Anda di halaman 1dari 44

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT Yang Maha
Pengasih lagi Maha Penyayang, yang telah melimpahkan rahmat dan karuniaNya,
sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan kerja praktek yang berjudul
PEMELIHARAAN PEMUTUS TENAGA TIPE GAS SF6 GARDU INDUK
150 KV LUBUK ALUNG . Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad SAW
yang telah memberi tuntunan dan pencerahan kepada umat manusia.
Penulis menyadari bahwa tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai
pihak, sulit bagi penulis untuk dapat menyelesaikan laporan kerja praktek ini.
Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Orang tua dan saudara yang telah memberikan dukungan pada penulis
dalam pelaksanaan kerjapraktek ini.
2. Bapak Ariadi Hazmi, Dr. Eng, selaku Ketua Jurusan Teknik Elektro
Fakultas Teknik Universitas Andalas.
3. Bapak Adrimen selaku pembimbing kerja praktek di PT. PLN (Persero)
Gardu Induk Lubuk Alung.
4. Bapak Edmon selaku pembimbing kerja praktek di PT. PLN (Persero)
Gardu Induk Lubuk Alung.
5. Teman-teman se-tim dalam kerja praktek di PT. PLN (Persero) Gardu
Induk Lubuk Alung., Joni Daswir, Diva Septian Jones, dan
Prabowo JMJ.

Wahyu

6. Teman-teman sesama Angkatan 2011 Jurusan Teknik Elektro Fakultas


Teknik Universitas Andalas.
7. Dan semua pihak lain yang telah memberikan dukungan.
Oleh karena itu, penulis mendoakan semoga amal kebajikan mereka
diterima di sisi Allah SWT, dan dibalas-Nya dengan pahala yang berlipat ganda.
Aamiin ya robbal alamin.
Penulis menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari kesempurnaan,baik
dari cara penyajian maupun teknik penulisan. Oleh karena itu penulis
mengharapkan kritik dan saran yang mendukung demi penyempurnaan laporan
ini.
Semoga laporan kerja praktek ini dapat bermanfaat bagi kita semua dan
bagi penulis sendiri tentunya.

Padang, Februari 2015

Penulis

ii

Abstrak
Instalasi sistem transmisi tenaga listrik mempunyai peralatan-peralatan yang
digunakan untuk melindungi sistem tenaga listrik tersebut terhadap gangguan. Salah
satunya adalah Pemutus Tenaga (Circuit Breaker ) yang berfungsi untuk menghubungkan
dan memutus arus beban atau arus gangguan.
Untuk menjaga agar Pemutus Tenaga berada dalam kondisi yang baik atau
normal, maka diperlukan adanya sebuah pemeliharaan. Hal tersebut agar menjaga kondisi
PMT tetap dalam kondisi awal, atau normal walaupun sudah dipakai beberapa lama.
Sehingga PMT akan siap memutuskan tenaga listrik apabila sewaktu-waktu terjadi
gangguan maupun pemeliharaan listrik pada sistem
Pada makalah kerja praktek ini akan dibahas bagaimana cara pemeliharaan pada
Pemutus Tenaga (Circuit Breaker) serta mengetahui parameter-parameter yang digunakan
untuk mengetahui tingkat keandalan dari Pemutus Tenaga (Circuit Breaker).
Kata Kunci : Pemutus Tenaga, Gangguan, Pemeliharaan.

iii

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR............................................................................................i
ABSTRAK.............................................................................................................iii
DAFTAR ISI..........................................................................................................iv
DAFTAR GAMBAR.............................................................................................vi
DAFTAR TABEL................................................................................................vii
BAB I vi
1.1

Latar Belakang..........................................................................................1

1.2

Tujuan........................................................................................................2

1.3

Pembatasan Masalah.................................................................................2

1.4

Manfaat Penulisan.....................................................................................2

1.5

Waktu Pelaksanaan....................................................................................3

1.6

Sistematika Penulisan................................................................................3
BAB II

2.1

Sejarah Singkat PT.PLN (Persero) Wilayah Sumber Cabang Padang......4

2.2

Tugas Pokok..............................................................................................7

2.3

Visi dan Misi PT. PLN (Persero)...............................................................7

2.4

Perkembangan Organisasi dan Bentuk Organisasi....................................8

2.5

Perkembangan Instalasi.............................................................................8
BAB III

11

3.1

Pengertian................................................................................................11

3.2

Klasifikasi Pmt........................................................................................12

3.3

Komponen Dan Fungsi............................................................................18

3.4

Failure Modes Effects Analysis(FMEA).................................................31


BAB IV

iv

32

4.1

Data Peralatan PMT...............................................................................32

4.2

Pemeliharan Peralatan PMT....................................................................32


BAB V

40

5.1

Kesimpulan..............................................................................................40

5.2

Saran........................................................................................................40
DAFTAR PUSTAKA

41

DAFTAR GAMBAR
Gambar-1 Pemutus Tenaga...................................................................................11
Gambar-2 PMT Single Pole...................................................................................13
Gambar-3 PMT Three Pole...................................................................................13
Gambar-4 Prinsip Kerja Pemadaman PMT SF6...................................................14
Gambar-5 Cara Kerja PMT Minyak....................................................................16
Gambar-6 Interupter..........................................................................................19
Gambar-7 Terminal utama...................................................................................20
Gambar-8 Isolator Pada Interrupting Chamber Dan Support...............................21
Gambar-9.........................................................................................................22
Gambar-10 Pmt Bulk Oil...................................................................................23
Gambar-11 Pmt Udara Hembus.............................................................................24
Gambar-12 Ruang Kontak Utama Pmt Vacuum Kecil..........................................25
Gambar-13 Pmt Dengan Hampa Udara.................................................................25
Gambar-14 Sistem Pegas Pilin (Helical)..............................................................26
Gambar-15 Sistem Pegas Gulung (Scroll)............................................................26
Gambar-16 Skematik Diagram Sistem Hidraulik..................................................27
Gambar-17 Diagram Mekanisme Opwrasi Pmt Sf6 Dynmicd..............................28
Gambar-18 Skematik Pmt Sf6 Dynamic...............................................................29
Gambar-19 Lemari Mekanik..............................................................................30

