Anda di halaman 1dari 11

ABSTRAK

IDENTIFIKASI KEBERADAAN BATUBARA MENGGUNAKAN METODE


GEOLISTRIK KONFIGURASI DIPOLE-DIPOLE DAERAH TANJUNG
AGUNG UTARA DAN TELUK KIJING KABUPATEN MUSI BANYUASIN
SUMATERA SELATAN
Lena Maria Aida
Program Studi Teknik Geofisika Fakultas Teknologi Mineral Universitas
Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta
e-mail: muha_coro@yahoo.com
Abstrak
Penelitian pendugaan penyebaran batubara dengan metode geolistrik
konfigurasi dipol-dipole daerah Tanjung Agung Utara dan Teluk Kijing,
Kabupaten Musi Banyuasin, Sumtera Selatan telah dilakukan. Tujuan penelitian
ini adalah untuk mengidentifikasi keberadan dan kedalaman batubara berdasarkan
penampang resistivitas.
Pengukuran menggunakan konfigurasi dipole-dipole sebanyak 11 lintasan
dengan panjang 200 m. Pengolahan data menggunakan perangkat lunak Res2dinv.
Berdasarkan studi literatur dan hasil pengolahan data nilai resistivitas batubara di
daerah penelitian >750 m. Batubara dijumpai pada kedalaman 35-42 m. Setelah
dilakukan pemodelan 2D untuk memperjelas pola penyebaran batubara dibuat
model 3D menggunakan perangkat lunak Rockwork 14. Pola penyebaran batubara
di daerah penelitian hampir ke seluruh bagian namun cenderung ke timur dan
tenggara.
Kata kunci: Batubara,Geolistrik,Resistivitas,Dipole-dipole,Cekungan Sumatera
Selatan
Abstract
This research concerning to identification of coals distribution using
geoelectric method dipole-dipole configuration in Tanjung Agung Utara and
Kijing Bay, Banyu Asin District, South Sumatera. The main purpose of this
research to identified the location and depth of coal based on resistivity map.
The measure using 11 lines of dipole-dipole configuration with length
200m. The processing using Res2dinv. Based on the literature and result of
processing data resistivity in the target zone around 750 m. Coal can be
detected on depth 35-42 m. 3D modelling is used to identified the distribution
clearly using Rockwork 14. The pattern of coals spread in the target zone tends to
the east and south east.
Keyword : Coal, Geoelectric, Resistivity, Dipole-dipole, South Sumatera Basin

1.1. Pendahuluan

1.3. Maksud Dan Tujuan

Cekungan Sumatera Selatan


mengalami sedimentasi sejak awal
Tersier sampai dengan Kuarter.
Periode pertama adalah fase
transgresi
yang
mengahasilkan
formasi Talang Akar dan Gumai,
periode kedua merupakan fase
regresi menghasilkan Formasi Air
Benakat, Muara Enim dan Kasai.
Evaluasi terhadap keadaan geologi
daerah Tanjung Agung Utara dan
Teluk Kijing Kabupaten Musi
Banyuasin
Sumatra
Selatan
diketahui bahwa endapan batubara
hanya ditemukan pada Formasi
Muara Enim yang bertindak sebagai
satuan batuan batubara (Sukardi dan
Suriyana, 1999).

Maksud dari penelitian ini


adalah untuk mendapatkan data dan
informasi tentang potensi batubara
khususnya didaerah penelitian.
Tujuan dari penilitian ini
adalah untuk mengindentifikasikan
keberadaan batubara pada daerah
penelitian, dengan cara:
1. Untuk mengetahui keberadaan
karakteristik
batubara
berdasarkan nilai resisitivitas
pada daerah penelitian.
2. Untuk mengetahui kedalaman
batubara
berdasarkan
pemodelan 2D resistivitas di
bawah permukaan.
3. Untuk memodelkan sebaran
nilai
resistivitas
batubara
terduga secara 3D.

