Anda di halaman 1dari 73

HEMATOPOIESIS

Hematopoiesis merupakan proses produksi (mengganti sel yang mati)


dan perkembangan sel darah dari sel induk atau asal atau stem sel, dimana
terjadi proliferasi, maturasi dan diferensiasi sel yang terjadi secara serentak.
Proliferasi sel menyebabkan peningkatan atau pelipat gandaan jumlah
sel, dari satu sel hematopoietik pluripotent menghasilkan sejumlah sel darah.
Maturasi merupakan proses pematangan sel darah, sedangkan diferensiasi
menyebabkan beberapa sel darah yang terbentuk memiliki sifat khusus yang
berbeda-beda.
Hematopoiesis mulai terjadi di sumsung tulang dengan sel induk
pluripotensial. Sel ini secara kontinu memperbarui dirinya dan berdiferensiasi
sepanjang hidup. Tempat terjadinya hematopoiesis pada manusia :
1. Embrio dan Fetus
a. Stadium Mesoblastik, Minggu ke 3-6 sataud 3-4 bulan kehamilan : Selsel mesenchym di yolk sac. Minggu ke 6 kehamilan produksi menurun
diganti organ-organ lain.
b. Stadium Hepatik, Minggu ke 6 sataud 5-10 bulan kehamilan : Menurun
dalam waktu relatif singkat. Terjadi di Limpa, hati, kelenjar limfe
c.
Stadium Mieloid, Bulan ke 6 kehamilan sampai dengan lahir,
pembentukan di sumsum tulang : Eritrosit, leukosit, megakariosit.
2. Bayi sampai dengan dewasa
Hematopoiesis terjadi pada sumsum tulang, normal tidak diproduksi di
hepar dan limpa, keadaan abnormal dibantu organ lain.
a. Hematopoiesis Meduler (N)
Lahir sampai dengan 20 tahun : sel sel darah sumsum tulang. Lebih
dari 20 tahun: corpus tulang panjang berangsur angsur diganti oleh
jaringan lemak karena produksi menurun.
b. Hematopoiesis Ekstrameduler (AbN)
Dapat terjadi pada keadaan tertentu, misal: Eritroblastosis foetalis,
An.Peniciosa,

Thallasemia,

An.Sickle

sel,

Spherositosis

herediter,

Leukemia. Organ organ Ekstrameduler : Limpa, hati, kelenjar adrenal,


tulang rawan, ginjal, dll (Erslev AJ, 2001)
Pada orang dewasa dalam keadaan fisiologik semua hemopoesis terjadi
pada sumsum tulang.Untuk kelangsungan hemopoesis diperlukan :
1. Sel induk hemopoetik (hematopoietic stem cell)
Sel induk hemopoetik ialah sel-sel yang akan berkembang menjadi sel-sel
darah, termasuk eritrosit, lekosit, trombosit, dan juga beberapa sel dalam

sumsum tulang seperti fibroblast. Sel induk yang paling primitif sebagai
pluripotent (totipotent) stem cell. Sel induk pluripotent mempunyai sifat :
Self renewal : kemampuan memperbarui diri sendiri sehingga tidak

akan pernah habis meskipun terus membelah;


Proliferative : kemampuan membelah atau memperbanyak diri;
Diferensiatif : kemampuan untuk mematangkan diri menjadi sel-sel

dengan fungsi-fungsi tertentu.


Menurut sifat kemampuan diferensiasinya maka sel induk hemopoetik
dapat dibagi menjadi :
Pluripotent (totipotent)stem cell: sel induk yangmempunyai yang
mempunyai kemampuan untuk menurunkan seluruh jenis sel-sel

darah.
Committeed stem cell : sel induk yang mempunyai komitmet untuk
berdiferensiasi melalui salah satu garis turunan sel (cell line). Sel
induk yang termasuk golongan ini ialah sel induk myeloid dan sel

induk limfoid.
Oligopotent stem cell : sel induk yang dapat berdiferensiasi menjadi
hanya beberapa jenis sel. Misalnya CFU-GM (colony forming unitgranulocytelmonocyte)yang dapat berkembang hanya menjadi sel-sel

granulosit dan sel-sel monosit.


Unipotent stem cell : sel induk yang hanya mampu berkembang
menjadi satu jenis sel saja. Contoh CFU-E (colony forming uniterythrocyte) hanya dapat menjadi eritrosit, CFU-G (colony forming
unit-granulocyte)hanya mampu berkembang menjadi granulosit.
1. Lingkungan mikro (microenvirontment)sumsum tulang
Lingkungan mikro sumsum tulang adalah substansi yang
memungkinkan sel induk tumbuh secara kondusif. Komponen
lingkungan mikro ini meliputi :
a. Mikrosirkulasi dalam sumsum tulang
b. Sel-sel stroma :
o Sel endotel
o Sel lemak
o Fibroblast
o Makrofag
o Sel reticulum
c. Matriks ekstraseluler : fibronektin, haemonektin, laminin,
kolagen, dan proteoglikan.
Lingkungn mikro sangat penting dalam hemopoesis karena
berfungsi untuk :

Menyediakan

nutrisi

dan

bahan

hemopoesis

yang

dibawa oleh peredaran darah mikro dalam sumsum

tulang.
Komunikasi antar sel (cell to cell communication),

terutama ditentukan oleh adanya adhesion molecule.


Menghasilkan
zat
yang
mengatur
hemopoesis

:hematopoietic growth factor, cytokine, dan lain-lain.


2. Bahan-bahan pembentuk darah
Bahan-bahan yang diperlukan untuk pembentukan darah adalah :
Asam folat dan vitamin B12 : merupakan bahan pokok
pembentuk inti sel.
Besi : sangat diperlukan dalam pembentukan hemoglobin.
Cobalt, magnesium, Cu, Zn.
Asam amino.
Vitamin lain : vitamin C. vitamin B kompleks dan lain-lain
3. Mekanisme regulasi
Mekanisme regulasi sangat penting untuk mengatur arah dan
kuantitas pertumbuhan sel dan pelepasan sel darah yang matang
dari sumsum tulang ke darah tepi sehingga sumsum tulang dapat
merespon kebutuhan tubuh dengan tepat. Produksi komponen
darah yang berlebihan ataupun kekurangan (defisiensi) samasama menimbulkan penyakit. Zat-zat yang berpengaruh dalam
mekanisme regulasi ini adalah :
Faktor pertumbuhan hemopoesis (hematopoietic growth
factor):
I.
Granulocyte-macrophage colony stimulating factor

(GM-CSF)
II.
Granulocyte colony stimulating factor (G-CSF)
III.
Macrophage-colony stimulating factor (M-CSF)
IV.
Thrombopoietin
V.
Burst promoting activity (BPA)
VI.
Stem cell factor (kit ligand)
Sitokon (Cytokine)seperti misalnya IL-3 (interleukin-3), IL-4,
IL-5, IL-7, IL-8, IL-9, IL-9, IL-10.
Growth factor dan sitokin sebagian besar dibentuk oleh selsel darah sendiri, seperti limfosit, monosit, ataumakrofag,
serta sebagian oleh sel-sel penunjang, seperti fibroblast
dan endotil. Sitokin ada yang merangsang pertumbuhan
sel induk (stimulatory cytokine),sebagian lagi menekan
pertumbuhan

sel

induk

(inhibitory

cytokine).

Keseimbangan kedua jenis sitokin ini sangat menentukan


proses hemopoesis normal.
3

Hormon

hemopoetik

merupakan

hormon

spesifik
yang

yaitu

dibentuk

Erythrpoietin:
diginjal

khusus

merangsang precursor eritroid.


Hormon nonspesifik
Beberapa jenis hormone diperlukan dalam jumlah kecil
untuk
a.
b.
c.
d.
e.

hemopoesis, seperti :
Androgen : berfungsi menstimulasi eritropoesis.
Estrogen : menimbulkan inhibisi eritropoesis.
Glukokortikoid.
Growth hormon
Hormone tiroid.

Dalam regulasi hemopoesis normal terdapat feed back


mechanism : suatu mekanisme umpan balik yang dapat
merangsang
komponen

hemopoesisjika
darah

(positive

tubuh
loop)atau

kekurangan
menekan

hemapoesis jika tubuh kelebihan komponen darah


tertentu(negative loop).

KOMPONEN DARAH
Darah adalah cairan yang terdapat pada semua hewan tingkat tinggi
yang berfungsi mengirimkan zat-zat dan oksigen yang dibutuhkan oleh
jaringan tubuh, mengangkut bahan kimia hasil metabolisme, dan juga
sebagai pertahanan terhadap virus atau bakteri. Istilah medis yang
4

berkaitan dengan darah diawali dengan kata haemo atau hemato yang
berasal dari bahasa yunani haima yang berarti darah (Perutz, 1978).
Darah memiliki 8 % dari berat badan manusia yang mana volume
darah pada wanita 5 liter dan pada pria 5,5 liter. Darah memiliki komponen
yaitu elemen seluler dan plasma , yang mana elemen seluler terdiri dari :
eritrosit (99 %) ; leukosit; dan trombosit.

A. Plasma Darah
Plasma darah adalah cairan yang berwarna kuning bening yang
memiliki unsur pokoknya sama dengan sitoplasma. Komponen ini terbesar
dalam darah, sekitar 58 % untuk wanita dan 55 % untuk laki-laki . Hampir
90 % bagian plasma adalah air . Plasma itu sendiri memiliki fungsi untuk
mengangkut sari makanan ke sel-sel serta membawa sisa pembakaran
dari sel ketempat pembuangan. Fungsi lainnya adalah menghasilkan zat
kekebalan tubuh terhadap penyakit. Komponen yang ada dalam plasma
yaitu :
1. Air ( 90 % ) : yang berfungsi medium transport, dan membawa panas
2. Elektrolit : sebagai eksitabilitas membran , distribusi osmotik cairan
ECF dan ICF dan sebagai penyangga perubahan PH
3. Nutrients, wastes, gas, dan hormon : tidak ada fungsinya
darah , hanya diangkut
4. Protein Plasma ( 6-8 % )
-

dalam

: Fungsinya mempertahankan tekanan

osmotik dan sebagai penyangga


Albumin : Albumin Berukuran paling kecil dibanding protein plasma
lainnya, disintesis dalam hati, mengatur tekanan osmotik koloid
darah (koloid : zat yang berdiameter 1 nm -100nm kristaloid : zat
yang berdiameter kurang dari 1 nm), tekanan osmotik koloid
(tekanan onkotik) ditentukan berdasarkan konsentrasi koloid dalam

larutan
Globulin : Mencakup 30% protein plasma yang terdiri dari :Alfa
globulin dan beta globulin disintesis di hati sebagai molekul
pembawa lipid, faktor pembekuan dan hormon serta subtrat
penting

lainnya

dan

gamma

globulin

(immunoglobin)atauantibodi ,diproduksi jaringan limfoid , terdapat


5 jenis immunoglobin , berfungsi dalam immunitas (kekebalan)
5

Fibrinogen : Mencakup 4% protein plasma, Disintesis di hati,


komponen penting pembekuan darah

B. Eritrosit
Sel ini berbentuk diskus bikonkaf( dua sisi ) seperti donat tanpa
lubang ditengah. Dengan permukaan sel darah merah yang seperti itu
dapt memungkinkan untuk proses disfusi cepat dan karbon dioksida,
sementara ukuran yang kecil dan relatif fleksibel dapat memungkinkan
SDM untuk menyelinap masuk kedalam pembuluh kapiler tanpa
menyebabkan kerusakan. Dalam sampel darah , presentasi darah yang
diambil adalah SDM disebut hematokrit, yang memiliki presentase 42
% dari perempuan dan 45 % untuk laki-laki. Pada manusia sel ini
berada dalam sirkulasi selama kurang lebih 120 hari. Jumlah normal
pada laki-laki 5,4 juta atau l dan pada perempuan 4, 8 juta atau l.
Setiap eritroit memiliki diameter sekitar 7,5 m dan tebal 2 m. Setiap
sel eritrosit mengandung 300 juta molekul Hb.
Fungsi dari sel darah merah adalah oksigenansi jaringan dengan
transport hemoglobin;

pembuangan

karbon dioksida melalui reaksi

dengan karbonik anhidrase ; dan hemoglobin sebagai bufer untuk


memelihara keseimbangan asam basa.
Perkembangan normal eritrosit tergantung pada banyak macam
faktor, termasuk adanya substansi asal ( terutama globin, hem , dan
besi ). Faktor-faktor lain seperti B12.
Perkembangan eritrosit dimulai

dengan

penyusutan

ukuran

( makin tua makin kecil)perubahan sitoplasma ( dari basofilik makin


acidofilik ),perubahan inti nukleoli makin hilang, ukuran sel makin
kecil,kromatin makin padat dan tebal, warna inti gelap. Tahapan
perkembangan eritrosit yaitu :
1. Proeritroblas
Proeritroblas merupakan sel yang paling awal dikenal dari eritrosit,
yang mana sel ini adalah sel yang terbesar, dengan diameter 15-20
m. Setelah mengalami sejumlah pembelahan mitosis sel ini menjadi
basofilik eritroblas
2. Basofilik eritoblas
Basofilik eritoblas agak lebih kecil daripada proeritroblas, dan diameter
rata-ratanya 10 m. Intinya memiliki heterokromotin padat dalam jalajala kasr, dan anak intinya biasanya tidak jelas. Sitoplasmanya jarang
nampak.
3. Polikromatik eritroblas
6

Polikromatik eritroblas adalah basofilik eritroblas yang membelah


berkali-kali secara mitotris dan menghasilkan Hb di dalam sitoplasma
yang basofil dari eritroblas. Inti polikromatik eritroblas mempunyai jala
kromatin lebih padat dari basofilik eritroblas dan selnya lebih kecil.
4. Ortokromatik Eritroblas ( Normoblas )
Polikromotik eritroblas membelah beberapa kali secara mitosis.
Normoblas lebih kecil dari pada polikromatik eritroblas da mengandung
inti yang lebih kecil yang terwarnai basofil padat . Intinya secara
bertahap menjadi piknotik. Tidak ada lagi aktivitas mitosis . Akhirnya
inti

dikeluarkan

dari

sel

bersama-sama

dengan

pingiran

tipis

sitoplasma. Inti yang sudah dikeluarkan dimakan oleh makrofagmakrofag yang ada didalam stroma tulang.
5. Retikulosit
Retikulosit adalah sel-sel muda yang kehilangan inti selnya , dan
mengadung sisa-sisa asam ribonukleat didalam sitoplasma, serta
masih dapat mensintesis Hb.
Retikulosit dianggap kehilanagn

retikular

sebelum

meninggalkan

sumsum tulang , karena jumlah retikulosit dalam darh perifer normal


kurang dari satu persen dari jumlah eritrosit. Dalam keadaan normal
keempat tahap pertama sebelum menjadi retikulosit terdapat PADA
SUMSUM TULANG. Retikulosit terdapat pada sumsumtulang maupun
darah tepi . Didalam sumsumtulang memerlukan waktu kurang lebih 23 hari untuk menjadi matang, sesudah itu dilepas kedalam darah. ( Bell
dan Rodak , 2002)
6. Eritrosit
Eritrosit merupakan produk akhir dari perkembangan eritropoesis.

Pada sistem eritropoesis dikenal juga istilah eritropoiesis inefektif ,


yang

dimaksud

eritropoiesis

inefektif

adalah

suatu

proses

penghancuran sel induk eritroisit yang prematur di sumsum tulang.


Regulasi produksi sel darah merah yaitu :
1. Oksigenasi jaringan
Penurunan O2 dalam jaringan dapat menyebabkan

peningkatkan

produksi SDM. Misalnya anemia oksigen : perdarahan , dan x-ray pada


sutul ; kelainan sirkulasi yang menurunkan aliran darah : gagal jantung
da penyakit paru.
2. Erythropoietin
Erythropoietin adalah hormon yang diproduksi oleh ginjal yang mana
terjadi di sel juxta glomerular dan dinding arteriola affrent. Pada kasus
hypoxia eritropoietin dapat meningkat, dan juga penurunan aliran darah
pada ginjal atau tumor pada ginjal dapat meningkatkan ertropoietin.Bila
ginjal rusak dapat menyebabkan anemia. Eritropoietin dapat merangsang
proeritroblast sampai kebutuhan O2 terpenuhi.
atau

Sel darah merah yang rusak difagosit oleh makrofag dalam limfa, hati
dan sumsum tulang akan terurai menjadi :
1. Globin : bagian protein yang akan menjadi asam amino dan akan
diperbaharui dalam proses sintesis seluler
2. Hem : bagian yang mengandung zat besi diubah menjadi biliverdin
(pigmen hijau) kemudian menjadi bilirubin pigmen kuning) yang dilepas
ke dalam plasma. bilirubin diserap oleh hati dan disekresikan ke cairan
empedu.
3. Fe ( Zat besi)
Globin dan Fe dikirim ke Sumsum tulang belakang untuk dibuat darah
baru

Hemoglobin adalah protein dengan berat molekul 64.450 yang terdiri


dari 4 subunit, dimana tiap unit berisi heme, yang berkonjungasi dengan
polipeptida. Heme disintesis dari acetic acid dimana pyrolecompound
berikatan dengan protopofirin ( protoporfirin IX + Fe
Hemoglobin yang

Hem ).

mengikat oksigen membentuk oksihemoglobin yang

berwarna merah terang. Jika oksigen dilepas menjadi deoksihemoglobin


atau hemoglobin tereduksi yang berwarna merah gelap atau merah
kebiruan.

Hemoglobin

berikatan

dengan

karbondioksida

membentuk
8

karbominoglobin.

Hemoglobin

hanya

digunakan

sekitar

20%

untuk

pengangkutan CO2, 80% lagi CO2, terlarut dalam plasma dalam bentuk ion
bikarbonat.
Abnormal dari struktur eritrosit yaitu :
1. Anisositosis adalah SDM dalam ukuran yang bervariasi
2. Polikilostosis adalah SDM bentuknya bervariasi ( makrositer jika 0 > 9 m
, mikrositer jika 0 < 9 m )
3. Cobot ring atau Howell Joll body adalah fragmen intinya lebih dari 1%
4. Crenated adalah bentuknya mengkerut karena suasana hipertonis.
C. Leukosit
Leukosit adalah sel darah putih yang
berwarna
berupa

memiliki nukleus dan tidak

dalam keadaan segar. Bentuknya bulat dalam darah , tetapi

sel

ameboid

pleiomorfik

dalam

jaringan.