DAFTAR TABEL
Tabel 1 Data hasil pemeliharaan PMT...................................................................33
Tabel 2 Data hasil pengukuran tahanan kontak PMT............................................37
Tabel 3 Data hasil pengukuran tahanan pentanahan PMT.....................................37

vi

Tabel 4 Data pengukuran keserempakan PMT....................................................39

vii

BAB I
PENDAHULUAN
a. Latar Belakang
Pemeliharaan merupakan salah satu hal terpenting yang harus diperhatikan
dalam pengoperasian sistem tenaga listrik, karena dengan sistem pemeliharaan
yang baik, peralatan-peralatan pada sistem tenaga dapat beroperasi dengan baik,
sehingga kebutuhan energi listrik ke konsumen dapat terlayani dengan baik
dengan tingkat keandalan yang tinggi, selain itu harga peralatan sistem tenaga
listrik yang mahal dan investigasi yang besar dalam sistem ketenagaan listrik juga
mendorong perlunya pemeliharaan peralatan sistem tenaga listrik. Salah satu hal
yang melatarbelakangi perlunya pemeliharaan terhadap peralatan listrik adalah
karena peralatan listrik mempunyai peran yang menentukan dalam operasi suatu
sistem, misalnya Pemutus Tenaga Listrik (PMT).
PMT memiliki peran untuk menghubungkan dan memutus arus beban atau
arus gangguan. Kerusakan pada PMT sangat merugikan atau mengganggu bagi
keseluruhan operasi sistem tenaga listrik. Jika PMT tidak bekerja saat terjadi
gangguan, maka arus gangguan tersebut akan merusak peralatan yang lain, seperti
trafo tenaga yang harganya mahal serta dapat menimbulkan ketidakstabilan sistem
tenaga listrik. Baik buruknya pemeliharaan pada peralatan listrik dapat dilihat dari
umur peralatan listrik itu sendiri dan besar relatif beban yang ditanggung peralatan
listrik dalam operasi kerjanya. Umur operasi peralatan listrik dapat dijadikan tolok
ukur keberhasilan suatu sistem pemeliharaan, semakin lama umur operasi
peralatan listrik dapat dikatakan baik pula sistem pemeliharaan yang dilakukan,

sebaliknya apabila umur operasi peralatan listrik yang pendek menandakan sistem
pemeliharaan yang kurang baik. Dengan demikian, diharapkan dengan adanya
pemeliharaan, peralatan listrik dapat bekerja lebih lama dengan performa
maksimal sehingga meningkatkan kualitas sistem tenaga listrik.

b. Tujuan
Tujuan penulisan laporan kerja praktek ini adalah:
a. Mengetahui prinsip kerja Pemutus Tenaga Listrik.
b. Mengetahui dan memahami cara pemeliharaan pada peralatan listrik,
terutama pada PemutusTenaga Listrik (Circuit Breaker).

c. Pembatasan Masalah
Dalam Laporan Kerja Praktek ini, penulis membatasi masalah pada
pemutus tenaga tipe gas SF6 yang berada pada bay trafo 2 20 MVA GI Lubuk
Alung dan pemeliharaannya secara umum dan tidak membahas mengenai sistem
proteksi.
d. Manfaat Penulisan
Manfaat penulisan laporan kerja praktek ini adalah pembaca khususnya
administrator multymedia dapat memahamicara mengkonfigurasi beberapa metro
ethernet yang melayani node B Telkomsel.

e. Waktu Pelaksanaan
Kerja Praktek dilaksanakan mulai tanggal 19 Januari 2015 hingga 20
Februari 2015. Jam kerja yang digunakan adalah lima hari kerja, Senin Jumat
pukul 08.00 16.00.
f. Sistematika Penulisan
BAB I :

PENDAHULUAN
Bab ini menjelaskan secara ringkas tentang latar belakang, batasan
masalah,tujuan

penulisan,

manfaat

penulisan,

dan

sistematika

penulisan.
BAB II : TINJAUAN UMUM PERUSAHAAN
Bab ini memaparkan profil PT. PLN (Persero) secara umum,
mencakup sekilas sejarah perkembangan, visi dan misi, struktur
organisasi,dan nilai yang dianut oleh PT. PLN (Persero)
BAB III : TEORI
Bab ini menjelaskan tentang teori Pemutus Tenaga, fungsi, tipe, cara
kerja, bentuk fisik daripada Pemutus Tenaga.
BAB IV: PEMBAHASAN
Bab ini menjelaskan tentang pemeliharaaan Pemutus Tenaga Tipe SF6
150 KV Gardu Induk Lubuk Alung
BAB V :

PENUTUP
Bab ini berisikan kesimpulan dan saran.

DAFTARPUSTAKA

BAB II
TINJAUAN UMUM PT. PLN (Persero) P3B SUMATERA UNIT
PELAYANAN TRANSMISI (UPT) PADANG
1. Sejarah Singkat PT.PLN (Persero) Wilayah Sumber Cabang Padang
Kelistrikan di kota Padang dimulai pada tahun 1952 dengan didirikannya
Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) Simpang Haru yang memiliki daya
terpasang 2 x 772 kW pada awalnya. Pengelolaan PLTD Simpang Haru dibawah
PLN Cabang Padang. Pada tahun 1963 ditambah lagi pemasangan diesel 2 x 1
MW di PLTD Simpang Haru. Pada tahun 1968 ditambah lagi pemasangan diesel
di PLTD Simpang Haru 1 x 900 kW.
Peraturan pemerintahan No. 18 / 1972 Perusahaan Listrik berubah menjadi
Perum. Pada tahun 1973 ditambah lagi pemasangan diesel di PLTD Simpang Haru
1 x 1240 kW. Pada tahun 1975 ditambah lagi pemasangan 1 unit diesel di PLTD
Simpang Haru 1 x 2340 kW. Pada tahun 1977 ditambah 2 unit diesel di PLTD
Simpang Haru 2 x 2520 kW.
Pada tahun 1978 ditambah lagi 2 unit diesel di PLTD Simpang Haru 2 x 40
kW. Pada tahun 1982 dibangun Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) Pauh
Limo Alsthom I, II dengan daya terpasang 2 x 23,5 kW. Pada tahun 1983
berdirinya PLN Sektor Padang dan Pemindahan PLTD Simpang Haru di bawah
PLN Cabang Padang menjadi asset PLN Sektor Padang dibawah PLN Wilayah
III, sebagai kepala PLN Sektor Padang Pertama adalah Ir. Abimanyu Suyoso.
Pada tanggal 12 maret 1983 beroperasinya PLTG Pauh Limo, Alsthom I &
II SUTM 20 k V Indarung dan GI / 6 kV Indarung (khusus untuk pelayanan PT.
Semen Padang). Pada tanggal 26 Mei 1983 peresmian instalasi peralatan
pembangkit dan penyaluran energi listrik PLN (Persero) Sektor Padang oleh

