Anda di halaman 1dari 7

1.

Menjelaskan patomekanisme luka/trauma menggunakan pengetahuannya tentang histology,


2.
3.
4.
5.

anatomi dan fisiologi tubuh manusia


Mendeskripsikan karakteristik luka
Menjelaskan karakteristik kemungkinan agen penyebab luka
Menjelaskan keparahan/derajat luka sesuai denan hukm yang berlaku
MCOD

Penjelasan

Karakteristik luka: Ditemukan sebuah luka tertutup yaitu luka memar dan perdarahan di mata kanan
yang disebabkan oleh benda tumpul
Hematoma kacamata pada disebabkan adanya fraktur basis kranii yang menyebabkan pecahnya
arteri oftalmika yang menyebabkan darah masuk kedalam kedua rongga orbita melalui fisura orbita.
Akibatnya darah tidak dapat menjalar lanjut karena dibatasi septum orbita kelopak maka terbentuk
gambaran hitam kemerahan pada kelopak seperti seseorang yang memakai kacamata. Karena pada
kedua mata terjadi pembengkakan palpebra superior dan inferior mata menjadi berat dan susah untuk
dibuka (ptosis).
Konjungtiva palpebra merupakan membrane mukosa yang transparan dan tipis yang membungkus
permuksaan posterior kelopak mata. System vascular dari konjungtiva palpebra berasal dari arteri
palpebralis yang apabila pada palpebra mengalami trauma pada mata, pembuluh darah dapat pecah
kemudian terjadi edema konjungtiva (kemosis konjungtiva). Selain itu arteri palpebralis juga
merupakan salah satu cabang arteri oftalmika, yang apabila terjadi fraktur basis kranii dapat pula
pecah dan menjadi edema konjungtiva (kemosis konjungtiva). Bila edema ini besar atau banyak
menyebabkan mata tidak bisa tertutup (lagoftalmus) dan konjungtiva dapat terpapar dengan udara
luar yang bisa menimbulkan infeksi.
Perdarahan pada Sklera pasien juga kemungkinan disebabkan oleh fraktur basis kranii seperti yang
dijelaskan pada Hematoma Kacamata. Fraktur basis kranii ini meyebabkan adanya pembuluh darah
yang robek di intrakranial pada fossa anterior yang memberi manifestasi klinik perdarahan pada
sklera karena sklera termasuk jaringan ikat longgar.
Kontusio atau memar

Meskipun sering bersamaan dengan abrasi dan laserasi, memar murni terjadi
karena kebocoran pada pembuluh darah dengan epidermis yang utuh oleh karena proses
mekanis. Ekstravasasi darah dengan diameter lebih dari beberapa millimeter disebu
tm e m a r a t a u k o n t u s i o , u k u r a n y a n g l e b i h k e c i l d i s e b u t e k i m o s i s d a n y a n g
t e r k e c i l seukuran ujung peniti disebut petekie. Baik ekimosis dan petekie biasanya terjadi bukan
karena sebab trauma mekanis. Kontusio disebabkan oleh kerusakan vena, venule, arteri kecil.
Perdarahan kapiler hanya dapat dilihat melalui mikroskop, bahkan petekie berasal dari pembuluh
darah yang lebih besar dari kapiler. Kata memar mengacu pada lesi yang dapat dilihat
pada kulit atau yang terjadi pada subkutanea, sementara kontusio dapat terjadi pada bagian tubuh
mana saja seperti limpa, mesenterium atau otot. Penggunaan kata memar lebih
banyak digunakan dokter saat memberikan laporan atau keterangan pada kalangan nonmedik. Memar Intradermal Memar yang biasa terjadi akibat penekanan berada pada
subkutanea, sering pada j a r i n g a n a d i p o s a . J i k a d i l i h a t , m e m a r t e r j a d i p a d a
p e r b a t a s a n d e r m i s d a n e p i d e r m i s . Namun kadang samar. Ketika memar terjadi
akibat penekanan dengan obyek berpola,perdarahan yang terjadi lebih dapat dilihat,
jika berada di lapisan subepidermal. Jumlah darahnya sedkiti namun karena posisinya
yang superfisial dan lapisan tipis di atasnya y a n g j e r n i h s e h i n g g a p o l a n y a d a p a t
dibedakan. Memar ini terjadi ketika obyek yang menekan memiliki pinggiran
d a n a l u r , s e h i n g g a k u l i t d i p a k s a m e n g i k u t i a l u r d a n bentuknya.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Munculnya Memar:
1. Kebocoran pembuluh darah. Harus ada ruangan yang cukup untuk darah
yangkeluar berakumulasi. Ini menjelaskan kenapa memar lebih mudah terjadi
pada s k r o t u m d a r i p a d a t u m i t d i m a n a j a r i n g a n j a r i n g a n f i b r o s a n y a p a d a t .
K a r e n a banyaknya jaringan subkutanea pada orang yang gemuk, mereka lenih
mudah t e r j a d i m e m a r d a r i p a d a o r a n g y a n g k u r u s j i k a f a k t o r l a i n s e p e r t i
2.
3.
4.
5.

f r a g i l i t a s pembuluh dan umur sama.


