Anda di halaman 1dari 8

RANCANG BANGUN PENUNJUK JALUR EVAKUASI

GEDUNG BERTINGKAT DENGAN INDIKATOR LED


BERBASIS MIKROKONTROLLER ATMEGA 8535
Anasda Tivari, Bagus Suryo Permono, M. Arrouf Munif, Rizal Kurniawan, Roni Amir Chamdani
Jurusan Teknik Elektro Polines
Jln. Prof. Sudarto Tembalang Semarang INDONESIA

ABSTRAK
Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan
masyarakat yang disebabkan baik faktor alam maupun faktor non alam,maupun faktor manusia ,sehingga mengakibatkan
timbulnya korban jiwa manusia,kerusakan lingkungan ,kerugian harta benda,dan dampak psikologi. Jalur evakuasi adalah jalur
yang ditujukan untuk membuat orang agar dapat menyikapi saat terjadi bencana dan tidak (berhamburan saat terjadi bencana)
panik saat terjadi bencana melainkan dapat memposisikan apa yang akan mereka lakukan dengan melihat arah panah maupun
tanda lain demi menekan jumlah korban yang disebabkan oleh kepanikan saat terjadi bencana. seperti gunung meletus, banjir
maupun gempa bumi, dan juga kebakaran . Untuk itu penulis membuat alat penanda jalur evakuasi gedung bertingkat untuk
mempermudah penghuni gedung dalam mencari titik berkumpul pada suatu daerah gedung atau daerah perkantoran, saat ketika
terjadi kebakaran pada gedung bertingkat tersebut dengan menggunakan sensor panas sebagai sensor dan lampu LED sebagai
indikator output.
Secara keseluruhan alat ini dibagi ke dalam tiga blok sistem, yaitu masukan, unit pemroses, dan keluaran. Masukan
terdiri atas sensor limit switch yang akan terkontak apabila sensor suhu (LM35) sebagai pengirim sinyal (transmitter) , unit
pemroses terdiri atas mikrokontroler Atmega8535, dan keluaran yaitu indikator LED sebagai penanda. Mikrokontroler
menerima input dari sensor limit switch diolah pada mikrokontroler dan outputnya ditampilkan ke lampu LED.

Intisari

Pada saat terjadi bencana sebagian besar berlarian


menyelamatkan diri tanpa arah atau pedoman baik penghuni
bangunan yang ada di bagian tengah maupun belakang
semuanya berlarian menuju jalan keluar tanpa memperhatikan
jalur yang ditempuh dan titik berkumpul (assembly point)
yang aman, hal ini juga menyebabkan timbulnya korban,
banyaknya sekolah yang belum menggunakan jalur evakuasi
juga menyababkan kendala tersendiri dalam hal pelaksanaan
sekolah yang aman terhadap bencana.
Oleh karen itu kami membuat rancang bangun ini untuk
mempermudah penghuni gedung bertingkat keluar dari
bangunan tersebut untuk menyelamatkan diri dari kebakaran
gedung dan berkumpul ada titik kumpul yang telah dibuat.

Bencana adalah peristiwa atau rangkaian


peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan
dan penghidupan masyarakat yang disebabkan baik
faktor alam maupun faktor non alam,maupun faktor
manusia ,sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa
manusia. Jalur evakuasi adalah jalur yang ditujukan
untuk membuat orang agar dapat menyikapi saat terjadi
bencana dan tidak (berhamburan saat terjadi bencana)
panik saat terjadi bencana. Untuk itu penulis membuat
alat penanda jalur evakuasi gedung bertingkat untuk
mempermudah pengemudi mobil dalam mencari tempat
titik berkumpul saat terjadi bencana kebakaran
menggunakan LM 35 sebagai sensor dan lampu indikator
LED sebagai output penanda.
Secara keseluruhan alat ini dibagi ke dalam tiga blok
sistem, yaitu masukan, unit pemroses, dan keluaran.
Masukan terdiri atas sensor suhu (LM 35) yang akan
terkontak apabila LM 35 menerima rangsangan panas
sebagai pengirim sinyal (transmitter) , unit pemroses
terdiri atas mikrokontroler Atmega8535, dan keluaran
yaitu LED sebagai penanda .Makalah ini merupakan
pedoman untuk membuat rancang bangun penunjuk
jalur evakuasi gedung bertingkat dengan indikator LED
berbasis mikrokontroler Atmega 8535 .

