Anda di halaman 1dari 44

Hukum

Inkonsistensi Penegakan Hukum di Indonesia

Salah satu fungsi hukum adalah alat penyelesaian sengketa atau konflik, disamping
fungsi yang lain sebagai alat pengendalian sosial dan alat rekayasa sosial .
Pembicaraan tentang hukum barulah dimulai jika terjadi suatu konflik
antara dua pihak yang kemudian diselesaikan dengan bantuan pihak ketiga. Dalam
hal ini munculnya hukum berkaitan
dengan suatu bentuk penyelesaian konflik yang bersifat netral dan tidak memihak .

Pelaksanaan hukum di Indonesia sering dilihat dalam kacamata yang berbeda oleh
masyarakat. Hukum sebagai dewa
penolong bagi mereka yang diuntungkan, dan hukum sebagai hantu bagi mereka
yang dirugikan. Hukum yang
seharusnya bersifat netral bagi setiap pencari keadilan atau bagi setiap pihak yang
sedang mengalami konflik, seringkali
bersifat diskriminatif , memihak kepada yang kuat dan berkuasa.

Seiring dengan runtuhnya rezim Soeharto pada tahun 1998, masyarakat yang
tertindas oleh hukum bergerak mencari
keadilan yang seharusnya mereka peroleh sejak dahulu. Namun kadang usaha
mereka dilakukan tidak melalui jalur
hukum. Misalnya penyerobotan tanah di Tapos dan di daerah-daerah persengketaan
tanah yang lain, konflik perburuhan
yang mengakibatkan perusakan di sejumlah pabrik, dan sebagainya.

Pengembalian kepercayaan masyarakat terhadap hukum sebagai alat penyelesaian


konflik dirasakan perlunya untuk
mewujudkan ketertiban masyarakat Indonesia, yang oleh karena euphoria
“reformasi” menjadi tidak terkendali dan
cenderung menyelesaikan masalah dengan caranya sendiri.

Permasalahan Hukum

Permasalahan hukum di Indonesia terjadi karena beberapa hal, baik dari sistem
peradilannya, perangkat hukumnya,
inkonsistensi penegakan hukum, intervensi kekuasaan, maupun perlindungan
hukum . Diantara banyaknya
permasalahan tersebut, satu hal yang sering dilihat dan dirasakan oleh masyarakat
awam adalah adanya inkonsistensi
penegakan hukum oleh aparat. Inkonsistensi penegakan hukum ini kadang
melibatkan masyarakat itu sendiri, keluarga,
maupun lingkungan terdekatnya yang lain (tetangga, teman, dan sebagainya).
Namun inkonsistensi penegakan hukum ini
sering pula mereka temui dalam media elektronik maupun cetak, yang menyangkut
tokoh-tokoh masyarakat (pejabat,
orang kaya, dan sebagainya).

Inkonsistensi penegakan hukum ini berlangsung dari hari ke hari, baik dalam
peristiwa yang berskala kecil maupun
besar. Peristiwa kecil bisa terjadi pada saat berkendaraan di jalan raya. Masyarakat
dapat melihat bagaimana suatu
peraturan lalu lintas (misalnya aturan three-in-one di beberapa ruas jalan di Jakarta)
tidak berlaku bagi anggota TNI dan
POLRI. Polisi yang bertugas membiarkan begitu saja mobil dinas TNI yang melintas
meski mobil tersebut berpenumpang
kurang dari tiga orang dan kadang malah disertai pemberian hormat apabila
kebetulan penumpangnya berpangkat lebih
tinggi.

Contoh peristiwa klasik yang menjadi bacaan umum sehari-hari adalah : koruptor
kelas kakap dibebaskan dari dakwaan
karena kurangnya bukti, sementara pencuri ayam bisa terkena hukuman tiga bulan
penjara karena adanya bukti nyata.
Tumbangnya rezim Soeharto tahun 1998 ternyata tidak disertai dengan reformasi di
bidang hukum. Ketimpangan dan
putusan hukum yang tidak menyentuh rasa keadilan masyarakat tetap terasakan
dari hari ke hari.

Beberapa Kasus Inkonsistensi Penegakan Hukum di Indonesia

Kasus-kasus inkonsistensi penegakan hukum di Indonesia terjadi karena beberapa


hal. Penulis mengelompokkannya
berdasarkan beberapa alasan yang banyak ditemui oleh masyarakat awam, baik
melalui pengalaman pencari keadilan itu
sendiri, maupun peristiwa lain yang bisa diikuti melalui media cetak dan elektronik.

1. Tingkat Kekayaan Seseorang

Salah satu keputusan kontroversial yang terjadi pada bulan Februari ini adalah
jatuhnya putusan Pengadilan Negeri
Jakarta Pusat (PN Jakpus) terhadap terpidana kasus korupsi proyek pemetaan dan
pemotretan areal hutan antara
Departemen Hutan dan PT Mapindo Parama, Mohammad “Bob” Hasan . PN Jakpus
menjatuhkan hukuman dua tahun
penjara potong masa tahanan dan menetapkan terpidana tetap dalam status
tahanan rumah. Putusan ini menimbulkan
rasa ketidakadilan masyarakat, karena untuk kasus korupsi yang merugikan negara
puluhan milyar rupiah, Bob Hasan
yang sudah berstatus terpidana hanya dijatuhi hukuman tahanan rumah. Proses
pengadilan pun relatif berjalan dengan
cepat. Demikian pula yang terjadi dengan kasus Bank Bali, BLBI (Bantuan Likuiditas
Bank Indonesia), kasus Texmaco,
dan kasus-kasus korupsi milyaran rupiah lainnya.

Dibandingkan dengan kasus pencurian kecil, perampokan bersenjata, korupsi yang


merugikan negara “hanya” sekian
puluh juta rupiah, putusan kasus Bob Hasan sama sekali tidak sebanding.
Masyarakat dengan mudah melihat bahwa
kekayaanlah yang menyebabkan Bob Hasan lolos dari hukuman penjara.
Kemampuannya menyewa pengacara tangguh
dengan tarif mahal yang dapat mementahkan dakwaan kejaksaan, hanya dimiliki
oleh orang-orang dengan tingkat
kekayaan tinggi.

Kita bisa membandingkan dengan kasus Tasiran yang memperjuangkan tanah


garapannya sejak tahun 1985 . Tasiran,
seorang petani sederhana, yang terlibat konflik tanah seluas 1000 meter persegi
warisan ayahnya, dijatuhi hukuman
kurungan tiga bulan dengan masa percobaan enam bulan pada tanggal 2 April 1986,
karena terbukti mencangkuli tanah
sengketa. Karena mengulang perbuatannya pada masa percobaan, Tasiran kembali
masuk penjara pada bulan Agustus
1986. Sekeluarnya dari penjara, Tasiran berkelana mencari keadilan dengan
mondar-mandir Bojonegoro-Jakarta lebih
dari 100 kali dengan mendatangi Mahkamah Agung, Mabes Polri, Kejaksaan Agung,
Mabes Polri, DPR/MPR, Bina Graha,
Istana Merdeka, dan sebagainya. Pada tahun 1996 ia kembali memperoleh
keputusan yang mengalahkan dirinya.

2. Tingkat Jabatan Seseorang


Kasus Ancolgate berkaitan dengan studi banding ke luar negeri (Australia, Jepang,
dan Afrika Selatan) yang diikuti oleh
sekitar 40 orang anggota DPRD DKI Komisi D. Dalam studi banding tersebut
anggota DPRD yang berangkat
memanfaatkan dua sumber keuangan yaitu SPJ anggaran yang diperoleh dari
anggaran DPRD DKI sebesar 5.2 milyar
rupiah dan uang saku dari PT Pembangunan Jaya Ancol sebesar 2,1 milyar rupiah.
Dalam kasus ini, sembilan orang
staf Bapedal dan Sekwilda dikenai tindakan administratif, semenara Kepala Bapedal
DKI Bambang Sungkono dan Kepala
Dinas Tata Kota DKI Ahmadin Ahmad tidak dikenai tindakan apapun.

Dalam kasus ini, terlihat penyelesaian masalah dilakukan segera setelah media
cetak dan elektronik menemukan
ketidakberesan dalam masalah pendanaan studi banding tersebut. Penyelesaian
secara administratif ini seakan
dilakukan agar dapat mencegah tindakan hukum yang mungkin bisa dilakukan. Rasa
ketidakadilan masyarakat terusik
tatkala sanksi ini hanya dikenakan pada pegawai rendahan. Pihak kejaksaan pun
terkesan mengulur-ulur janji untuk
mengusut kasus ini sampai ke pejabat tertinggi di DKI, yaitu Gubernur Sutiyoso,
yang sebagai komisaris PT
Pembangunan Jaya Ancol ikut bertanggungjawab. Sampai makalah ini dibuat, janji
untuk menyidik pejabat-pejabat DKI ini
belum terlaksana.

3. Nepotisme

Terdakwa Letda (Inf) Agus Isrok, anak mantan Kepala Staf Angkatan Darat
(KASAD), Jendral (TNI) Subagyo HS, diperingan
hukumannya oleh mahkamah militer dari empat tahun penjara menjadi dua tahun
penjara . Disamping itu, terdakwa juga
dikembalikan ke kesatuannya selama dua minggu sambil menunggu dan berpikir
terhadap vonis mahkamah militer
tinggi. Putusan ini terasa tidak adil dibandingkan dengan vonis-vonis kasus narkoba
lainnya yang terjadi di Indonesia yang
didasarkan atas pelaksanaan UU Psikotropika. Disamping itu, proses pengadilan ini
juga memperlihatkan eksklusivitas
hukum militer yang diterapkan pada kasus narkoba.

Tommy Soeharto, anak mantan presiden Soeharto, yang dihukum 18 bulan penjara
karena kasus manipulasi tukar gling
tanah Bulog di Kelapa Gading dan merugikan negara sebesar 96 milyar rupiah,
sampai saat ini tidak berhasil ditangkap
dan dimasukkan ke LP Cipinang sesuai perintah pengadilan setelah permohonan
grasinya ditolak oleh presiden.
Masyarakat melihat bagaimana pihak pengacara, kejaksaan, dan kepolisian saling
berkomentar melalui media cetak dan
elektronik, namun sampai saat makalah ini dibuat Tommy Soeharto masih
berkeliaran di udara bebas. Dua kasus ini
mengesankan adanya diskriminasi hukum bagi keluarga bekas pejabat.

4. Tekanan Internasional

Kasus Atambua, Nusa Tenggara Timur, yang terjadi pada tanggal 6 September
2000, yang menewaskan tiga orang staf
UNHCR mendapatkan perhatian internasional dengan cepat. Dimulai dengan
keluarnya Resolusi No. 1319 dari Dewan
Keamanan Perserikatan Bangsa Bangsa (DK PBB), surat dari Direktur Bank Dunia
kepada Presiden Abdurrahman Wahid
untuk segera menyelesaikan permasalahan tersebut, permintaan DK PBB untuk
mengirim misi penyelidik kasus Atambua
ke Indonesia, desakan CGI (Consultatif Group on Indonesia), sampai dengan
ancaman embargo oleh Amerika Serikat.
Tekanan internasional ini mengakibatkan cepatnya pemerintah bertindak, dengan
segera melucuti persenjataan milisi
Timor Timur dan mengadili beberapa bekas anggota milisi Timor Leste yang
dianggap bertanggung jawab.

Apabila dibandingkan dengan kasus-kasus kekerasan yang terjadi di bagian lain di


Indonesia, misalnya : Ambon, Aceh,
Sambas, Sampit, kasus Atambua termasuk kasus yang mengalami penyelesaian
secara cepat dan tanggap dari aparat.
Dalam enam bulan sejak kasus ini terjadi, kekerasan berhasil diatasi, milisi berhasil
dilucuti, dan situasi kembali aman
dan normal. Meskipun ada perhatian internasional dalam kasus-kasus kekerasan
lain di Indonesia, namun tekanan yang
terjadi tidak sebesar pada kasus Atambua. Dalam pandangan masyarakat, derajat
tekanan internasional menentukan
kecepatan aparat melakukan penegakan hukum dalam mengatasi kasus kekerasan.

Beberapa Akibat Inkonsistensi Penegakan Hukum di Indonesia

Inkonsistensi penegakan hukum di atas berlangsung terus menerus selama puluhan


tahun. Masyarakat sudah terbiasa
melihat bagaimana law in action berbeda dengan law in the book. Masyarakat
bersikap apatis bila mereka tidak tersangkut
paut dengan satu masalah yang terjadi. Apabila melihat penodongan di jalan umum,
jarang terjadi masyarakat membantu
korban atau melaporkan pelaku kepada aparat. Namun bila mereka sendiri
tersangkut dalam suatu masalah, tidak jarang
mereka memanfaatkan inkonsistensi penegakan hukum ini. Beberapa contoh kasus
berikut ini menunjukkan bagaimana
perilaku masyarakat menyesuaikan diri dengan pola inkonsistensi penegakan hukum
di Indonesia.

1. Ketidakpercayaan Masyarakat pada Hukum

Masyarakat meyakini bahwa hukum lebih banyak merugikan mereka,dan sedapat


mungkin dihindari. Bila seseorang
melanggar peraturan lalu lintas misalnya, maka sudah jamak dilakukan upaya
“damai” dengan petugas polisi yang
bersangkutan agar tidak membawa kasusnya ke pengadilan . Memang dalam
hukum perdata, dikenal pilihan
penyelesaian masalah dengan arbitrase atau mediasi di luar jalur pengadilan untuk
menghemat waktu dan biaya. Namun
tidak demikian hal nya dengan hukum pidana yang hanya menyelesaikan masalah
melalui pengadilan. Di Indonesia,
bahkan persoalan pidana pun masyarakat mempunyai pilihan diluar pengadilan.

Pendapat umum menempatkan hakim pada posisi “tertuduh” dalam lemahnya


penegakan hukum di Indonesia, namun
demikian peranan pengacara, jaksa penuntut dan polisi sebagai penyidik dalam hal
ini juga penting. Suatu dakwaan yang
sangat lemah dan tidak cermat, didukung dengan argumentasi asal-asalan, yang
berasal dari hasil penyelidikan yang
tidak akurat dari pihak kepolisian, tentu saja akan mempersulit hakim dalam
memutuskan suatu perkara. Kelemahan
penyidikan dan penyusunan dakwaan ini kadang bukan disebabkan rendahnya
kemampuan aparat maupun ketiadaan
sarana pendukung, tapi lebih banyak disebabkan oleh lemahnya mental aparat itu
sendiri. Beberapa kasus menunjukkan
aparat memang tidak berniat untuk melanjutkan perkara yang bersangkutan ke
pengadilan atas persetujuan dengan pihak
pengacara dan terdakwa, oleh karena itu dakwaan disusun secara sembarangan
dan sengaja untuk mudah dipatahkan.

Beberapa kasus pengadilan yang memutus bebas terdakwa kasus korupsi yang
menyangkut pengusaha besar dan kroni
mantan presiden Soeharto menunjukkan hal ini. Terdakwa terbukti bebas karena
dakwaan yang lemah.

2. Penyelesaian Konflik dengan Kekerasan

Penyelesaian konflik dengan kekerasan terjadi secara sporadis di beberapa tempat


di Indonesia. Suatu persoalan
pelanggaran hukum kecil kadang membawa akibat hukuman yang sangat berat bagi
pelakunya yang diterima tanpa
melalui proses pengadilan. Pembakaran dan penganiayaan pencuri sepeda motor,
perampok, penodong yang dilakukan
massa beberapa waktu yang lalu merupakan contoh. Menurut Durkheim
masyarakat ini menerapkan hukum yang bersifat
menekan (repressive). Masyarakat menerapkan sanksi tersebut tidak atas
pertimbangan rasional mengenai jumlah
kerugian obyektif yang menimpa masyarakat itu, melainkan atas dasar kemarahan
kolektif yang muncul karena tindakan
yang menyimpang dari pelaku. Masyarakat ingin memberi pelajaran kepada pelaku
dan juga pada memberi peringatan
anggota masyarakat yang lain agar tidak melakukan tindakan pelanggaran yang
sama.

Pada beberapa kasus yang lain, masyarakat menggunakan kelompoknya untuk


menyelesaikan konflik yang terjadi. Mulai
dari skala “kecil” seperti kasus Matraman yang melibatkan warga Palmeriam dan
Berland, kasus tawuran pelajar, sampai
dengan kasus-kasus besar seperti Ambon, Sambas, Sampit, dan sebagainya. Pada
kasus Sampit, misalnya, konflik
antara etnis Dayak dan Madura yang terjadi karena ketidakadilan ekonomi tidak
dibawa dalam jalur hukum, melainkan
diselesaikan melalui tindakan kelompok. Dalam hal ini, kebenaran menurut hukum
tidak dianut sama sekali, masing-
masing kelompok menggunakan norma dan hukumnya dalam menentukan
kebenaran serta sanksi bagi pelaku yang
melanggar hukum menurut versinya tersebut. Tidak diperlukan adanya argumentasi
dan pembelaan bagi si terdakwa.
Suatu kesalahan yang berdasarkan keputusan kelompok tertentu, segera divonis
menurut aturan kelompok tersebut.

3. Pemanfaatan Inkonsistensi Penegakan Hukum untuk Kepentingan Pribadi

Dalam beberapa kasus yang berhasil ditemukan oleh media cetak, terbukti adanya
kasus korupsi dan kolusi yang
melibatkan baik polisi, kejaksaan, maupun hakim dalam suatu perkara. Kasus ini
biasanya melibatkan pengacara yang
menjadi perantara antara terdakwa dan aparat penegak hukum. Fungsi pengacara
yang seharusnya berada di kutub
memperjuangkan keadilan bagi terdakwa , berubah menjadi pencari kebebasan dan
keputusan seringan mungkin
dengan segala cara bagi kliennya. Sementara posisi polisi dan jaksa yang
seharusnya berada di kutub yang menjaga
adanya kepastian hukum, terbeli oleh kekayaan terdakwa. Demikian pula hakim
yang seharusnya berada ditengah-tengah
dua kutub tersebut, kutub keadilan dan kepastian hukum, bisa jadi condong
membebaskan atau memberikan putusan
seringan-ringannya bagi terdakwa setelah melalui kesepakatan tertentu.