Presiden RI Soeharto. Pada tanggal 14 September 1983 peresmian SUTT 150 kV


Maninjau-Pauh Limo (4 x 17 MW). Pada tanggal 12 Februari 1986 Pengoperasian
GH Simpang Haru dan Bulan April 1986 pengoperasian SUTT 150 kV Pauh Limo
Ombilin / Salak beserta GI Solok dan GI Ombilin / Salak.
Pada bulan juli 1988 pelaksanaan pengoperasian GI Indarung 150 kV .
Pada tanggal 26 Desember 1990 penggantian kepala PLN Sektor Padang dari Ir.
Abimanyu Suyoso kepada Ir. Suharso. Pada Tahun 1993 penambahan Pembangkit
Listrik Tenaga Gas (PLTG) sebanyak 2 unit general elektrik dengan kapasitas 30
MW per-unit, lokasinya Pauh Limo. Peraturan pemerintah No. 23/ 1994 tanggal
16 Juni 1994 tentang pengalihan Perusahaan Umum Listrik Negara menjadi
PT.PLN (Persero) dengan akte notaris Sutjipto, SH No. 169 tanggal 30 Juni 1994
di Jakarta. Pada tanggal 5 Agustus 1994 dilaksanakan penambahan 1 unit Alsthom
PLTG Pauh Limo (Relokasi dari Tambang Lorok Semarang) dengan kapasitas
21,3 MW dan pengoperasian unit general elektrik I & II dengan daya terpasang 2
x 34 MW. Pada tahun 1995 pemindahan kantor PT.PLN (Persero) Sektor Padang
dari komplek PLTG Pauh Limo ke kantor baru Jl. By Pass km 6 Lubuk Begalung
Padang.
Pada tanggal 6 April 1995 penggantian kepala PT. PLN (Persero) Sektor
Padang dari Bapak Ir.Suharso kepada Ir. Purwoko berdasarkan surat keputusan
direksi PT.PLN (Persero) Pusat No. 005. K/023/DIR/1994 tanggal 12 Februari
1994, tentang perubahan struktur organisasi PT.PLN (Persero) Wilayah III
Sumbar Riau Sektor Padang Pola VII kelas II. Keputusan direksi PT.PLN
(Persero) No. 118.K/023/DIR/ tanggal 18 November 1996, tentang penetapan
tingkat unit pelaksana induk PT.PLN (Persero) Kitlur Sumbagsel. Keputusan
direksi PT.PLN (Persero) No. 112.K/023/DIR/1996 tanggal 18 November 1996,

tentang penetapan unit administrasi yang masuk dalam lingkup PT.PLN (Persero)
Sumbagsel. Pada tahun 1997 dibangun Gardu Induk Padang Industrial Park yang
interkoneksi dengan Gardu Induk Pauh Limo dan Gardu Induk Lubuk Alung.
Selanjutnya pada tahun 2000 Gardu Induk Padang Industrial Park diresmikan
untuk operasi melayani kebutuhan industri dan penerangan disekitar wilayah
Padang Industrial Park dengan daya terpasang 20 MVA. Instalasi yang dikelola
PT.PLN (Persero) Sektor Padang yang awal berdirinya terdiri dari 10 unit PLTD
(Simpang Haru) dengan total daya terpasang 15,50 MW. Selanjutnya instalasi
pembangkitan dan penyaluran yang semula dikelola Cabang Padang diserahkan
pengelolaannya ke PLN Sektor Padang dengan unit asuh :
1.

Unit PLTD Simpang Haru

2.

Unit PLTG Pauh Limo

3.

Unit Tragi Padang

4.

Unit Tragi Solok


Kemudian Kitlur Sumbagsel pecah menjadi P3B Sumatera UPT Padang

berdasarkan SK. Direksi No. 021.K/010/DIR/2005 tanggal 27 Januari 2005


tentang Organisasi PT.PLN (Persero) Penyaluran dan Pusat Pengaturan Beban
Sumatera Unit Pelayanan Transmisi Padang yang diberlakukan tanggal 1 Mei
2005, dengan unit asuh :
1.

Tragi Padang

2.

Tragi Solok

3.

Tragi Padang Luar

4.

Tragi Payakumbuh

5.

Tragi Kiliran Jao

6.

Tragi Garuda Sakti


2. Tugas Pokok
Tugas pokok yang dibebankan pada UPT Padang adalah :

1)

Menyelenggarakan pengoperasian dan pemeliharaan instalasi penyaluran


dan gardu induk serta sarana pendukung sesuai pedoman dan petunjuk.

2)

Membuat usulan dan Rencana Anggaran Operasi dan Anggaran Investasi.

3)

Melakukan pembinaan SDM dalam rangka terjaminnya pelayanan tenaga


listrik yang optimal kepada konsumen untuk mencapai Visi dan Misi
Perusahaan PT.PLN (Persero) Wilayah Sumbar Cabang Padang. Sebagai
berikut :
3. Visi dan Misi PT. PLN (Persero)
a. Visi antara lain :
1. Mempertahankan posisi sebagai market leader.
2. Mewujudkan perusahaan sejajar kelas dunia.
3. SDM yang profesional.
4. Aktivasi usaha akrab lingkungan.
b. Misi antara lain :
1. Memberikan kontribusi dalam pembangunan nasional.
2. Melakukan usaha sesuai kaidah ekonomi sehat.
3. Menjaga kualitas produk.
4. Memuaskan pelanggan.

4. Perkembangan Organisasi dan Bentuk Organisasi


Pada awal berdirinya tahun 1983 PLN Sektor Padang merupakan unit asuh
PT.PLN wilayah III yang bertanggung jawab atas penyelenggaraaan kelistrikan
sistem Sumatera Barat dan Riau khusus untuk sektor Padang wilayah kerjanya
meliputi kota / kabupaten di Provinsi Sumatera Barat kecuali Kota Bukittinggi
dan sekitarnya. Tahun 1994 bentuk organisasi PT.PLN berubah dari Perusahaan

Umum (Perum) menjadi Perseroan Terbatas (PT). Sejak November 1996 PLN
Sektor Padang yang semula berada dibawah PLN wilayah III selanjutnya
menginduk ke PLN Pembangkitan dan Penyaluran Sumatera Bagian Selatan
(KITLUR). Pada bulan Mei 2005 Sektor Padang berubah menjadi Unit Pelayanan
Transmisi (UPT) Padang, semula berkantor induk di KITLUR sumatera bagian
selatan dan kini berpindah ke Penyaluran dan Pusat Pengaturan Beban (P3B)
Sumatera dan berkedudukan di Padang.
Susunan Organisasi UPT Padang sebagai berikut :
a. Manajer
b. Asisten Manajer Perencanaan dan Evaluasi
c. Asisten Manajer Operasi dan Pemeliharaan
d. Asisten Manajer Administrasi dan Keuangan
e. Unit Tragi
5. Perkembangan Instalasi
Instalasi yang dikelola oleh UPT Padang adalah unit Tragi sebagai berikut :
1. Tragi Pariaman
Terdiri dari GI Padang Industrial Park (P.I.P), GI Lubuk Alung, GI Singkarak
dan GI Pariaman.
2. Tragi Padang
Terdiri dari GI Solok, GI Pauh Limo, GIS Simpang Haru, dan GI I indarung.
3. Tragi Padang Luar
Terdiri dari GI Padang Luar, GI Maninjau, GI Simpang Empat, dan GI Padang
Panjang.
4. Tragi Payakumbuh

Terdiri dari GI Payakumbuh dan GI Batusangkar.


