Anda di halaman 1dari 36

BAB IV

INJEKSI AIR PADA SECONDARY RECOVERY

Operasi perolehan minyak tahap kedua (secondary recovey) dilakukan


dengan maksud untuk memperoleh minyak sisa di reservoir yang tidak dapat diambil
dengan metode tahap pertama (primary recovery). Dalam operasi perolehan tahap
kedua ini, suatu fluida diinjeksikan ke dalam reservoir minyak sisa tersebut bukan
untuk mempertahankan energi reservoir, tetapi secara fisik mendesak minyak sisa
dari reservoir. Waterflooding (injeksi air) merupakan salah satu dari metode
perolehan tahap kedua yang banyak digunakan dalam industri perminyakan, karena
water flooding mempunyai banyak keuntungan daripada metode perolehan tahap
kedua yang lainnya (gas flooding), diantaranya yaitu :
0

air tersedia dalam jumlah yang melimpah,

air relatif mudah diinjeksikan,

air mampu menyebar melalui formasi bearing minyak, dan

air lebih efisien dalam mendesak minyak.


Dalam sejarahnya, water flood pertama kali terjadi sebagai suatu hasil dari

injeksi air yang tidak disengaja pada daerah Pithole City Pensylvania di tahun 1865.
Pada tahun 1880, John F. Carll menyimpulkan bahwa air tanah dari lapisan yang
lebih dangkal mampu mendorong minyak dari reservoir dan memberi manfaat dalam
membantu peningkatan produksi minyak. Pada saat itu air dirasakan sebagai fungsi
utama dari injeksi air dalam mempertahankan tekanan reservoir yang memberikan
sumur-sumur itu mempunyai umur produktif yang lebih panjang.
Pada awalnya metode waterflooding ini dilakukan dengan menginjeksikan air
ke dalam sumur tunggal; saat zone yang terinvasi air meningkat dan sumur-sumur
yang berdekatan dimana air tidak menjangkaunya dijadikan sumur penginjeksi untuk
memperluas daerah invasi air. Ini dikenal sebagai circle flooding. Teknik ini
kemudian diperbaiki oleh Forest Oil Corp. dengan mengubah beberapa sumur
produksi menjadi sumur injeksi air dan membentuk suatu pola line drive.

4.1. Pengertian Waterflooding


Pada banyak reservoir minyak, tekanan reservoir akan berkurang selama
produksi berlangsung. Penurunan tekanan reservoir di bawah tekanan jenuh (bubble
point) dari hidrokarbon mengakibatkan keluarnya gas (komponen hidrokarbon yang
ringan) dari dalam minyak. Gelembung gas akan membentuk fasa yang
bersinambungan dan mengalir ke arah sumur-sumur produksi, bila saturasinya
melampaui harga saturasi equilibrium. Terproduksinya gas ini akan mengurangi
energi yang tersedia secara alami untuk memproduksikan minyak, sehingga jumlah
minyak yang dapat diproduksikan (recovery) secara alami dapat berkurang pula.
Secara umum dapat dikatakan bahwa penurunan tekanan yang tidak terkontrol
memberikan kontribusi terhadap pengurangan recovery.
Penurunan tekanan reservoir dapat diperlambat secara alami bila penyerapan
reservoir oleh sumur-sumur produksi diimbangi oleh perembesan air ke dalam
reservoir dari aquifer. Air ini berperan sebagai pengisi atau pengganti minyak yang
terproduksi, disamping berperan sebagai media pendesak. Mekanik produksi minyak
yang mengandalkan tenaga pengembangan dari gas yang keluar dari larutan
(depletion drive). Kenyataan ini mendorong orang untuk melakukan proses
penginjeksian air (waterflooding) dari permukaan bumi ke dalam reservoir minyak.
Waterflooding merupakan metode perolehan tahap kedua dimana air
diinjeksikan ke dalam reservoir untuk mendapatkan tambahan perolehan minyak
yang bergerak dari reservoir minyak menuju ke sumur produksi setelah reservoir
tersebut mendekati batas ekonomis produktif melalui perolehan tahap pertama.
Penginjeksian air yang dimaksudkan disini merupakan penambahan energi
kedalam reservoir melalui sumur-sumur tertentu, yaitu sumur injeksi. Air ini akan
mendesak minyak mengikuti jalur-jalur arus (stream line) yang dimulai dari sumur
injeksi dan berakhir pada sumur produksi. Pada suatu saat partikel air yang bergerak
dari sumur injeksi ini akan sampai pada sumur produksi, pada saat mana air mulai
terproduksi.

Gambar 4.1.
Kedudukan Air Sepanjang Jalur Arus Sebelum dan Sesudah
Tembus Air Pada Sumur Produksi 13)
Gambar 4.1. menunjukkan kedudukan partikel air A, B, C, D, dan E yang bergerak
pada waktu yang bersamaan di sekeliling lubang sumur, melalui jalur arus 1, 2, 3, 4,
dan 5. Jalur-jalur ini merupakan seperempat bagian dari pola injeksi-produksi lima
titik (five spot). Gambar itu memperlihatkan pula kedudukan partikel air yang
membentuk batas air-minyak sebelum (a) dan sesudah (b) tembus air (water
breakthrough) pada sumur produksi. Fraksi air yang turut terproduksi ini makin lama
makin besar, sehingga suatu saat produksi sumur tidak ekonomis lagi.
Sekarang timbul pertanyaan, berapa besar volume minyak yang telah
diproduksikan dengan bantuan injeksi air sampai dengan lain produksi yang tidak
bernilai ekonomis. Atau dengan perkataan lain pertanyaan ini menyangkut berapa
besar recovery minyak dalam tahap produksi sekunder itu (proses injeksi air
merupakan tahap produksi sekunder yang proses pelaksanaannya mengikuti tahap
produksi primer). Pertanyaan ini sebenarnya memerlukan jawaban sebelum
keputusan untuk melaksanakan proses penginjeksian air diambil.
Sebelum dilakukan proses waterflooding maka diperlukan studi pendahuluan
yang meliputi :

0
Perolehan data-data
0
Sifat fisik batuan reservoir.
0
Permeabilitas rata-rata dalam berbagai luasan reservoir.
1
Data porositas dalam berbagai luasan reservoir.
2
Heterogenitas reservoir mengenai perubahan permeabilitas dalam setiap
ketebalan.
1
Sifat fluida reservoir.
Meliputi : gravitasi, faktor volume formasi, dan viscositas sebagai fungsi
saturasi fluida.
2
Distribusi saturasi air.
Distribusi saturasi air sebelum dan sesudah injeksi.
3
Model geologi.
Diperlukan pengetahuan tentang model geologi yang dapat diterapkannya
waterflooding dengan tepat, pengetahuan meliputi stratigrafi dan struktur.
4
Sejarah produksi dan tekanan.
Identifikasi mengenai mekanisme pendorong selama masa produksi awal
seperti; water drive, gas cap drive, solution gas drive. Perkiraan minyak yang
tersisa setelah produksi awal serta distribusi tekanan dalam reservoir.
5
Air untuk injeksi.
Air untuk injeksi harus mempunyai syarat-syarat :
0 Tersedia dalam jumlah yang cukup sepanjang masa injeksi
1 Tidak mengandung padatan-padatan yang tidak dapat larut.
2 Secara kimiawi stabil dan tidak mudah bereaksi dengan elemenelemen yang terdapat dalam sistem injeksi dan reservoir.
1
Simulasi reservoir.
Sebelum waterflooding diterapkan terlebih dahulu dibuat simulasinya
berdasarkan data-data diatas. Simulasi dapat dibuat dalam sistem 1 dimensi, 2
dimensi, dan 2 dimensi dengan teknik numerik.
2
Laboratorium.
Diadakan penelitian laboratorium untuk mencari kecocokan antara proses
waterflooding dengan sifat batuan dan fluidanya.
3
Pilot Project.
Mencoba mengaplikasikan ke dalam permasalahan di lapangan. Ada dua jenis
pola injeksi yang umum digunakan, yaitu pola five-spot dan single-injection.
Kedua pola ini dapat memaksimalkan jumlah migrasi minyak.
4
Monitoring.
Melihat dan mengevaluasi hasil yang diperoleh dari lapangan. Di evaluasi apakah
tidak terjadi aliran minyak yang keluar dari pilot area.
5
Resimulasi.
Hasil yang diperoleh dari lapangan dibandingkan dengan simulasi reservoir yang
dibuat, lalu diadakan penyesuaian antara kondisi lapangan dengan simulasi
reservoirnya.
6
Evalusi ekonomi.
Meliputi: Perkiraan biaya yang dibutuhkan, perhitungan-perhitungan dan
presentasi.

