Anda di halaman 1dari 16

1

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Indonesia adalah negara yang memiliki tingkat keanekaragaman tinggi.
Diperkirakan bahwa terdapat Taksiran sekitar 300 spesies spesies hewan
menyusui, 7.500 spesies burung, 2.000 spesies reptil, 25.000 spesies tumbuhan
biji, 1.250 spesies tumbuhan paku-pakuan, 7.500 spesies lumut, 7.800 spesies
ganggang, 72.000 spesies jamur, serta 300 spesies bakteri dan ganggang hijau
biru. Data tersebut membuktikan bahwa tingkat biodiversitas di Indonesia
sangatlah tinggi.
Kantong Semar (Nepenthes sp.) adalah tumbuhan karnivora asli Indonesia
yang dapat memakan seranga. Tumbuhan ini memiliki daun dengan sulur di
ujung daunnya yang termodifikasi menjadi kantong. Bentuk kantongnya
menyerupai bentuk labu dengan bagian ujungnya membesar. Tumbuhan ini
banyak ditemukan di Sumatera Selatan, Sumatera Barat, Jawa Barat, Jawa
Tengah, dan Kalimantan Barat.
Namun pada era modern ini, banyak manusia yang merusak lingkungan
dimana lingkungan tersebut adalah habitat dari makhluk hidup setempat.
Tindak merusak yang dilakukan oleh manusia beragam bentuknya, mulai dari
yang sederhana seperti membuang sampah sembarangan, sampai pada tingkat
berat seperti illegal logging, merusak ekosistem hutan, memburu binatangbinatang langka, membuat lahan pertanian di hutan, atau bentuk destruktif
lainnya. Mereka hanya mementingkan keuntungan bagi diri mereka sendiri
tanpa mengerti akibat dari tindakan mereka. Bahkan pabrik-pabrik industri pun
turut merusak lingkungan dengan membuang limbah ke sungai. Tindakantindakan tak bertanggung jawab seperti ini tentu akan merusak habitat dari
tumbuhan Kantong Semar.
Undang Undang Republik Indonesia No. 5 Tahun 1990 tentang
Konservasi Sumber daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, menjelaskan bahwa
yang dimaksud dengan konservasi sumber daya alam hayati adalah
pengelolaan sumber daya alam hayati yang pemanfaatannya dilakukan secara
1

bijaksana untuk menjamin kesinambungan persediaannya dengan tetap


memelihara dan meningkatkan kualitas keanekaragaman dan nilainya.
Berdasarkan hal tersebut, maka upaya-upaya perlu ditegakkan untuk
mengembalikan keadaan alam yang sudah minus tersebut menjadi kondisi
alam yang harmonis sehingga flora dan fauna tetap lestari. Langkah ini disebut
dengan tindak konservasi. Konservasi sendiri merupakan suatu penanganan
lahan yang rusak akibat dampak dari kerusakan alam atau suatu perlindungan
bagi setiap makhluk hidup, agar tidak terlalu cepat mengalami kepunahan.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, dapat diambil
rumusan masalah sebagai berikut: Bagaimana upaya untuk melestarikan
Kantong Semar (Nepenthes sp.) dengan menggunakan langkah konservasi?
C. Tujuan
Penulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan upaya-upaya dalam
melestarikan Kantong Semar (Nepenthes sp.) dengan menggunakan langkah
konservasi.

BAB II
ISI
A. Klasifikasi Kantong Semar (Nepenthes sp.)
Kantong semar (Nepenthes spp.) adalah nama salah satu tumbuhan yang
unik. Tumbuhan ini pertama kali ditemukan oleh J.P Breyne pada tahun 1689,
nama Nepenthes diambil dari sebuah nama gelas anggur. Di Indonesia sebutan
untuk Nepenthes spp sangat beragam di berbagai daerah, seperti periuk monyet
(Riau), kantong beruk (Jambi), Ketakung (Bangka), sorok raja mantra (Jawa
Barat), ketapu napu (Dayak Katingan), telep ujung (Dayak Bakumpai), dan
selo begongan (Dayak Tunjungan) (Azwar et al, 2007).
Klasifikasi Nepenthes spp. berdasarkan tumbuhan berbunga adalah sebagai
berikut:
Kingdom

: Plantae

Subkingdom

: Tracheobionta

Super division

: Spermatophyta

Divisio

: Magnoliophyta

Subdivisio

: Magnoliophyta

Classis

: Magnoliopsida

Subclassis

: Dilleniidae

Ordo

: Nepenthales

Family

: Nepenthaceae

Genus

: Nepenthes

Species

: Nepenthes spp.