Dengan skenario diatas, lengkaplah sandiwara pengadilan yang seharusnya


mencari kebenaran dan penyelesaian
masalah menjadi suatu pertunjukan yang telah diatur untuk membebaskan
terdakwa. Dan karena menyangkut uang,
hanya orang kaya lah yang dapat menikmati keadaan inkonsistensi penegakan
hukum ini. Sementara orang miskin (atau
yang relatif lebih miskin) akan putusan pengadilan yang lebih tinggi.

4. Penggunaan Tekanan Asing dalam Proses Peradilan

Campur tangan asing bagaikan pisau bermata dua. Disatu pihak tekanan asing
dapat membawa berkah bagi pencari
keadilan dengan dipercepatnya penyidikan dan penegakan hukum oleh aparat.
Lembaga asing non pemerintah biasanya
aktif melakukan tekanan-tekanan semaam ini, misalnya dalam pengusutan kasus
pembunuhan di Aceh, tragedi Ambon,
Sambas, dan sebagainya.

Namun di lain pihak tekanan asing kadang juga memberi mimpi buruk pula bagi
masyarakat. Beberapa perusahaan
asing yang terkena kasus pencemaran lingkungan, gugatan tanah oleh masyarakat
adat setempat, serta sengketa
perburuhan, kadang menggunakan negara induknya untuk melakukan pendekatan
dan tekanan terhadap pemerintah
Indonesia agar tercapai kesepakatan yang menguntungkan kepentingan mereka,
tanpa membiarkan hukum untuk
menyelesaikannnya secara mandiri. Tekanan tersebut dapat berupa ancaman
embargo, penggagalan penanaman
modal, penghentian dukungan politik, dan sebagainya. Kesemuanya untuk
meningkatkan posisi tawar mereka dalam
proses hukum yang sedang atau akan dijalaninya.

Prioritas Penegakan Hukum

Inkonsistensi penegakan hukum merupakan masalah penting yang harus segera


ditangani. Masalah hukum ini paling
dirasakan oleh masyarakat dan membawa dampak yang sangat buruk bagi
kehidupan bermasyarakat. Persepsi
masyarakat yang buruk mengenai penegakan hukum, menggiring masyarakat pada
pola kehidupan sosial yang tidak
mempercayai hukum sebagai sarana penyelesaian konflik, dan cenderung
menyelesaikan konflik dan permasalahan
mereka di luar jalur. Cara ini membawa akibat buruk bagi masyarakat itu sendiri.
Pemanfaatan inkonsistensi penegakan hukum oleh sekelompok orang demi
kepentingannya sendiri, selalu berakibat
merugikan pihak yang tidak mempunyai kemampuan yang setara. Akibatnya rasa
ketidakadilan dan ketidakpuasan
tumbuh subur di masyarakat Indonesia.
Penegakan hukum yang konsisten harus terus diupayakan untuk mengembalikan
kepercayaan masyarakat terhadap
hukum di Indonesia.

Melihat penyebab inkonsistensi penegakan hukum di Indonesia, maka prioritas


perbaikan harus dilakukan pada aparat,
baik polisi, jaksa, hakim, maupun pemerintah (eksekutif) yang ada dalam wilayah
peradilan yang bersangkutan. Tanpa
perbaikan kinerja dan moral aparat, maka segala bentuk kolusi, korupsi, dan
nepotisme akan terus berpengaruh dalam
proses penegakan hukum di Indonesia.
Selain perbaikan kinerja aparat, materi hukum sendiri juga harus terus menerus
diperbaiki. Kasus tidak adanya
perundangan yang dapat menjerat para terdakwa kasus korupsi, diharapkan tidak
akan muncul lagi dengan adanya
undang-undang yang lebih tegas. Selain mengharapkan peran DPR sebagai
lembaga legistatif untuk lebih aktif dalam
memperbaiki dan menciptakan perundang-undang yang lebih sesuai dengan
perkembangan jaman, diharapkan pula
peran dan kontrol publik baik melalui perorangan, media massa, maupun lembaga
swadaya masyarakat. Peningkatan
kesadaran hukum masyarakat juga menjadi faktor kunci dalam penegakan hukum
secara konsisten.

Daftar Pustaka:
○ Ali, Achmad., Pengadilan dan Masyarakat, Hasanudin University Press, Ujung
Pandang, 1999.
○ Doyle, Paul Johnson, Teori Sosiologi Klasik dan Modern, terj. Robert M.Z.
Lawang, Gramedia, Jakarta, 1986.
○ Soemardi, Dedi, Pengantar Hukum Indonesia, Ind-Hill-Co, Jakarta, 1997

Sumber: Dunia Esai

Inkonsistensi Penegakan Hukum di Indonesia

Jumat, 12 Februari 2010


‫صيمًا‬
ِ ‫خ‬
َ ‫ن‬
َ ‫خآِئِني‬
َ ‫ل َتُكن ّلْل‬
َ ‫ل َو‬
ّ ‫كا‬
َ ‫س ِبَما َأَرا‬
ِ ‫ن الّنا‬
َ ‫حُكَم َبْي‬
ْ ‫ق ِلَت‬
ّ‫ح‬َ ‫ب ِباْل‬
َ
“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya
kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah
kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang
khianat, (QS. 4:105). Salah satu fungsi hukum adalah alat penyelesaian sengketa atau konflik,
disamping fungsi yang lain sebagai alat pengendalian sosial dan alat rekayasa sosial . Pembicaraan
tentang hukum barulah dimulai jika terjadi suatu konflik antara dua pihak yang kemudian
diselesaikan dengan bantuan pihak ketiga. Dalam hal ini munculnya hukum berkaitan dengan suatu
bentuk penyelesaian konflik yang bersifat netral dan tidak memihak.

Pelaksanaan hukum di Indonesia sering dilihat dalam kacamata yang berbeda oleh masyarakat.
Hukum sebagai dewa penolong bagi mereka yang diuntungkan, dan hukum sebagai hantu bagi
mereka yang dirugikan. Hukum yang seharusnya bersifat netral bagi setiap pencari keadilan atau
bagi setiap pihak yang sedang mengalami konflik, seringkali bersifat diskriminatif, memihak kepada
yang kuat dan berkuasa.

Seiring dengan runtuhnya rezim Soeharto pada tahun 1998, masyarakat yang tertindas oleh
hukum bergerak mencari keadilan yang seharusnya mereka peroleh sejak dahulu. Namun kadang
usaha mereka dilakukan tidak melalui jalur hukum. Misalnya penyerobotan tanah di Tapos dan di
daerah-daerah persengketaan tanah yang lain, konflik perburuhan yang mengakibatkan perusakan
di sejumlah pabrik, dan sebagainya.

Pengembalian kepercayaan masyarakat terhadap hukum sebagai alat penyelesaian konflik


dirasakan perlunya untuk mewujudkan ketertiban masyarakat Indonesia, yang oleh karena
euphoria “reformasi” menjadi tidak terkendali dan cenderung menyelesaikan masalah dengan
caranya sendiri.

Permasalahan Hukum

Permasalahan hukum di Indonesia terjadi karena beberapa hal, baik dari sistem peradilannya,
perangkat hukumnya, inkonsistensi penegakan hukum, intervensi kekuasaan, maupun
perlindungan hukum . Diantara banyaknya permasalahan tersebut, satu hal yang sering dilihat dan
dirasakan oleh masyarakat awam adalah adanya inkonsistensi penegakan hukum oleh aparat.
Inkonsistensi penegakan hukum ini kadang melibatkan masyarakat itu sendiri, keluarga, maupun
lingkungan terdekatnya yang lain (tetangga, teman, dan sebagainya). Namun inkonsistensi
penegakan hukum ini sering pula mereka temui dalam media elektronik maupun cetak, yang
menyangkut tokoh-tokoh masyarakat (pejabat, orang kaya, dan sebagainya).

Inkonsistensi penegakan hukum ini berlangsung dari hari ke hari, baik dalam peristiwa yang
berskala kecil maupun besar. Peristiwa kecil bisa terjadi pada saat berkendaraan di jalan raya.
Masyarakat dapat melihat bagaimana suatu peraturan lalu lintas (misalnya aturan three-in-one di
beberapa ruas jalan di Jakarta) tidak berlaku bagi anggota TNI dan POLRI. Polisi yang bertugas
membiarkan begitu saja mobil dinas TNI yang melintas meski mobil tersebut berpenumpang kurang
dari tiga orang dan kadang malah disertai pemberian hormat apabila kebetulan penumpangnya
berpangkat lebih tinggi.

Contoh peristiwa klasik yang menjadi bacaan umum sehari-hari adalah : koruptor kelas kakap
dibebaskan dari dakwaan karena kurangnya bukti, sementara pencuri ayam bisa terkena hukuman
tiga bulan penjara karena adanya bukti nyata.

Tumbangnya rezim Soeharto tahun 1998 ternyata tidak disertai dengan reformasi di bidang hukum.
Ketimpangan dan putusan hukum yang tidak menyentuh rasa keadilan masyarakat tetap terasakan
dari hari ke hari.

Beberapa Kasus Inkonsistensi Penegakan Hukum di Indonesia

Kasus-kasus inkonsistensi penegakan hukum di Indonesia terjadi karena beberapa hal. Penulis
mengelompokkannya berdasarkan beberapa alasan yang banyak ditemui oleh masyarakat awam,
baik melalui pengalaman pencari keadilan itu sendiri, maupun peristiwa lain yang bisa diikuti
melalui media cetak dan elektronik.

1. Tingkat Kekayaan Seseorang

Salah satu keputusan kontroversial yang terjadi pada bulan Februari ini adalah jatuhnya putusan
Pengadilan Negeri Jakarta Pusat (PN Jakpus) terhadap terpidana kasus korupsi proyek pemetaan
dan pemotretan areal hutan antara Departemen Hutan dan PT Mapindo Parama, Mohammad “Bob”
Hasan . PN Jakpus menjatuhkan hukuman dua tahun penjara potong masa tahanan dan
menetapkan terpidana tetap dalam status tahanan rumah. Putusan ini menimbulkan rasa
ketidakadilan masyarakat, karena untuk kasus korupsi yang merugikan negara puluhan milyar
rupiah, Bob Hasan yang sudah berstatus terpidana hanya dijatuhi hukuman tahanan rumah. Proses
pengadilan pun relatif berjalan dengan cepat. Demikian pula yang terjadi dengan kasus Bank Bali,
BLBI (Bantuan Likuiditas Bank Indonesia), kasus Texmaco, dan kasus-kasus korupsi milyaran rupiah
lainnya.

Dibandingkan dengan kasus pencurian kecil, perampokan bersenjata, korupsi yang merugikan
negara “hanya” sekian puluh juta rupiah, putusan kasus Bob Hasan sama sekali tidak sebanding.
Masyarakat dengan mudah melihat bahwa kekayaanlah yang menyebabkan Bob Hasan lolos dari
hukuman penjara. Kemampuannya menyewa pengacara tangguh dengan tarif mahal yang dapat
mementahkan dakwaan kejaksaan, hanya dimiliki oleh orang-orang dengan tingkat kekayaan
tinggi.

Kita bisa membandingkan dengan kasus Tasiran yang memperjuangkan tanah garapannya sejak
tahun 1985. Tasiran, seorang petani sederhana, yang terlibat konflik tanah seluas 1000 meter
persegi warisan ayahnya, dijatuhi hukuman kurungan tiga bulan dengan masa percobaan enam
bulan pada tanggal 2 April 1986, karena terbukti mencangkuli tanah sengketa. Karena mengulang
perbuatannya pada masa percobaan, Tasiran kembali masuk penjara pada bulan Agustus 1986.
Sekeluarnya dari penjara, Tasiran berkelana mencari keadilan dengan mondar-mandir Bojonegoro-
Jakarta lebih dari 100 kali dengan mendatangi Mahkamah Agung, Mabes Polri, Kejaksaan Agung,
Mabes Polri, DPR/MPR, Bina Graha, Istana Merdeka, dan sebagainya. Pada tahun 1996 ia kembali
memperoleh keputusan yang mengalahkan dirinya.

2. Tingkat Jabatan Seseorang

Kasus Ancolgate berkaitan dengan studi banding ke luar negeri (Australia, Jepang, dan Afrika
Selatan) yang diikuti oleh sekitar 40 orang anggota DPRD DKI Komisi D. Dalam studi banding
tersebut anggota DPRD yang berangkat memanfaatkan dua sumber keuangan yaitu SPJ anggaran
yang diperoleh dari anggaran DPRD DKI sebesar 5.2 milyar rupiah dan uang saku dari PT
Pembangunan Jaya Ancol sebesar 2,1 milyar rupiah.

Dalam kasus ini, sembilan orang staf Bapedal dan Sekwilda dikenai tindakan administratif,
semenara Kepala Bapedal DKI Bambang Sungkono dan Kepala Dinas Tata Kota DKI Ahmadin Ahmad
tidak dikenai tindakan apapun.

Dalam kasus ini, terlihat penyelesaian masalah dilakukan segera setelah media cetak dan
elektronik menemukan ketidakberesan dalam masalah pendanaan studi banding tersebut.
Penyelesaian secara administratif ini seakan dilakukan agar dapat mencegah tindakan hukum yang
mungkin bisa dilakukan. Rasa ketidakadilan masyarakat terusik tatkala sanksi ini hanya dikenakan
pada pegawai rendahan. Pihak kejaksaan pun terkesan mengulur-ulur janji untuk mengusut kasus
ini sampai ke pejabat tertinggi di DKI, yaitu Gubernur Sutiyoso, yang sebagai komisaris PT
Pembangunan Jaya Ancol ikut bertanggungjawab. Sampai makalah ini dibuat, janji untuk menyidik
pejabat-pejabat DKI ini belum terlaksana.

3. Nepotisme

Terdakwa Letda (Inf) Agus Isrok, anak mantan Kepala Staf Angkatan Darat (KASAD), Jendral (TNI)
Subagyo HS, diperingan hukumannya oleh mahkamah militer dari empat tahun penjara menjadi
dua tahun penjara . Disamping itu, terdakwa juga dikembalikan ke kesatuannya selama dua minggu
sambil menunggu dan berpikir terhadap vonis mahkamah militer tinggi. Putusan ini terasa tidak
adil dibandingkan dengan vonis-vonis kasus narkoba lainnya yang terjadi di Indonesia yang
didasarkan atas pelaksanaan UU Psikotropika. Disamping itu, proses pengadilan ini juga
memperlihatkan eksklusivitas hukum militer yang diterapkan pada kasus narkoba.

Tommy Soeharto, anak mantan presiden Soeharto, yang dihukum 18 bulan penjara karena kasus
manipulasi tukar gling tanah Bulog di Kelapa Gading dan merugikan negara sebesar 96 milyar
rupiah, sampai saat ini tidak berhasil ditangkap dan dimasukkan ke LP Cipinang sesuai perintah
pengadilan setelah permohonan grasinya ditolak oleh presiden.

Masyarakat melihat bagaimana pihak pengacara, kejaksaan, dan kepolisian saling berkomentar
melalui media cetak dan elektronik, namun sampai saat makalah ini dibuat Tommy Soeharto masih
berkeliaran di udara bebas. Dua kasus ini mengesankan adanya diskriminasi hukum bagi keluarga
bekas pejabat.

4. Tekanan Internasional
Kasus Atambua, Nusa Tenggara Timur, yang terjadi pada tanggal 6 September 2000, yang
menewaskan tiga orang staf NHCR mendapatkan perhatian internasional dengan cepat. Dimulai
dengan keluarnya Resolusi No. 1319 dari Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa Bangsa (DK PBB),
surat dari Direktur Bank Dunia kepada Presiden Abdurrahman Wahid untuk segera menyelesaikan
permasalahan tersebut, permintaan DK PBB untuk mengirim misi penyelidik kasus Atambua ke
Indonesia, desakan CGI (Consultatif Group on Indonesia), sampai dengan ancaman embargo oleh
Amerika Serikat. Tekanan internasional ini mengakibatkan cepatnya pemerintah bertindak, dengan
segera melucuti persenjataan milisi Timor Timur dan mengadili beberapa bekas anggota milisi
Timor Leste yang dianggap bertanggung jawab.

Apabila dibandingkan dengan kasus-kasus kekerasan yang terjadi di bagian lain di Indonesia,
misalnya : Ambon, Aceh, Sambas, Sampit, kasus Atambua termasuk kasus yang mengalami
penyelesaian secara cepat dan tanggap dari aparat.

Dalam enam bulan sejak kasus ini terjadi, kekerasan berhasil diatasi, milisi berhasil dilucuti, dan
situasi kembali aman dan normal. Meskipun ada perhatian internasional dalam kasus-kasus
kekerasan lain di Indonesia, namun tekanan yang terjadi tidak sebesar pada kasus Atambua.
Dalam pandangan masyarakat, derajat tekanan internasional menentukan kecepatan aparat
melakukan penegakan hukum dalam mengatasi kasus kekerasan.

Beberapa Akibat Inkonsistensi Penegakan Hukum di Indonesia

Inkonsistensi penegakan hukum di atas berlangsung terus menerus selama puluhan tahun.
Masyarakat sudah terbiasa melihat bagaimana law in action berbeda dengan law in the book.
Masyarakat bersikap apatis bila mereka tidak tersangkut paut dengan satu masalah yang terjadi.
Apabila melihat penodongan di jalan umum, jarang terjadi masyarakat membantu korban atau
melaporkan pelaku kepada aparat. Namun bila mereka sendiri tersangkut dalam suatu masalah,
tidak jarang mereka memanfaatkan inkonsistensi penegakan hukum ini. Beberapa contoh kasus
berikut ini menunjukkan bagaimana perilaku masyarakat menyesuaikan diri dengan pola
inkonsistensi penegakan hukum di Indonesia.

