Anda di halaman 1dari 27

Analisis Fisik Pakan Ikan

1. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Pakan buatan adalah pakan yang dibuat dan disesuaikan dengan jenis ikan baik itu ukuran,
kebutuhan protein dan kebiasaan ikan. Pakan buatan ini biasanya dinamakan pellet. Pelet untuk ikan
terbagi kedalam 2 jenis yaitu: Pelet terapung dan pelet tenggelam. Pakan alami adalah pakan yang
biasa sudah tersedia di alam seperti daun sente, daun talas, daun ubi jalar, plankton dan lainlain.
Untuk pemberian pakan pada ikan, besaran pakan harus disesuaikan dengan besaran mulut ikan
begitu pula dengan kadar protein yang dibutuhkan harus disesuaikan dengan jenis ikan yang di
budidaya (Deny, 2009).
Menurut Anggraeni (2010), pakan alami adalah pakan ikan yang keberadaannya tersedia di alam.
Terbatasnya ketersediaan pakan alami dipengaruhi dan sangat tergantung pada faktor-faktor alam
seperti suhu, intensitas cahaya, serta kandungan bahan organik yang terkandung dilokasi perairan.
Secara prinsip pakan alami dibedakan menjadi 2, yaitu: pakan alami nabati, contohnya: plankton
nabati, tumbuhan air dan sayuran segar; dan pakan alami hewani, contohnya: plankton hewani,
seperti rotifera, daphnia, dan lain-lain adalah jenis protozoa, golongan invertebrata mikroskopis,
golongan invertebrata besar yakni cacing, golongan crustacea, siput, kerang serta serangga
serangga kecil. Pakan buatan terdiri dari beberapa macam campuran bahan makanan yang berasal
dari protein hewani maupun nabati dan pada umumnya dilengkapi dengan vitamin dan mineral.
Sumber protein hewani antara lain tepung ikan, telur ayam, tepung tulang dan ikan rucah, sedangkan
sumber protein nabati bisa diperoleh dari limbah industri pertanian, seperti bungkil, kacang tanah,
ampas tahu, kedelai, kacang hijau, shorghum dan ubi kayu. Pakan buatan bersifat mengapung di air
karena mengandung bahan perekat yang berasal olahan tepung kanji menjadi cairan kental seperti
lem yang memiliki daya serap air cukup tinggi tetapi minim air. Semakin rendah mutu perekat yang
digunakan akan semakin mudah hancur dan tenggelam di dasar kolam, maka pakan ini memmiliki
mutu rendah. Berdasarkan bahan bakunya tergolong menjadi dua, yaitu: Pakan Basah dan Pakan
Kering.
1.2. Maksud dan Tujuan
Maksud dari Praktikum Nutrisi tentang analisis fisik adalah agar kita dapat mengetahui ciri-ciri
pakan yang baik untuk ikan serta mengetahui berapa lama waktu daya apung pakan ikan baik itu
pakan tenggelam maupun terapung.
Tujuan dari Praktikum Nutrisi Ikan adalah untuk mengetahui kualitas dari suatu sampel pakan. Hal
yang perlu diketahui adalah seberapa lama sampel pakan dapat terapung, menyerap air dan seberapa
besar stabilitas pakan tersebut.
1.3. Waktu dan Tempat
Praktikum Nutrisi Ikan pada di lakukan pada tanggal 03 s/d 06 Oktober 2011 di laboratorium THP
(Teknologi Hasil Perikanan) Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya, Malang.
2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Floating Ability
2.1.1. Pengertian
Daya apung pakan buatan dapat di ukur dengan menjatuhkan atau menebarkan pakan tersebut
kedalam bejana kaca yang telah di isi air hingga kedalaman 1525 cm. Waktu yang di perlukan oleh
pakan sejenak ditebarkan hingga tenggelam di dasar bejana merupakan gambaran mengenai daya
apung pakan buatan tersebut ( Afrianto, 2005).
Lemak merupakan senyawa organik yang mengandung unsure karbon (C), , hydrogen (H) dan
oksigen (O) sebagai unsure utama. Beberapa di antaranya ada yang mengandung nitrogen (N) dan

fosfor (P) . Lemak berguna sebagai sumber energy dalam beraktivitas dan membantu penyerapan
mineral tertentu. Lemak juga berperan dalam menjaga keseimbangan dan daya apung pakan dalam
air (Mahyuddin, 2008).
Menurut Haetami (2005), faktor lain yang mempengaruhi pertumbuhan ikan adalah karakteristik
pakan di dalam air. Semakin banyaknya penggunaan azola menyebabkan lebih tingginya daya
apung makanan karena komonen serat kasarnya. Ikan bawal air tawar adalah ikan yang bersifat
demersal (melayang) dalam merespon pakan. Dari hasil pengamatan pada kondisi wadah percobaan,
pakan dengan tingkat azola sebesar 58% cenderung lebih lambat direspon oleh ikan.
2.1.2. Faktor yang Mempengaruhi
Faktor yang mempengaruhi pelet ikan bisa mengambang atau terapung yaitu dari bahan atau dari
mesinnya yang hebat dan canggih. Pelet bisa terapung karena ada pori pori dalam pelet yang terjadi
karena gesekan dari bahan yang dibawa oleh ekstruder dengan dinding tabung dan dipadatkan
diujung ekstruder dengan tekanan tinggi hingga menimbulkan panas yang cukup untuk membuat
pelet matang,kemudian masuk kedalam lubang yang dinamakan dies setelah keluar dari lubang dies
tersebut dipotong oleh pisau pemotong. Karena perbedaan suhu d idalam dan suhu ruang maka pelet
tersebut dapat membuat pori-pori pelet. Intinya dari proses ini adalah thermo mechanical cooking
(teknik memasak dengan mekanik). Steam boiler dihilangkan tetapi memasak dengan kekuatan
mekanik mesin sehingga menggunakan energi yang cukup besar (Alip, 2010).
Hasil penelitian tahun 1981 oleh Sri Hatimah di Kolam Depok menyimpulkan ada perbedaan
penambahan bobot antara pelet apung dengan pelet kelem (tenggelam). Pelet apung sudah ditambah
zat additive agar bisa berbobot lebih ringan dan mengambang di air. Sedangkan pelet kelem lebih
menekankan kandungan gizi pakan sehingga untuk pendederan gurami pelet kelem lebih disukai
(Kicau, 2008).
Uji daya tahan dalam air dilakukan dengan merendam pellet dalam air dan dihitung berapa lama
pellet tersebut tahan dalam air sampai hancur. Semakin lama pellet tersebut hancur, semakin baik
dan berkualitas pellet tersebut. Selain dari faktor kekerasan pellet, daya tahan pellet dalam air dapat
disiasati dengan beberapa cara, antara lain yaitu dengan mempergunakan perekat, lama pengeringan
yang optimal dan merata dan memperbesar ukuran pellet seoptimal mungkin. Pellet umumnya
dibuat dari campuran beberapa macam bahan pakan dan umumnya kemudian ditambahkan perekat
baik alami maupun kimiawi. Salah satu bahan perekat yang murah dan mudah didapat adalah kanji
yang berasal dari tepung tapioka. Lama pengeringan juga menentukan keras tidaknya pellet.
Semakin lama dilakukan pengeringan akan semakin keras pellet tersebut, problemnya adalah akan
mengurangi kandungan nutrisi pellet. Demikian juga pengeringan dengan suhu yang semakin tinggi
akan menyebabkan pellet akan cepat menjadi keras (Handajani dan Wahyu, 2010).
2.2. Water Stability
2.2.1. Pengertian
Menurut Fishblog (2008), water stability feed yaitu stabilitas pakan dalam air yang merupakan
faktor penting dalam menentukan efisiensi pakan. Pakan yang tahan dalam air yang hanya
mengalami sedikit perubahan kualitas dan kuantitas adalah pakan yang mempunyai persyaratan fisik
yang cukup baik. Untuk mencapai keadaan ini dianjurkan agar pakan udang secara fisik masih tetap
utuh kira-kira selama tiga jam berada dalam air.
Cara untuk mengetahuinya adalah sebagai berikut :
1. Sebelum pakan direndam dalam air terlebih dahulu dilakukan analisis kimia.
2. Perendaman dilakukan di dalam wadah dengan volume dan kedalaman minimal 0,5 m3 dan 0,6 m.
3. Air digerakkan dengan aerator yang kuat, sehingga menimbulkan gelombang dan amplitude
minimal 5 cm.
4. Pakan diletakkan di dasar wadah yang mempunyai dasar merata.
5. Setelah direndam 3 - 6 jam, kembali dilakukan analisis kimia.

