Anda di halaman 1dari 90

ANALISIS KELAYAKAN DAN OPTIMASI USAHA BUDIDAYA

BAYAM MERAH DAN KANGKUNG HIDROPONIK DENGAN SISTEM


NFT (NUTRIENT FILM TECHNIQUE) DI PT. JOY FARM, DEPOK

Oleh :
ANDIKA PRASTYA
F14104056

2009
DEPARTEMEN TEKNIK PERTANIAN
FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR

ANALISIS KELAYAKAN DAN OPTIMASI USAHA BUDIDAYA


BAYAM MERAH DAN KANGKUNG HIDROPONIK DENGAN SISTEM
NFT (NUTRIENT FILM TECHNIQUE) DI PT. JOY FARM, DEPOK

SKRIPSI
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
SARJANA TEKNOLOGI PERTANIAN
Pada Departemen Teknik Pertanian
Fakultas Teknologi Pertanian
Institut Pertanian Bogor

Oleh :
ANDIKA PRASTYA
F14104056

2009
FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR

INSTITUT PERTANIAN BOGOR


FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
ANALISIS KELAYAKAN DAN OPTIMASI USAHA BUDIDAYA
BAYAM MERAH DAN KANGKUNG HIDROPONIK DENGAN SISTEM
NFT (NUTRIENT FILM TECHNIQUE) DI PT. JOY FARM, DEPOK

SKRIPSI
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
SARJANA TEKNOLOGI PERTANIAN
Pada Departemen Teknik Pertanian
Fakultas Teknologi Pertanian
Institut Pertanian Bogor

Oleh :
ANDIKA PRASTYA
F14104056
Dilahirkan pada tanggal 19 April 1986
di Jakarta

Tanggal lulus :

Oktober 2009

Menyetujui,
Bogor, Oktober 2009

Dr. Ir. Setyo Pertiwi, M.Agr


Dosen Pembimbing
Mengetahui,

Dr. Ir. Desrial, M.Eng


Ketua Departemen
Teknik Pertanian

Andika Prastya. F14104056. Analisis Kelayakan dan Optimasi Usaha Budidaya


Bayam Merah dan Kangkung Hidroponik Dengan Sistem NFT (Nutrient Film
Technique) di PT. Joy Farm, Depok. Di bawah bimbingan : Dr. Ir. Setyo Pertiwi,
M.Agr. 2009.

RINGKASAN
Hidroponik merupakan budidaya tanaman tanpa menggunakan tanah
sebagai media tanamnya. Hidroponik berasal dari bahasa latin yang terdiri dari
kata hydro yang berarti air, dan kata ponos yang berarti kerja (Soeseno,1998). Jadi
definisi hidroponik adalah pengerjaan atau pengelolaan air yang digunakan
sebagai media tumbuh tanaman dan juga sebagai tempat akar tanaman tanpa
menggunakan tanah sebagai media tanamnya. Ada berbagai teknik hidroponik
yang dapat diterapkan, salah satunya adalah Nutrient Film Technique (NFT). NFT
merupakan metode budidaya yang akar tanamannya berada di lapisan air dangkal
tersirkulasi yang mengandung nutrisi sesuai kebutuhan tanaman. Perakaran bisa
jadi berkembang di dalam larutan nutrisi dan sebagian lainnya di atas permukaan
larutan. Aliran larutan sangat dangkal, jadi bagian atas perakaran berkembang di
atas air yang meskipun lembab tetap berada di udara (Chadirin, 2006).
PT. Joy Farm merupakan perusahaan yang relatif baru yang merupakan
mitra dari Parung Farm yang memproduksi bayam merah dan kangkung
menggunakan sistem hidroponik Nutrient Film Technique (NFT). PT. Joy Farm
memiliki lahan kebun seluas 2000 m2 yang terletak di Jl. Menceng Kelurahan
Bedahan Baru, Sawangan Baru - Depok. PT. Joy Farm terletak pada 6o26 LS dan
106o46 BT dengan ketinggian 200 m dpl dan topografi permukaan yang relatif
datar. Kebun ini memiliki dua bangunan greenhouse, yaitu greenhouse untuk
nursery dan greenhouse untuk budidaya. Greenhouse merupakan suatu bangunan
yang memiliki struktur atap atau dinding yang bersifat tembus cahaya,
memungkinkan cahayanya yang dibutuhkan tanaman bisa masuk ke dalam
bangunan tetapi tanaman tetap dapat terhindar dari kondisi lingkungan yang tidak
menguntungkan seperti curah hujan yang deras, tiupan angin yang kencang atau
keadaan suhu yang terlalu tinggi yang dapat menghambat pertumbuhan tanaman
(Nelson dalam Lieng, 1996). Sarana produksi lain yang dimiliki adalah jaringan
hidroponik sistem NFT, serta tangki penampungan dan pembuatan nutrisi.
Jaringan sistem NFT yang diterapkan oleh PT. Joy Farm merupakan
modifikasi sistem NFT menggunakan asbes yang dilapisi terpal. Sedangkan
sistem NFT yang umum diterapkan di Indonesia adalah menggunakan talang air.
Kinerja teknis sistem hidroponik merupakan faktor penting untuk
menentukan layak atau tidaknya sistem tersebut untuk diterapkan. Prastyo (2004)
melakukan evaluasi kelayakan jaringan NFT talang air berdasarkan parameter
seperti keseragaman inlet dan outlet, keseragaman kedalaman larutan nutrisi, serta
keseragaman bobot tanaman. Dari hasil penelitiannya diperoleh nilai keseragaman
yang mencapai 90%, sehingga sistem tersebut layak untuk diterapkan. Evaluasi
kelayakan teknis terhadap sistem NFT yang diterapkan di PT. Joy Farm masih
perlu dilaksanakan.
Kegiatan budidaya dengan menggunakan teknologi hidroponik
membutuhkan investasi yang besar dibanding dengan kegiatan budidaya secara

konvensional, sehingga harus memperhatikan besarnya modal yang dimiliki serta


kehati-hatian dalam mengalokasikan modal tersebut. Maka penilaian terhadap
kelayakan finansial serta optimasi pada usaha tani tersebut juga perlu dilakukan
agar usaha yang dijalani mendapatkan keuntungan yang maksimum.
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kelayakan teknis sistem
hidroponik NFT (Nutrient Film Technique) dengan asbes lapis terpal yang
diterapkan di PT. Joy Farm, melakukan analisis kelayakan finansial pada usaha
budidaya bayam merah dan kangkung dengan sistem hidroponik NFT (Nutrient
Film Technique) di PT. Joy Farm, dan melakukan optimasi usaha budidaya bayam
merah dan kangkung hidroponik NFT (Nutrient Film Technique) di PT Joy Farm.
Evaluasi kelayakan jaringan NFT dilakukan dengan cara melakukan
pengukuran terhadap parameter yang telah disebutkan pada bed yang terletak di
bagian ujung dan tengah setiap 3 harian selama periode pertumbuhan. Kelayakan
finansial dievaluasi dengan melakukan analisis Net Present Value (NPV), analisis
Net B/C, analisis Gross B/C, analisis biaya pokok, dan analisis Internal Rate of
Return (IRR). Optimasi produksi dilakukan dengan menggunakan program linear.
Hasil penelitian mengenai evaluasi kelayakan teknis yang dilakukan
berdasarkan parameter keseragaman debit aliran, keseragaman konduktivitas
listrik, keseragaman derajat keasaman, kedalaman aliran, dan bobot tanaman,
menghasilkan nilai keseragaman yang secara umum mendekati 90% sehingga
teknik hidroponik dapat diterapkan. Namun secara khusus nilai keseragaman
masih kurang baik pada kedalaman aliran dan bobot tanaman, hal ini disebabkan
karena terdapatnya lipatan pada terpal pelapis bed sehingga permukaan bed
menjadi tidak rata.
Pada kelayakan finansial, usaha yang dilakukan oleh PT. Joy Farm pada
harga jual Rp 8.400/kg akan layak jika produksi yang dilakukan sesuai target yaitu
17 kg/bed. Namun pada kenyataanya target yang diharapkan tidak tercapai
sehingga usaha menjadi tidak layak. Untuk dapat melanjutkan usahanya maka
diperlukan alternatif seperti melakukan negosiasi ulang terhadap pihak mitra
mengenai harga jual, sehingga harga jual yang digunakan menjadi Rp 16.800/kg
atau sekurang-kurangnya Rp 14.200/kg. Harga jual tersebut memberikan
kelayakan pada PT. Joy Farm dalam melanjutkan usahanya. Di samping itu PT
Joy Farm juga perlu menekan biaya produksi melalui penggunaan nutrisi sesuai
standar dan mencari alternatif pemasaran lain.
Untuk dapat memperoleh keuntungan yang maksimal, setelah melakukan
negosiasi mengenai harga jual tersebut dapat dilakukan optimasi terhadap jumlah
bed yang harus diproduksi oleh masing-masing tanaman. Hasil optimal yang
diperoleh adalah 24 bed per bulan untuk tanaman bayam dan 82 bed per bulan
untuk tanaman kangkung. Dengan kombinasi tersebut dibutuhkan total bed
produksi sebanyak 59 bed, dalam hal ini masih tersisa 5 bed dari total 64 bed yang
dimiliki oleh PT. Joy Farm sehingga dapat lebih memaksimalkan produksi. Dari
hasil tersebut didapatkan total keuntungan sebesar Rp 9.246.742 per bulan.

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Penulis, Andika Prastya dilahirkan di Jakarta pada


tanggal 19 April 1986. Anak ke dua dari tiga bersaudara dari
pasangan Bpk. Hartono dan Ibu. Sutinah. Penulis menempuh
jenjang pendidikan dasar di SDN 12 pagi bina marga, Jakarta
Selatan dan lulus pada tahun 1998. Kemudian penulis
melanjutkan pendidikan lanjutan tingkat pertama di SLTPN
164 Jakarta Selatan dan lulus pada tahun 2001. Penulis melanjutkan
pendidikannya ke sekolah menengah umum yaitu pada SMUN 74 Jakarta Selatan
dan lulus pada tahun 2004. Pada tahun yang sama penulis diterima sebagai
mahasiswa baru Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui jalur USMI (Undangan
Seleksi Masuk IPB) dan diterima sebagai mahasiswa pada Departemen Teknik
Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian.
Penulis melakukan kegiatan praktek lapang di PT. Perkebunan Nusantara
VIII Bandung, Jawa Barat pada sebuah pabrik teh hitam CTC dan Ortodoks
dengan judul Aspek Keteknikan Pada Proses Produksi dan Distribusi Teh di
PTPN VIII Perkebunan Rancabali Ciwidey, Bandung, Jawa Barat. Selain di
bidang akademik, penulis juga aktif sebagai musik programmer di Banak Studio
Musik Jakarta dan pernah menjadi musik arranger untuk acara Indomie Jingle
Dare 2.

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur kehadirat Allah swt atas rahmat dan hidayah-Nya
serta salawat dan salam yang selalu dipanjatkan kepada junjungan besar Nabi
Muhammad SAW, karena berrkat suri tauladannya akhirnya penulis dapat
menyelesaikan tugas akhir ini yang berjudul Analisis Kelayakan dan Optimasi
Usaha Budidaya Bayam Merah dan Kangkung Hidroponik Dengan Sistem
NFT (Nutrient Film Technique) di PT. Joy Farm, Depok
Penyusunan tugas akhir ini merupakan salah satu syarat untuk
mendapatkan gelar Sarjana pada Departemen Teknik Pertanian, Fakultas
Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Dalam penyusunan tugas akhir ini
penulis mengucapkan banyak terimakasih kepada :
1. Dr. Ir. Setyo Pertiwi, MAgr. Selaku dosen pembimbing akademik yang
dengan sabarnya telah memberikan bimbingan dan arahannya selama ini.
2. Dr. Ir. I Wayan Astika, Msi dan Dr. Ir. Rokhani Hasbullah, Msi selaku dosen
penguji.
3. Seluruh dosen pengajar di Departemen Teknik Pertanian, Institut Pertanian
Bogor, atas bekal ilmu yang telah diberikan selama penulis menempuh
pendidikan di IPB.
4. Keluarga besar PT. Joy Farm yang telah mengizinkan penulis untuk
melakukan penelitian.
5. Bapak, Ibu, kakak, dan adikku yang selalu memberikan kasih sayang serta
doanya.
6. Omi Dwinurrahmi Assyauqi yang selalu setia, mendoakan, dan memotivasi
penulis.
7. Djakil yang selalu memberikan doa dan motivasi kepada penulis.
8. Teman-teman kostan yaitu Adi Budi, Busan, Salamun, Heru, Indra, anami,
Siwi, iboy dan Iye atas doa dan bantuannya selama ini.
9. Semua teman-teman Teknik Pertanian angkatan 41 dan 42 yang mendukung
dan memberikan dorongan yang kuat kepada penulis untuk menyelesaikan
tugas akhir ini.

10. Serta semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan tugas
akhir ini.
Tidak ada yang sempurna di dunia ini, maka dari itu penulis menyadari
akan kekurangan dan ketidaksempurnaan dalam menyusun tugas akhir ini. Penulis
berharap adanya masukan dan kritikan untuk tugas akhir ini sehingga menjadi
lebih baik. Akhir kata penulis berharap semoga tugas akhir ini berguna bagi
penulis maupun yang membacanya. Terima kasih.

Bogor,

Oktober 2009

Penulis

ii

DAFTAR ISI
Halaman

KATA PENGANTAR ................................................................................ i


DAFTAR ISI ............................................................................................ iii
DAFTAR GAMBAR .................................................................................. v
DAFTAR TABEL ..................................................................................... vi
DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................ viii
I.

PENDAHULUAN ............................................................................ 1
A. LATAR BELAKANG ................................................................ 1
B. TUJUAN .................................................................................... 3

II.

TINJAUAN PUSTAKA ................................................................... 4


A. BAYAM ..................................................................................... 4
B. KANGKUNG ............................................................................. 5
C. HIDROPONIK NFT (Nutrient Film Technique).......................... 6
D. ANALISIS KELAYAKAN TEKNIS NFT
(Nutrient Film Technique) ........................................................... 7
E. ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL ................................... 9
F. PROGRAM LINEAR ............................................................... 13

III. METODOLOGI PENELITIAN.................................................... 17


A. WAKTU DAN TEMPAT ......................................................... 17
B. PENGUMPULAN DATA......................................................... 17
C. ANALISIS DATA .................................................................... 18
1.

EVALUASI KELAYAKAN TEKNIS ................................ 18

2.

ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL ........................... 19

3.

OPTIMASI PRODUKSI .................................................... 20

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ....................................................... 23


A.

EVALUASI KELAYAKAN TEKNIS .................................... 23

B.

KELAYAKAN FINANSIAL................................................... 43

C.

OPTIMASI PRODUKSI.......................................................... 51

iii

V.

KESIMPULAN DAN SARAN ....................................................... 55


A.

KESIMPULAN ....................................................................... 55

B.

SARAN ................................................................................... 57

DAFTAR PUSTAKA ....... ...................................................................... 59


LAMPIRAN ..................... ...................................................................... 61

iv

DAFTAR GAMBAR
Halaman

Gambar 1. Skema jaringan NFT PT. Joy Farm ........................................ 18


Gambar 2. Aliran air pada inlet bed. ........................................................ 26
Gambar 3. Alat pengukur EC,Ph dan konsentrasi larutan ......................... 29
Gambar 4. Grafik fluktuasi nilai EC pada nutrisi kangkung ..................... 32
Gambar 5. Grafik fluktuasi nilai EC pada nutrisi bayam merah................ 32
Gambar 6. Sterofoam pada permukaan bed .............................................. 36
Gambar 7. Bed saat sterilisasi .................................................................. 37

DAFTAR TABEL
Halaman

Tabel 1. Hubungan CU dengan efisiensi distribusi...................................... 8


Tabel 2. Kinerja Teknis sistem NFT (Prastyo, 2004) .................................. 9
Tabel 3. Data pengukuran debit inlet pada jaringan NFT kangkung .......... 23
Tabel 4..Data pengukuran debit inlet pada jaringan NFT bayam ............... 24
Tabel 5. Nilai CU debit inlet pada jaringan NFT kangkung....................... 24
Tabel 6. Nilai CU debit inlet pada jaringan NFT bayam merah ................. 25
Tabel 7. Data pengukuran debit outlet pada jaringan NFT kangkung ........ 26
Tabel 8. Data pengukuran debit outlet pada jaringan NFT bayam merah ... 27
Tabel 9. Nilai CU debit outlet pada jaringan NFT kangkung..................... 27
Tabel 10. Nilai CU debit outlet pada jaringan NFT bayam merah ............. 28
Tabel 11. Data pengukuran EC pada jaringan NFT kangkung ................... 30
Tabel 12. Nilai CU EC pada jaringan NFT kangkung ............................... 30
Tabel 13. Nilai EC Sayuran ...................................................................... 31
Tabel 14. Data pengukuran EC pada inlet jaringanNFT bayam merah ...... 31
Tabel 15. Data pengukuran EC pada outlet jaringan NFT bayam merah .. 31
Tabel 16. Nilai CU EC pada jaringan NFT bayam merah ......................... 33
Tabel 17. Data pengukuran pH kangkung ................................................. 34
Tabel 18. CU pH pada jaringan NFT kangkung ........................................ 34
Tabel 19. Data pengukuran pH inlet bayam. ............................................. 35
Tabel 20. Data pengukuran pH outlet bayam ............................................ 35
Tabel 21. CU pH pada jaringan NFT bayam merah .................................. 35
Tabel 22. Data kedalaman aliran inlet kangkung ....................................... 37
Tabel 23. Data kedalaman aliran outlet kangkung. .................................... 38
Tabel 24. Data kedalaman aliran inlet bayam............................................ 38
Tabel 25. Data kedalaman aliran outlet bayam.......................................... 39
Tabel 26. CU kedalaman aliran pada inlet NFT kangkung. ....................... 39
Tabel 27. CU kedalaman aliran pada outlet NFT kangkung ...................... 40
Tabel 28. CU kedalaman aliran pada inlet NFT bayam ............................. 40
Tabel 29. CU kedalaman aliran pada outlet NFT bayam ........................... 40
vi

Tabel 30. CU bobot tanaman kangkung dan bayam .................................. 41


Tabel 31. Rekapitulasi nilai keseragaman pada jaringan NFT kangkung ... 42
Tabel 32. Rekapitulasi nilai keseragaman pada jaringan NFT bayam ........ 42
Tabel 33. Data produksi sayuran di PT. Joy Farm tahun 2008................... 43
Tabel 34. Biaya Investasi usahatani pada tahun ke-0................................. 45
Tabel 35. Biaya operasional usahatani hidroponik NFT dalam satu tahun . 46
Tabel 36. Hasil uji kelayakan usaha hidroponik di PT. Joy Farm
Jika produksi sesuai target dengan harga jual Rp.8400/kg ......... 47
Tabel 37. Hasil uji kelayakan usaha hidroponik di PT. Joy Farm
Pada produksi riil dengan harga jual Rp.8400/kg ....................... 48
Tabel 38. Hasil uji kelayakan usaha hidroponik di PT. Joy Farm
Pada produksi riil dengan harga jual Rp.16.800/kg .................... 50
Tabel 39. Hasil uji kelayakan usaha hidroponik di PT. Joy Farm
Pada produksi riil dengan harga jual Rp.14.200/kg .................... 50

vii

DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
Lampiran 1. Biaya tanaman kangkung (Rp/kg) (DF 16%) ....................... 61
Lampiran 2. Biaya tanaman bayam (Rp/kg) (DF 16%) ............................ 62
Lampiran 3. Cashflow sesuai target produksi dengan harga jual
Rp. 8400 / kg. ( DF 5%) ...................................................... 63
Lampiran 4. Cashflow sesuai target produksi dengan harga jual
Rp. 8400 / kg. ( DF 12%) .................................................... 64
Lampiran 5. Cashflow sesuai target produksi dengan harga jual
Rp. 8400 / kg. ( DF 16%) .................................................... 65
Lampiran 6. Cashflow sesuai produksi riil dengan harga jual
Rp. 8400 / kg. ( DF 5%) ...................................................... 66
Lampiran 7. Cashflow sesuai produksi riil dengan harga jual
Rp. 8400 / kg. ( DF 12%) .................................................... 67
Lampiran 8. Cashflow sesuai produksi riil dengan harga jual
Rp. 8400 / kg. ( DF 16%) ...................................... ........ .... 68
Lampiran 9. Cashflow sesuai produksi riil dengan harga jual
Rp. 16.800 / kg. ( DF 5%) ................................................... 69
Lampiran 10. Cashflow sesuai produksi riil dengan harga jual
Rp. 16.800 / kg. ( DF 12%) ................................................. 70
Lampiran 11. Cashflow sesuai produksi riil dengan harga jual
Rp. 16.800 / kg. ( DF 16%) ................................................. 71
Lampiran 12. Cashflow sesuai produksi riil dengan harga jual
Rp. 14.200 / kg. ( DF 5%) ................................................... 72
Lampiran 13. Cashflow sesuai produksi riil dengan harga jual
Rp. 14.200 / kg. ( DF 12%) ................................................. 73
Lampiran 14. Cashflow sesuai produksi riil dengan harga jual
Rp. 14.200 / kg. ( DF 16%) ................................................. 74
Lampiran 15. Gaji karyawan (Rp / Bulan) ............................................... 75
Lampiran 16. Metoda grafik pada pemecahan model optimasi................. 76

viii

I. PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Pertambahan penduduk yang pesat akan menuntut pemenuhan
kebutuhan pangan yang besar. Sementara itu, dengan perkembangan zaman,
telah terjadi perubahan fungsi lahan pertanian menjadi berbagai macam
kawasan pemukiman dan perindustrian sehingga luas lahan pertanian menjadi
berkurang. Dengan adanya permasalahan ini, maka manusia dituntut untuk
menemukan dan mengembangkan suatu teknologi tepat guna agar kegiatan
budidaya pertanian dapat tetap berjalan. Salah satu teknologi yang telah ada
dan dikembangkan adalah hidroponik.
Hidroponik merupakan budidaya tanaman tanpa menggunakan tanah
sebagai media tanamnya. Hidroponik berasal dari bahasa latin yang terdiri dari
kata hydro yang berarti air, dan kata ponos yang berarti kerja (Soeseno,1998).
Jadi definisi hidroponik adalah pengerjaan atau pengelolaan air yang
digunakan sebagai media tumbuh tanaman dan juga sebagai tempat akar
tanaman tanpa menggunakan tanah sebagai media tanamnya. Tanaman
memperoleh hara dari larutan garam mineral yang diberikan langsung ke akar
tanaman, sehingga tanaman lebih memfokuskan energinya untuk pertumbuhan
daripada mencari dan memperebutkan unsur hara. Dari segi prinsip dasarnya,
hidroponik merupakan suatu upaya merekayasa faktor-faktor lingkungan yang
berpengaruh bagi perkembangan dan pertumbuhan tanaman. Dengan
demikian, diharapkan ketergantungan tanaman terhadap alam dapat diperkecil
seminimal mungkin. Prinsip rekayasa faktor lingkungan bagi tanaman
memberikan kondisi dimana kegiatan budidaya hidroponik memiliki
kelebihan dibandingkan dengan budidaya secara konvensional. Beberapa
kelebihan dari teknologi hidroponik antara lain seperti kualitas tanaman yang
lebih seragam, nutrisi lebih efektif dan efisien, musim panen dapat diatur,
serta pekerjaan yang relatif bersih dan praktis.
Ada berbagai teknik hidroponik yang dapat diterapkan, salah satunya
adalah Nutrient Film Technique (NFT). NFT termasuk cara baru bercocok
tanam di Indonesia, meskipun sudah ada yang mencoba sejak 10 tahun lalu.
1