Leukosit

memiliki

karakteristik sebagai berikut :


1. Berasal dari undifferenciated stem cells
2. Granulocyt dan monocyt diproduksi di sumsum tulang
3. Lymphocyt diproduksi di organ lymphoid (lymphnode & tonsil), sedikit
4.

di sumsum tulang
Jumlah dalam keadaan normal 6.000 - 10.000ataumm3, dalam

keadaan infeksi akan mengalami peningkatan jumlah total


5. Fungsi melindungi tubuh dari benda asing seperti virus dan bakteri sebagian besar aktifitas leukosit berada di jaringan tubuh bukan
6.

dalam aliran darah


Mempunyai kemampuan diapedesis dapat menembus pori-pori

kapiler masuk ke jaringan


7. Gerak amuboid dapat bergerak seperti gerak amuba, mampu
bergerak tiga kali lebih panjang dibanding tubuhnya dalam satu
menit
8. Kemotaksis

pelepasan

zat

kimia

oleh

jaringan

yang

rusak

menyebabkan leukosit bergerak mendekati (kemotaksis positif) atau


menjauhi (kemotaksis negatif)
9. Phagosit semua leukosit adalah fagositik, tapi kemampuan ini lebih
berkembang pada neutrofil dan monosit
10.Rentang kehidupan - setelah di produksi pada sumsum tulang leukosit
bertahan kurang lebih satu hari dalam sirkulasi sebelum masuk ke
jaringan.
11.Leukosit akan tetap berada di jaringan dengan rentang yang berbedabeda bergantung kepada leukositnya
Ada lima jenis leukosit dalam sirkulasi darah, dibedakan berdasarkan
ukuran betuk nukleus dan ada atau tidaknya granula sitoplasma.
9

a. Mononuclear Agranulosit : leukosit yang tidak memiliki granula,


sitoplasma , inti tidak berlobi , misalnya monosit 5,3 % dan limfosit
30 %.
b. Polymorphonuclear Granulosit ( PMN ) : leukosit yang memiliki
granula, sitoplasma, dan inti sel berlobi-lobi atau bersegmentasi
( netrofil 62,0 %, basofil 2,3 %, dan eosinofil 0,4% ). PMN ini tumbuh
dan matang didalam sumsum tulang

1. Monosit
Monosit merupakan sel darah terbesar, nukleus berbentuk seperti telur
atau ginjal dikelilingi sitoplasma berwarna kebiruan atau abu-abu pucat.
Monosit itu sendiri memiliki lifespan sangat pendek dalam sirkulasi dan
apabila di jaringan dapat besar menjadi makrofag jaringan ( 1 bulan ).
Fungsi dari monosit adalah sangat aktif dalam fagosit, siap bermigrasi
ke jaringan. Jika telah meninggalkan pembuluh darah maka sel akan
berubah menjadi histiosit jaringan atau makrofag . Monosit

dapat

memfagosit sampai 100 bacteri , memfagosit partikel yang lebih besar ,


Neutrophyl dan macrophage mempunyai lysosome yg berisi enzym
proteolytic untuk mencerna bacteri dan protein asing . Lisosome punya
lipase untuk mencerna membran lipid tebal dari bacteri tertentu. Pus
adalah

capuran

dari

jaringan

mati,

bacteri

mati,

neutrophyl

&

macrophage mati dan cairan jaringan


2. Limfosit
Struktur dari limfosit berupa sel bulat kecil berdiameter 7-12m dengan
nukleus berlekuk yang berwarna gelap dan sedikit sitoplasma

biru

terang. Tidak ada granul spesifik, tetapi mungkin memiliki sedikit granul
azurofil. Dibawah mikroskopik elektron terlihat kompleks golgi kecil
sekali, sepasang sentriol, dan ada satu atau dua mitokontria. RE dapat
dikatakan tidak ada tetapi banyak ribosom bebas dalam plasma.
Lifespan limfosit dari lymph node ke jaringan lymphe bisa hidup
10

beberapa jam sedangkan apbila di luar jaringan biasa bisa hidup 100300 hari sampai 1 tahun. Limfosit dibagi dua yaitu limfosit B ( berperan
dalam imunitas humoral, berdeferensiasi menjadi sel plasma kemudian
menghasilkan imunoglobulin )dan limfosit T ( berperan dalam immunitas
seluler )
3. Neutrofil
Struktur dari neutrofil yaitu

memiliki granula kecil berwarna merah

muda, nukleus 3 - 4 lobus masing-masing lobus dihubungkan oleh


benang kromatin halus, bersifat fagositik dan sangat aktif, hingga dapat
mencapai jaringan terinfeksi untung menyerang virus dan bakteri.
Neutrofil

dapat mengfagositosit

5-20 bakteri , dengan caranya

membentuk pseudopodia.
4. Eosinofil
Struktur dari eosinofil yaitu memiliki granula besar dan kasar, berwarna
orange kemerahan, nukleus berlobus dua . Eosinofil memiliki fungsi :
a. Fagositik lemah, jumlah meningkat saat terjadi alergi atau infeksi oleh
parasit, berkurang saat stress berkepanjangan.
b.Detoksikasi histamin yang dihasilkan sel mast dan jaringan yang luka
saat inflamasi berlangsung
c. Mengandung peroksidase dan fosfatase yaitu enzim yang menguraikan
protein. Enzim ini mungkin terlibat dalam detok- sifikasi bakteri.
5. Basofil
Struktur dari basofil yaitu bentuk granula besar dan tidak beraturan
dengan warna keunguan sampai hitam, nukleus berbentu huruf S.
Fungsi dari Basofil adalah menghasilkan histamin untuk memicu aliran
darah ke sekitar luka dan menghasilkan heparin yaitu zat antikoagulan
untuk mencegah gumpalan darah di pembuluh
D. Trombosit
Struktur trombosit merupakan fragmen sel tanpa nukleus, yang berasal
dari megakariosit multinukleus dalam sumsum tulang. berbentuk cakram
dan

bicovex,

berukuran

hampir

setengah

dari

ukuran

eritrosit,

mengandung berbagai jenis granula, masa hidup : 5 - 10 hari dari proses,


Jumlah normal : 200 ribu - 400 ribu butirataumikroliter. Fungsi trombosit
adalah hemostatis (penghentian pendarahan) dan perbaikan pembuluh
yang robek. Mekanisme Pembekuan darah yaitu :
1. Vasokontriksi
Jika pembuluh darah
terpotong trombosit pada sisi yang rusak
melepas serotonin dan tromboksan A2 (prostaglandin) dan otot polos
pada pembuluh darah berkontriksi untuk mengurangi darah yang
keluaratauhilang.
11

2.

Plug trombosit
Trombosit membengkak dan menjadi lengket dan menempel pada
serabut kolagen dinding pembuluh darah yang rusak membentuk plug
trombosit. Kemudian trombosit melepas ADP untuk mengaktivasi
trombosit

lain

sehingga

membentuk

agregasi

trombosit

untuk

memperkuat plug. Jika luka yang terjadi hanya sedikit makan plug
trombosit dapat mengentikan pendarahan, jika lukanya besar maka
plug

trombosit

dapat

mengurangi

perdarahan

sampai

proses

pembekuan terbentuk.
3. Pembentukan bekuan darah.

HEMOSTASIS
Hemostasis merupakan suatu urutan respon yang dapat menghentikan
perdarahan . Ketika pembuluh darah mengalami ruptur , maka hemostasis
bekerja dengan cepat untuk menghentikan perdarahan tersebut melalui
beberapa mekanisme seperti spasme vascular, pembentukan sumbatan
platelet dan koagulasi .
Adapun fungsi dari proses hemostasis yaitu :
a. Mencegah keluarnya darah dari pembuluh darah yang utuh. Hal in
tergantung dari integritas pembuluh darah dan fungsi trombosit yang
normal.
b. Menghentikan perdarahan dari pembuluh darah yang terluka .
Hemostasis yaitu pencegahan hilangnya darah , bila pembuluh darah
mengalami cedera atau pecah dengan cara spasme , pembentukan platelet
plug, koagulasi, dan pembentukan jaringan fibrous.
1. Spasme pumbuluh darah
Pembuluh darah sangat besar peranannya dalam sistem hemostasis.
Dinding pembuluh darah terdiri dari tiga lapisan morfologis: intima, media,
dan adventitia. Intima terdiri dari selapis sel endotel non trombogenik
yang berhubungan langsung dengan pembuluh darah dan

membran

elastik interna. Media dibentuk oleh sel otot polos yang ketebalannya
12

tergantung dari jenis arteri dan vena serta ukuran pembuluh darah.
Adventitia terdiri dari suatu membran elastik eksterna dan jaringan
penyambung yang menyokong pembuluh darah tersebut. Gangguan
pembuluh darah yang terjadi seringkali berupa terkelupasnya sel endotel
yang diikuti dengan pemaparan kolagen subendotel dan membran basalis.
Gangguan ini terjadi akibat asidosis, endotoksin sirkulasi, dan komplek
antigenatauantibodi sirkulas.
Spasme pembuluh darah terjadi karena akibat dari adanya trauma
pada pembuluh darah maka respon yang pertama kali adalah respon dari
vaskuler atau kapiler yaitu terjadinya kontraksi dari kapiler disertai dengan
extra-vasasi dari pembuluh darah, akibat dari extra vasasi ini akan
memberikan tekanan pada kapiler tersebut (adanya timbunan darah
disekitar kapiler). Akibat dari pembuluh darah yang pecah juga dapat
berakibat rasa nyeri karena refleks saraf oleh pembuluh darah yang rusak,
spasme miogenik setempat oleh karena kerusakan dinding pembuluh
darah, juga faktor humoral setempat dari jaringan yang kena trauma dan
trombus dapat menyebabkan vasokonstriktor tromboxan A2. Semakin
parah kerusakan dari pembuluh darah dapat menyebabkan spasme yang
hebat sehingga aliran darah menurun
2. Pembentukan platelet plug atau trombus
Setelah pembuluh darah mulai berkonstriksi,

secara

bersamaan

trombosit di sekitar area yang cedera tersebut akan segera melekat


menutupi lubang pada pembuluh darah yang robek. Hal ini bisa terjadi
karena di membran trombosit terdapat senyawa glikoprotein yang hanya
akan melekat pada pembuluh yang mengalami cedera. Setelah itu
trombosit akan menempel pada dinding epitel pembuluh darah yang
cedera kemudian menjadi lengket pada protein yang berasal dari plasma
yang bocor kemudian akan menuju pada

bocor jaringan yang cedera.

Setelah itu trombosit akan menjadi ireguler dan bengkak. Tonjolan-tonjolan


akan mencuat keluar permukaannya dan akhirnya protein kontraktil di
membran akan berkontraksi dengan kuat sehingga granula-granula yang
mengandung faktor pembekuan aktif akan lepas, diantaranya ADP dan
tromboksan A2 , setelah itu ADP dan tromboksan A2 mengaktifkan
tromboksan-tromboksan
kemudian

tromboksan

yang
dan

lain

sehingga

benang-benang

akan
fibrin

saling
akan

melekat,

membentuk

sumbatan yang rapat.


3. Koagulasi

13

Setelah terjadi sumbatan trombosit dalam waktu 15 sampai 30 menit


bila perdarahannya hebat, atau 1 sampai 2 menit bila perdarahannya kecil,
zat-zat aktivator dari pembuluh darah yang rusak dan trombosit tadi akan
menyebabkan pembekuan darah setempat. Prosesnya sangat kompleks,
yaitu saling mengaktifkan satu sama lain hingga sampai terbentuknya
benang fibrin untuk menutup luka.
Pembekuan darah adalah proses dimana komponen cairan darah
ditransformasi menjadi material semisolid yang dinamakan bekuan darah.
Ada Beberapa faktor yang dapat menyebabkan pembekuan darah seperti :
- F.I = FIBRINOGEN, merupakan prekursor fibrin (protein terpolimerasi)
- F.II = PROTROMBIN, merupakan prekursor enzim proteolitik trombin dan
-

mungkin akselerator lain pada konversi protrombin.


F.III = TROMBOPLASTIN JARINGAN, aktifator lipoprotein jaringan pada

protrombin
F. IV = ION CA, diperlukan untuk aktivasi protombin dan pembentukan

Fibrin
F.V. = PROAKSELERIN, merupakan akselerator plasma globin : suatu
factor

plasma

yang

mempercepat

konversi

protrombin

menjadi

thrombin.
F.VI. = BENTUK AKTIP F.V.
F.VII = PROKONVERTIN, akselator konversi protombin serum : suatu

faktor serum yang mempercepat konversi protombin


F.VIII = ANTI HEMOFILIK FAKTOR (AHG), suatu faktor plasma yang
berkaitan dengan factor III trombosit dan factor Christmas (IX),

mengaktivasi protmrombin
F.IX = CHRISTMAS FAKTOR, faktor serum yang berkaitan dengan faktor-

faktor trombosit III dan VIIIAHG, mengaktifasi protombin.


F.X = STUART PROWER FAKTOR, suatu faktor plasma dan serum ,

akselerator konversi protombin


F.XI = PLASMA TROMBOPLASTIN ANTECEDENT, akselator pembentukan

thrombin.
F.XII = HAGEMEN FAKTOR, suatu faktor plasma, mengaktifasi faktor XI
F.XIII = FIBRINASE FAKTOR, mengaktifasi bekuan fibrin yang lebih kuat.

4. Pembentukan jaringan fibrous


Pembentukan jaringan ikat atau fibrous , dapat terjadi karena 2 proses,
yaitu :
d. Bekuan diinvasi oleh fibroblast

yang kemudian membentuk jaringan

ikat pada seluruh bekuan


e. Penghancuran bekuan oleh aktivasi zat khusus dalam bekuan
Pembentukan aktivator protrombin

14

Pembentukan

aktivator

protrombin

berasal

dari

dua

mekanisme

kompleks yang melibatkan berbagai faktor pembekuan, yaitu jalur ekstrinsik


dan jalur instrinsik.
a. Jalur ekstrinsik
Ketika dinding vaskuler mengalami cedera, ia akan melepaskan
berbagai faktor jaringan atau tromboplastin jaringan atau faktor III
teraktivasi. Faktor ini terdiri dari kompleks fosfolipid dan lipoprotein yang
terutama berfungsi sebagai enzim proteolitik.Kemudian

faktor jaringan

mengaktifkan faktor VII menjadi faktor VII teraktivasi (VIIa). Bersamasama, faktor jaringan dan faktor VII teraktivasi serta dengan bantuan ion
Kalsium (Ca2+atau faktor IV) akan merubah faktor X menjadi faktor X
teraktivasi (Xa). Kemudian, faktor Xa itu akan berikatan dengan fosfolipid
pada faktor jaringan tadi (atau dengan fosfolipid tambahan yang dilepas
trombosit), dan mereka bergabung dengan faktor V untuk membentuk
aktivator protrombin.

b.

Jalur instrinsik
Untuk jalur instrinsik, dimulai ketika pembuluh darah mengalami
trauma atau pembuluh darah itu berkontak dengan jaringan yang
mengalami trauma. Hal ini akan menyebabkan faktor XII inaktif berubah
menjadi aktif, atau faktor XII teraktivasi (XIIa). Selain itu, trombosit yang
15

hancur juga akan melepaskan fosfolipid yang mengandung lipoprotein


yang disebut faktor 3 trombosit. Faktor XIIa akan mengaktifkan faktor XI
menjadi faktor XI teraktivasi (XIa) dengan bantuan senyawa bernama
kininogen HMW. Faktor XIa ini dengan bantuan Ca2+ akan mengaktifkan
faktor IX menjadi faktor IX teraktivasi (IXa).Kemudian faktor IXa ini akan
bekerja sama dengan faktor VIII teraktivasi , faktor 3 trombosit tadi serta
dengan Ca2+, untuk mengubah faktor X menjadi faktor X teraktivasi (Xa).
Sama dengan jalur ekstrinsik, faktor Xa ini akan bergabung dengan
fosfolipid dan faktor V untuk membentuk aktivator protrombin.

Pembentukan Benang-Benang Fibrin


Setelah protombin terbentuk. Protombin akan mangaktifkan trombin,
yang mana dengan bantuan Ca2+. Kemudian trombin akan menyebabkan
polimerisasi dari molekul-molekul fibrinogen menjadi benang-benang fibrin
dalam waktu 10 15 detik. Prosesnya, trombin ini akan melepas 4 molekul
peptida kecil dari setiap molekul fibrinogen, sehingga membentuk satu fibrin
monomer,

selanjutnya

berpolimerisasi

dengan

fibrin

monomer

sesamanya

ini

secara

membentuk

otomatis

benang

fibrin.

mampu
Selama

beberapa detik, akan muncul banyak benang-benang fibrin yang panjang.


Tetapi benang-benang ini memiliki ikatannya yang lemah, karena cuma
berikatan secara ikatan hidrogen. Oleh karena itu trombin akan mengaktivasi
suatu zat yang disebut faktor stabilisasi fibrin. Faktor stabilisasi fibrin inilah
yang nantinya akan memperkuat ikatan benang-benang fibrin tadi menjadi
lebih kuat, dengan cara menimbulkan ikatan kovalen pada benang-benang
tersebut.

16

Aktifator Plasminogen Jaringan


Pada

jaringan

dan

endotel

pembuluh

darah

yang

teluka,

akan

dilepaskan suatu aktivator aktivator plasminogen jaringan (t-PA). t-PA ini akan
mengaktifkan plasminogen menjadi plasmin. Plasmin ini adalah zat antikoagulan dalam darah. Plasmin bekerja dengan cara mencerna benangbenang fibrin dan protein koagulan lain seperti fibrinogen, faktor V, faktor VIII,
protrombin dan faktor XII. Kemudian t-PA akan membersihkan bekuan
sehingga proses pembentukan benang-benang fibrin akan terhenti. Setelah
terbentuk benang-benang fibrin secara sempurna, dan darah juga membentuk
bekuan. Bekuan tersebut akan diinvasi oleh fibroblas yang kemudian
membentuk jaringan ikat atau dapat juga dihancurkan.

1.

Keadaan yang dapat menimbulkan perdarahan hebat yaitu :


Perdarahan akibat defisiensi vitamin K
Defisiensi vitamin K bisanya disebabkan oleh penyakit hati yang mana hati
mengsekresikan empedu kemudian terjadi gangguan absorbsi lemah
( pada GIT ) sehingga terjadi defisiensi vitamin K sehingga dapat
menghambat faktor pembekuan yaitu protrombin , faktor VII,IX,dan X
(didalam hati ) kemudian tejadi pendarahan. Untuk penatalaksanaan dapat

2.

diberikan vitamin K intravena atau tablet


Hemofilia
Hemofilia adalah peyakit yang kecenderungan perdarahan. Penyakit sering
dijumpai pada pria. 85 % hemofilia terjadi oleh karena defisiensi faktor VIII
( Hemofilia A atau hemofilia klasik ) dan 15 % karena defisiensi faktor IX .
Kedua faktor tersebut diturunkan secara resesif melalui charier (X). Terapi
yang digunakan adalah menginjeksikan faktor VIII yang diambil dari hasil

rekayasa gen.
3. Trombositopeni
Trombositopeni adalah jumlah trombosit di sirkulasi sangat sedikit
sehingga dapat menyebabkan bintik-bintik perdarahan diseluruh jaringan
tubuh

yang

kemudian

menjadi

bercak-bercak

kecil

ungu

dikulit

( trombositopeni purpura). Trombositopenia idiopatik bisanya terjadi


karena terdapat antibody spesifik yang mana dapat menghancurkan
trombosit itu sendiri , bisanya akibat dari efek autoimun terhadap
trombosit sendiri.

