Anda di halaman 1dari 24

LIDAR (Light Detection And Ranging) : Sebuah Teknologi

Geospasial

LIDAR

(Light

Detection

and

Ranging)

adalah

sebuah

teknologi sensor jarak jauh menggunakan properti cahaya yang


tersebar untuk menemukan jarak dan informasi suatu obyek
dari target yang dituju. Metode untuk menentukan jarak suatu
obyek adalah dengan menggunakan pulsa laser. Seperti
teknologi radar, yang menggunakan gelombang radio, jarak
menuju obyek ditentukan dengan mengukur selang waktu
antara transmisi pulsa dan deteksi sinyal yang dipancarkan.
Teknologi LIDAR memiliki kegunaan dalam bidang geomatika,
arkeologi, geografi, geologi, geomorfologi, seismologi, fisik
atmosfer, dan lain-lain. Sebutan lain untuk LIDAR adalah ALSM
(Airborne Laser Swath Mapping) dan altimetri laser. Akronim
LADAR (Laser Detection and Ranging) sering digunakan dalam
konteks militer. Sebutan radar laser juga digunakan tapi tidak

berhubungan karena menggunakan cahaya laser dan bukan


gelombang

radio

konvensional.

yang

LIDAR

merupakan

menggunakan

dasar
cahaya

dari

radar

inframerah,

ultraviolet, tampak, atau dekat dengan objek gambar dan


dapat digunakan untuk berbagai sasaran, termasuk bendabenda non-logam, batu, hujan, senyawa kimia, aerosol, awan
dan

bahkan

molekul tunggal.

Sebuah

sinar

laser

dapat

digunakan untuk memperoleh fitur peta fisik dengan resolusi


sangat tinggi. LIDAR telah digunakan secara luas untuk
penelitian

atmosfer

dan

meteorologi.

Instrumen

LIDAR

dipasang ke pesawat dan satelit yang digunakan untuk survei


dan pemetaan . Contoh terkini adalah Eksperimen NASA
Advanced

Research

diidentifikasi

oleh

Lidar.
NASA

Di

samping

sebagai

itu

teknologi

LIDAR

telah

kunci

untuk

memungkinkan pendaratan presisi paling aman untuk masa


depan robot dan kendaraan pendaratan berawak ke bulan.
Selain itu, ada berbagai macam aplikasi dari LIDAR, seperti
yang sering disebutkan dalam Program Dataset Nasional LIDAR,
USA .

Pertanian dan Perkebunan

LIDAR dapat digunakan untuk membantu petani menentukan


area mana dari bidang lahan mereka untuk menerapkan
persebaran pupuk. LIDAR dapat membuat peta topologi dari
ladang dan mengungkapkan kelerengan dan paparan sinar
matahari dari tanah pertanian. Para peneliti di Agricultural
Research

Service

menyebut

kan,

dengan

LIDAR

mampu

memperoleh dataset informasi topologi dengan kondisi tanah


pertanian dari tahun-tahun sebelumnya. Dari informasi ini,
peneliti bisa menentukan kategori tanah pertanian menjadi
kelas tinggi, menengah, atau rendah untuk menghasilkan
zona persebaran kondisi lahan. Teknologi ini berharga untuk
petani karena menunjukkan daerah mana untuk menerapkan
penyebaran pupuk guna mencapai hasil panen tertinggi.