1.2 Tujuan
Tujuan dari penelitian Tugas Akhir ini adalah
membuat alat penunjuk jalur evakuasi pada gedung bertingkat
dengan menggunakan mikrokontroler sebagai pengendali
yang dikombinasikan dengan LED sebagai outputnya dan
menggunakan sensor suhu (LM 35) sebagai sensor.
1.3 Pembatasan Masalah
Pembatasan masalah pada Tugas Akhir ini adalah
sebagai berikut :
1. Mikrokontroller
yang
digunakan
adalah
mikrokontroller AVR ATMega8535.
2. Bahasa pemrograman yang digunakan adalah bahasa
C yang diadaptasikan pada software Code Vision
AVR.
3. Sensor yang digunakan adalah sensor dengan
menggunakan sensor suhu (LM 35) sebagai
peenerima rangsangan.
4. Penggunaan LED sebagai penanda jalur evakuasi
pada gedung bertingkat.

Keywords mikrokontroler, sensor suhu (LM 35) , indikator


LED.

I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pada kesempatan ini kami, ingin merancang penunjuk
jalur evakuasi gedung bertingkat berbasis mikrokontroler
Atmega 8535 Pada Tugas akhir ini kita ingin memanfaatkan
mikrokontroler sebagai pengendali yang di kombinasikan
dengan LED sebagai penanda tempat parkir kosong atau
penuh dan menggunakan sensor suhu (LM 35) .
Pada perkembangan teknologi yang semakin pesat, salah
satunya adalah penggunaan teknologi mikrokontroler.
Penggunaan mikrokontroler banyak dimanfaatkan dalam
kehidupan sehari sehari. Mikrokontroller merupakan suatu
komponen elektronika yang jika diberikan data masukan
(input), mmemproses data masukan (input) tersebut, dan
kemudian mengeluarkan hasil output dari data yang diproses
tadi.
Penentuan titik jalur evakusi serta tempat berkumpul
(assemble Point) merupakan Perancangan peta evakuasi
dengan cara menentukan lintasan terpendek menuju titik
berkumpul (assembly point). Penentuan lintasan terpendek
memperhatikan alternative jalur-jalur yang dapat dilalui
menuju titik berkumpul (assembly point ). Jarak yang
terpendek merupakan jalur tercepat menuju titik berkumpul
(assembly point ).

II. DASAR TEORI


2.1 Mikrokontroler ATMega 8535
Mikrokontroller merupakan sebuah system computer
yang seluruh atau sebagian besar elemnnya dikemas
dalam suatu chip IC, sehingga sering disebut single chip
microcomputer. Lebih lanjut, mikrokontroler merupakan
system computer yang mempunyai satu atau beberapa
tugas yang sangat spesifik, berbeda daengan PC
(Personal Computer) yang memiliki beberapa fungsi.
Perbedaan antara computer dengan mikrokontroller.
Mikrokontroller
adalah
sebuah
system
microprocessor dimana didalamnya sudah terdapat CPU,
ROM, Ram, I/O, Clock dan peralatan internal lainnya
yang sudah saling terhubung dan terorganisasi dengan
baik oleh pabrik pembuatnya dan dikemas dalam satu
chip yang siap pakai, sehingga kita tinggal memprogram
isi ROM sesuai aturan penggunaan oleh pabrik yang
membuatnya menurut Winoto (2008:3).

Teknologi yang digunakan pada mikrokontroller


AVR berbeda dengan mikrokontroller seri MCS-51. AVR
berteknologi RISC (Reduced Instruction Set Computer),
sedangkan seri MCS-51 berteknologi CISC (Complex
Instruction Set Computer). Mikrokontroler AVR dapat
dikelompokkan menjadi empat kelas, yaitu keluarga
ATtiny, keluarga AT90Sxx, keluarga ATMega, dan
keluarga AT89RFxx. Pada dasarnya yang membedakan
masing-masing kelas adalah memori, kelengkapan
periperal dan fungsi-fungsi tambahan yang dimiliki.
Berikut ini penjelasan lebih lengkap mengenai
Mikrokontroller ATMega8535

g.

