Anda di halaman 1dari 8

Fakultas

Ilmu dan Teknologi Kebumian

Program Studi Meteorologi


PENERBITAN ONLINE AWAL
Paper ini adalah PDF yang diserahkan oleh penulis kepada
Program Studi Meteologi sebagai salah satu syarat kelulusan
program sarjana. Karena paper ini langsung diunggah setelah
diterima, paper ini belum melalui proses peninjauan, penyalinan
penyuntingan, penyusunan, atau pengolahan oleh Tim Publikasi
Program Studi Meteorologi. Paper versi pendahuluan ini dapat
diunduh, didistribusikan, dan dikutip setelah mendapatkan izin
dari Tim Publikasi Program Studi Meteorologi, tetapi mohon
diperhatikan bahwa akan ada tampilan yang berbeda dan
kemungkinan beberapa isi yang berbeda antara versi ini dan
versi publikasi akhir.

2012 Program Studi Meteorologi Institut Teknologi Bandung

ANALISA CURAH HUJAN RENCANA UNTUK PENENTUAN DEBIT


MAKSIMUM PADA WILAYAH PERTAMBANGAN PT.ADARO
ANDRE PUTRA ARIFIN
Program Studi Meteorologi, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian, Institut Teknologi Bandung
E-mail : andreputraarifin@gmail.com

ABSTRAK
Daerah pertambangan PT. Adaro terletak pada Daerah Aliran Sungai (DAS Nagara). DAS Nagara
yang merupakan aliran sungai yang terbesar di Kalimantan Selatan berpotensi terjadi banjir di beberapa
titik di sekitar pertambangan PT. Adaro. Kejadian banjir yang mungkin terjadi tentunya akan
mengakibatkan terhambatnya keberlangsungan penambangan sehingga secara langsung berdampak pada
produktifitas tambang batu bara serta kualitas batu bara yang dihasilkan. Oleh karena itu kajian mengenai
aspek hidrologi terutama hujan rencana dan debit banjir rencana sebagai dasar perencanaan sistim
drainase tambang diperlukan. Salah satu metode untuk menentukan curah hujan rencana adalah metode
Iwai-Kadoya, sedangkan metode untuk menentukan debit banjir rencana adalah dengan model HEC-1.
Curah hujan rencana periode ulang 3, 5, 10, 50 dan 100 tahun untuk sub-DAS Balangan adalah 97 mm,
103,1 mm, 109,9 mm, 122,1 mm dan 126,6 sedangkan untuk sub-DAS Tabalong 99,3 mm, 109 mm,
120,1 mm, 141,4 mm dan 149,6 mm. Debit banjir rencana pada outlet TB1,TB2,BL1,BL2,BL3,dan BL3
secara berturut-turut dalam m3/detik adalah periode ulang 3 tahun 510, 47, 21, 60, 161, dan 371, periode
ulang 5 tahun 602, 58, 28, 83, 197, dan 439, periode ulang 10 tahun 715, 72, 38, 1123, 241, dan 522,
periode ulang 50 tahun 952, 102, 60, 180, 341, dan 699, periode ulang 100 tahun, 1049, 114, 69, 209,
383, dan 772, periode ulang 200 tahun 1144, 126, 79, 239, 426 dan 844.
Kata kunci: Tambang batu bara, curah hujan rencana, debit banjir rencana, Iwai-Kadoya, HEC-1

1.

Akan tetapi sebaran pos penakar hujan ini tidak


merata khususnya di daerah dengan topografi sulit,
daerah tidak berpenghuni serta disekitar lautan
mengakibatkan berkurangnya tingkat keakuratannya
khususnya dalam menampilkan sebaran pola spasial
curah hujan. Kondisi ini mempengaruhi prediksi hujan
dengan menggunakan berbagai aplikasi model iklim
(Feidas H. , 2010). Untuk saat ini, kemungkinan
memperoleh data curah hujan yang diperlukan dalam
berbagai aplikasi ilmiah dapat diperoleh dari satelit
meteorologi. Satelit meteorologi dapat menyediakan
data hujan dengan sebaran yang lebih baik serta
dengan penggabungan berbagai jenis satelit dan data
dari pos pengamatan hujan dalam suatu model iklim
akan lebih mampu lagi meningkatkan keakurasian dan
kestabilan data yang dihasilkan oleh satelit
meteorologi (Petty, 1995). Dengan semakin
lengkapnya informasi hujan, diharapkan lebih mampu
menampilkan sebaran pola spasial hujan lebih baik
dibandingkan menggunakan data dari stasiun. Salah
satu citra penginderaan jauh yang digunakan untuk
memantau curah hujan khususnya di wilayah tropis
seperti Indonesia yaitu dengan citra Tropical Rainfall
Measuring Mission (TRMM).

