Anda di halaman 1dari 169

BAB III

AKUNTABILITAS KINERJA

A. HUBUNGAN ANTAR DOKUMEN DAN TANGGUNG JAWAB KINERJA


Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) memiliki keterkaitan
erat dengan Sistem Perencanaan Pembangunan (UU nomor 25 tahun 2004) baik secara
substantif isi, waktu, proses maupun dokumen yang disusun. Dokumen Renstra terkait
dengan dokumen RPJMD, RKT dengan RKPD, PK dengan Penetapan APBD, sehingga
dokumen LAKIP pun akan simultan dengan monitoring dan evaluasi perencanaan
pembangunan. Hasil evaluasi dalam laporan tersebut menjadi masukan/umpan balik bagi
proses perencanaan selanjutnya.
Dalam SAKIP, dokumen Renstra dijabarkan setiap tahun dalam dokumen RKT
yang memuat rencana kinerja yang ditargetkan. Setelah APBD ditetapkan, target kinerja
tersebut ditetapkan dalam dokumen Penetapan Kinerja.
Dalam jangka waktu satu tahun, setiap SKPD dengan kegiatan sesuai bidangnya
akan melakukan upaya-upaya pencapaian target kinerja dimaksud.
Proses evaluasi kinerja dalam LAKIP akan diawali dengan penghimpunan data
kinerja yang bersumber dari seluruh SKPD sesuai bidangnya masing-masing.

B. PENGUKURAN KINERJA
Akuntabilitas Kinerja adalah pertanggungjawaban pemerintah dalam
mewujudkan visi dan misinya. Pengukuran kinerja dimaksudkan untuk mengetahui
sejauhmana keberhasilan dan kekurangan pelaksanaan kegiatan, seberapa jauh efektifitas
penggunaan anggaran untuk mencapai target-target yang telah ditetapkan, serta seberapa
jauh tingkat efisiensi pemanfaatan sumberdaya yang ada.
Pengukuran kinerja dalam rangka mengetahui tingkat keberhasilan/kegagalan
pencapaian sasaran dilakukan dengan cara membandingkan antara realisasi dengan target
setiap indikator kinerja yang telah ditetapkan.
Rumus untuk menghitung capaian kinerja setiap indikator ada dua macam :
Indikator bermakna positif, artinya : jika semakin besar realisasi berarti semakin baik
kinerjanya, atau sebaliknya semakin kecil realisasi semakin buruk kinerjanya, maka
digunakan rumus pendek.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

-1

REALISASI
TARGET

100%

Indikator bermakna negatif, artinya : jika semakin besar realisasi berarti semakin
buruk kinerjanya, atau sebaliknya semakin kecil realisasi semakin baik kinerjanya,
gunakan rumus panjang.

TARGET ( REALISASI TARGET )


x 100%
TARGET
Nilai capaian kinerja masing-masing sasaran dianggap mempunyai bobot yang
sama, sehingga digunakan rumus rata rata.
Berdasarkan hasil pengukuran kinerja, maka capaian kinerja dikategorikan
dengan menggunakan skala ordinal, merujuk pada skala penilaian kinerja sebagai berikut:
- Nilai dibawah 55 : kurang
- Nilai > 55 s/d 80 : cukup
- Nilai > 80 s/d 95 : baik
- Nilai > 95 s/d 100 : sangat baik
Secara substantif Indikator Kinerja Utama (IKU) Pemerintah Kota Magelang
dalam jangka menengah adalah tercapainya misi-misi jangka menengah Kota Magelang,
sedangkan dalam jangka pendek adalah tercapainya sasaran-sasaran jangka pendek
sebagaimana tertuang dalam RKPD maupun RKT Kota Magelang. Hal tersebut ditegaskan
dengan Peraturan Walikota Magelang Nomor 43 Tahun 2011 tentang Penetapan Indikator
Kinerja Utama Pemerintah Kota Magelang Tahun 2011-2015 dan dokumen Penetapan
Kinerja tahun 2013.
Permasalahan utama yang terjadi dalam pengukuran kinerja adalah :
Pertama; kurangnya ketersediaan data kinerja sebagai akibat tidak dilakukannya
pengumpulan data kinerja secara tertib, dan adanya kesulitan dalam interpretasi
atas data-data tertentu.
Kedua;

terdapat beberapa indikator kinerja utama yang dirasa kurang sesuai maupun
kurang jelas karena tidak dilengkapi dengan formulasinya.

Ketiga;

beberapa target kinerja yang disusun dalam dokumen Perencanaan maupun


dokumen Penetapan Kinerja dirasa kurang valid.

Akibat dari permasalahan-permasalahan tersebut adalah terdapat sebagian


indikator yang tidak terpenuhi data realisasi kinerjanya. Langkah klarifikasi (desk) dengan
SKPD ditujukan untuk memperkecil permasalahan dan menemukan solusi
pemecahan/perbaikan. Beberapa kesepakatan yang dihasilkan antara lain : menghilangkan
sementara indikator kinerja yang tidak bisa diukur dari pengukuran kinerja tahun ini dan

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

-2

mengganti atau menambahkan beberapa indikator yang dianggap relevan serta tersedia
datanya. Matrik Pengukuran Kinerja selengkapnya dapat dilihat dalam Lampiran.

C. PENCAPAIAN KINERJA
Berdasarkan pengukuran kinerja, secara garis besar capaian kinerja utama
setiap misi tahun 2011-2013 disajikan dalam form Pengukuran Kinerja sebagaimana
tabel 3.1.
Tabel 3.1
Capaian Kinerja Kota Magelang Tahun 2011-2013
Misi dalam RPJMD 2011-2015

Misi ke 1 : Menciptakan Pemerintahan yang


bersih dan profesional dengan
peningkatan
kapasitas
dan
responsifitas
aparatur
yang
didasarkan
pada
nilai-nilai
kebenaran dan berkeadilan;
Misi ke 2 : Meningkatkan
sumber-sumber
pendanaan
dan
mendorong
tumbuhnya iklim investasi untuk
pengembangan usaha yang mampu
membuka peluang penyerapan
tenaga kerja yang luas bagi
masyarakat;
Misi ke 3 : Memperkuat dan meningkatkan
pertumbuhan
perekonomian
kerakyatan
dengan
mengoptimalkan potensi daerah
yang didukung oleh kemandirian
masyarakat;
Misi ke 4 : Meningkatkan
pembangunan
pelayanan
perkotaan
dengan
pengembangan budaya daerah
disertai
dengan
peningkatan
peran serta dan pemberdayaan
masyarakat
dengan
mengedepankan
aspek
kemandirian;
Misi ke 5 : Mendorong peningkatan derajat
kesehatan,
pengembangan
kualitas pendidikan dan sumber
daya manusia yang cerdas,

Tahun 2011

Capaian Kinerja
Tahun 2012 Tahun 2013

114,03

89,92%

112,99%

119,29

132,31%

116,54%

88,84

126,57%

135,99%

107,66

132,61%

122,54%

97,50

121,34%

106,81%

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

-3

Misi dalam RPJMD 2011-2015

Tahun 2011

terampil, kreatif, inovatif dan


memilki etos kerja yang tinggi;
Misi ke 6 : Mengembangkan
paham
kebangsaan dan meningkatkan
kualitas keimanan dan ketaqwaan
guna mewujudkan rasa aman
ketentraman masyarakat.

152,40

Capaian Kinerja
Tahun 2012 Tahun 2013

126,90%

111,90%

Dari tabel tersebut terlihat bahwa capaian kinerja tahun 2013 adalah 117,79%
lebih rendah dari tahun 2012 yang bernilai 121,61%. Adapun secara rinci hasil pengukuran
atas capaian indikator kinerja dan capain indikator kinerja utama terlampir (dalam
Lampiran I dan Lampiran II.

D. EVALUASI DAN ANALISIS CAPAIAN KINERJA


Capaian Kinerja Sasaran merupakan capaian dari Penetapan Kinerja Tahun 2013,
yang di dalamnya termuat indikator kinerja utama (Perwal 43 Tahun 2011) dan indikator
kinerja tambahan yang dipandang penting untuk dimuat dalam dokumen Penetapan Kinerja
Tahun 2013. Adapun evaluasi dan analisis sebagaimana uraian berikut ini :

Misi Pertama: Menciptakan

Pemerintahan yang bersih dan profesional dengan


peningkatan kapasitas dan responsifitas aparatur yang didasarkan pada
nilai-nilai kebenaran dan berkeadilan.

1. Meningkatnya pengelolaan administrasi perkantoran dengan baik dan tertib dalam


rangka penyelenggaraan pemerintahan yang professional menuju pelayanan publik
yang prima.
a. Capaian indikator kinerja:
Tahun 2012
No

Indikator Sasaran

Rasio pemenuhan sarana


prasarana perkantoran
Tertib administrasi
perkantoran,
kepegawaian, dan
keuangan
Penerapan e-Government
yang diukur :
- e-Procurement (LPSE)
- Jumlah SKPD yang
menggunakan Sistem
Informasi
- Jumlah SKPD yang

Target

Realisasi

85%

85%

Capaian
Kinerja
2012
100%

Tahun 2013
Target

Realisasi

90%

95%

Capaian
Kinerja
2013
106%

---

---

---

77%

100%

130%

40%
25
SKPD

44%
18
SKPD

110%
72%

50%
30
SKPD

100%
46
SKPD

200%
153%

10

60%

24

21

88%

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

-4

Tahun 2012
No

5
6

7
8
9

10

Indikator Sasaran
memiliki website
- WAN (Wide Area
Network) setiap SKPD
- Penggunaan software
legal/ OSS di setiap SKPD
Tersedianya dokumen
data/ informasi/ statistik
daerah:
- Buku Daerah dalam
Angka
- Buku PDRB Kota
- Buku Profil Daerah
- Buku Profil Kelurahan
Tersedianya data base
informasi kearsipan
Terwujudnya pelayanan
informasi kearsipan
daerah bagi masyarakat
Persentase SKPD yang
melaksanakan arsip baku
Peningkatan SDM
pengelola kearsipan
Terlaksananya
penyelamatan dan
pelestarian dokumen/
arsip daerah
Terpeliharanya sarana
dan prasarana kearsipan

Target

Realisasi

SKPD
25%

SKPD
10%

25%

Capaian
Kinerja
2012

Tahun 2013

Capaian
Kinerja
2013

Target

Realisasi

40%

SKPD
50%

SKPD
20%

40%

40%

80%

100%

20%

20%

ada

ada

100%

ada

ada

100%

ada
ada
ada
ada

ada
ada
ada
ada

100%
100%
100%
100%

ada
ada
ada
ada

ada
ada
ada
ada

100%
100%
100%
100%

50%

50%

100%

55%

71%

129%

55%

55%

100%

60%

55%

92%

35%

35%

100%

40%

100%

250%

60%

60%

100%

70%

100%

143%

50%

50%

100%

60%

100%

167%

b. Evaluasi
- Selama ini belum dilakukan identifikasi kebutuhan sarana prasarana perkantoran
yang disesuaikan dengan beban kerja/kebutuhan SKPD, standarisasi belum ada,
sehingga terdapat kesenjangan antara SKPD yang satu dengan SKPD lainnya.
- Pengelolaan surat-menyurat, administrasi kepegawaian dan keuangan telah
dilakukan sebagaimana mestinya.
- Pada tahun anggaran 2013 seluruh paket pelelangan telah melalui e-Procurement,
kinerja tersebut dihasilkan dari upaya memenuhi target ketentuan dalam peraturan
tentang pengadaan barang dan jasa.
- Sistem Informasi yang digunakan seluruh SKPD di Kota Magelang adalah Sistem
Informasi Perencanaan Pembangunan Daerah (SIPPD), Sistem Informasi Keuangan
Daerah (SIMDA).
- WAN Kota Magelang saat ini baru dapat menggabungkan Sekretariat Daerah dan
Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika dalam satu kontak.
- Dokumen informasi statistik yang disusun adalah:
1) Buku Daerah dalam Angka
2) Buku PDRB Kota

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

-5

3) Buku Profil Daerah


4) Profil Kelurahan di seluruh kelurahan
- Pada tahun 2013 telah dilaksanakan sosialisasi software SIMARDI dan sosialisasi
Peraturan Daerah Nomor 13 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Kearsipan
kepada seluruh pengelola kearsipan di SKPD., sekolah dan BUMD. Selain itu juga
dilakukan penataan arsip langsung ke SKPD.
c. Permasalahan dan rekomendasi.
- Perlu dilakukan identifikasi kebutuhan sarana prasarana perkantoran yang standar
sesuai dengan beban kerja/kebutuhan SKPD.
- Beberapa kesalahan kecil dalam pengelolaan administrasi masih terjadi seperti
keterlambatan pelaporan, kealpaan dalam pencatatan, distribusi, ataupun kesalahan
pembukuan.
- Agar lebih mencerminkan kinerja, maka indikator sistem informasi sebaiknya
dispesifikan pada sistem informasi teknis/spesifik yang ada di SKPD seperti
penanaman modal, kearsipan, perizinan, kependudukan dan lain-lain.
- Sebenarnya terdapat data-data profil lainnya seperti profil pendidikan, kesehatan,
pariwisata, pemuda, kependudukan, penanaman modal dan lain-lain. Keberadaan
profil-profil tersebut belum teridentifikasi secara terpadu.
- Beberapa capaian indikator dalam sasaran ini nampak terlalu ekstrim,

sehingga sebenarnya kurang layak untuk diukur.


1) Penerapan e-procurement, terjadi karena pemenuhan target yang
diharuskan dalam ketentuan.
2) Angka realisasi 46 adalah sistem informasi yang bersifat umum yang
memang mesti diterapkan oleh semua SKPD.
3) Peningkatan SDM kearsipan perlu dijelaskan apakah secara kualitas atau
kuantitasnya. Baik kualitas maupun kuantitas juga perlu diperjelas
batasannya/alat ukurnya.
4) Sarana dan prasarana kearsipan, yang dipelihara antara lain berupa
pemeliharaan rolling opact, filling kabinet, dos arsip, cardex, rak arsip,
lemari arsip, meja pengolahan, kartu kendali, folder, AC dan pemadam
kebakaran. Terhadap jenis sarpras tersebut, kinerja yang ditargetkan
dipandang terlalu kecil.
2. Terwujudnya pemerintahan yang bersih, responsif, bertanggungjawab dan akuntabel
a. Capaian indikator kinerja :
Tahun 2012
No
1
2

Indikator Sasaran
Hasil Opini BPK untuk
Laporan Keuangan
Tingkat Ketertiban
Administasi pelaksanaan
pembangunan dan
keuangan

Target

Realisasi

WDP

WDP

Capaian
Kinerja
2012
WDP

85 %

89.50%

105.30%

Tahun 2013
Target

85 %

Realisasi

Capaian
Kinerja
2013

WDP

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

88.77%

104.44%

BAB III

-6

Tahun 2012
No
3
4

Indikator Sasaran
Tingkat temuan
pemeriksaan
Tingkat capaian kinerja
pemerintah kota:
LAKIP
LPPD
LKPJ

5
6
7
8

Indeks Kepuasan
Masyarakat (IKM)
Tingkat perbaikan
terhadap semua obrik
Tingkat Kapasitas
Aparatur
Persentase kesesuaian
tingkat pendidikan dengan
jabatan struktural

Capaian
Kinerja
2012
97.40%

Target

Realisasi

83 %

80.84%

Sangat
baik
Tepat
waktu
Tepat
waktu
Baik

Sangat
baik
Tepat
waktu
Tepat
waktu

100%

Baik

Tahun 2013
Target

Realisasi

83 %

82.39%

Sangat baik

100%

Sangat
baik
Tepat
waktu
Tepat
waktu
Baik

83,18%

83,10%

100%
100%

Tepat waktu
Tepat waktu

Capaian
Kinerja
2013
99.27%

100%
100%
100%

Baik

100%

68 %

81.25%

119.49%

83,50%

83,50%

100%

99,90%

83,18%

86,73%

104%

b. Evaluasi
- Hasil opini BPK untuk Laporan Keuangan Tahun 2012 adalah Wajar Dengan
Pengecualian (WDP). Untuk tahun 2013 sampai saat laporan ini belum diumumkan,
namun dari reviu sementara diperkirakan masih belum mampu mencapai Wajar
Tanpa Pengecualian (WTP).
- Upaya meningkatkan ketertiban administrasi pelaksanaan pembangunan dan
keuangan Tahun 2013 diwujudkan dengan 7 (tujuh) kegiatan yaitu:
1) Penyusunan laporan pengawasan
2) Pemutakhiran data hasil pengawasan melalui Rapat Koordinasi Pengawasan
Daerah yang dilaksanakan setiap triwulan.
3) Pemaparan Hasil Pengawasan melalui Gelar pengawasan pada bulan Juli
4) Penilaian SKPD melalui evaluasi LAKIP oleh Inspektorat Kota Magelang kepada 6
SKPD dari target 8 SKPD. Karena keterbatasan Pengawas Pemerintahan (PP)
yang melaksanakan evaluasi maka dari 8 target SKPD yang dapat direalisasikan
hanya 6 SKPD.
5) Pemanfaatan saran untuk perbaikan Laporan Keuangan Daerah hanya mencapai
kinerja 50% karena keterbatasan auditor pada Inspektorat Kota Magelang.
Reviu Laporan Keuangan Pemerintah Daerah hanya dilakukan secara sampel ke
beberapa SKPD, sehingga pemanfaatan saran dari Inspektorat Kota Magelang
belum semuanya digunakan oleh BPK RI Perwakilan Provinsi Jawa Tengah.
6) Penelitian dan penilaian laporan pajak-pajak pribadi (LP2P) mencapai kinerja
96,41% dikarenakan realisasi laporan pajak-pajak pribadi (LP2P) yang masuk
berjumlah 3085 PNS Golongan III a ke atas dari target sebesar 3200 PNS.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

-7

7) Percepatan pemberantasan korupsi pelaksanaan nomor 5 tahun 2004


terealisasinya dengan 2 buah Laporan Rencana Aksi Pemberantasan Korupsi
setiap semester.
- SKPD/Entitas selaku Obyek Pemeriksaan (Obrik) telah memiliki keseriusan dalam
menindaklanjuti rekomendasi hasil pemeriksaan Aparat Pengawasan Intern
Pemerintah (APIP) baik Inspektorat Provinsi Jawa Tengah dan Inspektorat Kota
Magelang maupun Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI Perwakilan Provinsi Jawa
Tengah.
Rekomendasi hasil pemeriksaan APIP dan BPK RI Perwakilan Provinsi Jawa Tengah
yaitu:
1) Inspektorat Kota Magelang Tahun 2013 dengan jumlah rekomendasi 729 dan
telah ditindaklanjuti sebanyak 704. Sedangkan untuk temuan Inspektorat Kota
Magelang yang pending sudah semua ditindaklanjuti.
2) Inspektorat Provinsi Jawa Tengah Tahun 2012 dan 2013 dengan jumlah
rekomendasi 82 dan yang ditindaklanjuti 67.
3) BPK RI untuk rekomendasi yang belum ditindaklanjuti dari pending tahun 2003
sampai dengan 2013 berjumlah 482 dan yang telah ditindaklanjuti sampai dengan
Hasil Pemutakhiran Data Semester II Tahun 2013 berjumlah 332 rekomendasi.
- Tingkat capaian kinerja pemerintah kota diperoleh dari pengukuran kinerja dalam:
1) LAKIP : sangat baik
2) LPPD

: tepat waktu

3) LKPJ

: tepat waktu

- Index Kepuasan Masyarakat (IKM)


Pelaksanaan Survey Kepuasan Masyarakat bekerjasama dengan para mahasiswa
Universitas Muhammadiyah Magelang yang berperan sebagai tenaga surveyor
langsung ke 40 unit pelayanan publik. Hasil survey tersebut memberikan dampak
positif bagi peningkatan kinerja pelayanan publik dimana masyarakat dapat turut
berperan dan berinteraksi guna memberikan kritik/saran perbaikan dalam rangka
perbaikan pelayanan di unit pelayanan publik.
Hasil survey Indeks Kepuasan Masyarakat tahun 2013 diperoleh nilai rata-rata
74,77 atau terkategori B (Baik). Nilai tersebut jika dibandingkan dengan rata-rata
nilai IKM tahun 2012 mengalami peningkatan sebesar 0,26. Jumlah unit pelayanan
publik yang menjadi obyek survey juga mengalami peningkatan dari tahun 2012 yang
sejumlah 35 unit.
Grafik perkembangan nilai IKM dan jumlah UPP yang disurvey dari Tahun 2008 s/d
2013 sebagai berikut:

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

-8

Gambar 3.1

Nilai Rata-rata IKM Kota Magelang Tahun 2009


s/d 2013
90.00
80.00
70.00
60.00
50.00
40.00
30.00
20.00
10.00
0.00

75.66

76.22

27

30

2009

2010

74.73

74.51

35

35

74.77

40

Nilai IKM
Jml UPP

2011

2012

2013

- Pembinaan terhadap obyek pemeriksaan dilakukan melalui pengawasan internal


secara berkala. Target pembinaan sebanyak 160 obrik hanya terealisasi 100 obrik,
oleh karena keterbatasan Jabatan Fungsional Auditor maupun Pengawas
Pemerintahan.
- 20 kasus pengaduan di lingkungan pemerintah daerah dapat terselesaikan.
- Persentase tingkat kompetensi aparatur diperoleh dari perbandingan antara
jumlah pegawai yang menduduki jabatan sesuai dengan latar belakang
pendidikannya, dibandingkan dengan jumlah jabatan struktural yang tersedia.
- Upaya meningkatkan pengetahuan, keahlian, ketrampilan dan sikap aparat
dilaksanakan melalui jalur akademis dan non akademis.
Tahun 2013 jumlah aparatur yang mengikuti diklat adalah sebagai berikut:
NO
1
2
3

JENIS
DIKLAT

REALISASI
2012

Diklat teknis
Diklat penjenjangan struktural
Diklat fungsional
JUMLAH

354
24
25
403

TARGET
2013

REALISASI
2013

450
45
20
515

489
42
25
536

PROSENTASE
(Target/
Realisasi

108,67%
93,00%
125,00%
104,08%

Sedangkan jumlah aparat yang mengikuti tugas belajar sebanyak 11 orang. Tahun
sebelumnya tugas belajar diberikan kepada 20 orang. Penurunan jumlah tersebut
dikarenakan jumlah peserta yang lulus untuk tugas belajar berkurang.
- Dari jumlah 580 jabatan struktural yang ada di lingkungan Pemerintah Kota
Magelang yang terisi sebanyak 529 jabatan, sedangkan sisanya sebanyak 51
jabatan belum terisi. Dari 529 pejabat yang ada sebanyak 459 pejabat (86,73%)
mempunyai latar belakang pendidikan formal yang sesuai dengan bidang tugasnya.
c. Permasalahan dan Rekomendasi
- Kendala dalam hal tindak lanjut oleh temuan APIP maupun BPK RI Perwakilan
Provinsi Jawa Tengah antara lain :
1) Adanya PNS yang bertanggungjawab/pelaku atas kerugian daerah/negara telah
pindah tugas,pensiun ataupun meninggal

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

-9

2) Perusahaan/pihak ketiga yang bertanggung jawab atas temuan tidak kooperatif,


pindah ke daerah lain, tidak dapat diketahui keberadaannya.
- Target dari indikator tingkat capaian kinerja pemerintah kota perlu direvisi.
Ukuran kinerja yang dipakai sebaiknya adalah nilai numerik dari pihak eksternal
seperti BPKP, Kementerian dan atau lainnya.
- Banyak indikator kinerja yang keliru/tidak sesuai dengan sasaran, tidak jelas
definisi operasional/rumusannya, tumpang tindih dan berorientasi output.
- Banyak data kinerja yang sulit didapatkan, mekanisme juga belum tersistem dengan
baik.
- Survey IKM perlu dikembangkan ke seluruh unit pelayanan publik yang ada, dengan
indikator penilaian maupun metode penilaian yang disesuaikan dengan kondisinya.
3. Diwujudkannya pelayanan publik yang cepat, transparan, dan adil
a. Capaian indikator kinerja
Tahun 2012
No

Indikator Sasaran

Penyederhanaan prosedur
pelayanan publik
Ketersediaan Standar
Operasional Prosedur
bidang perizinan dan
pelayanan umum
Penyelesaian aduan
masyarakat
Tingkat kompetensi
aparatur
Rasio bayi berakte
kelahiran
Rasio pasangan berakte
nikah
Rasio penduduk berKTP
per satuan penduduk
Kepemilikan KTP
Kepemilikan akta
kelahiran per 1000
penduduk (menyusul)
Penerapan KTP Nasional
berbasis NIK
Cakupan penerbitan Kartu
Tanda Penduduk ( KTP )
Cakupan penerbitan Kartu
Kelurga
Cakupan penerbitan
kutipan akta kelahiran
Cakupan penerbitan
kutipan akte kematian

3
4
5
6
7
8
9

10
11
12
13
14

Target

Realisasi

---

---

Capaian
Kinerja
2012
---

Tahun 2013
Target

Realisasi

100%

100%

Capaian
Kinerja
2013
100%

100%

100%

100%

100%

100%

100%

100%

100%

100%

100%

100%

100%

88,75%

90,00%

101,41%

91%

91%

100%

100%

92,37%

92,73%

100%

68,24%

68,24%

100%

100%

100%

100%

100%

100%

100%

100%

100%

100%

88,88%

88,88%

100%
790

100%
838

100%
106,08%

100%
813

88,88%
860

88,88%
106%

ada

ada

100%

ada

ada

100%

100%

100%

100%

100%

71,80%

71,80%

---

---

---

100%

27,15%

27,15%

100%

92,37%

92,73%

100%

153%

153%

---

---

---

23%

50,36%

219%

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 10

b. Evaluasi
- Penyederhanaan prosedur pelayanan berusaha menjawab isu strategis dan memacu
upaya dilakukannya terobosan/inovasi peningkatan kualitas pelayanan publik.
Bentuk penyederhanaan utamanya pada alur yang harus dilalui oleh pelanggan
maupun persyaratan yang harus dipenuhi. Penyederhanaan prosedur pelayanan
tercermin dengan penerapan one stop service (OSS) melalui SKPD Badan Pelayanan
Perizinan Terpadu (BP2T). 37 jenis pelayanan telah dilimpahkann pelayanannya di
BP2T. Jaminan kualitas penyelenggaraan pelayanan ditunjukkan dengan sertifikat
ISO 9001:2008 dari SAI Global dengan Nomor sertifikat: QEC28140 dikeluarkan
tanggal 14 November 2010 berlaku s/d 14 November 2013.
- Standar Operasional Prosedur bidang perizinan dan pelayanan umum sebagian
besar telah tersedia, meskipun bentuknya tidak sama persis dengan yang dibakukan
dalam Permenpan&RB.
- Unit-unit pelayanan publik telah memiliki mekanisme penanganan pengaduan,
meskipun tidak semuanya membentuk unit khusus. Unit khusus yang terbentuk
diantaranya ada di BP2T dan RSUD Tidar.
- Data prosentase pegawai berdasarkan jenjang pendidikan:
NO
1
2
3
4
5
6
7
8
9

JENJANG
PENDIDIKAN
S2
S1
D-IV
D-III
D-II
D-I
SMA
SMP
SD

2012
5,88
47,25
0,84
11,69
6,70
0,80
18,80
4,36
3,68

2013
6,29
48,83
0.90
11,50
5,76
0,76
18,07
4,40
3,49

/ +
0,41
1,58
0,06
(0,19)
(0.94)
(0,04)
(0,73)
0,04
(0,19)

Data di atas menunjukkan peningkatan jenjang pendidikan pegawai di tingkat D-IV


sampai S2, sedangkan jenjang pendidikan di bawahnya terdapat penurunan
persentase.
- Rasio bayi berakte kelahiran dihitung berdasarkan jumlah bayi lahir sampai dengan
usia 1 tahun yang mempunyai akte. Masih banyak bayi lahir yang belum berakte
kelahiran (38%) artinya masyarakat cenderung tidak segera mencatatkan kelahiran
bayinya.
- Rasio pasangan berakte nikah dihitung berdasarkan jumlah pasangan yang nikah
yang dicatatkan di Catatan Sipil. Pada tahun 2013 ini sebanyak 124 pasangan non
muslim yang menikah dan kesemuanya telah dicatatkan pernikahannya di Dinas
Kependudukan dan Pencatatan Sipil. Angka ini belum menjawab kemungkinan adanya
pernikahan yang tidak didaftarkan.
- Terdapat 21,12% penduduk yang wajib memiliki KTP ternyata belum memiliki KTP
berbasis NIK (program SIAK / Sistem Informasi Administrasi Kependudukan),
angka ini cukup besar.
- Angka cakupan penerbitan Kartu Keluarga teramat kecil, hanya 27,15%.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 11

- Angka cakupan penerbitan kutipan akta kematian cukup naik signifikan, hal ini
sangat ditunjang dengan adanya kebijakan pemberian santunan kematian oleh
Pemerintah Kota Magelang.
c. Permasalahan dan Rekomendasi
- Masih terdapat beberapa perizinan yang belum dilimpahkan kewenangannya,
sehingga prosesnya membutuhkan waktu yang lama.
- Banyak SKPD yang belum mampu menyusun SOP dengan baik.
- Pasangan nikah di luar pencatatan masih banyak ditemukan.
- Kelahiran bayi akibat hubungan tidak resmi sering menjadi penyebab tidak
dibuatnya akte kelahiran.
4. Perlakuan aparatur yang mencerminkan nilai-nilai good governance (adil, transparan,
penegakan hukum, menghormati ham) dalam memberikan pelayanan publik
a. Capaian indikator kinerja
Tahun 2012
No
1

Indikator Sasaran

Target

Persentase PNS yang


10,02%
mendapat hukuman
disiplin
Persentase Rata-rata
95,25%
tingkat kehadiran PNS
dalam 1 Tahun
Penanganan kasus
20
pelanggaran disiplin PNS
Rata-rata Capaian Kinerja

Target

Realisasi

0,66%

Capaian
Kinerja
2012
193,41%

7,38%

0,14%

Capaian
Kinerja
2013
198,10%

98,26%

103,16%

95.50%

95,02%

99,50%

10

150%

20

165%

Realisasi

Tahun 2013

115,52%

154,20%

b. Evaluasi
- Peningkatan kedisiplinan pegawai sangat baik. Hal ini ditunjang dengan beberapa hal
antara lain:
1) Penerapan presensi elektonik di berbagai titik SKPD;
2) Operasi GDN;
3) Sidak Kepala Daerah.
c. Permasalahan dan rekomendasi
- Peningkatan disiplin hendaknya diiringi dengan peningkatan budaya kerja.
- Penilaian disiplin/kinerja pegawai juga harus mempertimbangkan tugas-tugas lain
yang diberikan di luar jam kerja dan atau beban kerjanya.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 12

5. Terwujudnya peningkatan kualitas dokumen perencanaan pembangunan daerah yang


partisipatif dalam rangka peningkatan kualitas pelayanan publik
a. Capaian indikator kinerja :
Tahun 2012
No
1

10
11

Indikator Sasaran

Target

Realisasi

Dokumen Perencanaan
6 dok
7 dok
Pembangunan Bidang
Ekonomi, Sosial dan
Budaya, serta Fisik
Prasarana yang
berkualitas (udate dan
valid)
Tingkat penyusunan
100%
100%
dokumen perencanaan
pembangunan daerah
yang berkualitas, tepat
waktu dan tepat asas.
Jumlah Penelitian/
----kajian sebagai bahan
masukan kebijakan
Dokumen RPJPD yang
----ditetapkan dengan
Peraturan Daerah.
Dokumen RPJMD yang
----ditetapkan dengan
Peraturan Daerah.
Dokumen RKPD yang
ada
ada
ditetapkan dengan
Peraturan Walikota
Ditetapkannya
sesuai
sesuai
dokumen perencanaan
sesuai peraturan yang
berlaku (RPJM, RKPD)
Tingkat Konsistensi
90%
90%
Penjabaran program
RPJMD kedalam RKPD
Program dalam BA
100%
100%
Hasil Musrenbang yang
diakomodir RKPD
Pelaksanaan
terlaksana terlaksana
Musrenbang
Tingkat partisipasi
80%
80%
masyarakat dalam
perencanaan daerah

Capaian
Kinerja
2012
116,67%

Target

Realisasi

6 dok

14 dok

Capaian
Kinerja
2013
233,33%

100%

100%

100%

100%

---

4 dok

3 dok

75%

---

ada

ada

100%

---

ada

ada

100%

100%

ada

ada

100%

100%

sesuai

sesuai

100%

100%

100%

100%

100%

100%

90%

90%

100%

100%
100%

Tahun 2013

terlaksana terlaksana
80%

82%

100%
102,50%

b. Evaluasi :
- Capaian indikator pertama nampak terlalu ekstrim dan tidak layak untuk
pengukuran. Pembentukan outputnya sebenarnya berdasarkan anggaran yang
disediakan pemerintah, sehingga sebelumnya perlu dilakukan revisi target.
- Dokumen perencanaan yang terealisasi adalah :
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 13

1) Dokumen Perencanaan Bidang Ekonomi :


Perencanaan Pengembangan Industri Kecil Menengah (IKM) Kota Magelang;
Perencanaan Pengelolaan Lahan Produktif Pertanian
Penyusunan Masterplan Magelang Kota Sejuta Bunga
Dokumen Perencanaan Pengembangan Kultur Jaringan
2) Dokumen Perencanaan Bidang Sosial Budaya :
Dokumen RAD Pangan dan Gizi;
Dokumen Raperda Penanggulangan Kemiskinan;
Dokumen Perencanaan Pengembangan Pariwisata;
RAD Kota Layak Anak
3) Dokumen Perencanaan Bidang Fisik dan Prasarana :
Dokumen RDTRK BWK I dan IV
Dokumen Rencana Program Investasi Jangka Menengah
Indikator lainnya merupakan indikator lazim yang menjadi kewajiban Pemerintah
Daerah.
c. Permasalahan :
- Sinergisitas proses perencanaan pembangunan daerah dari pendekatan politik
(proses politik) ke pendekatan teknokratik perlu dilakukan dengan pemahaman yang
sama antara lain terkait perumusan pokok-pokok pikiran DPRD.
- Perencanaan dan penganggaran pembangunan daerah yang belum konsisten yang
perlu terus dilakukan minimalisasi deviasi, antara lain dengan integrasi sistem
informasi perencanaan, penganggaran dan evaluasi.
- Adanya ego atau kepentingan antarsektor yang mengakibatkan adanya kesulitan
dan miskoordinasi. Disamping itu persoalan yang bersifat lintas sektor seringkali
ditangani secara parsial dan terfragmentasi sehingga cenderung tidak menyentuh
atau menyelesaikan persoalan yang sebenarnya.
- Perlunya pemahaman yang sama di SKPD terkait urgensi dan signifikansi
perencanaan pembangunan daerah beserta indikator-indikator keberhasilan di
masing-masing urusan yang diemban pada setiap level struktural. Hal ini akan
meningkatkan fokus pencapaian indikator sebagai garda depan perencanaan dan
penganggaran, bukan perencanaan penganggaran yang inkremental.
- Proses perencanaan teknokratik yang berbasis pada data sekunder dan primer, baik
dari hasil monitoring dan evaluasi maupun hasil kajian/telaahan, dianggap masih
belum memadai sehingga kekuatan data dan informasi dalam memproyeksikan arah
pembangunan berikutnya masih lemah.
- Masih terdapat kesulitan untuk memastikan adanya konsistensi antara perencanaan
(program/kegiatan) pembangunan dan alokasi penganggarannya.
- Perlunya optimalisasi monitoring dan evaluasi hasil Renja SKPD maupun RKPD
sehingga tahapan dan isu permasalahan antara bisa disolusikan bersama SKPD dan
Bappeda serta implemantasi E-Monev untuk kecepatan dan keakuratan serta
ketertelusuran progress pelaksanaan Renja maupun RKPD.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 14

d. solusi pemecahan masalah sebagai berikut:


- Perlu dilakukan pemahaman yang sama antara lain terkait perumusan pokok-pokok
pikiran DPRD. Meski saat ini pokok-pokok pikiran DPRD masih belum sesuai dengan
arah substansi yang diatur Permendagri 54/2010
- Integrasi sistem informasi perencanaan, penganggaran dan evaluasi.
Pengintegrasian
- Pemahaman kepada segenap stakeholders di SKPD, utamanya pemahaman persepsi
melalui FGD, sosialisasi dan pertemuan mengawal proses perencanaan baik level
SKPD maupun level Kota
- Selain melauli workshop, juga secara rutin terus berkoordinasi dengan SKPD
melalui desk dan monev laporan kinerja per triwulan maupun upaya lainnya
- Perlunya penyediaan data berbasis fakta yang melibatkan SKPD terkait. Validnya
data akan cukup memberikan pengaruh bagi analisa maupun sumber pengambilan
keputusan/kebijakan
- Pemahaman di seluruh SKPD secara internal maupun koordinasi antar SKPD dan
Bappeda. Salah satu yang penting adalah memastikan agar TAPD saat mengawal dan
verifikasi RKA harus mengacu pada RKPD
- Mekanisme desk saat monev laporan hasil pelaksanaan Renja SKPD akan
memberikan penguatan pada focus pencapaian indikator kinerja di tiap urusan yang
diemban.
- Implemantasi E-Monev untuk kecepatan dan keakuratan serta ketertelusuran
progress pelaksanaan Renja maupun RKPD
6. Terciptanya hubungan resiprositas (timbal balik) antara pemerintah, DPRD, dunia
usaha, masyarakat berbasis demokrasi dan transparansi informasi (penghormatan
hak asasi, penegakkan hukum, dan pemenuhan kewajiban tanggungjawab pada publik)
a. Capaian indikator kinerja
Tahun 2012
No

Indikator Sasaran

Jumlah peraturan yang


mengatur
penyelenggaraan
pelayanan publik yang
dikeluarkan daerah
Waktu rata-rata
pembahasan Raperda /
Perda
Media Informasi Pemda
yang dapat diakses publik
Frekuensi koordinasi
eksekutif dengan
legislatif
Frekuensi komunikasi
Pemda dengan tokoh
masyarakat
Frekuensi komunikasi

3
4

Target

Realisasi

---

---

Capaian
Kinerja
2012
---

Tahun 2013

100%

100%

100%

100%

---

---

---

12 kali

12 kali

100%

---

---

---

24 kali

24 kali

100%

---

---

---

12 kali

12 kali

100%

Target

Realisasi

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

Capaian
Kinerja
2013
233,33%

BAB III

- 15

Tahun 2012
No

Indikator Sasaran
Pemda dengan pelaku
usaha
Raperda yang disetujui
DPRD

Target

Realisasi

20

12

Capaian
Kinerja
2012

60%

Tahun 2013
Target

Realisasi

17

17

Capaian
Kinerja
2013

100%

b. Evaluasi
- Peraturan Daerah (Perda) yang mengatur mengenai penyelenggaraan pelayanan
publik yang ditetapkan tahun 2013 sebanyak 7 (tujuh) Perda, yaitu :
1) Perda Nomor 1 Tahun 2013 tentang Penanaman Modal;
2) Perda Nomor 5 Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Angkutan;
3) Perda Nomor 6 Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Terminal;
4) Perda Nomor 9 Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan dan Pelayanan Pemakaman;
5) Perda Nomor 10 Tahun 2013 tentang Pengelolaan Sampah;
6) Perda Nomor 11 Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Menara Telekomunikasi;
dan
7) Perda Nomor 16 Tahun 2013 tentang Izin Usaha Jasa Konstruksi.
- Waktu rata-rata pembahasan raperda antara eksekutif dan legislatif relatif
tergantung dari tingkat kesulitan, kompleksitas materi dan agenda yang tersedia.
- Media informasi yang tersedia meliputi :
1) Website :
a) www.magelangkota.go.id, merupakan website resmi Pemerintah Kota
Magelang yang dikelola oleh Bidang Pengelolaan Data Elektronik Dinas
Perhubungan, Komunikasi, dan Informatika, yang berisi informasi tentang
profil Kota Magelang, kegiatan Pemerintah Kota Magelang, produk hukum,
wisata dan lain-lain;
b) jdih.magelangkota.go.id, merupakan website jaringan dokumentasi dan
informasi hukum Kota Magelang yang dikelola oleh Bagian Hukum Sekretariat
Daerah Kota Magelang, berisi informasi mengenai produk hukum daerah dan
pusat serta informasi hukum lainnya;
c) bappeda.magelangkota.go.id, merupakan website yang dikelola oleh Bappeda
Kota Magelang, berisi informasi perencanaan pembangunan di Kota Magelang;
d) bp2t.magelangkota.go.id, merupakan website yang dikelola oleh BPPT Kota
Magelang, berisi informasi mengenai pelayanan perizinan di Kota Magelang
sehingga dapat mempermudah masyarakat untuk mendapatkan informasi
mengenai tata cara permohonan perizinan serta mengetahui status pengajuan
izin yang sedang dimohonkan;
e) kotasejutabunga.magelangkota.go.id, merupakan website yang memberikan
informasi mengenai Kota Magelang sebagai Kota Sejuta Bunga;
f) kpm.magelangkota.go.id, merupakan website yang dikelola oleh Kantor
Penanaman Modal Kota Magelang, berisi informasi mengenai dunia
investasi/penanaman modal di Kota Magelang dan pelayanan perizinan
penanaman modal di Kota Magelang;

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 16

g) litbang.magelangkota.go.id, merupakan website yang dikelola oleh Kantor


Litbang dan Statistik Kota Magelang, berisi informasi di bidang penelitian dan
pengembangan serta informasi data statistik;
h) disnakertransos.magelangkota.go.id, merupakan website yang dikelola oleh
Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi, dan Sosial Kota Magelang, berisi informasi
mengenai dunia ketenagakerjaan, transmigrasi, serta bidang sosial yang ada
di Kota Magelang;
i) pertanian.magelangkota.go.id, merupakan website yang dikelola oleh Dinas
Pertanian, Peternakan, dan Perikanan Kota Magelang yang berisi informasi
kegiatan yang dilaksanakan oleh Dinas Pertanian, Peternakan, dan Perikanan
Kota Magelang;
j) dprd.magelangkota.go.id, merupakan website yang dikelola oleh Sekretariat
DPRD Kota Magelang, berisi informasi mengenai persidangan DPRD, produk
hukum yang ditetapkan, serta kegiatan yang dilaksanakan oleh Sekretariat
DPRD dan Anggota DPRD Kota Magelang;
2) Lembaga Penyiaran Publik Lokal Magelang FM, merupakan Radio resmi milik
Pemerintah Kota Magelang yang menyiarkan dan menginformasikan
kegiatan-kegiatan Pemerintah Kota Magelang selain untuk memberikan hiburan
pada masyarakat Kota Magelang dan sekitarnya;
3) Majalah Dinamika, yang merupakan media cetak yang dimiliki oleh Pemerintah
Kota Magelang dan dikelola serta diterbitkan oleh Bagian Humas, Protokol, dan
Santel Sekretariat Daerah Kota Magelang;
4) Pers Release di surat kabar lokal dan regional.
- Koordinasi eksekutif dengan legislatif dilakukan dalam bentuk rapat paripurna,
rapat paripurna istimewa, rapat pimpinan DPRD, rapat fraksi, rapat konsultasi,
rapat Badan Musyawarah, rapat komisi, rapat gabungan komisi, rapat Badan
Anggaran, rapat Badan Legislasi Daerah, rapat Badan Kehormatan, rapat panitia
khusus, rapat kerja, rapat dengar pendapat, dan rapat dengar pendapat umum.
- Bentuk komunikasi Pemerintah Daerah dengan tokoh masyarakat antara lain

berupa forum kerukunan umat beragama (FKUB), sarasehan dengan tokoh


masyarakat di Kelurahan-Kelurahan, kegiatan taraweh keliling, kegiatan
jumat keliling, kegiatan gowes bareng pejabat dan muspida meninjau wilayah
kelurahan.
- Komunikasi Pemerintah Daerah dengan pelaku usaha dilakukan dalam bentuk
rapat koordinasi, pembinaan, pelatihan, fasilitasi temu usaha dan lain-lain.
- Pada tahun 2013 Pemerintah Kota Magelang mengajukan 17 (tujuh belas)
Raperda yang terdiri dari materi umum dan APBD bersama dengan Raperda
luncuran tahun 2012 yang masuk dalam prolegda 2013. Dari jumlah tersebut
sebanyak 17 (tujuh belas) Raperda telah disetujui oleh DPRD Kota Magelang
menjadi Perda, meliputi:
1) Perda tentang Penanaman Modal;
2) Perda tentang Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD Tahun Anggaran 2012;

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 17

3) Perda tentang Penambahan Penyertaan Modal Daerah ke Dalam Modal Perseroan


Terbatas Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah;
4) Perda tentang Perubahan APBD Tahun Anggaran 2013;
5) Perda tentang Penyelenggaraan Angkutan;
6) Perda tentang Penyelenggaraan Terminal;
7) Perda tentang Cagar Budaya di Kota Magelang;
8) Perda Penambahan Penyertaan Modal Daerah ke Dalam Modal Perusahaan
Daerah Bank Perkreditan Rakyat Bank Magelang, Perusahaan Daerah
Perbengkelan, Perusahaan Daerah Percetakan, Perusahaan Daerah Objek
Wisata Taman Kyai Langgeng, dan Perusahaan Daerah Air Minum Kota Magelang;
9) Perda tentang Penyelenggaraan dan Pelayanan Pemakaman;
10) Perda tentang Pengelolaan Sampah;
11) Perda tentang Penyelenggaraan Menara Telekomunikasi;
12) Perda tentang Pengelolaan Dana Bergulir Bagi Koperasi, Usaha Mikro, Kecil, dan
Menengah;
13) Perda tentang Penataan dan Pemberdayaan Pedagang Kaki Lima;
14) Perda tentang Peningkatan Pemberian Air Susu Ibu Eksklusif;
15) Perda tentang Penanggulangan Kemiskinan;
16) Perda tentang Izin Usaha Jasa Konstruksi;
17) Perda tentang APBD Tahun Anggaran 2014.
7. Terwujudnya peningkatan penegakan hukum dan kepastian hukum yang adil bagi semua
a. Capaian indikator kinerja
Tahun 2012
No

Indikator Sasaran

Tingkat penyelesaian
permasalahan hukum
Jumlah dengar pendapat
dengan masyarakat dalam
penyusunan Perda
Jumlah Perda/ Raperda
yang mengakomodasi
masukan masyarakat
Penegakkan disiplin PNS
Cakupan penegakan
peraturan daerah dan
peraturan kepala daerah
di Kabupaten/Kota

4
5

Target

Realisasi

Capaian
Kinerja
2012
33,33%

Tahun 2013

---

---

---

100%

21

18

85,71%

17

17

100%

95,25%
---

98,26%
---

103,16%
---

95%
100%

95,02%
100%

100,02%
100%

Target

Realisasi

100%

90%

Capaian
Kinerja
2013
90%

b. Evaluasi
- Pada tahun 2013 permasalahan hukum yang dihadapi oleh Pemerintah Kota
Magelang telah ditangani secara litigasi dan non litigasi. Permasalahan hukum yang
diselesaikan melalui jalur litigasi adalah berkaitan dengan penyelamatan aset
(barang milik daerah) milik Pemerintah Kota Magelang. Pemerintah Kota Magelang
bertindak sebagai pihak tergugat dalam gugatan atas kepemilikan aset di Jalan

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 18

Aloon-aloon Selatan Nomor 9 Kota Magelang. Proses Pengadilan pada tingkat


pertama dimana Pemerintah Kota Magelang sebagai pihak tergugat telah diputus
sebagai pihak pemenang.
Proses penyusunan raperda di Kota Magelang secara keseluruhan telah
dilaksanakan melalui mekanisme dengar pendapat dengan masyarakat yang
dilaksanakan di tingkat kecamatan maupun kelurahan, melibatkan tokoh
masyarakat, LSM, akademisi, dan stakeholder terkait.
Perda/Raperda sebagaimana tersebut diatas telah mengakomodasi masukan
masyarakat melalui rapat dengar pendapat, sosialisasi, dan diskusi-diskusi lainnya.
Upaya terbaru dalam penegakan disiplin PNS oleh Pemerintah Kota Magelang pada
tahun 2013 dilakukan melalui pelaksanaan absensi PNS menggunakan sistem
elektronik dengan alat perekam sidik jari. Hal tersebut dimaksudkan agar jam
masuk dan pulang PNS dapat terekam dengan baik dan terpantau. Pemberlakuan
sistem tersebut untuk sementara masih diujicobakan di lingkungan Sekretariat
Daerah, Sekretariat Dewan, BKD, DPPKD, Satpol PP, dan Bappeda.
Dalam rangka pengawasan terhadap masyarakat agar mematuhi dan mentaati
Peraturan Daerah, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Magelang dalam
pelaksanaannya melakukan koordinasi dan bekerja sama dengan dinas/instansi
terkait guna melaksanakan operasi penegakan Peraturan Daerah, antara lain :
1) Penegakan Peraturan Daerah tentang Bangunan Gedung, melalui pengawasan dan
penertiban bangunan gedung termasuk menara telekomunikasi yang belum
memiliki IMB dan/atau menyalahi ketentuan mengenai bangunan gedung;
2) Penegakan Peraturan Daerah tentang Pedagang Kaki Lima (PKL), melalui
penertiban PKL yang berjualan pada lokasi yang tidak sesuai dengan ketentuan;
3) Penegakan ketentuan mengenai reklame dalam bentuk penertiban reklame, yang
bekerja sama dengan BP2T dan dinas/instansi terkait.
4) Penertiban spanduk dan baliho terkait dengan izin reklame dan kewajiban
pembayaran pajak reklame yang belum dipenuhi oleh wajib pajak.
5) Operasi Penyakit Masyarakat (PEKAT) bekerja sama dengan Dinas Tenaga
Kerja, Transmigrasi, dan Sosial. Operasi ini bertujuan untuk menjaga keamanan
dan ketertiban lingkungan masyarakat.

8. Terwujudnya ketaatan pemerintahan daerah pada peraturan perundang-undangan


a. Capaian indikator kinerja:
Tahun 2012
No

Indikator Sasaran

Ditetapkannya Perda
APBD tepat waktu
Kesesuaian kelembagaan
SKPD dengan Peraturan
Perundang-undangan yang
berlaku

Target

Realisasi

Tepat
waktu
sesuai

Terlambat

sesuai

Capaian
Kinerja
2012
0%
100%

Tahun 2013
Target

Realisasi

Tepat
waktu
sesuai

Tepat
Waktu
sesuai

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

Capaian
Kinerja
2013
100%
100%

BAB III

- 19

Tahun 2012
No
3

Indikator Sasaran
Persentase Perda yang
ditetapkan terhadap
Perda yang harus ada
(berdasar amanat
perundangan)

Target

Realisasi

---

---

Capaian
Kinerja
2012
---

Tahun 2013
Target
24
(Prolegda)

Realisasi
17

Capaian
Kinerja
2013
71%

(ditetapkan)

b. Evaluasi;
- Berdasarkan ketentuan Pasal 116 ayat (2) Permendagri Nomor 13 Tahun 2006
sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Permendagri Nomor 12
Tahun 2011, Pemerintah Kota Magelang bersama-sama dengan DPRD Kota Magelang
telah menetapkan Perda Nomor 18 Tahun 2012 tentang APBD Tahun Anggaran 2013
pada tanggal 28 Desember 2012 dan Perda Nomor 17 tentang APBD Tahun
Anggaran 2014 pada tanggal 31 Desember 2013.
- Struktur Kelembagaan SKPD Pemerintah Kota Magelang disusun dan ditetapkan
berdasarkan PP Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah dan
Permendagri Nomor 57 Tahun 2007 tentang Petunjuk Teknis Penataan Organisasi
Perangkat Daerah sebagaimana telah diubah dengan Permendagri Nomor 59 Tahun
2009 tentang Perubahan Atas Permendagri Nomor 57 Tahun 2007.
- Berdasarkan Program Legislasi Daerah (Prolegda) Kota Magelang tahun 2013 telah
ditetapkan sebanyak 24 Rancangan Perda (Raperda) yang menjadi prioritas
pembahasan pada tahun 2013, sebanyak 41,48 % (17 Perda) telah ditetapkan.
c. Rekomendasi;
- Perlu diuapayakan identifikasi terhadap ketentuan/aturan yang harus ada
sebagaimana diamanatkan dalam peraturan perundangan yang lebih tinggi.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 20

: Meningkatkan sumber-sumber pendanaan dan mendorong tumbuhnya

Misi kedua

iklim investasi untuk pengembangan usaha yang mampu membuka peluang


penyerapan tenaga kerja yang luas bagi masyarakat.

1. Terciptanya keterpaduan sumber pendanaan baik dari pusat, provinsi dan daerah.
a. capaian kinerja
Tahun 2012
No

Indikator Sasaran

Rasio dana DAK, TP,


Dekonsentrasi dan dana
hibah serta dana bantuan
lainnya terhadap total
APBD

Target

Realisasi

---

---

Capaian
Kinerja
2012
---

Tahun 2013
Target

Realisasi

16%

14%

Capaian
Kinerja
2013
87,50%

Tabel 3.2
Sumber Pendanaan APBD Kota Magelang Tahun 2013
Sumber Dana
Besarnya
20.644.487.000
- DAK
- TP/UB

8.037.831.000

- bantuan keu prov

13.310.556.373

- hibah

5.257.082.000

- bansos

2.974.558.000

- APBD

630.850.717.357

Sumber : DPPKD, 2013


b. Rekomendasi
Indikator kinerja pada sasaran ini adalah Rasio dana DAK, TP, Dekonsentrasi dan
dana hibah serta dana bantuan lainnya terhadap total APBD dirasa kurang relevan,
karena berlawanan dengan paradigma otonomi (kemandirian) daerah.
2. Terkelolanya aset-aset daerah.
a. Capaian indikator kinerja :
Tahun 2012
No
1
2

Indikator Sasaran

Target

Asset daerah yang


37%
dikelola pihak lain.
Rasio nilai asset daerah
65%
yang dikelola
Rata-rata Capaian Kinerja

Target

Realisasi

41,25%

Capaian
Kinerja
2012
111,49%

38%

19%

Capaian
Kinerja
2013
50,00%

69%

106,15%

70%

69%

98,57%

Realisasi

Tahun 2013

108,82%

74,29%

b. Evaluasi
- Pengelolaan aset daerah merupakan hal yang tidak mudah. Aset-aset lama (dari
jaman dahulu) banyak yang tidak memiliki bukti kepemilikan secara lengkap maupun
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 21

bukti-bukti lain yang bisa mendukung administrasi aset. Contohnya tanah,


sebenarnya ada banyak lahan atau tanah milik Pemerintah Kota Magelang yang
sertifikatnya belum dibalik nama atau masih atas nama pemilik sebelumnya padahal
tanah tersebut sudah dibeli oleh pemerintah. Hal ini dapat mempengaruhi opini BPK
terhadap penilaian asset yaitu WDP (wajar dengan pengecualian).
- Aset yang direncanakan atau ditargetkan akan dikelola oleh pihak lain sebanyak 21
aset diantaranya ada Gedung PDAM, Gedung Wanita, Lapangan Tennis, Kios,
Alun-Alun Magelang dan lain-lain.
3. Terciptanya kemudahan akses pendanaan melalui lembaga-lembaga keuangan serta
membangun kemitraan dalam memanfaatkan
skema pendanaan al: Kerjasama
pemerintah dan swasta (KPS)/Public Private Partnership (PPP), Corporate Social
Responsibilility (CSR) dan donasi/zakat).
a. Capaian indikator kinerja:
Tahun 2012
No
1
2
3

4
5

Indikator Sasaran

Target

Jumlah kerjasama dengan


3
lembaga keuangan
Jumlah kerjasama dengan
ada
swasta
Jumlah dan jenis bank dan
--cabang perusahaan
asuransi
Tingkat Perkembangan
4%
BUMD
Jumlah
--inovasi/diversifikasi
produk BUMD
Nilai kontribusi perusda
3%
terhadap PAD
Rata-rata Capaian Kinerja

Target

Realisasi

Capaian
Kinerja
2012
100%

Capaian
Kinerja
2013
300%

ada

100%

ada

ada

100%

---

---

52 bank;
11
Asuransi

31 bank; 5
Asuransi

52,53%

19,76%

494%

4%

3,19%

79,75%

---

---

350%

3,36%

112%

3%

2,7%

90%

Realisasi

Tahun 2013

201,50%

162,05%

b. Evaluasi
- Pada tahun 2013 terdapat 4 buah kerjasama dengan lembaga keuangan yaitu
1 kerjasama dengan BKK Kota Magelang dan 3 buah kerjasama dengan Bank
Magelang.
- Kerjasama dengan swasta yang terjadi di tahun 2013 adalah kerjasama operasional
(KSO) yang terdapat di Perusada Taman Kyai Langgeng sebanyak 3 buah dan 1 buah
kerjasama yang terdapat di Perusda Perbengkelan Prima Oto.
- Jumlah bank/BPR dan asuransi di Kota Magelang adalah 31 bank/BPR dan 5
asuransi.
- Target perkembangan BUMD sebesar 4% tercapai 3,19%.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 22

- Inovasi/diversifikasi produk BUMD terdiri dari 5 buah inovasi dari Perusda Taman
Kyai Langgeng, 1 buah inovasi produk dari PDAM dan 1 buah inovasi produk dari
Perusda Percetakan Vita.
- Kontribusi perusda tidak mencapai target dan turun dibanding tahun sebelumnya.
4. Terwujudnya intensifikasi dan ekstensifikasi pajak dan retribusi daerah.
Capaian indicator kinerja
Tahun 2012
No

Indikator Sasaran

1
2

Jumlah dan macam pajak


Jumlah dan macam
retribusi Daerah
Perkembangan
penerimaan daerah /
Rasio Wajib
Pajak/Retribusi
Rasio PAD terhadap APBD

Target

Realisasi

9
3

9
3

Capaian
Kinerja
2012
100%
100%

20%

21,45%

12,72%

14,03%

Tahun 2013
Target

Realisasi

7
3

10
3

Capaian
Kinerja
2013
143%
100%

107,25%

20%

24,30%

122%

110,30%

12,83%

13,27%

103%

a. Jumlah dan macam pajak


Target 7 macam pajak terealisasi 10 macam pajak yang terdiri dari :
1) Pajak Hotel
2) Pajak Restoran
3) Pajak Hiburan
4) Pajak Reklame
5) Pajak Penerangan Jalan
6) Pajak Parkir
7) Pajak Sarang Burung Walet
8) Pajak Air Tanah
9) Pajak Bumi dan Bangunan
10) Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB)
5. Terciptanya kerjasama antar daerah dalam hal investasi.
Capaian indicator kinerja
Tahun 2012
No

Indikator Sasaran

Jumlah dan jenis


kerjasama antar daerah
yang berhasil dijalin

Target

Realisasi

Capaian
Kinerja
2012
100%

Tahun 2013
Target

Realisasi

Capaian
Kinerja
2013
150%

Peningkatan capaian kinerja didukung dengan pelaksanaan penjajagan potensi


investasi dengan Provinsi Sulawesi Utara, Provinsi Kalimantan Barat dan Provinsi
Bengkulu. Kemudian untuk memperkuat jalinan kerjasama langkah yang perlu
dilakukan selanjutnya adalah penyusunan nota kesepakatan terkait kerjasama
tersebut, agar ada jaminan yang lebih antara kedua belah pihak yang bekerjasama.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 23

6. Terciptanya iklim investasi dan realisasi investasi


a. Capaian indicator kinerja :
Tahun 2012
No

Indikator Sasaran

Bertambahnya laju
pertumbuhan
investasi
Pertumbuhan
investasi sektor riil
Pertumbuhan
investasi sektor jasa
Kenaikan/penurunan
Nilai Realisasi PMDN
Rasio daya serap
tenaga kerja
Terselenggaranya
promosi peluang
penanaman modal
kabupaten/kota

2
3
4
6
7

Target

Realisasi

229

138

Capaian
Kinerja
2012
60,26%

---

---

---

11.294.924.000

148.055.000.000

1.311%

---

---

---

139.985.711.546 328.784.366.000

235%

395.000.000 44.794.119.932

Tahun 2013
Target

Realisasi

272

151

Capaian
Kinerja
2013
56%

113,40%

24.630.000.000

419.248.000.000

1.702%

1:1,1

1:1,1

100%

1:1,1

1.825:618

325%

100%

350%

b. Evaluasi dan permasalahan


- Realisasi investasi Tahun 2013 meningkat 13 point namun masih jauh dibanding
yang ditargetkan dalam RKPD
- Angka-angka yang disajikan tidak relevan untuk diukur, karena kesenjangan
antara target dan realisasi sangat tinggi yang disebabkan perbedaan persepsi
dalam penghitungan nilai investasi.
- Perhitungan angka-angka ekonomi merupakan kesulitan besar yang dihadapi
pemerintah daerah pada umumnya, angka-angka tersebut sulit diasumsikan
seadanya.
- Data juga sangat sulit didapat karena berhubungan dengan pihak-pihak swasta
yang cenderung tidak peduli dengan data-data tersebut. Institusi yang secara
spesifik menangani masalah itupun tidak tersedia.
- Pada Tahun 2013, promosi investasi dilakukan lebih intensif hingga 7 kali, antara
lain: Gelar Produk Kreatif Nusantara (GPKN) Jogja, Invesda Expo Jogja, Bisnis
Forum Batam, Senggigi Fair Lombok Barat, Magelang Expo, Pekan Raya Magelang
(PRM Magelang), dan Magelang Investment Business Forum (MASSIF).
7. Terwujudnya kemudahan pelayanan dalam mendorong peluang investasi di daerah.
a. Capaian indikator kinerja :
Tahun 2012
No

Indikator Sasaran

Jumlah Perda yang


mendukung iklim usaha
Lama proses perijinan

Target

Realisasi

Capaian
Kinerja
2012
100%

5 hari

5 hari

100%

Tahun 2013
Target

Realisasi

Capaian
Kinerja
2013
350%

5 hari

3,5 hari

130%

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 24

Tahun 2012
No

Indikator Sasaran

Sistem informasi
Pelayanan Perijinan dan
adiministrasi
pemerintah
Blue Print investasi
daerah
Terimplementasikannya
Sistem Pelayanan
Informasi dan Perizinan
Investasi Secara
Elektronik (SPIPISE)
Pendaftaran Penanaman
Modal Dalam Negeri,
Izin Prinsip Penanaman
Modal Dalam Negeri,
Izin Usaha Penanaman
Modal Dalam Negeri,
Tanda Daftar
Perusahaan (TDP),
Surat Izin Usaha
Perdagangan (SIUP),
Perpanjangan Izin
Mempekerjajan Tenaga
Kerja Asing (IMTA)
yang bekerja di lebih
dari 1 (satu)
kabupaten/kota, sesuai
kewenangan pemerintah
kabupaten/kota

4
5

Target

Realisasi

ada

ada

Capaian
Kinerja
2012
100%

Tahun 2013
Target

Realisasi

ada

ada

Capaian
Kinerja
2013
100%

---

---

---

100%

100%

100%

---

---

---

100%

100%

100%

---

---

---

100%

100%

100%

b. Evaluasi
- Perda-perda yang mendukung iklim usaha adalah :
1) Perda No. 1 Tahun 2013 tentang Penanaman Modal;
2) Perda No. 3 Tahun 2012 tentang Penyertaan Modal Daerah pada Perseroan
Terbatas BPD Bank Jawa Tengah
3) Perda No. 5 Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Angkutan;
4) Perda No. 6 Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Terminal;
5) Perda No. 8 Tahun 2013 tentang Penambahan Penyertaan Modal Daerah pada
Perusahaan Daerah Bank Perkreditan Rakyat Bank Magelang, Perusahaan Daerah
Perbengkelan, Perusahaan Daerah Percetakan,

Perusahaan Daerah Obyek

Wisata Taman Kyai Langgeng dan Perusahaan Daerah Air Minum Kota Magelang.
6) Perda No. 11 Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Menara Telekomunikasi
7) Perda No. 16 Tahun 2013 tentang Izin Usaha Jasa Konstruksi;

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 25

- Lama proses perizinan yang dilimpahkan kewenangannya ke BP2T selama ini


rata-rata 5 hari kerja dapat dipercepat menjadi 3,5 hari kerja terhitung setelah
berkas lengkap dan benar sesuai persyaratan. Namun demikian untuk perizinan yang
ditandatangani Kepala Daerah masih membutuhkan waktu yang lebih lama karena
harus melalui alur yang lebih panjang, terkadang bisa sampai beberapa minggu/
bulan.
- Blue Print investasi daerah tercermin dari dokumen profil investasi berupa study
kelayakan pengembangan kawasan strategis Sidotopo, Eks. Magelang Theater dan
Lembah Gunung Tidar, sebagai rencana pengembangan kawasan yang dapat
dijadikan bahan promosi investasi maupun rencana pembangunan kawasan oleh
Pemerintah. Disamping itu juga dilakukan kajian kebijakan bidang penanaman modal
berupa penyusunan Dokumen Rencana Umum Penananam Modal (RUPM) Kota
Magelang sebagai amanat UU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal untuk
memberikan gambaran dan informasi tentang arah kebijakan bidang penanaman
modal melalui kajian bidang akademis. Adapun isi dokumen RUPM mengacu Perpres
No. 16 Tahun 2012 terdiri dari Pendahuluan: Azas dan Tujuan; Visi dan Misi; Arah
Kebijakan Penanaman Modal; Peta Panduan (Road Map) Implementasi Penanaman
Modal dan Pelaksanaan.
- Setelah ditetapkannya Perda Nomor 1 Tahun 2013 tentang Penanaman Modal, maka
SPIPISE telah dapat diimplentasikan pelaksanaannya. Penerapan SPIPISE
disinergikan antara Kantor Penanaman Modal dan Badan Pelayanan Perizinan
Terpadu.
- Pendaftaran Penanaman modal Dalam Negeri, Izin Prinsip Penanaman Modal Dalam
Negeri, Izin Usaha Penanaman modal Dalam Negeri, TDP, SIUP, Perpanjangan
IMTA terkait dengan pendaftaran izin prinsip dan izin usaha yang sudah
terintegrasi dalam sistim pelayanan perizinan.

