Anda di halaman 1dari 23

PENDEKATAN BERBASIS KELUARGA

TERHADAP TN

USIA

TAHUN DALAM

MENANGANI PENYAKIT TUBERKULOSIS PARU FASE LANJUTAN


BAB I
KARAKTERISTIK DEMOGRAFI KELUARGA
Nama Pasien
Alamat Lengkap
Bentuk keluarga

:
:
:

Tabel 1. Daftar anggota keluarga yang tinggal dalam satu rumah


No.

Nama
Tn.

Kedudukan

L/P

KK

L
P

2
3

An.

Istri
Anak ke-1

An.

Anak ke-2

An.

Anak ke-3

Ny.

Umur

Pendidikan

Pekerjaan

Ket
Penderita
TBC

(Data Primer:

Juli 2015)

Simpulan:

BAB II
STATUS PASIEN
A. IDENTITAS PENDERITA
Nama

: Tn.

Umur

Alamat

tahun

Jenis kelamin

Agama

Status

Tanggal pemeriksaan

B. ANAMNESIS
1. Keluhan utama:
2. Riwayat Penyakit Sekarang

3. Riwayat Penyakit Dahulu

4. Riwayat Penyakit Keluarga


Riwayat TB

Riwayat hipertensi

Riwayat DM

Riwayat stroke

Riwayat penyakit jantung

5. Riwayat Kebiasaan
Sehari-hari pasien makan teratur 3 kali sehari dengan nasi, sayur
dan lauk pauk seperti telur, tahu, tempe dan terkadang daging. Pasien
mengaku sering mengonsumsi buah-buahan seperti pepaya dan pisang
namun jarang minum susu. Pasien istirahat cukup setiap harinya sekitar 8
jam sehari. Pasien tidak memiliki minum alkohol, namun pasien memiliki
riwayat

merokok

bungkus/hari.

Pasien

mengaku

tidak

suka

berolahraga. Pasien biasanya mandi 2 kali sehari, dan gosok gigi 2 kali
sehari.
6. Riwayat Perkawinan dan Sosial Ekonomi
Pasien adalah seorang laki-laki berusia
Pasien menikah ketika pasien berusia
tahun, pasien dikaruniai

tahun dan sudah menikah.


tahun dan istrinya berusia

orang anak.

Sebelum sakit pasien bekerja sebagai


penghasilan

,dengan

per bulan. Semenjak sakit pasien sementara ini

tidak bekerja dan hanya tinggal di rumah. Istri pasien, Ny.

, bekerja

sebagai

perbulan.

dengan penghasilannya sekitar

Untuk biaya berobat ke rumah sakit dan puskesmas pasien mendapat


bantuan dari Jamkesda. Sebelum sakit pasien mengaku tidak memiliki
asuransi kesehatan apapun, baik jamkesmas maupun jamkesda.
7. Riwayat Gizi
Pasien makan sehari tiga kali, dengan nasi, sayur dan lauk pauk,
seperti telur, tahu, tempe, dan terkadang daging. Pasien mengaku sering
makan buah-buahan seperti pepaya dan pisang, namun pasien mengaku
jarang mengonsumsi susu sehingga diet pasien belum bisa dikatakan 4
sehat 5 sempurna. Ketika pasien merasa tidak enak badan nafsu makan

pasien berubah, porsi makan pasien menjadi sedikit bahkan saat awal sakit
pasien tidak mau makan sama sekali karena pasien merasa mual ketika
makan.
C. ANAMNESIS SISTEMIK
1. Keluhan utama :
2. Kulit

: kering (-), pucat (-), menebal (-), gatal (-), bercak-bercak


kuning (-), luka (-).

3. Kepala

: pusing (-), nyeri kepala (-), nggliyer (-), rambut mudah


dicabut (-), rambut mudah rontok (-).

4. Mata

: mata berkunang kunang (-) pandangan kabur (-),


kelopak bengkak (-), gatal (-).