B. Morfologi Kantong Semar (Nepenthes sp.)


Kantong semar dikenal sebagai tumbuhan yang unik dan merupakan
bentuk tumbuhan berbunga yang tidak umum dijumpai. Tumbuhan tersebut
sebenarnya tidak memiliki bunga yang memikat, tetapivariasi warna dan
bentuk dari kantong-kantong yang dimilikinya menjadikan kantong semar
memiliki keindahan yang khas. Kantong bernektar tersebut secara ekologis

berfungsi sebagai perangkap serangga, beberapa reptil, dan hewan kecil


lainnya (Hernawati, 2001).
Kantong Nepenthes yang dindingnya penuh bercak merah kekuningan
menarik perhatian serangga untuk mendekat, semut atau lalat yang mendekat
akan tertarik pada aroma manis yang menyengat. Aroma itu berasal dari
deretan kelenjar pada bibir lubang kantong.
Sulurnya dapat mencapai permukaan tanah atau menggantung pada
cabang-cabang ranting pohon sehingga berfungsi sebagai pipa penyalur nutrisi
dan air. Namun untuk beberapa jenis, karakteristik-karakteristik akar dan daun
juga sangat penting untuk diperhatikan dalam menentukan jenis Nepenthes spp.
(Lauffenburg & Arthur, 2000).
C. Habitat Kantong Semar (Nepenthes sp.)
Nepenthes spp. hidup di tempat-tempat terbuka atau agak terlindung di
habitat yang miskin unsur hara dan memiliki kelembapan udara yang cukup
tinggi. Nepenthes bisa hidup di hutan hujan tropik dataran rendah, hutan
pegunungan, hutan gambut, hutan kerangas, gunung kapur, dan padang savana.
Jenis Nepenthes dibagi menjadi tiga kelompok yaitu Nepenthes dataran
rendag, Nepenthes dataran menengah (dengan ketinggian 500-1000 m di atas
permukaan laut), dan Nepenthes dataran tinggi.
Contoh Nepenthes dataran tinggi diantaranya yaitu N. burbidgeae, N.
lowii, N. rajah, N. villosa, N.fusca, N. sanguinea, N. diatas, N. densiflora, N.
dubia,

dan N. ephippiata. Jenis-jenis tersebut adalah penghuni daerah

pegunungan berketinggian lebih dari 1000 m di atas permukan air laut. Kisaran
suhu malam hari yang dibutuhkan yaitu 2012C. Sedangkan kisaran suhu
siang hari antara 2530C.
Contoh Nepenthes dataran rendah diantaranya yaitu N. alata, N. eymae, N.
khasiana, N. mirabilis, N. ventricosa, N. ampullaria, N. bicalcarata, N.
gracilis, N. maxima, N. reinwardtiana, dan N. tobaica. Jenis-jenis ini tumbuh
subur di dataran berketinggian 0500 m di atas permukaan air laut. Nepenthes
dataran rendah biasanya bersifat epifit menempel di batang pepohonan, namun
ada juga yang hidup secara terestrial di atas tanah bercampur serasah dedaunan.