Teknik ini cocok sekali diterapkan di daerah berlahan sangat tidak subur.
Sistem ini juga bisa diterapkan di dataran tinggi maupun rendah dengan tujuan
akhir hasil panen berkualitas (Untung, 2000).
NFT merupakan metode budidaya yang akar tanamannya berada di
lapisan air dangkal tersirkulasi yang mengandung nutrisi sesuai kebutuhan
tanaman. Perakaran bisa jadi berkembang di dalam larutan nutrisi dan
sebagian lainnya di atas permukaan larutan. Aliran larutan sangat dangkal, jadi
bagian atas perakaran berkembang di atas air yang meskipun lembab tetap
berada di udara (Chadirin, 2006).
Dengan berkembangnya teknologi hidroponik ini diharapkan kegiatan
budidaya pertanian dapat tetap terus berjalan meskipun telah banyak
perubahan fungsi lahan.
PT. Joy Farm merupakan perusahaan yang relatif baru yang
merupakan mitra dari Parung Farm yang memproduksi bayam merah dan
kangkung menggunakan sistem hidroponik Nutrient Film Technique (NFT).
PT. Joy Farm memiliki lahan kebun seluas 2000 m2 yang terletak di Jl.
Menceng Kelurahan Bedahan Baru, Sawangan Baru - Depok. PT. Joy Farm
terletak pada 6o26 LS dan 106o46 BT dengan ketinggian 200 m dpl dan
topografi permukaan yang relatif datar. Kebun ini memiliki dua bangunan
greenhouse, yaitu greenhouse untuk nursery dan greenhouse untuk budidaya.
Greenhouse merupakan suatu bangunan yang memiliki struktur atap atau
dinding yang bersifat tembus cahaya, memungkinkan cahayanya yang
dibutuhkan tanaman bisa masuk ke dalam bangunan tetapi tanaman tetap
dapat terhindar dari kondisi lingkungan yang tidak menguntungkan seperti
curah hujan yang deras, tiupan angin yang kencang atau keadaan suhu yang
terlalu tinggi yang dapat menghambat pertumbuhan tanaman (Nelson dalam
Lieng, 1996). Sarana produksi lain yang dimiliki adalah jaringan sistem NFT,
serta tangki penampungan dan pembuatan nutrisi.
Jaringan sistem NFT yang diterapkan oleh PT. Joy Farm merupakan
modifikasi sistem NFT menggunakan asbes yang dilapisi terpal. Sedangkan
sistem NFT yang umum diterapkan di Indonesia adalah menggunakan talang
air.
2

Kinerja teknis sistem hidroponik merupakan faktor penting untuk


menentukan layak atau tidaknya sistem tersebut untuk diterapkan. Prastyo
(2004) melakukan evaluasi kelayakan jaringan NFT talang air berdasarkan
parameter seperti keseragaman inlet dan outlet, keseragaman kedalaman
larutan nutrisi, serta keseragaman bobot tanaman. Dari hasil penelitiannya
diperoleh nilai keseragaman yang mencapai 90%, sehingga sistem tersebut
layak untuk diterapkan. Evaluasi kelayakan teknis terhadap sistem NFT yang
diterapkan di PT. Joy Farm masih perlu dilaksanakan.
Kegiatan budidaya dengan menggunakan teknologi hidroponik
membutuhkan investasi yang besar dibanding dengan kegiatan budidaya
secara konvensional, sehingga harus memperhatikan besarnya modal yang
dimiliki serta kehati-hatian dalam mengalokasikan modal tersebut. Maka
penilaian terhadap kelayakan finansial serta optimasi pada usaha tani tersebut
juga perlu dilakukan agar usaha yang dijalani mendapatkan keuntungan yang
maksimum.

B. TUJUAN
Tujuan penelitian ini adalah :
1. Mengevaluasi kelayakan teknis sistem hidroponik NFT (Nutrient Film
Technique) dengan asbes lapis terpal yang diterapkan di PT. Joy Farm.
2. Melakukan analisis kelayakan finansial pada usaha budidaya bayam merah
dan kangkung dengan sistem hidroponik NFT (Nutrient Film Technique)
di PT. Joy Farm.
3. Melakukan optimasi usaha budidaya bayam merah dan kangkung
hidroponik NFT (Nutrient Film Technique) di PT. Joy Farm.

II. TINJAUAN PUSTAKA


A. BAYAM
Bayam merupakan salah satu spesies dari genus amaranthus yang
tumbuh di daerah beriklim tropis atau sedang. Tanaman bayam berasal dari
daratan Amerika. Sampai sekarang, tumbuhan ini sudah tersebar di daerah
tropis dan subtropis seluruh dunia. Di Indonesia, bayam dapat tumbuh
sepanjang tahun dan ditemukan pada ketinggian 5-2000 m dpl, tumbuh di
daerah panas dan dingin, tetapi tumbuh lebih subur di dataran rendah pada
lahan terbuka yang udaranya agak panas. Bayam menghendaki tanah yang
subur dan gembur. Derajat kemasaman (pH) yang diinginkan berkisar 6-7
(Aziz, 2002).
Tanaman bayam memiliki struktur tegak atau agak condong, tingginya
mencapai 0,4 - 1 m dan bercabang. Batang lemah dan berair, daun bertangkai,
berbentuk bulat telur, lemas, panjang 5-8 cm, ujung tumpul, pangkal runcing,
serta warnanya hijau, merah, atau hijau keputihan. Bunga dalam tungkal yang
rapat, bagian bawah duduk di ketiak, bagian atas berkumpul menjadi karangan
bunga di ujung tangkai dan ketiak bercabang, bunga berbentuk bulir.
Pada umumnya bayam dikonsumsi sebagai sayuran hijau. Salah satu
jenis bayam yang dapat dimakan adalah bayam cabut (Amaranthus tricolour,
L.). Spesies ini ada yang berdaun merah dan hijau (Burkill, 1975). Dalam
bayam merah atau Amaranthus tricolor Linn terdapat vitamin A, B1, B2, C
dan niacin. Juga terdapat mineral seperti zat besi, kalsium, mangan dan fosfor.
Seperti bahan sayuran yang lain, bayam merah juga mengandung banyak serat
dan di dalam daunnya terdapat karotenoid, klorofil saponin. Sementara pada
batangnya ditemui alkaloid, flavonoid dan polifenol.
Panen bayam dilakukan paling lama 25 hari setelah tanam karena
setelah itu kualitasnya menurun berupa daun yang kaku. Tanaman ini
diperbanyak dengan biji. Benih bayam sebaiknya disemaikan terlebih dahulu
selama 2 minggu sebelum pindah tanam. Waktu tanam yang baik adalah pada
akhir musim kemarau dan akhir musim hujan (Hadisoeganda, 1995).

B. KANGKUNG
Kangkung merupakan spesies dari genus ipoemea. Ada dua jenis
tanaman kangkung yang dikenal dan banyak dikonsumsi oleh masyarakat luas
yaitu kangkung air (Ipoemea aquatic Forsk) dan kangkung darat (Ipoemea
reptans Poir). Kangkung air mempunyai daun panjang dengan ujung agak
tumpul barwarna hijau kelam, bunganya berwarna putih kekuning-kuningan
atau kemerah-merahan dan biasa ditanam di pinggir kolam, di rawa-rawa, atau
tempat berlumpur. Kangkung darat mempunyai daun yang panjang dengan
ujung runcing, berwarna hijau keputihan dan bunganya berwarna putih dan
ditanam di tempat yang agak kering. Dalam tanaman kangkung terdapat
vitamin A, B, dan C serta bahan-bahan mineral terutama zat besi yang berguna
bagi pertumbuhan dan kesehatan.
Tanaman kangkung berasal dari daerah Asia dan terdapat luas di
India, Asia Tenggara, Taiwan, dan Cina yang kemudian menyebar ke Fiji,
Hawai dan Florida. Kangkung termasuk tanaman yang sanggup melakukan
adaptasi dengan baik pada kondisi lingkungan dengan kisaran yang luas.
Kangkung dapat hidup dengan baik dari ketinggian tempat di dataran medium
800 meter di atas permukaan laut hingga ke daerah tepi pantai. Tanaman
kangkung dapat tumbuh sepanjang tahun, baik pada dataran tinggi maupun
dataran rendah pada semua kondisi tanah. Kondisi tanah yang baik adalah
tanah yang banyak mengandung bahan organik dengan kandungan air yang
cukup. Derajat kemasaman (pH) yang diinginkan untuk tanaman kangkung
adalah 6.5. (Subhan et al dalam Pamungkas, 2004).
Panen kangkung dapat dilakukan pada umur 25-30 hari setelah tanam.
Panen dilakukan pada sore hari dengan ciri batang besar dan berdaun lebar.
Panen dapat dilakukan dengan menggunakan alat pemotong, atau dapat juga
dengan cara mencabut sampai akarnya. Kangkung yang sudah dipanen
dikumpulkan sebanyak 15 20 batang dalam satu ikatan, kemudian di simpan
pada wadah yang berisi air supaya kangkung tidak layu saat dipasarkan.

C. HIDROPONIK NFT (Nutrient Film Technique)


Pada tahun 1973, Cooper mengembangkan teknik hidroponik dengan
memakai air sebagai medium tanam yang diedarkan ke tanaman secara tipis,
supaya bagian atas dari akar masih berada di udara dan mendapat oksigen
yang cukup. Fungsi medium tanah antara lain sebagai penyedia unsur hara,
oksigen, air, dan sebagai tempat tegaknya tanaman. Pada teknik NFT, tanaman
dipelihara dalam saluran panjang yang sempit, terbuat dari plat logam tipis
tahan karat, yang mudah dibentuk. Jika tanaman dalam saluran tersebut dialiri
air yang mengandung unsur makanan secara dangkal, maka di sekitar akar
akan membentuk lapisan tipis (film) larutan mineral sebagai makanan
tanaman. Oleh karena itu, teknik bercocok tanamnya disebut dengan nutrient
film technique (Cooper dalam Maryam, 2004).
Nutrient Film Technique (NFT) adalah metode budidaya yang akar
tanamannya berada di lapisan air dangkal tersirkulasi yang mengandung
nutrisi sesuai kebutuhan tanaman. Beberapa syarat untuk membuat selapis
nutrisi antara lain : kemiringan talang tempat mengalirnya larutan nutrisi ke
bawah benar-benar seragam, kecepatan aliran nutrisi masuk tidak boleh terlalu
cepat dipertimbangkan dengan kemiringan talang, lebar talang memadai untuk
menghindari terbendungnya aliran nutrisi oleh kumpulan akar, dasar talang
harus rata dan tidak melengkung untuk mencapai kedalaman larutan nutrisi
yang disyaratkan (Chadirin, 2006).
Bahan untuk saluran disediakan dalam berbagai bentuk dan
penampang lintang oleh berbagai pabrik peralatan NFT. Di antaranya adalah
berpenampang segitiga. Bentuk tersebut dapat mencegah penguapan cairan
yang disalurkan. Saluran tersebut harus terbuat dari lembaran stainless steel
atau alumunium yang cukup tebal dasarnya, sehingga tidak akan bengkok atau
berlekuk (Cooper dalam Maryam, 2004).
Di luar negeri, para pekebun NFT menggunakan talang khusus NFT
sepanjang 1.8 m yang disusun selebar 18 m untuk areal tanam. Dengan talang
tersebut diharapkan tidak ada perbedaan yang mencolok dari setiap tanaman
pada penyerapan nutrisi, kondisi pH, dan oksigen. Desain tersebut sudah
dianggap paling effisien (Untung, 2000). Sedangkan di Indonesia belum ada
6

produsen yang membuat talang khusus NFT dengan ukuran tersebut. Para
pengguna NFT di Indonesia memanfaatkan talang air rumah tangga yang
lebarnya 13-17 cm dengan panjang 4 m yang disambung hingga mencapai
12 m. Talang air rumah tangga dipilih sebagai alternatif penerapan NFT
karena bagian dasarnya berbentuk segi empat. Hal ini berpengaruh terhadap
ketersediaan oksigen bagi tanaman. Bahan lain yang berbentuk bulat
sebaiknya tidak digunakan, karena bentuk ini akan memungkinkan air
menggenang di tengah sehingga terjadi de-oksigenasi (Untung, 2000).

D. ANALISIS KELAYAKAN TEKNIS NFT (Nutrient Film Technique)


Kinerja teknis sistem hidroponik merupakan faktor penting dalam
menentukan layak atau tidaknya sistem tersebut untuk diterapkan (Prastyo,
2004). Keseragaman irigasi/nutrisi yang diserap oleh tanaman merupakan
parameter yang harus diperhatikan dalam sistem budidaya secara hidroponik
dan nilainya harus sesuai dengan persyaratan tumbuh tanaman tersebut, karena
menentukan kualitas produksi tanaman yang dihasilkan. Selain itu
keseragaman irigasi/nutrisi juga menentukan tingkat efisiensi sistem budidaya
yang diterapkan, sehingga dapat diketahui baik atau tidaknya sistem
hidroponik tersebut untuk diterapkan ( Pamungkas, 2004).
Parameter umum yang digunakan untuk mengevaluasi keseragaman
penyebaran air adalah koefisien keseragaman irigasi (CU/coefficient of
uniformity) dengan rumus (Keller and Bleisner, 1990) :

Cu =

1-

{ XinXr- Xr } x 100% ... (1)

Dimana :
CU

= Koefisien keseragaman (%).

= Jumlah titik pengamatan.

Xi

= Pengukuran pada pengamatan ke i (i = 1,2,3,.....,n).

Xr

= Nilai rata-rata hasil pengamatan.

Keseragaman dari penyebaran air akan menentukan efisiensi distribusi


air. Jika nilai keseragaman penyebaran air rendah, maka efisiensi distribusi air
juga rendah. Hubungan antara nilai CU, persentase areal yang dibasahi dan
nilai efisiensi distribusi dapat dilihat pada Tabel 1 (Keller and Bleisner, 1990).

Tabel 1. Hubungan CU dengan efisiensi distribusi.


Area yang cukup terairi (%)
CU (%)

95

90

85

80

75

70

65

60

50

Efisiensi Distribusi (%)


94

88

90

92

94

95

96

97

98

100

92

83

87

90

92

93

95

96

97

100

90

79

84

87

89

92

93

95

97

100

88

75

81

84

87

90

92

94

96

100

86

71

77

82

85

88

91

93

96

100

84

67

74

79

83

86

89

92

95

100

82

63

71

77

81

85

88

91

94

100

80

59

68

74

79

83

87

90

94

100

78

55

65

71

77

81

86

89

93

100

76

50

61

69

75

80

84

88

92

100

74

46

58

66

73

78

83

87

92

100

72

42

55

64

70

76

82

86

91

100

70

38

52

61

68

75

80

85

90

100

68

34

49

58

66

73

79

85

90

100

66

30

45

56

64

71

78

84

89

100

56

29

43

54

63

71

79

86

100

Prastyo (2004) menunjukkan nilai koefisien keseragaman yang


mendekati 90% pada sistem NFT dengan menggunakan talang air (Tabel 2)
sehingga sistem hidroponik dapat diterapkan

Tabel 2. Kinerja Teknis sistem NFT (Prastyo, 2004)


kriteria evaluasi
Persentase
Kebocoran
(%)

Inlet (%)

CU
Outlet
(%)

CU
Kedalaman
aliran (%)

Bobot tanaman (%)

0.00

86.32

85.87

88.58

65.09

0.00

90.72

90.70

86.79

77.87

0.12

91.09

90.66

0.00

90.29

89.79

0.00

85.05

84.76

86.25

68.45

0.06

85.99

85.21

1.60

90.91

90.56

87.24

70.56

0.44

90.25

89.73

85.84

68.37

0.28

88.82

88.41

86.94

70.07

Bedeng

Rata-rata

CU

CU

Sedangkan penelitian Maryam pada tahun 2004 menunjukkan nilai


rata-rata keseragaman irigasi sebesar 78.26 %. Rendahnya nilai keseragaman
ini disebabkan karena faktor teknis yaitu lubang pada lateral tidak seragam dan
konstruksi pipa manifold tidak datar.

E. ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL


Dalam melakukan analisis kelayakan finansial dilakukan analisis
biaya pokok untuk mengetahui biaya yang diperlukan untuk menghasilkan
setiap unit produk. Biaya pokok dapat dihitung dengan persamaan sebagai
berikut :

Bp = [

BT
] + BTT
X
K

..................(2)

Keterangan :
Bp

= biaya pokok (Rp/unit produk)

BT

= biaya tetap (Rp/tahun)

BTT

= biaya tidak tetap (Rp / jam)

= Kapasitas produksi (unit produk/jam)

= jam kerja (jam/tahun)

Dalam perhitungan biaya pokok terdapat biaya penyusutan dan bunga


modal, penyusutan merupakan penurunan nilai dari suatu alat/mesin akibat
dari pertambahan umur pemakaian. Penyusutan dapat dihitung dengan
persamaan sebagai berikut :

D=

PS

................................................................................ (3)

L
Keterangan :
D = Biaya penyusutan tiap tahun (Rp/tahun).
P

= Harga awal (Rp).

= Harga akhir (Rp).

L = Perkiraan umur ekonomis (tahun).

Bunga modal merupakan bunga yang diterima apabila modal yang ada
disimpan di bank. Bunga modal dari investasi pada mesin pertanian
diperhitungkan sebagai biaya, karena uang yang dipergunakan untuk membeli
alat tidak bisa dipergunakan untuk usaha lain. Bunga modal dapat dihitung
dengan persamaan berikut :

I =

i P (N+1)

..............................................................................(4)

2N
Keterangan :
P = Harga awal (Rp).
i = Total tingkat bunga modal (i%/tahun).
I = Total bunga modal (Rp/tahun).
N = Umur ekonomis alat (tahun).

Selanjutnya dalam analisis finansial terdapat beberapa indikator yang


disebut kriteria investasi untuk mengukur kelayakan proyek. Kriteria investasi
tersebut yaitu : Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Net
B/C dan Gross B/C.

10

Net Present Value (NPV) merupakan perbedaan antara nilai sekarang


dari manfaat dan biaya. Dengan demikian, apabila NPV bernilai positif, dapat
diartikan sebagai besarnya keuntungan yang diperoleh dari proyek. Sebaliknya
NPV yang bernilai negatif menunujukan kerugian (Pramudya dan Dewi,
1992). Selisih antara manfaat dan biaya dapat dihitung dengan persamaan
sebagai berikut :

NPV =

(Bt-Ct)
(1+i)t

.........(5)

Dimana :
NPV

= Net Present Value

Bt

= manfaat tahun ke-t

Ct

= biaya tahun ke-t

= Tingkat suku bunga

= umur proyek

Dalam metode NPV terdapat tiga kriteria kelayakan investasi, yaitu :


1. NPV > 0, maka proyek dapat dilaksanakan atau proyek dapat dilaksanakan
dengan memperoleh keuntungan sebesar nilai NPV.
2. NPV < 0, maka proyek tidak dapat dilaksanakan dan dipertimbangkan
untuk mencari alternatif proyek lain yang mungkin lebih menguntungkan.
3. NPV = 0, maka proyek tidak untung dan tidak rugi, jadi tergantung kepada
penilaian subyektif pengambil keputusan.
Internal Rate of Return (IRR) merupakan tingkat suku bunga yang
menjadikan NPV suatu proyek sama dengan nol. IRR biasa dinyatakan dalam
persen (%). Dalam perhitungan nilai IRR dilakukan dengan cara mencobacoba (trial dan error). Suatu usaha yang layak dilaksanakan akan mempunyai
nilai yang lebih besar dari tingkat bunga komersial yang berlaku. Apabila nilai
IRR lebih kecil dari tingkat suku bunga yang berlaku maka usaha tidak layak
untuk dilaksanakan. Persamaan yang digunakan dalam menghitung IRR
adalah sebagai berikut :

11

NPV

IRR = i +

(i-i) ..(6)

( NPV-NPV)
Dimana :
IRR

= Internal Rate of Return

= Tingkat suku bunga pendugaan pertama.

