikan menjadi dua fokus yaitu:

1. Focus on types of technology in particular


settings, especially strategies that reduce
reliance
on
non-renewable
or
environmentally harmful inputs
2. Focuses more on the concept of agricultural
sustainability, and goes beyond particular
farming
systems.
Sustainability
in
agricultural systems is viewed in terms of
1. Resilience (the capacity of systems to
buffer shocks and stresses) and
2. Persistence (the capacity of systems to
carry on).
It implies the capacity to adapt and change as
external and internal conditions change. Artinya
bahwa dua fokus tersebut yang pertama
merupakan fokus pada jenis teknologi dalam
pengaturan tertentu, terutama strategi untuk
mengurangi ketergantungan pada input yang
tidak
terbarukan
atau
membahayakan
lingkungan. Disisi lain fokus kedua lebih kepada
konsep keberlanjutan pertanian dan melebihi
sistem
pertanian
tertentu.
Dimana
keberlanjutan dalam sistem pertanian dilihat
dari segi:
1. Ketahanan (kapasitas sistem terhadap
penyangga guncangan dan tekanan)
18 | Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota B SAPPK V2N1

2. Kegigihan (kapasitas sistem untuk terus


melakukan).
Ini menyiratkan kemampuan untuk beradaptasi
dan berubah pada perubahan kondisi eksternal
dan internal. Fokus kedua dalam pernyataan
diatas
menyatakan
bahwa
keberlanjutan
pertanian berarti usaha pertanian yang tetap
dikerjakan. Selain itu juga mengandung
peningkatan kemampuan yang dibagi dalam dua
komponen yaitu ketahanan dan kegigihan.
Kelembagaan Petani
Pengertian kelembagaan menurut Wariso (1998)
dalam Wahyuni (2003)dikelompokkan ke dalam
dua pengertian, yaitu institut dan institusi.
Institut menunjuk pada kelembagaan formal,
misalnya organisasi, badan, dan yayasan mulai
dari tingkat keluarga, rukun keluarga, desa
sampai pusat, sedangkan institusi merupakan
suatu kumpulan norma-norma atau nilai-nilai
yang mengatur perilaku manusia untuk
memenuhi kebutuhannya. Sehingga pengertian
kelembagaan petani yang dimaksud adalah
kelembagaan formal (organisasi) dan institusi/
norma-norma yang berkaitan dengan petani.
Kelembagaan
petani
(pekebun,
peternak
nelayan, pembudi daya ikan, pengolah ikan, dan
masyarakat di dalam dan di sekitar kawasan
hutan) adalah lembaga yang ditumbuh
kembangkan dari, oleh, dan untuk pelaku utama.
Pelaku utama yang dimaksud adalah masyarakat
di dalam dan di sekitar kawasan hutan, petani,
pekebun, peternak, nelayan, pembudi daya ikan,
pengolah ikan, beserta keluarga intinya (UU no
16 Tahun 2006). Sehingga pada penelitian ini
akan dibahas lembaga petani dengan pemilihan
didasarkan kepada:
1. Pengertian menurut Zakaria (2003) bahwa
lembaga
petani
adalah
merupakan
organisasi/kesatuan orang-orang (bukan
individu).
2. Lembaga petani ditumbuhkembangkan dari,
oleh, dan untuk petani (UU no 16 Tahun
2006), meskipun terdapat peran pemerintah
dalam memfasilitasi pembentukannya.
3. Berkaitan langsung dan hampir dibutuhkan
di setiap tahap usaha tani (Wahyuni, 2003).

Sandy Cahyono

Peran dan Efektifitas Peran

Diskusi

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005)


peran didefinisikan sebagai perangkat tingkah
yang diharapkan dimiliki oleh orang yang
berkedudukan di masyarakat. Sedangkan
menurut English Dictionary Collins Cobuild
(2005) peran atau role dijelaskan if you have a

Analisis ini dilakukan pada masing-masing


lembaga petani untuk melihat peran dan
efektifitasnya terhadap sistem agribisnis.