17

GOLONGAN DARAH
Golongan darah adalah ciri kusus darah dari suatu individu yang mana
setiap orang disebabkan oleh karena adanya antigen (Ag ) aglutinogen pada
dinding eritrosit dan adanya antibody spesifik

(Ab) aglutinin

didalam

plasmanya. Dua jenis penggolongan darah yang paling penting adalah


penggolongan ABO dan Rhesus.
1. Pengolongan Darah ABO
a. Individu dengan golongan darah A memiliki sel darah merah dengan
antigen A di permukaan membran selnya dan menghasilkan antibodi
terhadap antigen B dalam serum darahnya. Sehingga, orang dengan
golongan darah A-negatif hanya dapat menerima darah dari orang
dengan golongan darah A-negatif atau O-negatif.
b. Individu dengan golongan darah B memiliki antigen B pada permukaan
sel darah merahnya dan menghasilkan antibodi terhadap antigen A
dalam serum darahnya. Sehingga, orang dengan golongan darah Bnegatif hanya dapat menerima darah dari orang dengan dolongan
darah B-negatif atau O-negatif
c. Individu dengan golongan darah AB memiliki sel darah merah dengan
antigen A dan B serta tidak menghasilkan antibodi terhadap antigen A
maupun B. Sehingga, orang dengan golongan darah AB-positif dapat
menerima darah dari orang dengan golongan darah ABO apapun dan
18

disebut resipien universal. Namun, orang dengan golongan darah ABpositif tidak dapat mendonorkan darah kecuali pada sesama AB-positif.
d. Individu dengan golongan darah O memiliki sel darah tanpa antigen,
tapi memproduksi antibodi terhadap antigen A dan B. Sehingga, orang
dengan golongan darah O-negatif dapat mendonorkan darahnya
kepada orang dengan golongan darah ABO apapun dan disebut donor
universal. Namun, orang dengan golongan darah O-negatif hanya
dapat menerima darah dari sesama O-negatif.

Genotype

Blood

Agglutinoge

Agglutinins

types

ns

OO

Anti A and Anti B

OA or AA

Anti B

OB or BB

Anti A

AB

AB

A and B

Secara umum, golongan darah O adalah yang paling umum dijumpai di


dunia, meskipun di beberapa negara seperti Swedia dan Norwegia, golongan
darah A lebih dominan. Antigen A lebih umum dijumpai dibanding antigen B.
Karena golongan darah AB memerlukan keberadaan dua antigen, A dan B,
golongan darah ini adalah jenis yang paling jarang dijumpai di dunia.
Penyebaran golongan darah A, B, O dan AB bervariasi di dunia
tergantung populasi atau ras. Salah satu pembelajaran menunjukkan
distribusi golongan darah terhadap populasi yang berbeda-beda.

19

Populasi

AB

Suku pribumi Amerika Selatan

100%

Orang Vietnam

45.0

21.4

29.1

4.5%

44.4

55.6

42.8

41.9

11.0

4.2%

22.0

24.0

38.2

15.7

18.2

54.6

4.8%

12.4

Suku Aborigin di Australia

Orang Jerman

Suku Bengalis

Suku Saami

2. Rhesus
Jenis penggolongan darah lain yang cukup dikenal adalah dengan
memanfaatkan faktor Rhesus atau faktor Rh. Nama ini diperoleh dari
monyet jenis Rhesus yang diketahui memiliki faktor ini pada tahun 1940
oleh Karl Landsteiner. Seseorang yang tidak memiliki faktor Rh di
permukaan sel darah merahnya memiliki golongan darah Rh-. Mereka yang
memiliki faktor Rh pada permukaan sel darah merahnya disebut memiliki
golongan darah Rh+. Jenis penggolongan ini seringkali digabungkan
dengan penggolongan ABO. Golongan darah O+ adalah yang paling umum
dijumpai, meskipun pada daerah tertentu golongan A lebih dominan, dan
ada pula beberapa daerah dengan 80% populasi dengan golongan darah
B.
Kecocokan

faktor Rhesus amat

penting

karena ketidakcocokan

golongan. Misalnya donor dengan Rh+ sedangkan resipiennya Rh(-) dapat


menyebabkan

produksi

antibodi

terhadap

antigen

Rh(D)

yang

mengakibatkan hemolisis. Hal ini terutama terjadi pada perempuan yang


pada atau di bawah usia melahirkan karena faktor Rh dapat memengaruhi
janin pada saat kehamilan.
Ayah rhesus (+)

ibu rhesus (-)


20

Bayi pertama Rhesus (+)


eritrosit bayi masuk kedalam sirkulasi ibu terbentuk zat anti rhesus
Bayi kedua dst rhesus (+)
Ikterus atau eritroblastosis fetalis atauHDN
Kematian Janinan dalam Kandungan
Penatalaksanaan untuk eritroblastosis fetalis yaitu mengganti darah
neonatus dengan Rh (-) dengan infus selama periode dari 1,5 jam atau lebih.
Sementara itu darah neonatus Rh (+) dihapus (selama beberapa minggu
pertama kehidupan).

ALTERATIONS IN CELL FUNCTION AND GROWTH


1.

Karakteristik sel
a. Sel sangat kompleks dan terorganisir
Kompleksitas sel sangat nyata tetapi sulit dijelaskan. Kompleksitas sel
dapat dianalogikan dengan keteraturan dan konsistensi sel, dapat
dilihat dari organel-organel sel yang mempunyai struktur sendiri-sendiri
dan adanya interaksi antara bagian sel ataupun antara organel yang
berperan untuk memelihara ataupun operasional sistem sel.
Terorganisir merupakan karakteristik sel, dapat dilihat pada proses
sintesis protein, proses pembenukan energi kimia, pembentukan
membran sel. Pada proses tersebut terdapat kerjasama antar organel
sel dan semua proses sangat terorgansir
b. Mempunyai program genetik
Organisme dibangun berdasarkan informasi yang dikode dalam gengen. Gen bukanlah sekedar tempat menyimpan informasi tetapi juga
mengandung blueprint (cetakan) untuk membentuk struktur sel,
mengatur aktivitas sel dan sebagainya.
c. Membentuk sel dan menggunakan energi
d. Sel mampu menghasilkan berbagai macam reaksi kimia
Reaksi kimia yang terjadi di dalam sel sering disebut metabolisme.
Metabolisme adalah suatu proses pengubahan molekul- molekul
kompleks menjadi molekul-molekul kecil atau sebaliknya.
e. Sel mampu melakukan aktivitas mekanik

21

Sel adalah tempat aktivitas mekanik, dimana bahan atau molekul


diangkut dari satu tempat ketempat lain, baik di dalam sel atau antara
f.

sel.
Sel mampu merespon stimuli
Sel mempunyai reseptor hormon ,reseptor tubuh, reseptor matriks
ekstraselular atau reseptor lain sehingga dapat menangkap adanya

stimulus .
g. Sel mampu mengatur diri misalnya siklus sel
h. Sel mampu membelah diri
Individu-individu baru dihasilkan melalui

proses

reproduksi.

Sel

dihasilkan melalui proses pembelahan sel dimana satu sel induk akan
menghasilkan dua sel anak. Dari proses ini sifat-sifat yang dimliki induk
akan diwariskan ke keturunannya.
2.

Komponen Sel
a. Nukleus
Nukleus merupakan tempat pengaturan sel. Dalam nukleus ini terdapat
materi genetik sel, asam deoksiribunokleat ( DNA) yang memiliki dua
fungsi penting yaitu;
DNA memberikan

kode

atau

instruksi

untuk

mengarahkan

berbagai sintesis protein struktural, dan enzimatik spesifik di


dalam sel.
Dna berfungsi sebagai cetak biru genetik selama replika sel untuk

memastikan bahwa sel berhasil menghasilkan anak yang sama


persis seperti induknya sehingga dapat terus dihasilkan sel yang
identik dalam tubuh.
Dalam

nukleus

juga

terdapat

gen.

Gen

ini

yang

menentukan

karakteristik protein sel, termasuk enzim enzim sitoplasma yang


mengatur aktivitas sitoplasma. Gen awalnya berproduksi kemudian
selnya dipecah dalam proses khusus yang disebut mitosis untuk
membentuk 2 sel anak yang masing masing mendapatkan satu dari dua
sel

gen.

Dalam

nukleoplasmanya

terdapat

kromatin

yang

diidentifikasikan sebagai kromosom.


b. Nukleoli
Nukleoli merupakan bagian sel yang tidak mempunyai membran
pembatas. Nukleoli juga merupakan suatu struktur yang mengandung
sejumlah besar RNA dan protein seperti dalam ribosom. Nukleoli
membesar bila sel aktif mensintesa protein.
c. Sitoplasma
22

Sitolasma merupakan bagian interior sel yang tidak ditempati oleh


nukleus. Bagian ini mengandung sejumlah struktur tersendiri yang
sangat terorganisasi dan terbungkus membran organel yang tersebar
dalam massa kompleks mirip gel yang disebut sitosol. Substansi
substansi yang yang turut membentuksel secara keseluruhan disebut
protoplasma. Terdiri dari lima bahan dasar; air, elektrolit , protein, lipid
dan lemak serta karbohidrat.
a. Air
Medium cair semua

protoplasma

adalah

air

dengan

konsentrasi antara 70 85 %. Bayank zat zat kimia sel terlarut


dalam air, sedangkan lainnya tersuspensi dalam bentuk partikel
partikel kecil. Sifat air yang cair memungkinkan zat terlarut dan
tersuspensi berdifusi atau mengalir keberbagai bagian sel.
b. Elektrolit
Elektrolit yang paling penting dalam sel adalah aklium,
magnesium, fosfat, sulfat, bikarbonat dan jumlah kecil yaitu
natrium, klorida dan kalsium. Elektrolit elektrolit terlarut dalam
air merupakan zat kimia anorganik bagi reaksi seluler. Entitas
juga penting untuk kerja beberapa mekanisme pengawasan sel.
Misalnya, elektrolit Na+ dan K- berperanan pada membran sel
memungkinkan transmisi implus elektrokimia dalam saraf dan
serabut otot. Elektrolit intrasel menentukan aktivitas berbagai
reaksi

reaksi

yang

dikatalisis

secara

enzimatik

untuk

metabolisme sel.
c. Protein
Selain air, zat yang paling banyak dalam kebanyakan sel
adalah protein, yang dalam keadaan normal merupakan 10 20
% massa sel. Protein dapat dibagi dalam dua jenis, protein
structural

dan

enzim.

Protein

struktural

bersama

sama

membentuk struktur sel, misalnya terdapat dalam membran sel,


membran inti, membrane sekitar struktur intra sel seperti
relitikum endoplasma dan mitokondria. Sebagian besar protein
structural adalah fibrosa, yaitu masing-masing molekul protein
berpolimerasi membentuk benang-benang fibrosa yang panjang.
Benang-benang ini selanjutnya memberikan daya regangan pada
struktur sel.
Sebaliknya

enzim,

merupakan

protein

yang

bentuk

keseluruhannya berbeda, yaitu terdiri atas molekul protein


tunggal atau kumpulan beberapa molekul dalam bentuk globular.
23

Berbeda dengan protein fibrosa, protein ini sering kali larut dalam
cairan sel. Enzim-enzim berhubungan langsung dengan berbagai
zat di dalam sel dan mengkatalisis reaksi-reaksi kimia. Misalnya
pemecahan glukosa menjadi bagian-bagian komponennya dan
menggabungkannya dengan oksigen untuk membentuk karbon
dioksida dalam air. Pada saat yang sama enzim menghasilkan
energy untuk fungsi sel. Selain kedua jenis protein tersebut,
terdapat pula protein khusus dalam inti dan sitoplasma yaitu
nucleoprotein.
d. Lipid
Lipid merupakan berbagai zat yang larut dalam pelarut
lemak. Lipid yang paling banyak terdapat dalam jaringan
binatang adalah trigliserida atau lemak netral. Selain itu juga
terdapat fosfolipid dan kolesterol.
Sel biasanya mengandung 2-3% lipid yang terbesar di
seluruh sel. Konsentrasi lipid tertinggi terdapat pada membrane
sel, membrane sel, dan membrane yang membatasi organelorganel

intrasitoplasma,

seperti

reticulum

endoplasma

dan

mitokondria. Sifat lipid yang tidak larut atau hanya sebagian yang
larut dalam air membuat membrane kedap terhadap banyak zat
yang larut.
e. Karbohidrat
Pada umunya, karbohidrat mempunyai fungsi structural
yang kecil dalam sel, tetapi fungsinya memegang peranan
penting dalam nutrisi sel. Sebagian besar sel hewan tidak dapat
menyimpan karbohidrat dalam jumlah besar, biasanya hanya
berkisar % dari massa total. Tetapi, karbohidrat dalam bentuk
glukosa, selalu terdapat disekitar cairan ekstra sel sehingga ia
dengan mudah tersedia bagi sel. Dalam jumlah kecil karbohidrat
yang disimpan dalam sel hampir seluruhnya terdapat dalam
bentuk glikogen, yang merupakan polimer glukosa yang tidak
larut.
Bagian sitoplasma yang tepat dibawah membrane sel
sering mengalami gelatinasi menjadi
dinamakan

setengah padat yang

korteks atau ektoplasma. Sedangkan sitoplasma

yang terdapat antara korteks dan membrane inti berbentuk encer


dan dinamakan endoplasma. Partikel-partikel besar yang terbesar
24

dalam

sitoplasma

adalah

butir-butir

lemak

netral,

granula

glikogen, ribosom, granula sekresi dan dua organel yang penting,


mitokondria dan lisosom. Sedangkan organel penting lainnya
yang

melekat

pada

membrane

inti

sel

adalah

reticulum

endoplasma dan kompleks golgi.


1. Ribosom
Ribosom berbentuk granular dan mengandung ARN,
berfungsi dalam sintesis protein dalam sel. ARN disintesis
gen dari kromosom kemudian disimpan dalam anak inti
sebelum dikeluarkan ke sitoplasma dalam bentuk ribosom
granula. Bila ribosom melekat pada bagian luar retikulum
endoplasma, maka disebut reticulum endoplasma granular.
2. Mitokondria
Mitokondria menyaring energy dari nutrian dan
oksigen yang selanjutnya digunakan untuk melakukan
fungsi sel. Jumlah mitokondria pada setiap sel berbedabeda, tergantung pada jumlah energi yang diperlukan oleh
setiap sel. Ukuran dan bentuknyapun berbeda-beda, ada
yang berbentuk globular dan ada pula yang berbentuk
filament.
Mitokondria terdiri atas dari dua lapisan unit
membrane yaitu: membrane luar dan membrane dalam.
Membran

dalam

banyak

membentuk

lapisan

yang

didalamnya melekat enim-enzim oksidatif sel. Rongga


dalam mitokondria juga banyak mengandung enzim-enzim
terlarut yang penting untuk menyaring energy dari nutrian.
Enzim-enzim ini bekerja bersama-sama dengan enzim
oksidatif

untuk

oksidasi

nutrient

membentuk

karbondioksida dan air. Energy yang dilepas digunakan


untuk sintesis zat-zat berenergi tinggi yang dinamakan
adenosine trifosfat (ATP). ATP kemudian kemdian ditransfor
keluar mitokondria, dan berdifusi keseluruh sel untuk
melepaskan

energinya

bila

mana

diperlukan

untuk

melakukan fungsi sel.


Mitokondria dapat mengadakan repliksi sendiri ,
berarti

satu

mitokondria

mungkin

dapat

membentuk

mitokondria ke dua. , ketiga dan seterusnya, bilamana


25

dibutuhkan dalam sel untuk menambah jumlah ATP.


Sebagaimana pada inti mitokondria juga mengandung
asam

dioksiribonukleat

tetapi

berbeda

dengan

yang

terdapat pada inti.


3. Lisosom
Lisosom menghasilkan sistem pencernaan intrasel
yang memungkinkan sel mencerna, dan membuang zat-zat
atau struktur yang tidak diinginkan, khususnya struktur
yang rusak atau asing, seperti bakteri. Lisosom berisi
enzim-enzim

hidrolik,

yang

berfungsi

memecahkan

senyawa organik menjadi dua bagian atau lebih dengan


mengikatkan hydrogen (H) dari molekul air dengan bagian
senyawa organic tersebut dan dengan mengikatkan bagian
hidroxil (OH) molekul air dengan bagian lain dri senyawa
tersebut. Misalnya, protein dihidrolisis menjadi asam-asam
amino, dan glikogen dihidrolisis membentuk glukosa.
Proses ini disebut hidrolisis adalah sebagai berikut :R R
+ H2O

R OH + RH
Lisosom bekerja dengan cara melekat pada vesikel

vinositik atau fagositik, kemudian melepaskan hidrolasenya


kedalam vesikel sehingga terbentuk esikel vigestis, yang
bertugas menghidrolisis protein, glikogen, asam nukleat,
mukopolisakarida, dan zat-zat lain dalam vesikel. Hasilhasil pencernaan ini berupa molekul-molekul kecil asam
amino, glukosa, fosfat, dan sebagainya yang kemudian
dapat

berdifusi

melalui

membrane

vesikel

kedalam

sitoplasma. Badan residual yang tersisa dalam vesikel


digestif

dieksresi

atau

mengalami

pelarutan

dalam

sitoplasma. Jadi lisosom dapat dianamakan organ digestif


sel.
Retikulum indoplasma tampak seperti jala-jala yang
disusun oleh struktur tubular dan vesicular. Ruang di dalam
tubulus dan vesicular terisi oleh matrix endoplasmic, suatu
medium cair yang berbeda dengan cairan diluar reticulum
endoplasma. Ruang reticulum endoplasma dihubungkan
dengan antara membran inti.ruang ini juga berhubungan
26

dengan ruang dalam kompleks golgi. Dalam beberapa hal


reticulum

endoplasma

langsung

berhubungan

dengan

bagian luar sel melalui celah yang sempit. Zat-zat yang


dibentuk pada berbagai bagian sel masuk ke dalam ruang
system vesicular ini dan kemudia diteruskan ke bagianbagian sel lainnya. Dari struktur tersebut, jelaslah bahwa
reticulum endoplasma terutama berfungsi dalam sintesis
zat dan teransfor zat-zat tersebut ke luar selatau untuk ke
bagian dalam sel.
Kompleks golgi mungkin merupakan bagian khusus
reticulum endoplasma karena mempunyai membrane yang
sama seperti membrane reticulum endoplasma agranular
dan biasanya terdiri atas emapat atau lebih lapisan
vesikula

yang

tipis.

Fungsi

kompleks

golgi

diduga

merupakan gudang sementara dan kondensasi zat-zat


sekresi serta menyiapkan

zat-zat ini

untuk akhirnya

disekresi. Kompleks golgi jug mensintesis karbohidrat dan


menggabungkannya

dengan

protein

membentuk

gikoprotein. Salah satu hasil sintesinya yang terpenting


adalah mukoplosakarida karena merupakan unur utama
dari (1) mucus, (2) Zat dasar ruang interstitial, (3) zat
dasar tulang rawan dan tulang. Selain itu, kompleks golgi
juga berperan dalam pembentukan lisosom.
d. Membran Sel
Pada dasarnya semua struktur fisika sel dibatasi oleh membrane
yang terutama terdiri atas lipid dan protein. Semua membrane, baik
membrane sel, inti, reticulum endoplasma, mitokondria, lisosom,
maupun kompeks golgi mempunyai struktur yang sama, yakni terdiri
atas lipid, lapisan protein dan lapisan tipis mukplolisakarida,. Protein
dan mukopolisakarida yang terdapat pada permukaan membrane
membuatnya

hidrofilix,

yakni

air

dengan

mudah

melekat

pada

membrane. Adanya lapisan mukoplolisakarida pada permukaan luar


membrane menyebabkan tegangan permukaan luar berbeda dengan
permukaan dalam,

sehingga reaktivitas kimia permukaan dalam sel

berbeda dengan permukaan luarnya. Sedangkan lipid yang terletak


ditengah membrane menyebabkan membrane tidak dapat ditembus
oleh zat-zat yang tidak larut dalam lipid.
27

Membran sel dilengkapi pori-pori agar zat yang tidak larut dalam
lipid seperti air dan urea dapat melewati membran sel. Pori-pori pada
membrane disebabkan oleh adanya molekul protein besar yang
merusak struktur lipid membrane dan membentuk jalan dari satu sisi
membrane ke sisi lainnya. Karenanya, membrane sel tidak hanya semi
perrmiabel terhadap substansi yang mengelilinginya, tetapi juga kadang
3.

bersifat permeabel atau impermeabel.