Suhu harian yang dibutuhkan berkisar antara 2234 C dan kelembaban udara
yang diinginkan yaitu 7095%. Sedangkan contoh Nepenthes dataran
menengah yaitu N. raflesiana, N. adnata, N. clipeata, dan N. mapuluensis
(Clarke dan Leen, 2004; Marlis dan Merbach, 2009).
D. Penyebaran Kantong Semar (Nepenthes sp.)
Sekitar 87 jenis kantong semar (Nepenthes spp.) telah teridentifikasi di
seluruh dunia. Indonesia dan Malaysia merupakan salah satu daerah
penyebaran terluas dari tumbuhan Nepenthes spp., selain itu juga terdapat
sekitar 8 daerah penyebaran Nepenthes seperti Madagaskar (2 jenis), Sri
Langka (1 jenis), India (1 jenis), Indo-China ( 6-8 jenis), Kepulauan Solomon
(1 jenis), New Caledonia (1 jenis), Australia (1 jenis), dan Seychelles (1 jenis)
(Handayani et al, 2005).
Dari 87 spesies tersebut, 64 diantarnya tersebar di Indonesia, 32 jenis
diketahui terdapat di Borneo (Kalimantan, Serawak, Sabah, dan Brunei)
sebagai pusat penyebaran kantong semar. Pulau Sumatera menempati urutan
kedua dengan 29 jenis yang sudah berhasil diidentifikasi. Keragaman jenis
kantong semar di pulau lainnya belum diketahui secara pasti. Namun
berdasarkan hasil penelusuran spesimen herbarium di Herbarium Bogoriense,
Bogor, ditemukan bahwa di Sulawesi minimum sepuluh jenis, Papua sembilan
jenis, Maluku empat jenis, dan Jawa dua jenis (Azwar et al, 2007).
Keanekaragaman jenis ini disebabkan karena tumbuhan ini merupakan
tumbuhan berumah dua sehingga kemungkinan untuk menghasilkan jenis baru
lebih besar selain itu juga dibeberapa negara tumbuhan ini sudah banyak
dibudidayakan.
Beberapa negara yang giat mengembangkan Nepenthes yaitu Australia,
Jerman, Belanda, Jepang Sri Lanka, dan Malaysia. Belanda bahkan
mengandalkan tanaman ini sebagai salah satu sumber devisa (Pratama &
Kurniawan, 2010).

E. Populasi Kantong Semar (Nepenthes sp.) dan Ancamannya


Sumatera merupakan wilayah terbesar kedua dari penyebaran Nepenthes
sp. setelah Kalimantan. Saat ini hanya beberapa jenis alami saja dari Nepenthes
sp. yang ada di Sumatera yang telah teridentifikasi seperti: N. adnata, N.
albomarginata, N. ampullaria, N. angasanensis, N. aristolochioides, N.
bongso, N. gracilis, N. diata, N. dubia, N. custachia, N. inermis, N.
jacavelineae, N. mirabilis, N. pactinata, N. raflesiana, N. reinwardtiana, N.
spathulata, N. sumatrana, N. tobaica dan masih ada beberapa jenis lagi yang
merupakan silangan alami.
Populasi Nepenthes di alam semakin menurun yang disebabkan karena
abitat alami dari jenis Nepenthes sp. di Sumatera setiap tahunnya semakin
terancam, baik oleh pembalakan liar, kebakaran hutan maupun konversi lahan
hutan. Upaya penyelamatan dari ancaman kepunahan dilakukan melalui usaha
konservasi, baik secara in-situ maupun ex-situ dengan mekanisme budidaya
dan pemuliaan.
Pemerintah telah menetapkan bahwa Nepenthes termasuk salah satu
spesies tumbuhan prioritas yang dilindungi karena keberadaannya di alam
cenderung

terancam

punah.

(Peraturan

Menteri

Kehutanan

No.

P.57/Menhut.II/2008, Berita Negara Republik Indonesia Nomor 51, 2008).