1. Ketidakpercayaan Masyarakat pada Hukum

Masyarakat meyakini bahwa hukum lebih banyak merugikan mereka,dan sedapat mungkin
dihindari. Bila seseorang melanggar peraturan lalu lintas misalnya, maka sudah jamak dilakukan
upaya “damai” dengan petugas polisi yang bersangkutan agar tidak membawa kasusnya ke
pengadilan . Memang dalam hukum perdata, dikenal pilihan penyelesaian masalah dengan
arbitrase atau mediasi di luar jalur pengadilan untuk menghemat waktu dan biaya. Namun tidak
demikian hal nya dengan hukum pidana yang hanya menyelesaikan masalah melalui pengadilan. Di
Indonesia, bahkan persoalan pidana pun masyarakat mempunyai pilihan diluar pengadilan.

Pendapat umum menempatkan hakim pada posisi “tertuduh” dalam lemahnya penegakan hukum
di Indonesia, namun demikian peranan pengacara, jaksa penuntut dan polisi sebagai penyidik
dalam hal ini juga penting. Suatu dakwaan yang sangat lemah dan tidak cermat, didukung dengan
argumentasi asal-asalan, yang berasal dari hasil penyelidikan yang tidak akurat dari pihak
kepolisian, tentu saja akan mempersulit hakim dalam memutuskan suatu perkara. Kelemahan
penyidikan dan penyusunan dakwaan ini kadang bukan disebabkan rendahnya kemampuan aparat
maupun ketiadaan sarana pendukung, tapi lebih banyak disebabkan oleh lemahnya mental aparat
itu sendiri. Beberapa kasus menunjukkan aparat memang tidak berniat untuk melanjutkan perkara
yang bersangkutan ke pengadilan atas persetujuan dengan pihak pengacara dan terdakwa, oleh
karena itu dakwaan disusun secara sembarangan dan sengaja untuk mudah dipatahkan.

Beberapa kasus pengadilan yang memutus bebas terdakwa kasus korupsi yang menyangkut
pengusaha besar dan kroni mantan presiden Soeharto menunjukkan hal ini. Terdakwa terbukti
bebas karena dakwaan yang lemah.

2. Penyelesaian Konflik dengan Kekerasan

Penyelesaian konflik dengan kekerasan terjadi secara sporadis di beberapa tempat di Indonesia.
Suatu persoalan pelanggaran hukum kecil kadang membawa akibat hukuman yang sangat berat
bagi pelakunya yang diterima tanpa melalui proses pengadilan. Pembakaran dan penganiayaan
pencuri sepeda motor, perampok, penodong yang dilakukan massa beberapa waktu yang lalu
merupakan contoh. Menurut Durkheim masyarakat ini menerapkan hukum yang bersifat menekan
(repressive). Masyarakat menerapkan sanksi tersebut tidak atas pertimbangan rasional mengenai
jumlah kerugian obyektif yang menimpa masyarakat itu, melainkan atas dasar kemarahan kolektif
yang muncul karena tindakan yang menyimpang dari pelaku. Masyarakat ingin memberi pelajaran
kepada pelaku dan juga pada memberi peringatan anggota masyarakat yang lain agar tidak
melakukan tindakan pelanggaran yang sama.

Pada beberapa kasus yang lain, masyarakat menggunakan kelompoknya untuk menyelesaikan
konflik yang terjadi. Mulai dari skala “kecil” seperti kasus Matraman yang melibatkan warga
Palmeriam dan Berland, kasus tawuran pelajar, sampai dengan kasus-kasus besar seperti Ambon,
Sambas, Sampit, dan sebagainya. Pada kasus Sampit, misalnya, konflik antara etnis Dayak dan
Madura yang terjadi karena ketidakadilan ekonomi tidak dibawa dalam jalur hukum, melainkan
iselesaikan melalui tindakan kelompok. Dalam hal ini, kebenaran menurut hukum tidak dianut
sama sekali, masing-masing kelompok menggunakan norma dan hukumnya dalam menentukan
kebenaran serta sanksi bagi pelaku yangmelanggar hukum menurut versinya tersebut. Tidak
diperlukan adanya argumentasi dan pembelaan bagi si terdakwa. Suatu kesalahan yang
berdasarkan keputusan kelompok tertentu, segera divonis menurut aturan kelompok tersebut.

3. Pemanfaatan Inkonsistensi Penegakan Hukum untuk Kepentingan Pribadi

Dalam beberapa kasus yang berhasil ditemukan oleh media cetak, terbukti adanya kasus korupsi
dan kolusi yang
melibatkan baik polisi, kejaksaan, maupun hakim dalam suatu perkara. Kasus ini biasanya
melibatkan pengacara yang menjadi perantara antara terdakwa dan aparat penegak hukum. Fungsi
pengacara yang seharusnya berada di kutub memperjuangkan keadilan bagi terdakwa , berubah
menjadi pencari kebebasan dan keputusan seringan mungkin dengan segala cara bagi kliennya.
Sementara posisi polisi dan jaksa yang seharusnya berada di kutub yang menjaga adanya
kepastian hukum, terbeli oleh kekayaan terdakwa. Demikian pula hakim yang seharusnya berada
ditengah-tengah dua kutub tersebut, kutub keadilan dan kepastian hukum, bisa jadi condong
membebaskan atau memberikan putusan seringan-ringannya bagi terdakwa setelah melalui
kesepakatan tertentu.

Dengan skenario diatas, lengkaplah sandiwara pengadilan yang seharusnya mencari kebenaran
dan penyelesaian masalah menjadi suatu pertunjukan yang telah diatur untuk membebaskan
terdakwa. Dan karena menyangkut uang, hanya orang kaya lah yang dapat menikmati keadaan
inkonsistensi penegakan hukum ini. Sementara orang miskin (atau yang relatif lebih miskin) akan
putusan pengadilan yang lebih tinggi.

4. Penggunaan Tekanan Asing dalam Proses Peradilan

Campur tangan asing bagaikan pisau bermata dua. Disatu pihak tekanan asing dapat membawa
berkah bagi pencari keadilan dengan dipercepatnya penyidikan dan penegakan hukum oleh aparat.
Lembaga asing non pemerintah biasanya aktif melakukan tekanan-tekanan semaam ini, misalnya
dalam pengusutan kasus pembunuhan di Aceh, tragedi Ambon, Sambas, dan sebagainya.

Namun di lain pihak tekanan asing kadang juga memberi mimpi buruk pula bagi masyarakat.
Beberapa perusahaan asing yang terkena kasus pencemaran lingkungan, gugatan tanah oleh
masyarakat adat setempat, serta sengketa perburuhan, kadang menggunakan negara induknya
untuk melakukan pendekatan dan tekanan terhadap pemerintah Indonesia agar tercapai
kesepakatan yang menguntungkan kepentingan mereka, tanpa membiarkan hukum untuk
menyelesaikannnya secara mandiri. Tekanan tersebut dapat berupa ancaman embargo,
penggagalan penanaman modal, penghentian dukungan politik, dan sebagainya. Kesemuanya
untuk meningkatkan posisi tawar mereka dalam proses hukum yang sedang atau akan dijalaninya.

Prioritas Penegakan Hukum

Inkonsistensi penegakan hukum merupakan masalah penting yang harus segera ditangani. Masalah
hukum ini paling dirasakan oleh masyarakat dan membawa dampak yang sangat buruk bagi
kehidupan bermasyarakat. Persepsi masyarakat yang buruk mengenai penegakan hukum,
menggiring masyarakat pada pola kehidupan sosial yang tidak mempercayai hukum sebagai sarana
penyelesaian konflik, dan cenderung menyelesaikan konflik dan permasalahan mereka di luar jalur.
Cara ini membawa akibat buruk bagi masyarakat itu sendiri. Pemanfaatan inkonsistensi penegakan
hukum oleh sekelompok orang demi kepentingannya sendiri, selalu berakibat merugikan pihak
yang tidak mempunyai kemampuan yang setara. Akibatnya rasa ketidakadilan dan ketidakpuasan
tumbuh subur di masyarakat Indonesia. penegakan hukum yang konsisten harus terus diupayakan
untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap hukum di Indonesia.

Melihat penyebab inkonsistensi penegakan hukum di Indonesia, maka prioritas perbaikan harus
dilakukan pada aparat, baik polisi, jaksa, hakim, maupun pemerintah (eksekutif) yang ada dalam
wilayah peradilan yang bersangkutan. Tanpa perbaikan kinerja dan moral aparat, maka segala
bentuk kolusi, korupsi, dan nepotisme akan terus berpengaruh dalam proses penegakan hukum di
Indonesia.

Selain perbaikan kinerja aparat, materi hukum sendiri juga harus terus menerus diperbaiki. Kasus
tidak adanya perundangan yang dapat menjerat para terdakwa kasus korupsi, diharapkan tidak
akan muncul lagi dengan adanya undang-undang yang lebih tegas. Selain mengharapkan peran
DPR sebagai lembaga legistatif untuk lebih aktif dalam memperbaiki dan menciptakan perundang-
undang yang lebih sesuai dengan perkembangan jaman, diharapkan pula
peran dan kontrol publik baik melalui perorangan, media massa, maupun lembaga swadaya
masyarakat. Peningkatan kesadaran hukum masyarakat juga menjadi faktor kunci dalam
penegakan hukum secara konsisten.

Semoga dengan dimuatnya artikel ini pengunjung dapat lebih memahami kondisi penagakan
hukum di Indonesia dan dapat ikut serta memikirkan langkah-langkah strategis dalam menegakkan
hokum dan keadilan. Jadikan panduan hokum dari langit (QS. 4:105) sebagai rujukan agar kita tidak
salah menetapkan keputusan.

Daftar Pustaka:
o Ali, Achmad. Pengadilan dan Masyarakat, Hasanudin University Press, Ujung Pandang, 1999.
o Doyle, Paul Johnson, Teori Sosiologi Klasik dan Modern, terj. Robert M.Z. Lawang, Gramedia,
Jakarta, 1986.
o Soemardi, Dedi, Pengantar Hukum Indonesia, Ind-Hill-Co, Jakarta, 1997

Sumber: Dunia Esaiduniaesai.com dan sumber lain


Komentar (0) >>
Komentar
KRISIS KEPEMIMPINAN DI INDONESIA
Rabu, 22 April 2009 @ 23:08 WIB - Diari

KRISIS KEPEMIMPINAN DI INDONESIA


Sejarah perkembangan masyarakat khususnya dalam bidang politik menunjukkan terjadinya
peralihan-peralihan kekuasaan sebagai perwujudan pergantian kepemimpinan nasional.
Pemilu memang menghasilkan peralihan kekuasaan dengan bergantinya kepemimpinan
nasional. Tetapi dengan pergantian ini tidak dapat diharapkan membawa perubahan yang
diperlukan tetapi menghasilkan reformis-reformis oportunis dan mengambil alih kekuasaan
dengan maksud “giliran” berkuasa untuk bergantian mendapatkan keuntungan-keuntungan
kekuasaan. Bagi mereka masalah kekuasaan rakyat, bangsa, dan republik bukan menjadi
masalah utama, tetapi hanya merupakan masalah sekunder (Sumawinata, 2004:55-56).
Menjelang Pemilu 2009 banyak orang yang mencalonkan diri sebagai Presiden di 2009, hal
ini merupakan salah satu bentuk bukti bahwa telah terjadi krisis kepemimpinan di Indonesia
sekarang. Krisis kepemimpinan yang dimaksud adalah bukan sudah tidak ada lagi calon yang
mau memimpin bangsa ini. Akan tetapi Indonesia belum memiliki sosok atau figur pemimpin
yang pas, yang cocok, dan diyakini mampu membawa aroma perubahan terhadap kondisi
negeri ini.
Munculnya tokoh-tokoh baru dalam bursa capres RI 2009 seperti Fajroel Rachman, Fadel
Muhammad, Yuddy Chrisnandi, dan lain-lain merupakan suatu bentuk ketidakpuasan
terhadap suatu kondisi yang ada di Indonesia, dan kemudian ketidakpercayaan kepada calon-
calon yang sekarang ada untuk memberikan perubahan yang signifikan ke arah yang lebih
baik kepada kondisi yang sekarang ada.
Kepemimpinan merupakan posisi yang sangat strategis karena kepemimpinan sama seperti
kepala dari tubuh, ketika bagian kepala sakit maka bagian tubuh yang lainnya akan
terganggu, demikian pula sebaliknya ketika kepala sehat maka seluruh tubuh akan sehat. Di
tangan pemimpin banyak keputusan yang akan sangat menentukan arah dari kota dan bangsa
ini, bangsa sebagai tubuh sangat ditentukan oleh sang kepala.