Pada dasarnya semakin halus bahan baku yang digunakan untuk menyusun pakan, bentuk
fisiknya akan semakin baik pula, karena akan tercampur lebih baik sehingga menghasilkan produk
yang lebih kompak dan stabil di dalam air, sehingga relatif lebih mudah dicerna.
Menurut Aslamyah dan Yushinta (2009), pengujian fisik yang dilakukan pada pakan uji adalah
pengamatan water stability meliputi kecepatan pecah dan dispersi padatan, tingkat kekerasan, serta
kecepatan tenggelam. Water Stability atau stabilitas pakan dalam air adalah tingkat ketahanan pakan
di dalam air atau berapa lama waktu yang dibutuhkan hingga pakan lembek dan hancur, meliputi uji
kecepatan pecah dan dispersi padatan. Uji kecepatan pecah mengukur berapa lama waktu sampai
pakan hancur di dalam air, uji pecah diamati secara visual. pada suhu 105 0C selama 10 jam.
Selanjutnya didinginkan dalam deksikator, lalu timbang sampai berat konstan. water stability atau
stabilitas pakan dalam air menjadi pertimbangan utama dalam formulasi pakan kepiting, Pakan
buatan dengan water stability yang rendah, menyebabkan pakan mudah hancur dan terdespersi
sehingga tidak dapat terpegang oleh kepiting. Secara umum pakan uji sudah mempunyai tingkat
stabilitas dalam air ( yang sangat baik, yaitu di atas 5 jam. Menurut Balazs, et al. (1973) secara
umum, stabilitas pakan dalam air berkisar dari 35 jam. Stabilitas pakan dalam air menggambarkan
kekompakan pakan buatan, semakin lama waktu yang akan dibutuhkan untuk menghancurkan
pakan, berarti semakin tinggi kekompakan pakan buatan tersebut.
Daya larut pakan dalam air (water stability feed) dapat diukur dengan cara merendam pakan dalam
air di dalam gelas. Letakkan pengukur waktu di dekat gelas itu. Cata waktu sampai semuanya
melarut.yang baik daya larutnya antara 2-3 jam. Apabila lebih dari batas tersebut, berarti pakan sulit
dicerna. Sedangkan bila kurang, bisa jadi pakan tersebut tidak ditemukan (tidak dimakan) udang
karena terlalu cepat melarut (Kordi, 2010).
2.2.2. Faktor yang Mempengaruhi
Menurut Murdinah (1989), beberapa faktor yang mempengaruhi stabilitas pakan dalam air, seperti
kehalusan bahan baku pakan dan proses pencampuran bahan dalam proses pembuatan pakan.
Semakin halus bahan pakan, semakin baik pula pakan yang dihasilkan. Bahan pakan akan tercampur
merata sehingga menghasilkan produk yang lebih kompak dan stabil di dalam air.
Dominy dan Lim (1991), menyatakan disamping proses pembuatan, bahan perekat yang tepat juga
sangat menentukan stabilitas pakan dalam air dan sifat-sifat fisik pellet yang lain.
Daya larut pakan dalam air (water stability feed) dapat di ukur dengan cara merendam pakan dalam
air di dalam gelas. Letakan pengukur wktu didekat gelas itu. Catat waktu samlpai semuanya melarut.
Pakan yang baik daya larutnya antara 23 jam. Apabila lebih dari batas tersebut, berarti pakan sulit
dicerna. Sedangkan bila kurang, bisa jadi pakan tersebut tidak ditemukan (tidak dimakan) udang
karena terlalu cepat melarut (Kordi,2010).
2.3. Water Absorption
2.3.1. Pengertian
Adsorpsi (penyerapan) adalah suatu proses pemisahan dimana komponen dari suatu fase fluida
berpindah ke permukaan zat padat yang menyerap (adsorben). Biasanya partikel-partikel kecil zat
penyerap dilepaskan pada adsorpsi kimia yang merupakan ikatan kuat antara penyerap dan zat yang
diserap sehingga tidak mungkin terjadi proses yang bolak-balik (Tinsley,1979). Dalam adsorpsi
digunakan istilah adsorbat dan adsorban,dimana adsorbat adalah substansi yang terjerap atau
substansi yang akan dipisahkan dari pelarutnya,sedangkan adsorban adalah merupakan suatu media
penyerap yang dalam hal ini berupa senyawa karbon (Webar,1972 dalam Tabin, 2010).
Water absorption adalah penggunaan determine rata-rata penyerapan dibawah keadaan spesifik.
Water absorption ditunjukkan sebagai faktor terhadap persentase berat. Persen water absorption
(berat basah-berat kering)/berat kering) * 100 %. Dimana perlu penambahan pada berat bahan
setelah dikurangi dengan air yang terdapat dibawah keadaan yang spesifik. Water absorption dapat
mempengaruhi perlengkapan mekanik dan elektrik.

Pakan buatan yang baik tidak mengalami proses pencucian secara besar-besaran selama berada
didalam air. Dengan demikian, semua komponen yang terkandung didalamnya dapat diserap oleh
tubuh ikan. Oleh karna itu, pakan buatan sebaiknya mempunyai karakteristik yang kompak dan
kering sehingga ketika dimasukkan ke dalam air pakan menjadi lunak, tetapi tetap hancur.
Sebaiknya, keutuhan bentuk pakan buatan di dalam air minimum mampu dipertahankan selama 3
jam. Analisis fisik ditujukan untuk mengetahui presentasi nutrien dalam pakan berdasarkan sifat
kimianya, diantaranya serat dan ekstrak bebas nitrogen. Analisa fisik banyak digunakan untuk
mengetahui kualitas pakan buatan karena prosedurnya mudah dan relatif murah. Pakan buatan yang
baik umumnya mempunyai kandungan air berkisar antara 1012%, protein 2540%, karbihidrat 10
12%, lemak 8% dan serat kasar 58% (Afrianto dan Evy liviawaty, 2005).
2.3.2. Faktor yang Mempengaruhi
Menurut Dlouhy (1982) dalam Bintari et.al. (2009), proses penyerapan dalam adsorpsi dipengaruhi
oleh :
1. Bahan penjerap
Bahan yang digunakan untuk menjerap mempunyai kemampuan berbeda-beda, tergantung dari
bahan asal dan juga metode aktivasi yang digunakan.
2. Ukuran butir
Semakin kecil ukuran butir, maka semakin besar permukaan sehingga dapat menjerap
kontaminan makin banyak. Secara umum kecepatan adsorpsi ditujukan oleh kecepatan difusi zat
terlarut ke dalam poripori partikel adsorben. Ukuran partikel yang baik untuk proses penjerapan
antara 100 / +200 mesh.
3. Derajad keasaman (pH larutan)
Pada pH rendah, ion H+ akan berkompetisi dengan kontaminan yang akan dijerap, sehingga
efisiensi penjerapan turun. Proses penjerapan akan berjalan baik bila pH larutan tinggi. Derajat
keasaman mempengaruhi adsorpsi karena pH menentukan tingkat ionisasi larutan, pH yang baik
berkisar antara 8 9. Senyawa asam organik dapat diadsorpsi pada pH rendah dan sebaliknya
basa organik dapat diadsorpsi pada pH tinggi.
Menurut Murtidjo (2001), proses pembentukan pellet memanfaatkan proses gelatimasi pati melalui
proses pengepresannya membentuk butiran makanan dalam ukuran tertentu (mm). Banyak faktor
yang dapat mempengaruhi kemampuan durabilitas dalam air, antara lain sebagai berikut.
1. Formula makanan, ukuran patikel setiap bahan makanan dan kandungan serat kasar yang terlalu
tinggi menimbulkan masalah pembentukan pellet, demikian juga, jika terlalu banyak lemak (di
atas 2%).
2. Ukuran lubang pellet yang digunakan
3. Kombinasi indicator pembentukan pellet, yakni temperatur, kelembaban dan kecepatan feeder
screw untuk optimasi proses gelatinasi.
Pengujian daya tahan di dalam air dilakukan dengan jalan merendamnya di dalam air dingin. Waktu
yang diperlukan sampai saat pellet yang bersangkutan itu ambyar (hancur) merupakan ukuran daya
tahannya. Semakin lama waktu yang dibutuhkan maka semakin baiklah mutunya. Pellet untuk ikan
setidaknya harus mempunyai daya tahan selama 10 menit. Untuk pellet udang, daya tahannya
seharusnya selama sekitar 24 jam (Mudjiman, 2004).
3. METODOLOGI
3.1. Alat dan Fungsi
3.1.1. Floating Ability
Dalam praktikum Nutrisi Ikan tentang Analisis Fisik dari Pakan pada pengujian Floating Stability
dari pakan, alatalat yang digunakan adalah:
Beaker glass 500 ml : sebagai wadah air.
Aerator 8 Volt : sebagai penghasil oksigen.

Stopwatch : untuk menghitung waktu.


Selang aerator : untuk mengalirkan oksigen.
3.1.2. Water Stability
Dalam praktikum Nutrisi Ikan tentang Analisis Fisik dari Pakan pada pengujian Water Stability dari
pakan, alatalat yang digunakan adalah:
Beaker glass 500 ml : untuk wadah sampel.
Oven : untuk mengeringkan seluruh bahan.
Stopwatch : untuk mencatat waktu perlakuan.
Aerator : untuk menggerakkan air saat perlakuan.
Timbangan digital mattler : untuk mengetahui berat sampel (ketelitian 0,01
gram).
Sendok teh : untuk memindahkan sampel.
Saringan : untuk menyaring sampel.
Pinset : untuk memindahkan sampel.
3.1.3. Water Absorbtion
Dalam praktikum Nutrisi Ikan tentang Analisis Fisik dari Pakan pada pengujian Water Absorbtion
dari pakan, alatalat yang digunakan adalah:
Beaker glass 500 ml : digunakan sebagai wadah media dalam
pengamatan.
Oven : digunakan untuk memanaskan bahan untuk mengurangi
kadar air dari pakan.
Timbangan digital mattler : untuk mengetahui berat sampel (ketelitian 0,01
gram).
3.2. Bahan dan Fungsi
3.2.1. Floating Ability
Dalam praktikum Nutrisi Ikan tentang Analisis Fisik dari Pakan pada pengujian Floating Stability
dari pakan, bahanbahan yang digunakan adalah:
Pellet tenggelam : sebagai bahan sampel yang akan diamati serta
digunakan sebagai pembanding.
Pellet terapung : sebagai bahan sampel yang akan diamati serta
digunakan sebagai pembanding.
Air : sebagai media penguji.
3.2.2. Water Stability
Dalam praktikum Nutrisi Ikan tentang Analisis Fisik dari Pakan pada pengujian Water Stability dari
pakan, bahanbahan yang digunakan adalah:
Pakan pellet : untuk sampel pengujian.
Aquadest : untuk media rendaman dan untuk membersihkan alat.
Kertas saring : untuk mengurangi kadar air pada sampel.
Air : untuk membilas alat dan sisa sampel.
Aluminium foil : untuk membungkus sampel.
3.2.3. Water Absorbtion
Dalam praktikum Nutrisi Ikan tentang Analisis Fisik dari Pakan pada pengujian Water Absorbtion
dari pakan, bahanbahan yang digunakan adalah:
Pelet :digunakan sebagai bahan yang diamati daya serap airnya.
Aquades :digunakan sebagai bahan perlakuan untuk daya penyerapan air oleh pellet.
Kertas Saring :digunakan untuk menyaring bahan yang digunakan untuk mengurangi kadar air.
Saringan :digunakan untuk memisahkan bahan dari aquades.
Aluminium foil :digunakan untuk pembungkus bahan saat pengovenan untuk merataka n
temperatur dan mencegah terbakarnya bahan.
3.3. Skema Kerja