Nepenthes sp. merupakan tanaman unik dari hutan yang belakangan
menjadi trend sebagai tanaman khas komersil di Indonesia. Di Sumatera
sendiri, trend ini mulai berlangsung sejak tahun lalu dan semakin marak saat
ini karena bentuknya yang unik sehingga tanaman ini mulai diperjualbelikan
oleh masyarakat. Namun, kebanyakan yang diperjualbelikan khususnya di
Sumatera masih merupakan Nepenthes sp. yang diambil langsung dari alam,
bukan dari hasil penangkaran atau budidaya.
Hal tersebut sangatlah memprihatinkan mengingat habitat asli mereka
terancam oleh kebakaran, pembalakan, pembukaan lahan, dan konversi lahan.
Hutan Indonesia selama periode 1997-2000 mengalami laju pengurangan
mencapai angka sekitar 2,84 juta ha/tahun atau sekitar 8,5 juta ha selama tiga
tahun. Rekalkulasi penutupan lahan di Indonesia pada tahun 2005 yang
dilakukan oleh Departemen Kehutanan menunjukkan adanya peningkatan

persentase penutupan lahan berhutan di Indonesia di Pulau Sumatera dan


Kalimantan (Anonimus, 2005). Artinya, lahan berhutan di Pulau Sumatera
mengalami penurunan setiap tahunnya. Tentu saja kondisi hutan yang seperti
ini turut mengancam keberadaan flora dan fauna yang ada di dalamnya.
Eksploitasi Nepenthes sp. dari alam untuk kepentingan ekonomi semata
serta degradasi hutan yang mengancam habitat alami dari Nepenthes sp.
memperburuk keberadaannya di alam. Oleh karena itu dirasa perlu diadakan
kajian konservasi Nepenthes sp. khususnya di hutan Sumatera, baik
penyebaran, morfologi, variasi jenis, habitat alami, pemanfaatan bahkan
sampai pada ancaman terhadap populasinya serta strategi konservasi yang
dapat diupayakan. Studi serta kajian keanekaragaman jenis Nepenthes sp. di
Sumatera masih dirasa kurang bila dibandingkan dengan jenis vegetasi hutan
lainnya.
F. Upaya Konservasi
Konservasi in-situ merupakan upaya pengawetan jenis tumbuhan dan
satwa liar di dalam kawasan suaka alam yang dilakukan dengan jalan
membiarkan agar populasinya tetap seimbang menurut proses alami di
habitatnya. Upaya konservasi in-situ ini dikatakan paling efektif, karena
perlindungan dilakukan di dalam habitataslinya, sehingga tidak diperlukan lagi
proses adaptasi bagi kehidupan dari jenis tumbuhan dan satwa liar tersebut ke
tempat yang baru (Nurhadi, 2001 dalam Sudarmadji, 2002). Namun demikian,
suatu kelemahan akan terjadi jika suatu jenis yang dikonservasi secara in-situ
tersebut memiliki penyebaran yang sempit; kemudian tanpa diketahui terjadi
perubahan habitat, maka akan sangat berpengaruh terhadap kelangsungan
hidup jenis tersebut; begitu pula jika di daerah tersebut terjadi bencana atau
kebakaran, dapat dipastikan seluruh jenis yang terdapat di dalamnya akan
terancam musnah dan tidak ada yang dapat dicadangkan lagi. Oleh karena itu,
selain upaya konservasi in-situ perlu dilengkapi dengan upaya konservasi exsitu (Nurhadi, 2001 dalam Sudarmadji, 2002).
Upaya konservasi ex-situ merupakan upaya pengawetan jenis di luar
kawasan yang dilakukan dengan menjaga dan mengembangbiakkan jenis

tumbuhan dan satwa liar. Kegiatan konservasi ex-situ ini dilakukan untuk
menghindari adanya kepunahan suatu jenis. Hal ini perlu dilakukan mengingat
terjadinya berbagai tekanan terhadap populasi maupun habitatnya (Nurhadi,
2001 dalam Sudarmadji, 2002). Hal lain yang tidak kalah penting ialah
penyebarluasan informasi mengenai Nepenthes sp. itu sendiri kepada
masyarakat umum agar mereka mengetahui keberadaan populasi, status jenis,
dan status hukum yang melindungi tanaman dari kepunahan. Upaya ini harus
disertai dengan disiplin tinggi dari penerapan hukum bagi ancaman-ancaman
yang ada terhadap kelangsungan hidup Nepenthes sp.
Kebun Raya Cibodas di Jawa Barat menjadi salah satu lokasi rumah
konservasi kantong semar atau nephentes.LIPI membangun tempat konservasi
khusus kantong semar untuk mencegah kepunahan sekaligus sebagai lokasi
penelitian. Kebun Raya Cibodas yang telah dirintis sejak 2009 kini memiliki 48
spesies dan 47 hibrida yang berasal dari Sumatera, Jawa, Sulawesi, serta
Papua. Tempat konservasi dengan luas sekitar 90 meter persegi itu menjadi
rumah bagi kantong semar yang terancam punah. Spesies yang masuk daftar
merah Asosiasi Internasional Konservasi Alam (IUCN), seperti Nephentes
villosa, N. iowii, N. aristolochiodes, dan N. dubia, ada di antara deretan
kantong semar yang ditanam di Cibodas.
Berdasarkan
konservasi

