Anda di halaman 1dari 21

BAB 6

RF AMPLIFIER

I. TUJUAN
1.
2.
3.
4.

Memahami prinsip dan tujuan dari konversi impedansi


Memahami pengoperasian RF amplifier
Mengukur respons frekuensi dari RF amplifier
Melakukan simulasi Bandpass filter, Low noise amplifier, dan RF Amplifier dengan
menggunakan computer

II. DASAR TEORI


Dalam perancangan rangkaian frekuensi tinggi, banyak faktor-faktor yang tadinya
diabaikan di rangkaian frekuensi rendah harus diperhatikan; sebagai contoh, pengaruh
dari induktansi dan kapasitansi dari kabel dan layout rangkaian.Pengaruh pengaruh ini
biasanya diabaikan dalam perancangan dan penggunaan rangkaian frekuensi rendah.
Komponen-komponen rangkaian yang umum seperti komponen aktif dan pasif dalam
rangkaian frekuensi tinggi akan membuat karakteristik berbeda yang berpengaruh pada
ketidakstabilannya.
Untuk meminimalisir kesulitan dalam merancang rangkaian frekuensi tinggi, cara
terbaiknya adalah dengan memilih komponen-komponen yang tepat untuk digunakan.
Sebagai contoh, jika kita menggunakan komponen-komponensurface-mounted device
(SMD) dalam rangkaian frekuensi tinggi, pengaruh dari kapasitansi dan induktansi dapat
jauh dikurangi. Sama seperti jika SMDs dengan Q tinggi digunakan, pengaruh dari
induktansi ekuivalen dan kapasitansi dapat dikurangi.Dalam tahap pembuatan layout
rangkaian, jarak antar komponen harus diusahakan sependek mungkin.
Disamping pengaruh-pengaruh yang telah disebutkan di atas, banyak faktor-faktor
lain seperti gain tegangan, kestabilan, matching impedansi, dan noise figure harus
diperhatikan dalam merancang.Faktor-faktor ini biasanya diabaikan dalam rangkaian
frekuensi rendah. Karena komponen-komponen rangkaian

membuat karakteristik-

karakteristik impedansi yang berbeda tergantung pada frekuensi pengoperasian,


karakteristik

dari

setiap

komponen

harus

diperhatikan

dalam

merancang
1

rangkaian.Matching impedansi adalah faktor utama dari transfer daya maksimum dan
ketahanan terhadap noise.Noise figure adalah pengukuran kemampuan dari ketahanan
rangkaian frekuensi tinggi terhadap noise. Tiap-tiap tiga faktor ini akan berpengaruh pada
kerja keseluruhan rangkaian.

Gambar 6-1 Blok diagram dari Amplifier RF


Sebuah modul RF terdiri dari Amplifier RF, mixer, osilator local, modulator,
dan demodulator.Performansi dari modul RF adalah faktor penting sebagai penentu
kualitas dari transceiver.
Gambar 6-1 menunjukkan diagram blok dari amplifier RF yang terdiri dari
dua bandpass-filter dan sebuah amplifer. Bandpass filter pertama menghilangkan
frekuensi yang tidak diinginkan dari sinyal yang diterima antenna. Amplifier
digunakan untuk menguatkan sinyal output dari bandpass-filter. Bandpass-filter kedua
digunakan untuk menghilangkan sinyal yang tidak diinginkan juga. Perbedaan
diantara kedua filter ini adalah bandwidth dari filter pertama lebih lebar daripada filter
kedua. Dengan kata lain, nilai Q dari filter pertama lebih kecil dari filter kedua.
Desain ini untuk menghindari atenuasi berlebih ketika sinyal melewati filter.Jadi,
bandpass-filter tidak hanya bekerja untuk menyaring tetapi juga melakukan matching
impedansi.
Amplifier RF bekerja pada frekuensi tertinggi dari receiver. Sensitivitas
receiver bergantung pada kemampuan bekerja amplifier RF. Sebagai tambahan,
banyak karakteristik-karakteristik seperti bandwidth, matching impedansi, gain, dan
noise figure (NF) harus diperhatikan dalam merancang amplifier RF.
2