= Tingkat suku bunga pendugaa kedua

NPV

= Nilai NPV pada tingkat suku bunga i

NPV

= Nilai NPV pada tingkat suku bunga i

Nilai Net B/C menunjukkan besarnya tingkat tambahan manfaat pada


setiap tambahan biaya sebesar 1 rupiah. Net B/C merupakan angka
perbandingan antara jumlah NPV positif sebagai pembilang dengan jumlah
NPV negatif sebagai penyebut. Net B/C dapat dihitung dengan rumus sebagai
berikut :

Net B/C =

+ NPVB-C

............(7)

- NPVB-C
Pengambilan keputusan dapat dilakukan berdasarkan kriteria, bahwa
jika nilai B/C 1 maka usaha layak secara finansial tetapi jika B/C < 1 maka
usaha tidak layak secara finansial.
Nilai Gross B/C merupakan perbandingan antara NPV Manfaat dan
NPV biaya sepanjang umur proyek. Dalam bentuk persamaan dinyatakan
sebagai berikut :

Gross B/C =

t=1

Bt
(1+i)t

n
Ct

t
t = 1 (1+i)

.(8)

12

F. PROGRAM LINIER
Program linear adalah salah satu teknik dari riset operasi untuk
memecahkan persoalan optimasi (maksimisasi atau minimisasi) dengan
menggunakan persamaan atau pertidaksamaan linier dalam rangka untuk
mencari pemecahan yang optimum dengan memperhatikan pembatasanpembatasan yang ada (Soekartiwi, 1996).
Masalah

optimasi

bertujuan

untuk

memaksimumkan

atau

meminimumkan sebuah besaran tertentu yang disebut tujuan (objektif), yang


bergantung pada sejumlah peubah masukan.
Model program linier memiliki dua macam fungsi, yaitu fungsi tujuan
dan fungsi kendala. Fungsi tujuan merupakan suatu tujuan yang akan dicapai
dalam optimasi, sedangkan fungsi kendala merupakan masalah keterbatasan
sumberdaya yang harus dipecahkan untuk mencapai suatu hasil yang optimal.
Agar suatu persoalan dapat dipecahkan dengan teknik program linier,
maka persoalan tersebut harus dapat dipecahkan secara matematis, jelas fungsi
tujuan yang linier yang harus dibuat optimum, serta pembatasan-pembatasan
dinyatakan dalam ketidaksamaan linier.
Setelah variabel keputusan, fungsi tujuan, dan fungsi kendala
ditentukan maka suatu permasalahan tersebut dapat diringkas menjadi suatu
persamaan matematik. Solusi dari model matematik yang dihasilkan akan
memberikan berapa jumlah sumberdaya yang optimal untuk memaksimumkan
keuntungan atau meminimumkan biaya ( Mulyono, 1991).

1. Bentuk umum model Program Linear


Pada setiap masalah, ditentukan variabel keputusan, fungsi tujuan,
dan fungsi kendala yang bersama-sama membentuk suatu model
matematik dari dunia nyata. Bentuk umum program linear adalah sebagai
berikut (Mulyono, 1991) :

13

Maksimumkan atau minimumkan :


a. Fungsi tujuan

: Z = c1x1 + c2x2 + .+ cnxn.

b. Fungsi kendala

: a11x1 + a12x1++ an1x b1 (=;)


a21x2 + a22x2+ + an1x b2 (=;)
+ ..+ +
an1x+ an2x + + anmx bm (=;)

c. Asumsi

: x1, x2, , xn 0

Keterangan :
Xn

= Banyaknya kegiatan ke-n, dimana n = 1, 2, .., m. Berarti di sini


terdapat m variabel keputusan.

= nilai fungsi tujuan.

Cn

= sumbangan per unit kegiatan n terhadap tujuan, untuk masalah


maksimisasi cn menunjukan keuntungan atau penerimaan per
unit, sementara untuk masalah minimisasi ini menunjukan biaya
per unit.
= jumlah sumberdaya ke i (i = 1, 2, ., m). Berarti terdapat m

bm

jenis sumberdaya.
anm

= banyaknya sumberdaya n yang diperlukan untuk menghasilkan


satu unit barang ke m.

2. Asumsi Model Program Linear


Model Program Linear mengandung asumsi-asumsi implisit
tertentu yang harus dipenuhi agar definisinya sebagai suatu masalah LP
menjadi absah. Asumsi-asumsi dasar yang digunakan dalam program
linier adalah (Mulyono, 1991) :
a. Linearity
Syarat utama dari LP adalah bahwa fungsi tujuan dan semua
kendala harus linear. Dengan kata lain jika suatu kendala melibatkan
dua variabel keputusan, dalam diagram dimensi dua akan berupa suatu
garis lurus.

14

b. Additivity
Nilai tujuan kegiatan tidak saling mempengaruhi. Asumsi ini
berarti bahwa nilai tujuan kegiatan tidak saling mempengaruhi atau
dianggap bahwa kenaikan dari tujuan yang diakibatkan oleh kenaikan
suatu kegiatan dapat ditambahkan tanpa mempengaruhi bagian nilai
tujuan yang diperoleh dari kegiatan lain.

c. Divisibility
Asumsi ini berarti bahwa nilai solusi yang diperoleh tidak
harus berupa bilangan bulat. Keluaran yang dihasilkan oleh setiap
kegiatan dapat berupa bilangan pecahan. Karena itu variabel keputusan
merupakan variabel kontinyu sebagai lawan dari variabel diskrit atau
bilangan bulat.
d. Deterministik
LP berarti secara tak langsung mengansumsikan suatu masalah
keputusan dalam suatu kerangka statis di mana semua parameter
diketahui dengan kepastian.

3. Penyelesaian Model LP
Masalah LP dapat diilustrasikan dan dipecahkan secara grafik jika
hanya memiliki dua variabel keputusan. Suatu cara sederhana untuk
menggambarkan

masing-masing

persamaan

garis

adalah

dengan

menetapkan salah satu variabel dalam suatu persamaan dengan nol dan
kemudian mencari nilai variabel yang lain.
Penyelesaian model LP dengan menggunakan metode simplek
harus diubah terlebih dahulu ke dalam bentuk umum yang dinamakan
bentuk baku. Ciri-ciri bentuk baku model LP adalah semua kendala berupa
persamaan dengan sisi kanan non negatif, semua variabel non negatif, dan
fungsi tujuan dapat maksimum maupun minimum (Mulyono, 1991).

15

4. Penelitian terdahulu
Model LP telah banyak digunakan pada penelitian-penelitian yang
bertujuan untuk melakukan optimasi produksi, termasuk produksi
pertanian.
Sutarya (2003), meneliti tentang optimasi produksi dan distribusi
sayuran di PD. Pacet Segar, Cianjur, Jawa Barat. Penelitian ini
menekankan terhadap bagaimana perusahaan mampu bersaing di pasar
bisnis sayuran dengan mengetahui kombinasi optimal sayuran yang
diproduksi di PD. Pacet Segar. Pendekatan yang digunakan oleh penulis
adalah dengan linear programming, dengan bantuan perangkat lunak
lindo. Hasil analisis menunjukkan bahwa distribusi sayuran buah, daun,
umbi, bunga, tunas, dan sayuran unggulan ke beberapa swalayan tertentu
belum optimal.
Sondang (2004), meneliti tentang optimasi produksi anggrek yang
dilaksanakan di Parung Farm. Peneliti menggunakan pendekatan linear
programming dengan perangkat lunak (software) Lindo. Fungsi tujuan
yang ditetapkan bertujuan untuk mengetahui tingkat produksi dan
kombinasi yang optimal sehingga memberikan pendapatan yang maksimal
dari kegiatan pengadaan tanaman anggrek di Parung Farm.
Agus Suwito (2007), melakukan penelitian tentang optimasi
produksi komoditi sayuran di PT Saung Mirwan. Pendekatan yang
dilakukan adalah dengan linear programming dengan bantuan perangkat
lunak QM.2.0 for Windows. Fungsi tujuan yang dilakukan adalah untuk
mengetahui tingkat produksi dan kombinasi yang optimal sehingga
memberikan pendapatan yang maksimal.

16

III. METODOLOGI PENELITIAN

A. WAKTU DAN TEMPAT


Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Mei sampai bulan Juli 2008 di
PT. Joy Farm, Jl. Menceng Kelurahan Bedahan Baru, Sawangan Baru, DepokJawa Barat. Pengolahan data dilakukan di Bagian Sistem dan Manajemen
Mekanisasi Pertanian, Departemen Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi
Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

B. PENGUMPULAN DATA
Data-data yang diperlukan dalam penelitian ini meliputi data primer
dan data sekunder. Data primer adalah data yang diambil dari hasil
wawancara, diskusi, pengamatan dan pengukuran di lapangan. Sedangkan data
sekunder meliputi arsip dan literatur perusahaan.
Untuk melakukan evaluasi kelayakan teknis, maka data yang
diperlukan berasal dari pengukuran yang meliputi keseragaman pH,
keseragaman EC, keseragaman kedalaman aliran, keseragaman inlet dan outlet
serta keseragaman bobot tanaman. Alat dan bahan yang digunakan untuk
pengukuran-pengukuran tersebut adalah :
1. EC meter.
2. pH meter.
3. Jaringan irigasi NFT.
4. Larutan nutrisi dan bak nutrisi.
5. Timbangan.
6. Pita ukur dan penggaris.
7. Gelas ukur.
8. Stopwatch.
9. Perlengkapan kerja seperti alat tulis, kalkulator, dan komputer.
Pengukuran tersebut dilakukan pada bed yang terletak di posisi tengah
dan ujung seperti pada Gambar 1. Pengukuran dilakukan setiap 3 harian yang
dilakukan selama periode pertumbuhan tanaman.

17

2
Pompa

Bak
Nutrisi

4
3

Gambar 1. Skema jaringan NFT PT. Joy Farm.


Ket :
1. Bed produksi yang terbuat dari lembaran asbes.
2. Pipa inlet.
3. Pipa ke bak nutrisi.
4. Arah aliran nutrisi.

Untuk melakukan analisis kelayakan finansial, maka data yang


diperlukan adalah data produksi dan jenis biaya. Data produksi meliputi
jumlah peralatan, kapasitas peralatan, jumlah tenaga kerja, jumlah bahan baku
yang digunakan. Jenis biaya yang dikumpulkan antara lain biaya peralatan,
biaya bahan baku.
Untuk melakukan optimasi produksi maka data yang diperlukan
adalah data keuntungan penjualan masing-masing produk, biaya dan jumlah
yang tersedia untuk masing-masing sumber daya.

C. ANALISIS DATA
Analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini meliputi evaluasi
kelayakan teknis, kelayakan finansial, dan optimasi produksi.

1. Evaluasi kelayakan teknis


Untuk melakukan evaluasi kelayakan teknis pada teknik
hidroponik yang diterapkan dilakukan perhitungan keseragaman irigasi

18

dengan menghitung nilai variasi dari nilai konduktifitas listrik larutan (EC)
dan pH larutan nutrisi pada masing-masing inlet dan outletnya, variasi
nilai debit inlet dan outletnya, variasi kedalaman aliran, serta variasi bobot
tanaman yang dihasilkan yang dihitung dengan menggunakan persamaan
(1).

2. Analisis kelayakan finansial


Analisis kelayakan finansial yang dilakukan meliputi analisis
biaya pokok, analisis Net Present Value ( NPV), analisis Benefit-Cost ratio
(BC ratio) dan analisis Internal Rate of Return (IRR).
a. Analisis Biaya Pokok
Dalam analisis ini, biaya pokok tersebut diarahkan untuk
perhitungan biaya yang dikeluarkan dalam usaha budidaya bayam
merah dan kangkung dalam satuan Rp/kg. Dalam perhitungan biaya
pokok ini terdapat komponen biaya tetap dan tidak tetap. Biaya pokok
dapat dihitung menggunakan persamaan (2). Dalam perhitungan biaya
pokok dihitung pula penyusutan dengan persamaan (3) dan bunga
modal dengan persamaan (4).

b. Net Present Value ( NPV)


Apabila NPV bernilai positif dapat diartikan juga sebagai
besarnya keuntungan yang diperoleh dari suatu usaha. Sebaliknya jika
NPV bernilai negatif menunjukan kerugian atau usaha dikatakan tidak
layak. Selisih manfaat dan biaya dihitung menggunakan persamaan
(5).

c. Tingkat Pengembalian (Internal Rate of Return)


Perhitungan yang dilakukan untuk memperoleh nilai IRR
menggunakan persamaan (6).

19

d. Rasio manfaat dan biaya (Benefit Cost Ratio)


Rasio manfaat dan biaya merupakan perbandingan antara nilai
sekarang (present value) dari benefit yang positif dengan nilai
sekarang (present value) dari benefit yang negatif. Perhitungan rasio
manfaat dan biaya menggunakan persamaan (7) dan (8).

3. Optimasi produksi
Optimasi produksi budidaya bayam merah dan kangkung dengan
sistem hidroponik NFT dilakukan dengan menerapkan pemrograman
linear sebagai pemecahan masalah. Langkah-langkah yang dilakukan
adalah sebagai berikut :
a. Mempelajari latar belakang faktor-faktor perilaku dari parameter yang
mempengaruhi sehingga mempermudah dalam pendefinisian masalah.
b. Mendefinisikan

masalah

sebenarnya

sehingga

mendukung

terbentuknya suatu tujuan yang jelas.


c. Mempelajari sifat-sifat faktor produksi yang mempengaruhi sistem
produksi dan parameter-parameter yang dapat diukur atau dihitung
sehingga mempermudah pengambilan data primer.

Fungsi tujuan maksimum keuntungan


PT. Joy Farm memproduksi dua jenis sayuran yaitu bayam merah
dan kangkung. Keuntungan dari masing-masing sayuran dihitung dengan
cara mencari selisih antara harga jual dan biaya produksi. Yang dimaksud
biaya produksi di sini adalah biaya pokok untuk memproduksi bayam
merah dan kangkung.
X1 = Bayam merah
X2 = Kangkung

20

Fungsi tujuan maksimisasi keuntungan adalah sebagai berikut :


Maksimumkan Z = C1X1 + C2X2
Dimana :
Z

= Keuntungan hasil produksi (Rp/bulan).

= Keuntungan masing-masing sayuran (Rp/bedeng).

= Jumlah produksi masing-masing sayuran (bedeng/bulan).

Fungsi pembatas anggaran biaya untuk pembelian nutrisi dan bibit


n1X1 + n2X2 N
Dimana :
n

= Biaya pemakaian nutrisi dan bibit untuk masing-masing sayuran


(Rp/bedeng). Nilai ini dihitung berdasarkan ketersediaan modal
untuk pembelian nutrisi dan bibit.

= Anggaran biaya untuk nutrisi dan bibit (Rp/bulan).

= Jumlah produksi masing-masing sayuran (bedeng/bulan).

Fungsi pembatas anggaran biaya untuk biaya listrik pemakaian pompa air
p1X1 + p2X2 P
Dimana :
p

=Biaya pemakaian listrik pompa air untuk masing- masing sayuran


(Rp/bedeng). Nilai ini dihitung berdasarkan lama pemakaian
pompa air dan daya yang digunakan oleh pompa tersebut

= Anggaran biaya listrik pompa secara keseluruhan (Rp/bulan).

= Jumlah produksi masing-masing sayuran (bedeng/bulan).

Fungsi pembatas greenhouse


X1 + X2 G
Dimana
G

= Kapasitas greenhouse (bedeng)

21

Fungsi pembatas biaya tenaga kerja.


t1X1 + t2X2 T
Dimana
t

= biaya tenaga kerja masing-masing sayuran


(Rp/bedeng)

= jumlah keseluruhan biaya tenaga kerja (Rp/bulan).

= Jumlah produksi masing-masing sayuran (bedeng/bulan).


Optimasi produksi ini dilakukan untuk mencari jumlah tanaman

yang harus diproduksi per bulan untuk mencapai keuntungan maksimum.

22

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. EVALUASI KELAYAKAN TEKNIS


Parameter yang digunakan untuk melakukan evaluasi kelayakan teknis
antara lain adalah keseragaman debit aliran, keseragaman konduktivitas listrik
(EC), keseragaman derajat keasaman (pH), keseragaman kedalaman aliran, serta
keseragaman bobot tanaman. Nilai keseragaman dapat dihitung dengan besarnya
nilai koefisien keseragaman irigasi (CU/Coefficient Uniformity).

1. Keseragaman Debit Aliran


Pengukuran debit aliran pada sistem hidroponik NFT yang diterapkan
di PT. Joy Farm terdiri dari debit inlet dan outlet pada masing-masing
tanaman. CU inlet dan outlet setiap bed, dihitung dengan menggunakan data
hasil pengukuran debit pada masing-masing bed kemudian dihitung dengan
persamaan (1).
Tabel 3 dan Tabel 4 menunjukkan hasil pengukuran debit inlet pada
bed-bed tanaman kangkung dan bayam merah.

Tabel 3. Data pengukuran debit inlet pada jaringan NFT kangkung.


Debit inlet tiap bed (ml/detik)
Pengukuran 3 hari keBed

Titik

1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4

4.75
4.79
5.43
2.70
6.15
6.66
6.06
5.74
5.98
5.33
5.33
5.39
5.42
5.43
5.41
5.73

5.98
3.85
4.67
5.14
6.06
6.69
5.98
6.04
5.48
5.39
5.84
5.62
5.14
5.32
4.76
5.55

5.33
4.96
5.05
5.05
6.01
5.96
6.17
6.68
5.50
4.75
4.65
5.36
5.13
5.30
5.29
5.29

6.39
7.03
7.31
6.64
7.03
6.97
6.82
6.35
5.35
5.13
4.85
5.09
4.31
4.46
3.80
4.61

4.69
4.60
5.42
4.74
7.38
7.85
7.56
7.66
8.39
7.55
9.39
8.53
12.11
12.13
11.94
11.98

23

Tabel 4. Data pengukuran debit inlet pada jaringan NFT bayam merah.

Bed
1

Debit inlet tiap bed (ml/detik)


Pengukuran 3 hari ke-

Titik
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4

3.74
3.52
4.46
5.42
4.12
4.13
5.96
5.73
9.37
7.96
6.02
8.62
9.84
10.96
11.11
11.17

4.24
3.71
5.02
5.69
4.44
5.44
6.36
6.20
9.16
7.54
7.00
8.72
7.25
9.41
8.20
8.63

4.71
5.41
6.28
7.04
4.00
5.38
4.08
6.22
8.81
7.14
6.46
7.84
7.34
8.54
9.56
11.70

4.09
4.21
5.49
5.67
3.47
4.40
4.86
5.26
7.38
6.18
5.61
6.49
6.16
6.22
7.36
10.00

4.63
4.51
6.17
6.72
4.72
5.59
6.30
6.42
9.64
6.23
7.70
9.94
11.19
10.01
11.17
13.38

2.92
4.10
5.40
5.71
4.62
5.76
6.21
6.62
8.34
7.77
7.09
8.90
9.95
9.19
10.23
12.60

4.32
4.31
5.61
6.05
3.76
5.16
5.97
6.19
7.96
7.33
6.98
6.87
9.29
10.59
9.75
11.36

Dari Tabel 3 dan Tabel 4 dapat dilihat bahwa hasil pengukuran debit
inlet pada jaringan NFT kangkung dan bayam merah berkisar antara
2 ml/detik 13 ml/detik. Besar kecilnya nilai debit ini dipengaruhi oleh
kondisi jaringan NFT itu sendiri. Kebersihan pada pipa aliran nutrisi dan
besarnya lubang inlet merupakan hal penting yang dapat mempengaruhi
debit aliran. Keseragaman debit inlet pada jaringan NFT kangkung dapat
dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5. Nilai CU debit inlet pada jaringan NFT kangkung.


Keseragaman debit inlet tiap bed (%)
Bed

Pengukuran 3 hari ke-

Rata-rata

Standar Deviasi

80.51

86.74

97.70

95.20

94.31

90.89

7.10

95.90

95.97

96.21

96.73

98.12

96.59

0.91

95.74

97.38

92.82

97.34

94.15

95.49

2.00

97.88

95.27

98.84

94.22

99.35

97.11

2.25

Berdasarkan hasil perhitungan seperti yang disajikan pada Tabel 5,


nilai koefisien keseragaman berkisar antara 80 % 99 %. Dari data tersebut
dapat dilihat bahwa bed yang memiliki nilai keseragaman rata-rata tertinggi
24

adalah bed 4, dan yang terendah adalah bed 1. Namun jika dilihat
berdasarkan nilai Standar Deviasinya maka bed 2 memiliki nilai
keseragaman yang baik dari hari ke harinya. Sistem NFT yang diterapkan
oleh PT. Joy Farm adalah closing loop, maka seharusnya besarnya air yang
dialirkan adalah sama. Besar dan kecilnya nilai keseragaman tersebut
disebabkan karena kondisi lubang inlet yang berbeda pada tiap bed. Pada bed
4 aliran air terlihat lebih baik dibandingkan pada bed 1. Hal ini dapat
disebabkan oleh diameter dan posisi lubang inlet dari bed tersebut.
Keseragaman debit inlet pada jaringan NFT bayam merah dapat dilihat pada
Tabel 6.

Tabel 6. Nilai CU debit inlet pada jaringan NFT bayam merah.