Undang-undang

Sumber

Daya

Nomor

Alam

dan

Tahun

Ekosistemnya

1990
dan

tentang
Peraturan

Pemerintah Nomor 7/1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan


Satwa Liar, Nepenthes termasuk tumbuhan yang dilindungi. Hal ini
berarti

pemanfaatan

langsung

dari

habitat

tidak

boleh

dilakukan,

misalnya mengambil dari hutan lalu dijual (Departemen Kehutanan,


2003). Hal ini sejalan dengan regulasi Convention on International Trade
in Endangered Species (CITES), dari 103 spesies kantong semar di
dunia yang sudah dipublikasikan, 2 jenis: N. rajah dan N. khasiana
masuk

dalam

Appendix-2.

Itu

kategori
berarti

Appendix-1.
segala

Sisanya

bentuk

berada

kegiatan

dalam

perdagangan

kategori
sangat

dibatasi. Nepenthes juga masuk pada red list, criteria B2ab (v) IUCN

dengan

criteria

vulnarable,

consents,

rare,

endangered,dan

critical

endangered (IUCN, 2001).


Valuasi sumber daya alam akan meningkatkan pengertian tentang
nilai

dan

jasa

keanekaragaman

yang

disediakan

hayati.

Valuasi

oleh

ini

sumber

dapat

daya

membantu

alam

para

dan

penentu

kebijakan dalam memilih alternatif kebijakan pembangunan, di samping


itu valuasi juga berguna untuk identifikasi manfaat dan keuntungan yang
dihasilkan.

Pemahaman

menanggung
syarat

biaya

penting

melindungi

yang

dan

dalam

dan

lebih

siapa

baik

yang

menikmati

menerapkan

memanfaarkan

tentang
manfaat

kebijakan

sumber

siapa

yang

daya

merupakan

efektif

secara

yang

efisien

untuk
dan

berkelanjutan (Vermeulen & Koziell, 2002).


Penentuan

parameter-parameter

yang

dapat

digunakan

dalam

rangka valuasi fungsi atau kontribusi dari Nepenthes didasarkan pada


spesifikasi
tersebut

barang

baik

dan

secara

jasa

yang

langsung

dihasilkan

maupun

tidak

oleh

langsung.

Nepenthes
Ada

lima

pendekatan valuasi yang dikenali yaitu valuasi harga pasar, pendekatan


pengganti pasar, pendekatan fungsi produksi, pendekatan pilihan dan
pendekatan berbasis biaya. Berdasarkan hal tersebut, maka terdapat
beberapa aspek yang dapat dijadikan sebagai parameter valuasi nilai
ekonomi Nepenthes yaitu :
1. Sebagai Tanaman Hias
Nilai ekonomi Nepenthes sebagai tanaman hias dapat dihitung
berdasarkan

harga

pasar

dari

Nepenthes

tersebut.

Untuk

menentukan nilai ekonomi berdasarkan harga pasar ini maka perlu


diketahui

terlebih

dahulu

berapa

jumlah

Nepenthes

setiap

hari

terjual. maka perlu diketahui variabel-variabel berupa jumlah individu


Nepenthes yang terjual oleh setiap petani per hari (JN), total waktu
penjualan yang optimal (TP) dalam sebulan dan jumlah petani yang
menjualnya (N) serta biaya yang harus dikeluarkan oleh petani
sampai

ketempat

penjualan

(BT).