Sedangkan penilaian layak tidaknya suatu proyek waterflooding memerlukan


keterangan-keterangan mengenai :
Tahap pendahuluan
: perkiraan recovery menyeluruh.

Tahap lanjutan
: perkiraan laju produksi terhadap waktu.
Perkiraan recovery menyeluruh ini diperlukan untuk memperoleh gambaran
kasar apakah proses injeksi air layak dilaksanakan. Persamaan empiris yang dapat
digunakan adalah :
0
Guthrie Greenberger
ER = 0,2719 log K + 0,25569 Sw + 0,1355 log o 1,538 - 0,0003488 h +
0,11403 ................................................................................................ (4-1)
0
API

1 S w
E R 54,898

Boi

(4-2)
dimana :

0 , 0422

k Wi

oi

0 , 0770

Sw

0 ,1903

Pi Pa 0,2159

Sw

: permeabilitas, mD

: porositas, fraksi

: tebal formasi

viscositas minyak, cp

viscositas air, cp

Bo

faktor volume formasi minyak, (STB/BBL)

Pi

tekanan reservoir mula-mula, psia

Pa

tekanan reservoir pada saat ditinggalkan, psia

....

saturasi air, fraksi

Secara volumetris dapat pula ditentukan jumlah minyak yang dapat


dihasilkan oleh penginjeksian air yaitu berdasarkan persamaan:
S op

N pf 7758 V sw E t

Bop

S or
Bor

.............................................................. (4-3)

dimana :
Npf

: kumulatif produksi minyak, STB

Vsw

: gross swept volume, acre-ft

Sop

: saturasi minyak pada saat dimulai injeksi, fraksi

Sor

: saturasi minyak pada saat akhir injeksi, fraksi

Bop

: faktor volume formasi minyak pada awal injeksi,


BBL/STB

Bor

: faktor volume formasi minyak pada akhir injeksi,

Et

: effisiensi total penginjeksian, fraksi.

BBL/STB

Gross swept volume, Vsw merupakan volume minyak yang dipengaruhi oleh
letak dari sumur injeksi-produksi yang harganya belum tentu sama dengan volume
reservoir keseluruhannya. Faktor efisiensi, Et dipengaruhi sifat homogenitas reservoir
(variasi harga permeabilitas dalam arah vertikal) dan pola susunan sumur injeksiproduksi.
4.2. Perencanaan Waterflooding
0

Penentuan Lokasi Sumur Injeksi-Produksi


Pada umumnya dipegang prinsip bahwa sumur-sumur yang sudah ada

sebelum injeksi dipergunakan secara maksimal pada waktu berlangsungnya injeksi


nanti. Jika masih diperlukan sumur-sumur baru maka perlu ditentukan lokasinya.
Untuk memilih lokasi sebaiknya digunakan peta distribusi cadangan minyak tersisa.
Di daerah yang sisa minyaknya masih besar mungkin diperlukan lebih banyak sumur
produksi daripada daerah yang minyaknya tinggal sedikit. Peta isopermeabilitas juga
membantu dalam memilih arah aliran supaya penembusan fluida injeksi
(breakthrough) tidak terjadi terlalu dini.

4.2.2. Penentuan Pola Sumur Injeksi-Produksi


Untuk meningkatkan faktor perolehan minyak salah satu caranya adalah
dengan efisiensi yang sebaik-baiknya dengan membuat satu caranya adalah dengan
mendapatkan efisiensi yang sebaik-baiknya dengan membuat pola sumur injeksiproduksi.Tetapi kita harus tetap memegang prinsip bahwa sumur yang sudah ada
sebelum injeksi harus dapat digunakan semaksimal mungkin pada waktu
berlangsungnya injeksi nanti.
Pertimbangan-pertimbangan dalam penentuan pola sumur injeksi produksi
tergantung pada:

Tingkat keseragaman formasi, yaitu penyebaran permeabilitas ke arah lateral

maupun ke arah vertikal.


1

Struktur batuan reservoir meliputi patahan, kemiringan, dan ukuran.

Sumur-sumur yang sudah ada (lokasi dan penyebaran).

Topografi.

Ekonomi.
Pada operasi waterflooding sumur-sumur injeksi dan produksi umumnya

dibentuk dalam suatu pola tertentu yang beraturan, misalnya pola tiga titik,lima titik,
tujuh titik, dan sebagainya. Pola sumur dimana sumur produksi dikelilingi oleh
sumur-sumur injeksi disebut dengan pola normal. Sedangkan bila sebaliknya yaitu
sumur-sumur produksi mengelilingi sumur injeksi disebut dengan pola inverted.
Masing-masing pola mempunyai sistem jaringan tersendiri yang mana memberikan
jalur arus berbeda-beda sehingga memberikan luas daerah penyapuan yang berbedabeda. Diantara pola-pola yang paling umum digunakan :
0

Direct line drive

: sumur injeksi dan produksi membentuk garis

tertentu dan saling berlawanan. Dua hal penting untuk diperhatikan dalam sistem ini
adalah jarak antara sumur-sumur sejenis (a) dan jarak antara sumur-sumur tak sejenis
(b)
1

Staggered line drive : sumur-sumur yang membentuk garis tertentu dimana

sumur injeksi dan produksinya saling berlawanan dengan jarak yang sama panjang,
umumnya adalah a/2 yang ditarik secara lateral dengan ukuran tertentu.

Gambar 4.2.
Pola-Pola sumur Injeksi-Produksi 10)
2

Four spot

: terdiri dari tiga jenis sumur injeksi yang membentuk

segitiga dan sumur produksi terletak ditengah-tengahnya.


3

Five spot

: Pola yang paling dikenal dalam waterflooding dimana

sumur injeksi membentuk segi empat dengan sumur produksi terletak ditengahtengahnya.
4

Seven spot

: sumur-sumur injeksi ditempatkan pada sudut-sudut

dari bentuk hexagonal dan sumur produksinya terletak ditengah-tengahnya.