Batubara adalah bahan bakar


hidrokarbon yang terbentuk dari
tetumbuhan dalam lingkungan bebas
oksigen dan terkena pengaruh panas
serta tekanan yang berlangsung lama
sekali. Secara garis besar batubara
terdiri dari zat organik, air dan bahan
mineral. Metode geofisika adalah
salah satu metode yang dapat
digunakan dalam eksplorasi batubara
dalam upaya untuk mengetahui
keberadaan karakteristik batubara di
bawah permukaan sehingga dalam
proses penambangan diharapkan
akan tepat sasaran.
1.2. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah pada
penelitian ini adalah bagaimana pola
distribusi
resistivitas
bawah
permukaan dengan menggunakan
metode geolistrik resistivity 2D di
daerah Tanjung Agung Utara dan
Teluk Kijing Kabupaten Musi
Banyuasin Sumatra Selatan.

1.4. Batasan Masalah


Batasan
masalah
digunakan meliputi :

yang

1. Luas area penelitian 25 x 25 m


dengan spasi elektroda adalah 5
m.
2. Penelitian ini dilakukan didaerah
Tanjung Agung Utara dan Teluk
Kijing
Kabupaten
Musi
Banyuasin Sumatra Selatan.
3. Penelitian ini menggunakan
metode geolistrik tahanan jenis
konfigurasi dipole-dipole untuk
identifikasi keberadaan batubara.
1.5. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian
dilakukan
di
Universitas Pembangunan Nasional
Veteran Yogyakarta tanggal 25
Oktober 2013 26 November 2014,
dengan daerah objek penelitian yaitu
Tanjung Agung Utara dan Teluk
Kijing Kabupaten Musi Banyuasin
Sumatra selatan (Gambar 1.1)

Daerah penelitian

Gambar 1.1Peta lokasi penelitian (Mangga, 1993)

2.1. Geologi Regional


Cekungan Sumatera Selatan
merupakan salah satu diantara tiga
cekungan utama di Sumatera, yaitu
cekungan Sumatera Utara, cekungan
Sumatera Tengah dan cekungan
Sumatera Selatan menurut (Heidrick

and Aulia 1993), cekungan Sumatera


Selatan dibagi menjadi 4 subcekungan yaknisub-cekungan Jambi,
sub-cekungan Palembang Tengah
dan
sub-cekungan
Palembang
Selatan.

Cekungan
sumatera
selatan
Daerah
penelitian

Gambar 2.1. Pembagian Cekungan Sumatera Selatan


(Heidrick and Aulia 1993)

2.2. Stratigrafi Regional Cekungan


Sumatera Selatan
Stratigrafi umum Cekungan
Sumatera Selatan pada umumnya
dapat dikenal suatu daur besar
(megacycle) yang terdiri dari suatu
transgresi yang diikuti regresi.
Formasi yang terbentuk dalam fase

transgresi dikelompokkan menjadi


Kelompok Telisa (Formasi Lahat,
Formasi Baturaja dan Formasi
Gumai). Sedang yang terbentuk
dalam fase regresi dikelompokkan
menjadi
kelompok
Palembang
(Formasi Air Benakat, Formasi
Muara Enim dan Formasi Kasai).

Gambar 2.2. Kolom statigrafi dan tektonik regional


Sumatera Selatan (De Coster,1974)
2.3. Metode Geofisika
Metode geolistrik resistivitas
(tahanan jenis) adalah salah satu
metode geolistrik yang digunakan
untuk mempelajari keadaan bawah
permukaan dengan cara mempelajari
sifat aliran listrik di dalam batuan di
bawah permukaan bumi. Metode
resistivitas umumnya digunakan
untuk eksplorasi dangkal, sekitar 300
sampai 500 m.
2.4. Batubara

2.4.1. Definisi Batubara


Batubara merupakan suatu
campuran padatan yang heterogen
dan terdapat dialam dalam tingkat
(grade) yang berbeda mulai dari
lignit,
subbitumine,
antrasit.
Berdasarkan atas kandungan zat
terbang (volatile matter) dan
besarnya
kalori
panas
yang
dihasilkan batubara dibagi menjadi 9
kelas utama. (Sukandarrumidi ,
1995).