Kondisi Kepemimpinan Di Indonesia

Kepemimpinan adalah pengaruh antar pribadi, dalam situasi tertentu dan langsung melalui
proses komunikasi untuk mencapai satu atau beberapa tujuan tertentu ( Tannabaum, Weschler
dan Nassarik, 1961). Sedangkan menurut Rauch dan Behling (1984) kepemimpinan adalah
suatu proses yang mempengaruhi aktivitas kelompok yang diatur untuk mencapai tujuan
bersama.
Kepemimpinan merupakan pokok yang sangat penting di dalam suatu bangsa dan
masyarakat. Krisis yang di alami oleh bangsa Indonesia yang berkepanjangan dan belum ada
jalan keluarnya menyadarkan semua bahwa di perlukan model kepemimpinan baru karena
jika yang lama diteruskan bangsa ini tidak bisa keluar dari krisisnya bahkan akan membawa
bangsa ini terpuruk. Jika tidak ada model yang baru, maka pemimpin yang berperan sebagai
nahkoda bangsa akan terus membawa kapal Indonesia ini berputar tanpa arah.
Kepemimpinan bangsa ini sedang mengalami titik yang terendah sepanjang sejarah, karena
akhirnya semua disadarkan bahwa walaupun bangsa ini sudah ada lebih dari 62 tahun
merdeka dan sudah bergonta-ganti pemimpin dengan segala tipenya, tetapi masalah bangsa
ini semakin berat. Beberapa era sudah di lewati, Era Orde Lama, Orde Baru dan Reformasi
satu dekade tampaknya hanya jalan ditempat atau bahkan mengalami kemunduran. Orde baru
bukannya meningkatkan taraf hidup masyarakat, tetapi membawa kesengsaraan mayoritas
warga dan mewariskan bahaya disintegrasi nasional (Kazhim dan Alfian Hamzah, 1999:56).
Walaupun banyak keberhasilan ekonomi dan sosial, Orde Baru akhirnya erat terkait dengan
represi politik yang kejam, korupsi yang mencolok dan nepotisme, serta tiadanya kepastian
hukum dan lemahnya penegakan hukum (Wie, 2005 : ixi).
Menurut Mannulang (2008) persoalan kepemimpinan yang dihadapi bangsa ini adalah karena
model pemimpin yang sudah dibangun dimasyarakat adalah sesuatu yang salah, juga proses
untuk menghasilkan pemimpinpun tidak mendukung untuk menghasilkan produk pemimpin
yang benar. Sementara menurut Laksmono (2008), situasi Indonesia sekarang karena konsep
kita belum terbangun menyiapkan pemimpin, sehingga muncul politisi aktor dadakan. Dan
yang perlu kita kritisi, kesiapan konsep di luar negeri ada konsep kabinet bayangan untuk
menjadi acuan yang mempunyai terobosan. Hal ini tidak pernah dilakukan oleh partai yang
padahal harus mereka siapkan untuk menjalankan konsep pemerintahan, jika nanti partainya
menang. Akibat belum ada acuan yang kuat dalam kepemimpinan menurut Bambang,
mengakibatkan terjadi koalisi dan kompromi yang sampai hari ini belum menyiapkan konsep
koalisi yang sempurna untuk rakyat.
Di tengah pengap dan gegap gempitanya jeritan ekonomi rakyat yang belum nampak ke arah
perbaikan yang berarti. Lobi-lobi politik di tingkat elite sudah mulai dieratkan seiring isu-isu
politik yang berpengaruh pada dampak kebijakan dan pamor tokoh-tokoh politik dan yang
ditokohkan. Persoalan dalam negeri yang membludak seperti air bah rupanya tidak
menyurutkan langkah beberapa mantan presiden yang sebelumnya telah gagal memimpin
bangsa ini ke arah perbaikan. Miris memang kegagalan memimpin bangsa ini ke arah
perbaikan nasib rakyat di masa lalu bukan menjadi bahan introspeksi dan sadar diri akan
hakekat pemimpin yang sebenarnya ini malah semakin kecanduan. Dengan dalih rakyat
masih mempercayai untuk mencalonkan diri jadi presiden (Mulyani, 2008).
Sikap kesewenang-wenangan terhadap nasib dan harta rakyat telah menjadikan lupa diri
bahwa mereka pengayom rakyat bukan perampok rakyat. Gemerlapan kemewahan telah
menjadikannya lupa pada posisinya sebagai pelayan masyarakat yang dititipi amanah untuk
memperbaiki nasib rakyat yang semakin hancur akibat didera kesulitan hidup yang tiada
henti-hentinya.
Melihat pemimpin bangsa saat ini, cita-cita luhur proklamasi 1945 mungkin hanya akan ada
dalam impian. Pemimpin bangsa telah kehilangan hati dan otak (baca: Intelektual).
Miskinnya hati nurani, terbukti dengan semakin banyaknya kasus-kasus memalukan
dilakukan pejabat yang notabene pemimpin bangsa di semua lini tatanan pemerintahan, mulai
dari pelecehan seksual anggota dewan hingga penyuapan jaksa. Kegagalan bangsa ini lepas
dari permasalahan adalah indikator bahwa para pemimpin tidak punya kapabilitas intelektual
yang cukup. Kebijakan-kebijakan yang mereka ambilpun lebih cenderung pada solusi instant
terhadap permasalahan yang saat itu mereka hadapi, bukan pada penyelesaian masalah secara
komprehensif. Dengan pola pikir pemimpin seperti itu, tidak mengerankan jika pemimpin
lebih memilih menjual asset bangsa dari pada mencari alternatif solusi lain.
Mengatasi Krisis Kepemimpinan Di Indonesia
Atas banyaknya permasalahan kepemimpinan dan permasalahan bangsa yang tidak kunjung
henti, menyebabkan rakyat tidak lagi percaya dengan kepemimpinan di Indonesia saat ini.
Hal ini disebabkan karena moral para pemimpin kita yang rendah. Rakyat tidak butuh
pemimpin yang pintar dan piawai berpidato, berpendidikan tinggi sampai S3, berpangkat
militer tinggi hingga Jenderal tapi kerjanya hanya menipu dan memperdayakan rakyat. Tetapi
rakyat butuh pemimpin yang mendengar tangisan pilu nasibnya dan mengulurkan tangannya
untuk berdiri tegak bersama-sama dalam mengatasi masalah dengan asas kejujuran dan
kepercayaan serta kerendahan dan kesederhanaan. Rakyat butuh pemimpin memikirkan masa
depan anak-anak bangsa. Rakyat butuh pemimpin yang berani mengambil kebijakan untuk
mengkounter harga-harga bahan pokok dan menghilangkan kebijakan pengendalian harga
pada kelompok tertentu, hingga harga kebutuhan pokok dapat terjangkau hingga dapat makan
nasi putih yang hangat dengan sekerat tempe sudah cukup bagi mereka.
Menurut Barry Z. Posner kepemimpinan dan kredibilitas tergantung pada hati, bukan hanya
otak. Kedua hal tersebut seharusnya ada pada setiap pemimpin bangsa ini, punya
intelektualitas yang cerdas dan juga punya hati yang ikhlas untuk memimpin bangsa ini lepas
dari berbagai permasalahan yang semakin kompleks. Dengan penyatuan dua hal tersebut
tentunya akan mampu membentuk pemerintahan Negara Indonesia yang melindungi segenap
bangsa Indonesia menuju kesejakteraan umum, kecerdasan bangsa, dan keadilan sosial sesuai
dengan cita-cita proklamasi kemerdekaan Indonesia yang termaktub dalam pembukaan UUD
1945.
Sri Sultan Hamengku Buwono X (2008) mengungkapkan adanya kebutuhan mendesak
melahirkan kembali kepemimpinan global untuk mengatasi berbagai krisis di dunia,
khususnya Indonesia. Menurut Sri Sultan, kepemimpinan global tersebut harus mampu
mencapai tujuan-tujuan utama global yang dirumuskan dalam "Millennium Developmen
StGoals" (MDGs). "Salah satu yang mendesak disebut dalam MDGs adalah lingkungan
hidup. Disebutkan bahwa lingkungan hidup akan menjadi masalah besar bagi Indonesia
dimasa yang akan datang. Hal itu sesuai hasil survey "Environmental Performance Index
(EPI) 2008 oleh Universitas Yale dan Columbia menyebutkan bahwa Indonesia berada di
urutan ke-102 dari 149 negara berwawasan lingkungan (http://www.antara.co.id).
Masalah lingkungan, tidak pernah berdiri sendiri, karena berkaitan dengan pilihan sistem
ekonomi, politik, sosial, menyangkut HAM dan keadilan pengelolaan sumber daya alam. Jika
melihat tantangan yang begitu besar, barangkali tipe kepemimpinan yang dibutuhkan
Indonesia ke depan adalah tipe yang peduli terhadap lingkunganatau "eco-sexsual".
"Eco-seksual" yang dimaksud adalah budaya tandingan terhadap metroseksual atau individu
yang sadar terhadap penampilan, yang ditopang pola hidup konsumtif. Menurut Sri Sultan
HB X (2008) bahwa calon pemimpin "eco-sexsual" setidaknya harus mempunyai tiga ciri
yakni : Pertama memiliki visi yang jelas tentang pembangunan berwawasan keberlanjutan
ekologi dan bukan hanya berhenti pada pembangunan berkelanjutan. Kedua, tidak pernah
terlibat dalam kegiatan yang merusak lingkungan hidup, mensemponsorinya, atau
mengesahkan peraturan yang merusak lingkungan. Ketiga, tidak menerima dana kampanye
dari perusahaan dan pengusaha yang terlibat dalam kasus lingkungan hidup, atau potensial
menimbulakn kerusakan dan pencemaran.
Sedangkan menurut Laksmono (2008) bahwa akibat belum ada acuan yang kuat dalam
kepemimpinan, mengakibatkan terjadi koalisi dan kompromi yang sampai hari ini belum
menyiapkan konsep koalisi yang sempurna untuk rakyat. Resep yang bisa menjadi solusi bagi
bangsa adalah kepemimpinan yang akan muncul tidak cukup dengan pesona, tapi konsep dan
harus bisa menyemangati masyarakat ikut membangun.
Melihat situasi yang sudah genting, maka di butuhkan keberanian dan terobosan untuk
munculnya pemimpin dengan model baru yaitu pemimpin yang memiki motivasi yang bersih
untuk mengutamakan kepentingan rakyat banyak dan bukan untuk kepentingan yang lain,
untuk hal ini dibutuhkan pemimpin yang bersih dari hutang politik dan hutang janji kepada
kelompok manapun. Dibutuhkan pemimpin yang memiliki visi yang jelas untuk memberi
arah penyelesaian dari krisis berkepanjangan dan mempercepat mengejar ketertinggalan dari
bangsa-bangsa lain yang di buat dalam program jangka pendek, menengah dan panjang
dengan kriteria keberhasilan yang dapat diukur. Pemimpin yang berani untuk mengubah
paradigma mengemis minta bantuan dari bangsa lain dengan paradigma mempercayai bahwa
bangsa dengan segala potensinya mampu untuk menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa atau
bersama bantuan dari bangsa lain. Kalaupun ada perjanjian dengan bangsa lain harus sebesar-
besarnya untuk kepentingan rakyat banyak, jika tidak perjanjian itu harus dievaluasi bahkan
dibatalkan.
Proses melahirkan kepemimpinan yang ada harus dibaharui, karena yang ada sekarang hanya
menghasilkan pemimpin yang penuh dengan hutang politik dan balas budi kepada orang dan
kelompok tertentu, ini harus dihentikan. Cara berpikir dan cara mengelola negara ala
Soeharto harus segera diakhiri. Soeharto dulu berperilaku seperti raja Jawa yang melibatkan
seluruh wilayah negara sebagi kerajaannya dan setiap provinsi bukan saja harus membayar
upeti ke pemerintah pusat, tetapi juga harus tunduk dan taat kepada kehendak dan otoritas
sentral. Akibat manajemen Soeharto itu, kini kita harus memikul akibat yang membawa
rawan perpecahan (Kazhim dan Alfian Hamzah, 1999:83).
Adanya pelatihan-pelatihan kepemimpinan di kampus-kampus harus tetap ditingkatkan agar
terjadi regenerasi kepemimpinan yang dinamis dan berkesinambungan. Dan sebagai upaya
untuk membentuk kader-kader bangsa yang tangguh, berkepribadian dan bertaqwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa. Mahasiswa sebagai agen of change harus benar-benar sadar atas apa
yang telah mereka sandang selama ini, mereka tidak hanya berpangku tangan saja atas apa
yang sedang terjadi di negara ini. Tetapi ikut memikirkan bagaimana nasib bangsa ini
kedepan, bagaiman memajukan bangsa ini agar terbebas dari berbagai permasalahan bangsa
yang semakin hari semakin sulit.

DAFTAR PUSTAKA

Kazhim, Musa dan Hamzah, Alfian.1999. 5 Partai Dalam Timbangan: Analisis dan Prospek.
Bandung: Pustaka Hidayah

Laksmono, Shergi, Bambang. 2008. Atasi Krisis Kepemimpinan, DPD Sarankan Kontrak
Politik. Dalam http://rakyatriau.com/index.php?option=uon-
conten&task=viev&id=1414&itemin=33 (Diunduh pada 12/11/2008)

Manullang, Rachmat T. 2008. Krisis Bangsa dan Kepemimpinan. Koran Mitra Bangsa : Edisi
33 tahun II 1207

Mulyani, Neni. 2008. Sosok Pemimpin Indonesia Mendatang. Dalam http://suara pembaca-
detik.com./read/2008/06/23/070651/960587/471/indonesia-krisis-pemimpin-muda (Diunduh
pada 12/11/2008)

Sri Sultan Hamengku Buwono X. 2008. Kepemimpinan Global Atasi Krisis Di Indonesia.
Dalam http://www.antara.co.id (Diunduh pada 12/11/2008)

Sumawinata, Sarbini.2004. Politik Ekonomi Kerakyatan. Jakarta: PT gramedia Pustaka


Utama

Wie, Thee Kian. 2005. Pelaku Berkisah Ekonomi Indonesia 1950 sampai 1990-an. Jakarta.
Kompas Media Nusantara

enin, 09 Maret 2009


CERMIN BURAM PENEGAKKAN HUKUM DI INDONESIA (Sebuah Analisis
Tinjauan Sosiologi Hukum) Bagian 2 (selesai)
Diposkan oleh MY FOTO di 21:43 . Senin, 09 Maret 2009
3. Fenomena Penegakkan Hukum di Indonesia
Ruang lingkup penegakkan hukum sebenarnya sangat luas sekali, karena mencakup hal-hal
yang langsung dan tidak langsung terhadap orang yang terjun dalam bidang penegakkan
hukum. Akan tetapi yang dimaksud dengan penegakkan hukum menurut penulis disini adalah
penegakkan hukum yang tidak hanya mencakup “law enforcement”, juga meliputi “peace
maintenance”. Adapun orang-orang yang terlibat dalam masalah penegakkan hukum di
Indonesia ini adalah diantaranya polisi, hakim, kejaksaan, pengacara dan pemasayarakatan
atau penjara.
Hukum bukan sekedar kumpulan peraturan tingkah laku belaka, tapi juga manifestasi konsep-
konsep, ide-ide, dan cita-cita sosial mengenai pola ideal sistem pengaturan dan
pengorganisasian kehidupan masyarakat. Hal itu tercermin dalam konsep atau cita-cita
tentang keadilan sosial, kesejahteraan hidup bersama, ketertiban dan ketentraman masyarakat
serta demokrasi.
Pola ideal sistem pengaturan dan pengorganisasian kehidupan masyarakat dengan sarana
hukum ini meliputi seluruh aspek kehidupan masyarakat, baik dalam bidang sosial dan
budaya maupun dalam bidang ekonomi dan politik. dalam konteks ini, hukum merupakan
pedoman bertingkah laku dalam kehidupan masyarakat.
Hukum merupakan kaidah tertinggi yang harus diikuti oleh masyarakat dalam melakukan
interaksi sosial, dan oleh penguasa negara dalam penyelenggaraan kehidupan bernegara dan
bermasyarakat.
Perlu diketahui, bahwa hukum bukanlah merupakan kaidah yang bebas nilai, dimana manfaat
dan mudaratnya tergantung kepada manusia pelaksananya atau orang yang menerapkannya.
Tetapi hukum merupakan kaidah yang sarat nilai, menentukan identitasnya, harapan-
harapannya, dan cita-citanya. Singkatnya, hukum memiliki logika sendiri, kehendak sendiri,
dan tujuan sendiri.
Walaupun demikian, hukum tidak dapat merealisasikan sendiri kehendak-kehendaknya
tersebut, karena ia hanya merupakan kaidah. Oleh karena itu dibutuhkan kehadiran manusia
untuk mewujudkan (aparat penegak hukum). Dengan cara memandang hukum seperti itu,
maka penegakkan hukum (law enforcement) tidak sekedar menegakkan mekanisme formal
dari suatu aturan hukum, tapi juga mengupayakan perwujudan nilai-nilai keutamaan yang
terkandung dalam hukum tersebut.
Penegakkan hukum yang hanya mengandalkan prosedur formal, tanpa mengaitkan secara
langsung dengan spirit yang melatarbelakangi lahirnya kaidah-kaidah hukum, membuat
proses penegakkan hukum akan berlangsung dengan cara yang sangat mekanistik. Padahal
tuntutan hukum bukan hanya pada pelembagaan prosedur dan mekanismenya, tapi juga pada
penerapan nilai-nilai substantifnya.
Dalam proses perubahan sosial, faktor-faktor yang berpengaruh terhadap bekerjanya hukum
dalam masyarkat bukan hanya faktor internal dalam sistem hukum itu sendiri ((hukum,
aparat, organisasi, dfasilitas), tapi juga faktor-faktor eksternal di luar sistem hukum, seperti
sistem sosial, politik, ekonomi, dan budaya.
Melihat kenyataan di atas, dapat dikatakan bahwa hukum sangat erat dengan kemasyarakatan,
oleh karenanya hubungan antara hukum dan penegak hukum yang satu dengan yang lainnya
sangat erat sekali. Hal ini sesuai dengan sebuah statemen yang menyatakan bahwa hukum
secara sosiologis itu sangat penting, dan merupakan lembaga kemasyarakatan (sosial
institution) yang merupakan kumpulan nilai-nilai, kaidah-kaidah dan pola-pola perilakuan
yang berkisar pada kebutuhan-kebutuhan pokok manusia.
Dalam kenyataanya ada tiga unsur pokok yang mempengaruhi terbentuk suatu hukum dan
ditaatinya suatu hukum yaitu faktor penegak hukum itu sendiri, faktor masyarakatnya, dan
faktor kebudayaannya.
Secara sosiologis, maka setiap penegak hukum tersebut mempunyai kedudukan (status) dan
peranan (role). Kedudukan (sosial) merupakan posisi tertentu di dalam struktur
kemasyarakatan, yang mungkin tinggi dan juga bisa rendah. Kedudukan tersebut sebenarnya
merupakan suatu wadah, yang isinya adalah hak-hak dan kewajiban—kewajiban tertentu.
Hak-hak dan kewajiban tersebut merupakan peranan atau role. Maka dengan demikian
mereka mempunyai peranan untuk berbuat atau bertindak, sedangkan kewajiban adalah
beban atau tugas yang harus dilaksanakan sesuai dengan apa yang menjadi bebannya.
Seorang penegak hukum, sebagaimana halnya dengan warga-warga masyarakat lainnya,
lazimnya mempunyai beberapa kedudukan dan peranan sekaligus. Dengan demikian, tidaklah
mustahil, bahwa antara berbagai kedudukan dan peranan penegak hukum itu menimbulkan
konflik baik status maupun perannya.
Berbagai situasi sangat mungkin akan terjadi dan dihadapi oleh penegak hukum, dimana
mereka harus melakukan diskresi, dengan mempertimbangkan faktor-faktor penyebab
lainnya suatu kriminal tersebut terjadi. Dan situasi-situasi tersebut dapat berupa penindakan
langsung atau tidak adanya tindakan terhadap pelanggar. Dalam siatuasi ini apabila aparat
penegak hukum lambat dalam melakukan aksi hukum terhadap pelaku kejahatan, maka
mungkin hukum masyarakat akan terjadi. Karena masyarakat selama ini tidak dapat mencari
keadilan sebagaimana yang dimaksud dalam negara hukum Indonesia.
Perlu dicermati bahwa penegak hukum merupakan golongan panutan dalam masyarakat,
yang hendaknya mempunyai kemampuan-kemampuan tertentu, sesuai dengan aspirasi
masyarakat. Selama ini pembodohan aparat penegak hukum kepada masyarakat sangat
menyakitkan. Contoh beberapa kasus yang terjadi selama ini, di mana para koruptor dapat
lepas begitu saja (kasus Edi Tansil, Suwondo, Bank Bali dan lain-lain).
Selama ini penegak hukum tidak mampu berkomunikasi dengan masyarakat, maka akhirnya
masyarakat lebih mempercayai hukum itu sendiri dengan tindakan nyata tanpa adanya proses
pengadilan yang sebenarnya. Apalagi dengan adanya beberapa oknum penegak hukum yang
nyata-nyata telah melanggar hukum tetap dilindungi. Maka bukanlah aparat sebagai panutan
oleh masyarakat tetapi hukum masyarakat menjadi panutan aparat penegak hukum. Inilah
yang harus dicermati bahwa apabila dalam penegakkan hukum tersebut tidak melihat realitas
hukum di masyarakat maka kehancuran akan mulai menggerogoti kehidupan hukum di
Indonesia pada masa yang akan datang.
Beberapa kasus saat ini merupakan pelajaran yang baik bagaimana pembentukkan hukum
yang ada di Indonesia saat ini sebaiknya dilakukan. Karena tanpa mengikutsertakan
masyarakat, maka penegakkan hukum tersebut tidak akan dapat dilaksanakan, contoh konkrit
aktual yaitu adanya Undang-Undang PKB, dalam peraturan tersebut, masyarakat sangat
dirugikan dan hukum tersebut dibuat hanya menguntungkan kalangan militer , namun
demikian, akhirnya kita dapat lihat bagaimana peristiwa berakhirnya hukum tersebut di
masyarakat.
Sesungguhnya, tujuan penegakkan hukum berasal dari masyarakat dimaksudkan untuk
mencapai kedamaian dan keadilan di dalam masyarakat itu sendir, karena mengalami hukum
tersebut setiap hari. Oleh karenanya, dipandang dari sudut tertentu, maka masyarakat dapat
mempengaruhi penegakkan hukum tersebut.
Selanjutnya, kondisi sosial masyarakat Indonesia selalu berbeda pendapat terhadap persoalan
hukum. Pengertian hukum menjadi luas menurut masyarakat. Namun demikian, pengertian
hukum tersebut mempunyai kecenderungan yang besar dan bahkan mengidentifikasikannya
degan petugas. Sebagai akibatnya adalah bahwa baik buruknya hukum tersebut selalu
dikaitkan dengan penegak hukum, yang menurut masyarakat merupakan pencerminan dari
hukum sebagai struktur maupun proses daripada hukum itu sendiri.
Kaitannya dengan hal tersebut, maka pelanggaran hukum oleh masyarakat dengan model
terbaru amuk massa juga banyak dilatar belakangi oleh adanya suatu kegiatan dari penegak
hukum itu sendiri yang sedianya untuk bertujuan agar masyarakat mentaati hukum akantetapi
malah membuat masyarakat untuk melanggar hukum. Contoh kongkrit, kalau ketaatan
terhadap hukum diketengahkan atau dibahas mengenai sanksi-sanksi negatif yang berwujud
hukuman apabila hukum dilanggar, maka mungkin masyarakat malah hanya taat pada saat
ada petugas. Dan mungkin juga jika mempunyai massa yang banyak malah petugas sendiri
yang dihakimi massa tanpa ada yang dapat menghalangi hukum yang dilakukan oleh massa
itu sendiri.
Oleh karena itu, hendaknya sebuah hukum tidak menempuh suatu cara bahwa hukum itu
sebagai sesuatu yang sangat menakutkan, tapi dengan menggunakan cara persuasif lebih
tepat. Agar masyarakat lebih memahami dan mengetahui hukum, sehingga ada persesuaian
dengan nilai-nilai atau norma-norma yang berlaku pada masyarakat.
Dari sudut sistem sosial dan budaya, Indonesia merupakan suatu masyarakat majemuk (plural
society), dengan sekian banyaknya golongan etnik dengan kebudayaan-kebudayaan
khususnya. Maka akhirnya diketahui bahwa penegakkan hukum bukanlah merupakan suatu
kegiatan yang hanya berdiri sendiri, melainkan mempunyai hubungan timbal balik antara
masyarakat dan hukum, begitu juga sebaliknya.
Melihat kondisi Indonesia saat ini yang bermacam perilaku baik secara tradisional maupun
modern, maka cara yang efektif dalam penegakkan hukum itu sendiri adalah bagaimana
caranya mengenal lingkungan sosial dari masyarakat terhadap hukum dengan sebaik
mungkin.
Akhirnya, eeorang penegak hukum harus mengenal stratifikasi penegak hukum atau
pelapisan masyarakat yang ada di lingkungan tersebut, beserta tatanan status/kedudukan dan
peranan yang ada. Setiap stratifikasi sosial selalu ada dasar-dasarnya.
Hal tersebut dilakukan untuk mengetahui bagaimana pengaruh kekuasaan dan wewenang
serta penerapan hukum yang akan dilakukan dalam kondisi masyarakat yang demikian.
Sebagai hasil akhir, maka dengan memahami dan mengetahui stratifikasi dalam masyarakat
maka terbukalah jalan untuk mengidentifikasi nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku
dilingkungan tersebut. Pengetahuan serta pemahaman terhadap nilai-nilai atau norma-norma
serta kaidah-kaidah sangat penting di dalam pekerjaan menyelesaikan perselisihan-
perselisihan yang terjadi (ataupun yang bersifat potensial).
Disamping itu, juga akan diketahui bahwa hukum tertulis yang ada saat ini mempunyai
berbagai kelemahan yang harus diatasi dengan keputusan-keputusan yang cepat dan tepat.
Penyebab utama dari kelemahan terhadap hukum tertulis Indonesia saat ini adalah
sebagaimana telah dijelaskan terdahulu bahwa adanya pendidikan hukum masa pemerintahan
Indonesia selama ini yang mengabaikan supremasi hukum dan tidak mengikutsertakan
masyarakat dalam pembuatan hukum itu sendiri. Sehingga demokrasi yang hendak
diterapkan keluar dari jalur dan hanya mengenai beberapa orang pemerintahan saja,
sedangkan masyarakat menjadi tertindas dengan adanya hukum tersebut.
Oleh karena itu, untuk mengantisipasi hukum di masa yang akan datang, hendaknya ikutserta
dan peran masyarakat harus dominan dalam pembuatan hukum itu.