4.2.3. Penentuan Debit Injeksi dan Tekanan


Debit injeksi yang akan ditentukan di sini adalah untuk sumur-sumur dengan
pola tertutup dengan anggapan bahwa mobility ratio (R) sama dengan satu. Besarnya
debit injeksi sangat tergantung pada perbedaan tekanan injeksi di dasar sumur dan

tekanan reservoirnya. Bentuk persamaan dikembangkan dari Persamaan Darcy sesuai


dengan pola sumur injeksi-produksi,sebagai berikut :

Pola direct line drive (d/a 1),

3.541 k w P x 10 3
................................................. (4-4)
w ln a / rw 1,571 d / a 1,838
Pola staggered line drive (d/a 1),

3.541 k w h P x 10 3
i
................................................. (4-5)
w ln a / rw 1,571 d / a 1,838

Pola five spot (d/a = 0,5),

3,541 k w h P x 10 3
..................................................................... (4-6)
w ln d / rw 0,619

Pola seven spot,

4,72 k w h P x 10 3
i
..................................................................... (4-7)
w ln d / rw 0,619
dimana :
i

: laju injeksi,bbl/day

kw

: permeabilitas efektif terhadap air, mD

: ketebalan, ft

: perbedaan tekanan di dasar, psi

: viscositas air,cp

: jarak antara sumur tidak sejenis, ft

: jarak antara sumur sejenis

rw

: jari-jari efektif sumur, ft

Persamaan yang disebutkan diatas adalah laju injeksi dari fluida yang
mempunyai mobilitas yang sama (M=1) karena reservoir minyak terisi oleh cairan
saja. Untuk menentukan laju injeksi sampai dengan terjadinya interferensi digunakan
persamaan:

iw

7,07 x 10 3 k h P
w

ln r / rw o ln re / r

K ro
k rw

........................................................ (4-8)

dimana :
re

: radius terluar oil bank, ft

: radius terluar dari front pendesakan air, ft

Dari persamaan darcy terlihat bahwa debit injeksi dan tekanan injeksi
mempunyai keterkaitan. Masalah sekarang adalah besaran mana yang harus
ditentukan lebih dahulu, karena keduanya merupakan besaran yang dapat diatur
dalam operasi injeksi air. Untuk mencapai keuntungan ekonomis yang maksimal
biasanya diinginkan debit injeksi yang maksimal, namun ada pembatasanpembatasan yang harus diperhatikan. Batas bawah debit injeksi adalah debit yang
menghasilkan produksi minyak yang merupakan batas ekonomisnya. Batas atas debit
injeksi adalah debit yang berhubungan dengan tekanan injeksi yang mulai
menyebabkan terjadi rekahan di reservoir. Metode untuk memperkirakan debit
injeksi yang terbaik dengan menggunakan pola five spot seperti yang ditunjukan
pada gambar berikut ini.

Gambar 4.3.
Divisi dari Sebuah Segment Jaringan Sumur Five-Spot
Kedalam Sektor Aliran Radial 22)

Gambar 4.4.
Conductance Ratio Untuk Five Spot Pattern 13)
Analisa berikutnya adalah injeksi air dari interface sampai dengan fill-up.
Besarnya laju injeksi pada perioda ini dinyatakan dengan persamaan:
iwf = x I .............................................................................................. (4-9)
dimana :
iwf
: laju injeksi air selama fill up, bbl/day
i
: laju injeksi fluida dengan M = 1, bbl/day
0
: conductance ratio yang ditentukan dari grafik
Gambar 4.4. memperlihatkan salah satu contoh grafik conductance ratio
untuk pola five spot. Dengan diketahuinya laju injeksi pada setiap periode dari
perilaku water flood, maka diramalkan waktu injeksi dari setiap periode.
0

Penentuan Performance Injeksi Berpola


Percobaan model fisik berskala kecil menghasilkan beberapa grafik
performance dalam bentuk hubungan Es (effisiensi penyapuan) terhadap Vid (volume
yang diinjeksikan, tak berdimensi), atau fw (fraksi laju aliran dari fluida pendesak,
misalnya air) terhadap M (perbandingan mobilitas air terhadap minyak). Model fisik
ini menggambarkan reservoir dan aliran sebagai berikut :
0
Tebal lapisan dibandingkan dengan ukuran reservoir adalah kecil, sehingga
persoalan dapat dianggap 2 dimensi.
1
Tidak ada pengaruh gravitasi atau kemiringan reservoir adalah kecil (<10o)
2
Reservoir bersifat homogen
3
Pendesakan torak dan aliran mantap berlaku pada proses injeksi.

Hasil percobaan diperoleh dari perekaman daerah yang didesak dan


dinyatakan dalam hubungan Es terhadap bermacam-macam harga fw dan Vid

Es

luas daerah di belakang front


luas unit pola injeksi
......................................................................... (4-10)

Vid

volume yang telah diinjeksi Vi


................................................ (4-11)
volume pori pori yang didesak V d

Vd = Vb (1 Swc Sor) ...................................................................................... (4-12)


Untuk tiap-tiap pola injeksi ada grafik tersendiri. Gambar 4.5. adalah salah
satu contohnya, yaitu untuk pola sumur five spot. Hasil percobaan ini dapat
digunakan untuk menentukan performance dari reservoir yang mengalami injeksi
berpola, baik untuk lapisan tunggal maupun untuk reservoir berlapis-lapis. Dalam hal
ini akan dibahas untuk reservoir lapisan tunggal.

Gambar 4.5.
Grafik Effisiensi untuk Pola Penyapuan Lima Titik 13)
Pada waktu injeksi dimulai reservoir akan mengandung gas bebas bila
tekanan reservoir berada dibawah tekanan jenuh. Gas bebas ini baru dapat mengalir
bila saturasi gas sudah melampaui harga saturasi yang kritis (Sg > Sgc). Gas bebas
pada saat saturasi mencapai Sg Sgc masih belum dapat mengalir, sehingga injeksi air
tidak dapat mendesak gas ke arah sumur-sumur produksi melainkan tertinggal di
belakang front atau larut kembali dalam minyak.
4.2.4.1. Penentuan Performance Bila 0SgSgc
Besaran-besaran ukuran performance yang digunakan adalah :

Np
Wp
Wi
WOR

= produksi minyak kumulatif


= produksi air kumulatif
= injeksi air kumulatif
= perbandingan laju produksi air terhadap laju produksi minyak

Gambar 4.6.
Grafik Efisiensi Penyapuan Untuk pola Lima Titik 10)
Perhitungan dimulai dengan menentukan harga-harga :
0
Perbandingan mobilitas
M

K rw
k ro

S or
S wc

o
............................................................................................. (4-13)
w

1...........VD = volume pori-pori yang dapat didesak oleh air (displaceble pore volume)
= Vb . (1 Swc Sg Sor) ..................................................................... (4-14)

2...Dari grafik-grafik (seperti pada gambar 4.6.) dapat ditentukan hubungan Es vs Vid
(=Vi/VD) atau Es vs fw untuk harga M yang bersangkutan.
I. Vid
Es
II.
Es
fw

* = tembus air
dst
dst
dst
dst
Di buat gambarnya
pada kertas milimeter
Dari hubungan Vid vs Es seperti di atas dapat dihitung :
dE s
(fo)res =
dVid
(fw)res = 1 (fo)res
dE s
= tan , dimana adalah sudut kemiringan dari grafik Es vs Vid
dVid
dE s
Es
atau

Vid
dVid
0
Dari harga (fw)res dapat dihitung :
f
WOR res w res ................................................................................ (4-15)
1 f w res

WOR s WOR res Bo

.......................................................................... (4-16)
Bw
1................................................................................................Selanjutnya ditentukan :
(E )
V
N p s mod el D .................................................................................... (4-17)
Bo
(V )
V
Wi id mod el D ................................................................................... (4-18)
Bw
Wi B w N p Bo
Wp
................................................................................ (4-19)
Bw
Hasil yang diperoleh dari perhitungan di atas memberi kemungkinan untuk
menghitung harga-harga :

fo s

d (N p )

d W p N p

WOR s 1 ( f o ) s
f o res
d (N p )

d W p N p

......................................................................................... (4-20)
......................................................................................... (4-21)

= tan , dimana tan adalah sudut kemiringan dari grafik


Np vs (Wp + Np)

Gambar 4.7.
Grafik Hubungan Np vs (Wp + Np) 13)
Bila digunakan hubungan Es vs fw maka perhitungan performance dilakukan sebagai
berikut :
0.Setelah menentukan M dan Vd, maka dibuatlah grafik Es vs fw. Kemudian dihitung ;
f o res dE s
dViD
dE s
1 f w res
dViD
dViD
ViD

1
dE s ............................................................................... (4-22)
1 - f w res
1
dE s
1 f w res
1

Harga integral sama dengan luas grafik 1 f


vs Es
w res

Dari sini diperoleh harga-harga Es vs ViD


V x VD
Wi iD
Bw
E x VD
Np s
Bo

WOR s

f w res
1 f w res

Bo
.......................................................................... (4-23)
Bw

4.2.4.2. Penentuan Performance Bila Sg>Sgc


Gas bebas yang dapat mengalir akan bergerak mendahului minyak bila
didesak oleh air. Mobilitas gas jauh lebih besar dari mobilitas minyak, sehingga gas
akan mendahului minyak, tetapi tidak semua gas akan terdorong oleh minyak.
Sebagian akan tertinggal sebagai reidual gas atau terlarut kembali dalam minyak.
Bila di buat penampang aliran dari sumur injeksi hingga sumur produksi akan terlihat
tiga zona, yaitu air, minyak, dan gas seperti dapat dilihat pada gambar 4.8.