8. Terbangunnya kepercayaan/komitmen antara stakeholder dengan dunia usaha.


a. Capaian indicator kinerja:
Tahun 2012
No Indikator Sasaran
1

Jumlah investor
berskala nasional
(PMDN/PMA)
Jumlah nilai
investasi
berskala nasional
(PMDN/PMA)
Jumlah investor
dan nilai investasi
baru yang masuk
(nasional &
regional)

Target

Realisasi

150

154

24.629.000.000 102.113.876.011

---

---

Capaian
Kinerja
2012
102,67%

414,61%

---

Tahun 2013
Target

Realisasi

160

618

66.002.005.036 613.069.000.000

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

152

Capaian
Kinerja
2013
386%

929%

15.200%

BAB III

- 26

Tahun 2012
No Indikator Sasaran
4
5

Jumlah MOU
dalam investasi
Terselenggaranya
bimbingan
pelaksanaan
Kegiatan
Penanaman Modal
kepada
masyarakat dunia
usaha
Terselenggaranya
sosialisasi
kebijakan
penanaman modal
kepada
masyarakat dunia
usaha

Target

Realisasi

Capaian
Kinerja
2012
0%

Tahun 2013
Target

Realisasi

Capaian
Kinerja
2013
0%

---

---

---

1 keg

1 keg

100%

50 peserta

50 peserta

100%

1 keg ; 50
peserta

1 keg ; 50
peserta

100%

b. Evaluasi dan permasalahan


- Permasalahan yang terjadi dalam sasaran ini sama halnya dengan permasalahan di
sasaran 6, yakni ketidaksinkronan antara target dan realisasi, sehingga tidak bisa
diukur.
- Jumlah investor berskala nasional (PMDN/PMA) sebanyak 618 dengan nilai
investasi Rp 613.069.000.000,00.
- Jumlah investor nasional & regional baru yang masuk di tahun 2013 sebanyak 152
investor
- Upaya yang dilakukan diantaranya dengan mengikuti Central Java Investment
Business Forum (CJIBF) 2013 di Solo. Dalam kegiatan dimaksud Pemerintah Kota
Magelang menyediakan materi promosi berupa: Potensi dan Peluang Investasi serta
Selayang Pandang Kota Magelang dalam bentuk tayangan melalui LED TV; Buku
Potensi dan Peluang Investasi Kota Magelang; Leaflet Peta Investasi dan Pelayanan
Perizinan Investasi; Materi promosi pariwisata dan produk unggulan (Gethuk,
Kripik, Batik dll). Dari kegiatan tersebut dihasilkan 4 Surat Kepeminatan investasi
senilai Rp. 99.000.000.000 sebagai berikut :
1) Pengembangan Kawasan Ex. Magelang Theatre senilai Rp. 55.000.000.000,2) Pengolahan Sampah senilai Rp. 30.000.000.000,3) Pendirian Media Televisi senilai Rp. 10.000.000.000,4) Air Minum Kemasan senilai Rp. 4.000.000.000,Namun demikian dari 4 kepeminatan kerjasama investasi (LoI) tersebut belum
dapat terealisasi dalam bentuk Perjanjian Kerjasama (MoU).

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 27

9. Terwujudnya pengembangan infrastruktur


mendukung peningkatan perekonomian kota

kawasan

strategis

dalam

rangka

a. Capaian indikator kinerja :


Tahun 2012
No
1

Indikator Sasaran
Bertambahnya jumlah
pengembangan kawasan
strategis dan cepat
tumbuh

Target

Realisasi

Capaian
Kinerja
2012
100%

Tahun 2013
Target

Realisasi

Capaian
Kinerja
2013
0%

b. Evaluasi dan permasalahan


- Keinginan untuk penambahan kawasan strategis cepat tumbuh belum terwujud,
meskipun blueprint investasi telah tersedia. Pemasyarakatan blueprint hingga
ketertarikan investor memang membutuhkan waktu yang cukup untuk investor
menghitung prospek ekonominya.

10. Terbangunnya kemitraan dengan


memanfaatkan
skema pendanaan melalui
Kerjasama pemerintah dan swasta PES (Payment for Ecological/Environment
Services = imbal jasa lingkungan)
Capaian indicator kinerja :
Tahun 2012
No

Indikator Sasaran

Jumlah kerja sama PES


(Payment for Ecological/
environment Services =
imbal jasa lingkungan
Terselenggaranya
fasilitasi pemerintah
daerah dalam rangka
kerjasama kemitraan
Antara Usaha Mikro,
Kecil, Menengah dan
Koperasi (UMKMK)
tingkat kabupaten/kota
dengan pengusaha

Target

Realisasi

1 keg; 50
peserta

1 keg; 50
peserta

Capaian
Kinerja
2012
100%

Tahun 2013
Target

Realisasi

Capaian
Kinerja
2013
0%

100%

1 keg

1 keg

100%

Pemberian imbal jasa lingkungan umumnya dilakukan untuk jenis investasi yang
mengeksplorasi sumber daya alam, sehingga dampak negatif yang ditimbulkan dari
investasi ini harus diganti dengan bentuk imbal jasa yang layak dan proporsional. Kota
Magelang tidak memiliki sumber daya alam yang sekiranya layak dieksplorasi secara
besar.
Upaya fasilitasi kemitraan usaha ditempuh melalui kegiatan temu usaha antara
Usaha Mikro Kecil (UMK) dengan Usaha Menengah dan Besar (UMB).

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 28

11. Terwujudnya identifikasi investasi swasta


Capaian indikator kinerja :
No
1
2

Indikator
Sasaran
Nilai investasi
swasta
Tersedianya
informasi
peluang usaha
sektor/bidang
unggulan

Tahun 2012
Target

Realisasi

39.500.000.000 44.794.119.932

Capaian
Kinerja
2012
113,40%
100%

Tahun 2013
Target

Realisasi

40.000.000.000 1.032.317.000.000

Capaian
Kinerja
2013
2.581%
100%

12. Tersedianya data dan informasi ketenagakerjaan yang aksesibel dan akurat
Capaian indikator kinerja :
Tahun 2012
No Indikator Sasaran
1

Sebaran
informasi bursa
kerja yang
terupdate

Target

Realisasi

17 kel.

17 kel.

Capaian
Kinerja
2012
100%

Tahun 2013
Target

Realisasi

17 kel.

17 kel.

Capaian
Kinerja
2013
100%

Pengelolaan data dan informasi ketenagakerjaan dilakukan melalui penyebarluasan


informasi bursa tenaga kerja melalui Pengelolaan Data Formulir AK-I sampai dengan
AK-V, Penyediaan Fasilitas Bursa Kerja On Line (BKO), Penyelenggaraan Job Fair serta
Penyusunan Buku IPK (Informasi Pasar Kerja). Agar informasi tersebut bisa
menjangkau sampai ke lapisan masyarakat, sosialisasi dilakukan di seluruh Kelurahan.

13. Terwujudnya pembangunan BLK di tingkat Kota


Capain indikator kinerja :
Tahun 2012
No Indikator Sasaran
1

Perencanaan
Manajemen dan
opersional BLK

Target

Realisasi

1 dok.

1 dok.

Capaian
Kinerja
2012
100%

Tahun 2013
Target

Realisasi

ada

ada

Capaian
Kinerja
2013
100%

Keberadaan Balai Latihan Kerja (BLK) direncanakan secara menyeluruh agar dalam
operasionalnya dapat optimal.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 29

14. Tercapainya peningkatan jumlah penempatan tenaga kerja


Capaian indikator kinerja :
Tahun 2012
No Indikator Sasaran
1

Prosentase
pencari kerja
yang ditempatkan
Besaran pencari
kerja yang
terdaftar yang
ditempatkan
Sebaran
informasi bursa
kerja yang
terupdate
Prosentase
transmigran yang
ditempatkan

Target

Realisasi

30,5%

70%

Capaian
Kinerja
2012
229,51%

Tahun 2013
Target

Realisasi

31%

58%

Capaian
Kinerja
2013
187%

---

---

---

645

905

140%

17 kel.

17 kel.

100%

17 kel.

17 kel.

100%

---

---

---

100%

100%

100%

Pada tahun 2013 ini telah ditempatkan sebanyak 905 orang atau sekitar 58% dari
pencari kerja yang terdaftar pada Dinas Tenaga Kerja Transmigrasi dan Sosial Kota
Magelang. Penempatan transmigrasi diharapkan akan membuka peluang usaha pencari
kerja. Animo bertransmigrasi oleh penduduk perkotaan relatif kecil, karena kultur dan
jenis pekerjaan sebagian besar sebagai buruh atau pedagang, bukan di sektor
pertanian.

15. Tercapainya peningkatan kualitas dan produktivitas tenaga kerja


Capaian indikator kinerja :
No
1

Indikator
Sasaran
Tingkat
partisipasi
angkatan kerja
Tingkat
pengangguran
terbuka
Calon tenaga
kerja yang
terdidik (pencari
kerja terlatih)
Besaran tenaga
kerja yang
mendapat
pelatihan
berbasis
kompetensi
Besaran tenaga
kerja yang

Tahun 2012
Target

Realisasi

---

---

Capaian
Kinerja
2012
---

Tahun 2013
Target

Realisasi

63%

68,93%

Capaian
Kinerja
2013
109,41%

---

---

---

12%

6,80%

56,67%

9,30%

22,70%

244,09%

9.7%

55.94%

576,70%

78%

69,16%

88,67%

80%

62,78%

78,48%

65%

30,84%

47,44%

70%

30,30%

43,29%

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 30

No

Indikator
Sasaran

mendapat
pelatihan
berbasis
masyarakat
Besaran pencari
kerja yang
mendapatkan
pelatihan
kewirausahaan

Tahun 2012
Target

Realisasi

65%

70%

Capaian
Kinerja
2012

107,69%

Tahun 2013
Target

Realisasi

70%

81,08%

Capaian
Kinerja
2013

115,83%

Pelatihan yang dilaksanakan diarahkan pada kebutuhan atau permintaan pasar kerja
yang ada saat ini yakni lebih banyak permintaan tenaga kerja di bidang Jasa, terutama
pariwisata perhotelan, Kuliner dan jasa lainnya.

16. Terwujudnya perlindungan pengembangan lembaga ketenagakerjaan


Capaian indikator kinerja :
No
1

Indikator
Sasaran
Angka sengketa
(perselisihan)
pengusaha
pekerja per
tahun
Besaran kasus
yang diselesaikan
dengan
Perjanjian
Bersama (PB)
Jumlah SP yang
terbentuk di
tingkat
perusahaan

Tahun 2012
Target

Realisasi

---

---

Capaian
Kinerja
2012
---

Tahun 2013
Target

Realisasi

10 kasus

1 kasus

Capaian
Kinerja
2013
190%

---

---

---

50%

100%

200%

---

---

---

22 unit

78 unit

355%

17. Terwujudnya pembinaan dan pengawasan ketenagakerjaan


Capaian indikator kinerja :
No
1
2

Indikator
Sasaran
Jumlah LKS
Bipartit
Jumlah masukan
LKS Tripartit
dalam
memberikan
pertimbangan

Tahun 2012
Target

Realisasi

33 unit

18 unit

Capaian
Kinerja
2012
54,55%

35%

30%

85,71%

Tahun 2013
Target

Realisasi

33 unit

4 unit

Capaian
Kinerja
2013
12%

1 masukan

1 masukan

100%

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 31

No

Indikator
Sasaran
ketenagakerjaan
kepada pimpinan
daerah
Besaran
pemeriksaan
perusahaan
Besaran
pengujian
peralatan di
perusahaan

Tahun 2012
Target

Realisasi

35%

35%

15%

15%

Capaian
Kinerja
2012

Tahun 2013

Capaian
Kinerja
2013

Target

Realisasi

100%

40%

67%

168%

100%

20%

20%

100%

Lembaga yang menaungi hubungan kerja antara Pekerja dan Pengusaha di perusahaan
disebut LKS (Lembaga Kerja Sama) Bipartit. Lembaga ini adalah sebagai media dialog
antara Pengusaha dan Pekerja (bisa diwakili oleh Serikat Pekerja) dalam membahas
permasalahan bersama misalnya mengenai pembentukan Peraturan Perusahaan atau
juga KKB (Kesepakatan Kerja Bersama). Pemerintah memfasilitasi pembentukan LKS
Bipartit di perusahaan.
Dalam hal menentukan suatu kebijakan mengenai persoalan ketenagakerjaan dalam
suatu daerah, LKS Tripartit yang terdiri dari unsur Pekerja, Pengusaha dan Pemerintah
melakukan suatu forum diskusi atau semacam kegiatan survey untuk memperoleh
data-data yang diperlukan. Lembaga ini juga melakukan kegiatan sidang untuk
menentukan usulan besaran Upah Minimum Kota untuk diusulkan ke tingkat provinsi.
Secara berkala perusahaan wajib melaporkan kondisi ketenagakerjaannya dengan
mengisi formulir Wajib Lapor kepada Pemerintah melalui Dinas Terkait. Petugas
Pengawas Ketenagakerjaan melalukan pemeriksaan secara berkala ke perusahaan yang
terdaftar perihal pelaksanaan norma kerja yang dijalankan di perusahaan untuk
meminimalisir pelanggaran peraturan baik yang dilakukan oleh pihak Pengusaha
(Perusahaan) atau pihak Pekerja di perusahaan.
Pengujian alat kerja di perusahaan ditujukan untuk menguji kelayakan peralatan yang
digunakan di perusahaan guna menghindari akibat buruk yang dapat terjadi. Sasaran uji
kelayakan adalah perusahaan yang menggunakan lift, eskalator, Alat Penangkal Petir,
Genset, bejana tekan dll.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 32

18. Terwujudnya peran serta dan partisipasi lembaga-lembaga pendidikan dalam


penyiapan kualitas tenaga kerja.
Capaian indikator kinerja :
No
1

Indikator
Sasaran
Jumlah lembaga
penyelenggara
pelatihan kerja
berperan aktif
dalam
peningkatan
kualitas
produktivitas
tenaga kerja.

Tahun 2012
Target

Realisasi

12 unit

13 unit

Capaian
Kinerja
2012
108,33%

Tahun 2013
Target

Realisasi

13 unit

11 unit

Capaian
Kinerja
2013
84,62%

19. Terwujudnya peningkatan kesejahteraan pekerja


Capaian indikator kinerja :
No
1

Indikator
Sasaran
Prosentase
Pencapaian UMK
terhadap KHL
Jumlah koperasi
karyawan
perusahaan
Perselisihan
buruh dan
pengusaha
terhadap
kebijakan Pemda
Prosentase
penurunan
kasus-kasus
ketenagakerjaan
di Kota Magelang,
baik kasus
perselisihan
hubungan
industrial maupun
kasus TKI

Tahun 2012
Target

Realisasi

94,07%

95,39%

Capaian
Kinerja
2012
101,40%

Tahun 2013
Target

Realisasi

96,05%

100%

Capaian
Kinerja
2013
104%

16 unit

16 unit

100%

16 unit

16 unit

100%

100%

Tidak ada

Tidak ada

100%

2%

2%

100%

2%

90%

4.500%

Tumbuh dan berkembangnya suatu perusahaan menjadi lebih besar salah satunya
merupakan peran pekerja dalam membesarkan perusahaan. Secara proporsional
sebaiknya juga diiringi oleh peningkatan kesejahteraan pekerja yang bekerja di
perusahaan tersebut. Indikator utama peningkatan kesejahteraan seorang pekerja
adalah besaran upah yang diterima. Laju inflasi menjadi suatu alasan logis apabila
besaran upah perlu selalu dilakukan penyesuaian setiap tahunnya. Besaran UMK yang
diusulkan berpatokan pada besaran angka KHL (Kebutuhan Hidup Layak). Pencapaian
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 33

UMK terhadap KHL selalu diselaraskan untuk menjaga agar tidak terjadi ketimpangan.
Melalui Sidang Dewan Pengupahan, yang anggotanya terdiri dari wakil pekerja, wakil
pengusaha, Universitas, LSM dan Pemerintah mencari titik temu keseimbangan atas
berbagai kepentingan bersama, diutamakan untuk peningkatan kesejahteraan bersama
baik bagi pekerja maupun bagi pengusaha.
20. Terciptanya wirausaha baru
Capaian indikator kinerja :
No
1

Indikator
Sasaran
Jumlah
wirausaha baru

Tahun 2012
Target

Realisasi

20 orang

117 orang

Capaian
Kinerja
2012
585%

Tahun 2013
Target

Realisasi

20 orang

25 orang

Capaian
Kinerja
2013
125%

Kepada para pencari kerja diberikan pelatihan kewirausahaan. Setelah itu para peserta
membentuk suatu KUB (Kelompok Usaha Bersama).

21. Terlindunginya hak-hak keselamatan tenaga kerja


Capaian indikator kinerja :
No
1

Indikator
Sasaran
Prosentase
perusahaan yang
telah
menerapkan
norma
keselamatan dan
perlindungan
ketenagakerjaan
Besaran
pekerja/buruh
yang menjadi
peserta program
Jamsostek

Tahun 2012
Target

Realisasi

2,33%

2,33%

Capaian
Kinerja
2012
100%

35%

35%

100%

Tahun 2013
Target

Realisasi

2,50%

2,50%

Capaian
Kinerja
2013
100%

40%

45%

113%

Program K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) dicanangkan secara nasional oleh


pemerintah setiap tahun di bulan Januari sebagai Bulan K3. Pada bulan ini dilaksanakan
berbagai kegiatan untuk selalu mengingatkan kepada seluruh masyarakat akan arti
pentingnya Keselamatan Kerja. Serangkaian kegiatannya meliputi Apel K3 dan Lomba K3
di perusahaan-perusahaan serta instansi pemerintah. Perusahaan wajib melaksanakan
pengujian peralatan kerja. Penggunaan alat perlindungan kerja seperti Masker, Helm,
wearpack secara langsung merupakan suatu tindakan preventif.
Pemilik usaha harus membantu tenaga kerjanya untuk ikutserta dalam asuransi tenaga
kerja.
Bentuk perlindungan lainnya adalah dengan mengikutkan pekerja sebagai peserta
Jamsostek, dimana Program Jamsostek memberikan perlindungan dasar untuk

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 34

memenuhi kebutuhan minimal tenaga kerja dan keluarganya, dengan memberikan


kepastian berlangsungnya arus penerimaan penghasilan keluarga sebagai pengganti
sebagian atau seluruhnya penghasilan yang hilang, akibat resiko sosial.
Sampai saat ini, PT Jamsostek (Persero) memberikan 4 (empat) program perlindungan,
yang mencakup Program Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), Jaminan Kematian (JKM),
Jaminan Hari Tua (JHT) dan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (JPK) bagi seluruh
tenaga kerja dan keluarganya.

Misi ketiga

: Memperkuat dan meningkatkan pertumbuhan perekonomian kerakyatan

dengan mengoptimalkan potensi daerah yang didukung oleh kemandirian


masyarakat.

1. Terwujudnya pertambahan pelaku usaha di sektor riil (berbagai bidang usaha).


Capaian indikator kinerja :
No
1

Indikator
Sasaran
Jumlah bidang
usaha Sektor riil
yang berkembang

Tahun 2012
Target

Realisasi

1100

4371

Capaian
Kinerja
2012
397,36%

Tahun 2013
Target

Realisasi

1200

3750

Capaian
Kinerja
2013
312,50%

Perkembangan bidang usaha sektor riil di Kota Magelang pada tahun 2013 sebanyak
3.750, angka ini menunjukkan penurunan apabila dibandingkan dengan jumlah bidang
usaha sektor riil yang berkembang di tahun 2012 yang tercatat sebanyak 4.371 bidang
usaha. Penurunan ini disebabkan karena adanya pelaku usaha sektor riil yang mengalami
kepailitan
Bentuk lain dari berkembangnya pelaku usaha sektor riil tercermin pula dari jumlah
perijinan SIUP yang dikeluarkan Badan Perijinan dan Pelayanan Terpadu (BP2T) Kota
Magelang pada tahun 2013, yaitu sebanyak 325 SIUP.
2. Terwujudnya peningkatan akses permodalan bagi pelaku usaha ekonomi kerakyatan.
Capaian indikator kinerja :
No
1

Indikator
Sasaran
Jumlah pelaku
usaha ekonomi
kerakyatan
menerima akses
permodalan

Tahun 2012
Target

Realisasi

986

898

Capaian
Kinerja
2012
91,08%

Tahun 2013
Target

Realisasi

1000

898

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

Capaian
Kinerja
2013
89,80%

BAB III

- 35

Bagi pelaku usaha ekonomi kerakyatan dalam hal ini UMKM, kendala yang dihadapi dari
waktu ke waktu dibidang permodalan diantaranya adalah keterbatasan akses atau
ketidakmampuan untuk memenuhi syarat formal bantuan kredit bank, misalnya proposal
bisnis, pemenuhan agunan, dan sejumlah kelengkapan administratif lainnya. Kesulitan
permodalan usaha juga berdampak pada kurangnya produktivitas usaha.
3. Tersedianya kawasan PKL yang tertata sesuai rencana tata ruang
Capaian indikator kinerja :
No
1

Indikator
Sasaran
Jumlah sektor
informal / PKL
yang tertata

Tahun 2012
Target

Realisasi

150 PKL

181 PKL

Capaian
Kinerja
2012
120,67%

Tahun 2013
Target

Realisasi

150 PKL

238 PKL

Capaian
Kinerja
2013
158,76%

Penataan PKL pada Tahun 2013 dilaksanakan terhadap 238 PKL yang tersebar di Kota
Magelang yaitu kawasan Alun-alun, Jalan Sigaluh, Kuliner Sejuta Bunga, Jalan Tidar I
(pagi) dan Jalan Tidar II (malam), Jalan Pahlawan.
Penataan PKL yang dilakukan meliputi penataan dalam hal tempat dasaran, lokasi
berjualan, fasilitas/sarana prasarana (seperti penyediaan shelter, meja kursi, tenda,
gerobak, listrik, air dan sebagainya) maupun penataan berkaitan dengan waktu
berjualan sesuai ketentuan yang telah ditetapkan.
Terdapat 6 (enam) kawasan khusus bagi para PKL yang telah disediakan dan ditata oleh
Pemerintah Kota Magelang, yaitu:
1. Kuliner Tuin Van Java di kawasan Alun-alun
2. Kuliner Sejuta Bunga di kawasan Shoping centre
3. Puri Boga Kencana di kawasan Sub Terminal Kebonpolo
4. Kartika Sari di kawasan Stadion Abu Bakrin
5. Kawasan Kuliner Taman Badaan
6. Kawasan Armada Estate

4. Terwujudnya peningkatan kemampuan kelembagaan PKL sebagai potensi ekonomi


kerakyatan
Capaian indikator kinerja :
No
1

Indikator
Sasaran
Jumlah
kelembagaan PKL
yang tertib
administrasi
Jumlah
Paguyupan PKL

Tahun 2012
Target

Realisasi

10

10

Capaian
Kinerja
2012
100%

10

10

100%

Tahun 2013
Target

Realisasi

10

10

Capaian
Kinerja
2013
100%

10

10

100%

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 36

Kelembagaan PKL dibentuk dalam rangka menjembatani kepentingan, aspirasi,


koordinasi, penyampaian informasi antara pemerintah kepada setiap individu PKL atau
sebaliknya serta antar PKL itu sendiri, dengan kesadaran sama-sama menjadi bagian
dari kepentingan bersama. Melalui kelembagaan ini setiap upaya dapat didukung
bersama.
Upaya pembinaan terhadap organisasi PKL yang ada dilakukan dengan kegiatan:
~ Manajemen pengelolaan usaha PKL.
~ Pemeliharaan kebersihan, kenyamanan dan keindahan lingkungan.
~ Sosialisasi proses penertiban izin lokasi berjualan bagi PKL.
~ Sosialisasi proses penertiban kartu identitas bagi PKL.
~ Pembinaan masalah hak dan kewajiban bagi PKL.
Jumlah paguyuban PKL di Kota Magelang sebanyak 47 paguyuban dari 57 titik/kawasan
PKL. Dari 47 kelompok paguyuban tersebut kemudian diklaster berdasarkan
lokasi/kawasan dimana paguyuban PKL tersebut berada. Sehingga sasaran pembinaan
kelembagaan lebih difokuskan pada 10 (sepuluh) klaster tersebut, yakni:
1. Paguyuban PKL Kawasan Badaan
2. Paguyuban PKL Jalan Senopati
3. Paguyuban PKL Jalan Daha
4. Paguyuban PKL Kawasan Alun-alun
5. Paguyuban PKL Kuliner Sejuta Bunga
6. Paguyuban PKL Jalan Tidar
7. Paguyuban PKL Jalan Jenggala
8. Paguyuban PKL Jalan A Yani
9. Paguyuban PKL Puri Boga Kencana
10. Paguyuban PKL Kawasan Armada Estate
5. Tersedianya pangan yang cukup baik dari segi jumlah maupun mutunya, aman, merata,
halal dan terjangkau oleh daya beli masyarakat.
Capaian indikator kinerja :
No

Indikator
Sasaran

Adanya regulasi
ketahanan pangan

Ketersediaan
pangan utama

Cakupan beras
bersubsidi pada
KK miskin
Tingkat
kerawanan
pangan dan gizi
Ketersediaan
energi dan
protein perkapita

Tahun 2012
Target

Realisasi

ada

ada

Capaian
Kinerja
2012
100%

Tahun 2013
Target

Realisasi

ada

ada

Capaian
Kinerja
2013
100%

100%

100%

100%

100%

100%

100%

6.000
RTS-PM

5.414
RTS-PM

90,25%

5.500
RTS-PM

4.501
RTS-PM

82%

11%

10,34%

106%

10,22%

10,06%

98%

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 37

No

Indikator
Sasaran

a. Ketersediaan
energi
(Kkal/kap/th)
b. Ketersediaan
protein
(gr/kap/th )
Ketersediaan
informasi
pasokan, harga
dan akses pangan
Stabilitas harga
dan pasokan
pangan

- Sasaran

Tahun 2012
Target

Realisasi

93.84%

90.02%

Capaian
Kinerja
2012
95.93%

100%

100%

100%

100%

100%

100%

80%

78%

97,50%

84%

100%

120%

86%

100%

116,28%

87%

100%

115%

ketersediaan

pangan

mencakup

Tahun 2013
Target

Realisasi

95%

100%

Capaian
Kinerja
2013
105%

tercukupinya

pangan/beras,

jagung,

umbi-umbian, palawija, berikut distribusi pangan/harga serta export-import pangan.


- Kebutuhan akan beras perkapita pertahun yaitu 90 kg tercukupi.
- Rumah Tangga Sasaran Penerima Manfaat (RTS-PM) atau KK miskin yang berhak atas
subsidi beras tidak semua terpenuhi, karena mengikuti kuota yang ditentukan oleh
pemerintah pusat.
- Pola Pangan Harapan (PPH) skala nasional menetapkan ketersediaan 2200 kalori
perkapita/tahun dengan standar minimal untuk hidup 2000 kalori perkapita/tahun
dapat terpenuhi.
- Untuk ketersediaan protein, PPH menetapkan 57 gram perkapita/tahun juga telah
terpenuhi. Hal tersebut dikarenakan adanya subtutisi jenis makanan yang dikonsumsi.
- Kualitas ketersediaan informasi pasokan, harga dan akses pangan Kota Magelang, dari
tahun 2011 sampai tahun 2013 terus meningkat secara signifikan.
- Stabilitas harga dan pasokan pangan dari tahun 2011 sampai dengan tahun 2013 tetap
terjaga.
Permasalahan dan rekomendasi :
- Indikator Penguatan Cadangan Pangan menggunakan rumus : cadangan pangan untuk
masing-masing kelurahan yang dibagi 500 kg dikali 100%, data tersebut tidak
tersedia.
- Indikator Pengawasan dan Pembinaan Keamanan Pangan menggunakan rumus : jumlah
sampel pangan konsumsi aman yang ada di pedagang dibagi dengan jumlah total sampel
pangan yang ada pada pedagang tersebut dikali 100%, data tersebut tidak tersedia.
- Mengingat akan pentingnya kedua indikator tersebut, maka pada tahun yang akan
datang perlu dialokasikan anggaran untuk mendapatkan data-datanya.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 38

6. Terwujudnya peningkatan kualitas konsumsi pangan masyarakat melalui gerakan


percepatan diversifikasi konsumsi pangan berbasis sumber daya lokal
Capaian indikator kinerja :
No
1

Indikator
Sasaran
Tingkat
diversifikasi
komsumsi Pangan
yang beragam
bergizi, seimbang
dan aman
Tersedianya
database produk
pangan lokal
Skor Pola Pangan
Harapan (PPH)

Tahun 2012
Target

Realisasi

ada

ada

Capaian
Kinerja
2012
100%

Tahun 2013
Target

Realisasi

90%

90%

Capaian
Kinerja
2013
100%

100%

100%

100%

ada

ada

100%

6.000
RTS-PM

5.414
RTS-PM

90,25%

93,5

93,6

100,11%

Untuk memenuhi harapan sasaran kualitas konsumsi pangan maka indikator tingkat
diversifikasi konsumsi pangan yang beragam gizi, seimbang dan aman telah dikonversi
ke dalam pencapaian skor Pola Pangan Harapan (PPH). Meskipun indikator kinerja
tersebut pada tahun 2011 (89,8) belum mencapai target RKPD sebesar 90,1. Namun PPH
2011 masih mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2010, sebesar 2,2%. Dan, pada
tahun 2012 kembali mengalami peningkatan persetase sebesar 0,2% dari tahun
sebelumnya, yaitu 90%. Sementara pada tahun 2013 juga menunjukkan angka capaian
90%. Laju peningkatan skor PPH tahun 2013 ( target 93,5 dengan capaian 93,6) lebih
rendah dibandingkan dengan peningkatan konsumsi energi dan protein menunjukan
bahwa masih kurangnya kualitas pangan penduduk Kota Magelang dan diversifikasi
pangan belum berjalan maksimal. Namun, hal ini disebabkan karena kondisi ekonomi, dan
kurangnya pengetahuan masyarakat tentang kecukupan asupan gizi dalam pangan yang
dikonsumsi.
7. Terwujudnya peningkatan produktifitas UMKM melalui pemanfaatan teknologi dan
pemenuhan sarana prasarana usaha.
Capaian indikator kinerja :
No
1

Indikator
Sasaran
Jumlah UMKM
yang sudah
memanfaatkan
teknologi dan
terpenuhi sarana
prasarana
Persentase
UMKMK yang
produktif

Tahun 2012
Target

Realisasi

175

200

Capaian
Kinerja
2012
114,29%

40%

60%

150%

Tahun 2013
Target

Realisasi

200

200

Capaian
Kinerja
2013
100%

50%

55%

110%

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 39

Jumlah UMKM yang telah memanfaatkan teknologi dan sarana prasarananya masih sama
dengan tahun lalu.
Permasalahan klasik dunia usaha antara lain rendahnya produktifitas, pangsa pasar,
teknologi dan informasi, kualitas SDM dan kesulitan akses terhadap permodalan,
menjadi point-point yang terus diupayakan oleh Pemerintah.
Upaya peningkatan produktifitas UMKM dilakukan melalui : 1) peningkatan kemampuan
SDM untuk dapat menghasilkan produk-produk berkualitas sesuai keinginan konsumen,
termasuk pula kemasan (packing) maupun manajemen usaha; 2) Perluasan pangsa pasar
dengan memanfaatkan teknologi informatika baik untuk sharing informasi,
promosi/pemasaran hingga transaksi bisnis; 3) penggunaan sarana prasarana yang
modern (memadai) sesuai dengan kebutuhan.
8. Terwujudnya peningkatan kapasitas kelembagaan koperasi sesuai dengan jati diri
koperasi
Capaian indikator kinerja :
No

Indikator
Sasaran

Prosentase
Koperasi Aktif

Jumlah koperasi

Tahun 2012
Target

Realisasi

71,56%

86%

Capaian
Kinerja
2012
120,65%

216

205

94,91%

Tahun 2013
Target

Realisasi

73%

86%

Capaian
Kinerja
2013
117,81%

216

198

91,67%

Jumlah koperasi menurun sebanyak 7 unit. Sedangkan untuk prosentase koperasi aktif
masih sama dengan tahun 2012.
9. Terwujudnya perluasan pangsa pasar UMKMK
Capaian indikator kinerja :

Jumlah promosi
UMKMK

Capaian
Kinerja
2012
128,57%

Jumlah kontak
dagang dan temu
usaha.
Jumlah industri
rumah tangga

11

13

118,18%

16

50%

---

---

---

1800

729

41%

---

---

---

4,5%

4,5%

100%

No

3
4

Indikator
Sasaran

Kontribusi sektor
industri terhadap
PDRB

Tahun 2012
Target

Realisasi

Tahun 2013
Target

Realisasi

10

Capaian
Kinerja
2013
80%

Promosi UMKMK yang dilaksanakan yaitu mengikuti Pameran Inacraft di Jakarta


(tingkat nasional) sedangkan untuk tingkat regional antara lain Pameran Jateng Fair
di Semarang, Pameran Serayu Expo di Banjarnegara, Pameran Purworejo Expo
di Purworejo, Pameran Festival Film Indonesia (FFI) di Semarang. Selain itu juga

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 40

dilaksanakan pameran lokal berupa pasar murah dalam rangka hari jadi Kota Magelang
dan menjelang Idul Fitri serta dalam rangka Car Free Day.
Kontak dagang dan temu usaha yang dilaksanakan meliputi keikutsertaan dalam Pasar
Lelang Soropadan Expo yang terdiri dari Pasar Lelang Forward dan Pasar Lelang Spot
sebanyak 8 kali dalam setahun.
Beberapa indikator yang tidak tercapai cenderung dikarenakan keterbatasan anggaran.
10. Terwujudnya peningkatan jumlah UMKM dan daya saing usaha.
Capaian indikator kinerja :
No

Indikator
Sasaran

Jumlah UMKM,
UKM non
BPR/LKM UKM
Jumlah UMKMK

Tahun 2012
Target
Realisasi
---

2.785

Capaian
Kinerja
2012
---

---

---

---

Tahun 2013
Target
Realisasi
850

2841

Capaian
Kinerja
2013
332,24%

850

2841

332,24%

Prosentase peningkatan jumlah UMKM dibandingkan tahun lalu sebesar 2%.


Dua indikator kinerja lainnya yaitu cakupan bina kelompok pedagang/usaha informal dan
cakupan bina kelompok pengrajin belum dapat diukur karena tidak tersedia datanya.
11. Terwujudnya peningkatan volume fasilitasi kredit yang bisa diakses UMKMK
Capaian indikator kinerja :
No

Indikator
Sasaran

Jumlah UMKMK
yang
memanfaatkan
kredit

Tahun 2012
Target
Realisasi
350

390

Capaian
Kinerja
2012
111,43%

Tahun 2013
Target
Realisasi
360

Capaian
Kinerja
2013
141%

508

Jumlah UMKMK yang memanfaatkan kredit terus meningkat dari tahun ke tahun
melampaui angka yang ditargetkan.
12. Terwujudnya SDM pertanian,peternakan dan perikanan yang berkualitas
Capaian indikator kinerja :
Indikator
Sasaran

No
1

Tahun 2012
Target

Realisasi

Capaian
Kinerja
2012

Tahun 2013
Target

Realisasi

Capaian
Kinerja
2013

Rasio petani
terlatih
a.

Pertanian

70%

70%

100%

75%

76%

101%

b.

Peternakan

65%

75%

115,38%

65%

73%

112%

c.

Perikanan

70%

70%

100%

75%

75%

100%

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 41

Cakupan bina
kelompok petani

90%

85%

Capaian
Kinerja
2012
94,44%

Cakupan bina
kelompok
peternak

94%

85%

90,43%

Indikator
Sasaran

No

Tahun 2012
Target

Realisasi

Tahun 2013
Target

Realisasi

90%

100%

Capaian
Kinerja
2013
111%

94%

100%

106%

Sampai dengan tahun 2013 secara komulatif Pemerintah Daerah Kota Magelang melalui
Dinas Pertanian, Peternakan Dan Perikanan telah memberdayakan sedikitnya 73,3%
dari 630 petani yang diikutkan dalam program-program pelatihan baik di dinas maupun
di provinsi.
Cakupan bina kelompok tani dalam kurun waktu 2013 untuk 17 Kelurahan, telah
memfasilitasi 49 kelompok tani diantaranya 19 kelompok tani Pertanian, 6 kelompok tani
Peternakan dan 24 kelompok tani Perikanan.
13. Terwujudnya peningkatan jenis usaha agribisnis
Capaian indikator kinerja :
Indikator
Sasaran

No
1

Tahun 2012
Target

Realisasi

Jumlah jenis
bidang usaha
agribisnis

Capaian
Kinerja
2012
75%

Tahun 2013
Target

Realisasi

Capaian
Kinerja
2013
66,67%

Jenis bidang usaha agribisnis yang ada terdiri dari usaha pembesaran holtikultura
tanaman anggrek, padi sistem tanam tumpangsari, ruminansia (kambing, sapi), unggas,
sentra usaha pembesaran bibit ikan/udang galah, sentra pengolahan ikan pindang dan
produksi telur asin belum mengalami penambahan.
14. Terfasilitasinya pengolahan hasil, pasca panen dan pemasaran
Capaian indikator kinerja :

Tahun 2012

Indikator
Sasaran

Target

Realisasi

Jumlah tempat
pengolahan pasca
panen:
a. Pertanian

b.

Peternakan

c.

Perikanan

No

Capaian
Kinerja
2012

Tahun 2013

Capaian
Kinerja
2013

Target

Realisasi

100%

100%

100%

50%

100%

100%

Jumlah tempat pengolahan pasca panen untuk bidang pertanian mengalami peningkatan,
seperti pengolahan kripik jamur (Rejo Selatan), bawang (Rejo Selatan) dan slondok
(Magersari), menjadi nilai positif untuk pertumbuhan ekonomi secara umum di Kota

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 42

Magelang. Khusus untuk tempat pengolahan pasca panen perikanan difokuskan pada
teknis pengolahan dan pemasaran ikan.
Khusus untuk tempat pengolahan pasca panen perikanan difokuskan pada teknis
pengolahan dan pemasaran pertanian 3 tempat, peternakan 1 tempat dan perikananan
terdapat 3 tempat.
Produktivitas padi atau bahan pangan utama lokal lainnya perhektar mencapai 58,01%
pada tahun 2013. Sebagaimana dengan adanya peningkatan kelembagaan petani yang
semakin menguat, baik pertanian, peternakan dan perikanan. Sehingga kondisi sosial
petani Kota Magelang relatif lebih berkembang, maju dan mandiri dibanding dengan
tahun-tahun sebelumnya.
Sementara untuk jumlah sentra / pasar / balai benih budidaya pertanian, peternakan
dan perikanan terdapat 4 tempat dari target 4 tempat pada tahun 2013. Sehingga hal
ini menunjukkan terpenuhinya fasilitas budidaya untuk pertanian, peternakan dan
perikanan.
15. Termanfaatkannya tanah bengkok untuk pengembangan agribisnis.
Capaian indikator kinerja :
No
1

Indikator
Sasaran
Prosentase
konservasi
sumberdaya
lahan dan sumber
daya hayati

Tahun 2012
Target

Realisasi

5%

5%

Capaian
Kinerja
2012
100%

Tahun 2013
Target

Realisasi

7%

7%

Capaian
Kinerja
2013
100%

Termanfaatkannya tanah bengkok untuk pengembangan agribisnis dan tersusunnya


optimalisasi pemanfaatan lahan sawah untuk agribisnis tanaman pangan menjadi sasaran
utama dalam menyelenggarakan konservasi sumberdaya lahan dan sumber daya hayati,
serta pemanfaatan lahan. Indikator kinerja konservasi sumberdaya lahan dan hayati
masih berada pada angka 3% pada tahun 2011, 5% pada tahun 2012 dan, 7% pada tahun
2013 yang bisa dilihat dalam pemanfaatan cukai demplot (contoh) tembakau di
Kelurahan Jurangombo Utara dan Kelurahan Cacaban.
16. Tersusunnya strategi optimalisasi pemanfaatan lahan sawah untuk agribisnis
tanaman pangan
Capaian indikator kinerja :
No

Indikator
Sasaran
Prosentase
pemanfaatan
lahan

Tahun 2012
Target
Realisasi
100%

100%

Capaian
Kinerja
2012
100%

Tahun 2013
Target
Realisasi
100%

100%

Capaian
Kinerja
2013
100%

Luasan lahan bengkok yang mencapai 27 ha masih difungsikan untuk sawah dan lahan.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 43

17. Terwujudnya peningkatan kualitas dan kuantitas produksi pertanian (pertanian,


peternakan, perikanan dan kelautan)
Capaian indikator kinerja :
No
1

6
7

Indikator
Sasaran

Tahun 2012

2,91%

3,14%

56
Kw/Ha

60,21
Kw/Ha

3.000

Capaian
Kinerja
2013
94%

Realisasi

2,91%

2,73%

107,52%

59,22
Kw/Ha

58,01
Kw/Ha

97,96%

3.372,57

112,42%

3.358,93
ton

2.885 ton

85,89%

13,5 ton
141 ton

--14 ton

--9,93%

13,5 ton
141 ton

--158,24 ton

--113%

1,25 ton
7.000 pot

--1.500 pot

--21,43%

1,25 ton
7.000 pot

--5.600 pot

--65%

3.775.409
357.388
4.202,32
161 ton

3.157.749
1.175.312
6.308,25
118,23 ton

83,64%
328,86%
150,11%
73,43%

3.851.818
364.606
428.712
219 ton

7.763.073
779.947
90.890
142,32 ton

202%
214%
21%
65%

1.773 ton

2.204

124,31%

17,73 ton

23 ton

130%

15,07

24,51

162,69%

15,07

50,83

337,40%

telor
(kg/Kap/th)

2,85

9,10

319,30%

2,85

5,91

207,37%

susu (lt/Kap/th)

2,35

0,48

20,47

2,35

0,69

29,42%

Prod. Kac. Tanah


Produksi
Tanaman Hias
dan Anggrek
Jumlah produksi
peternakan
Daging (kg)
Telur (kg)
Susu (l)
Produksi
perikanan
kelompok petani
Jumlah komsumsi
ikan
Jumlah komsumsi
produk
peternakan
daging
(kg/Kap/th)

Realisasi

Tahun 2013
Target

Kontribusi sektor
pertanian
terhadap PDRB
Produktivitas
padi atau bahan
pangan utama
lokal lainnya
perhektar:
Produksi
padi/bahan
pangan utama
Prod. Jagung
Prod. Ketela
Pohon

Target

Capaian
Kinerja
2012
107,90%

Penurunan capaian dikarenakan telah terjadi pengurangan luas lahan.


Produksi jagung dan kacang tanah tidak dapat dimunculkan data angka capaian
kinerjanya karena luas tanam belum mencapai luasan lahan 1 ha. Namun pada produksi
ketela pohon mengalami peningkatan pesat.
Pemerintah Daerah Kota Magelang juga telah mengadakan program kegiatan fasilitasi
kerjasama yaitu dengan mempertemukan para pelaku usaha tanaman holtikultura
khususnya retailment bunga anggrek sebagai sarana untuk meningkatkan motivasi
pengembangan usaha tanaman hias. Diharapkan mampu meningkatkan pemasaran tani
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 44

pada sektor tanaman holtikultura. Program ini dapat dilihat pada kawasan Green House
Taman Kyai Langgeng yang memvisualisasikan pembesaran budidaya tanaman anggrek
dengan luasan lahan 450 m. Karena keterbatasan waktu dimana anggaran dari
perubahan APBD, maka produksi tanaman hias dan anggrek baru mencapai 5600 pot dari
angka target 7000 pot.
18. Terwujudnya peningkatan produk hasil ternak baik secara kuantitas dan kualitas.
Capaian indikator kinerja :
No
1

Indikator
Sasaran

Tahun 2012
Target

Realisasi

Daging (kg)
Telur (kg)

3.775.409
357.388

3.157.749
1.175.312

Susu (l)
Produksi
perikanan
kelompok petani
Jumlah
pemeriksaan
terhadap ternak
Jumlah
pemeriksaan
sampel hasil
produksi ternak

4.202,32
161 ton

Capaian
Kinerja
2012

Tahun 2013

Capaian
Kinerja
2013

Target

Realisasi

83,64%
328,86%

3.851.818
364.606

7.763.073
779.947

202%
214%

6.308,25
118,23 ton

150,11%
73,43%

428.712
219 ton

90.890
142,32 ton

21%
65%

12

11

91,67%

12 kali

12 kali

100%

100%

2 kali

12 kali

600%

Jumlah produksi
peternakan

Luas lahan di Kota Magelang sangat terbatas sehingga target produksi jangan terlalu
tinggi.
Untuk menjaga kualitas ternak dan produk hasil peternakan secara rutin dilakukan
pemeriksaan terhadap ternak maupun produk hasil peternakan yang beredar di Kota
Magelang.
Dalam rangka meningkatkan mutu data peternakan dan sesuai akan kebutuhan data yang
cepat, tepat dan akurat, maka dilakukan kerjasama secara terpadu dengan Dinas
Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Jawa Tengah, BPS Provinsi Jawa Tengah,
Sub Bagian Data Dan Informasi Dirjennak serta Pusat Data Dan Informasi Pertanian
(PUSDATIN). Sehingga mulai tahun 2011 sampai tahun 2013 telah menghasilkan data
parameter produksi ternak dengan metode penghitungan e-Formnak. Metode
penghitungan hasil ternak tersebut membuat perbedaan yang sangat signifikan antara
target dan realisasi untuk jumlah produksi daging, telor dan susu, sehingga belum bisa
ditentukan mencapai target atau tidaknya.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 45

19. Terwujudnya peningkatan pelayanan kesehatan hewan dan kesmavet.


Capaian indikator kinerja :
No
1

Indikator
Sasaran
Jumlah ternak yg
diperiksa
kesehatannya
Jumlah
pemeriksaan dan
pengawasan
lalulintas ternak

Tahun 2012
Target

Realisasi

6.197

7.840

Capaian
Kinerja
2012
126,51%

12 kali

16 kali

133,33%

Tahun 2013
Target

Realisasi

6.659

8.627

Capaian
Kinerja
2013
129,55%

12 kali

12 kali

100%

Peningkatan hasil kinerja didukung oleh kegiatan penyuluhan, vaksinasi dan


penyemprotan desinfektan yang dilakukan secara berkesinambungan. Pemeriksaan
hewan ternak dan pengawasan lalu lintas ternak dilakukan di Rumah Pemotongan Hewan
(RPH) dilakukan setidaknya 12 kali dalam setahun.
20. Teridentifikasinya kondisi sosial ekonomi petani Kota Magelang
Capaian indikator kinerja :
No
1

Indikator
Sasaran

Tahun 2012
Target

Realisasi

Penguatan
kelembagaan
petani
a. Pertanian

16 kelompok

18
kelompok

b. Peternakan

4 kelompok

4 kelompok

c. Perikanan

17 kelompok

20
kelompok

Capaian
Kinerja
2012

Tahun 2013

Capaian
Kinerja
2013

Target

Realisasi

112,5%

16 kelompok

19 kelompok

118,75%

100%

6 kelompok

6 kelompok

100%

24 kelompok

141,18%

117,65% 17 kelompok

Kelembagaan petani dibentuk dalam rangka me-manage agar segala hal yang menyangkut
permasalahan, pembinaan, kebutuhan, kemampuan dan lain sebagainya dapat
dikoordinasikan dengan baik. Jumlahnya terus meningkat dari tahun ke tahun.
21. Terwujudnya intensifikasi pertanian dengan menggunakan varietas unggul baru
Capaian indikator kinerja :
No

Indikator
Sasaran

Jumlah
penggunaan benih
padi bermutu

Tahun 2012
Target
Realisasi
5.000

6.000

Capaian
Kinerja
2012
120%

Tahun 2013
Target
Realisasi
5.500 kg

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

12.174 kg

Capaian
Kinerja
2013
221,35%

BAB III

- 46

22. Terwujudnya penurunan serangan OPT.


Capaian indikator kinerja :
No
1

Indikator
Sasaran
Jumlah serangan
OPT yang dapat
diatasi

Tahun 2012
Target

Realisasi

100%

100%

Capaian
Kinerja
2012
100%

Tahun 2013
Target

Realisasi

100%

100%

Capaian
Kinerja
2013
100%

23. Tersedianya benih/bibit berkualitas.


Capaian indikator kinerja :
No
1

Indikator
Sasaran

Tahun 2012
Target

Realisasi

Capaian
Kinerja
2012

Tahun 2013
Target

Capaian
Kinerja
2013

Realisasi

Jumlah populasi
ternak:
Unggas
66.851 ekor 199.187ekor 297,96% 70.034 ekor 286.371 ekor
Domba / kambing 527 ekor
553 ekor
104,93%
522 ekor
959 ekor
Sapi
194 ekor
247 ekor
127,32%
203 ekor
280 ekor
Jumlah bibit :
Sapi
71 ekor
60 ekor
84,51%
37 ekor
37ekor
Kelinci
44 ekor
514 ekor
1.168,18% 564 ekor
347 ekor

409%
184%
138%
100%
62%

Dengan menerapkan teknologi untuk pengembangan pertanian pada tahun 2013


Pemerintah Kota Magelang berhasil meningkatkan jumlah populasi ternak.
Kurang minatnya masyarakat untuk memelihara ternak dan secara temporary karena
adanya penurunan harga jual ternak.

24. Terwujudnya peningkatan penggunaan sarana dan prasarana produksi komoditas


pangan
Capaian indikator kinerja :
No

Indikator
Sasaran

Jumlah
penggunaan
teknologi tepat
guna (Panca
usaha tani )

Tahun 2012
Target
Realisasi
5 paket

5 paket

Capaian
Kinerja
2012
100%

Tahun 2013
Target
Realisasi
5 paket

5 paket

Capaian
Kinerja
2013
100%

Paket Panca Usaha Tani meliputi : penggunaan benih unggul, pengolahan sawah,
pengendalian hama penyakit terpadu, pemupukan berimbang dan pengairan.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 47

25. Terwujudnya perlindungan hutan


Capaian indikator kinerja :
No

Indikator
Sasaran

Rehabilitasi
hutan dan lahan
kritis
Konservasi
kawasan hutan

20 ha

20 ha

Capaian
Kinerja
2012
100%

71 ha

71 ha

Kerusakan
kawasan hutan

2 ha

1 ha

2
3

Tahun 2012
Target
Realisasi

Tahun 2013
Target
Realisasi
23 ha

23 ha

Capaian
Kinerja
2013
100%

100%

71 ha

71 ha

100%

50%

2 ha

0 ha

100%

Rehabilitasi hutan dan lahan kritis serta konservasi kawasan hutan yang telah
dikonversi sebagai penghijauan lingkungan terus dapat berjalan seimbang dengan
pemberian bibit-bibit tanaman yang diperlukan.