2.4.2.
Proses
Terbentuknya
Batubara
Batubara terbentuk dengan cara
yang
sangat
kompleks
dan
memerlukan waktu yang lama
(puluhan sampai ratusan juta tahun)
dibawah pengaruh fisika, kimia dan
keadaan geologi.
Menurut
Sukandarrumidi
(1995) ada 2 macam teori yang
menyatakan tempat terbentuk nya
batubara, yaitu :

2.4.3. Jenis-jenis Batubara


Thomas (2002) menyebutkan
bahwa batubara secara umum
berdasarkan jenisnya dibagi menjadi
empat macam yaitu lignites, subbituminous,
bituminous
dan
anthracites.
Batubara dikelompokan
menjadi beberapa jenis yaitu:
1. Antrasit; merupakan batubara
kualitas tertinggi, keras dan
mengkilap
2. Bituminus; berwarna hitam atau
hitam kecoklatan
3.
Sub-bituminus; kualitasnya
diantara Lignit dan Bituminus.
Nilai
resistivity
tersebut
berhubungan dengan parameterparameter geologi seperti mineral,
kandungan fluida, porositas. Metode

A. Teori Insitu
Teori ini menyatakan bahwa
bahan-bahan pembentuk lapisan
batubara terbentuknya ditempat
dimana tumbuh-tumbuhan asal itu
berada.
B. Teori Drift
Teori ini menyatakan bahwa
bahan-bahan pembentuk lapisan
batubara terbentuknya ditempat yang
berbeda dengan tempat tumbuhtumbuhan asal itu berada.

4. Lignit; disebut juga batubara


coklat dan dianggap sebagai
peringkat batubara terendah.
3.1. Teori Resisitivitas
Metode resistivitas adalah
salah satu metode geofisika yang
bertujuan mempelajari sifat fisis
batuan atau objek yang terdapat
dibawah permukaan. Metode ini
bertujuan menggambarkan distribusi
nilai resistivitas dibawah permukaan
bumi dari hasil pengukuran yang
dilakukan
dipermukaan
bumi
(Loke,1999).
Dari
pengukuran
tersebut diperoleh parameter fisis
yaitu nilai apparent resistivity.
resistivitas dapat dibagi menjadi dua
bagian yaitu :

1. Resistivity Sounding

2. Resistivity Mapping

Metode resistivity sounding


bertujuan mempelajari variasi nilai
resistivity
batuan
di
bawah
permukaan secara vertikal. Pada
metode ini pengukuran pada suatu
titik sounding dilakukan dengan cara
mengubah-ubah jarak elektroda.
Jarak elektroda ini sebanding dengan
kedalaman lapisan objek yang akan
dicari pada pengukuran sebenaarnya
di lapangan, perubahan jarak antara
objek elektroda yang dilakukan jika
memilih
alat
geolistrik
yang
memadai

Nilai resistivity sesungguhnya


bervariasi baik dalam arah vertikal
maupun
horizontal
sehingga
resistivity sounding belum dapat
memberikan hasil yang akurat.
2.1.1. Medan Potensial
Medium Homogen

Pada

Jika arus listrik mengalir


kedalam bumi yang homogen
isotropik melalui elektroda arus,
maka arus mengalir ke segala arah
dan permukaan ekuipotensial dalam
bumi berupa permukaan bola. Seperti
terlihat pada(Gambar III.1)

Gambar 3.1Medan Potensial Medium yang Homogen (Daud, 2008)

Karena arus yang mengalir


adalah kontinu pada medium yang
A
homogen isotropik, bila
adalah ampere/meter .

Dengan ;
2
J : Rapat arus ( A/ m )

Maka arus
A
yang melalui permukaan
adalah
J. A .
Selanjutnya,

E : Medan listrik ( vol/m )

berdasarkan hokum ohm hubungan


antara rapat arrus J dengan medan
listrik E adalah :

Medan
listrik
E
dapat
dinyatakan sebagai gradient potensial
( Telford et. al, 1990 ).

J = E
(1.1)

:
konduktivits
bahan
( meter/.m ) : resistivity.m )

E = - V
(2.2)

V adalah satuan volt, maka jika


persamaan
(3.2)
disubtitusikan
kepersamaan
(3.1)
menjadi:J=
E= V
(3.3)

4.2. Pengolahan Data


Dari informasi geologi yang ada,
dapat di tentukan desain survey
lintasan yang di inginkan ataupun
segala hal yang di inginkan dengan
posisi lintasan sesuai target yang di
inginka ( Gambar 4.2 ).