Keseragaman debit inlet tiap bed (%)
Bed

Pengukuran 3 hari ke-

Rata-rata

Standar
Deviasi

84.70

85.23

86.33

85.27

83.00

77.47

84.55

83.79

2.96

82.72

88.05

82.10

87.57

89.55

89.38

84.66

86.29

3.10

87.50

89.72

89.93

91.89

83.14

92.58

95.03

89.97

3.85

95.69

92.25

85.52

82.74

91.50

89.95

92.91

90.08

4.49

Jika kita melihat kondisi pada jaringan NFT bayam merah seperti
yang disajikan pada Tabel 6, nilai koefisien keseragaman berkisar antara
77 % - 95 %. Nilai keseragaman rata-rata tertinggi adalah bed 4 dan yang
terendah adalah bed 1. Jika dilihat dari nilai Standar Deviasinya maka bed 1
memiliki nilai keseragaman yang baik dari hari ke harinya, namun besarnya
nilai keseragaman tersebut masih rendah dibandingkan bed lainnya. Dari
Tabel 6 tersebut diketahui bahwa terdapat beberapa bed yang nilai koefisien
keseragamannya di bawah 90 %. Hal ini juga disebabkan karena kondisi
lubang inlet yang tidak seragam sehingga menyebabkan ketidakseragaman
aliran inlet. Lubang inlet pada jaringan NFT yang diterapkan oleh PT. Joy
Farm dibuat secara manual dengan menggunakan paku yang dipanaskan.
Diameter lubang inlet yang dihasilkanpun tidak sepenuhnya seragam. Hal ini
disebabkan pada saat melubangi pipa dengan paku yang panas terdapat
beberapa lubang yang meleleh melebihi diameter yang diinginkan. Jika
dilihat dari posisi lubang yang dibuat, juga terdapat beberapa lubang yang
25

tidak seragam sehingga menyebabkan aliran yang dihasilkanpun tidak


seragam seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2. Selain itu banyaknya
kotoran dan lumut di dalam pipa juga dapat menyebabkan lubang inlet
tersumbat sehingga dapat memperkecil volume aliran dan akhirnya
menyebabkan ketidakseragaman pada aliran inletnya.

Gambar 2. Aliran air pada inlet bed.

Untuk nilai debit outlet pada bed-bed tanaman kangkung dan bayam
merah dapat dilihat pada Tabel 7 dan Tabel 8.

Tabel 7. Data pengukuran debit outlet pada jaringan NFT kangkung.


Debit outlet tiap bed (ml/detik)
Pengukuran 3 hari keBed

Titik

1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4

4.78
4.81
5.54
2.69
5.86
6.23
4.89
5.79
6.32
5.65
5.62
5.54
5.42
5.48
5.41
5.77

6.13
4.11
4.69
5.52
5.95
6.97
6.02
5.93
6.37
5.05
5.28
5.28
4.74
5.07
4.05
4.87

5.14
4.92
5.35
5.32
5.84
4.00
6.23
6.77
5.61
4.69
4.29
5.40
4.96
5.45
3.62
5.44

6.37
7.14
7.43
6.66
7.18
7.00
7.00
6.41
5.37
5.20
4.84
5.11
4.06
4.36
3.81
4.42

4.70
4.37
4.90
3.87
7.20
7.61
7.60
7.00
8.71
7.37
9.92
9.12
12.99
12.98
12.86
13.06

26

Tabel 8. Data pengukuran debit outlet pada jaringan NFT bayam merah.
Debit outlet tiap bed (ml/detik)
Pengukuran 3 hari keBed

Titik

1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4

3.77
3.57
4.64
5.44
3.88
3.37
5.34
5.50
9.38
7.93
6.04
7.85
10.35
10.75
10.67
9.49

4.40
3.73
5.27
5.80
4.31
5.38
6.37
6.18
9.17
7.57
7.02
8.76
7.82
9.38
8.76
9.16

4.46
5.30
6.30
7.20
4.18
5.11
3.83
5.70
8.36
7.17
6.41
7.80
7.47
8.56
9.74
11.50

4.09
4.21
5.61
5.68
3.47
4.41
4.81
5.25
7.31
6.23
5.54
6.32
6.52
5.43
8.47
10.46

4.44
4.64
6.08
7.13
4.77
5.61
6.36
6.49
9.27
6.20
7.58
9.24
10.22
9.60
10.41
12.40

2.98
4.92
5.15
6.21
4.74
5.78
6.01
6.47
7.91
7.50
7.06
8.94
10.23
9.30
10.92
12.52

4.43
4.61
5.46
6.06
3.78
4.98
5.77
6.06
8.02
7.34
6.97
6.46
8.80
10.47
9.51
10.37

Dari Tabel 7 dan Tabel 8 dapat dilihat besarnya debit outlet berkisar
antara 2 ml/detik 13 ml/detik untuk jaringan NFT kangkung dan
2 ml/detik 12 ml/detik untuk jaringan NFT bayam merah. Besarnya debit
aliran pada outlet bervariasi baik pada jaringan NFT kangkung maupun pada
jaringan NFT bayam merah. Hal ini disebabkan karena pertumbuhan akar
tanaman yang berada di sepanjang jalur aliran nutrisi. Keseragaman debit
outlet pada jaringan NFT kangkung dapat dilihat pada Tabel 9.

Tabel 9. Nilai CU debit outlet pada jaringan NFT kangkung.


Keseragaman debit outlet tiap bed (%)
Bed

Pengukuran 3 hari ke-

Rata-rata

Standar Deviasi

80.14

86.06

97.09

94.45

92.36

90.02

6.86

92.97

93.91

85.03

96.48

96.59

93.00

4.72

95.37

98.13

89.86

96.95

91.58

94.38

3.53

97.73

93.26

87.15

94.53

99.58

94.45

4.79

Nilai koefisien keseragaman outlet pada jaringan NFT kangkung


berkisar antara 80 % - 99 % seperti yang disajikan pada Tabel 9. Terdapat
beberapa bed yang memiliki nilai koefisien keseragaman di bawah 90%.
27

Nilai keseragaman rata-rata tertinggi adalah bed 4 dan yang terendah adalah
bed 1. Hal ini mengikuti pada inletnya, di mana keseragaman lubang inlet
akan mempengaruhi aliran inletnya dan akhirnya juga akan mempengaruhi
aliran outletnya. Selain itu pertumbuhan akar tanaman juga akan
mempengaruhi aliran outletnya. Keseragaman debit outlet pada jaringan NFT
bayam merah dapat dilihat pada Tabel 10.

Tabel 10. Nilai CU debit outlet pada jaringan NFT bayam merah.
Keseragaman debit outlet tiap bed (%)
Bed

Pengukuran 3 hari ke-

Rata-rata

Standar
Deviasi

84.23

84.68

83.94

84.72

81.43

80.92

87.96

83.98

2.34

80.16

87.14

85.16

87.85

89.38

91.23

85.05

86.57

3.58

88.75

89.71

91.35

92.43

85.30

92.69

93.31

90.50

2.82

95.99

94.42

86.05

77.42

91.82

90.90

93.56

90.02

6.40

Dari Tabel 10 dapat dilihat bahwa nilai koefisien keseragaman outlet


pada jaringan NFT bayam merah berkisar antara 77 % - 95 %. Jika dilihat
dari rata-rata keseragamannya, nilai tertinggi adalah bed 3 dan yang terendah
adalah bed 1. Seperti yang terjadi pada jaringan NFT kangkung, bahwa nilai
koefisien keseragaman pada outlet ini tidak jauh berbeda dengan inletnya
karena debit aliran pada inlet akan mempengaruhi debit pada outletnya.
Jika kita bandingkan antara kedua jaringan NFT tersebut maka dapat
dilihat bahwa nilai keseragaman aliran pada jaringan NFT kangkung lebih
baik daripada jaringan NFT bayam merah. Hal ini disebabkan karena kondisi
lubang inlet pada jaringan NFT kangkung lebih baik dibandingkan dengan
jaringan NFT bayam merah, baik dari segi keseragaman diameter lubang,
posisi lubang dan kebersihannya. Dilihat dari nilai keseragamannya, kedua
jaringan NFT tersebut sudah baik, namun perlu dilakukan pemeriksaan
secara rutin agar debit yang dihasilkan besarnya tetap.
Secara keseluruhan, dibandingkan dengan analisis keseragaman
aliran pada hidroponik NFT dengan talang air, nilai keseragaman debit aliran
pada jaringan NFT asbes lapis terpal lebih tinggi. Hal ini disebabkan karena
jarak lubang inlet pada jaringan NFT yang menggunakan asbes lebih rapat
dibandingkan jaringan NFT yang menggunakan talang air. Selain itu kondisi
28

kebersihan aliran pipa pada inlet NFT asbes lebih baik dari NFT talang air
sehingga diperoleh nilai keseragaman yang lebih tinggi.

2. Keseragaman Konduktifitas listrik (EC)


Dalam larutan, kation akan mencari kutub negatif anoda, sedangkan
anion akan mencari kutub positif katoda. Penghantaran listrik ini disebut
dengan konduktifitas atau biasa disebut elektro konduktifitas (EC, electro
conductivity). Pengukuran EC dilakukan dengan menggunakan EC-meter
seperti pada Gambar 3. Pengukuran keseragaman EC dilakukan untuk
menentukan tingkat keseragaman daya serap tanaman terhadap ion-ion yang
terkandung dalam larutan nutrisi.

Gambar 3. Alat pengukur EC, pH, dan konsentrasi larutan.


Tabel 11 menyajikan data hasil pengukuran EC pada inlet dan outlet
jaringan NFT kangkung. Dari tabel tersebut dapat dilihat besarnya EC pada
inlet dan outlet jaringan NFT kangkung berkisar antara 2 mS/cm 3.5
mS/cm, sedangkan standar nilai EC yang diterapkan oleh PT. Joy Farm
untuk tanaman kangkung adalah 3 mS/cm 3.5 mS/cm. Dalam hal ini
penggunaan nilai EC harus lebih diperhatikan agar nilai EC masih berada
pada batas yang diharapkan.

29

Tabel 11. Data pengukuran EC pada jaringan NFT kangkung.

Jam

08.00
09.00
10.00
11.00
12.00
13.00
14.00
15.00
16.00

1
Inlet
2.76
2.80
3.18
3.23
3.26
3.34
3.37
3.41
3.44

Outlet
2.79
2.80
3.18
3.25
3.26
3.36
3.37
3.44
3.45

Inlet
2.60
3.45
3.40
3.44
3.53
3.60
3.63
3.62
3.16

Pengukuran EC (mS/cm)
Pengukuran 3 hari ke2
3
4
Outlet Inlet Outlet Inlet Outlet
2.63
2.87 2.90
2.44 2.45
3.51
2.88 2.94
2.45 2.46
3.45
3.50 3.55
3.39 3.42
3.50
3.36 3.42
3.44 3.44
3.60
3.44 3.44
3.47 3.48
3.63
3.43 3.49
3.49 3.55
3.63
3.51 3.52
3.56 3.60
3.62
3.50 3.56
3.59 3.61
3.16
2.24 2.25
3.49 3.50

5
Inlet
3.41
3.45
3.46
3.44
3.51
3.53
3.55
3.50
3.19

Outlet
3.41
3.45
3.45
3.44
3.52
3.53
3.55
3.51
3.19

Dari Tabel 11 dapat dilihat bahwa nilai EC pada setiap jam


pengukuran meningkat. Hal ini disebabkan karena tingginya suhu di dalam
greenhouse yang dapat mempengaruhi nilai EC. Penurunan nilai EC dapat
dilakukan dengan cara menambahkan air pada bak nutrisi. Nilai keseragaman
EC pada jaringan NFT kangkung dapat dilihat pada Tabel 12.
Tabel 12. Nilai CU EC pada jaringan NFT kangkung.
Keseragaman EC (%)
Titik

Pengukuran 3 hari ke-

Rata-rata

Standar Deviasi

Inlet

94.01

93.39

88.96

88.87

97.99

92.66

3.84

Outlet

94.02

93.23

89.02

88.83

98.02

92.02

3.70

Dari Tabel 12 tersebut diketahui bahwa nilai keseragaman EC pada


jarigan NFT kangkung berkisar antara 88% - 98%. Nilai keseragaman ini
tidak berbeda antara inlet dan outletnya.
Pertumbuhan tanaman sangat dipengaruhi oleh nilai konduktivitas
listrik larutan nutrisi. Penggunaan nutrisi sebaiknya mengikuti standar yang
ada agar nilai EC sesuai dengan kebutuhan tanaman, sehingga penyerapan
unsur hara dapat dilakukan dengan baik oleh tanaman. Setiap tanaman
memiliki kebutuhan nilai EC yang berbeda. Kita dapat menggunakan nilai
EC seperti pada Tabel 13.

30

Tabel 13. Nilai EC Sayuran.


Jenis Sayuran
Brokoli
Kacang-kacangan
Tomat
Bawang merah
Mentimun
Labu
Bayam

(mS/cm)
3.0 3.5
2.0 2.4
2.0 5.0
2.0 3.0
1.0 2.5
1.7 2.6
1.4 1.8

Sumber : Colcheedas dalam Untung, 2000

Untuk melihat besarnya nilai EC pada jaringan NFT bayam merah,


data hasil pengukuran terhadap EC pada jaringan NFT bayam merah
disajikan pada Tabel 14 dan Tabel 15.

Tabel 14. Data pengukuran EC pada inlet jaringanNFT bayam merah.


Jam
08.00
09.00
10.00
11.00
12.00
13.00
14.00
15.00
16.00

1
2.03
2.01
2.80
2.72
2.81
2.81
2.90
2.89
2.79

2
2.90
2.90
3.00
3.10
3.11
3.24
3.31
3.40
3.36

Pengukuran EC inlet (mS/cm)


Pengukuran 3 hari ke3
4
5
2.20
2.69
2.32
2.20
2.69
2.30
2.99
2.69
2.30
2.99
2.69
2.70
3.00
2.74
2.99
3.00
2.79
3.00
3.00
2.81
3.00
2.98
2.89
3.00
2.93
2.90
3.00

6
1.5
1.5
1.6
1.6
2.9
3.1
3.1
3.1
3.1

7
2.83
2.30
2.10
2.10
2.10
2.10
2.20
2.10
2.10

Tabel 15. Data pengukuran EC pada outlet jaringan NFT bayam merah.
Jam
08.00
09.00
10.00
11.00
12.00
13.00
14.00
15.00
16.00

1
2.03
2.04
2.92
2.80
2.84
2.90
2.90
2.89
2.79

2
2.90
2.96
3.02
3.15
3.19
3.29
3.34
3.40
3.38

Pengukuran EC outlet (mS/cm)


Pengukuran 3 hari ke3
4
5
2.21
2.70
2.30
2.20
2.70
2.30
2.99
2.70
2.30
2.99
2.70
2.70
3.00
2.73
3.00
3.00
2.83
3.00
3.00
2.83
3.00
2.99
2.90
3.00
2.94
2.90
3.00

6
1.50
1.51
1.60
1.59
2.90
3.10
3.11
3.10
3.11

7
2.86
2.30
2.10
2.10
2.10
2.10
2.20
2.10
2.10

31

Dari Tabel 14 dan Tabel 15, dapat dilihat bahwa penggunaan nutrisi
yang dilakukan oleh PT. Joy Farm lebih besar dari standar yang ada. Standar
yang dilakukan oleh PT. Joy Farm dalam menggunakan nutrisi adalah
2 mS/cm - 3 mS/cm, sedangkan standar yang ada untuk EC bayam adalah
1.4 mS/cm - 1.8 mS/cm (Tabel 13).
Untuk dapat mengetahui gambaran mengenai nilai EC yang diperoleh
selama pengukuran, kita bisa melihatnya pada grafik yang disajikan pada
Gambar 4 dan Gambar 5.

Ket :

: Kebutuhan EC ( PT. Joy Farm)

Gambar 4. Grafik fluktuasi nilai EC pada nutrisi kangkung.

Ket :

: Kebutuhan EC (PT. Joy Farm)

Gambar 5. Grafik fluktuasi nilai EC pada nutrisi bayam merah.

32

Gambar 4 menunjukkan fluktuasi nilai EC larutan nutrisi pada


jaringan NFT kangkung dalam sehari pengukuran yang dilakukan dari jam
08.00 sampai 16.00 WIB. Berdasarkan grafik tersebut nilai EC berkisar
antara 2.76 mS/cm 3.45 mS/cm. Nilai EC berada di luar batas kebutuhan
nilai EC terjadi pada pagi hari, yaitu pada pukul 08.00 dan 09.00, dimana
pada pagi hari tersebut belum dilakukan penambahan nutrisi sehingga nilai
EC masih rendah.
Gambar 5 menunjukkan fluktuasi nilai EC larutan nutrisi pada
jaringan NFT bayam merah. Nilai EC pada nutrisi bayam merah sudah
berada

dalam

area

kebutuhan

nilai

EC,

yaitu

berkisar

antara

2 mS/cm 3 mS/cm. Nilai keseragamannya dapat dilihat pada Tabel 16.

Tabel 16. Nilai CU EC pada jaringan NFT bayam merah.


Keseragaman EC (%)
Titik

Pengukuran 3 hari ke-

Rata-rata

Standar
Deviasi

Inlet

89.54

94.91

90.36

97.40

89.27

68.79

92.95

89.03

9.42

Outlet

89.26

95.14

90.35

97.22

89.16

68.78

92.72

88.95

9.39

Dari Tabel 16 dapat diketahui bahwa nilai koefisien keseragaman EC


pada bed bayam berkisar antara 68 % - 97 %. Dari Kedua jaringan NFT, baik
kangkung dan bayam merah masih terdapat nilai keseragaman yang berada di
bawah 90 %, hal ini disebabkan karena adanya penambahan air dan larutan
nutrisi pada saat irigasi berlangsung sehingga nilai EC berubah. Menjaga
nilai EC agar tetap pada nilai yang sesuai kebutuhan tanaman sangat penting
dilakukan, namun pada kenyataannya pengontrolan pada nilai EC masih
perlu diperhatikan.

3. Keseragaman Derajat Keasaman (pH)


Derajat keasaman atau pH merupakan logaritma negatif pangkat
sepuluh dari grammol H+/liter. Batas terendah dari pH ini adalah angka 0,
sedangkan batas tertinggi adalah angka 14. Pengukuran pH dilakukan dengan
menggunakan pH-meter elektronik seperti pada Gambar 3.

33

Pada umumnya derajat keasaman suatu larutan pupuk berada pada


kisaran pH 5.5 6.5 atau bersifat asam. Pada kisaran tersebut daya larut
unsur-unsur hara makro dan mikro sangat baik. Bila pH berada di bawah
kisaran tersebut, maka daya larut unsur hara tidak sempurna lagi. Bahkan
unsur hara mengendap sehingga tidak dapat diserap oleh akar tanaman.
( Sutiyoso, 2004).
Pada Tabel 17 dapat dilihat nilai pH hasil pengukuran di PT. Joy
Farm berkisar 5 - 7 bahkan masih ada yang melebihi batas, hal ini akan
mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Dari hasil pengukuran tersebut nilai
keseragaman pH disajikan pada Tabel 18.

Tabel 17. Data pengukuran pH kangkung.


Jam
08.00
09.00
10.00
11.00
12.00
13.00
14.00
15.00
16.00

Pengukuran pH
Pengukuran 3 hari ke2
3
Inlet
Outlet
Inlet
Outlet
6.43
6.43
6.81
6.84
6.85
6.88
7.04
7.08
7.01
7.04
7.22
7.22
7.21
7.20
7.23
7.23
7.03
7.06
7.21
7.20
6.81
6.82
7.05
7.09
7.01
7.03
7.06
7.09
7.05
7.06
7.02
7.06
7.21
7.21
7.02
7.04

1
Inlet
6.53
7.03
7.03
6.91
6.80
6.26
6.03
6.03
6.01

Outlet
6.58
7.04
7.06
6.91
6.80
6.26
6.04
6.06
6.02

4
Inlet
5.90
6.03
6.41
6.79
7.02
6.79
6.23
6.42
6.78

5
Outlet
5.96
6.04
6.44
6.80
7.07
6.83
6.24
6.45
6.79

Inlet
6.22
6.19
6.03
6.01
5.84
6.02
6.06
5.64
6.01

Outlet
6.23
6.20
6.04
6.03
5.83
6.02
6.06
5.65
6.04

Tabel 18. CU pH pada jaringan NFT kangkung.


Keseragaman pH (%)
Titik

Pengukuran 3 hari ke-

Rata-rata

Standar Deviasi

Inlet

94.08

97.49

98.62

95.07

98.06

96.67

1.99

Outlet

94.10

97.51

98.85

95.12

98.01

96.72

2.24

Dari Tabel 18 dapat dilihat bahwa nilai keseragaman pH pada


jaringan NFT kangkung berkisar antara 94% - 98%. Nilai rata-rata
keseragamannya tidak jauh berbeda antara inlet dan outletnya, yaitu berkisar
96%. Semakin tinggi nilai keseragaman keasaman larutan maka daya larut
unsur-unsur haranya relatif baik pada seluruh tanaman sehingga mudah
diserap akar tanaman, namun harus tetap memperhatikan besarnya pH yang
digunakan agar tanaman dapat tumbuh optimal.
34

Pada Tabel 19 dan Tabel 20 dapat dilihat data pengukuran pH bayam.


Nilai yang di dapat juga masih ada yang melebihi batasnya sehingga akan
mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Nilai keseragaman pH pada bayam
merah disajikan pada Tabel 21.

Tabel 19. Data pengukuran pH inlet bayam


Pengukuran pH inlet bayam
Pengukuran 3 hari ke3
4
5
6.19
6.83
6.22
7.04
7.38
6.41
7.23
7.40
6.58
7.38
7.29
6.38
7.39
7.39
6.83
7.21
7.30
6.80
7.23
7.03
6.88
7.22
7.00
7.03
7.39
6.83
7.01

Jam
1
7.04
6.79
6.43
6.03
6.03
6.23
6.22
6.24
6.84

8.00
9.00
10.00
11.00
12.00
13.00
14.00
15.00
16.00

2
6.83
7.02
7.38
7.08
7.01
6.82
7.08
7.01
7.18

6
6.02
7.22
6.88
6.89
6.58
6.59
6.59
6.83
7.03

7
6.72
6.80
6.89
7.38
7.20
7.28
7.43
7.40
7.28

6
6.04
7.21
6.89
6.89
6.58
6.59
6.59
6.83
7.03

7
6.71
6.80
6.89
7.39
7.20
7.30
7.43
7.39
7.30

Tabel 20. Data pengukuran pH outlet bayam.