Misi keempat : Meningkatkan pembangunan pelayanan perkotaan dengan pengembangan

budaya daerah disertai dengan peningkatan peran serta dan


pemberdayaan masyarakat dengan mengedepankan aspek kemandirian

1. Tersedianya kelengkapan Rencana Tata Ruang dari RTRW, RDTRK, RTH dan RTBL
Capaian indikator kinerja :
No

Indikator Sasaran

Tersedianya dokumen RTRW dan


Perda RTRW 2010 -2030, RDTRK
dan Perda RDTRK 2010 -2020,
RTH, dan RTBL Kawasan Strategis
Lingkungan Hidup (Gunung Tidar)
Tersedianya sarana informasi
Rencana tata Ruang Wilayah Kota
Magelang kepada masyarakat
Jumlah Ijin Lokasi yang sesuai
dengan peruntukan ruang

25%

50%

50%

50%

100%

60%

100%

166,67%

100%

100%

100%

100%

100%

100%

Persentase Luas Permukiman yang


tertata

75%

75%

100%

78%

78%

100%

Ruang publik yang berubah


peruntukannya

---

---

---

15%

15%

100%

Rasio bangunan ber- IMB per


satuan bangunan

---

---

---

35%

20.50%

58,57%

Berkurangnya luasan permukiman


kumuh di kawasan perkotaan

3,20

3,20

100%

3.80%

3.94%

103,68%

Tahun 2012
Target Realisasi

Capaian
Tahun 2013
Kinerja Target Realisasi
2012
200%
25%
25%

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

Capaian
Kinerja
2013
100%

BAB III

- 48

No

Indikator Sasaran

Terlayaninya masyarakat dalam


pengurusan IMB di kabupaten/kota

100%

100%

10

Tersedianya pedoman Harga


Standar Bangunan Gedung Negara
di kabupaten/kota
Penerbitan IUJK dalam waktu 10
(sepuluh) hari kerja setelah
persyaratan lengkap
Tersedianya Sistem Informasi
Jasa Konstruksi setiap tahun

ada

ada

100%

ada

ada

100%

75%

75%

100%

70%

97%

137,86%

---

---

---

Ada

Ada

100%

50%

100%

200%

60%

40%

66,67%

---

---

---

ada

ada

100%

100%

100%

100%

100%

100%

100%

---

---

---

100%

100%

100%

---

---

---

15%

16%

106,67%

50%

50%

100%

55%

55%

100%

---

---

---

15%

15%

100%

11

12
13

14

15

16

17

18

19

Tersedianya informasi mengenai


Rencana Tata Ruang (RTR) wilayah
kabupaten/kota beserta rencana
rincinya melalui peta analog dan
peta digital
Terlaksananya penjaringan aspirasi
masyarakat melalui forum
konsultasi publik yang memenuhi
syarat inklusif dalam proses
penyusunan RTR dan
programpemanfaatan ruang, yang
dilakukan minimal 2 (dua) kali
setiap disusunnya RTR dan program
pemanfaatan ruang
Terlayaninya masyarakat dalam
pengurusan izin pemanfaatan ruang
sesuai dengan Peraturan Daerah
tentang RTR wilayah
kabupaten/kota beserta rencana
rincinya
Terlaksanakannya tindakan awal
terhadap pengaduan masyarakat
tentang pelanggaran di bidang
penataan ruang, dalam waktu 5
(lima) hari kerja
Tersedianya luasan RTH publik
sebesar 20% dari luas wilayah
kota/kawasan perkotaan
Pembangunan turap di wilayah jalan
penghubung dan aliran sungai rawan
longsor lingkup kewenangan kota
Ruang publik yang berubah
peruntukkannya

Tahun 2012
Target Realisasi

Capaian
Tahun 2013
Kinerja Target Realisasi
2012
100%
100%
100%

Capaian
Kinerja
2013
100%

a. Tersedianya dokumen RTRW dan Perda RTRW 20102030, RDTRK dan Perda RDTRK
2010-2020, RTH, dan RTBL Kawasan Strategis Lingkungan Hidup (Gunung Tidar),
Target 25 %, realisasi 25 %
Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Magelang yang selanjutnya disingkat RTRW Kota

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 49

adalah rencana tata ruang yang merupakan penjabaran RTRW Nasional dan Provinsi
ke dalam kebijakan dan strategi pelaksanaan pemanfaatan ruang wilayah daerah.
Pada tahun 2012 Kota Magelang telah memiliki Perda yang mengatur RTRW yaitu
Perda Nomor 4 Tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Magelang
Tahun 2011 2031.
Rencana Detail Tata Ruang Kota (RDTRK) adalah penjabaran dari RTRW Kota ke
dalam rencana pemanfaatan kawasan perkotaan dan diatur dalam Perda tersendiri.
Pada tahun 2013, Pemerintah Kota Magelang menyusun Raperda RDTRK yang
dilengkapi dengan Peraturan Zonasi.
Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) merupakan pengaturan persyaratan
tata bangunan sebagai tindak lanjut RTRW Kota dan/atau RDTRK, digunakan dalam
pengendalian pemanfaatan ruang suatu kawasan dan sebagai panduan rancangan
kawasan untuk mewujudkan kesatuan karakter serta kualitas bangunan gedung dan
lingkungan yang berkelanjutan.
b. Tersedianya sarana informasi Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Magelang kepada
masyarakat,
Target 60 % capaian 100 %
Dari indikator tersebut di atas dapat dilihat bahwa dokumen tentang rencana tata
ruang di Kota Magelang sudah cukup lengkap. Yang perlu dilakukan oleh Pemerintah
Kota Magelang adalah bagaimana agar dokumen-dokumen tersebut dapat diakses
dengan mudah oleh masyarakat dan investor. Selain itu, konsistensi dalam
melaksanakan pembangunan harus sesuai dengan rencana tata ruang.
Masyarakat mempunyai hak penuh atas informasi tentang penataan ruang
Kegiatan yang dapat dimunculkan sebagai salah satu program penanganan
penataan ruang Kota Magelang, antara lain : kampanye penataan ruang kepada
masyarakat dengan menggunakan media informasi visual/video CD yang dapat
menampilkan film dokumentasi permasalahan wilayah, cuplikan RTRW serta
sosialisasi dan anjuran-anjuran yang berguna bagi masyarakat dan dunia usaha dalam
pemanfaatan ruang yang sesuai dengan RTRW.
BAPPEDA Kota Magelang selaku leading sector dalam masalah RTRW telah
melakukan program dan kegiatan terkait dengan penyediaan sarana informasi
pemanfaatan ruang di Kota Magelang kepada masyarakat meskipun sarana informasi
RTRW yang disajikan kepada masyarakat masih terbatas pada penyediaan dokumen
RTRW, Perda RTRW, peta RTRW dan sosialisasi RTRW dalam berbagai kesempatan
dan penggunaan website BAPPEDA Kota Magelang.
c. Jumlah ijin lokasi yang sesuai dengan peruntukan ruang.
Target 100 %, capaian 100 %
Ijin lokasi adalah ijin yang diberikan kepada perorangan atau Badan
Hukum/Perusahaan untuk memperoleh tanah yang diperlukan dalam rangka
penanaman modal, yang berlaku pula sebagai ijin pemindahan hak atas tanah dan
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 50

untuk menggunakan tanah sesuai dengan tata ruang wilayah.


Realisasi ijin lokasi yang sesuai dengan peruntukan ruang pada tahun 2013 adalah
100%, sehingga target sebesar 100% dapat tercapai
d. Penyusunan peta blok solid dan solid void Kota Magelang
Indikator ini merupakan penyusunan kegiatan peta atau pemetaan yang
menggambarkan pemanfaatan ruang kota, mana yang sudah termanfaatkan dan
mana yang belum, dimana akhirnya diketahui pola pemanfaatan ruang kota guna
mendukung penataan kota.
Penyusunan peta blok solid dan solid void di daerah Kecamatan Magelang Selatan
baru terealiasasi sebesar 35%.
e. Persentase Luas Permukiman yang tertata
Target 78 %, capaian 80 %
Permukiman adalah bagian dari lingkungan hidup di luar kawasan lindung, baik yang
berupa kawasan perkotaan maupun perdesaan yang berfungsi sebagai lingkungan
tempat tinggal atau lingkungan hunian dan tempat kegiatan yang mendukung
perikehidupan dan penghidupan. Kota Magelang memiliki luas wilayah 18,122 km
dengan areal permukiman seluas 1.312 Ha. Pada tahun 2013 luas permukiman yang
tertata/terorganisir baru mencapai 80 % dari total luas permukiman di wilayah Kota
Magelang.
f. Ruang publik yang berubah peruntukannya
Pemerintah Kota Magelang sangat memperhatikan pengendalian tata ruang dimana
setiap perijinan pemanfataan ruang harus betul-betul sesuai dengan RTRW sehingga
perubahan peruntukan ruang, khususnya ruang publik dapat direduksi .
g. Rasio bangunan ber-IMB per satuan bangunan
Target 35%, capaian 20,50 %
Ijin Mendirikan bangunan yang selanjutnya disingkat IMB adalah perijinan yang
diberikan oleh Pemerintah Kota kepada pemilik bangunan gedung untuk membangun
baru, mengubah, memperluas, mengurangi dan/atau merawat bangunan gedung sesuai
dengan persyaratan administratif dan persyaratan tek.is yang berlaku.
Pelaksanaan Ijin Mendirikan Bangunan (IMB) diatur dengan Peraturan Daerah Kota
Magelang Nomor 5 Tahun 2012 tentang bangunan Gedung.
Pada tahun 2013 target belum tercapai, hal ini disebabkan kesadaran masyarakat
terutama yang membangun rumah tinggal untuk mengurus IMB masih rendah. Untuk
itu Pemerintah Kota Magelang perlu melakukan pembinaan maupun sosialisasi agar
informasi dan upaya penyadaran terhadap masyarakat bisa tersampaikan melalui
media dan cara-cara yang tepat. Langkah pengawasan dan pemantauan yang efektif
dari tim teknis juga diperlukan agar setiap kegiatan pembangunan fisik dan
pemanfaatan ruang di lapangan bisa terpantau.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 51

h. Berkurangnya luasan permukiman kumuh di kawasan perkotaan


Target 3,8 %, capaian 3,94 %
Terbatasnya lahan yang ada untuk permukiman mengakibatkan lingkungan menjadi
kumuh, selain itu banyak masyarakat sekitar pusat-pusat kegiatan industri
membangun kamar-kamar atau rumah kontrakan (bedeng-bedeng) di lingkungan
permukiman penduduk sehingga terjadi kantong-kantong permukiman kumuh.
Kantong-kantong perkumiman kumuh antara lain berada di wilayah Kelurahan
Rejowinangun Selatan, Rejowinangun Utara, Kedungsari dan Cacaban. Pemerintah
Kota Magelang sangat mendukung dan memperhatikan pembangunan sarana dan
prasarana permukiman yang saat ini belum mencapai kondisi optimal terutama bagi
masyarakat berpenghasilan rendah di lingkungan padat penduduk, kumuh dan rawan
sanitasi
i. Terlayaninya masyarakat dalam pengurusan IMB di kabupaten/kota
Target 100% capaian 100%
Pelaksanaan Ijin Mendirikan Bangunan (IMB) diatur dengan Peraturan Daerah
tentang Bangunan Gedung yang substansinya mengikuti Undang-Undang Nomor 28
Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung (UUBG) dan Peraturan Pemerintah Nomor
36 Tahun 2005 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 28 Tahun
2002 tentang Bangunan Gedung (PPBG). Rencana capaian jumlah bangunan gedung
yang memiliki IMB mengikuti rencana capaian Perda Bangunan Gedung tahun 2010
hingga 2014 yaitu 289 kabupaten/kota yang telah memperoleh bantuan penyusunan
Perda Bangunan Gedung.
Berkas permohonan IMB yang masuk di Badan Pelayanan Perizinan Terpadu (BP2T)
Kota Magelang kemudian dikaji kelengkapan persyaratan dan kesesuaiannya dengan
RTRW oleh Dinas Kebersihan, Pertamanan dan Tata Kota, maka permohonan IMB
yang dapat dikabulkan sebesar 100% pada tahun 2012.
j. Tersedianya pedoman harga standar bangunan gedung Negara di kabupaten/kota
Target ada realisasi ada
Harga Satuan Bangunan Gedung Negara merupakan biaya maksimum per-m2
pelaksanaan konstruksi untuk pembangunan bangunan gedung negara khususnya
untuk pekerjaan standar bangunan gedung negara yang ditetapkan secara berkala
untuk setiap kabupaten/kota oleh Bupati/Walikota setempat.
Pada tahun 2013 Kota magelang telah memiliki pedoman harga standar bangunan
gedung.
k. Penerbitan IUJK dalam waktu 10 (sepuluh) hari kerja setelah persyaratan lengkap
Target 70% realisasi 97%
Ijin Usaha Jasa Konstruksi yang selanjutnya disingkat IUJK adalah ijin untuk
melakukan usaha di bidang jasa konstruksi yang diterbitkan oleh Pemerintah
Kabupaten/Kota. Waktu penerbitan IUJK adalah waktu yang dibutuhkan untuk terbitnya
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 52

IUJK terhitung mulai dari tanggal lengkapnya seluruh persyaratan IUJK sampai dengan
tanggal diterbitkannya IUJK setelah dikurangi dengan hari libur dalam kurun waktu
tersebut. Badan Pelayanan Perizinan Terpadu (BP2T) menerapkan standar pelayanan
pengurusan IUJK maksimal 10 (sepuluh) hari kerja setelah berkas dinyatakan
lengkap. Penerbitan IUJK dalam waktu sepuluh hari di Kota Magelang pada tahun
terealisasi sebesar 97%.
l. Tersedianya sistem informasi jasa konstruksi
Target ada realisasi ada
Sistem infomasi jasa konstruksi adalah sekumpulan komponen dari informasi
mengenai jasa konstruksi yang saling terintegrasi untuk menyajikan data dan
infomasi mengenai jasa konstruksi.
SPM tingkat pelayanan sistem informasi jasa konstruksi di Kabupaten/Kota adalah
persentase penyajian data dan informasi mengenai jasa konstruksi terkini yang di
evaluasi setiap tahun anggaran.
Pada tahun 2013, Pemerintah Kota Magelang telah memiliki sistem informasi jasa
konstruksi seperti yang diamanatkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 14
/PRT/M/2010 tentang Standar Pelayanan Minimal (SPM) Bidang Pekerjaan Umum dan
Penataan Ruang.
m. Tersedianya informasi mengenai Rencana Tata Ruang (RTR) wilayah Kabupaten/Kota
beserta rencana rinciannya melalui peta analog dan peta digital
Target 60% realisasi 60%
Informasi berupa peta analog adalah bentuk informasi tentang Rencana Tata
Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten/Kota dan rencana rincinya dalam bentuk cetakan
yang dapat digandakan, mudah diakses pada jam kerja, dan tanpa dipungut biaya.
Informasi mengenai keberadaan peta analog disebarluaskan melalui berita di media
massa.
Sedangkan informasi berupa peta digital adalah bentuk informasi tentang Rencana
Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kota dan rencana rincinya dalam bentuk peta yang
didigitasi, yang dapat dengan mudah diakses pada jam kerja tanpa dipungut biaya.
Indikator ini menunjukkan persentase jumlah peta analog dan digital RTRW
Kabupaten/Kota dan rencana rincinya yang ada pada akhir tahun pencapaian SPM
terhadap jumlah peta digital yang seharusnya ada pada Kabupaten/Kota/
Kecamatan/Kelurahan.
Pemerintah Kota Magelang di tahun 2013 telah menyediakan informasi mengenai RTR
beserta rinciannya dalam bentuk cetakan yang telah disosialisasikan kepada
masyarakat serta menggunakan media website milik Pemerintah Kota Magelang.
n. Terlaksananya penjaringan aspirasi masyarakat melalui forum konsultasi publik yang
memenuhi syarat inklusif dalam proses penyusunan RTR dan program pemanfaatan
ruang yang dilakukan minimal 2 (dua) kali setiap disusunnya RTR dan program
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 53

pemanfaatan ruang
Target ada, realisasi ada
Konsultasi publik dalam penyusunan rencana tata ruang dan program pemanfaatan
ruang adalah bentuk pelibatan masyarakat dalam penyusunan rencana tata ruang
sebagai bentuk participatory planning, yang memenuhi syarat inklusif dan mampu
menjaring aspirasi masyarakat.
Syarat inklusif dalam konsultasi publik adalah syarat-syarat khusus yang harus
dipenuhi dalam pelaksanaan konsultasi publik, antara lain stakeholder yang terlibat,
kualitas pertemuan dan jumlah pertemuan.
Jumlah pertemuan konsultasi publik tersebut diselenggarakan paling sedikit 2 (dua)
kali pada waktu awal dan akhir dalam setiap proses penyusunan rencana tata ruang
dan program pemanfaatan ruang, yang tujuannya untuk menjaring masukan dan
tanggapan.
Pemerintah Kota Magelang telah melaksanakan penjaringan aspirasi masyarakat
melalui forum konsultasi publik yang memenuhi syarat inklusif dalam proses penyusunan
RTR dan program pemanfaatan ruang dalam bentuk ekspose, sosialisasi dan public
hearing dengan beberapa stakeholders terkait yang dilakukan pada saat disusunnya
RTR dan program pemanfaatan ruang.
o. Terlayaninya masyarakat dalam pengurusan ijin pemanfaatan ruang sesuai dengan
Peraturan Daerah tentang RTR Wilayah kabupaten/kota beserta rencana rincinya
Target 100% realisasi 100%
Sesuai amanat Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 14 /PRT/M/2010 tentang
Standar Pelayanan Minimal (SPM) Bidang Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang, bahwa
setiap Kabupaten/Kota diharapkan telah memiliki Perda RTRW Kabupaten/Kota
beserta rencana rincinya yang dilengkapi dengan peta untuk kemudian dapat
dijadikan dasar pemberian ijin pemanfaatan ruang.
Ijin pemanfaatan ruang adalah ijin yang dipersyaratkan dalam kegiatan pemanfaatan
ruang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Tujuan dari ijin pemanfaatan ruang adalah untuk menjamin pemanfaatan ruang sesuai
dengan rencana tata ruang, peraturan zonasi dan standar pelayanan minimal dibidang
penataan ruang, menghindari dampak negatif pemanfaatan ruang dan melindungi
kepentingan umum.
Pemberian ijin pemanfaatan ruang dilakukan dengan menelaah dan memeriksa
terlebih dahulu kesesuain ijin yang diajukan dengan rencana tata ruang yang telah
ditetapkan. Jika terdapat ketidaksesuaian, maka permohonan ijin dibatalkan, dan
jika sudah sesuai maka ijin tersebut dapat disetujui.
Adapun jenis ijin pemanfaatan ruang adalah : ijin prinsip, ijin lokasi, ijin penggunaan
pemanfaatan tanah, ijin mendirikan bangunan dan ijin lain berdasarkan Peraturan
Perundang-Undangan.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 54

Di tahun 2013 pengurusan ijin pemanfaatan ruang sesuai dengan Peraturan Daerah
tentang RTRW secara keseluruhan dapat terlayani.
p. Terlaksananya tindakan awal terhadap pengaduan masyarakat tentang pelanggaran di
bidang penataan ruang dalam waktu 5 (lima) hari kerja
Target ada realisasi ada
Indikator ini merupakan suatu bentuk pelayanan yang responsif kepada
masyarakat terhadap segala bentuk pengaduan atas pelanggaran di bidang
penataan ruang. Pelanggaran di bidang penataan ruang adalah ketidaksesuaian
pemanfaatan ruang dengan rencana tata ruang, dengan izin pemanfaatan ruang
yang diberikan oleh pejabat yang berwenang, dan/atau menghalangi akses
terhadap kawasan yang dinyatakan oleh peraturan perundang-undangan sebagai
milik umum.
Tindakan awal terhadap pengaduan masyarakat tentang pelanggaran di bidang
penataan ruang harus dilakukan paling lama 5 (lima) hari.
Pelayanan pengaduan pelanggaran di bidang penataan ruang dilakukan dengan
menelaah dan memeriksa terlebih dahulu pengaduan yang diajukan dengan rencana tata
ruang yang telah ditetapkan. Jika hasil pengaduan terbukti benar telah terjadi
pelanggaran, maka dilakukan penindakan lebih lanjut terhadap pelanggaran
tersebut.
q. Tersedianya luasan RTH publik sebesar 20% dari luas wilayah kota/kawasan perkotaan,
Target 15% realisasi 16%.
Penyediaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Publik adalah penyediaan RTH yang dimiliki
dan dikelola oleh Pemerintah Daerah Kota/Kabupaten yang digunakan untuk
kepentingan masyarakat secara umum, dilakukan dengan melakukan penyesuaian
pemanfaatan pola ruang wilayah kota/kawasan perkotaan dengan rencana tata ruang
yang telah ditetapkan.
Kota Magelang sampai tahun 2013 memiliki kawasan Ruang Terbuka Hijau (RTH)
telah mencapai 16% dari keseluruhan luas Kota magelang.
Meskipun secara umum menambah RTH menjadi persoalan sulit yang dihadapi
Pemerintah Kota Magelang akibat keterbatasan lahan. Perlu strategi yang lebih
kreatif dalam menambah luasan RTH, salah satunya dengan melirik potensi RTH
privat. Selain itu partisipasi masyarakat sangat diperlukan dalam mewujudkan kota
hijau. Dengan tepenuhinya RTH 30 persen di perkotaan harapannya akan terwujud
ruang yang aman, nyaman, produktif dan berkelanjutan. Diperlukan dukungan dari
masyarakat bersama Pemerintah Daerah untuk bersama-sama melaksanakan dan
menyediakan RTH privat. Hal ini juga sebagai bentuk kontrol terhadap kota agar
menjadi lebih baik.
Pada tahun 2013 penataan taman-taman kota dalam rangka melaksanakan program
Magelang Kota Sejuta Bunga pemerintah Kota Magelang juga menambah luasan RTH
publik di beberapa lokasi yang masih memungkinkan..
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 55

r. Pembangunan turap di wilayah jalan penghubung dan aliran sungai rawan longsor lingkup
kewenangan kota

Target 55 %, capaian 55 %
Realisasi kinerja indikator pembangunan turap di wilayah jalan penghubung dan aliran
sungai rawan longsor lingkup kewenangan kota diukur secara kualitatif dengan
membandingkan antara realisasi/kondisi eksisting pembangunan turap di wilayah jalan
penghubung dan aliran sungai rawan longsor lingkup kewenangan kota yaitu sebesar
55% dengan target pembangunan turap di wilayah jalan penghubung dan aliran sungai
rawan longsor lingkup kewenangan kota yang ingin dicapai yaitu 55%.

2. Terwujudnya Peningkatan kualitas Prasarana/ infrastruktur Perkotaan


Capaian indikator kinerja :
Tahun 2012

No
1

Indikator Sasaran
Proporsi Panjang Jalan Kota
Magelang dengan kondisi baik

Capaian
Kinerja
Target Realisasi
2012
75%
83%
110,67%

Panjang jalan penghubung baru yang 1800m


dibangun

Tahun 2013
Target

Realisasi

80%

85%

Capaian
Kinerja
2013
106.25%

1040m

57,78%

---

---

---

Proporsi panjang jalan lingkungan


dengan kondisi baik

80%

85%

106,25%

86%

86%

100.00%

Tersedianya jalan yang


menghubungkan pusat-pusat
kegiatan dalam wilayah
kabupaten/kota.
Tersedianya jalan yang
memudahkan masyarakat
perindividu melakukan perjalanan
Tersedianya jalan yang menjamin
pengguna jalan berkendara dengan
selamat
Tersedianya jalan yang menjamin
kendaraan dapat berjalan dengan
selamat dan nyaman.
Tersedianya jalan yang menjamin
perjalanan dapat dilakukan sesuai
dengan kecepatan rencana
Data base jalan yang ter update
Rasio kawasan khusus PKL per
seluruh kawasan PKL

80%

92%

115%

85%

99.20%

116.71%

94%

92%

97,87%

95%

68.86%

72.48%

94%

92%

97,87%

94%

60.36%

64.21%

92%

92%

100%

93%

93.51%

100.55%

96%

92%

95,83%

96%

93.51%

97.41%

ada
4%

ada
8%

100%
200%

ada
15%

ada

100.00%
0.00%

Proporsi Jumlah Jembatan dengan


Kondisi baik

89%

90%

101,61%

91%

91%

100.00%

10

Proporsi panjang prasarana pejalan


kaki dengan kondisi baik

75%

75%

100%

76%

76%

100.00%

11

Rasio Jaringan Irigasi dengan


Kondisi Baik

50%

55%

110%

58%

58%

100.00%

7
8

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 56

Tahun 2012

Capaian
Kinerja
Target Realisasi
2012
65%
65%
100%

Target

Realisasi

67%

67%

Capaian
Kinerja
2013
100.00%

100%

82%

84%

102.44%

92%
92%

117,95%
121,05%

92%
92%

92%
92%

100.00%
100.00%

25%

25%

100%

26%

30%

115.38%

10%

10%

100%

8%

8%

100.00%

---

---

---

100%

90%

90.00%

Tersedianya fasilitas pengurangan


sampah di perkotaan

---

---

---

70%

0%

0.00%

20

Tersedianya sistem penanganan


sampah di perkotaan.

---

---

---

80%

80%

100.00%

21

Rasio Ketersediaan Penerangan


Jalan Umum

---

---

---

75%

75%

100.00%

22

Rasio Pasar Tradisional dalam


kondisi baik

75%

90%

90%

100.00%

23
24

Terbangunnya Pasar Rejowinangun


Tersedianya Peraturan Daerah
bidang bangunan gedung (Norma,
Standar, Pedoman, dan Kriteria)
Tersedianya data bangunan dan
gedung beserta lingkungannya di
Kota Magelang yang ter-update

100%
ada

30%
ada

30%
100%

100%
ada

100%
ada

100.00%
100.00%

ada

belum
ada

0%

ada

ada

100.00%

No

Indikator Sasaran

12

Peningkatan panjang saluran


drainase utama dengan kondisi baik

13

Tersedianya air irigasi untuk


pertanian rakyat pada sistem
irigasi yang sudah ada
Panjang jalan dilalui roda 4
Jalan penghubung dari ibukota
kecamatan ke kawasan pemukiman
penduduk (minimal dilalui roda 4)
Panjang jalan yang memiliki trotoar
dan drainase/ saluran pembuangan
air (minimal 1,5 m)
Sepadan jalan yang dipakai
pedagang kaki lima atau bangunan
rumah liar
Prosentase penanganan sampah di
TPSA (pengolahan sanitary landfill)

80%

80%

78%
76%

19

14
15

16

17

18

25

Tahun 2013

a. Proporsi panjang jalan Kota Magelang dengan kondisi baik

Target 80 %, realisasi 85%


Kebutuhan jalan memiliki keterkaitan yang sangat kuat dengan pertumbuhan ekonomi
suatu wilayah maupun terhadap kondisi sosial budaya kehidupan masyarakat.
Infrastruktur jalan yang baik adalah modal sosial masyarakat dalam menjalani roda
perekonomian, sehingga pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak mungkin dicapai
tanpa ketersediaan infrastruktur jalan yang baik dan memadai.
Kebijakan pembangunan yang tidak bertumpu pada pengembangan terhadap
kompatibilitas dan optimalisasi potensi sumber daya alam, sumber daya manusia dan
sumber daya fisik (buatan) akan sulit mencapai pembangunan yang berkelanjutan. Ini
dapat dilihat dengan terjadinya banjir di jalur-jalur utama ekonomi yang disebabkan
oleh pembangunan yang kurang memperhatikan kapasitas sumber daya alam sehingga
fungsi sistem sungai dan drainase tidak memadai juga terjadinya bottle neck

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 57

(jaringan jalan yang menyempit) di berbagai jaringan transportasi yang disebabkan


oleh pembangunan yang tidak memperhatikan tata guna lahan sehingga kapasitas
sumber daya fisik (buatan) tidak lagi mampu menampung perjalanan barang dan
manusia yang dihasilkan oleh tata guna lahan.
Kinerja jaringan jalan berdasarkan kondisi dapat dikategorikan dengan jalan kondisi
baik, sedang, sedang rusak, rusak dan rusak berat.
Proporsi kondisi jalan baik di Kota Magelang yang kondisinya baik adalah 85%.
b. Tersedianya jalan yang menghubungkan pusat-pusat kegiatan dalam wilayah
kabupaten/kota
Target 85% dapat terealisasi 99,2%
Pembangunan infrastruktur tidak bisa dipisahkan dari proses pembangunan suatu
daerah. Infrastruktur yang memadai seperti jalan dan lain-lain, akan memberikan
daya tarik tersendiri bagi para investor untuk menanamkan modalnya pada daerah
yang bersangkutan. Selain itu, infrastruktur yang memadai akan menunjang
aksesibilitas potensi-potensi pembangunan yang berada pada satu daerah, membantu
terjadinya hubungan ekonomi dan sosial antara satu daerah dengan daerah lainnya.
Tersedianya jalan yang menghubungkan pusat-pusat kegiatan dalam wilayah Kota
Magelang sebesar 99,2% yang diperoleh dari jumlah kumulatif panjang ruas-ruas
jalan yang menghubungkan pusat kegiatan yang telah memenuhi kriteria kondisi jalan
dibandingkan dengan jumlah kumulatif panjang ruas-ruas jalan (untuk semua status
jalan) yang menghubungkan seluruh pusat-pusat kegiatan di dalam wilayah kota.
c. Tersedianya
perjalanan

jalan

yang

memudahkan

masyarakat

perindividu

melakukan

Target 95%, realisasi 99,2 %


Peningkatan dan pembangunan jalan juga dilaksanakan pada jalan utama ataupun
konektor. Hal ini dilakukan agar dapat memberikan pelayanan kemudahan dan
kelancaran akses transportasi dalam jalan perkotaan.
Tersedianya jalan yang memudahkan masyarakat per individu melakukan
perjalanan merupakan Indikator mobilitas jaringan jalan yang dievaluasi dari
keterhubungan antar pusat kegiatan dalam wilayah yang dilayani oleh jaringan jalan
sesuai statusnya dan banyaknya penduduk yang harus dilayani oleh jaringan jalan
tersebut. Angka mobilitas adalah rasio antara jumlah total panjang jalan yang
menghubungkan semua pusat-pusat kegiatan terhadap jumlah total penduduk yang ada
dalam wilayah yang harus dilayani jaringan jalan sesuai dengan statusnya dan
dinyatakan dalam satuan Km/(10.000 jiwa).
Pada tahun 2013 indikator ini dapat teralisasi sebesar 99,2%.
d. Tersedianya jalan yang menjamin pengguna jalan berkendara dengan selamat

Target 95 %, realisasi 99,2%.


SPM keselamatan untuk jaringan jalan adalah pemenuhan kondisi fisik ruas jalan
yang menghubungkan pusat-pusat kegiatan dalam wilayah yang dilayani oleh
jaringan jalan terhadap persyaratan teknis dan administrasi laik fungsi jalan
ruas-ruas jalan yang bersangkutan yang penetapannya diatur dalam Peraturan
Menteri nomor 11/PRT/M/2010 tentang Tatacara, Persyaratan dan Penetapan

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 58

Laik Fungsi Jalan.


Indikator ini adalah prosentase panjang ruas-ruas jalan yang memenuhi semua
kriteria keselamatan terhadap seluruh panjang jalan yang menghubungkan semua
pusat kegiatan. Secara umum jalan-jalan yang tersedia di Kota Magelang kondisinya
cukup baik sehingga dapat menjamin keselamatan bagi penggunanya dan jumlahnya
secara kualitatif sebesar 99,2%.
e. Tersedianya jalan yang menjamin kendaraan dapat berjalan dengan selamat dan
nyaman

Target 93 %, realisasi 93,51%.


Kriteria kondisi jalan adalah bahwa setiap ruas jalan harus memiliki kerataan
permukaan jalan yang memadai bagi kendaraan untuk dapat dilalui oleh kendaraan
dengan cepat, aman dan nyaman.
Nilai kondisi jalan diukur menggunakan alat ukur kerataan permukaan jalan
(roughometer) atau diukur secara visual (penilaian kondisi jalan).
Secara umum jalan-jalan yang tersedia di Kota Magelang kondisinya cukup baik
sehingga dapat menjamin kendaraan dapat berjalan dengan selamat dan nyaman
dan jumlahnya secara kualitatif sebesar 93,51%.
f. Tersedianya jalan yang menjamin perjalanan dapat dilakukan sesuai dengan
kecepatan rencana,
Target 96% , 93,51%
Indikator ini adalah prosentase panjang jalan yang memenuhi kriteria kecepatan
terhadap seluruh panjang jalan yang menghubungkan pusat-pusat kegiatan dalam
wilayah kabupaten/kota dan diukur dengan kecepatan bebas ruas jalan tersebut. Secara
umum jalan-jalan yang tersedia di Kota Magelang kondisinya cukup baik sehingga
dapat menjamin perjalanan dapat dilakukan sesuai dengan kecepatan rencana,
kecuali dibeberapa titik seperci kawasan pecinan dan jalan Tidar pada jam-jam
tertentu.
g. Data base jalan yang terupdate
Target ada realiasasi ada
Jaringan jalan memiliki peran strategis karena hampir seluruh sektor pembangunan
yang dilakukan membutuhkan sarana tersebut. Karena itu jaringan jalan memerlukan
pengelolaan yang cermat dan terpadu pada konteks perencana. Untuk menunjang
kegiatan pengelolan jaringan jalan, maka perlu database jalan yang dapat digunakan
pada proses perencanaan, implementasi, monitoring dan pengendalian. Data base harus
terus menerus di update untuk mendukung informasi dalam rangka pelaksanaan
kegiatan perencanaan dan pembangunan. Pada tahun 2013 Pemerintah Kota Magelang
telah memiliki data base jalan yang ter update.
h. Rasio kawasan khusus PKL per seluruh kawasan PKL
Pengembangan kawasan peruntukan ruang untuk kegiatan sektor informal berupa
kawasan untuk pedagang Kaki Lima (PKL) diarahkan agar tidak mengganggu kegiatan
fungsi utama, fasilitas umum dan lalu lintas suatu kawasan. Pengaturan dan

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 59

pengendalian persebaran PKL pada wilayah-wilayah tertentu sesuai dengan jenis


dagangan, waktu dagangan, bentuk tempat berdagang dan PKL yang berada di sekitar
koridor jalan utama yaitu jalan arteri sekunder dan kolektor sekunder diarahkan hanya
pada satu sisi jalan. Penataan kawasan peruntukan PKL ditata dengan konsep aglomerasi
dan estetika sehingga mendukung konsep pariwisata perkotaan.
Kawasan khusus PKL di Kota Magelang dipusatkan di 4 titik yaitu : Kuliner Twin van Java
di alun-alun, Kuliner Sejuta Bunga di Shopping Center, Puri Boga Kencana di Kebonpolo
serta Kartika Sari di Abu bakrin.
i. Proporsi jumlah jembatan dengan kondisi baik
Target 91% realisasi 91%
Jembatan juga merupakan salah satu prasarana utama sektor pehubungan yang
mempunyai peranan dalam mendukung terwujudnya sarana pembangunan terutama
dalam mendukung kegiatan pembangunan yang berkelanjutan dan berwawasan
lingkungan. Proporsi jumlah jembatan dalam kondisi baik di Kota Magelang sebesar
91%.
j. Proporsi panjang prasarana pejalan kaki dengan kondisi baik

Target 76% realisasi 76%


Pengembangan jalur pejalan kaki diantaranya dengan meningkatkan fasilitas pejalan
kaki berupa trotoar, penyebrangan zebra, zona selamat sekolah, jembatan
penyebrangan, penyebrangan pelican, dan/atau penyebrangan underpass.
Pelaksanaan pengembangan jalur pejalan kaki harus sesuai standar keselamatan
pengguna jalan, dan diarahkan di seluruh jalan arteri, kolektor dan local baik primer
maupun sekunder serta penyediaan dan peningkatan pohon peneduh/pelindung.
k. Rasio jaringan irigasi dengan kondisi baik
Target 58% realisasi 58%
Salah satu infrastruktur yang sangat diperlukan untuk peningkatan produksi
pertanian khususnya produksi beras adalah jaringan irigasi. Jaringan irigasi
diperlukan untuk pengaturan air, mulai dari penyediaan, pengambilan, pembagian,
pemberian dan penggunaannya. Secara operasional jaringan irigasi dibedakan ke
dalam tiga kategori yaitu jaringan irigasi primer, sekunder dan tersier. Rasio
jaringan irigasi dengan kondis baik terealisasi 58% di tahun 2013.
l. Peningkatan panjang saluran drainase utama dengan kondisi baik
Target 67% realisasi 67%
Pengembangan prasarana drainase bertujuan untuk mewujudkan keterpaduan sistem
drainase di seluruh wilayah daerah yang meliputi saluran drainase primer, saluran
drainase sekunder dan saluran drainase tersier. Pengembangan prasarana drainase
dilaksanakan sesuai dengan rencana induk drainase lingkungan daerah. Peningkatan
panjang saluran drainase utama dengan kondisi baik di Kota Magelang pada tahun 2013
terrealisasi 67%.
m. Tersedianya air irigasi untuk pertanian rakyat pada sistem irigasi yang sudah ada
Target 82% realisasi 84%
Indikator kinerja ini merupakan rasio ketersediaan air irigasi di petak-petak

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 60

sawah dalam jumlah, waktu dan tempat pada setiap musim tanam terhadap
kebutuhan air irigasi berdasarkan rencana tata tanam yang telah ditetapkan. Luas
areal sawah di Kota Magelang yang merupakan sawah dengan pengairan teknis seluas
211,7336 ha atau 11,68% dari luas Kota Magelang. Pada Tahun 2013 lahan pertanian
yang dapat tercover sistem irigasi kali manggis dan kali bening sebesar 84%
sedangkan sisanya belum dapat terlayani dengan sistem irigasi dan menggunakan
pengairan non irigasi.
n. Panjang jalan dilalui roda 4,
target sebesar 92% terealisasi 92%
Secara umum jalan-jalan yang ada di Kota Magelang dapat dilalui kendaraan roda
empat, hanya jalan-jalan di permukiman padat penduduk saja yang tidak dapat dilalui
oleh kendaraan roda 4. Rasio panjang jalan yang dilalui roda 4 terhadap seluruh
panjang jalan yang ada d Kota Magelang secara kualitatif sebesar 92%.
o. Jalan penghubung dari ibukota kecamatan ke kawasan pemukiman penduduk
(minimal dilalui roda 4)
Target 92%, realisasi 92%
Jalan perumahan dan lingkungan memiliki peranan yang penting dalam mempermudah
masyarakat dalam melaksanakan ativitas, sehinggga perlu dilaksanakan peningkatan
jalan di kawasan permukiman. Hal ini dilakukan sebagai upaya meningkatkan pelayanan
di bidang jalan agar pembenahan dan penataan ruang jalan di kawasan permukiman
mengalami perbaikan dan peningkatan. Jalan penghubung dari ibu kota kecamatan ke
kawasan pemukiman penduduk di Kota Magelang terealisasi sebesar 92%.
p. Panjang jalan yang memiliki trotoar dan drainase/saluran pembuangan (minimal
1,5 m)
Target 25% realisasi 30%
Trotoar berfungsi untuk memperlancar lalu lintas jalan raya agar tidak terganggu
atau terpengaruh lalu lintas pejalan kaki. Ruang di bawah trototar dapat digunakan
untuk menempatkan utilitas dan pelengkap jalan lainnya juga dapat sebagai
drainase/saluran pembuangan.
Secara umum jalan-jalan protokol yang ada di Kota Magelang telah memiliki trotoar
dan drainase/saluran pembuangan (minimal 1,5 m) hanya beberapa ruas jalan di
beberapa lokasi yang belum dilengkapi dengan sistem drainase. Rasio Panjang jalan
yang memiliki trotoar dan drainase/saluran pembuangan (minimal 1,5 m) secara
kualitatif sebesar 30%.
q. Sempadan jalan yang dipakai pedagang kaki lima atau bangunan liar
Target 8% terealisasi 8%.
Sempadan jalan yang dipakai pedagang kaki lima atau bangunan liar di Kota
Magelang pada tahun 2013 sudah mulai dilakukan penataan, sehingga tampak lebih
rapi dan tertata. Rasio Sepadan jalan yang dipakai pedagang kaki lima atau
bangunan liar secara kualitatif sebesar 8%.
r. Prosentase penanganan sampah di TPSA (pengolahan sanitary landfill)
Target 100% realisasi 100%

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 61

Sanitary landfill adalah lokasi pembuangan sampah yang didisain, dibangun,


dioperasikan dan dipelihara dengan cara yang menggunakan pengendalian teknis
terhadap potensi dampak lingkungan yang timbul dari pengembangan dan operasional
fasilitas.
Setiap sampah dikumpulkan dari sumber ke tempat pengolahan sampah perkotaan,
yang selanjutnya dipilah sesuai jenisnya, digunakan kembali, didaur ulang, dan diolah
secara optimal, sehingga pada akhirnya hanya residu yang dikirim ke Tempat
Pemrosesan Akhir.
Penanganan sampah di TPSA Banyurip masih menggunakan sistem open dumping, yaitu
teknik pengolahan sampah dimana sampah hanya diratakan, dipadatkan dan ditumpuk
menjadi beberapa sel-sel sampah sehingga memperpendek usia pakai TPSA. Prosentase
penanganan sampah di TPSA di tahun 2013 secara kualitatif tercapai sebesar
100%.
s. Tersedianya fasilitas pengurangan sampah di perkotaan
Target 70% terealisasi 70%
SPM fasilitas pengurangan sampah di perkotaan adalah volume sampah di perkotaan
yang melalui guna ulang, daur ulang, pengolahan di tempat pengolahan sampah
sebelum akhirnya masuk ke TPA terhadap volume seluruh sampah kota, dinyatakan
dalam bentuk prosentase.
Fasilitas pengurangan sampah di perkotaan sangat banyak jenisnnya diantaranya yang
sudah dimiliki oleh Kota Magelang adalah komposter yang tersebar di beberapa
kelurahan, selain itu di lokasi TPSA juga memproduksi pupuk kompos sebagai salah satu
upaya mereduksi volume sampah. Fasilitas pengurangan sampah juga dapat berupa
sistem misalnya sistem pengelolaan sampah 3R. Tersedianya fasilitas pengurangan
sampah perkotaan di Kota Magelang secara kualitatif sebesar 70% dari total
kebutuhan
t. Tersedianya sistem penanganan sampah di perkotaan
Target 80 %, realisasi 80 %
Pelayanan minimal persampahan dilakukan melalui pemilahan, pengumpulan,
pengangkutan sampah rumah tangga ke TPA secara berkala minimal 2 (dua) kali
seminggu, pengolahan dan pemrosesan akhir sampah.
Sistem penanganan sampah di perkotaan yang diterapkan di Kota Magelang secara
garis besar meliputi pemilahan, pengumpulan, pengangkutan, pengolahan dan
pemrosesan akhir sampah di TPSA. Sistem ini dinilai sudah efektif diterapkan di
Kota Magelang hanya memerlukan beberapa perbaikan terutama pada tahap
pengolahan dan pemrosesan akhir sampah di TPSA yang masih menggunakan sistem
open dumping yang sudah tidak layak lagi untuk diterapkan. Tersedianya sistem
penanganan sampah di perkotaan secara kualitatif adalah sebesar 80% karena
pada sub sistem pengolahan di TPSA masih belum sesuai standar
u. Rasio ketersediaan Penerangan Jalan Umum
Target 75% realisasi 75%
Penerangan Jalan Umum dapat diartikan sebagai lampu penerangan yang dipasang
sebesar-besarnya bagi kepentingan umum/bersama/bersifat public. PJU yang

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 62

dimaksud adalah lampu-lampu dipasang pada ruas-ruas jalan yang dianggap perlu
untuk diberikan penerangan, PJU juga dapat dipasang pada tempat umum lain
seperti taman kota. Di tahun 2013 rasio ketersediaan penerangan jalan umum
telah terealisasi 75%.
v. Rasio pasar tradisional dalam kondisi baik
Target 90 % realisasi 90 %
Jumlah pasar tradisional yang ada di Kota Magelang adalah sebanyak 4 (empat) pasar,
yaitu Pasar Rejowinangun, Pasar Gotong Royong, Pasar Kebonpolo, Pasar Cacaban
seluruhnya telah berada dalam kondisi 90 % baik.
w. Terbangunnya Pasar Rejowinangun
Target 100% realisasi 100%
Pada tahun 2012 telah dimulai dibangunnya pasar Rejowinangun, pada akhir 2013 telah
terealisasi 100% .
x. Tersedianya Peraturan Daerah bidang bangunan gedung (Norma, Standar,
Pedoman dan Kriteria)
Target ada realisasi ada
Bangunan gedung merupakan salah satu wujud fisik pemanfaatan ruang. Oleh karena
itu, pengaturan bangunan gedung tetap mengacu pada pengaturan penataan ruang
sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Untuk menjamin kepastian dan
ketertiban hukum dalam gedung harus memenuhi persyaratan administrative dan
persyaratan teknis bangunan gedung. Bangunan gedung di Kota Magelang diatur dengan
Peraturan Daerah Kota Magelang Nomor 5 Tahun 2012 tentang Bangunan Gedung.
Peraturan Daerah ini bertujuan untuk mewujudkan penyelenggaraan bangunan gedung
yang etrtib, baik secara administrative maupun secara teknis, agar terwujud bangunan
gedung yang fungsional, andal, yang menjamin keselamatan, kesehatan, kenyamanan dan
kemudahan pengguna serta serasi dan selaras dengan lingkungannya.
y. Tersedianya data bangunan dan gedung beserta lingkungannya di Kota Magelang
yang ter-update
Target 2013 ada realisasi ada
Kegiatan pendataaan bangunan dan gedung dimaksudkan untuk tertib
administrative pembangunan dan pemanfaatan bangunan gedung. Data yang
diperlukan meliputi data umum, data status/riwayat dan gambar legger bangunan
gedung. Pada tahun 2013 Pemerintah Kota Magelang telah memiliki data bangunan
dan gedung yang ter-update.
Permasalahan utama yang dihadapi dalam pencapaian sasaran ini antara lain:
1) Masih banyaknya air limbah domestik yang masuk ke saluran irigasi.
2) Masih perlunya penambahan jaringan jalan yang menghubungkan Pusat
kegiatan, terutama di sisi Barat dan Timur wilayah Kota Magelang.
3) Secara fisik kondisi ruas jalan sudah dalam kondisi mantap, tapi masih perlu
pemeliharaan rutin berkala.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 63

4) Perlu adanya normalisasi geometri jalan, dikarenakan semakin menurunnya


kecepatan di ruas jalan dibanding kecepatan rencananya.
5) Belum terpenuhinya semua kebutuhan pengelolaan jaringan irigasi dan jaringan
pengairan lainnya dalam mendukung pembangunan pertanian dan penyediaan air
baku.
6) Hampir seluruh sistem drainase perkotaan menggunakan sistem campuran.
7) Belum optimalnya kinerja prasarana dan sarana air bersih, sanitasi, dan
persampahan terutama di lingkungan masyarakat berpenghasilan rendah.
8) Masih adanya jalan dan jembatan yang rusak. Prasarana jalan dan jembatan
senantiasa membutuhkan pemeliharaan dan peningkatan.
9) Rendahnya kualitas pembangunan dan pengelolaan bangunan gedung Pemerintah
diakibatkan tidak dipatuhinya NSPM dan rendahnya sosialisasi serta
pengawasan pelaksanaan NSPM.
10) Belum berkembangnya jasa konstruksi karena kurangnya pembinaan dan
pengawasan serta belum mantapnya mekanisme sertifikasi kompetensi.

3. Terwujudnya Pengembangan Infrastruktur perumahan


Capaian indikator kinerja :
Tahun 2012
No

Indikator Sasaran

Rasio jumlah rumah


layak huni

Tersedianya Norma,
Standar, Pedoman,
dan Kriteria (NSPK)
Bidang Permukiman
(non-fisik)
Tersedianya rumah
susun sederhana
sewa (RUSUNAWA)
dan rumah susun
sederhana milik
(RUSUNAMI)
Rasio luas lingkungan
permukiman kumuh

4
5

Tersedianya air baku


untuk memenuhi
kebutuhan pokok
minimal sehari hari.
Tersedianya air
irigasi untuk
pertanian rakyat
pada sistem irigasi
yang sudah ada.
Tersedianya akses
air minum yang aman
melalui Sistem

Target

Realisasi

82%

92%

Capaian
Kinerja
2012
110,67%

Tahun 2013
Target

Realisasi

83%

83%

Capaian
Kinerja
2013
100.00%

---

---

---

ada

belum ada

0.00%

---

---

---

ada

ada

100.00%

47%

9,3%

180,21%

9.30%

9.30%

100.00%

300L/d

300L/d

100%

94.32%

94.32%

100.00%

80%

80%

100,00%

82%

84%

102.44%

81%

81%

100%

82%

89.28%

108.88%

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 64

Tahun 2012
No

10

11

Indikator Sasaran
Penyediaan Air
Minum dengan
jaringan perpipaan
dan bukan jaringan
perpipaan
terlindungi dengan
kebutuhan pokok
minimal 60
liter/orang/ hari
Cakupan
ketersediaan rumah
layak huni
Cakupan layanan
rumah layak huni
yang terjangkau
Lingkungan sehat
dan aman yang
didukung dengan
prasarana, sarana
dan utilitas umum
(PSU)
Rumah tangga
pengguna air bersih

Target

Realisasi

91,50%

92%

21%

Capaian
Kinerja
2012

Tahun 2013

Capaian
Kinerja
2013

Target

Realisasi

100,55%

91.50%

92.00%

100.55%

92%

438,10%

23%

58.72%

255.30%

86%

86%

100%

88%

89.01%

101.15%

90%

90%

100%

92%

98.97%

107.58%

12

Rumah tangga
pengguna listrik

96%

100%

104,17%

100%

---

0.00%

13

Rumah tangga
bersanitasi

86%

86%

100%

88%

96.74%

109.93%

14

Rumah tangga yang


telah memiliki rumah
tempat tinggal layak
huni
Pemberian insentif
bantuan untuk
pengembangan
perumahan sehingga
layak huni melalui
PNPM Mandiri
Perkotaan
Pemberian insentif
bantuan untuk
pengembangan
perumahan sehingga
layak huni yang
dilakukan
Pemerintah Kota
Magelang
Pendampingan KSM
penerima program
PSU melalui PNPM
Mandiri Perkotaan

55%

92%

167,27%

92%

92%

100.00%

---

---

---

70%

---

0.00%

50%

0%

0%

50%

58.72%

117.44%

---

---

---

100%

---

0.00%

15

16

17

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 65

Kesejahteraan masyarakat pada suatu wilayah dapat pula diidentifikasi dengan


tersedianya tempat tinggal yang layak huni bagi masyarakat yang berada pada
wilayah pemerintahan yang bersangkutan. Hal ini terkait pula dengan amanat
Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 dan pasal 28H Amandemen UUd 1945, dimana
dinyatakan bahwa rumah adalah salah satu hak dasar rakyat dan oleh karena itu
setiap warga negara berhak untuk bertempat tingal dan mendapat lingkungan hidup
yang baik dan sehat.
Pengembangan perumahan dengan lingkungan yang layak dan sehat juga merupakan
wadah untuk pengembangan sumber daya bangsa di masa depan. Rasio jumlah rumah
layak huni di Kota Magelang terealisasi 83%.
Cakupan ketersediaan rumah layak huni adalah cakupan pemenuhan kebutuhan rumah
yang memenuhi persyaratan keselamatan bangunan dan kecukupan minimum luas
bangunan serta kesehatan penghuninya. Indikator cakupan rumah layak huni di Kota
Magelang pada tahun 2013 sebesar 92%.
Penyediaan rumah layak huni di Kota Magelang umumnya dikembangkan oleh developer
swasta yang profit oriented sehinga tidak semua lapisan masyarakat dapat menjangkau
harga yang ditetapkan.
Pemerintah semakin mengupayakan agar pengembang
merealisasikan hunian berimbang seperti yang telah diatur dalam Undang-Undang
Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Permukiman. Upaya tersebut
disosialisasikan melalui pemberian insentif berupa keringanan pajak dan retribusi,
pemberian bantuan teknis dan fasilitas serta kemudahan dalam memperoleh izin
pembangunan rumah susun sederhana. Pada Tahun 2013 ini Rusunawa di Kota Magelang
telah selesai dibangun di daerah Potrobangsan, dan tahapan selanjutnya sedang
dipersiapkan petunjuk pelaksanaan terkait pemanfaatan dan pengelolaan Rusunawa
tersebut, agar dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat Kota
Magelang.
Pemerintah Kota Magelang sangat memperhatikan pembangunan sarana dan
prasarana permukiman terutama di lingkungan padat penduduk, kumuh dan rawan
sanitasi antara lain melalui program PNPM mandiri bidang perumahan permukiman dan
program Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) sehingga pada tahun 2013
luasan permukiman kumuh di lingkungan Kota Magelang berkurang hingga tersisa
9,3%. Salah satu kebutuhan untuk menunjang kehidupan masyarakat adalah
tersedianya sarana air bersih. Rumah tangga pengguna air bersih di Kota Magelang yang
menggunakan jasa layanan air bersih PDAM Kota Magelang sebesar 90%. Adapun rumah
tangga yang tidak berlangganan PDAM umumnya menggunakan air bersih PDAM secara
bersama-sama dengan pelanggan PDAM yang lokasi rumahnya saling berdekatan atau
memanfaatkan air tanah dengan sumur gali. Penyediaan air baku yang dikelola oleh PDAM
Kota Magelang dicukupi oleh beberapa sumber mata air baik yang ada di Kota Magelang
maupun di Kabupaten Magelang, antara lain Tuk Pecah, Kalimas I dan II, Kanoman I dan
II, Wulung dan Mata Air Kalegen dengan debit yang bervariasi.
Secara keseluruhan debit air baku yang dikelola PDAM telah dapat mencukupi
kebutuhan pokok sehari-hari masyarakat Kota Magelang yang ditargetkan 94,32% dan

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 66

tersedia 94,32% sehingga diperoleh capaian kinerja indikator ini yaitu sebesar 100%.
Tersedianya akses air minum yang aman melalui sistem Penyediaan Air Minum dengan
jaringan perpipaan dan bukan jaringan perpipaan terlindungi dengan kebutuhan pokok
minimal 60 liter/orang/hari di Kota Magelang saat ini sudah mencapai 89,28% dari total
kebutuhan.
Lingkungan sehat dan aman yang didukung dengan Prasarana, Sarana dan Utilitas Umum
(PSU) yang ada di Kota Magelang secara kualitatif adalah sebesar 89,01%, sisanya masih
tergolong kurang sehat dan aman yaitu lingkungan di sekitar pasar-pasar tradisional dan
lingkungan dengan densitas penduduk yang sangat tinggi. Untuk itu diperlukan juga adanya
peran serta masyarakat sebagai unsur pemakai PSU agar tercipta peningkatan kualitas
dan pemeliharaan rutin PSU yang lebih optimal.
Sanitasi adalah segala upaya yang dilakukan untuk menjamin terwujudnya kondisi
yang memenuhi persyaratan kesehatan. Rumah tinggal yang berakses sanitasi
sekurang-kurangnya mempunyai akses untuk memperoleh layanan sanitasi
meliputi fasilitas air bersih, pembuangan air besar/tinja, pembuangan limbah
dan sarana pembuangan sampah. Tingkat kesadaran masyarakat akan pentingnya
rumah tinggal bersanitasi dasar (mempunyai fasilitas pembuangan air besar)
sudah mulai membaik. Hal ini terlihat dari jumlah rumah di Kota Magelang yang
telah bersanitasi dasar telah mencapai 96,74%.
Dari tabel di atas nampak bahwa secara umum target indikator tahun 2013 telah
tercapai bahkan melampaui target, mekipun demikian masih terdapat beberapa
indikator yang masih perlu upaya keras, antara lain adalah ketersediaan NSPK bidang
pemukiman.
Permasalahan yang dihadapi
1) Masih adanya pemukiman kumuh dan rumah tidak layak huni di Kota Magelang.
2) Keterbatasan lahan dan semakin tingginya harga tanah di wilayah perkotaan
menjadi kendala dalam penyediaan rumah layak huni.
3) Belum optimalnya pemanfaatan lahan dengan pola pembangunan vertikal terutama
pada kawasan-kawasan permukiman yang padat.
4) Belum optimalnya upaya pemberdayaan masyarakat dalam meningkatkan kualitas
lingkungan permukimannya.
5) Belum optimalnya upaya pemeliharaan terhadap sarana permukiman yang ada guna
memperpanjang usia pakai sarana tersebut.
6) Masih perlunya peningkatan kualitas prasarana dasar permukiman perkotaan, yang
meliputi prasarana jalan lingkungan, prasarana drainase lingkungan, prasarana air
bersih lingkungan, serta prasarana sanitasi lingkungan.
7) Lemahnya konsolidasi dan koordinasi komunitas perumahan dalam pengelolaan,
pemeliharaan serta sharing pembangunan termasuk pembiayaan perumahan dan
infrastrukturnya.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 67

Solusi Pemecahan Masalah:


1) Untuk mengatasi pemukiman kumuh kegiatan pembangunan Rusunawa perlu
dilanjutkan lagi dengan sasaran di daerah padat penduduk, dengan lokasi yang
berbda.
2) Dengan selesainya pembangunan Rusunawa di Kel. Potrobangsan perlu disusun
mekanimse pengelolaan dan pemanfaatan rusunawa sebagai pedoman pelaksanaan
dan operasional, untuk menjamin kepastian dan kejelasan pelayanan.
3) Monitoring secara berkala pada fasilitas-fasilitas umum dan sanitasi lingkungan,
serta upaya menanamkan pola hidup bersih dan sehat.
4) Penguatan koordinasi lintas sektoral dalam upaya penyediaan infrastruktur
perumahan.
4. Terwujudnya Peningkatan Kualitas Lingkungan Hidup
Capaian indikator kinerja sasaran ini sebesar 112,25% (sangat baik) dengan rincian
sebagai berikut:
Tahun 2012
No

Indikator Sasaran

Rasio Ruang Terbuka


Hijau per Satuan Luas
Wilayah ber HPL/HGB
Pengembangan RTH
Publik Pusat Kota (Kaw
alon- alon )
Rasio tempat pemakaman
umum per satuan
penduduk
Sempadan sungai yang
dipakai bangunan liar

4
5

Cakupan pengawasan
terhadap pelaksanaan
AMDAL
Jumlah industri
berpotensi mencemari
udara
Tersedianya Dokumen
SLHD

Penegakan hukum
lingkungan hidup

Tersedianya sistem air


limbah setempat yang
memadai
Tersedianya sistem air
limbah skala
komunitas/kawasan/kota
Tersedianya sistem
jaringan drainase skala
kawasan dan skala kota
sehingga tidak terjadi

10

11

Target

Realisasi

---

---

Capaian
Kinerja
2012
---

Tahun 2013
Target

Realisasi

15%

15%

Capaian
Kinerja
2013
100,00%

---

---

---

80%

80%

100,00%

---

---

---

37%

37%

100,00%

---

---

---

20%

50%

250,00%

45%

100%

222,22%

55%

100%

181,82%

Tidak
ada

Tidak
ada

100,00%

Tidak
ada

Tidak ada

100,00%

ada

ada

100%

ada

ada

100.00%

100%

100%

100%

100%

Tidak ada

---

21%

92%

438,10%

20%

3.83%

19.15%

20%

100%

500%

tidak ada

tidak ada

---

---

---

tidak ada

tidak ada

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 68

Tahun 2012
No

12

13

14

15

16

17

18

20

21

Indikator Sasaran

Target

Realisasi

genangan (lebih dari 30


cm, selama 2 jam) dan
tidak lebih dari 2 kali
setahun
Prosentase jumlah usaha
75%
100%
dan/atau kegiatan yang
mentaati persyaratan
administrasi dan teknis
pencegahan pencemaran
air
Prosentase jumlah usaha
----dan/atau kegiatan
sumber yang tidak
bergerak yang memenuhi
persyaratan
administrasi dan teknis
pencegahan pencemaran
udara
Prosentase luasan lahan
60%
100%
dan/atau tanah untuk
produksi biomassa yang
telah ditetapkan dan
diinformasikan status
kerusakannya
Prosentase jumlah
100%
100%
pengaduan masyarakat
akibat adanya dugaan
pencemaran dan/ atau
perusakan lingkungan
hidup yang
ditindaklanjuti
Pencemaran status mutu
25%
45%
air lintas kabupaten/
kota Pemerintah Kota
Magelang
Cakupan penghijauan
----wilayah rawan longsor
dan sumber mata air
Cakupan kunjungan/
----patroli truk atau
gerobak pengangkutan
sampah di TPS
Pencemaran status mutu Tidak ada Tidak ada
air pada kegiatan
industri
Tersedianya NSPK
----pengolahan dan
pembuangan Air limbah
Domestik dan Industri,
serta Bahan Berbahaya
dan Beracun (non-fisik)

Capaian
Kinerja
2012

Tahun 2013

Capaian
Kinerja
2013

Target

Realisasi

133,33%

100%

100%

---

100%

tidak ada

166,67%

100%

100%

100.00%

100%

90%

tidak ada
pengaduan

---

180%

30%

31.00%

103.33%

---

85%

tidak ada

---

100%

100%

100.00%

100%

10%

23%

230.00%

---

ada

tidak ada

0.00%

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

100.00%

BAB III

- 69

Tahun 2012
Target

Realisasi

Rasio ketersediaan IPAL

25%

30%

Capaian
Kinerja
2012
120%

Jumlah penduduk
terlayani jaringan
persampahan menjadi
sebesar 128.820 jiwa
(96%), kondisi eksisting
120.849 jiwa
Tempat Pembuangan
Sampah (TPS) per
satuan penduduk
Rasio penanganan
sampah perkotaan
(pengangkutan)
Jumlah Tempat
Pengolahan Sampah
Terpadu (TPST)