Gambar 4.8
Zona Minyak dan Gas 21)
Dari mulai terbentuknya hingga oil bank mencapai sumur produksi minyak
tetap diproduksikan seperti sebelum di injeksi dimulai (kecuali bila sumur-sumur
produksi ditutup) dengan harga GOR yang tinggi. Laju produksi minyak akan
bertambah setelah oil bank mencapai sumur produksi (oil breakthrough) disertai
dengan berkurangnya harga GOR. Perkiraan performance dilakukan berdasarkan
data Es vs fw (ViD vs Es) dengan memperhatikan jumlah air yang telah di injeksi (Wif)
hingga oil bank breakthrough.
Penentuan performance berikaut ini di peroleh dari metode yang sama seperti
untuk lapisan tunggal dimana 0SgSgc disertai dengan anggapan bahwa :
1. Oil bank diusahakan bertemu pada sumur produksi yang dikelilingi oleh sumur
injeksi, hal ini telah dicapai oleh sistem injeksi berpola.

2. Oil telah mengisi seluruh bagian reservoir kecuali daerah yang diisi oleh air pada
saat oil bank mencapai sumur produksi. Oil bank breakthrough terjadi bersamaan
di semua unit dari injeksi berpola.
3. Selama pengisian pori-pori yang telah ditinggalkan oleh gas dengan minyak
hingga oil bank breakthrough tercapai (fill-up) sumur tetap memproduksi minyak
(qo) seperti sebelum injeksi dimulai.
Pada saat oil bank breakthrough terjadi maka volume air dan situasi minyak
adalah sebagai berikut :
1. Situasi minyak pada oil bank :
So = (1 Swc Sgr) ........................................................................................ (4-24)
Dan displaceable porosity :
D = (1 Swc Sgr Sor) ............................................................................. (4-25)
2. Jumlah air yang telah diinjeksi, Wif, mengisi ruangan yang telah ditinggalkan
oleh :
0.....................................................Gas bebas yang mengalir keluar sebanyak :
Vb (Sg Sgr)
1Reservoir void sebagai akibat minyak terproduksi sebesar qo selama fill-up
(t) :
Wif = Vb (Sg Sgr) + (void rate) (t)
dimana :
(t) =

Wif

iw = laju injeksi

i w Bw

void rate = qo . Bo
Sehingga :
Vb S g S gr
W

q B
............................................................... (4-26)
1 o o
i w Bw

atau :
S g S gr
ViD

q B
................................ (4-27)
1 o o 1 S w S gr S or
i w Bw

Sampai dengan fill-up :


Minyak yang diproduksikan :
Wi
V V
N pf q o
D iD ....................................................... (4-28)
i w Bw
iw Bw
Untuk Wi Wif atau ViD ViDf
Setelah fill-up :
Produksi minyak kumulatif :
E s ViDf VD
Np
N pf .................................................... (4-29)
Bo

E s V D ViDf
Bo

................................................................... (4-30)

Untuk Wi Wif
Volume air yang telah diinjeksikan sejak operasi dimulai :
Vi

mod el V D
V D
............................................................ (4-31)

Wi
Bw
Produksi air kumulatif :
Wp = volume air yang diinjeksikan sesudah fill-up
= volume air yang menggantikan minyak sesudah fill-up.
ViD ViDf VD E s ViDf VD

=
Bw
Bw
ViD E s V D
=
............................................................... (4-32)
Bw
Perbandingan air minyak / Water Oil Ratio (BAM/WOR) di permukaan :

WOR s

dW p
dN p

........................................................................ (4-33)

Secara tabulasi perhitungan performance disusun sebagai berikut :


ViD
Es
Es - ViDf ViD - Es
WI
Np
Wp

(WOR)s

4.2.5. Sistem Pengolahan Air Injeksi


Air yang diinjeksikan ke dalam reservoir seringkali menimbulkan beberapa
persoalan, seperti korosi baik pada peralatan di permukaan ataupun di bawah
permukaan, scale, swelling, padatan tersuspensi, gas yang terlarut ; yang kesemuanya
itu bisa mengurangi efficiency pendorongan minyak oleh air.
Apabila air yang diinjeksikan berasal dari sumber lain jika bukan dari formasi
yang akan diinjeksi, maka haruslah diperiksa terlebih dahulu sifat campuran kedua
air tersebut. Apakah campuran itu tidak menimbulkan endapan-endapan kimia seperti
barium sulfat, calcium sulfat, calcium carbonat, sulfida besi dan oksida besi yang
diakibatkan unsur-unsur dari zat-zat tersebut dalam air injeksi. Jika hal ini terjadi,
maka pori-pori formasi akan tersumbat dan injeksi air akan macet atau kurang lancar.

Begitu pula akibat banyaknya oksigen dalam air injeksi bisa menimbulkan
tumbuhnya bakteri dalam pori-pori formasi, sehingga hal serupa dapat terjadi. Pada
pokoknya campuran tersebut selain tidak boleh menimbulkan endapan, dan tidak
boleh merusak formasi, misalnya kalau dalam formasi kapur tidak boleh
menyebabkan larutnya formasi tersebut, juga kalau dalam formasi clay tidak boleh
menimbulkan swelling. Sehingga dikatakan bahwa sifat campuran kedua air biasa
disebut compatibility. Dua macam air lebih dikatakan compatibility-nya baik apabila
campuran tersebut tidak menyebabkan reaksi apa-apa.
Untuk mencegah problem-problem ditimbulkan seperti diatas, maka dapat
digunakan treatment yang berupa ;
1. Aeration,
Adalah pemecahan air menjadi partikel-peartikel halus ke dalam suatu ruangan.
Proses ini dimaksudkan untuk pengoksidasian besi dan mangan yang terdapat di
dalam air, sehingga hasil oksidasinya dapat tersaring. Aeration juga digunakan
untuk menghilangkan karbondioksida dan hidrogen sulfida dari dalam air.
Aeration, sudah tentu menyebabkan penambahan kadar oksigen dalam air, dan ini
bisa menjadikan air lebih korosif. Akan tetapi metode ini terutama dipakai untuk
air yang mengandung besi, mangan, karbondioksida dan hidrogen sulfida.
2. Penambahan zat kimia (chemical treatment)
Chemical treatment ini berfungsi untuk menghilangkan senyawa-senyawa yang
dapat menghilangkan korosi, scale, swelling. Jadi di sini penambahan zat kimia
yang dipergunakan untuk weater treatment pemilihannya bergantung kepada
persoalan yang dihadapi. Misalnya, garam-garam alkali digunakan untuk
menaikkan pH dan menghilangkan karbondioksida ; chlor seringkali dipakai
untuk mengontrol algae, dan sebagainya.
3. Settling atau pengendapan
Dimaksudkan untuk mengendapkan padatan-padatan yang tersuspensi dalam air.
Sehingga dapat memisahkan benda padat yang halus seperti lumpur, clay, sand,

dan silt dari air. Tempat-tempat yang biasa dipakai untuk pengendapan ini adalah
oil skimmer tank atau skimming pit.
4. Algae treatment
Algae treatment ini dilakukan dengan menambahkan zat-zat kimia seperti chlor,
hypochlorite, tembaga sulfate dan phenol ke dalam air. Caranya adalah zat-zat
tersebut diinjeksikan ke dalam air sebagai gas dalam jumlah yang kecil, tetapi
kontinu.
5. Penyaringan (filtering)
Penyaringan ini berfungsi sebagai penyaring dari partikel-partikel yang
tersuspensi dalam air, dengan ukuran yang lebih kecil. Dalam prakteknya
dilakukan setelah treatment terhadap zat-zat yang berbentuk endapan.
6. De-aeration
Yaitu proses pemecahan air menjadi partikel-partikel di dalam suatu ruang
hampa, sehingga oksigen bersatu dengan udara, kemudian dikeluarkan oleh
vacum pump.
Dalam prakteknya pengolahan-pengolahan tersebut diklasifikasikan dalam
tiga sistem, yaitu sistem terbuka, sistem setengah tertutup, dan sistem tertutup (dalam
garis besarnya seperti pada pressure maintenance).
1