5. Tragi Kiliran Jao
Terdiri dari GI Kiliran Jao, GI Salak, GIS Ombilin, dan GI Teluk Kuantan.
6. Struktur Organisasi PT.PLN (Persero) P3B Sumatera Unit Pelayanan
Transmisi (UPT) P adang
Manajer membawahi :
a. Asisten Manajer Perencanaan dan Evaluasi
b. Asisten Manajer Operasi dan Pemeliharaan
c. Asisten Manajer Administrasi dan Keuangan
d. Kepala Tragi :
1. Tragi Pariaman
2. Tragi Padang
3. Tragi Padang Luar
4. Tragi Payakumbuh
5. Tragi Kiliran Jao
Dimana masing-masing kepala TRAGI membawahi :
a. Supervisor Operasi dan Pemeliharaan Gardu Induk
b. Supervisor Operasi dan Pemeliharaan Jaringan
c. Supervisor Administrasi

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
a. Pengertian
Berdasarkan IEV(Intemational Electrotechnical Vocabulary)

441-14-20

disebutkan bahwa Circuit Breaker(CB) atau Pemutus Tenaga(PMT) merupakan


peralatan saklar switching mekanis, yang mampu menutup, mengalirkan dan
memutus arus beban dalam kondisi normal serta mampu menutup, mengalirkan
(dalam penode waktu tertentu) dan memutus arus beban dalam spesifik kondisi
abnormal gangguan seperti kondisi short circuit hubung singkat. Fungsi utamanya
adalah sebagai alat pembuka atau penutup suatu rangkaian listrik dalam kondisi
berbeban, serta mampu membuka atau menutup saat teradi arus gangguan hubung
singkat pada jaringan atau peralatann lain.

Gambar-1 Pemutus Tenaga

10

b. Klasifikasi Pmt
Klasifikasi Pemutus Tenaga dapat dibagi atas beberapa jenis. antara lain
berdasarkan tegangan ratingnominal, jumlah mekanik penggerak, media isolasi,
dan proses pemadaman busur api jenis gas SF6 :
a. Berdasarkan besar / kelas tegangan (Um)
PMT dapat dibedakan menjadi PMT tegangan rendah(Low Voltage)
Dengan range tegangan 0.1 s/d 1 kV SPLN 1.1995-33)
1) PMT tegangan menengah(Medium Voltage)
Dengan range tegangan 1 s/d 35 kV(SPLN 1.1995
2) PMT tegangan tinggi(High Voltage)
Dengan range tegangan 35 s/d 245 kV(SPLN 1.1995 3.5)
3) PMT tegangan extra tinggi(Extra High Voltage)
Dengan range tegangan lebih besar dari 245 kVAC(SPLN 1.1995-36)

b. Berdasarkan jumlah mekanik penggerak tripping coll


PMT dapat dibedakan menjadi :
1) PMT Single Pole
PMT type ini mempunyai mekanik penggerak pada masing masng
pole. umumnya PMT jenis ni dipasang pada bay penghantar agar
PMT bisa reclose satu fasa

Gambar-2 PMT Single Pole

11

2) PMT Three Pole


PMT jenis ini mempunyai satu mekanik penggerak untuk tiga fasa,
guna menghubungkan fasa satu dengan fasa lainnya di lengkapi
dengan kopel mekank. umumnya PMT jenis ini di pasang pada bay
trafo dan bay kopel serta PMT 20 kV untuk distribusi.

Gambar-3 PMT Three Pole


c. Berdasarkan media isolasi
Jenis PMT dapat dibedakan menjadi
1) PMT Gas SF6
Media gas yang digunakan pada tipe PMT ini adalah Gas SF6
(Sulphur Hexafluoride). Sifat-sifat gas SF6 murni ialah tidak
berwarna, tidak berbau, tidak beracun dan tidak mudah terbakar. Pada
temperatur diatas 150C gas SF6 mempunyai sifat tidak merusak
metal, plastik dan bermacam-macam bahan yang umumnya digunakan
dalam pemutus tenaga tegangan tinggi. Sebagai isolasi listrik, gas SF6
mempunyai kekuatan dielektrik yang tinggi (2,35 kali udara) dan
kekuatan dielektrik ini bertambah dengan pertambahan tekanan. Sifat

12

lain dari gas SF6 ialah mampu mengembalikan kekuatan dielektrik


dengan cepat, tidak terjadi karbon selama terjadi busur, tidak mudah
terbakar (thermal conductivit) yang baik, tidak menimbulkan bunyi
berisik.

Gambar-4 Prinsip Kerja Pemadaman PMT SF6


Pada gambar 4 memperlihatkan prinsip kerja PMT SF6 secara
umum. Sebelum terjadi gangguan atau dalam kondisi normal, PMT
dalam keadaan tertutup, kontak tetap dan kontak bergerak masih
terhubung (a). Saat terjadi gangguan, kontak bergerak ditarik oleh
mekanik penggerak namun gas SF6 belum dilepaskan (b). Ketika
kontak bergerak dan kontak tetap benar-benar terpisah, akan muncul
busur api akibat arus yang besar, kemudian gas SF6 dilepaskan untuk
memadamkan busur api tersebut (c). Beberapa saat kemudian busur
api padam (d).
2) PMT Minyak
Menggunakan minyak isolasi sebagai media pemadam busur api yang
timbul pada saat PMT bekerja membuka atau menutup. Minyak yang
berada

diantara

kontak

sangat

efektif

memutuskan

arus.