3.3.1.
Hasil
Beaker Glass 500 ml
Floating Ability
diisi air
dimasukkan aerator dengan tegangan 8 volt
dimasukkan 2 gram pellet tenggelam
diukur waktu dengan stopwatch sejak pertama kali menyentuh air
dihentikan waktu stopwatch ketika semua pellet menyentuh dasar beaker glass
dihitung total waktu yang diperlukan pellet untuk mencapai dasar beaker glass
ditentukan kategori daya apung pellet
kategori daya apung pellet:
Sangat baik, jika daya apung 10 menit
Baik,pada daya apung berkisar antara 5 10 menit
Sedang, pada daya apung berkisar antara 1 5 menit
Tidak baik, jika daya apung < 1 menit
3.3.2.
Pakan Pellet
Hasil
Water Stability
ditimbang sample + 5 gram
dimasukkan sample ke dalam beaker glass 200 ml yang telah berisi air dan dicatat waktu saat
perendaman
diberikan gerakan pada air melalui aerator 8 volt selama 1 menit
diangkat dan sampel disaring dengan saringan 0,5 mm
dibilas beaker glass dengan aquadest
ditimbang kertas saring dan diletakkan menutupi corong Burcher funnel
dipindahkan sampel pellet dari saringan 0,5 mm ke dalam kertas saring dengan menggunakan
sendok teh
dibilas dengan air sisa sampel yang ada dalam saringan
dipindahkan kertas saring yang telah berisi sampel ke dalam aluminium foil yang sudah ditimbang

dikeringkan seluruh bahan dalam oven pada suhu 100oC, selama 4 jam
dikeringkan 5 gr sampel pakan yang tidak direndam dalam oven seperti proses diatas
ditimbang seluruh bahan (kertas saring + aluminium foil + sampel) setelah didinginkan
dihitung nilai water stability menggunakan rumus
Water stability =
3.3.3. Water Absorption
Pakan Pellet
Hasil

ditimbang sampel + 5 gram


dimasukkan sampel ke dalam beaker glass 600 ml yang telah berisi air selama : (10 detik, 1 menit, 3
menit dan 10 menit)
dituangkan sampel ke dalam saringan ukuran 0,5 mm
dipindahkan sampel ke dalam kertas saring untuk menghilangkan kadar air
dipindahkan sampel yang berada pada kertas saring ke dalam aluminium foil yang sebelumnya
sudah diketahui beratnya
ditimbang aluminium foil dan isinya
dimasukkan ke dalam oven pada suhu 1000C selama 4 jam beserta sampel pakan pellet yang tidak
direndam
ditimbang sampel bersama aluminium foil setelah di oven
dihitung nilai water absorbtion dengan rumus
perbandingan antara pakan pellet yang direndam dengan yang tidak direndam
3.4. Analisa Prosedur
3.4.1. Floating Ability
Berdasarkan praktikum Nutrisi Ikan tentang materi Analisis Fisik dari Pakan, sebelumnya disiapkan
alat dan bahan. Adapun alat yang digunakan dalam praktikum analisis fisik yaitu 500 ml beaker
glass, aerator dan stopwatch. Sedangkan bahan yang digunakan yaitu pakan pelet, air kran dan
aquades.

Setelah disiapkan alat dan bahan, pakan pelet ditimbang sebagai sampel yaitu dengan berat 2 gr.
Kemudian beaker glass 500 ml yang berfungsi sebagai wadah air dan pakan pelet, diisi air kran dan
dimasukkan aerator ke dalam beaker glass yang berfungsi untuk memberikan aerasi pakan dalam
menentukan berapa lamanya daya apung pakan. Selanjutnya pakan pelet tersebut dimasukkan ke
dalam beaker glass yang sudah terisi larutan air dan dinyalakan stopwatch yang berfungsi untuk
mengukur waktu daya apung pakan pelet. Setelah butiran pakan pelet sudah mencapai dasar beaker
glass stopwatch dihentikan, lalu dicatat lamanya daya apung pakan pelet tersebut dan penentuan
daya apung dapat dibedakan dengan katagori sebagai berikut:
a. Sangat baik jika daya apung 10 menit
b. Baik pada daya apung 510 menit
c. Sedang, pada daya apung 15 menit
d. Tidak baik, pada daya apung < 1 menit
Dari katagori penentuan daya apung tersebut, data pengamatan dapat dicatat dan ditentukan baik
atau tidak baiknya pakan pelet.
3.4.2. Water Stability
Langkah pertama yang di lakukan pada pengujian water stability adalah menyiapkan alat dan bahan.
Alatalat yang di gunakan antara lain beaker glass untuk tempat larutan sementara, corong untuk
membantu memasukkan larutan atau sampel, timbangan untuk menimbang sampel kertas saring dan
alumunium foil, stopwatch untuk menghitung lama waktu, aerator untuk pemberi gerakan pada air,
kertas saring untuk menyaring sampel, sendok teh untuk memindahkan sampel, pinset untuk
memindahkan sampel, alumunium foil untuk membungkus sampel, oven untuk memanaskan bahan.
Sedangkan alat yang di gunakan adalah sampel pakan pellet sebagai bahan yang di amati, aquadest
sebagai pelarut.
Setelah alat dan bahan di siapkan, di timbang bahan + 5 gram sampel pakan pellet yang di hasilkan
dengan menggunakan timbangan digital dengan ketelitian 0,01 gram, setelah itu sampel di
masukkan ke dalam beaker glass yang sudah diisi 200 ml aquadest, dan di catat waktu saat
perendaman, setelah 3 menit, air di berikan gerakan melalui aerator (8 volt) selama 1 menit. setelah
1 menit, aerator segera di angkat dan sampel di saring dengan saringan 0,5 mm, setelah selesai
beaker glass di bilas dengan aquadest (gunakan air seefisien mungkin). Lalu berat kertas saring
ditimbang, dan diletakkan menutupi corong burcher funnel. Lalu sampel pellet dipindahkan dari
saringan 0,5 mm ke dalam kertas saring, dengan menggunakan sendok teh. Sisa sampel yang ada
dalam saringan dibilas dengan air. Kertas saring yang berisi sampel dipindahkan (dengan
menggunakan pinset) ke dalam alumunium foil yang sudah di timbang sebelumnya. Setelah itu
seluruh bahan di keringkan dalam oven pada suhu 100 C selama 4 jam. Sedangkan 5 gram pakan
yang lain (tidak direndam) juga dikeringkan dalam oven pada suhu 100 C. setelah didinginkan
seluruh bahan ditimbang (kertas saring + alumunium foil + sampel), lalu dicatat hasilnya.
3.4.3. Water Absoption
Dalam praktikum Nutrisi Ikan tentang Analisis Fisik dari pakan dengan pengujian Water Absorption,
hal pertama yang dilakukan adalah disiapkan alat dan bahan. Alat-alat yang digunakan adalah
timbangan (ketelitian 10-4 gram), beaker glass 500 ml, saringan 0,5 mm, dan oven. Sedangkan
bahan-bahan yang digunakan adalah pellet, aquadest, kertas saring, dan aluminium foil.
Setelah disiapkan alat dan bahan, langkah selanjutnya adalah ditimbang + 5 gram sample pakan
pellet dengan timbangan (ketelitian 10-4 gram gram). Kemudian sampel dimasukkan ke dalam
beaker glass 600 ml yang telah berisi aquadest selama (10 detik, 1, 3 dan 10 menit). Lalu sampel
dituangkan ke dalam saringan ukuran 0,5 mm dan untuk menghilangkan air, sampel dipindahkan ke
dalam kertas saring. Setelah itu sampel yang berada pada kertas saring dipindahkan ke dalam
aluminium foil yang sebelumnya sudah diketahui beratnya. Kemudian dilakukan penimbangan
aluminum foil dan isinya, lalu dimasukkan ke dalam oven pada suhu 100 oC selama 4 jam.
Bersamaan dengan itu dimasukkan pula sampel pakan pellet yang tidak direndam. Setelah dioven
sampel bersama aluminium foil ditimbang. Kemudian dihitung water absorption berdasarkan