Perhitungan Perolehan Minyak


Perhitungan untuk meramalkan perolehan minyak dari pendesakan fluida
tidak tercampur terutama air telah dikembangkan oleh banyak ahli, baik secara
analitis maupun empiris. Pada bagian ini akan dibicarakan perolehan minyak
berdasarkan pendesakan linier yang dikembangkan oleh Buckley dan Leverett pada
pendesakan injeksi berpola.
4.3.1. Pendesakan Linier
Pendesakan linier adalah pendesakan yang mempunyai kecepatan hanya
dalam satu arah pada setiap saat dan setiap tempat. Dalam prakteknya dapat terjadi

pada pendesakan berpola direct line drive yang jarak antara sumur sejenis jauh lebih
kecil daripada jarak antara sumur tidak sejenis.
Secara umum, suatu pendesakan akan mempunyai batas yang merupakan
front terdepan fluida pendesak. Pada bidang front ini saturasi fluida pendesak
melonjak naik, kemudian di belakang front saturasi fluida pendesak naik secara
berangsur-angsur sampai mencapai saturasi maksimalnya, yaitu seharga (1 Sor fluda
yang didesak)
Persamaan Fraksi Aliran

Gambar 4.9.
Geometri Aliran 7)
Anggapan/asumsi yang digunakan :
5

Aliran mantap (steady state).

Sistem pendesakan dari dua macam fluida yang tidak larut satu sama lain

(immiscible).
7

Fluida yang tidak dapat dimampatkan (incompressible).

Aliran terjadi pada media berpori-pori yang homogen.


Persamaan yang digunakan untuk menghitung efisiensi pendesakan

dikembangkan pertama kali oleh Buckley-Leverret, yang mendasarkan pada


persamaan Darcy :
V

k P

g sin

............................................................................ (4-34)

dimana :
s = sumbu yang searah dengan aliran
0

= sudut kemiringan
= massa jenis
k = permeabilitas
P = tekanan
V = laju aliran

Untuk aliran horisontal, persamaan (4-34) berubah menjadi :


V

k dP
.................................................................................................... (4-35)
ds

Jika dua macam fluida yang mengalir, misalkan air dan minyak, maka persamaan
aliran untuk masing-masing fasa menjadi :
Vw

kw P

w g sin

w ds

Vo

ko P

o g sin

o ds

........................................................................ (4-36)
.......................................................................... (4-37)

Dengan pengaturan selanjutnya gabungan dari persamaan (4-36) dan (4-37)


menjadi :

w q w o qo d
Po Pw Pw Po sin

A kw A ko
ds

d
g P sin .............................................................................. (4-38)
ds

q
A luas penampang
A

Jika qt = qo + qw .................................................................................................. (4-39)


Maka persamaan (4-38) menjadi :
w q w o q t o q w dPc

g Ps sin .............................................. (4-40)


A kw
A ko
A ko
ds
o qt
Dengan jalan membagi persamaan (4-40) dengan
dan
ko
qw
mendefinisikan fraksi aliran fw =
, maka :
qt

k o A dPc

g sin

qt o ds

fw
............................................................... (4-41)
ko w
1

kw o
atau bila dinyatakan dalam satuan :
k = mD
Pc = psi
= cp
s = ft
3
A = ft
= gr/cc
1

......................................... (4-42)
Data tekanan kapiler umumnya dinyatakan sebagai fungsi dari (Sw) gradien
tekanan kapiler dapat dinyatakan dalam hubungan :
dPc dPc dS w

................................................................................ (4-43)
ds dS w ds
dimana harga diperoleh dari grafik tekanan kapiler. Akan tetapi sulit diperoleh, atau
tidak diketahui sama sekali. Berdasarkan hal itu untuk segi praktisnya maka harga
dPc
diabaikan. Jadi persamaan fraksi aliran menjadi :
ds
k A
1 0,000488 o
sin
o qt
fw
............................................... (4-44)
ko w
1
kw o
Persamaan ini akan lebih sederhana bila aliran terjadi dalam arah horisontal,
= 0.
1
fw
k
1 ro w ........................................................................................ (4-45)
k rw o
Bila pendesakan minyak terjadi pada temperatur konstant dengan harga
viscositas minyak dan air tertentu, maka persamaan (4-45) hanya merupakan fungsi
langsung dari saturasi. Persamaan fraksi aliran jika di plot dalam kertas milimeter
akan menghasilkan kurva seperti ditunjukkan pada gambar 4.10. dengan saturasi
antara Swc dan 1 - Sor dimana fraksi aliran bertambah dari nol sampai satu.

Gambar 4.10.
Kurva Fraksi Aliran Sebagai Fungsi dari Saturasi Air 7)
Metoda Pendesakan Kemajuan Front
Dalam th 1942 Buckley-Leverett menyajikan apa yang disebut sebagai
persamaan dasar untuk menggambarkan pendesakan immiscible satu dimensi.
Persamaan Buckley-Leverret tersebut adalah :
Vsw

qt df w
dx
Sw
Sw
dt
A dS w

................................................................... (4-46)

Untuk laju injeksi air yang konstan (iw = qi) kecepatan bidang dengan Sw
pada Sw yang bersangkutan. Sedangkan letak atau posisi dengan Sw yang berbedabeda pada waktu tertentu dapat dinyatakan dengan persamaan sebagai berikut :
xS w

Wi df w
S w ................................................................................... (4-47)
A dS w

dimana :
Wi = injeksi air kumulatip (dengan anggapan Wi = 0, untuk t = 0)
Secara matematis terdapat kesukaran hubungan antara kurva fraksi aliran
(Gambar 4.10.) dengan persamaan (4-47). Adanya titik belok di dalam kurva fraksi
aliran menyebabkan dfw vs Sw akan mempunyai suatu titik maksimum yang
ditunjukkan oleh gambar 4.11a. Penggunaan persamaan (4-48) untuk memplot
distribusi pada waktu tertentu akan menghasilkan kurva garis lurus pada gambar
4.11b.

Gambar 4.11.
Penurunan Saturasi dari Suatu Kurva Fraksi Aliran
1
Distribusi Saturasi Dalam Jarak Pendesakan 7)
Profil saturasi seperti gambar di atas secara fisik tidak mungkin, karena
tidak mungkin ada beberapa harga saturasi pada satu titik di reservoir. Untuk
menggambarkan profil saturasi yang tepat maka ditarik garis vertikal lurus sehingga
luas A sama dengan B. Garis ini merupakan gambaran saturasi di front Swf
Welge (1952) mengajukan pendekatan lain untuk menentukan Swf. Cara
yang dilakukan adalah mengintegrasikan distribusi saturasi dari titik injeksi ke front,
selanjutnya dapat diperoleh saturasi air rata-rata di belakang front (sw), seperti
ditunjukan pada gambar 4.12.
S wf 1 f w S wf
Sw
............................................................................. (4-48)
df w
S wf
dS w
atau :
0

df w
dS w S wf

1 f

S wf

S w S wf

Sw

1
S wc

......................................................... (4-49)

Untuk memenuhi persamaan tersebut, haruslah dibuat garis singgung terhadap kurva
fraksi aliran dari titik (Sw = Swf ; fw = 0) ke titik (Sw = Swf ;fw Swf) dan ekstrapolasi
garis singgung tersebut akan memotong garis fw = 1 di titik (Sw = Sw ; fw = 1). Untuk
lebih jelasnya dapat kita lihat gambar 4.12.