Memori Flash sebesar 8kb dengan kemampuan read


while write

h.

Unit Interupsi Internal dan External

i.

Port antarmuka SPI untuk men-download program


ke flash

j.

EEPROM sebesar 512 byte yang dapat diprogram


saat operasi

k.

Antarmuka komparator analog

l.

Port USART untuk komunikasi serial.

2.1.1

Konfigurasi PIN ATMega8535

Gambar 2.1 Mikrokontroller ATMega8535


Mikrokontroller AVR ATMega memiliki 40 pin
dengan 32 pin diantaranya digunakan sebagai port
paralel. Satu port paralel terdiri dari 8 pin, sehingga
jumlah port pada mikrokontroler adalah 4 port, yaitu
port A, port B, port C dan port D. Sebagai contoh adalah
port A memiliki pin antara port A.0 sampai dengan port
A.7, demikian selanjutnya untuk port B, port C, port D.
Diagram pin mikrokontroller dapat dilihat pada gambar
berikut:

ATMega8535 adalah mikrokontroller CMOS 8 bit daya


rendah berbasis arsitektur RISC. Instruksi dikerjakan pada
satu siklus clock, ATMega8535 mempunyai throughput
mendekati 1 MIPS per MHz, hal ini membuat
ATMega8535 dapat bekerja dengan kecepatan tinggi
walaupun
dengan
penggunaan
daya
rendah.
Mikrokontroller ATmega8535 memiliki beberapa fitur atau
spesifikasi yang menjadikannya sebuah solusi pengendali
yang efektif untuk berbagai keperluan. Fitur-fitur tersebut
antara lain:
a.

Saluran I/O sebanyak 32 buah, yang terdiri atas Port


A, B, C dan D

b.

ADC (Analog to Digital Converter)

c.

Tiga buah Timer/Counter


perbandingan

d.

Watchdog Timer dengan osilator internal

e.

CPU yang terdiri atas 32 register

f.

SRAM sebesar 512 byte

dengan

kemampuan

resistor (dapat diatur per bit). Output buffer port A


dapat memberi arus 20 mA dan dapat mengendalikan
display LED secara langsung. Data Direction
Register port A (DDRA) harus di-setting terlebih
dahulu sebelum port A digunakan. Bit-bit DDRA
diisi 0 jika ingin memfungsikan pin-pin port A yang
disesuaikan sebagai input, atau diisi 1 jika sebagai
output. Selain itu, pin-pin pada port A juga memiliki
fungsi-fungsi alternatif khusus seperti yang dapat
dilihat dalam tabel:
Tabel 2.2 Penjelasan pin pada Port A
Pin

Keterangan

PA.7

ADC7 (ADC Input Channel 7)

PA.6

ADC6 (ADC Input Channel 6)

PA.5

ADC7 (ADC Input Channel 5)

PA.5

ADC4 (ADC Input Channel 4)

PA.3

ADC3 (ADC Input Channel 3)

PA.2

ADC2 (ADC Input Channel 2)

PA.1

ADC1 (ADC Input Channel 1)

PA.0

ADC0 (ADC Input Channel 0)

Gambar 2.2 Konfigurasi IC Mikrokontroller ATMega8535


a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.

VCC merupakan Pin yang berfungsi sebagai pin


masukan catu daya.
GND merupakan Pin Ground
Port A (PA0...PA7) merupakan pin I/O dan pin
masukan ADC
Port B (PB0...PB7) merupakan pin yang mempunyai
fungsi khusus yaitu Timer / Counter , Komparator
Analog dan SPI .
Port C (PC0...PC7) merupakan port I/O dan pin yang
mempunyai fungsi khusus , yaitu komparator analog
dan Timer Oscillator .
Port D (PD0...PD7) merupakan port I/O dan pin
fungsi khusus , yaitu komparator analog dan
Interrupt eksternal serata komunikasi serial .
RESET merupakan pin yang digunakan untuk
mereset mikrokontroler.
XTAL1 dan XTAL2 merupakan pin masukkan clock
eksternal.
AVCC merupakan pin masukkan untuk tegangan
ADC.
AREF merupakan pin masukkan tegangan referensi
untuk ADC
(warhdana, 2006)

b.