Arkeologi
LIDAR

memiliki

banyak

aplikasi

dalam

bidang

arkeologi,

termasuk membantu dalam perencanaan survey lapangan,


pemetaan

fitur

bawah

gambaran

luas-detail,

kanopi
dan

hutan,

lain-lain.

dan
LIDAR

memberikan
juga

dapat

membantu arkeolog untuk membuat model elevasi digital


(DEM) resolusi tinggi dari situs-situs arkeologi, yang dapat

mengungkapkan

mikro-topografi

yang

tersembunyi

oleh

vegetasi. LIDAR dan produk turunannya dapat dengan mudah


diintegrasikan ke dalam Sistem Informasi Geografis (SIG) untuk
analisis dan interpretasi. Sebagai contoh di Fort Beausejour
Fort Cumberland National Historic Site, Kanada, fitur arkeologi
yang belum ditemukan sebelumnya telah berhasil dipetakan
yang berhubungan dengan pengepungan Benteng pada tahun
1755. Fitur yang tidak bisa dibedakan di lapangan atau melalui
fotografi udara diidentifikasi dengan overlay hillshades dari
DEM dibuat dengan pencahayaan dari berbagai sudut. Dengan
LIDAR, kemampuan untuk menghasilkan resolusi tinggi dataset
cepat dan relatif murah. Selain efisiensi, kemampuannya untuk
menembus kanopi hutan telah memberikan penemuan fitur
yang

tidak

dapat

dibedakan

melalui

metode

geospasial

tradisional dan sulit dijangkau melalui survei lapangan.

Biologi dan Konservasi


LIDAR banyak diaplikasikan di bidang kehutanan. Kanopi
ketinggian, pengukuran biomassa, dan luas daun semua bisa
dipelajari dengan menggunakan sistem LIDAR. Peta topografi
juga dapat dihasilkan dengan mudah dari LIDAR, termasuk

untuk penggunaan dalam varian produksi dari peta kehutanan.


Contoh lain, Liga Penyelamatan Redwood sedang melakukan
sebuah proyek untuk memetakan tinggi pohon di pantai utara
California. LIDAR memungkinkan penelitian para ilmuwan untuk
tidak hanya mengukur tinggi pohon yang sebelumnya belum
dipetakan, tetapi untuk menentukan keanekaragaman hayati
hutan redwood. Stephen Sillett yang bekerja pada proyek Liga
Pantai Utara LIDAR mengklaim bahwa teknologi ini akan
berguna dalam mengarahkan upaya-upaya masa depan untuk
melestarikan dan melindungi pohon-pohon tua redwood.
Geomorfologi dan Geofisika
Peta resolusi tinggi elevasi digital yang dihasilkan oleh LIDAR
telah memacu kemajuan signifikan dalam bidang geomorfologi.
Kemampuan LIDAR untuk mendeteksi fitur topografi halus
seperti teras sungai dan tepi saluran sungai, mengukur elevasi
permukaan tanah di bawah kanopi vegetasi, menghasilkan
turunan spasial elevasi, dan mendeteksi perubahan elevasi
pada suatu permukaan bumi. Data LIDAR dikumpulkan oleh
perusahaan swasta dan juga konsorsium akademik dalam
mendukung

pengumpulan,

pengolahan

dan

pengarsipan

dataset LIDAR yang tersedia untuk publik. Pusat Nasional untuk

Pemetaan Airborne Laser (NCALM), didukung oleh National


Science Foundation, mengumpulkan dan mendistribusikan data
LIDAR untuk mendukung penelitian ilmiah dan pendidikan di
berbagai bidang, khususnya geosains dan ekologi. Dalam
geofisika dan tektonik, kombinasi pesawat berbasis LIDAR dan
GPS telah berevolusi menjadi alat penting untuk mendeteksi
kesalahan dan mengukur material pengangkatan. Output dari
kedua teknologi dapat menghasilkan model elevasi sangat
akurat untuk medan yang bahkan dapat mengukur elevasi
tanah melalui pepohonan. Kombinasi ini telah digunakan untuk
menemukan lokasi Fault Seattle di Washington, Amerika
Serikat.

Kombinasi

ini

mampu

mengukur

material

pengangkatan di Mt. St Helens dengan menggunakan data dari


gletser sebelum dan setelah pengangkatan di tahun 2004.
Sistem monitor airborne LIDAR memiliki kemampuan untuk
mendeteksi

jumlah

halus

peningkatan

atau

penurunan

material. Sebuah sistem berbasis satelit NASA ICESat yang


mencakup sistem LIDAR diterapkan untuk tujuan ini. Airborne
Topografi

Mapper

NASA

digunakan

secara

luas

untuk

memantau gletser dan melakukan analisis perubahan pesisir.