Pengukuran pH outlet bayam
Pengukuran 3 hari ke3
4
5
6.19
6.83
6.21
7.04
7.40
6.41
7.21
7.40
6.59
7.40
7.30
6.40
7.40
7.40
6.81
7.21
7.30
6.81
7.22
7.04
6.89
7.22
7.01
7.02
7.39
6.81
7.01

Jam
1
7.04
6.81
6.46
6.03
6.03
6.23
6.23
6.23
6.84

8.00
9.00
10.00
11.00
12.00
13.00
14.00
15.00
16.00

2
6.81
7.04
7.39
7.10
7.01
6.81
7.08
7.03
7.21

Tabel 21. CU pH pada jaringan NFT bayam merah.


Keseragaman pH (%)
Titik

Pengukuran 3 hari ke-

Rata-rata

Standar
Deviasi

Inlet

94.97

98.08

96.65

96.83

96.31

96.22

96.71

96.54

0.92

Outlet

95.14

98.04

96.89

97.01

96.31

96.25

96.71

96.62

0.88

35

Pada bayam merah seperti yang terlihat pada Tabel 21, diketahui
bahwa nilai keseragaman pH berkisar antara 94% - 98%, dengan nilai ratarata 96%. Hal ini juga menandakan bahwa daya larut unsur-unsur hara relatif
seragam pada seluruh tanaman namun besarnya nilai pH harus tetap
diperhatikan agar tanaman dapat tumbuh optimal.

4. Keseragaman kedalaman aliran


Kedalaman aliran pada media NFT merupakan tempat akar tanaman
untuk menyerap unsur hara yang berada dalam larutan. Kedalaman aliran ini
merupakan salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam merancang
sistem hidroponik NFT.
Kedalaman aliran larutan yang diharapkan adalah 3 - 4 mm.
Ketentuan ini diambil dengan pertimbangan bahwa kandungan oksigen
larutan yang terbawah yang terdapat di kolam sedalam 1 meter hanya sekitar
1 ppm. Semakin ke atas atau berdekatan dengan udara, maka semakin tinggi
konsentrasi oksigen terlarutnya (Sutiyoso, 2004).
Pengukuran yang dilakukan pada penelitian ini hanya dapat dilakukan
pada inlet dan outletnya saja, karena permukaan bed yang berada di bagian
tengah tertutup oleh sterofoam seperti pada Gambar 6 sehingga tidak dapat
dilakukan pengukuran pada bagian tengah permukaan bed.

Gambar 6. Sterofoam pada permukaan bed.


Pengukuran kedalaman aliran pada bagian tengah bed hanya dapat
dilakukan pada saat sterilisasi bed (pencucian) seperti terlihat pada
Gambar 7.

36

Gambar 7. Kondisi bed saat sterilisasi.

Dari Gambar 7 di atas dapat dilihat bahwa lipatan-lipatan pada terpal


akan menyebabkan kedalaman aliran nutrisi tidak merata sepanjang jalurnya.
Untuk dapat mengetahui gambaran mengenai kedalaman aliran nutrisi pada
bed, Tabel 22, 23, 24, dan 25 menyajikan data pengukuran kedalaman inlet
dan outletnya pada masing-masing jaringan NFT.

Tabel 22. Data kedalaman aliran inlet kangkung.


Bed

Titik

1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4

1
3.00
2.67
4.67
1.67
2.33
5.00
3.00
2.00
3.33
4.00
3.00
3.33
2.33
2.33
2.00
2.33

Pengukuran kedalaman aliran inlet (mm)


Pengukuran 3 hari ke2
3
4
3.33
3.33
3.67
2.33
3.00
3.67
4.67
4.67
5.67
2.00
2.00
3.33
2.33
2.00
3.00
5.00
4.33
4.67
3.00
3.33
3.33
2.33
2.00
2.00
3.33
3.00
3.00
4.00
3.67
4.00
3.33
2.33
2.33
3.67
3.33
3.00
2.33
2.33
2.33
2.33
2.33
2.00
2.00
2.33
2.33
2.33
2.00
2.00

5
2.67
3.00
4.67
2.00
3.33
5.67
3.67
2.67
3.67
4.67
4.33
4.33
3.67
3.67
4.33
4.00

37

Tabel 23. Data kedalaman aliran outlet kangkung.


Bed
1

Titik
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4

1
4.00
5.00
6.33
3.33
6.67
4.33
3.33
4.67
4.67
5.00
4.33
5.00
6.00
6.00
5.33
5.67

Pengukuran kedalaman aliran outlet (mm)


Pengukuran 3 hari ke2
3
4
4.67
3.67
5.00
4.67
5.33
6.33
5.67
6.00
6.67
5.00
4.67
5.67
6.67
6.67
7.00
5.00
3.33
5.00
4.33
4.00
4.67
4.67
4.67
5.00
4.00
4.00
4.00
4.67
4.33
5.00
4.33
3.67
3.67
4.67
5.00
4.67
5.67
6.00
5.33
6.00
5.67
5.00
4.67
4.00
4.67
6.33
6.33
4.67

5
3.67
5.00
6.00
3.67
7.00
5.00
5.00
5.33
5.67
6.33
6.67
7.00
6.33
7.00
6.67
6.67

Tabel 24. Data kedalaman aliran inlet bayam


Bed

Titik

1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4

1
3.00
3.33
2.33
3.33
3.33
4.00
4.33
3.67
3.67
4.00
3.33
3.67
4.00
4.33
4.67
4.00

Pengukuran kedalaman aliran inlet (mm)


Pengukuran 3 hari ke2
3
4
5
6
3.33
3.33
3.00
3.33
2.33
3.00
3.67
3.33
3.67
3.00
2.33
3.00
2.67
3.00
2.33
3.33
4.00
3.00
3.67
3.33
3.33
3.00
2.67
3.33
3.33
4.33
4.33
4.00
4.67
5.00
4.33
3.00
3.00
4.33
3.67
4.00
4.00
3.67
4.00
4.33
3.67
3.33
3.00
4.00
3.33
4.00
3.67
3.33
3.00
4.00
3.33
3.00
3.00
3.67
3.00
4.00
3.33
3.00
4.33
4.00
3.33
3.00
2.67
4.67
4.00
3.33
3.33
2.33
4.00
3.33
4.00
4.00
3.33
4.67
4.33
3.00
3.67
3.67
4.67
4.33

7
3.00
3.33
2.67
3.33
2.67
4.33
4.33
4.00
3.00
3.67
3.33
3.00
3.67
4.00
3.67
4.00

38

Tabel 25. Data kedalaman aliran outlet bayam


Bed

Titik

1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4

1
3.33
4.67
5.00
3.33
3.67
4.67
5.00
5.67
5.67
5.00
4.00
5.67
5.67
6.67
6.00
4.67

Pengukuran kedalaman aliran outlet (mm)


Pengukuran 3 hari ke2
3
4
5
6
3.33
3.33
3.67
3.67
2.33
5.00
5.33
5.00
5.33
5.67
5.00
5.67
5.33
5.33
5.00
3.33
4.00
3.33
4.00
3.33
4.00
4.00
3.33
4.67
4.67
6.33
6.33
5.67
7.00
6.67
5.67
4.00
4.33
5.67
5.67
6.33
6.00
5.67
6.67
6.67
5.67
5.00
4.67
5.67
5.00
4.67
4.33
4.00
3.67
4.67
4.33
4.00
3.67
5.00
4.67
6.00
5.67
4.67
6.33
6.67
4.33
4.00
3.67
5.67
5.67
6.00
5.33
3.33
6.00
5.67
4.67
5.00
4.67
6.00
6.00
4.67
5.67
5.00
5.67
6.00

7
3.33
5.33
5.67
3.00
3.67
6.33
5.00
6.00
4.67
5.00
4.67
5.00
5.00
6.67
5.00
5.00

Dari data hasil pengukuran seperti yang disajikan pada Tabel 22, 23,
24, dan 25, didapatkan kedalaman aliran pada outlet lebih besar dari inletnya
dan besarnya nilai debit berkisar antara 3 mm - 6 mm. Hal ini disebabkan
karena adanya lipatan terpal yang tidak teratur dan aliran air yang terbendung
oleh perakaran sehingga permukaan air menjadi naik. Nilai keseragaman
kedalaman aliran inlet dan outlet untuk masing-masing jaringan NFT dapat
dilihat pada Tabel 26, 27, 28, dan 29.

Tabel 26. CU kedalaman aliran pada inlet NFT kangkung.


Keseragaman kedalaman aliran pada inlet (%)

Bed

Pengukuran 3 hari ke-

Rata-rata

Standar Deviasi

72.22

70.27

76.92

80.61

74.32

74.87

4.05

68.92

71.05

68.57

76.92

76.09

72.31

3.96

91.46

93.02

86.49

85.14

93.14

89.85

3.77

94.44

94.44

94.44

92.31

93.62

93.85

0.93

Rata-rata

82.72

3.18

39

Tabel 27. CU kedalaman aliran pada outlet NFT kangkung.


Keseragaman kedalaman aliran pada outlet (%)

Bed

Pengukuran 3 hari ke-

Rata-rata

Standar Deviasi

78.57

93.33

84.75

90.14

80.00

85.36

6.35

79.82

85.48

78.57

85.38

87.31

83.32

3.86

94.74

94.34

90.20

88.46

93.51

92.25

2.77

95.65

91.18

86.36

94.92

97.50

93.12

4.42

Rata-rata

88.51

4.35

Tabel 28. CU kedalaman aliran pada inlet NFT bayam.


Keseragaman kedalaman aliran pada inlet (%)
Bed
Pengukuran 3 hari ke-

Rata-rata

Standar
Deviasi

88.89

88.89

90.48

94.44

92.68

84.85

91.89

90.30

3.14

91.30

91.67

83.72

85.00

89.80

85.71

84.78

87.43

3.37

95.45

93.33

95.00

95.95

88.89

88.37

92.31

92.76

3.09

94.12

91.46

90.48

83.33

94.44

91.67

95.65

91.59

4.09

Rata-rata

90.52

3.42

Rata-rata

Standar
Deviasi

Tabel 29. CU kedalaman aliran pada outlet NFT bayam


Keseragaman kedalaman aliran pada outlet (%)
Bed
Pengukuran 3 hari ke1

81.63

80.00

80.00

80.77

83.64

69.39

73.08

78.36

5.13

87.72

85.82

78.69

80.70

86.11

87.32

82.54

84.13

3.51

88.52

87.10

87.72

90.20

83.87

86.51

96.55

88.64

3.99

89.86

88.98

90.00

84.00

97.14

97.14

88.46

90.80

4.78

Rata-rata

85.48

4.35

Berdasarkan Tabel 26, 27, 28, dan 29, dapat diketahui bahwa rata-rata
nilai koefisien keseragaman pada masing-masing jaringan NFT adalah
sebesar 82.72% untuk inlet NFT kangkung, 88.51% untuk outlet NFT
kangkung, 90.52% untuk inlet NFT bayam, dan 85.48% untuk outlet pada
NFT bayam.
Dari nilai yang diperoleh tersebut menunjukan bahwa koefisien
keseragaman untuk kedalaman aliran masih kurang baik. Ada beberapa
faktor yang menyebabkan nilai keseragaman ini bervariasi, di antaranya
adalah tersumbatnya lubang inlet oleh kotoran dan lumut sehingga dapat
mempengaruhi debit aliran dan juga kedalaman aliran. Selain itu kemiringan

40

dan permukaan bed yang tidak rata akibat lipatan terpal juga akan
menyebabkan kedalaman aliran nutrisi bervariasi.

5. Keseragaman bobot tanaman


Usaha budidaya sistem hidroponik pada dasarnya bertujuan untuk
mencapai hasil yang tinggi baik kualitas dan produksi. Keseragaman pada
bobot tanaman merupakan salah satu parameter untuk mengevaluasi secara
teknis dari sistem yang diterapkan. Produksi tanaman dapat dilihat dari bobot
tanaman yang dihasilkan dan keseragaman bobotnya.
Bobot tanaman yang didapat dari hasil pengukuran bervariasi baik
pada tanaman kangkung maupun bayam merah. Rata-rata bobot masing
masing tanaman per bed adalah 17.4 kg untuk kangkung dan 17.6 kg untuk
bayam merah. Rata-rata bobot/lubang pada masing-masing tanaman adalah
17.38 gram/lubang untuk kangkung dan 17.58 gram/lubang untuk bayam
merah.
Keseragaman

bobot

tanaman

dalam

penelitian

ini

dihitung

berdasarkan variasi bobot pada tiap meter perseginya. Nilai yang diperoleh
sangat bervariasi. Keseragaman bobot tanaman tiap meter persegi pada
masing-masing tanaman disajikan dalam Tabel 30 di bawah ini.

Tabel 30. CU bobot tanaman kangkung dan bayam.


Bed

Keseragaman bobot tanaman (%)


Kangkung

Bayam merah

73.24

73.24

71.94

67.94

75.78

79.95

67.94

73.24

Rata-rata

72.22

73.59

Nilai keseragaman bobot yang diperoleh dari kedua tanaman tersebut


berkisar antara 67 % - 80 %. Hal ini menandakan bahwa nilai keseragaman
kedua tanaman tersebut masih kurang baik. Kurang baiknya keseragaman
tersebut disebabkan karena perbedaan masing-masing tanaman dalam
menyerap unsur hara. Selain itu kondisi permukaan aliran yang tidak

41

seragam karena lipatan terpal juga mempengaruhi daya serap tanaman


terhadap unsur hara. Lipatan terpal menyebabkan kedalaman aliran
bervariasi sehingga banyak akar tanaman yang terlipat yang mempengaruhi
penyerapan unsur hara, dan pada akhirnya akan berpengaruh pada
pertumbuhan tanaman. Banyaknya tanaman yang ditanam dalam satu lubang
juga menyebabkan perolehan unsur hara pada masing-masing tanaman
menjadi kurang baik sehingga pertumbuhan tanaman juga kurang baik.

6. Kinerja Teknis Sistem Hidroponik NFT


Evaluasi kelayakan sistem hidroponik yang dilakukan berdasarkan
beberapa

parameter

konduktivitas

yaitu

listrik,

keseragaman

keseragaman

debit

derajat

aliran,

keseragaman

keasaman,

keseragaman

kedalaman aliran, dan keseragaman bobot tanaman, menghasilkan nilai


keseragaman yang bervariasi. Untuk mengetahui gambaran mengenai nilai
keseragaman tersebut, maka dapat dilihat rekapitulasi nilai keseragaman
yang disajikan pada Tabel 31 dan 32 berikut.

Tabel 31. Rekapitulasi nilai keseragaman pada jaringan NFT kangkung.


Kriteria evaluasi
Bed

CU
Debit aliran

CU
EC
Inlet

CU
pH

Outlet

Inlet

Outlet

90.89

90.02

74.87

85.36

73.24

96.59

92.99

72.31

83.32

71.94

95.49

94.38

89.85

92.25

75.78

4
Rata-rata

97.11

94.45

93.85

93.12

67.94

95.02

92.96

82.72

88.51

72.23

96.67

Outlet

CU
Bobot

Inlet

92.62

Inlet

CU
Kedalaman aliran

92.66

Outlet

Rata-rata

96.72

90.01

Tabel 32. Rekapitulasi nilai keseragaman pada jaringan NFT bayam merah.
Bed

1
2
3
4
Rata-rata

CU
Debit aliran
Inlet
83.79
86.29
89.97
90.08
87.53

Outlet
83.98
86.57
90.50
90.02
87.77

Kriteria evaluasi
CU
pH

CU
EC
Inlet

89.03

Outlet

88.95

Inlet

96.54

Outlet

96.62

Rata-rata
CU
kedalaman aliran
Inlet
90.30
87.43
92.76
91.59
90.52

Outlet
78.36
84.13
88.64
90.80
85.48

CU
Bobot
73.24
67.94
79.95
73.24
73.59

88.45

42

Berdasarkan hasil tersebut maka secara umum sistem hidroponik


dapat diterapkan, karena nilai koefisien keseragamannya mendekati 90%.
Namun secara khusus nilai koefisien keseragaman masih kurang baik pada
kedalaman aliran dan bobot tanaman, hal ini disebabkan karena terdapatnya
lipatan pada terpal pelapis bed sehingga permukaan bed menjadi tidak rata.
Untuk memperbaiki nilai keseragaman pada jaringan hidroponik ini maka
dibutuhkan ketelitian dan perawatan yang rutin.

B. KELAYAKAN FINANSIAL
Dalam melakukan kegiatan usaha, faktor finansial menjadi hal yang
sangat penting untuk diperhatikan karena akan menentukan layak atau tidaknya
suatu usaha untuk dilanjutkan.
PT. Joy Farm merupakan perusahaan yang bergerak di bidang pertanian
yang memproduksi sayuran hidroponik. Sayuran utama yang diproduksinya
adalah bayam merah dan kangkung yang dipasarkan melalui mitra kerjanya yaitu
Parung Farm. Hasil produksi PT. Joy Farm dapat dilihat pada Tabel 33.

Tabel 33. Data produksi sayuran di PT. Joy Farm tahun 2008.
Bulan
Januari
Febuari
Maret
April
Mei
Juni
Juli
Agustus
September
Oktober
November
Desember
Total

Kangkung (kg)
783,8
584,1
824,25
764,73
669,25
694,26
662,43
538,4
396,45
329,2
258,52
286,2
6.791,59

Bayam (kg)
259,65
358,20
83,70
501,39
436,75
300,15
256,50
450,15
588,41
319,68
396,80
358,30
4.309,68

Total (kg)
1.043,45
942,30
907,95
1.266
1.106
994,41
918,93
988,55
984,86
648,88
655,32
644,50
11.101,27

Dari Tabel 33 di atas diketahui bahwa produksi sayuran di PT. Joy Farm
dalam satu tahun mencapai 11.101,27 kg sehingga jika dirata-ratakan produksi
per bulannya adalah 925 kg. Produksi yang dihasilkan berfluktuasi, hal ini

43

disebabkan karena beberapa hal seperti lingkungan greenhouse yang masih


memungkinkan datangnya hama melalui ventilasi yang tidak tertutup, serta
perubahan cuaca yang dapat menimbulkan penyakit pada tanaman. Selain itu
besarnya bibit yang belum memadai untuk dipindahkan ke bed produksi akan
menyebabkan kekurangan bibit pada bed produksi, sehingga bed produksi tidak
terisi dengan penuh.
Setiap harinya PT. Joy Farm merencanakan panen sebanyak empat bed
(dua bed untuk kangkung dan dua bed untuk bayam merah, dengan ukuran bed
11 m2). Jika dianalisis berdasarkan umur panen tanaman, yaitu 22 hari untuk
bayam merah dan 15 hari untuk kangkung, maka seharusnya total bed yang
dibutuhkan oleh PT. Joy Farm adalah 74 bed, sedangkan bed yang ada hanya 64
bed. Hal ini dapat mengakibatkan rolling tanaman menjadi tidak teratur,
sehingga memaksakan untuk memanen tanaman sebelum waktunya dan pada
akhirnya akan menyebabkan hasil produksi yang tidak stabil.
Hasil yang ingin dicapai oleh PT. Joy Farm 17 kg/bed. Harga jual
produk adalah Rp 8.400/kg yang merupakan haga jual kontrak lama dengan
pihak mitra. Apabila hasil tersebut konstan, maka dalam satu bulan panen akan
dihasilkan 2.040 kg dengan total penjualan Rp 17.136.000. Hasil tersebut
merupakan target yang harus dicapai oleh PT. Joy Farm.
Mengingat besarnya investasi yang diperlukan dalam melakukan usaha
ini, untuk itu perlu dilakukan analisis kelayakan finansial untuk mengetahui
layak atau tidaknya usaha yang dijalankan. Dalam melakukan analisis kelayakan
finansial ini, dilakukan beberapa asumsi dan pendekatan, di antaranya adalah :
1. Harga yang digunakan adalah harga yang berlaku pada saat penelitian.
2. Produktifitas tanaman adalah rata-rata dalam satu tahun.
3. Lahan produksi dan investasi adalah milik sendiri.
4. Biaya-biaya yang dikeluarkan selama proyek berjalan dianggap tetap, baik
biaya produksi maupun biaya tetap lainnya.
5. Harga jual kedua komoditi adalah Rp 8.400/kg.
6. Umur proyek merupakan jangka waktu hidup dari proyek yang ditentukan
oleh nilai ekonomis dari investasi yang ditanamkan dalam proyek tersebut.
Umur ekonomis pengusahaan hidroponik ini sesuai dengan umur ekonomis

44

greenhouse, karena greenhouse merupakan sarana utama untuk melakukan


produksi.
7. Besarnya harga akhir 10% dari harga awal.
8. Berdasarkan asumsi nomor 3, tingkat suku bunga yang digunakan adalah 5%
yang merupakan tingkat suku bunga tabungan di BRI pada tahun 2008.
Sebagai pembanding, digunakan pula tingkat suku bunga 12% yang
merupakan tingkat suku bunga pertanian negara berkembang (Gittinger,
1986), dan tingkat suku bunga 16% yang merupakan tingkat suku bunga
pinjaman di BRI pada tahun 2008.
9. Selama proyek berjalan diasumsikan tidak ada kenaikan tingkat upah tenaga
kerja regional.

Pada usaha budidaya tanaman secara hidroponik ini, terdapat biaya


investasi dan juga operasional. Biaya investasi merupakan biaya yang
dikeluarkan sebelum tanaman menghasilkan, seperti biaya bangunan dan alatalat pertanian hidroponik (Tabel 34). Sedangkan biaya operasional adalah biaya
yang dikeluarkan selama kegiatan usahatani berjalan, seperti biaya pembelian
benih, nutrisi, tenaga kerja, perawatan, keamanan, bensin dan listrik (Tabel 35).