---

---

---

---

---

---

---

---

---

85%

85%

100.00%

---

---

---

40.00%

No

Indikator Sasaran

22
23

24

25

26

Tahun 2013
Target

Realisasi

26%

77%

91%

Capaian
Kinerja
2013
296.15%
0.00%

0.45%

Permintaan akan pemanfaatan lahan kota yang terus tumbuh dan bersifat akseleratif
untuk pembangunan berbagai fasilitas perkotaan termasuk kemajuan teknologi,
industri dan transportasi selain sering mengubah konfigurasi alami lahan perkotaan
juga telah menambah jumlah bahan pencemar dan telah menimbulkan berbagai
ketidaknyamanan di lingkungan perkotaan. Untuk mengatasi kondisi lingkungan
seperti ini diperlukan RTH sebagai suatu teknik bioengineering dan bentukan
biofilter yang relatif lebih murah, aman, sehat dan menyamankan. Karena
keterbatasan lahan di Kota Magelang maka upaya penyediaan RTH publik
dilaksanakan dengan mengoptimalkan fungsi aset-aset pemerintah untuk dialihkan
fungsinya sebagai RTH. Pengembangan RTH publik pusat kota (kawasan alun-alun)
telah terealisasi sebesar 80%.
Dengan pertumbuhan perkotaan yang pesat, aktivitas ekonomi dan penduduk yang
berada di dalamnya akan mendegradasikan kualitas lingkungan hidupnya. Jika hal ini
tidak dikelola dengan baik, kerusakan lingkungan ini dapat menurunkan kualitas hidup
masyarakat. Untuk itu, urusan lingkungan hidup saat ini sudah merupakan isu pokok
hampir semua pemerintah kota. Pemerintah Kota Magelang telah melaksanakan
penegakan hukum-hukum dibidang lingkungan baik yang bersifat nasional, regional maupun
lokal meskipun penerapannya belum menyentuh ke seluruh ketentuan dan pasal-pasal yang
ada. Pada tahun 2013 Kantor Lingkungan Hidup Kota Magelang telah menyusun dokumen
SLHD. Penyusunan Dokumen SLHD merupakan kegiatan yang wajib dilaksanakan oleh
kabupaten/kota setiap tahun yang dibiayai dari Dana Alokasi Khusus (DAK) Kementerian
Lingkungan Hidup. Sehingga capaian kinerja indikator ini 100%.
Sesuai dengan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 19 Tahun 2004 tentang
Pedoman Pengelolaan Pengaduan Kasus Pencemaran dan atau Perusakan Lingkungan
Hidup maka Pemerintah Daerah berkewajiban menangani pengaduan kasus pencemaran
dan/atau perusakan lingkungan hidup. Untuk menilai kinerja pemerintah daerah dalam
penanganan pengaduan, maka digunakan indikator prosentase (%) jumlah pengaduan

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 70

masyarakat akibat adanya dugaan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup di


Kota Magelang yang ditindaklanjuti. Pada tahun 2013 tidak ada pengaduan masyarakat
terkait pencemaran dan/atau perusakan lingkungan.
Secara umum kualitas udara di Kota Magelang Tahun 2013 masih relatif baik dan tidak ada
industri yang berpotensi mencemari udara. Terkait dengan ketersediaan fasilitas
pengelolaan limbah Pemerintah Kota Magelang telah memiliki fasilitas berupa IPLT, IPAL
di Rumah Pemotongan Hewan, IPAL dengan sistem biogas di Tidar Dudan, serta Biopori di
beberapa lokasi.
Pada tahun 2013, tingkat kebersihan, keindahan dan kenyamanan lokasi pelayanan publik di
Kota Magelang secara umum dapat dikatakan dalam kondisi baik, hal ini ditandai dengan
diraihnya Penghargaan Adipura.
Salah satu cara untuk meningkatkan tingkat kebersihan adalah dengan menambah
fasilitas untuk pengelolaan sampah. Jumlah TPS dan Transfer Depo yang ada di Kota
Magelang sebanyak 16 (enam belas) buah. Setiap harinya seluruh TPS dan Transfer
Depo menerima pembuangan sampah yang dibawa oleh gerobak-gerobak pengangkut
sampah sesuai dengan wilayahnya masing-masing kemudian diangkut oleh dump truk
untuk dibuang ke TPA. Sampah yang ada di TPS dan Transfer Depo seluruhnya dapat
terangkut ke TPA oleh patroli truk sampah.
Terkait dengan penanganan sampah perkotaan, yang menjadi permasalahan adalah
keterbatasan lahan di Kota Magelang, sementara perkiraan umur pakai TPA eksisting di
Desa Banyuurip hanya sampai tahun 2015. Sehingga pada saat ini sedang dirintis rencana
pembangunan TPA Regional Magelang yang akan dimanfaatkan oleh Pemerintah Kota dan
Kabupaten Magelang dengan difasilitasi oleh Pemerintah Pusat dan Pemerintah Provinsi
Jawa Tengah.
Untuk mengurangi volume sampah yang dibuang ke TPA, saat ini di Kota Magelang
dikembangkan Kampung Organik dengan jumlah 17 RW (1 RW pada tiap Kelurahan).
Konsep pengembangan Kampung organik adalah dengan pengoptimalan pemanfaatan
sampah organik sebagai kompos untuk tanaman yang ada sedangkan untuk sampah non
organik diharapkan bisa di daur ulang untuk dimanfaatkan kembali menjadi barang
dengan nilai ekonomi tinggi.
Arah pengembangan penanganan sampah perkotaaan di Kota Magelang pada
masing-masing tahap difokuskan kepada:
1) Pewadahan (User Interfaces), dengan sistem terpilah, untuk kawasan
permukiman(rumah tangga) menggunakan bak sampah, sedang untuk perkotaan
(Kawasan Komersial,Pasar, Kawasan Perkantoran, Fasilitas umum, Sapuan sampah
jalan, dan Kawasan industri) menggunakan tong sampah terpilah, sedang kawasan
rumah sakit menggunakan Bin sampah B3. Pada tahap pewadahan ini, diharapkan
pada level rumah tangga sudah melakukan composting sampah untuk mengurangi
produksi sampah baik melalui komposter rumah tangga (takakura) maupun
komposter komunal. Selain itu pada tatanan produsen sampah, diharapkan proses
3R bisa berjalan.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 71

2) Pengumpulan (RT/RW), untuk proses pengambilan sampah kawasan permukiman


(rumah tangga) dengan grobak sampah/motor sampah/ mobil sampah kelurahan
yang diangkut ke TPS terdekat.
3) Tempat penampungan sementara (TPS), terdiri dari Transfer depo, TPS, dan
Kontainer.
4) Pengangkutan, dari Transfer depo/ TPS/ Kontainer ke TPA menggunakan Truck
dan Dump truck yang dalam rangka efisiensi pengankutan dapat dilakukan kompkasi
terhadap sampah yang sudah ditampung di TPS.
5) Tempat pengelolaan sampah terpadu (TPST), Optimaliasi TPST, Tempat
pemrosesan akhir (TPA), optimalisasi pengguanaan TPA Banyu Urip dan Penyiapan
pengembangan TPA Regional Magelang.
Permasalahan yang dihadapi :
1) Belum optimalnya kapasitas kelembagaan dalam mendukung pencapaian tujuan
pengelolaan lingkungan hidup. Penegakan hukum lingkungan dilakukan berdasarkan
hasil pengawasan yang dilakukan oleh PPLHD, dalam UU No 32 tahun 2009
pengawasan dilakukan oleh PPLH yg merupakan pejabat fungsional ditetapkan
melalui SK Walikota. Dalam rangka penegakan hukum maka Walikota melakukan
pelimpahan wewenang kepada Kepala KLH untuk mengeluarkan sanksi administratif.
KLH Kota Magelang belum memiliki kedua alat tersebut.
2) Belum optimalnya pelaksanaan kegiatan usaha/industri terkait dengan pengendalian
dan pemanfaatan sumber daya sehingga daya dukung. Hal ini karena kurangnya
kontrol terhadap kegiatan usaha/industri dalam pelaksanaan dan pelaporan
dokumen lingkungan sehingga menyebabkan kurangnya data primer dalam
menetapkan status mutu air pada kegiatan industri.
3) Masih kurangnya ketatalaksanaan yang tersedia sesuai dengan kebutuhan
organisasi. Hal ini sejalan dengan belum tersusunnya Perwal/Perda tentang izin
pengelolaan lingkungan hidup secara lengkap salah satunya adalah izin IPLC, yang
baru dimiliki oleh Kota Magelang baru izin TPS dan pengumpulan limbah B3. Tahun
ini KLH akan mengajukan raperda untuk menindaklanjuti UU NO 32 tahun 2009.
4) Perubahan regulasi dalam penyaluran bantuan kepada masyarakat dan pengelolaan
aset. Perubahan regulasi didasarkan Permendagri 32 tahun 2011 dan 39 tahun 2012
tentang HIBAH dan BANSOS yg bersumber dari APBD sehingga berpengaruh
dalam pembangun IPAL untuk masyarakat/UKM.
5) Belum optimalnya penanganan sampah perkotaan, dilihat dari:
Masih rendahnya pemilahan sampah rumah tangga, composting sampah dan
kegiatan 3R di masyarakat;
Pelayanan penyapuan jalan di jalan utama belum mencapai 100%;
Karakteristik beberapa tempat penampungan sampah (baik berupa transfer
depo dan TPS) yang belum mengakomodir penampungan sampah terpilah;
Belum adanya kegiatan komposting sampah di TPS;
Pengangkutan sampah yang belum terpilah (masih tercampur organic dan
anorganik);
keterbatasan lahan untuk Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Sampah.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 72

5. Terwujudnya Pengembangan Infrastruktur Kawasan Strategis


Capaian indikator kinerja :
Tahun 2012
No
1

Indikator Sasaran

Target Realisasi

Pengembangan Infrastruktur
Kawasan Strategis dan Cepat
Tumbuh sebanyak sebanyak 4
Kawasan yaitu GOR Samapta,
Sidotopo, Sentra Ekonomi
Lembah Tidar,dan Alun-alun

55%

55%

Capaian
Tahun 2013
Kinerja
Target Realisasi
2012
100,00%
60%
60%

Capaian
Kinerja
2013
100,00%

Pengembangan infrastruktur di Kota Magelang ditujukan untuk mencapai visi sebagai


kota jasa. Kota Magelang juga dirancang dalam skala kawasan yang lebih luas yang masuk
dalam kategori dalam pengembangan pusat pelayanan perekonomian, kesehatan dan
pendidikan di Kota Magelang, yang mempunyai jangkauan skala kota dan/atau regional
sesuai dengan arahan dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Kota
Magelang Tahun 2005-2025 dan juga dokumen Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW)
Kota Magelang Tahun 2011-2031. Renacana pengembangan Kawasan Strategis Kota akan
diwujudkan dalam bentuk Dokumen Tata Ruang Rinci Kawasan prioritas/Strategis
dengan skala petanya 1:1000. Dokumen perencanaan ini merupakan tindak lanjut dari
dokumen RDTRK
Kawasan strategis dan cepat tumbuh di Kota Magelang sebanyak 4 kawasan yaitu GOR
Samapta, Sidotopo, Sentra Ekonomi Lembah Tidar dan Alun-alun. Target
pengembangan di tahun 2013 sebesar 60% dan realisasi pencapaian target mencapai
100%

6. Terwujudnya Peningkatan Kualitas Infrastruktur Transportasi Angkutan Darat


Capaian indikator kinerja :
Tahun 2012
No

Indikator Sasaran

Ketersediaan/jumlah sarana
prasarana lalu lintas jalan
raya (APPIL
Tersedianya Sarana dan
Prasarana serta fasilitas
Terminal tipe A dg kondisi
yg baik di Kota Magelang
Prasarana angkutan darat
berupa terminal angkutan
barang dengan kondisi baik
Jumlah Sub terminal
(TERMINAL Type c) yang
tertata
Rasio prasarana parkir
dengan kondisi baik

Target

Realisasi

75%

75%

Capaian
Kinerja
2012
100%

Tahun 2013
Target

Realisasi

75%

75%

Capaian
Kinerja
2013
100%

75%

75%

100%

75%

75%

100%

70%

70%

100%

70%

70%

100%

60%

50%

83,33%

65%

65%

100%

80%

80%

100%

85%

85%

100%

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 73

Tahun 2012
No

Indikator Sasaran

6
7

Target

Realisasi

Tingkat pelayanan parkir di


tepi jalan umum

75%

75%

Jumlah uji KIR angkutan


umum dan angkutan barang
di Kota Magelang
Rasio kepemilikan KIR
angkutan umum

2.218
KBWU

9.138
KBWU

100%

Capaian
Kinerja
2012
100%

Tahun 2013

Capaian
Kinerja
2013
100%

Target

Realisasi

80%

80%

411,99%

9.138
KBWU

10.721
KBWU

117%

90%

90%

10%

3,20%

32%

Lama pengujian kelayakan


angkutan umum (KIR)

---

---

---

30 menit

15 menit

200%

10

Biaya pengujian kelayakan


angkutan umum

sesuai
perda

sesuai
perda

100%

sesuai
perda

sesuai
perda

100%

11

Jumlah tempat-tempat
pemberhentian Angkutan
Umum (Halte/Sub terminal
yang ada di Kota Magelang)
Rasio ijin trayek
Jumlah arus penumpang
angkutan umum

10 buah

9 buah

90%

13 buah

9 buah

69%

0,82%
---

1,06%
---

---

14

Jumlah orang/barang yang


terangkut angkutan umum

---

---

15

Jumlah orang/barang yang


melalui terminal per tahun

---

16
17

Pemasangan rambu-rambu
Tersedianya angkutan umum
yang melayani wilayah yang
telah tersedia jaringan jalan
untuk jaringan jalan
Kabupaten/Kota
Tersedianya angkutan umum
yang melayani jaringan
trayek yang menghubungkan
daerah tertinggal dan
terpencil dengan wilayah
yang telah berkembang pada
wilayah yang telah tersedia
jaringan jalan
Kabupaten/Kota
Tersedianya halte pada
setiap Kabupaten/Kota yang
telah dilayani angkutan
umum dalam trayek
Tersedianya terminal
angkutan penumpang pada
setiap Kabupaten/Kota yang
telah dilayani angkutan
umum dalam trayek
Tersedianya fasilitas
perlengkapan jalan
(rambu,marka dan guardrill)

12
13

18

19

20

21

82%
26%
1.099.488 2.987.572
orang
orang

31%
271%

---

1.099.488 2.987.572
orang
orang

271%

---

---

1.099.488 2.987.572
orang
orang

271%

-----

-----

-----

75%
90%

75%
90%

100%
100%

---

---

---

90%

90%

100%

---

---

---

80%

80%

100%

---

---

---

60%

60%

100%

---

---

---

80%

80%

100%

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 74

Tahun 2012
No

22

23

24

25

26

27

Indikator Sasaran
dan penerangan jalan umum
(PJU) pada jalan
Kabupaten/Kota
Tersedianya unit pengujian
kendaraan bermotor bagi
Kabupaten/Kota yang
memiliki populasi kendaraan
wajib uji minimal 4000
(empat ribu) kendaraan
wajib uji
Tersedianya Sumber Daya
Manusia (SDM) di bidang
terminal pada
Kabupaten/Kota yang telah
memiliki terminal
Tersedianya Sumber Daya
Manusia (SDM) di bidang
pengujian kendaraan
bermotor pada
Kabupaten/Kota yang telah
melakukan pengujian berkala
kendaraan bermotor
Tersedianya Sumber Daya
Manusia (SDM) di bidang
MRLL, Evaluasi Andalalin,
Pengelolaan Parkir pada
Kabupatern/Kota
Tersediany Sumber Daya
Manusia (SDM) yang
memiliki kompetensi sebagai
pengawas kelaikan
kendaraan pada setiap
perusahaan angkutan umum
Terpenuhinya standar
keselamatan bagi angkutan
umum yang melayani trayek
di dalam Kabupaten/Kota

Target

Realisasi

---

---

---

Capaian
Kinerja
2012

Tahun 2013

Capaian
Kinerja
2013

Target

Realisasi

---

90%

90%

100%

---

---

70%

70%

100%

---

---

---

30%

30%

100%

---

---

---

40%

45%

113%

---

---

---

90%

45%

50%

---

---

---

100%

100%

100%

a. Jumlah uji KIR angkutan umum dan angkutan barang di Kota Magelang
Pada tahun 2013 terjadi kenaikan jumlah Kendaraan Bermotor Wajib Uji (KBWU)
yang melakukan uji KIR di Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika Kota
Magelang. Hal ini disebabkan kendaraan yang melakukan uji KIR tidak hanya
berasal dari Kota Magelang saja melainkan justru lebih banyak kendaraan dari
daerah lain yang melakukan uji KIR bantu di Kota Magelang.
b. Rasio kepemilikan KIR angkutan umum
Jumlah angkutan umum yang wajib Uji KIR (KBWU) yang ada di Kota Magelang
sampai dengan tahun 2013 ditargetkan sebesar 10 % dari jumlah keseluruhan,
namun hingga akhir tahun 2013 hanya terealisasi sebesar 3,2 % .
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 75

Hal ini merupakan permasalahan sehingga pada tahun-tahun mendatang


Pemerintah Kota Magelang akan terus berupaya untuk meningkatkan rasio
kepemilikan KIR angkutan umum di Kota Magelang. Hal ini sangat penting untuk
mengurangi resiko terburuk yaitu terjadinya kecelakaan lalu lintas akibat
kendaraan umum yang tidak laik jalan.
c. Lama pengujian kelayakan angkutan umum (KIR)
Dengan proses yang lebih cepat, diharapkan pemilik kendaraan angkutan umum
tidak enggan untuk melakukan uji KIR kendaraannya.
d. Jumlah tempat-tempat pemberhentian angkutan umum (Halte/Sub Terminal yang
ada di Kota Magelang)
Tempat pemberhentian angkutan umum/halte yang ada di Kota Magelang saat ini
berjumlah 9 (sembilan) buah yang tersebar di beberapa jalan utama yang dilalui
kendaraan umum baik angkutan dalam kota maupun bus AKDP. Pada tahun 2013,
Pemerintah Kota Magelang berencana menambah beberapa buah halte dan
melakukan pembenahan halte yang sudah ada. Namun halte yang ada saat ini dinilai
sudah mencukupi kebutuhan masyarakat Kota Magelang. Halte-halte yang ada di
Kota Magelang saat i ni telah dilengkapi dengan tempat duduk yang representatif,
lampu, juga bisa melindungi dari terpaan angin kencang, panas dan hujan dan bebas
dari areal pedagang kaki lima sehingga memberi kesan indah dan yang lebih penting
lagi memberi rasa aman.
e. Rasio ijin trayek
Beberapa permohonan ijin trayek belum dapat dipenuhi umumnya karena
kurangnya persyaratan dan kondisi kendaraan yang tidak layak jalan karena rusak
f. Jumlah arus penumpang angkutan umum / Jumlah orang/barang yang melalui
terminal
Jumlah arus penumpang angkutan selama tahun 2013 menurut catatan UPTD
Terminal Tidar Magelang sebesar 2.987.572 orang dan seluruhnya dapat
terangkut dengan armada angkutan umum yang ada di terminal.
g. Tersedianya Sumber Daya Manusia (SDM) di bidang MRLL, Evaluasi Andalalin,
Pengelolaan Parkir pada Kabupatern/Kota
Tersedianya SDM di bidang MRLL, Evaluasi Andalin dan pengelolaan parkir di Kota
Magelang secara kualitatif telah mencukupi.
h. Tersedianya Sumber Daya Manusia (SDM) yang memiliki kompetensi sebagai
pengawas kelaikan kendaraan pada setiap perusahaan angkutan umum
Sumber Daya Manusia (SDM) di bidang pengujian kendaraan bermotor dan SDM
yang memiliki kompetensi sebagai pengawas kelaikan kendaraan pada setiap
perusahaan angkutan umum sangat terbatas dan belum mencukupi, sedangkan
sesuai dengan Peraturan menteri Perhubungan Nomor PM.81 Tahun 2011 bahwa
batas waktu pencapaian indicator ini di tahun 2014 adalah 100%.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 76

Agar terjaminnya pelayanan yang berkualitas, setiap tenaga penguji harus


mempunyai atau memiliki kualifikasi teknis tertentu berdasarkan tingkat keahlian,
wewenang dan tanggung jawab secara berjenjang dengan diberikan sertifikat oleh
Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan. Terbatasnya
SDM yang memiliki sertifikat ini perlu ditingkatkan melalui pengiriman pegawai
untuk mengikuti diklat agar meningkatkan tersedianya SDM yang memenuhi syarat
dan berkompeten sebagai penguji dan pengawas kelaikan kendaraan.
Untuk mencapai sasaran tersebut dilaksanakan melalui 5 (lima) program utama yaitu :
1.

Program Pembangunan Prasarana dan Fasilitas Perhubungan

2.

Program Rehabilitasi dan Pemeliharaan Prasarana dan Fasilitas LLAJ

3.

Program Peningkatan Pelayanan Angkutan.

4.

Program Peningkatan dan Pengamanan Lalu Lintas

5.

Program Peningkatan kelaikan pengoperasian kendaraan bermotor

Capaian kinerja program rata-rata sebesar 100%; didukung dana sebesar


Rp 3.920.483.000,00 sehingga sangat signifikan terhadap keberhasilan pencapaian
kinerja sasaran.
Faktor-faktor yang turut mempengaruhi keberhasilan pencapaian sasaran
Peningkatan Kualitas Infrastruktur Transportasi Angkutan Darat sebagai berikut :

Kerjasama antara stakeholders yang terkait dengan Infrastruktur Transportasi


Angkutan Darat

Dukungan dari masyarakat untuk ikut menjaga Infrastruktur Transportasi


Angkutan Darat

Hambatan/masalah:

Kesadaran para pemilik anggkutan umum wajib KIR yang masih rendah untuk
secara berkala menguji kendaraannya

Kesadaran para pemilik angkutan barang yang masih rendah utuk tidak membawa
muatan sesuai dengan tonase kendaraannya sehingga tidak merusak
Infrastruktur Transportasi Angkutan Darat

Kesadaran masyarakat yang masih rendah dalam memelihara Infrastruktur


Transportasi Angkutan Darat masih rendah sehingga masih sering dijumpai
rambu-rambu lalu lintas yang rusak/dicoret-coret bahkan hilang

Strategi/ upaya pemecahan masalah :


Menumbuhkan kesadaran masyarakat dan menegakkan peraturan perundang-undangan
yang berlaku secara tegas

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 77

7. Terwujudnya prasarana komunikasi dan informasi masyarakat yang berkelanjutan


Capain indikator kinerja :
Tahun 2012

No

Indikator Sasaran

Capaian
Kinerja
Target Realisasi
2012
8 buah 8 buah
100%

Tahun 2013
Target

Realisasi

8 buah

8 buah

Capaian
Kinerja
2013
100%

Jumlah jaringan komunikasi


operator dengan kondisi baik

Jumlah sarana penyedia informasi


melalui media informasi

12 buah

11 buah

91,67%

12 buah

12 buah

100%

Jumlah Kelompok Informasi


Masyarakat (KIM)

10 buah

9 buah

91,67%

12 kelom 13 kelom
pok
pok

108%

Rasio wartel/warnet terhadap


penduduk

0,09%

0,07%

73,86%

0,065%

0,065%

100%

Tersedianya / Jumlah Hot Spot


2 titik
pada ruang terbuka publik di Kota
Magelang
Website milik pemerintah daerah 10 buah
Pameran/ expo
--Pelaksanaan diseminasi dan
7
pendistribusian informasi nasional
melalui: media massa, website,
tradisional, interpersonal, luar
ruang.
Cakupan pengembangan dan
7%
pemberdayaan Kelompok Informasi 10 KIM
Masyarakat di Tingkat Kecamatan

4 titik

150%

3 titik

6 titik

200%

6 buah
--10

60%
--142,86%

10 buah
22 kali
12 kali
13 unit

11 buah
26 kali
12 kali
13 unit

110%
118,18%
100%

10%
10 KIM

142,86%
100%

58%
13 KIM

58%
13 KIM

100%
100%

6
7
8

a. Jumlah Jaringan Komunikasi dan Informasi Masyarakat yang berkelanjutan


Target kinerja yang ditetapkan dapat terealisasi 100%. Kondisi jaringan
komunikasi operator tersebut juga dalam kondisi baik.
b. Jumlah Sarana Penyedia Informasi melalui Media Informasi
Target kinerja tercapai. Sarana penyedia informasi melalui media informasi dapat
berupa media cetak. Terdapat 12 (dua belas) jenis media cetak harian baik lokal
maupun nasional yang turut menyertai pembangunan di Kota Magelang.
Pemerintah Kota Magelang memiliki stasiun radio Magelang FM dan beberapa
satasiun radio swasta sebagai wahana bagi masyarakat Kota Magelang untuk
berperan serta dalam pembangunan daerah dengan cara memberikan aspirasi dan
komunikasi melalui udara dalam menunjang keberhasilan pembangunan.
c. Jumlah Kelompok Informasi Masyarakat (KIM)
Dalam rangka

memperlancar penyampaian

informasi dari

masyarakat ke

Pemerintah dan sebaliknya dari Pemerintah ke masyarakat, diperlukan Kelompok


Informasi Masyarakat (KIM) yang diharapkan mampu berperan dalam peningkatan
akses informasi tersebut pada masyarakat dan pemerintah. KIM adalah suatu
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 78

lembaga layanan publik yang dibentuk dan dikelola dari, oleh dan untuk masyarakat
yang secara khusus berorientasi pada layanan informasi dan pemberdayaan
masyarakat sesuai kebutuhannya. Untuk Kota Magelang pada tahun 2013 telah
terbentuk 13 (tiga belas) Kelompok Informasi Masyarakat yang tersebar di
beberapa kelurahan.
d. Rasio Wartel/Warnet terhadap penduduk
Keberadaan wartel pada saat ini

mulai tergeser dengan keberadaan telepon

seluler. Telepon seluler bukan lagi menjadi barang mewah tetapi sudah menjadi
kebutuhan setiap orang untuk berkomunikasi. Dengan segala keunggulan dan
dukungan infrastruktur jaringan operator seluler yang ada, membawa dampak
kemudahan akses komunikasi dan informasi. Telepon seluler pada perkembannya
saat ini tidak sebatas sebagai alat penyampai pesan (SMS) maupun komunikasi
verbal saja, tetapi sudah berkembang menjadi alat untuk komunikasi data/akses
internet. Sehingga dari tahun ke tahun jumlah wartel dan warnet semakin
berkurang.
e. Tersedianya/Jumlah hot spot pada ruang terbuka publik di Kota Magelang
Tersedianya fasilitas hotspot gratis pada ruang terbuka publik adalah merupakan
bentuk pelayanan kepada masyarakat Kota Magelang dalam memberikan kemudahan
untuk mengakses internet. Fasilitas ini sangat bermanfaat bagi warga masyarakat
Kota Magelang karena dapat mengakses internet tanpa harus membayar. Fasilitas ini
sengaja dipasang di area alun-alun untuk memperkuat fungsi ruang terbuka hijau
(RTH) Alun-alun sebagai ruang untuk interaksi publik. Saat ini Pemerintah Kota
Magelang menyediakan fasilitas hotspot di 6 (enam) titik diantaranya di alun-alun,
Komplek Kantor Walikota Magelang, Dishubkominfo dan LPSE Kota Magelang.
f. Website milik pemerintah daerah
Sampai dengan Tahun 2013 ini website atau situs resmi Pemerintah Daerah yang
bisa diakses antara lain:
1)
2)
3)
4)
5)
6)
7)
8)
9)
10)
11)

www.magelangkota.go.id,
jdih.magelangkota.go.id,
bappeda.magelangkota.go.id,
bp2t.magelangkota.go.id,
kotasejutabunga.magelangkota.go.id,
kpm.magelangkota.go.id,
litbang.magelangkota.go.id,
disnakertransos.magelangkota.go.id,
pertanian.magelangkota.go.id,
dprd.magelangkota.go.id,
diknas.magelangkota.go.id,

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 79

g. Pelaksanaan diseminasi dan pendistribusian informasi nasional melalui: media


massa, website, tradisional, interpersonal, dan luar ruang
Pelaksanaan diseminasi dan pendistribusian informasi nasional di Kota Magelang
dilakukan melalui media interpersonal dalam bentuk ceramah antara lain melalui forum
BAKOHUMAS.
h. Cakupan pengembangan dan pemberdayaan Kelompok Informasi Masyarakat di
Tingkat Kecamatan
Pada tahun 2013, dari 13 (tigabelas) KIM yang ada di Kota Magelang seluruhnya
dapat difasilitasi, dikembangkan dan diberdayakan oleh Pemerintah Kota Magelang
untuk mempermudah masyarakat dalam mengakses informasi. Bentuk kegiatan
pemberdayaan yang dilakukan antara lain : pelatihan dan pendidikan SDM,
mengembangkan jaringan antar KIM, mendistribusikan bahan informasi untuk KIM
serta mengikutsertakan KIM dalam kegiatan pemerintah.
8. Tercapainya peningkatan daya saing dan daya jual destinasi pariwisata guna
meningkatkan pelayanan yang lebih baik kepada wisatawan
a. Program, kegiatan dan anggaran pendukung pencapaian sasaran
Program/kegiatan
Program Pengembangan Pemasaran Pariwisata
1. Peningkatan Pemanfaatan Teknologi Informasi dalam
Pemasaran Pariwisata
2. Pengembangan Jaringan Kerja Sama Promosi
Pariwisata ( Iuran Java Promo )
3. Pelaks Promosi pariwisata Nusantara di dalam dan
Luar Negeri (4 Event)
4. Pengembangan statistik kepariwisataan
5. Pengembangan SDM untuk Pemasaran Pariwisata
( Duta Wisata )
Program Pengembangan Destinasi Pariwisata
1. Peningkatan Pembangunan Sarana dan Prasaran
Pariwisata ( Pemeliharaan anjungan magelang )
2. Pengembangan Jenis dan Paket Wisata Unggulan /
One day tour
Program Pengembangan Kemitraan
1. Pengembangan sumber daya manusia dan
profesionalisme bidang pariwisata
2. Peningkatan Peran Serta Masyarakat dalam
Pengembangan Kemitraan Pariwisata
3. Monitoring , Evaluasi dan pelaporan

Anggaran
Belanja
541.282.000

Realisasi
Belanja
531.359.500

Prosen
-tase
98,17%

50.000.000

49.908.000

99,82%

50.000.000

50.000.000

100%

312.952.000

305.230.000

97,53%

20.000.000

19.891.500

99,46%

108.330.000

106.330.000

98,15%

18.807.000

18.807.000

100%

3.807.000

3.807.000

100%

15.000.000
50.802.000

15.000.000
49.667.900

100%
97,77%

26.802.000

26.302.000

98,13%

15.000.000
9.000.000

14.400.000
8.965.900

96,00%
99,62%

599.834.400

98,64%

610.891.000

Sumber : Disporabudpar
Total anggaran yang disediakan untuk mencapai sasaran ini:
Tahun 2013 = Rp 610.891.000,00 dengan penyerapan 98,82%

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 80

b. Capaian kinerja sasaran


Tahun 2012
Target

Realisasi

Peningkatan kualitas produk


dan jasa pariwisata

10%

9%

Capaian
Kinerja
2012
90%

Peningkatan kualitas dan


kuantitas sarana dan
prasarana obyek dan daya
tarik wisata
Peningkatan kualitas SDM
pengelola obyek wisata

15%

15%

100%

15%

15%

100%

10%

10%

100%

10%

10%

100%

1.094.676

971.163

88,72%

1.094.761

845.182

77%

85

453

532,94%

453

4.469

987%

3-4 hari

3-4 hari

100%

3-4 hari

2-3 hari

71%

3-5 hari

3-5hari

100%

3-5 hari

3-4 hari

88%

8.000.
000.000

9.230.
059.708

115,38%

8.000.
000.000

12.543.
406.690

157%

7.9%

7.9%

100%

7,9

3,31

42%

8 juta
850 ribu

8 juta
850 ribu

100%
100%

8
850

6
850

75%
100%

No

Indikator Sasaran

1
2

3
4

Jumlah Kunjungan wisata


- jumlah kunjungan
wisatawan nusantara
- jumlah kunjungan
wisatawan mancanegara

Tingkat hunian hotel dengan:


- Rata-rata lama tinggal
(mancanegara)
- Rata-rata lama tinggal
(nusantara)
Jumlah pendapatan tiap
obyek wisata per tahun

Kontribusi sektor pariwisata


terhadap PDRB

Rata-rata pengeluaran
wisatawan
- mancanegara
- nusantara

Tahun 2013
Target

Realisasi

10%

10%

Capaian
Kinerja
2013
100%

Capaian kinerja :
Tahun 2013 = 172,40% (sangat baik)
Tahun 2012 = 138,82% (sangat baik)
Tahun 2011 = 47,04% (kurang)
Jumlah kunjungan wisata tidak mencapai target. Jumlahnya juga menurun jika
dibandingkan dengan tahun 2012 yang mampu menarik 971.163 wisatawan untuk
berkunjung. Rata-rata lama tinggalnya juga menurun. Namun jumlah pendapatan dari
obyek wisata ternyata naik yang mungkin disebabkan karena kenaikan harga.
Angka kunjungan wisata tersebut diperoleh dari data kunjungan wisatawan ke hotel,
Musium dan Taman Kyai Langgeng,
Kontribusi sektor pariwisata terhadap PDRB menurun hingga 3,31%, berbalik dengan
kenaikan pada sektor perdagangan, kemungkinan besar terjadi pergeseran minat
wisatawan yang beralih pada bentuk wisata kuliner yang tengah berkembang pesat.
Promosi dan informasi pariwisata baik ke dalam dan luar negeri telah dilakukan
dengan memanfaatkan teknologi informasi seperti internet atau website, melalui
media leaflet, booklet, serta melalui expo atau pameran-pameran baik yang berskala
provinsi maupun nasional. Gebyar pameran/expo tingkat nasional yang diikuti adalah:

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 81

Gebyar Wisata Nusantara di Jakarta;


Borobudur International Festival di Kabupaten Magelang;
Festival Kuliner di Jakarta.

c. Permasalahan yang dihadapi


- Persaingan destinasi pariwisata dengan daerah sekitar.
- Jumlah obyek wisata sangat minim.
- Minat wisatawan terhadap obyek wisata sejarah dan wisata religi makin menurun.
- Sulitnya menginventarisir wisatawan minat baru seperti wisata kuliner, wisata
taman kota, wisata efent/pertunjukan, wisata belanja dan lain-lain.
- Kapasitas sumberdaya dalam rangka mendukung Program Ayo Ke Magelang 2015
masih sangat terbatas.
d. Evaluasi dan rekomendasi
- Promosi dan upaya-upaya yang telah dilakukan ternyata belum mampu menaikkan
kunjungan wisatawan. Perlu dilakukan kajian mendalam, dengan mengambil
referensi dari daerah yang lebih maju dan jajak pendapat (brainstorming) dengan
berbagai pihak.
- Wisata kuliner, wisata taman kota, wisata efent/pertunjukan dan bentuk
wisata-wisata baru lainnya yang makin berkembang, perlu diimbangi dengan
inventarisasi atas jumlah wisatawan dan penerimaan devisanya. Formula untuk ini
perlu dirancang.
- Daya saing dan daya jual destinasi pariwisata harus terus ditingkatkan melalui
pengembangan diversifikasi, kreasi dan inovasi, peningkatan kualitas produk dan
jasa pariwisata, peningkatan sarana dan prasarana pariwisata, serta peningkatan
kualitas SDM pariwisata.
- Kemitraan antara Pemerintah Daerah dengan berbagai pihak baik itu para pelaku
pariwisata, dunia usaha, akademik maupun dengan berbagai komponen masyarakat
kreatif.
- Program Ayo ke Magelang 2015 harus didukung dengan ketersediaan SDM, sarana
prasarana, infrastruktur, moment-moment penunjang dan dengan anggaran yang
memadai.
- Pasal 15 PP 96/2012 tentang Pelaksanaan UU 25 Th.2009 mengamanatkan bahwa
pelayanan perizinan terkait berusaha (investasi) agar dilaksanakan dalam sistem
pelayanan terpadu satu pintu.
Pelimpahan wewenang untuk perizinan/non perizinan bidang kepariwisataan belum
diberikan oleh Walikota kepada BP2T maupun Disporabudpar.
Selama ini Disporabudpar mengeluarkan rekomendasi perizinan/non perizinan di
bidang kepariwisataan (sesuai Standar Pelayanan di Disporabudpar) untuk
selanjutnya perizinan/non perizinan kepariwisataan dikeluarkan Provinsi.
Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif no. 85 s/d 97 th.2010
memberikan kewenangan kepada Bupati/Walikota untuk penyelenggaraan
pendaftaran usaha pariwisata.
Segala kebijakan pengelolaan yang menyangkut publik harus dipayungi dengan
dasar hukum berbentuk Perda, sehingga di tahun 2014 akan disusun Perda tentang

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 82

Kepariwisataan yang isinya juga mengatur tentang perizinan usaha di bidang


kepariwisataan.
9. Terdatanya lembaga/kelompok seni dan budaya.
a. Program, kegiatan dan anggaran pendukung pencapaian sasaran
Pendataan atas kelompok seni tidak dianggarkan setiap tahun, namun mekanisme
pelaporan/perizinan atas terbentuknya kelompok seni baru selama ini telah
tersosialisasikan.
b. Capaian Indikator Kinerja
Tahun 2012

No

Indikator Sasaran

Jumlah kelompok seni dan budaya


yang ada di seluruh Kota Magelang

Capaian
Tahun 2013
Capaian
Kinerja
Kinerja
Target Realisasi
Target Realisasi
2012
2013
161
162
100,62%
163
163
100%

Terdapat penambahan 1 kelompok seni budaya dari tahun lalu yang berjumlah 162
kelompok.
Berbagai kelompok seni dan budaya ini tersebar di seluruh wilayah kelurahan,
sekolah-sekolah, perguruan tinggi dan di instansi pemerintah maupun swasta.
Kelompok seni dan budaya tersebut meliputi kesenian jatilan, kunthulan, topeng
ireng, ndhayakan drum band, kubro siswo, kethoprak, reog, lawak, karawitan,
keroncong, rebana/ kasidah, orkes melayu/dangdut, campursari, sanggar tari,
sanggar seni lukis/rupa/pahat, wayang kulit, seni dekorasi, teater, band dan lain-lain.
c. Permasalahan yang dihadapi
- Aktivitas kelompok seni budaya belum terinventarisir dengan baik, dimungkinkan
ada beberapa kelompok yang sudah tidak beraktivitas lagi, karena terjadinya
pasang surut minat masyarakat terhadap suatu kesenian yang diikutinya.
d. Evaluasi dan rekomendasi
- Inventarisasi sebaiknya dilakukan secara periodik setiap tahun.
Mekanisme pelaporan harus diupayakan secara tertib dilakukan oleh semua kelompok
seni budaya kepada pemerintah.
10. Terwujudnya pembinaan lembaga/ kelompok seni dan budaya.
a. Program, kegiatan dan anggaran pendukung pencapaian sasaran
Anggaran
Belanja

Realisasi
Belanja

Prosentase

Program pengembangan Nilai Budaya

614.640.000

562.320.000

91,49%

1.
2.

282.750.000

239.130.000

84,57%

331.890.000

323.190.000

97,38%

Program/kegiatan

Pelestarian dan aktualisasi adat budaya daerah


Pemberian dukungan, penghargaan dan kerjasama
bidang budaya

337.750.000

316.380.000

93,67%

1.

Program Pengelolaan Keragaman Budaya


Pengembangan Kesenian dan Kebudayaan daerah

63.400.000

60.700.000

95,74%

2.

Fasilitasi perkembangan keragaman budaya daerah

22.050.000

16.075.000

72,90%

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 83

Anggaran
Belanja

Program/kegiatan
3.

Fasilitasi penyelenggaraan festival budaya daerah

4.

Pekan seni dan budaya daerah

Realisasi
Belanja

Prosentase

37.800.000

28.305.000

74,88%

214.500.000
952.390.000

211.300.000
878.700.000

98,51%
92,58%

Sumber : Disporabudpar
Total anggaran yang disediakan untuk mencapai sasaran ini :
Tahun 2013 = Rp 952.390.000,00 dengan penyerapan 92,58%
b. Capaian Indikator Kinerja
Tahun 2012

No

Indikator Sasaran

1
2
3

Jumlah festival seni dan budaya.


Jumlah gedung kesenian
Sarana penyelenggaraan seni dan
budaya
Cakupan kajian seni 50%
Cakupan fasilitas seni 30%
Cakupan gelar seni 75%

4
5
6
7
8
9
10
11
12

Misi kesenian 100%


Cakupan sumber daya manusia
kesenian 25%
Cakupan tempat 100%
Cakupan organisasi 34%
Rasio kelompok seni budaya yang
dibina
Frekuensi temu pelaku seni dan
budaya

Capaian
Kinerja
Target Realisasi
2012
3
3
100%
1
1
100%
5
5
100%

Tahun 2013
Target

Realisasi

4
1
5

5
1
5

Capaian
Kinerja
2013
125%
100%
100%

-------

-------

-------

30%
25%
65%

25%
20%
50%

83%
80%
77%

-----

-----

-----

84%
20%

84%
18%

100%
90%

----22%

----20%

----90,91%

50%
32%
22%

0%
32%
22%

0%
100%
100%

100%

100%

Capaian kinerja :
Tahun 2013 = 87,94%
Tahun 2012 = 98,18%
Tahun 2011 = 106,07%
Festival seni budaya yang dilaksanakan/diikuti terdiri dari :
- Pentas Seni di Hari Jadi Kota Magelang;
- Parade Seni tingkat Provinsi di Semarang;
- Parade Seni di Hari Jadi Semarang;
- Festival Seni Tradisi di Hari Jadi Kabupaten Klaten;
- Pentas Duta Seni di Jakarta.
Untuk Pentas Seni Tradisional dalam rangka Hari Jadi Kota Magelang dilaksanakan di
beberapa titik yakni : di lapangan Depkes, lapangan Karang Gading, dan lapangan
Kwarasan.
c. Permasalahan yang dihadapi
- Minat masyarakat terhadap suatu kesenian mengalami pasang surut.
- Sebagian besar proposal permahonan bantuan hibah peralatan kesenian dari
masyarakat baik yang bersumber dari APBD Kota maupun APBD Provinsi dapat

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 84

terealisasi, namun terdapat beberapa penerima bantuan yang belum


menyampaikan pertanggungjawaban sesuai ketentuan (terlambat).
- Program Ayo ke Magelang 2015 mengindikasikan bahwa efent-efent yang bersifat
mengundang wisatawan akan makin banyak. Esensinya dari sisi aparatur adalah
banyak kewajiban administratif maupun aktivitas kegiatan yang harus
dilaksanakan/diselesaikan. Kuantitas dan kualitas personel di bidang kebudayaan
yang ada saat ini dirasakan belum memadai.
d. Evaluasi dan rekomendasi
- Sasana Bumi Kyai Sepanjang sebagai gedung kesenian yang dimiliki Pemerintah
Kota Magelang saat ini masih dalam perbaikan. Apabila sudah selesai harus segera
ditindaklanjuti dengan penyerahan/kejelasan SKPD pengelolanya, agar dapat
dimanfaatkan dan dikelola dengan baik. Selama masa perbaikan itu pementasan
kesenian dilaksanakan di beberapa tempat seperti Gedung Wiwiro Widji Pinilih,
Kompleks Eks Karesidenan Kedu, Gedung Wanita, Gedung Kyai Sepanjang,
Alun-Alun Kota Magelang, Taman Kyai Langgeng, Gedung Tri Bhakti dan lain-lain.
- Untuk terselenggaranya efent-efent penunjang Ayo ke Magelang 2015 dengan
baik dibutuhkan kapasitas personel aparatur, sarana prasarana dan anggaran yang
memadai. Komitmen semua pihak dari pucuk pimpinan hingga masyarakat tanpa
terkecuali untuk mensukseskan program ini hendaknya ditingkatkan lagi.
- Dewan Kesenian Kota Magelang (DKKM) selama ini belum mempunyai AD/ART,
sehingga belum pernah mendapat bantuan operasional dari APBD. Diharapkan
AD/ART DKKM dapat diwujudkan di 2014 sehingga bisa mendapat bantuan hibah
dari pemerintah.
- Tari Undhuk dan Upacara Grebeg Gethuk merupakan hasil karya cipta Kota
Magelang yang harus dijaga dan tidak boleh diakui sebagai karya cipta pihak lain.
Perlu dipikirkan HAKI-nya.
- Program Ayo ke Magelang 2015 menuntut makin tingginya intensitas penampilan
berbagai kesenian. Secara kuantitas maupun kualitas harus dipersiapkan.
11. Terpeliharanya Museum dan peninggalan purbakala, serta cagar budaya
a. Program, kegiatan dan anggaran pendukung pencapaian sasaran
Program/kegiatan
Program Pengelolaan Kekayaan Budaya
1. Fasilitasi partisipasi masyarakat dalam
pengelolaan kekayaan budaya
2. Sosialisasi Pengelolaan Kekayaan Budaya Lokal
Daerah
3. Pengelolaan dan Pengembangan Pelestarian
Peninggalan Sejarah Purbakala
4. Pengembangan kebudayaan dan pariwisata

Anggaran
Belanja

Realisasi
Belanja

Prosentase

117.420.000

117.420.000

100,00%

50.000.000

50.000.000

100,00%

37.800.000

37.800.000

100,00%

15.750.000
13.870.000

15.750.000
13.870.000

100,00%
100,00%

Sumber : Disporabudpar
Total anggaran yang disediakan untuk mencapai sasaran ini :
Tahun 2013 = Rp 952.390.000,00 dengan penyerapan 92,58%

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 85

b. Capaian Indikator Kinerja


Tahun 2012
No

Indikator Sasaran

Jumlah Benda, Situs


dan Kawasan Cagar
Budaya yang
dilestarikan
Jumlah museum yang
dikelola

Target

Realisasi

36 buah

36 buah

Capaian
Kinerja
2012
100%

1 unit

1 unit

100%

Tahun 2013
Target

Realisasi

36 buah

36 buah

Capaian
Kinerja
2013
100%

1 unit

1 unit

100%

Capaian kinerja :
Tahun 2013 = 100%
Tahun 2012 = 100%
Tahun 2011 = 100%
Situs benda purbakala meliputi prasasti mantiasih, prasasti poh dan lainnya yang
terkait dengan sejarah berdirinya Kota Magelang.
Peninggalan sejarah lainnya berupa makam Syeh Subakir, Kyai Semar, Kyai
Sepanjang di puncak Gunung Tidar yang sering dikunjungi wisatawan, Sendang
Drajat, Tuk Songo dan-lain-lain.
Bangunan peninggalan kolonial antara lain Water Torn di Alun-alun, Saluran Kali Kota
Tembok Sungai Manggis, Mapolresta, Gereja St.Ignatius, Gereja Bayeman, Gedung
Bunder, Gedung Eks Karesidenan Kedu, Gedung Rindam, Scaba, Masjid Agung dan
sebagainya.
Terdapat 5 buah museum yang ada di Kota Magelang yakni :
- Museum Abdul Jalil
- Museum Diponegoro
- Museum Sudirman
- Museum Bumi Putera
- Museum Departemen Keuangan.
Dari 5 museum tersebut, yang dikelola oleh Pemerintah Kota Magelang adalah
Museum Sudirman.
Selain Museum, juga terdapat beberapa galeri lukisan dan patung, antara lain di
Gladiol dan yang terkenal adalah Galeri Oei Hong Djien (OHD).
c. Permasalahan yang dihadapi
- Sebagian besar benda cagar budaya dimiliki oleh masyarakat dan Instansi di luar
Pemerintah Kota Magelang, sehingga rentan beralih fungsi bahkan dibongkar
untuk dijadikan peruntukan lainnya seperti tempat usaha atau kegiatan lainnya.
- Terdapat perbedaan pendapat mengenai jumlah bangunan kuno yang ada di Kota
Magelang yang harus dilestarika, antara lain menurut Komunitas Magelang Kota
Tua, Pecinta Magelang Tempo Dulu dan Pecinta sepeda kuno yang menyatakan
bahwa jumlah bangunan kuno dimaksud ada lebih dari 120 buah. Sedangkan
Pemerintah Kota Magelang saat ini mengkonservasikan sebanyak 36 bangunan
kuno berdasarkan hasil survey dari Balai Konservasi Benda Purbakala Klaten,
dimana bangunan tersebut dianggap memiliki nilai sejarah.
-

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 86

d. Evaluasi dan rekomendasi


- Tahun 2013 telah terwujud Peraturan Daerah Nomor 7 Tahun 2013 tentang Cagar
Budaya. Perda tersebut harus ditindaklanjuti dengan peraturan implementasinya.
- Perlu dilakukan inventarisasi benda, situs dan cagar budaya agar dapat diketahui
secara tepat dan benar.
- Diperlukan mekanisme pelestarian berbagai benda, situs dan kawasan cagar
budaya baik yang dikelola pemerintah maupun masyarakat.
12. Terwujudnya peningkatan partisipasi masyarakat dalam pembangunan
Terwujudnya partisipasi masyarakat dalam pembangunan ditandai dengan beberapa
indikator, antara lain keberadaan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) yang
dapat berfungsi dengan baik, adanya swadaya masyarakat terhadap program
pemberdayaan masyarakat serta adanya keperdulian masyarakat untuk dapat turut
memelihara hasil pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat.
a.

Dalam

rangka

mewujudkan

sasaran

strategis

meningkatnya

partisipasi

masyarakat dalam pembangunan, telah dialokasikan anggaran dalam APBD Kota


Magelang khususnya di SKPD BPM, P dan KB sebesar Rp. 1.061.486.000 yang
terdiri dari alokasi untuk Kegiatan Pemberdayaan lembaga dan Organisasi
masyarakat Perdesaan sebesar Rp. 134.000.000 dan alokasi untuk Kegiatan Bulan
Bhakti Gotong Royong masyarakat sebesar Rp. 38.000.000. Untuk Kegiatan
BBGRM di masing-masing kelurahan juga telah dialokasikan anggarannya melalui
APBD Kota Magelang. Selanjutnya anggaran yang mendukung adalah Kegiatan TNI
Manunggal Membangun Desa (TMMD) dengan alokasi anggaran untuk pelaksanaan
kegiatan TMMD sebesar Rp. 400.000.000,- dan kegiatan Program Nasional
Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri dengan alokasi anggaran sebesar Rp.
328.406.000 serta Kegiatan Program Percepatan dan Perluasan Pembangunan
Infrastruktur Permukiman (P4IP) sebesar Rp. 161.080.000.
b.

Capaian indikator kinerja sasaran ini sebesar 118,98% (sangat baik) dengan
rincian sebagai berikut :
Tahun 2012
N
o

Indikator Kinerja Utama

buah

Realis
asi
5,47

LPM berprestasi

13,23

11,76

88,89%

17,65

17,65

100,00%

Swadaya masyarakat
terhadap program
pemberdayaan masyarakat
Pemeliharaan Pasca Program
pemberdayaan masayarakat

90,00

60,94

67,71%

55

31,99

58,16%

100

80

80%

100

100

100,00%

Target

Rata-rata jumlah kelompok


binaan lembaga
pemberdayaan masyarakat

2
3

Satuan

Tahun 2013

Capaian
Kinerja
136,75%

Realisa
si
5,47

Capaian
Kinerja
136,75%

Target

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 87

Tahun 2012
N
o
5

Indikator Kinerja Utama

Satuan
Target

Terlaksananya BBGRM di 17
kelurahan

50

Realis
asi
100

- Indikator Kinerja yang pertama adalah

Capaian
Kinerja
200%

Tahun 2013
Target
50

Realisa
si
100

Capaian
Kinerja
200,00%

rata-rata jumlah kelompok binaan

lembaga pemberdayaan masyarakat. Jumlah Kelompok binaan lembaga


pemberdayaan masyarakat di Kota Magelang sebanyak 93 kelompok binaan
yang tersebar di masing - masing kelurahan yang terdapat di Kota Magelang.
Kelompok binaan tersebut adalah : a). Lembaga Keuangan Kelurahan (LKK)
sebanyak 17 lembaga ; b) Lembaga Keswadayaan masyarakat (LKM) sebanyak 17
lembaga dan c) Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera (UPPKS)
sebanyak 59 kelompok. Apabila dilihat arti dari rata-rata jumlah kelompok
binaan LPM maka dapat diartikan jumlah kelompok yang dibina oleh
masing-masing LPM di kelurahan. Dari jumlah kelompok LKK dan UPPKS di 17
kelurahan sebanyak 93 kelompok, maka rata-rata Kelompok binaan lembaga
pemberdayaan masyarakat adalah 5,47. Artinya setiap LPM di kelurahan
membina 5-6 kelompok. Dari target yang telah ditetapkan sebanyak 4
kelompok, maka capaian kinerjanya sebesar 136,75% atau sama dengan tahun
2012. Artinya jumlah kelompok binaan yang ada di kelurahan belum bertambah.
- Indikator Kinerja utama yang kedua dari sasaran ini adalah jumlah LPM yang
berprestasi. Indikator berprestasi bagi LPM masih sama dengan tahun 2012,
yaitu dilihat melalui peran LPM dalam berbagai kegiatan di masyarakat, antara
lain peran lembaga kemasyarakatan dalam bidang ekonomi (melalui partisipasi
LPM dalam meningkatkan peran koperasi, pengembangan usaha mikro dan usaha
kecil di kelurahan); bidang pembangunan fisik (melalui partisipasi dalam
pembangunan/perbaikan jalan dan saluran lingkungan, sarana peribadatan,
sarana olahraga, serta fasilitas umum lainnya); serta peran lembaga
kemasyarakatan dalam turut menciptakan ketentraman dan ketertiban
lingkungan di kelurahan. Peran LPM sebagaimana tersebut diatas dinilai
bersamaan dengan pelaksanaan Bulan Bhakti Gotong Royong masyarakat yang
dilaksanakan di masing-masing kelurahan setiap tahun. Target Capaian kinerja
tahun 2013 dari indikator tersebut sebesar 17,65%, atau sebanyak 3 LPM
berprestasi dengan capaian kinerja 100%. Capaian kinerja sebesar 17,65%
artinya dari 17 LPM se Kota Magelang terdapat 3 LPM yang dapat
dikategorikan berprestasi atas dasar penilaian indikator diatas.
- Indikator Kinerja Utama yang ketiga adalah Swadaya masyarakat terhadap
program pemberdayaan masyarakat. Bentuk swadaya masyarakat dapat dilihat

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 88

dari berbagai dukungan masyarakat terhadap program pemerintah maupun


swadaya masyarakat melalui kegiatan yang dilaksanakan secara mandiri oleh
masyarakat. Adapun program kegiatan Pemerintah Kota Magelang yang
dilaksanakan dan diharapkan dapat memunculkan swadaya masyarakat antara
lain kegiatan TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) dengan alokasi
anggaran untuk pelaksanaan kegiatan TMMD dari bantuan keuangan provinsi
sebesar Rp. 310.000.000,- dan anggaran pendampingan yang dialokasikan dalam
APBD Kota Magelang sebesar Rp. 90.000.000,- dan kegiatan Program Nasional
Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri dengan alokasi anggaran sebesar
Rp. 2.126.000.000,00 terdiri dari alokasi anggaran bersumber APBN sebesar
Rp. 1.530.000.000,00 dan APBD Kota Magelang sebesar Rp. 328.406.000,00.
Kemudian pada anggaran perubahan tahun 2013 Pemerintah menggelontorkan
dana untuk Program Percepatan dan Perluasan Pembangunan Infrastruktur
Permukiman (P4IP) sebesar Rp. 4.250.000.000,00 dengan pendampingan dari
APBD sebesar Rp. 161.080.000,00.
Adapun swadaya masyarakat yang muncul terhadap program yang dilaksanakan
pemerintah tersebut adalah : 1) Dukungan masyarakat dalam kegiatan TNI
Manunggal Membangun Desa (TMMD) Sengkuyung I dan Sengkuyung II
sebesar Rp. 80.000.000,- dan 2). Dukungan masyarakat dalam Program
Nasional

Pemberdayaan

Masyarakat

(PNPM)

Mandiri

sebesar

Rp.

195.000.000,- serta 3) Dukungan masyarakat dalam program P4IP sebesar Rp.


102.000.000,Selanjutnya swadaya masyarakat melalui kegiatan yang dilaksanakan secara
mandiri oleh masyarakat atau sering disebut sebagai swadaya murni
masyarakat sebesar Rp. 1.756.664.300,00,- berupa kegiatan fisik maupun non
fisik yang dilaksanakan di 17 kelurahan.
Dibawah ini disajikan tabel Prosentase Swadaya Masyarakat di Kota Magelang
Tahun 2012 dan 2013 sebagai berikut :
Tabel 3.3
Prosentase Swadaya Masyarakat Terhadap Anggaran Program Pemberdayaan Masyarakat
di Kota Magelang Tahun 2012 dan 2013
No

Tahun

1
2

2012
2013
Peningkatan Dana

Prosentase Peningkatan
Dana

Total Swadaya
Masyarakat

Anggaran Program
Pemberdayaan Masyarakat

Rp. 1.536.933.500,00
Rp. 2.133.664.300,00

Rp. 2.522.000.000,00
Rp. 6.669.486.000,00

Rp. 596.730.800,00

Rp. 4.147.486.000,00

38,82%

164,45%

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

Prosentase
(%)
60,94 %
31,99 %

BAB III

- 89

c.

d.

Dari tabel di atas, dapat kita lihat bahwa ada peningkatan jumlah dana swadaya
masyarakat sebesar Rp. 596.730.800,00 atau sebesar 38,82%. Apabila
dibandingkan tahun sebelumnya maka terjadi penurunan prosentase namun dari
segi nilai rupiahnya meningkat cukup signifikan yaitu sebesar 138,82%.
Sementara apabila kita membandingkan jumlah anggaran Program
Pemberdayaan Masyarakat tahun 2013 dengan tahun 2012 dapat kita lihat
bahwa terjadi peningkatan pagu anggaran belanja program sebesar Rp.
4.147.486.000,00 atau meningkat sebesar 164,45%.
- Indikator Kinerja Utama yang keempat adalah pemeliharaan pasca program
pemberdayaan masyarakat. Pemeliharaan disini diartikan sebagai peran
masyarakat dalam turut memelihara hasil pembangunan yang dilaksanakan
melalui program pemberdayaan masyarakat, antara lain pembangunan melalui
TMMD dan pembangunan yang dilaksanakan melalui program PNPM maupun
P4IP. Adapun target tahun 2013 sebesar 100% dan terealisasi sebesar 100%
dengan kinerja 100%, artinya bahwa masyarakat telah ikut perduli dengan
pemeliharaan yang harus dilaksanakan terhadap hasil program pemberdayaan
masyarakat oleh pemerintah.
- Indikator Kinerja Utama yang kelima adalah Terlaksananya BBGRM di 17
kelurahan. BBGRM atau Bulan Bhakti Gotong Royong Masyarakat merupakan
kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka meningkatkan partisipasi masyarakat,
harmonisasi lembaga yang ada di masyarakat dengan pemerintah serta untuk
memotivasi munculnya swadaya masyarakat. Sebagaimana yang telah
dilaksanakan oleh kelurahan di tahun 2012, pada tahun 2013 seluruh kelurahan
se Kota Magelang juga melaksanakan BBGRM, dan mengalokasikan kegiatan
BBGRM ini dalam DPA masing-masing kelurahan, sehingga dari target tahun
2013 sebesar 50% relisasi 100% dan capaian kinerja 200%.
Permasalahan
- Meskipun pada tahun 2012 telah ditetapkan Peraturan Daerah Nomor 1
Tahun 2012 tentang Lembaga Kemasyarakatan yang telah ditindaklanjuti
dengan Peraturan Walikota Magelang Nomor 70 tahun 2012 namun dalam
pelaksanaannya belum optimal.
- Mayoritas Pengurus LPM di masing-masing kelurahan sudah tua dan tidak
semua pengurus dapat melaksanakan tugas dengan baik.
Solusi
- Diperlukan sosialisasi yang lebih intensif kepada seluruh LPM se Kota Magelang
oleh SKPD terkait.
- Diperlukan pembinaan kepada pengurus LPM secara berkala serta monitoring
pelaksanaan kegiatan LPM oleh SKPD terkait.