Formulasi

sederhana

dapat

dirumuskan dalam rangka menentukan nilai ekonomi Nepenthes

10

berdasarkan harga pasar sebagai berikut : Nilai Ekonomi Nepenthes


= ( JN x N ) x ( TP ) BT
2. Sebagai Tumbuhan Obat Tradisional
Nilai ekonomi dari Nepenthes yang berperan sebagai tumbuhan
obat dihitung berdasarkan pelayanan dokter dan pembelian obatobat
sintetis sesuai dengan jenis penyakitnya (Replacement cost).
3. Sumber aiar Minum Bagi Petualang
Bagi para pendaki gunung yang kehausan kantong semar jenis
N. gymnamphora merupakan sumber air yang layak minum karena
pH-nya netral (6-7), tetapi kantong yang masih tertutup, sebab
kantong yang terbuka sudah terkontaminasi dengan jasad serangga
yang masuk kedalam, dan pH-nya 3 sedangkan rasanya masam.
Nilai ekonomi dari Nepenthes yang dapat dimanfaatkan langsung
sebagai sumber air minum dapat dihitung berdasarkan harga air
minum.
4. Sebagai Pembungkus Makanan
Nilai

ekonomi

langsung

dari

sebagai

Nepenthes

pembungkus

yang

makanan

dapat
dapat

dimanfaatkan

dihitung

dengan

harga pembungkus bahan makanan tersebut apakah dari kertas,


daun,

plastik

pembungkus

dll.

Kantong

ketupat.

Di

Nepenthes

Sumatera

dapat

Barat

digunakan

kantong

untuk

tanaman

ini

(terutama Nepenthes ampullaria) juga sering dipakai untuk membuat


kue godah. Kantong yang sudah dewasa dipakai untuk tempat
membuat

makanan

yang

disebut

lemang.

Di

Singkawang,

Kalimantan Barat, N. ampullaria sering digunakan untuk membuat


aronan

pulut

(beras

ketan)

dimasukkan

ke

dalam

kantongnya

kantong

Nepenthes

protein /

molecular

kemudian dikukus.
5. Sumber Protein
Protein
dapat

(enzim

protease)

dimanfaatkan sebagai

dalam

cairan

usaha bertani

farming. Nilai ekonominya dapat dihitung melalui harga protein


sintetik di pasaran.

11

6. Pengganti Tali
Batang

dari

Kantong

Semar

ini

bisa

di

gunakan

sebagai

pengganti tali untuk pengikat barang. Di Bangka, batang ketakung


betul digunakan untuk mengikat pagar dan memikul barang berat.
Batang keringnya menggantikan rotan lantaran kuat dan lentur. Bahkan ia
lebih tahan lama dibandingkan rotan. Sementara di Papua, batang kobekobe yang liat itu dimanfaatkan sebagai gelang. Nilai ekonomi dari
Nepenthes yang dapat dimanfaatkan langsung sebagai pengganti tali dapat
dihitung sesuai dengan harga tali yang digunakan. Penaksiran biaya
pengganti / Replacement cost .
7. Pengendali Populasi serangga hama dan vektor penyakit
Peran

penting

dari

Nepenthes

yang

memangsa

serangga

seperti semut dan serangga lain yang berpotensi sebagai hama


dan vektor penyakit dapat dihitung sebagai satuan nilai ekonomi
melalui penaksiran biaya pengganti atau Replacement cost. Biaya
pengganti disini adalah besarnya biaya yang harus dikeluarkan
untuk

pemberantasan

serangga,

rayap

dan

harga

insektisida

pemberantas hama, tikus serta biaya kerugian akibat kegagalan


panen akibat serangan hama serangga, rayap dan tikus.
8. Sumber Plasma Nutfah
Nepenthes

merupakan

yang sangat

tinggi.

spesies
Secara

alami

genetis

dengan
jenis

potensi

Nepenthes

genetik

berpeluang

untuk diisolasi dan direkayasa sedemikian rupa sehingga dapat


direkombinasikan dengan jenis-jenis Nepenthes yang lainnya untuk
budidayanya.