perbandingan antara pakan pellet yang direndam dengan yang tidak direndam. Lalu dibuat grafik
hubungan antara absorbsi air dengan waktu perendaman. Dan dicatat hasilnya.
3.5. Analisa Hasil
3.5.1. Floating Ability
Berdasarkan praktikum Nutrisi Ikan tentang materi Analisis Fisik dari Pakan, terdapat data hasil
pengamatan Floating Ability yang dimana bertujuan bertujuan untuk menentuan daya apung pakan
pelet. Data hasil pengamatan floating ability untuk kelompok 4 dengan menggunakan pakan pelet
berwarna coklat daya apungnya tidak baik yaitu 10.47 detik yang artinya daya apungnya < 1 menit.
Hal ini menyebabkan pakan tersebut tidak baik dikonsumsi ikan karena dapat menyebabkan sisa
pakan menumpuk di dasar.
Menurut Afrianto dan Evi (2005), Daya apung pakan buatan di air merupakan parameter lain yang
dapat digunakan untuk menentukan kualitas pakan. Pakan terapung cocok untuk ikan yang
mempunyai kebiasaan mencari pakan di permukaan perairan, sedangkan pakan yang tenggelam
lebih tepat untuk ikan yang biasa hidup di dasar perairan, seperti lele dan udang. Daya apung pakan
buatan dapat diukur dengan menjatuhkan atau menebarkan pakan tersebut ke dalam bejana kaca
yang telah diisi air hingga kedalaman 1525 cm. Waktu yang diperlukan oleh pakan sejak ditebarkan
hingga tenggelam di dasar bejana merupakan gambaran mengenai daya apung pakan buatan
tersebut.
3.5.2. Water Stability
Pada praktikum Nutrisi Ikan dilakukan pengujian water stability yaitu penentuan berat kering pakan
setelah di rendam dalam air selama beberapa waktu tertentukan. Terdapat 5 gr sample pakan pellet
yang dimasukkan dalam 200 ml aquadest dan didapat waktu perendaman setelah di aerator selama 1
menit. Kemudian seluruh bahan dikeringkan dan di oven pada suhu 100 0 C, setelah itu didinginkan
dan seluruh bahan ditimbang dan kemudian didapat perbandingan antara berat kering pakan yang
direndam selama 3 menit dengan pakan yang tidak direndam.
Terdapat perbedaan antara pakan pelet kering dan pakan pelet basah pada water stability, yaitu
pakan pelet kering lebih baik dari pada pakan pelet basah dalam pengukuran water stability. Hal
tersebut sesuai dengan pernyataan menurut Kordi (2010), keunggulan dari pelet terapung adalah
mempunyai water stability yang tinggi (tidak mudah hancur) dan memungkinkan pelet dapat
bertahan lebih lama di dalam air sehingga ketika termakan tidak ada kandungan nutrisi yang hilang
karena hancurnya pelet. Sebaliknya, pelet tenggelam memiliki water stability yang lebih rendah
sehingga ketika dimasukkan ke dalam air, pelet akan mudah hancur. Hancurnya pelet akan
menghilangkan sebagian nutrisi yang dikandungnya. Konsekuensinya, ikan yang memakan pelet
tersebut tidak mendapatkan nutrisi yang lengkap.
3.5.3. Water Absorption
Pada praktikum Nutrisi Ikan, tentang materi pengujian water absorption didapatkan hasil sebagai
berikut. Pengujian pakan dibagi menjadi 2 bahan uji yang berbeda, pada praktikum ini, bahan uji
yang digunakan adalah pelet. Pada bahan uji pertama berbentuk pelet tipe terapung, sedangkan
bahan uji yang lain adalah pelet tipe tenggelam. Selain itu metode pengujian water absorption dititk
beratkan pada perbedaan pakan pelet yang direndam dan pakan pelet yang tidak direndam.
Perbedaan perlakuan antara kelompok yang menggunakan pelet terapung dan pelet tenggelam ini
dimaksudkan, agar kita mengetahui perbedaan water absorption antar pelet tenggelam dan pelet
terapung. Pada usaha budidaya, pemberian pakan pelet ini, berdasarkan atas jenis ikan yang
dipelihara.

Pada jenis ikan yang cenderung berada didasar, biasanya pelet yang digunakan adalah pelet
tenggelam, sedangkan sebaliknya, pada ikan yang cenderung mencari pakan yang berada di
permukaan, pemberian pakan terapung tentu saja akan lebih efisien. Sehingga, pemberian pakan
pada organism budidaya ini disesuiakan dengan spesifikasinya masing masing. Menurut
(Shafrudin, 2003), sifat pakan buatan ada yang terapung atau tenggelam. Penggunaan pelet terapung
memudahkan kita memantau pakan yang diberikan apakah dimakan atau tidak. Hanya saja
pembuatannya lebih rumit, sehingga untuk kadar proten yang sama, harga pelet apung lebih mahal
dari pelet tenggelam. Sebagian besar petani menggunakan pelet tenggelam.
Sedangkan menurut Khairuman dan Amri (2008), pakan yang dibuat oleh pabrik dikenal dalam
bentuk pelet dengan ukuran yang bervariasi. Ada dua macam pelet yakni pelet terapung dan pelet
tenggelam. Pelet terapung adalah pelet yang jika diberikan kepada ikan, beberapa saat akan terapung
diatas kolam, sedangkan pelet tenggelam jika diberikan kepada ikan biasanya langsung tenggelam
atau melayang beberapa saat didalam air.
Pada pengujian water absorption dengan menggunakan pelet terapung didapatkan hasil setelah
dilakukan pengovenan dengan suhu 1000C dengan lama pemanasan 4 jam. Sedangkan perlakuan
untuk bahan pakan yang direndam dan tidak direndam tujuannya adalah untuk menegetahui
seberapa besar perbedaan kadar air yang dikandung, pada bahan pakan yang sebelumnya direndan
dan tidak direndam. Menurut Yulpiferius (2009), pengujian daya tahan stabilitas pelet dilakukan
dengan cara merendam contoh pelet yang akan diuji selama beberapa waktu di dalam air. Tingkat
daya tahan pelet dalam air (water stability) diukur sejak pelet direndam sampai pecah. Makin lama
waktu yang dibutuhkan untuk membuyarkan pelet dalam proses perendaman, berarti makin baik
mutunya. Pelet ikan yang baik mempunyai daya tahan dalam air minimal 10 menit. Sedangkan pelet
pakan udang harus mempunyai daya tahan lebih lama lagi, yaitu sekitar 3060 menit.
Uji fisik yang dilakukan pada pakan pelet menurut Handayani (2007), pada dry pellet, walaupun
telah mengalami proses pengeringan dengan oven hanya kandungan airnya yang berkurang
sedangkan kandungan airnya yang berkurang sedangkan kandungan nutrisi yang terlarut dalam air
tidak ikut hilang. Uji fisik yang dimaksud adalah uji daya apung, uji kehalusan dan uji kekerasan.
Hasil uji fisik menunjukkan dry pellet dapat mengapung di permukaan air selama kurang lebih 2
menit 40 detik sedangkan pada moist pellet hanya mengapung selama 15 detik, untuk uji kehalusan,
balk dry pellet maupun moist pellet memiliki tekstur partikel yang halus.
Pengujian secara fisik pada pakan
Cara ini digunakan untuk mendapatkan informasi bahan secara keseluruhan, dapat dilakukan dengan
2 cara yaitu:
Makroskopis
Meliputi : warna masih tetap (tidak berubah) , pecah atau utuh (untuk biji-bijian) , bebas bau tengik,
bebas benda asing, bebas jamur, bebas insekta, kadar air (basah/kering),
Mikroskopis
Menggunakan mikroskop , untuk mengetahui kemurnian bahan pakan; memerlukan tenaga terlatih
yang dapat mengidentifikasi dan menghitung berapa bahan yang tercampur beserta kontaminasinya,
misalnya benda asing, jamur, dll (Gunawan, 2010).,
4. Kesimpulan dan Saran
4.1 Kesimpulan

Dari hasil praktikum nutrisi ikan materi analisis fisik didapatkan kesimpulan sebagai berikut :
Daya apung pakan buatan dapat di ukur dengan menjatuhkan atau menebarkan pakan tersebut
kedalam bejana kaca yang telah di isi air hingga kedalaman 1525 cm. Waktu yang di perlukan
oleh pakan sejenak ditebarkan hingga tenggelam di dasar bejana merupakan gambaran mengenai
daya apung pakan buatan tersebut.
Pelet bisa terapung karena ada pori pori dalam pelet yang terjadi karena gesekan dari bahan yang
dibawa oleh ekstruder.
Water Stability atau Stabilitas Pakan dalam Air Stabilitas pakan dalam air adalah tingkat
ketahanan pakan di dalam air atau berapa lama waktu yang dibutuhkan hingga pakan lembek dan
hancur, meliputi uji kecepatan pecah dan dispersi padatan.
Adsorpsi (penyerapan) adalah suatu proses pemisahan dimana komponen dari suatu fase fluida
berpindah ke permukaan zat padat yang menyerap (adsorben).
Dari hasil praktikum didapatkan data praktikum bahwa :
Pengujian pellet apung oleh kelompok 1,3, dan 5 rata rata mendapatkan hasil sangat baik-baik
sekitar 5 - >10 menit lama daya apung.
Pengujian pellet tenggelam oleh kelompok 2,4, dan 6 ratarata mendapatkan hasil baik-tidak
baik sekitar 1-10 menit lama daya apungnya.
4.2 Saran
Diharapkan dengan adanya laporan praktikum ini, dapat membantu para pembaca untuk lebih
memahami mengenai daya apung masing masing jenis pellet berbeda beda tergantung dengan
jenisnya sehingga saat pemberian pakan pada ikan, dapat disesuaikan dengan jenis ikannya selain itu
agar para pembaca dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan bermasyarakat.
DAFTAR PUSTAKA
Afrianto , Eddy dan Evi Liviaty. 2005. Pakan Ikan. Kanisius. Yogyakarta
Alip. 2010. Mesin Pellet Ikan Terapung. http://mesinpeletikan.blogspot.com/. Diakses tanggal 12
Oktober 2011
Anggraeni, 2010. Pelet ikan.
http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=manfaat%2Bpakan%2Bikan%2Bfiletype
%3Apdf&source=web&cd=30&ved=0CF8QFjAJOBQ&url=http%3A%2F
%2Fkemahasiswaan.um.ac.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2010%2F04%2FPKMGT-10-UM-Happy-Inovasi-Pengolahan-Limbah-Tepung.pdf&ctbs=lr
%3Alang_1id&ei=uK2mTt6VGYHNrQflv9HtDQ&usg=AFQjCNEcTsBViS0_owwIBR
gsecQwVIKJNA&cad=rja. Diakses tanggal 12 Oktober 2011
Deny. 2009. Pelet Ikan.
http://www.dejeefish.com/index.php?
option=com_content&view=article&id=57&Itemid=64
Gunawan, Drh. Dajadi. 2010. Pedoman pembangunan pabrik pakan skala kecil dan proses
pengolahan
pakan.
http://www.ditjennak.go.id/regulasi%5CPedoman%20Pemb
%20Pabrik%20Pakan%20Skala%20Kecil.pdf. Diakses tanggal 27 Oktober 2011 pukul
12.00 WIB.
Handayani, Ika. Agustin. 2007. Kandungan Nutrisi Pada Pembuatan Pakan Bentuk Pelet Dry Dan
Moist Dibalai Budidaya Air Payau Situbondo Propinsi Jawa Timur.
http://adln.lib.unair.ac.id/files/disk1/272/gdlhub-gdl-s1-2010-handyaniik-13580-pklkhbk.pdf. Diakses tanggal 26 Oktober 2011, pukul 15.00 WIB.
Khairuman dan Amri, 2008. Kayambang (Salvinia molesta), Lele Sangkuriang (Clarias sp) usia
pembesaran,
dan
pakan
buatan.