Jumlah darah yang keluar
Ruangan yang cukup
Kedalaman memar yang terjadi
Fragilitas pembuluh darah

Pada orang yang berbaring lama Pergerakan dari Memar Pada daerah superfisial memar
muncul dengan cepat, sementara pada area yang dalammembutuhkan waktu untuk

muncul ke permukaan. Memar dapat bergerak mengikuti gaya gravitasi. Contohnya,


perdarahan subkutanea dapat turun melewati alis mata danv muncul di orbita mata yang
memberikan gambaran mata hitam yang dapat disalahartikan sebagai trauma langsung.
Begitu juga memar pada lengan atas atau betis, dapat turun sampai pada siku atau
tumit. Perubahan Memar oleh Waktu. Dengan berlalunya waktu, hematom yang terbentuk
pecah oleh pengaruh enzim j a r i n g a n d a n i n f i l t r a s i s e l u l e r.s e l d a r a h m e r a h
m e n u t u p i r u p t u r d a n m e n g a n d u n g H b membuat degradasi secara kimiawi yang
menyebabkan perubahan warna. Hemoglobin pecah menjadi hemosiderin, biliversin dan
bilirubon yang menyebabkan perubahan warna m e m a r d a r i u n g u a t a u c o k l a t k e b i r u a n
m e n j a d i c o k l a t k e h i j a u a n , k e m u d i a n h i j a u kekuningan sebelum akhirnya samar.

Berdasarkan ketentuan dalam KUHP, penganiayaan ringan adalah penganiayaan yang tidak
menimbulkan penyakit atau halangan untuk menjalankan jabatan atau pekerjaan , sebagaimana
bunyi pasal 352 KUHP. Umumnya yang dianggapsebagai hasil dari penganiayaan ringan adalah
korban dengan tanpa luka atau dengan luka lecet atau memar kecil di lokasi ya ng tidak
berbahaya/yang tidak menrunkan fungsi alat tubuh tertentu.
Derajat luka. Berdasarkan ketentuan dalam KUHP;
Pasal 351
(1) Penganiayaan diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan atau pidana
denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah,
(2) Jika perbuatan mengakibatkan luka-luka berat, yang bersalah diancam dengan pidana penjara
paling lama lima tahun.
(3) Jika mengakibatkan mati, diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun.
(4) Dengan penganiayaan disamakan sengaja merusak kesehatan.
(5) Percobaan untuk melakukan kejahatan ini tidak dipidana.

Pasal 352

(1) Kecuali yang tersebut dalam pasal 353 dan 356, maka penganiayaan yang tidak menimbulkan
penyakit atau halangan untuk menjalankan pekerjaan jabatan atau pencarian, diancam, sebagai
penganiayaan ringan, dengan pidana penjara paling lama tiga bulan atau pidana denda paling
banyak empat ribu lima ratus rupiah. Pidana dapat ditambah sepertiga bagi orang yang
melakukan kejahatan itu terhadap orang yang bekerja padanya, atau menjadi bawahannya.
(2) Percobaan untuk melakukan kejahatan ini tidak dipidana.

Pasal 90
Luka berat berarti:

jatuh sakit atau mendapat luka yang tidak memberi harapan akan sembuh sama sekali, atau yang
menimbulkan bahaya maut;

tidak mampu terus-menerus untuk menjalankan tugas jabatan atau pekerjaan pencarian;

kehilangan salah satu pancaindera;

mendapat cacat berat;

menderita sakit lumpuh;

terganggunya daya pikir selama empat minggu lebih;

gugur atau matinya kandungan seorang perempuan.

KDRT adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan , yang berakibat timbulnya
kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga,
termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara
melawan hukum dalam lingkup rumah tangga.
Pemeriksaan terhadap korban kekerasan fisik, dalam rangka pembuatan kesimpulan visum, perlu
memperhatikan klasifikasi luka mengacu pada 44 UU PKDRT yaitu:
1) tidak menimbulkan penyakit atau halangan untuk menjalankan pekerjaan jabatan atau mata
pencaharian atau kegiatan sehari-hari

2) mengakibatkan jatuh sakit atau luka berat


3) mengakibatkan mati
penentuan kualifikasi luka pada dasarnya untuk memenuhi keinginan undang-undang dalam hal ini
KUHP pasal 351 ayat 1 dan 2, pasal 352 ayat 1, pasal 353 ayat 2, pasal 354 ayat 1, dan pasal 360
ayat 1 dan ayat 2.
Dengan demikian penyidik akan mengenal 3 kualifikasi luka, yaitu :
1) luka yang tidak mengakibatkan penyakit atau halangan dalam melakukan pekerjaan atau
jabatan
2) luka yang mengakibatkan penyakit atau halangan dalam melakukan pekerjaan atau jabatan
untuk sementra waktu
3) luka yang dimaksudkan dalam KUHP pasal 90 yaitu:
a. penyakit atau luka yang tak dapat diharapkan akan sembuh dengan sempurna atau yang
b.
c.
d.
e.
f.
g.