Keseimbangan

ekosistem

dan

kekayaan

plasma

nutfah alam penting untuk dijaga. Nepenthes saat ini telah menjadi
industri florikultura di negara maju seperti Eropa dan Amerika,
bahkan

Nepenthes

mampu

menjadi

komoditi

yang

sangat

menguntungkan bagi negara tersebut. Melalui teknik perbanyakan


kultur jaringan, Nepenthes diperbanyak dan diperdagangkan secara
legal (padahal jenis yang mereka perbanyak adalah Nepenthes dari
Indonesia). Nilai ekonomi dari Nepenthes sebagai sumber plasama

12

nuftah ini dapat dihitung berdasarkan ketentuan harga jual dari


plasma nuftah unggul di pasar internasional.
9. Nilai Ilmiah
Nepenthes

merupakan

objek

kajian

ilmiah

yang

potensial.

Oleh sebab itu, nilai ilmiah dari Nepenthes tersebut dapat dihitung
berdasarkan

besarnya

dana

riset

yang

diperoleh

oleh

peneliti

Nepenthes per tahun. Nilai ekonomi terhadap nilai ilmiah Nepenthes


dapat pula dihitung dengan travel cost, yaitu berapa biaya yang
dikeluarkan oleh para ilmuwan dan penggemar Nepenthes untuk
berkunjung ke lokasi dimana Nepenthes tersebut berada.
10. Nilai Estetika dan Spiritual
Di Maluku, air Nepenthes sudah dimanfaatkan penduduk sejak
zaman Rumphius pada 1690. Bukan untuk membasahi tenggorokan
yang kering, tetapi membasahi tanah Ambon. Bila terjadi kemarau
panjang, diam-diam para tetua kampung pergi ke hutan. Mereka
menuang semua air dalam kantong Nepenthes ke tanah. Dengan
cara itu mereka yakin hujan segera turun. Dukun-dukun zaman dulu
menggunakan air di dalam kantong Nepenthes yang masih tertutup
sebagai obat pencegah ngompol. Air itu dituang di atas kepala anak
yang sering ngompol. Sisanya diminumkan Benar rupanya legenda
dalam Homer's The Odyssey. Nepenthes memang pelipur lara dan
derita. Bahkan terdapat mitos di kalangan tertentu bahwa kantong
Nepenthes adalah pembawa keberuntungan merupakan salah satu daya
tarik tersendiri, yang menyebabkan tanaman ini dicari orang. Kantong
Nepenthes yang berwarna merah dipercaya mampu mendatangkan jodoh,
sementara yang berwarna kuning diyakini mampu menarik rezeki
berlimpah dan mmebuat kariri seseorang menanjak. Telrpas dari mitos
tersebut, tanaman ini memang impresif dan eksotis. Nilai ekonominya
dapat dipakai Valuasi kontingen atau penentuan WTP (Willingness To
Pay) ataupun dengan PDM melalui LUVI terhadap terhadap spesies
Nepenthes.

13

11. Nilai Keberadaan Spesies


Terlepas

dari

segala

fungsi

atau

kontribusi

ekologis

dan

ekonomisnya, masing-masing spesies Nepenthes akan memiliki nilai


keberadaannya tersendiri sebagai salah satu bagian dari potensi
ekosistem

dan

kebanggaan

kultural

penduduk

di

sekitarnya.

Perhitungan nilai ekonomi Nepenthes berdasarkan nilai keberadaan


ini dapat diketahui melalui valuasi kontingen atau penentuan WTP
(Willingness To Pay) terhadap masing-masing spesies Nepenthes
ditempat tumbuhan tersebut berada ataupun dengan PDM melalui
LUVI terhadap spesies Nepenthes.