13. Meningkatnya pengembangan kreativitas dan inovasi teknologi terapan masyarakat


Indikator Kinerja Utama untuk sasaran Meningkatnya pengembangan kreativitas dan
inovasi teknologi terapan masyarakat, yaitu jumlah kelurahan yang menerapkan TTG
(Teknologi Tepat Guna) dan Jumlah krenova yang terdata.
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 90

a.

b.

Dalam rangka mewujudkan sasaran strategis meningkatnya pengembangan


kreativitas dan inovasi teknologi terapan masyarakat, telah dialokasikan anggaran
dalam APBD Kota Magelang khususnya di SKPD Kantor Penelitian, Pengembangan
dan Statistik Kota Magelang
sebesar Rp. 134.000.000 melalui Kegiatan
Penyelenggaraan dan Penjaringan Krenova sebesar Rp. 44.000.000 dan Kegiatan
Fasilitasi Pelaksanaan Riset Unggulan Daerah sebesar Rp. 90.000.000.
Capaian indikator kinerja sasaran ini sebesar 93,33% (sangat baik) dengan rincian
sebagai berikut :
Tahun 2012

NO

Indikator Kinerja Utama

Kelurahan yang
menerapkan TTG
(Teknologi Tepat Guna)

Jumlah Krenova yang


terdata

Satuan

Tahun 2013

Target

Realisasi

30

Capaian
Kinerja
0

buah

12

25

208,33%

Target

Realisasi

30

Capaian
Kinerja
0

15

28

186%

- Indikator Kinerja Utama yang pertama adalah Kelurahan yang menerapkan


TTG. Untuk kondisi tahun 2013 ini dapat dikatakan belum berubah dari kondisi
tahun 2012, karena pada hakekatnya penciptaan teknologi ini bisa dilaksanakan
secara mandiri oleh masyarakat atau difasilitasi oleh pemerintah daerah.
Namun penemuan yang difasilitasi melalui Kantor Litbang yang seharusnya
ditindaklanjuti dengan pemanfaatannya di masyarakat ini belum dapat secara
langsung diakses oleh masyarakat, sehingga capaian IKU di tahun 2013 masih
sama dengan tahun 2012 yaitu sangat rendah, dari target 30% pencapaiannya
0%.
- Indikator Kinerja utama yang kedua adalah Jumlah krenova yang terdata.
Kegiatan Kreativitas dan Inovasi Masyarakat (KRENOVA) dilaksanakan sebagai
upaya menumbuhkan budaya kreatif dan inovatif masyarakat serta untuk
meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan kreativitas dan
inovasinya dalam menggali dan mengembangkan potensi di bidang Iptek yang
bermanfaat bagi masyarakat, Pemerintah Kota Magelang sejak tahun 2006
melaksanakan kegiatan Penjaringan Kreativitas dan Inovasi Masyarakat
(Krenova) tingkat Kota Magelang. Sebagai bentuk apresiasi pemerintah
terhadap berbagai temuan kreativitas dan inovasi masyarakat, melalui kegiatan
Krenova tersebut disediakan penghargaan dari Walikota Magelang berupa
Piagam dan Uang Pembinaan bagi yang memenuhi kriteria penilaian.
Hasil temuan masyarakat tersebut tidak hanya meningkat secara kuantitatif,
tetapi juga kualitasnya, pada tahun 2013 hasil temuan KRENOVA yang
mengikuti seleksi sebanyak 28 (dua puluh delapan) dari target 15 (lima belas)
peserta, sehingga capaian kinerja untuk indikator ini sebesar 186 %. Hal lain
yang membanggakan adalah salah satu peserta KRENOVA dari Kota Magelang
kembali memperoleh perhargaan dalam ajang Krenova Tingkat Provinsi Jawa
Tengah yaitu, peringkat kedua dalam 10 (sepuluh) besar penghargaan dari
Gubernur Provinsi Jawa atas nama Canggih Setia Budi, S.Si, M.Si dengan judul
temuan Serat Antiseptic dari Pisang Abaca. Hal ini memperpanjang tradisi
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 91

c.

d.

Kota Magelang yang selalu mendapatkan penghargaan Krenova propinsi dalam


setiap tahunnya.
Permasalahan
- Belum optimalnya komunikasi dengan pemangku wilayah dalam rangka
meningkatkan fungsi pemberdayaan masyarakat dalam rangka mengoptimalkan
potensi teknologi yang ada.
- Belum ada koordinasi yang baik antara pelaksana penjaringan krenova dengan
SKPD pemberdayaan masyarakat dalam rangka menindaklanjuti hasil
penjaringan teknologi.
Solusi/Rekomendasi
Direkomendasikan kepada SKPD Pemberdayaan Masyarakat untuk :
- Mengoptimalkan fungsi pemberdayaan masyarakat dengan meningkatkan
komunikasi dengan kelurahan dan tokoh masyarakat dalam rangka menjaring
potensi teknologi yang dapat dikembangkan dan dimanfaatkan
- Meningkatkan kerjasama dengan Kantor Penelitian dan Pengembangan dalam
rangka menindaklanjuti hasil kegiatan RUB.
- Mendukung keberlanjutan pemanfaatan hasil kegiatan RUB dengan
memfasilitasi masyarakat untuk memanfaatkannya sesuai dengan ketentuan
yang berlaku.

14. Terwujudnya pengembangan kegiatan ekonomi masyarakat


Indikator Kinerja Utama untuk Sasaran Berkembangnya kegiatan ekonomi masyarakat
yaitu Jumlah LKK dan Lembaga Keuangan masyarakat yang sehat dan berkualitas.
a. Dalam rangka mewujudkan sasaran strategis berkembangnya kegiatan ekonomi
masyarakat, telah dialokasikan anggaran dalam APBD Kota Magelang khususnya di
SKPD BPM, P dan KB sebesar Rp. 43.000.000,00 untuk Kegiatan Pelatihan
ketrampilan manajemen badan usaha milik desa.
b. Capaian indikator kinerja sebesar 96,25 (sangat baik) sebagai berikut :
Tahun 2012
NO
1

Indikator Kinerja Utama


Jumlah LKK dan lembaga
keuangan masyarakat
yang sehat dan
berkualitas

Satuan
%

Target

Realisasi

50

35,29

Tahun 2013
Capaian
Kinerja
70,58%

Target

Realisasi

55

52,94

Capaian
Kinerja
96,25%

- Dari target yang ditetapkan pada tahun 2013 sebesar 55% atau sebanyak 9
sampai dengan 10 LKK yang sehat, terealisasi pada tahun 2013 sebanyak 9 LKK
dengan capaian IKK sebesar 52,94%. Apabila dibandingkan dengan tahun 2012
sudah ada peningkatan sebesar 25,67%.
Adapun indikator LKK yang sehat adalah yang memenuhi beberapa kriteria
antara lain : dari sisi kelembagaan, susunan organisasi dan susunan pengurus
yang relatif lengkap; dari sisi administrasi, tertib dalam melaksanakan
adinistrasi pendukung dan dari sisi manajemen pengelolaan tertata dengan
baik.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 92

c.

d.

Permasalahan
- Dari 17 LKK yang ada di Kota Magelang baru 9 LKK yang sehat, artinya masih
ada LKK yang dari sisi kelembagaan maupun sisi administrasi belum berjalan
dengan baik.
- Belum berfungsinya LKK juga disebabkan karena keterbatasan dana yang ada,
sehingga tidak dapat melaksanakan kegiatan ekonomi yang menjadi kegiatan
utama dari LKK.
Solusi
- Badan Pemberdayaan Masyarakat selaku pembina LKK bersama dengan SKPD
terkait agar melakukan monitoring secara berkala sehingga dapat mengetahui
permasalahan yang dihadapi masing-masing LKK.
- Memberikan stimulan bantuan keuangan seuai ketentuan yang berlaku.

15. Terwujudnya review pokjanal orientasi kader dan pemilihan posyandu berprestasi
Indikator Kinerja Utama untuk Sasaran Terwujudnya review pokjanal orientasi kader
dan pemilihan posyandu berprestasi adalah posyandu aktif dan jumlah posyandu yang
berprestasi.
a. Dalam rangka mewujudkan sasaran strategis Terlaksananya review pokjanal
orientasi kader dan pemilihan posyandu berprestasi, telah dialokasikan anggaran
dalam APBD Kota Magelang khususnya di SKPD BPMPKB sebesar Rp. 90.000.000,yang terdiri dari alokasi untuk Kegiatan Pembinaan dan pelatihan kader posyandu
dan pengobat tradisional sebesar Rp. 20.000.000,- alokasi untuk Kegiatan
Pembinaan kepada lanjut usia dan keluarganya sebesar Rp. 40.000.000,- dan
alokasi untuk Kegiatan Pelatihan dan pembentukan kelompok BKB dan BKR sebesar
Rp. 30.000.000,b. Capaian indikator kinerja sebesar 100% (sangat baik) dengan rincian sebagai
berikut :
Tahun 2012
NO

Indikator Kinerja Utama

Satuan

Tahun 2013

Posyandu aktif

100

100

Capaian
Kinerja
100%

Jumlah posyandu yang


berprestasi

1,04

1,04

100%

Target

Realisasi

Target

Realisasi

100

100

Capaian
Kinerja
100%

1,56

1,56

100%

- Indikator Kinerja Utama yang pertama adalah Posyandu Aktif, dengan realisasi
jumlah posyandu aktif tahun 2013 sebanyak 196 buah atau sebesar 100% sama
dengan tahun 2012. Dari 196 Posyandu yang tersebar di Kota Magelang
tersebut terbagi dalam 4 (empat) strata/tingkatan, yaitu : a). Strata Pratama
sebanyak 10 posyandu; b). Strata Madya sebanyak 40 posyandu ; c). Strata
Paripurna sebanyak 81 posyandu dan d). Strata Mandiri sebanyak 65 Posyandu.
Apabila dilihat dari penyebaran posyandu menurut wilayah kecamatan, maka
jumlah posyandu untuk masing-masing kecamatan adalah sebagai berikut:
- Kecamatan Magelang Utara
: 47 posyandu
- Kecamatan Magelang Tengah
: 76 posyandu

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 93

c.

- Kecamatan Magelang Selatan


: 73 posyandu
- Indikator Kinerja Utama yang kedua adalah jumlah posyandu yang berprestasi.
Pada tahun 2013, penghargaan yang diraih antara lain :
Posyandu Dwi Apsari RW VI Kelurahan Kedungsari.
Posyandu Dwi Apsari RW VI Kelurahan Kedungsari dengan prestasi Juara I
Lomba Posyandu Tingkat Kota Magelang dan Juara II Lomba Posyandu
Tingkat Propinsi Jawa Tengah
Posyandu Tri Sari RW VIII Kelurahan Cacaban dengan prestasi Juara II
Lomba Posyandu Tingkat Kota Magelang
Posyandu Melati RW IV Kelurahan Jurangombo Selatan dengan prestasi
Juara III Lomba Posyandu Tingkat Kota Magelang
Berdasarkan hal tersebut di atas maka capaian kinerja sasaran review Pokjanal
Kader dan Pemilihan Posyandu Berprestasi pada tahun 2013 sebesar 100%.
Permasalahan
NIHIL

16. Meningkatnya koordinasi dan kinerja TKPK secara sinergis


Indikator Kinerja Utama untuk Sasaran Meningkatnya Koordinasi dan kinerja TKPK
secara sinergis adalah Jumlah rakor dan monev TKPK.
a. Dalam rangka mewujudkan sasaran strategis Meningkatnya koordinasi dan kinerja
TKPK secara sinergis, telah dialokasikan anggaran dalam APBD Kota Magelang
khususnya di SKPD Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Magelang
sebesar Rp. 40.000.000,- Kegiatan Penyusunan Penanggulangan Kemiskinan.
b. Capaian indikator kinerja sebesar 240% (sangat baik) dengan rincian sebagai
berikut :
Tahun 2012
NO
1

Indikator Kinerja Utama


Jumlah rakor dan monev
TKPK

Satuan
keg

Target

Realisasi

Tahun 2013
Capaian
Kinerja
225%

Target

Realisasi

12

Capaian
Kinerja
240%

- Indikator Kinerja Utama dari sasaran ini yaitu Jumlah Rapat Koordinasi dan
Monev TKPK, tahun 2013 tercapai sebesar 240% atau meningkat sebesar 15%
dibandingkan tahun 2012 dengan capaian 225%.
TKPKD (Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Daerah) merupakan wadah
koordinasi lintas sektor dan lintas pemangku kepentingan untuk penanggulangan
kemiskinan di Kota Magelang, yang dibentuk dengan Keputusan Walikota
Magelang No 400/39.a/112 Tahun 2010.
Tujuan dibentuknya TKPKD adalah :
Mempercepat target penurunan jumlah penduduk miskin
Meningkatkan efektifitas koordinasi (sinkronisasi, harmonisasi, dan
integrasi) upaya penanggulangan kemiskinan melalui 4 kelompok/klaster
program.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 94

Penguatan kelembagaan penanggulangan kemiskinan baik di pusat maupun


daerah.
Mendorong upaya penanggulangan kemiskinan sebagai program bersama
pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha dan masyarakat.
c. Permasalahan
Meskipun pelaksanaan pertemuan TKPKD sudah lebih intensif dibandingkan tahun
2012, namun masih banyak permasalahan yang harus segera diselesaikan dalam
rangka menanggulangi kemiskinan di Kota Magelang. Permasalahan umum yang
dihadapi antara lain :
1. Akurasi data penduduk miskin perlu ditingkatkan mengingat beragamnya
kriteria serta indikator dalam menentukan status penduduk miskin, hal ini
berpengaruh terhadap penentuan sasaran, ketepatan sasaran berikut evaluasi
keberhasilannya;
2. Koordinasi kebijakan dan program serta pengendalian pelaksanaan program
penanggulangan kemiskinan /lembaga/SKPD belum optimal;
3. Program penanggulangan kemiskinan yang dilaksanakan belum sepenuhnya
mampu
mewujudkan penciptaan lapangan kerja yang memadai dan
berkesinambungan.
d. Solusi
Melihat permasalahan-permasalahan tersebut, maka diperlukan langkah-langkah
antara lain :
1. Penentuan kriteria serta indikator penduduk miskin yang seragam sehingga
tidak ada perbedaan status penduduk miskin serta melaksanaklan pendataan
penduduk miskin melalui mekanisme yang benar dan berpedoman pada kriteria
dan indikator yang telah ditetapkan.
2. Mengoptimalkan kinerja TKPKD dalam rangka mensinergikan penyusunaan
kebijakan dan perencanaan program dalam rangka menurunkan angka
kemiskinan.
3. Memfokuskan pelaksanaan program yang tepat sasaran dan dapat membuka
peluang kerja.

17. Terwujudnya peningkatan kualitas program PNPM


Indikator Kinerja Utama untuk sasaran Terwujudnya peningkatan kualitas program
PNPM adalah jumlah LKM yang dapat melaksanakan program dengan baik.
a.

Dalam rangka mewujudkan sasaran strategis Meningkatnya kualitas program

PNPM, telah dialokasikan anggaran dalam APBD Kota Magelang khususnya di SKPD

b.

BPM, P dan KB sebesar Rp. 236.000.000,00 yang terdiri dari alokasi untuk Kegiatan
Program Nasional Pemberdayaan masyarakat mandiri Perkotaan sebesar Rp.
131.000.000,- dan alokasi untuk Kegiatan Program Nasional pemberdayaan
masyarakat mandiri Sanitasi sebesar Rp. 105.000.000,Capaian indikator kinerja sasaran ini sebesar 88,24% (baik) dengan rincian
sebeagai sebagai berikut :

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 95

Tahun 2012
NO
1

Indikator Kinerja Utama


Jumlah LKM yang dapat
dapat melaksanakan
program dengan baik

Satuan
%

Target

Realisasi

17

15

Tahun 2013
Capaian
Kinerja
88,24%

Target

Realisasi

17

15

Capaian
Kinerja
88,24%

Indikator Kinerja Utama dari sasaran ini yaitu Jumlah LKM yang dapat
melaksanakan program dengan baik, tahun 2013 tercapai sebesar 88,24%
sama dengan tahun 2012, dengan penekanan kasus yang sama yaitu adanya
kemacetan dalam pengembalian dana bergulir yaitu terjadi di Kelurahan
Kramat Utara dan Kedungsari, yang pada saat ini masih dalam proses
penyelesaian.
Terkait Indikator Kinerja Utama Jumlah LKM yang dapat melaksanakan
program dengan baik dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Bahwa setiap tahun dilaksanakan evaluasi terhadap seluruh LKM di Kota
Magelang oleh auditor independent yang telah ditunjuk oleh pemerintah
pusat.
2. Bahwa berdasarkan audit yang dilaksanakan atas pelaksanaan program
tahun 2013 diperoleh hasil :
- Dari 17 LKM di Kota Magelang pada dasarnya telah melaksanakan
kegiatan bidang sosil, ekonomi maupun lingkungan dengan baik
- Namun terdapat 2 LKM yaitu LKM kelurahan Cacaban dan LKM
Kelurahan Tidar Utara belum dapat melaksanakan kegiatan khususnya
bidang ekonomi dengan baik, dengan indikator adanya kemacetan dalam
pengembalian dana bergulir/simpan pinjam, sehingga dana yang
seharusnya dapat digunakan kembali tidak dapat dimanfaatkan.
3. Berdasar hasil audit tersebut, maka dari 17 LKM, sebanyak 15 LKM dapat
melaksanakan program dengan baik, dan 2 LKM belum dapat melaksanakan
program dengan baik.
Permasalahan
- Dalam pelaksanaan kegiatan bidang ekonomi, sejak tahun 2012 terdapat
permasalahan yang cukup besar yaitu terjadi kemacetan dalam pengembalian
dana bergulir/simpan pinjam. Dan terulang kembali di tahun 2013 yaitu di
Kelurahan Kramat Utara dan Keluahan Kedungsari.
Solusi
- Bagi SKPD BPMP dan KB yang bertanggungjawab terhadap pelaksanaan program
PNPM Mandiri agar melaksanakan monitoring secara rutin terhadap pelaksanaan
kegiatan baik di bidang sosial, ekonomi maupun lingkungan.
-

c.

d.

18. Terlaksananya PMTAS


Indikator Kinerja Utama untuk sasaran Terlaksananya PMTAS adalah Jumlah anak
sekolah yang mendapatkan PMTAS.
a. Dalam rangka mewujudkan sasaran strategis Terlaksananta PMTAS, telah
dialokasikan anggaran dalam APBD Kota Magelang khususnya di SKPD BPMP dan

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 96

KB sebesar Rp. 231.100.000,00 untuk Kegiatan pemberian tambahan makanan dan


Vitamin.
Capaian indikator kinerja sasaran ini sebesar 222,85% (sangat baik)dengan
rincian sebagai berikut :

b.

Tahun 2012
NO
1

Indikator Kinerja Utama


Jumlah anak sekolah
yang mendapatkan
PMTAS

Satuan
anak

Target

Realisasi

300

760

Tahun 2013
Capaian
Kinerja
253,33%

Target

Realisasi

350

780

Capaian
Kinerja
222,85%

Indikator Kinerja Utama dari sasaran ini yaitu Jumlah anak sekolah yang
mendapatkan PMTAS, dari jumlah yang ditargetkan pada tahun 2013 yaitu
sebanyak 350 anak, terealisasi 780 anak sehingga capaian kinerja dari
Indikator ini sebesar 222,85%, apabila dibandingkan dengan tahun 2012
terdapat peningkatan sebanyak 40 anak dari realisasi sebanyak 740 anak,
mekipun dari sisi prosentase terjdi penurunan namun dari jumlah anak yang
mendapatkan PMTAS telah meningkat.

19. Terwujudnya Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan anak


a. Dalam rangka mewujudkan sasaran strategis Meningkatnya Pemberdayaan
Perempuan dan Perlindungan Anak tahun anggaran 2013 BPMP KB Kota Magelang
melaksanakan beberapa program dan kegiatan dengan total anggaran sebesar
Rp. 254.975.000,- yaitu untuk mendanai program dan kegiatan sebagai berikut:
1. Program Penguatan Kelembagaan Pengarustamaan Gender dan Anak, melalui
kegiatan Advokasi dan fasilitasi PUG bagi perempuan dengan anggaran sebesar
Rp. 104.425.000,- Kegiatan Fasilitasi pengembangan pusat pelayanan terpadu
pemberdayaan perempuan (P2TP2) dengan anggaran sebesar Rp. 15.700.000,Kegiatan Penguatan Kelembagaan Pengarusutamaan Gender dan Anak dengan
anggaran sebesar Rp. 20.000.000,- serta Peningkatan Kapasitas dan jaringan
kelembagaan pemberdayaan perempuan dan anak dengan alokasi anggaran
sebesar Rp. 5.500.000,2. Program Peningkatan Kualitas Hidup dan Perlindungan Perempuan, melalui
Kegiatan Pelaksanaan kebijakan perlindungan perempuan di daerah dengan
alokasi anggaran sebesar Rp. 90.000.000 dan Kegiatan Sosialisasi perlindungan
tindak kekerasan dalam rumah tangga dengan alokasi anggaran sebesar Rp.
20.000.000,3. Program Peningkatan Peran Serta dan Kesetaraan Jender Dalam Pembangunan,
melalui Kegiatan pembinaan organisasi perempuan dengan alokasi anggaran
sebesar Rp. 70.000.000,4. Program Penguatan kelembagaan pengarusutamaan gender dan anak, melalui
kegiatan Koordinasi sinkronisasi vokal point pengarusutamaan gender dengan
alokasi anggaran sebesar Rp.29.475.000,-

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 97

B.

NO
1
2
3
4
5
6
7

8
9

10

11

12

13

14

15

5. Program peningkatan peran perempuan di perdesaan, melalui Kegiatan Pelatihan


perempuan di perdesaan dalam bidang ekonomi produktif dengan alokasi
anggaran sebesar Rp. 20.000.000,Capaian indikator kinerja sasaran ini sebesar 98,27% (sangat baik) dengan rincian
sebagai berikut :
Indikator Kinerja Utama
Rasio KDRT
Persentase partisipasi perempuan di
lembaga pemerintah
Persentase partisipasi perempuan di
lembaga swasta
Rata-rata jumlah kelompok binaan
PKK
Persentase tenaga kerja di bawah
umur
Partisipasi angkatan kerja
perempuan
Penyelesaian pengaduan
perlindungan perempuan dan anak

dari tindakan kekerasan


PKK Aktif
Cakupan perempuan dan anak korban
kekerasan yang mendapatkan
penanganan pengaduan oleh petugas
terlatih di dalam unit pelayanan
terpadu
Cakupan perempuan dan anak korban
kekerasan yang men-dapatkan
layanan kesehatan oleh tenaga
kesehatan terlatih di Puskesmas
mampu tata-laksana KtP/Adan
PPT/PKT di Rumah Sakit
Cakupan layanan rehabilitasi sosial
yang diberikan oleh petugas
rehabilitasi sosial terlatih bagi
perempuan dan anak korban
kekerasan di dalam unit pelayanan
terpadu
Cakupan layanan bimbingan rohani
yang diberikan oleh petugas
bimbingan rohani terlatih bagi
perempuan dan anak korban
kekerasan di dalam unit pelayanan
terpadu
Cakupan penegakan hukum dari
tingkat penyidikan sampai dengan
putusan pengadilan atas kasuskasus kekerasan terhadap
perempuan dan anak
Cakupan perempuan dan anak korban
kekerasan yang mendapatkan
layanan bantuan hukum
Cakupan layanan pemulangan bagi
perempuan dan anak korban
kekerasan

Sat
uan

Tahun 2012

Tahun 2013

%
%

0,13
49,63

Realisas
i
0,07
15,69

40,00

40,15

100,37%

50,00

43,06

86,12%

38,23

29,19

76,35%

41,17

34,25

83.19%

0.00%

0.00%

72,00

60,79

84,43%

75,00

61,25

81,67%

92,00

91,11

99,03%

93.00

100

107,53%

100

100

100%

100

100

100%

82,00

100

121,95%

100

100

100%

80,00

100

125,00%

85.00

90,00

105,88%

70,00

75,55

107,93%

90,00

90,00

100%

85,00

95,55

111,88%

90.00

100

111,11%

65,00

100

127,07%

70.00

100

142,86%

67,00

100

149,25%

70.00

100

142,86%

68,00

100

147,06%

85.00

100

117,65%

Target

Capaian
Kinerja
53,84%
31,61%

0.14
56,43

Realisa
si
0.038
15.67

Capaian
Kinerja
27,14%
27,78%

Target

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 98

NO
16

17

Indikator Kinerja Utama


Cakupan layanan reintegrasi sosial
bagi perempuan dan anak korban
kekerasan
Angka melek huruf perempuan usia
15 tahun keatas

Sat
uan

Tahun 2012

68,00

Realisas
i
100

---

---

Target

Tahun 2013
Capaian
Kinerja
147,06%

---

85.00

Realisa
si
100

Capaian
Kinerja
117,65%

80

96,69

120,86%

Target

Indikator yang pertama adalah terkait dengan Rasio KDRT. Pada tahun 2013
rasio KDRT sebesar 0.038% atau menurun dibandingkan tahun 2012 sebesar
0,07%. Dengan capaian 27,14% dari target sebesar 0,14%.
Indikator kedua dari Sasaran Meningkatnya Pemberdayaan Perempuan dan
Perlindungan anak adalah Partisipasi perempuan di Lembaga Pemerintah.
Capaian kinerja untuk indikator partisipasi perempuan di lembaga pemerintah
Tahun 2013 sebesar 15,67% atau menurun sebesar 0,02% dibanding tahun
2012 sebesar 15,69%. Namun apabila dilihat dari jumlah pekerja perempuan
yang bekerja di lembaga pemerintah pada tahun 2013 di Kota Magelang
sebanyak 3.305 orang, terjadi kenaikan sebanyak 18 orang dibandingkan pada
tahun 2012 sebanyak 3.287 orang. Sementara untuk jumlah pekerja perempuan
pada tahun 2013 sebanyak 21.097 orang atau meningkat sebanyak 150 orang
dibanding tahun 2012 sebanyak 20.947 orang.
Indikator ketiga dari Sasaran Meningkatnya Pemberdayaan Perempuan dan
Perlindungan anak adalah Partisipasi perempuan di Lembaga Swasta. Capaian
kinerja untuk indikator partisipasi perempuan di lembaga pemerintah Tahun
2013 sebesar 43,06% atau meningkat sebesar 2,91% dibanding tahun 2012
sebesar 40,15%. Jumlah pekerja perempuan yang bekerja di lembaga swasta
pada tahun 2013 sebanyak 9.086 atau meningkat sebanyak 674 orang dibanding
tahun 2012 sebanyak 8.412 orang.
Indikator keempat dari Sasaran Meningkatnya Pemberdayaan Perempuan dan
Perlindungan anak adalah rata-rata jumlah kelompok binaan PKK. Rata-rata
jumlah kelompok binaan PKK merupakan perbandingan jumlah kelompok PKK
dengan jumlah PKK.
Jumlah kelompok binaan sebanyak 616 kelompok, sedangkan jumlah PKK
sebanyak 211, sehingga rata-rata jumlah kelompok binaan PKK sebesar 34,25 %
atau masing-masing PKK kurang lebih membina 2 3 kelompok. Kondisi ini sama
dengan tahun 2012, artinya belum ada penambahan kelompok di masyarakat
dibawah binaan PKK.
Kelompok binaan PKK terdiri dari :
1)
Dibawah Binaan kelompok Kerja I sebanyak 14 kelompok, yaitu PKPN
(Pembinaan Kesadaran Bela Negara) sebanyak 4 kelompok, Kadarkum
(Keluarga sadar hukum) sebanyak 6 kelompok dan Pola Asuh sebanyak 4
kelompok.
2)
Dibawah Binaan kelompok kerja II sebanyak 346 kelompok, yaitu :
PAUD sebanyak 40 kelompok, di wilayah Kecamatan Magelang Utara
15 kelompok, Kecamatan Magelang Tengah 19 kelompok dan
Kecamatan Magelang Selatan 6 kelompok.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 99

BKB (Bina Keluarga Balita) sebanyak 56 kelompok, di wilayah


Kecamatan Magelang Utara 13 kelompok, Kecamatan Magelang
Tengah 36 kelompok dan Kecamatan Magelang Selatan 7 kelompok.
UP2K (Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera) sebanyak
223 kelompok, di wilayah Kecamatan Magelang Utara 158 kelompok,
Kecamatan Magelang Tengah 48 kelompok dan Kecamatan Magelang
Selatan 17 kelompok.
Koperasi Berbadan Hukum sebanyak 27 kelompok, di wilayah
Kecamatan Magelang Utara 1 kelompok, Kecamatan Magelang Tengah
17 kelompok dan Kecamatan Magelang Selatan 19 kelompok.
Dibawah Binaan kelompok kerja III sebanyak 256 kelompok, yaitu :
Posyandu balita sebanyak 192 kelompok, di wilayah Kecamatan
Magelang Utara 48 kelompok, Kecamatan Magelang Tengah 48
kelompok dan Kecamatan Magelang Selatan 72 kelompok.
Posyandu lansia (lanjut usia) sebanyak 64 kelompok, di wilayah
Kecamatan Magelang Utara 20 kelompok, Kecamatan Magelang
Tengah 35 kelompok dan Kecamatan Magelang Selatan 9 kelompok.
-

3)

Indikator kelima dari Sasaran Meningkatnya Pemberdayaan Perempuan dan


Perlindungan anak adalah persentase tenaga kerja dibawah umur.
Untuk indikator ini sampai dengan tahun 2013 belum tersedia datanya,
dikarenakan belum dilaksanakan pendataan secara intensif. Namun demikian
berdasarkan pemantauan di berbagai jenis usaha yang dilakukan oleh Dinas
Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Sosial kasus tenaga kerja dibawah umur belum
ditemukan, sehingga dapat dikatakan bahwa realisasi tahun 2013 0% atau sama
dengan realisasi tahun 2012.
Indikator keenam dari Sasaran Meningkatnya Pemberdayaan Perempuan dan
Perlindungan anak adalah partisipasi angkatan kerja perempuan. Merupakan
perbandingan antara angkatan kerja perempuan usia 15 tahun keatas
dibandingkan dengan jumlah penduduk perempuan usia 15 s/d 64 tahun. Capaian
kinerja indikator ini sebesar 61,25 % atau meningkat sebesar 0,46% dibanding
tahun 2012 sebesar 60,79%.
Indikator ketujuh dari Sasaran Meningkatnya Pemberdayaan Perempuan dan
Perlindungan anak adalah penyelesaian pengaduan perlindungan perempuan dan
anak dari tindakan kekerasan. Berdasar data Kasus KDRT yang ditangani
Women Crisis Center (WCC) Kota Magelang tahun 2013 sebanyak 51 kasus atau
menurun dibandingkan tahun 2012 sebanyak 54 kasus. Dari 51 kasus tersebut,
dapat diselesaikan dengan capaian IKK yang ditargetkan sebesar 93%
terealisasi 100%.
Indikator kedelapan dari Sasaran Meningkatnya Pemberdayaan Perempuan dan
Perlindungan anak adalah Jumlah PKK Aktif yang ada di Kota Magelang. Jumlah
TP-PKK di Kota Magelang sejumlah 211 dengan rincian 1 TP-PKK tingkat Kota
Magelang, 3 di tingkat Kecamatan, dan 17 di tingkat kelurahan, serta 190
kelompok PKK tingkat RW yang aktif untuk mendukung upaya pemberdayaan

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 100

masyarakat di Kota Magelang sehingga nilaicapaian kinerja untuk PKK Aktif


sebesar 100,00%.
Indikator kesembilan dari Sasaran Meningkatnya Pemberdayaan Perempuan
dan Perlindungan anak adalah cakupan perempuan dan anak korban kekerasan
yang mendapatkan penanganan pengaduan oleh petugas terlatih di dalam unit
pelayanan terpadu. Dari 45 kasus perempuan dan anak korban kekerasan
keseluruhannya mendapatan penanganan pengaduan oleh petugas, dalam hal ini
petugas WCC, sehingga capaian IKK sebesar 100%.
Indikator kesepuluh dari Sasaran Meningkatnya Pemberdayaan Perempuan dan
Perlindungan anak adalah cakupan perempuan dan anak korban kekerasan yang
mendapatkan layanan kesehatan oleh tenaga kesehatan terlatih di Puskesmas
mampu tata-laksana KtP/Adan PPT/PKT di Rumah Sakit. Dari 51 kasus
perempuan dan anak korban kekerasan, 10 kasus yang harus mendapatkan
layanan kesehatan (beupa visum). Dari 10 kasus tersebut telah terlayani
sebanyak 9 orang sehingga capaiak IKKnya sebesar 90,00%.
Indikator kesebelas dari Sasaran Meningkatnya Pemberdayaan Perempuan dan
Perlindungan anak adalah cakupan layanan rehabilitasi sosial yang diberikan
oleh petugas rehabilitasi sosial terlatih bagi perempuan dan anak korban
kekerasan di dalam unit pelayanan terpadu. Dari 51 kasus perempuan dan anak
korban kekerasan sebanyak 10 orang yang harus mendapat layanan rehabilitasi
sosial dan dari 10 tersebut sebanyak 9 orang telah mendapatkan layanan
rehabilitasi sosial, atau capaian IKK sebesar 90,00%.
Indikator kedua belas dari Sasaran Meningkatnya Pemberdayaan Perempuan
dan Perlindungan anak adalah cakupan layanan bimbingan rohani yang diberikan
oleh petugas bimbingan rohani terlatih bagi perempuan dan anak korban
kekerasan di dalam unit pelayanan terpadu. Dari 51 kasus perempuan dan anak
korban kekerasan sebanyak 10 orang yang harus mendapat layanan bimbingan
rohani dan telah tercapai 100%.
Indikator ketiga belas dari Sasaran Meningkatnya Pemberdayaan Perempuan
dan Perlindungan anak adalah Cakupan penegakan hukum dari tingkat
penyidikan sampai dengan putusan pengadilan atas kasus- kasus kekerasan
terhadap perempuan dan anak. Dari 51 kasus perempuan dan anak korban
kekerasan, 11 kasus sampai pada penanganan hukum dan seluruhnya dalam
proses sehingga capaian IKK sebesar 100%.
Indikator keempat belas dari Sasaran Meningkatnya Pemberdayaan Perempuan
dan Perlindungan anak adalah cakupan perempuan dan anak korban kekerasan
yang mendapatkan layanan bantuan hukum, Dari 51 kasus perempuan dan anak
korban kekerasan, 11 kasus sampai pada penanganan hukum semuanya telah
mendapat layanan bantuan hukum, sehingga capaian IKK sebesar 100%.
Indikator kelima belas dari Sasaran Meningkatnya Pemberdayaan Perempuan
dan Perlindungan anak adalah cakupan layanan pemulangan bagi perempuan dan
anak korban kekerasan. Pemulangan artinya proses pengembalian korban
kekerasan kepada keluarga, dan dari 51 kasus perempuan dan anak korban

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 101

kekerasan, 5 kasus yang harus mendapatkan layanan pemulangan dan


seluruhnya sudah terlayani, sehingga capaian IKK sebesar 100%.
Indikator keenam belas dari Sasaran Meningkatnya Pemberdayaan Perempuan
dan Perlindungan anak adalah cakupan layanan reintegrasi sosial bagi
perempuan dan anak korban kekerasan. Indikator ini hampir sama dengan
indikator nomor enam belas, namun tidak hanya kepada keluarganya, juga
integrasi sosial dengan lingkungannya dan dari 51 kasus perempuan dan anak
korban kekerasan, 5 kasus yang harus mendapat layanan reintegrasi sosial dan
semuanya dapat kembali ke keluarga dan lingkungan dengan baik, sehingga
capaian IKK sebesar 100%.
Indikator ketujuh belas dari Sasaran Meningkatnya Pemberdayaan Perempuan
dan Perlindungan anak adalah angka melek huruf perempuan usia 15 tahun ke
atas. Jumlah anak perempuan usia 15 tahun keatas yang sudah mempunyai
kemampuan baca tulis di Kota Magelang pada tahun 2013 tercatat sebanyak
51.085 orang dari 52.832 orang perempuan usia lebih dari 15 tahun. Sehingga
nilai capaian untuk indikator ini mencapai 96,69%.
c. Permasalahan
- Meskipun kasus KDRT di Kota Magelang tahun 2013 sudah turun dibandingkan
tahun 2012, namun dari sisi jumlah kasus dapat dikatakan masih cukup tinggi.
- Untuk data tenaga kerja dibawah umur sampai dengan saat ini belum tersedia.
d. Solusi
- Pada tahun 2012 telah ditetapkan Peraturan Daerah Kota Magelang Nomor 11
tahun 2012 tentang Korban Kekerasan Perempuan dan Anak di Kota Magelang
serta Peraturan Daerah Kota Magelang Nomor 12 Tahun 2012 tentang
Perdagangan Perempuan dan Anak di Kota Magelang. Harapannya dengan
ditetapkannya perda ini, dapat mengurangi kasus KDRT.
- SKPD BPMP dan KB agar lebih intensif dalam mensosialisasikan Perda ini serta
terus melakukan koordinasi kepada pihak-pihak terkait dalam rangka
pencegahan terjadinya KDRT.
- SKPD Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi agar berupaya untuk menyediakan
data terkait tenaga kerja dibawah umur serta melaksanakan langkah-langkah
antisipasi terjadinya eksploitasi terhadap tenaga kerja dibawah umur.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 102

Misi kelima

: Mendorong peningkatan derajat kesehatan, pengembangan kualitas

pendidikan dan sumber daya manusia yang cerdas, terampil, kreatif,


inovatif dan memilki etos kerja yang tinggi

1. Terwujudnya peningkatan kualitas dan kuantitas sumber daya kesehatan


Hasil evaluasi capaian kinerja sasaran meningkatnya kualitas dan kuantitas sumber daya
kesehatan dengan 7 (tujuh) indikator kinerja sasaran, memperlihatkan rata-rata dapat
tercapai sesuai dengan target yang ditentukan. Capaian indikator kinerja sasaran ini
sebesar 210,04% (sangat baik) dengan rincian sebagai berikut :
NO
1
2
3
4
5

Indikator Kinerja Utama

Sat
uan

Tahun 2012

Tahun 2013

Cakupan komplikasi kebidanan yang


ditangani
Rasio dokter persatuan penduduk
Rasio tenaga medis persatuan
penduduk

Targe
t
100

%
%

0,903
---

1,07
---

118,49%
---

0.0004
0.0003

0.0016
0.0011

400.00%
366.67%

Jumlah tenaga kebidanan yang


memiliki kompetensi kebidanan
Cakupan pertolongan persalinan oleh
bidan atau tenaga kesehatan yang
memiliki kompetensi kebidanan

50

100

200%

130

130

100.00%

0.00%

90%

99.95%

111.06%

---

---

---

1,329

1,678

126.26%

----100

----100

----100%

1,167
162
100

1,370
308
386

117.40%
190.12%
386.00%

Jumlah tenaga medis dan non medis


sesuai dengan kebutuhan RS dan
Puskesmas
- Tenaga Medis
- Tenaga non medis
Jumlah tenaga kesehatan yang
terakreditasi

Realis
asi
100

Capaian
Kinerja
100,00%

404

Realisas
i
375

Capaian
Kinerja
92.82%

Target

Berdasarkan pada data tabel tersebut diatas bahwa pelayanan kesehatan kepada
masyarakat Kota Magelang bisa dikatakan baik dan pelayanan kesehatan dapat
diberikan secara optimal. Hal tersebut dapat dilihat dari jumlah rincian tenaga
kesehatan di Kota Magelang dengan Dokter Spesialis 54 orang, Dokter Umum 64
orang, Dokter Gigi Spesialis 2 orang, Dokter Gigi 21 orang dan Jumlah Perawat 1.080
orang, Perawat Gigi 23 orang serta jumlah Bidan 126 orang. Dengan kondisi tersebut
bila dibandingkan dengan jumlah penduduk di Kota Magelang rata rata setiap 1.000
orang dapat dilayani oleh 1,41 dokter dan setiap 1.000 orang dapat dilayani oleh 11,03
perawat serta setiap 1.000 orang dapat dilayani oleh 1,26 Bidan.
2. Terwujudnya peningkatan kualitas sarana dan prasarana kesehatan
Hasil evaluasi capaian kinerja sasaran meningkatnya kualitas sarana dan prasarana
kesehatan, memperlihatkan rata-rata dapat tercapai sesuai dengan target yang
ditentukan. Capaian indikator kinerja sasaran ini sebesar 114,30% (sangat baik) dengan
rincian sebagai berikut :

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 103

NO
1
2
3
4

6
7
8
9
10
11
12
13

14

15

Indikator Kinerja Utama

Sat
uan

Tahun 2012

Terbangunnya informasi
kesehatan yang terpadu
Posyandu Purnama
Posyandu Mandiri
Cakupan pemeriksaan siswa SD
oleh tenaga terlatih/guru
UKS/dokter kecil
Cakupan pemeriksaan siswa TK,
SLTP, SLTA oleh tenaga
kesehatan atau tenaga
terlatih/guru UKS
Cakupan pelayanan kesehatan
remaja
Cakupan rawat jalan terhadap
jumlah penduduk
Cakupan rawat inap terhadap
jumlah penduduk
Cakupan Puskesmas
Cakupan Pembantu Puskesmas
(PUSTU)

Tar
get
40

%
%
%

Jumlah puskesmass santun usila


Pelayanan gangguan jiwa di
sarana pelayanan kesehatan
Sarana kesehatan dengan
kemampuan pelayanan gawat
darurat yang dapat diakses
masyarakat
Cakupan pelayanan gawat
darurat level 1 yg harus
diberikan sarana kesehatan (RS)
di Kab/Kota.
Rasio puskesmas, poliklinik,
pustu per satuan penduduk

Tahun 2013

40

Capaian
Kinerja
100,00%

47
15
100

52,28
25,38
100

111,23%
169,20%
100,00%

55.00%
20%
100%

39.80%
44.90%
100%

72.36%
224.50%
100.00%

80

80

100.00%

80%

82%

102.69%

80

80,52

100.65%

80%

80%

99.88%

---

---

---

119742

223204

186.40%

---

---

---

119742

32571

27.20%

%
%

100
65

0,000042
0,0001

0,00%
0,02%

0.003%
70%

0.004%
0.65%

133.33%
0.93%

unit
%

--3

--1,83

--61,00%

5
3%

5
9.73%

100.00%
324.33%

35

50

142,86%

100%

100%

100.00%

100

100

100,00%

100%

100%

100.00%

---

---

---

17

17

100.00%

Realisasi

Target

Realisasi

50%

50%

Capaian
Kinerja
100.00%

16

Rasio Rumah sakit persatuan


penduduk

---

---

---

7%

7%

100.00%

17

Terwujudnya RSU Tidar


terakreditasi 16 pelayanan yang
menjadi rujukan bagi daerah
sekitar
Cakupan pelayanan gawat
darurat level 1 yang harus
diberikan sarana kesehatan (RS)
di Kabupaten/Kota
Cakupan desa siaga

100

100

100,00%

100%

100%

100.00%

100

100

100,00%

100%

100%

100.00%

---

---

---

100%

100%

100,00%

18

19

Cakupan rawat jalan terhadap jumlah penduduk pada tahun 2013 sebesar 176,90%,
rawat inap 42,02% , Rasio Puskesmas Pustu dan poliklinik terhadap penduduk 0,000168
serta Rasio Rumah Sakit terhadap penduduk 0,000067. Dari cakupan tersebut
merupakan gambaran bahwa pelayanan kesehatan pada masyarakat Kota Magelang
sudah terjangkau/dapat dilayani oleh Rumah Sakit maupun Puskesmas yang ada
diwilayah Kota Magelang. Hal tersebut dapat diukur dengan adanya sarana di Kota

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 104

Magelang antara lain Puskesmas sebanyak 5 unit dimana setiap puskesmas sesuai
standar dapat melayani 30.000 jumlah penduduk diwilayah kota, Puskesmas Pembantu
12 unit (setiap Puskesmas Pembantu sesuai standar dapat melayani 10.000 penduduk
duwilayah Kota) dan Poliklinik 3 unit. Dari data sarana pelayanan kesehatan yang ada
secara umum bahwa pelayanan dasar di Kota Magelang sudah dapat diberikan secara
penuh kepada masyarakat. Namun dalam pelaksanaanya bahwa pelayanan dapat
diberikan secara optimal dan bermutu tidak lepas dari Sumber Daya Manusia, Sarana
Peralatan dan Kondisi Sosial Ekonomi masyarakat.
3. Terwujudnya peningkatan upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat
Hasil evaluasi capaian kinerja sasaran meningkatnya upaya peningkatan derajat
kesehatan masyarakat, memperlihatkan rata-rata dapat tercapai sesuai dengan target
yang ditentukan. Capaian indikator kinerja sasaran ini sebesar 93,27% (sangat baik)
dengan rincian sebagai berikut:
Tahun 2012
NO

Indikator Kinerja Utama

Satuan

Tahun 2013

Cakupan kunjungan ibu hamil


K4
Cakupan Ibu hamil dengan
komplikasi yang ditangani
Cakupan pertolongan
persalinan oleh bidan atau
tenaga kesehatan yang
memiliki kompetensi
kebidanan
Cakupan pelayanan Ibu Nifas

Targe
t
90

100

100

100,00%

90%

92.82%

103.13%

90

100

111,11%

90%

99.95%

111.06%

---

---

---

90%

100.0%

111.11%

Ibu hamil resiko tinggi yang


dirujuk

100

80,40

80,40%

404

307

75.99%

Cakupan kunjungan bayi

100

93,61

93,61%

87%

96.8%

111.23%

Cakupan bayi BBLR ditangani

100

100

100,00%

100%

100%

100.00%

Angka kelangsungan hidup bayi

per
1000 KH

---

---

---

995.19

985.72

99.05%

Angka usia harapan hidup

100

0,0000
42

0,00%

70.69

70.34

99.50%

10

Cakupan pelayanan anak balita.

65

0,0001

0,02%

90%

84.89%

94.32%

11

Cakupan deteksi dini tumbuh


kembang anak balita dan pra
sekolah
Cakupan komplikasi kebidanan
yang ditangani

60

59,48

99,13%

65%

25.98%

39.97%

100

100

100,00%

80.00
%

92.82%

116.03%

13

Cakupan Kelurahan Universal


Child Immunization (UCI)

100

100

100,00%

100%

100.00%

100.00%

14

Balita yang datang dan


ditimbang (D/S)

90

69,05

76,72%

95%

89.20%

93.89%

1
2
3

12

Realisas
i
92,84

Capaian
Kinerja
116,05%

Target

Realisasi

93%

95.60%

Capaian
Kinerja
102.80%

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 105

Tahun 2012
NO
15
16
17

18

19
20
21

22
23

Indikator Kinerja Utama


Balita yang naik berat
badannya (N/D)
Balita Bawah Garis Merah
(BGM)
Akses terhadap ketersediaan
darah dan komponen yang
aman untuk menangani rujukan
ibu hamil dan neonatus
Cakupan Neonatal resiko
tinggi/komplikasi yang
ditangani
Kelurahan dengan garam
beryodium baik
Angka kematian bayi
Cakupan penduduk yang
menjadi peserta jaminan
pemeliharaan kesehatan
prabayar
Cakupan pemanfaatan buku
KIA
Cakupan Penjaringan
kesehatan siswa SD dan
setingkat

Satuan

Tahun 2013

Targe
t
60

Realisas
i
55,06

Capaian
Kinerja
91,77%

Target

Realisasi

60%

59.77%

Capaian
Kinerja
99.62%

3,50

1,53

156,29%

3.50%

1.07%

30.57%

100

100

100,00%

100%

100%

100.00%

100

100

100,00%

80%

46.67%

58.34%

100

100

100,00%

100%

100%

100.00%

per
1000 KH
%

---

---

---

2.86

15.22

---

---

---

95%

95.10%

100.11%

90

100

111,11%

95%

100%

105.26%

100

100

100,00%

100%

100%

100.00%

Dari tabel diatas dapat diketahui adanya beberapa hal yang perlu menjadi perhatian .
Angka kematian bayi, balita dan ibu merupakan tolok ukur yang kuat terkait dengan
derajad kesehatan masyarakat Kota Magelang hal itu dapat dilakukan dengan
peningkatan pelayanan sehingga dapat menekan/menurunkan angka kematian pada bayi,
balita dan ibu bahkan diharapkan tidak terjadi kematian pada kelompok tersebut.
Derajad kesehatan masyarakat Kota Magelang berdasarkan pada capaian data tabel
tersebut diatas menunjukan bahwa masyarakat Kota Magelang sudah cukup baik, namun
masih perlu ada peningkatan penanganan pada kelompok kusus bayi,balita dan ibu
dimulai dari penanganan dini/pelayanan dini pada ibu hamil melalui pendampingan Dokter
Obgin (obstetri genekologi) Kota Magelang kepada Ibu hamil yang ada diwilayah Kota
Magelang khususnya pada ibu yang beresiko tinggi.
4. Terwujudnya peningkatan gizi masyarakat
Hasil evaluasi capaian kinerja sasaran meningkatnya gizi masyarakat, memperlihatkan
rata-rata dapat tercapai sesuai dengan target yang ditentukan. Capaian indikator
kinerja sasaran ini sebesar 106,41% (sangat baik) dengan rincian sebagai berikut:
NO
1
2
3

Indikator Kinerja Utama


Cakupan bayi mendapat kapsul
vitamin A
Cakupan ibu nifas mendapat
kapsul vitamin A
Cakupan ibu hamil mendapat 90
tablet Fe

Sat
uan

Tahun 2012

Targe
t
100%

%
%

Tahun 2013

100%

Capaian
Kinerja
100,00%

100%

99,89%

99,89%

100%

100.00%

100.00%

100%

91,24%

91,24%

100%

95.85%

95.85%

Realisasi

Target

Realisasi

100%

88.15%

Capaian
Kinerja
88.15%

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 106

NO
4

Indikator Kinerja Utama

Sat
uan

Tahun 2012
Targe
t

Tahun 2013
Capaian
Kinerja

Realisasi

Target

Realisasi

100%

100%

Capaian
Kinerja
100.00%

Cakupan pemberian makanan


pendamping ASI pada anak usia
6-24 bulan keluarga miskin.
Cakupan pemberian makanan
pendamping ASI pada bayi BGM
dari keluarga miskin

100

100

100,00%

100%

100%

100.00%

100

100

100,00%

100%

100%

100.00%

7
8

Cakupan Balita gizi buruk


mendapat perawatan
Persentase balita gizi buruk
Kecamatan bebas rawan gizi

%
%

1
100%

0,31
100%

169,00%
100,00%

1%
100%

0.27%
100%

173.00%
100.00%

Bayi mendapat Asi Eksklusif

33%

24,20%

73,33%

35%

45%

128.57%

10

Prosentase Keluarga sadar gizi

80%

58,71%

72,71%

80%

63%

78.49%

Dengan data tabel diatas bahwa status gizi masyarakat kota magelang pada tahun 2013
kususnya pada balita terjadi kenaikan gizi buruk 0,31% tahun 2012 dengan jumlah kasus
20 balita dari 6.491balita menjadi 0,41% tahun 2013 dengan jumlah kasus 26 balita
dari 9.457 balita, Kondisi tersebut perlu dukungan kuat dari pemerintah dalam upaya
mengurangi dan mengatasi masalah gizi buruk. Setiap balita gizi buruk dilakukan
perawatan dan penanganan secara menyeluruh sehingga cakupan perawatan balita gizi
buruk 100%.
5. Terwujudnya pengurangan kasus penyakit menular
Hasil evaluasi capaian kinerja sasaran pengurangan kasus penyakit menular,
memperlihatkan rata-rata dapat tercapai sesuai dengan target yang ditentukan.
Capaian indikator kinerja sasaran ini sebesar 92,57% (sangat baik) dengan rincian
sebagai berikut :
NO
1
2

3
4

Indikator Kinerja Utama


Kelurahan KLB yang ditangani
<24 jam
Cakupan Penemuan dan
penanganan penderita
penyakit
Acute Flacid Paralisis (AFP)
Rate per 100.000 penduduk <
15 tahun
Penemuan Penderita
Pneumonia Balita
Penemuan Pasien Baru TB
BTA Positif
Penderita DBD yang Ditangani
Penemuan Penderita Diare
Kesembuhan penderita TBC
BTA (+)
Penemuan kasus TBC BTA
(+)-CDR

Sat
uan

Tahun 2012

Targe
t
100%

Tahun 2013

100%

Capaian
Kinerja
100,00%

100%

91,24%

91,24%

27601

100.00%

100

100

100,00%

936

518

55.34%

85

100

117,65%

100%

78.13%

78.13%

%
%
%

100
100
85%

100
100
24,39%

100,00%
100,00%
28,69%

100%
100%
> 85 %

100.00%
100.00%
62.50%

100.00%
100.00%
73.53%

70%

96,67%

138,10%

> 70 %

62.50%

89.29%

Realisasi

Target

Realisasi

100%

Tidk ad
KLB

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

Capaian
Kinerja
100.00%

BAB III

- 107

NO
5

6
7
8

Indikator Kinerja Utama


Cakupan penemuan dan
penanganan penderita
penyakit TBC BTA.
Klien AIDS yang mendapatkan
penanganan HIV AIDS
Kasus Infeksi Menular
Seksual (IMS) yang ditangani
Balita dengan diare yang
ditangani
CFR/angka kematian DBD DBD

Sat
uan

Tahun 2012

Targe
t
85%

Tahun 2013

100%

Capaian
Kinerja
117,65%

100%

100%

100,00%

100%

100%

100.00%

100%

100%

100,00%

100%

100%

100.00%

100%

100%

100,00%

100%

73%

73.00%

< 1%
> 95 %

0%
89.47%

100.00%
94.18%

100.00%

Realisasi

1%

0,00%

200,00%

Rumah/bangunan bebas jentik


nyamuk aedes

95%

91,90%

96,74%

11

API Penyakit Malaria (Angka


Kesakitan)

0.10
%

0.00%

200.00%

12

Prevalens Rate Kusta

---

---

---

9
10

Target

Realisasi

>85 %

100.00%

Capaian
Kinerja
117.65%

13

RFT Kusta

---

---

---

<
1/1000
pendudu
k per
tahun
<
1/10000
0
pendudu
k
100%

14

Cakupan Desa/Kelurahan
mengalami KLB yang dilakukan
penyelidikan epidemiologi <24
jam

100%

100%

100,00%

100%

100.00%
0.08/1000
00
penduduk
penderita
msih
dalam
pengobata
n
tidak ada
KLB

---

---

Penderita baru BTA Positif dapat ditemukan dengan baik maka perlu adanya tindak
lanjut yang lebih serius karena Penyakit TB Paru sifatnya menular dan lebih banyak
terjadi pada kalangan ekonomi lemah, lingkungan padat dan kumuh serta sifatnya
menahun, Hal itu perlu adanya penanganan khusus dan serius, bahkan jika perlu
dilakukan kegiatan pelacakan/sweeping penderita TB Paru yang ada di wilayah Kota
Magelang , sedangkan untuk kasus DBD dan KLB dapat ditangani dengan baik dan
dilakukan tindakan sesuai standar operasinal penatalaksanaan pada kasus tersebut.
Permasalahan:
Angka bebas jentik sangat sulit dicapai, karena ada banyak faktor antara lain:
kesadaran masyarakat, musim dan lingkungan yang padat.
Untuk mendapatkan angka/capain pada kasus malaria sangat sulit, karena Kota
Magelang bukan darah endemik malaria.
Pada kasus penyakit kusta yang sifatnya menahun maka untuk mendapatkan
angka/capaian adalah sangat sulit.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 108

6. Terwujudnya peningkatan ketersediaan obat dan perbekalan kesehatan


Capaian indikator kinerja sasaran ini sebesar 100,00% (sangat baik) dengan rincian
sebagai berikut :
NO
1

Indikator Kinerja
Utama
Prosentase
ketersediaan obat
sesuai kebutuhan

Tahun 2012
Satuan
%

Target

Realisasi

100%

66,52%

Tahun 2013
Capaian
Kinerja
66,52%

Target

Realisasi

100%

100%

Capaian
Kinerja
100,00%

Dari uraian pada tabel tersebut diatas bahwa ketersediaan obat dan perbekalan
kesehatan dapat dikatakan cukup baik dan ada peningkatan mendekati 100%.
Ketersediaan obat dan perbekalan kesehatan diharapkan dapat berlangsung terus
menerus sehingga tidak terjadi kekosongan atau kekurangan, untuk hal tersebut sangat
dibutuhkan komitmen yang kuat dari pemerintah bahwa obat dan perbekalan kesehatan
merupakan kewajiban pemerintah untuk menyediakan semaksimal mungkin bahkan dapat
tersesidia seluruhnya sesuai dengan kebutuhan yang ada.
7. Terwujudnya peningkatan jaminan keamanan obat dan makanan bagi kesehatan
masyarakat
Hasil evaluasi capaian kinerja sasaran meningkatnya jaminan keamanan obat dan
makanan bagi kesehatan masyarakat dengan 3 (tiaga) indikator kinerja sasaran,
memperlihatkan rata-rata angka capaian kinerja sasaran dapat tercapai sesaui dengan
target. Capaian indikator kinerja sasaran ini sebesar 112,50% (sangat baik) dengan
rincian sebagai berikut :
NO

Indikator Kinerja Utama

Prosentase jumlah obat dan makanan


yang mendapatkan uji kemanan sehingga
aman dikonsumsi masyarakat
Penyuluhan pencegahan dan
penanggulangan narkotika, psikotropika
dan zat adiktif (P3 Napza/Narkotika,
Psikotropika) dan Bahan berbahaya (P3
Narkoba)
Prosentase penurunan angka korban
keracunan obat dan makanan

Sa
tu
an

Tahun 2012

Tahun 2013

Targe
t
80%

Realisas
i
96,67%

Capaian
Kinerja
120,84%

Targ
et
80%

Realisa
si
100%

Capaian
Kinerja
125.00%

---

---

---

4%

4%

100.00%

---

---

---

0%

0%

tidak ada
kasus

Setiap tahun Dinas Kesehatan Kota Magelang melakukan pembinaan secara rutin kepada
industri rumah tangga pangan. Pembinaan meliputi inspeksi ke tempat pengolahan
makanan untuk melihat proses produksi industri rumah tangga pangan dan melakukan
inspeksi lingkungan sekitar tempat produksi. Para pengusaha juga diberi penyuluhan dan
pelatihan tentang tata cara produksi yang baik dan sehat mulai dari pengolahan bahan
baku, proses produksi hingga pengemasan sebelum dipasarkan. Dari hasil uji/
pemeriksaan sampel pada industri rumah tangga pangan yang mengajukan ijin
penerbitan sampai diterbitkan sertifikasi P-IRT pada tahun 2013 terjadi penurunan

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 109

sedikit yang semula pada tahun 2012 yang lulus uji 96,67% menjadi 95,06% pada tahun
2013.
Permasalahan:
Untuk mendapatkan angka capaian pada prosentase penurunan angka korban keracunan
sangat sulit dicapai karena ukuran kegiatan sulit dilakukan.
8. Terwujudnya peningkatan cakupan jaminan pemeliharaan kesehatan keluarga miskin
dan masyarakat rentan
Hasil evaluasi capaian kinerja sasaran meningkatnya cakupan jaminan pemeliharaan
kesehatan keluarga miskin dan masyarakat rentan, memperlihatkan rata-rata angka
capaian kinerja sasaran dapat tercapai sesaui dengan target yang ditentukan. Capaian
indikator kinerja sasaran ini sebesar 94,65% (sangat baik) dengan rincian sebagai
berikut :
NO
1