Gambar 4.12.
Garis Singgung terhadap Kurva Fraksi Aliran dari Sw = Swc 7)
Dengan demikian di dalam menentukan Swf, fwSw dan Sw diperlukan plot
kurva fraksi aliran, yaitu dengan menggunakan persamaan (4-44) atau (4-48) untuk
interval saturasi Swc < Sw <1 - Sor. Perlu di ingat bahwa masing-masing persamaan
tersebut mengabaikan pengaruh gradien tekanan kapiler. Hal ini dapat dipenuhi untuk
di belakang front, yaitu bahwa Swf < Sw <1 - Sor.
Sebelum breakthrough (BT) dalam sumur produksi persamaan untuk
menentukan posisi bidang dengan Sw konstan untuk Swf < Sw < 1 < 1 - Sor adalah :
x Sw

Wi df w
S w ..................................................................................... (4-50)
A dS w

Pada saat breakthrough dan sesudahnya yang diamati adalah kenaikan Sw


pada sumur produksi, dalam hal ini x = L, sehingga persamaan menjadi:
Wi
1

Wid
df w
L A
........................................................................... (4-51)
Sw
dS w
dimana :
Swe = Sw sesaat di sumur produksi.
Wid = injeksi air dalam jumlah volume pori, demensionless.
Pada saat breakthrough, saturasi front pendesakan Swf = Sw bt mencapai sumur
produksi dan water cut reservoir bertambah dengan cepat dari nol sampai fwbt =fwswf.
Perolehan minyak untuk fasa ini dinyatakan dengan persamaan berikut :
1
df
w
Npdb Widbt = qidbt = ( S wbt Swc) =
S wbt ......................................... (4-52)
dS w
Bila laju injeksi tanpa dimensi iwd = qi/LA, (PV/satuan waktu), maka waktu
terjadinya breakthrough dapat dihitung dengan persamaan :
W
t bt id bt .................................................................................................. (4-53)
i wd

Setelah breakthrough, L tetap konstan pada persamaan (4-51) dan Swe, Fwe, Sw
dan fraksi aliran pada sumur produksi berangsur naik seperti yang ditunjukan pada
gambar 4.13. selama fasa ini perhitungan recovery minyak lebih komplek dan
memerlukan aplikasi Welge (4-48), yaitu :
........................................................................... (4.54)
Dari persamaan (4-51) dan persamaan (4-54) berubah menjadi:
(4-55)
Bila masing-masing ruas dikurangi Swc maka akan di peroleh persamaan untuk
menghitung perolehan minyak, yaitu :
N pd S w S wc S we S wc 1 f we Wid ........................................................................................... (4-55)

Gambar 4.13.
Distribusi Saturasi Air Pada Saat Breakthrough dan Sesudahnya Pada Pendesakan
Air Linier 7)
Kedua persamaan recovery, yaitu persamaan (4-52) dan (4-55) dalam praktek
dapat dipakai dengan prosedur sebagai berikut :
1. Buat kurva fraksi aliran dengan persamaan (4-44) atau (4-45) dengan
mengabaikan gradien tekanan kapiler.
Buat garis singgung tangensial dari titik (Sw = Swc ; fw = 0) terhadap kurva tersebut.
Titik tangensial yang diperoleh mempunyai koordinat (Sw = Swf = Swbt ; fwSwf = fwbt)
dan ekstrapolasi garis tersebut ke fw =1, maka akan memberikan harga saturasi ratarata di belakang front pada saat breakthrough S w S wbt . Selanjutnya persamaan (452) dapat digunakan untuk menghitung recovery minyak dan waktu terjadinya
breakthrough.
Pilih harga Swe sebagai variabel bebas, ambil harga-harga Sw dengan pertambahan 5%
diatas Swbt. Setiap titik pada kurva fraksi aliran, untuk Swe > Swbt mempunyai

koordinat Sw = Swe , fw =fwe. Dan aplikasi persamaan (4-54) pada gambar 4.14, yang
menunjukkan bahwa garis tangensial terhadap kurva fraksi aliran memotong garis fw
= 1, memberikan harga S w sesaat. Untuk setiap harga Swe baru harga S w yang
bersangkutan ditentukan secara grafis dan recovery minyak dapat dihitung dari :
Npd = Sw Swc (PV).

Gambar 4.14.
Aplikasi Cara Grafis Welge Untuk Menentukan Recovery Minyak Setelah
Breakthrough 7)
Kebalikan dari kemiringan kurva fraksi aliran untuk setiap harga Swe akan
memberikan Wid, yaitu jumlah volume pori dari air yang diinjeksikan (sesuai dengan
persamaan 4-52). Selanjutnya dapat menghubungkan antara waktu dan recovery
yang dicapai, yaitu :Wid = iwd. t.
Akhirnya persamaan (4-55) dapat digunakan secara langsung untuk
menghitung recovery minyak dengan menentukan terlebih dahulu fwe dan wid dari
kurva fraksi aliran untuk setiap harga Swe yang dipilih. Cara terakhir ini dikenal
sebagai cara numerik.
4.4. Pilot Waterflooding
Pilot waterflooding merupakan percobaan untuk menguji seberapa besar
keberhasilan proyek waterflooding dengan mengaplikasikannya ke dalam

permasalahan di lapangan yang nantinya bisa dikembangkan dalam skala yang lebih
luas (sebelum dipakai secara luas). Cara perhitungan performance yang telah
diuraikan didasarkan pada harga petrofisik, seperti ko, kw, , Swc, Sor, Sgr, Sg yang
dianggap representatif untuk reservoir. Ketelitian data ini akan mempengaruhi hasil
perhitungan. Pendekatan lain untuk mendapat jawaban atas performance adalah
memilih suatu bagian dari reservoir yang akan dikembangkan dengan suatu pola
injeksi tertentu. Proses injeksi pada suatu bagian reservoir dikenal sebagai pilot
injeksi. Performance dari pilot injeksi inilah yang akan digunakan untuk
mengevaluasi performance dari seluruh reservoir bila diinjeksi dengan pola yang
sama.
Gambar 4.15. menunjukkan dua macam pilot injeksi yang menggunakan
masing-masing satu sumur injeksi di tengah dikelilingi oleh empat sumur produksi
dan empat sumur injeksi mengelilingi satu sumur produksi.