4. Pembentukan Hukum yang Ideal berdasarkan Sosiologi Hukum


Sebagaimana dalam pembahasan diatas, maka dapat diketahui bagaimana kondisi baik segi
demokrasi, politik, dan penegak hukum di Indonesia selama ini sudah berjalan. Dalam
analisis ini akan dibahas tentang upaya mengatasi anarkisme massa dan pembentukan hukum
yang ideal dalam konteks sosiologi hukum.
Pemerintah ataupun aparat kepolisian perlu merumuskan kembali strategi baru untuk segera
mengatasi merebaknya fenomena main hakim sendiri yang menisbikan perikemanusiaan dan
kaidah-kaidah hukum. Gejala main hakim sendiri kini sudah ber-eskalasi cukup jauh
sehingga cenderung anarkhis, merontokkan pilar-pilar wibawa hukum. Jajaran kepolisian
harus menghentikan aksi ini serta bertanggung jawab mengusut berbagai kejadian
“pengadilan massa”.
Jika kita lihat melalui kaca mata sosiologi hukum, jelas bahwa fenomena pengadilan massa
merupakan ketidakberdayaan sistem hukum yang dibuat selama ini dan pengaruh aparat
penegak hukum dan akhirnya jika tetap dibiarkan pengadilan massa itu, maka menjadi sebuah
fenomena anarkisme yang berbahaya, baik itu terhadap hukum, aparat bahkan akan menjadi
suatu kudeta terhadap pemerintah. Karena apabila pengerahan massa yang tidak terkendali
dapat kita lihat bagaimana negara ini hancur tanpa ada hukum yang dapat dijadikan sebagai
bahan pertimbangan dalam melaksanakan hukum itu sendiri.
Oleh karena itu, fenomena saat ini juga jangan sepenuhnya dianggap sebagai kesalahan
masyarakat secara mutlak, tetapi harus dilihat juga apakah tidak mungkin tindakan tersebut
merupakan kepedulian masyarakat dalam memerangi para penjahat hukum dengan tindakan
nyata. Dengan demikian, pekerjaan yang paling utama yang harus dilakukan para penegak
hukum adalah bagaimana mengupayakan agar tindakan masyarakat (pengadilan massa) tidak
menjurus menjadi kasar, sampai membakar pelaku kejahatan, tetapi bagaimana caranya agar
masyarakat dan aparat keamanan saling membutuhkan dan menjadikannya mitra dalam
menghadapi setiap bentuk kejahatan.
Pengadilan massa, sesungguhnya merupakan kesalahan dalam memproduk hukum yang
selama ini tidak mengindahkan pendapat para pemikir sosiologi hukum dalam membentuk
suatu hukum. Dapat kita lihat bagaimana hukum saat ini dibuat, penulis belum melihat i’tikad
para penguasa mengikutsertakan masyarakat dalam membentuk hukum tersebut.
Kondisi penegakkan hukum dalam masyarakat bukan hanya ditentukan oleh faktor tunggal,
melainkan dipengaruhi kontribusi secara bersama-sama terhadap kondisi tersebut. Namun
faktor mana yang paling dominan mempunyai pengaruh tergantung konteks sosial dan
tantangan yang dihadapi masyarakat bersangkutan.
Secara umum faktor-faktor yang mempengaruhi penegakkan hukum dapat dibedakan dalam
dua hal yaitu faktor-faktor yang terdapat dalam sistem hukum dan faktor-faktor yang terdapat
di luar hukum. Adapun faktor-faktor yang dalam sistem hukum meliputi faktor hukumnya
(undang-undang), faktor penegak hukum, dan faktor sarana dan prasarana. Sedangkan faktor-
faktor di luat sistem hukum yang memberikan pengaruh adalah faktor kesadaran hukum
masyarakat, perkembangan masyarakat, kebudayaan, dan faktor penguasa negara.
Realitas penegakkan hukum dalam masyarakat kita yang sedang mengalami proses
modernisasi juga mempengaruhi faktor-faktor majemuk tersebut. Dengan demikian kondisi
penegakkan hukum yang masih buruk dalam masyarakat kita dipengaruhi oleh berbagai
faktor.
Ada pendapat yang mengatakan bahwa faktor yang berdiri di belakang kelembekkan suatu
negara atau ketidakdisipilnan sosial yang meluas, yaitu perundang-undangan yang terburu-
buru (sweeping legislation). Perundangan yang demikian itu dimaksudkan untuk
memodernisasi masyarakat dengan segera, berhadapan dengan masyarakat yang umumnya
diwarsisi, yaitu otorianisme, paternalisme, partikularisme, dan banyak ketidak aturan lainnya.
Tapi menurut penulis, bahwa hal tersebut tampaknya tidak terjadi di Indonesia, karena proses
pembentukan suatu undang-undang sangat lamban dan dalam memperbaharui satu hukum
saja memerlukan waktu yang sangat lama.
Sebagaimana uraian sebelumnya, faktor suatu undang-undang tetap mempunyai pengaruh
terhadap kondisi buruk dalam penegakkan hukum di Indonesia saat ini. Ini terjadi karena
masih tetap dipertahankannya beberapa undang-undang atau ketentuan undang-undang yang
kurang sejalan dengan rasa keadilan masyarakat. hal ini tentunya memicu massa atau
masyarakat lebih tidak mempercayai hukum yanga ada di Indonesia saat ini secara
keseluruhan.
Faktor lain yang paling berpengaruh dalam penegakkan hukum di Indonesia adalah kualitas
sumber daya aparat penegak hukum. Bukan rahasia lagi bila aparat penegak hukum,
kepolisian, kejakasaan, kehakiman, dan kepengacaraan saling lempar-lemparan di depan
pengadilan tapi saling telpon-telponan ketika berada di luar sidang pengadilan.
Kurangnya profesionalisme ini terlihat dari lemahnya wawasan dan minimnya ketrampilan
untuk bekerja, rendahnya motivasi kerja, dan rusaknya moralitas personal aparat penegak
hukum.
Faktor-faktor di luar sistem hukum yang berpengaruh terhadap proses penegakkan hukum
adalah kesadaran hukum masyarakat. Perubahan sosial dan politik penguasa. Kesadaran
hukum masyarakat kita masih rendah, baik dikalangan masyarakat terdidik maupun di seputar
masyarakat kurang berpendidikan, bahkan juga di kalangan aparat penegak hukum itu
sendiri.
Hal ini sesuai dengan apa yang terjadi sekarang ini, dengan adanya pengadilan massa
terhadap pelaku kejahatan. Tanpa mengenal siapa yang melakukan kejahatan, semuanya
harus dihukum sesuai dengan hukum rakyat.
Pengaruh perubahan sosial terhadap proses penegakkan hukum di Indonesia tergambar dalam
perubahan tata nilai dalam masyarakat Indonesia sendiri. Perubahan tata nilai merupakan
perubahan tata kelakuan dalam pola interaksi sosial di antara sesama warga masyarakat.
Nilai-nilai lama sudah ditinggalkan sementara nilai-nilai baru belum terlembagakan, yang
akhirnya mengakibatkan perbenturan nilai-nilai atau terjadinya dualisme nilai dalam
masyarakat.
Nilai-nilai dualistik tersebut misalnya nilai kemafaatan sosial dan keadilan, nilai-nilai
tradisional dan modern, kekeluargaan dan individualisme, pertumbuhan dan pemerataan,
materialisme dan spiritualisme dan sebagainya. Ketidakserasian antara nilai-nilai yang
berpasangan tersebut menimbulkan kerancuan nilai dan ketidakpastian hukum sehingga
merangsang aparat penegak hukum melakukan tindakan yang bersifat patologis. Maka pada
akhirnya masyarakat memilih nilai sendiri dalam melakukan penegakkan hukum yang ada di
wilayahnya masing-masing sesuai dengan tuntutan dari masyarakat wilayah tersebut.
Untuk menghentikan segala aksi dan protes masyarakat terhadap para penegak hukum
melalui berbagai pengadilan massa yang sedang marak saat ini diperlukan sebuah startegi
yang besar dalam sejarah penegakkan hukum di Indonesia. Staretgi tersebut berasal dari
bagaimana proses membuat hukum yang sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh
masyarakat dan sesuai dengan keadaan sosial dan kebudayaan masyarakat di Indonesia.
Kesalahan yang paling besar selama ini adalah bahwa hukum di Indonesia yang berlaku dari
dulu hingga zaman reformasi saat ini merupakan adopsi hukum yang berasal dari negara lain
(contoh hukum pidana), padahal hukum yang telah disepakati oleh pemerintah berlaku di
Indonesia belum tentu sesuai dengan budaya dan keadan sosial daerahnya.
Seperti halnya persoalan pengadilan massa, hukum pidana Indonesia tidak cukup mengatur
kejahatan yang dilakukan massa (tindakan pidana kelompok), kecuali pasal 55 – 56 KUHP
yang mengklasifikasikan pelaku kejahatan dalam beberapa golongan, jadi suatu yang tidak
mudah untuk menyelidiki perkara ini. Tentunya hal ini kembali kepada bagaimana efektivitas
pembuatan hukum yang bersendikan masyarakat dan budaya Indonesia.
Oleh karena itu, hukum yang hendak diciptakan di negara Indonesia saat ini harus
mengikutsertakan masyarakat sebagai komunitas yang menjalani kehidupan dalam bernegara.
Tentunya hukum yang dibuat atas dasar peranserta masyarakat, penegakkan hukumnya akan
berbeda dengan pembuatan hukum tanpa mengitusertakan masyarakat.Hal tersebut akan
terjadi karena masyarakat mengetahui dan memahami hukum tersebut sesuai dengan apa
yang menjadi realitas keadilan dan kedamaian bagi kehidupan komunitas mayarakat itu
sendiri. Sedangkan hukum tanpa mengikutsertakan masyarakat, maka mereka tidak pernah
dapat memahami akan fungsi ketaatan mereka kepada hukum.semoga bermanfaat

1 komentar:
David Pangemanan mengatakan...
INI BUKTINYA : PUTUSAN SESAT PERADILAN INDONESIA

Putusan PN. Jkt. Pst No. 551/Put.G/2000/PN.Jkt.Pst membatalkan


demi hukum atas Klausula Baku yang digunakan Pelaku Usaha.
Putusan ini telah dijadikan yurisprudensi.
Sebaliknya, putusan PN Surakarta No. 13/Pdt.G/2006/PN.Ska
justru menggunakan Klausula Baku untuk menolak gugatan. Padahal
di samping tidak memiliki Seritifikat Jaminan Fidusia, Pelaku
Usaha/Tergugat (PT. Tunas Financindo Sarana) terindikasi
melakukan suap di Polda Jateng.
Ajaib. Di zaman terbuka ini masih ada saja hakim yang berlagak
'bodoh', lalu seenaknya membodohi dan menyesatkan masyarakat, sambil berlindung
di bawah 'dokumen dan rahasia negara'. Maka benarlah statemen KAI : "Hukum
negara Indonesia berdiri diatas pondasi suap". Sayangnya moral sebagian hakim
negara ini sudah sangat jauh terpuruk sesat dalam kebejatan. Quo vadis hukum
Indonesia?
Masalah Penegakan Hukum di Indonesia