3
4
5

Indikator Kinerja Utama


Cakupan Jaminan pemeliharaan
kesehatan Keluarga Miskin dan
Masyarakat Rentan
Cakupan pelayanan kesehatan
rujukan pasien masyarakat
miskin.
Cakupan pelayanan kesehatan
dasar masyarakat miskin
Kepemilikan kartu Jamkesda
Cakupan pemberian makanan
pendamping ASI pada anak usia
6 - 24 bulan keluarga miskin
Jumlah penduduk miskin dan
rentan yang memiliki jaminan
pemeliharaan kesehatan

Tahun 2012

Tahun 2013

Sa
tu
an

Target

Realisasi

100%

100%

Capaian
Kinerja
100,00%

100%

100%

---

%
%

or
an
g

Target

Realisasi

100%

100%

Capaian
Kinerja
100.00%

100,00%

60%

9.72%

16.20%

---

---

100%

134.3%

134.30%

--100%

--100%

--100,00%

80%
100%

95.2%
100%

119.00%
100.00%

27.552

27.552

100,00%

27,552

27,103

98.37%

Berdasarkan indikator didapatkan cakupan pelayanan pada masyarakat miskin di Kota


Magelang 100 % bahkan dengan adanya komitmen pemerintah daerah dalam rangka
penangulangan masyarakat miskin terkait dengan pelayanan kesehatan pada masyarakat
miskin dan rentah pemerintah daerah menganggarkan kegiatan Jamkesda (Jaminisan
Kesehatan Daerah Kota Magelang) dengan menyediakan anggaran khusus pada tahun
2013 sebanyak Rp. 8.227.835.000,- agar semua masyarakat miskin dan rentan yang ada
diwilayah Kota Magelang bisa mendapatkan pelayanan kesehatan secara menyeluruh dan
pari purna.
9. Terwujudnya peningkatan kemandirian masyarakat dalam mengatasi masalah
kesehatan
Hasil evaluasi capaian kinerja sasaran meningkatnya kemandirian masyarakat dalam
mengatasi masalah kesehatan dengan 2 (dua) indikator kinerja sasaran, memperlihatkan
rata-rata angka capaian kinerja sasaran dapat tercapai sesaui dengan target yang
ditentukan. Capaian indikator kinerja sasaran ini sebesar 130,60% (sangat baik) dengan
rincian sebagai berikut :
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 110

NO
1
2

Indikator Kinerja
Utama

Tahun 2012
Satuan

Cakupan Rumah tangga


sehat
Cakupan Kelurahan
Siaga Aktif, Strata 3

Tahun 2013
Target

Realisasi

89,22%

Capaian
Kinerja
91,51%

97,75%

92,40%

Capaian
Kinerja
94,53%

---

---

60%

100%

166,67%

Target

Realisasi

97,50%

---

Untuk mencapai sasaran kemandirian masyarakat dalam mengatasi masalah kesehatan


adalah dengan melakukan pembinaan dan sosialisasi tentang kebiasaan masyarakat
untuk berperilaku hidup bersih dan sehat. Kebiasaan tersebut harus dimulai dari
lingkungan terkecil yaitu rumah tangga/keluarga. Rumah tangga yang sehat akan
mencerminkan kebiasaan berperilaku hidup bersih dan sehat berdasarkan 16 jenis
indiktor meliputi: KIA & Gizi, Kesehatan Lingkungan, gaya hidup dan upaya kesehatan
masyarakat. Rumah tangga dikatakan sehat apabila strata rumah tangga tersebut
berada pada strata sehat utama dan sehat paripurna. Rumah tangga dengan strata
sehat utama apabila memenuhi 11 indikator dari 16 indikator yang ditetapkan.
Sedangkan strata sehat paripurna apabila 16 indikator terpenuhi semuanya.
Desa siaga aktif adalah bentuk pengembangan dari desa siaga yang telah dimulai sejak
tahun 2006, Desa atau Kelurahan siaga aktif adalah desa/kelurahan yang :
Penduduknya dapat mengakses dengan mudah pelayanan kesehatan dasar setiap
hari melalui pos kesehatan desa(poskesdes) atau sarana kesehatan yang ada
diwilayah tersebut seperti Puskesmas, Puskesmas Pembantu atau sarana kesehatan
lainnya.
Penduduknya mengembangkan UKBM dan melaksanakan surveylans berbasis
masyarakat (meliputi pemantauan penyakit, kesehatan ibu dan anak, gizi, lingkungan
dan perilaku), kedaruratan kesehatan dan penanggulangan bencana serta
penyehatan lingkungan sehingga masyarakatnya menerapkan Perilaku Hidup Bersih
dan Sehat (PHBS).
10. Terciptanya lingkungan hidup yang sehat
Hasil evaluasi capaian kinerja sasaran meningkatnya status lingkungan hidup yang sehat
dengan 9 (sembilan) indikator kinerja sasaran, memperlihatkan rata-rata angkacapaian
kinerja sasaran dapat tercapai sesuai dengan target yang ditentukan seperti pada
tabel sbb :
Capaian indikator kinerja sasaran ini sebesar 104,31% (sangat baik) dengan rincian
sebagai berikut :
NO
1
2
3

Tahun 2012

Sa
tu
an

Target

Realisasi

Institusi yang dibina


kesehatan lingkungannya
Rumah sehat

95,75%

Penduduk yang memanfaatkan


jamban

Indikator Kinerja Utama

Tahun 2013
Target

Realisasi

96,46%

Capaian
Kinerja
100,74%

83.00%

95.06%

Capaian
Kinerja
114.53%

89,30%

90,74%

101,61%

87.00%

89.43%

102.79%

88%

91,19%

103,63%

89%

96.74%

108.70%

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 111

NO

Indikator Kinerja Utama

Tahun 2012

Sa
tu
an

Target

Realisasi

Tahun 2013

Rumah yang mempunyai SPAL

96%

88,08%

Capaian
Kinerja
91,75%

Sanitasi tempat umum yang


memenuhi syarat (dalam
kondisi baik)
Penyediaan air bersih dan
sanitasi dasar
- Penduduk kota Magelang
- Penduduk pengguna air
bersih/ air minum
- Pengusaha Industri Air
Minum Isi Ulang
- Pengusaha IRT dan Restoran
Gerakan Cuci Tangan pakai
sabun pada murid SD
Pengawasan Lingkungan
- Industri Rumah Tangga
- RS, Puskesmass, Klinik
Rasio Pengembangan wilayah
sehat (Permukiman, Obyek
Wisata, Industri Rumah
Tangga)

88%

80%

90,91%

83%

93.47%

112.61%

97,5%

94%

96,41%

97.5%

89.13%

91.42%

%
%

85,15%
88,50%

84%
86%

98,65%
97,18%

85.15%
88.50%

77.00%
77.00%

90.43%
87.01%

---

---

---

80.15%

95.24%

118.83%

%
%

80,10%
85%

80%
87%

99,88%
102,35%

80.10%
85%

96.55%
---

120.54%
---

%
%
%
%

----86%
80,20%

----84%
75%

----97,67%
93,52%

--52%
86%
80.25%

--52%
90.63%
80.25%

--100.00%
105.38%
100.00%

7
8

Target

Realisasi

85%

88.18%

Capaian
Kinerja
103.74%

Dari tabel diatas dapat dilihat, pada tahun 2013 prosentase keluarga dengan
penyediaan air bersih 95,26% dengan sebanyak
28.119 rumah tangga yang
menggunakan air bersih dari 37.044 rumah tangga yang diperiksa. Pemeriksaan
dilakukan sepanjang tahun oleh tenaga kesehatan yang ada di Puskesmas wilayah kerja
masing masing dengan menggunakan metode sampling. Prosentase tersebut mengalami
peningkatan dibandingkan pada tahun 2012 yang mencapai 88,64% menjadi 95,26%
pada tahun 2013. Untuk prosentase indikator yang lain mengalami peningkatan juga dan
capaian target telah melebihi dari target yang ditentukan, untuk rumah tangga
menggunakan jamban sehat dari tahun 2012 capaian 91,19% menjadi 96,74% pada tahun
2013 target 88%, kepemilikan tempat sampah sehat dari 81,66% pada tahun 2012
menjadi 87,36% tahun 2013 target 85%, kepemilikan Saluran Pembuangan Air Limbah
(SPAL) dari 88,08% tahun 2012 menjadi 88,18% tahun 2013. Dari berbagai sub
indikator yang perlu diperhatikan guna mempertahankan dan meningkatkan kualitas
lingkungan adalah penyampaian informasi kepada masyarakat untuk berperilaku hidup
bersih dan sehat merupakan keharusan/wajib dilaksanakan oleh seluruh masyarakat
Kota Magelang. Prosentase pengawasan lingkungan industri rumah tangga pangan
merupakan keharusan agar dilakukan pengawasan secara menyeluruh (100%) harus
diawasi. Prosentase tempat umum dan pengelolaan makanan (TPUM) sehat cakupan pada
tahun 2012 sebanyak 88,29% meningkat menjadi 93,47% pada tahun 2013 dari 245
yang diperiksa yang sehat 229 target 80%. Prosentase institusi dibina kesehatan
lingkunganya capaianya 96,46% tahun 2012 dari data 509 yang dibina 491 terjadi
sedikit penurunan menjadi 95,96% pada tahun 2013 dari data sebanyak 567 yang dibina
539 target 80%.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 112

11. Terkendalinya pertumbuhan penduduk serta meningkatnya keluarga yang


berkualitas dan sejahtera
a. Dalam rangka mewujudkan mewujudkan sasaran strategis Terkendalinya
pertumbuhan penduduk serta meningkatnya keluarga yang berkualitas dan
sejahtera, telah dialokasikan anggaran dalam APBD Kota Magelang khususnya
SKPD BPM, P dan KB sebesar Rp. 1.676.768.000,- yaitu :

b.

1.

Program Keluarga Berencana, melalui kegiatan penyediaan Pelayanan KB dan


alat kontrasepsi bagi keluarga miskin dengan anggaran sebesar Rp.
4.000.000,- Kegiatan Pelayanan Komunikasi, Informasi dan Edukasi dengan
anggaran sebesar Rp. 10.000.000,- Kegiatan Peningkatan Perlindungan Hak
Reproduksi Individu dengan anggaran sebesar Rp. 12.163.000,- Kegiatan
Pembinaan Keluarga Berencana dengan anggaran sebesar Rp. 4.000.000,Kegiatan Pembangunan Gedung Balai Penyuluhan KB dengan alokasi anggaran
sebesar Rp. 941.086.000,-Kegiatan Pengadaan Sarana mobilitas tim KB
keliling dengan anggaran sebesar Rp. 605.880.000,-

2.

Program Kesehatan Reproduksi Remaja, melalui Kegiatan advokasi dan KIE


tentang Kesehatan reproduksi remaja (KRR) dengan anggaran sebesar Rp.
4.096.000,-

3.

Program Pelayanan Kontrasepsi, melalui Kegiatan Pelayanan Konseling KB


dengan anggaran sebesar Rp. 7.579.000,-Kegiatan Pelayanan Pemasangan
Kontrasepsi KB dengan anggaran sebesar Rp. 13.500.000,-Kegiatan Pengadaan
alat kontrasepsi dengan anggaran sebesar Rp. 7.500.000,- Kegiatan Pelayanan
KB Medis Operasi dengan anggaran sebesar Rp. 13.637.000,-

4.

Program Pembinaan peran serta masyarakat dalam pelayanan KB/KR yang


mandiri, melalui Kegiatan Fasilitasi pembentukan masyarakat peduli KB
dengan anggaran sebesar Rp. 25.000.000,-

5.

Program Pengembangan pusat pelayanan informasi dan konseling KRR, melalui


kegiatan Pendirian pusat pelayanan informasi dan konseling KRR dengan
alokasi anggaran sebesar Rp. 3.196.000,-dan Kegiatan Fasilitasi forum
pelayanan KKR bagi kelompok remaja dan kelompok sebaya diluar sekolah
dengan alokasi anggaran sebesar Rp. 3.196.000,-

6.

Program Penyiapan tenaga pendamping kelompok bina keluarga di kelurahan,


melalui Kegiatan Pelatihan Tenaga pendamping kelompok bina keluarga di
kelurahan dengan anggaran sebesar Rp. 21.935.000,-

Capaian indikator kinerja sasaran ini sebesar 105,20% (sangat baik) sebesar
sebagai berikut :

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 113

NO

Indikator Kinerja Utama

Sa
tu
an

Tahun 2012

Tahun 2013

Rata-rata jumlah anak per keluarga

Targe
t
0.25

Rasio akseptor KB

70,00

76,00

108,57%

78,00

80,75

103,53%

Cakupan peserta KB aktif


Peserta KB Keluarga Pra Sejahtera dan
keluarga Sejahtera I
Cakupan Pasangan Usia Subur yang
isterinya dibawah usia 20 tahun 3,5%
Cakupan sasaran Pasangan Usia Subur
menjadi Peserta KB aktif 65%

80,00

81.83

102.28%

78,00

80,75

103,53%

70,00

74.93

107.04%

64,00

80,00

125%

0,4

0,55

136.94%

0,35

0,35

100%

77,00

81.83

106.27%

78,00

80,76

103,54%

4
5
6

Realis
asi
0.44

Capaian
Kinerja
176,32%

Targe
t
0,5

Realisa
si
0,30

Capaian
Kinerja
140,00%

Cakupan Pasangan Usia Subur yang ingin


ber-KB tidak terpenuhi (Unmet Need)
5%

10,00

10,89

91,12%

9,00

6,39

71,00%

Cakupan Anggota Bina Keluarga Balita


(BKB) ber-KB 70%

77,00

99,50

129,22%

79,00

100

126,58%

87,00

99,82

114,74%

89,00

99,81

112,15%

100

100

100%

100

100

100%

10

Cakupan PUS Peserta KB Anggota Usaha


Peningkatan Pendapatan Keluarga
Sejahtera (UPPKS) yang ber-KB 87%
Ratio Petugas Lapangan Keluarga
Berencana/Penyuluh Keluarga
berencana (PKB) 1 Petugas di setiap 2
(dua ) Desa/Kelurahan

11

Ratio Pembantu Pembina Keluarga


Berencana (PPKBD) 1 (satu ) petugas di
setiap Desa/Kelurahan

100

100

100%

100

100

100%

12

Cakupan penyediaan alat dan obat


Kontrasepsi untuk memenuhi permintaan
masyarakat 30% setiap tahun

30

30

100%

30

30

100%

13

Cakupan penyediaan informasi data


mikro keluarga di setiap
Desa/Kelurahan 100% setiap tahun

100

100

100%

100

100

100%

14

Presentase pasangan usia subur (PUS)


yang ingin ber-KB namun tidak terlayani
KB (unmet-need)

10,00

10.89

91,12%

10,00

5,38

53,80%

9,00

9.02

100.26%

10,00

5,24

52,40%

73,00

55.96

76.66%

75,00

55,08

73,44%

15
16

Partisipasi laki-laki dalam ber-KB


Presentase pasangan usia subur (PUS)
yang ber-KB secara mandiri

17

Presentase peserta KB yang putus pakai


(drop out)

10,00

6.38

136,17%

5,00

5,62

112,4%

18

Prosentase perempuan yang menikah di


bawah 20 tahun

5,5

4,00

127,27%

4,00

4,00

100%

19

Prosentase keluarga yang mempunyai


balita dan ikut dalam kegiatan Kelompok
Bina Keluarga Balita (BKB)

25,00

25,00

100%

100

79,35

79,35%

20

Prosentase keluarga yang mempunyai


remaja dan ikut dalam kegiatan
kelompok Bina Keluarga remaja (BKR)

12,00

12,00

100%

25,00

95,91

383,64%

100

100

100%

100

100

100%

100

100

100%

100

100

100%

3,00

3.25

91,67%

3,00

0,15

5,00%

3,00

2.67

111%

2,00

2,00

100%

21
22
23
24

Prosentase kelurahan yang mempunyai


kelompok BKL aktif
Prosentase Kelurahan yang mempunyai
kelompok UPPKS aktif
Prosentase Kehamilan pada ibu yang
berumur kurang dari 20 Tahun
Prosentase kehamilan pada ibu yang
jarak kehamilannya kurang dari 3 tahun

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 114

NO

25
26
27
28

Indikator Kinerja Utama


Prosentase kehamilan pada ibu yang
berumur lebih dari 35 tahun
Prosentase wilayah RT, yang mempunyai
data mikro
Prosentase Kelurahan yang
memanfaatkan data mikro keluarga
Prosentase Institusi masyarakat
pengelola program KB yang aktif di
kelurahan

Sa
tu
an

Tahun 2012

Tahun 2013

Targe
t

Realis
asi

Capaian
Kinerja

Targe
t

Realisa
si

Capaian
Kinerja

2,00

1.77

111,5%

2,00

2,00

100%

100

100

100%

100

100

100%

100

100

100%

100

100

100%

85

85

100%

90

90

100%

Indikator pertama dari Sasaran Terkendalinya pertumbuhan penduduk serta


meningkatnya keluarga yang berkualitas dan sejahtera adalah Rata-rata jumlah
anak per keluarga. Realisasi Tahun 2013 sebesar 0,30% atau menurun sebesar
0,14% dibanding tahun 2012 sebesar 0,44%. Penurunan realisasi ini bermakna
positif, artinya bahwa jumlah anak di setiap keluarga telah menurun, dimana
tahun 2013 jumlah anak sebanyak 10.074 dan jumlah keluarga sebanyak
34.077.

Indikator kedua dari Sasaran Terkendalinya pertumbuhan penduduk serta


meningkatnya keluarga yang berkualitas dan sejahtera adalah Rasio akseptor
KB. Realisasi Tahun 2013 sebesar 80,75% atau meningkat sebesar 10,75%
dibanding tahun 2012 sebesar 70,00%. Adapun jumlah akseptor KB tahun 2013
sebanyak 14.421 orang atau meningkat sebanyak 196 orang dibandingkan tahun
2012 sebanyak 14.225 orang.

Indikator ketiga dari Sasaran Terkendalinya pertumbuhan penduduk serta


meningkatnya keluarga yang berkualitas dan sejahtera adalah Cakupan peserta
KB aktif. Realisasi Tahun 2013 sebesar 80,75% atau turun sebesar 1,08%
dibanding tahun 2012 sebesar 81,83%.

Indikator keempat dari Sasaran Terkendalinya pertumbuhan penduduk serta


meningkatnya keluarga yang berkualitas dan sejahtera adalah Peserta KB
Keluarga Pra Sejahtera dan keluarga Sejahtera I. Realisasi Tahun 2013
sebesar 80,00% atau meningkat sebesar 5,07% dibanding tahun 2012 sebesar
74,93%.

Indikator kelima dari Sasaran Terkendalinya pertumbuhan penduduk serta


meningkatnya keluarga yang berkualitas dan sejahtera adalah Cakupan
Pasangan Usia Subur yang isterinya dibawah usia 20 tahun 3,5%. Realisasi
Tahun 2013 sebesar 0,35% atau turun sebesar 2,91% dibanding tahun 2012
sebesar 0,55%. Penurunan realisasi ini bermakna positif, artinya bahwa jumlah
PUS yang istrinya dibawah usia 20 tahun telah berkurang, berarti kesadaran
masyarakat untuk menikah di usia yang sudah matang telah meningkat.

Indikator keenam dari Sasaran Terkendalinya pertumbuhan penduduk serta


meningkatnya keluarga yang berkualitas dan sejahtera adalah Cakupan sasaran
Pasangan Usia Subur menjadi Peserta KB aktif 65%. Realisasi Tahun 2013

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 115

sebesar 80,76% atau menurun sebesar 1,07% dibanding tahun 2012 sebesar
81,83%. Penurunan ini terkait dengan indikator kelima, dimana jumlah PUS di
tahun 2013 juga menurun.
-

Indikator ketujuh dari Sasaran Terkendalinya pertumbuhan penduduk serta


meningkatnya keluarga yang berkualitas dan sejahtera adalah Cakupan
Pasangan Usia Subur yang ingin ber-KB tidak terpenuhi (Unmet Need) 5%.
Realisasi Tahun 2013 sebesar 6,39% atau turun sebesar 4,5% dibanding tahun
2012 sebesar 10,89%. Penurunan realisasi ini bermakna positif, artinya bahwa
pelayanan bagi PUS yang ingin ber-KB telah meningkat, karena semakin sedikit
yang tidak terlayani.

Indikator kedelapan dari Sasaran Terkendalinya pertumbuhan penduduk serta


meningkatnya keluarga yang berkualitas dan sejahtera adalah Cakupan Anggota
Bina Keluarga Balita (BKB) ber-KB 70%. Realisasi Tahun 2013 sebesar 100%
atau meningkat sebesar 0,5% dibanding tahun 2012 sebesar 99,50%.

Indikator kesembilan dari Sasaran Terkendalinya pertumbuhan penduduk


serta meningkatnya keluarga yang berkualitas dan sejahtera adalah Cakupan
PUS Peserta KB Anggota Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera
(UPPKS) yang ber-KB 87%. Realisasi Tahun 2013 sebesar 99,81% atau turun
sebesar 0,01% dibanding tahun 2012 sebesar 99,82%.

Indikator kesepuluh dari Sasaran Terkendalinya pertumbuhan penduduk serta


meningkatnya keluarga yang berkualitas dan sejahtera adalah Ratio Petugas
Lapangan Keluarga Berencana/Penyuluh Keluarga berencana (PKB) 1 Petugas di
setiap 2 (dua ) Desa/Kelurahan. Realisasi Tahun 2013 sebesar 100% atau sama
dengan tahun 2012.

Indikator kesebelas dari Sasaran Terkendalinya pertumbuhan penduduk serta


meningkatnya keluarga yang berkualitas dan sejahtera adalah Ratio Pembantu
Pembina Keluarga Berencana (PPKBD) 1 (satu ) petugas di setiap
Desa/Kelurahan. Realisasi Tahun 2013 sebesar 100% sama dengan tahun 2012.

Indikator kedua belas dari Sasaran Terkendalinya pertumbuhan penduduk


serta meningkatnya keluarga yang berkualitas dan sejahtera adalah Cakupan
penyediaan alat dan obat Kontrasepsi untuk memenuhi permintaan masyarakat
30% setiap tahun. Realisasi Tahun 2013 sebesar 30,00% atau sama dengan
tahun 2012.

Indikator ketiga belas dari Sasaran Terkendalinya pertumbuhan penduduk


serta meningkatnya keluarga yang berkualitas dan sejahtera adalah Cakupan
penyediaan informasi data mikro keluarga di setiap Desa/Kelurahan 100%
setiap tahun. Realisasi Tahun 2013 sebesar 100% sama dengan tahun 2012.

Indikator keempat belas dari Sasaran Terkendalinya pertumbuhan penduduk


serta meningkatnya keluarga yang berkualitas dan sejahtera adalah
Presentase pasangan usia subur (PUS) yang ingin ber-KB namun tidak terlayani
KB (unmet-need). Realisasi Tahun 2013 sebesar 5,38% atau turun sebesar

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 116

5,51% dibanding tahun 2012 sebesar 10,89%. Penurunan realisasi ini bermakna
positif, artinya bahwa pelayanan bagi PUS yang ingin ber-KB telah meningkat,
karena semakin sedikit yang tidak terlayani.
-

Indikator kelima belas dari Sasaran Terkendalinya pertumbuhan penduduk


serta meningkatnya keluarga yang berkualitas dan sejahtera adalah Partisipasi
laki-laki dalam ber-KB. Realisasi Tahun 2013 sebesar 5,24% atau turun sebesar
3,78% dibanding tahun 2012 sebesar 9,02%.

Indikator keenam belas dari Sasaran Terkendalinya pertumbuhan penduduk


serta meningkatnya keluarga yang berkualitas dan sejahtera adalah
Presentase pasangan usia subur (PUS) yang ber-KB secara mandiri. Realisasi
Tahun 2013 sebesar 55,08% atau turun sebesar 0,88% dibanding tahun 2012
sebesar 55,96%.

Indikator ketujuh belas dari Sasaran Terkendalinya pertumbuhan penduduk


serta meningkatnya keluarga yang berkualitas dan sejahtera adalah
Presentase peserta KB yang putus pakai (drop out). Realisasi Tahun 2013
sebesar 5,62% atau turun sebesar 0,76% dibanding tahun 2012 sebesar
6,38%. Penurunan ini bermakna positif, karena menunjukkan pentingnya
kesadaran masyarakat akan ber-KB sehingga tidak melepas alat kontrasepsi
apabila sudah mempunyai 2 anak.

Indikator kedelapan belas dari Sasaran Terkendalinya pertumbuhan penduduk


serta meningkatnya keluarga yang berkualitas dan sejahtera adalah
Prosentase perempuan yang menikah di bawah 20 tahun. Realisasi Tahun 2013
sebesar 4,00% atau sama dengan tahun 2012.

Indikator kesembilan belas dari Sasaran Terkendalinya pertumbuhan


penduduk serta meningkatnya keluarga yang berkualitas dan sejahtera adalah
Prosentase keluarga yang mempunyai balita dan ikut dalam kegiatan Kelompok
Bina Keluarga Balita (BKB). Realisasi Tahun 2013 sebesar 79,35% atau
meningkat sebesar 54,35% dibanding tahun 2012 sebesar 25,00%.

Indikator kedua puluh dari Sasaran Terkendalinya pertumbuhan penduduk


serta meningkatnya keluarga yang berkualitas dan sejahtera adalah
Prosentase keluarga yang mempunyai remaja dan ikut dalam kegiatan kelompok
Bina Keluarga Remaja (BKR). Realisasi Tahun 2013 sebesar 95,91% atau
meningkat sebesar 83,91% dibanding tahun 2012 sebesar 12,00%.

Indikator kedua puluh satu dari Sasaran Terkendalinya pertumbuhan penduduk


serta meningkatnya keluarga yang berkualitas dan sejahtera adalah
Prosentase kelurahan yang mempunyai kelompok BKL aktif. Realisasi Tahun
2013 sebesar 100% atau sama dengan tahun 2012.

Indikator kedua puluh dua dari Sasaran Terkendalinya pertumbuhan penduduk


serta meningkatnya keluarga yang berkualitas dan sejahtera adalah
Prosentase Kelurahan yang mempunyai kelompok UPPKS aktif. Realisasi Tahun
2013 sebesar 100% atau sama dengan tahun 2012.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 117

Indikator kedua puluh tiga dari Sasaran Terkendalinya pertumbuhan penduduk


serta meningkatnya keluarga yang berkualitas dan sejahtera adalah
Prosentase Kehamilan pada ibu yang berumur kurang dari 20 Tahun. Realisasi
Tahun 2013 sebesar 0,15% atau turun sebesar 3,1% dibanding tahun 2012
sebesar 3,25%. Penurunan realisasi ini bermakna positif, dan berkaitan dengan
indikator kedelapan adanya penurunan jumlah ibu yang berumur kurang dari 20
tahun.

Indikator kedua puluh empat dari Sasaran Terkendalinya pertumbuhan


penduduk serta meningkatnya keluarga yang berkualitas dan sejahtera adalah
Prosentase kehamilan pada ibu yang jarak kehamilannya kurang dari 3 tahun.
Realisasi Tahun 2013 sebesar 2,00% atau turun sebesar 2,91% dibanding tahun
2012 sebesar 2,67%. Penurunan realisasi ini bermakna positif, artinya bahwa
semakin banyak ibu yang menyadari pentingnya jarak aman persalinan.

Indikator kedua puluh lima dari Sasaran Terkendalinya pertumbuhan penduduk


serta meningkatnya keluarga yang berkualitas dan sejahtera adalah
Prosentase kehamilan pada ibu yang berumur lebih dari 35 tahun. Realisasi
Tahun 2013 sebesar 2,00% atau meningkat sebesar 0,32% dibanding tahun
2012 sebesar 1,77%.

Indikator kedua puluh enam dari Sasaran Terkendalinya pertumbuhan


penduduk serta meningkatnya keluarga yang berkualitas dan sejahtera adalah
Prosentase wilayah RT, yang mempunyai data mikro. Realisasi Tahun 2013
sebesar 100% atau sama dengan tahun 2012.

Indikator kedua puluh tujuh dari Sasaran Terkendalinya pertumbuhan


penduduk serta meningkatnya keluarga yang berkualitas dan sejahtera adalah
Prosentase Kelurahan yang memanfaatkan data mikro keluarga. Realisasi Tahun
2013 sebesar 100% atau sama dengan tahun 2012.

Indikator kedua puluh delapan dari Sasaran Terkendalinya pertumbuhan


penduduk serta meningkatnya keluarga yang berkualitas dan sejahtera adalah
Prosentase Institusi masyarakat pengelola program KB yang aktif di kelurahan.
Realisasi Tahun 2013 sebesar 90,00% atau meningkat sebesar 5,00%
dibanding tahun 2012 sebesar 85,00%.
Permasalahan
Permasalahan dalam mewujudkan sasaran terkendalinya pertumbuhan penduduk
serta meningkatnya keluarga yang berkualitas dan sejahtera, terbagi dalam dua
hal yaitu :

Dalam rangka mengendalikan jumlah penduduk, dengan permasalahan sebagai


berikut :

c.

Masih adanya Pasangan Usia Subur (PUS) yang berusia kurang dari 20 tahun.
Masih terjadi kehamilan pada ibu yang berumur lebih dari 35 tahun.
Masih rendahnya partisipasi laki-laki dalam ber-KB.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 118

Masih terbatasnya penyediaan alat dan obat kontrasepsi bagi masyarakat


terutama masyarakat miskin sehingga masih terdapat PUS dari masyarakat
kurang mampu yang ingin ber-KB belum terlayani.
-

Dalam rangka menciptakan keluarga yang berkualitas dan sejahtera, dengan


permasalahan sebagai berikut :
Masih adanya keluarga yang memiliki balita dan lansia namun belum aktif
dalam keanggotaan Bina Keluarga Balita (BKB) dan Bina Keluarga Lansia
(BKL).
Masih rendahnya keikutsertaan PUS Peserta KB dalam Kelompok Usaha
Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera (UPPKS).

d.

Solusi
-

Terkait permasalahan dalam rangka


disarankan solusi sebagai berikut :

mengendalikan

jumlah

penduduk,

Dalam rangka meningkatkan kesadaran pentingnya menikah di usia matang


(kesiapan secara biologis) atau diatas 20 tahun serta resiko kehamilan pada
ibu yang berumur lebih dari 35 tahun diperlukan peningkatan pengetahuan
bagi PUS dan ibu yang berumur lebih dari 35 tahun akan adanya resiko
kehamilan dalam usia resiko (dibawah 20 th maupun diatas 35 th), melalui
pembinaan/peningkatan pengetahuan baik secara langsung dengan
dilaksanakannya kegiatan oleh bidang keluarga sejahtera di BPMP, dan KB
maupun pendekatan secara langsung kepada sasaran sebagaimana tersebut
diatas oleh para petugas PLKB yang tersebar di seluruh kelurahan se Kota
Magelang.
Dalam rangka meningkatkan partisipasi laki-laki dalam ber-KB, dapat
dilakukan melalui komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) kepada sasaran,
yang dilaksanakan melalui safari KB ( memanfaatkan momentum hari
nasional) misalnya TNI manunggal KB Kes, KB Kes Bhayangkara, dan
diperlukan inovasi dalam menciptakan alat kontrasepsi bagi pria yang lebih
bervariasi (tidak hanya kondom dan MOP), sehingga lebih menarik sasaran
untuk berpartisipasi dalam ber-KB.
Dalam rangka meningkatkan penyediaan alat dan obat kontrasepsi bagi
masyarakat terutama masyarakat miskin, BPM,P dan KB Kota Magelang telah
mengalokasikan anggaran dalam APBD dan mengusulkan dalam menu DAK,
sehingga diharapkan ke depan masyarakat kurang mampu semuanya dapat
terlayani untuk ber-KB.
-

Terkait permasalahan dalam rangka menciptakan keluarga yang berkualitas dan


sejahtera, disarankan solusi sebagai berikut :
Dalam rangka meningkatkan keanggotaan keluarga dalam Bina Keluarga
Balita (BKB) dan Bina Keluarga Lansia (BKL), diperlukan kesadaran bagi
keluarga akan pentingnya pengetahuan untuk mengelola balita dan lansia

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 119

sehingga menjadi balita yang sehat dan lansia yang mandiri, melalui
pembinaan bagi BKB dan BKL oleh SKPD BPM, P dan KB. Pada tahun 2013
telah dilaksanakan pembentukan BKB di seluruh kelurahan di Kota Magelang,
sehingga diharapkan pada tahun berikutnya keanggotaan keluarga dalam
BKB dapat meningkat. Dipertimbangkan pula untuk dilaksanakan
pembentukan BKL di masing-masing kelurahan.
Dalam rangka meningkatkan keikutsertaan PUS Peserta KB dalam Kelompok
Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera (UPPKS), diperlukan
peningkatan pengetahuan tentang UPPKS bagi PUS peserta KB, melalui
kegiatan pembinaan baik kepada kelompok UPPKS nya maupun kepada
sasaran dimaksud.
12. Terwujudnya peningkatan pelayanan dan rehabilitasi kesejahteraan sosial
Capaian indikator kinerja sasaran ini sebesar 64,09% (cukup) dengan rincian sebagai
berikut :
NO

Indikator Kinerja Utama

Jumlah sarana sosial (panti jompo, panti


asuhan, panti rehabilitasi)
Persentase (%) panti sosial skala kab/kota
yang menyediakan sarana prasarana
pelayanan kesejahteraan sosial
Persentase (%) wahana kesejahteraan
sosial berbasis masyarakat (WKBSM)
yang menyediakan sarana prasarana
pelayanan kesejahteraan sosial
Persentase (%) penyandang cacat fisik
dan mental, serta lanjut usia tidak
potensial yang telah menerima jaminan
sosial

Sat
uan

Tahun 2012

Tahun 2013

unit

Targe
t
11

Realis
asi
11

Capaian
Kinerja
100%

Targe
t
8

Realisas
i
13

Capaian
Kinerja
163%

---

---

---

100%

69.23%

69.23%

30%

20%

66,67%

40%

0%

0%

20%

20%

100%

25%

6.16%

24.64%

Penangananan terhadap penyandang masalah kesejahteraan sosial di Kota Magelang


dilakukan secara kontinyu melalui kegiatan razia PGOT, Identifikasi data serta
kegiatan pembinaan dan penyuluhan tentang ketertiban umum. Dinamika permasalahan
sosial di kota magelang tidak bisa hanya dibatasi oleh suatu batasan wilayah, objek
permasalahan sosial serta penanganan permasalahan secara parsial. Mutlak, Kerja Sama
Antar Daerah dibidang ini sangat penting terutama dalam pelaksanaan koordinasi
bersama penanganan permasalahan sosial dan menghilangkan ego daerah yang hanya
sekedar saling melempar permasalahan. Dalam rangka peningkatan perlindungan sosial
terhadap penyandang PMKS, Pemerintah Kota Magelang melakukan pembinaan terhadap
sarana sosial seperti Panti Jompo, Panti Asuhan, panti rehabilitasi serta media lain
serta penyediaan sarana dan prasarana pelayanan kesejahteraan sosial.
Di Kota Magelang pada tahun 2013 terdapat sekitar 13 sarana sosial dari 8 sarana sosial
yang ditargetkan. Terkait dengan penyediaan sarana prasarana panti sosial bagi
penghuni panti yang tinggal di panti telah terpenuhi sebesar 69,23%.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 120

Tabel 3.4
Jumlah Penduduk Penyandang Masalah sosial di Kota Magelang Tahun 2011 s.d 2013
No.
a)

Penduduk Penyandang Masalah Sosial


Penduduk Rawan Sosial dan Sarana

Th 2011
198

Th 2012

Th 2013
106

1
2

Anak Jalanan
Penderita Sakit Jiwa (eks Psikotik)

32
126

60
141

35

3
4

Gembel dan Pengemis


Jumlah Penderita HIV/AIDS

27
-

38
2

36
3

Jumlah Pecandu Narkoba


Sarana Rehabilitasi Sosial/Jumlah Yang Dilayani

13
8.156

11

32
4.876

1
2

Fakir Miskin
Balita Terlantar

6.687
32

8.843
75

3989
68

Anak Terlantar

142

173

4
5

558
-

Lanjut Usia Terlantar


Komunitas Adat Terpencil
Penyandang Cacaat
Penyandang Tuna Netra

2
3

Penyandang Tuna Rungu


Penyandang Tuna Wicara

4
5

Penyandang Tuna Wicara-Rungu


Penyandand Tuna Daksa

6
7
8

b)

c)

187
632

70

605
55

53
212

52
223

37
157

Penyandang Tuna Grahita


Penyandang Cacat Jiwa

87
213

93
266

61
153

Penyandang Cacat Ganda


Tuna Susila
Bekas Narapidana
Pengidap HIV/AIDS
Korban Penyalahgunaan NAPZA

39
1
60
5
11

32
7
84

14
9
87

11

32

56

Sumber : Disnakertransos Kota Magelang,2013,


Disamping penyediaan fasilitas pelayanan dan rehabilitasi di panti-panti tersebut,
dalam proses penyelenggaraan perlindungan kesejahteraan sosial sangat diperlukan
dukungan dan partisipasi dari masyarakat..

Indikator terakhir dari Sasaran Meningkatnya pelayanan dan rehabilitasi


kesejahteraan sosial, yaitu Persentase (%) penyandang cacat fisik dan mental, serta
lanjut usia tidak potensial yang telah menerima jaminan sosial. Dari 1.168 penyandang
cacat fisik dan lanjut usia yang tidak potensial di Kota Magelang, 72 orang telah
menerima jaminan sosial atau sebanyak 6.16% telah menerima jaminan sosial. Dengan
demikian nilai capaian kinerja dari penyandang cacat fisik dan mental, serta lanjut usia
tidak potensial yang telah menerima jaminan sosial pada tahun 2013 adalah sebesar
6,16 %. Hal ini menunjukkan bahwa sebanyak 93,84% penyandang cacat fisik dan
mental, serta lanjut usia tidak potensial belum memperoleh Jaminan sosial.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 121

13. Terwujudnya peningkatan pembinaan eks penyandang penyakit sosial


Pengertian pemberdayaan masyarakat adalah proses Langkah pemberdayaan
masyarakat merupakan upaya meningkatkan kualitas hidup, kesejahteraan dan keadilan
sosial bagi para Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS), pada dasarnya
menyangkut peningkatan berbagai aspek kehidupan manusia seperti pangan, sandang,
perumahan, pendidikan dan ketrampilan, kesehatan, pemeliharaan penghasilan,
pelayanan kerja, pelayanan sosial personal dan lain sebagainya. Sesuai dengan kebijakan
nasional pembangunan kesejahteraan sosial, fungsi kesejahteraan sosial adalah
pencegahan, rehabilitasi, pemberdayaan dan perlindungan sosial, serta pemberian
bantuan dan jaminan kesejahteraan sosial, sehingga pelayanan kesejahteraan sosial
yang diberikan kepada PMKS diharapkan dapat meningkatkan fungsi sosial anak,
keluarga dan komunitas agar aksesibilitas terhadap pelayanan sosial dasar dapat
diperoleh atau ditingkatkan.
Capaian indikator kinerja sasaran ini sebesar 94,38% (sangat baik) dengan rincian
sebagai berikut :
NO

Indikator Kinerja Utama

Prosentase penanganan terhadap penyandang


masalah kesejahteraan sosial
Persentase (%) PMKS skala kab/kota yang
memperoleh bantuan sosial untuk pemenuhan
kebutuhan dasar.
Persentase (%) PMKS skala kab/kota yang
menerima program pemberdayaan sosial
melalui Kelompok Usaha Bersama (KUBE) atau
kelompk sosial ekonomi sejenis lainnya
Persentase (%)korban bencana skala kab/kota
yang menerima bantuan sosial selama masa
tanggap darurat
Persentase (%) korban bencana skala
kab/kota yang dievakuasi menggunakan sarana
prasarana tanggap darurat lengkap

Sa
tu
an

Tahun 2012

Tahun 2013

Targe
t
6,15%

Realis
asi
4,55%

Capaian
Kinerja
90,10%

Targe
t
8.45%

Realis
asi
8,45%

Capaian
Kinerja
100%

6,15%

2,16%

41,98%

8.45%

8,45%

100%

20%

20%

100%

40%

31%

78%

---

---

---

0.5%

0.5%

100%

---

---

---

---

---

---

Berdasarkan realisasi kegiatan bidang sosial Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan
Sosial Kota Magelang, dari 6.530 PMKS yang ada di Kota Magelang pada tahun 2013,
terdapat sejumlah PMKS yang tertangani sebanyak 1900 orang, dengan perincian 249
orang tertangani melalui Anggaran APBD Propinsi sedangkan sebanyak 1.651 orang
tertangani melalui anggaran APBD Kota Magelang Tahun 2013.
Jumlah PMKS yang diberikan bantuan sosial di Tahun 2013 adalah sebanyak 187 orang
mendapatkan bantuan sosial dari anggaran APBD Propinsi dengan perincian PGOT
sebanyak 20 orang, Anak Nakal sebanyak 25 orang dan Wanita Rawan Sosial sebanyak
50 masing-masing sebesar 1 juta rupiah dan 2 KUBE (20 orang) mendapatkan bantuan 15
juta serta 72 orang lansia mendapatkan bantuan 200 ribu selama 12 bulan. Sedangkan
dari anggaran APBD Kota Magelang yang terdiri dari 319 orang mendapatkan dana
bantuan sosial sebesar masing-masing Rp.750.000, 42 orang Penyandang cacat
mendapatkan bantuan uang 1 juta, 14 orang penyandang cacat mendapatkan alat bantu,
26 orang veteran mendapatkan tali asih masing-masing 1 juta rupiah. Selama Tahun

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 122

2013 telah diberikan bantuan uang terhadap 129 orang terlantar yang kehabisan bekal
di Kota Magelang.

Dalam penanganan terhadap PMKS baik yang bersifat preventif, kuratif maupun
rehabilitatif semestinya ke depannya dilaksanakan secara lebih profesional dan
tepat sasaran. Masyarakat beserta organisasi-organisasi sosial kemasyarakatan
termasuk Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dilibatkan secara penuh dalam
proses penanganan ini melalui wadah suatu jaringan kemitraan sosial. Solidaritas
dan kesetiakwanan sosial juga digalang melalui kemitraan dengan dunia usaha
yang dipandang telah mampu melakukan kegiatan-kegiatan sosial dengan cara
memberi insentif yang memadai bagi mereka yang telah berhasil mengentaskan
PMKS ke tingkat kualitas hidup yang lebih baik. Terkait dengan Indikator
Persentase (%) PMKS skala kab/kota yang menerima program pemberdayaan
sosial melalui Kelompok Usaha Bersama (KUBE) atau kelompok sosial ekonomi
sejenis lainnya,. Dari data yang diperoleh dari Disnakertransos, pada tahun 2013
terdapat 129 KUBE yang memperoleh program pemberdayaan sosial dan 572
orang yang memperoleh dari kelompok sosial ekonomi sejenis.
Beberapa program dan kegiatan yang telah dilaksanakan oleh Pemerintah Kota
Magelang pada tahun 2013 untuk menangani permasalahan PMKS di Kota Magelang
diantaranya: 1). Pemberdayaan fakir miskin, komunitas adat terpencil (KAT) dan
penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) lainnya; 2). Pelayanan dan rehabilitasi
kesejahteraaan sosial; 3). Pembinaan para penyandang cacat dan trauma; 4). Pembinaan
panti asuhan/ panti jompo; 5) Pembinaan eks penyandang penyakit sosial (eks narapida,
PSK, Narkoba dan penyakit sosial lainnya); 6). Pemberdayaan kelembagaan
kesejahteraan sosial
Satu hal yang sangat penting yang harus diperhatikan dalam pengambilan kebijakan
terhadap penanganan permasalahan PMKS adalah dengan memperkuat dan
mengintensifkan koordinasi dan sinkronisasi dari para pelaksana perlindungan
kesejahteraan sosial. Kebersamaan antar komponen, yakni jajaran pemerintah,
organisasi sosial dan LSM, kalangan dunia usaha, serta masyarakat pada umumnya belum
tercipta dengan baik. Begitu pula keterpaduan langkah yang terbingkai dalam
pemecahan masalah PMKS sehingga dapat terkonstruksi secara koordinatif dan
berkesinambungan.

14. Terwujudnya peningkatan pemerataan, akses dan mutu pendidikan anak usia dini
(PAUD).
Capaian kinerja sasaran meningkatnya pemerataan, akses dan mutu Pendidikan Anak
Usia Dini (PAUD) yang diukur melalui 7 Indikator Kinerja Utama menunjukkan kinerja
yang sangat baik dengan rata-rata capaian kinerja sasaran sebesar 95,92%.
Hasil pengukuran capaian kinerja sasaran meningkatnya pemerataan, akses dan mutu
Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD):

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 123

Tahun 2013
NO

Indikator Kinerja

1 APK PAUD

Realisasi
2012

Target Realisasi
86%

64,43%

75%

2 20% anak usia 4-6 tahun mengikuti program TK/RA

97%

97%

100%

3 90% TK/RA memiliki sarana dan prasarana belajar/ bermain

90%

90%

100%

4 65% anak dalam kelompok 0-4 tahun mengikuti kegiatan


TempatPenitipan Anak, Kelompok Bermain atau yang sederajat

97%

97%

100%

5 50% anak usia 4-6 tahun yang belum ter-layani pada programPAUD
jalur formal mengikuti program PAUD jalur non formal

97%

97%

100%

41,14%

46%

42,62%

104%

1:9

1 : 11

1 : 16

93%

6 Prosentase Sarana Prasarana PAUD layak


7 Rasio jumlah guru dengan peserta didik PAUD (1:20)

64,43%

% Capaian
Kinerja

Sumber: Dinas Pendidikan

Pencapaian indikator kinerja sasaran tersebut, dengan rincian sebagai berikut:


a. Angka Partisipasi Kasar PAUD
APK PAUD pada tahun 2013 sebesar 64,43% jauh di bawah target tahun 2013
sebesar 86%. Besarnya deviasi capaian kinerja APK PAUD tersebut di atas
disebabkan perbedaan usia dasar anak dalam penetapan target. Target APK PAUD
yang ditetapkan dalam dokumen RPJMD 2010-2015 mendasarkan pada usia anak
3-6 tahun, sedangkan menurut Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional Bab 1, pasal 1, butir 14 dinyatakan bahwa Pendidikan Anak
Usia Dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir
sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan
pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani
agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. Dari amanat
tersebut tersirat bahwa pendidikan anak usia dini meliputi anak usia 0-6 tahun,
bukan 3-6 tahun.
Dengan demikian capaian kinerja APK PAUD Kota Magelang tahun 2013 sebesar
64,43% merupakan APK PAUD untuk usia 0-6 tahun.
Rendahnya tingkat partisipasi pendidikan pada jenjang PAUD tersebut utamanya
disebabkan rendahnya APK PAUD anak usia 0-2 tahun yaitu sebesar 23,24%,
sedangkan apabila ditinjau dari APK PAUD anak usia 3-6 tahun sudah mencapai
89,17%.
Dengan demikian karena target yang ditetapkan mendasarkan pada APK PAUD usia
3-6 tahun, maka capaian kinerjanya sudah terpenuhi sebesar 89,17% melampaui
target 86%.
b. 20% anak usia 4-6 tahun mengikuti program TK/RA
Kinerja indikator 20% anak usia 4-6 tahun mengikuti program TK/RA mampu
memenuhi target yang ditetapkan sebesar 97%.
c. 90% TK/RA memiliki sarana dan prasarana belajar/ bermain
Kinerja indikator 90% TK/RA memiliki sarana dan prasarana belajar/ bermain
pada tahun 2013 mampu memenuhi target yang ditetapkan sebesar 90%.
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 124

d. 65% anak dalam kelompok 0-4 tahun mengikuti kegiatan Tempat Penitipan Anak,
Kelompok Bermain atau yang sederajat
Kinerja indikator 65% anak dalam kelompok 0-4 tahun mengikuti kegiatan Tempat
Penitipan Anak, Kelompok Bermain atau yang sederajat pada tahun 2013 telah
mampu memenuhi target yang ditetapkan sebesar 97%.
e. 50% anak usia 4-6 tahun yang belum ter-layani pada program PAUD jalur formal
mengikuti program PAUD jalur non formal
Kinerja indikator 50% anak usia 4-6 tahun yang belum ter-layani pada program
PAUD jalur formal mengikuti program PAUD jalur non formal pada tahun 2013
telah mampu memenuhi target yang ditetapkan sebesar 97%.
f. Prosentase Sarana Prasarana PAUD layak
Sarana prasarana PAUD yang layak di Kota Magelang saat ini masih belum
memadai, dari target 46% hanya tercapai 42,62%. Capaian indkator ini lebih tinggi
daripada capaian tahun sebelumnya sebesar 41,14%. Belum terpenuhinya target
sarana PAUD layak disebabkan sebagian besar lembaga PAUD dikelola oleh swasta
dan belum memiliki tempat tetap dan memadai.
g. Rasio jumlah guru dengan peserta didik PAUD.
Lembaga PAUD yang sebagian besar dimiliki dan dikelola swasta juga berdampak
pada belum terpenuhinya rasio jumlah guru dengan peserta didik PAUD dengan
capaian sebesar 1: 16, belum memenuhi target sebesar 1:11. Dibandingkan capaian
tahun sebelumnya, capaian indikator ini juga lebih rendah karena pada tahun
sebelumnya sudah mencapai 1:9. Disamping rasio guru dengan peserta didik PAUD
yang belum memenuhi, kualifikasi dan kompetensi pendidik dan tenaga pendidik
PAUD juga belum memenuhi.
Untuk mencapai sasaran meningkatnya pemerataan, akses dan mutu Pendidikan Anak
Usia Dini (PAUD) melalui Program Pendidikan Anak Usia Dini dengan anggaran sebesar
Rp.173.040.000,00 dengan kegiatan:
1. Pelatihan Kompetensi Tenaga Pendidik
2. Penyelenggaraan Pendidikan Usia Dini
3. Pengembangan kurikulum, bahan ajar dan model pembelajaran pendidikan anak usia
dini
4. Penyelenggaraan koordinasi dan kerjasama pendidikan anak usia dini
5. Publikasi dan sosialisasi pendidikan anak usia dini
6. Lomba semarak anak
7. Lomba bercerita / mendongeng guru TK
8. Pelatihan tenaga kependidikan PAUD
Hambatan/ permasalahan:
1. Masih kurangnya kualitas dan kuantitas sarana prasarana PAUD disebabkan
sebagian besar lembaga PAUD dikelola oleh swasta dan belum memiliki tempat
yang layak dan memadai
2. Masih kurangnya jumlah, kualifikasi dan kompetensi tenaga pendidik PAUD.
Tenaga pendidik PAUD sebagian masih berpendidikan SMA

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 125

3. Masih kurangnya lembaga PAUD yang melayani anak usia 0-2 tahun seperti Taman
Penitipan Anak dan PAUD Sejenis (POS PAUD)
4. Belum terbentuknya lembaga PAUD terpadu yang memberikan layanan anak usia
dini 0-6 tahun dengan beberapa layanan dalam satu lembaga
5. Kurangnya kesadaran dan pemahaman orang tua akan arti pentingnya pendidikan
anak sejak usia dini, dan kurangnya pelaksanaan Parenting Educational bagi orang
tua
6. Adanya anak usia 5-6 tahun yang diterima di jenjang sekolah dasar.
Strategi/ Pemecahan:
1. Peningkatan sarana prasarana PAUD agar layak dan sesuai dengan standar/
ketentuan
2. Peningkatan fasilitasi Pemerintah Kota Magelang melalui sosialisasi, bantuan rehab
sekolah, bantuan permainan edukasi, bantuan tenaga PAUD dan peningkatan
kualifikasi dan kompetensi tenaga PAUD. Kegiatan yang selama ini didanai
anggaran dari provinsi masih kurang memadai, sehingga perlu pendampingan
anggaran dari Pemerintah Kota Magelang
3. Pembentukan lembaga PAUD Terpadu yang memberi layanan PAUD untuk anak usia
0 6 tahun yang terdiri dari TPA, Kelompok Bermain dan Taman Kanak-kanak,
4. Peningkatan pemerataan akses pelayanan PAUD melalui pembinaan PAUD, baik
PAUD jalur formal seperti: Taman Kanak-kanak, Raodhatul Athfal atau bentuk lain
yang sederajad, maupun PAUD jalur Non Formal seperti: Taman Penitipan Anak
(TPA), Kelompok Bermain (KB), Pos PAUD atau bentuk lain yang sederajat serta
jalur pendidikan informal seperti PAUD dalam keluarga atau PAUD yang
diselenggarakan oleh lingkungan.
5. Dari sisi orang tua, perlu peningkatan kesadaran dan pemahaman orang tua
terhadap pendidikan anak sejak usia dini melalui pelaksanaan Parenting
Educational bagi orang tua.

15. Terwujudnya peningkatan pemerataan, akses dan mutu pendidikan Dasar


Capaian kinerja sasaran terwujudnya peningkatan pemerataan, akses dan mutu
pendidikan Dasar yang diukur melalui 57 Indikator Kinerja Utama menunjukkan
kinerja yang sangat baik dengan rata-rata capaian kinerja sasaran sebesar 102,42%.
Hasil pengukuran capaian kinerja sasaran sasaran terwujudnya peningkatan
pemerataan, akses dan mutu pendidikan Dasar sebagai berikut:
Tahun 2013
NO

Indikator Kinerja

Realisasi
2012

Target

Realisasi

% Capaian
Kinerja

APM SD/MI/Paket A

115,76%

116,90%

117,69%

101%

APM SMP/MTs/Paket B

121,65%

142,35%

114,69%

81%

APK SD/MI/Paket A

130,65%

133,9%

130,66%

98%

APK SMP/MTs/Paket B

154,68%

182,58%

154,17%

84%

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 126

Tahun 2013
NO

Indikator Kinerja

Realisasi
2012

Target

Realisasi

% Capaian
Kinerja

Angka Rata-rata Lama Sekolah SD/MI

100%

Angka Rata-rata Lama Sekolah SMP/MTs

100%

Angka pendidikan yang ditamatkan SD/MI

1,90

1,90

2,8

147%

Angka pendidikan yang ditamatkan SMP/MTs

2,37

2,37

2,1

89%

Rasio Ketersediaan sekolah per penduduk usia


sekolah

0,098

0,096

1:184

100%

10

Rasio guru/ murid

1 : 26

1 : 25

1 : 25

100%

1 : 32 : 01

1 : 32 : 01

1 : 15 : 01

82%

134,3%

134,5%

134,80%

100%

11

Rasio guru/ murid per kelas rata-rata

12

Angka Melanjutkan (AM) dari SD/MI ke


SMP/MTs

15

Angka Naik Kelas

16

Angka Putus Sekolah SD/MI dan SMP/MTs

17

Angka lulus SD/ MI

18

Angka lulus SMP/MTs

98%

98%

98%

100%

0,07%

0,07%

0,02%

171%

100%

100%

100%

100%

97,5%

97,5%

99%

102%
112%

19

Ruang kelas SD/MI sesuai standar

85%

85%

95%

20

Ruang kelas SMP/MTs sesuai standar

90%

90%

100%

111%

29

Angka Partisipasi Sekolah SD/MI

0,03%

0,02%

98,87%

100%

30

Angka Partisipasi Sekolah SMP/MTs

0,21%

0,20%

89,59%

100%

31

Tersedia satuan pendidikan dalam jarak yang


terjangkau dengan berjalan kaki yaitu maksimal 3
km untuk SD/MI dan 6 km untuk SMP/MTs dari
kelompok permukiman permanen di daerah
terpencil

100%

100%

100%

32

Jumlah peserta didik dalam setiap rombongan


belajar untuk SD/MI tidak melebihi 32 orang,
dan untuk SMP/MTs tidak melebihi 36 orang.
Untuk setiap rombongan belajar tersedia 1 (satu)
ruang kelas yang dilengkapi dengan meja dan
kursi yang cukup untuk peserta didik dan guru,
serta papan tulis

100%

100%

100%

33

Di setiap SMPdan MTs tersedia ruang


laboratorium IPA yang dilengkapi dengan meja
dan kursi yang cukup untuk 36 peserta didik dan
minipmal satu set peralatan praktek IPA untuk
demonstrasi dan eksperimen peserta didik

100%

100%

100%

34

Di setiap SD/MI dan SMP/MTs tersedia satu


ruang guru yang dilengkapi dengan meja dan kursi
untuk setiap orang guru, kepala sekolah dan staf
kependidikan lainnya; dan setiap SMP/MTs
tersedia ruang kepala sekolah yang terpisah dari
ruang guru

100%

100%

100%

35

Di setiap SD/MI tersedia 1 (satu) orang guru


untuk setiap 32 peserta didik dan 6 (enam) orang
guru untuk setiap satuan pendidikan, dan untuk
daerah khusus 4 (empat) orang guru setiap
satuan pendidikan

100%

100%

100%

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 127

Tahun 2013
NO

Indikator Kinerja

Realisasi
2012

Target

Realisasi

% Capaian
Kinerja

36

Di setiap SMP/MTs tersedia 1 (satu) orang guru


untuk setiap matas pelajaran, dan untuk daerah
khusus tersedia satu orang guru untuk setiap
rumpun mata pelajaran

100%

100%

100%

37

Di setiap SD/MI tersedia 2 (dua) orang guru


yang memenuhi kualifikasi akademik S1 atau
D-IV dan 2 (dua) orang guru yang telah memiliki
sertifikat pendidik

100%

100%

100%

38

Disetiap SMP/MTs tersedia guru dengan


kualifikasi akademik S1 atau D-IV sebanyak 70%
dan separuh diantaranya (35% dari keseluruhan
guru) telah memiliki sertifikat pendidik, untuk
daerah khusus masing-masing sebanyak 40% dan
20%

100%

100%

100%

39

Di setiap S MP/MTs tersedia guru dengan


kualifikasi akademik S-1 atau D-IV dan telah
memiliki sertifikat pendidik masing-masing satu
orang untuk mata pelajaran Matematika, IPA,
Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris

100%

100%

100%

40

Di setiap Kabupaten/Kotasemua Kepala SD/MI


berkualifikasi akademik S-1 atau D-IV dan telah
memiliki sertifikat pendidik

100%

100%

100%

41

Di setiap Kabupaten/Kotasemua Kepala


SMP/MTs berkualifikasi akademik S-1 atau D-IV
dan telah memiliki sertifikat pendidik

100%

100%

100%

42

Di setiap kabupaten/kota semua pengawas


sekolah dan madrasah memilki kualifikasi
akademik S-1 atau D-IV dan telah memilki
sertifikat pendidik

100%

100%

100%

43

Pemerintah kabupaten/kota memiliki rencana dan


melaksanakan kegiatan untuk membantu satuan
pendidikan dalam mengembangkan kurikulum dan
proses pembelajaran yang efektif; dan

100%

100%

100%

44

Kunjungan pengawas ke satuan pendidikan


dilakukan satu kali setiap bulan dan setiap
kunjungan dilakukan selama 3 jam untuk
melakukan supervisi dan pembinaan

100%

100%

100%

45

Setiap SD/MI menyediakan buku teks yang


sudah ditetapkan kelayakannya oleh Pemerintah
mencakup mata pelajaran Bahasa Indonesia,
Matematika, IPA dan IPS dengan perbandingan
satu set untuk ssetiap peserta didik.

100%

100%

100%

46

Setiap SMP/MTs menyediakan buku teks yang


sudah ditetapkan kelayakannya oleh Pemerintah
mencakup dengan perbandingan satu set untuk
ssetiap peserta didik.