Gambar 4.15.
Pilot Injeksi Dengan Pola Lima Titik 7)
Pada gambar 4.15a. terlihat bahwa kira-kira tiga perempat dari minyak yang
diproduksi oleh masing-masing sumur dari luar unit lima titik (segi empat yang
dibatasi oleh garis-garis yang menghubungkan sumur-sumur produksi). Gambar
4.15b. menunjukkan bahwa sebagian besar dari minyak yang diproduksikan berasal
dari unit lima titik, walaupun sebagian besar air bergerak keluar dari daerah pola
injeksi lima titik.
Di lihat dari segi jalur arus yang dimulai dari sumur injeksi itu maka ada dua
macam pendekatan yang dapat diambil untuk menggunakan hasil dari pilot injeksi

untuk penentuan performance dari seluruh reservoir. Kedua macam pendekatan itu
adalah :
0
Menggunakan faktor koreksi.
1
Memilih susunan sumur injeksi produksi yang tepat sehingga hasil dari 1 unit
pola injeksi yang ditengah mencerminkan hasil yang tepat.
Dalam perencanaan pilot waterflooding perlu juga mengetahui keuntungan
dan batasan pilot waterflooding, informasi yang diperoleh dari pilot waterflooding,
dan pemilihan pola sumur injeksi-produksi yang tepat.
4.4.1. Penentuan Faktor Koreksi
Caudle telah meneliti performance dari pilot injeksi dari pola lima titik
dengan menggunakan model fisik, seperti terlihat dalam gambar 4.16.
Percobaan ini menggunakan variabel-variabel :
1. Perbandingan mobilitas M : 0.1 , 0.29 , 1 , 3.7 , dan 10
R

laju injeksi total


laju produksi total

, bervariasi dari 1

Np
Vi
vs
seperti dapat dilihat pada
Vd
Vd
Gambar B-1 sampai B-5 (lampiran B). Penggunaan grafik dari Gambar B-1 sampai
B-5 untuk menentukan faktor koreksi F yang didefinisikan :

Hasil percobaan dinyatakan dalam grafik

produksi atau injeksi kumulatif dari pola lim a yang penuh


produksi atau injeksi kumulatif dari pilot injeksi

adalah

menentukan harga M dan R yang akan digunakan. Selanjutnya untuk harga fw yang
ada dicari harga Es dan ViD baik dari pola lima titik yang penuh maupun dari hasil
pilot injeksi.

Fw

5 spot penuh
Es

PIlot
ViD

0
0.95
Dari tabel di atas dibuat grafik F vs fw untuk Es dan ViD

Es

ViD

Gambar 4.16.
Pilot Injeksi Untuk Pola Injeksi Lima Titik 7)

Gambar 4.17.
Hubungan Faktor Koreksi F vs fw 7)
4.4.2. Keuntungan Dan Batasan Pilot Waterflooding
Seperti yang telah dibahas pada bab sebelumnya, peramalan perilaku
waterflooding di lapangan meliputi banyak faktor. Peramalan ini memerlukan
informasi yang dapat diandalkan seperti efisiensi pendesakan, cukup areal, dan
penyapuan vertikal. Ini memerlukan contoh yang baik untuk mendapatkan batuan
reservoir dan sifat fluida yang representatif, mengukur heterogenitas reservoir dan
sebagainya. Maka tidak mengherankan bahwa sarjana perminyakan berusaha
memahami pilot injeksi dengan mempelajari perilaku perolehan minyak dari sampel
reservoir itu sendiri. Setelah perilaku perolehan ini didapatkan kemudian
dibandingkan untuk menghasilkan perilaku yang diharapkan dari operasi
waterflooding dalam usaha skala sesungguhnya.

Secara ekonomis, suatu pilot merupakan alat yang diharapkan mampu


memperkirakan perilaku lapangan. Bagaimanapun, pilot ini mempunyai batasanbatasan sebagai berikut :
0
Dengan suatu pilot yang kecil maka penempatan probabilitasnya dalam
bagian reservoir yang tidak representatif.
1
Pengaruh-pengaruh dari suatu kerusakan sumur akan lebih terlihat pada
sejumlah kecil sumur-sumur.
2
Hilangnya migrasi minyak dari suatu pola pilot tunggal mungkin
menghasilkan suatu perkiraan perolehan yang lebih rendah daripada yang telah
direalisasikan dengan injeksi skala penuh.
3
Air yang diinjeksikan mungkin akan hilang keluar daerah pilot., sehingga
disarankan air injeksi harus lebih banyak daripada untuk pola waterflooding dalam
skala penuh.
Pentingnya penempatan pilot dalam bagian reservoir yang representatif telah
nyata. Ketebalan pasir bersih dan saturasi minyak merupakan dua variasi yang paling
penting dalam membedakan perolehan minyak di suatu daerah dengan daerah yang
lain. Informasi pasir bersih sering didapatkan dari core atau logs. Bagaimanapun
juga, saturasi minyak dapat bervariasi pada daerah dengan ketebalan pasir bersih
yang seragam. Pada lapangan-lapangan yang mempunyai sejarah panjang mengenai
penipisan awal, minyak dapat terakumulasi dalam daerah yang secara struktural
rendah dengan gravity drainage.
Suatu kerusakan sumur injeksi atau satu penempetan sumur dalam suatu
bagian reservoir yang rapat sering dapat menghasilkan laju injeksi air yang
diantisipasi lebih rendah ; dan jika lebih dari satu sumur injeksi dilibatkan dalam
pilot tersebut dapat menghasilkan suatu injeksi yang tidak seimbang. Rusaknya
sumur produksi mempunyai pengaruh yang sangat serius, dengan berkurangnya
perolehan minyak dan meningkatnya minyak yang bermigrasi diluar pilot merupakan
suatu hasil kemungkinan yang dapat terjadi.
Banyak batasan-batasan dapat diatasi dengan mendesign pilot-pilot dengan
memasukkan lebih dari satu pola.
0

Informasi Yang Dapat Diperoleh Dari Pilot Waterflooding


Tinjauan awal dari pilot waterflooding memperlihatkan bahwa tujuan dasar
dari pilot-pilot ini adalah penyederhanaan untuk menentukan ada atau tidaknya oil
bank atau zona saturasi minyak yang meningkat dapat terbentuk. Oleh karena itu,
segera setelah terjadi kick atau buzz dalam produksi minyak diperoleh, maka
pengembangan waterflooding dalam skala penuh dapat dilangsungkan. Tentunya,
pada saat yang sama, informasi injeksivitas air diperoleh, yang mana berpengaruh
juga dalam mendesign injeksi skala penuh.
Dua tipe yang sering digunakan dalam pilot waterflooding adalah : injeksi
lima titik dengan sumur produksi tunggal dan sumur injeksi tunggal (Gambar 4.18).

Gambar 4.18
Dua Pola Waterflooding Yang Sering Digunakan 10)
Beberapa pilot injeksi terdiri dari banyak pola dengan dua atau lebih lima titik yang
berdekatan, umumnya untuk meminimalkan migrasi minyak yang hilang, khususnya
dari pola yang lebih dalam.
Banyaknya studi teknik reservoir telah dlakukan untuk mendapatkan evaluasi
pilot injeksi yang lebih baik. Salah satunya adalah yang telah dilakukan oleh
Paulsell, dia mengemukakan bahwa dalam satu sumur injeksi tunggal dalam pilot
injeksi cakupan arealnya meningkat setelah tembus air sampai daerah yang tersapu
sekitar 200 % atau lebih dari daerah pilot. Maka dia menyimpulkan bahwa evaluasi
pilot injeksi yang didasarkan pada anggapan yang menyatakan tidak ada aliran yang
keluar dari daerah pilot itu akan salah.
Rosenbaum dan Matthews telah mempelajari pengaruh saturasi gas mulamula dan mobilitas ratio dalam perbandingan laju produksi dengan laju injeksi untuk
pola lima titik yang bervariasi. Dalam satu studi yang melibatkan model
potensiometrik dan model aliran, empat pilot pola yang berbeda telah dipelajari. Ini
meliputi lima titik tunggal, pilot sumur injeksi tunggal, dan enam inverted lima titik.
Perbandingan diameter sumur dengan jarak antara sumur injeksi dan produksi adalah
tetap yaitu : 1 : 1000. ratio digunakan sebagai suatu alat korelasi, yang
didefinisikan sebagai perbandingan tekanan drawdown pada sumur produksi dengan
kenaikan tekanan pada sumur-sumur injeksi. Hasil-hasil dari studi ini
memperlihatkan bahwa harga ratio meningkat, maka perolehan minyak total dan
produksi fluida total dari relatif meningkat dengan volume air yang diinjeksikan.
Pada kenaikan harga ratio, minyak bermigrasi menuju sumur-sumur produksi di
daerah sekelilingnya.
Pengaruh saturasi gas mula-mula pada pilot sumur injeksi tunggal telah
dipelajari oleh Neilson dan Flock. Setelah tembus air, sumur-sumur terus
memproduksi minyak sampai efisiensi penyapuan areal akhir diatas 600 % diperoleh.
Pergerakan minyak kedalam pilot sumur-sumur produksi jarang dialami di
lapangan. Seringkali perolehan minyak dari pilot lebih rendah daripada yang
diperoleh dengan injeksi skala penuh, karena migrasi keluar dari pilot. Kemungkinan
besarnya migrasi minyak dari pilot injeksi telah dibahas dalam suatu laporan yang
telah dilaporkan dari hasil studi produktivitas sumur dalam perilaku sumur lima titik
dengan sumur produksi tunggal dan sumur injeksi tunggal. Produktivitas dari sumur

produksi dinyatakan dengan kondisi rationya. Istilah ini didefinisikan sebagai


perbandingan kapasitas aliran reservoir yang ditentukan dari data produktivitas
indeks dengan kapasitas aliran yang ditentukan dari data tekanan build-up. Ini
sebanding dengan perbandingan produktivitas sumur nyata dengan sumur yang tidak
mengalami kerusakan, tidak di stimulasi, sumur yang berukuran normal pada formasi
yang sama. Sumur yang berukuran normal ini berdiameter 6 in dan spasinya 10 acre.
Mobilitas rationya 0.2 , 0.45 , dan 0.94 telah dipelajari dengan saturasi gas diatas
25.9 % PV. Hasil studi ini dibahas pada bagian berikut ini ;
1. Pilot lima titik dengan sumur produksi tunggal
Selama fill-up ruang gas mula-mula pada daerah pilot terdapat pergerakan
radiasi dari air yang diinjeksikan dan tidak ada minyak yang bermigrasi melewati
batas daerah pilot. Setelah fill-up cairan, jika kondisi ratio dari pilot sumur produksi
tidak mencukupi untuk memproduksi semua minyak yang didesak dari daerah pilot,
maka minyak akan bermigrasi keluar daerah pilot. Satu faktor yang cenderung
memperlambat migrasi minyak di daerah pilot adalah kehadiran front waterflooding
yang terbentuk di sekitar sumur-sumur injeksi. Saat front-front air ini mendekat
kemudian bersatu maka minyak yang dapat diperoleh kecil dalam daerah pilot dapat
meloloskan diri. Model-model test menunjukkan bahwa saat saturasi gas meningkat,
sebagian besar minyak yang dapat diperoleh diproduksikan dari pilot sumur
produksi. Pada saturasi gas yang lebih tinggi, daerah pilot secara menyeluruh ditutupi
oleh front-front waterflooding pada saat fill-up cairan ada dalam daerah pilot.
Saturasi gas mula-mula dapat menjadi besar pada saat fill-up cairan ada
dalam daerah pilot, front-front waterflooding akan bersatu, dan migrasi minyak dapat
dicegah. Harga dari saturasi gas mula-mula ini adalah :
S g *

1 S wc S or ............................................................................ (4-56)
4

Hasil-hasil model menunjukkan bagaimana saturasi gas mula-mula dan


kondisi ratio sumur produksi mempengaruhi perolehan minyak dari pilot injeksi lima
titik dengan sumur produksi tunggal seperti yang ditunjukkan Gambar 4.19.

Gambar 4.19.
Pengaruh Kondisi Ratio Sumur Produksi dan Saturasi Gas Mula-mula Pada
Perolehan Minyak dari Pilot Waterflooding Lima Titik Tunggal Dengan Empat
Injector dan Satu Producer 10)
Pada kondisi ratio 2.22 , sebanding dengan kapasitas horisontal rekah yang tinggi
dengan jari-jari 18.5 ft, kira-kira 93 % dari minyak yang dapat diperoleh mula-mula
dalam daerah pilot telah diproduksikan. Range harga Sgi/Sg* yang dijumpai dalam
operasi waterflooding konvensional adalah dari 0.3 sampai 0.7 . Pada range dari
saturasi gas ini, pilot injeksi lima titik tunggal dengan sumur produksi kondisi
rationya 1.0 (sebanding dengan yang bersih, sumur berukuran normal tidak
mempunyai stimulasi produksi) akan diperoleh dari 35 sampai 75 % minyak mulamula yang dapat diperoleh ditempat. Maka untuk suatu pola pilot yang menghasilkan
perolehan minyak mewakili suatu pola waterflooding dalam skala penuh, sumur
produksi harus mempunyai kondisi ratio sebesar 2.2 atau lebih.
Pada Gambar 4.19. memperlihatkan perilaku perolehan minyak yang
diperoleh dari suatu pengembangan pilot injeksi sumur lima titik dan sumur lima titik
dengan sumur injeksi tunggal dimana pilot penghasil mempunyai kondisi ratio 2.2 .
Pernyataan yang sesuai pada suatu produksi dengan kondisi ratio 2.2 , pilot injeksi
lima titik tunggal dapat juga menghasilkan suatu perkiraan yang baik dari perilaku
produksi minyak yang diharapkan dibawah injeksi dalam skala penuh. Gradien
tekanan regional juga memperlihatkan pengaruh yang kecil dalam perilaku pilot.
2. Pilot injeksi sumur injeksi tunggal
Studi yang menunjukkan bahwa pada saat tidak terdapat saturasi gas yang ada
sebelum injeksi air, minyak diperoleh dari pilot produksi-produksi dengan
memperkirakan volume minyak yang dapat diperoleh pada daerah pilot pada saat
sumur-sumur produksi telah mempunyai kondisi ratio sebesar 1.0 atau diatasnya.
Bagaimanapun juga, pada saat terdapat saturasi gas mula-mula, maka ada migrasi
minyak yang cukup berarti keluar daerah pilot dengan mengabaikan kondisi ratio
sumur-sumur produksi. Pilot injeksi sumur injeksi tunggal umumnya tidak cukup
untuk mendapatkan suatu perkiraan perolehan waterflooding skala penuh.
Bagaimanapun juga, dari volume air yang diinjeksikan pada tembus air, informasi

yang bermanfaat dapat diperoleh dari cakupan volumetrik pada tembus air. Juga jika
air terpecah melalui satu sumur produksi yang mengimbangi lebih awal daripada
imbangan sumur-sumur yang lain, permeabilitas searah akan dipantulkan.
1

Penentuan Susunan Sumur Untuk Pilot


Susunan sumur produksi dan injeksi dari satu pilot injeksi memungkinkan
untuk menggunakan hasil dari 1 unit pola injeksi di tengah susunan sumur tersebut
sebagai salah satu dari unit pola injeksi yang penuh. Bernard telah meneliti bentuk
pola sumur injeksi-produksi yang cocok untuk menilai pola injeksi lima titik.
Variabel yang digunakan adalah perbandingan mobilitas M dan besar oil bank (Eo)
pada saat injeksi dimulai.
Untuk mendesign suatu pilot injeksi yang semestinya, satu harus memikirkan
bentuk pilot yang bagaimana yang harus didesign. Jika tujuan-tujuan adalah untuk
menentukan injektivitas air dan untuk mendapatkan suatu indikasi dari sejumlah
besar volume minyak yang dapat bergerak, maka hampir semua pola pilot injeksi
sesuai. Bagaimanapun juga, jika tujuan-tujuan juga meliputi perolehan perkiraan
minyak yang dapat diperoleh dengan waterflooding, kemudian pilot harus :
1. Ditempatkan pada bagian reservoir yang representatif baik dari saturasi minyak,
permeabilitas, maupun heterogenitas reservoir dari penyisa reservoir.
2. Disusun suatu pola lima titik banyak atau tunggal, dengan stimulasi sumur-sumur
produksi sehingga sumur ini mempunyai kondisi ratio 2.2 atau diatasnya.
3. Mempunyai laju injeksi untuk tiap injektor yang sebanding dengan hasil
porositas dan ketebalan net pay dari daerah-daerah sekeliling tiap-tiap injektor.