Kelemahannya adalah minyak mudah terbakar dan kekentalan minyak


memperlambat pemisahan kontak, sehingga tidak cocok untuk sistem
yang membutuhkan pemutusan arus yang cepat. Gambar 3
13

memperlihatkan busur api yang timbul akibat pemutusan kontakkontak pada PMT, busur api tersebut akan dipadamkan oleh media
isolasi minyak yang menyelubunginya. PMT jenis ini digunakan
mulai dari tegangan menengah 6 kV sampai tegangan
ekstra tinggi 425 kV dengan arus nominal 400A sampai
1250A dengan arus pemutusan simetris 12 kA sampai 50
kA. Jenis PMT dengan minyak ini dibedakan menjadi :
- PMT menggunakan banyak minyak (bulk oil)
- PMT menggunakan sedikit minyak (small oil)

Gambar-5 Cara Kerja PMT Minyak


3) PMT Udara Hembus(Air Blast)
PMT ini menggunakan udara sebagai pemutus busur api dengan
menghembuskan udara ke ruang pemutus. PMT ini disebut PMT
Udara Hembus (Air Blast Circuit Breaker). Pada PMT udara hembus
juga disebut compressed air circuit breaker, udara tekanan tinggi
dihembuskan ke busur api melalui nozzle. Setelah pemadaman busur
api dengan udara tekanan tinggi, udara ini juga berfungsi mencegah
14

restriking voltage (tegangan pukul). Kontak PMT ditempatkan di


dalam isolator dan juga katup hembusan udara.
4) PMT Hampa Udara(Vacuum)
Kontak-kontak pemutus dari PMT ini terdiri dari kontak tetap dan
kontak bergerak yang ditempatkan dalam ruang hampa udara. Ruang
hampa udara ini mempunyai kekuatan dielektrik (dielektrik strength)
yang tinggi dan sebagai media pemadam busur api yang baik. PMT
jenis vacuum kebanyakan digunakan untuk tegangan menengah dan
hingga saat ini masih dalam pengembangan sampai tegangan 36 kV.
d. Berdasarkan proses pemadaman busur api listrik diruang pemutus
PMT SF6 dapat dibagi dalam 2(dua) jenis, yaitu:
1) PMT jenis Tekanan Tunggal(single pressure type)
PMT tensi gas SF6 dengan tekanan kira-kira 5 Kg /cm2. selama
teradi proses pemisahan kontak kontak, gas sF6 ditekan/( fenomena
thermal overpressure) ke dalam suatu tabung cynder yang menempel
pada kontak bergerak selanjutnya saat tenadi pemutusan, gas SF6
ditekan melalui nozze yang menimbukan tenaga hembus/tiupan dan
tiupan ini yang memadamkan busur api
2) PMT jenis Tekanan Ganda(double pressure type)
PMT terisi gas sF6 dengan sistim tekanan tinggi kira-kira 12
Kg/cm2 dan sistim tekanan rendah kira-kira 2 Kg/cm2. pada waktu
pemutusan busur api gas sF6 dan sistim tekanan tinggi dialirkan
melalui nozzle ke sistim tekanan rendah, Gas pada sistim tekanan
rendah kemudian dipompakan kembali ke sistim tekanan tinggi, saat
ini PMT SF6 tipe ini sudah tidak diproduksi lagi.

15

c. Komponen Dan Fungsi


Sistem Pemutus(PMT) terdiri dari beberapa sub-sistem yang memiliki
beberapa komponen. Pembagian komponen dan fungsi dilakukan berdasarkan
Failure Modes Effects Analysis(FMEA), sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Penghantar arus listrik(electrical current carrying)


Sistem isolasi(electrical insulation)
Media pemadam busur api
Mekanik penggerak
Control/Auxilary circuit
Struktur mekanik
Sistem pentanahan(grounding)

a. Penghantar arus listrik(electrical current carrying)


Merupakan bagian PMT yang bersifat konduktif dan berfungsi untuk
menghantarkan mengalirkan arus listrik. Penghantar arus listrik pada PMT terdiri
dari beberapa bagan antara lain:
1. Interrupter
Merupakan bagian terjadinya proses membuka atau menutup kontak
PMT. Didalamnya terdapat beberapa jenis kontak yang berkenaan
langsung dalam proses penutupan atau pemutusan arus, yaitu:
1) Kontak bergerak moving contact
2) Kontak tetap/fixed contact
3) Kontak arcing arcing contact

16

Gambar-6 Interupter
2. Asesoris dari interrupter (jika ada)
Terdiri dari
1) Resistor
Resistor /tahanan dipasang paralel dengan untuk pemutus utama
bekera hanya pada saat teradinya penutupan kontak PMT dan
berungsi untuk:
- Mengurangi kenaikan harga dari tegangan pukul pestriking
-

vonge)
Mengurangi arus pukulan(chopping cumenn pada waktu

pemutusan
Meredam lebih karena mengoperaskan PMT tanpa beban

tegangan pada penghantar panjang


2) Kapasitor
- Kapasitor terpasang paralel dengan tahanan,
-

unit pemutus

utama dan unit pemutus pembantu yang berfungsi untuk


Mendapatkan pembagian tegangan (Voltage distribution) yang
sama pada setiap celah kontak, sehingga kapasitas pemutusan

breaking capacity) pada setiap celah adalah sama besarnya.


Meningkatkan kinerja PMT pada penghantar pendek dengan
mengurangi frekuensi kerja

3. Terminal utama

17

Bagian dari PMT yang merupakan titik sambungan koneksi antara


PMT dengan konduktor luar dan berfungsi untuk mengalirkan arus
dari atau ke konduktor luar.

Gambar-7 Terminal utama

b. Electrical Insulation
Berfungsi sebagai isolasi bagian yang bertegangan dengan yang tidak
bertegangan serta antara bagian yang bertegangan. Pada Pemutus(PMT)
terdiri dari 2(dua) bagian isolasi yang berupa isolator, yaitu:
1. Isolator ruang pemutus(Interrupting Chamber )
Merupakan isolator yang berada pada interrupting chamber(1)
2. Isolator support penyangga
Merupakan isolator yang berada pada support penyangga (2)

18

Gambar-8 Isolator Pada Interrupting Chamber Dan Support

c. Media pemadam busur api


Berfungsi sebagai media pemadam busur api yang timbul pada saat PMT
bekena membuka atau menutup. Berdasarkan media pemadam busur api.
PMT dapat dibedakan menjadi beberapa macam antara lain :
1. Pemadam busur api dengan gas SF6
Menggunakan gas sF6 sebagai media pemadam busur api yang
tmbul pada waktu memutus arus listrik.

Sebagai isolasi gas sF6

mempunyai kekuatan dielektrk yang lebh tinggi dibandingkan dengan


udara

dan kekuatan

dielektrik

ini

berambah

senng dengan

pertambahan tekanan. Umumnya PMT jenis ini merupakan tipe


tekanan tunggal(single pressure type)
membuka atau menutup PMT,

dimana selama operasi

gas sF6 ditekan ke dalam suatu

tabung/silinder yang menempel pada kontak bergerak. Pada waktu


pemutusan,

gas SF6 ditekan melalui nozze dan tiupan ni yang

memakan busur api.