role in a situation or in society, you have


particular position and function in It. Artinya
bahwa jika Anda memiliki peran dalam situasi
atau di masyarakat, anda memiliki posisi
tertentu dan fungsi di dalamnya. Maka peran
lembaga berhubungan dengan fungsi dari
lembaga itu sendiri dimana lembaga yang tidak
menjalankan fungsinya berarti lembaga tersebut
tidak berperan. Sesuai dengan fungsi beberapa
lembaga petani sebagai kelas belajar dan unit
produksi/usaha (Permentan nomor 273/Kpts
/OT.160/4/2007) dapat disimpulkan bahwa
terdapat dua jenis peran lembaga yang penting
dalam Sistem Agribisnis yaitu sebagai penyedia
informasi dan sebagai penyedia fisik/jasa pada
masing-masing subsistem. Kedua peran tersebut
sama-sama dibutuhkan oleh petani. Sedangkan
efektifitas menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia (2005) memiliki definisi ada efeknya
(akibatnya, pengaruhnya, kesannya) atau dapat
membawa hasil, berhasil guna (tentang usaha,
tindakan). Menurut English Dictionary Collins
Cobuild (2005) efektif dijelaskan bahwa

Something that is effective works well and


produce the results that were intended. Artinya
bahwa sesuatu yang efektif bekerja dengan baik
dan menghasilkan hasil yang dimaksudkan.
Kalimat
hasil
yang
dimaksudkan
jika
dimasukkan dalam konteks kelembagaan
berkaitan dengan tujuan lembaga. Sehingga
peran dikatakan efektif jika peran tersebut
membawa hasil atau berhasilguna, bekerja
dengan baik dan menghasilkan tercapainya
tujuan lembaga.
Pengembangan Ekonomi Lokal
Peningkatan
pendapatan,
penambahan
pekerjaan dan usaha baru serta terjadinya
kerjasama menjadi indikator bahwa ekonomi
lokal berkembang.

Karakteristik Lembaga dan Petani


Beberapa karakteristik lembaga yang berhasil
diidentifikasi
diantaranya
adalah
struktur
organisasi, usia, jumlah anggota, status
pengurus, jumlah bidang usaha, jumlah aset,
norma dan status pembina organisasi.
Menurut Peraturan Menteri Pertanian Nomor:
273/Kpts/OT.160/4/2007
tentang
Pedoman
Pembinaan Kelembagaan Petani, Perangkat
kepengurusan
kelompok
tani
sekurangkurangnya terdiri dari Ketua, Sekretaris dan
Bendahara.
Struktur organisasi rata-rata lembaga petani
yang ada di Desa Andongsari sudah memiliki
ketua, sekretaris dan bendahara serta minimal
sebuah seksi. Seksi-seksi tersebut diantaranya
adalah seksi sarana produksi (saprodi), humas,
simpan pinjam, pengamat hama dan bagian
teknis.
Usia lembaga rata-rata sudah lanjut karena
merupakan organisasi yang dibentuk saat
progam Bimas (Bimbingan Masal) Intensifikasi
Pertanian diluncurkan pada sekitar tahun 1970an. Sebagian kecil ada yang berusia muda
karena merupakan pemekaran dari kelompok
tani dengan nama yang sama/hampir sama
(Karya Mulya merupakan pemekaran dari Karya
Tani) sedangkan khusus KWT merupakan
organisasi yang benar-benar baru dibentuk.
Jumlah anggota lembaga di Desa Andongsari
berkisar antara 25-152 orang, angka ini
memang melebihi jumlah anggota ideal (20-25
orang). Hal ini disebabkan karena jumlah rumah
tangga yang bermatapencaharian sebagai petani
tidak sebanding dengan jumlah kelompok yang
ada. Khusus anggota HIPPA jumlahnya sangat
besar karena merupakan himpunan petani
pemakai air sehingga seluruh petani merupakan
anggota.

Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota B SAPPK V2N1 | 19

Peran Kelembagaan Petani Dalam Mendukung Keberlanjutan Pertanian Sebagai Basis Pengembangan Ekonomi Lokal

Tabel 1.Lembaga Petani di Desa Andongsari


No.
1.

Jenis
Kelompok
Tani

2.
3.

Gapoktan
Koperasi

4.
5.
6.