Tabel 34. Biaya Investasi usahatani pada tahun ke-0


No

Uraian

Biaya Investasi (Rp)

Umur ekonomis (tahun)

Greenhouse

47.348.000

Sistem hidroponik

61.530.200

Listrik dan genset

10

Kantor dan gudang

7.250.000
5.000.000

Alat bantu pertanian

7.252.000

Kendaraan

91.400.000

10

Total

10

219.780.200

45

Tabel 35. Biaya operasional usahatani hidroponik NFT dalam satu tahun.
No

Uraian

Biaya Operasional
Rp/Tahun

Benih bayam

2.100.000

Benih kangkung

10.800.000

Nutrisi

24.336.000

Gaji karyawan

33.240.000

Listrik

8.400.000

Keamanan

7.200.000

Perawatan

2.400.000

Bensin
Total

9.000.000
97.476.000

Berdasarkan Tabel 34 di atas dapat dilihat bahwa total biaya investasi


yang dikeluarkan untuk usaha hidroponik mencapai Rp 219.780.200 dan pada
Tabel 35, dapat dilihat besarnya biaya operasional yang dikeluarkan selama satu
tahun mencapai Rp 97.476.000.
Data investasi dan biaya operasional tersebut digunakan untuk
menghitung biaya pokok produksi kangkung dan bayam. Hasilnya seperti
diuraikan pada Lampiran 1 dan Lampiran 2, diperoleh biaya pokok untuk
tanaman kangkung adalah Rp 10.982/kg dan tanaman bayam adalah
Rp 14.257/kg. Dari hasil tersebut telah diketahui bahwa usaha yang dilakukan
oleh PT. Joy Farm merugi, karena harga jual Rp 8.400/kg lebih rendah dari biaya
pokok.
Sebagai gambaran mengenai usaha yang dilakukan oleh PT. Joy Farm,
maka data investasi dan biaya operasional tersebut juga dimasukkan ke dalam
perhitungan untuk menganalisis kelayakan finansial. Perhitungan dilakukan
dengan 2 rancangan. Rancangan pertama yaitu analisis apabila total penjualan
sesuai dengan target yang diharapkan, rancangan kedua dilakukan berdasarkan
data produksi selama satu tahun. Analisis yang dilakukan meliputi perhitungan
nilai sekarang bersih (Net Present Value, NPV), perbandingan manfaat biaya
bersih (Net B/C ratio), Gross B/C, dan tingkat pengembalian internal (Internal
Rate of Return, IRR). Analisis kelayakan usaha dilakukan dengan tingkat suku
bunga sebesar 5%, 12% dan 16%.

46

Pada Lampiran 3, 4 dan 5 dapat dilihat cashflow perusahaan pada


rancangan 1 (sesuai target produksi). Dari analisis tersebut didapat nilai NPV,
Net B/C, Gross B/C, dan IRR seperti pada Tabel 36.

Tabel 36. Hasil uji kelayakan usaha hidroponik di PT. Joy Farm jika produksi
sesuai target dengan harga jual Rp 8.400/kg.
.
Tingkat suku bunga

NPV (Rp)

Net B/C

Gross B/C

IRR
(%)

5%

293.589.578

2,34

1,45

42,29

12%

201.548.372

1,92

1,35

42,29

16%

160.519.186

1,73

1,29

42,29

Dari hasil perhitungan analisis kelayakan finansial pada usaha hidroponik


dengan tingkat suku bunga 5%, 12% dan 16% berturut-turut diperoleh nilai NPV
sebesar Rp 293.589.578, Rp 201.548.372, dan Rp 160.519.186. Hal ini
menunjukkan bahwa usaha hidroponik yang dilakukan

PT. Joy Farm jika

produksi sesuai dengan target menurut nilai sekarang adalah layak pada tingkat
suku bunga 5%, 12%, dan 16%.
Nilai Net B/C yang didapat pada usaha hidroponik ini pada tingkat suku
bunga 5%, 12%, dan 16% berturut-turut adalah 2,34, 1,92, dan 1,73. Nilai ini
menunjukkan bahwa penanaman investasi pada usaha hidroponik ini adalah
masih layak dilakukan pada tingkat suku bunga 5%, 12% dan 16%, karena nilai
B/C > 1.
Nilai Gross B/C yang diperoleh pada suku bunga 5%, 12%, dan 16%
berturut-turut adalah 1,45, 1,35, dan 1,29. Hal ini menunjukkan bahwa usaha
yang dilakukan menghasilkan penerimaan yang lebih besar dari pengeluaran
sehingga masih layak untuk dilakukan.
Nilai IRR yang diperoleh dari uji kelayakan tersebut adalah sebesar
42,29%. Nilai tersebut masih berada di atas tingkat suku bunga 5%, 12% dan
16% artinya usaha yang dilakukan masih layak.
Dari hasil analisis tersebut dapat terlihat bahwa usaha yang dilakukan
akan menguntungkan jika dilakukan produksi sesuai dengan target yang
diharapkan. Namun pada kenyataannya pencapaian target tersebut belum

47

sepenuhnya berhasil, disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya adalah faktor


teknis dan lingkungan yang dapat mempengaruhi angka produksi.
Pada Lampiran 6, 7, dan 8 dapat dilihat cashflow perusahaan pada
rancangan 2 (berdasarkan data hasil produksi). Dari analisis tersebut didapat
nilai NPV, Net B/C, Gross B/C dan IRR seperti pada Tabel 37 berikut.
Tabel 37. Hasil uji kelayakan usaha hidroponik di PT. Joy Farm pada produksi
riil dengan harga jual Rp 8.400/kg.
IRR

Tingkat suku bunga

NPV (Rp)

Net B/C

Gross B/C

5%

-192.909.207

0,20

0,70

12%

-203.249.185

0,15

0,65

16%

-207.451.009

0,13

0,62

(%)

Dari hasil perhitungan uji kelayakan berdasarkan data produksi dalam


satu tahun, didapat nilai NPV pada tingkat suku bunga 5%, 12%, dan 16%
berturut-turut lebih kecil dari nol. Hal ini menunjukkan bahwa usaha budidaya
hidroponik yang dilakukan oleh PT. Joy Farm menurut nilai sekarang secara
finansial tidak layak untuk dilakukan karena akan menghasilkan kerugian
sebesar nilai NPV tersebut.
Nilai Net B/C pada tingkat suku bunga 5%, 12%, dan 16% berturut-turut
lebih kecil dari 1, begitupun pada nilai Gross B/C menghasilkan nilai lebih kecil
dari 1 yang artinya usaha yang dilakukan menghasilkan penerimaan yang lebih
kecil dari pengeluarannya dan belum mampu mengembalikan modal yang
diinvestasikan di awal usaha. Hal ini menunjukkan bahwa penanaman investasi
usaha hidroponik sangat tidak layak atau tidak menguntungkan, karena tidak
memberikan nilai manfaat.
Nilai IRR tidak ditemukan karena usaha yang dilakukan untuk budidaya
secara hidroponik ini tidak layak dilakukan. Besarnya modal awal yang ada
alangkah lebih baik jika dipergunakan untuk usaha yang lebih menguntungkan.
PT. Joy Farm tetap menjalankan produksinya karena terikat kontrak lama
dengan pihak mitra. Untuk dapat melanjutkan usaha hidroponik tersebut, agar
tidak mengalami kerugian maka diperlukan alternatif pemecahan, di antaranya
adalah dengan memperhatikan biaya produksi dan perbaikan manajemen
48

pemasaran. Untuk itu perlu diperhatikan agar total penerimaan tidak kurang dari
jumlah pengeluaran.
Besarnya total penerimaan dipengaruhi oleh total produksi. Semakin
tinggi total produksi, semakin tinggi pula total penerimaan. Untuk itu
produktifitas tanaman harus dijaga agar tidak kurang dari target yang
diharapkan, selain itu jumlah pengeluaran juga perlu dijaga agar ketika produksi
menurun, total penerimaan masih berada di atas total pengeluaran sehingga
meminimalkan kerugian.
Dari segi teknis dalam hal penggunaan nutrisi sebaiknya PT. Joy Farm
menggunakan standar yang ada. Standar yang digunakan oleh PT. Joy Farm
lebih besar dari standar yang ada, sehingga akan menyebabkan larutan nutrisi
yang terlalu pekat dan dapat mempengaruhi produktifitas tanaman. Selain itu
penggunaan nutrisi yang tepat juga akan menekan biaya yang dikeluarkan.
Meningkatkan harga jual produk juga penting. Dilihat dari segi
pemasaran, telah diketahui bahwa produk hidroponik memiliki pasar tersendiri
seperti di mall dan swalayan lainnya dengan harga jual yang tinggi. Harga jual
yang ada di tingkat petani berkisar antara Rp. 17.000 Rp. 18.000 per kg untuk
sayuran daun hidroponik. Harga jual yang digunakan oleh PT. Joy Farm adalah
sama untuk kedua jenis tanaman, yaitu seharga Rp 8.400/kg. Harga jual tersebut
merupakan kontrak lama dengan pihak mitra. Jika kita lihat pada perhitungan
sebelumnya, usaha yang dijalankan akan layak jika produksi memenuhi target,
namun pada kenyataannya total produksi tidak memenuhi target sehingga usaha
yang dilakukan belum menguntungkan dan belum mampu mengembalikan
modal yang diinvestasikan di awal usaha. Dalam hal ini sebaiknya PT. Joy Farm
melakukan negosiasi ulang mengenai harga jual dan mencari alternatif
pemasaran agar mampu mengembangkan usahanya tanpa tergantung oleh
kontrak dari pihak mitra.
Bila PT. Joy Farm melakukan negosiasi kontrak baru dengan mitra, yaitu
dengan menaikkan harga jualnya 2 kali harga semula menjadi Rp 16.800/kg
untuk sayuran hidroponik baik bayam merah maupun kangkung, maka akan
diperoleh nilai NPV, Net B/C, Gross B/C dan IRR berturut-turut adalah seperti

49

pada Tabel 38 berikut (Cashflow pada harga Rp. 16.800/kg dapat dilihat pada
Lampiran 9, 10, dan 11)
Tabel 38. Hasil uji kelayakan usaha hidroponik di PT. Joy Farm pada produksi
riil dengan harga jual Rp 16.800/kg.
IRR

Tingkat suku bunga

NPV (Rp)

Net B/C

Gross B/C

5%

210.772.933

1,96

1,32

32,33

12%

132.639.721

1,60

1,23

32,33

16%

97.879.653

1,45

1,18

32,33

(%)

Dari hasil analisis tersebut dapat dilihat bahwa dengan menaikkan harga
jual produk menjadi RP. 16.800/kg akan didapatkan nilai NPV, Net B/C,Gross
B/C dan IRR seperti yang terlihat pada Tabel 38. Nilai NPV pada tingkat suku
bunga 5%, 12% dan 16% masih berada di atas nol.
Begitu juga dengan nilai Net B/C, pada tingkat suku bunga 5%, 12% dan
16% nilai B/C > 1. Nilai IRR yang didapat sebesar 32,33%. Dari analisis yang
dilakukan berdasarkan ketiga kriteria investasi tersebut, dapat dikatakan bahwa
usaha yang dilakukan akan layak pada tingkat suku bunga tersebut.
Apabila tidak mencapai kesepakatan dengan harga jual Rp. 16.800/kg,
maka dilakukan negosiasi ulang dengan harapan harga jual yang disepakati
masih memberikan kelayakan untuk PT. Joy Farm dalam melanjutkan usahanya.
Harga jual yang memungkinkan agar PT. Joy Farm tetap dapat melanjutkan
usahanya adalah Rp 14.200/kg. Dengan menggunakan harga jual tersebut akan
diperoleh nilai NPV, Net B/C, Gross B/C dan IRR berturut-turut adalah seperti
pada Tabel 39 berikut (Cashflow pada harga Rp. 14.200/kg dapat dilihat pada
Lampiran 12, 13, dan 14)
Tabel 39. Hasil uji kelayakan usaha hidroponik di PT. Joy Farm pada produksi
riil dengan harga jual Rp 14.200/kg.
IRR

Tingkat suku bunga

NPV (Rp)

Net B/C

Gross B/C

5%

85.823.699

1,39

1,13

16,59

12%

28.674.107

1,13

1,05

16,59

16%

3.372.543

1,02

1,01

16,59

(%)

50

Dari hasil tersebut dapat dilihat bahwa dengan harga jual Rp 14.200/kg
menghasilkan nilai NPV, Net B/C, Gross B/C dan IRR yang layak pada tingkat
suku bunga 5%, 12%, dan 16%. Hal ini masih memberikan kelayakan bagi PT.
Joy Farm untuk melanjutkan usahanya.
Kondisi tersebut akan dapat mencapai kondisi yang lebih baik apabila
dalam melakukan kegiatan produksinya dilakukan pemanfaatan sumber daya
atau aset dan sarana yang ada secara maksimal.

C. OPTIMASI PRODUKSI
1. Model matematis
a. Fungsi tujuan
Tujuan dari program linear dalam pemecahan masalah optimasi di
PT. Joy Farm adalah untuk memaksimumkan keuntungan. Dalam hal ini
keuntungan merupakan selisih antara harga jual dan biaya produksi.
Harga jual yang digunakan adalah harga jual negosiasi kontrak baru
antara PT. Joy Farm dengan mitra yaitu sebesar Rp 16.800/kg.
Sedangkan biaya produksi yang dikeluarkan adalah Rp 14.257/kg untuk
bayam merah dan Rp 10.982/kg untuk kangkung. Dengan demikian
keuntungan yang akan diperoleh adalah Rp 2.543/kg untuk bayam merah
dan Rp 5.818/kg untuk kangkung. Berdasarkan hal tersebut, maka fungsi
tujuan dalam optimasi ini dapat dinyatakan sebagai berikut :
Maksimumkan Z = 2.543 X1 + 5.818 X2

b. Fungsi pembatas
Fungsi pembatas pada model ini terdiri dari lima fungsi. Fungsi
tersebut menyatakan pembelian nutrisi dan bibit, listrik untuk pompa,
kapasitas greenhouse, permintaan minimal, dan tenaga kerja pada proses
produksi bayam merah (X1) dan kangkung (X2).

1) Pembelian Nutrisi dan bibit.


Total biaya yang dikeluarkan untuk pembelian nutrisi dan
bibit dari kedua produk adalah Rp 37.236.000 per tahun atau Rp

51

3.103.000 per bulan. Untuk pembelian bibit, tanaman bayam


membutuhkan biaya Rp 2.100.000 per tahun atau Rp 175.000 per
bulan, sedangkan bibit kangkung membutuhkan biaya Rp 10.800.000
per tahun atau Rp 900.000 per bulannya. Untuk Nutrisi masingmasing dialokasikan sebesar Rp 1.014.000 per bulan. Sehingga total
biaya masing-masing tanaman untuk nutrisi dan bibit adalah Rp
1.189.000 per bulan untuk bayam merah dan Rp 1.914.000 per bulan
untuk kangkung, maka biaya yang dikeluarkan masing-masing
tanaman per bed adalah Rp 19.816 untuk bayam merah, dan Rp
31.900 untuk tanaman kangkung. Berdasarkan perhitungan tersebut
maka fungsi pembatas pembelian nutrisi dan bibit dinyatakan sebagai
berikut :
19.816 X1 + 31.900 X2 3.103.000

2) Biaya listrik pemakaian pompa


Untuk biaya listrik pompa air dihitung dari pemakaian
pompa air selama satu bulan. Penggunaan pompa untuk kedua jenis
tanaman

sama.

Masing-masing

tanaman untuk

seluruh

bed

menggunakan pompa dengan daya 250 watt sebanyak tiga buah


pompa. Pemakaian pompa adalah selama 465 menit per hari untuk
tanaman bayam merah, sedangkan untuk kangkung adalah 600 menit.
Maka selama satu bulan lamanya pemakaian adalah 13.950 menit
atau 232,5 jam untuk tanaman bayam, dan 18.000 menit atau 300 jam
untuk tanaman kangkung. Berdasarkan pemakaian tersebut maka
dengan menggunakan biaya Rp 500/kwh, didapat biaya per bulan
untuk masing-masing tanaman sebesar Rp 87.187 untuk bayam
merah dan Rp 112.500 untuk kangkung. Sehingga diperoleh biaya
yang dikeluarkan per bed adalah Rp 1.453 untuk bayam merah dan
Rp 1.875 untuk kangkung. Maka total biaya listrik penggunaan
pompa dari kedua tanaman tersebut adalah Rp 200.000 per bulan,
sehingga fungsi pembatas biaya listrik pemakaian pompa dapat
dinyatakan sebagai berikut :

52

1.453 X1 + 1.875 X2 200.000

3) Kapasitas greenhouse
Kapasitas greenhouse untuk memproduksi kedua produk
tersebut selama satu bulan adalah sebanyak 120 bed, maka fungsi
pembatas untuk kapasitas greenhouse dapat dinyatakan sebagai
berikut :
X1 + X2 120

4) Biaya tenaga kerja


Faktor pembatas mengenai tenaga kerja, setiap bulannya PT.
Joy Farm menggaji 6 karyawan yang bekerja di kebun PT. Joy Farm.
Pembayaran gaji kepada karyawan tersebut didasarkan pada
pengalaman dan lama bekerja, jadi setiap orangnya mendapatkan gaji
yang berbeda. Total gaji yang dikeluarkan oleh PT. Joy Farm untuk
tenaga kerja adalah sebesar Rp 33.240.000 per tahunnya atau Rp
2.770.000 tiap bulannya. Pembagian kerja 3 orang untuk menangani
bayam merah dan 3 orang untuk menangani kangkung. Besarnya
biaya tenaga kerja untuk masing-masing tanaman adalah Rp
1.570.000 untuk kangkung dan Rp 1.200.000 untuk bayam merah
yang merupakan jumlah gaji dari tiap karyawan pada masing-masing
tanaman. Tanaman kangkung membutuhkan perawatan ekstra karena
apabila layu, tanaman menjadi cacat dan tidak bisa segar kembali
(Gaji karyawan dapat dilihat pada Lampiran 15). Biaya tenaga kerja
yang dikeluarkan per bed adalah Rp 26.166 untuk kangkung dan Rp
20.000 untuk bayam merah. Dari perhitungan tersebut maka fungsi
pembatas untuk biaya tenaga kerja adalah sebagai berikut :
20.000 X1 + 26.166 X2 2.770.000

5) Permintaan minimal mitra.


Permintaan minimal pada masing-masing sayuran adalah
20 kg/hari untuk kangkung atau 1,2 bed/hari sehingga dalam 1 bulan

53

dibutuhkan 36 bed. Sedangkan untuk bayam merah adalah 15kg/hari


atau 0,8 bed/hari sehingga dalam 1 bulan dibutuhkan 24 bed. Maka
fungsi pembatas untuk permintaan minimal adalah sebagai berikut :

X1 24
X2 36

2. Hasil optimasi
Dari perhitungan yang dilakukan sesuai dengan proses optimasi
menggunakan program linier, diperoleh hasil optimal dengan kombinasi
jumlah bed yang harus diproduksi adalah 24 bed per bulan untuk bayam
merah dan 82 bed per bulan untuk kangkung. Dari hasil tersebut didapatkan
total keuntungan sebesar Rp 9.246.742 per bulan. Hasil dapat dilihat pada
Lampiran 16.
Dengan hasil tersebut, untuk tanaman bayam merah diperlukan 24
bed per bulan, maka per harinya dapat dipanen sebanyak 0,8 bed. Dengan
melihat umur panen bayam merah selama 22 hari, maka untuk dapat panen
0,8 bed per hari diperlukan total bed sebanyak 18 bed.
Untuk tanaman kangkung diperlukan 82 bed per bulan, maka per
harinya dapat dipanen sebanyak 2,73 bed. Dengan melihat umur panen
kangkung selama 15 hari, maka untuk dapat panen 2,73 bed per hari
diperlukan total bed sebanyak 41 bed. Dari hasil optimasi tersebut
dibutuhkan bed secara keseluruhan adalah 59 bed sedangkan PT. Joy Farm
memiliki total bed 64. Dalam hal ini masih menyisakan bed sebanyak 5 bed
sehingga produksi dapat lebih dimaksimalkan kembali.
Hasil optimasi tersebut di atas juga menunjukkan bahwa selama ini
PT. Joy Farm belum memperhatikan aspek optimasi dalam menjalankan
produksinya. Ada perbedaan yang mencolok antara hasil optimasi dengan
praktek/realisasi produksi selama ini. Dengan menerapkan optimasi tersebut
maka PT. Joy Farm dapat memaksimalkan keuntungannya.

54

V.

KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN
Evaluasi kelayakan teknis yang dilakukan berdasarkan keseragaman
debit aliran, keseragaman konduktifitas listrik, keseragaman derajat keasaman,
kedalaman aliran dan keseragaman bobot tanaman, menghasilkan nilai
keseragaman yang bervariasi. Namun secara umum sistem hidroponik yang
diterapkan oleh PT. Joy Farm untuk kedua tanaman dapat diterapkan, karena
nilai koefisien keseragamannya mendekati 90%. Secara khusus nilai koefisien
keseragaman masih kurang baik pada kedalaman aliran dan bobot tanaman,
hal ini disebabkan karena terdapatnya lipatan pada terpal pelapis bed sehingga
permukan bed menjadi tidak rata. Nilai keseragaman pada jaringan hidroponik
ini akan dapat lebih tinggi jika dilakukan perawatan dan pemeliharaan yang
rutin.
Pada harga jual Rp 8.400/kg usaha hidroponik yang dilakukan oleh PT.
Joy Farm akan layak dilanjutkan pada tingkat suku bunga 5%, 12% dan 16%
jika total produksi sesuai dengan target yaitu 17 kg per bed. Hasil uji
kelayakan yang diperoleh pada tingkat suku bunga 5% didapat nilai NPV Rp
293.589.578, Net B/C 2,34, dan Gross B/C 1,45. Pada tingkat suku bunga
12% didapat nilai NPV Rp 201.548.372, Net B/C 1,92, dan Gross B/C 1,35.
Pada tingkat suku bunga 16% didapat nilai NPV Rp 160.519.186, Net B/C
1,73, dan Gross B/C 1,29. Nilai IRR yang dihasilkan adalah 42,29%.
Berdasarkan hasil uji kelayakan tersebut, usahatani yang dilakukan jika sesuai
target akan layak.
Jika dilihat dari produksi riil, perusahaan hanya mampu menghasilkan
925 kg per bulan. Dengan menggunakan harga jual sebesar Rp 8.400 per kg,
hasil uji kelayakan yang diperoleh pada tingkat suku bunga 5% didapat nilai
NPV Rp -192.909.207, Net B/C 0,20, dan Gross B/C 0,70. Pada tingkat suku
bunga 12% didapat nilai NPV Rp -203.249.185, Net B/C 0,15, dan Gross B/C
0,65. Begitupun juga dengan tingkat suku bunga 16% didapat nilai NPV Rp 207.451.009, Net B/C 0,13, dan Gross B/C 0,62. Nilai IRR tidak ditemukan.