Kombinasi ini juga digunakan oleh para ilmuwan tanah saat

membuat

survei

memungkinkan
bentuk

lahan

tanah.

ilmuwan
lereng

Pemodelan

tanah

dan

untuk

medan

melihat

menunjukkan

detail

perubahan

pola-pola

dalam

hubungan spasial.

Transportasi
LIDAR telah digunakan dalam sistem Adaptive Cruise Control
(ACC) untuk mobil. Sistem seperti yang oleh Siemens dan Hella
menggunakan perangkat LIDAR dipasang pada bagian depan
kendaraan, seperti bumper, untuk memantau jarak antara
kendaraan dan setiap kendaraan di depannya. Kendaraan di
depan melambat atau terlalu dekat, ACC menerapkan rem
untuk memperlambat kendaraan. Ketika jalan di depan jelas,
ACC memungkinkan kendaraan untuk mempercepat ke preset
kecepatan oleh pengemudi.

Militer
Beberapa aplikasi LIDAR

untuk militer

memberikan

citra

resolusi yang lebih tinggi dalam mengidentifikasi target musuh,


seperti tank. Nama LADAR lebih umum dipakai di dunia militer.
Contoh aplikasi militer LIDAR diantaranya Tambang Laser

Airborne Detection System (ALMDS) untuk counter-tambang


peperangan dengan Arete Associates. Sebuah laporan NATO
(RTO-TR-SET-098)

menyebutkan

bahwa:

berdasarkan

hasil

sistem LIDAR, satuan tugas merekomendasikan bahwa pilihan


terbaik untuk aplikasi jangka dekat (2008-2010) dari stand-of
sistem deteksi UV LI. Long-Range Standof Detection System
Biologi (LR-BSD) dikembangkan untuk Angkatan Darat AS untuk
memberikan peringatan sedini mungkin atas serangan biologis.
Ini adalah sistem udara yang dibawa oleh helikopter untuk
mendeteksi awan aerosol buatan yang mengandung senjata
biologi dan kimia pada jarak jauh.

Monitoring dan Supporting Teknis.


Secara teoritis LIDAR terdiri dari tiga komponen yaitu :
Global Positioning System (GPS)
Dalam

system

LIDAR,

GPS

dipakai

sebagai

system

penentuan posisi wahana terbang secara 3D (X, Y, Z atau L,


B, h) terhadap system referensi tertentu. ketika melakukan
survey

LIDAR.

Penentuan

posisi

dilakukan

secara

diferensial sehingga bisa mengamati posisi objek yang


diam atau bergerak.Karena pengukuran posisinya dilakukan

secara

real

time

maka

metode

penentuan

GPS

itu

dinamakan Real Time Kinematics Diferential GPS (RTKDGPS).


Inertial Navigation System (INS)
INS adalah suatu system navigasi yang mampu mendeteksi
perubahan

geografis,

perubahan

kecepatan,

serta

perubahan orientasi dari suatu benda. Sistem ini mampu


mengukur

besar

perubahan

sudut

orientasi

wahana

terbang terhadap arah utara, besar pergerakan sudut rotasi


wahana terbang terhadap sumbu-sumbu horisontalnya,
percepatan wahana terbang, hingga temperature dan
tekanan udara di sekitar wahana terbang. Dari hasil
pengukuran

yang

dapat

dilakukan

oleh

INS,

dapat

dihasilkan informasi berupa orientasi tiga dimensi serta


posisi wahana terbang.