http://repository.upi.edu/operator/upload/s_bio_056362_chapter2.pdf Diakses tanggal 25


Oktober 2011, pukul 17.00 WIB.
Kicau. 2008. Gurami Makannya Apa. http://omkicau.com/2008/10/14/gurami-makannya-apa/.
Diakses tanggal 12 Oktober 2011
Mudjiman, Ahmad.2004. Makanan Ikan. Jakarta:Penebar Swadana.
Shafrudin, Dadang. 2003. Pembesaran Ikan Karper di Karamba Jarring Apung (Pengelolaan
Pemberian Pakan). http://files.ictpamekasan.net/materi-kejuruan/pertanian/budi-dayaikan-air-tawar/pembesaran_ikan_karper_pengelolaan_pemberian_pakan.pdf.
Diakses
tanggal 25 Oktober 2011, pukul 17.00 WIB.
Tabin, 2010. http://Definisi-pengertian.blogspot.com/2009/12/definisi-adsoorbsi-danesorpi.html.
Diakses tanggal 26 Oktober 2011 pukul 14.00 WIB.
Yulpiferius. 2009. Evaluasi Kualitas Pakan. http://yulfiperius.files.wordpress.com/2011/07/9evaluasi-kualitas-pakan.pdf. Diakses tanggal 26 Oktober 2011, pukul 15.00 WIB.

Mesin-pelet.blog.spot :
Pengolahan Pelet Pakan Unggas/Ikan

Pakan dalam bentuk pelet biasanya mempunyai ukuran 1-2 cm. Bahan baku pellet harus
berupa tepung halus untuk memudahkan pencampuran adonan dan pencetakan pellet. Tepung yang
halus dapat menghasilkan pelet yang kompak dan padat sehingga tidak mudah pecah. Untuk pakan
ikan, pellet harus dapat melayang beberapa saat dalam air sebelum tenggelam ke dasar kolam untuk
memudahkan ikan memakannya. Bahan dasar pakan terdiri atas bahan hewani dan nabati yang
formulanya disusun berdasarkan kadar protein yang diinginkan, yaitu rata-rata 25%. Kadar protein
ini dapat diperoleh melalui berbagai komposisi campuran bahan dasar, di antaranya dedak halus
65%, tepung ikan 33%, dan tepung daging 2%. Ramuan ini dapat ditambah lagi dengan bahan lain
yang banyak mengandung protein seperti bungkil atau tepung kedelai dan tepung jagung. Bahan-

bahan dihancurkan hingga berbentuk tepung halus, kemudian diaduk menjadi satu dan dicetak
dalam bentuk pelet.
Untuk pengembangan usaha,
pembuatan pelet akan lebih efisien bila menggunakan alat dan mesin. Perangkat alsin yang dapat
digunakan adalah mesin penepung ikan, pencampur ( mixer), pemanas bahan ( steamer) khusus
untuk pelet pakan ikan, mesin pencetak pelet ( pelletiser), dan mesin pengering
Konstruksi Alsin Pembuat Pelet Pakan Unggas/Ikan
Alsin pembuat pelet pakan unggas/ikan terdiri atas beberapa komponen yang digerakkan oleh motor
bakar diesel.
Alat/Mesin Penepung
Alat penepung digunakan untuk menghancurkan bahan baku pakan yang berbentuk butiran dan serat
kasar, seperti jagung dan ikan rucah (kepala ikan). Penepung menggunakan jenis penghancur
hammer mill atau diskmill.
Alat/Mesin Pencampur (Mixer)
Alat pencampur digunakan untuk mencampur bahan baku yang telah berupa tepung sehingga
diperoleh campuran bahan pelet yang homogeny sesuai dengan formula yang diinginkan.
Alat/Mesin Pencetak Pelet
Alat pencetak pelet berbentuk silinder, terbuat dari bahan mild steel atau stainless steel. Pada bagian
dalamnya terdapat ulir pengepres bahan adonan pelet. Ulir pengepres ini mendorong bahan adonan
ke arah ujung silinder dan menekan plat berlubang sebagai pencetak pelet. Lubang plat berdiameter,
sesuai dengan ukuran pelet yang dikehendaki. Pelet yang keluar dari lubang cetakan akan dipotong
oleh pisau yang berputar di bagian luar silinder.
Alat/Mesin Pemanas Uap (Alat steamer)
Alat ini digunakan untuk membuat pelet pakan ikan yang dapat mengapung dengan memanfaatkan
panas uap air. Pemanasan dapat mengubah kandungan pati dalam bahan baku pakan menjadi
dekstrin yang mempunyai sifat perekat, sehingga permukaan pelet dapat dicetak dengan kompak,
namun bersifat mudah hancur ( crumble) karena bagian dalamnya berongga, sehingga setelah
dicetak dan dikeringkan dapat melayang/mengapung di air sekitar 5 menit. Pemanasan juga dapat
mematikan bakteri dan unsure yang membahayakan bagi ikan.
Mesin Pengering
Berfungsi mengeringkan pelet hasil cetakan, bertujuan mempertahankan struktur kompak dan padat
serta memperpanjang umur simpan pelet dengan menghambat pertumbuhan jamur dengan
mengurangi kadar airnya, sehingga dapat digunakan untuk jangka waktu yang lama
Sumber (http://pustaka.litbang.deptan.go.id/publikasi/wr253032.pdf)

Bagaimana Membuat Formula


pakan ikan

Formula pakan ikan didasarkan pada kandungan protein, lemak dan serat. Formula ikan dapat dibagi
menjadi dua bagian sesuai dengan kebutun ikan, pakan ikan untuk anak ikan atau benih akan
membutuhkan 50% protein, 8% lemak,. Sedangkan untuk ikan dewasa membutuhkan protein antara 2530% protein, lemak 7%.
Spesifikasi diet Penbesaran
Jenis
Ikan
Nila
Peliharaan
Pembesaran
Lemak
7%
Protein
26 %
Cara membuat pakan ikan sesuai dengan kebutuhan ikan dapat menggunakan formula campuran dari
bahan-bahan pembuatan pakan atau pellet ikan yang akan di jelaskan pada table formula ikan. Bahanbahan pakan ikan adalah tepung ikan, ampas tahu, dedak, bungkil kelapa, jagung, tepung darah, limbah
udang, minyak ikan. Bahan pakan ini banyak terdapat di setiap daerah. Jadi, untuk membuat pellet ikan
tidak sulit karena 90% bahan sudah tersedia.
Setiap jenis bahan-bahan pakan tersebut memiliki kandungan protein yang berbeda-beda. Oleh karena
itu perlu memperlajari / mengetahui berapa kandungan nutrisi bahan-bahan pakan sebelum membuat
pellet ikan.
Table formula pakan ikan
Kandungan Protein Bahan Makanan Ikan
Nama Bahan
Protein
Lemak
Serat
Tepung Teri
63.71
4.21
3.6
Tepung Udang
47.47
8.95
4.49
Tepung Darah
80.85
5.61
0
Tepung Bekicot
39
9.33
1.05
Tepung Ikan
62.99
6.01
3.6
Tepung Kedelai
46.8
5.31
3.54
Tepung Terigu
12.27
1.16
0
Dedak Halus
13.3
2.4
9.4
Tepung Jagung
9.8
3.22
1.76
Tepung Singkong
0.85
0.3
0
Bungkil Kacang Tanah
34.5
13.7
10.7

Bungkil Kelapa
24.0
8.0
10
Tepung Ayam Segar
15.51
0.21
0.36
Hal penting yang harus di perhatikan dalam membuat formula pakan ikan adalah ketersediaan bahanbahan untuk membuat pellet ikan tersebut harus ada secara terus menerus. Jangan menggunakan bahan
yang ketersediannya terbatas atau musiman. Formula ikan yang berubah-ubah akan dapat menurunkan
selera makan ikan dalam waktu sementara yang akan berakibat pada pertumbuhan ikan yang lambat.
Berikut Kita akan membuat makanan ikan nila dengan dua macam bahan pakan, untuk melihat
pengaruh dari setiap bahan dan berapa kandungan protein dari campuran dua atau lebih bahan pakan.
Tabel campuran pakan ikan berprotein rendah
Campuran
Bahan
Pakan
Jumlah
Kandungan
Protein
A