Pin 1 sampai dengan pin 8 merupakan pin


dari port B. Merupakan 8 bit directional port I/O.
Setiap pin-nya dapat menyediakan internal pull-up
resistor (dapat diatur per bit). Output buffer port B
dapat memberi arus 20 mA dan dapat mengendalikan
display LED secara langsung. Data Direction
Register port B (DDRB) harus di-setting terlebih
dahulu sebelum
port B digunakan. Bit-bit DDRB diisi 0 jika ingin
memfungsikan pin-pin port B yang disesuaikan
sebagai input, atau diisi 1 jika sebagai output. Selain
itu, pin-pin port B juga memiliki fungsi-fungsi
alternatif khusus seperti yang dapat dilihat dalam
tabel:
Tabel 2.3 Penjelasan pin pada Port B

Berikut ini adalah penjelasan dari pin


mikrokontroler ATMega8535 menurut port-nya masingmasing:
a.

Port B

Port A
Pin 33 sampai dengan pin 40 merupakan pin
dari port A. Merupakan 8 bit directional port I/O.
Setiap pin-nya dapat menyediakan internal pull-up

fungsi-fungsi alternatif khusus seperti yang dapat


dilihat dalam tabel 2.4:
Pin

Keterangan

PC.7 TOSC2 (Timer Oscillator Pin 2)


PC.6 TOSC1 (Timer Oscillator Pin 1)

Pin

Keterangan

PB.7

SCK (SPI Bus Serial Clock)

PB.6

VISO (SPI Bus Master Input/Slave Output)

PB.5

VOSI (SPI Bus Master Output/Slave Input)

PB.4

SS (SPI Slave Select Input)


AIN1

PB.3

(Analog

Comparator

PC.1

SDA (Two-Wire Serial Bus Data


Input/Output Line)

PC.0

SCL (Two-Wire Serial Bus Clock


Line)

Tabel 2.4 Penjelasan pin pada Port C

Negative

Input)OCC (Timer/Counter0 Output Compare


Match Output)

PB.2
PB.1

AIN0 (Analog Comparator Positive Input)INT2


(External Interrupt2 Input)
T1 (Timer/Counter1 External Counter Input)

PB.0

c.

d.

Port D

Pin 14 sampai dengan pin 20 merupakan


pin dari port D. Merupakan 8 bit directional port I/O.
Input)XCK
(JSART
External
Clock
Setiap
pin-nya
dapat
Pin
Keterangan
menyediakan
internal
pull-up
Input/Output)
resistor (dapat diatur per bit).
PD.0 RDX (UART input line)
Output buffer port D dapat
PD.1 TDX (UART output line)
memberi arus 20 mA dan
dapat mengendalikan display
PD.2 INT0 (external interrupt 0 input)
LED secara langsung. Data
PD.3 INT1 (external interrupt 1 input)
Direction Register port D
OC1B (Timer/Counter1 output compareB
(DDRD) harus di-setting
PD.4
match output)
terlebih dahulu sebelum port
D digunakan. Bit-bit DDRD
OC1A (Timer/Counter1 output compareA
PD.5
diisi
0
jika
ingin
match output)
memfungsikan pin-pin port D
Port C
PD.6 ICP (Timer/Counter1 input capture pin)
yang disesuaikan sebagai
Pin 22 sampai
OC2 (Timer/Counter2 output compare
input, atau diisi 1 jika sebagai
dengan
pin
29 PD.7
match output)
output. Selain itu, pin-pin port
merupakan pin dari port
D juga memiliki fungsi-fungsi
C. Port C sendiri merupakan port input atau output.
alternatif khusus seperti yang dapat dilihat dalam tabel:
Setiap pin-nya dapat menyediakan internal pull-up
resistor (dapat diatur per bit). Output buffer port C
Tabel 2.5 penjelasan pin pada Port D
dapat memberi arus 20 mA dan dapat mengendalikan
display LED secara langsung. Data Direction
Register port C (DDRC) harus di-setting terlebih
dahulu sebelum port C digunakan. Bit-bit DDRC
diisi 0 jika ingin memfungsikan pin-pin port C yang
disesuaikan sebagai input, atau diisi 1 jika sebagai
output. Selain itu, pin-pin port D juga memiliki
2.2 Lampu LED
T0