19

Gambar-9

Keterengan gambar :
1. Mekanisme penggerak (operating mechanism).
2. Pemutus (interrupter).
3. Isolator penyangga dari porselen rongga (hollow support
insulator porcelen).
4. Batang penggerak.
5. Penyambung diantara no.4 dan no. 12 (linkages).
6. Terminal-terminal.
7. Saringan (filters).
8. Silinder bergerak (movable cylinder).
9. Torak tetap (fixed piston)
10. Kotak tetap (fixed contact)

2. Pemadam busur api dengan oil/ minyak


Menggunakan minyak isolasi sebagai media pemadam busur api yang
tmbul pada saat PMT bekera membuka atau menutup. Jenis PMT
dengan minyak ini dapat dibedakan menjadi :
1) PMT menggunakan banyak minyak(bulk oil)
2) PMT menggunakan sedikit minyak(small oil)
PMT jenis ini digunakan mulai dari tegangan menengah 6 kv
sampai tegangan ekstra tinggi 425 kV dengan arus nominal 400 A
sampai 1250 A dengan arus pemutusan simetris 12 KA sampai 50
kA.

20

Gambar-10 Pmt Bulk Oil

3. Pemadam busur api dengan udara hembus / air blast


PMT udara sebagai media pemadam busur api dengan ini
menggunakan menghembuskan udara ke ruang pemutus. PMT ini
disebut juga sebagai PM Udara Hembus(Air Blast).

Gambar-11 Pmt Udara Hembus

4. Pemadam busur api dengan Hampa Udara (Vacuum)

21

Ruang hampa udara mempunyai kekuatan dielektrik (dielektrik


strength) yang tinggo dan sebagai media pemadam busur api yang
baik.

Saat ini , PMT jens vacuum umumnya digunakan untuk

tegangan menengah (24kv). Jarak (gap) antara kedua katoda adalah 1


cm untuk 15 kV dan bertambah 0.2 cm setiap kenaikan tegangan 3 kv.
Untuk pemutus vacuum tegangan tnggi, digunakan PMT jenis ini
dengan dihubungkan secara serie. Ruang kontak utama(breaking
chambers) dibuat dari bahan antara lain porcelain kaca atau plat baja
yang kedap udara. Ruang kontak utamanya tidak dapat dipehara dan
umur kontak utama sekitar 20 tahun. Karena kemampuan ketegangan
delektrkum yang tinggi maka bentuk fisik pmt jenis ini relatif kecil

Gambar-12 Ruang Kontak Utama(Breaking Chamber) Pada Pmt Vacuum Kecil

22

Gambar-13 Pmt Dengan Hampa Udara

d. Sistem Penggerak
Berfungsi menggerakkan kontak gerak(moving contact)

untuk operasi

pemutusan atau penutupan PMT. Terdapat beberapa jenis sistem penggerak


pada PMT, antara lain:

1. Penggerak pegas (spring Drive)


Mekanis penggerak PMT menggunakan pegas(spring terdn dari 2
macam, dengan yaitu :
1) Pegas pilin(helical spring)
PMT jenis ini menggunakan pegas pilin sebagai sumber tenaga
penggerak yang ditarik atau di regangkan oleh motor melalui
rantai.

Gambar-14 Sistem Pegas Pilin (Helical)


2) Pegas gulung(scroll spring)
PMT ini menggunakan pegas gulung untuk sumber tenaga
penggerak yang di putar oleh motor melalui roda gigi. Gambar
sistm pegas pilin Gamr sistem pegas gulung

23

Gambar-15 Sistem Pegas Gulung (Scroll)


2. Penggerak Hidrolik Penggerak mekanik
PMT hidrolik adalah rangkaian gabungan dan beberapa
komponen mekanik,

elektrik dan hidrolik oil yang dirangkai

sedemikian rupa sehingga dapat berfungsi sebagai penggerak untuk


membuka dan menutup PMT.
- Skematik diagram Hidrolik dan Elektrik . Skematik diagram
sistem hydraulic dan elektrik berikut:
Merupakan
skematk
sederhana

untuk

memudahkan

pemahaman cara kerja sistem hydraulic dan keterkaitannya


dengan sistem elektrik. Pada kondisi PMT membuka keluar,
sistem hidrolik tekanan tinggi tetap pada possi seperti gambar
piping

diagram,

di

rendah(wama pada biru)

mana

minyak

hidrolik

tekanan

bertekanan sama dengan tekanan

Atmosfir dan(warna merah) bertekanan tngs hingga 360 bar.

24

Gambar-16 Skematik Diagram Sistem Hidraulik


3. Penggerak Pneumatic
Penggerak mekanik PMT pneumatic adalah rangkaian gabungan dari
beberapa komponen mekanik. elektrik dan udara bertekanan yang
dirangkai sedemikian rupa sehingga dapat berfungsi sebagai
penggerak untuk membuka dan menutup PMT.

4. SF6 Gas Dynamic


PMT jenis ini media memanfaatan tekanan gas sF6 yang
bertungsi

ganda

sean

sebagai

pemadam

tekanan

gas

juga

dimanfaatkan sebagai media penggerak Setiap PMT terdiri dari 3


identik pole, dimana masing-masing merupakan unit komplit dari
Intempter, isolator tumpu. dan power aktuator yang digerakkan oleh
gas sF6 masing-masing pole dalam cycle tertutup

Energi untuk

menggerakkan kontak utama terjadi karena adanya perbedaan tekanan


gas SF6 antara Volume yang terbentuk dalam interrupter dan isolastor
tumpu Volume dalam enclosure mekanik penggerak

25

Gambar-17 Diagram Mekanisme Opwrasi Pmt Sf6 Dynmicd

Gambar-18 Skematik Pmt Sf6 Dynamic


1. HV terminal
2. Fixed arcing contact
3. Nozzle
4. Moving main contact
5. Upper porcelain insulator
6. Insulating rod
7. Opening valve group
8. Closing valve group
9. Auxiliary contacts
10. Compressor
11. Gas filling valve
e. Control/Auxiliary Circuit

26

Terdiri dari:
1. Lemari mekanik control.
Berfungsi untuk melindungi peralatan tegangan rendah dan sebagai
tempat secondary equipment.