Cita-cita reformasi untuk mendudukan hukum di tempat


tertinggi (supremacy of law) dalam kehidupan berbangsa dan bernegara hingga detik ini tak
pernah terrealisasi. Bahkan dapat dikatakan hanya tinggal mimpi dan angan-angan (utopia).
Begitulah kira-kira statement yang pantas diungkapkan untuk mendeskriptifkan realitas
hukum yang ada dan sedang terjadi saat ini di Indonesia.
Bila dicermati suramnya wajah hukum merupakan implikasi dari kondisi penegakan hukum
(law enforcement) yang stagnan dan kalaupun hukum ditegakkan maka penegakannya
diskriminatif. Praktik-praktik penyelewengan dalam proses penegakan hukum seperti, mafia
peradilan, proses peradilan yang diskriminatif, jual beli putusan hakim, atau kolusi Polisi,
Hakim, Advokat dan Jaksa dalam perekayasaan proses peradilan merupakan realitas sehari-
hari yang dapat ditemukan dalam penegakan hukum di negeri ini. Pelaksanaan penegakan
hukum yang “kumuh” seperti itu menjadikan hukum di negeri ini seperti yang pernah
dideskripsikan oleh seorang filusuf besar Yunani Plato (427-347 s.M) yang menyatakan
bahwa hukum adalah jaring laba-laba yang hanya mampu menjerat yang lemah tetapi akan
robek jika menjerat yang kaya dan kuat. (laws are spider webs; they hold the weak and
delicated who are caught in their meshes but are torn in pieces by the rich and powerful).
Implikasi yang ditimbulkan dari tidak berjalannya penegakan hukum dengan baik dan efektif
adalah kerusakan dan kehancuran diberbagai bidang (politik, ekonomi, sosial, dan budaya).
Selain itu buruknya penegakan hukum juga akan menyebabkan rasa hormat dan kepercayaan
masyarakat terhadap hukum semakin menipis dari hari ke hari. Akibatnya, masyarakat akan
mencari keadilan dengan cara mereka sendiri. Suburnya berbagai tindakan main hakim
sendiri (eigenrichting) di masyarakat adalah salah satu wujud ketidakpercayaan masyarakat
terhadap hukum yang ada.
Lalu pertanyaanya, faktor apa yang menyebabkan sulitnya penegakan hukum di Indonesia?
Jika dikaji dan ditelaah secara mendalam, setidaknya terdapat tujuh faktor penghambat
penegakan hukum di Indonesia, ketujuh faktor tersebut yaitu, Pertama, lemahnya political
will dan political action para pemimpin negara ini, untuk menjadi hukum sebagai panglima
dalam penyelenggaraan pemerintahan. Dengan kata lain, supremasi hukum masih sebatas
retorika dan jargon politik yang didengung-dengungkan pada saat kampanye. Kedua,
peraturan perundang-undangan yang ada saat ini masih lebih merefleksikan kepentingan
politik penguasa ketimbang kepentingan rakyat. Ketiga, rendahnya integritas moral,
kredibilitas, profesionalitas dan kesadaran hukum aparat penegak hukum (Hakim, Jaksa,
Polisi dan Advokat) dalam menegakkan hukum. Keempat, minimnya sarana dan prasana
serta fasilitas yang mendukung kelancaran proses penegakan hukum. Kelima, tingkat
kesadaran dan budaya hukum masyarakat yang masih rendah serta kurang respek terhadap
hukum. Keenam, paradigma penegakan hukum masih positivis-legalistis yang lebih
mengutamakan tercapainya keadilan formal (formal justice) daripada keadilan substansial
(substantial justice). Ketujuh, kebijakan (policy) yang diambil oleh para pihak terkait
(stakeholders) dalam mengatasi persoalan penegakan hukum masih bersifat parsial, tambal
sulam, tidak komprehensif dan tersistematis. Mencermati berbagai problem yang
menghambat proses penegakan hukum sebagaimana diuraikan di atas. Langkah dan strategi
yang sangat mendesak (urgent) untuk dilakukan saat ini sebagai solusi terhadap persoalan
tersebut ialah melakukan pembenahan dan penataan terhadap sistem hukum yang ada.
Menurut Lawrence Meir Friedman di dalam suatu sistem hukum terdapat tiga unsur (three
elements of legal system yaitu, struktur (structure), substansi (subtance) dan kultur hukum
(legal culture). Dalam konteks Indonesia, reformasi terhadap ketiga unsur sistem hukum yang
dikemukakan oleh Friedman tersebut sangat mutlak untuk dilakukan. Terkait dengan struktur
sistem hukum, perlu dilakukan penataan terhadap intitusi hukum yang ada seperti lembaga
peradilan, kejaksaan, kepolisian, dan organisasi advokat. Selain itu perlu juga dilakukan
penataan terhadap institusi yang berfungsi melakukan pengawasan terhadap lembaga hukum.
Dan hal lain yang sangat penting untuk segera dibenahi terkait dengan struktur sistem hukum
di Indonesia adalah birokrasi dan administrasi lembaga penegak hukum. Memang benar apa
yang dikemukan oleh Max Weber (1864-1920) bahwa salah satu ciri dari hukum modern
adalah hukum yang sangat birokratis. Namun, birokrasi yang ada harus respon terhadap
realitas sosial masyarakat sehingga dapat melayani masyarakat pencari keadilan
(justitiabelen) dengan baik. Dalam hal substansi sistem hukum perlu segera direvisi berbagai
perangkat peraturan perundang-undangan yang menunjang proses penegakan hukum di
Indonesia. Misalnya, peraturan perundang-undangan dalam sistem peradilan pidana di
Indonesia seperti KUHP (Kitab Undang-undang Hukum Pidana) dan KUHAP (Kitab
Undang-undang Hukum Acara Pidana) proses revisi yang sedang berjalan saat ini harus
segera diselesaikan. Hal ini dikarenakan kedua instrumen hukum tersebut sudah tidak relevan
dengan kondisi masyarakat saat ini. Ketiga, Untuk budaya hukum (legal culture) perlu
dikembangkan prilaku taat dan patuh terhadap hukum yang dimulai dari atas (top down).
Artinya, apabila para pemimpin dan aparat penegak hukum berprilaku taat dan patuh
terhadap hukum maka akan menjadi teladan bagi rakyat.
Akhirnya, kita berharap agar ditahun 2007 ini pemerintah dapat secepatnya menyelesaikan
agenda reformasi hukum yang selama ini tidak berjalan dengan baik. Jika tidak, bersiap-
siaplah akan segera tercipta suatu masyarakat seperti yang pernah dilukiskan oleh seorang
filosof besar Inggris Thomas Hobbes (1588-1679) yaitu masyarakat homo homini lupus
bellum omnium contra omnes.***
untuk melihat situs google silahkan klik disini
GEMA WARTA TOPIK INDONESIA: PENEGAKAN HUKUM DI
INDONESIA MASIH SEPERTI JAMAN
KOLONIAL
PENEGAKAN HUKUM DI INDONESIA MASIH SEPERTI JAMAN
KOLONIAL
intro : Aparat penegak hukum mulai dari hakim sampai polisi yang lebih
mengutamakan kepentingan korps masing-masing mengingatkan kita pada masa
penjajahan kolonial Belanda. Situasi ini sangat menyedihkan disaat bangsa
Indonesia pekan depan merayakan HUT kemerdekaan dari belenggu penjajahan 60
tahun lalu. Dan menurut dunia internasional kasus Munir merupakan batu
ujian
yang berat bagi kredibilitas pemerintahan SBY. Demikian direktur Lembaga
Bantuan Hukum Uli Parulian Sihombing kepada Radio Nederland.

Uli Parulian Sihombing (UPS) : Saya menggambarkan bahwa kondisi peradilan


di
Indonesia tidak lebih baik dibandingkan masa kolonial. Bahkan sekarang
aparat
penegak hukum mulai dari hakim, jaksa, polisi dan bahkan advokat (red:
pengacara) punya mental seperti penjajah, karena dalam upaya penegakan
hukum
mereka lebih menekankan pada kepentingan-kepentingan korpsnya mereka atau
masing-masing institusi. Tidak ada semangat penegakan hukum untuk
pemberantasan
korupsi. Kemudian juga kondisi internal peradilan Indonesia sendiri. Itu
diwarnai dengan masalah-masalah tentang korupsi peradilan, masyarakat
mengenal
dengan instilah mafia peradilan. Itu sangat mengakar sekali di dunia
peradilan
di Indonesia.
Kemudian juga faktor eksternal. Dulu sebelum lahir Komisi-komisi Pengawasan
Internal, eksternal sangat lemah. Sekarang dengan lahirnya banyak komisi
kejaksaan, dulu juga ada KomNasHAM, pengawasan eksternal itu mulai ada.
Yang akhir-akhir ini mengakhawatirkan kasus di pengadilan tinggi Jawa Barat
yang memenangkan sengketa Pilkada untuk partai Gollkar. Disitu kwalitas
putusannya sangat rendah. Itu sudah ada bukti-bukti bahwa itu juga kena
korupsi
peradilan.

Radio Nederland (RN) : Situasi demikian tidak bisa dibiarkan berlarut-


larut.
Pertanyaanya sekarang bagaimana caranya untuk lebih menegakan hukum di
Indonesia ?

UPS : Yang selalu menjadi problim adalah di aparat penegak hukum itu
sendiri.
Untuk menghentikan itu, tidak hanya komitmen tapi juga diperlukan
keberanian
untuk menindak aparat penegak hukum. Kita sudah punya KPK Komisi
Pemberantasan
Korupsi. KPK juga sudah melakukan pemeriksaan, penyelidikan dan penyidikan
untuk kasus korupsi peradilan. Contohnya adalah kasus Abdullah Puteh (red:
mantan gubernur Aceh). Ia mencoba menyuap hakim di pengadilan tinggi dan
panitera. Dan akhirnya pengacara Abdullah Puteh ditangkap.
KPK jangan berhenti di kasus Abdullah Puteh saja. Masih banyak kasus
korupsi
peradilan di Mahkamah Agung yang belum terungkap oleh KPK. Itu harus
dibongkar.
Dan itu butuh dukungan dari pemerintah. Presiden SBY harus melakukan upaya
untuk mendukung itu.
RN : Ada semacam pesimisme bahwa pemerintahan presiden SBY atau upaya-upaya
yang dilakukan atau akan ditempuh SBY dilakatan sebagai "misi impossible"
yang
tidak mungkin.

UPS : Itu kita akui. Ada yang sangat impossible (red: tidak mungkin) karena
buruknya aparat penegak hukum. Hal itu sangat mengakar.

RN : Di luar negeri kasus Munir disebut merupakan ujian yang berat bagi
pemerintahan SBY, untuk menegakan kembali hukum di Indonesia.

UPS : yang menjadi concern (red: perhatian) saya adalah mengenai aktor
utamanya. Siapa yang sebenarnya memerintahkan untuk membunuh Munir, belum
terungkap. (Pilot Garuda Indonesia) Polykarpus dan pramugari hanyalah orang
lapangan. Saya melihat bahwa memang Munir menjadi test-case (red: batu
ujian)
karena Munir tidak hanya penting untuk Indonesia tetapi juga bagi dunia
internasional. Munir seorang pejuang HAM. Dia punya kredibilitas
internasional,
jadi SBY dan jajaranya harus sungguh-sungguh mengusut kasus ini tidak hanya
sekedar untuk memuaskan masyarakat tetapi juga harus mengusut sampai
membawa
aktor intelektualnya ke pengadilan.

[Non-text portions of this message have been removed]

------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->


<font face=arial size=-1><a
href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12hhpsn0g/M=323294.6903899.7846637.302221
2/D=groups/S=1705329729:TM/Y=YAHOO/EXP=1124520602/A=2896130/R=0/SIG=11llkm9
tk/*http://www.donorschoose.org/index.php?lc=yahooemail";>Give
underprivileged students the materials they need to learn. Bring education
to
life by funding a specific classroom project
</a>.</font>
--------------------------------------------------------------------~->

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)


2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:


http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:


ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/

--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi
serius
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar
negeri
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke:
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ;
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ;
Situs beasiswa/scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com

Penegakan Hukum Dalam Kajian Law & Development

Pada upacara Wisuda Program Doktor, Magister dan Spesialis yang berlangsung
Sabtu pagi (04/02) di Balairung Kampus UI Depok, dilakukan pula orasi ilmiah,
yang disampaikan Prof. Hikmahanto Juwana, SH., LL.M., Ph.D, memperingati Dies
Natalis ke-56 UI. Berikut ini adalah ringkasan teks pidato ilmiah tersebut, yang
berjudul: “Penegakan Hukum Dalam Kajian Law and Development: Problem dan
Fundamen Bagi Solusi di Indonesia. Yang terhormat
Ketua, Sekretaris dan para Anggota Majelis Wali Amanat
Rektor dan para Wakil Rektor
Ketua, Sekretaris dan para sejawat Anggota Senat Akademik Universitas
Ketua, Sekretaris dan para sejawat Anggota Dewan Guru Besar Universitas
Para Rekan Dekan dan Wakil Dekan
Para Staf Pengajar, Mahasiswa dan Karyawan di lingkungan Universitas Indonesia
Para hadirin dan hadirat sekalian yang saya muliakan,

Assalamu’alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh


Salam Sejahtera bagi kita semua,

Pertama-tama perkenankanlah saya menyampaikan dua ucapan selamat pada


kesempatan ini. Pertama selamat kepada para wisudawan dan wisudawati atas
keberhasilan mereka yang telah melewati tempaan yang tidak mudah selama di
UI.

Pesan saya, berbuatlah yang terbaik dibidang masing-masing. Buatlah kejutan


yang positif, buatlah bangga orang tua dan handai taulan, buatlah bangga
bangsa dan negara, buatlah bangga diri sendiri dan buatlah bangga almamater
anda sekalian, Universitas Indonesia.
Kedua, saya ingin mengucapkan kepada kita semua yang berada disini, keluarga
besar UI, selamat Dies Natalis ke-56. Harapan ke depan UI senantiasa terus
mengukuhkan namanya di Indonesia, ditingkat regional maupun internasional.

Dalam kesempatan ini perlu kita mengingat bahwa nama besar UI akan sangat
bergantung pada kiprah dan prestasi yang dicetak oleh para alumni di
masyarakat. Oleh karena itu, “kualitas lulusan” bagi UI bukan sesuatu yang
dapat ditawar. Kualitas dengan standar internasional harus dimiliki alumni UI
meskipun bekerja di Indonesia mengingat para skilled workers mancanegara
telah banyak yang bekerja di Indonesia. Bila tidak memiliki standar internasional
maka para alumni UI harus siap tergilas di negeri sendiri dalam persaingan
global.

Disamping itu, nama besar UI akan bergantung pada kiprah dan prestasi para
mahasiswa, pengajar dan penelitinya. Sementara manajemen serta pegawai
administratif memiliki tugas untuk menciptakan suasana dan iklim kondusif bagi
kegiatan akademis. Demikian pula infrastruktur dibangun untuk memfasilitasi
suasana akademis.

Para Hadirin sekalian yang saya hormati,

Dalam peringatan Dies Natalis kali ini, saya dan civitas akademika fakultas
hukum merasa memperoleh suatu kehormatan karena diangkat topik yang
terkait dengan masalah hukum. Terakhir masalah hukum diangkat adalah pada
saat peringatan Emas UI, 6 tahun yang lalu. Namun rasa tersanjung tiba-tiba
berubah menjadi perasaan berat meskipun menjadi tantangan tersendiri karena
topik yang diangkat adalah penegakan hukum di Indonesia.

Di tengah-tengah berbagai pemberantas kejahatan, berbagai pihak


mengeluhkan penegakan hukum di Indonesia. Berbagai media massa
memberitakan aparat penegak hukum yang terkena sangkaan dan dakwaan
korupsi atau suap. Mafia peradilan marak dituduhkan. Hukum seolah dapat
dimainkan, diplintir, bahkan hanya berpihak pada mereka yang memiliki status
sosial yang tinggi.

Tidak terlalu berlebihan bila berbagai kalangan menilai penegakan hukum lemah
dan telah kehilangan kepercayaan masyarakat. Masyarakat menjadi apatis,
mencemooh dan dalam keadaan tertentu kerap melakuan proses pengadilan
jalanan. Dalam kondisi seperti ini muncul pertanyaan, “mengapa hukum sulit
ditegakkan?” Bahkan lebih sarkastis masyarakat bertanya “apakah hukum di
Indonesia sudah mati?”

Keprihatian masyarakat atas penegakan hukum memunculkan sejumlah analisa


dan lontaran ide bagi perbaikan. Analisa dan lontaran ide ini dianggap sahih bila
disampaikan oleh mereka yang berlatar belakang ilmu hukum. Alasannya,
penegakan hukum terkait dengan ilmu hukum.
Padahal bila bicara jujur, di berbagai fakultas hukum tidak ada mata kuliah yang
secara spesifik membahas penegakan hukum. Adalah tidak benar bila masalah
penegakan hukum merupakan domain hukum pidana. Bahkan berbagai cabang
ilmu hukum tidak akan memadai untuk menjawab serangkaian problem nyata
keberlakuan hukum di tengah-tengah masyarakat.

Studi atau penelitian hukum secara tradisional sebenarnya tidak menyentuh


bagaimana hukum berjalan di masyarakat. Law and Development merupakan
studi yang terkait dengan keberadaan atau berlakunya hukum di negara-negara
yang sedang membangun yang merupakan bagian dari Developmental Studies.

Perkenankanlah saya disini membahas masalah penegakan hukum di Indonesia


tidak sebagai ahli dalam cabang ilmu hukum tertentu, tetapi sebagai peneliti
yang dalam lima tahun terakhir ini mendalami kajian Law and Development.

Para Hadirin yang saya muliakan,

Kemunculan kajian Law and Development terkait fenomena transplantasi hukum


di banyak negara yang baru merdeka dalam melakukan pembangunan.

Pada awalnya dalam melakukan proses pembangunan, keberadaan hukum tidak


terlalu diperhatikan. Alasannya, mulai dari hukum sebagai penghambat hingga
peran hukum yang berbeda di Negara Berkembang dengan Negara Barat.

Namun kondisi ini lambat laun berubah. Pemerintahan dari banyak Negara Barat,
mendorong, bahkan menekan, agar pemerintahan Negara Berkembang
memperhatikan keberadaan dan fungsi hukum yang dikenal di negara mereka.

Awalnya pemerintah Amerika Serikat sangat agresif dalam upaya ini. Tidak
heran bila ada yang mengatakan, ”... the term Law and Development was first
applied to the efforts to modernize newly independent states in Africa, Latin
America, and Asia. These efforts were centered around efforts to export
American-style law and legal institutions to these states on theory that such laws
and legal institutions were central to economic development.” Kajian Law and
Development tumbuh secara pesat di Amerika Serikat pada tahun 1970an.

Hanya saja banyak ahli Law and Development pada saat itu melupakan
hubungan antara hukum dan masyarakat dengan mengasumsikan bahwa sistem
hukum Amerika dapat di-ekspor secara telanjang ke Negara Berkembang.
Disinilah kegagalan mulai dirasakan dan para ahli mendapat kritikan.

Dalam perkembangannya kajian Law and Development telah kembali ke tujuan


utamanya. Bahkan kajian Law and Development sudah tidak lagi dimonopoli oleh
para ahli dari Amerika Serikat, tetapi diminati oleh para ahli banyak negara, baik
Maju maupun Berkembang.

Berbagai studi sebagai hasil penelitian telah dipublikasikan. Salah satu yang
menarik adalah studi yang dilakukan oleh Asian Development Bank atas 6
negara Asia sehubungan dengan peran dari hukum dan institusi hukum pada
pembangunan ekonomi. Dalam kesimpulannya disebutkan bahwa, ”Law and
legal institutions in Asia changed in response to economic policies. When
economic policies were introduced…, the law and its role in Asian economic
development became increasingly similar to the West. Not only substantive laws,
but also legal process and institutions responded to these changes ...”

Pernyataaan terakhir dari kesimpulan ini bisa dipertanyakan dalam konteks


Indonesia. Ini karena meskipun peraturan perundang-undangan (substantive
laws) dan institusi hukum (legal institutions) telah merespons pada kebijakan
ekonomi, namun mengapa penegakan hukum (legal process) tidak dapat
merespons sebagaimana yang diharapkan?

Para Hadirin yang budiman,

Bagi masyarakat Indonesia, lemah kuatnya penegakan hukum oleh aparat akan
menentukan persepsi ada tidaknya hukum. Bila penegakan hukum oleh aparat
lemah, masyarakat akan mempersepsikan hukum sebagai tidak ada dan seolah
mereka berada dalam hutan rimba. Sebaliknya, bila penegakan hukum oleh
aparat kuat dan dilakukan secara konsisten, barulah masyarakat
mempersepsikan hukum ada dan akan tunduk.

Dalam konteks demikian masyarakat Indonesia masih dalam taraf masyarakat


yang ’takut’ pada aparat penegak hukum dan belum dapat dikategorikan
sebagai masyarakat yang ’taat’ pada hukum. Pada masyarakat yang takut pada
hukum, masyarakat tidak akan tunduk pada hukum bila penegakan hukum
lemah, inkonsisten dan tidak dapat dipercaya.