Siklus Hidup Sel
Siklus Sel adalah proses duplikasi secara akurat untuk menghasilkan

jumlah DNA kromosom yang cukup banyak dan mendukung segregasi untuk
menghasilkan dua sel anakan yang identik secara genetik. Proses ini
berlangsung

terus-menerus

dan

berulang

(siklik).

Pertumbuhan

dan

perkembangan sel tidak lepas dari siklus kehidupan yang dialami sel untuk
tetap bertahan hidup. Siklus ini mengatur pertumbuhan sel dengan meregulasi
waktu pembelahan dan mengatur perkembangan sel dengan mengatur jumlah
ekspresi atau translasi gen pada masing-masing sel yang menentukan
diferensiasinya. Fase pada siklus sel yaitu sebagai berikut :
a. Fase S (sintesis): Tahap terjadinya replikasi DNA
b. Fase M (mitosis): Tahap terjadinya pembelahan sel (baik pembelahan
biner atau pembentukan tunas)
c. Fase G (gap): Tahap pertumbuhan bagi sel.
- Fase G0, sel yang baru saja mengalami pembelahan berada dalam
keadaan diam atau sel tidak melakukan pertumbuhan maupun
perkembangan. Kondisi ini sangat bergantung pada sinyal atau
rangsangan baik dari luar atau dalam sel. Umum terjadi dan
-

beberapa tidak melanjutkan pertumbuhan (dorman) dan mati.


Fase G1, sel eukariot mendapatkan sinyal untuk tumbuh, antara

sitokinesis dan sintesis.


Fase G2, pertumbuhan sel eukariot antara sintesis dan mitosis.
Fase tersebut berlangsung dengan urutan G0 > G1 > S > G2 >

kembali ke G0. Dalam konteks Mitosis, fase G dan S disebut sebagai

Interfase.
- Pembelahan Mitosis
Mitosis merupakan periode pembelahan sel yang berlangsung
pada jaringan titik tumbuh (meristem), seperti pada ujung akar atau
pucuk tanaman. Proses mitosis terjadi dalam empat fase, yaitu
-

profase, metafase, anafase, dan telofase.


Profase.
Pada awal profase, sentrosom dengan sentriolnya mengalami
replikasi dan dihasilkan dua sentrosom. Masing-masing sentrosom
28

hasil pembelahan bermigrasi ke sisi berlawanan dari inti. Pada saat


bersamaan,

mikrotubul

muncul

diantara

dua

sentrosom

dan

membentuk benang-benang spindle, yang membentuk seperti bola


sepak.

Pada

sel

hewan,

mikrotubul

lainnya

menyebar

yang

kemudian membentuk aster. Pada saat bersamaan, kromosom


teramati dengan jelas, yaitu terdiri dua kromatid identik yang
terbentuk pada interfase. Dua kromatid identik tersebut bergabung
pada sentromernya. Benang-benang spindel terlihat memanjang
-

dari sentromer .
Metafase. Masing-masing sentromer mempunyai dua kinetokor dan
masing-masing kinetokor dihubungkan ke satu sentrosom oleh
serabut kinetokor. Sementara itu, kromatid bersaudara begerak ke

bagian tengah inti membentuk keping metafase (metaphasic plate) .


Anafase. Masing-masing kromatid memisahkan diri dari sentromer
dan masing-masing kromosom membentuk sentromer. Masingmasing kromosom ditarik oleh benang kinetokor ke kutubnya

masing-masing .
Telofase. Awal dari tahap telofase ini ketika kromosom sampai ke
kutubnya masing-masing. Kromosom tampak tidak beraturan dan
jika diwarnai, terpulas kuat dengan pewarna histologi. Tahap
berikutnya terlihat benang-benang spindle hilang dan kromosom
tidak terlihat (membentuk kromatin; difuse). Keadaan seperti ini
merupakan karakteristik dari interfase. Pada akhirnya membran inti
tidak terlihat diantara dua anak inti.
Sitokinesis. Selama fase akhir pembelahan mitosis, muncul

lekukan membran sel dan lekukan makin dalam yang akhirnya membagi
sel tetua menjadi dua sel anak. Sitokinesis terjadi karena dibantu oleh
protein aktin dan myosin.

29

4. Karakteristik dan Jenis Jaringan


a. Jaringan Saraf
Pada tubuh makhluk hidup terdapa dua kelompok kerja sistem saraf,
yakni sistem saraf pusat dan sistem saraf otonom. Kedua sistem
tersebut pada dasarnya tidak bekerja secara terpisah,tetapi saling
-

melengkapi.
Sistem saraf pusatJaringan saraf yang menjalin seluruh tubuh berpusat
dalam otak maupun sumsum tulang belakang. Otak memiliki tiga fungsi
utama yaitu,1) menerima input dan menginterpretasikan informasi dari
semua organ-organ sensor baik internal maujpun eksternal, 2)
menghasilkan output berupa parintah untuk koordinasi semua bagian
badan sebagai impuls saraf atau hormon, 3) integrasi antara kedua
aspek fungsi otak
Dari otak, serabut saraf berpencar menjadi 12 pasang saraf yang
dinamakan saraf tengkorak, melayani kepala, mata, dan beberapa
organ dalam. Dari sumsum tulang belakang beberapa saraf bercabang
dan bercabang membentuk batang-batang sarafmenuju alat-alat gerak.
Masing-masing saraf membawa impuls isyarat elektokimiawi yang

dicetuskan oleh suatu rangsang.


Sistem saraf otonom
Susunan saraf otonom terdiri atas saraf simpatis dan para simpatis.
Saraf otonom mengontrol fungsi vegetatif badan, antara lain: 1)
mengatur kegiatan jantung dan pembuluh darah, 2) mengatur kerja urat

daging licin, dan, 3) mengatur kerja kelenjar-kelenjar.


Bentuk umum sistem kerja saraf
Satuan dasar sistem saraf adalah neuron. Neuron mempunyai satu ciri
struktur yang menyebabkan kelihatan lain dari semua tipe sel tubuh
lainnya. Bila digolongkan menurut fungsinya,neuron dapat dibagi
menjadi tiga kelompok, 1) neuron sensoris yang membawa isyarat dari
organ sensoris ke otak dan sumsum tulang belakang, 2) neuron motorik
membawa petunjuk dari otak dan sumsum tulang belakang ke alat
gerak, jantung, usus dan organ tubuh yang lain, 3) interneuron yang
menggerakkan isyarat bolak balik lewat lintasan antara otak, sumsum

tumlang belakang dan lain-lain.


Mekanisme kerja saraf
I.
fungsi sinap neuron : hubungan antara satu neuron dengan
neuron berikutnya disebut sinaps, dalam sinaps terdapat bongkol
yang mempunyai dua struktur internal yang penting untuk fungsi
perangsangan

atau

penghambatan

vesikel

sinaptik

dan

mitokondria.
30

II.

pengiriman dan pengolahan sinyal : pada hakikatnya, sekali


dimulai impuls saraf pada ujung serabut saraf maka impuls ini
akan diteruskan oleh serangkaian sentuhan elektrik, apabila satu
impuls terjadi, misalnya oleh reseptor cahaya pada mata, selaput
sel berubah sebentar untuk membiarkan mengalirnya ion kalium
bermuatan keluar dari sel dan masuknya ion natrium bermuatan
ke dalam sel. Gerak bolak balik ini menimbulkan potensial elektrik
yang kecil membentuk impuls saraf. Bila jumlah potensial yang
terkumpul pada ujung saraf sudah cukup banyak, sel berikutnya
menembak . setelah itu impuls ini lewat, selaput sel kembali
berfungsi sebagai pembatas sampai impuls lain timbul. Karena
sistem saraf yang rumit dan sibuk dapat menyerap energi dengan
laju yang sangat besar
sehingga memerlukan bahan bakar (oksigen dan glukosa) yang
lebih banyak

Neurotransmitter
Neuron-neuron otonom pada mamalia biasanya mengandung lebih dari
satu

neurotransmitter,seringkali,satu

bergabung

satu

sama

lain

atau

atau

lebih

bergabung

neuropeptida

dengan

transmitter

acetylcholine yang klasik ataupun transmitter adrenaline. Pada ikan


hanya

sedikit

kasus-kasus

gabungan

seperti

itu.

Transmitter

perangsangpadaberbagaisinapsneuronsarafpusatadalahasetilkolin,norep
inerin,dopamn,serotonim,
transmitter

penghambat

L-glutamat,dan
yangpenting

L-asparat
adalah

asam

sedangkan
gamma

aminobutirat (GABA), glisin, taurin,dan alanin.


b. Jaringan Endokrin
Sistem endokrin pada ikan tidak jauh berbeda dengan sistem endokrin
vertebrata pada umumnya. Organ endokrin melepaskan suatu zat kimia
yang disebut hormon dengan organ target tertentu dibawa oleh
darah,dan berperan mempengaruhi fungsi tubuh .karena itu hormon bisa
juga disebut pesuruh kimia.Hubungan di antara sistem endokrin banyak
dan

kompleks,

tetapi

biasanya

mengikuti

dua

prinsip,yakni

1)

berdasarkan responnya dibagi menjadi dua kelenjar yang dihasilkan oleh


kelanjar kedua seringkali menghambat produksi hormon pituitari proses
ini

disebut

penghambat

feedback.

Yang

menyebabkan

terjadinya

keseimbangan respon.
c. Jaringan Epitel
31

Jaringan

epitel

adalah

jaringan

yang

melapisi

permukaan

tubuh.

Berdasarkan bentuk dan susunannya jaringan epitel dibagi menjadi


Epitel Pipih
- Epitel pipih selapis
Contoh:pada pembuluh darah, alveolus, pembuluh limfe, glomerulus
-

ginjal.
Epitel banyak lapis
Contoh: pada kulit, rongga mulut, vagina
Epitel Kubus
Epitel kubus selapis
Contoh:pada kelenjar tiroid, permukaan ovarium.
Epitel kubus banyak lapis
Contoh:pada saluran kelenjar minyak dan kelenjar keringat pada kulit.
Epitel Silindris
- Epitel silindris selapis
Contoh:pada lambung, jonjot usus, kantung empedu, saluran pernafasan
bagian atas.
- Epitel silindris banyak lapis
Contoh: pada saluran kelenjar ludah, uretra.
- Epitel silindris banyak lapis semuatauepitel silindris bersilia
Contoh:pada trakea, rongga hidung.
Epitel Transisional
Merupakan bentuk epitel banyak lapis yang sel-selnya tidak dapat
digolongkan berdasarkan bentuknya. Bila jaringannya menggelembung
bentuknya berubah. Contoh: pada kandung kemih.

d. Jaringan otot
Jaringan otot tersusun atas sel-sel otot yang fungsinya menggerakkan
organ-organ tubuh. Kemampuan tersebut disebabkan karena jaringan otot
mampu berkontraksi. Kontraksi otot dapat berlangsung karena molekulmolekul protein yang membangun sel otot dapat memanjang dan
memendek. Jaringan otot dapat dibedakan menjadi 3 macam:
- Jaringan Otot Polos
Jaringan otot polos mempunyai serabut-serabut (fibril) yang homogen
sehingga bila diamati di bawah mikroskop tampak polos atau tidak
bergaris-garis.
Otot

polos

berkontraksi

secara

refleks

dan

di

bawah
32

pengaruh saraf otonom. Bila otot polos dirangsang, reaksinya lambat.


Otot polos terdapat pada saluran pencernaan, dinding pembuluh darah,
-

saluran pernafasan.
Jaringan Otot Lurik
Nama lainnya adalah jaringan otot kerangka karena sebagian besar
jenis otot ini melekat pada kerangka tubule. Kontraksinya menurut
kehendak kita dan di bawah pengaruh saraf sadar.Dinamakan otot lurik
karena bila dilihat di bawah mikroskop tampak adanya garis gelap dan
terang berselang-seling melintang di sepanjang serabut otot. Oleh
sebab itu nama lain dari otot lurik adalah otot bergaris melintang.
Kontraksi otot lurik berlangsung cepat bila menerima rangsangan,
berkontraksi sesuai dengan kehendak dan di bawah pengaruh saraf
sadar. Fungsi otot lurik untuk menggerakkan tulang dan melindungi

kerangka dari benturan keras.


Jaringan Otot JantungatauMiokardium
Jaringan otot ini hanya terdapat pada lapisan tengah dinding jantung.
Strukturnya menyerupai otot lurik, meskipun begitu kontraksi otot
jantung secara refleks serta reaksi terhadap rangsang lambat. Fungsi
otot jantung adalah untuk memompa darah ke luar jantung

5. Adaptasi Sel
a. Atropi adalah pengerutan ukuran sel dengan hilangnya substansi sel.
Hal ini bisa disebabkan karena berkurangnya beban kerja, hilangnya
persarafan, berkurangnya suplai darah, nutrisi yang tidak adekuat dan
penuaan.Harus ditegaskan walaupun menurun fungsinya,sel atrofi tidak
mati.
b. Hipertrofi adalah
penambahan

penambahan

ukuran

organ,

ukuran
dapat

sel

fisiologik

dan

menyebabkan

ataupun

patologik.

Penyebabnya antara lain peningkatan kebutuhan fungsional ataupun


rangsangan hormonal spesifik.
c. Hiperplasia adalah meningkatnya jumlah sel dalam organ atau jaringan,
bisa patologik maupun fisiologik, yang disebabkan karena hormonal dan
kompensatorik.
d. DysplasiaMerupakan suatu proses adaptasi yaitu terjadi perubahan sifat
sel sehingga bervariasi dalam ukuran,bentuk dan susunannya. Contoh :
Kanker
e. Metaplasia adalah perubahan reversibel; pada perubahan tersebut satu
jenis

sel

dewasa

digantikan

oleh

jenis

sel

dewasa

lain.

( Robbins,Kumar,Cotrans.2003.Buku ajar patologi.edisi 7 )


6.

Injury dan kematian


33

Jejas atau kerusakan sel terjadi ketika sel dalam keadaan stress,
sehingga sel tersebut tidak dapat bertahan lama untuk beradaptasi atau sel
terkena agen perusakatau damaging agents. Biasanya, sel dikatakan rusak
apabila terjadi perubahan fungsi dan morfologi. Mekanisme kerusakan sel
yaitu: reversible cell injury dan irreversible injury and cell death. Reversible
cell injury adalah suatu keadaan ketika sel dapat kembali ke fungsi dan
morfologi semula jika rangsangan perusak ditiadakan. Irreversible injury and
cell death adalah suatu keadaan saat kerusakan berlangsung secara terusmenerus, sehingga sel tidak dapat kembali ke keadaan semula dan sel itu
akan mati. Ada dua tipe kematian sel, yaitu nekrosis dan apoptosis. Nekrosis
dan apoptosis dapat dibedakan dari segi morfologi, mekanisme, dan fisiologi.
Ketika kerusakan pada membran sel sudah besar, dan sel
membengkakatauswelling, enzim lisosom memasuki sitoplasma dan mencerna
sel, ini yang

disebut nekrosis.

Apoptosis terjadi saat sel

mengalami

pengecilanatau shringkage dan membentuk badan apoptosis yang berfungsi


sebagai pagositosis. Nekrosis merupakan titik kulminasi dari kerusakan sel sel,
sedangkan apoptosis berguna untuk mengeliminasi atau menghilangkan selsel yang tidak diinginkan. Apoptosis akan muncul setelah beberapa bentuk
kerusakan sel, khususnya kerusakan DNA.
Penyebab kerusakan sel dapat disebabkan oleh hipoksia (kekurangan
oksigen) yang mengurangi respirasi aerobik. Jika sel tidak dapat beradaptasi
dengan keadaan tersebut, maka sel akan mati. Adaptasi tubuh tersebut
misalnya

otot-otot

kaki

mengalami

pengecilan

atau

artropi

untuk

menyeimbangkan kebutuhan metabolis dan kecukupan oksigen. Selain itu,


kerusakan

sel

dapat

disebabkan

agen

fisik.

Agen

fisik

menimbulkan

traumaatau syok, temperatur yang ekstrim, perubahan yang tiba-tiba pada


tekanan atmosfer, kejutan listrik, dan radiasi. Kemudian, kerusakan sel karena
agen kimia dan obat-obatan. Misalkan saja racun yang dalam hitungan jam
bahkan menit dapat merusak dan mematikan sel. Agen kimia lain dapat
berupa polusi udara, insektisida. Zat-zat yang sebenarya tidak membahayakan
tubuh, dapat juga bertindak sebagai perusak, ketika mereka berada dalam
kondisi hipertonis (kondisi di mana konsentrasi zat terlarut sangat besar).
Agen infeksi atau penginfeksi juga bertanggung jawab dalam kerusakan sel.
Agen-agen ini meliputi virus, bakteri, jamur, dan parasit. Ternyata, imunitas
yang bertanggung jawab dalam melawan agen infeksi dapat merusak sel. Ini
terjadi saat sistem kekebalan tubuh bereaksi secara berlebihan terhadap
protein

asing.

Ketidakteraturan

genetikatau

mutasi

gen

memunculkan
34

kerusakan sel. Contohnya pengurangan waktu hidup sel darah merah karena
penggantian basa sitosin yang menyebabkan sickle cell anemia dan sindrom
Down karena ketidaknormalan kromosom (trisomi kromosom nomor 21). Yang
terakhir sebagai penyebab kerusakan sell adalah ketidakseimbangan nutrisi.
Kekurangan protein dapat menyebabkan busung lapar (kwasihorkor). Akan
tetapi, kelebihan nutrisi juga berperan dalam kerusakan sel. Kelebihan lemak
dalam tubuh dapat menyebabkan atherosklerosis.
Respon selular pada kerusakan sel bergantung pada tipe kerusakan,
lama waktunya, dan tingkat keparahannya. Konsekuensi dari kerusakan sel
bergantung pada tipe, keadaan, dan adaptasi sel yang rusak tersebut.
Ketidakmampuan sel untuk beradaptasi, sehingga menghadapi keadaan
stress dalam waktu yang lama menyebabkan sel tidak dapat kembali ke
morfologi dan fungsi yang semula, dan akhirnya kematian sel tidak dapat
terelakkan. Kerusakan sel itu adalah hasil dari ketidaknormalan fungsi dan
biokimia sel dalam satu atau lebih komponen sel yang esensial.
Ketika kita membicarakan kerusakan sel, ada suatu organel sel yang
memainkan

peranan

penting.