Tepung ikan
Dedak

10 %
5.50
90 %
11.97
Total 100 %
17.47
Tepung ikan
10 %
5.50
B
Jagung
90 %
8.55
Total 100 %
14.05
Tepung ikan
10 %
5.50
C
Dedak
45 %
5.9
Jagung
45 %
4.2
Total 100 %
15.6
Ketiga A,B,C campuran di atas masih terlalu rendah untuk mencapai spesifikasi diet yang kita harapkan
protein 26 %. Bahkan campuran tiga bahan pada campuran C tepung ikan, dedak, jagung tidak
mencukupi. Dan jika kita mencampur bahan pakan yang berprotein tinggi setelah tepung ikan, ampas
kacang tanah dan ampas tahu maka hasilnya-pun akan terlalu tinggi. Mari kita lihat:
Tabel campuran pakan ikan berprotein tinggi
Campuran
Bahan
Pakan
Jumlah
Kandungan
Protein
A

Tepung ikan
Exp.Kacang
tanah

10 %
90 %

5.50
31.05

Total 100 %
36.55
Tepung ikan
10 %
5.50
B
Ext. tahu
90 %
42.12
Total 100 %
47.62
Tepung ikan
10 %
5.50
C
Exp.kacang T.
45 %
15.5
Exp. tahu
45 %
21.6
Total 100 %
42.6
Seperti kita ketahui kedua table diatas; Tabel campuran pakan ikan berprotein rendah, Tabel campuran
pakan ikan berprotein tinggi. Tidak mencapai spesifikasi protein yang kita inginkan 26 %. Jika kedua
campuran ini, protein rendah dan protein tinggi di campurkan maka protein yang kita harapkan
kemungkinan akan tercapai. Ingat campuran bahan yang kita pakai hanya 90 % dari sepuluh persen
tepung ikan dengan protein 5.5 %. Jadi, 26% dikurangi 5.5% sisa 20.5%. kita hanya mencari 20.5% dari
campuran bahan pakan. dengan kata lain bahan pakan selain tepung ikan akan berisi

20.5x100/90=22.78%.
Jadi, setiap dua bahan pakan harus mencapai 22.8% protein hasil akhir dari campuran. Ada empat
kemungkinan campuran yang akan didapat dari bahan berprotein rendah dan protein tinggi.
Untuk mendapatkan kebutuhan pakan sesuai standar yang di tentukan,kita dapat menggabungkan bahan
pakan protein rendah dan bahan pakan protein tinggi.Protein rendah yaitu dedak, jagung dan protein
tinggi adalah ampas kedelai, ampas kacang tanah.

an antara no.(3) dengan no.(1) menghasilkan no.(5)


pengurangan antara no.(3) dengan no.(2) menghasilkan no.(4)

toh untuk kemungkinan empat bahan campuran pakan ikan dapat dilihat sebagai berikut :

dari bahan-bahan diatas dapat di hitung sebagai berikut:

nah =. 9.5 . x100=44.81% (44.8%)


(9.5+11.7)
11.7 . x100=55.19% (55.2%)
5+11.7)

(100.0%)

nah =.
13.0 . x100=52.63% (52.6%)
(13.0+11.7)
11.7 . x100=47.37% (47.4%)
3.0+11.7)

=. 9.5 . x100=28.36% (28.4%)


(9.5+24.0)
24.0 . x100=71.64% (35.1%)
5+24.0)

(100.0%)

(100.0%)

=.
13.0 . x100=35.14% (35.1%)
(100.0%)
(24.0+13.0)
24.0 . x100=64.86% (64.9%)
24.0+13.0)
at alternative diatas, setiap pasangan bahan hanya mencampur 90% saja, seperti kita lihat dibawah ini:

0.9 = 40.3% kacang dan 55.2 0.9 = 49.7% dedak

0.9 = 47.3% kacang dan 47.4 0.9 = 42.7% jagung

0.9 = 25.6 tahu dan 71.6 0.9 = 64.4% dedak

0.9 = 31.6 tahu dan 64.9 0.9 = 58.4% jagung

als = 90%)

(Totals=90%)

ta dapat melihat hasil ke-empat campuran bahan pakan protein dan lemak, bahkan harga dari setiap campuran yang kita buat.
kasi diet yang kita rencanakan adalah protein 26% dan lemak 7%.
ormula pakan ikan nila yang kita buat tampak sebagai berikut:
Campuran
Harga Bahan
Contribusi
ahan2 1/
(%)
Harga (Rp./ton)
Lemak (%)
Prot
10.0
0.60
5
49.7
1.19
6
40.3
5.52
1
100.0
7.31
2
10.0
0.60
5
42.7
1.92
4
47.3
6.48
1
100.0
9.00
2
10.0
0.60
5
64.4
1.55
8
25.6
0.33
1
100.0
2.48
2
10.0
0.60
5
58.4
2.63
5
31.6
0.41
1
100.0
3.64
2
lihat ke-empat campuran sudah mencapai nilai nutrisi ikan yang kita butuhkan 26% protein, dan lemak 7% pada campuran a,
da campuran c,d kita bisa mengunakan minyak nabati atau hewani sebanyak 2% sampai 3% sebagai tambahan. Selamat menc
tp://ikannila.com/Bagaimana%20Membuat%20Formula%20Pakan%20Ikan.htm)
PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
6.2. Bahan-Bahan Untuk Pakan Buatan
1. Bahan Hewani
1. Tepung Ikan
Bahan baku tepung ikan adalah jenis ikan rucah (tidak bernilai ekonomis) yang
berkadar lemak rendah dan sisa-sisa hasil pengolahan. Ikan difermentasikan menjadi
bekasem untuk meningkatkan bau khas yang dapat merangsang nafsu makan ikan.
Lama penyimpanan < 11-12 bulan, bila lebih dapat ditumbuhi cendawan atau bakteri,
serta dapat menurunkan kandungan lisin yang merupakan asam amino essensial yang
paling essensial sampai 8%. Kandungan gizi: protein=22,65%; lemak=15,38%;
Abu=26,65%; Serat=1,80%; Air=10,72%; Nilai ubah=1,53.
Cara pembuatannya:
1. Ikan direbus sampai masak, diwadahi karung, lalu diperas.
2. Air perasan ditampung untuk dibuat petis/diambil minyaknya.
3. Ampasnya dikeringkan dan digiling menjadi tepung.

2. Tepung Rebon dan Benawa


Rebon adalah sejenis udang kecil yang merupakan bahan baku pembuatan terasi.
Benawa adalah anak kepiting laut. Rebon dan Benawa muncul pada awal musim
hujan di sekitar muara sungai, mengerumuni benda yang terapung.
Cara pembuatan:
1. Bahan direbus sampai masak, diwadahi karung, lalu diperas;
2. Ampasnya dikeringkan dan digiling menjadi tepung. Kandungan gizi: Protein:
Udang rebon=59,4% (udang rebon), 23,38% (benawa); Lemak =3,6% (Udang
rebon), 25,33% (Benawa); Karbohidrat 3,2% (Udang rebon), 0,06%
(benawa); Abu=11,41% (Benawa); Serat=11,82% (Benawa); Air=21,6%
(Udang rebon); 5,43% Benawa ,Nilai ubah: Benawa=46
3. Tepung Kepala Udang
1. Bahan yang digunakan adalah kepala udang, limbah pada proses pengolahan
udang untuk ekspor.
2. Cara pembuatannya:
1. Bahan direbus, dijemur sampai kering dan digiling;
2. Tepung diayak untuk membuang bagian-bagian yang kasar dan
banyak mengandung kitin.
3. Kandungan gizinya: Protein= 53,74%; Lemak= 6,65%; Karbohidrat= 0%;
Abu= 7,72%; Serat kasar= 14,61%; Air= 17,28%.
4. Tepung Anak Ayam
1. Bahan: anak ayam jantan dari perusahaan pembibitan ayam petelur.
2. Cara pembuatan:

Anak-anak ayam dimatikan secara masal, bulu-bulunya dibakar


dengan lampu semprot. Kemudian direbus sampai kaku (setengah
masak).

Diangin-anginkan sampai kering dan digiling beberapa kali sampai


halus. Hasil gilingan yang masih basah disebut pastadan dapat
langsung digunakan.

Pasta dapat dikeringkan dan digiling menjadi tepung.

Kandungan gizinya: Protein=61,65%, Lemak=27,30%, Abu=2,34%,


Air=8,80%, Nilai ubah=58. Juga mengandung hormon, enzim, vitamin, dan
mineral yang dapat merangsang nafsu makan dan pertumbuhan.

Tepung Kepompong Ulat Sutra

Bahan: kepompong ulat sutra yang merupakan limbah industri pemintalan


benang sutra alam.

Kandungan gizinya: Protein= 46,74%, Lemak= 29,75%, Abu= 4,86%, Serat=


8,89%, Air= 9,76%, Nilai ubah= 1,8.

Ampas Minyak Hati Ikan


1

Bahan: amapas hati ikan yang telah diperas minyaknya.

Cara pembuatannya:
1. digunakan sebagai pasta, karena kandungan lemaknya tinggi, sehingga
sukar dikeringkan.
2. Digiling halus sampai bentuknya seperti pellet.

2
2

Kandungan gizinya: Protein= 25,08%, lemak= 56,75%, Abu= 6,60%,


Air=12,06%, Nilai ubah= 8.

Tepung Darah
1

Bahan: darah, limbah dari rumah pemotongan ternak.

Cara pembuatanny: darah beku yang masih mentah dimasak dan dikeringkan,
kemudian digiling menjadi tepung.

Kandungan gizinya: Protein= 71,45%, Lemak= 0,42%,Karbohidrat= 13,12%,


Abu= 5,45%, Serat= 7,95%, Air= 5,19. Proteinnya sukar dicerna, sehingga
penggunaannya untuk ikan < 3% dan untuk udang < 5%.

Silase Ikan
1

Bahan: ikan rucah dan limbah pengolahan.

Silase adalah hasil olahan cair dari bahan baku asal ikan/limbahnya.

Cara pembuatan:
1. Bahan dicuci, dicincang kecil-kecil, kemudian digiling. Hasil gilingan
direndam dalam larutan asam formiat 3% 24 jan, kemudian diperas.
2. Air perasan ditampung dan lapisan minyak yang mengapung di
lapisan atas disingkirkan.
3. Cairan yang bebas minyak dicampur dengan ampas dan ditambah
asam propionat 1%, untuk mencegah tumbuhnya bakteri / cendawan
dan menambah daya awet 3 bulan dengan pH 4,5.
4. Bahan diperam selama 4 hari dan diaduk 3- 4 kali sehari.

5. Bahan cair yang bersifat asam dapat dicampur dengan dedak, ketela
pohon/tepung jagung dengan perbandingan 1:1, dikeringkan dan
digunakan untuk campuran dalam ramuan makanan.
4
4

Kandungan gizinya: Protein=18-20%, Lemak=1-2%, Abu=4-6%, Air=7075%, Kapur=1-3%, Fosfor=0,3-0,9%.

Arang Bulu Ayam dan Tepung Tulang


1

Bahan: arang bulu ayam, tulang ternak.

Cara pembuatan: Tulang dipotong sepanjang 5-10 cm, direbus selama 2-4 jam
dengan suhu 100 C, kemudian dihancurkan hingga menjadi serpihanserpihan sepanjang 1-3 cm. Serpihan tulang direndam dalam air kapur 10%
selama 4-5 minggu dan dicuci dengan air tawar. Pemisahan selatin dengan
jalan pemanasan 3 tahap, yaitu pada suhu 60 C selama 4 jam, suhu 70 C
selama 4 jam, dan 100 C selama 5 jam. Pemrosesan selatin. Tulang
dikeringkan pada suhu 100 C, sampai kadar airnya tinggal 5% dan digiling
hingga menjadi tepung. Pengemasan dan penyimpanan.

Kandungan gizinya: Protein=25,54%, Lemak=3,80%, Abu=61,60%,


Serat=1,80%, Air=5,52%.

Tepung Bekicot
1

Bahan: daging bekicot mentah dan daging bekicot rebus.

Cara pembuatan: Daging bekicot dikeringkan lalu digiling. Untuk campuran


makanan sebesar 5-15%.

Kandungan gizi: Protein=54,29%, Lemak=4,18%, Karbohidrat=30,45%,


Abu=4,07%, Kapur=8,3%, Fosfor=20,3%, Air=7,01.

Tepung Cacing Tanah


1

Dapat menggantikan tepung ikan, dapat diternak secara masal.

Jumlah penggunaan dalam ramuan 10-25%.

Cara pembuatan: Cacing dikeringkan lalu digiling.

Kandungan proteinnya 72% dan mudah diserap dinding usus.

Tepung Artemia
1

Dapat menggantikan tepung ikan/kepala udang.

Kandungan protein (asam amino essensial) untuk burayak 42% dan dewasa
60%, sedangkan asam lemak tak jenuh untuk burayak 20% dan dewasa 10%.
Daya cernanya tinggi.

Telur Ayam dan Itik

Bahan: telur mentah atau telur rbus.

Penggunaan: Telur mentah langsung dikopyok dan dicampur dengan bahan


lain. Telur rebus, diambil kuningnya, dihaluskan dan dilarutkan sampai
membentuk emulsi atau suspensi.

Kandungan gizinya: Protein=12,8%, Lemak=11,5%, Karbohidrat=0,7%,


Air=74%.

Susu
1

Bahan: tepung susu tak berlemak (skim).

Kandungan gizi: Protein=35,6% Lemak=1,0% Karbohidrat=52,0%, Air=3,5%

Bahan Nabati
1

Dedak
Bahan dedak padi ada 2, yaitu dedak halus (katul) dan dedak kasar. Dedak yang
paling baik adalah dedak halus yang didapat dari proses penyosohan beras, dengan
kandungan gizi: Protein=11,35%, Lemak=12,15%, Karbohidrat=28,62%,
Abu=10,5%, Serat kasar=24,46%, Air=10,15%, Nilai ubah= 8.

Dedak Gandum
Bahan: hasil samping perusahaan tepung terigu. Tepung yang paling baik untuk
pakan ikan adalah wheat pollard dengan kandungan gizi: Protein=11,99%,
Lemak=1,48%, Karbohidrat=64,75%, Abu=0,64%, Serat kasar=3,75%, Air=17,35%,
Nilai ubah=2-3.

Jagung
Terdapat 2 jenis, yaitu: (1) Jagung kuning, mengandung protein dan energi tinggi,
daya lekatnya rendah; (2) Jagung putih, mengandung protein dan enrgi rendah, daya
lekatnya tinggi. Sukar dicerna ikan, sehingga jarang digunakan.

Cantel/Sorgum
Berwarna merah, putih, kecoklatan. Warna putih lebih banyak digunakan.
Mempunyai zat tanin yang dapat menghambat pertumbuhan, sehingga harus
ditambah metionin/penyosohan yang lebih baik. Kandungan gizi: Protein=13,0%,
Lemak=2,05%, Karbohidrat=47,85%, Abu=12,6%, Serat kasar= 13,5%, Air=10,64%,
Nilai ubah2-5.

Tepung Terigu
Berasal dari biji gandum, berfungsi sebagai bahan perekat dengan kandungan gizi:
Protein=8,9%; Lemak=1,3%; Karbohidrat=77,3%; Abu=0,06%; Air=13,25%.

Tepung Kedele
Keuntungan: mengandung lisin asam amino essensial yang paling essensial dan
aroma makanan lebih sedap, penggunaannya 10%. Kekurangan: mengandung zat
yang dapat menghambat enzim tripsin, dapat dikendalikan dengan cara memasak.
Kandungan gizi: Protein: 39,6%, Lemak=14,3%, Karbohidrat=29,5%, Abu=5,4%,
Serat=2,8%, Air=8,4%, Nilai ubah=3-5.

Tepung Ampas Tahu


Kandungan gizinya: Protein=23,55%, Lemak=5,54%, Karbohidrat=26,92%,
Abu=17,03%, Serat kasar=16,53%, Air=10,43%.

Tepung Bungkil Kacang Tanah


Bungkil kacang tanah adalah ampas pembuatan minyak kacang. Kelemahannya:
dapat menyebabkan penyakit kurang vitamin, dengan gejala sirip tidak normal dan
dapat dicegah dengan membatasi penggunaannya. Kandungan gizi: Protein=47,9%,
Lemak=10,9%, Karbohidrat =25,0%, Abu=4,8%, Serat kasar=3,6%, Air=7,8%, Nilai
ubah=2,7-4.

Bungkil Kelapa
Bungkil kelapa adalah ampas dari proses pembuatan minyak kelapa. Sebagai bahan
ramuan dapat dipakai sampai 20%. Kandungan gizi: Protein=17,09%, Lemak=9,44%,
Karbohidrat=23,77%, Abu=5,92%, Serat kasar=30,4%, Air=13,35%.

10 Biji Kapuk/Randu
Bahan: bungkil kapuk yang telah diambil minyaknya. Kelemahannya: Mengandung
zat siklo-propenoid yang bersifat racun bius. Penggunaannya < 5%. Kandungan
gizinya: Protein=27,4%, Lemak=5,6%, Karbohidrat=18,6%, Abu=7,3%, Serat
kasa=25,3%, Air=6,1 %.
11 Biji Kapas
Bahan: bungkil dari pembuatan minyak. Kelemahannya: mengandung zat gosipol
yang bersifat sebagai racun, yaitu merusak hati dan perdarahan/pembengkakan
jaringan tubuh. Untuk penggunaannya harus dimasak dulu. Kandungan gizi:
Protein=19,4%, Lemak=19,5%, Asam lemak linoleat=47,8%, Asam lemak
palmitat=23,4%, Asam lemak oleat=22,9%.
12 Tepung Daun Turi
Kelemahannya: mengandung senyawa beracun : asam biru (HCN), lusein, dan
alkoloid-alkoloid lainnya. Kandungan gizinya: Protein=27,54%, Lemak=4,73%,
Karbohidrat=21,30%, Abu=20,45%, Serat kasar=14,01%, Air=11,97 %.
13 Tepung Daun Lamtoro
Kelemahannya: mengandung mimosin, dalam pemakaiannya < 5% saja. Kandungan
gizinya: Protein=36,82%, Lemak=5,4%, Karbohidrat=16,08%, Abu=1,31%, Serat
kasar=18,14%, Air=8,8%.
14 Tepung Daun Ketela Pohon
Kelemahannya: racun HCN/asam biru. Kandungan gizi: Protein=34,21%,
Lemak=4,6%, Karbohidrat=14,69%, Air=0,12.
15 Isi Perut Besar Hewan Memamah biak
Bahan: dari rumah pemotongan ternak. Cara pembuatan: dikeringkan, digiling
sampai menjadi tepung. Kandungan gizinya: Protein=8,39%, Lemak=5,54%,
Karbohidrat=33,51%, Abu=17,32%, Serat kasar=20,34%, Air=14,9%, Nilai ubah=2.
3

Bahan Tambahan
1

Vitamin dan Mineral

Cara memperoleh: dari toko penjual makanan ayam (poultry shop) yang
sudah dikemas dalam bentuk premiks (premix).