Pendahuluan

Hujan di daerah khatulistiwa Indonesia merupakan


salah satu unsur iklim yang paling sering dikaji karena
memiliki tingkat keragaman yang tinggi baik secara
temporal maupun spasial (National Oceanic and
Atmospheric Administration (NOAA), 2006), hal ini
berkaitan dengan adanya proses-proses pembentukan
awan di daerah ini, antara lain konveksi, orografi dan
konvergensi secara lokal. Posisi Indonesia beberapa
tempat berada pada garis katulistiwa dan
keberadaannya di antara dua benua dan dua samudera.
Selain itu pulau-pulau Indonesia dikelilingi oleh laut
dimana akan menjadi sumber evaporasi yang
berlimpah berdampak pada karakteristik sea breeze
yang mengakibatkan tingkat keragaman hujan di
wilayah ini.
Karena memiliki tingkat variabilitas yang tinggi,
kondisi data curah hujan di Indonesia memerlukan
observasi yang panjang dengan perwakilan sebaran
data yang memadai (As-Syakur, Tanaka, Prasetia,
Swardika, & Kasa, 2011). Penakar hujan pada setiap
pos pengamatan hujan merupakan suatu alat pengukur
hujan yang efektif dan relatif akurat dalam
menggambarkan kondisi hujan pada suatu tempat.

Digital Elevation Model (DEM), data tata guna lahan,


data jenis tanah. Metode yang dipakai dalam
penelitian ini adalah metode Iwai-Kadoya untuk
mencari curah hujan rencana, dan model HEC-1 untuk
menentukan debit banjir rencana pada masing-masing
outlet kawasan pertambangan PT. Adaro . Diagram
alir pengerjaan tugas akhir ini adalah sebagai berikut:

Adaro adalah pertambangan open pit dimana


lingkungan tambang ini sangat dipengaruhi oleh
variabilitas curah hujan. Kondisi cuaca ekstrem di
lokasi pertambangan akan sangat mempengaruhi
kinerja perusahaan, seperti curah hujan yang tinggi,
banjir dan kondisi laut yang buruk. Pada musim hujan
maka kolam drainase di lokasi penambangan tidak
dapat menampung volume air dalam jumlah yang
besar sehingga akan terdapat genangan di lokasi
penambangan. Oleh karena itu dibutuhkan kajian
mengenai aspek hidrometeorologi dan probabilitas
kejadian curah hujan maksimum sebagai dasar
perencanaan sistim drainase tambang.
Sub-DAS Tabalong dan sub-DAS Balangan
yang berada di sekitar daerah pertambangan PT.
Adaro berpotensi mengakibatkan banjir pada kawasan
pertambangan, diperlukan kajian periode ulang hujan
dan debit rencana pada beberapa outlet di sekitar
daerah pertambangan.
Tujuan dari penulisan tugas akhir ini adalah
penulis dapat menentukan periode ulang hujan
maksimum berdasarkan data TRMM dengan
menggunakan metode Iwai-Kadoya, menghitung
curve number pada masing-masing sub-DAS di sekitar
kawasan pertambangan PT. Adaro, menentukan debit
banjir rencana berdasarkan hujan rencana maksimum.
Curah hujan rencana merupakan periode ulang
suatu kejadian hujan pada suatu waktu tertentu. Suatu
kejadian hujan hanya terjadi sekali dalam periode
ulang tersebut. Metode Iwai-Kadoya menentukan
periode ulang kejadian hujan maksimum. Periode
ulang maksmimum yang nantinya mendasari
perhitungan pada model HEC-1. Periode ulang yang
diamati pada penelitian ini adalah 3, 4, 5, 8, 10, 50,
100, dan 200 tahun.
Model yang digunakan penulis untuk
menentukan debit banjir rencana adalah model HEC1. Keluaran model HEC-1 adalah kurva hidrograf
yang menunjukan fungsi debit berdasarkan satuan
waktu. Kurva hidrograf digunakan untuk menganalisa
besar debit maksimum yang dapat terjadi pada suatu
kejadian hujan dan lama waktu yang dibutuhkan untuk
mencapai debit maksimum (waktu tenggang) terhitung
dari waktu kejadian hujan. Setelah diketahui debit
maksimum dan waktu tenggang setiap outlet pada
masing-masing sub-DAS maka dapat diambil langkah
mitigasi banjir pada setiap outlet.
Salah satu hal yang paling penting pada
penelitian adalah tata guna lahan yang diwakili nilai
koofesien runoff yaitu nilai bilangan kurva (curve
number). Pada penelitian ini digunakan beberapa
skenario yang mengubah beberapa fungsi tata guna
lahan, sehingga dapat dilihat pengaruh tata guna lahan
terhadap debit yang dihasilkan pada masing-masing
outlet.

2.

Gambar 2.1 Diagram Alir Pengerjaan Tugas Akhir

2.1. Data TRMM


Data TRMM yang digunakan pada penelitian ini
adalah TRMM dengan tipe 3B42 yang merupakan
kombinasi per 3 jam-an dan memiliki resolusi spasial
0,25o x 0,25o untuk setiap gridnya. Data TRMM yang
digunakan memiliki durasi dari tahun 2002 sampai
dengan 2011.
2.2. Data DEM
Data elevasi digital yang digunakan didapat dari
USGS (United State Geological Service) memiliki
resolusi 90 meter. Dalam sebuah grid tiap pixelnya
memiliki nilai X dan Y yang mejelaskan nilai lokasi
grid tersebut, dan nilai Z menjelaskan ketinggan diatas
permukaan laut.
2.3. Data Tutupan Lahan
Data tutupan lahan yang digunakan adalah peta
tutupan lahan yang merupakan hasil kompilasi dari
peta rupa bumi skala 1:50.000 tahun 2009, interpretasi
citra satelit dan citra digital dari Bakosurtanal dan data
dasar dari Pemda.

Data dan Metode

Data yang digunakan dalam penelitian yaitu data


Tropical Rainfall Measuring Mission (TRMM), data

2.4. Peta Jenis Tanah


Peta jenis tanah merupakan data dan informasi geologi
suatu kawasan atau wilayah dengan suatu skala
tertentu yang menggambarkan sebaran jenis tanah
pada suatu wilayah tertentu. Peta jenis tanah didapat
dari BIPHUT Wilayah V Banjarbaru.

1
1

log

log

1.4

1.5

0,1

0,1

Transmigrasi

5,3

5,6

0,4

5,3

Potential maximum retention ditentukan berdasarkan


parameter curve number (CN) yang ditentukan
berdasarkan tabel bilangan kurva yang disusun oleh
SCS untuk berbagai tipe penggunaan dan penutupan
lahan. Persamaan empiris untuk menentukan nilai S
adalah:
25400 245+,
1.9
&
+,

1.3

log

0,6

dimana P adalah volum total curah hujan, Ia adalah


kehilangan air awal atau initial abstraction (initial
loss), dan S merupakan potential maximum retention.
Nilai Ia dapat ditentukan berdasarkan persamaan:
1.8
$% 0,2 &

1.2

0,1

Beberapa parameter yang dihitung dalam model


HEC-1 adalah Loss Method dan Direct Runoff Model.
Curah hujan efektif Pe, dihitung menggunakan
persamaan:
1.7
" $%
"#
" $% &

Untuk menentukan curah hujan rencana maka


digunakan metoda Iwai-Kadoya (Suyono, 2003).
Perhitungan dengan metoda Iwai-Kadoya dapat
dijelaskan dengan persamaan :
1.1
log

1

2.7. Perhitungan HEC-1

2.5. Perhitungan Curah Hujan Rencana dengan


Metode Iwai-Kadoya

log

Tanah
Terbuka

Untuk mengitung dirrect runoff digunakan metode


SCS. Metode SCS hanya memerlukan penentuan nilai
waktu puncak (time to peak atau time of rise, tp) dan
debit puncak, Qp.
/
1.10
-.
-0
2

1.6

dimana, tp = waktu puncak (jam), merupakan selang


waktu antara mulai terjadinya hujan sampai debit
puncak, D = durasi hujan (jam), ditentukan dengan
persamaan D = 0,133 tc, dengan tc adalah waktu
konsentrasi, tl = time lag (jam). Dan persamaan debit
puncak:
2
1.11
1. +
-.

2.6. Skenario Tutupan Tata Guna Lahan


Skenario tata guna lahan adalah untuk melihat dampak
pada perubahan beberapa tata guna lahan terhadap
debit banjir rencana yang dihasilkan pada masingmasing outlet disekitar kawasan pertsmbangan PT.
Adaro.
Tata Guna Awal (%)
Skenario 1 Skenario 2
Lahan
(%)
(%)
TB
BL
TB
BL
TB
BL
Hutan
57
50
44
39
62
56
Pemukiman 1,5
3,3
14,6 12
1,5
3,3
Pertambang 1,3
3,8
2,5
8,2
1,3
3,8
an
Prtanian
1,7
13
3,2
16,7 1,7
13
Lhan Kring
Prtanian
6,4
3
7
3
6,4
3
Lhan Kring
Semak
Savana
5,6
14
4
10,3 4
8,4
Sawah
0,2
3
0,5
4
0,2
3
Semak
15,7 4
12,2 3,2
12,2 2,2
Belukar

dimana, C merupakan konstanta konversi, bernilai


2,08 dalam SI, atau 484 dalam foot-pound system, dan
A merupakan luas DAS.
Persamaan empiris yang digunakan SCS untuk
menentukan parameter time lag, adalah:
1.12
34 5,6 & 1 5,7
-0
5,:
190029&

dimana, Lms = panjang sungai utama (ft), aws =


kemiringan rata-rata DAS (%), S= potential maximum
retention (in.) = 1000/CN -10, CN = Bilangan kurva
untuk berbagai tipe penggunaan lahan.

3.

Hasil dan Pembahasan

3.1. Identifikasi Pola Curah Hujan dan Klasifikasi


Iklim
Curah hujan yang dikaji berdasarkan pembagian
daerah aliran sungai (DAS) pada daerah kajian. Pada
Gambar komposit curah hujan rata-rata bulanan subDAS Tabalong dan Gambar komposit curah hujan
rata-rata bulanan sub-DAS Balangan dengan data
historis 11 tahun terlihat daerah kajian memiliki pola
curah hujan jenis monsun.

Gambar Curah Hujan Rencana Periode Ulang Bulanan


Sub-DAS Balangan

Gambar Komposit Rata-rata Curah Hujan TRMM


Bulanan sub-DAS Tabalong
Gambar Curah Hujan Rencana Periode Ulang Bulanan
Sub-DAS Tabalong

Gambar Komposit Rata-rata Curah Hujan TRMM


Bulanan sub-DAS Balangan
Menurut (Aldrian & R. D., 2003) Kalimantan
Selatan termasuk pada wilayah dengan curah hujan
dipengaruhi oleh monsun. Karakteristik daerah yang
memiliki curah hujan dengan tipe monsun adalah
terdapat perbedaan yang jelas antara periode musim
hujan dan periode musim kemarau.
Menurut Oldeman, Sub-DAS Balangan dan
Tabalong termasuk kepada klasifikasi iklim B1, yaitu
memiliki tujuh sampai sembilan bulan basah dan
kurang dari dua bulan kering.

Gambar Curah Hujan Rencana Sub-DAS Balangan


dan Sub-DAS Tabalong
3.3. Intensitas Curah Hujan
Intensitas curah hujan untuk beberapa periode
ulang curah hujan didapat dengan menggunakan
metode Mononobe yaitu manganalisa seberapa besar
curah hujan yang terjadi untuk beberapa durasi waktu.

3.2. Curah Hujan Rencana


Curah hujan rencana dianalisis menurut pembagian
sub-DAS yaitu sub-DAS Tabalong dan sub-DAS
Balangan.

Gambar Kurva IDF Sub-DAS Balangan

3.5. Analisa Debit Banjir Rencana


Analisa debit banjir rencana untuk daerah
pertambangan PT. Adaro dilakukan pada beberapa
outlet sub-DAS Balangan dan sub-DAS Tabalong.
Contoh hidrograf dapat dilihat pada Gambar.

Gambar Kurva IDF Sub-DAS Tabalong


Durasi hujan yang terjadi pada beberapa periode
ulang sangat mempengaruhi debit dari suatu daerah
tangkapan air. Besarnya daerah tangkapan sangat
mempengaruhi lamanya hujan berlangsung. Sehingga
diketahui bahwa durasi hujan pada daerah yang cukup
luas jarang berintesitas tinggi tetapi berlangsung
dengan durasi yang cukup panjang.

3.4. Analisa Curve Number Sub-DAS Balangan


dan Sub-DAS Tabalong

Gambar Debit Maksimum DAS

Pada gambar terlihat bahwa sub-DAS TB1 untuk


periode ulang tiga tahun memiliki debit rencana yang
lebih besar dibandingkan dengan sub-DAS yang
lainnya, karena sub-DAS TB1 memiliki luas yang
lebih besar dibandingkan dengan sub-DAS lainnya.

Gambar Curve Number DAS Nagara

Setiap curve number yang didapat dengan


metode SCS-CN pada tiap tata guna lahan dibagi
menurut perbandingan luas masing-masing tata guna
lahan dengan luas keseluruhan sub-DAS. Untuk subDAS Balangan didapat nilai curve number rata-rata
sebesar 73,31, sedangkan nilai curve number untuk
sub-DAS Tabalong adalah 76,67.
Gambar Debit Maksimum Outlet

Outlet-outlet merupakan titik pengumpul dari


jaringan sungai yang merupakan akumulasi dari debit
aliran sungai sebelumnya. Dari gambar dapat dilihat

bahwa outlet OTB1 menghasilkan debit yang besar


untuk periode ulang tiga tahun dibandingkan dengan
outlet-outlet lainnya dan outlet OTB1 memerlukan
waktu yang lebih lama untuk mencapai debit puncak.
Besarnya debit banjir rencana dan lamanya waktu
untuk mencapai debit puncak pada OTB1 karena
outlet tersebut memiliki luas sub-DAS yang besar dan
panjang aliran sungai yang lebih panjang dari subDAS lainnya

Gambar Grafik Debit Puncak Outlet Skenario 2


Secara keseluruhan debit puncak dari masingmasing periode ulang untuk perubahan skenario 1
lebih kecil dibandingkan dengan kondisi yang
sebenarnya. Perubahan tata guna lahan skenario 2
mengasumsikan pertumbuhan luas hutan pada masingmasing sub-DAS dan luas pemukiman serta
pertambangan tetap . Dari hidrograf dapat dilihat
bahwa debit yang dihasilkan kecil dibandingkan
dengan kondisi sebenarnya. Asumsi tata guna lahan
skenario 2 dapat digunakan dalam upaya
penanggulangan
banjir
di
sekitar
kawasan
pertambangan PT. Adaro.

Gambar Waktu Puncak Outlet Sub-DAS

Gambar 4.14 menunjukan waktu yang


dibutuhkan untuk mencapai debit puncak masingmasing outlet sub-DAS. Diketahui bahwa outlet TB1
dan BL4 merupakan outlet yang membutuhkan waktu
yang lebih lama dibandingkan dengan outlet-outlet
lainnya karena outlet TB1 dan BL4 memiliki jalur
sungai yang panjang.

4.

Kesimpulan dan Saran

4.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil perhitungan dan analisa yang
telah dilakukan, maka didapatkan kesimpulan untuk
penelitian Tugas Akhir ini, yaitu:

3.6. Analisa Debit Banjir Rencana Skenario


Perubahan Tata Guna Lahan

1.

Curah hujan rencana periode ulang 3, 5, 10,


50 dan 100 tahun untuk sub-DAS Balangan
adalah 97 mm, 103,1 mm, 109,9 mm, 122,1
mm dan 126,6 sedangkan untuk sub-DAS
Tabalong 99,3 mm, 109 mm, 120,1 mm,
141,4 mm dan 149,6 mm.

2.

Luas sub-DAS dan panjang aliran sungai


mempengaruhi besarnya debit banjir rencana
yang dihasilkan, semakin besar sub-DAS dan
panjang aliran sungai maka semakin besar
debit yang dihasilkan, begitu juga sebaliknya.

3.

Luas sub-DAS dan panjang aliran sungai


mempengaruhi waktu untuk mencapai debit
puncak, semakin besar sub-DAS dan panjang
aliran sungai maka akan semakin panjang
waktu yang dibutuhkan untuk mencapai
puncak.

4.

Debit
banjir
rencana
pada
outlet
TB1,TB2,BL1,BL2,BL3,dan BL3 secara
berturut-turut dalam mm adalah periode
ulang 3 tahun 510, 47, 21, 60, 161, dan 371,
periode ulang 5 tahun 602, 58, 28, 83, 197,
dan 439, periode ulang 10 tahun 715, 72, 38,
1123, 241, dan 522, periode ulang 50 tahun

Analisa perubahan tata guna lahan bertujuan


untuk melihat seberapa besar peranan beberapa
tutupan lahan seperti hutan, pemukiman dan
pertambangan terhadap debit yang dihasilkan pada
outlet-outlet outlet yang telah ditentukan sebelumnya
(Ali, Aslam, & Khan, 2010).

Gambar Grafik Debit Puncak Outlet Skenario 1

McCuen, R. (1982). A Guide to Hydrologic Analysis Using


SCS Methods. New Jersey: Prentice Hall Inc.
Englewood Cliffs.

952, 102, 60, 180, 341, dan 699, periode


ulang 100 tahun, 1049, 114, 69, 209, 383,
dan 772, periode ulang 200 tahun 1144, 126,
79, 239, 426 dan 844.
5.

6.

Petty, G. (1995). The Status of Satellite-Based Rainfall


Estimation Over Land. Remote Sensing of
Environment , 125-137.

Ketika terjadi hujan dengan intensitas yang


besar perlu dilakukan penanggulangan pada
outlet OTB1 dan OBL4, karena outlet
tersebut merupakan jaringan pengumpul
aliran sungai.

Risyanto. (2007). Aplikasi HEC-HMS Untuk Perkiraan


Hidrograf Aliran Di DAS Ciliwung Bagian Hulu.
Bogor: IPB.
Saraswati, N. (2012). Analisa Potensi Luapan Air Sungai
Jragung Pada Lokasi Jembatan Kereta Api Tegowanu
- Gubug. Bandung: Institut Teknologi Bandung.

Terjadi kenaikan debit pada skenario 1


sebesar rata-rata 65,6 % dan terjadi
penurunan debit pada skenario 2 sebesar ratarata 35,5 %.

Sulung, G. (2012). Probabilitas Kejadian Hujan Maksimum


Untuk Perencanaan Saluran Air Pada Tambang
Terbuka (Studi Kasus: PT Adaro Indonesia).
Bandung: Institut Teknologi Bandung.
Suyono. (2003). Hidrologi Untuk Pengairan. Jakarta: PT
Pradnya Paramita.

4.2. Saran
Berikut adalah saran untuk penelitian
selanjutnya berdasarkan penelitian yang telah
dilakukan :

1.

Tunning data debit pengukuran dengan debit


keluaran model HEC-1, dengan cara
mencocokan parameter-parameter model
HEC-1 dengan kondisi lapangan.

2.

Pengkorelasian data TRMM dengan


data observasi di beberapa titik
daerah kajian.

3.

Perhitungan hidrolik sistim drainase kawasan


PT.Adaro dengan menggunakan model HECRAS.

REFERENSI
Aldrian, E., & R. D., S. (2003). Identification of Three
Dominant Rainfall Regions Within Indonesia and
Their Relationship to Sea Surface Temperature. Int. J.
Climatol , 23:12,1435-1452.
Ali, M., Aslam, I., & Khan, Z. (2010). Simulation of the
Impact of Landuse Change on Surface Runoff of Lai
Nullah Basin in Islamabad, Pakistan. Landscape and
Urband Planning .
As-Syakur, A., Tanaka, T., Prasetia, R., Swardika, I., &
Kasa, I. (2011). Comparison of TRMM Multisatellite
Precipitation Analysis (TMPA) Products and DailyMonthly Gauge Data Over Bali. International Journal
of Remote Sensing .
Feidas, H. (2010). Validation of Satellite Rainfall Products
Over Greece. Theoretical and Applied Climatology ,
193-216.
Irianto, S. (2000). Kajian Hidrologi Daerah Aliran Sungai
Ciliwung Menggunakan Model HEC-1. Bogor: Institut
Pertanian Bogor.