dapat mendatangkan bahaya maut


senantiasa tidak cakap mengerjakan pekerjaan jabatan atau pekerjaan pencaharian
tidak dapat lagi memakai salah satu pnca indra
mendapat cacat besar
Lumpuh
Akal (tenaga paham) tidak sempurna lebih lama dari 4 minggu
Gugurnya atau mati kandungan seorang perempuan

Kekerasan yang menyebabkan luka dapat dibagi menjadi tiga golongan yaitu :
1. Luka karena kekerasan mekanik (benda tajam, tumpul dan senjata api)
2. Luka karena kekerasan fisik (luka karena arus listrik, petir, suhu tinggi dan suhu rendah)
3. Luka karena kekerasan kimiawi ( asam organik, asam anorganik, kaustik alkali dan karena logam
berat )
Kekerasan tumpul : Benda-benda yang dapat mengakibatkan luka dengan sifat luka seperti ini adalah
benda yang memiliki permukaan tumpul. Luka yang terjadi dapat berupa luka memar
(kontusio,hematom), luka lecet (ekskoriasi,abrasi) dan luka retak, robek atau koyak (vulnus
laseratum).
Luka Memar (kontusio)

Memar adalah cedera yang disebabkan benturan dengan benda tumpul yang mengakibatkan
pembengkakan pada bagian tubuh tertentu karena keluarnya darah dari kapiler yang rusak ke
jaringan sekitarnya, yang terjadi sewaktu orang masih hidup. Pada luka memar biasanya permukaan
kulit utuh, yang mengalami kerusakan adalah jaringan di bawah kulit. Benturan dengan benda
tumpul ini termasuk pukulan dengan tangan, jatuh pada permukaan yang datar, cedera akibat senjata
tumpul.
Letak, bentuk dan luas luka memar dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti besarnya
kekerasan, jenis benda penyebab (karet,kayu,besi), kondisi dan jenis jaringan (jaringan ikat
longgar,jaringan lemak), usia, jenis kelamin, corak dan warna kulit, kerapuhan pembuluh darah,
penyakit (hipertensi,penyakit kardiovaskuler, diatesis hemoragik). Bila kekerasan benda tumpul
yang mengakibatkan luka memar terjadi pada daerah dimana jaringan ikat longgar, seperti di daerah
mata, leher, atau pada orang lanjut usia dan pada bayi, maka luka memar yang tampak seringkali
tidak sebanding dengan kekerasan, dalam arti memar lebih mudah terjadi dan seringkali lebih luas
dan adanya jaringan longgar tersebut memungkinkan berpindahnya memar ke daerah yang lebih
rendah karena pengaruh gravitasi. Seorang dengan kekurangan vitamin K atau seorang penderita
hemofilia, persentuhan yang ringan dengan benda tumpul dapat menyebabkan luka memar yang
luas.
Salah satu bentuk luka memar yang dapat memberikan informasi mengenai bentuk dari
benda tumpul adalah apa yang dikenal dengan marginal haemorrhages, misalnya bila tubuh
korban terlindas ban kendaraan, dimana pada tempat dimana terdapat tekanan justru tidak
menunjukkan kelainan. Perdarahan akan menepi sehingga terbentuk perdarahan tepi yang bentuknya
sesuai dengan bentuk celah antara kedua kembang ban yang berdekatan. Hal yang sama misalnya
bila seseorang dipukul dengan rotan atau benda yang sejenis, maka akan tampak memar yang
memanjang dan sejajar yang membatasi daerah yang tidak menunjukkan kelainan. Daerah antara
kedua memar yang sejajar dapat menggambarkan ukuran lebar dari alat pemukul yang mengenai
tubuh korban.
Hematom ante-mortem yang timbul beberapa saat sebelum kematian biasanya akan
menunjukkan pembengkakan dan infiltrasi darah dalam jaringan sehingga dapat dibedakan dari
lebam mayat dengan cara melakukan penyayatan kulit. Pada lebam mayat (hipostasis pascamati)
darah akan mengalir keluar dari pembuluh darah yang tersayat sehingga bila dialiri air, penampang
sayatan akan tampak bersih, sedangkan pada hematom penampang sayatan tetap berwarna merah

kehitaman. Pada pembusukan juga terjadi ekstravasasi darah yang dapat mengacaukan pemeriksaan
ini. Selain itu,untuk membedakan luka memar dengan lebam mayat dapat dilihat dari lokasinya pada
tubuh korban, dimana lebam mayat letaknya pada bagian tubuh yang terendah

Anda mungkin juga menyukai