2. Terminal dan Wiring control


Sebagai terminal wiring kontrol PMT serta memberikan trigger pada
menk enggerak untuk operasi PMT

Gambar-19 Lemari Mekanik

f. Struktur Mekanik
Terdiri dari struktur besi/beton serta pondasi sebagai dudukan struktur
peraatan Pemutus(PMT) :
1. Struktur besi baja atau beton
Adalah rangkaian besi baja atau beton yang dibentuk sedemikian rupa
sehingga bentuk dan ukuran disesuaikan dengan kebutuhan peralatan
yang akan dipasang. Berfungsi sebagai penyangga peralatan / dudukan
PMT yang bahannya terbuat dari besi baja atau beton.
2. Pondasi
Adalah bagian dari suatu sistem rekayasa teknik yang mempunyai
fungsi untuk memikul beban luar yang bekerja dan beratnya sendiri

27

yang pada akhimya didistribusikan dan disebarkan pada lapisan tanah


dan batuan yang berada dibawahnya untuk distabilisasi. Sebagai
dudukan struktur peralatan PMT, terbuat dari beton.
g. Sistem Pentanahan / Grounding
Sistem pentanahan atau biasa disebut sebagai grounding adalah
sistam pengamanan terhadap perangkat-perangkat yang mempergunakan
listrik sebagai sumber tenaga.

dan lonjakan listrik,

petir dll. Fungsi

pentanahan peralatan listrik adalah untuk menghindari bahaya tegangan


senth bila terjadi gangguan atau kegagalan isolasi pada peralatan / instalasi
dan pengaman terhadap peralatan.

d. Failure Modes Effects Analysis(FMEA)


Failure Modes and Effects Analysis (FMEA) adalah prosedur analisa dari
model kegagalan(failure modes) yang dapat terjadi dalam sebuah sistem untuk
diklasifikasikan berdasarkan hubungan sebab-akibat dan penentuan efek dari
kegagalan tersebut terhadap sistem.

BAB IV
PEMBAHASAN
a. Data Peralatan PMT
Merk

: ABB Schaltanlagen GMBH

Type

: LTB 170 DI

Macam

: 6CB

28

Standar

: IEC

Nomor Seri

: GP 33 / 3037 / 1

Breaking cap/current

: 40 KA

Arus Nominal

: 1250 A

Tegangan Kerja

: 170 kV

Jenis Media Gas/Oil

: SF6

Tekanan Udara Gas

: 0,7 MPa

Berat Gas SF6

: 8,6 kg

Frekuensi

: 50 Hz

Tahun Buatan

: 1993

Tahun Operasi

: 1997

b. Pemeliharan Peralatan PMT


a. In Service / Visual Inspection
In Service Inspection adalah inspeksi / pemeriksaan terhadap peralatan
yang dilaksanakan dalam keadaan peralatan beroperasi/bertegangan (on-line),
dengan Menggunakan 5 panca indera (five senses) dan metering secara sederhana,
dengan pelaksanaan periode tertentu (Harian, Mingguan, Bulanan, Tahunan)
Tabel 1 Data hasil pemeliharaan PMT

No

Kondisi

Kondisi

awal

akhir

Peralatan yang diperiksa

simpulan

Pentanahan
1
2

a. Kawat Pentanahan
b. Terminal Pentanahan
Lemari (Box Control)

Baik
Baik

29

Baik
Baik

Baik

a. Baut-baut wiring kontrol dan


Kencang

Kencang

proteksi
b. Kebersihan
c. Heater

Bersih
Baik

Bersih
Baik

d. Sumber tegangan AC/DC

Baik

Baik

e. Karet pintu
f. Lubang binatang

Baik
Tidak

Baik
Tidak

Kotor
Tidak
Tidak
Bersih

Bersih
Tidak
Tidak
Bersih

a. Mekanis penggerak

Normal

Normal

b. Mur baut
c. Pelumasan pada roda gigi dan

Kencang

Kencang

Baik

Baik

Normal
Normal

Normal
Normal

Normal
Tidak

Normal
Tidak

a. Posisi ON (lokal)

Normal

Normal

b. Posisi OFF (lokal)

Normal

Normal

c. Posisi ON (remote)

Normal

Normal

d. Posisi OFF (remote)


e. Indikasi posisi ON OFF

Normal
Normal

Normal
Normal

Baik

Bodi dan Isolator


3

a.
b.
c.
d.

Kebersihan
Bagian bodi yang lecet, berkarat
Bagian bhusing yang retak
Mekanik penggerak

Baik

Sistem Penggerak

pegas transmisi
d. Pengungkit
e. Pemeriksaan motor pengisi pegas
f. Pemeriksaan triping / clossing

Baik

coil
Indikator
5

a. Level minyak
b. Tekanan gas SF6
c. Kebocoran / rembes

Baik

Percobaan ON / OFF

Counter
a. Pemeriksaan dan pengujian
30

Baik

counter
b. Pemeriksaan posisi penunjukan
Normal

Normal

Baik

Kokoh

Kokoh

Baik

Baik

Baik

Baik

Baik

Baik

Baik

indikator
8

Pondasi
Kekencangan konektor jumper

9
dengan peralatan lain
Pengecekan tanda-tanda fas adan
10
tagging

Dari tabel 1 di atas dapat dilihat bahwa Pemutus Tenaga tersebut dalam kondisi
normal.

Hasil

pemeliharaan

menunjukkan

bahwa

dengan

dilakukannya

pemeliharaan, kondisi peralatan menjadi lebih baik.

b. Pengukuran Tahanan Isolasi


Pengukuran tahanan isolasi pemutus tenaga (PMT) ialah proses
pengukuran dengan suatu alat ukur Insulation Tester (megger) untuk memperoleh
hasil (nilai/besaran) tahanan isolasi pemutus tenaga antara bagian yang diberi
tegangan (fasa) terhadap badan (case) yang ditanahkan maupun antara terminal
masukan (I/P terminal) dengan terminal keluaran (O/P terminal) pada fasa yang
sama. Pada dasarnya pengukuran tahan isolasi PMT adalah untuk mengetahui 5
besar/nilai kebocoran arus (leakage current) yang terjadi antara bagian yang
bertegangan I/P terminal dan O/P terminal terhadap tanah.

c. Pengukuran Tahanan Kontak


Rangkaian tenaga listrik sebagian besar terdiri dari banyak titik
sambungan. Sambungan adalah dua atau lebih permukaan dari beberapa jenis

31

konduktor bertemu secara fisik sehingga arus/energi listrik dapat disalurkan tanpa
hambatan yang berarti. Pertemuan dari beberapa konduktor menyebabkan suatu
hambatan/resistan terhadap arus yang melaluinya sehingga akan terjadi panas dan
menjadikan kerugian teknis. Rugi ini sangat signifikan jika nilai tahanan
kontaknya tinggi.
Sambungan antara konduktor dengan PMT atau peralatan lain merupakan
tahanan kontak yang syarat tahanannya memenuhi kaidah Hukum Ohm sebagai
berikut:

E=I.R

(1)

Jika didapat kondisi tahanan kontak sebesar 1 Ohm dan arus yang mengalir adalah
100 Ampere maka ruginya adalah

W = I2. R

(2)

W = 10.000 watts

Prinsip dasarnya adalah sama dengan alat ukur tahanan murni (Rdc), tetapi
pada tahanan kontak arus yang dialirkan lebih besar I=100 Ampere. Kondisi ini
sangat signifikan jika jumlah sambungan konduktor pada salah satu jalur terdapat
banyak sambungan sehingga kerugian teknis juga menjadi besar, tetapi masalah
ini dapat dikendalikan dengan cara menurunkan tahanan kontak dengan membuat
dan memelihara nilai tahanan kontak sekecil mungkin. Jadi pemeliharaan tahanan
kontak sangat diperlukan sehingga nilainya memenuhi syarat nilai tahanan kontak.