Gambar ( 4.2 ) Peta Desain Survey

Setelah melakukan proses data


dilapangan, selanjutnya
penulis
melakukan loading data untuk
masing-masing
lintasan
menggunakan softwore res2dinv.
Pengolahan
ini
bertujuan
mendapatkan nilai true resistivity
objek di bawah permukaan. Daria
kuisisi data lapangan, penulis
memperoleh data berupa koordinat
lokasi pengukuran, nilai arus listrik,
dan berpotensial.Pemodelan yang
dilakukan ini bertujuan untuk
memperoleh 2D lapisan di bawah
permukaan yang nantinya dapat
mendiskripsikan keadaan bawah
permukaan
khususnya
untuk
mengetahui posisi dan kedalaman
dari target yang di cari yaitu
batubara.
4.3. Interpretasi Data

Tahap akhir dari pengolahan


data
adalah
menginterpretasika
nhasil yang sudah di dapatkan pada
proses inverse (Inversi modeling)
pemodelan dilakuakan dengan teknik
inverse menggunakan Res2dinv agar
untuk menetapkan nilai resistivity
yang di dapatkan dari data lapangan
yang nilainya masih merupakan
resistivitas semu. Pemodelan ini
bertujuan
untuk
memperoleh
penampang 2D lapisan bawah
permukaan
yang
dapat
mendeskripsikan keadaan bawah
permukaan
khususnya
untuk
mengetahui posisi dan kedalaman
dari target yang dicari adalah
batubara.

5.1. Interpretasi Keberadaan


Batubara

Dari hasil pengukuran dengan


menggunakan metode geolistrik
konfigurasi dipole-dipole agar untuk
mengetahui atau mengidentifikasi
keberadaan
batubara
dibawah
permukaan.
Parameter-parameter
a
tersebut adalah
(resistivitas), V
(potensial), I (arus). Dari parameter
tersebut dilakukan proses inversi
menggunakan software Res2dinv
untuk mendapatkan 2D distribusi
resistivitas bawah permukaan dalam
penampang tersebut pada daerah
penelitian sehingga dari hasil
pencitraan tersebut akan dapat
tergambar secara sebaran situs

megalitikum yang terdapat dibawah


permukaan tanah. Dan hasil akhir
tersebut dapat diketahui harga
resistivitas yang sebenarnya dari batu
bara didaerah penelitian dengan
didukung oleh data geologi regional
didaerah penelitian .hasil akhir
proses inversi tersebut kemudian di
interpretasikan
pada
setiap
penampang lintasan yang hasilnya
berupa keberadaan batubara. Dari
hasil penampang tersebut telah
dilakukan proses iterasi yang
bertujuan untuk mendapatkan error
yang kecil. Berikut ini hasil dari
penampang berupa resistivitas.

5.1.1. Interpretasi Lintasan 1


X=040506
3

X=04048
81
Batuba
ra

Gambar 5.1. Penampang resistivitas lintasan 1


Berdasarkan hasil pengolahan
Lintasan 1 menggunakan perangkat
lunak res2dinv diperoleh penampang
resistivitas 2D dengan degradasi
warna
yang
berbeda
yang
menandakan
perbedaan
nilai
resistivitas
batuan
dibawah
permukaan bumi. Interpretasi ini di
dasarkan dari informasi geologi
berupa kolom stratigrafi daerah
penelitian dan tabel resistivitas dari
Santoso
(2013)
maka
di
interpretasikan sebagai berikut nilai

resistivitas <10 m ditunjukkan dari


warna biru biru tua di
interpretasikan sebagai batulanau,
10-20 m hijau mudah sampai hijau
tua di interpretasikan sebagai
lempung, 20-100 m kuning sampai
orange di interpretasikan batupasir,
100-750 m warna di interpretasikan
sebagai batubara lempung, dan nilai
>750 m dengan warna ungu di
interpretasikan sebagai batubara.
Sedangkan untuk harga resistivitas