Ilustrasi sederhana dapat dilihat dalam sikap pengendara terhadap lampu lalu
lintas di jalan raya pada saat jam menunjukkan pukul satu pagi. Bila lampu lalu
lintas menyala merah dan pengendara berhenti maka pengendara tersebut
dikategorikan sebagai taat pada hukum. Namun, bila pengendara tersebut tidak
berhenti meskipun ia tahu tidak ada ancaman apapun maka pengendara
tersebut dikategorikan sebagai takut pada hukum.

Dikategorikan sebagai takut pada hukum karena si pengendara tahu di pagi buta
tidak akan ada polisi lalu lintas yang akan menegakkan aturan, paling tidak
kekhawatiran akan ’denda damai’. Bagi pengendara yang takut dengan hukum,
lampu lalu lintas dipersepsikan sebagai bukan hukum, melainkan sekedar benda
mati.

Realitas saat ini, penegakan hukum berfungsi dan difungsikan sebagai instrumen
untuk membuat masyarakat takut pada hukum yang pada gilirannya diharapkan
menjadi tunduk pada hukum.

Hanya saja penegakan hukum sebagai instrumen telah dihinggapi berbagai


problem yang akut. Problem inilah yang menyebabkan penegakan hukum
menjadi lemah dan pada gilirannya hukum dipersepsikan sebagai telah mati.

Para Wisudawan dan Wisudawati serta Hadirin yang berbahagia,

Problem dalam penegakan hukum yang dihadapi oleh Indonesia perlu untuk
dipotret dan dipetakan. Berikut adalah sejumlah problem penegakan hukum
yang dihadapi.

Pertama, sulitnya penegakan hukum berawal sejak peraturan perundang-


undangan dibuat. Paling tidak ada dua alasan untuk mendukung pernyataan ini.
Pertama, pembuat peraturan perundang-undangan tidak memberi perhatian
yang cukup apakah aturan yang dibuat nantinya bisa dijalankan atau tidak. Di
tingkat nasional, misalnya, UU dibuat tanpa memperhatikan adanya jurang untuk
melaksanakan UU antara satu daerah dengan daerah lain. Konsekuensinya UU
demikian tidak dapat ditegakkan di kebanyakan daerah di Indonesia bahkan
menjadi UU mati.

Kedua, peraturan perundang-undangan kerap dibuat secara tidak realistis. Ini


terjadi terhadap pembuatan peraturan perundang-undangan yang merupakan
pesanan dan dianggap sebagai komoditas. Peraturan perundang-undangan yang
menjadi komoditas, biasanya kurang memperhatikan isu penegakan hukum,
sepanjang trade off telah didapat.

Selanjutnya, problem muncul karena masyarakat Indonesia terutama yang


berada di kota-kota besar merupakan masyarakat pencari kemenangan, bukan
pencari keadilan. Sebagai pencari kemenangan, tidak heran bila semua upaya
akan dilakukan, baik yang sah maupun yang tidak.

Tipologi masyarakat pencari kemenangan merupakan problem bagi penegakan


hukum, terutama bila aparat penegak hukum kurang berintegritas dan rentan
disuap. Masyarakat pencari kemenangan akan memanfaatkan kekuasaan dan
uang agar memperoleh kemenangan atau terhindar dari hukuman.

Problem selanjutnya sebagai penyebab lemahnya penegakan hukum adalah


pengaruh uang. Di setiap lini penegakan hukum, aparat dan pendukung aparat
penegak hukum, sangat rentan dan terbuka peluang bagi praktek korupsi atau
suap.

Uang dapat berpengaruh pada saat polisi melakukan penyidikan perkara.


Dengan uang, pasal sebagai dasar sangkaan dapat diubah-ubah sesuai jumlah
uang yang ditawarkan. Pada tingkat penuntutan, uang bisa berpengaruh
terhadap diteruskan tidaknya penuntutan. Apabila penuntutan diteruskan, uang
dapat berpengaruh pada seberapa berat tuntutan.

Di institusi peradilan, uang berpengaruh pada putusan yang akan diterbitkan


oleh hakim. Uang dapat melepaskan atau membebaskan seorang terdakwa. Bila
terdakwa dinyatakan bersalah, dengan uang, hukuman bisa diatur agar serendah
dan seringan mungkin. Bahkan di lembaga pemasyarakatan uang juga
berpengaruh karena yang memiliki uang akan mendapat perlakuan yang lebih
baik dan manusiawi.

Problem berikut adalah penegakan hukum telah menjadi komoditas politik. Pada
masa pemerintahan Soeharto penegakan hukum sebagai komoditas politik
sangat merajalela. Penegakan hukum bisa diatur karena kekuasaan
menghendaki. Aparat penegak hukum didikte oleh kekuasaan, bahkan
diintervensi dalam menegakkan hukum.

Penegakan hukum akan dilakukan secara tegas karena penguasa memerlukan


alasan sah untuk melawan kekuatan pro-demokrasi atau pihak-pihak yang
membela kepentingan rakyat. Tetapi penegakan hukum akan dibuat lemah oleh
kekuasaan bila pemerintah atau elit-elit politik yang menjadi pesakitan.

Problem lain adalah penegakan hukum dilakukan secara diskriminatif. Tersangka


koruptor dan tersangka pencuri sandal akan mendapat perlakuan dan sanksi
yang berbeda. Tersangka yang mempunyai status sosial yang tinggi di tengah-
tengah masyarakat akan diperlakukan secara istimewa.

Penegakan hukum seolah hanya berpihak pada si kaya tetapi tidak pada si
miskin. Bahkan hukum berpihak pada mereka yang memiliki jabatan dan koneksi
dari para pejabat hukum atau akses terhadap keadilan.

Ini semua karena mentalitas aparat penegak hukum yang lebih melihat
kedudukan seseorang di masyarakat daripada apa yang diperbuat.

Problem lain terkait dengan sumber daya manusia. Di awal kemerdekaan,


institusi hukum diisi oleh sumber daya manusia yang terbaik kala itu. Tidak
sedikit dari hakim ataupun jaksa menjadi guru besar di berbagai fakultas hukum
universitas ternama. Profesi hakim dan jaksa sangat dihormati.

Penghasilan profesi hakim dan jaksa ketika itu sangat baik bila dibandingkan
dengan advokat. Namun pada tahun 1970-an, dunia keadvokatan mengalami
perubahan yang sangat mendasar. Kompensasi yang didapat sebagai advokat
jauh melebihi hakim dan jaksa.

Akibatnya, para lulusan terbaik dari universitas ternama cenderung ingin


menjadi advokat dan menjauhkan diri dari profesi hakim dan jaksa. Ini berarti
banyak sumber daya manusia yang baik dan memiliki integritas lebih memilih
bekerja di sektor swasta, sementara yang biasa-biasa dari segi kemampuan dan
integritas akan memasuki sektor publik.

Bila sektor publik gagal menarik para individu yang memiliki ilmu dan integritas
maka penegakan hukum akan terus lemah dan akan terus terlanggengkan
peranan uang dalam penegakan hukum.
Dunia advokat pun tidak terbebas dari masalah penegakan hukum. Dalam dunia
advokat dapat dibedakan antara advokat yang tahu hukum dan advokat yang
tahu hakim, jaksa, polisi, pendeknya advokat yang tahu koneksi.

Mengingat tipologi masyarakat di Indonesia sebagai pencari kemenangan maka


bila berhadapan dengan hukum mereka lebih suka dengan advokat yang tahu
koneksi daripada advokat yang tahu hukum. Mafia peradilan pun terpicu untuk
terjadi.

Problem lain dari lemahnya penegakan hukum adalah penganggaran bagi


infrastruktur hukum oleh negara tidak dialokasikan secara memadai. Insitusi
pengadilan yang seharusnya menunjukkan kewibawaan melalui bangunannya
masih banyak yang memprihatinkan, bahkan dalam ukuran yang tidak
sebanding dengan ke-angkeran-nya.

Lebih menyedihkan lagi para hakim dalam memeriksa dan memutus perkara
harus menggunakan peraturan perundang-undangan yang mereka beli sendiri.
Perpustakaan di kebanyakan pengadilan sangat miskin literatur sehingga tidak
mungkin dijadikan rujukan untuk membuat putusan.

Problem berikutnya adalah, disadari ataupun tidak, penegakan hukum di


Indonesia telah memasuki situasi yang dipicu oleh pers. Tentu ini positif, hanya
saja yang perlu diperhatikan adalah dampak sesaatnya. Timbul tenggelamnya
penegakan hukum terhadap suatu kasus seolah bergantung pada media massa.
Tidak dapat dihindari kesan bahwa penegakan hukum sebatas apa yang
diselerakan oleh media massa. Adalah bukan suatu harapan bila penegakan
hukum sekedar dikendalikan oleh pers.

Ekses dari penegakan hukum yang dipicu oleh pers dapat berakibat fatal. Aparat
penegak hukum berada dalam kondisi panik dan pihak-pihak yang tidak
seharusnya menghadapi proses hukum bisa dijadikan pesakitan.

Para Hadirin sekalian,

Setelah dipaparkan berbagai problem penegakan hukum di Indonesia, tibalah


saatnya untuk menawarkan solusi.

Banyak solusi yang dilontarkan oleh berbagai pihak. Sebagian telah diakomodasi
sebagai kebijakan oleh pemerintah. Hanya saja solusi yang diberikan terkadang
tidak komprehensif, hanya memadai untuk sesaat, tidak terlalu memperhatikan
konsekuensi ikutan, sekedar untuk memenuhi suatu kebutuhan, bahkan diadopsi
agar pemerintah mendapat dukungan publik.

Pada kesempatan ini yang hendak disampaikan adalah dasar atau fundamen
bagi sejumlah solusi yang lebih kongkrit.
Fundamen terpenting dan utama adalah para pengambil kebijakan harus dalam
posisi dapat menerima berbagai problem penegakan hukum. Pengambil
kebijakan tidak seharusnya dalam posisi menyangkal berbagai problem yang
ada karena penyangkalan sama saja menjadikan apapun solusi menjadi tidak
relevan.

Fundamen kedua bagi solusi adalah pembenahan memerlukan kesabaran yang


tinggi karena harus disadari bahwa tidak ada quick solution atau solusi instan.
Sayangnya pengambil kebijakan ataupun pakar hukum kerap menyederhanakan
jalan keluar. Penyederhanaan solusi dilakukan dengan cara membuat peraturan
perundang-undangan dengan substansi ‘anti’ dari masalah yang dihadapi. Dalam
kenyataannya, solusi demikian tidak memberikan hasil, justru menjurus pada
pengambilan kebijakan yang tidak dibenarkan menurut hukum dan ilmu
pengetahuan hukum.

Fundamen berikut adalah problem yang dihadapi harus diakui dan diterima oleh
komunitas hukum sebagai problem yang tidak secara eksklusif dapat
diselesaikan dengan pendekatan ilmu hukum.

Problem penegakan hukum harus dicarikan solusi dalam konteks kajian Law and
Development yang membuka kesempatan berbagai disiplin ilmu untuk berperan.
Bahkan para ahli hukum yang terlibat dalam mencari solusi harus memiliki
pengetahuan lain selain hukum, khususnya ilmu sosial.

Fundamen keempat adalah kesejahteraan aparat penegak hukum harus


mendapat perhatian. Mengedepankan kesejahteraan harus dilihat sebagai
fundamen dari solusi dengan dua tujuan. Pertama, agar pengaruh uang dalam
penegakan hukum dapat diperkecil. Kedua, untuk menarik minat lulusan fakultas
hukum yang berkualitas dan berintegritas dari berbagai universitas ternama.

Selanjutnya, untuk menghindari kesan tebang pilih perlu meletakkan fundamen


yang kuat agar aparat penegak hukum dalam menjalankan tugasnya dapat
menjaga konsistensi, paling tidak semua pihak, termasuk pemerintah, dapat
menciptakan suasana kondusif agar penegakan hukum dilakukan secara
konsisten.

Fundamen kelima adalah upaya membersihkan institusi hukum dari personil


nakal dan bermasalah. Dalam konteks ini, para pengambil kebijakan harus
memahami bahwa mentalitas aparat penegak hukum di Indonesia adalah takut
pada hukum. Oleh karena itu, perlu diciptakan penegakan hukum yang tegas
bagi para pejabat hukum yang melakukan penyelewengan jabatan dengan
mekanisme yang dapat bekerja dan dapat dipercaya oleh masyarakat.

Fundamen berikutnya adalah pembenahan pada institusi hukum, harus dipahami


sebagai pembenahan yang terkait dengan manusia. Pembenahan terhadap
manusia hukum harus dilakukan secara manusiawi yang sedapat mungkin tidak
menyinggung harga diri, bahkan merendahkan diri mereka yang terkena
kebijakan. Bila tidak, akan ada perlawanan. Perlawanan akan menjadikan proses
pembenahan semakin rumit dan panjang. Oleh karenanya fundamen dari solusi
yang dicari adalah pembenahan yang seminimal mungkin dapat menekan rasa
dendam atau perlawanan.

Terakhir, dalam pembenahan penegakan hukum, penting untuk disadarkan dan


diintensifkan partisipasi publik. Semua pihak mempunyai peran dalam
pembenahan penegakan hukum. Partisipasi publik harus dilakukan secara
bottom up, bila perlu dilakukan secara virtual dan tidak dirasakan.

Para Hadirin yang saya hormati,

Penegakan hukum merupakan faktor penting dalam kehidupan hukum di


Indonesia. Tanpa penegakan hukum yang kuat, hukum tidak akan dipersepsikan
sebagai ada oleh masyarakat.

Akhirnya perkenankanlah saya menghimbau agar kita semua yang hadir disini
untuk memulai hal terkecil demi tegaknya hukum di Indonesia. Para alumni dan
handai taulannya, dosen, mahasiswa, karyawan dan penyelenggara di UI baik di
Rektorat maupun Fakultas untuk senantiasa berorientasi pada aturan dan
hukum. Mudah-mudahan manusia UI dapat menjadi contoh bagi masyarakat
untuk tunduk pada hukum karena taat dan bukan takut.

Disamping itu, kita semua berharap UI di usianya yang semakin dewasa, dapat
menyumbangkan berbagai pemikiran sebagai program kongkrit pembenahan
penegakan hukum karena UI memiliki berbagai disiplin ilmu yang relevan. Saat
ini yang diperlukan adalah interaksi para warga UI untuk bertemu dan berdiskusi
secara informal. Satu kuncinya, UI melakukan ini bukan sebagai proyek untuk
dikomersialkan, tetapi sebagai tanggung jawab moral UI kepada bangsa.