Premix tersebut mengandung vitamin, mineral, dan asam-asam amino


tertentu.

Contoh-contoh merek dagang:

Top mix: mengandung 12 macam vitamin (A, D, E, K, B kompleks), 2


asam amino essensial (metionin dan lisin) dan 6 mineral (Mn, Fe, J,
Zn, Co dan Cu), serta antioksidan (BHT)

Rhodiamix: mengandung 12 macam vitamin (A, D, E, K, B


kompleks), asam amino essensia metionin, dan 8 mineral (Mg, Fe,
Mo, Ca, J, Zn, Co dan Cu), serta antioksidan.

Mineral B12: mengandung tepung tulang, CaCO3, FeSO4, MnSO4,


KI, CuSO4, dan ZnCO3, serta vitamin B12 (sianokobalamin).

Merek lain: Aquamix, Rajamix U, Pfizer Premix A, Pfizer Premix B.


Penggunaannya : Untuk ikan 1-2% dan untuk udang 10-15%.

Garam Dapur (NaCl)


1

Fungsi: sebagai bahan pelezat (gurih), mencegah terjadinya proses pencucian


zat-zat lain yang terdapat dalam ramuan makanan ikan.

Penggunaannya cukup 2%.

Bahan Perekat
1

Contoh bahan perekat: agar-agar, gelatin, tepung terigu, tepung sagu, dll.
Yang paling baik adalah tepung kanji dan tapioka.

Penggunaannya cukup 10%.

Antioksidan
1

Bahan: fenol, vitamin E, vitamin C, etoksikulin (1,2dihydro-6-etoksi-2,2,4


trimethyquinoline), BHT (butylated hydroxytoluena), dan BHA (butylated
hydroxyanisole).

Penggunaannya: etoksikulin 150 ppm, BHT dan BHA 200 ppm.

Ragi dan Ampas Bir


1

Ragi adalah sejenis cendawan yang dapat merubah karbohidrat menjadi


alkohol dan CO2.

Macam ragi: ragi tape, ragi roti, dan bir.

Kandungan gizi: Protein=59,2%, Lemak=0, Karbohidrat=38,93%,


Abu=4,95%, Serat kasar=0, Air=6,12%.

Ampas bir merupakan limbah pengolahan bir.

Kandungan gizinya: Protein=25,9%, Serat kasar=15%

Penggunaannya: ampas bir basah 3-6% dan kering 10%.

6.3. Penyiapan Peralatan


Binder (Perekat) Dalam Pelet Pakan Ikan
Arsip Cofa No. C 095

Ringkasan :
- Keuntungan Alginat Sebagai Binder dan Sumbernya
- Natrium Alginat Sebagai Binder dan Pengaruhnya Terhadap Pertumbuhan Ikan
- Pengaruh Binder Dari Alginat dan Guar Gum Terhadap Pertumbuhan Ikan dan Daya Cerna Pakan
- Karakteristik Binder Dalam Pelet Pakan Udang
- Rumput Laut Sebagai Binder dan Pengaruhnya Terhadap Pertumbuhan dan Kelangsungan Hidup
Anak Ikan Gabus
- Pengaruh Jenis Binder Terhadap Pertumbuhan Juvenil Udang Palaemonidae
Kata penting :
Binder, perekat pelet pakan ikan, alginat, alga, phaeophyceae, asam alginat, rumput laut, kelp,
natrium alginat, Tilapia, pertumbuhan ikan, efisiensi konversi pakan, rasio efisiensi protein, pakan
mujaer, guar gum, daya cerna pakan, rainbow trout, daya cerna protein dan lemak, volume
pengambilan makanan, kadar air tinja ikan, karaginan, ikan gabus, tepung gandum, lignosol, agaragar, Palaemonetes varians, Palaemon elegans, Macrocystis pyrifera, Laminaria digitata,
Ascophyllum nodosum, Cyamoposis tetragonolobus, Salmo gairdneri, Ulva, Sargassum,
Polycavernosa, Gracilaria, Channa striatus.
Download (format pdf bisa diedit; 95 KB; 4 halaman)
BOSTER PROGOL : BAHAN PEREKAT PELLET ( BAHAN PAKAN) IKAN/ UDANG
Negara Asal:
Keterangan:

Indonesia
KEGUNAAN : Sebagai pengganti fungsi telur dan minyak ikan,
mempunyai daya rekat yang tinggi dan praktis penggunaannya, tidak
merusak Multivitamin dan Antibiotik yang akan dicampur dengan pakan.
DOSIS DAN CARA PENGGUNAAN : 5 - 10 gr / kg pakan udang / ikan
campur dengan Multivitamin/ Antibiotik yang akan di berikan pada
udang/ ikan, kemudian larutkan dengan air secukupnya.
TIPS SINGKAT DALAM PEMBUATAN PELLET IKAN/ UDANG
Biaya pakan dalam usaha budidaya ikan dibutuhkan sekitar antara 50 50% dari total biaya produksi, sehingga perluadanya upaya untuk

menahan biaya tersebut, dengan membuat pakan sendiri. Untuk mengatasi


penyediaan pakan buatan ( Pellet) dengan jumlah dan kualitas yang baik.
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pembuatan pellet yaitu :
- Pellet harus mudah dicerna oleh ikan.- Mempunyai kandungan gizi yang
cukup, terutama kandungan proteinnya harus diatas 25, selain itu harus
juga mengandung lemak. Vitamin, mineral, zat kapur dan karbohidrat.
- Pellet harus mempunyai daya apung serta tidak cepat hancur di air.
- Pellet harus dapat disimpan dalam jangka waktu yang lama.
Kunjungi Website untuk mendapatkan Produk-Produk Peternakan &
Perikanan terkini di :
Poultry Shop Online Indonesia :
www.majubersamaps.com
HP.: 0852.57090.372
Sei Rampah, Sumatera Utara, Indonesia
Bagaimana membuat pakan ikan patin tahan 5 menit terendam dalam air?

Amiruddin asked 5 month ago

Was originally asked on Yahoo Answers Indonesia


Bahan pembuat pakan ikan patin adalah bekatul dari beras yang dipolis, ikan rucah, dan dedak padi.
setelah dicetak dengan mesin pencetak pakan akan menjadi butiran. biasanya butiran itu hanya tahan
setengah menit dalam air. setelah itu hancur, sebelum semua termakan oleh ikan. Nah, bagaimana
agar tahan berbentuk butiran dalam waktu 5 menit?
Answer
Follow (0)
Watchlist

Best Answer Voter's Choice

Suryaanswered5 month ago

Daya tahan pakan di dalam air ini bergantung pada tingkat kehalusan bahan baku, jumlah bahan
baku yang digunakan sebagi perekat (binder) dan proses pembuatan pakan.
[1] Kehalusan bahan mempengaruhi tekstur dan kekompakan pelet.
Stabilitas pelet di dalam air (Water Stability Feed) atau daya tahan pakan buatan didalam air dapat
dilakukan dengan melihat kehalusan bahan baku pakan. Tingkat kehalusan bahan baku akan sangat
berpengaruh terhadap kekerasan dan juga kekompakan pakan didalam air.
Karena itu dalam membuat pakan buatan, bahan baku yang digunakan sebaiknya dalam bentuk
tepung. Dengan semakin halus bahan baku maka seluruh bahan baku akan tercampur secara
sempurna dan bentuk fisik akan semakin baik. Hal ini akan menghasilkan dampak terhadap
pakan buatan yang dibentuk menjadi lebih kompak dan stabil.
Selain itu, pakan buatan yang halus akan mudah dicerna oleh ikan. Pakan buatan yang mudah
dicerna oleh ikan akan mengakibatkan efisiensi pakan yang sangat baik dan sangat menguntungkan.
[2] Bahan perekat (binder).
Penambahan bahan pengikat di dalam ramuan pakan buatan berfungsi untuk menarik air,
memberikan warna yang khas dan memperbaiki tekstur produk. Jenis bahan pengikat yang dapat
digunakan antara lain adalah : agar-agar, gelatin, tepung kanji, tepung terigu, tepung maizena,
Carboxymethy Cellulose (CMC), karageenan, asam alginat. Yang paling baik adalah tepung kanji
dan tapioka.
Jumlah penggunaan bahan pengikat ini berkisar antara 5 10%.
[3] Proses
1. Perekat dapat dicampur langsung dengan bahan lainnya saat masih kering, atau disendirikan. NB:
Bila disendirikan, bahan tersebut diseduh dulu dengan air mendidih sampai mengental seperti lem
encer.
2. Pencampuran bahan dimulai dengan bahan yang jumlahnya sedikit dan diakhiri dengan bahan
yang jumlahnya paling banyak. Bahan perekat yang dibuat adonan tersendiri yang berupa pasta,
dicampurkan paling akhir. Adonan yang masih kurang basah dapat ditambah air sedikit demi sedikit.
3. Apabila bahan perekat dicampur langsung dengan bahan-bahan lainnya, maka pembuatan adonan
dilakukan dengan air panas sebanyak 1/4 berat bahan baku. Pengadukan dilakukan di atas api
kecil, agar air tidak cepat dingin. Pengadukan adonan dilakukan sampai terjadi perubahan warna.
4. Adonan didinginkan di atas tampir. Apabila menggunakan ragi, maka pencampurannya dilakukan
setelah adonan dingin.