5. Hidung

: mimisan (-), pilek (-), hidung tersumbat(-), gatal(-)

6. Telinga: pendengaran berkurang (-), berdenging(-), keluar


cairan(-)
7. Mulut

: sariawan (-), mulut kering (-), luka pada sudut bibir (-),
gusi berdarah (-)

8. Tenggorokan : nyeri telan (-), gatal (-), suara serak (-)


9. Kardiovaskular: nyeri dada (-), berdebar-debar (-)
10. Respirasi

: sesak napas (-), batuk berdahak (-), dahak berwarna


, mengi (-)

11. Gastrointestinal: mual (-), muntah (-), nyeri ulu hati (-), BAB sulit (-),
BAB hitam (-), BAB darah (-), diare (-)
12. Sistem muskuloskeletal : seluruh badan terasa keju-kemeng (-), kaku sendi
(-), nyeri sendi (-), bengkak sendi (-), nyeri otot
(-), kaku otot (-).
13. Sistem genitourinaria : sering BAK (-), panas saat BAK (-),air kencing
warna kemerahan(-), nanah (-), BAK berkali-kali

karena tidak lampias/ anyang-anyangan (-), sering


menahan kencing (-), rasa pegal di pinggang (-),
rasa gatal pada saluran kencing (-), rasa gatal pada
alat kelamin (-).
14. Ekstremitas : luka (-), lemah (-), kaku (-), bengkak (-), gemetar (-), terasa
dingin (-), nyeri (-), kemerahan (-), bercak merah kebiruan di
bawah kulit seperti bekas memar (-).
15. Sistem neuropsikiatri: kesemutan (-), kejang (-), gelisah(-), menggigil(-)
D. PEMERIKSAAN FISIK
Pemeriksaan fisik dilakukan pada tanggal

Juli 2015:

1. Keadaan Umum
Lemah, kesadaran compos mentis (GCS E4V5M6), status gizi cukup.
2. Tanda Vital
T:

mmHg, N:

x/menit, RR:

x/menit, T:

per aksiler

3. Status Gizi
BMI =

BB
= =()
TB2 2

4. Mata

: konjungtiva pucat (-/-), sklera ikterik (-/-)

5. Mulut
Bibir pucat (-), bibir kering (-), papil lidah atrofi (-), gusi berdarah (-), gigi
tanggal (-)
6. Telinga
Membran timpani intak, sekret (-)
7. Tenggorokan
Tonsil membesar (-), faring hiperemis (-), dahak (+)
8. Leher
JVP tidak meningkat, trakea di tengah, KGB tidak membesar
9. Thoraks
Cor

Inspeksi : ictus cordis tak tampak

Palpasi : ictus cordis tak kuat angkat


Perkusi : batas kiri atas

: SIC II LPSS

batas kanan atas : SIC II LPSD


batas kiri bawah : SIC V LMCS
batas kanan bawah: SIC IV LPSD
batas jantung kesan tidak melebar
Auskultasi: BJ III intensitas normal, regular, bising (-)
Pulmo :
Inspeksi : pengembangan dada kanan = dada kiri
Palpasi

: fremitus raba kanan = kiri

Perkusi

: redup SIC II-IV/ redup SIC III-IV

Auskultasi: suara dasar vesikuler (+ N/+ N), ronkhi basah kasar (-/-),
ronki basah halus (-/-), wheezing (-/-)
10. Abdomen:
Inspeksi

: dinding perut sejajar dinding dada,

Auskultasi

: bising usus (+) normal

Perkusi

: timpani di seluruh lapang perut

Palpasi

: supel, nyeri tekan (-), hepar dan lien tak teraba

11. Ekstremitas : oedem (-), plantar dan palmar pucat (-)


12. Sistem Collumna Vertebralis
Inspeksi : deformitas (-), skoliosis (-), kiphosis (-), lordosis (-)
Palpasi
: nyeri tekan (-)
Perkusi : nyeri ketok kostovertebra (-)
13. Sistem genitalia
: Dalam batas normal
14. Sistem genitourinaria : Nyeri saat BAK (-), BAK darah (-)
15. Pemeriksaan Neurologik
Fungsi Luhur
Fungsi Vegetatif

: dalam batas normal.