100%

100%

100%

47

Setiap SD/MI menyediakan satu set peraga IPA


dan bahan yang terdiri dari model kerangka
manusia, bola dunia (globe), contoh peralatan
optik, kit IPA untuk eksperimen dasar, dan
poster/carta IPA

100%

100%

100%

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 128

Tahun 2013
NO

Indikator Kinerja

Realisasi
2012

Target

Realisasi

% Capaian
Kinerja

48

Setiap SD/MI memilki judulbuku pengayaan dan


10 buku referensi, dan setiap SMP/MTs memiliki
200 judul buku pengayaan dan 20 buku referensi

100%

100%

100%

49

Setiap guru tetap bekerja 37,5 jam per minggu


di satuan pendidikan termasuk merencanakan
pembelajaran, melaksanakan pembelajaran,
menilai hasil pembelajaran, membimbing atau
melatih peserta didik dan melaksanakan tugas
tambahan

100%

100%

100%

50

Satuan pendidikan menyelenggarakan proses


pembelajaran selama 34 minggu per tahun
dengan kegiatan tatap muka sebagai berikut :

100%

100%

100%

Kelas I-II : 18 jam per minggu

100%

100%

100%

Kelas III : 24 jam per minggu

100%

100%

100%

Kelas IV-VI : 27 jam per minggu

100%

100%

100%

Kelas VII-IX : 27 jam per minggu

100%

100%

100%

51

Satuan pendidikan menerapkan kurikulum tingkat


satuan pendidikan (KTSP) sesuai ketentuan yang
berlaku

100%

100%

100%

52

Setiap guru menerapkan rencana pelaksanaan


pembelajaran (RPP0 yang disusun berdasarkan
silabus untuk setiap mata pelajaran yang
diampunya

100%

100%

100%

53

Setiap guru mengembangkan dan menerapkan


program penilaian untuk membantu meningkatkan
kemampuan belajar peserta didik

100%

100%

100%

54

Kepala sekolah melakukan supervisi kelas dan


memberikan umpan balik kepada guru dua kali
dalam setiap semester

100%

100%

100%

55

Setiap guru menyampaikan laporan hasil evaluasi


mata pelajaran serta hasil penilaian setiap
peserta didik kepada kepala sekolah setiap akhir
semester dalam bentuk laporan hasil prestasi
belajar peserta didik

100%

100%

100%

56

Kepala sekolah atau madrasah menyampaikan


laporan hasil ulangan akhir semester (UAS) dan
ulangan kenaikan kelas (UKK) serta ujian akhir
(US/UN) kepada orang tua peserta didik dan
menyampaikan rekapitulasinya kepada Dinas
pPendidikan Kabupaten/Kota atau Kantor
Kementrian Agama di Kabupaten/Kota pada
setiap akhir semester

100%

100%

100%

57

Setiap satuan pendidikan menerapkan


prinsip-prinsip manajemen berbasis sekolah
(MBS)

100%

100%

100%

Sumber: Dinas Pendidikan

Dari 61 indikator Kinerja sasaran meningkatnya pemerataan, akses dan mutu


pendidikan dasar, 6 indikator kinerjanya mampu melampaui target, 50 indikator
mampu memenuhi target, sedangkan 5 indikator lainnya belum memenuhi target.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 129

Lima indikator yang kinerjanya belum mampu memenuhi target diantaranya: APM
SMP/MTs/Paket B, APK SD/MI/Paket A, APK SMP/MTs/Paket B, Angka Pendidikan
yang Ditamatkan SMP/MTs, dan Rasio guru/murid per kelas rata-rata.
Tidak tercapainya target indikator yang terkait partisipasi pendidikan yaitu APM dan
APK Pendidikan dasar di Kota Magelang disebabkan beberapa faktor, diantaranya
terjadinya kecenderungan penurunan prosentase anak usia sekolah pada jenjang
pendidikan dasar, dan mengingat perhitungan APM dan APK pendidikan dasar di Kota
Magelang tidak memilah penduduk dari dalam maupun dari luar kota, maka tidak
tercapainya target APM SD/MI/Paket A dan APM SMP/MTs/Paket B juga
disebabkan adanya penduduk Kota Magelang yang bersekolah di luar Kota Magelang,
dan berkurangnya jumlah penduduk luar kota yang bersekolah di Kota Magelang
karena semakin meningkatnya kualitas dan kuantitas fasilitas pendidikan dasar di
sekitar Kota Magelang.
Sedangkan tidak tercapainya target Rasio guru/ murid per kelas rata-rata disebabkan
kurangnya tenaga pendidik pada jenjang pendidikan dasar, karena dari total 707 PNS
yang pensiun pada tahun 2013 didominasi tenaga pendidik di tingkat SD.
Mutu pendidikan dasar Kota Magelang sangat baik, diindikasikan dengan SMPN 1 Kota
Magelang yang berhasil meraih prestasi membanggakan meraih peringkat 1 Jawa
Tengah dan peringkat 3 tingkat Nasional pada ujian nasional tahun ajaran 2011-2012.
Pada pelaksanaan ujian nasional tahun ajaran 2012-2013, SMPN 1 kembali berhasil
meraih peringkat 1 Jawa Tengah, bahkan meningkat prestasinya karena mampu meraih
peringkat 1 Nasional.
Untuk mencapai sasaran terwujudnya peningkatan pemerataan, akses dan mutu
pendidikan Dasar melalui Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun
dengan anggaran sebesar Rp.9.754.701.000,00, dengan kegiatan:
1. Pembangunan gedung sekolah
2. Pengadaan buku-buku dan alat tulis siswa
3. Pengadaan perlengkapan sekolah
4. Rehabilitasi sedang/ berat bangunan sekolah
5. Rehabilitasi sedang/ berat ruang kelas sekolah
6. Penyediaan subsidi bantuan sekolah (SBS) jenjang SD/MI/SDLB dan SMP/MTS
serta pesantren salafiyah dan satuan pendidikan non-islam setara SD dan SMP
7. Penyebarluasan dan sosialisasi berbagai informasi pendidikan dasar
8. Tes pengendali mutu SMP
9. Penyediaan sarana peningkatan mutu pendidikan SD/MI/SDLB (DAK)
10. Penyediaan sarana prasarana pendidikan SMP (DAK)
Hambatan/ permasalahan:
1. Belum merata dan kurangnya tenaga pendidik sebagai akibat banyaknya tenaga
pendidik PNS yang memasuki masa purna tugas, khususnya pada jenjang Sekolah
Dasar.
2. Masih adanya tenaga pendidik yang belum memenuhi kualifikasi dan kompetensi
sesuai standar yang ditetapkan

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 130

3. Kurangnya tenaga kebersihan, penjaga sekolah dan tenaga administrasi sehingga


menyebabkan sebagian tenaga pendidik merangkap sebagai tenaga administrasi.
4. Masih kurangnya jumlah ruang kelas
5. Dampak dari dihapusnya Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional, sebagaimana
telah diputuskan oleh Mahkamah Konstitusi tentang Pembubaran RSBI
6. Pemberlakuan kurikulum baru 2013 yang berbeda dengan kurikulum-kurikulum
sebelumnya karena menekankan pembelajaran tematik terpadu memerlukan
kesiapan, khususnya bagi tenaga pendidik.
7. Lemahnya data dan sistem informasi pendidikan, diantaranya data pendidikan
belum memilah asal siswa dari dalam dan luar kota. Kondisi ini berpengaruh
terhadap ketepatan penyusunan program dan alokasi anggaran untuk implementasi
program-program pembangunan pendidikan
8. Kualitas sekolah masih belum merata. Kesenjangan antar sekolah negeri masih
dirasakan dan muncul dalam bentuk sekolah favorit dan bukan favorit. Selain itu
kesenjangan antara sekolah umum dengan sekolah kejuruan, serta kesenjangan
antara sekolah negeri dengan sekolah swasta.
Strategi/ Pemecahan:
1. Perekrutan tenaga pendidik secara internal, penataan kembali tenaga pendidik dan
dibukanya kembali penerimaan PNS tenaga pendidik khususnya tingkat dasar
2. Peningkatan kualifikasi dan kompetensi tenaga pendidik pada jenjang Pendidikan
Dasar
3. Penambahan tenaga kebersihan, penjaga sekolah dan tenaga administrasi
4. Penambahan Ruang Kelas Baru (RKB) dan peningkatan sarana dan prasarana
pendidikan dasar di Kota Magelang,
5. Upaya terpadu untuk mempertahankan mutu pendidikan eks sekolah RSBI sebagai
akibat dari dihapuskannya RSBI,
6. Penyiapan tenaga pendidik dan sarana prasarana dalam penerapan kurikulum 2013
yang menekankan pada pembelajaran tematik terpadu.
7. Pembenahan data dan system informasi pendidikan
8. Peningkatan dan pemerataan mutu pendidikan pada semua lembaga pendidikan
dasar pada sekolah umum, sekolah kejuruan baik pada sekolah negeri maupun
swasta.

16. Terwujudnya peningkatan pemerataan, akses, mutu, relevansi dan daya saing
jenjang pendidikan menengah
Capaian kinerja sasaran terwujudnya peningkatan pemerataan, akses, mutu, relevansi
dan daya saing jenjang pendidikan menengah yang diukur melalui 14 Indikator Kinerja
Utama menunjukkan kinerja yang sangat baik dengan rata-rata capaian kinerja
sasaran sebesar 109,39%.
Hasil pengukuran capaian kinerja sasaran peningkatan pemerataan, akses, mutu,
relevansi dan daya saing jenjang pendidikan menengah sebagai berikut:

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 131

Tahun 2013
NO

Indikator Kinerja

Realisasi
2012

Target

Realisasi

% Capaian
Kinerja

APK SMA/SMK/MA

108,85%

108,85%

186,78%

172%

APM SMA/SMK/MA

80,65%

80,65%

82,83%

166%

Angka Rata-rata Lama Sekolah SMA/SMK/MA

Angka pendidikan yang ditamatkan

Angka Partisipasi Sekolah SMA/SMK/MA

Rasio Ketersediaan Sekolah terhadap penduduk


usia sekolah

Rasio Guru terhadap murid

Rasio Guru per murid per kelas rata-rata

1:10:31

Penduduk yang berusia>15 Tahun melek huruf (tidak


buta aksara)

87.564

10

Angka Melanjutkan (AM) dari SMP/MTs ke


SMK/SMA/MA

75%

100%

3,45

3,45

3,62

105%

88,50%

88,50%

89%

100%

100%

100%

1 : 245

100%

1:10

1:10

1:11

101%

1:10:31

1:11:31

101%

87.564

88.676

101%

75%

181%

241%

11

Rasio SMK : SMA = 70 : 30

60 : 40

60 : 40

61 : 39

102%

12

Angka Kelulusan (AL) SMA/SMK/MA

99%

99%

99%

100%

13

Angka Putus Sekolah SMA/SMK/MA

0,60%

0,60%

0,30%

157%

14

Ruang kelas SMA/SMK sesuai standar

75%

75%

100%

133%

Sumber: Dinas Pendidikan

Dari 14 indikator pada sasaran ini, sebagian besar yaitu 10 indikator kinerjanya
melampaui target yang telah ditetapkan, sedangkan 4 indikator lainnya mampu
memenuhi target yang ditetapkan.
Mutu pendidikan pada jenjang pendidikan menengah di Kota Magelang cukup baik,
diindikasikan dari prestasi yang berhasil diraih sekolah menengah di Kota Magelang
dalam pelaksanaan Ujian Nasional Tahun Pelajaran 2011-2012, yaitu:
1. SMAN 1 Kota Magelang Peringkat 1 Jawa Tengah (dalam mata pelajaran IPS)
2. SMKN 2 Kota Magelang Peringkat 1 Jawa Tengah (Sekolah Negeri)
3. SMKN 1 Kota Magelang Peringkat 9 Jawa Tengah (Sekolah Negeri)
4. SMK Kesdam Kota Magelang Peringkat 2 Jawa Tengah (Sekolah Negeri dan
Swasta)
Sedangkan prestasi yang berhasil diraih dalam pelaksanaan UN Tahun 2012/2013
adalah:
1. SMAN 1 Kota Magelang peringkat 1 Jawa Tengah
2. SMPN 2 Kota Magelang peringkat 5 Jawa Tengah.
Mutu pendidikan menengah di Kota Magelang yang cukup tinggi banyak menarik warga
sekitar Kota Magelang untuk menyekolahkan anaknya di Kota Magelang, diindikasikan
dari tingginya Angka Partisipasi Kasar (APK) pada jenjang pendidikan menengah yang
mencapai 186,78% jauh melampaui target yang ditetapkan sebesar 108,8%, begitu
pula dengan Angka Partisipasi Murni (APM) yang mencapai 133,57%, jauh melampaui
target 80,63%.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 132

Untuk mencapai sasaran peningkatan pemerataan, akses, mutu, relevansi dan daya
saing jenjang pendidikan menengah melalui Program Pendidikan Menengah dengan
anggaran sebesar Rp.5.825.526.000,00, dengan kegiatan:
1. Penambahan ruang kelas sekolah
2. Pembangunan laboraturium dsan ruang praktikum sekolah (laboratorium bahasa,
komputer, IPA, IPS dan lain-lain)
3. Pembangunan perpustakaan sekolah
4. Pengadaan perlengkapan sekolah
5. Rehabilitasi sedang / berat bangunan sekolah
6. Rehabilitasi sedang / berat taman, lapangan upacara dan fasilitas parker
7. Olimpiade olah raga siswa nasional dan festival seni
8. Penyediaan sarana pendidikan SMA/SMK (DAK)
Hambatan/ permasalahan:
1. Belum meratanya kualitas sumber daya pendidik dan tenaga kependidikan. Masih
adanya tenaga pendidik yang belum memenuhi kualifikasidankompetensi sesuai
standar yang ditetapkan
2. Kurangnya tenaga administrasi sehingga menyebabkan sebagian tenaga pendidik
juga merangkap sebagai tenaga administrasi.
3. Kurangnya relevansi pendidikan dengan kebutuhan pasar kerja
4. Dampak dari pembubaran RSBI sebagai tindak lanjut dari Keputusan Mahkamah
Konstitusi tentang pembubaran RSBI
5. Pemberlakuan kurikulum baru 2013 yang berbeda dengan kurikulum-kurikulum
sebelumnya, memerlukan kesiapan, khususnya bagi tenaga pendidik.
6. Lemahnya data dan sistem informasi pendidikan yang berpengaruh terhadap
ketepatan penyusunan program dan alokasi anggaran untuk implementasi
program-program pembangunan pendidikan
7. Belum meratanya kualitas sekolah. Masih terjadinya kesenjangan antar sekolah
negeri, antara sekolah umum dengan sekolah kejuruan, serta kesenjangan antara
sekolah negeri dengan sekolah swasta.
Strategi/ pemecahan:
1. Peningkatan kualifikasidankompetensi tenaga pendidik sesuai standar yang
ditetapkan
2. Penambahan tenaga administrasi untuk meningkatkan tertib administrasi sekolah
dan mendukung kelancaran proses balajar mengajar
3. Penguatan kemampuan sekolah untuk mempertahankan mutu pendidikan khususnya
pada sekolah eks-RSBI
4. Penyiapan tenaga pendidik dan sarana prasarana pendukung pendidikan dalam
penerapaan kurikulum baru 2013.
5. Peningkatan data dan system informasi pendidikan sebagai dasar petimbangan
perumusan kebijakan serta peningkatan ketepatan penyusunan program kegiatan.
6. Peningkatan dan pemerataan kualitas pendidikan antar sekolah negeri, antara
sekolah umum dan kejuruan serta antara seklah negeri dengan sekolah swasta.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 133

17. Terwujudnya peningkatan pemerataan, akses, mutu, relevansi dan daya saing
pendidikan Non formal dan Informal
Capaian kinerja sasaran terwujudnya peningkatan pemerataan, akses, mutu, relevansi
dan daya saing pendidikan Non formal dan Informal yang diukur melalui 10 Indikator
Kinerja Utama menunjukkan kinerja sangat baik dengan rata-rata capaian kinerja
sasaran sebesar 99,06%.
Hasil pengukuran capaian kinerja sasaran peningkatan pemerataan, akses, mutu,
relevansi dan daya saing pendidikan Non formal dan Informal sebagai berikut:
Target

Realisasi

% Capaian
Kinerja

95%

96%

98%

102%

4%

4%

1%

175%

Dasar

100%

Menengah

100%

a. Angka lulus pendidikan kesetaraan Paket A

94%

95%

75%

79%

b. Angka lulus pendidikan kesetaraan Paket B

92%

93%

94%

101%

c. Angka lulus pendidikan kesetaraan Paket C

84%

86%

79%

92%

Usia dewasa yang belum bersekolah terlayani


pendidikan kesetaraan

54%

56%

51%

91%

6%

7%

3,5%

50%

Indikator Kinerja

NO

Angka Melek Huruf

Angka Buta Aksara usia > 45 tahun

Angka Rata-Rata lama sekolah

Tahun 2013

Realisasi
2012

Pendidikan Kesetaraan

Kursus
6

Persentase pengangguran usia 15-44 th memperoleh


layanan pendidikan Kecakapan Hidup

Persentase Lembaga PNF terakreditasi C

1%

65%

30%

46%

Jumlah model layanan PNF unggulan

3%

4%

6,6%

165%

Persentase dukungan terhadap capaian APK


Dikdas

2,60%

2,60%

2,00%

77%

10

Angka pendidikan yang ditamatkan


- SD/MI

1,78

1,78

1,9

107%

- SLTP/MTs

2,33

2,33

2,33

99%

- SLTA/SMK/MA

3,62

3,62

3,66

101,10%

Sumber: Dinas Pendidikan

Pencapaian indikator kinerja sasaran tersebut, dengan uraian sebagai berikut :


a. Angka Melek Huruf
Angka Melek Huruf penduduk Kota Magelang pada tahun 2013 telah mencapai 98%
melebihi target yang ditetapkan sebesar 96%. Prosentase Angka Melak Huruf ini
juga meningkat apabila dibandingkan dengan capaian tahun 2012 sebesar 95%.
b. Angka Buta Aksara usia > 45 tahun
Angka Buta Aksara usia > 45 penduduk Kota Magelang pada tahun 2013 sebesar 1%
jauh melampaui target sebesar 4%. Angka Buta Aksara penduduk Kota Magelang
tahun 2013 mengalami penurunan tajam dibandingkan tahun 2012 sebesar 4%.
c. Angka Rata-Rata lama sekolah

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 134

Angka rata-rata lama sekolah pendidikan dasar mampu memenuhi target 9 tahun,
demikian pula dengan pendidikan menengah sebesar 3 tahun.
Indikator ini tidak relevan dengan sasaran terwujudnya peningkatan pemerataan,
akses, mutu, relevansi dan daya saing pendidikan Non formal dan Informal,
sehingga harus dikeluarkan dari pengukuran sasaran ini.
d. Pendidikan Kesetaraan
1) Angka Lulus Pendidikan Kesetaraan paket A
Capaian indikator Angka Lulus Pendidikan Kesetaraan paket A pada tahun 2013
sebesar 75% di bawah target 95%, bahkan juga lebih rendah dibandingkan
capaian tahun sebelumnya yang sudah mencapai 94%.
2) Angka Lulus Pendidikan Kesetaraan paket B
Kinerja indikator Angka Lulus Pendidikan Kesetaraan paket B pada tahun 2013
sebesar 94% melampaui target 93%. Capaian indikator ini lebih tinggi daripada
capaian pada tahun sebelumnya sebesar 92%.
3) Angka Lulus Pendidikan Kesetaraan paket C
Capaian indikator Angka Lulus Pendidikan Kesetaraan paket C pada tahun 2013
sebesar 79% di bawah target 86%. Capaian indikator ini lebih rendah
dibandingkan capaian tahun sebelumnya yang sudah mencapai 84%.
e. Usia dewasa yang belum bersekolah terlayani pendidikan kesetaraan
Capaian indikator Usia dewasa yang belum bersekolah terlayani pendidikan
kesetaraan pada tahun 2013 masih di bawah target yaitu sebesar 51% dari target
56%, dan lebih rendah daripada capaian tahun 2012 sebesar 54%.
f. Persentase pengangguran usia 15-44 th memperoleh layanan pendidikan Kecakapan
Hidup.
Kinerja indikator Persentase pengangguran usia 15-44 th memperoleh layanan
pendidikan Kecakapan Hidup pada tahun 2013 tergolong rendah karena dari target
7% baru tercapai 3,5%. Capaian indikator ini lebih rendah dibandingkan dengan
capaian tahun sebelumnya yang telah mencapai 6%.
Program Kecakapan Hidup diharapkan dapat memberikan jalan keluar bagi
penganggur dan pemuda yang ada di Kota Magelang untuk mendapatkan bekal
pengetahuan dan keterampilan sehingga dapat menjadi sarana agar dapat
berusaha dan dapat meningkatkan kesejahteraan diri dan lingkungannya.
Pengetahuan dan ketrampilan merupakan modal dasar bagi para penganggur agar
dapat meningkatkan daya saingnya di dunia kerja yang semakin kompetitif.
Pelaksanaan pendidikan Kecakapan hidup di Kota Magelang pada jalur pendidikan
non formal diselenggarakan melalui: (a) Lembaga Kursus dan Pelatihan pendidikan
non-formal; (b) Lembaga pelatihan Kerja (LPK), (c) Pusat Kegiatan Belajar
Masyarakat (PKBM), (d) Desa Vokasi dan (e) Pendidikan Kecakapan Hidup yang
dilaksanakan di beberapa SMK. Sementara pada jalur pendidikan formal
diselenggarakan pada jenjang SD sampai dengan jenjang SLTA.
Sebagai salah satu lembaga yang menangani pendidikan non formal, PKBM
menangani Pendidikan Kesetaraan Paket A, Paket B, Paket C, Program Kecakapan
Hidup, Program Kelompok Bermain, dan Program PAUD. Di Kota Magelang terdapat
4 PKBM yaitu PKBM Upaya Terampil di Keluarahan Potrobangsan, PKBM Permata di

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 135

Kelurahan Kramat Selatan, PKBM Kuncup Mekar di Kelurahan Tidar Utara, dan
PKBM di Lapas Kota Magelang.
Selain PKBM, terdapat lembaga pendidikan non formal yang menyelenggarakan
pendidikan kecakapan hidup di Kota Magelang, diantaranya adalah Lembaga
Pelatihan Kerja (LPK) sebanyak 14 buah, dan Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP)
sebanyak 26 buah.
g. Persentase Lembaga PNF terakreditasi C
Persentase Lembaga PNF terakreditasi C pada tahun 2013 sebesar 30% masih
jauh dari target sebesar 65%. Namun demikian dibandingkan dengan capaian tahun
2012 yang hanya mencapai 1% telah mengalami peningkatan.
Yang telah dilaksanakan selama ini berupa penilaian kinerja, dari total 27 Lembaga
PNF, 9 diantaranya sudah dilaksanakan penilaian kinerja. Sedangkan lembaga yang
berwenang melaksanakan akreditasi adalah BAN PNF (Badan Akreditasi Nasional
Pendidikan Non Formal) selama ini sudah mengajukan akreditasi, tetapi belum
dilaksanakan visitasi penilaian oleh BAN PNF.
h. Jumlah model layanan PNF unggulan
Prosentase jumlah model layanan PNF unggulan pada tahun 2013 sebesar 6,6%
melampaui target sebesar 4%. Capaian indikator ini lebih tinggi daripada capaian
tahun sebelumnya sebesar 3%.
i. Persentase dukungan terhadap capaian APK Dikdas
Persentase dukungan terhadap capaian APK Dikdas sebesar 2% di atas target
sebesar 2,6%. Kinerja indikator ini pada tahun 2013 lebih rendah dibandingkan
tahun 2012 sebesar 2,6%.
j. Angka pendidikan yang ditamatkan
Angka pendidikan yang ditamatkan jenjang pendidikan SD pada tahun 2013
sebesar 1,9 melampaui target 1,78% dan juga lebih tinggi daripada capaian tahun
sebelumnya sebesar 1,78%
Pada jenjang SLTP/MTs, angka pendidikan yang ditamatkan sebesar 2,3 terpaut
sedikit di bawah target 2,33 dan lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya
sebesar 2,33.
Demikian pula dengan capaian angka pendidikan yang ditamatkan pada jenjang
SLTA/SMK/MA juga lebih rendah dari target yang ditetapkan yaitu sebesar 3,6
sedikit di bawah target 3,62, dan juga lebih rendah dari capaian tahun sebelumnya
sebesar 3,62.
Indikator ini tidak relevan dengan sasaran terwujudnya peningkatan pemerataan,
akses, mutu, relevansi dan daya saing pendidikan Non formal dan Informal,
sehingga seharusnya dikeluarkan dari pengukuran sasaran ini.
Untuk mencapai sasaran terwujudnya peningkatan pemerataan, akses, mutu, relevansi
dan daya saing pendidikan Non formal dan Informal melalui, melalui:
1. Program Pendidikan Non Formal dengan anggaran sebesar Rp.139.432.000,00,
dengan kegiatan:
a. Pembinaan pendidikan kursus dan kelembagaan
b. Pengembangan pendidikan keaksaraan

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 136

c. Pengembangan pendidikan kecakapan hidup


d. Pelaksanaan Pra-UN paket C
2. Program Wajib Belajar Pendidikan Sembilan
Rp.266.000.000,00, dengan kegiatan:
a. Penyelenggaraan Paket A setara SD
b. Penyelenggaraan Paket B setara SMP

Tahun

dengan

anggaran

Hambatan/ permasalahan:
1. Kurangnya minat belajar khususnya bagi warga belajar keaksaraan fungsional usia
di atas 44 tahun;
2. Pelaksanaan program pendidikan keaksaraan yang kurang mendapatkan pembinaan
tindak lanjut, melahirkan peserta belajar yang cenderung buta aksara kembali;
3. Masih terdapat masyarakat yang buta aksara karena belum terjangkau (terlayani)
oleh program pendidikan manapun, seperti anak jalanan, pengemis, dan pemulung
usia 15-24 tahun;
4. Belum efektifnya koordinasi integratif pelayanan garapan keaksaraan pada usia
muda;
5. Masih terdapatnya pengangguran usia 15-44 tahun yang belum memperoleh
layanan pendidikan Kecakapan Hidup
6. Sarana prasarana pendukung pendidikan non formal dan informal belum memadai;
7. Kapasitas lembaga penyelenggara dan kompetensi pendidik maupun tenaga
kependidikan non formal dan informal sangat beragam dan secara umum cenderung
belum memadai;
8. Anggaran pendidikan nonformal dan informal, khususnya pendidikan keaksaraan
masih relatif kecil apabila dikaitkan dengan jumlah sasaran;
9. Koordinasi perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi program pendidikan keaksaraan
cenderung kurang efektif sehingga pelaksanaan program pendidikan keaksaraan
sering kurang mendapat perhatian.
Strategi/ pemecahan:
1. Pengimplementasian metode pembelajaran yang aplikatif seperti calistung dalam
kehidupan sehari-hari sesuai dengan ketrampilan usaha yang diminati ;
2. Meningkatkan akses pembelajaran bagi anak jalanan, pengemis, dan pemulung usia
15-24 tahun dengan menyediakan berbagai alternatif layanan keaksaraan
fungsional antara lain melalui PKBM, organisasi masyarakat dan lain-lain.
3. Peningkatan koordinasi dan integrasi antara berbagai lembaga dan Dinas/ Instansi
terkait dalam pelayanan garapan keaksaraan pada usia muda;
4. Meningkatkan akses bagi pengangguran usia 15-44 tahun memperoleh layanan
pendidikan Kecakapan Hidup.
5. Peningkatan sarana prasarana pendukung pendidikan non formal dan informal baik
oleh pemerintah maupun melalui partisispasi masyarakat;
6. Peningkatan kapasitas lembaga penyelenggara dan kompetensi pendidik maupun
tenaga kependidikan non formal dan informal;

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 137

7. Pemenuhan alokasi anggaran pendidikan nonformal dan informal, dan disesuaikan


dengan jumlah sasaran;
8. Peningkatan koordinasi perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi program
pendidikan non formal dan informal.
9. Optimalisasi PNFI dengan mengikut sertakan berbagai potensi yang ada dalam
masyarakat, baik sebagai tutor, penyedia sarana, dan sebagainya. Program PNFI
diintegrasikan dalam suatu PKBM, LPK, dan LKP. Melalui PKBM, LPK, dan LKP
potensi masyarakat dikembangkan dan dioptimalkan melalui pendidikan kesetaraan
berbasis kewirausahaan, keaksaraan fungsional berbasis kecakapan hidup (life
skills), Kelompok Belajar Usaha (KBU), dan pelatihan life skills berupa
kursus-kursus keterampilan praktis. Pelayanan pendidikan semacam ini diharapkan
dapat meningkatkan kecakapan vokasi, akademik, personal dan sosial masyarakat.

18. Terwujudnya peningkatan pemerataan, akses, mutu, relevansi dan daya saing
pendidikan Khusus
Capaian kinerja sasaran terwujudnya peningkatan pemerataan, akses, mutu, relevansi
dan daya saing pendidikan Khusus yang diukur melalui 8 Indikator Kinerja Utama
menunjukkan kinerja yang sangat baik dengan rata-rata capaian kinerja sasaran
sebesar 96,91%.
Hasil pengukuran capaian kinerja sasaran peningkatan pemerataan, akses, mutu,
relevansi dan daya saing pendidikan Khusus sebagai berikut:
Indikator Kinerja

NO

Tahun 2013

Realisasi
2012

Target

Realisasi

% Capaian
Kinerja

35%

70%

75%

107%

Pendidikan Khusus Terakreditasi

Persentase APK Pendidikan Khusus

50%

90%

75%

83%

Angka Partisipasi Murni

100%

100%

65%

65%

Angka Naik Kelas

93%

94%

90%

96%

Angka Lulus Pendidikan Khusus

92%

92%

100%

109%

Kelas Sesuai Standar

65%

65%

70%

108%

Persentase Sarana Pendidikan Khusus Terakreditasi

65%

65%

70%

108%

Angka Rata-Rata Lama Sekolah

12

12

12

100%

Sumber: Dinas Pendidikan

Dari 8 indikator kinerja utama sasaran pemerataan, akses, mutu, relevansi dan daya
saing pendidikan khusus, 4 diantaranya mampu melampaui target yang ditetapkan, 1
indikator mampu mencapai target, sedangkan 3 indikator lainnya belum memenuhi
target yang ditetapkan. Empat indikator yang kinerjanya melampaui target yaitu
pendidikan khusus terakreditasi, angka lulus pendidikan khusus, kelas sesuai standar,
dan Persentase Sarana Pendidikan Khusus Terakreditasi.
Sedangkan 3 indikator yang kinerjanya di bawah target adalah Presentase APK
Pendidikan Khusus, Angka Partisipasi Murni, dan Angka Naik Kelas.
Pencapaian indikator kinerja sasaran tersebut, dengan uraian sebagai berikut :

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 138

1. Pendidikan Khusus Terakreditasi


Kinerja indikator pendidikan khusus terakreditasi pada tahun 2013 mencapai 75%
lebih tinggi dari target 70%. Dibandingkan dengan capaian tahun sebelumnya
kinerja indikator ini telah meningkat signifikan.
Pendidikan khusus merupakan pendidikan untuk peserta didik yang berkelainan
atau peserta didik yang memiliki kecerdasan luar biasa yang diselenggarakan
secara inklusif (bergabung dengan sekolah biasa) atau berupa satuan pendidikan
khusus pada tingkat pendidikan dasar dan menengah.
Kota Magelang memiliki 2 sekolah negeri yang menangani pendidikan luar biasa
yang terletak di Kecamatan Magelang Utara. Total jumlah siswa yang bersekolah
di kedua Pendidikan Luar Biasa (PLB) tersebut berjumlah 263 siswa, terdiri dari
siswa SDLB sebanyak 193 siswa, SMPLB sebanyak 42 siswa, dan SMLB sebanyak
28 siswa.
Selain itu di Kota Magelang juga terdapat 1 sekolah berkebutuhan khusus yang
dikelola swasta yaitu Sekolah Khusus Autisme Bina Anggita yang terletak di
Kelurahan Potrobangsan yang berdiri pada tanggal 15 Juli 2002. Sekolah tersebut
mengkhususkan bagi anak-anak usia dini dengan gejala lambat atau tidak bisa
bicara, hiperaktif, interaksi sosial kurang, suka menjerit atau menangis tanpa
sebab, tidak diperhatikan, dan lain sebagainya.
2. Persentase APK Pendidikan Khusus
Capaian kinerja indikator APK Pendidikan Khusus pada tahun 2013 masih di bawah
target 90% yaitu baru tercapai 75%. Namun demikian capaian indicator ini sudah
mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 50%. Tidak
tercapainya target indikator ini disebankan antara lain karena masih adanya
sebagian orang tua yang malu karena mempunyai anak berkebutuhan khusus dengan
menyembunyikannya dan tidak menyekolahkan anak tersebut.
3. Angka Partisipasi Murni
Dari target 100% pada tahun 2013, capaian APM pendidikan khusus hanya tercapai
65%. Capaian indikator ini lebih rendah daripada capaian tahun sebelumnya yang
sudah mencapai 100%.
4. Angka Naik Kelas
Angka Naik Kelas pendidikan khusus pada tahun 2013 sebesar 90%, di bawah
target 94%. Dibandingkan tahun sebelumnya, capaian indikator ini lebih rendah
dibandingkan capaian tahun sebelumnya yang telah mencapai 93%.
5. Angka Lulus Pendidikan Khusus
Angka lulus pendidikan khusus pada tahun 2013 sebesar 100% melampaui target
sebesar 92%, dan juga lebih tinggi dibandingkan capaian tahun sebelumnya
sebesar 92%.
6. Kelas Sesuai Standar
Prosentase kelas sesuai standar pada tahun 2013 telah mencapai 70%, melampaui
target 65%. Capaian indikator ini juga lebih tinggi daripada capaian tahun
sebelumnya sebesar 65%.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 139

7. Persentase Sarana Pendidikan Khusus Terakreditasi


Capaian indikator Persentase Sarana Pendidikan Khusus Terakreditasi pada tahun
2013 telah mencapai 70% melampaui target sebesar 65% dan juga lebih tinggi
dibandingkan capaian tahun sebelumnya sebesar 65%.
8. Angka Rata-Rata Lama Sekolah
Angka Rata-Rata Lama Sekolah pada pendidikan khusus mampu memenuhi target
sebesar 12, dan juga sama dengan capaian tahun sebelumnya.
Untuk mencapai sasaran terwujudnya peningkatan pemerataan, akses, mutu, relevansi
dan daya saing pendidikan Khusus melalui:
1. Program Wajib Belajar Pendidikan Sembilan Tahun dengan 2 kegiatan yaitu:
Penyediaan subsidi bantuan sekolah (SBS) jenjang SD/MI/SDLB dan SMP/MTS
serta pesantren salafiyah dan satuan pendidikan non-islam setara SD dan SMP dan
Penyediaan sarana peningkatan mutu pendidikan SD/MI/SDLB (DAK)
2. Program Manajemen Pelayanan Pendidikan dengan 3 kegiatan yaitu: Pemberian
beasiswa dan bantuan kepada siswa dan sekolah, Pengadaan imbal bagi sekolah
(bantuan keuangan provinsi), dan Manajemen pengelolaan bantuan oprasional
sekolah.
Hambatan/ permasalahan:
1. Masih kurang memadainya sarana prasarana pendidikan khusus, khususnya pada
lembaga swasta.
2. Masih terdapatnya anak berkebutuhan khusus yang tidak mendapatkan
kesempatan belajar pada pendidikan khusus karena disembunyikan orang tuanya
malu mempunyai anak berkebutuhan khusus.
3. Belum meratanya kualifikasi dan kompetensi tenaga pendidik dan tenaga
kependidikan pada pendidikan khusus
4. Masih kurangnya ketrampilan dan penghargaan hasil karya anak berkebutuhan
khusus
Strategi/ pemecahan:
1. Peningkatan sarana prasarana pendidikan khusus, khususnya pada lembaga swasta
2. Penyadaran terhadap orang tua akan pentingnya pendidikan dan hak bagi semua
anak termasuk anak berkebutuhan khusus memperoleh layanan pendidikan.
3. Peningkatan kualifikasi dan kompetensi tenaga pendidik dan tenaga kependidikan
pada pendidikan khusus.
4. Peningkatan ketrampilan tenaga pendidik dan fasilitasi hasil karya anak
berkebutuhan khusus.

19. Terwujudnya peningkatan kinerja pendidik dan tenaga kependidikan


Capaian kinerja sasaran terwujudnya peningkatan kinerja pendidik dan tenaga
kependidikan yang diukur melalui 7 Indikator Kinerja Utama menunjukkan kinerja
yang sangat baik dengan rata-rata capaian kinerja sasaran sebesar 106,80%.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 140

Hasil pengukuran capaian kinerja sasaran peningkatan kinerja pendidik dan tenaga
kependidikan sebagai berikut:
NO

Indikator Kinerja

Realisasi
2012

Tahun 2013
Target

Realisasi

% Capaian
Kinerja

Guru yang memenuhi kualifikasi S1/D-IV

85%

90%

90%

100%

Pendidik yang berkualifikasi dan prasarana pada


pendidikan khusus terpenuhi

75%

100%

100%

100%

a. Persentase pada Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)

55%

55%

50%

91%

b. Prosentase pada satuan Pendidikan SD/SDLB/MI

92%

92%

80%

87%

c. Prosentase pada satuan Pendidikan


SMP/SMPLB/MTs

100%

100%

95%

95%

d. Prosentase pada satuan Pendidikan


SMA/SMALB/MA dan SMK

100%

100%

96%

96%

e. Prosentase pada Pendidikan Kesetaraan A, B dan C

50%

50%

90%

180%

Sumber: Dinas Pendidikan

Pencapaian indikator kinerja sasaran tersebut, dengan uraian sebagai berikut :


1. Guru yang memenuhi kualifikasi S1/D-IV
Prosentase Guru yang memenuhi kualifikasi S1/D-IV pada tahun 2013 mampu
memenuhi target yang ditetapkan sebesar 90%. Capaian ini lebih tinggi
dibandingkan capaian tahun sebelumnya sebesar 85%.
2. Pendidik yang berkualifikasi dan prasarana pada pendidikan khusus terpenuhi
Capaian indikator Pendidik yang berkualifikasi dan prasarana pada pendidikan
khusus terpenuhi pada tahun 2013 memenuhi target yang ditetapkan sebesar
100%. Capaian kinerja indikator ini lebih tinggi daripada capaian tahun sebelumnya
sebesar 75%.
3. Persentase pada Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)
Persentase pendidik yang berkualifikasi pada Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)
pada tahun 2013 sebesar 50%, masih di bawah target 55%. Capaian ini lebih
rendah dibandingkan capaian tahun sebelumnya sebesar 55%.
4. Prosentase pada satuan Pendidikan SD/SDLB/MI
Capaian prosentase pendidik yang berkualifikasi pada satuan Pendidikan
SD/SDLB/MI pada tahun 2013 sebesar 80%, masih di bawah target 92%. Capaian
ini lebih rendah dibandingkan capaian tahun sebelumnya sebesar 92%.
5. Prosentase pada satuan Pendidikan SMA/SMALB/MA dan SMK
Capaian prosentase pendidik yang berkualifikasi pada satuan Pendidikan
SMA/SMALB/MA dan SMK pada tahun 2013 sebesar 96%, masih di bawah target
100%. Capaian ini lebih rendah dibandingkan capaian tahun sebelumnya sebesar
100%.
6. Prosentase pada Pendidikan Kesetaraan A, B dan C
Kinerja indikator prosentase pendidik yang berkualifikasi pada satuan Pendidikan
Kesetaraan A, B dan C pada tahun 2013 sebesar 90%, melampaui target 50%.
Capaian ini lebih tinggi dibandingkan capaian tahun sebelumnya sebesar 50%.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 141

Untuk mencapai sasaran terwujudnya peningkatan kinerja pendidik dan tenaga


kependidikan melalui Program Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan
dengan anggaran sebesar Rp.791.555.000,00, dengan kegiatan:
1. Pelaksanaan sertifikasi pendidik
2. Pembinaan kelompok kerja guru (KKG)
3. Pendidikan lanjut bagi pendidik untuk memenuhi standar kualifikasi
4. Manajemen berbasis sekolah (MBS)
5. Pembinaan MGMP SMP
6. Pembinaan MGMP SMA
7. Pembinaan MGMD SMK
8. Pembinaan KKPS
9. Pelatihan pembina olimpiade SAINS
10. Workshop manajemen perencanaan terpadu
11. Seleksi calon kepala sekolah dan pengawas sekolah
12. Penyelenggaraan pemilihan pendidik dan tenaga kependidikan formal
13. Pengembangan profesi pendidik formal
Hambatan/ permasalahan:
1. Masih adanya tenaga pendidik yang belum memenuhi kualifikasi dan kompetensi
sesuai standar yang ditetapkan.
2. Terbatasnya jumlah guru yang menguasai mata pelajaran matematika, sains, dan
sejarah (mata pelajaran utama dalam kurikulum). Hasil tes Uji Kompetensi Guru
jenjang TK, SD, SMP, SMA menunjukkan bahwa angka penguasaan mata pelajaran
hanya 57%.
3. Masih kurangnya tenaga pendukung pendidikan yang memiliki keahlian dan
kompetensi di bidangnya seperti tenaga laboran, pustakawan, instruktur dan
profesi-profesi lain pendukung pendidikan
Strategi/ pemecahan:
1. Peningkatan kualifikasi dan kompetensi guru sesuai standar minimal yang
dipersyaratkan yaitu D-4/ S-1,
2. Peningkatan penguasaan mata pelajaran,kualifikasi dan kompetensi pendidik sesuai
dengan latar belakang pendidikan,
3. Peningkatan kompetensi dan perekrutan tenaga laboran, pustakawan, instruktur
dan profesi-profesi lain pendukung pendidikan sesuai standar yang
dipersyaratkan.

20. Terwujudnya peningkatan tata kelola, akuntabilitas dan pencitraan publik pada
penyelenggaraan pendidikan.
Capaian kinerja sasaran terwujudnya peningkatantata kelola, akuntabilitas dan
pencitraan publik pada penyelenggaraan pendidikanyang diukur melalui 4 Indikator
Kinerja Utama menunjukkan kinerja yang sangat baik dengan rata-rata capaian kinerja
sasaran sebesar 112,10%.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 142

Hasil pengukuran capaian kinerja sasaran peningkatantata kelola, akuntabilitas dan


pencitraan publik pada penyelenggaraan pendidikan sebagai berikut:
NO

Indikator Kinerja

Realisasi
2012

Tahun 2013
Target

Realisasi

% Capaian
Kinerja

Penerapan Sistem Manajemen Mutu (SMM) ISO

100%

Prosentase lembaga PAUD memiliki tatakelola dan citra


yang baik

45%

45%

60%

133%

Prosentase SD/MI dan prosentase SMP/MTs


menerapkan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)

93%

93%

100%

108%

Prosentase SMA/SMK/MA melaksanakan program MBS


dengan baik

93%

93%

100%

108%

Sumber: Dinas Pendidikan

Pencapaian indikator kinerja sasaran tersebut, dengan uraian sebagai berikut :


a. Penerapan Sistem Manajemen Mutu (SMM) ISO
Sistem Manajemen Mutu (SMM) ISO telah diterapkan pada 8 lembaga pendidikan
di Kota Magelang, sesuai dengan target yang ditetapkan, atau tercapai 100%.
Kedelapan lembaga pendidikan yang sudah menerapkan Sistem Manajemen Mutu
(SMM) ISO dan mendapatkan sertifikasi ISO 9001:2008 adalah: SMPN 1, SMPN
2, SMAN 1,SMAN 2, SMAN 3, SMKN 1, SMKN 2, dan SMKN 3. Bibandingkan
dengan tahun 2012, terjadi peningkatan jumlah lembaga yang menerapkan SMM
ISO, dari 7 lembaga meningkat menjadi 8 lembaga.
Penerapan Sistem Manajemen Mutu (SMM) ISO merupakan salah satu indikator
yang dipersyaratkan dalam penyelenggaraan pelayanan publik, sesuai dengan
Permenpan Nomor 7 tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Pelayanan Publik pada
Unit Pelayanan Publik, dan Undang-Undang Nomor 25 tahun 2009 tentang
Pelayanan Publik. Dalam SMM ISO terdapat beberapa ketentuan yang harus
dipenuhi dan sebagai evaluasi kendali mutu agar tercapai peningkatan tata kelola
dan akuntabilitas.
Sertifikat ISO 9001:2008 merupakan pengakuan internasional terhadap sistem
manajemen mutu (quality management system) suatu organisasi, juga merupakan
pengakuan bahwa suatu organisasi telah menerapkan SMM ISO 9001:2008.
Dengan penerapan ISO 9001:2008 setiap proses senantiasa dilakukan dengan
perencanaan yang matang, implementasi yang terukur dengan jelas, dilakukan
evaluasi dan analisis data yang akurat serta tindakan perbaikan yang sesuai dan
monitoring pelaksanaannya agar benar-benar bisa menuntaskan masalah yang
terjadi di sekolah.
b. Prosentase lembaga PAUD memiliki tata kelola dan citra yang baik
Prosentase lembaga PAUD yang memiliki tatakelola dan citra yang baik pada tahun
2013 telah mencapai 60%, lebih tinggi dari target 45%, dan juga lebih tinggi
daripada capaian tahun 2012 yang baru mencapai 45%.
Untuk meningkatkan tatakelola dan citra yang baik, ke depan pemerintah
direncanakan akan mengeluarkan kebijakan penyelenggara PAUD haruslah berupa
yayasan, bukan lembaga. Selain itu, pemerintah direncanakan akan mendirikan 60
buah PAUD Negeri Terpadu di seluruh wilayah Propinsi Jawa Tengah, dimulai
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 143

dengan pendirian 1 buah PAUD di masing-masing kabupaten/ kota pada tahun 2013.
Namun demikian mengingat keterbatasan lahan, Kota Magelang pada tahun 2013
belum dapat merealisasikan pendirian PAUD Negeri terpadu tersebut.
c. Prosentase SD/MI dan prosentase SMP/MTs menerapkan Manajemen Berbasis
Sekolah (MBS)
Prosentase SD/MI dan prosentase SMP/MTs menerapkan Manajemen Berbasis
Sekolah (MBS) telah tercapai 100% melampaui dari target 93%. Capaian kinerja
ini juga meningkat lebih baik daripada capaian kinerja tahun 2012 sebesar 93%.
d. Prosentase SMA/SMK/MA melaksanakan program MBS dengan baik
Prosentase SMA/SMK/MA menerapkan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)
dengan baik telah tercapai 100% melampaui target 93%. Capaian kinerja ini juga
meningkat, lebih baik daripada capaian kinerja tahun 2012 sebesar 93%.
Untuk mencapai sasaran terwujudnya peningkatan tata kelola, akuntabilitas dan
pencitraan publik pada penyelenggaraan pendidikan melalui 3 Program yaitu Program
Manajemen Pelayanan Pendidikan, Program Peningkatan Mutu Pendidikan Dasar
Sembilan Tahun, dan Program Peningkatan Mutu Pendidikan Menengah dengan total
alokasi anggaran sebesar Rp.9.914.816.000,00.
1. Program
Manajemen
Pelayanan
Pendidikan
dengan
anggaran
Rp.7.742.702.000,00 dengan kegiatan:
a. Pembinaan dewan pendidikan
b. Penerapan sistem dan informasi manajemen pendidikan
c. Monitoring, evaluasi dan pelaporan
d. Penerimaan siswa baru
e. Pemberian beasiswa dan bantuan kepada siswa dan sekolah
f. Pengadaan imbal bagi sekolah (bantuan keuangan provinsi)
g. Sosialisasi dan Monitoring evaluasi DAK pendidikan (DAK)
h. Sidak pelajar
i. Melaksanakan asistensi APBS
j. Manajemen dan administrasi keuangan sekolah
k. Pendataan dan penyusunan RK SM / SD / TK
l. Pengadaan kartu osis
m. Manajemen pengelolaan ICT center
n. Penyusunan buku selayang pandang
o. Pelaksanaan jarkur sekolah
p. Pemilaiam kinerja kepala sekolah
q. Pemilihan guru berprestasi
r. Pelaksanaan PAK pengawas dan tenaga kependidikan
s. Manajemen pendataan pendidikan
t. Penyusutan kalender pendidikan
u. Manajemen pengelolaan bantuan oprasional sekolah
2. Program Peningkatan Mutu Pendidikan Dasar Sembilan Tahun dengan anggaran
Rp.784.730.000,00 dengan kegiatan:

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 144

a. Lomba cerdas cermat SD


b. Lomba mapel SD/SMP
c. Lomba mapel agama islam SD
d. Seleksi olimpiade MIPA/Astronomi SD/SMP
e. Seleksi siswa berprestasi SMP
f. Lomba gugus SD
g. LCC dokter kecil
h. Lomba sekolah sehat SD/SMP
i. Lomba mengarang Bhs.Indonesia SMP
j. Lomba pidato Bhs.Inggris SMP
k. penilaian standarisasi/WWM SMP
l. Pelaksanaan Pra-US SD
m. Pelaksanaan Pra-UN SMP
n. Pelaksanaan US dan UN SMP
o. Lomba cerdas cermat SMP
p. Pelaksanaan UASBN/UN
q. Olimpiade olahraga dan seni siswa nasioal SD,MP,SLB
3. Program Peningkatan Mutu Pendidikan Menengah dengan
Rp.1.387.384.000,00 dengan kegiatan:
a. Penyediaan subsidi bantuan sekolah (SBS) untuk SMA/MA/SMK
b. Penilaian standarisasi / WWM SMA/SMK
c. Lomba sekolah sehat SMA/SMKA
d. Lomba kompetensi siswa SMK
e. Lomba mata pelajaran SMA
f. Lomba debat bahasa
g. Lomba iptek siswa SMA
h. Lomba prestasi dan kreativitas siswa SMA
i. Olimpiade Astronomi SMA/MA
j. Lomba mata diklat siswa SMK
k. Lomba Bhs.jawa SMA/SMK
l. Pelaksanaan Pra-UN SMA/SMK
m. Pelaksanaan US & UN SMA/SMK
n. Pelaksanaan verifikasi UN kompetensi SMK
o. Olimpiade SAINS terapan SMK
p. Lomba karya ilmiah remaja SMA/SMK

anggaran

Hambatan/ permasalahan:
1. Mahalnya biaya yang diperlukan baik untuk memperoleh sertifikasi SMM ISO
maupun untuk manajemen review atau gugus kendali mutu yang dilaksanakan setiap
tahunnya.
2. Belum semua sekolah menerapkan Sistem Manajemen Mutu (ISO)
3. Masih banyaknya lembaga PAUD yang belum memiliki tata kelola dan citra yang
baik

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 145

Strategi/ pemecahan:
1. Fasilitasi pemerintah Kota Magelang bagi sekolah-sekolah untuk proses sertifikasi
dan manajemen review atau gugus kendali mutu yang dilaksanakan setiap tahunnya.
2. Peningkatan jumlah lembaga pendidikan yang menerapkan SMM ISO, sedangkan
lembaga yang telah menerapkan SMM ISO harus tetap mempertahankan
standarisasi penerapan SMM ISO. Dengan penerapan SMM ISO, maka sekolah
akan mencapai kinerja yang lebih baik karena melaksanakan Standar Operating
Prosedur (SOP).
3. Peningkatan lembaga PAUD agar memiliki tata kelola dan citra yang baik.

21. Terwujudnya peningkatan wawasan kebangsaan, kearifan lokal dan kesetaraan


gender dalam penyelenggaraan pendidikan
Capaian kinerja sasaran peningkatan minat baca masyarakat yang diukur melalui 3
Indikator Kinerja Utama menunjukkan kinerja yang sangat baik dengan rata-rata
capaian kinerja sasaran sebesar 104,80%.
Hasil pengukuran capaian kinerja sasaran peningkatan minat baca masyarakat sebagai
berikut:
Indikator Kinerja

NO

Tahun 2013

Realisasi
2012

Target

Realisasi

% Capaian
Kinerja

Koleksi buku yang tersedia di perpustakaan daerah

36.870

37.039

39.875

108%

Jumlah pengunjung perpustakaan per tahun

67.693

54.834

62.012

113%

Jumlah Perpustakaan

230

230

245

107%

- Perpustakaan Sekolah

211

211

226

100%

- Perpustakaan Kelurahan

17

17

17

100%

- Desa Buku

100%

- Perpustakaan Kota

100%

Sumber: Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah

Pencapaian indikator kinerja sasaran tersebut, dengan uraian sebagai berikut :


a. Koleksi buku yang tersedia di perpustakaan daerah
Koleksi buku perpustakaan daerah Kota Magelang pada tahun 2013 mengalami
peningkatan sebanyak 3.005 buku dari 36.870 buku pada tahun 2012 bertambah
menjadi 39.875 buku yang terdiri dari 28.274 judul. Banyaknya koleksi buku
perpustakaan daerah Kota Magelang pada tahun 2013 telah melampaui dari target
yang ditetapkan sebanyak 37.039 buku.
b. Jumlah pengunjung perpustakaan per tahun
Jumlah pengunjung perpustakaan pada tahun 2013 mencapai 62.012 pengunjung,
melampaui target 54.834 pengunjung. Walaupun telah mencapai target, jumlah
pengunjung perpustakaan pada tahun 2013 mengalami penurunan dibandingkan
jumlah pengunjung pada tahun 2012 yang telah mencapai 67.693 orang.
Perpustakaan daerah Kota Magelang tidak hanya melayani penduduk Kota
Magelang saja, tetapi juga penduduk Kabuaten Kota Magelang.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 146

c. Jumlah Perpustakaan
Jumlah perpustakaan di Kota Magelang pada tahun 2013 sebanyak 245 buah,
terdiri dari perpustakaan sekolah sejumlah 226 buah, perpustakaan kelurahan 17
buah, desa buku 1 buah, dan perpustakaan kota sebanyak 1 buah. Dibandingkan
tahun sebelumnya, jumlah perpustakaan di Kota Magelang bertambah 15 buah
perpustakaan sekolah.
Untuk mencapai sasaran peningkatan minat baca masyarakat melalui Program
Pengembangan Budaya Baca dan Pembinaan Perpustakaan yang dilaksanakan Dinas
Pendidikan dengan alokasi anggaran Rp. 86.600.000,00, dan Program Pengembangan
Budaya Baca dan Pembinaan Perpustakaan yang dilaksanakan Kantor Perpustakaan dan
Arsip Daerah dengan alokasi anggaran sebesar Rp. 496.463.000,00.
Hambatan/ permasalahan:
1. Semakin menurunnya minat masyarakat mengunjungi Desa Buku
2. Kurangnya minat baca masyarakat sebagai akibat masih kurangnya budaya
membaca masyarakat.
3. Belum optimalnya kualitas pelayanan perpustakaan (perpustakaan daerah,
perpustakaan perguruan tinggi, perpustakaan khusus/ instansi, perpustakaan
kelurahan, perpustakaan rumah ibadah, dan perpustakaan sekolah).
Strategi/ pemecahan:
1. Revitalisasi peran Desa Buku agar eksistensinya bisa terus terjaga dengan baik
2. Optimalisasi berbagai sarana perpustakaan dan penyelenggaraan berbagai even
untuk meningkatkan minat baca dan meningkatkan budaya baca masyarakat
3. Peningkatan kualitas pelayanan perpustakaan (perpustakaan daerah, perpustakaan
perguruan tinggi, perpustakaan khusus/ ionstansi, perpustakaan kelurahan,
perpustakaan rumah ibadah, dan perpustakaan sekolah).

22. Terwujudnya peningkatan minat baca masyarakat


Capaian kinerja sasaran terwujudnya peningkatan wawasan kebangsaan, kearifan lokal
dan kesetaraan gender dalam penyelenggaraan pendidikan yang diukur melalui 4
Indikator Kinerja Utama menunjukkan kinerja yang sangat baik dengan rata-rata
capaian kinerja sasaran sebesar 105,82%.
Hasil pengukuran capaian kinerja sasaran peningkatanwawasan kebangsaan, kearifan
lokal dan kesetaraan gender dalam penyelenggaraan pendidikan sebagai berikut:
NO

Indikator Kinerja

Prosentase sekolah melaksanakan kurikulum Bahasa


Jawa

Gap laki-laki dan perempuan dalam partisipasi


pendidikan

Jumlah perempuan yang menduduki posisi


pengambil kebijakan pendidikan meningkat

Prosentase sekolah melaksanakan pembinaan wawasan


kebangsaan

Tahun 2013

Realisasi
2012

Target

Realisasi

% Capaian
Kinerja

100%

100%

100%

100%

4,18

3,25

122%

100%

96%

96%

97%

101%

Sumber: Dinas Pendidikan

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 147

Pencapaian indikator kinerja sasaran tersebut, dengan uraian sebagai berikut :


a. Prosentase sekolah melaksanakan kurikulum Bahasa Jawa
Seluruh sekolah di Kota Magelang telah melaksanakan kurikulum Bahasa Jawa
sehingga capaian kinerjanya 100%, sama dengan capaian tahun sebelumnya sebesar
100%. Kurikulum Bahasa Jawa telah diajarkan di seluruh sekolah di Kota Magelang
sebagai kurikulum muatan lokal.
b. Gap laki-laki dan perempuan dalam partisipasi pendidikan
Gap laki-laki dan perempuan dalam partisipasi pendidikan pada tahun 2013 sebesar
3,25, lebih kecil dari target 4,18%. Hal ini berarti kesenjangan antara laki-laki dan
perempuan dalam partisipasi pendidikan di Kota Magelang semakin menurun.
Berbagai upaya telah dilaksanakan dalam mewujudkan keadilan dan kesetaraan
gender sejak digulirkan tahun 2000. Payung hukum kebijakan berupa Inpres No. 9
Tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender (PUG). Di bidang pendidikan, payung
hukum kebijakan tersebut ditindaklanjuti oleh Permendiknas No. 84 Tahun 2008
tentang Pedoman Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender Bidang Pendidikan pada
tingkat Pusat, Provinsi dan Kabupaten/Kota.
c. Jumlah perempuan yang menduduki posisi pengambil kebijakan pendidikan
meningkat
Kesetaraan gender dalam tataran pengambil kebijakan di bidang pendidikan juga
telah menunjukkan perkembangan yang positif, diindikasikan dengan jumlah
perempuan yang menduduki posisi pengambil kebijakan pendidikan di Kota
Magelang pada tahun 2013 telah mampu memenuhi target yang ditetapkan yaitu 7
orang, sama dengan capaian kinerja tahun sebelumnya sebesar 7 orang.
d. Prosentase sekolah melaksanakan pembinaan wawasan kebangsaan
Kinerja indikator prosentase sekolah melaksanakan pembinaan wawasan
kebangsaan telah mencapai 97% melampaui target yang ditetapkan sebesar 96%.
Dibandingkan capaian tahun sebelumnya sebesar 96%, capaian kinerja indikator ini
mengalami peningkatan. Pembinaan wawasan kebangsaan yang dilaksanakan di
sekolah-sekolah bertujuan untuk menanamkan kecintaan terhadap tanah air dan
peningkatan nasionalisme bagi siswa didik, yang pada akhirnya akan semakin
meningkatkan ketahanan bangsa Indonesia dalam menghadapi berbagai pengaruh
asing dan globalisasi yang merusak.
Untuk mencapai sasaran terwujudnya peningkatan wawasan kebangsaan, kearifan lokal
dan kesetaraan gender dalam penyelenggaraan pendidikan melalui:
1. Kegiatan Pelatihan fasilitator dan peer group rintisan model pencegahan
kekerasan gender yang termasuk dalam program Pendidikan Non Formal dengan
alokasi anggaran Rp.50.000.000,00.
2. Kegiatan Pembinaan Nasionalisme dan Karakter bangsa melalui jalur pendidikan
yang termasuk Program Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan
dengan anggaran Rp.100.000.000,00
3. Kegiatan Lomba Mulok bahasa Jawa dan Bahasa Inggris SD dengan anggaran
Rp.20.000.000,00, dan Kegiatan Pelatihan dan pendidikan Karakter Kebangsaan

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 148

SMP dengan anggaran Rp.35.000.000,00 yang termasuk dalam Program


Peningkatan Mutu Pendidikan Dasar Sembilan Tahun
4. Kegiatan Pelatihan dan Pendidikan Karakter Kebangsaan SMA/SMK yang termasuk
dalam Program Peningkatan Mutu Pendidikan Menengah dengan anggaran
Rp.307.927.000,00.
Hambatan/ permasalahan:
1. Kemampuan baca tulis perempuan lebih rendah daripada laki-laki
2. Masih rendahnya partisipasi perempuan pada jenjang pendidikan SMP
3. Proporsi guru perempuan pada jenjang pendidikan dasar, menengah maupun
professional dan teknik sangat kecil dibandingkan guru laki-laki.
4. Semakin menurunnya nasionalisme dan wawasan kebangsaan serta terjadinya
degradasi moral sebagai akibat globalisasi dan pengaruh asing yang merusak.
Strategi/ pemecahan:
1. Peningkatan kesadaran dan akses bagi perempuan untuk meningkatkan kemampuan
baca tulis
2. Meningkatkan kesadaran orang tua akan pentingnya anak perempuan menempuh
pendidikan yang lebih tinggi daripada SD
3. Mendorong dan memfasilitasi peningkatan jumlah guru perempuan di seluruh
jenjang pendidikan.