besar yang berwarna merah diduga


sebagai soil.
6.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian
yang dilakukan dapat disimpulkan
bahwa pengolahan data yang
menggunakan konfigurasi dipoledipolemaka
dapat
disimpulkan
sebagai berikut :
1. Geologi daerah penelitian berada
di Daerah Tanjung Agung Utara
dan Teluk Kijing Kabupaten
Musi
Banyuasin,Sumatera
Selatan yang memiliki batuan
utama
batubara
dengan
ketebalan formasi sekitar 500
700 meter,15 % nya berupa
batubara dengan formasi muara
enim yang berumur miosen akhir
pilosen awal.
2. Kedalaman
batubara
yang
didapat dari pemodelan 2D
dengan kedalamannya mencapai
35-40 m pada lintasan 1, pada
lintasan 2-3 kedalaman batubara
mencapai 33-42,2 m, lintasan
4 memiliki kedalaman batubara
31-37,9 m, dan lintasan 5-11
memiliki kedalama batubara
mencapai 33-42,3 m.
3. Berdasarkan model 3D sebaran
batubara
menyebar
hampir
merata pada seluruh daerah
penelitian.

6.2. Saran
Berdasarkan
proses
pengolahan sampai interpretasi yang
dilakukan
maka
penulis
menyarankan beberapa hal yaitu
sebagai berikut :

1. Perlu melakukan penelitian yang


lebih akurat lagi perlu dilakukan
penambahan lintasan dengan
spasi yang lebih kecil agar
mendapatkan resolusi yang lebih
baik.
2. Untuk mengetahui keakuratan
pengolahan data dengan kondisi
sebenarnya maka perlu adanya
data bor sebagai data pendukung
agar
memudahkan dalam
melakukan pengolahan data.

DAFTAR PUSTAKA
Bishop, M.G., 2001, South Sumatra
Basin Province; Lahat /
Talang Akar Cenozoic total
petroleum System, USGS
open file report.

10

Claerbout , J, F. and Muir F., 1973.


Robust
modeling
with
erratic data Gophysics.
Daniels, F. and Alberth, R. A., 1966.
Physical
Chemistry.Jhon
Willey and Sons, Inc.
Degroot Hedlin, C and
Constable,
S,.
1990.
Occams inversional models
form magnetotelluric data,
Geophysics 55, 1613
1624.
De Coster, G.L.,1974, The Geologi
of Central Sumatera and
South Sumatera Basin,
Proceeding Indonesia
Petroleum Association, 4th
Annual Convention.
Djumhani.
1998.
pengantar
eksplorasi batubara,pusat
pengembangan
tenaga
pertambangan, Bandung.
Dey A. and Morrison H.F., 1979a,
Resistivity modeling for
arbitrary arbitrary shaped
2D structures.Geophysical
prospecting 27,1020-1036.
Daud,. Yunus 2008 , Lucture Note :
Geoelectricity
and
Electromagnetism.
University of Indonesia.
Indonesia.
Edwards L.S. 1977. A modified
pseudosection for resistivity
and induced polarization
Geophysics, 42, 1020
1036.
Ellis, R.G. and Oldenburg, D.W.,
1994a, Applied geophysical
inversion:
Geophysicsl

journal Interntional.116, 511.6


Ginger, D and K.Fielding 2005, The
peroleom system and future
potential of the South
Sumatra basin. Proc.30 th
Ann.conv
Indo
petrol.
ASSOC.
Heidrick ,T.I, and Aulia. K,1993. A
Structural and Tectonic
model of the Coastal Plains
bloc, Central Sumatera
basin,Indonesia Petroleum
Association, 22/I,285-317.
Ilyas. 1994 ; Eksplorasi lanjutan
endapan
batubara,
Kabupaten Muis Banyuasin
Propinsi Sumatra Selatan,
Dit. SDM, tidak diterbitkan.
Inman,

J.R., 1975, Resistivity


inversion
with
ridge
inversion
geophysics.40,
798-817.

Kuncoro. 1996. Model Pengendapan


Batubara Untuk Menunjang
Eksplorasi
Bandung
:Perencanaan
Tambang, / Program Studi
Rekayasa Pertambangan,
ITB.
Loke., 2004. Tutorial : 2-D and 3-D
Electrical imaging survey.
De. Coster G.L., 1974 The
Geologi of the Central
Sumatra and South Sumatra
Basins,
Proceeding
Indonesian
Petroleum
th
Assoc.,
4
Annual
Conventionn.

11