: dalam batas normal

Fungsi Sensorik

N
N

N
N

Fungsi motorik :
K 5

RF +2

+2

RP -

N N

+2 +2

E. DIAGNOSIS

F. PENATALAKSANAAN
1. Medikamentosa

2. Non Medikamentosa
a. Penderita dibatasi kegiatannya agar dapat istirahat cukup, makanmakanan yang bergizi terutama sayuran hijau dan buah-buahan.
b. Edukasi ke keluarga pasien supaya terus memantau pasien supaya
tetap meminum obat secara rutin.
c. Edukasi ke keluarga dan pasien supaya memperbaiki lingkungan
tempat tinggal, seperti memperbanyak sinar matahari yang masuk ke
dalam rumah, memperbaiki ventilasi rumah, dan menjaga kebersihan
lingkungan sekitar.
G. FOLLOW UP
Tabel 2. Follow up Penderita
Tgl
23/07/

batuk

O
KU: Sakit Sedang,

batuk

CM
T : 110/80 mmHg
RR: 20x/menit
N: 88x/menit
S: 36,6 0C (periaksiler)
KU: Sakit Sedang,

2015

24/07/
2015

CM
T : 120/80 mmHg

25/10/
2015

batuk

RR: 22x/menit
N: 92x/menit
S: 36,4 0C (periaksiler)
KU: Sakit Sedang,
CM
T : 120/80 mmHg
RR: 20x/menit
N: 96x/menit
S: 36,3 0C (periaksiler)

BAB III
IDENTIFIKASI FUNGSI-FUNGSI KELUARGA

A. FUNGSI HOLISTIK
1. Fungsi Biologis
Keluarga pasien adalah nuclear family yang terdiri atas Tn. S,
tahun sebagai suami atau kepala keluarga, pasien atas nama Ny. ,

tahun

sebagai istri, Nn. G, 24 tahun yang merupakan anak pertama, Nn. SH, 18
tahun yang merupakan anak kedua, dan ATA, 15 tahun yang merupakan
anak ketiga. Kelima anggota keluarga ini tinggal dalam satu rumah dan
keluarga ini cukup sehat, kecuali pasien yang sedang menderita
tuberkulosis.
2. Fungsi Psikologis
Pasien tinggal serumah dengan suami dan ketiga anaknya.
Hubungan pasien dengan anggota keluarga cukup harmonis. Penyelesaian
masalah keluarga dengan cara diskusi bersama terutama dengan suami dan
anak pertamanya. Pengambil keputusan utama dalam keluarga diserahkan
pada suami selaku kepala keluarga.
3. Fungsi Sosial Budaya
Keluarga ini tidak mempunyai kedudukan sosial tertentu dalam
masyarakat melainkan hanya sebagai anggota masyarakat biasa. Keluarga
ini cukup aktif berpartisipasi mengikuti kegiatan kemasyarakatan seperti
pertemuan PKK, arisan RT, dan kerja bakti.
4. Fungsi Ekonomi dan Pemenuhan Kebutuhan
Pasien saat ini tidak bekerja. Sebelum sakit, pasien bekerja sebagai
penjual jamu keliling dengan penghasilan sekitar Rp. 2.000.000,00 per
bulan. Suami pasien bekerja sebagai buruh bangunan dengan penghasilan
sekitar Rp. 60.000,00 perhari, namun saat tidak ada pekerjaan, suami
pasien tidak memiliki penghasilan. Kebutuhan keluarga biasanya dipenuhi
dari pendapatan pasien dan suaminya, namun saat ini hanya dipebuhi dari
pendapatan suami. Pasien merasa pendapatan keluarga pas-pasan, apalagi
anak ketiganya akan bersekolah di SMK swasta.

Anak pertama pasien bekerja sebagai tenaga administrasi di sebuah


minimarket dengan penghasilan sekitar Rp. 1.800.000,00 perbulan.
Penghasilan anak pertama digunakan untuk biaya kuliah dan kebutuhan
sendiri seperti membeli motor dan kebutuhan pribadi lain, namun jika ada
kebutuhan keluarga yang mendesak, penghasilan anak pertama pasien juga
digunakan untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
5. Fungsi Penguasaan Masalah dan Kemampuan Beradaptasi
Keputusankeputusan penting dalam keluarga dipegang oleh suami
pasien dengan terlebih dahulu melakukan diskusi dengan anggota keluarga
yang lain. Dalam kesehariannya, pasien dan keluarganya tidak memiliki
masalah dalam berinteraksi dengan masyarakat. Hubungan dengan
tetangga sekitar terjalin dengan baik.