Sensor Laser
Sensor LIDAR berfungsi untuk memancarkan sinar laser ke
objek

dan

merekam

kembali gelombang

pantulannya

setelah mengenai objek. Pada umumnya gelombang yang


dipancarkan oleh sensor terdiri atas dua bagian, yaitu
gelombang hijau dan gelombang infra merah. Gelombang
hijau berfungsi sebagai gelombang penetrasi jika suatu
sinar laser mengenai daerah perairan. Sinar hijau berfungsi
untuk mengukur data kedalaman, sedangkan sinar infra
merah berfungsi untuk mengukur data topografi daratan
atau permukaan bumi. Kekuatan sensor LIDAR sangat erat
kaitannya dengan:
Kekuatan sinar laser yang dihasilkan
Cakupan dari pancaran sinar gelombang laser
Jumlah sinar laser yang dihasilkan tiap detik
Sensor LIDAR memiliki kemampuan dalam pengukuran
multiple

return.

menentukan

Multiple

bentuk

dari

return
objek

digunakan

atau

vegetasi

untuk
yang

menutupi permukaan tanah. Gelombang yang dipancarkan


dan dipantulkan tidak hanya mengenai permukaan tanah,
tetapi juga mengenai objek-objek yang ada di atas

permukaan tanah. Masing-masing pantulan yang dihasilkan


diukur intensitasnya, sehingga diperoleh gambaran atau
bentuk

dari

objek

yang

menutupi

permukaan

tanah

tersebut.

Pengukuran LIDAR.
Prinsip kerja LIDAR secara umum adalah sensor memancarkan
sinar laser pada target kemudian sinar tersebut dipantulkan
kembali ke sensor. Berkas sinar yang ditangkap kemudian
dianalisis oleh peralatan detector. Perubahan komposisi cahaya
yang diterima dari sebuah target ditetapkan sebagai sebuah
karakter objek. Waktu perjalanan sinar saat dipancarkan dan
diterima

kembali

diperlukan

sebagai

perhitungan jarak dari benda ke sensor.

variable

penentu

Pada wahana yang dipilih (Pesawat terbang) dipasang Laser


Scanner, GPS, dan INS. Berdasarkan skala produk yang
diinginkan dan luas cakupan, maka dapat ditentukan jalur
terbang. Pada jalur terbang yang telah ditentukan tersebut
pesawat melakukan pemotretan/ penyiaman (scanning). Nah,
pada saat laser scanner melakukan penyiaman sepanjang jalur
terbang, pada setiap interval waktu tertentu direkam posisinya
(menggunakan GPS) dan orientasinya (menggunakan INS).
Proses

ini

dilakukan

sampai

seluruh

jalur

terbang yang

direncanakan dapat disiam. Pada tahap pemrosesan datanya


dapat dibedakan dalam 3 bagian, yaitu pemrosesan data GPS,
INS, dan LIDAR. Pemrosesan GPS dan INS dilakukan terpisah
secara

post

processing

sehingga

didapatkan

posisi

dan

orientasi Laser scanner sepanjang trayektori (lintasan jalur


terbang).

Prinsip pemrosesan signal radar dilakuan untuk menentukan


jarak antara Laser Scanner dengan obyek (misal atap gedung.
Hal yang cukup menarik disini adalah akan ditemukan 4 sistem
koordinat,

yaitu:

Sistem

koordinat

receiver

GPS,

Sistem

koordinat INS, Sistem koordinat Laser Scanner, dan Sistem


koordinat peta. Dalam konteks fotogrametri, ke-4 sistem
kordinat tersebut dapat dihubungkan dalam bentuk vektor.
Vektor system koordinat peta merupakan vektor resultan

penjumlahan vektor sistem koordinat receiver GPS dengan INS


dan Laser Scannner.

Data awal setelah pengukuran Lidar yang didapatkan berupa :


1.

Koordinat

titik

kontrol

(BM)

pengukuran

dilapangan

menggunakan GPS Geodetik ( Adjustment report) dan hasil


GPS kinematik pesawat.
2. RAW data Lidar dalam format asli system LAS file
3. Image photo berwarna medium format metric dalam format
digital
4. Peta jalur terbang.