Meningkatkan nasionalisme, wawasan kebangsaan di kalangan pelajar dan


pemuda untuk menangkal pengaruh globalisasi dan arus informasi yang merusak.
23. Terwujudnya peningkatan
pembangunan daerah

kualitas

dan

partisipasi

generasi

muda

dalam

a. Program, kegiatan dan anggaran pendukung pencapaian sasaran


Program/kegiatan

Anggaran
Belanja

Realisasi
Belanja

Prosentase

Program pengembangan dan keserasian kebijakan pemuda


1.
Pemantauan dan evaluasi pelaksanaan pembangunan
pemuda

55.000.000

54.981.000

99,97%

10.000.000

10.000.000

100%

2.
3.

15.000.000

15.000.000

100%

30.000.000
397.500.000
105.500.000

29.981.000
371.641.000
93.662.000

99,94%
93,49%
88,78%

Peningkatan keimanan dan ketaqwaan pemuda


Penyusunan pedoman komunikasi, informasi, edukasi dan
advokasi ttg kepemimpinan pemuda
Prog Peningkatan Peran Serta Kepemudaan
1.
Pembinaan Organisasi Kepemudaan
2.
3.
4.

Pendidikan & Pelatihan Dasar Kepemimpinan


Fasilitasi aksi bhakti sosial kepemudaan
Fasilitasi pekan temu wicara organisasi pemida

15.000.000
15.000.000
19.000.000

14.200.000
14.996.000
16.750.000

94,67%
99,97%
88,16%

5.

Lomba kreasi dan karya tulis ilmiah di kal pemuda

15.000.000

15.000.000

100,00%

6.
7.
8.
9.
10.

Pembinaan Pemuda Pelopor Keamanan Linkungan


Pelatihan pramuka penggalang SMP
Pelatihan PMR SMP
pelatihan pramuka penegak SMA
Lomba tata Upacara dan PBB SMP

15.000.000
7.000.000
10.000.000
7.500.000
20.000.000

7.542.000
7.000.000
10.000.000
7.500.000
19.991.000

50,28%
100%
100%
100%
99,96%

11.

Lomba pramuka penggalang SMP

8.500.000

8.500.000

100%

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 149

Anggaran
Belanja

Realisasi
Belanja

12. Lomba Paskibra SMA / SMK

110.000.000

106.500.000

96,82%

13. Lomba Tata Upacara dan PBB SMA/SMK

40.000.000

40.000.000

100%

14. Lomba pramuka penegak SMA/SMK

10.000.000

10.000.000

100%

Program peningkatan upaya penumbuhan kewirausahaan dan


kecakapan hidup pemuda

20.000.000

20.000.000

100%

Pelatihan kewirausahaan bagi pemuda

20.000.000

20.000.000

100%

Program upaya Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba

37.000.000

37.000.000

100%

17.000.000

17.000.000

100%

20.000.000
509.500.000

20.000.000
483.622.000

100%
98,37%

Program/kegiatan

1.

Pemberian Penyuluhan tentang bahaya narkoba bagi


pemuda

2.

Pemberian Penyuluhan tentang bahaya merokok bagi


masyarakat

Prosentase

Sumber : Disporabudpar
Total anggaran yang disediakan untuk mencapai sasaran ini :
Tahun 2013 = Rp 509.500.000,00 dengan penyerapan 98,37%
b. Capaian Indikator Kinerja
No

1
2
3

5
6

Indikator Sasaran

Tahun 2012
Target Realis
asi
Jumlah kegiatan kepemudaan
10
13
Jumlah organisasi pemuda
28
32
Tersedianya 5 program kepemudaan oleh
15
13
lembaga kepemudaan untuk
meningkatkan kapasitas kemampuan
pemuda di bidang kewirausahaan,
kepemimpinan, wawasan kebangsaan,
kebudayaan dan, pendidikan
Partisipasi pemuda dalam kegiatan
7
9
pembangunan, pemberdayaan
KUPP
KUPP
masyarakat di bidang pendidikan,
kesehatan, sosial ekonomi, dan
kemasyarakatan meningkat 5 persen
setiap tahun
Angka pengangguran pemuda menurun 5
----persen setiap tahun
1 (satu) tahun sekali statistik
pendidikan dan pemuda dikeluarkan
secara resmi oleh pemerintah
1 (satu) tahun sekali laporan kemajuan
pendidikan dan pemuda disampaikan oleh
pemerintah kepada masyarakat

Capaian
Kinerja
2012

Tahun 2013
Target Realis
asi
130%
13
20
114,29%
29
31
86,67%
15
16

Capaian
Kinerja
2013

128,57%

11,41
KUPP

10
KUPP

87,64%

---

12,12

9,06

125,25%

153,85%
106,90%
106,67%

0%

100%

0%

100%

Capaian kinerja :
Tahun 2013 = 111,47%
Tahun 2012 = 76,59%
Tahun 2011 = 100%
- Pada tahun 2013 Bidang Kepemudaan Dinas Pemuda. Olahraga, Kebudayaan dan
Pariwisata Kota Magelang melaksanakan 4 program dengan 20 kegiatan
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 150

sebagaimana tabel diatas. Program/kegiatan yang terkait dengan pembangunan


kepemudaan baik secara langsung maupun tidak langsung juga dilakukan oleh
Bidang maupun SKPD yang lain seperti pada kegiatan pemilihan Duta Wisata,
pengembangan seni budaya, pengembangan olahraga, pendidikan/pelatihan
ketrampilan dan lain-lain.
SKPD-SKPD selain Disporabudbar yang seringkali menjadi pendukung
pengembangan potensi kepemudaan antara lain : Dinas Pendidikan,
Disnakertransos, Diskoperindag, Dinas Kesehatan, Badan Kesbangpolinmas,
BPMPKB dan Kantor Litbang Statistik serta utamanya adalah Kecamatan dan
Kelurahan.
Pemerintah Kota Magelang juga mendukung/bekerjasama dengan Pemerintah
Provinsi maupun Pemerintah Pusat dengan cara selalu berpartisipasi aktif dalam
pengiriman peserta ke berbagai efent/program yang diselenggarakan di tingkat
atas.
Kegiatan yang dilakukan secara mandiri oleh Organisasi Kepemudaan (OKP) dan
Kelompok Usaha Pemuda Pemula (KUPP) utamanya bersifat koordinasi antar
anggota baik rutin maupun insidentil. OKP/KUPP juga terkadang
menyelenggarakan efent-efent tertentu seperti Musyawarah Daerah (Musda),
kegiatan-kegiatan sosial, seminar/lokakarya dan lain-lain.
- Jumlah OKP yang tercatat di Kota Magelang ada 47 OKP yang terdiri dari 21 OKP
murni kelompok masyarakat pemuda, 10 OKP turunan Partai Politik, dan 16
Organisasi Kepelajaran dan Kemahasiswaan. Dari jumlah tersebut yang saat ini
diketahui masih aktif ada 31 OKP. Sedangkan dari 10 KUPP yang ada 9 diantaranya
masih nampak aktif.
- Jumlah pemuda Kota Magelang sebanyak 28.632 orang atau 21,91% dari jumlah
penduduk.
Jumlah pemuda laki-laki 14.634 (51,11%) lebih banyak dari pada jumlah pemuda
perempuan 13.998 (48,89%).
Jumlah pemuda Kota Magelang yang sudah memiliki pekerjaan sebanyak 31,83%
dari total pemuda, dengan profesi terbanyak sebagai karyawan swasta.
Jumlah pemuda yang berwiraswasta sebanyak 4,65%.
Jumlah pemuda yang masih menganggur sebanyak 9,06%.
Jumlah pemuda yang masih berstatus pelajar/mahasiswa sebanyak 52,22%.
- Statistik pendidikan dan kepemudaan diwujudkan dalam bentuk Profil Pendidikan
yang dikeluarkan olh Dinas Pendidikan dan Laporan Pemantauan Pembangunan
Kepemudaan yang dikeluarkan oleh Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan
Pariwisata.
c. Permasalahan yang dihadapi
- Tidak semua anggota OKP/KUPP berusia 16-30 tahun sebagaimana ketentuan
Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2009 tentang Kepemudaan, bahkan disinyalir
ada OKP yang hanya memiliki anggota diluar batas usia pemuda. Meskipun
keseluruhan OKP tersebut memiliki orientasi dan tujuan yang sama yakni
mendayagunakan potensi pemuda, namun seringkali menjadi masalah ketika
pengiriman pemuda ke suatu efent.
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 151

- Banyak OKP/KUPP yang enggan memberikan informasi profilnya, sehingga berapa


jumlah total anggota yang tergabung dalam OKP dan KUPP belum dapat dihitung.
d. Evaluasi dan rekomendasi
- Ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian lebih serius yakni :
1) Penyiapan pemuda guna kompetisi di tingkat atas seperti : pemilihan pemuda
pelopor, peserta Jambore Pemuda dan lain-lain yang bersifat prestasi.
2) Penyiapan kader-kader penggerak pembangunan dan pemeliharaan eksistensi
OKP/KUPP.
- Beberapa rekomendasi yang disimpulkan dari hasil pemantauan dan evaluasi :
1) Ditingkatkannya koordinasi dengan OKP/KUPP dan pemantauan/tinjauan
lapangan yang lebih intensif;
2) Monitoring/pendataan OKP/KUPP aktif dan pasif yang dilanjutkan dengan
pemutakhiran data;
3) Identifikasi masukan program/kegiatan yang dibutuhkan pemuda termasuk
upaya memunculkan terobosan/inovasi baru;
4) Perencanaan dan pelaksanaan program/kegiatan yang lebih tepat sasaran dan
manfaat;
5) Koordinasi lebih intensif dengan SKPD lain, tim anggaran dan DPRD, guna
keterpaduan pelaksanaan program/kegiatan.
- Pembangunan kepemudaan dikelompokkan menjadi dua hal penting yakni
pembangunan mental spiritual dan pembangunan kemampuan/ketrampilan.
Pembangunan mental spiritual dilakukan melalui pembinaan-pembinaan keimanan,
kepemimpinan, kepeloporan dan partisipasi dalam pembangunan. Sedangkan
pembangunan
kemampuan/ketrampilan
meliputi
pendidikan/pelatihan
kewirausahaan dan lain-lain.
Disporabudpar bersama SKPD-SKPD terkait bekerjasama melaksanakan
pembangunan kepemudaan sesuai bidang, tugas pokok, fungsi dan kewenangan
masing-masing.
Tabel 3.5
Permasalahan Bidang Kepemudaan di Kota Magelang
No
1

Rendahnya
partisipasi
pemuda dalam
pembangunan

Permasalahan Strategis
Pemuda sebagai Agen Perubahan, sosial kontrol, dan kekuatan
moral. Pemuda sebagai pewaris kepemimpinan bangsa, calon
pemimpin masa yang akan datang haruslah memiliki jiwa
nasionalisme dan wawasan kebangsaan yang baik, rasa bangga
terhadap bangsa dan merasa ikut bertanggung jawab atas
kemajuan, keamanan dan kesejahteraan rakyat.
Perasaan tersebut disinyalir terus mengalami pengikisan, karena
pengaruh situasi dan kondisi negara yang kurang mencerminkan
keteladanan yang baik. Apatisme, hedonisme, egoisme,
pragmatisme harus diblokir dengan semangat kesetiakawanan,
kepedulian dan persatuan.
Para pemuda harus memiliki jiwa kepemimpinan, dan bersama-sama
mempelopori pembangunan.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 152

No
2

Permasalahan Strategis
Usia pemuda merupakan periode pencarian jati diri, yakni usia yang
yang sensitif dengan segala pengaruh baik positif maupun negatif.
Jika pengaruh negatif lebih mudah merasuk dalam jiwa muda, yakni
jiwa yang mudah marah, berontak, tidak puas dengan apa yang ada,
maka muncullah perilaku-perilaku radikal/anarkis, vandalis, bahkan
kriminalis. Selain itu banyak pula yang terjebak dengan
aktivitas-aktivitas menganiaya diri sendiri seperti narkoba,
pergaulan bebas, tak beretika dan lain sebagainya.
Kesulitan
Pemuda kurang memiliki bekal kemampuan yang memadai untuk
lapangan kerja/ masuk ke dunia kerja.
pengangguran
Pemuda juga kurang mampu membaca peluang-peluang usaha yang
sekiranya bisa diambil untuk berwirausaha. Informasi peluang
usahapun belum cukup mencerminkan potensi usaha yang bisa
dilakukan.
Keberanian untuk berwirausaha harus dipupuk dan didukung dengan
berbagai kemudahan baik dari sisi akses, permodalan, pemasaran
dan pendampingan proses.
Kebijakan pembekalan berusaha seharusnya ditanamkan sejak dini
melalui pendidikan formal (intra dan ekstra kurikuler) dasar hingga
tinggi, maupun melalui jalur pendidikan informal (pelatihan dan
kursus).
Kurangnya
Daya kreasi dan inovasi merupakan elemen dasar tingginya
daya kreasi
teknologi. Keunggulan komparatif bangsa harus didukung dengan
dan inovasi
keunggulan kompetitif berupa kemampuan mengolah sumber daya
pemuda
alam (bahan baku) menjadi barang yang bernilai tambah jauh lebih
tinggi.
Tidak hanya di bidang iptek, daya kreasi dan inovasi juga
dibutuhkan di semua bidang lain seperti : seni, budaya, olahraga,
pariwisata, usaha ekonomi, bahkan bidang sosial politik dan lain-lain
yang semua itu dapat mengharumkan nama Bangsa Indonesia.
Perilaku
negatif
pemuda

Sumber : Disporabudpar
Tabel 3.6
Kendala dan Langkah Antisipasi
Bidang Kepemudaan di Kota Magelang
No
1

Kendala
Keberadaan sebagian Organisasi
Kepemudaan (OKP) dan Kelompok
Usaha Pemuda Pemula (KUPP) tidak
jelas.
Kualitas kelembagaan dan
peranserta OKP/ KUPP belum
optimal.
Bantuan peralatan sebagai bagian
dari paket pelatihan
kewirausahaan terkendala
ketentuan hibah.

Langkah yang dilakukan


Penyusunan dan pemutakhiran database/profil
kepemudaan yang didahului dengan identifikasi
dan ceking lapangan.
Pembinaan, lokakarya.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 153

No
4

Kendala
Pelibatan pemuda dalam kegiatan
yang dilakukan belum menjangkau
seluruh wilayah.
Minat berorganisasi yang kurang.

Tidak tersedianya anggaran


pengiriman pemuda di efent
provinsi/pusat.

Keterbatasan personel/aparatur
Bidang Kepemudaan.

Langkah yang dilakukan


Pembentukan jaringan OKP per wilayah
dilanjutkan dengan adanya forum komunikasi
secara periodik.
Pembinaan kepemimpinan, kepeloporan dan
fasilitasi.
Pengiriman pemuda dibiayai dengan anggaran
rutin (perkantoran) yang jumlahnya terbatas.
Anggaran rutin juga digunakan untuk kegiatan
lain yang jumlahnya juga relatif. Sehingga
beberapa kegiatan pengiriman terpaksa tidak
dapat terealisasi.
Sebaiknya ada pos tersendiri agar dapat
menjamin terealisasinya pengiriman pemuda.
Pekerjaan-pekerjaan yang didahulukan adalah
pekerjaan-pekerjaan yang menjadi keharusan
(sesuai ketentuan administratif). Pekerjaan
yang bersifat mendukung (namun juga penting)
seringkali tidak sempat terjamah seperti :
a. Database yang selalu di update dan
dilengkapi;
b. Tinjauan lapangan sebagai bentuk riil
koordinasi, pembinaan, komunikasi dan
informasi dengan pihak OKP dan KUPP;
c. Evaluasi, analisa, data dan informasi dalam
bentuk tertulis.

Sumber : Disporabudpar
24. Terwujudnya pembibitan, pembinaan, pemanduan olah raga secara kontinyu
a. Program, kegiatan dan anggaran pendukung pencapaian sasaran
Program/kegiatan
Prog Pembinaan & Pemasyarakatan Olahraga
1. Pelaksanaan identifikasi dan pengembangan olah raga
unggulan daerah
2. Pembibitan & Pembinaan Olahragawan Berbakat
3. Peningkatan kesegaran jasmani dan rekreasi
4. Penyelenggaraan kompetisi olah raga
5. Pemassalan Olah Raga bagi Pelajar . Mahasiswa dan
Masyarakat
6. Pemberian penghargaan bagi insan olah raga yg
berdedikasi dan berprestasi
7. Pengembangan Olah Raga Rekreasi
8. Pembinaan olah raga yg berkembang di masyarakat
9. Kerjasama Peningkatan Olahragawan berbakat dan
Berprestasi dengan lembaga instansi lainnya
10. POPDA SD
11. Liga bola basket SMP

Anggaran
Belanja

Realisasi
Belanja

Prosentase

841.385.000

756.001.200

89,85%

14.813.000
34.333.000
97.167.000
46.957.000

14.813.000
33.122.500
88.443.600
46.656.500

100%
96,47%
91,02%
99,36%

52.324.000

51.632.425

98,68%

70.000.000
37.239.000
18.000.000

41.799.975
36.163.475
14.467.850

59,71%
97,11%
80,38%

68.388.000
84.348.000
16.489.000

66.828.850
73.306.750
16.488.550

97,72%
86,91%
100%

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 154

12. Liga sepak bola SMP

Anggaran
Belanja
14.946.000

Realisasi
Belanja
14.944.975

Prosentase
99,99%

13.
14.
15.
16.
17.
18.

84.065.000
95.900.000
15.113.000
15.773.000
22.330.000
53.200.000

78.749.725
75.283.725
15.111.975
15.772.350
20.555.000
51.859.975

93,68%
78,50%
99,99%
100%
92,05%
97,48%

Program/kegiatan

POPDA SMP
POPDA SMA/SMK
Liga sepak bola SMA
Liga Bola Basket SMA/SMK
Pengiriman Kontingen tingkat Propinsi
Seleksi Bela Diri Pelajar

Sumber : Disporabudpar
Total anggaran yang disediakan untuk mencapai sasaran ini :
Tahun 2013 = Rp 841.385.000,00 dengan penyerapan 89,85%
b. Capaian Indikator Kinerja
Tahun 2012

Capaian
Kinerja
Realisasi
2012
--------43
252,94
%

Target

Realisasi

168
32
21

168
32
23

Capaian
Kinerja
2013
100%
100%
110%

100%
---

28
---

28
---

100%
---

235
0,87

1000%
100%

240
87%

210
86%

88%
99%

---

---

---

---

---

---

100%

1 kali

2 kali

200%

Jumlah prestasi olah raga dalam


even karesidenan

4
cabang

4
cabang

100%

124

124

100%

11

Jumlah prestasi olah raga dalam


even propinsi

5
cabang

5
cabang

100%

10
besar

Pering
kat 26

-60%

12

Jumlah prestasi olah raga dalam


even Nasional

1
cabang

1
cabang

100%

37

30

81%

13

Jumlah atlet yang dikirim pada


lomba tingkat provinsi

194

194

100%

194

194

100%

14

65 persen jumlah siswa yang


mengikuti kegiatan cabang
olahraga yang beragam diluar
mata pelajaran olahraga di
sekolah
100 persen terbukanya
kesempatan bagi siswa untuk
berpartisipasi dan berkreasi
dalam pendidikan jasmani yang
tertuang dalam kurikulum

---

---

---

67,24

68

101%

---

---

---

75

75

100%

No

Indikator Sasaran

1
2
3

Jumlah klub olah raga


Jumlah organisasi olah raga
Jumlah even/ kegiatan olah raga
yang diselenggarakan

----17

4
5

Jumlah gedung olah raga


Gelanggang/balai remaja(selain
milik swasta)

27
---

27
---

6
7

Lapangan olah raga


Rasio Lapangan Olahraga dalam
kondisi baik

235
0,87

Terpilihnya juara kompetisi


olahraga antar kelurahan

Terlaksananya kejuaraan tenis


lapangan antar klub

10

15

Target

Tahun 2013

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 155

16

70 persen siswa yang memiliki


tingkat kebugaran yang baik

---

---

---

70,08

70

100%

17

75 persen peralatan olahraga


telah sesuai dengan cabang
olahraga
15 Klub Olahraga Pelajar yang
dibina di wilayah kabupaten/kota

---

---

---

80

80

100%

15

15

100%

15

15

100%

10 siswa per satuan pendidikan


yang terpilih mengikuti POPDA
(Pekan Olahraga Pelajar Daerah)
tingkat provinsi
Satu lapangan terbuka dapat
digunakan 5 sekolah

---

---

---

100%

50%

100%

Berfungsinya BAPOPSI (Badan


Pembina Olahraga Pelajar Seluruh
Indonesia) di Kabupaten/Kota
7 cabang olahraga yang
dikompetisikan secara teratur
minimal setiap dua tahun sekali
80 persen berfungsinya Komite
Olahraga Nasional Daerah
(KONIDA) tingkat Kabupaten/
Kota
1 (satu) tahun sekali statistik
pendidikan dan olahraga
dikeluarkan secara resmi oleh
pemerintah
1 (satu) tahun sekali laporan
kemajuan pendidikan dan olahraga
disampaikan oleh pemerintah
kepada masyarakat

---

---

---

---

---

---

15

13

86,67
%

15

15

100%

60

80

133,33
%

60

60

100%

---

---

---

100%

---

---

---

100%

18
19

20
21

22

23

24

25

Sumber : Disporabudpar
Capaian kinerja :
Tahun 2013 = 96,27%
Tahun 2012 = 109,46%
Tahun 2011 = 64,89%
- Jumlah klub, lapangan/gelanggang olahraga tersebut masih merupakan data lama,
belum dilakukan pendataan kembali.
- Kejuaraan tenis di tahun 2013 adalah tuan rumah Tenis Gubernur Cup dan
Walikota Cup.
- Prestasi olahraga menurun dibanding tahun-tahun sebelumnya. Dalam POPDA
tingkat SLTA hanya berada di peringkat 26, SLTP 27 dan SD paling bawah yakni
peringkat 36.
Beberapa cabang olah raga yang berprestasi adalah
1) Taekwondo;
2) Pencak silat;
3) Wushu;
4) Tinju;
5) Bulu tangkis;
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 156

6) Bola basket;
7) Sepakbola;
8) Daoshu;
9) Renang;
10) Catur;
11) Atletik.
- BAPOPSI Kota Magelang belum dibentuk, masih dalam kajian utamanya dalam hal
pembiayaannya. Fungsi BAPOPSI yang dijalankan selama ini melalui koordinasi
antar instansi.
Berdasarkan UU no.3 th.2005, di Kota Magelang diimplementasikan pembagian
kewenangan pembinaan olahraga adalah sebagai berikut :
- Olahraga dalam rangka pendidikan dikelola oleh Dinas Pendidikan;
- Olahraga yang bersifat rekreasi dan masyarakat oleh Dinas Pemuda dan Olahraga;
- Olahraga untuk memacu prestasi oleh KONI.
Dalam hal olahraga rekreasi, sering dilakukan kegiatan semisal jalan santai, gowes
dan senam bersama baik yang bersifat rutin setiap hari minggu maupun yang bersifat
insidential.
c. Permasalahan yang dihadapi
- Fasilitas olahraga yang ada belum standar nasional/internasional, sehingga ketika
terjadi persaingan untuk menjadi tuan rumah Pekan Olahraga kalah bersaing
dengan daerah lain.
- Pembangunan stadion madya terkendala anggaran, sehingga masih banyak yang
belum bisa dimanfaatkan.
- Dalam dua tahun terakhir, Pekan Olahraga antar Kelurahan (PORKEL) tidak
dilaksanakan karena keterbatasan anggaran.
- Prestasi olahraga terus mengalami penurunan.
Sasaran terwujudnya pembibitan, pembinaan, pemanduan olah raga secara kontinyu,
kinerjanya diukur dengan menggunakan 25 indikator. Namun demikian, terdapat banyak
indikator kinerja yang tidak dapat diukur disebabkan oleh :
- Tidak tersedia datanya
- Tidak jelas definisi operasionalnya.
Selain itu terdapat pula indikator kinerja yang tidak tepat karena sebenarnya hanya
merupakan data riil bukan kinerja (hasil kerja).

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 157

Misi Keenam : Mengembangkan paham kebangsaan dan meningkatkan kualitas keimanan


dan ketaqwaan guna mewujudkan rasa aman ketentraman masyarakat.

1. Terwujudnya peningkatan kesadaran wawasan kebangsaan masyarakat


Dalam kehidupan sosial kemasyarakatan Kota Magelang yang hetrogen dan sarat dengan
segala keanekaberagaman suku, ras, agama, adat istiadat maupun strata sosial sangat
memungkinkan terjadinya segala bentuk masalah kerawanan sosial ataupun konflik, baik
yang bersifat SARA/laten, ataupun tak terkecuali ancaman-ancaman dalam bentuk
penyakit masyarakat, disamping kemungkinan lain yang ditimbulkan atas adanya masalah
bencana alam. Dalam konteks kompleksitas tersebut peran pemerintah sebagaimana
amanat Undang-Undang Dasar 1945 bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia
bertanggung jawab melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah
Indonesia dengan tujuan untuk memberikan perlindungan terhadap kehidupan dan
penghidupan dalam rangka mewujudkan kesejahteraan umum yang berlandaskan
Pancasila.
Namun dalam mengemban amanat tersebut peran pemerintah tentunya tidak akan
maksimal tanpa adanya peran dan partisipasi dari seluruh komponen masyarakat.
Sehingga dalam hal ini kesadaran akan pentingnya wawasan kebangsaan bagi masyarakat
merupakan salah satu indikator utama.
Berbagai upaya pemerintah Kota Magelang dalam menumbuhkembangkan wawasan
kebangsaan diantaranya melalui pembentukan berbagai forum komunikasi yang
melibatkan elemen tokoh pemuda, tokoh masyarakat, maupun tokoh agama. Salah satu
upaya tersebut melalui Forum Persaudaraan Bangsa Indonesia (FPBI) yang merupakan
wahana dialog untuk menumbuhkan kembali wawasan kebangsaan, cinta tanah air dan
jati diri bangsa, serta meningkatkan apresiasi nilai-nilai kebangsaan.
Adapun capaian kinerja indikator sasaran meningkatnya kesadaran wawasan kebangsaan
masyarakat Kota Magelang pada tahun 2013 sebesar 130,77% (sangat baik) dengan
rincian sebagai berikut:
Tahun 2012
NO
1

2
3

Indikator Kinerja Utama


Frekuensi kegiatan Forum
Persaudaraan Bangsa Indonesia
(FPBI)
Jumlah konflik bernuansa SARA
Jumlah ormas yang mengikuti
kegiatan wawasan kebangsaan di
tingkat Provinsi dan Nasional

Satuan

Tahun 2013

Kali

Targ
et
2

Realis
asi
2

%Capaian
Kinerja
100%

Tar
get
2

Reali
sasi
2

%Capaian
Kinerja
100%

Konflik
ormas

0
12

0
14

100%
117%

0
13

0
25

100%
192%

Sumber : Badan Kesbangpolimas Kota Magelang, 2013

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 158

2. Terwujudnya kelancaran pelaksanaan Pemilihan Umum Presiden, Legislatif, dan


Kepala Daerah
Salah satu indikator sasaran dari terwujudnya kelancaran pelaksanaan Pemilihan Umum
(PEMILU) Presiden, Legislatif dan Kepala Daerah di Kota Magelang adalah melalui
forum dialog antar warga masyarakat dengan Forum Pimpinan Daerah. Dialog tersebut
bertujuan untuk memberikan pembinaan pendidikan politik bagi warga masyarakat di
Kota Magelang; menciptakan suasana aman, tertib, nyaman di Kota Magelang dalam
mendukung kelancaran pelaksanaan Pemilihan Umum Presiden, Legislatif, dan Kepala
Daerah; menyamakan persepsi dalam implementasi peraturan-peraturan di bidang
politik khususnya; disamping sebagai wahana untuk mempererat tali silaturahmi serta
menjalin komunikasi antara forum pimpinan daerah dengan masyarakat dalam
memantapkan semanagat persatuan dan kesatuan. Adapun capaian kinerja indikator
terwujudnya kelancaran pelaksanaan Pemilihan Umum (PEMILU) Presiden, Legislatif
dan Kepala Daerah di Kota Magelang sebesar 100% (sangat baik) dengan rincian sebagai
berikut:
Tahun 2012
NO

Indikator Kinerja Utama

Satuan

Frekwensi dialog antara warga


masyarakat dengan Forum Pimpinan
Daerah

Kali

Tar
get
---

Realis
asi
---

Tahun 2013

%Capaian
Kinerja
---

Tar
get
1

Reali
sasi
1

%Capaian
Kinerja
100%

Sumber : Badan Kesbangpolimas Kota Magelang, 2013


3. Terwujudnya peningkatan pembinaan politik daerah
Indikator dari sasaran terwujudnya peningkatan pembinaan politik di daerah melalui
prosentase partisipasi masyarakat dalam pemilihan Presiden, Legislatif, maupun
pemilihan Kepala Daerah mengalami pergerakan yang fluktuatif. Angka partisipasi
masyarakat dalam menggunanan hak suara tersebut sangatlah dipengaruhi oleh tingkat
tingkat kepercayaan masyarakat terhadap elite politik dan para pemimpin di negeri ini,
disamping faktor kesadaran dari individu warga untuk berpartisipasi menggunakan hak
pilihnya melalaui pemilihan umum. Adapun target prosentase partisipasi masyarakat
dalam pemilihan Presiden, Legislatif, maupun pemilihan Kepala Daerah di Kota Magelang
pada tahun 2013 adalah sebesar 73.25% dengan capaian sebesar 66.7%.
Capaian indikator kinerja sasaran ini sebesar 95,53% (sangat baik) dengan rincian
sebgai berikut sebagai berikut:
Tahun 2012
NO

Indikator Kinerja Utama

Satuan

Persentase partisipasi masyarakat


dalam Pemilu, Pilpres, Pilkada
(pembinaan politik daerah)
Tingkat pelanggaran dalam pemilu

Tahun 2013

Tar
get

Realis
asi

%Capaian
Kinerja

Tar
get

Reali
sasi

%Capaian
Kinerja

---

---

---

73,3
5%

66,70
%

91%

---

---

---

100%

Sumber : Badan Kesbangpolimas Kota Magelang, 2013

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 159

4. Terwujudnya pembinaan terhadap LSM, Ormas dan OKP


Pembinaan terhadap Lembaga Swadaya Masyarakat, Organisasi Kemasyarakatan,
maupun Organisasi Kepemudaan bertujuan mempererat jalinan silaturahmi, komunikasi
serta hubungan kerjasama antara Pemerintah Daerah dengan Ormas dan LSM, dan
sebagai wahana untuk menumbuhkembangkan nilai-nilai wawasan kebangsaan serta
menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan bangsa. Indikator dari sasaran terwujudnya
pembinaan terhadap LSM, Ormas dan OKP adalah jumlah ormas yang mengikuti kegiatan
wawasan kebangsaan di tingkat provinsi dan nasional. Adapun capaian kinerja dari
indikator tersebut pada tahun 2013 sebesar 192% atau terdapat 25 ormas yang telah
mengikuti kegiatan wawasan kebangsaan baik di tingkat provinsi dan nasional, dari
target yang direncanakan sebanyak 13 ormas. Capaian keikutsertaan ormas Kota
Magelang dalam wawasan kebangsaan tersebut dibandingkan dengan tahun 2012
mengalami kenaikan yang cukup signifikan yaitu dari 14 menjadi 25 ormas.
Capaian kinerja untuk indikator sasaran sebagai berikut:
Tahun 2012
NO
1

Indikator Kinerja Utama


Jumlah ormas yang mengikuti
kegiatan wawasan kebangsaan di
tingkat Provinsi dan Nasional

Satuan
ormas

Tahun 2013

Tar
get

Realis
asi

%Capaian
Kinerja

Tar
get

Realis
asi

%Capaian
Kinerja

12

14

116,67%

13

25

192%

Sumber : Badan Kesbangpolimas Kota Magelang, 2013


5. Terwujudnya masyarakat yang hidup dengan dasar norma-norma agama.
Sejauh ini kehidupan antar umat beragama di Kota Magelang dapat dikatakan sangat
harmonis, hal tersebut tercermin dari tidak adanya konflik sara, selalu terjaganya
sikap toleransi, menghormati dan saling menghargai antara beda pemeluk agama baik
dalam aspek kehidupan bergama, bermasyarakat, berpolitik maupun dalam
kepemerintahan. Hal tersebut tidak terlepas dari dikembangkannya sikap saling
terbuka melalui sistem dialog baik antar sesama pemeluk agama, lintas agama maupun
antara pemeluk agama dengan pemerintah.
Indikator dari sasaran terwujudnya masyarakat yang hidup dengan dasar norma-norma
agama adalah adanya frekuensi koordinasi forum umat beragama dan dialog antar umat
agama. Capaian kinerja dari indikator tersebut sebesar 2 kali forum atau 67% dari
target yang ditetapkan di tahun 2013.
Capaian indikator kinerja sasaran ini sebesar 66,67% (cukup) dengan rincian sebagai
berikut :
Tahun 2012
NO
1

Indikator Kinerja Utama


Jumlah ormas yang mengikuti
kegiatan wawasan kebangsaan di
tingkat Provinsi dan Nasional

Satuan
Keg.

Tahun 2013

Tar
get

Realis
asi

%Capaian
Kinerja

Tar
get

Realis
asi

%Capaian
Kinerja

100%

67%

Sumber : Badan Kesbangpolimas Kota Magelang, 2013

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 160

6. Terwujudnya peningkatan ketertiban dan keamanan masyarakat


Kecenderungan individu ataupun sekelompok masyarakat untuk melakukan mencapai
tujuan secepatnya tanpa banyak berusaha dan berkorban dalam arti mengikuti
kaidah-kaidah, norma ataupun aturan akan menimbulkan dampak negative terhadap
kehidupan masyarakat dan jalannya pelaksanaan pemerintahan. Dengan kata lain hal
tersebut akan mengganggu prasyarat mutlak yang harus dipenuhi bagi terselenggaranya
proses pembangunan suatu daerah yaitu ketertiban dan keamanan. Suasana
ketidakamanan dan ketidaktertiban akan berpotensi melahirkan berbagai penyakit
masyarakat seperti, kriminalitas, penyalahgunaan narkoba, minuman keras, perjudian,
pelacuran, premanisme, dan sebagainya. Sejauh ini Pemerintah Kota Magelang
bekerjasama dengan masyarakat dan segenap pemangku kepentingan telah berupaya
menciptakan iklim suasana internal yang kondusif guna menekan angka indikasi rentan
yang berpotensi menimbulkan masalah/penyakit masyarakat tersebut melalui berbagai
indikator kinerja yang diampu oleh stagkholder terkait.
Berbagai indikator kinerja dalam pencapaian sasaran terwujudnya peningkatan
ketertiban dan keamanan masyarakat adalah :
Indikator prosentase penurunan penyakit masyarakat, yang pencapaiannya diupayakan
melalui tindakan penegakan hukum berupa operasi penertiban guna menekan angka
penyakit masyarakatmelalui operasi pemberantasan penyakit masyarakat dengan
langkah-langkah alternatif solusi melalui pembinaan dan pemberdayaan secara
konstruktif dengan melibatkan berbagai unsur atau instansi terkaitantara lain: Dinas
Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Sosial sebagai leading sector, Kesbangpolinmas, Satuan
Polisi Pamong Praja, serta dari unsur Kepolisian dan POM TNI. Kegiatan operasi pekat
tersebut merupakan kegiatan razia penyakit masyarakat dan gangguan kamtibmas,
dengan sasaran meliputi hotel, tempat hiburan dan jalan-jalan di Kota Magelang, dan
razia terhadap pelajar dengan sasaran narkoba, senjata tajam dan film porno.
Indikator kinerja angka kriminalitas yang yang tertangani tahun 2013, berdasarkan
data yang diperoleh dari Kepolisian Resort Magelang Kota, terdapat 132 laporan tindak
kejahatan yang terjadi, sebanyak 90 tindak kejahatan berhasil diselesaikan, sedangkan
sisanya masih dalam proses penyelesaian. Sehingga dibandingkan dengan jumlah
penduduk Kota Magelang sebanyak 130.836 jiwa per Desember 2013, maka indikator
angka kriminalitas yang tertangani pada tahun 2013 adalah sebesar 6,89 dengan capaian
kinerja dari indikator sebesar 52%.
Terkait dengan indikator jumlah Linmas per 10.000 penduduk, dapat disampaikan bahwa
berdasarkan jumlah penduduk Kota Magelang per Desember 2013 sebanyak 130.836
jiwa, dan jumlah personil Linmas yang tersebar di 17 Kelurahan se Kota Magelang
sebanyak 782 orang, maka indikator kinerja ini sebesar 59,77 atau sebesar 72,3% dari
target tahun 2013 sebesar 82,69. Mengacu pada data penduduk Kota sebagaimana
diatas, maka untuk indikator jumlah Polisi Pamong Praja per 10.000 penduduk dapat
disampaikan bahwa jumlah polisi pamong praja Kota Magelang Tahun 2013 sebanyak 59
orang, sehingga indikator jumlah polisi pamong praja per 10.000 penduduk adalah
sebesar 4,51 dengan capaian kinerja sebesar 90,02%.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 161

Sedangkan untuk capaian kinerja indikator jumlah petugas Perlindungan Masyarakat di


Kota Magelang adalah 782 linmas atau sebesar 97,75% dari sebanyak 800 linmas yang
ditargetkan di tahun 2013. Kurangnya capaian jumlah Linmas di Kota Magelang Tahun
2013 tersebut dikarenakan adanya mutasi angota linmas, baik yang meninggal dunia
ataupun pindah.
Adapun untuk indicator jumlah Poskamling per jumlah Kelurahan dari data tahun 2013 di
Kota Magelang terdapat jumlah Pos Keamanan Lingkungan (Poskamling) yang tersebar di
17 Kelurahan se Kota Magelang sebanyak 262 poskamling, yang meliputi 113 poskamling
aktif, 65 poskamling cukup aktif, dan 84 poskamling kurang aktif, sehingga untuk
capaian kinerja indikator ini adalah 15 atau sebesar 115%, lebih besar dari yang
ditargetkan di tahun 2013 sebesar 13 poskamling.
Capaian indikator kinerja sasaran ini sebesar 86,14% (baik) dengan rincian sebagai
berikut :
Tahun 2012
NO
1
2
3
4
5
6
7

Indikator Kinerja Utama

Satuan

Tahun 2013

Tar
get

Realis
asi

%Capaian
Kinerja

Tar
get

Realis
asi

%Capaian
Kinerja

Persentase penurunan
penyakit masyarakat
Angka kriminalitas yang
tertangani
Jumlah Polisi Pamong Praja
per 10.000 penduduk
Jumlah Linmas per 10.000
penduduk
Petugas Linmas di Kota

---

---

---

25

25

100%

13

16,34

125,69%

13,5

6,89

51%

4,75

4,42

93,05%

4,51

90,02%

81.5
4

56,51

69,3%

82,6
8

59,77

72,3%

775

740

98.01%

800

782

97,75%

Jumlah Pos Kamling aktif per


jumlah Kelurahan
Penegakan Perda dan
Peraturan KDH yang
berkaitan dengan ketertiban
umum dan ketentraman
masyarakat
Tingkat penyelesaian
pelanggaran K3 (ketentraman,
ketentraman, keindahan)

13

15,41

118,54%

13

15

115%

Keg.

---

---

---

63%

25%

---

---

35%

35%

100%

Sumber : Badan Kesbangpolimas Kota Magelang, 2013


7. Terwujudnya peningkatan profesionalitas aparat kamtibmas, satlinmas, SAR,
Satpol PP
Adapun untuk indikator dari sasaran terwujudnya peningkatan profesionalisme aparat
Kamtibmas, Satlinmas, SAR dan Satuan Polisi Pamong Praja pada tahun 2013
diwujudkan melalui pelatihan tenaga pengendali bencana yang bertujuan agar aparat
mampu cepat tanggap, baik dalam memberikan pertolongan baik untuk dirinya sendiri
maupun masyarakat disekitarnya, serta diharapkan mampu berkoordinasi dan
bekerjasama dengan pihak-pihak yang terlibat langsung dalam penanggulangan bencana
khususnya di wilayah Kota Magelang. Adapun jumlah aparat Kamtibmas, Satlinmas, SAR

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 162

dan Satuan Polisi Pamong Praja yang mendapatkan diklat linmas/kamtibmas/


SAR/Satuan Polisi Pamong Praja sebanyak 295 aparat, yang terdiri dari pelatihan
pengendalian ketertiban, keamanan dan kenyamanan dan pelatihan pengendali bencana.
Sehingga capaian kinerja indikator ini sebesar 100% sangat baik dengan rincian sebagai
beriuk.
Capaian kinerja untuk indikator sasaran sebagai berikut:

NO
1

Indikator Kinerja Utama


Jumlah aparat yg mendapatkan
diklat linmas/
kamtibmas/SAR/Satpol PP

Sat
uan
Keg.

Tahun 2012

Tahun 2013

Targ
et

Realis
asi

%Capaian
Kinerja

Tar
get

Reali
sasi

%Capaian
Kinerja

40

97

242,50%

295

295

100%

Sumber : Badan Kesbangpolimas Kota Magelang, 2013


8. Terwujudnya peningkatan pemahaman dan kemampuan aparatur dan masyarakat
menangani resiko korban bencana
Bencana alam merupakan kejadian alam yang tidak dapat diprediksi kapan dan dimana
akan terjadi, namun dalam hal ini satu hal yang tidak boleh kita abaikan adalah
manajemen penganan dan pengendalian bencana alam, baik terkait dengan kesiapan,
kesigapan maupun pemahaman dari aparatur dan masyarakat dalam mengantisipasi saat
kejadian dan pasca kejadian bencana. Sejauh ini guna mewujudkan rasa aman dan
nyaman dalam di masyarakat terkait dengan kemungkinan terjadinya bencana dilakukan
melalui penyiapan petugas penanggulangan bencana yang disertai dengan penguatan
seluruh komponen masyarakat untuk mengantisipasi, mempersiapkan, dan mewaspadai
akan ancaman terjadinya bencana.
Dalam hal penanggulangan bencana alam selain telah disiapkan petugas penanggulangan
bencana yang terlatih atau satlinmas inti penanggulangan bencana yang pada tahun 2013
terdapat sejumlah 782 satlimas, juga diupayakan berbagai penyediaan sarana dan
prasarana pendukung, termasuk didalamnya pembentuknan Satuan Pelaksana Tanggap
Bencana. Disamping hal tersebut sebagai langkah antisipasi terkait dengan manajemen
penanggulangan bencana telah disusun database pemantauan dan penyebarluasan
informasi bencana alam berupa inventarisasi kejadian bencana yang pernah terjadi di
Kota Magelang disusun berdasarkan laporan kejadian bencana.
Sementara untuk cakupan pelayanan bencana kebakaran di lingkup Kota Magelang pada
tahun 2013 terdapat 2 mobil damkar : 26.000, realisasi cakupan dari indikator ini di
tahun 2013 sebesar 5 mobil damkar : 26.000 sehinggai capaian kinerja dari indikator ini
sebesar 250%. Sementara terkait dengan Indikator Kinerja Utama terkait tingkat
waktu tanggap daerah layanan Wilayah Manajemen Kebakaran terealisir sebesar 100%
pada tahun 2013.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 163

Capaian kinerja untuk indikator sasaran ini sebesar 100% (sangat baik) dengan rincian
sebagai berikut:
Tahun 2012
NO

Indikator Kinerja Utama

Satuan

Tersedianya Satlinmas inti


penanggulangan bencana
Kelengkapan
sarana/prasarana
penanggulangan bencana di
setiap SKPD/perusahaan/
perkampungan
Cakupan pelayanan bencana
kebakaran Kota
Frekuensi sosialisasi dan
pelatihan menghadapi resiko
bencana
Ada/tidaknya prosedur
penanggulangan bencana
Ada tidaknya satgas
penanggulangan bencana
Tingkat waktu tanggap
daerah layanan Wilayah
Manajemen Kebakaran
(Response Time Rate)

Kali

5
6
7

Tahun 2013

Targ
et

Realis
asi

%Capaian
Kinerja

Tar
get

Reali
sasi

%Capaian
Kinerja

Orang

60

60

100%

62

62

100%

---

---

---

60

60

100%

1
mobil :
26000
3

1
mobil :
26000
2

100%

100

100

100%

66,67

100%

Ada/
Tidal

ada

ada

100%

ada

ada

100%

Ada/
Tidal

ada

ada

100%

ada

ada

100%

100

100

100%

100

100

100%

Sumber : Badan Kesbangpolimas Kota Magelang, 2013

E. AKUNTABILITAS KINERJA KEUANGAN


Akuntabilitas Kinerja keuangan meliputi evaluasi dan analisis pengalokasian
anggaran berikut sumbernya serta realisasinya dalam rangka pembiayaan program dan
kegiatan.
Undang-Undang nomor 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara mensyaratkan
penyampaian laporan pertanggungjawaban keuangan pemerintah dalam rangka mewujudkan
transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan negara yang disusun dengan
mengikuti Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP). Laporan keuangan tersebut
setidak-tidaknya meliputi Laporan Realisasi Anggaran, Neraca, Laporan Arus Kas, dan
Catatan atas Laporan Keuangan.
Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 2005 tentang Standar Akuntansi
Pemerintahan (SAP), selain empat jenis laporan keuangan tersebut (yang disebut sebagai
laporan keuangan pokok), entitas pelaporan juga menyajikan Laporan Kinerja Keuangan dan
Laporan Perubahan Ekuitas.
Laporan Realisasi Anggaran selain menyajikan realisasi pendapatan dan belanja,
juga menjelaskan prestasi kerja setiap unit/lembaga. Secara detail Laporan Realisasi
Anggaran akan menyajikan ikhtisar sumber, alokasi, dan pemakaian sumber daya ekonomi
yang dikelola oleh pemerintah, yang menggambarkan perbandingan antara anggaran dan
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 164

realisasinya. Unsur yang dicakup dalam laporan tersebut meliputi pendapatan, belanja,
transfer, dan pembiayaan.
Manfaat informasi tersebut antara lain adalah untuk mengetahui/mengukur
apakah penggunaan sumber daya ekonomi telah dilakukan secara efisien dan efektif.
Pernyataan tegas berkaitan dengan prestasi kerja atau kinerja antara lain dapat
ditunjukkan pada Catatan atas Laporan Keuangan dan Laporan Kinerja Keuangan. Perhatian
atas kinerja keuangan tidak hanya dari segi perubahan aset bersih pemerintah tetapi juga
pada perbandingan antara target dengan realisasi, tingkat efisiensi serta efektivitasnya.
Tingkat efisiensi diukur dengan membandingkan antara keluaran (output) dengan masukan
(input). Sedangkan tingkat efektivitas diukur dengan membandingkan antara hasil
(outcome) dengan output. Hal tersebut terkait dengan tujuan dan sasaran yang ingin diraih
sesuai dengan Rencana Strategis Pemerintah.
Laporan Realisasi Pendapatan dan Belanja disusun berbasis akrual, menyajikan
pendapatan operasional, belanja, dan pengungkapan surplus/defisit, menurut klasifikasi
ekonomi seperti beban penyusutan, beban gaji, tunjangan pegawai dan sebagainya. Selain
itu Laporan Realisasi Pendapatan dan Belanja juga diklasifikasikan berdasarkan
urusan/fungsi dan program.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan
Keuangan daerah, yang secara operasional diatur dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri
Nomor 59 tahun 2007 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13
Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan daerah, secara ringkas laporan yang
berkaitan dengan kinerja keuangan tahun 2011 dapat disajikan sebagai berikut :
1. Pendapatan Daerah, meliputi :
a. Pendapatan Asli Daerah (PAD)
Realisasi
Pendapatan
Asli
Daerah
Tahun
2013
tercapai
sebesar
Rp 107.739.838.961,00 dari anggaran sebesar Rp 96.302.877.000,00, artinya
realisasi Pendapatan Asli Daerah Tahun Anggaran 2013 melebihi target sebesar
111,88%.
Tabel 3.7
Target dan Realisasi Pendapatan Asli Daerah Tahun 2013
No

a
b
c
d

Uraian

Target

Realisasi

Prosentase

PENDAPATAN ASLI
DAERAH

96.302.877.000

107.739.838.961

111,88

Pajak Daerah
Retribusi Daerah
Hasil Pengelolaan Kekayaan
Daerah yang Dipisahkan
Lain-Lain PAD yang Sah

14.032.760.000
7.335.730.000
5.854.163.000

18.829.673.340
7.357.207.773
5.872.500.274

134,19
100,29
100,31

69.080.580.000

75.680.457.574

109,55

Sumber : Laporan Realisasi Pendapatan 2013, DPPKD

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 165

b. Dana Perimbangan
Realisasi Dana Perimbangan Tahun 2013 tercapai sebesar Rp 431.113.288.290,00
dari anggaran sebesar Rp 432.675.902.000,00, artinya realisasi Dana Perimbangan
Tahun Anggaran 2013 mencapai presentase sebesar 99,64%.
Tabel 3.8
Target dan Realisasi Dana Perimbangan Tahun 2013
No

Uraian

DANA PERIMBANGAN
a
b
c

Bagi Hasil Pajak/Bagi Hasil


Bukan Pajak
Dana Alokasi Umum
Dana Alokasi Khusus

Target

Realisasi

Prosentase

432.675.902.000

431.113.288.290

99,64

24.023.025.000

24.609.560.290

102,44

385.859.241.000
22.793.560.000

385.859.241.000
20.644.487.000

100,00
90,57

Sumber : Laporan Realisasi Pendapatan 2013, DPPKD


c. Lain-Lain Pendapatan Daerah yang Sah
Realisasi Lain-Lain Pendapatan Daerah yang sah Tahun 2013 tercapai sebesar
Rp 95.906.857.889,00 dari anggaran sebesar Rp 99.982.652.000,00, artinya
realisasi Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah Tahun Anggaran 2013 hanya
mencapai 95,92%.
Tabel 3.9
Target dan Realisasi Lain-Lain Pendapatan Daerah yang Sah Tahun 2013
No
Uraian
Target
Realisasi
Prosentase

a
b
c

Lain-Lain Pendapatan Daerah


yang Sah

99.982.652.000

95.906.857.889

95,92

Bagi Hasil Pajak Dari Propinsi


dan Pemda Lainnya
Dana
Penyesuaian
dan
Otonomi Khusus
Bantuan
Keuangan
dari
Propinsi atau Pemda Lainnya

23.197.130.000

19.546.928.516

84,26

63.049.373.000

63.049.373.000

100,00

13.736.149.000

13.310.556.373

96,90

Sumber : Laporan Realisasi Pendapatan 2013, DPPKD


Realisasi Biaya pemungutan (operasional) dalam rangka mendapatkan realisasi Pajak
Daerah maupun Pajak Bumi dan Bangunan (Dana Perimbangan) pada Tahun 2012 adalah:
1). Biaya Pemungutan PBB sebesar Rp 436.376.493,00
2). Insentif Pemungutan Pajak Daerah sebesar Rp 371.318.929,00
2. Belanja Daerah, meliputi :
a. Belanja Tidak Langsung
Realisasi Belanja Tidak Langsung pada Tahun Anggaran 2013 sebesar
Rp 313.072.355.985,00 atau 85,42% dari anggaran sebesar Rp 366.493.880.000,00.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 166

Tabel 3.10
Target dan Realisasi Belanja Tidak Langsung Tahun 2013
Uraian
Target
Realisasi
Prosentase

No

1
2
3
4
5
6
7

BELANJA TIDAK
LANGSUNG

366.493.880.000

313.072.355.985

85,42

Belanja Pegawai
Belanja Bunga
Belanja Subsidi
Belanja Hibah
Belanja Bantuan Sosial
Belanja Bagi Hasil kpd
Prop/Kab/Kota
Belanja Bantuan Keuangan
kpd Prop/Kab/Kota dan
PemDes
Belanja Tidak Terduga

339.658.766.000
0
0
5.353.382.000
3.846.058.000
0

304.116.683.185
0
0
5.257.082.000
2.974.558.000
0

85,42
0,00
0,00
98,20
77,34
0,00

500.000.000

456.727.800

91,35

17.135.674.000

267.305.000

1,56

Sumber : Laporan Realisasi Anggaran APBD 2013, DPPKD


b. Belanja Langsung
Realisasi
Belanja
Langsung
pada
Tahun
Anggaran
2013
sebesar
Rp 317.778.361.372,00 atau 86,44% dari anggaran sebesar Rp 367.613.809.000,00.
Tabel 3.11
Target dan Realisasi Belanja Langsung Tahun 2013
Uraian
Target
Realisasi

No

BELANJA LANGSUNG
1

Belanja Pegawai

Belanja Barang dan Jasa

Belanja Modal

Prosentase

367.613.809.000

317.778.361.372

86,44

46.127.715.000

41.712.596.343

90,43

154.667.986.000

133.477.255.062

86,30

166.818.108.000

142.588.509.967

85,48

Sumber : Laporan Realisasi Anggaran APBD 2013, DPPKD


3. Pembiayaan
Tahun Anggaran 2013, Penerimaan Pembiayaan terealisasi Rp 112.323.083.425,00 atau
100,47% dari anggaran sebesar Rp 111.794.258.000,00, sedangkan Pengeluaran
Pembiayaan terealisasi Rp 6.648.000.000,00 atau 100% tercapai sesuai dengan
anggaran sebesar Rp 6.648.000.000,00, sehingga diperoleh Pembiayaan Netto sebesar
Rp 105.675.083.425,00.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 167

Tabel 3.12
Target Dan Realisasi Pembiayaan Tahun 2013
No

1
2
3
4
5
6
7

1
2
3
4
5

Uraian

Target

Realisasi

Prosentase

PEMBIAYAAN

105.146.258.000

105.675.083.425

100,50

PENERIMAAN PEMBIAYAAN

111.794.258.000

112.323.083.425

100,47

Sisa Lebih Perhitungan Anggaran


Daerah Tahun Sebelumnya
Pencairan Dana Cadangan
Hasil Penjualan Kekayaan Daerah
yang Dipisahkan
Penerimaan Pinjaman Daerah dan
Obligasi Daerah
Penerimaan Piutang Daerah
Penerimaan Dana Bergulir
Penerimaan Hasil Penarikan

111.574.258.000

111.574.258.920

100,00

0
0

0
0

0,00
0,00

0,00

0
220.000.000
0

0
748.824.505
0

0,00
340,37
0,00

PENGELUARAN PEMBIAYAAN

6.648.000.000

6.648.000.000

100,00

Pembentukan Dana Cadangan


Penyertaan Modal (Investasi)
Pemerintah Daerah
Pembayaran pokok Utang
Pemberian Pinjaman Daerah
Pemberian Dana Bergulir

2.000.000.000
4.648.000.000

2.000.000.000
4.648.000.000

100,00
100,00

0
0
0

0
0
0

0,00
0,00
0,00

Sumber : Laporan Realisasi Anggaran APBD 2013, DPPKD


Selanjutnya derajat kemandirian fiskal suatu pemerintah daerah dapat dilihat
dari :
1. Derajat desentralisasi fiskal antara Pemerintah Pusat dan Daerah dengan cara:
Rumus 1

= Pendapatan Asli Daerah (PAD)


Total Pendapatan Daerah (TPD)
= 107.739.838.961 = 16,97%
634.759.985.140

Rumus 2

= Bagi Hasil Pajak dan Bukan Pajak (BHPBP)


Total Pendapatan Daerah (TPD)
= 24.609.560.290 = 3,88%
634.759.985.140

Rumus 3

= Sumbangan Daerah (SD)


Total Pendapatan Daerah (TPD)
= 406.503.728.000 = 64,04%
634.759.985.140

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 168

Keterangan :
SD adalah Sumbangan Daerah yang diperoleh dari DAK (Dana Alokasi Khusus) ditambah
DAU (Dana Alokasi Umum).
TPD adalah Total Penerimaan Daerah yang diperoleh dari PAD, BHPBP dan SD
TPD = PAD + BHPBP + SD, jika hasil perhitungan meningkat maka derajat fiskal (tingkat
kemandirian) suatu daerah semakin menguat.
2. Rasio Efektivitas dan Efisiensi PAD
Rasio Efektivitas menggambarkan kemampuan pemerintah daerah dalam merealisasikan
Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang direncanakan, kemudian dibandingkan dengan
target yang ditetapkan berdasarkan potensi riil daerah. Kemampuan daerah dalam
menjalankan tugas dikategorikan efektif apabila rasio yang dicapai mencapai minimal 1
(satu) atau 100 %. Di mana, semakin tinggi rasio efektivitas menggambarkan
kemampuan daerah yang semakin baik. Untuk memperoleh ukuran yang lebih baik, rasio
efektivitas perlu dibandingkan dengan rasio efisiensi yang dicapai pemerintah daerah.
Rasio efisiensi adalah rasio yang menggambarkan perbandingan antara besarnya biaya
yang dikeluarkan untuk memperoleh pendapatan dengan realisasi pendapatan yang
diterima. Kinerja pemerintah daerah dalam melakukan pemungutan pendapatan
dikategorikan efisien apabila rasio yang dicapai kurang dari 1 (satu) atau di bawah 100
%. Di mana, semakin kecil rasio efisiensi berarti kinerja pemerintah semakin baik.
Sehingga, pemerintah daerah perlu menghitung secara cermat berapa besarnya biaya
yang dikeluarkan untuk merealisasikan seluruh pendapatan yang diterimanya, untuk
mengetahui apakah kegiatan pemungutan pendapatannya efisien atau tidak.

Rasio Efektifitas =

Realisasi Penerimaan PAD


----------------------------Target Penerimaan PAD

107.739.838.961,00
= ---------------------- = 111,88%
96.302.877.000,00

Rasio Efektifitas PAD sebesar 111,88%, hal ini berarti bahwa kemampuan pemerintah
daerah dalam merealisasikan Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang direncanakan sudah
efektif.
Rasio Efisiensi

Biaya yang Dikeluarkan untuk Memungut PAD


= -------------------------------------------------Realisasi Penerimaan PAD
=
585.097.969,00 = 0,54%
107.739.838.961,00

Pada tahun 2013 Rasio Efisiensi PAD sebesar 0,54 %, hal ini berarti bahwa kinerja
pemerintah daerah dalam melakukan pemungutan pendapatan dikategorikan efisien
dikarenakan rasio yang dicapai kurang dari 1 (satu). Di mana, semakin kecil rasio
efisiensi berarti kinerja pemerintah semakin baik.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Magelang Tahun 2013

BAB III

- 169