KTNA
KWT
P3A

Nama Lembaga
Margo Makmur I
Margo Makmur II
Margo Rahayu I
Margo Rahayu II
Margo Rahayu III
Karya Utama
Karya Bhakti
Margo Utomo
Karya Tani
Karya Mulya
Sari Makmur
KUD Sumber Alam
Koptan Mekarsari
Koptan Sari Makmur
KTNA Kec. Ambulu
Srikandi
HIPPA Sari Makmur

Ketua
Darmanto
Drs M. Suwito
M. Anam
Amir Hadiyono
Ahmadi .AZ
Saimin
M. Sholeh
H. Suyono
Imam Syafi'i
Ngadenan
Imam Syafi'i
H. Imam
Latief
Imam Syafi'i
Imam Syafi'i
Titik
Isnawan

Wilayah Kerja
Dusun Krajan
Dusun Krajan
Dusun Karangtemplek
Dusun Watukebo
Dusun Watukebo
Dusun Karangtemplek
Dusun Karangtemplek
Dusun Karangtemplek
Dusun Tirtoasri
Dusun Tirtoasri
Desa Andongsari
Kec.Ambulu,
Tempurejo, Kencong
dan Kalisat
Kec.Ambulu
Kec.Ambulu
Kec.Ambulu
Dusun Tirtoasri
Desa Andongsari

Sumber: Hasil Survei dan Rencana Kerja Penyuluh Pertanian Desa Andongsari, 2012
Struktur yang rata-rata sangat lengkap ternyata
berbanding terbalik dengan keaktifannya. Status
pengurus rata-rata kurang aktif bahkan ada
yang tidak aktif.
Lembaga petani hampir semuanya memiliki
bidang usaha walaupun hanya satu dan ratarata bergerak dibidang simpan pinjam. Simpan
pinjam yang dikelola dengan baik dapat
memperbesar aset.
Kelompok tani Margo Rahayu III dapat
mendirikan koperasi simpan pinjam dan kios
pertanian dengan mengelola bidang usaha ini.
Tetapi terdapat dua lembaga yang tidak
memiliki bidang usaha, hal ini dimungkinkan
karena pengurus yang kurang memiliki jiwa
wirausaha untuk kepentingan bersama.
Semua lembaga memiliki aset minimal berupa
dana kecuali Hippa. Jumlahnya bervariasi mulai
1,25 juta sampai dengan 4 milyar (KUD Sumber
Alam). Tetapi aset lain terkadang tidak dipunyai
oleh lembaga seperti gudang dan alsintan.
Khusus KUD memiliki aset (selain dana) yang
20 | Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota B SAPPK V2N1

sangat lengkap berupa gudang, penggilingan


dan truk.
Sedangkan lembaga lainnya hanya 4 lembaga
yaitu Margo Makmur I dan II yang memiliki
alsintan berupa Traktor serta Karya tani dan
Gapoktan memiliki mesin perontok. Karya Mulya
dan Karya Utama memiliki gudang kecil yang
biasa mereka sebut lumbung.
Pembinaan yang dilakukan oleh Petugas Dinas
Pertanian atau Penyuluh Pertanian Lapang (PPL)
di daerah ini sangat aktif. Setiap lembaga
terutama kelompok tani telah memiliki jadwal
pertemuan
rutin
setiap
bulan
yang
diselenggarakan malam hari. Di luar pertemuan
rutin tersebut masih terdapat pertemuan yang
diselenggarakan di lahan pada siang hari. Disisi
lain pembinaan yang dilakukan oleh pemerintah
desa (pamong tani) kurang aktif, tetapi khusus
untuk permasalahan pengairan, pamong tani
dan Kaur. Ekbang lebih aktif bekerjasama
dengan kelompok tani dan HIPPA.
Beberapa karakteristik petani yang merupakan
anggota lembaga yang berhasil diidentifikasi

Sandy Cahyono

diantaranya adalah umur, tingkat pendidikan,


pengalaman dalam bidang usaha (pertanian),
luas lahan garapan, jenis kelamin, akses
terhadap jaringan komunikasi , sikap terhadap
perubahan dan sikap terhadap profesi yang
digelutinya (petani).

demonstrasi di lahan yang disertai kegiatan

ekspose kepada petani secara luas.


Petani masih memiliki sikap optimis dalam
pekerjaannya dengan berbagai harapan yang
konstruktif untuk kemajuan pertanian.
Peran dan Efektifitas Peran Lembaga Petani

Anggota lembaga mayoritas merupakan petani


dengan umur produktif (15-64 tahun) sehingga
masih dapat melakukan pekerjaan yang
dominan mengandalkan fisik dengan baik.
Tetapi dengan sedikitnya pemuda (7%)
menimbulkan
kekhawatiran
mulai
ditinggalkannya dunia pertanian.

Terdapat hanya 5 lembaga petani yang


berperan dalam penyediaan informasi dan
hanya 6 lembaga petani yang berperan dalam
penyediaan fisik/jasa dari 17 lembaga petani
yang ada di Desa Andongsari.

Tingkat pendidikan petani mayoritas adalah SMP


atau SMA sehigga sudah memenuhi wajib
belajar 9 tahun dan dianggap sudah memiliki
pengetahuan dasar yang lebih.

Lembaga petani yang berperan cenderung


dianggap efektif oleh petani. Dari 81 peran yang
dilakukan pada kegiatan subsistem, 72 peran
diantaranya dianggap efektif (89%).

Pengalaman menanam lebih dari dua jenis


komoditas dengan menerapkan teknologi sudah
dimiliki hampir separuh petani meskipun dalam
menerima perubahan dalam hal ini teknologi
baru masih bersifat ragu-ragu. Tetapi semua
petani tersebut memiliki sikap optimis pada
bidang yang digelutinya.

Lembaga lebih berperan dan efekfif dalam


penyediaan informasi (75 peran dengan 69
diantaranya efektif) daripada penyediaan
fisik/jasa (hanya 6 peran dengan 3 diantaranya
efektif).

Luas garapan relatif sempit dimana 78% petani


hanya memiliki luas lahan garapan dibawah satu
hektar. Kepemilikan lahan garapan itu sendiri
sebagian besar dari mereka berstatus penyewa.
Jenis kelamin petani masih didominasi oleh
bapak-bapak tetapi di Desa Andongsari mulai
dimunculkan kelompok wanita tani dengan
harapan akan memunculkan kelompok lainnya
agar kaum ibu-ibu tani lebih maju dan aktif
mendukung
suami
dalam
meningkatkan
usahatani dan kesejahteraanya.

Lembaga petani yang berperan dalam sebuah


subsistem/kegiatan penyediaan baik informasi
maupun fisik/jasa cenderung terkonsentrasi
pada wilayah dusun tertentu. Lembaga yang
berperan
dalam
penyediaan
informasi
terkonsentrasi pada Dusun Tirtoasri dan Krajan
sedangkan yang berperan dalam penyediaan
fisik/jasa terkonsentrasi pada Dusun Tirtoasri
dan Karang Templek.

Masih seimbangnya jumlah petani yang memiliki


alat komunikasi dengan yang tidak memiliki
dapat merupakan penghambat kemajuan petani
dalam menyerap informasi.

Secara
umum,
lembaga
petani
tidak
menyediakan informasi sekaligus dengan
fisik/jasanya
maupun
sebaliknya.
Hanya
terdapat dua lembaga petani berjenis kelompok
tani yang dapat menyediakan informasi dan
fisik/jasa sekaligus (Margo Makmur III dan KWT
Srikandi), sedangkan lembaga petani yang
berjenis koperasi hanya berperan dalam
penyediaan fisik/jasa saja.

Petani masih ragu-ragu terhadap perubahan


dimungkinkan karena sifat dasar petani yang
tidak mengikuti perubahan jika belum ada bukti
nyata. Teknologi yang diintroduksikan oleh
pemerintah
maupun
swasta
biasanya
diharapkan untuk dapat menyelenggarakan

Lembaga Margo Rahayu III, KUD Sumber Alam


dan KWT Srikandi berhasil berperan sebagai
penyedia fisik/jasa dan efektif walau pada satu
kegiatan saja. Margo Rahayu III pada kegiatan
penyediaan pupuk, KUD Sumber Alam pada
kegiatan penyediaan pestisida dan KWT
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota B SAPPK V2N1 | 21

Peran Kelembagaan Petani Dalam Mendukung Keberlanjutan Pertanian Sebagai Basis Pengembangan Ekonomi Lokal

Srikandi pada kegiatan penyediaan layanan


permodalan.
Lembaga petani KTNA dan Gapoktan dianggap
belum berperan sama sekali oleh petani.
Faktor Karakteristik Lembaga dan Petani
Faktor yang mempengaruhi peran adalah usia
lembaga dan karakter petani dalam menerima
perubahan. Tetapi pengaruhnya terhadap peran
yang spesifik
a. Semakin usia lembaga bertambah maka
peranannya terhadap pemberian informasi
terkait alat mesin pertanian (alsintan)
semakin baik
b. Semakin petani mudah menerima perubahan
maka semakin mudah petani menerima
informasi yang disediakan oleh lembaga
terkait dengan angkutan.
Faktor yang mempengaruhi efektifitas peran
adalah usia lembaga dan karakter petani dalam
menerima perubahan. Tetapi pengaruhnya
terhadap efektifitas peran juga spesifik
a. Semakin usia lembaga bertambah maka
petani
semakin
mampu
menerapkan
penggunaan alat mesin pertanian (alsintan)
yang baik atas anjuran lembaga
b. Semakin usia lembaga bertambah maka
petani semakin percaya menggunakan jasa
penanaman yang diberikan oleh lembaga
c. Semakin petani mudah menerima perubahan
maka petani semakin mampu menentukan
angkutan yang baik atas anjuran lembaga
Peran lembaga/individu lain lebih dominan
daripada peran lembaga petani terutama dalam
penyediaan fisik/jasa.
Kesimpulan
1. Kegiatan
usaha
pertanian
di
Desa
Andongsari terancam untuk tidak berlanjut.
Keberadaan lembaga petani yang menjadi
wadah kerjasama petani dan berfungsi
memberikan layanan yang efektif dalam
usaha pertanian secara umun tidak
dirasakan perannya oleh seluruh petani.
22 | Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota B SAPPK V2N1

Hanya sebagian kecil petani yang dapat


menikmati layanan yang diberikan lembaga
petani. Meskipun lembaga petani tersebut
berperan dengan efektif tetapi terbatas peda
kegiatan tertentu saja. Hal ini berarti
lembaga petani gagal mendorong petani
melakukan usahatani yang berwawasan
agribisnis. Paradoks yang digambarkan oleh
Zakaria (2003) akan terjadi dimana petani
melakukan usahatani dengan produksi dan
produktifitas tinggi tetapi tidak diikuti oleh
peningkatan harga dan pendapatan. Hal ini
dapat mengakibatkan petani semakin
enggan untuk berusahatani.
2. Peran dan efektifitas peran lembaga petani
di Desa Andongsari dipengaruhi oleh faktor
usia lembaga dan faktor sikap petani dalam
menerima perubahan. Lembaga petani yang
telah berusia lanjut di desa ini identik
dengan lembaga yang telah memiliki
kemampuan sangat baik dalam berperan
(efektif).
Lembaga
tersebut
dengan
berjalannya waktu semakin berkembang dan
memiliki pengetahuan serta pengalaman
yang lebih banyak. Sedangkan Faktor sikap
petani Desa Andongsari dalam menerima
perubahan identik dengan kemauan petani
untuk maju dan berkembang kearah yang
lebih baik. Semakin petani menerima/
terbuka pada hal yang baru misalnya
informasi teknologi memudahkan lembaga
petani berperan secara efektif.
3. Peran yang lebih dominan oleh lembaga lain
atau
individu
(swasta/pemerintah)
membuktikan bahwa kerjasama yang terjadi
antara petani dengan lembaga/individu
tersebut berjalan dengan baik. Tetapi hal ini
berlawanan dengan konsep Pengembangan
Ekonomi Lokal (PEL) dimana syarat
kerjasama yang terjadi yaitu antara
komunitas yang berbasis kelompok (lembaga
petani) dengan swasta/pemerintah.
4. Semua lembaga pertanian -baik lembaga
petani maupun bukan- sebenarnya dapat
berperan dengan baik dalam setiap tahapan
sistem agribisnis asalkan menguntungkan
bagi petani. Kekhawatiran mungkin terjadi
ketika peran didominasi oleh pihak swasta
yang berorientasi profit, yaitu:

Sandy Cahyono

Ketergantungan, dimana petani tidak


memiliki alternatif pilihan lain dalam hal
sarana, permodalan dan pemasaran jika
harga/bunga dipermainkan oleh swasta
karena mereka beorietasi mencari
keuntungan.
Ketertinggalan, karena informasi baik
pasar, teknologi dan harga dikuasai dan
dikontrol oleh pihak pedagang (bukan
petani)
Kerugian,
petani
tidak
mampu
meningkatkan nilai tambah produknya
sehingga petani hanya mendapatkan
keuntungan yang tetap.
Posisi tawar lemah, dimana petani tidak
dapat mengkritisi kebijakan pemerintah
desa sampai pusat karena peran tersebut
diisi oleh pemerintah itu sendiri.

Jika kekhawatiran ini benar-benar


maka petani akan semakin enggan
melanjutkan profesinya sebagai
sehingga mengakibatkan pertanian
berlanjut.

terjadi
untuk
petani
tidak

Ucapan Terima Kasih


Ucapan terima kasih disampaikan kepada Dr.
Ir. Dewi Sawitri Tjokropandojo, MT selaku
pembimbing atas bimbingan dan arahan
selama penelitian.
Daftar Pustaka
Blakely, Edward

J. 1989. Planning Local


Economic Development: Theory and Practice.

Sage Publications
Chambers, Robert and Gordon R. Conway. 1991.

Sustainable
Rural
Livelihood:
Practical
Concepts For The 21st Century. Institute of
Development Studies
Departemen Pendidikan Nasional. 2005. Kamus
Besar Bahasa Indonesia, hal. 854. Jakarta:
Balai Pustaka.

Data Luas Lahan Menurut Penggunaan Tahun


2008 2009. Jakarta: Departemen Pertanian
English Dictionary. The University of Birmingham
and Collins Cobuild. Harper Collins Publishers.
1995. p. 529, 1441
Nurmala, Tati. Suyono, Aisyah D. Rodjak, Abdul.
Suganda,
Tarkus,
Natasasmita,
Sadeli.
Simarmata, Tualar. Salim, E Hidayat. Yuwariah,
Yuyun. Sendjaja, Tuhpawana Priatna. Wiyono,
Sulistyodewi Nur dan Hasani, Sofiya. 2012.
Pengantar Ilmu Pertanian. Yogyakarta: Graha
Ilmu..
Modul (2-4) Kelembagaan, Pendidikan dan
Pelatihan Dasar Umum Ahli Bagi Penyuluh
Pertanian. 2011. Jakarta: Badan SDM
Pertanian. Departemen Pertanian
Peraturan
Menteri
Pertanian
nomor
273/Kpts/OT.160/4/2007 tentang Pedoman
Pembinaan Kelembagaan Petani
Sumarno dan Kartasasmita, Unang G. 2010.
Kemelaratan Bagi Petani Kecil di Balik
Kenaikan Produktivitas Padi. Sinar Tani (Edisi
30 Des 09 - 5 Januari 2010; No. 3335 Tahun
XL, hal. 18)
Survei Angkatan Kerja Nasional (SAKERNAS)
2004, 2005, 2006, 2007, 2008, 2009 dan 2010.
Badan Pusat Statistik
Survei Angkatan Kerja Nasional (SAKERNAS)
2011. Badan Pusat Statistik
Undang-Undang Nomor 16
Tahun
2006
Tentang
Sistem
Penyuluhan
Pertanian,
Perikanan, Dan Kehutanan
Wahyuni, Sri.2003. Kinerja kelompok Tani
Dalam Sistem Usaha Tani Padi dan Metode
Pemberdayaannya. Jurnal Litbang Pertanian,
22(1). Jakarta: Pusat Penelitian dan
Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian,
Kementerian Pertanian Republik Indonesia.
Zakaria,
Wan
Abbas
2003.
Penguatan

Kelembagaan Petani: Kunci Kesejahteraan


Petani. Bandar Lampung: Fakultas Pertanian.
Universitas Lampung

Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota B SAPPK V2N1 | 23