1. Apakah Lidar Mapping


Lidar kependekan dari : Light Detection And Ranging,
yang

diartikan(secara

pengenalan

obyek

dari

terjemahan

bebas)

udara(airborne)

adalah

menggunakan

sinar(laser) dan pengukuran jarak dari sensor terhadap


obyek yang akan dikenali.
Sinar Laser adalah sinar yang mempunyai gelombang
tidak

tampak

Infrared

yang

mempunyai

panjang

gelombang sekitar 1000 nanometer, karena spesifikasinya


tersebut, maka laser bisa menembus celah dedaunan untuk
mencapai permukaan tanah dan dipantulkan kembali untuk
ditangkap oleh sensor laser untuk dicatat beda waktu yang
digunakan

mulai

keluar

dari

sensor

sampai

kembali

ditangkap sensor. Sehingga jarak yang didapat atau disebut


dengan Range merupakan separoh waktu pergi-pulang
dikalikan dengan kecepatan rambat gelombang Laser yang
digunakan.

Sinar

laser

yang

digunakan

harus

tidak

berbahaya terhadap mata manusia(eye safe).


Apabila posisi kordinat dan elevasi dari sensor Laser
diketahui(dengan technologi GPS/INS), maka setiap obyek
yang memantulkan sinar laser tersebut bisa diketahui
posisinya dan elevasinya terhadap bidang Referensi yang
digunakan.
Sehingga setiap posisi koordinat dan elevasi tersebut
bisa digunakan untuk pemetaan, khususnya pemetaan
topografi yaitu memanfaatkan elevasi permukaan tanah
yang memantulkan sinar laser sewaktu dilakukan scaning.
Selanjutnya elevasi setiap titik dipermukaan tanah dapat
digunakan

untuk

menyusun

Model

Permukaan

Digital/MPDyang bermanfaat untuk modelling permukaan


wilayah maupun pembuatan garis kontur untuk pemetaan.
Untuk menyajikan gambaran dari detail planimitris
permukaan tanah seperti Jalan, Bangunan, Sungai, jalur
Transmisi, tutupan lahan seperti jenis vegetasi, wilayah
pertanian, perkebunan, budidaya, tambang, wilayah tubuh
air dls, dilakukan dengan cara menggambar diatas Foto
udara digital sebagai kelengkapan system Lidar.
2. Apa Komponen system Lidar
Terdapat 3 komponen utama system Lidar yaitu : Laser
generator-GPS/INS-Kamera digital.
Laser generator berfungsi untuk membidik obyek dari
pesawat

terbang

dan

mengukur

waktu

tempuh

saat

membidik obyek . Normalnya dilengkapi dengan unit


perekam data. Sinar laser tersebut dibidikan secara tidak
lengsung ke obyek diatas tanah, melainkan ditembakan
melalui cermin yang digoyang sehingga akan membentuk
bidikan kearah kanan-kiri dari sensor. Jika sensor bergerak
karena dibawa oleh pesawat, maka hasil bidikan laser
generator

merupakan

kumpulan

titik

dengan

lebar

tertentu(normalnya membentuk sudut 60 dari sumbu

tegaknya) yang akan membentuk swath(lebar bidikan


memanjang

sesuai

dengan

arah

gerakan

terbang

pesawat)GPS/INS digunakan untuk menentukan posisi dan


penyimpangan sudut dari arah sumbu X, sumbu Y dan
sumbu Z dari Laser generator agar setiap bidikan laser
yang

mengenai

obyek

bisa

ditentukan

koordinatnya(Lintang-Bujur) dan elevasinya dari referensi


yang ditetapkan. Kamera digital yaitu kamera yang dapat
merekam obyek yang dibidik sinar laser dengan lebar
ckupan yang sama dengan cakupan swath sinar laser