Seperti disebutkan di atas, tujuan utama dari matching impedansi adalah untuk
transfer daya maksimum. Dalam rangkaian DC, jika resistansi beban sama dengan
sumber resistansi, daya maksimum akan diantarkan ke beban. Dalam rangkaian AC,
daya maksimum akan diantarkan jika impedansi beban sama dengan sumber
impedansi. Karena proses perhitungan dari matching impedansi rumit, pertama kita
menyederhanakan network yang rumit menjadi rangkaian ekuivalen yang lebih
sederhana dengan proses transformasi. Saat ini kita membahas prinsip dari konversi
impedansi ke komponen-komponen pasif.
Dalam

rangkain

resonansi

LC,

hubungan

terhadap

sering

ditemukan.Kualitas faktor Q dari komponen reaktif (inductor dan kapasitor) adalah


pengukuran kemampuan menyimpan energy. Q dari sebuah komponen atau rangkaian
adalah parameter penting dan didefinisikan dengan:
Q = energi yang disimpan/ Energi disipasi = daya inductive/daya resistive (6-1)

Gambar 6-2 Rangkaian Ekuivalen dari komponen penyimpan energy


Gambar 6-2(a) menunjukkan rangkaian seri RL dan gambar 6-2(b)
menunjukkan sebuah rangkaian RL pararel. Komponen penyimpan energy Xs dan Xp
bisa berupa inductor ataupun kapasitor. Dari defenisi, nilai Q dari komponen
diberikan dalam bentuk
Qs= Is2Xs/Is2Rs = Xs/Rs

(6-2)

Qp= (Vp2/Xp)/Vp2/Rp = Rp/Xp


Nilai

adalah

parameter

(6-3)
penting

dalam

desain

rangkaian.Untuk

mengkonversi rangkaian seri dari gambar 6-2(a) ke rangkaian ekuivalen pararel dari
3

gambar 6-2(b), vice versus, impedansi dari kedua rangkaian adalahsama. Kita dapat
menulis dengan persamaan
Rs + jXs = Rp (jXp)/(Rp+jXp)

(6-4)

Rs + jXs = RpXp2/(Rp2+Xp2) + j(Rp2Xp)/(Rp2+Xp2)

(6-5)

Atau

Jika rangkaian seri ekivalen dengan rangkaian pararel (konversi pararel ke


seri), komponen resistif dari impedansi seri harus sama dengan komponen resistif dari
impedansi pararel. Begitu juga dengan komponen reaktif harus sama keduanya. dari
persamaan komponen resistif kita dapatkan
Rs = RpXp2/(Rp2+Xp2) = Rp/(1+(Rp/Xp)2)

(6-6)

Dari persamaan komponen reaktif, didapatkan


Xs = Rp2Xp/(Rp2+Xp2) = Xp/(1+(Xp/Rp)2)

(6-7)

Jika kita anggap Rp/Xp = Qp, maka


Rs = Rp/ 1+Qp2

(6-8)

Xs= Xp/(1+1/Qp2)

(6-9)

Jika Qp 10, maka Xp=Xs. Dari persamaan di atas, kita menyimpulkan


bahwa Xp dan Xs sama ketika Qs 10 dan Qp 10 baik pada konversi rangkaian seri
ke pararel maupun pararel ke seri, sebaliknya bagian resistif menjadi lebih lebar
dalam konversi seri ke pararel.
Lebih jauh lagi kita dapat memodelkan komponen pasif dengan menggunakan
prinsip dari konversi impedansi. Untuk membangun sebuah model komponen pasif
dari inductor ataupun kapasitor pada frekuensi tinggi, kita dapat menggunakan
network analyzer untuk mengukur frekuensi resonansi dari network, dan menemukan
induktansi ekuivalen, kapasitansi, dan resistansi dari frekuensi resonansi seri untuk
kapasitor.Begitu juga halnya, kita dapat menemukan induktansi ekuivalen,
kapasitansi, dan resistansi dari frekuensi resonansi pararel untuk inductor. Cara lain
untuk membuat modeling komponen adalah dengan mengukur impedansi
menggunakan LCR meter. Model bangunan dapat digunakan untuk mempelajari
4