14

BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
Lahan hutan di Sumatera, memiliki kekayaan berupa keanekaragaman
hayati yang berpotensi untuk dikembangkan, baik secara ekologis maupun
ekonomis. Salah satu potensi yang ada adalah keberadaan Nepenthes sp. yang
merupakan tanaman unik dan dilindungi keberadaannya. Nepenthes sp.
belakangan ini semakin diminati sebagai tanaman hias komersil oleh
masyarakat. Selain itu tumbuhan Nepenthes sp. juga dapat digunakan sebagai
tanaman obat. Karena potensinya tersebut, tumbuhan ini justru menjadi
terancam keberadaannya akibat eksploitasi oleh orang-orang yang ingin
mengejar profit dengan menjualnya sebagai tanaman hias tanpa memperhatikan
kelestarian ekologisnya. Selain itu, konversi lahan hutan di Sumatera,
kebakaran hutan dan perambahan liar juga turut menambah ancaman
keberadaan tumbuhan unik ini di habitat aslinya. Keberadaan Nepenthes sp. di
hutan Sumatera semakin terancam keberadaannya dari tahun ke tahun. Untuk
mencegah hal itu terjadi, perlu upaya konservasi, baik secara in-situ mapun exsitu yang harus segera dilakukan.
B. Saran
Perlu diadakan studi dan penelitian lebih lanjut mengenai Nepenthes sp.
yang ada di hutan Sumatera untuk kemudian dipublikasikan kepada
stakeholders terkait khususnya kepada masyarakat luas agar menyadari
pentingnya keberadaan Nepenthes sp., baik dari sisi ekologis maupun
ekonomisnya. Dengan upaya tersebut diharapkan mereka dapat berpartisipasi
dalam menjaga kelestarian hutan dan kenakeragaman hayati yang ada di
dalamnya.

14

15

DAFTAR PUSTAKA
Azwar, F., Kunarso, A., dan Rahman, T. S. 2007. Kantong Semar (Nepenthes sp.)
di Sumatera Utara, Tanaman Unik yang Semakin Langka. Prosiding
Ekspose Hasil-Hasil.
Berita Negara Republik Indonesia Nomor 51. 2008. Peraturan Menteri Kehutanan
Nomor: P. 57/Menhut-II/2008 tentang arahan strategis konservasi species
nasional 2008-2018. 74 h.
Clarke, C. and Leen, C. 2004. Pitcher plants of Sarawak. Sabah: Natural History
Publication Borneo Sdn. Bhd.
Gabriel, T. 2014. Cibodas Jadi Rumah Konservasi Nepenthes, (Online)
http://www.tempo.co/read/news/2014/04/14/095570466/Cibodas-JadiRumah-Konservasi-Nepenthes diakses pada tanggal 21 Februari 2015.
Handayani, T., Latifah, D., dan Dodo. 2005. Diversity and Growth Behaviour of
Nepenthes (Pitcher Plants) in Tanjung Puting National Park, Central
Kalimantan Province. Biodiversitas. Vol 6, Hlm: 251-255.
IUCN. 2001. IUCN red list categories and criteria: version 3.1 . Gland: IUCN
Species Survival Commission.
Marlis, Merbach D. 2009. Nepenthes from Borneo: the plants, (Online),
http://www.nepenthes.Merbach.net/En glish/plant.html, diakses 21 Februari
2015.
Pratama, Bayu dan Kurniawan, M. B. 2010. Mengenal Hewan dan Tumbuhan Asli
Indonesia. Jakarta: Cikal Aksara.
Sudarmadji. 2002. Pentingnya Pemberdayaan Masyarakat dalam Upaya
Konservasi Sumberdaya Alam Hayati di Era Pelaksanaan Otonomi Daerah,
(Online), http://www.unej.ac.id/Fakultas/mipa/vol 3.no_1/sudarmadji.pdf.
Vermeulen, J & Koziell, I. 2002. Integrating global and local value. A review of
biodiversity assesment. London: International Institut For Enviroment And
Development.

MAKALAH EKOLOGI
KONSERVASI
15

16

Konservasi Kantong Semar (Nepenthes sp.)

Oleh
NURIL TRISNAWATI
NIM : 12030244002

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
2014