3. Apa yang dimaksud dengan Fullwaveform technology pada


system

Lidar

dan

apa

keuntungannya

digunakan

di

Indonesia
Sewaktu pelaksanaan scanning Lidar dengan cara
membidikkan sinar laser ke arah obyek dipermukaan tanah,
tiap bidikan yang mengenai obyek akan dipantulkan
kembali ke laser generatornya, system seperti ini disebut
leading edge technology. Sehingga dimungkinkan pantulan
obyek pertama kembali ke generator yang disebut first
return, diikuti system pantulan pada obyek terakhir yaitu

permukaan tanah, dan return ke generator dan pantulan


diantara first dan last return. System seperti ini adalah
kebanyakan system Lidar pada umumnya. System Lidar
lainnya

adalah

system

yang

disebut

Fullwaveform

technology, dimana setiap sinar Laser yang dipantulkan


dan mengenai obyek akan terus lanjut pada obyek-obyek
seterusnya sampai pada pantulan terakhir yang merupakan
permukaan tanah. Sehingga setiap range dari bidikan akan
mempunyai

multiple

wave

untuk

setiap

obyek

yang

dilewati.
Kriteria last return yang berupa permukaan tanah
adalah lamanya mengenai obyek yaitu 6 milisecond. Jika
sinar laser mengenai obyek lebih dari 6 milisecond maka
sinar harus kembali ke generator yang berararti adalah last
return.

4.

Komponen

system

Lidar

manakah

yang

menentukan

ketelitian hasilnya
Kekuatan pancar sinar Laser dan akurasi waktu laser
yang digunakan untuk mengukur waktu tempuh akan
menentukan akurasi range laser. Akurasi GPS /INS akan

menentukan akurasi posisi koordinat dan elevasi sensor


yang berakibat pada akurasi obyek yang dibidik.

5.

Bisakah Lidar dilakukan pada malam hari atau menembus


awan dan wilayah berair di tanah
Pelaksanaan akuisisi Lidar dapat dilakukan pada malam
hari karena Lidar menggunakan energi sendiri berupa sinar
Laser.

Sinar Laser tidak dapat menembus awan yang

merupakan partikel air, berair, dimana sifat sinar Laser


tidak dapat menembus badan air.

Dengan demikian

apabila bidikan sinar Laser mengenai wilayah berair seperti


pantai,danau,sungai lebar,wilayah rawa dsb, maka sinar
laser dengan gelombang infrared tidak dapat menembus
tubuh air.

6.

Apakah Lidar scanning bisa digunakan untuk Mapping

bawah air
Bisa, dimana Lidar menggunakan sinar dengan panjang
gelombang tertentu (normalnya sinar biru dengan panjang

gelombang 300-400 micron yang dikombinasikan dengan


sinar infrared. Laser dengan menggunakn sinar infrared
digunakan

untuk

mengetahui

elevasi

permukaan

air,sedangkan lidar dengan sinar biru akan menembus


tubuh air sampi dengan kedalaman tertentu sampai
dengan permukaan dasar perairan. Sehingga kedalaman
dasar perairan dapat diketahui untuk dipetakan.

7. Apa yang dimaksudkan dengan point-cloud,bare-earth dari


Lidar
Point cloud merupakan kumulan titik hasil bidikan laser
pada

Lidar

scanning

yang

telah

diolah

sehingga

mempunyai posisi koordinat dan elevasi sesuai dengan


referensinya. Sedangkan Bare-earth adalah point cloud
yang telah dipilah hanya pada permukaan tanah saja(titik2
permukaan tanah gundul)

8.

Apa kegunaan foto digital pada Lidar Mapping


Foto digital pada Lidar mapping digunakan untuk :
Melengkapi

garis

batas

permukaan

tanah

yang

mempunyai beda elevasi menyolok seperti garis


pertemuan tebing, atau garis pada pematang yang
berubah

elevasinya

dengan

breakline.

secara
Breaklini

drastis,
ini

yang

disebut

berfungsi

untuk

membentuk terrain atau garis kontur agar alami.