karakteristik dari komponen rangkaian atau untuk mencatat parameter yang


didapatkan dari model ke sebuah program seperti Pspice, Compact, atau HP EEsof
untuk simulasi computer.
Secara ringkas, rangkaian-rangkaian tuned pada amplifier RF adalah filter
filter bandpass. Dua faktor penting, matching impedansi dan filter Q, harus
diperhatikan dalam mendesaian rangkaian. Karena impedansi sumber sinyal dan
ouput impedansi dari amplifier RF cukup kecil (biasanya 50), filter Q akan
dikurangi oleh mismatch dari impedansi dari bagian ke bagian (sumber ke filter
pertama ke amplifier ke filter kedua). Q yang lebih rendah menambahkan bandwidth
dari filter dan mengurangi kemampuan menyaring receiver. Untuk mengatasi masalah
ini, impedansi yang lebih rendah harus ditambahkan dengan menggunakan metode
konversi impedansi.
Gamb

ar 6-3 Rangkaian tuned Tapped-C


Gambar 6-3 menunjukkan

sebuah rangkaian tunedtapped-capasitor

dan

rangkaian ekuivalennya. Rangkaian ini menyediakan nilai yang lebih tinggi dari
impedansi ekuivalen untuk Q rangkaian lebih tinggi. Menurut prinsip konversi
impedansi, sumber resistansi Rs dari gambar 6-3(a) ditambahkan dengan resistansi
ekuivalen Rin dari gambar 6-3(b), maka didapatkan Q yang lebih tinggi. Disamping
rangkaian tuned tapped-C, rangkaian tuned lain dengan tapped-induktor (tapped-L)
juga bekerja dengan tujuan yang sama.
Rangkaian tuned adalah bandpass filter pada umumnya. Dalam desain
rangkain praktis, sangat sulit mendesain sebuah rangkaian single-tuned dengan
5

respons datar dan roll-off yang tajam. Dalam kasus seperti itu, rangkaian doubletuned dengan coupling yang sesuai dapat digunakan untuk meningkatkan performansi
dari rangkaian tuned. Rangkaian tuned pasangan dapat diklasifikasikan dalam tipetipe berikut: pasangan kapasitif, pasangan induktif, pasangan transformer, dan
pasangan aktif. Dengan rangkaian pasangan transformer, sinyal dari coil utama
dipasangkan dengan coil kedua.Rangkaian pasangan aktif juga disebut rangkaian
pasangan transistor karena rankaian ini sering didapatkan dengan transistor. Karena
konfigurasi rangkaian dari pasangan kapasitif atau induktif adalah sederhana, kedua
tipe coupling ini biasanya digunakan dalam desain rangkaian dari rangkaian tuned.

Gambar 6-4 Rangkaian double-tuned dengan pasangan induktif


Gambar 6-4 menunjukkan sebuah rangkaian double-tuned dengan pasangan
induktif. Induktor coupling L12 memasangkan input dan output rangkaian resonansi.
Nilai optimum dari inductor coupling ditentukan dengan persamaan
L12= Q1L
Dimana L merupakan nilai induktansi dari setiap rangkaian resonansi, dan Q1
adlah nilai Q beban. Kedua rangkaian resonansi ini harus diisolasi secara lengkap,
yaitu, jarak yang cukup antara dua coils atau cover pelindung.

Gambar 6-5 Rangkaian filter Bandpass Praktis


Rangkaian dari gambar 6-5 adalah filter bandpass praktis. Rangkaian tuned
tapped-C menambahkan impedansi ekuivalen dan rangkaian Q. tujuan utama dari
bandpass filter adalah menyaring sinyal yang tidak diinginkan pada antenna dan
melewatkan frekuensi yang diinginkan dari 144 MHz ke 146 MHz. karena stage
immediate-frequency dari receiver termasuk sebuah filter Q tinggi, bandpass filter
didesain untuk melewatkan bandwidth yang lebih lebar. Untuk menentukan nilai
kapasitor dan inductor, kita anggap fo= 145 MHz dan BW= 20 MHz, nilai filter Q
dapat dihitung dengan
Q= fo/BW = 145/20 = 7,25

(6-14)

Jika impedansi ekuivalen input Rin= 1K, C1=C3, C2=C4 dan L1=L2, nilai
kapasitansi dan induktansi dihitung dengan persamaan di bawah:
C1= 1/2RinBW = 1/2x1Kx20x106 = 8 pF

(6-15)

L1=1/o2C = 1/(2xfo)2xC1 = 1/ (2x145x106)2xC1 = 150,7 nH

(6-16)

Qp =

( Q2+ 1 ) 50 1 = 1.3 = oC2R


1K

(6-17)

Maka
C2= Qp/ (2x145x106)x50 = 28,4 pF

(6-18)

Untuk filter kedua, nilai induktansi dan kapasitansi dapat ditentukan seperti
sikap. Frekuensi tengah dari kedua filter adalah sama. Nilai Q dari filter kedua lebih

besar daripada filter pertama. Dengan kata lain, filter kedua didesain untuk beroperasi
pada bandwidth yang lebih sempit daripada filter pertama.

Gambar 6-6 Networks Dual-port


Konfigurasi-konfigurasi rangkaian dari amplifier transistor pada umumnya
diklasifikasikan dalam bentuk berikut: Common emitter (CE), common base (CB),
dan common collector (CC). Hal ini dapat dilihat pada gambar 6-6.Biasanya,
amplifier CE berfungsi sebagai penguat tegangan, sebuah amplifier CB adalah buffer
arus, dan sebuah amplifier CC adalah sebuah buffer tegangan.Dalam mendesain
sebuah amplifier, faktor-faktor dari matching impedansi, noise figure, dan kestabilan
harus diperthatikan.Selain itu, hal tersebut merupakan yang paling penting dalam
membuat model dari komponen aktif dalam mempelajari rangkaian frekuensi
tinggi.Pemodelan sangat berguna untuk meningkatkan matching impedansi dan
kestabilan.Ini adalah tiga langkah dalam membuat model dari komponen
aktif.Pertama adalah menemukan parameter dc dengan manggambar kurva
karakteristik I-V.Yang kedua adalah mengukur parameter S pada frekuensi tinggi
menggunakan

network

analyzer.Langkah

ketiga

adalah

mensimulasi

dan

memodifikasi parameter yang diukur dengan simulasi komputer.

Gambar 6-7 Mensimulasi rangkaian untuk amplifier low noise


Gambar 6-7 menunjukkan amplifier noise rendah.Dalam sebuah amplifier,
level noise yang kecil dapat menambah sensitivitas receiver. Noise yang amplifier
tambahkan ke sinyal output disebut noise faktor (F). Ketika noise faktor diubah dalam
bentuk desibels, maka ia disebut dengan noise figure (NF) dan ini adalah sebuah
perhitungan yang membandingkan input rasio signal terhadap noise terhadap rasio
daya dari signal terhadap noise. Noise figure dapat dinyatakan dengan:
NF

= 10 log [(Si/Ni)/So/No]
= 10 log Si/Ni 10 logSo/No

(6-19)

Dimana Si merupakan daya sinyal input, Ni adalah daya noise input, So adalah
daya sinyal output, dan No adalah daya noise output. Rasio (Si/Ni)/(So/No) disebut
noise faktor F dari amplifier. Dalam sistem aliran, keseluruhan faktor dari noise bisa
didapatkan dengan:
Ftotal = F1 + (F2-1)/G1 + (F3-1)/G1G2 + + Fn-1/G1G2Gn

(6-20)

Dimana G adalah gain-gain daya dan F adalah faktor noise.Ketika gain-gain


daya sangat besar, keseluruhan faktor dari noise nyaris semua dapat ditentukan dari
faktor noise amplifier pertama sebab persaman (6-20) cukup kecil untuk
diabaikan.Inilah alasan mengapa amplifier RF harus menjadi sebuah amplifier noise
rendah. Dalam rangkaian gambar 6-7, inductor L, sebuah radio frequency chock
9

(RFC), digunakan untuk menyediakan gain tegangan yang besar. Untuk mengatasi
masalah matching input dan output dari amplifier, network analyzer dibutuhkan untuk
mengukur parameter S dan kemudian nilai-nilai impedansi dapat dicari dengan Smith
Chart. Berdasarkan nilai-nilai impedansi, kita dapat melengkapi desain dari rangkaian
matching impedansi.

Gambar 6-8 Pensimulasian rangkaian ke Amplifier RF


Gambar 6-8 menunjukkan sebuah rangkaian amplifier RF. Filter bandpass
pertama dibentuk dari kapasitor C1,C2,C3, dan C4, dan inductor L1 dan L2.
Transistor dan Resistor R1 dan R2 membentuk sebuah amplifier aktif.Capasitor C5,
C6, C7, C8, dan inductor L3 dan L4 membentuk sebuah filter bandpass
kedua.Induktor L5 dan L6 digunakan sebagai matching impedansi input dan output
berturut-turut. Kedua filter ini memiliki frekuensi yang sama pada resonansi, tapi nilai
Q nya berbeda.

III.PERALATAN DAN KOMPONEN


12345-

Module KL-93051
Module KL-93052
Spectrum Analyzer
Probe Frekuensi tinggi
Generator sinyal RF atau Sistem Test Komunikasi Radio

10

IV. LANGKAH KERJA

Percobaan 6-1 Respons Frekuensi Linear dari Amplifier RF


1. Susunlah alat sesuai dengan gambar 6-9

Gambar 6-9 Ilustrasi dari hubungan sistem


2. Atur level output dari generator sinyal RF ke -60 dBm, sinyal pemodulasi OFF. Ukur dan
catat level daya dari RP1, RP2, dan RP3 dari tiap frekuensi yang diterima pada tabel 6-1.
3. Dari hasil pada tabel, tandai respons frekuensi linear dari amplifier RF pada gambar 6-13

Percobaan 6-2 Respons Frekuensi Non Linear dari Amplifier RF


1. Susun alat sesuati dengan gambar 6-9
2. Atur level output dari generator sinyal RF ke -10 dBm, sinyal pemodulasi OFF. Ukur dan
cata level daya dari RP1, RP2, dan RP3 dari tiap frekuensi yang diterima pada table 6
3. Dari hasil pada table 6-2, tandai respons frekuensi linear dari amplifier RF pada gambar
6-14.
Percobaan 6-3 Simulasi Bandpass Filter

11

1. Buka Design Center 6.x for windows dan buka Schematics window
2. Menggunakan perintah-perintah menu Draw, lengkapi rangkaian bandpass filter dari
gambar 6-10
3. Pilih Analysis/Setup/AC Sweep untuk melengkapi setting berikut: AC Sweep Type =
Octave, Start Freq. = 100 MEG, End Freq = 1000 MEG, dan Pts/octave = 101. Jika
sudah, tutup kotak dialog setup.
4. Pilih Analysis/ Simulate/Probe untuk memulai pensimulasian computer. Dari Trace/ Add
Traces menu, ketik V(5) / V(1) di Trace Command, dan klik OK.

Ga
mbar 6-10 Pensimulasian rangkaian banpass filter.
5. Dari Plot / menu x Axis Settings, ganti Data Range ke User Defined, dan atur Start Freq =
100 MHz dan End Freq = 1 GHz. Respons frekuensi dari filter bandpass akan tampak
pada layar.
6. Dari menu Tools, geser kursor ke the peak point dan tandai frekuensi dan amplitudo dari
puncak dengan menggunakan Tools/ Label/ Marker function. Frekuensi tengah adalah
sekitar 145.00 MHz dan amplitudo mendekati 0.5 V. tandai frekuensi 3 dB (amplitudo
sekitar 0.35 V)
7. Tandai grafik pada gambar 6-15 atau print dengan printer.

12

Gambar 6-11 Mensimulasi rangkaian Amplifier noise rendah

Percobaan 6-4 Simulasi Amplifier Noise Rendah


1. Buka Design Center 6.x for windows dan buka Schematics window
2. Dengan menggunakan perintah menu Draw, lengkapi rangkaian sesuai gambar 6-11. Atur
V2 = DC3V, dan V1= VSIN dengan amplitudo VAMPL = 1 mV, tegangan offset VOFF =
0, dan frekuensi Freq = 145 MEG
3. Pilih Analysis / Setup / AC Sweep untuk melengkapi setting berikut: AC Sweep Type =
Octave, Start Freq. = 1 MEG, End Freq. = 1000 MEG, Pts/octave = 101, Noise Analysis =
Noise Enable, Output Voltage=V(7), I/V Source= V1, Interval=30. Kemudian tutup
dialog box.
4. Pilih Analysis / Simulate / Probe untuk memulai analisis AC. Dari Trace / menu Add
Traces, ketik V(7)/ V(1) pada Trace Command dan klik OK. Respons frekuensi dari
amplifier noise rendah akan tampil pada layar.
5. Tandai hasil di gambar 6-16 atau print dengan printer.
6. Pilih Window / New untuk membuka window baru. Dari Trace / menu Add Traces, ketik
VdB(INOISE) dan VdB(ONoise) kemudian klik OK. Input dan output daya noise dari
amplifier noise rendah akan tampil pada layar.
7. Tandai hasil di gambar 6-17 atau print dengan printer.
8. Dari menu Plot, ganti AC analysis ke Transient analysis. Dari Trace / menu Add Traces,
ketik V(7) / V(1) in Trace Command untuk mensimulasi respons transient dari sinyal
input dan output.
13

9. Dari Plot / menu x Axis Settings, ganti Processing Options ke Fourier Data Range
menjadi User Defined, Start Freq = 100 MHz, dan End Freq. = 400 MHz. spectrum
frekuensi dari amplifier noise rendah akan muncul pada layar.
10. Tandai hasil pada gambar 6-18 atau print dengan printer.

Percobaan 6-5Simulasi Amplifier RF


1. Buka Design Center 6.x for windows dan buka Schematics window
2. Dengan menggunakan perintah menu Draw, lengkapi rangkaian seperti pada gambar 612. Atur V1 = VSIN dengan tegangan offset VOFF=0, amplitudo VAMPL = 1 mV, dan
frekuensi FREQ=145 MHz. atur V2= DC 3V. Putuskan sambungan komponen VN, CN,
dan RN

Gambar 6-12 Pensimulasian rangkaian Amplifier RF


3. Pilih Analysis / Setup / AC Sweep untuk melengkapi setting berikut: AC Sweep Type =
Octave, Start Freq= 10 MEG, End Freq = 1000 MEG, Pts/octave = 101, dan Transient
Analysis / Print Step = 1 ns dan Final time = 500 ns. Lalu tutup setup dialog box.

14

4. Pilih Analysis / Simulate / Probe untuk memulai analisis AC. Dari Trace /menu Add
Traces, ketik V(5) / V(1), V(13) / V(5) dan V(13) / V(1) di Trace Command. Kemudian
klik OK.
5. Dari Plot/ menu x Axis Settings, ganti Data Range ke User Defined, dan atur Start Freq. =
10 MHz dan End Freq= 1 GHz. Kurva respons frekuensi dari amplifier RF akan tampil
pada layar.
6. Tandai puncak dan titik-titik -3dB dari kurva V(13) / V(1) menggunakan Tools / Label /
Marker function
7. Tandai hasil pada gambar 6-19 atau print dengan printer.
8. Dari Plot / menu y Axis Settings, ganti Scale to Log dan klik OK.
9. Tandai hasil pada gambar 6-20 atau print dengan printer.
10. Dari menu plot, ganti AC analysis menjadi Transient Analysis. Dari Trace/ menu Add
Traces, ketik V(1) dan V(11) nodespada Trace Command untuk mengamati respons
transient dari sinyal input dan output dari Amplifier RF.
11. Ganti range x Axis Settings dari 0s sampai 300ns. Tandai hasil pada gambar 6-21 atau
print dengan printer.
12. Ketik V(13) node pada Add command. Dari Plot / menu x Axis Settings, ganti Processing
Option to Fourier Data Range menjadi User Defined dan atur Start Freq. = 100 MHz dan
End Freq. = 300 MHz. Spectra daya dari sinyal pada nodes akan muncul di layar.
13. Tandai hasil pada gambar 6-22 atau print dengan printer.
14. Exit Probe. Gunakan Schematics / perintah-perintah menu Draw, tambah komponenkomponen VN, RN, dan CN ke rangkaian yang ditunjukkan gambar 6-12. Berikan noise
ke base transistor (node 6)
15. Pilih Analysis / Setup / AC Sweep untuk melengkapi pengaturan: Noise Analysis =
Enable, Output Voltage= V(8), I/V Source = VN, dan Interval=30. Cancel Transient
Analysis. Kemudian tutup setup dialog box.
16. Pilih Analysis / Simulation / Probe untuk memulai simulasi computer. Dari Trace / menu
Add Traces, ketik VdB(INOISE) dan VdB(ONoise) pada Trace Command kemudian klik
OK. Spectra daya noise dari RF sinyal input dan output akan tampak pada layar.
17. Dari Plot / menu y Axis Settings, ganti Scale to Log. Dari Plot / menu x Axis Settings,
ganti Data Range menjadi User Defined dan atur range dari 100 MHz sampai 200 MHz.
dari menu Tools, geser kursor ke frekuensi sekitar 145 MHz dan tandai itu.
18. Tandai hasil pada gambar 6-23 atau print dengan printer.
19. Pilih jendela / baru untuk membuka jendela baru. Dari tanda / Tambahkan menu jenis
VdB (INOISE) dan VdB (ONOISE) dan kemudian klik OK. Keuntungan kebisingan
penguat RF sekarang harus ditampilkan di layar. Dari Menu pengaturan Plot / sumbu x ,
perubahan data Rentang untuk Ditetapkan Pengguna, dan menetapkanMulaiFrekuensi=
100 MHz dan Akhir Frekuensi = 200 MHz.
15

20. Dari menu

tools,

pindahkan kursor ke frekuensi sekitar 145 MHz

danmenandainya.

HasilPlot pada Gambar. 6-24 atau titik dengan printer.

16

V. HASIL PERCOBAAN

Gambar rangkaian Bandpass Filter

Gambar sinyal hasil dari simulasi

17

Gambar rangkaian untuk amplifier low noise

Gambar sinyal hasil dari simulasi

18

VI.

ANALISA DATA

19

VII.

KESIMPULAN

20

DAFTAR PUSTAKA

RF AMPLIFIER (Komunikasi Analog), Semester VI, Praktikum Sistem Transmisi


Radio, 2013, Politeknik Negeri Medan, Medan.

21

Anda mungkin juga menyukai