Organel

tersebut

adalah

mitokondria.

Mitokondria adalah organel sel yang bertugas sebagai dapur sel atau
penghasil energi sel. Mitokondria dapat rusak jika konsentrasi Ca 2+ tinggi.
Mitokondria yang rusak dapat menyebabkan mitokondria kehilangan potensial
dan PH-nya. Sehingga terjadi kesalahan fosforilisasi oksidatif, yang selanjutnya
menimbulkan nekrosis. Mitokondria juga mengandung bebarapa protein yang
mampu mengaktivasi jalur apoptosis, yaitu sitokrom c (berperan dalam
transpor elektron).
Sel yang rusak memberikan berbagai macam respon. Seperti yang
sudah dibahas di atas, responnya bisa datang dari lisosom. Lisosom
mengandung berbagai macam enzim hidrolitik, termasuk asam fospat,
glukoronidase, sukfatase, ribunuklease, dan kolagenase. Enzim ini disintesis di
retikulum endoplasma kasar dan dibawa ke aparatus golgi dalam bentuk
vesikel. Lisosom berperan sebagai heteropagi dan autopagi. Heteropagi dapat
berupa endositosis (memasukkan material ke dalam sel). Autopagi berperan
saat kerusakan sel terjadi. Sel yang rusak dan tidak dapat beradaptasi dalam
waktu yang lama menyebabkan sel itu mati. Sel yang mati dan tidak berguna
akan

diuraikan

oleh

tubuh,

agar

tidak

berbahaya

dan

mengganggu

homestasis. Di sinilah peran lisosom. Lisosom akan mencerna sel secara


keseluruhan.

35

7.

Mekanisme Injury sel


a. Respons selular terhadap stimulus yang berbahaya bergantung pada
tipe cedera, durasi, dan keparahannya. Toksin berdosis rendah atau
iskemia berdurasi singkat bisamenimbulkan jejas sel yg reversibel,
sedangkan toksin berdosislebih tinggi atau iskemia dalam waktu yg
lebih lama akan menyebabkan jejas sel yg irreversibel dan kematian sel
b. Akibat suatu stimulus yang berbahaya bergantung pada tipe, status,
kemampuan adaptasi, dan susunan genetik sel yang mengalami jejas.
c. Empat sistem intraselular yang paling mudah terkena adalah 1)
keutuhan membran sel, 2) pembentukan adenosin trifosfat (ATP) paling
besar melalui respirasi aerobik mitokondria, 3) sintesis protein, dan 4)
keutuhan perlengkapan genetik.
d. Komponen struktural dan biokimiawi suatu sel terhubung secara utuh
tanpa memandang lokus awal jejas, efek mutipel sekunder yang terjadi
sangat cepat.
e. Fungsi sel hilang jauh sebelum terjadi kematian sel, dan perubahan
morfologi jejas sel.
Injurious Stimulus dapat menimbulkan :
a. Penurunan jumlah ATP (Adenosin Tri Phosphat) menurun sehingga
organela yang bergantung pada pasokan energi dari ATP terganggu.
b. Kerusakan membran dapat mengganggu mitokondria (organel penghasil
ATP), merusak lisosom (yang memiliki enzim perncerna, sehingga enzim
tsb bocor ke dalam sitoplasma dan melumatkan seluruh sel), merusak
protein penyusun membran plasma (seisi sel mengalami kebocoran).
c. Peningkatan jumlah ion Ca (Kalsium) dalam sitoplasma yang akan
mengganggu kinerja sel terutama DNA.
d. Peningkatan bentuk-bentuk OH reaktif, seperti ion Hidroksida (OH-) dan
H2O2.
Salah satu efek jejas ireversibel adalah perubahan morfologi yang
akhirnya menimbulkan kematian sel. Kematian sel ada dua macam,
yakni nekrosis dan apoptosis. Meskipun sama-sama kematian sel, tapi
keduanya berbeda secara morfologi, mekanisme, dan perannya.

8.

Neoplasia
Neoplasia adalah

pertumbuhan baru. Menurut Willis (onkolog

Inggris): massa jaringan yang abnormal, tumbuh berlebihan, tidak


36

terkoordinasi dengan jaringan normal dan tumbuh terus meskipun


stimulus yang
merugikan

menimbulkannya telah hilang

penderitanya

dan

tumbuh

tidak mempunyai tujuan,

otonom.

Dasar

pertumbuhan

neoplasma adalah hilangnya kontrol pertumbuhan normal. Sifat neoplasma


:
a. Parasit
b. Autonomi
c. Clonal: seluruh populasi sel dalam tumor berasal dari sel tunggal
(single cell) yang telah mengalami perubahan genetik.
Neoplasma dalam medis sering disebut juga sebagai tumor. Tumor
adalah semua tonjolan abnormal pada tubuh. Pada awalnya istilah tumor
ini diterapkan pada pembengkakan (swelling) akibat inflammasi. Faktorfaktor tertentu telah memberikan implikasi dalam proses karsinogenik,
yaitu:
a. Virus
Misalnya: Herpes simplex virus (HPV) tipe 16,18 Ca servix uteri, Hepatitis
B virus , Ca Hepatoseluler, Limfotropik sel-T manusia (HTLV-1) , Leukimia
limfositik, Limfoma, Human Immunodeficiency virus , Sarkoma Kaposi
b. Agen fisik
Misalnya : Pajanan sinar matahari, Radiasi, Iritasi kronisatauinflamasi dan
Penggunaan tembakau
c. Agen kimia
Misalnya :
Tembakau merupakan

karsinogen

kimia

poten

yang

menyebabkan

sedikitnya 35% kematian akibat kanker pada paru-paru, kepala, leher,


mesofagus, pankreas, serviks dan kandung kemih. Tembakau bekerja
sinergis dengan substansi lain seperti alkohol, asbestos, uranium dan
virus. Kondisi ini seringkali menyebabkan insidensi Ca cavum oris
meningkat.
Agen kimia lain seperti zat warna amino aromatik dan anillin, arsenik,
jelaga, tar, asbestos, benzen, pinang dan kapur sirih, kadmium, senyawa
kromium, nikel, seng, debu kayu, senyawa berilium dan polivinil klorida.
Agen-agen kimia ini dalam dosis yang berlebihan membahayakan tubuh
karena akan merusak struktur DNA terutama pada bagian-bagian tubuh
yang jauh dari pajanan zat kimia seperti hepar, paru, dan ginjal karena
organ-organ ini berperan untuk melakukan detoksifikasi zat-zat kimiawi.
d. Faktor genetik dan keturunan
Kerusakan DNA pada sel yang pola kromosomnya abnormal dapat
membentuk sel-sel mutan. Pola kromosom yang abnormal dan kanker
berhubungan dengan kromosom ekstra, jumlah kromosom yang terlalu

37

sedikit dan adanya translokasi kromosom. Contoh: limfoma burkitt,


leukimia mielogenus, meningioma, retinoblastoma, tumor wilm.
Faktor predisposisi kanker :
- Predisposisi keturunan, pada masa anak-anak dan dewasa dan pada
berbapai tempat dalam satu organ atau sepasang organ.
- Predisposisi herediter pada saudara dekatatausedarah dengan tipe
kanker yang sama.
Contoh lain jenis

kanker

yang

berkaitan

dengan

faktor

genetik:

retinoblastoma, ca mammae, nefroblastoma, ca prostat, feokromositoma,


ca paru, nefrofibromatosis, ca gaster, leukimia, ca kolorektal.
e. Faktor makanan
40-60% kejadian kanker berhubungan dengan lingkungan. Substansi
makanan dapat proaktif atau protektif, dan karsinogenik atau kokarsinogenik. Resiko kanker meningkat jika terdapat ingesti karsinogenik
atau kokarsinogenik dalam jangka waktu yang lama dan terus-menerus,
juga dapat terjadi jika makanan yang dikonsumsi tidak mengandung
substansi proaktif, misalnya lemak, alkohol, asinan terutama daging,
nitratataunitrit dan makanan yang berkalori tinggi.
Contoh makanan yang mengurangi resiko kanker adalah sayuran kruriferus
(kol, brokoli, kembang kol dan toge), makanan tinggi serat, karotenoid
(wortel, tomat, bayam, aprikot, sayur hijau), vitamin E, vitamin C, dan
selenium.
f. Agen humoral
Gangguan dalam keseimbangan hormon disebabkan:
a. Endogenus atau pembentukan hormon tubuh snediri
b. Eksogenus atau adanya pemberian hormon tambahn masuk kedalam
tubuh
Klasifikasi dan Tata Nama
Semua tumor baik tumor jinak maupun ganas mempunyai dua
komponen dasar ialah parenkim dan stroma. Parenkim ialah sel tumor yang
proliferatif,yang

menunjukkan

sifat

pertumbuhan

dan

fungsi

bervariasi

menyerupai fungsi sel asalnya. Sebagai contoh produksi kolagen ,musin,atau


keratin. Stroma merupakan pendukung parenkim tumor ,terdiri atas jaringan
ikat dan pembuluh darah. Penyajian makanan pada sel tumor melalui
pembuluh darah dengan cara difusi.
Klasifikasi neoplasma yang digunakan biasanya berdasarkan :
a. Klasifikasi Atas Dasar Sifat Biologik Tumor
Atas dasar sifat biologiknya tumor dapat dibedakan atas tumor yang
bersifat jinak ( tumor jinak ) dan tumor yang bersifat ganas (tumor

38

ganas) dan tumor yang terletak antara jinak dan ganas disebut
-

Intermediate .
Tumor Jinak ( Benigna )
Tumor jinak tumbuhnya lambat dan biasanya mempunyai kapsul. Tidak
tumbuh

infiltratif,

tidak

merusak

jaringan

sekitarnya

dan

tidak

menimbulkan anak sebar pada tempat yang jauh. Tumor jinak pada
umumnya disembuhkan dengan sempurna kecuali yang mensekresi
hormone atau yang terletak pada tempat yang sangat penting,
misalnya
-

disumsum

tulang

belakang

yang

dapat

menimbulkan

paraplesia atau pada saraf otak yang menekan jaringan otak.


Tumor ganas ( maligna )
Tumor ganas pada umumnya tumbuh cepat, infiltratif. Dan merusak
jaringan sekitarnya. Disamping itu dapat menyebar keseluruh tubuh
melalui aliran limpe atau aliran darah dan sering menimbulkan

kematian.
Intermediate
Diantara 2 kelompok tumor jinak dan tumor ganas terdapat segolongan
kecil tumor yang mempunyai sifat invasive local tetapi kemampuan
metastasisnya kecil.Tumor demikian disebut tumor agresif local tumor

ganas berderajat rendah. Sebagai contoh ialah karsinoma sel basal kulit.
Klasifikasi atas dasar asal sel atau jaringan ( histogenesis )
b. Tumor diklasifikasikan dan diberi nama atas dasar asal sel tumor yaitu :
- Neoplasma berasal sel totipoten
Sel totipoten ialah sel yang dapat berdeferensiasi kedalam tiap jenis sel
tubuh.Sebagai contoh ialah zigot yang berkembang menjadi janin.
Paling sering sel totipoten dijumpai pada gonad yaitu sel germinal.
Tumor sel germinal dapat berbentuk sebagai sel tidak berdifensiasi,
contohnya : Seminoma atau diseger minoma.Yang berdiferensiasi
minimal contohnya : karsinoma embrional, yang berdiferensiasi kejenis
jaringan termasuk trofobias misalnya chorio carcinoma. Dan yolk sac
-

carcinoma. Yang berdiferensiasi somatic adalah teratoma.


Tumor sel embrional pluripoten
Sel embrional pluripoten dapat berdiferensiasi kedalam berbagai jenis
sel-sel dan sebagai tumor akan membentuk berbagai jenis struktur alat
tubuh. Tumor sel embrional pluripoten biasanya disebut embiroma atau
biastoma,

misalnya

retinobiastoma,

hepatoblastoma,

embryonal

rhbdomyosarcomaatau
Tumor sel yang berdiferensiasi
Jenis sel dewasa yang berdiferensiasi, terdapat dalam bentuk sel alat-lat
tubuh pada kehidupan pot natal. Kebanyakan tumor pada manusia
terbentuk dari sel berdiferensiasi.
39

Tata nama tumor ini merupakan gabungan berbagai faktor yaitu


perbedaan antara jinak dan ganas, asal sel epnel dan mesenkim lokasi
dan gambaran deskriptif lain.
Tumor epitel
Tumor jinak epitel disebut adenoma jika terbentuk dari epitel kelenjar
misalnya adenoma tiroid, adenoma kolon. Jika berasal dari epitel
permukaan

dan

mempunyai

arsitektur

popiler

disebut

papiloma.

Papiloma dapat timbul dari eitel skuamosa (papiloma skuamosa), epitel


permukaan duktus kelenjar ( papiloma interaduktual pada payudara )
atau sel transisional ( papiloma sel transisional ).
Tumor ganas epitel disebut karsinoma. Kata ini berasal dari kota yunani
yang berarti kepiting. Jika berasal dari sel skuamosa disebut karsinoma
sel skuamosa. Bila berasal dari sel transisional disebut karsinoma sel
transisional. Tumor ganas epitel yang berasal dari epitel belenjar
disebut adenokarsinoma.
Tumor jaringan mesenkin
Tumor jinak mesenkin sering ditemukan meskipun biasanya kecil dan
tidak begitu penting. Dan diberi nama asal jaringan (nama latin) dengan
akhiran oma. Misalnya tumor jinak jaringan ikat (latin fiber) disebut
Fibroma. Tumor jinak jaringan lemak (latin adipose) disebut lipoma.
Tumor ganas jaringan mesenkin yang ditemukan kurang dari 1
persendiberi nama asal jaringan (dalam bahasa latin atau yunani )
dengan akhiran sarcoma sebagai contoh tumor ganas jaringan ikat
tersebut Fibrosarkoma dan berasal dari jaringan lemak diberi nama
Liposarkoma.
Tumor campur (mixed Tumor)
Neoplasma yang terdiri dari lebih dari 1 jenis sel disebut tumor campur
(mixed tumor). Sebagai contoh tumor campur kelenjar liur (adenoma
pleomorfik kelenjar liur) yang terdiri atas epitel kelenjar, jaringan tulang
rawan

dan

matriks

berdegenerasi

musin.

Contoh

lain

ialah

fibroadenoma mammae terdiri atas epitel yang membatasi lumen, atau


celah dan jaringan ikat reneging matriks.
Hamartoma dan koristoma
Hamartoma ialah lesi yang menterupai tumor. Pertumbuhannya ada
koordinasi dengan jaringan individu yang bersangkutan. Tidak tumbuh
otonom seperti neoplasma.Hamartoma selalu jinak dan biasanya terdiri

40

atas 2 atau lebih tipe sel matur yang pada keadaan normal terdapat
pada alat tubuh dimana terdapat lesi hamartoma.
Kista
Kista ialah ruangan berisi cairan dibatasi oleh epitel. Kista belum tentu
tumor atau neoplasma tetapi sering menimbulkan efek local seperti
yang ditimbulkan oleh tumor atau neoplasma. Beberapa yang sering
kita jumpai ialah kista :
Congenital ( ialah kista bronchial dan kista ductus tiroglosusus)
Neoplastik ( chystadenoma , cystadenocarcinoma ovarium )
Parasitic ( kista hidatid oleh echinococcus granulosus )
Implantasi ( kista epidermoid pada kulit setelah operasi )
9.

Konsep differensiasi
Sifat dari sel ganas dan jinak, yaitu :
a. Diferensiasi dan Anaplasia
Istilah
diferensiasi
dipergunakan

untuk

sel

parenkim

tumor.Diferensiasi yaitu derajat kemiripan sel tumor ( parenkim


tumor ). Jaringan asalnya yang terlihat pada gambaran morfologik dan
fungsi sel tumor. Proliferasi neoplastik menyebabkan penyimpangan
bentuk. Susunan dan sel tumor. Hal ini menyebabkan set tumor tidak
mirip sel dewasa normal jaringan asalnya. Tumor yang berdiferensiasi
baik terdiri atas sel-sel yang menyerupai sel dewasa normal jaringan
asalnya,sedangkan tumor berdiferensi buruk atau tidak berdiferensiasi
menunjukan gambaran sel primitive dan tidak memiliki sifat sel dewasa
normal jaringan asalnya. Semua tumor jinak umumnya berdiferensiasi
baik. Sebagai contoh tumor jinak otot polos yaitu leiomioma uteri. Sel
tumornya menyerupai sel otot polos. Demikian pula lipoma yaitu tumor
jinak berasal dari jaringan lemak ,sel tumornya terdiri atas sel lemak
matur,menyerupai sel jaringan lemak normal. Tumor ganas berkisar
dari yang berdiferensiasi baik sampai kepada yang tidak berdiferensiasi
. Tumor ganas yang terdiri dari sel-sel yang tidak berdiferensiasi disebut
anaplastik. Anaplastik berasal tanpa bentuk atau kemunduran ,yaitu
kemunduran dari tingkat diferensiasi tinggi ke tingkat diferensiasi
rendah. Anaplasia ditentukan oleh sejumlah perubahan gambaran
morfologik dan perubahan sifat, pada anaplasia terkandung 2 jenis
kelainan organisasi yaitu kelainan organisasi sitologik dan kelainan
organisasi posisi.
Anaplasia sitologik menunjukkan pleomorfi yaitu beraneka ragam
bentuk dan ukuran inti sel tumor. Sel tumor berukuran besar dan kecil

41

dengan bentuk yang bermacam-macam . mengandung banyak DNA


sehingga

tampak

lebih

gelap

(hiperkromatik

).Anaplasia

posisionalmenunjukkan adanya gangguan hubungan antara sel tumor


yang satu dengan yang lain . terlihat dari perubahan struktur dan
hubungan antara sel tumor yang abnormal.
b.

Derajat Pertumbuhan
Tumor jinak biasanya tumbuh lambat sedangkan tumor ganas
cepat . tetapi derajat kecepatan tumbuh tumor jinak tidak tetap,kadang
kadang tumor jinak tumbuh lebih cepat daripada tumor ganas.karena
tergantung

pada

hormone

yang

mempengaruhi

dan

adanya

penyediaan darah yang memadai.


Pada dasarnya derajat pertumbuhan tumor berkaitan dengan
tingkat diferensiasi sehingga kebanyakan tumor ganas tumbuh lebih
cepat daripada tumor jinak.
Derajat pertumbuhan tumor ganas tergantung pada 3 hal,yaitu :
- Derajat pembelahan sel tumor
- Derajat kehancuran sel tumor
- Sifat elemen non-neoplastik pada tumor
Pada pemeriksaan mikroskopis jumlah mitosis dan gambaran
aktivitas metabolisme inti yaitu inti yang besar,kromatin kasar dan anak
inti besar berkaitan dengan kecepatan tumbuh tumor.
Tumor ganas yang tumbuh cepat sering memperlihatkan pusatpusat daerah nekrosis atau iskemik. Ini disebabkan oleh kegagalan
penyajian daerah dari host kepada sel sel tumor ekspansif yang
memerlukan oksigen.
c. Invasi Lokal
Hampir semua tumor jinak tumbuh sebagai massa sel yang
kohesif dan ekspansif pada tempat asalnya dan tidak mempunyai
kemampuan mengilfiltrasi ,invasi atau penyebaran ketempat yang jauh
seperti pada tumor ganas.
Oleh karena tumbuh dan menekan perlahan lahan maka
biasanya dibatasi jaringan ikat yang tertekan disebut kapsul atau
simpai,yang memisahkan jaringan tumor dari jaringan sehat sekitarnya.
Simpai sebagian besar timbul dari stroma jaringan sehat diluar tumor,
karena sel parenkim atropi akibat tekanan ekspansi tumor. Oleh karena
ada simpai maka tumor jinak terbatas tegas, mudah digerakkan pada
operasi. Tetapi tidak semua tumor jinak berkapsul,ada tumor jinak yang
tidak berkapsul misalnya hemangioma.
Tumor ganas tumbuh progresif,invasive,dan merusak jaringan
sekitarnya.

Pada

umumnya

terbatas

tidak

tegas

dari

jaringan
42

sekitarnya. Namun demikian ekspansi lambat dari tumor ganas dan


terdorong ke daerah jaringan sehat sekitarnya. Pada pemeriksaan
histologik,masa yang tidak berkapsul menunjukkan cabang cabang
invasi seperti kaki kepiting mencengkeram jaringan sehat sekitarnya.
Kebanyakan tumor ganas invasive dan dapat menembus dinding
dan alat tubuh berlumen seperti usus,dinding pembuluh darah,limfe
atau ruang perineural. Pertumbuhan invasive demikian menyebabkan
reseksi pengeluaran tumor sangat sulit.
Pada karsinoma in situ misalnya di serviks uteri ,sel tumor
menunjukkan tanda ganas tetapi tidak menembus membrane basal.
Dengan berjalannya waktu sel tumor tersebut akan menembus
membrane basal.
d. Metastasis atau Penyebaran
Metastasis adalah penanaman tumor yang tidak berhubungan
dengan

tumor

primer.

Tumor

ganas

menimbulkan

metastasis

sedangkan tumor jinak tidak. Infasi sel kanker memungkinkan sel


kanker menembus pembuluh darah, pembuluh limfe dan rongga
tubuh,kemudian terjadi penyebaran. Dengan beberapa perkecualian
semua tumor ganas dapat bermetastasis. Kekecualian tersebut adalah
Glioma ( tumor ganas sel glia ) dan karsinoma sel basal , keduanya
sangat infasif, tetapi jarang bermetastasis.
Umumnya tumor yang lebih anaplastik,lebih cepat timbul dan
padanya kemungkinan terjadinya metastasis lebih besar. Namun
banyak kekecualian. Tumor kecil berdiferensiasi baik, tumbuh lambat,
kadand- kadang metastasisnya luas. Sebaliknya tumor tumbuh cepat
,tetap terlokalisir untuk waktu bertahun- tahun.
10.

Karakteristik neoplasma ganas dan jinak


a. Neoplasma jinak (yang bukan kanker)
Neoplasma jinak adalah peristiwa lokal semata. Proliferasi sel-sel
yang merupakan neoplasma cenderung sangat kohesif, sehingga
waktu massa sel neuplastik itu tumbuh, terjadi perluasan massa
secara sentrifugal dengan batas-batas sangat nyata. Karena sel-sel
yang berproliferasi tidak saling meninggalkan, maka tepi neoplasma
kurang lebih cenderung bergerak keluar dengan lancar ambil
mendesak jaringan yang berdekatan. Dengan demikian, neoplasma
jinak

mempunyai

kapsul

jaringan

penyambung

padat

yang

memisahkan neoplasma dari sekelilingnya. Neoplasma jinak tidak


menyebar ke tempat yang jauh. Laju pertumbuhan neoplasma jinak
43

sering agak lamban, dan beberapa neoplasma tampaknya tidak


berubah dan kurang lebih tetap pada ukuran yang stabil selama
berbulan-bulan atau bertahun-tahun.
b. Neoplasma Ganas
Banyak sifat neoplasma ganas yang berlawanan dengan sifatsifat neoplasma jinak. Neoplasma ganas umumnya tumbuh lebih
cepat dan hampir selalu tumbuh secara progresip, jika tidak dibuang.
Sel neoplasma ganas tidak sekohesif sel jinak. Akibatnya pola
penyebaran

neoplasma

ganas

seringkali

sangat tidak

teratur.

neoplasma ganas cenderung tidak berkapsul dan biasanya mereka


tidak

mudah

dipisahkan

dari

sekitarnya

seperti

dengan

neoplasma jinak. Kenyataanya neoplasma ganas menyerbu masuk


ke sekitar mereka bukan mendesak mereka ke samping.
Sel-sel neoplasma ganas yang berproliferasi mampu untuk
melepaskan diri dari tumor induk dan memasuki sirkulasi untuk
menyebar ke tempat lain. Jika sel-sel kanker imbolik semacam itu
tersangkut, mereka mampu keluar dari pembuluh, melanjutkan
proliferasi mereka, dan membentuk tumor sekunder. Sebenarnya
satu fokus kanker primer dapat menimbulkan banyak fragmen
imbolik yang selanjutnya dapat membentuk lusinan atau bhkan
ratusan noduli sekunder di tempat yang sangat jauh dari fokus
primer.

Proses

terputusnya

penyebaran

neoplasma

ganas

disebut metastasis, dan anak fokus atau daerah pertumbuhan


sekunder disebut daerah metastasis. Jadi, dua sifat bahaya dari
neoplasma ganas yang membedakannnya dari neoplasma dan
nonkanker adalah kemampuannya menginfasi jaringan normal dan
kemampuannya membentuk metastasis. Neoplasma jinak tidak
memiliki satupun kemampuan ini.
Metastasis dapat terjadi melalui berbagai cara.invasi pembuluh
menimbulkan

metastasis

hematogen

dalam

pola

yang

dapat

diramalkan sebelumnya.artinya, misalnya sel kanker berasal dari


tempat primer dalam dinding saluran cerna memasuki aliran vena
saluran cerna, mereka sangat mungkin tersangkut dalam hati,
karena darah vena porta harus mengalir melalui organ tersebut
sebelum kembali ke jantung. Sebaliknya sel yang secara hematogen
berasal dari neoplasma ganas dalam tungkai akan mengalir vena
cava ke jantung kanan dan kemudian ke paru-paru, dimana dapat
tumbuh fokus sekunder. Dengan cara yang sama, sel-sel ganas
44

dapat menginfasi pembuluh limfe dan menyebar ke pusat bersama


aliran limfe. Pada keadaan ini, metastasis dapat diharapkan timbul
pada kelenjar limfe regional yang menyaring limfe yang memancar
dari organ tertentu. Jadi, metastasis limfogen dari kanker primer
kelenjar mamae dapat didahului pada kelenjar limfa aksila, dan
metastasis limfogen kanker primer dalam ronggamulut dapat dicari
pada kelenjar limfe servikal. Besamaan dengan tumbuhnya kanker,
sel-sel ganas dapat menembus kapiler dan kelenjar limfe regional
dan menyebar secara luas. Lokasi metastasis yang tepat tergantung
pada kesesuaian antara kebutuhan metabolik sel-sel kanker embolik
dengan lingkungan yang diberikan oleh jaringan tertentu.
Sebetulnya metastasis dapat menetap pada organ manapun
dalam tubuh. Selain terjadinya metastasis melalui pembuluh darah
dadan pembuluh limfe, sel kanker dapat bermetastasis langsung
melalui

rongga

tubuh

dan

mengadakan

implantasi

pada

permukaanyang jauh dari rongga tersebut. Dengan cara ini maka


neoplasma ganas yang melakukan invasi ke seluruh tebal dinding
dari organ abdomendapat memberi benih pada seluruh rongga
peritonium, secara harafiah menimbulkan ratusan metastasis secara
langsung. Dengan cara yang serupa, jika sel ganas terambil oleh alat
pembedahan

selama

tindakan

pembedahan,

maka

sel

ganas

terimplastasi pada tempat insisi, akhirnya tumbuh menjadi fokus


metastasis.
Mungkin sekali, sebagian besar sel kanker yang memasuki
sirkulasi darah atau limfe atau berbagai rongga tubuh gagal untuk
dapat membentuk metastasis yang tumbuh progreif. Hal ini sebagian
disebabkan oleh kenyataan bahwa pertumbuhan sel seperti ini
dihambat oleh berbagai pertahanan tubuh (misalnya imonologik)
dan juga oleh karena di tempat yang baru itu syarat untuk tumbuh
tidak didapati, sehingga tidak cocok bagi sel metastasis tersebut.
Dengan dasar dugaan ini maka banyak sel-sel kanker memiliki pola
karakteristik metastasis yang menjadi penting dalam diagnosis dan
pengobatan.

45

46

Farmakologi
1. Farmakologi gangguan hematologi
a. Anemia defisiensi Fe
Anemia defisiensi besi adalah anemia yang timbul akibat kekosongan
cadangan zat besi tubuh, sehingga penyediaan besi untuk eritropoesis
berkurang yang pada akhirnya pembentukan Hb berkurang.
Pada pasien dengan anemia defisiensi Fe dapat diberikan terapi besi
yang mana zat besi membentuk inti dari cincin heme Fe-porfirin yang
-

bersama-sama dengan rantai globin membentuk hemoglobin.


Besi Oral
Garam Besi

Kandungan Besi

Ferro Sulfat

20%

Ferro Glukonat

12%

Ferro Fumarat

33%

Besi Karbonat
Kompleks

100%

Polisakarida

Besi

100%

Indikasi : pencegahan dan pengobatan anemia defisiensi besi


Absorpsi : Garam ferro 3x lebih cepat diabsorpsi daripada Ferri.
Makanan menurunkan absorpsi sampai 50%, namun intoleransi
gastrik mengharuskan pemberian bersama makanan.
Dosis : 200 mg per hari dalam 2 3 dosis terbagi
Kontraindikasi
:
hemokromatosis,
anemia

hemolitik,

hipersensitivitas
Peringatan : penggunaan pada kondisi kehamilan (kategori A)
Efek samping : noda pada gigi, nyeri abdominal, konstipasi, diare,
mual, warna feses gelap
Interaksi obat :
o Antasid : menurunkan absorpsi besi
o Asam askorbat : meningkatkan absorpsi besi
o Garam kalsium : menurunkan absorpsi besi
o Kloramfenikol : meningkatkan konsentrasi plasma besi
o Antagonis histamin H2 : menurunkan absorpsi besi
o PPI : menurunkan absorpsi besi
o Kaptopril : besi dapat menginaktivasi kaptopril
o Fluoroquinolon : membentuk kompleks dengan

besi

menurunkan absorpsi fluoroquinolon


L-dopa : membentuk khelat dengan besi menurunkan absorpsi

L-dopa
MMF : besi menurunkan absorpsi MMF

47

Tetrasiklin : membentuk kompleks dengan besi absorpsi besi


dan tetrasiklin turun

Besi Parenteral
Na

Kandungan Besi

Besi

Karbonat
62,5 mg

besi

atau 5 mL
Anemia
defisiensi

Indikasi

besi

pada

pasien

yang

menjalani

hemodialisis
kronis

dan

Besi Dekstran

Besi Sukrosa

50 mg besi atau

20 mg besi atau

mL

mL
Anemia

Anemia

defisiensi

defisiensi

besi

pada

pasien

pada

pasien

yang

menjalani

yang

tidak

hemodialisis

memungkinkan

kronis

menerima terapi

diberikan

menerima terapi

suplemen

oral

dan

terapi

Hipersensitivitas
.

epoietin alfa
Hipersensitivitas.
Infeksi
ginjal
akut.
Anemia

non

defisiensi besi.
Black
box
Reaksi

dan

suplemen

eritropoietin

Kontraindikasi

besi

Hipersensitivitas.
Kelebihan besi.
Anemia
non
defisiensi besi.
Black

box

hipersensitivitas

warning.
Reaksi

warning.
Reaksi

Rute Parenteral

Intravena

hipersensitivitas.
Intramuskular

hipersensitivitas.
Intravena

Pengobatan

8 X 125 mg

10 X 100 mg
Rasa sakit, noda

10 X 100 mg

Kram,

coklat

Peringatan

Efek Samping

mual,

muntah,

tempat

flushing,

flushing,

hipotensi,

hipotensi,

pruritus.

demam,

pada
injeksi,

Kram

kaki,

hipotensi.

anafilaksis.
Inkompatibilitas
Interaksi Obat

dengan
alkohol.

benzil

Kloramfenikol
meningkatkan
konsentrasi besi
plasma.

Menurunkan
absorpsi

besi

oral

bila

diberikan
bersamaan.
48

b. Anemia Defisiensi Asam Folat


Terapi yang digunakan adalah pemberian asam folat
Mekanisme : folat berperan dalam sintesis nukleoprotein

dan

pemeliharaan eritropoiesis normal.


Indikasi :
Anemia megaloblastik yang disebabkan defisiensi asam folat
Peningkatan kebutuhan asam folat pada kondisi kehamilan
Profilaksis defisiensi asam folat pada pemakaian antagonis asam folat
Absorpsi : Asam folat dari makanan harus mengalami hidrolisis,
reduksi, dan metilasi pada saluran pencernaan agar dapat diabsorpsi.
Perubahan

asam

folat

menjadi

bentuk

aktifnya,

tetrahidrofolat,

membutuhkan vitamin B12 (sianokobalamin).


Dosis : folat oral 1 mg setiap hari selama 4 bulan
Kontraindikasi : pengobatan anemia pernisiosa dimana vitamin B 12 tidak
efektif
Efek Samping : perubahan pola tidur, sulit berkonsentrasi, iritabilita,
anoreksia, mual, distensi abdominal, flatulensi.
Interaksi Obat :
o Asam aminosalisilat : menurunkan konsentrasi plasma folat
o Inhibitor dihidrofolat reduktase : menyebabkan defisiensi folat
o Sulfalazin : menyebabkan defisiensi folat
o Fenitoin : menurunkan konsentrasi plasma folat
c. Defisiensi vit B12
Terapi : vitamin B12 (sianokobalamin)
Mekanisme : merupakan kofaktor yang mengaktivasi koenzim asam
folat
Indikasi :
Anemia pernisiosa
Peningkatan kebutuhan

vitamin

B12

pada

kondisi

kehamilan,

pendarahan, anemia hemolisis, tirotoksikosis, dan penyakit hati dan


ginjal
Absorpsi : absorpsi tergantung pada faktor intrinsik dan kalsium yang
cukup.
Dosis : Kobalamin oral 2 mg per hari selama 1 2 minggu, dilanjutkan
1 mg per hari. Sianokobalamin parenteral 1 mg per hari selama
seminggu, dilanjutkan seminggu sekali selama sebulan, dilanjutkan
kobalamin oral per hari.
Kontraindikasi : hipersensitivitas terhadap kobalt atau B 12
Efek Samping :
o edema pulmonari
o gagal jantung kongestif
o trombosis vaskular perifer
49

o syok anafilaktik
o atropi saraf optik
Interaksi Obat :
o Asam aminosalisilat : menurunkan efek sianokobalamin
o Kloramfenikol : menurunkan efek hematologi sianokobalamin pada
o
o

pasien anemia pernisiosa


Kolkisin : menyebabkan malabsorpsi sianokobalamin
Alkohol : menyebabkan malabsorpsi sianokobalamin

d. Anemia Aplastik
Anemia aplastik

adalah

karena

kegagalan

sumsum

tulng

dalam

memproduksi RBC walaupun substansi untuk eritropoesis tersedia. Obat


untuk merangsang fungsi sumsum tulang sebagai berikut :
- Anabolik steroid : dapat diberikan oksimetolon dan stanazol dengan
dosis 2-3 mgataukgBBatauhari . Efek samping berupa virilisasi dan
gangguan hati
Kortikosteroid dosis rendah sampai menengah
Transplatasi sumsum

e. Anemia renal
Terapi : Epoetin Alfa
Mekanisme : menstimulus eritropoiesis
Indikasi :
Anemia yang berkaitan dengan gagal ginjal kronis.
Anemia yang disebabkan terapi Zidovudin.
Anemia pada pasien kanker yang menjalani kemoterapi.
Anemia pada pasien yang mengalami dialisis.
Dosis : Epoetin intravena 50 100 unitataukg, seminggu 3 kali. Dosis
dapat dinaikkan menjadi 150 unitataukg, seminggu 3 kali apabila Hb
tidak meningkat setelah 6 8 minggu. Pada pasien AIDS, dosis epoetin
adalah 300 unitataukg, seminggu 3 kali.
Kontraindikasi : hipertensi tak terkendalikan
Perhatian :
o Tekanan darah tinggi tidak terkendali
o Penyakit iskemik vaskular
o Trombositosis
o Riwayat konvulsi
o Gagal hati kronis
o Kehamilan dan menyusui
o Peningkatan dosis heparin mungkin diperlukan
Efek Samping :
o Kenaikan tekanan darah
o Peningkatan jumlah trombosis (bergantung dosis)
o Gejala mirip influenza, dapat dikurangi dengan injeksi perlahan
o
o
o

selama 5 menit
Peningkatan kadar plasma kreatinin, urea, dan fosfat
Konvulsi
Anafilaksis
50

Interaksi Obat : inhibitor ACE meningkatkan resiko hiperkalemia


f.

Antikoagulan
Antikoagulan digunakan untuk mencegah pembekuan darah
dengan jalan menghambat pembentukan beberapa faktor pembekuan
darah.

Antikoagulan

diperlukan

untuk

mencegah

terbentuk

dan

meluasnya trombus dan emboli, maupun untuk mencegah bekunya


darah

in

vitro

pada

pemeriksaan

laboratorium

atau

transfusi.

Antikoagulan oral dan heparin menghambat pembentukan fibrin dan


digunakan secara profilaktik untuk mengurangi insidens tromboemboli
terutama pada vena. Pada trombus yang sudah terbentuk, antikoagulan
hanya mencegah membesarnya trombus dan mengurangi kemungkinan
terjadinya emboli, tetapi tidak memperkecil trombus.
Antikoagulan dapat dibagi menjadi 3 kelompok : heparin,
antikoagulan oral, dan antikoagulan pengikat kalsium.
-

HEPARIN
Heparin
endogen

merupakan

suatu

mukopolisakarida

yang

mengandung sulfat. Zat ini disintesis di dalam sel mast dan terutama
banyak terdapat di paru. Peranan fisiologik heparin belum diketahui
seluruhnya, akan teapi pelepasannya ke dalam darah yang tiba-tiba
pada syok anafilaksis menunjukkan bahwa heparin mungkin berperan
dalam reaksi imunologik.
Mekanisme kerja
Heparin mengikat antitrombin III membentuk kompleks yang
berafinitas lebih besar dari antitrombin III sendiri, terhadap
beberapa faktor pembekuan darah aktif, terutama trombin dan
faktor Xa. Sediaan heparin dengan berat molekul rendah (<6000)
beraktifitas anti-Xa kuat dan sifat antitrombin sedangkan sediaan
heparin dengan berat molekul yang tinggi (>25000) beraktifitas
antitrombin kuat dan aktifitas anti-Xa yang sedang.
Dosis kecil heparin dengan AT-III menginaktifasi faktor Xa dan
mencegah pembekuan dengan mencegah perubahan protombin
menjadi trombin. Heparin juga menginaktifasi faktof XIIIa dan
mencegah terbentuknya bekuan fibrin yang stabil. Terhadap lemak
darah,heparin bersifat liprotropik yaitu memperlancar transfer
lemak darah kedalam depot lemak.
Pengaruh heparin terhadap hasil
ditambahkan

pada

darah,

heparin

pemeriksaan
tidak

darah.

mengubah

Bila
hasil
51

pemeriksaan rutin kimia darah, tetapi heparin mengubah bentuk


eritrosit dan leukosit. Hasil leukosit darah yang dicampur heparin in
vitro harus dilakukan dalam 2 jam, sebab setelah 2 jam leukosit
dapat menghilang. Sampel darah yang diambil melalui kanula IV,
yang

sebelumnya

berheparin,

secara

mengandung

meningkat.
Efek lain.
Heparin dilaporkan

intermiten
kadar

menekan

dilalui

asam

larutan

lemak

kecepatan

garam

bebas

sekresi

yang

aldosteron,

meningkatkan kadar tiroksin bebas dalam plasma,menghambat


aktifaktor fibrinolitik, menghambat penyembuhan luka, menekan
imunitas selular, menekan reaksi hospes terhadap graft.
Monitoring pengobatan.
Agar obat efektif mencegah pembekuan dan tidak menimbulkan
perdarahan

maka

diperlukan

penentuan

dosis

yang

tepat,pemeriksaan darah dan berulang dan tes laboratorium yang


dapat dipercaya hasilnya. Berbagai tes yang dianjurkan untuk
memonitor pengobatan dengan heparin ialah waktu pembekuan
darah (whole blood clotting time ), partial thromboplastin time
(PTT) atau activated partial tromboplasin time (APTT). Tes APTT
ialah yang paling banyak dilakukan. Trobosis umumnya dapat
dicegah bila APTT 11atau2-2kali nilai normal (nilai APTT 60-80 detik
bila nilai normal 40detik.
Dosis
Ditentukan berdasarkan

pebekuan.

Untuk

DIC

ada

yang

menganjurkan dimulai dengan 50 unit per kg pada dewasa dan 25


unit ataukg pada anak tiap 6 jam atau diberikan secara infus.
Untuk anak, dimulai dari 50 untiataukgBB dan selanjutnya 100 unit
ataukgBB tiap 4 jam. Pada infus IV pada orang dewasa heparin
20000atau40000 unit dilarutkan dalam 1 liter larutan glukosa 5%
atau NaCl 0,9% dan diberikan dalam 24 jam. Untuk mempercepat
timbulnya efek dianjurkan menamahkan 5000 unit langsung
kedalam pipa infus sebelumnya. Kecepatan infus didasarkan nilai
APTT. Untuk anak dimulai dengan 50 unit ataukg diikuti dengan
100unitataukg tiap 4 jam.
Heparin juga dapat dierikan secara SK dalam. Pada orang ddewasa
untuk

tujuan

profilaksis

tromboemboli

pada

tindakn

operasi

diberikan 5000 unit 2 jam sebelum operasi dan selanjutnya tiap 12

52

jam sampai pasien keluar dari rumah sakit . dosis penuh biasanya
10000-12000 unit tiap 8 jam atau 14000atau20000 unit tiap 12
jam.Pemakaian heparin IM tidak dianjurkan lagi karena sering
terjadi perdarahan dan hematom yang disertai rasa sakit pada
tempat suntikan.
Efek samping dan intoksikasi
Bahaya utama pemberian heparin secara IV atau SK ialah
perdarahan, tetapi jarang menimbulkan efek samping. Terjadinya
perdarahan dapat dikurangi dengan :
o
o

Mengawasiataumengatur dosis obat


Menghindari penggunaan bersmaan

dengan

obat

mengandung aspirin
o Seleksi pasien
o Memperhatikan kontraindikasi pemberian heparin.
Kontraindikasi
Heparin dikontraindikasikan pada pasien yang

yang

mengalami

perdarahan. Heparin tidak boleh diberikan selama atau setelah


operasi

mata,

otak

atau

medula

spinal,

dan

pasien

yang

mengalami pungsi lumbal atau anestesi blok. Heparin juga


dikontraindikasikan pada pasien yang mendapat dosis besar
etanol, peminum alkohol, dan pasien hipersensitivitas terhadap
heparin.
INDIKASI
Heparin merupakan satu-satunya antikoagulan yang diberikan
secara parenteral dan merupakan obat terpilih bila diperlukan efek
cepat. Obat ini juga digunakan untuk profilaksis tromboemboli vena
selama

operasi

dan

untuk

mempertahankan

sirkulasi

ekstrakorporal selama operasi jantung terbuka. Heparin juga


-

diindikasikan untuk wanita hamil yang memerlukan antikoagulan.


ANTIKOAGULAN ORAL
Dalam golongan ini dikenal derivat 4 hidroksi kumarin dan derivat indan
1,3 dion. Pebedaan utama antara kedua derivat tersebut terletak pada
dosis,mula

kerja,masa

kerja,dan

efek

sampingnya,sedangkan

mekanisme kerjannya sama.


Mekanisme kerja
Antikoagulan oral merupakan antagonis vitamin K. Vitamin K ialah
kofaktor yang berperan dalam aktivasi faktor pembekuan darah II,
VII, IX, X, yaitu dalam mengubah residu asam glutamat menjadi
residu asam Gama karboksiglutamat. Untuk berfungsi vitamin K
mengalami siklus oksidasi dan reduksi dihati. Antikoagulan oral
53

mencegah reduksi vitamin K teroksidasi sehingga aktivasi factorfaktor pembekuan darah terganggu atau tidak terganggu.Faktor
yang

dapat

mempengaruhi

aktivitas.

Respons

terhadap

antikoagulan oral dapat dipengaruhi oleh banyak factor misalnya


supan vitamin K, banyaknya lemak yang terdapat dalam makanan
atau interaksi dengan obat lain.
Interaksi obat
Meskipun banyak obat mempengaruhi kerja antikoagulan oral pada
hewan coba, ternyata yang jelas mempengaruhi efek antikoagulan
oral pada manusia jauh lebih sedikit. Obat yang mengurangi
respon terhadap antikoagulan oral. Barbiturat menginduksi enzim
mikrosom dihati sehingga mengurangi masa paruh kumarin.
Dipercepatnya metabolisme anti koagulan oral obat tersebut
menyebabkan dosis warfarin perlu ditingkatkan 2-4 kali lipat
bertahap dalam waktu beberapa minggu unntuk mengembalikan
efektifitas.
Efek samping
Efek tosik yang paling sering akibat pemakaian antikoagulan oral
ialah perdarahan dengan frekuensi kejadian 2-4%. Perdarahan
palng sering terjadi di selput lendir,kulit,saluran cerna dan saluran
kemih. Hematuria sering terjadi karna gangguan fungsi ginjal,dapat
disertai kolik dan hematom intrarenal. Gejala perdarahan yang
mungkin

timbul

ialah

ekimosis,epistaksis,perdarahan

gusi,hemoptisis,perdarahan serebral,perdarahan paru,uterus dan


hati. Biasanya berasal dari tukak peptikatau neoplasma.
Kontraindikasi
Antikoagulan oral dikontraindikasikan pada penyakit-penyakit
dengan kecendrungan perdarahan,diskrasia darah,tukak saluran
cerna,diverticulitis,colitis,endokarditis bacterial subakut,keguguran
yang mengancam,operasi otak dan medulla spenalis,anestesi
lumbal ,defisiensi vitamin K serta penyakit hati dan ginjal yang
berat. Pemberian antikoagulan oral pada wanita hamil dapat
menyebabkan perdrahan pada neonates;juga dilapporkan pada
terjadinya embrio pati misalnya kondroplasia pungtata pada janin.
Indikasi
Seperti
halnya
heparin,
antikoagulanoral
berguna
untuk
pencegahan dan pengobatan tromboemboli. Untuk pencegahan,
umumnya obat ini digunakan dalam jangka panjang. A ntikoagulan
oral diindikasikan untuk penyakit dengan kecendrungan timbulnya
54

tromboemboli,

antara

reumatik,serangan

lain

infark

iskemia

miokard,

selintas

peyakit

(transien

jantung
ischemic

attact,TIA),thrombosis vena,emboli paru dan DIC.


Dosis
Natrium warfarin :oral,IV,Masa protombin harus ditentukan sbelum
mulai terapi dan selanjutnya tiap hari sampai respon stabil. Setelah
taraf mantap tercapai masa protombolin harus tetap diperiksa
dengan interval tertentu secara teratur. Dosis dewasa biasanya 1015 mgatauhari untuk 2-4 hari,dilanjutkan dengan 2-15mgatauhari
yang

didasarkan

pada

hasil

pemeriksaan

masa

protombin.Dikumarol: oral,dosis dewasa 200-300 mg pada hari


pertama,selanjutnya

pada

hari

pertama,selanjutnya

25-100

mgatauhari tergantung pada pemeriksaan waktu pada protombin.


Penyesuain dosis mungkin prlu sering dilakukan selama 7-14 hari
pertama dan masa protombin harus ditentukan tiap hari selama
masa tersebut Dosis penunjang 25-150mgatauhari.
Anisendion: oral, dosis dewasa 300mg pada hari pertama,200mg
pada hari kedua dan 100mg pada hari ketiga. Dosis penunjang
baasanya 25-250mgatauhari.
-

Antikoagulan pengikat ion kalsium


Natrium sitrat dalam darah akan mengikat kalsium menjadi kompleks
kalsium sitrat. Bahan ini banyak digunakan dalam darah untuk transfusi,
karena tidak toksik. Tetap idosis yang terlalu tinggi, umpamanya paa
transfusi darah sampai 1.400 ml dapat menyebabkan depresi jantung.
Asam

oksalat

dan

senyawa

oksalat

lainnya

digunakan

untuk

antikoagulan in vitro, sebab terlalu toksik untuk penggunaan in vivo.


Natrium edetat mengikat kalsium menjadi uraian kalsium menjadi suatu
kompleks dan bersifat sebag`i antikoagulan.
g. Antitrombosit
Antitrombosit adalah obat yang dapat menghambat agregasi trombosit
sehingga menyebabkan terhambatnya pembentukan thrombus yang
terutama

sering

ditemukan

pada

system

arteri.

Aspirin,sulfinpirazon,dipiridamol dan dekstran merupakan obat yang


termasuk golongan ini. Selain itu beberapa obat yang lainnya misalnya
-

epoprostenol (prostasiklin,PGI2) dan tiklopidin.


Aspirin
Aspirin menghambat sintesis tromboksan A2(TXA2) didalam trombosit
dan prostasiklin(PGI2) di pembuluh darah dengan menghambat secara
55

ireversibel enzim siklo-oksigenase (akan tetapi siklo-oksigenasedapat


dibentuk

kembali

oleh

sel

endotel).

Sebagai

akibatnya

terjadi

pengurangan agregasi trombosit. Aspirin dosis kecil (20-40 mg) hanya


dapat menekan

pementukan TXA2 tetapi dosis yang terbukti efektif

(325mg-1gatauhari)tidak selektif.Efek samping aspirin misalnya rasa


tidak enak perut, mual, dan perdarahan saluran cerna biasanya dapat
dihindarkan bila dosis per hari tidak lebih dari 325mg. Sebagai
-

antitrobosit dosis yang paling banyak di anjurkan adalah325mgatauhari.


Dipiridamol
Dipiridamol menghambat ambilan dan metabolisme adenosine oleh
eritrosit

dan

sel

endotel

pembuluh

darah,dengan

demikian

meningkatkan kadarnya dalam plasma. Dipiridamol juga memperbesar


efekantiagregasi

prostasiklin.

Dipiridamol

juga

sering

digunakan

bersama heparin pada penderita dengan katup jantung buatan.


Efek samping yang paling sering yaitusakit kepala biasanya jarang
menimbulkan

masalah

dengan

dosis

yang

digunakan

sebagai

antitrombosit. Efek samping lain ialah pusing,sinkop dan gangguan


-

saluran cerna.
Gulfinpirazon
Obat ini seperti apirin diperkirakan menghambat bersaing sintesis
prostaglandin yang lebih lemah.
Efek samping yang paling sering ialah gangguan saluran cerna. Efek
samping lain ruam kulit dan kadang-kadang diskrasia darah nefritis

intersisial akut,klonik ginjal,dan gagal ginjal akut dapat terjadi.


Dekstran
Dekstran menghambat perlengketan (adhesiveness) trombosit dan
mencegah bendungan pada pembuluh darah dengan mempengaruhi

aliran darah.
Natrium epoprostenol (prostasiklin, pgi2)
Prostasiklin merupakan metabolit asam arakidonat dan dibentuk oleh
endotel pembuluh darah.
Obat ini menghambat agregasi trombosit dan melebarkan pembuluh
darah.

Efek

samping

obat

ini

sakit

kepala,nausea,muntah,gelisah,cemas,hipotensi,reflex takikardia.
h. Trombolitik
Trombolitik melarutkan thrombus yang sudah terbentuk. Indikasi
golongan obat ini ialah untuk infark miokard akuttrombosis vena dalam
dan emboli paru,troboemboli arteri,melarutkan bekuan darah pada katup
jantung buatan dan kateter intravena. Trombolitik hanya bermanfaat bila
umur thrombus kurang dari 7 hari. Indikasi utama obat ini ialah untuk
emboli paru massif dan akut yang dapat mengancam jiwa.Obat-obat
56

yang

termasuk

golongan

trombolitik

streptokinase,urokinas,activator plasminogen.
Monitoring terapi
Sebelum pengobatan dimulai heparin
selanjutnya

dilakukan

thrombin,protombin
time,hemaokrit,kadar

pemeriksaan
time,activad
fibrinogen

harus

dihentikan

laboratorium
partial

dan

ialah

yaitu

throm

hitung

dan
waktu

boplastin

trombosit,untuk

menentukan ada atau tidaknya pardarahan.


Efek samping
Trombolitik dapat manyebabkan perdarahan. Streptokinase yang
merupakan protein asing dapat menyebabkan reaksi alergi seperti
-

pluritus,urtikaria,flushing,kadang-kadang angiodema,bronkospasme.
Streptokinase
Streptokinase berguna untuk pengobatan fase dini emboli paru akut
dan infark miokard akut. Strepsokinase mengaktivasi plasminogen
dengan cara tidak langsung yaitu dengan bergabung terlebih dahulu
dengan

plasminogen

untuk

membentuk

kompleks

aktivaktor.selanjutnya kompleks activator tersebut mengkatalisis


perubahan plasminogen bebas menjadiplasmin.
Dosis
IV: dosis dewasa untuk infark miokrad akut dianjurkan dosis
total1,5 juta IU secara infuse selama 1 jam. Untuk thrombosis vena
akut,emboli paru,thrombosis arteri akut atau emboli dapat diberian
loading dose 250.000IU secara infuse selama 30 menit diikuti
-

dengan 10.000IUataujam.
Urokinase
Urokinase
diisolasi
dari
mengaktifkan

plasminogen.

urine

manusia,urokinse

Urokinase

juga

dapat

langsung
digunakan

tromboemboli pada arteri dan vena.


Dosis
Dosis yang dianjurkan loading dose 1000-4500 IUataukg secara IV
dilanjutkan

dengan

aminokaproat

infuse

merupakan

IV

4400

penawar

IUataukg

spesifik

perjam.Asam

untuk

keracunan

urokinase. Dosis dimulai dengan 5g (oralatauIV),dengan dosis


1,25g tiap jam sampai teratasi. Dosiis tidak boleh melebihi 30g
dalam
i.

24

jam.

Penyuntikan

IV

dapat

menyebabkan

hipotensi,bradikardi dan aritmia.


Hemotastik
Hemostatik ialah zat atau obat yang digunakan untuk menghentikan
pendarahan.obat-obat ini diperlukan untuk mengatasi perdarahan yang
meliputi daerah yang luas. Perdarahan dapat disebabkan oleh defisiensi
57

satu factor pembekuan darah yang bersifat heriditer ,misalnya defisiensi


factor anti hemofilik.defisiensi satu factor ,pembekuan darah dapat di
atasi dengan pemberian factor yang kurang yang berubah konsentrat
darah

manusia,misalnya

antihemofilik

factor

factor,kompleks

anti

factor

IX

hemofilik,cryprecipitated
(komponen

tromboplastin

plasma).perdarahan dapat pula dihentikan dengan memberikan obat


yang

dapat

meningkatkan

pembentukan

factor-faktor

pembekuan

darah,misalnya vitamin K,atau yang menghambat mekanisme fibrinolitik


seperti asam aminokaproat.
Hemostatik lokal
o Hemostatik serap
Hemostatik serap (absorbable hemostatics)menghentikan perdarahan
dengan pembentukan suatu bekuan buatan atau memberikan jala
serat-serat yang mempermudah pembekuan bila diletakkan langsung
pada permukaan yang berdarah.hemostatik golongan ini berguna
untuk mengatasi perdarahan yang berasal dari pembuluh darah kecil
saja,misalnya
perdarahan

kapiler,dan
arteri

besar.termasuk

atau

tidak
vena

kelompok

ini

efektif

tekanan
antara

untuk

menghentikan

intravaskularnya

lain

spons

cukup

gelatin,oksisel

(selulosa oksida)dan busa fibrin insane(human fibrin foam).spons


gelatin dan oksisel dapat digtnakan sebagai penutup luka yang
akhirnya diabsorsi.untuk absorbs yang sempurna dari ke dua zat ini
diperlukan waktu sampai 6 jam.selulosa oksida dapat mempengaruhi
regenasi tulang dan dapat mengakibatkan pembentukan kista bila
o

digunakan jangka panjang pada patah tulang.


Astringen
Yang termasuk kelompok ini antara lain feriklorida,nitras argenti,asam

tanat.kelompok ini di gunakan menghentikan perdarahan kapiler.


Koagulan
Obat kelompok ini pada penggunaan local menimbulkan hemostasis
dengan dua cara, yaitu dengan mempercepat perubahan protombin
menjadi

thrombin

dan

secara

langsung

mengumpalkan

fibrinogen.Aktifaktor protombin. Ekstrak yang mengandung aktifaktor


protombin dapat dibuat antara lain dari jaringan otak

yang diolah

secara kering dengan asetat .salah satu contoh adalah Russells viper
venom yang sangat efektif sebagai hemostatik local dan dapat
digunakan umpamanya untuk alveolus gigi yang berdarah pada
pasien hemofilia ;untuk tujuan ini kapas dibasahi dengan larutan

58

segar 0.1%.Trombin. Zat ini tersedia dalam bentuk bubuk atau


larutan untuk penggunaan local.
Vasokontriktor
Epinevrin dan noreprinefrin berefek vasokontriksi, dapat digunakan

untuk menghentikan perdarahan kapiler suatu permukaan.vasopresin


yang dihasilkan oleh hipofisis, pernah digunakan untuk mengatasi
-

perdarahan pasca bedah persalinan.


Hemostatik sistemik
Dengan mengunakan transfusi darah,sering kali perdarahan dapat
dihentikan segera.perdarahan yang disebabkan oleh defisiensi factor
pembekuan

darah

tertentu

dapat

diatasi

dengan

mengganti

ataumemberikan factor pembekuan yang kurang.


2. Farmako untuk keganasan
a. Defenisi Kemoterapi
Kemoterapi adalah proses pengobatan dengan menggunakan
obat-obatan yang bertujuan untuk membunuh atau memperlambat
pertumbuhan sel-sel Kanker. Banyak obat yang digunakan dalam
Kemoterapi. Kemoterapi adalah upaya untuk membunuh sel-sel kanker
dengan mengganggu fungsi reproduksi sel. Kemoterapi merupakan cara
pengobatan

kanker

dengan

jalan

memberikan

zat/obat

yang

mempunyai khasiat membunuh sel kanker.


Kemoterapi

bermanfaat

untuk

menurunkan

ukuran

kanker

sebelum operasi, merusak semua sel-sel kanker yang tertinggal setelah


operasi, dan mengobati beberapa macam kanker darah. Kemoterapi
Merupakan bentuk pengobatan kanker dengan menggunakan obat
sitostatikayaitu suatu zat-zat yang dapat menghambat proliferasi selsel kanker.
b. Tujuan Dan Manfaat Dari Pemberian Kemoterapi
Tujuan pemberian kemoterapi
- Pengobatan.
- Mengurangi massa tumor selain pembedahan atau radiasi.
- Meningkatkan kelangsungan hidup dan memperbaiki kualitas hidup.
- Mengurangi komplikasi akibat metastase.
c. Manfaat Kemoterapi
Manfaat Kemoterapi antara lain adalah sebagai berikut:
- Pengobatan
Beberapa jenis kanker dapat disembuhkan secara tuntas dengan
-

satu jenis Kemoterapi atau beberapa jenis Kemoterapi.


Kontrol
Kemoterapi ada yang bertujuan untuk menghambat perkembangan
Kanker agar tidak bertambah besar atau menyebar ke jaringan lain.
59

Mengurangi Gejala
Bila kemotarapi tidak

dapat

menghilangkan

Kanker,

maka

Kemoterapi yang diberikan bertujuan untuk mengurangi gejala yang


timbul pada penderita, seperti meringankan rasa sakit dan memberi
perasaan lebih baik serta memperkecil ukuran Kanker pada daerah
yang diserang.
Jenis Obat Anti Kanker Dan Kemoterapi Kanker
I.

Golongan Alkilator
Jenis-jenis obat yang termasuk dalam golongan alkilator yaitu :
1. Siklofosfamid
Sediaan : Siklofosfamid tersedia dalam bentuk kristal 100,
200, 500 mg dan 1,2 gram untuk suntikan, dan tablet 25 dan
50 gram untuk pemberian per oral.
Indikasi : Leukemia limfositik Kronik,

Penyakit

Hodgkin,

Limfoma non Hodgkin, Mieloma multiple, Neuro Blastoma,


Tumor Payudara, ovarium, paru, Cerviks, Testis, Jaringan Lunak
atau tumor Wilm.
Mekanisme kerja : Siklofosfamid merupakan pro drug yang
dalam tubuh mengalami konversi oleh enzim sitokrom P-450
menjadi

4-hidroksisiklofosfamid

dan

aldofosfamid

yang

merupakan obat aktif. Aldofosfamid selanjutnya mengalami


perubahan non enzimatik menjadi fosforamid dan akrolein.
Efek

siklofosfamid

dipengaruhi

oleh

penghambat

atau

perangsang enzim metabolismenya. Sebaliknya, siklofosfamid


sendiri merupakan perangsang enzim mikrosom, sehingga
dapat mempengaruhi aktivitas obat lain.
2. Klorambusil
Sediaan : Klorambusil tersedia sebagai tablet 2 mg. Untuk
leukemia limfositik kronik, limfoma hodgkin dan non-hodgkin
diberikan 1-3 mg/m2/hari sebgai dosis tunggal (pada penyakit
hodgkin mungkin diperlukan dosis 0,2 mg/kg berat badan,
sedangkan pada limfoma lain cukup 0,1 mg/kg berat badan).
Indikasi : Leukimia limfositik Kronik, Penyakit Hodgkin, dan
limfoma non Hodgkin, Makroglonbulinemia primer.
Mekanisme kerja : Klorambusil (Leukeran) merupakan mustar
nitrogen yang kerjanya paling lambat dan paling tidak toksik.
Obat ini berguna untuk pengobatan paliatif leukemia limfositik
kronik dn penyakin hodgkin (stadium III dan IV), limfoma nonhodgkin,

mieloma

multipel

makroglobulinemia

primer

60

(Waldenstrom), dan dalam kombinasi dengan metotreksat


atau daktinomisin pada karsinoma testis dan ovarium.
3. Prokarbazin
Sediaan : Prokarbazin kapsul berisi 50 mg zat aktif. Dosis oral
pada orang dewasa : 100 mg/m2 sehari sebagai dosis tunggal
atau terbagi selama minggu pertama, diikuti pemberian 150200 mg/m2 sehari selama 3 minggu berikutnya, kemudian
dikurangi menjadi 100 mg/m2 sehari sampai hitung leukosit
dibawah 4000/m2 atau respons maksimal dicapai. Dosis harus
dikurangi pada pasien dengan gangguan hati, ginjal dan
sumsum tulang.
Indikasi : Limfoma Hodgkin.
Mekanisme kerja : Mekanisme kerja belum diketahui, diduga
berdasarkan alkilasis asam nukleat. Prokarbazin bersifat non
spesifik terhadap siklus sel. Indikasi primernya ialah untuk
pengobatan penyakit hodgkin stadium IIIB dan IV, terutama
dalam

kombinasi

dengan

mekloretamin,

vinkristin

dan

prednison (regimen MOPP).


4. Karboplatin
Sediaan : Serbuk injeksi 50 mg, 150 mg, 450 mg.
Indikasi : Kanker ovarium lanjut.
Mekanisme kerja : Mekanisme pasti masih belum diketahui
dengan jelas, namun diperkirakan sama dengan agen alkilasi.
Obat

ini

membunuh

sel

pada

semua

tingkat

siklus,

menghambat biosintesis DNA dan mengikat DNA melalui


ikatan silang antar untai. Titik ikat utama adalah N7 guanin,
namun juga terjadi interaksi kovalen dengan adenin dan
sitosin.
II.

Golongan Antimetabolit
Jenis-jenis obat yang termasuk dalam golongan antimetabolit
yaitu :
- 5-fluorourasil (5-FU)
Sediaan : Obat ini tersedia sebagai larutan 50 mg/mL dalam
ampul 10 mL untuk IV.
Indikasi : Kanker payudara, kolon, esofagus, leher dan kepala,
Leukimia limfositik dan mielositik akut, Limfoma non-Hodgkin.
Target
enzim
untuk
5-FU
ini
adalah
timidilat
sintetase. Perbedaan respon ini berkaitan erat dengan adanya
polimorfisme gen yang bertanggungjawab terhadap ekspresi
enzim timidilat sintetase (TS). Enzim ini sangat penting dalam
61

sintesis

DNA

yaitu

merubah

deoksiuridilat

menjadi

deoksitimidilat. Diketahui bahwa sekuen promoter dari gen


timidilat sintetase bervariasi pada setiap individu. Ekspresi
yang

rendah

dari

mRNA

TS berhubungan

dengan

meningkatnya kemungkinan sembuh dari penderita kanker


-

yang diobati dengan 5-FU.


Gemsitabin
Sediaan : Obat ini tersedia dalam bentuk larutan infus 1-1,2
g/m2.
Indikasi : Kanker paru, pankreas dan ovarium.
Mekanisme kerja : Sebelum menjadi bahan aktif, gemsitabin
mengalami fosforilasi oleh enzim deoksisitidin kinase dan
kemudian oleh nukleosida kinase menjadi nukleotida di- dan
trifosfat yang dapat menghambat sintesis DNA. Gemsitabin
difosfat

dapat

menghambat

ribonukleotida

reduktase

sehingga menurunkan kadar deoksiribonukleotida trifosfat


-

yang penting untuk sintesis DNA.


6-Merkaptopurin
Sediaan : Obat ini tersedia dalam bentuk tablet 50 mg.
Indikasi : Leukimia limfositik akut dan kronik, leukemia
mieloblastik akut dan kronik, kariokarsinoma.
Mekanisme kerja : Merkaptopurin dimetabolisme

oleh

hipoxantin-guanin fosforibosil transferase (HGPRT) menjadi


bentuk nukleotida (asam-6-tioinosinat) yang menghambat
enzim

interkonversi

nukleotida

purin.

Sejumlah

asam

tioguanilat dan 6-metilmerkaptopurin ribotida (MMPR) juga


dibentuk dari 6-merkaptopurin. Metabolit ini juga membantu
kerja
-

merkaptopurin.

Metabolisme

asam

nukleat

purin

menghambat proliferasi sel limfoid pada stimulasi antigenik.


Methotrexat
Sediaan : Tablet 2,5 mg, vial 5 mg/2ml, vial 50 mg/2ml, ampul
5 mg/ml, vial 50 mg/5ml.
Indikasi : Leukimia limfositik akut, kariokarsinoma, kanker
payudara,

leher

dan

kepala,

paru,

buli-buli,

Sarkoma

osteogenik.
Mekanisme kerja : Metotreksat adalah antimetabolit folat yang
menginhibisi sintesis DNA. Metotreksat berikatan dengan
dihidrofolat reduktase, menghambat pembentukan reduksi
folat dan timidilat sintetase, menghasilkan inhibisi purin dan
sintesis asam timidilat. Metotreksat bersifat spesifik untuk fase
62

S pada siklus sel. Mekanisme kerja metotreksat dalam artritis


tidak diketahui, tapi mungkin mempengaruhi fungsi imun.
Dalam
-

psoriasis,

metotreksat

diduga

mempunyai

kerja

mempercepat proliferasi sel epitel kulit.


Sitarabin
Sediaan : Vial 100 mg/ml, dan Vial 1 g/10 ml.
Indikasi : Termasuk zat paling aktif untuk leukemia, juga untuk
limphoma, leukemia meningeal, dan limphoma meningeal.
Sedikit digunakan untuk tumor solid.
Mekanisme kerja : Inhibisi DNA sintesis. Sitosin memasuki sel
melalui proses carrier dan harus mengalami perubahan
menjadi senyawa aktifnya : arasitidin trifosfat. Sitosin adalah
analog purin dan bergabung ke dalam DNA, sehingga cara
kerja

utamanya

mengakibatkan
Tingkat

adalah
penurunan

toksisitasnya

inhibisi

DNA

polimerase

yang

dan

perbaikan

DNA.

korelasi

linear

sintesis

mempunyai

dengan

masuknya sitosin ke dalam DNA, bergabungnya DNA dengan


sitosin berpengaruh terhadap aktivitas obat dan toksisitasnya.
III.

Golongan Produk Alamiah


Jenis-jenis obat yang termasuk dalam golongan Produk Alamiah

yaitu :
-

Vinkristin (VCR)
Sediaan : Tersedia dalam bentuk vial berisi larutan 1, 2, dan 5 mL
yang mengandung 1 mg/mL zat aktif untuk penggunaan IV.
Indikasi : Leukimia limfositik akut, neuroblastoma, tumor Wilms,
Rabdomiosarkoma, limfoma Hodgkin dan non-Hodgkin.
Mekanisme kerja : Berikatan dengan tubulin dan inhibisi formasi
mikrotubula, menahan sel pada fase metafase dengan mengganggu
spindel mitotik, spesifik untuk fase M dan S. Vinblastin juga
mempengaruhi asam nukleat dan sintesis protein dengan memblok

asam glutamat dan penggunaannya.


Vinblastin (VLB)
Sediaan : Tersedia dalam bentuk vial 10 mg/10 ml.
Indikasi : Penyakit Hodgkin, limfosarkoma, kariokarsinoma dan tumor
payudara.
Mekanisme

kerja

Vinblastin

berikatan

pada

tubulin

dan

menghambat formasi mikrotubula, kemudian menahan sel pada fase


metafase dengan cara mengganggu spindel mitotik, spesifik untuk
fase M dan S. Vinblastin juga mempengaruhi asam nukleat dan
63

sintesis
-

protein

dengan

memblok

asam

glutamat

dan

penggunaannya.
Paklitaksel
Sediaan : Anzatax (vial), Ebetaxel (vial), Paxus kalbe farma (vial)
Indikasi : Kanker ovarium, payudara, paru, buli-buli, leher dan
kepala.
Mekanisme kerja : Obat ini berfungsi sebagai racun spindel dengan
cara berikatan dengan mikrotubulus yang menyebabkan polimerisasi
tubulin. Efek ini menyebabkan terhentinya proses mitosis dan

pembelahan sel kanker.


Etoposid
Sediaan : Tersedia dalam bentuk kapsul dan larutan injeksi.
Indikasi : Kanker testis, paru, payudara, limfoma Hodgkin dan nonHodgkin, leukimia mielositik akut, sarkoma kaposi.
Mekanisme kerja : Etoposid bekerja untuk menunda transit sel
melalui fase S dan menahan sel pada fase S lambat atau fase G2
awal. Obat mungkin menginhibisi transport mitokrondia pada level
NADH dehidrogenase atau menginhibisi uptake nukleosida ke sel
Hella.

Etoposid

merupakan

inhibitor

topoisomerase

II

dan

menyebabkan rusaknya strand DNA.


Irinotekan, Topotekan
Indikasi : Karsinoma ovarium, karsinoma paru sel kecil, karsinoma
kolon.
Mekanisme kerja : Irinotekan merupakan bahan alami yang berasal
dari tanaman Camptotheca acuminata yang bekerja menghambat
topoisomerase I, enzim yang bertanggung jawab dalam proses
pemotongan dan penyambungan kembali rantai tunggal DNA.

Hambatan enzim ini menyebabkan kerusakan DNA.


Daktinomisin ( AktinimisinD)
Sediaan : Tersedia dalam bentuk Injeksi, bubuk untuk rekonstitusi :
0,5 mg (mengandung manitol 20 mg).
Indikasi : Kariokarsinoma, tumor Wilms, testis, rabdomiosarkoma,
sarkoma Kaposi.
Mekanisme kerja : Terikat pada posisi guanin pada DNA, mengalami
interkalasi

antara

pasang

basa

guanin

dan

sitosin

sehingga

menginhibisi sintesis DNA dan RNA serta protein.


Antrasiklin : Daunorubisin, Doksorubisin, Mitramisin
Sediaan : Daunorubisin tersedia dalam bentuk 20 mg daunorubisin
hidroklorida

dengan

mannitol

100

mg.

mg/mL

(50

mg)

daunorubisin dengan 10 : 5 : 1 rasio molar distearofosfatidilkolin :


kolesterol : daunorubisin. Doksorubisin tersedia dalam bentuk vial 10
mg dan 50 mg.
64

Indikasi : Leukimia limfositik dan mielositik akut sarkoma jaringan


lunak, sarkoma ostiogenik, limfoma Hodgkin dan non-Hodgkin,
leukemia akut, karsinoma payudara, genitourinaria, tiroid, paru,
lambung, neuroblastoma dan sarkoma lain pada anak-anak.
Mekanisme kerja : Interkalasi dengan DNA, mempengaruhi
transkripsi dan replikasi secara langsung. Selain itu, obat ini juga
mampu membentuk kompleks tripartit dengan topoisomerase II dan
DNA. (Topoisomerase II adalah enzim dependen ATP yang terikat
pada DNA dan memisahkan untai DNA dimulai dari 3 fosfat,
menyebabkan DNA terpisah dan kemudian menggabungkannya lagi,
fungsi penting dalam replikasi DNA dan repair). Formasi kompleks
tripartit dengan antrasiklin dan etoposid menghambat pengikatan
kembali

untai

DNA

rusak,

mengakibatkan

apoptosis. Efek

ini

memungkinkan sel rusak karena obat ini, sementara adanya


overekspresi repair DNA terkait transkripsi menunjukkan resistensi.
Antrasiklin juga membentuk radikal bebas dalam larutan pada
jaringan

normal

dan

maligna.

Intermediat

semikuinon

yang

dihasilkan dapat bereaksi dengan oksigen membentuk radikal anion


superoksida
peroksida

yang
yang

membentuk
menyerang

radikal
dan

hidroksil

dan

mengoksidasi

hidrogen

basa

DNA

(~kardiotoksisitas). Produksi ini dipicu interaksi antrasiklin dengan


besi. Antrasiklin berik atan dengan membran sel mempengaruhi
fluiditasdan transpor ion.
Inhibisi sintesis DNA dan RNA dengan interkalasi antara basa DNA
oleh inhibisi topoisomerase II dan obstruksi sterik. Doksurubisin
menginterkalasi pada titik lokal uncoiling dari ikatan heliks ganda.
Meskipun

mekanisme

aksi

yang

pasti

belum

diketahui,

mekanismenya diduga melalui ikatan langsung DNA (interkalasi) dan


inhibisi pembentukan DNA (topoisomerase II) yang selanjutnya
memblokade

sintesis

DNA

dan

RNA

dan

fragmentasi

DNA.

Doksorubisin merupakan logam khelat yang kuat, komplek logam


doksorubisin

dapat

mengikat

DNA

dan

sel

membran

dan

menghasilkan radikal bebas yang akan merusak DNA dan membran


-

sel dengan cepat.


Bleomisin
Sediaan : Bleomisin sulfat terdapat dalam vial berisi 15 unit untuk
pemberian IV, IM, atau kadang-kadang SK atau intraarterial.

65

Indikasi : Kanker paru, lambung dan anus karsinoma testis dan


serviks, limfoma Hodgkin dan non-Hodgkin.
Mekanisme kerja : Menghambat sintesis DNA, ikatan-ikatan DNA
-

untuk selanjutnya terjadi pemutusan untai tunggal dan ganda.


L-asparaginase
Sediaan : Obat ini tersedian dalam bentuk serbuk untuk Injeksi.
Indikasi : Leukemia limfositik akut.
Mekanisme kerja : Asparaginase menghambat sintesis protein
melalui hidrolisis asparaginase menjadi asam aspartat dan amonia.
Sel

leukimia,

eksogen,

terutama

sel

normal

limfoblast,
dapat

memerlukan

memproduksi

asparaginase
asparaginase.

Asparaginase adalah daur spesifik untuk fase G1.


Golongan Hormon dan Antagonis
Jenis-jenis obat yang termasuk dalam golongan Hormon dan Antagonis
yaitu :
a. Prednison
- Sediaan : Obat tersedia dalam bentuk tablet 5 mg dan kaptab 5 mg.
- Indikasi : Leukemia limfositik akut dan kronik, limfoma Hodgkin dan non-

Hodgkin, tumor payudara.


Mekanisme kerja : Sebagai glukokortikoid, bersifat menekan sistem

b.
-

imun, anti radang.


Medroksiprogesteron asetat
Sediaan : Obat ini tersedia dalam bentuk tablet 5 mg, 10 mg, 100 mg.
Indikasi : Tumor endometrium.
Mekanisme kerja : Mencegah sekresi gonadotropin pituitari yang akan
menghambat

maturasi

follicular

yang

menyebabkan

penebalan

endometrial.
c. Etinil estradiol
Sediaan : