Anda di halaman 1dari 14

BAB I

Pendahuluan
Sepsis merupakan respon tubuh terhadap infeksi yang menyebar melalui darah dan
jaringan lain. Sepsis terjadi pada kurang dari 1% bayi baru lahir tetapi merupakan penyebab
dari 30% kematian pada bayi baru lahir. Infeksi bakteri 5 kali lebih sering terjadi pada bayi
baru lahir yang berat badannya kurang dari 2,75 kg dan 2 kali lebih sering menyerang bayi
laki-laki.
Pada lebih dari 50% kasus, sepsis mulai timbul dalam waktu 6 jam setelah bayi lahir,
tetapi kebanyakan muncul dalam waktu 72 jam setelah lahir.Sepsis yang baru timbul dalam
waktu 4 hari atau lebih kemungkinan disebabkan oleh infeksi nasokomial (infeksi yang
didapat di rumah sakit). Angka mortalotas sekitar 13 50%.
Tanda awal sepsis pada bayi baru lahir tidak spesifik dan dengan angka mortalitas
yang cukup tinggi maka perlu dilakukan skrining terhadap sepsis dan pengelolaahn terhadap
faktor resikonya.

BAB II
1.1 Definisi
Sepsis Neonatal adalah merupakan sindroma klinis dari penyakit sistemik
akibat infeksi selama satu bulan pertama kehidupan. Septikemia menunjukkan munculnya
infeksi sistemik pada darah yang disebabkan oleh penggandaan mikroorganisme secara
cepat dan zat-zat racunnya yang dapat mengakibatkan perubahan psikologis yang sangat
besar.1
Pembagian Sepsis1,2,3:
Berdasarkan waktu timbulnya dibagi menjadi 3 :
1. Early Onset (dini) : terjadi pada 5 hari pertama setelah lahir dengan manifestasi klinis
yang timbulnya mendadak, dengan gejala sistemik yang berat, terutama mengenai
system saluran pernafasan, progresif dan akhirnya syok.
2. Late Onset (lambat) : timbul setelah umur 5 hari dengan manifestasi klinis sering
disertai adanya kelainan system susunan saraf pusat.
3. Infeksi nosokomial yaitu infeksi yang terjadi pada neonatus tanpa resiko infeksi yang
timbul lebih dari 48 jam saat dirawat di rumah sakit.

1.2 Epidemiologi
Insidennya berkisar 1 10 diantara 1000 kelahiran hidup dengan mortalitas 13
50%. Sepsis merupakan respon tubuh terhadap infeksi yang menyebar melalui darah
dan jaringan lain. Sepsis terjadi pada kurang dari 1% bayi baru lahir tetapi merupakan
penyebab dari 30% kematian pada bayi baru lahir. Infeksi bakteri 5 kali lebih sering
terjadi pada bayi baru lahir yang berat badannya kurang dari 2,75 kg dan 2 kali lebih
sering menyerang bayi laki-laki.1,2
Pada lebih dari 50% kasus, sepsis mulai timbul dalam waktu 6 jam setelah bayi
lahir, tetapi kebanyakan muncul dalam waktu 72 jam setelah lahir.Sepsis yang baru timbul
dalam waktu 4 hari atau lebih kemungkinan disebabkan oleh infeksi nasokomial (infeksi
yang didapat di rumah sakit).
2

1.3 Etiologi
Semua infeksi pada neonatus dianggap oportunisitik dan setiap bakteri mampu
menyebabkan sepsis.1,2
a. Zat-zat pathogen dapat berupa bakteri, jamur, virus atau riketsia. Penyebab paling
sering dari sepsis Escherichia Coli dan Streptococcus grup B (dengan angka
kesakitan sekitar 50 70 % diikuti dengan malaria, sifilis, dan toksoplasma.
Streptococcus grup A, dan streptococcus viridans, patogen lainnya gonokokus,
candida alibicans, virus herpes simpleks (tipe II) dan organisme listeria, rubella,
sitomegalo, koksaki, hepatitis, influenza, parotitis.
b. Pertolongan persalinan yang tidak higiene, partus lama, partus dengan tindakan.
c. Kelahiran kurang bulan, BBLR, cacat bawaan.
Beberapa komplikasi kehamilan yang dapat meningkatkan risiko terjadinya
sepsis pada neonatus antara lain :
Perdarahan
Demam yang terjadi pada ibu
Infeksi pada uterus atau plasenta
Ketuban pecah dini (sebelum 37 minggu kehamilan)
Ketuban pecah terlalu cepat saat melahirkan (18 jam atau lebih sebelum melahirkan)
Proses kelahiran yang lama dan sulit

1.4 Patofisiologi
Sepsis dimulai dengan invasi bakteri dan kontaminasi sistemik. Pelepasan
endotoksin oleh bakteri menyebabkan perubahan fungsi miokardium, perubahan ambilan
dan penggunaan oksigen, terhambatnya fungsi mitokondria, dan kekacauan metabolik
yang progresif. Pada sepsis yang tiba-tiba dan berat, complement cascade menimbulkan
banyak kematian dan kerusakan sel. Akibatnya adalah penurunan perfusi jaringan,
asidosis metabolik, dan syok, yang mengakibatkan disseminated intravaskuler
coagulation (DIC) dan kematian.2
Faktor- faktor yang mempengaruhi kemungkinan infeksi secara umum berasal
dari tiga kelompok, yaitu 1,2,4,5:
1. Faktor Maternal
3

a. Status sosial-ekonomi ibu, ras, dan latar belakang. Mempengaruhi kecenderungan


terjadinya infeksi dengan alasan yang tidak diketahui sepenuhnya. Ibu yang
berstatus sosio- ekonomi rendah mungkin nutrisinya buruk dan tempat tinggalnya
padat dan tidak higienis. Bayi kulit hitam lebih banyak mengalami infeksi dari
pada bayi berkulit putih.
b. Status paritas (wanita multipara atau gravida lebih dari 3) dan umur ibu (kurang
dari 20 tahun atua lebih dari 30 tahun
c. Kurangnya perawatan prenatal.
d. Ketuban pecah dini (KPD)
e. Prosedur selama persalinan.
2. Faktor Neonatatal
a. Prematurius ( berat badan bayi kurang dari 1500 gram), merupakan faktor resiko
utama untuk sepsis neonatal. Umumnya imunitas bayi kurang bulan lebih rendah
dari pada bayi cukup bulan. Transpor imunuglobulin melalui plasenta terutama
terjadi pada paruh terakhir trimester ketiga. Setelah lahir, konsentrasi
imunoglobulin serum terus menurun, menyebabkan hipigamaglobulinemia berat.
Imaturitas kulit juga melemahkan pertahanan kulit.
b. Defisiensi imun. Neonatus bisa mengalami kekurangan IgG spesifik, khususnya
terhadap streptokokus atau Haemophilus influenza. IgG dan IgA tidak melewati
plasenta dan hampir tidak terdeteksi dalam darah tali pusat. Dengan adanya hal
tersebut, aktifitas lintasan komplemen terlambat, dan C3 serta faktor B tidak
diproduksi sebagai respon terhadap lipopolisakarida. Kombinasi antara defisiensi
imun dan penurunan antibodi total dan spesifik, bersama dengan penurunan
fibronektin, menyebabkan sebagian besar penurunan aktivitas opsonisasi.
c. Laki-laki dan kehamilan kembar. Insidens sepsis pada bayi laki- laki empat kali
lebih besar dari pada bayi perempuan.
2. Faktor Lingkungan
a. Pada defisiensi imun bayi cenderung mudah sakit sehingga sering memerlukan
prosedur invasif, dan memerlukan waktu perawatan di rumah sakit lebih lama.
Penggunaan kateter vena/ arteri maupun kateter nutrisi parenteral merupakan
tempat masuk bagi mikroorganisme pada kulit yang luka. Bayi juga mungkin
terinfeksi akibat alat yang terkontaminasi.
b. Paparan terhadap obat-obat tertentu, seperti steroid, bis menimbulkan resiko pada
neonatus yang melebihi resiko penggunaan antibiotik spektrum luas, sehingga
menyebabkan kolonisasi spektrum luas, sehingga menyebabkan resisten berlipat
ganda.

c. Kadang-

kadang

di

ruang

perawatan

terhadap

epidemi

penyebaran

mikroorganisme yang berasal dari petugas ( infeksi nosokomial), paling sering


akibat kontak tangan.
d. Pada bayi yang minum ASI, spesies Lactbacillus dan E.colli ditemukan dalam
tinjanya, sedangkan bayi yang minum susu formula hanya didominasi oleh
E.colli.
Mikroorganisme atau kuman penyebab infeksi dapat mencapai neonatus melalui beberapa
cara yaitu :
a. Pada masa antenatal atau sebelum lahir pada masa antenatal kuman dari ibu setelah
melewati plasenta dan umbilicus masuk kedalam tubuh bayi melalui sirkulasi darah
janin. Kuman penyebab infeksi adalah kuman yang dapat menembus plasenta, antara
lain virus rubella, herpes, sitomegalo, koksaki, hepatitis, influenza, parotitis. Bakteri
yang dapat melalui jalur ini antara lain malaria, sifilis dan toksoplasma.
b. Pada masa intranatal atau saat persalinan infeksi saat persalinan terjadi karena kuman
yang ada pada vagina dan serviks naik mencapai kiroin dan amnion akibatnya, terjadi
amnionitis dan korionitis, selanjutnya kuman melalui umbilkus masuk ke tubuh bayi.
Cara lain, yaitu saat persalinan, cairan amnion yang sudah terinfeksi dapat terinhalasi
oleh bayi dan masuk ke traktus digestivus dan traktus respiratorius, kemudian
menyebabkan infeksi pada lokasi tersebut. Selain melalui cara tersebut diatas infeksi
pada janin dapat terjadi melalui kulit bayi atau port de entre lain saat bayi melewati
jalan lahir yang terkontaminasi oleh kuman (mis. Herpes genitalis, candida albican
dan gonorrea).
c. Infeksi pascanatal atau sesudah persalinan. Infeksi yang terjadi sesudah kelahiran
umumnya terjadi akibat infeksi nosokomial dari lingkungan diluar rahim (mis,
melalui alat-alat; pengisap lendir, selang endotrakea, infus, selang nasagastrik, botol
minuman atau dot). Perawat atau profesi lain yang ikut menangani bayi dapat
menyebabkan terjadinya infeksi nasokomial.

Zat patogen (bakteri,virus,jamur)

Rangsangan endo/eksotoksin

sistem imunologi

aktivasi magrofag

sekresi berbagai

Aktivasi komplemen&

sitokinin& mediator

neutrofil

disfungsi&kerusakan endotel

aktivasi sistem koagulasi&trombosit

Gangguan perfusi ke berbagai jaringan


& disfungsi organ multiple

Sepsis

1.5 Gejala Klinis


Gejala yang tampak dapat berupa:3,4,5,6
-

Suhu tubuh tidak stabil (< 36 0C atau > 37,5 0C)

Laju nadi > 180 x/menit atau < 100 x/menit

Laju nafas > 60 x/menit, dengan retraksi atau desaturasi oksigen,apnea atau laju
nafas < 30x/menit

Letargi, malas minum, rewel,

Intoleransi glukosa : hiperglikemia (plasma glukosa >10 mmol/L atau >170 mg/dl)
atau hipoglikemia (< 2,5 mmol/L atau < 45 mg/dl)

Tekanan darah < 2 SD menurut usia bayi

Tekanan darah sistolik < 50 mmHg (usia 1 hari)\ Tekanan darah sistolik < 65 mmHg
(usia < 1 bulan)

Pengisian kembali kapiler/capillary refill time > 3 detik.

Pada sistem Gastrointestinal dapat berupa muntah, diare, perut kembung,


organomegal, biasanya tanda baru muncul pada hari ke empat.

Pada kulit dapat beupa perfusi yang kurang, sianosis, pucat, petechi, ruam, ikterik

Pada pulmonal, perupa takipnu, distress respirasi (merintih, retraksi)

Neurologis berupa iritabilitas, penurunan kesadaran, kejang, ubun-ubun membonjol,


kaku kuduk sesua dengan meningitis.1

1.6 Diagnosis
Dikategorikan dalam FIRS/SIRS (Fetal inflammatory response syndrome/ Sindroma
respon inflamasi janin) Bila ditemukan dua atau lebih keadaan : laju napas > 60 x/menit atau
< 30 x/menit atau apnea dengan atau tanpa retraksi dan desaturasi oksigen, suhu tubuh tidak
stabil (< 360C atau > 37,50C), waktu pengisian kapiler > 3 detik, hitung leukosit < 4.000 x
109/L atau > 34.000 x 109/L.2,3,4,6
Dikategorikan Terduga atau Suspek Sepsis bila adanya satu atau lebih kriteria FIRS
disertai gejala klinis infeksi.
Didiagnosis pasti sepsis atau proven sespis bila terdapat satu atau lebih kriteria FIRS
disertai bakteremia/kultur darah positif.
Diagnosis Banding:
Kelainan bawaan jantung, paru, dan organ-organ lain.
7

1.7 Pemeriksaan Penunjang1,2,3,4,5,6


-

Pemeriksaan jumlah leukosit dan hitung jenis secara serial untuk menilai perubahan
akibat infeksi, ananya leukositosis atau leukopeni, netropeni, [eningkatan rasio netrofil
imatur/total (I/T) lebih dari 0,2.

Peningkatan protein fase akut (C-reactive protein), peningkatan IgM.

Ditemuakan kuman pada pemeriksaan kultur, pengecetan gram dari darah, urin dan
cairan serebrospinal serta dilakukan uji kepekaan kuman.

AGD, ditemukan hipoksia, asidosis metabolik, asidosis laktat.

Pemeriksaan cairan serebrospinal ditemukan peningkatan jumlah leukosit terutama


PMN, jumlah leukosit 20/ml (umur < 7 hari) dan PMN 10/ml (umur >7 hari),
peningkatan kasar protein, penurunan kadar glukosa serta pengecetan gram ditemukan
kuman. Gambaran ini sesuai dengan meningitis yang sering terjadi pada sepsis.

Gangguan metabolik. Berupa hiperglikemi atau hipoglikemia, asidosis metabolik.

Radiologis, pada foto dada ditemukan:


o Pneminia kongnital dan infeksi intrauterin, ditemukan gambaran konsolidasi
bilateral atau efusi pleura.
o Pneumonia,

dan

nfeksi

ntra

partum

infiltrasi,

dam

destrukdi

jaaringan

bronkopulmoner, atelektasis segmental atau lobaris, gambaran retikulogranuler difus


(seperti penyakit membran hialin), efusi pleura.
o Pnemonia dan infeksi postnatal gambarannya sesuai dengan pola kuman tempat di
mana bayi dirawat.
o Pada pencitraan (CT-Scan) dapat ditemukan obstruksi aliran cairan serbrospinal,
infark dan abses. pada gambaran dapat ditemukan ventrikulitis.
o Pemeriksaan lainnya sesuai penyakit yang menyerta.

1.8 Penatalaksanaan
Managemen Umum
Dugaan Sepsis, pengobatan menggunakan daftar tabel temuan yang berhubungan
dengan sepsis, pada dugaan sepsis pengobatan ditujukan pada temuan khusus (misalnya
kejang) serta dilakukan pemantauan. 1,3,4,5,6

Suspek Besar Sepsis


1.

Antibiotik
Antibiotik awal diberikan ampisilin dan gentamisin, bila organisme tidak dapat
digemukan dan bayi tetap menunjukkan tanda infeksi sesudah 48 jam, ganti ampisilin
dan beri sefotaksim disamping tetap diberi gentamisin.
Jika ditemukan organisme penyebab infeksi, digunakan antibiotik sesuai uji kepekaan
kuman. Antibiotik diberikan sampai 7 hari setelah perbaikan. Pada sepsis dengan
meningitis, ppemberian antibiotik sesuai pengobatan meningitis.

2.

Respirari
Menjaga patenasi jalan napas dan pemberian oksigen untuk mencegah hipoksia. Pada
kasus tertentu membutuhkan ventilator mekanik.

3.

Kardiovaskuler
Pasang jali i.v dan beri cairan dengan dosis rumatan seta pemantauan tensi (bila
tersedia fasilitas) dan perfusi jaringan untuk mencegah syok.

4.

Hematologi
Trasfusi komponen jika diperlukan. Atasi kelainan yang mendasari.

5.

Tunjangan nutrisi adekuat

Managemen Khusus
Pengobatan terhasap tanda khusus lain atau penyakit penyerta serta komplikasi yang
terjadi (misal: kejang, gangguan metabolik, hematologi,respirasi, gastrointestinal, kardirespirasi, hiperbilirubin).1,3,4,5,6
Pada kasus tertentu dibutuhkan imunoterapi dengan pemberian imunoglobulin,
antibodi monoklonal atau trasfusi tukar (bila fasilitas memungkinkan)

1.7 Monitoring
Dugaan Sepsis
Pengobatan menggunakan daftar tabel temuan yang berhubungan dengan sepsis. Jika
ditemukan riwayat infeksi intra uterin, ditemukan satu kategori A dan satu atau dua kategori
B maka kelola untuk tanda khususnya (misalnya kejang). Lakukan pemantauan. Jika
ditemukan tambahan tanda sepsis maka dikelola sebagai suspek besar sepsis.1,3,4,5

Suspek Besar Sepsis


Pada bayi umur sampai 3 hari, bila ada rawat ibu dengan infeksi rahim, demam
dengan kecurigaan infeksi berat atau (ketuban pecah dini)atau bayi mempunyai 2 atau lebih
kategori A, atau 3 atau lebih kategori B.
Pada bayi berumur > 3 hari, bila bayi mempunyai dua atau lebih temuan kategori A
atau tiga atau lebih temuan kategori B. Tranfusi tukar jika tidak ditemukan perbaikan klinis
dan laboratorium setelah pemberian antibiotik adekuat.

Tumbuh Kembang
Komplikasi yang sering terjadi pada penderita dengan sepsis dapat mengakibatkan
gangguan tumbuh kemabang berupa retardasi mental, gangguan penglihatan, kesukaran
belajar, kelainan tingkah laku.
Tabel 1. Kelompok temuan yang berhubungan dengan sepsis
10

Kategori A

Kategori B

1.

Kesulita

bernapas

1.

Tremor

(misalnya, apneu, napas > 30 kali /menit,

2.

Letargi

retraksi dinding dada)


2.

lunglai

Grunting pada waktu

3.

ekspirasi, sianosis sentral


Kejang

4.

Tidak Sadar

5.

Suhu

4.
tubuh

tidak

memberi respon terhadap terapi atau suhu

5.

normal selama tiga kali atau lebih,

Perut kembung
(menyokong ke arah sepsis)

7.

Tanda-tanda
mulai

Persalinan

di

kurang

higienis

muncul

sesudah

hari

ke

4(menyokong ke arah sepsis)


8.

(menyokong ke arah sepsis)


Kondisi

Muntah

6.

menyokong ke arah sepsis)

7.

atau

(menyokong ke arah sepsis)

tidak stabil sesudah pengukuran suhu

yang

Iritabel
rewel

normal, (tidak normal sejak lahir dan tidak

lingkungan

Mengantuk atau
aktifitas berkurang

3.

6.

atau

Air

ketuban

Malas

minum,

bercampur mekonium
memburuk

9.

secara cepat dan dramatis (menyokong ke

sebelumnya

minum

dengan

arah sepsis)

(menyokong ke arah sepsis)

baik

Tabel 2. Dosis antibiotik untuk sepsis


Antibiotik

Cara

Ampisilin
Ampisilin untuk meningitis
Sefotaksim
Sefotaksim untuk

pemberian
IV, IM
IV
IV, IM
IV

meningitis
Gentamisin

IV, IM

Hari 1 7

Dosis dalam mg
Hari 8+

50 mg/kg setiap 12 jam


100mg/kg setiap 12 jam
50 mg/kg setiap 12 jam
50 mg/kg setiap 6 jam

50 mg/kg setiap 8 jam


100mg/kg setiap 8 jam
50 mg/kg setiap 8 jam
50 mg/kg setiap 6 jam

BB < 2 kg:
4 mg/kg sekali sehari

3,5mg/kg setiap 12 jam

BB 2 kg:
5 mg/kg sehari
11

3,5mg/kg setiap 12 jam

1.8 Prognosis
Angka kematian pada sepsis neonatal berkisar antara 10 40 %. Angka tersebut
berbeda-beda tergantung pada cara dan waktu awitan penyakit, agen etiologik, derajat
prematuritas bayi, adanya dan keparahan penyakit lain yang menyertai dan keadaan ruang
bayi atau unit perawatan. Angka kematian pada bayi prematur yang kecil adalah 2 kali lebih
besar.2

1.9 Pencegahan 1
-

Mencegah dan mengobati ibu demam dengan kecurigaan infeksi berat atau infeksi
intra uterin

Mencegah dan mengobati ibu dengan ketuban pecah dini

Perawatan antenatal yang baik

Mencegah aborsi yang berulang, cacat bawaan

Mencegah persalinan prematur

Melakukan pertolonhan persalinan uang bersih dan aman

Mencegah asfiksia neonatorum

Melakukan resusitasi dengan benar

Melakukan tindakan pencegahan infeksi

Melakukan identifikas awal terhadap faktor resiko sepsis dan pengelolaan yang
efektif.

12

BAB III
KESIMPULAN
Neonatal sepsis merupakan sidroma klinis dari penyakit sistemik akibat
infeksi selama satu bulan pertama kehidupan. Bakteri, virus, jamur dan protozoa dapat
menyebabkan sepsis pada neonatus. Insiden berkisar 1 -10 diantara 1000 kelahiran hidup
dengan mortalitas 13-50%. Tanda awal pada bayi baru lahir tidak spesifik, sehingga skrining
sepsis dan pengelolaan terhadap faktor resiko perlu dilakukan. Maka terapi awal pada
neonatus yang mengalami sepsis harus segera dilakukan tanpa menunggu hasil kultur.

13

DAFTAR PUSTAKA
1. Pusponegoro HD,dkk. Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak Edisi 1. Jakarta; IDAI.
2004, hlm:286 290.

2. Nelson.. Ilmu Kesehatan Anak. Bagian 2. Jakarta: EGC. 1993


3. Harianto Agus. Sepsis Neonatorum. Surabaya; SMF Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas
Kedokteran UNAIR. 2006. http://www.pediatrik.com/isi03.php?
page=html&hkategori=pdt&direktori=pdt&filepdf=0&pdf=&html=07110-tsyz266.htm

4. Children's Specialists. Sepsis Neonatorum. Division of Neonatology; San Diego, 2008.


http://www.cssd.us/body.cfm?id=371
Linda
University.

5. Loma

Neonatal

Spesis;

California,

http://lomalindahealth.org/health-library/a-z-health-guide/1/007303.htm

14

2009.