55

Berdasarkan hasil uji kelayakan tersebut, maka usahatani yang dilakukan oleh
PT. Joy Farm belum layak untuk dilanjutkan.
Untuk dapat melanjutkan usahatani tersebut dan memperoleh kondisi
yang lebih baik, maka perlu dilakukan negosiasi kontrak baru dengan mitra
mengenai harga jual. Dengan menggunakan harga jual Rp 16.800/kg, pada
tingkat suku bunga 5% didapat nilai NPV Rp 210.772.933, Net B/C 1,96, dan
Gross B/C 1,32. Pada tingkat suku bunga 12% didapat nilai NPV Rp
132.639.721, Net B/C 1,6, dan Gross B/C 1,23. Pada tingkat suku bunga 16%
didapat nilai NPV Rp 97.879.653, Net B/C 1,45, dan Gross B/C 1,18. Nilai
IRR yang dihasilkan adalah 32,33%. Berdasarkan hasil tersebut maka
perusahaan akan layak melanjutkan usahanya pada tingkat suku bunga 5%,
12%, dan 16%.
Jika harga jual Rp 16.800/kg tidak dicapai sepakat, maka digunakan
harga jual Rp. 14.200/kg sebagai alternatif harga jual yang masih memberikan
kelayakan pada PT. Joy Farm. Dengan harga jual Rp. 14.200/kg pada tingkat
suku bunga 5% didapat nilai NPV Rp 85.823.699, Net B/C 1,39, dan Gross
B/C 1,13. Pada tingkat suku bunga 12% didapat nilai NPV Rp. 28.674.107,
Net B/C 1,13, dan Gross B/C 1,05. Pada tingkat suku bunga 16% didapat nilai
NPV Rp 3.372.543, Net B/C 1,02, dan Gross B/C 1,01. Nilai IRR yang
dihasilkan adalah 16,59%. Berdasarkan hasil tersebut maka perusahaan masih
layak untuk melanjutkan usahanya pada tingkat suku bunga 5%, 12%, dan
16%.
Optimasi produksi sesuai dengan program linear didapat kombinasi
produksi 24 bed per bulan untuk bayam merah dan 82 bed per bulan untuk
kangkung. Dengan kombinasi tersebut dibutuhkan total bed produksi
sebanyak 59 bed, dalam hal ini masih tersisa 5 bed dari total 64 bed yang
dimiliki oleh PT. Joy Farm sehingga dapat lebih memaksimalkan produksi.
Dengan kombinasi tersebut diperoleh keuntungan sebesar Rp 9.246.742 per
bulan.

56

B. SARAN
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan di PT. Joy Farm,
maka penulis dapat memberikan saran atau masukan bagi perusahaan seperti :
1. Menutup bagian kerikil pada nursery dengan plastik atau nampan basah
untuk membantu merangsang pertumbuhan bibit kangkung dan bayam,
sehingga dapat memperkecil jumlah bibit yang tidak tumbuh dan akhirnya
terbuang.
2. Pada saat sterilisasi bed sebaiknya tidak menggunakan aliran air nutrisi,
karena kotoran dan lumut akan ikut terbawa ke dalam bak nutrisi sehingga
dapat menyebabkan tersumbatnya aliran nutrisi, dan jika tidak terkontrol
akan menyebabkan kematian pada tanaman dan akhirnya dapat
mengurangi jumlah produksi.
3. Menutup lubang aliran yang menuju bak nutrisi dengan saringan yang
lebih halus, hal ini bertujuan untuk mencegah kotoran dan lumut halus
yang lolos ke bak nutrisi yang dapat menumpuk dan menyumbat pipa
pipa jaringan irigasi.
4. Faktor lingkungan perlu diperhatikan secara serius, mengingat letak kebun
PT. Joy Farm berdampingan dengan kebun liar di sekitarnya,
kemungkinan datangnya hama akan besar. Untuk itu ventilasi greenhouse
perlu diberi insectnet untuk menghindari masuknya hama yang
menyebabkan kematian pada tanaman.
5. Pemeriksaan dan pengecekan terpal pelapis bed harus diperhatikan karena
lipatan-lipatan terpal tersebut akan menyebabkan permukaan bed tidak rata
dan menimbulkan genangan pada titik titik tertentu.
6. Dalamnya lubang tanam pada bed perlu diperhatikan, karena banyak bibit
yang akarnya tidak sampai menyentuh aliran nutrisi, sehingga bila
dipaksakan akan menyebabkan bibit hanyut terbawa aliran nutrisi dan
akhirnya bibit terbuang.
7. Menambah jumlah bed produksi jika panen dilakukan 2 bed per hari untuk
masing-masing tanaman agar rolling tanaman dapat berjalan dengan baik.
8. Meningkatkan harga jual sesuai dengan harga jual sayuran hidroponik
yang berlaku dipasar, sehingga pengembalian modal akan dapat terwujud,

57

atau mencari alternatif pemasaran lain sehingga usaha yang dilakukan


tidak tergantung pada pihak mitra.
9. Menggunakan standar penggunaan nutrisi sesuai dengan yang seharusnya,
sehingga dapat memaksimalkan pertumbuhan tanaman dan menekan biaya
untuk nutrisi.
10. Pemanfaatan peralatan yang ada secara maksimal. Disamping itu juga
dibutuhkan tenaga kerja yang secara teknis terlatih dengan baik, karena
dengan tenaga kerja yang ahli dan terampil akan dapat mengatasi masalah
yang terjadi di lapangan dan juga dapat memaksimalkan waktu kerja yang
ada.
11. Melakukan produksi sesuai dengan kombinasi yang optimal, serta
melakukan negosiasi ulang dengan mitra dalam hal penetapan harga jual
bayam dan kangkung.

58

DAFTAR PUSTAKA
Aziz, N. 2002. Bayam. Penebar Swadaya. Jakarta.
Burkill, I.H. 1935. A Dictionary of The Economic Product of Malay Peninsula.
The Crown Agent for the Colonies, London.
Chadirin, Y. 2006. Teknologi Greenhouse dan Hidroponik. Diktat kuliah.
Departemen Teknik Pertanian. Institut Pertanian Bogor.
Gittinger, J.P. 1986. Analisa Ekonomi Proyek-proyek Pertanian. UI-Press.
Jakarta.
Hadisoeganda, W. 1995. Bayam Sayuran penyangga petani di Indonesia. Balai
Penelitian Tanaman Sayuran. Lembang. Bandung.
Keller, J and R. D. Bleisner. 1990. Sprinkler and Trickle Irrigation. AVI
Publishing Company. Inc. Westport Connecticut.
Lieng, S. 1996. Rancangan Greenhouse untuk budidaya semangka secara
hidroponik. Skripsi. Fakultas Teknologi Pertanian. Institut Pertanian
Bogor.
Maryam. 2004. Evaluasi Kinerja Jaringan Irigasi Hidroponik Dengan sistem NFT
(Nutrient Film Technique) Untuk Budidaya Tanaman Petsai (Brassica
pekinensis L). Skripsi. Jurusan Teknik Pertanian. Fakultas Teknologi
Pertanian. Institut Pertanian Bogor.
Mulyono, S. 1991. Operational Research. Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi
Universitas Indonesia, Jakarta.
Pamungkas, W. 2004. Evaluasi Kinerja Jaringan Irigasi Hidroponik Dengan
Sistem Deep Flow Technique (DFT) Untuk Budidaya Kangkung Darat
(Ipoemea reptans Poir) Skripsi. Jurusan Teknik Pertanian. Fakultas
Teknologi Pertanian. Institut Pertanian Bogor.
Prastyo, B. 2004. Evaluasi Kinerja Jaringan Irigasi Hidroponik Dengan Sistem
NFT (Nutrient Film Technique) Untuk Budidaya Tanaman Pakcoy
(Brassica chinensis). Skripsi. Jurusan Teknik Pertanian. Fakultas
Teknologi Pertanian. Institut Pertanian Bogor.
Pramudya, B dan N.Dewi. 1992. Ekonomi Teknik. Jurusan Mekanisasi Pertanian.
Fateta. IPB.
Soeseno, S. 1998. Bercocok Tanam Secara Hidroponik. Gramedia. Jakarta.
Soekartiwi. 1996. Linear Programing Teori dan Aplikasinya khususnya dalam
bidang pertanian.

59

Sutiyoso, Y. 2004. Meramu Pupuk Hidroponik. Penebar Swadaya. Jakarta.


Untung. O. 2000. Hidroponik Sayuran Sistem NFT. Penebar Swadaya. Jakarta.

60

Lampiran 1. Biaya tanaman kangkung (Rp/kg). (DF 5%)


Biaya tetap (Rp/Th)
Biaya penyusutan

Bunga modal

Greenhouse

8.522.640,00

1.420.440,00

9.943.080,00

Sistem Hidroponik

11.075.436,00

1.845.906,00

12.921.342,00

Listrik dan genset

652.500,00

199.375,00

851.875,00

Kantor dan gudang

450.000,00

137.500,00

587.500,00

Alat bantu pertanian

1.305.360,00

217.560,00

Kendaraan

8.226.000,00

2.513.500,00

PBB

Pajak

Biaya tetap

1.522.920,00
1.487.000,00

12.226.500,00

500.000,00

500.000,00

Total

38.553.217,00

Biaya tidak tetap (Rp/bulan)

Karena dilakukan dalam satu usaha yang sama maka biaya tetap untuk masing-masing tanaman adalah

Bensin

375.000,00

Rp 19.276.608,50/th

Perawatan

100.000,00

Biaya bibit

900.000,00

Biaya nutrisi

1.014.000,00

Biaya listrik

350.000,00

Tenaga kerja

1.570.000,00

Keamanan

Total produksi kangkung

: 6.791,59 kg/th

Total biaya

: 74.584.608,50 Rp/th

Biaya pokok produksi kangkung

: 10.981,91 Rp/kg

300.000,00

Biaya per bulan

4.609.000,00

Biaya per tahun

55.308.000,00

61

Lampiran 2. Biaya tanaman bayam (Rp/kg). (DF 5%)


Biaya tetap (Rp/Th)
Biaya penyusutan

Bunga modal

Greenhouse

8.522.640,00

1.420.440,00

9.943.080,00

Sistem Hidroponik

11.075.436,00

1.845.906,00

12.921.342,00

Listrik dan genset

652.500,00

199.375,00

851.875,00

Kantor dan gudang

450.000,00

137.500,00

587.500,00

Alat bantu pertanian

1.305.360,00

217.560,00

Kendaraan

8.226.000,00

2.513.500,00

PBB

Pajak

Biaya tetap

1.522.920,00
1.487.000,00

12.226.500,00

500.000,00

500.000,00

total

38.553.217,00

Biaya tidak tetap (Rp/bulan)

Karena dilakukan dalam satu usaha yang sama maka biaya tetap untuk masing-masing tanaman adalah

Bensin

375.000,00

Rp 19.276.608,50/th

Perawatan

100.000,00

Biaya bibit

175.000,00

Biaya nutrisi

1.014.000,00

Biaya listrik

350.000,00

Tenaga kerja

1.200.000,00

Keamanan

Total produksi bayam

: 4.309,68 kg/th

Total biaya

: 61.444.608,50 Rp/th

Biaya pokok produksi bayam merah : 14.257,35 Rp/kg

300.000,00

Biaya per bulan

3.514.000,00

Biaya per tahun

42.168.000,00

62

Lampiran 3. Cashflow sesuai target produksi dengan harga jual Rp 8.400/kg. (DF 5%)
No

Uraian

Tahun
0

A
1
2
B
1

Penerimaan
Nilai produksi total
Nilai sisa
Total penerimaan
Pengeluaran
Investasi
Greenhouse
Sistem Hidroponik
Listrik dan genset
Kantor dan gudang
Alat bantu pertanian
Kendaraan
Pajak
Kendaraan
PBB
Biaya Operasional
Bensin
Benih bayam
Benih kangkung
Nutrisi
Gaji karyawan
Listrik
Keamanan
Perawatan
Total pengeluaran
Net Benefit
DF(5%)
Net present value(NPV)

NPV

: 293.589.578,42

Net B/C

: 2,34

Gross B/C

: 1,45

205.632.000,00

205.632.000,00

205.632.000,00

205.632.000,00

205.632.000,00

205.632.000,00

205.632.000,00

205.632.000,00

205.632.000,00
68.620.520,00
274.252.520,00

1.487.000,00
500.000,00

1.487.000,00
500.000,00

1.487.000,00
500.000,00

1.487.000,00
500.000,00

1.487.000,00
500.000,00

9.000.000,00
2.100.000,00
10.800.000,00
24.336.000,00
33.240.000,00
8.400.000,00
7.200.000,00
2.400.000,00
99.463.000,00
106.169.000,00
0,95
101.072.888,00

9.000.000,00
2.100.000,00
10.800.000,00
24.336.000,00
33.240.000,00
8.400.000,00
7.200.000,00
2.400.000,00
99.463.000,00
106.169.000,00
0,91
96.295.283,00

9.000.000,00
2.100.000,00
10.800.000,00
24.336.000,00
33.240.000,00
8.400.000,00
7.200.000,00
2.400.000,00
99.463.000,00
106.169.000,00
0,86
91.708.782,20

9.000.000,00
2.100.000,00
10.800.000,00
24.336.000,00
33.240.000,00
8.400.000,00
7.200.000,00
2.400.000,00
99.463.000,00
106.169.000,00
0,82
87.345.236,30

9.000.000,00
2.100.000,00
10.800.000,00
24.336.000,00
33.240.000,00
8.400.000,00
7.200.000,00
2.400.000,00
99.463.000,00
174.789.520,00
0,78
136.947.588,92

47.348.000,00
61.530.200,00
7.250.000,00
5.000.000,00
7.252.000,00
91.400.000,00

219.780.200,00
(219.780.200,00)
1,00
(219.780.200,00)
IRR

: 42,29

63

Lampiran 4. Cashflow sesuai target produksi dengan harga jual Rp 8.400/kg. (DF 12%)
No

Uraian

Tahun
0

A
1
2
B
1

Penerimaan
Nilai produksi total
Nilai sisa
Total penerimaan
Pengeluaran
Investasi
Greenhouse
Sistem Hidroponik
Listrik dan genset
Kantor dan gudang
Alat bantu pertanian
Kendaraan
Pajak
Kendaraan
PBB
Biaya Operasional
Bensin
Benih bayam
Benih kangkung
Nutrisi
Gaji karyawan
Listrik
Keamanan
Perawatan
Total pengeluaran
Net Benefit
DF(12%)
Net present value(NPV)

NPV

: 201.845.646,04

Net B/C

: 1,92

Gross B/C

: 1,35

205.632.000,00

205.632.000,00

205.632.000,00

205.632.000,00

205.632.000,00

205.632.000,00

205.632.000,00

205.632.000,00

205.632.000,00
68.620.520,00
274.252.520,00

1.487.000,00
500.000,00

1.487.000,00
500.000,00

1.487.000,00
500.000,00

1.487.000,00
500.000,00

1.487.000,00
500.000,00

9.000.000,00
2.100.000,00
10.800.000,00
24.336.000,00
33.240.000,00
8.400.000,00
7.200.000,00
2.400.000,00
99.463.000,00
106.169.000,00
0,89
94.787.683,20

9.000.000,00
2.100.000,00
10.800.000,00
24.336.000,00
33.240.000,00
8.400.000,00
7.200.000,00
2.400.000,00
99.463.000,00
106.169.000,00
0,80
84.616.693,00

9.000.000,00
2.100.000,00
10.800.000,00
24.336.000,00
33.240.000,00
8.400.000,00
7.200.000,00
2.400.000,00
99.463.000,00
106.169.000,00
0,71
75.592.328,00

9.000.000,00
2.100.000,00
10.800.000,00
24.336.000,00
33.240.000,00
8.400.000,00
7.200.000,00
2.400.000,00
99.463.000,00
106.169.000,00
0,64
67.523.484,00

9.000.000,00
2.100.000,00
10.800.000,00
24.336.000,00
33.240.000,00
8.400.000,00
7.200.000,00
2.400.000,00
99.463.000,00
174.789.520,00
0,57
99.105.657,84

47.348.000,00
61.530.200,00
7.250.000,00
5.000.000,00
7.252.000,00
91.400.000,00

219.780.200,00
(219.780.200,00)
1,00
(219.780.200,00)
IRR

: 42,29

64

Lampiran 5. Cashflow sesuai target produksi dengan harga jual Rp 8.400/kg. (DF 16%)
No

Uraian

Tahun
0

A
1
2
B
1

Penerimaan
Nilai produksi total
Nilai sisa
Total penerimaan
Pengeluaran
Investasi
Greenhouse
Sistem Hidroponik
Listrik dan genset
Kantor dan gudang
Alat bantu pertanian
Kendaraan
Pajak
Kendaraan
PBB
Biaya Operasional
Bensin
Benih bayam
Benih kangkung
Nutrisi
Gaji karyawan
Listrik
Keamanan
Perawatan
Total pengeluaran
Net Benefit
DF(16%)
Net present value(NPV)

NPV

: 160.519.186,27

Net B/C

: 1,73

Gross B/C

: 1,29

205.632.000,00

205.632.000,00

205.632.000,00

205.632.000,00

205.632.000,00

205.632.000,00

205.632.000,00

205.632.000,00

205.632.000,00
68.620.520,00
274.252.520,00

1.487.000,00
500.000,00

1.487.000,00
500.000,00

1.487.000,00
500.000,00

1.487.000,00
500.000,00

1.487.000,00
500.000,00

9.000.000,00
2.100.000,00
10.800.000,00
24.336.000,00
33.240.000,00
8.400.000,00
7.200.000,00
2.400.000,00
99.463.000,00
106.169.000,00
0,86
91.528.294,90

9.000.000,00
2.100.000,00
10.800.000,00
24.336.000,00
33.240.000,00
8.400.000,00
7.200.000,00
2.400.000,00
99.463.000,00
106.169.000,00
0,74
78.904.800,80

9.000.000,00
2.100.000,00
10.800.000,00
24.336.000,00
33.240.000,00
8.400.000,00
7.200.000,00
2.400.000,00
99.463.000,00
106.169.000,00
0,64
68.011.861,40

9.000.000,00
2.100.000,00
10.800.000,00
24.336.000,00
33.240.000,00
8.400.000,00
7.200.000,00
2.400.000,00
99.463.000,00
106.169.000,00
0,55
58.637.138,70

9.000.000,00
2.100.000,00
10.800.000,00
24.336.000,00
33.240.000,00
8.400.000,00
7.200.000,00
2.400.000,00
99.463.000,00
174.789.520,00
0,48
83.217.290,47

47.348.000,00
61.530.200,00
7.250.000,00
5.000.000,00
7.252.000,00
91.400.000,00

219.780.200,00
(219.780.200,00)
1,00
(219.780.200,00)
IRR

: 42,29

65

Lampiran 6. Cashflow sesuai produksi riil dengan harga jual Rp 8.400/kg. (DF 5%)
No

Tahun

Uraian

A
1
2
B
1

Penerimaan
Nilai produksi total
Nilai sisa
Total penerimaan
Pengeluaran
Investasi
Greenhouse
Sistem Hidroponik
Listrik dan genset
Kantor dan gudang
Alat bantu pertanian
Kendaraan
Pajak
Kendaraan
PBB
Biaya Operasional
Bensin
Benih bayam
Benih kangkung
Nutrisi
Gaji karyawan
Listrik
Keamanan
Perawatan
Total pengeluaran
Net Benefit
DF(5%)
Net present value(NPV)

NPV

: -192.909.207,81

Net B/C

: 0,20

Gross B/C

: 0,70

93.250.668,00

93.250.668,00

93.250.668,00

93.250.668,00

93.250.668,00

93.250.668,00

93.250.668,00

93.250.668,00

93.250.668,00
68.620.520,00
161.871.188,00

1.487.000,00
500.000,00

1.487.000,00
500.000,00

1.487.000,00
500.000,00

1.487.000,00
500.000,00

1.487.000,00
500.000,00

9.000.000,00
2.100.000,00
10.800.000,00
24.336.000,00
33.240.000,00
8.400.000,00
7.200.000,00
2.400.000,00
99.463.000,00
(6.212.332,00)
0,95
(5.914.140,06)

9.000.000,00
2.100.000,00
10.800.000,00
24.336.000,00
33.240.000,00
8.400.000,00
7.200.000,00
2.400.000,00
99.463.000,00
(6.212.332,00)
0,91
(5.634.585,12)

9.000.000,00
2.100.000,00
10.800.000,00
24.336.000,00
33.240.000,00
8.400.000,00
7.200.000,00
2.400.000,00
99.463.000,00
(6.212.332,00)
0,86
(5.366.212,38)

9.000.000,00
2.100.000,00
10.800.000,00
24.336.000,00
33.240.000,00
8.400.000,00
7.200.000,00
2.400.000,00
99.463.000,00
(6.212.332,00)
0,82
(5.110.885,54)

9.000.000,00
2.100.000,00
10.800.000,00
24.336.000,00
33.240.000,00
8.400.000,00
7.200.000,00
2.400.000,00
99.463.000,00
62.408.188,00
0,78
48.896.815,30

47.348.000,00
61.530.200,00
7.250.000,00
5.000.000,00
7.252.000,00
91.400.000,00

219.780.200,00
(219.780.200,00)
1,00
(219.780.200,00)
IRR

: -

66

Lampiran 7. Cashflow sesuai produksi riil dengan harga jual Rp 8.400/kg. (DF12%)
No

Uraian

Tahun
0

A
1
2
B
1

Penerimaan
Nilai produksi total
Nilai sisa
Total penerimaan
Pengeluaran
Investasi
Greenhouse
Sistem Hidroponik
Listrik dan genset
Kantor dan gudang
Alat bantu pertanian
Kendaraan
Pajak
Kendaraan
PBB
Biaya Operasional
Bensin
Benih bayam
Benih kangkung
Nutrisi
Gaji karyawan
Listrik
Keamanan
Perawatan
Total pengeluaran
Net Benefit
DF(12%)
Net present value(NPV)

NPV

: -203.249.185,02

Net B/C

: 0,15

Gross B/C

: 0,65

93.250.668,00

93.250.668,00

93.250.668,00

93.250.668,00

93.250.668,00

93.250.668,00

93.250.668,00

93.250.668,00

93.250.668,00
68.620.520,00
161.871.188,00

1.487.000,00
500.000,00

1.487.000,00
500.000,00

1.487.000,00
500.000,00

1.487.000,00
500.000,00

1.487.000,00
500.000,00

9.000.000,00
2.100.000,00
10.800.000,00
24.336.000,00
33.240.000,00
8.400.000,00
7.200.000,00
2.400.000,00
99.463.000,00
(6.212.332,00)
0,89
(5.528.975,48)

9.000.000,00
2.100.000,00
10.800.000,00
24.336.000,00
33.240.000,00
8.400.000,00
7.200.000,00
2.400.000,00
99.463.000,00
(6.212.332,00)
0,80
(4.951.228,60)

9.000.000,00
2.100.000,00
10.800.000,00
24.336.000,00
33.240.000,00
8.400.000,00
7.200.000,00
2.400.000,00
99.463.000,00
(6.212.332,00)
0,71
(4.423.180,38)

9.000.000,00
2.100.000,00
10.800.000,00
24.336.000,00
33.240.000,00
8.400.000,00
7.200.000,00
2.400.000,00
99.463.000,00
(6.212.332,00)
0,64
(3.951.043,15)

9.000.000,00
2.100.000,00
10.800.000,00
24.336.000,00
33.240.000,00
8.400.000,00
7.200.000,00
2.400.000,00
99.463.000,00
62.408.188,00
0,57
35.385.442,60

47.348.000,00
61.530.200,00
7.250.000,00
5.000.000,00
7.252.000,00
91.400.000,00

219.780.200,00
(219.780.200,00)
1,00
(219.780.200,00)
IRR

: -

67

Lampiran 8. Cashflow sesuai produksi riil dengan harga jual Rp 8.400/kg. (DF16%)
No

Uraian

Tahun
0

A
1
2
B
1

Penerimaan
Nilai produksi total
Nilai sisa
Total penerimaan
Pengeluaran
Investasi
Greenhouse
Sistem Hidroponik
Listrik dan genset
Kantor dan gudang
Alat bantu pertanian
Kendaraan
Pajak
Kendaraan
PBB
Biaya Operasional
Bensin
Benih bayam
Benih kangkung
Nutrisi
Gaji karyawan
Listrik
Keamanan
Perawatan
Total pengeluaran
Net Benefit
DF(16%)
Net present value(NPV)

NPV

: - 207.451.009,10

Net B/C

: 0,13

Gross B/C

: 0,62

93.250.668,00

93.250.668,00

93.250.668,00

93.250.668,00

93.250.668,00

93.250.668,00

93.250.668,00

93.250.668,00

93.250.668,00
68.620.520,00
161.871.188,00

1.487.000,00
500.000,00

1.487.000,00
500.000,00

1.487.000,00
500.000,00

1.487.000,00
500.000,00

1.487.000,00
500.000,00

9.000.000,00
2.100.000,00
10.800.000,00
24.336.000,00
33.240.000,00
8.400.000,00
7.200.000,00
2.400.000,00
99.463.000,00
(6.212.332,00)
0,86
(5.355.651,42)

9.000.000,00
2.100.000,00
10.800.000,00
24.336.000,00
33.240.000,00
8.400.000,00
7.200.000,00
2.400.000,00
99.463.000,00
(6.212.332,00)
0,74
(4.617.005,14)

9.000.000,00
2.100.000,00
10.800.000,00
24.336.000,00
33.240.000,00
8.400.000,00
7.200.000,00
2.400.000,00
99.463.000,00
(6.212.332,00)
0,64
(3.979.619,88)

9.000.000,00
2.100.000,00
10.800.000,00
24.336.000,00
33.240.000,00
8.400.000,00
7.200.000,00
2.400.000,00
99.463.000,00
(6.212.332,00)
0,55
(3.431.070,96)

9.000.000,00
2.100.000,00
10.800.000,00
24.336.000,00
33.240.000,00
8.400.000,00
7.200.000,00
2.400.000,00
99.463.000,00
62.408.188,00
0,48
29.712.538,31

47.348.000,00
61.530.200,00
7.250.000,00
5.000.000,00
7.252.000,00
91.400.000,00

219.780.200,00
(219.780.200,00)
1,00
(219.780.200,00)
IRR

: -

68

Lampiran 9. Cashflow sesuai produksi riil dengan harga jual Rp 16.800/kg. (DF 5%)
No

Tahun

Uraian

A
1
2
B
1

Penerimaan
Nilai produksi total
Nilai sisa
Total penerimaan
Pengeluaran
Investasi
Greenhouse
Sistem Hidroponik
Listrik dan genset
Kantor dan gudang
Alat bantu pertanian
Kendaraan
Pajak
Kendaraan
PBB
Biaya Operasional
Bensin
Benih bayam
Benih kangkung
Nutrisi
Gaji karyawan
Listrik
Keamanan
Perawatan
Total pengeluaran
Net Benefit
DF(5%)
Net present value(NPV)

NPV

: 210.772.933,96

Net B/C

: 1,96

Gross B/C

: 1,32

186.501.336,00

186.501.336,00

186.501.336,00

186.501.336,00

186.501.336,00

186.501.336,00

186.501.336,00

186.501.336,00

186.501.336,00
68.620.520,00
255.121.856,00

1.487.000,00
500.000,00

1.487.000,00
500.000,00

1.487.000,00
500.000,00

1.487.000,00
500.000,00

1.487.000,00
500.000,00

9.000.000,00
2.100.000,00
10.800.000,00
24.336.000,00
33.240.000,00
8.400.000,00
7.200.000,00
2.400.000,00
99.463.000,00
87.038.336,00
0,95
82.860.495,87

9.000.000,00
2.100.000,00
10.800.000,00
24.336.000,00
33.240.000,00
8.400.000,00
7.200.000,00
2.400.000,00
99.463.000,00
87.038.336,00
0,91
78.943.770,75

9.000.000,00
2.100.000,00
10.800.000,00
24.336.000,00
33.240.000,00
8.400.000,00
7.200.000,00
2.400.000,00
99.463.000,00
87.038.336,00
0,86
75.183.714,64

9.000.000,00
2.100.000,00
10.800.000,00
24.336.000,00
33.240.000,00
8.400.000,00
7.200.000,00
2.400.000,00
99.463.000,00
87.038.336,00
0,82
71.606.439,03

9.000.000,00
2.100.000,00
10.800.000,00
24.336.000,00
33.240.000,00
8.400.000,00
7.200.000,00
2.400.000,00
99.463.000,00
155.658.856,00
0,78
121.958.713,68

47.348.000,00
61.530.200,00
7.250.000,00
5.000.000,00
7.252.000,00
91.400.000,00

219.780.200,00
(219.780.200,00)
1,00
(219.780.200,00)
IRR

: 32,33

69

Lampiran 10. Cashflow sesuai produksi riil dengan harga jual Rp 16.800/kg. (DF 12%)
No

Uraian

Tahun
0

A
1
2
B
1

Penerimaan
Nilai produksi total
Nilai sisa
Total penerimaan
Pengeluaran
Investasi
Greenhouse
Sistem Hidroponik
Listrik dan genset
Kantor dan gudang
Alat bantu pertanian
Kendaraan
Pajak
Kendaraan
PBB
Biaya Operasional
Bensin
Benih bayam
Benih kangkung
Nutrisi
Gaji karyawan
Listrik
Keamanan
Perawatan
Total pengeluaran
Net Benefit
DF(12%)
Net present value(NPV)

NPV

: 132.639.721,11

Net B/C

: 1,6

Gross B/C

: 1,23

186.501.336,00

186.501.336,00

186.501.336,00

186.501.336,00

186.501.336,00

186.501.336,00

186.501.336,00

186.501.336,00

186.501.336,00
68.620.520,00
255.121.856,00

1.487.000,00
500.000,00

1.487.000,00
500.000,00

1.487.000,00
500.000,00

1.487.000,00
500.000,00

1.487.000,00
500.000,00

9.000.000,00
2.100.000,00
10.800.000,00
24.336.000,00
33.240.000,00
8.400.000,00
7.200.000,00
2.400.000,00
99.463.000,00
87.038.336,00
0,89
77.464.119,04

9.000.000,00
2.100.000,00
10.800.000,00
24.336.000,00
33.240.000,00
8.400.000,00
7.200.000,00
2.400.000,00
99.463.000,00
87.038.336,00
0,80
69.369.553,79

9.000.000,00
2.100.000,00
10.800.000,00
24.336.000,00
33.240.000,00
8.400.000,00
7.200.000,00
2.400.000,00
99.463.000,00
87.038.336,00
0,71
61.971.295,23

9.000.000,00
2.100.000,00
10.800.000,00
24.336.000,00
33.240.000,00
8.400.000,00
7.200.000,00
2.400.000,00
99.463.000,00
87.038.336,00
0,64
55.356.381,70

9.000.000,00
2.100.000,00
10.800.000,00
24.336.000,00
33.240.000,00
8.400.000,00
7.200.000,00
2.400.000,00
99.463.000,00
155.658.856,00
0,57
88.258.571,35

47.348.000,00
61.530.200,00
7.250.000,00
5.000.000,00
7.252.000,00
91.400.000,00

219.780.200,00
(219.780.200,00)
1,00
(219.780.200,00)
IRR

: 32,33

70

Lampiran 11. Cashflow sesuai produksi riil dengan harga jual Rp 16.800/kg. (DF 16%)
No

Uraian

Tahun
0

A
1
2
B
1

Penerimaan
Nilai produksi total
Nilai sisa
Total penerimaan
Pengeluaran
Investasi
Greenhouse
Sistem Hidroponik
Listrik dan genset
Kantor dan gudang
Alat bantu pertanian
Kendaraan
Pajak
Kendaraan
PBB
Biaya Operasional
Bensin
Benih bayam
Benih kangkung
Nutrisi
Gaji karyawan
Listrik
Keamanan
Perawatan
Total pengeluaran
Net Benefit
DF(16%)
Net present value(NPV)

NPV

: 97.879.653,14

Net B/C

: 1,45

Gross B/C

: 1,18

186.501.336,00

186.501.336,00

186.501.336,00

186.501.336,00

186.501.336,00

186.501.336,00

186.501.336,00

186.501.336,00

186.501.336,00
68.620.520,00
255.121.856,00

1.487.000,00
500.000,00

1.487.000,00
500.000,00

1.487.000,00
500.000,00

1.487.000,00
500.000,00

1.487.000,00
500.000,00

9.000.000,00
2.100.000,00
10.800.000,00
24.336.000,00
33.240.000,00
8.400.000,00
7.200.000,00
2.400.000,00
99.463.000,00
87.038.336,00
0,86
75.035.749,47

9.000.000,00
2.100.000,00
10.800.000,00
24.336.000,00
33.240.000,00
8.400.000,00
7.200.000,00
2.400.000,00
99.463.000,00
87.038.336,00
0,74
64.686.891,32

9.000.000,00
2.100.000,00
10.800.000,00
24.336.000,00
33.240.000,00
8.400.000,00
7.200.000,00
2.400.000,00
99.463.000,00
87.038.336,00
0,64
55.756.758,04

9.000.000,00
2.100.000,00
10.800.000,00
24.336.000,00
33.240.000,00
8.400.000,00
7.200.000,00
2.400.000,00
99.463.000,00
87.038.336,00
0,55
48.071.272,97

9.000.000,00
2.100.000,00
10.800.000,00
24.336.000,00
33.240.000,00
8.400.000,00
7.200.000,00
2.400.000,00
99.463.000,00
155.658.856,00
0,48
74.109.181,34

47.348.000,00
61.530.200,00
7.250.000,00
5.000.000,00
7.252.000,00
91.400.000,00

219.780.200,00
(219.780.200,00)
1,00
(219.780.200,00)
IRR

: 32,33

71

Lampiran 12. Cashflow sesuai produksi riil dengan harga jual Rp 14.200/kg. (DF 5%)
No

Uraian

Tahun
0

A
1
2
B
1

Penerimaan
Nilai produksi total
Nilai sisa
Total penerimaan
Pengeluaran
Investasi
Greenhouse
Sistem Hidroponik
Listrik dan genset
Kantor dan gudang
Alat bantu pertanian
Kendaraan
Pajak
Kendaraan
PBB
Biaya Operasional
Bensin
Benih bayam
Benih kangkung
Nutrisi
Gaji karyawan
Listrik
Keamanan
Perawatan
Total pengeluaran
Net Benefit
DF(5%)
Net present value(NPV)

NPV

: 85.823.699,61

Net B/C

: 1,39

Gross B/C

: 1,13

157.638.034,00

157.638.034,00

157.638.034,00

157.638.034,00

157.638.034,00

157.638.034,00

157.638.034,00

157.638.034,00

157.638.034,00
68.620.520,00
226.258.554,00

1.487.000,00
500.000,00

1.487.000,00
500.000,00

1.487.000,00
500.000,00

1.487.000,00
500.000,00

1.487.000,00
500.000,00

9.000.000,00
2.100.000,00
10.800.000,00
24.336.000,00
33.240.000,00
8.400.000,00
7.200.000,00
2.400.000,00
99.463.000,00
58.175.034,00
0,95
55.382.632,37

9.000.000,00
2.100.000,00
10.800.000,00
24.336.000,00
33.240.000,00
8.400.000,00
7.200.000,00
2.400.000,00
99.463.000,00
58.175.034,00
0,91
52.764.755,84

9.000.000,00
2.100.000,00
10.800.000,00
24.336.000,00
33.240.000,00
8.400.000,00
7.200.000,00
2.400.000,00
99.463.000,00
58.175.034,00
0,86
50.251.594,37

9.000.000,00
2.100.000,00
10.800.000,00
24.336.000,00
33.240.000,00
8.400.000,00
7.200.000,00
2.400.000,00
99.463.000,00
58.175.034,00
0,82
47.860.600,47

9.000.000,00
2.100.000,00
10.800.000,00
24.336.000,00
33.240.000,00
8.400.000,00
7.200.000,00
2.400.000,00
99.463.000,00
126.795.554,00
0,78
99.344.316,56

47.348.000,00
61.530.200,00
7.250.000,00
5.000.000,00
7.252.000,00
91.400.000,00

219.780.200,00
(219.780.200,00)
1,00
(219.780.200,00)
IRR

: 16,59

72

Lampiran 13. Cashflow sesuai produksi riil dengan harga jual Rp 14.200/kg. (DF 12%)
No

Uraian

Tahun
0

A
1
2
B
1

Penerimaan
Nilai produksi total
Nilai sisa
Total penerimaan
Pengeluaran
Investasi
Greenhouse
Sistem Hidroponik
Listrik dan genset
Kantor dan gudang
Alat bantu pertanian
Kendaraan
Pajak
Kendaraan
PBB
Biaya Operasional
Bensin
Benih bayam
Benih kangkung
Nutrisi
Gaji karyawan
Listrik
Keamanan
Perawatan
Total pengeluaran
Net Benefit
DF(12%)
Net present value(NPV)

NPV

: 28.674.107,31

Net B/C

: 1,13

Gross B/C

: 1,05

157.638.034,00

157.638.034,00

157.638.034,00

157.638.034,00

157.638.034,00

157.638.034,00

157.638.034,00

157.638.034,00

157.638.034,00
68.620.520,00
226.258.554,00

1.487.000,00
500.000,00

1.487.000,00
500.000,00

1.487.000,00
500.000,00

1.487.000,00
500.000,00

1.487.000,00
500.000,00

9.000.000,00
2.100.000,00
10.800.000,00
24.336.000,00
33.240.000,00
8.400.000,00
7.200.000,00
2.400.000,00
99.463.000,00
58.175.034,00
0,89
51.775.780,26

9.000.000,00
2.100.000,00
10.800.000,00
24.336.000,00
33.240.000,00
8.400.000,00
7.200.000,00
2.400.000,00
99.463.000,00
58.175.034,00
0,80
46.365.502,10

9.000.000,00
2.100.000,00
10.800.000,00
24.336.000,00
33.240.000,00
8.400.000,00
7.200.000,00
2.400.000,00
99.463.000,00
58.175.034,00
0,71
41.420.624,21

9.000.000,00
2.100.000,00
10.800.000,00
24.336.000,00
33.240.000,00
8.400.000,00
7.200.000,00
2.400.000,00
99.463.000,00
58.175.034,00
0,64
36.999.321,62

9.000.000,00
2.100.000,00
10.800.000,00
24.336.000,00
33.240.000,00
8.400.000,00
7.200.000,00
2.400.000,00
99.463.000,00
126.795.554,00
0,57
71.893.079,12

47.348.000,00
61.530.200,00
7.250.000,00
5.000.000,00
7.252.000,00
91.400.000,00

219.780.200,00
(219.780.200,00)
1,00
(219.780.200,00)
IRR

: 16.59

73

Lampiran 14. Cashflow sesuai produksi riil dengan harga jual Rp 14.200/kg. (DF 16%)
No

Uraian

Tahun
0

A
1
2
B
1

Penerimaan
Nilai produksi total
Nilai sisa
Total penerimaan
Pengeluaran
Investasi
Greenhouse
Sistem Hidroponik
Listrik dan genset
Kantor dan gudang
Alat bantu pertanian
Kendaraan
Pajak
Kendaraan
PBB
Biaya Operasional
Bensin
Benih bayam
Benih kangkung
Nutrisi
Gaji karyawan
Listrik
Keamanan
Perawatan
Total pengeluaran
Net Benefit
DF(16%)
Net present value(NPV)

NPV

: 3.372.543,40

Net B/C

: 1,02

Gross B/C

: 1,01

157.638.034,00

157.638.034,00

157.638.034,00

157.638.034,00

157.638.034,00

157.638.034,00

157.638.034,00

157.638.034,00

157.638.034,00
68.620.520,00
226.258.554,00

1.487.000,00
500.000,00

1.487.000,00
500.000,00

1.487.000,00
500.000,00

1.487.000,00
500.000,00

1.487.000,00
500.000,00

9.000.000,00
2.100.000,00
10.800.000,00
24.336.000,00
33.240.000,00
8.400.000,00
7.200.000,00
2.400.000,00
99.463.000,00
58.175.034,00
0,86
50.152.696,81

9.000.000,00
2.100.000,00
10.800.000,00
24.336.000,00
33.240.000,00
8.400.000,00
7.200.000,00
2.400.000,00
99.463.000,00
58.175.034,00
0,74
43.235.685,27

9.000.000,00
2.100.000,00
10.800.000,00
24.336.000,00
33.240.000,00
8.400.000,00
7.200.000,00
2.400.000,00
99.463.000,00
58.175.034,00
0,64
37.266.926,78

9.000.000,00
2.100.000,00
10.800.000,00
24.336.000,00
33.240.000,00
8.400.000,00
7.200.000,00
2.400.000,00
99.463.000,00
58.175.034,00
0,55
32.130.071,28

9.000.000,00
2.100.000,00
10.800.000,00
24.336.000,00
33.240.000,00
8.400.000,00
7.200.000,00
2.400.000,00
99.463.000,00
126.795.554,00
0,48
60.367.363,26

47.348.000,00
61.530.200,00
7.250.000,00
5.000.000,00
7.252.000,00
91.400.000,00

219.780.200,00
(219.780.200,00)
1,00
(219.780.200,00)
IRR

: 16,59

74

Lampiran 15. Gaji karyawan (Rp/Bulan).


Tanaman kangkung
Bu Yati
460.000
Bu Asiah
460.000
Wildan
650.000
Total
1.570.000

Tanaman Bayam
Pak Mursidi
600.000
Bu Edah
350.000
Eman
250.000
Total
1.200.000

75

X2 (kangkung (bed/bulan))

Lampiran 16. Metoda grafik pada pemecahan model optimasi.


160
150
140
130
120
110
100
90
80
70
60
50
40
30
20
10
0
-10
-20
-30
-40
-50

Kendala 1
Kendala 2
Daerah optimal

Kendala 3
kendala 4

0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 110 120 130 140 150 160

X1 (bayam merah (bed/bulan))

Berdasarkan grafik tersebut, diketahui bahwa daerah optimal yang


dihasilkan adalah bagian yang diarsir. Namun yang merupakan titik kombinasi
terbaik untuk melakukan produksi kedua produk tersebut adalah titik (24,82),
dimana garis selidik pada titik tersebut adalah yang terjauh dari titik (0,0).
Keuntungan

yang

diperoleh

pada

kombinasi

titik

tersebut

adalah

Rp 9.246.742 per bulan.

76