Kesimpulan : Fungsi holistik keluarga Ny. AL cukup baik, karena fungsi


biologis, psikologis sosial budaya, penguasaan masalah dan
adaptasi baik.

B. FUNGSI FISIOLOGIS
Fungsi fisiologis diketahui dengan menggunakan alat APGAR.
1.

Adaptation
Pasien cukup mendapat perhatian dari anggota keluarga yang lain,
terutama

anak

pertama

pasien.

Penyakit

yang

diidap

pasien

mengganggu aktifitas sehari-hari karena pasien kadang merasa sesak


napas dan mual. Pasien dan keluarga pernah beberapa kali mendapat
penyuluhan tentang penyakitnya dari petugas Puskesmas Karanganyar.
2.

Partnership

10

Pasien sering berkumpul dengan anggota keluarga saat anggota


keluarganya berada di rumah, biasanya saat sore dan malam hari. Saat
pagi dan siang hari, suami pasien bekerja sementara anak-anak pasien
bersekolah. Namun, saat ini anak-anak pasien sedang libur sehingga
sering berada di rumah. Anak pertama dan kedua pasien sering
membantu mengerjakan pekerjaan rumah tangga, namun anak ketiga
lebih sering bermain ke rumah temannya.
3.

Growth
Perkembangan penyakit pasien dirasa membaik setelah pengobatan
tuberkulosis fase lanjutan dari Puskesmas yang saat ini sudah
berlangsung selama tiga hari. Pasien sudah menjalani pengobatan
selama tiga bulan, terdiri atas dua bulan fase awal dan satu bulan fase
sisipan. Pasien mendapat semangat untuk terus meminum obat dari
anggota keluarganya, terutama anak pertamanya yang berperan sebagai
pengawas minum obat (PMO).

4.

Affection
Hubungan kasih sayang antara pasien dengan anggota keluarga
yang lain cukup baik.

5.

Resolve
Pasien tampak puas dan gembira dengan kebersamaan dan waktu
yang dihabiskan dengan keluarganya. Sejak sakit pasien mendapat kasih
sayang dan kepedulian dari keluarga lebih daripada saat sebelum sakit,
contohnya pasien disarankan untuk berhenti berjualan jamu untuk
sementara waktu dan mengurangi pekerjaan rumah.

11

Tabel 3. APGAR Score keluarga Ny. AR


Kode

APGAR

Saya puas bahwa saya dapat kembali ke keluarga

(Adaptation)
P
(Partnership)
G
(Growth)
A
(Affection)
R
(Resolve)

Ny. AR

Nn. G

saya bila saya menghadapi masalah


Saya puas dengan cara keluarga saya membahas
dan membagi masalah dengan saya
Saya puas dengan cara keluarga saya menerima
dan mendukung keinginan saya untuk melakukan
kegiatan baru atau arah hidup yang baru
Saya

puas

dengan

cara

keluarga

saya

mengekspresikan kasih sayangnya dan merespon


emosi saya seperti kemarahan, perhatian dll
Saya puas dengan cara keluarga saya dan saya
membagi waktu bersama-sama
Total (kontribusi)

Sumber: Data Primer, Juli 2015


Skoring :

Kriteria nilai APGAR :

Hampir selalu

: 2 poin

8 - 10

: baik

Kadang-kadang

: 1 poin

5-7

: sedang

Hampir tak pernah

: 0 poin

1-4

: buruk

Kesimpulan : Rata-rata APGAR score keluarga Ny. AL adalah

. Dari hal

ini dapat disimpulkan bahwa hubungan masing-masing aggota


keluarga adalah baik.