Sebagai alat kontrol kualitas data Lidar
Sebagai pelengkap data elevasi sekiranya data lidar
tidak

dapat

vegetasi

menembus

walaupun

vegetasi

telah

karena

dilakukan

cara

tertentu seperti cross run.


Sebagai media untuk penggambaran

lebatnya
scanning

unsur-unsur

planimetrik seperti Jalan,sungai,tutupan lahan dsb yang


dapat

dilakukan

secara

monoskopik

maupun

stereoskopik 3D
Sebagai data pelengkap untuk keperluan tertentu
karena foto udara dapat menghasilkan Peta Foto yang
lebih informatif dibandingkan dengan peta garis.

9.

Bisakah foto digital dilakukan bersamaan sewaktu akuisi

data Lidar

Seharusnya foto udara digital dilakukan bersamaan


dengan akuisisi Lidar agar lebih efisien dan memperoleh
akurasi setara dengan hasil Lidar, yaitu georeferensi
menggunakan data GPS/INS

10. Apakah persyaratan foto digital untuk Lidar Mapping


Sebaiknya

foto

udara

dilakukan

berdasarkan

persyaratan Fotogrametry normal yaitu foto udara yang


mempunyai pertampalan kedepan searah jalur terbang
sebesar 60% atau lebih agar mempunyai daerah triplelap,
dan pertampaln kesamping sebesar 30%. Tidak boleh
terjadi gap antar foto maupun antar jalur terbang karena
variasi skala wilayah bergunung.

11. Bagaimana akuisisi Lidar dan foto digitalnya untuk daerah


bergunung
Akuisi
bergunung

lidar
harus

bersama

foto

menggunakan

udara
system

pada

wilayah

management

berdasarkan predetermend position yang dikontrol v/h


(variasi kecepatan terhadap elevasi terrain) menggunakan
GPS komputer navigation.

12. Bisakah data Lidar mencapai permukaan tanah jika


wilayah yang di scanning adalah ber vegetasi cukup lebat
Salah satu perkiraan apakah Laser dapat menembus
kelebatan vegetasi atau tidak, bisa dilakukan pemeriksaan
dari bawah lingkungan vegetasi,jika seseorang dibawah
lingkungan vegetasi masih dapat melihat sinar matahari,
berarti Laser juga dapat menembusnya

13. Apa yang dilakukan jika data Lidar tidak dapat mencapai
permukaan tanah
Guna mengantisipasi tidak menembusnya sinar laser
pada

wilayah

bervegetasi

lebat,

dilakukan

Cross-run

dengan arah penerbangan yang berbeda, sehingga beaya


Lidar Mapping akan tergantung dari system akuisisinya
yang akan menghasilkan akurasi tersendiri. Dengan beaya
yang lebih murah, cross run tidak dilakukan sehingga
potensi sinar laser tidak akan mencapai permukaan tanah
dan akibatnya data elevasi yang diperoleh terbatas dan
akhirnya akan memberikan hasil keluaran yang tidak

sempurna. Hanya data2 laser diatas permukaan tanah yang


kurang bermanfaat untuk topolah yang diperoleh.
cross

run

telah

dilakukan

tetapi

memang

Jika

kelebatan

vegetasi tidak dapat ditembus sinar laser,upaya terakhir


adalah

dengan

menambahkan

data

elevasi

secara

fotogrametry yaitu dengan pasangan foto udara stereo3D.


Ekstraksi tambahan titik elevasi dilakukan oleh system
menggunakan Algoritma fotogrametry digital(piksel based)

14. Berapakah ketelitian elevasi hasil Lidar Mapping


Faktor Impiris akurasi Lidar Mapping di Indonesia
adalah sebagai berikut:
Akurasi Horisontal 20 cm
Akurasi elevasi 30cm