(Timer/Counter0

External

Counter

LED merupakan salah satu jenis dioda yang mengubah


energi perpindahan electron electron yang jatuh dari
pita konduksi ke pita valensi menjadi cahaya. Berwana
warninya cahaya yang dipancarkan ini, dikarenakan jenis
bahan yang digunakan berbeda beda. Bahan
bahannya antara lain gallium, arsen dan fosfor.
Penggunaan LED biasanya berhubungan dengan segala
hal yang dilihat oleh manusia, seperti untuk mesin
hitung, jam digital, dan lain lain.

dan simpangan didalamnya, juga dapat bertindak sebagai


perata arus yang mengkoreksi pada kasus yang
sedimikian, dengan menggunakan metode bypass
kapasitor dari Vin untuk ditanahkan.

Gambar 2.4 Sensor Suhu LM35


2.5

Resistor
Resistor adalah salah satu komponen elektronika
yang berfungsi sebagai penahan arus yang mengalir
dalam suatu rangkaian dan berupa terminal dua
komponen elektronik yang menghasilkan tegangan pada
terminla yang sebanding dengan arus listrik yang
melewatinya sesuai dengan hukum ohm (V=I.R). Sebuah
resistor tidak memiliki kutub positif dan negatif, tapi
memiliki karakteristik utama yang resistensi, toleransi,
tegangan kerja maksimum dan power rating.
Karakteristik lainnya meliputi koefisen temperatur,
kebisingan, dan induktansi. Ohm yang dilambangkan
dengan simbol (omega) merupakan satuan resistansi
dan sebuah resistor yang bersifat resistif.
Resistor adalah komponen dasar elektronika yang
selalu digunakan dan paling banyak dalam setiap
rangkaian
elektronika.

Gambar 2.3 LED


2.3 Sensor Suhu (LM 35)
Sensor suhu IC LM35 merupakan chip IC yang
berfungsi untuk mengetahui temperatur suatu objek atau
ruangan dalam bentuk besaran elektrik, atau dapat juga
didefinisikan sebagai komponen elektronika yang
berfungsi untuk mengubah perubahan temperatur yang
diterima dalam perubahan besaran elektrik. Sensor suhu
IC LM35 dapat mengubah perubahan temperartur
menjadi perubahan tegangan pada bagian outputnya.
Sensor suhu IC LM35 membutuhkan sumber tegangan
DC +5 volt dan konsumsi arus DC sebesar 60 uA dalam
beroperasi.
Prinsip kerja sensor suhu IC LM35 secara prinsip
sensor akan melakukan penginderaan pada saat
perubahan suhu setiap suhu 1C akan menunjukan
tegangan sebesar 10 mV. Pada penempatannya LM35
dapat ditempelkan dengan perekat atau dapat pula
disemen pada permukaan akan tetapi suhunya akan
sedikit berkurang sekitar 0,01C karena terserap pada
suhu permukaan tersebut. Dengan cara seperti ini
diharapkan selisih antara suhu udara dan suhu
permukaan dapat dideteksi oleh ensor LM35 sama
dengan suhu disekitarnya, jika suhu udara disekitarnya
jauh lebih tinggi atau jauh lebih rendah dari suhu
permukaan, maka LM35 berada pada suhu permukaan
dan suhu disekitarnya.
Jarak yang jauh diperlukan penghubung yang
tidak terpengaruh oleh interferensi dari luar, dengan
demikian digunakan kabel selubung yang ditanahkan
sehinggadapat bertindak sebagai suatu antena penerima