C. FUNGSI PATOLOGIS SCREEM

12

Tabel 4. Tabel SCREEM


SUMBER

PATOLOGI

KET

Interaksi sosial baik antar anggota keluarga. Keluarga aktif


SOCIAL

dalam kegiatan kemasyarakatan. Penyakit yang diderita oleh

Ny. AR tidak mengurangi keaktifannya dalam masyarakat


Pasien merupakan keturunan jawa, menguasai bahasa jawa
CULTURAL

dan adat kesopanan jawa. Banyak tradisi budaya setempat

yang masih diikuti seperti mengikuti acara-acara seperti


hajatan, selametan, dll.
Pasien beragama islam dan menjalankan ibadah dengan baik,
walaupun untuk sementara pasien tidak dapat berpuasa karena

RELIGION

harus rutin minum obat. Pasien tetap menjalankan sholat wajib

5 kali setiap harinya dan mengaji. Sesekali keluarga ini juga


beribadah di masjid.
Ekonomi keluarga ini tergolong kurang terutama setelah
ECONOMY

pasien sakit dan tidak bisa bekerja lagi. Ekonomi keluarga

ditopang oleh suami dan anak sulungnya. Diperlukan skala


prioritas untuk pemenuhan kebutuhan hidup.
Ny. AR merupakan lulusan SD dan Tn. S merupakan lulusan

EDUCATION

SMP. Walaupun begitu, ketiga anaknya memiliki tingkat

pendidikan yang cukup baik, yaitu lulusan SMA. Anak


sulungnya melanjutkan ke jenjang kuliah.

MEDICAL

Kesadaran keluarga ini terhadap kesehatan sudah cukup

baik, keluarga ini tidak menganut kepercayaan akan


penyakit-penyakit tahayul ataupun non-medis. Selama ini,
persalinan Ny. AR selalu ditolong oleh bidan, bila ada
keluarga yang sakit langsung diperiksakan ke sarana
kesehatan seperti bidan desa, klinik dokter, puskesmas
maupun Rumah Sakit.

13

Namun kesadaran keluarga pasien akan jaminan kesehatan


masih kurang, terbukti pasien dan keluarganya tidak
mendaftarkan diri dalam JAMKESMAS maupun BPJS
karena tidak memahami manfaat jaminan kesehatan
tersebut.
Sumber : Data Primer, 24 Juli 2014
Kesimpulan
Dilihat dari fungsi patologis keluarga Ny. AR, didapatkan fungsi yang
patologis pada poin ekonomi dan pendidikan. Pendapatan ekonomi keluarga
masih terbilang kurang, tingkat pendidikan pasien dan suaminya juga
termasuk kategori kurang. Pada fungsi patologis yang lain tidak didapatkan
kelainan.
D. GENOGRAM
Asma

OA
TB

HF

Tumor, HT

TB

OA

OA
TB

Gambar 1. Genogram keluarga Ny. AR

Keterangan:
: Keluarga dengan jenis kelamin laki-laki
: Keluarga dengan jenis kelamin perempuan

14

: Pasien
: Keluarga yang tinggal serumah
Kesimpulan
Tidak ditemukan penyakit keturunan pada pasien
E. POLA INTERAKSI KELUARGA

An. Sf
Tn. S

Gambar 2. Pola interaksi keluarga Ny. AR

An. S

Keterangan
: Hubungan Harmonis
: Hubungan tidak harmonis

Kesimpulan
Hubungan antara tiap anggota keluarga Ny. AR cukup harmonis.
F. FUNGSI PERILAKU
1. Pengetahuan

15

Pendidikan terakhir Ny. AR adalah SD, sedangkan suaminya lulusan


SMP. Namun kesadaran mereka akan pentingnya pendidikan membuat
mereka ingin menyekolahkan ketiga anaknya hingga kuliah. Informasi
mengenai gejala TB didapatkan anak sulungnya melalui internet,
sehingga pasien bisa langsung dibawa untuk periksa ke RSUD.
Edukasi mengenai

penyakit TB sudah didapatkan dari pihak

Puskesmas Karanganyar. Ny. AR dan keluarganya sadar mengenai


pentingnya keteraturan pengobatan dan memiliki semangat untuk
sembuh.
2. Sikap
Ny. AL rutin datang ke Puskesmas Karanganyar untuk mengambil obat
dan meminumnya secara teratur.
3. Tindakan
Keluarganya mulai memasang atap kaca dan membuka jendela agar
sinar matahari banyak yang masuk ke dalam rumah sesuai saran pihak
puskesmas.
G. FUNGSI NON PERILAKU
1. Lingkungan
Rumah yang dihuni keluarga ini cukup memadai. Lantai sudah
disemen, dinding dari tembok, namun pencahayaan di bagian tengah
rumah masih kurang dan cenderung lembab. Sumber air berasal dari
sumur, listrik sudah ada, kamar mandi sudah ada namun kurang bersih.
Pembuangan sampah keluarga dibuang ke kebun dan dibakar.
2. Keturunan
Tidak terdapat faktor keturunan yang mempengaruhi penyakit pasien.
3. Pelayanan Kesehatan
-

Kesadaran diri untuk berobat ke puskesmas sudah baik.