32

Tabel 2 Data hasil pengukuran tahanan kontak PMT


Titik Ukur
Atas Bawah
(PMT Posisi On)

Fasa R

Fasa S

Fasa T

()

()

()

21,1

21,7

20,6

Dari tabel di atas menunjukkan bahwa Pemutus Tenaga (Circuit Breaker ) layak
digunakan karena masih dalam batas yang diijinkan sesuai ketentuan P3B O&M
PMT/001.01, yakni R<100 .
d. Pengukuran Tahanan Pentanahan
Peralatan ataupun titik netral system tenaga listrik yang dihubungkan ke
tanah dengan suatu pentanahan yang ada di gardu induk dimana system
pentanahan tersebut dibuat dalam tanah dengan struktur bentuk mesh, Nilai
tahanan Pentanahan di Gardu Induk bervariasi besarnya nilai tahanan tanah dapat
ditentukan oleh kondisi tanah itu sendiri. Semakin kecil nilai pentanahannya maka
akan semakin baik. Cara kerja alat ukur pentanahan menggunakan prinsip alat
ukur Galvanometer (Prinsip Kesetimbangan)
Tabel 3 Data hasil pengukuran tahanan pentanahan PMT
Titik Ukur
Terminal
Pentanahan

Standard

Hasil Ukur

1 Ohm

33

Fasa R

Fasa S

Fasa T

0,5

0,5

O,5

Dari data tabel 3 di atas menunjukkan bahwa Pemutus Tenaga (Circuit


Breaker) layak digunakan karena masih dalam batas yang diijinkan menurut
standar pengujian Standart IEEE std 80 : 2000 (guide for safety in ac substation
grounding), yakni besarnya nilai tahanan pentanahan untuk switchgear adalah 1
ohm.
e. Pengukuran Keserempakan PMT
Tujuan dari pengujian keserempakan PMT adalah untuk mengetahui waktu
kerja PMT secara individu serta mengetahui keserempakan PMT pada saat
menutup atau membuka. Berdasarkan cara kerja penggerak, maka PMT dapat
dibedakan atas jenis three pole (penggerak PMT tiga fasa) dan single pole
(penggerak PMT satu fasa). Untuk T/L Bay biasanya PMT menggunakan jenis
single pole dengan maksud PMT tersebut dapat trip satu fasa apabila terjadi
gangguan satu fasa ke tanah dan dapat reclose satu fasa yang disebut SPAR
(Single Pole Auto Reclose). Namun apabila gangguan pada penghantar fasa-fasa
maupun tiga fasa maka PMT tersebut harus trip 3 fasa secara serempak. Apabila
PMT tidak trip secara serempak akan menyebabkan gangguan, untuk itu biasanya
terakhir ada system proteksi namanya pole discrepancy relay yang memberikan
perintah trip kepada ketiga PMT.
Hal yang sama juga untuk proses menutup PMT maka yang tipe single
pole ataupun three pole harus menutup secara serempak pada fasa R, S, T, kalau
tidak maka dapat menjadi suatu gangguan di dalam system tenaga listrik dan
menyebabkan system proteksi bekerja.

Pada waktu PMT trip akibat suatu

gangguan pada system tenaga listrik diharapkan PMT bekerja dengan cepat

34

sehingga clearing time yang diharapkan sesuai standar SPLN No 52-1 1983 untuk
system 70kV= 150 mili detik dan SPLN No 52-1 1984 untuk system 150 kV= 120
mili detik dan final draft Grid Code 2001 untuk system 500 kV= 90 mili detik.
Tabel 4 Data pengukuran keserempakan PMT

Pengukuran
Close (mili
detik)
Open (mili
detik

Standard

Fasa R

Fasa S

Fasa T

Delta
T

120 mili
detik

20,60

28,85

28,75

0,25

22,15

22,35

22,50

0,35

Dari tabel 4 di atas menunjukkan bahwa Pemutus Tenaga (Circuit Breaker) layak
digunakan karena masih dalam batas yang diijinkan menurut standar SPLN No
52-1 1984.

35

BAB V
PENUTUP
a. Kesimpulan
1. Fungsi utama PMT adalah sebagai alat pembuka atau penutup suatu
rangkaian listrik dalam kondisi berbeban, serta mampu membuka atau
menutup saat terjadi arus gangguan (hubung singkat) pada jaringan atau
peralatan lain.
2. Pemeliharaan pada Pemutus Tenaga meliputi pengukuran tahanan isolasi,
pengukuran tahanan kontak, pengukuran tahanan pentanahan, uji
keserempakan dan pengamatan terhadap komponen PMT.
3. Fungsi Gas SF6 pada PMT ini digunakan sebagai media pemadam busur
api dan sebagai penggerak.
4. Selama pemeliharaan PMT harus berada dalam kondisi tidak bekerja
(OFF) dan penggerak spring harus dalam kondisi kendor (discharge).
5. PMT pada bay trafo 3 60 MVA GI Ungaran ini merupakan jenis three pole
yaitu antar fasanya terkopel semua, maka apabila terjadi gangguan akan
membuka secara bersamaan fasanya.
b. Saran
1. Pemutus Tenaga (Circuit Breaker) yang menggunakan media gas SF6
harus selalu dilakukan monitoring tekanan gas SF6 untuk keandalan dalam
bekerja.
2. Mekanik Pemutus Tenaga (Circuit Breaker) harus selalu dibersihkan agar
tidak terjadi korosi akibat kelembapan udara.

36

DAFTAR PUSTAKA

Buku Petunjuk Batasan Operasi dan Pemeliharaan Peralatan Penyaluran Tenaga


Listrik Pemutus Tenaga (PMT), No. Dokumen : 7-22/HARLUR-PST/2009,
PT. PLN (Persero), 2010.
Tobing, Bonggas L. Peralatan Tegangan Tinggi, Jakarta : Penerbit PT Gramedia
Pustaka Utama, 2003.
Arismunandar.A dan Kuwahara.S.1991. Teknik Tenaga listrik. Jakarta: PT Pradnya
Paramita.
Arismunandar, Artono. 1984. Teknik Tegangan Tinggi. Jakarta: Pradnya Paramita.
Sulasno, Ir, Teknik dan Sistem Distribusi Tenaga Lisrik.Jilid I. Badan
Penerbit Universitas Diponegoro. Semarang. 2001.

37