Gambar 2.5 Resistor


2.6 Transistor

Transistor adalah alat semikonduktor yang dipakai


sebagai penguat, sebagai sirkuit pemutus dan
penyambung (switching), stabilisasi tegangan, modulasi
sinyal atau sebagai fungsi lainnya. Transistor dapat
berfungsi semacam kran listrik, dimana berdasarkan arus
inputnya (BJT) atau tegangan inputnya (FET),
memungkinkan pengaliran listrik yang sangat akurat dari
sirkuit sumber listriknya
Prinsip dasar dari kerja transistor adalah tidak akan
ada arus antara colektor dan emitor apabila pada basis
tidak diberi tegangan muka atau bias. Bias pada basis ini
biasanya diikuti dengan sinyal-sinyal atau pulsa listrik
yang nantinya hendak dikuatkan, sehingga pada kolektor,
sinyal yang di inputkan pada kaki basis telah dikuatkan.
Kedua jenis transistor baik NPN ataupun PNP memiliki
prinsip kerja yang sama.

Gambar 2.7 LCD Karakter 2x16


III PEMBAHASAN
3.1 Diskripsi Kerja
III. PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Dalam pembuatan tugas akhir semester
RANCANG
BANGUN
PENUNJUK
JALUR
EVAKUASI GEDUNG BERTINGKAT DENGAN
INDIKATOR LED BERBASIS MIKROKONTROLLER
ATMEGA 8535 ini dapat diambil kesimpulan :
a) Pengontrolan pada sistem ini menggunakan
mikrokontroller ATMega 8535.
b) Output keluaran yang dihasilkan oleh innput sensor
sesuai yang diharapkan, yaitu :
1. Jika lampu indikator LED berwarna merah
yang berarti lokasi parkir kosong itu karena
sensor limit switch bagian actuactornya
tidak tertekan oleh roda mobil
2. Jika lampu indikator LED berwarna hijau
yang berarti lokasi parkir digunakan itu
karena sensor limit switch bagian
actuactornya tertekan oleh roda mobil.

Gambar 2.6 Transistor


2.7

LCD Karakter 2x16

LCD (Liquid Crystal Display) adalah modul


penampil yang banyak digunakan karena tampilannya
menarik. LCD yang paling digunakan saat ini adlah tipe
M1632. LCD M1632 me rupakan modul LCD dengan
konsumsi daya rendah. Modul tersebut dilengkapi dengan
mikrokontroler yang didesain khusus untuk mengendalikan
LCD.
Untuk rangkaian interfacing, LCD tidak banyak
memerlukan komponen pendukung. Hanya diperlukan satu
variable resistor untuk memberi tegangan kontras pada ma
triks LCD.
Dengan
menggunakan
CodeVision
AVR,
pemrograman untuk menampilkan karakter atau string ke
LCD sangat mudah karena didukung library yang telah
disediakan oleh CodeVision AVR itu sendiri. Kita tidak harus
memahami karakteristik LCD secara mendalam, perintah tulis
dan inisialisasi sudah disediakan oleh library dari CodeVision
AVR.

4.2 Saran
Berdarakan penglaman selama pembuatan aplikasi
yang telah dilakukan, berikut adalah beberapa saran yang
terpenting untuk diperhatikan :
1. Membuat perencanan waktu sebelum membuat alat
ini.
Daftar Pustaka
Winoto,
A.,
(2008),
Mikrokontroler
AVR
ATmega8/32/16/8535 dan Pemrogramannya dengan
Bahasa C pada WinAVR, Bandung: Informatika

Budiharto, W., (2004), Interfacing Komputer dan


Mikrokontroler,
Jakarta:
PT
Elex
Media
Komputindo.
Artanto (2009), Mikrokontroler adalah sebuah alat pengendali
(kontroler) berukuran mikro. Jakarta: Artanto.
Iswanto, (2008), Design dan Implementasi Sistem Embedded
Mikrokontroler ATMega8535 dengan Bahasa Basic,
Bandung: Informatika.
Marry,
(2010),
Jenis-Jenis
Mikrokontroler,
http://m4rry.blogspot.com.
Next System., (2011), Pelatihan Mikrokontroler dan Robotik,
http://edukasi.nextsys.web.id.
Prasimax Mikron., (2001), Kontrol Peralatan Listrik dgn
Mikrokontroler http://www.mikron123.com.