PERADILAN SESAT DAN IRONI KONDISI HUKUM


INDONESIA
I Wayan “Gendo” Suardana
Praktik peradilan sesat di Indonesia bukanlah “barang” baru di Indonesia. Hal ini kerap kali
terjadi di dalam dunia peradilan di negara yang mengaku sebagai negara hukum (rechtstaat).
Banyak orang yang tidak bersalah selanjutnya atas nama ketidakprofesionalan aparat penegak
hukum, maka orang-orang tersebut ditangkap, ditahan, divonis selanjutnya mendekam di
penjara. Beberapa kasus yang pernah terjadi misalnya: Sengkon dan Karta yang harus
mendekam di penjara, masing-masing selama 7 tahun dan 12 tahun penjara karena divonis
melakukan kejahatan pembunuhan, lalu sepasang suami istri di Gorontalo yang dipaksa
mendekam dipenjara karena divonis melakukan pembunuhan terhadap putri mereka, namun
belakangan ternyata putri mereka masih hidup. Demikianpula terjadi pada Budi Harjono
seorang pemuda di Bekasi yang disangka membunuh ayah dan menganiaya ibu kandungnya,
tetapi juga tidak terbukti.
Dugaan atas kejadian salah tangkap dan salah vonis terhadap 3 (tiga) orang terdakwa yang
sebagian telah divonis penjara atas kejahatan pembunuhan terhadap Asrori (versi kebun
tebu), menambah daftar panjang dosa peradilan di Indonesia. Namun saat kasus dugaan
pembunuhan berantai yang dilakukan Ryan dan ternyata Ryan mengakui salah satu
korbannya adalah Asrori, maka mulailah ada dugaan atas praktik peradilan sesat yang
dilakukan oleh aparat penegak hukum.
Maraknya praktik peradilan sesat yang terjadi di Indonesia sudah sejak lama menjadi
keprihatinan di Indonesia. Dalam pandangan penulis ada beberapa hal yang menyebabkan
terjadinya praktik Peradilan sesat.
1. Watak militeristik dari Institusi Penegak Hukum terutama Polri
Tanpa bermaksud menghakimi institusi penegak hukum, dalam hal ini penulis melihat bahwa
praktik peradilan sesat ini adalah buah dari budaya militeristik yang selama ORBA berkuasa.
Sebagai sebuah refleksi, bahwa dimasa Orde Baru, kekuasaannya ditopang dengan 3 pilar
yang sangat kuat yaitu: kapitalis, birokrasi dan militer. Struktur negara diproduksi oleh
negara dan tatanan masyarakat juga diproduksi oleh negara. Dalam membangun sistem
tersebut orde baru memilih kekerasan sebagai sebuah pilihan politik kekuasaannya. Secara
massif membudayakan praktik kekerasan sebagai sebuah pembenaran kekeuasaan atas nama
stabilitas nasional. Kekeraan tersebut termasuk juga kekerasan dalam bidang hukum. Budaya
ini tentu saja menumbuhkan watak dan karakter yang militeritik dikalangan penegak hukum,
terutama pada institusi kepolisian –insitusi yang memiliki legitimasi untuk melakukan
kekerasan-. Aktivis prodemokrasi ditangkapi bahkan dibunuh. Penyelidikan dan penyidikan
kerap diwarnai dengan kekerasan dan penyiksaan untuk mendapatkan keterangan ataupun
informasi. Perilaku ini ditengarai masih sering dipraktikan oleh aparat kepolisian dalam
menangani kasus pidana termasuk kasus politik. Sesungguhnya tidak satupun masyarakat
yang bisa lepas dari kekerasan negara salah satu contoh adalah terjadi pada beberapa orang
yang diadili dalam peradilan sesat sebagaimana penulis sampaikan diatas.
Sebagai aparat negara seharusnya aparat penegak hukum termasuk POLRI ada dalam posisi
sebagai penanggungjawab dari penegakan HAM dan berkewajiban untuk menghormati,
melindungi dan memenuhi hak asasi manusia. Dalam konteks penegakan hukum maka Polri
dan seluruh jajarannya seharusnya melaksanakan kewajiban tersebut dengan tunduk kepada
ketentuan hukum dan tetap berpegang kepada norma-norma hak asasi manusia. Pernyataan
dari beberapa orang yang dipaksa mengakui sebuah kejahatan yang tidak mereka lakukan
yang selanjutnya terpaksa mendekam dipenjara bahwa selama proses penyelidikan dan
penyidikan mereka mendapatkan penyiksaan dan perlakuan kekerasan sehingga mereka
“bersedia” mengakui suatu kejahatan adalah fakta yang tidak dapat dikesampingkan.
Perilaku-perilaku tersebut jelas bertentangan dengan semangat pembaharuan yang
didengung-dengungkan Polri sebagai institusi Keamanan berwatak Sipil. Dengan
mengedapankan kekerasan dan sebuah penyiksaan sebagai pondasi utama untuk
mendapatkan keterangan sebagai alat bukti, sesungguhnya institusi kepolisian belum mampu
keluar dari watak militerisme.
2. Lemahnya sensitifitas HAM dalam produk hukum pidana di Indonesia terutama KUHAP
Perlindungan terhadap setiap manusia untuk bebas dari penyiksaan dan perbuatan yang
merendahkan martabat dan tidak manusiawi wajib diberikan oleh negara. Selain diatur dalam
UUD’45 hal ini diatur pula dalam UU no. 39 th. 1999 tentang HAM dan juga UU No. 12 th
2005 tentang pengesahan ICCPR. Yang lebih jelas hak atas bebas dari rasa takut temasuk
bebas dari penyiksaan adalah diatur Konvensi anti Penyiksaan yang telah diratifikasi oleh
Indonesia melalui UU no. 5 tahun 1998. Terlebih sudah sejak lama Hukum Indonesia
memiliki KUHAP (Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana) yang sebagian isinya
adalah mengatur tentang hak-hak tersangka dan terdakwa sehingga negara wajib untuk
memenuhinya.
Secara umum dinyatakan bahwa fungsi dari KUHAP tersebut adalah untuk membatasi
kekuasaan kursif negara terhadap warga negaranya, dalam hal ini negara tidak diperbolehkan
melakukan tindakan sewenang-wenang terhadap warga negara yang sedang menjalani proses
peradilan pidana. Diharapkan negara melalui aparat penegak hukumnya dapat memberikan
jaminan perlindungan dan pemenuhan hak-hak warga masyarakat dari tindakan-tindakan
sewenang-wenang. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Erni Widhayanti: “ jaminan dan
perlindungan terhadap HAM dalam pengaturan hukum acara pidana mempunyai arti yang
sangat pentng sekali, karena sebagaian besar dalam rangkaian proses dari hukum acara
pidana ini menjurus kepada pembatasan-pembatasan HAM seperti penangkapan, penahanan,
penyitaan, penggeledahan dan penghukuman, yang pada hakekatnya adalah pembatasan-
pembatasan HAM.
Walaupun secara umum dapat pula dinyatakan bahwa sebagian besar design prosedural suatu
hukum acara pidana terlalu berat memberikan penekanan kepada hak-hak pejabat negara
untuk menyelesaikan perkara atau menemukan kebenaran daripada memperhatikan hak-hak
seorang warga negara untuk membela dirinya terhadap kemungkinan persangkaan atau
pendakwaan yang kurang atau tidak benar ataupun palsu
Kelemahan dari design hukum acara pidana ini sudah lama disadari oleh pemerintah
termasuk oleh para ahli hukum Indonesia. Gagasan-gagasan untuk memperbaharui berbagai
regulasi menyangkut hukum pidana termasuk hukum acara pidana sudah lama pula
berkembang. Keinginan untuk memberikan jaminan dan kepastian akan perlindungan hukum
bagi para tersangka/terdakwa sedemikian besar, terlebih disadari bahwa KUHAP yang
digunakan sekarang masih jauh dari sempurna dalam mengadopsi nilai-nilai HAM didalam
pengaturannya. Masih terjadi ketimpangan yang sangat besar antara hak-hak pejabat negara
dengan hak-hak tersangka/terdakwa. Namun sayangnya sampai saat ini rancangan KUHAP
tersebut belum mampu terealisasi menjadi Undang-Undang.
Penutup
Secara gamblang didepan kita terpapar pelanggaran HAM yang dilakukan oleh negara
melalui aparat penegak hukumnya. Sedemikian banyak aturan hukum yang sudah ada, namun
serentetan kasus baik yang terpublikasi atau tidak mempertontonkan ketidakprofesionalan
aparat kepolisian terutama sebagai aparat negara yang diwajibkan secara penuh untuk
melaksanakan kewajiban pokoknya dalam penegakan HAM. Serangkaian peristiwa salah
tangkap adalah fakta yang terelakan dari agresifnya watak militer dalam institusi polisi dan
juga institusi hukum negara ini. Mungkin masih banyak korban-korban peradilan sesat yang
ada di Indonesia yang belum terpublikasi. Namun terlepas dari itu, praktik-praktik
penyiksaan untuk mendapatkan keterangan dari terangka/terdakwa oleh aparat kepolisian
sudah harus dihentikan. Setidaknya hal ini bisa menekan munculnya kasus peradilan sesat
yang baru dan tidak ada lagi korban-korban penyiksaan atas nama kekekuasaan
Pembenahan di tubuh institusi penegak hukum di Indonesia sudah harus dilakukan secara
revolusioner. Tahapan-tahapan yang ditempuh selama ini toh tetap saja menghasilkan aparat
yang tidak sensitif HAM. Harapan kedepan kita dapat tersenyum gembira melihat para aparat
penegak hukum di negara ini terutama Polri mejadi institusi yang profesional dimana mereka
mampu membongkar suatu kasus tetapi tanpa dengan penyiksaan sehingga tidak ada lagi
orang-orang yang dikorbankan untuk mengakui kejahatan yang tidak mereka lakukan.

Erni Widhayanti, Hak-hak tersangka/terdakwa dalam KUHAP, (Yogyakarta: Liberty, 1998),


h. 34 H. Soeharto, Perlindungan Hak Tersangka, Terdakwa, dan Korban Tindak Pidana
Terorisme dalam Sistem Peradilan Pidana Indonesia, (Jakarta, Refika Aditama, 2007), h.
75*Tulisan ini dimuat dalam 2 edisi di Harian Metro Bali
mafia hukum di indonesia
Posted by opiq on 28 January, 2010
No comments yet
This item was filled under [ Uncategorized ]

Mafia Hukum di sini lebih dimaksudkan pada proses pembentukan Undang-undang oleh
Pembuat undang-undang yang lebih sarat dengan nuansa politis sempit yang lebih
berorientasi pada kepentingan kelompok-kelompok tertentu. Bahwa sekalipun dalam politik
hukum di Indonesia nuansa politis dalam pembuatan UU dapat saja dibenarkan sebagai suatu
ajaran dan keputusan politik yang menyangkut kebijakan publik, namun nuansa politis di sini
tidak mengacu pada kepentingan sesaat yang sempit akan tetapi “politik hukum” yang
bertujuan mengakomodir pada kepentingan kehidupan masyarakat luas dan berjangka
panjang.
Sebagai contoh kecil lahirnya Undang-undang Ketenagakerjaan No.25 tahun 1997 yang
mulai diberlakukan pada tanggal 01 Oktober 2002 ( berdasarkan Perpu No.3 tahun 2000 yang
telah ditetapkan sebagai UU berdasarkan UU No. 28 tahun 2000), namun belum genap
berumur 6 bulan UU tersebut berlaku UU tersebut telah dicabut pada tanggal 25 Maret 2003
dengan diundangkan lagi UU No.13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan yang mengganti
UU No.25 tahun 1997.
Silih bergantinya undang-undang yang mengatur ketenagakerjaan di Indonesia tidak dapat
lepas dari adanya kekuatan tarik-menarik kepentingan antara kepentingan tenaga kerja
dengan kepentingan para Pengusaha yang konon kepentingan para Pengusaha tersebut
diperjuangkan melalui mereka yang sekarang disebut sebagai “Politisi Busuk”.
Dan pada akhirnya sudah dapat ditebak keberadaan UU No.13 tahun 2003 tentang
ketenagakerjaan tersebut dalam praktiknya lebih memihak kepada kalangan Pengusaha.
Banyak lagi perundang-undangan kita lainnya yang mengalami nasib senada dengan itu, dan
itu semua terjadi karena faktor politis yang bertujuan sempit dari para Pembuat undang-
undang.
Sedang Mafia Peradilan di sini lebih dimaksudkan pada hukum dalam praktik yang ada di
tangan para Penegak Hukum dimana secara implisit “hukum dan keadilan” telah berubah
menjadi suatu komoditas yang dapat diperdagangkan.
Hukum dan keadilan menjadi barang mahal di negeri ini. Prinsip peradilan yang cepat, biaya
ringan dan sederhana sulit untuk ditemukan dalam praktik peradilan. Di negeri ini Law
Enforcement diibaratkan bagai menegakkan benang basah kata lain dari kata “sulit dan susah
untuk diharapkan”.
Salah satunya yang mempersulit penegakan hukum di Indonesia adalah maraknya “budaya
korupsi” di semua birokrasi dan stratifikasi sosial yang telah menjadikan penegakan hukum
hanya sebatas retorika yang berisikan sloganitas dan pidato-pidato kosong.
Bahkan secara faktual tidak dapat dipungkiri semakin banyak undang-undang yang lahir
maka hal itu berbanding lurus semakin banyak pula komoditas yang dapat diperdagangkan.
Ironisnya tidak sedikit pula bagian dari masyarakat kita sendiri yang berminat sebagai
pembelinya. Di sini semakin tanpak bahwa keadilan dan kepastian hukum tidak bisa
diberikan begitu saja secara gratis kepada seseorang jika disaat yang sama ada pihak lain
yang menawarnya.
Kenyataan ini memperjelas kepada kita hukum di negeri ini “tidak akan pernah” memihak
kepada mereka yang lemah dan miskin. “ Sekali lagi tidak akan pernah… ! ” Sindiran yang
sifatnya sarkatisme mengatakan, “berikan aku hakim yang baik, jaksa yang baik, polisi yang
baik dengan undang-undang yang kurang baik sekalipun, hasil yang akan aku capai pasti
akan lebih baik dari hukum yang terbaik yang pernah ada dinegeri ini”.
Tapi agaknya para Penegak Hukum, Politisi, Pejabat dan Tokoh-Tokoh tertentu dalam
masyarakat kita tidak akan punya waktu dan ruang hati untuk dapat mengubris segala bentuk
sindiran yang mempersoalkan eksistensi pekerjaan dan tanggungjawab publiknya, jika
sindiran itu bakal mengurangi rejekinya. Buruknya proses pembuatan undang-undang dan
proses penegakan hukum yang telah melahirkan stigmatisasi mafia hukum dan mafia
peradilan di Indonesia, yang kalau kita telusuri keberadaannya ternyata mengakar pada
kebudayaan mentalitas kita sebagai suatu bangsa.
Sehingga apa yang disebut dengan mafia hukum dan mafia peradilan eksistensinya cenderung
abadi karena ia telah menjadi virus mentalitas yang membudaya dalam proses penegakan
hukum di negeri ini. Sehingga berbicara tentang Law Enforcement di Indonesia tidaklah bisa
dengan hanya memecat para Hakim, memecat para Jaksa dan memecat para Polisi yang
korup, akan tetapi perbaikan tersebut haruslah dimulai dengan pembangunan pendidikan
dengan pendekatan pembangunan kebudayaan mentalitas kita sebagai suatu bangsa dan
membangun moral force serta etika kebangsaan yang kuat berlandaskan pada Iman dan
Taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Namun upaya untuk menempatkan hukum menjadi panglima di negeri ini diperlukan juga
adanya polical will dari para elite politik dan gerakan moral dari seluruh anak bangsa yang
perduli akan nasib bangsa ini, serta membrantas politikus busuk yang lagi sibuk merebut
kekuasaan !
suster keramas antara pro dan kontra
Posted by opiq on 28 January, 2010
No comments yet
This item was filled under [ Uncategorized ]

Sudah ditayangkan beberapa minggu, film SUSTER KERAMAS masih juga menuai kecaman.
Kali ini kontra datang dari sejumlah orang yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa
Keperawatan Sulawesi Selatan (Sulsel). Mereka berkumpul dan berunjuk rasa di Makassar,
Jumat, menolak film yang dibintangi bintang porno asal Jepang, Rin Sakuragi.
Mereka mendesak DPR segera merekomendasikan pencabutan izin edar film tersebut karena
dinilai menampilkan adegan porno yang sangat mendiskreditkan profesi perawat. Sekitar 100
perawat dari berbagai perguruan tinggi di Makassar di hadapan anggota DPRD Sulsel
meminta ketegasan agar film tersebut ditarik dari peredaran.
Mereka juga meminta kepada Maxima Production yang memproduksi film ini menarik
filmnya dan segera meminta maaf kepada publik, khususnya kepada lembaga profesi
keperawatan yang merasa dilecehkan.
kasus century tak knjung usai
Posted by opiq on 28 January, 2010
No comments yet
This item was filled under [ Uncategorized ]
Wakil Ketua Pansus Bank Century DPR-RI Gayus Lumbuun menyatakan, pihaknya tidak
akan membuat kesimpulan sementara terkait dengan keterangan yang telah dikumpulkan dari
sejumlah saksi.
“Kami tidak akan melakukan kesimpulan sementara dari hasil yang telah dikumpulkan
tersebut. Bahkan masukan dari staf ahli akan dijadikan untuk membuat konstruksi pendapat,”
kata Gayus Lumbuun di Denpasar, Rabu malam.
Di sela menyaksikan pertandingan kejuaraan tinju internasional WBO Asia Pasifik antara
Tommy Seran dengan Liempetc Sor Veorapol dari Thailand itu, ia mengatakan, mulai Kamis
(28/1) akan bertemu dengan pimpinan lembaga negara, antara lain dengan Mahkamah
Agung.
Tujuan bertemu dengan pimpinan lembaga tersebut, kata Gayus, untuk mendengar masukan
dan saran yang akan dijadikan rekomendasi pada sidang paripurna yang rencananya
dilakukan hari Jumat (29/1).
“Masukan dan saran dari pimpinan lembaga negara itu kita akan bahas dalam sidang
paripurna, yang selanjutnya dijadikan rekomendasi,” katanya.
Sebelumnya Gayus Lumbuun di Jakarta mengatakan, Pansus Century juga akan
memperingatkan Ketua DPR karena tidak segera menggelar rapat konsultasi dengan
Mahkamah Agung (MA) dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Rapat konsultasi dengan MA dan KPK tersebut diminta Pansus Century untuk mempertajam
temuan Pansus Century, katanya. (ant/cax)
peradilan dan hukum
Posted by opiq on 28 January, 2010
No comments yet
This item was filled under [ Uncategorized ]
Pangkalpinang – Salah seorang praktisi hukum di Provinsi Bangka Belitung (Babel), Darmo
Sutomo, mengatakan para pengacara harus bekerja secara profesional, jangan menjadi
“makelar hukum”.
“Saya selalu mewanti-wanti kepada anggota advokasi yang notabenenya adalah pengacara
untuk bekerja secara profesional, jangan menjadi makelar hukum,” katanya di
Pangkalpinang, Selasa (24/11).
Hal itu dikemukakannya sehubungan dengan komitmen Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono (SBY) dalam pidatonya yang berkomitmen memberantas mafia peradilan
(hukum) di negeri ini.
“Hukum di negeri ini memang masih lemah sehingga harus ditegakkan dengan memberantas
mafia peradilan,” ujarnya.
Darmo Sutomo yang juga menjabat sebagai Ketua Kongres Advokat Indonesia (KAI) Babel,
mengakui, mafia peradilan cukup marak di provinsi itu namun belum terungkap ke
permukaan.
“Ini tugas bersama untuk memberantas mafia hukum demi tegaknya keadilan di negeri ini,
kita berantas mafia hukum hingga ke akar-akarnya dan kami pengacara di daerah mendukung
penuh komitmen SBY mereformasi hukum,” ujarnya.
Langkah awal sebagai pembuktian penegakan supremasi dan reformasi hukum di negeri ini
menurut dia dengan menyelesaikan secara tuntas kasus Anggodo yang hingga sekarang
penyelesaian hukumnya ditunggu oleh rakyat.
“Saya mengharapkan dukungan berbagai pihak dalam memberantas mafia hukum di Babel,
baik dari LSM dan para pekerja pers untuk melaporkan kasus yang terkait dengan mafia
peradilan,” ujarnya.
Darmo Sutomo juga merasa prihatin dengan adanya praktek mafia peradilan yang bisa
memperjual belikan hukum sehingga menimbulkan krisis kepercayaan dari masyarakat
terhadap hukum itu sendiri.
“Demokrasi di negeri ini sudah berjalan dengan baik, namun harus diakui secara jujur
penegakan hukum masih lemah sehingga perlu reformasi hukum yang salah satunya adalah
memberantas mafia peradilan,” ujarnya.
makelar hukum
Posted by opiq on 28 January, 2010
No comments yet
This item was filled under [ Uncategorized ]

jual beli tak hanya di pasar…jual beli keadilan pun ada di meja hijau, yang smpae skrang pun
masih beroprasi di indonesia sampai sekarang…..