Pasien berobat di Puskesmas Karanganyar yang letaknya tidak


terlalu jauh dari rumahnya.

16

H. FAKTOR INDOOR
Rumah dengan luas tanah 200m2 dan luas bangunan 150m2, terdiri
dari 1 ruang tamu, 1 ruang tengah, 4 kamar tidur, 1 dapur, 1 kamar mandi,
dan 1 gudang. Dinding rumah sudah menggunakan tembok permanen.
Sebagian besar lantai sudah tertutup semen, dan sebagian lainnya masih
berlantai tanah (pada lantai dapur, gudang dan teras).

Secara umum

kondisi dalam rumah kurang terjaga kerapihannya, gelap, dan lembab.


Atap rumah menggunakan genteng dengan beberapa titik terdapat atap
kaca untuk masuknya sinar matahari, namun masih sangat sedikit
jumlahnya. Hampir tiap kamar sudah diberi jendela untuk sirkulasi udara.
Selama sakit Ny. AR berada di rumah setiap hari dan hanya melakukan
pekerjaannya rumah seperti mencuci dan membereskan rumah.

17

R. Tidur 1

R. Dapur

R.Tamu

R. Tidur 2

R. Tengah

Sumur

R. Tidur 3

R. Tidur 4
Gudang

Kandang Ayam

K. Mandi

Gambar 3.Denah Rumah Ny. AR

Simpulan : Faktor indoor rumah Ny. AL masih kurang memadai dari segi
kerapihan dan kesehatan.
I. FAKTOR OUTDOOR
Antara rumah keluarga Ny. AR dengan rumah lainnya berjarak
cukup lebar sehingga pada samping rumah bisa dipasang jendela.
Rumah berada di tepi jalan raya. Di belakang rumah langsung
berbatasan dengan kali. Disamping rumah pasien rumah pasien terdapat
sumur, tempat menjemur pakaian dan kandang ayam. Kondisi teras
rumah cukup rapi, namun banyak hewan ternak, seperti ayam yang
berkeliaran di sekitar rumah.
Simpulan: Faktor outdoor Ny. AR cukup baik.

18

BAB IV
DIAGNOSIS HOLISTIK

Ny. AL 43 tahun dengan masalah kesehatan TB paru. Dari segi biologis,


keluarga merupakan nuclear family yang terdiri atas ayah, ibu, dan tiga anak. Dari
segi psikologis, hubungan Ny. AR dengan keluarganya terjalin harmonis. Hal ini
dibuktikan dengan sering menghabiskan waktu bersama untuk berbicara dan
kadang menonton televisi. Dari segi sosial, keluarga Ny. AR memiliki status
ekonomi yang kurang, tingkat pendidikan yang kurang, dengan lingkungan rumah
yang kurang memadai, dan perilaku yang cukup sehat. Hubungan keluarga Ny.
AR dengan masyarakat sekitar baik.
A.

Diagnosis Biologis :

TB Paru dalam pengobatan fase lanjutan bulan keempat


B.

Diagnosis Psikologis :

Hubungan antara Ny. AR dengan keluarga baik.


C.

Diagnosis Sosial

Status ekonomi kurang


Tingkat pendidikan kurang
Tempat tinggal kurang memadai
Jumlah anak cukup
Status gizi cukup

19

BAB V
PEMBAHASAN DAN SARAN KOMPREHENSIF
A.

