Anda di halaman 1dari 2

Memahami Perancangan Arsitektur sebagai Social Art

Dalam pembahasan kali ini saya akan mencoba mengangkat stereovision sebagai
salah satu poin dari tujuh dinamika dalam proses perancangan yang terkait dengan
proyek Monterey Bay Aquarium. Dalam kejadian nyata di lapangan, arsitek dan
klien sering kali melihat bangunan dalam apa yang disebut stereovision,
maksudnya adalah klien dan arsitek menggambarkan dan menghargai desain suatu
proyek dari aspek yang sangat berbeda. Demikian pula yang terjadi dalam kasus
proyek Monterey Bay Aquarium. Dalam hal ini Mr.Packard selaku klien memiliki
beberapa permintaan untuk kualitas bangunan dan perhitungan bisnis. Sedangakan
dari pihak konsultan memiliki pendekatan lain di bidang arsitektur, baik mengenai
pendalaman bentuk maupun resolusi dari masalah teknis, sosial, dan kontekstual.
Namun klien disini memiliki kesadaran untuk menyerahkan urusan pendekatan
arsitek terhadap detail dan estetika agar bangunan menjadi indah. Peran sertanya
hanya sebatas diskusi mengenai nilai fungsional sesuai yang ia butuhkan. Pada
akhirnya pandangan berbeda dari masing-masing pihak dikombinasikan dan saling
melengkapi satu sama lain sehingga terjadi interksi sosial yang baik dalam proyek
ini.
Pada kasus proyek pembangunan rumah sakit pendidikan USU, juga terjadi hal-hal
yang menurut saya hampir mirip (universal) dengan proyek Monterey Bay
Aquarium. Dimana pemberi tugas dalam hal ini Rektor USU lama memiliki keinginan
agar rumah sakit USU ini menjadi rumah sakit yang tidak hanya bersifat publik
namun juga bernilai komersil. Padahal umumnya tipe rumah sakit hanya salah satu
dari itu. Maka dalam hal ini dibentuklah tim yang terdiri dari para engineer juga
praktisi kesehatan yang akan saling berdiskusi untuk dapat memenuhi target
tersebut. Dan sama seperti Packard, klien juga menyerahkan urusan pendekatan
nilai tersebut kepada arsitek. Hal yang menjadi perbedaan (kontekstual) dengan
proyek Monterey Bay Aquarium disini adalah meskipun pendekatan terhadap
estetika dan tipe rumah sakit sudah diserahkan kepada arsitek, diskusi klien tidak
hanya sebatas fungsionalitas dan nilai bisnis, namun menyangkut hal-hal yang
lebih serius termasuk politik dan hukum mengingat pembangunan sebuah rumah
sakit pendidikan untuk Universitas Negeri di Indonesia belum pernah ada
sebelumnya. Jadi kerjasama dan interaksi sosial antara konsultan dan klien dalam
proyek ini lebih banyak dibutuhkan untuk mencapai sebuah proyek yang dinilai
unggul. Jika hal ini dikaitkan dengan pendapat Cuff bahwa praktek arsitektur adalah
sebuah budaya, menurut saya memang demikian adanya. Namun kembali lagi,
budaya yang seperti apa? dari pemaparan dua kasus proyek di atas dapat kita
ambil kesimpulan bahwa budaya dalam suatu proyek arsitektur tergantung kepada
para pemain kunci dari proyek tersebut.
Berdasarkan enam karakteristik Design Problem in Practice, poin design in balance
lagi-lagi menjadi poin yang menurut saya menjadi faktor penentu keberhasilan para
pelaku dalam mengelola dinamika proses perancangan yang dibahas dalam dua
proyek di atas. Meskipun kebanyakan dari para pelaku tidak dapat memenuhi apa

yang dikatakan sebagai design in balance secara sempurna. Contohnya dalam


proyek rumah sakit USU ini begitu banyak pertaruhan yang harus dilakukan untuk
menyesuaikan antara bisnis dan seni estetika. Banyak desain yang harus
disesuaikan dengan budget yang tersedia. Meski kemungkinan ada campur tangan
politik dalam kasus proyek ini, kini proyek pembangunan rumah sakit ini sudah
selesai. Tinggal menunggu kelengkapan peralatan medis sehingga rumah sakit ini
resmi dibuka nanti. Menurut saya usaha tim dan arsitek untuk mencapai design in
balance adalah salah satu faktor penentu berhasilnya proyek bertahun ini akhirnya
dapat diselesaikan.