PEMBAHASAN
Tuberculosis Paru adalah penyakit paru yang disebabkan oleh bakteri
Mycobacterium tuberculosis yang menyerang jaringan paru-paru manusia.
Sebenarnya, bakteri Mycobacterium tuberculosis ini tidak hanya menyerang
paru, tetapi bisa mengenai otak, ginjal, maupun tulang. Namun, kejadian paling
banyak adalah menyerang paru. Penyakit ini tergolong penyakit menular dan
memiliki proses penyembuhan yang lama (Bahar, 2001).
Faktor risiko yang dapat menyebabkan seseorang menderita Tb paru
adalah gizi kurang, lingkungan rumah kurang yang memadai, gaya hidup yang
tidak sehat, dan lain-lain. Beberapa faktor risiko tersebut terdapat pada Ny. AR.
Lingkungan rumah yang kurang memadai seperti pencahayaan matahari yang
kurang dapat membuat bakteri Mycobacterium tuberculosis ini bertahan lama
diudara, bahkan bisa mencapai satu bulan. Gaya hidup yang masih kurang
sehat serta lingkungan rumah yang lembab ikut berperan dalam penyakit Tb
Paru ini. Sebelumnya juga dalam lingkungan rumah keluarga Ny. AR terdapat
pasien dengan tuberculosis yaitu suami Tn. S yang kemudian dinyatakan
sembuh dengan program pengobatan penyakit Tb. Keadaan sosio ekonomi dan
pengetahuan yang kurang menyebabkan pasien dan keluarga kurang
memerhatikan hal-hal pencegahan mengenai penyakit tuberculosis.
Fungsi holistik dan fungsi fisiologis keluarga Ny. AR secara umum sudah
baik. Namun, pada fungsi patologis terdapat permasalahan dalam hal edukasi
yaitu pasien hanya lulusan SD sedangkan suami pasien adalah lulusan SMP.
Hal ini mempengaruhi perilaku keluarga dalam menerapkan gaya hidup sehat.
Dari segi ekonomi keluarga ini tergolong kurang mampu. Untuk pemenuhan
kesehatan pasien berobat ke dokter umum atau ke puskesmas. Tetapi kesadaran
keluarga pasien akan jaminan kesehatan masih kurang, terbukti pasien belum

20

punya JAMKESDA maupun JAMKESMAS dan belum memahami sepenuhnya


tentang jaminan kesehatan nasional.
Tb Paru adalah penyakit yang sangat menular, dimana seseorang dapat
menularkan kepada sepuluh sampai tiga belas orang dalam tiga tahun. Hal ini
sangat ditakutkan terjadi pada keluarga Ny. AR. Pengobatan penyakit Tb Paru
tidaklah mudah. Pasien harus menjalani pengobatan selama enam bulan
berturut-turut, dimana pada dua bulan pertama, pasien meminumnya setiap hari
dan empat bulan berikutnya dua hari sekali. Hal ini menjadi kendala besar bagi
pasien. Namun, pasien memiliki keluarga yang mendukung kesembuhan pasien
sehingga selalu mendukung dan mengawasi pasien meminum obat.
B.

Saran Komprehensif
Saran yang dapat diberikan kepada pasien dan keluarganya adalah:
Promotif dan preventif
1. Menjelaskan kepada keluarga pasien mengenai pencegahan,
faktor risiko penyakit, komplikasi, dan penatalaksanaan TB.
2. Pemeriksaan dahak satu keluarga serumah
3. Menutup mulut ketika batuk atau menggunakan masker.
4. Tidak meludah disembarang tempat. Ludah bisa dibuang pada
pot khusus kemudian dibakar.
5. Makan makanan bergizi dan olah raga teratur.
6. Membiarkan matahari masuk dengan membuka jendela dan
pintu secara teratur terutama pagi hari.
7. Tetap

menjaga

kebersihan

rumah

jika

belum

mampu

memperbaiki keadaan rumah agar memadai.


8. Memeriksa kesehatan secara teratur dan taat anjuran dokter
Kuratif
Non Medikamentosa
1. Makan makanan bergizi dan olahraga teratur

21

2. Edukasi Keluarga Pasien


3. Edukasi Pasien
Medikamentosa
OAT dari Puskesmas:
Rifampisin 1x 300 mg (3x seminggu)
Isoniazid 1 x 300 mg (3x seminggu)
Vit B6 3x1
Rehabilitatif (-)

DAFTAR PUSTAKA

22

Bahar A., 2001. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam jilid II. Jakarta: Balai Penerbit
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

23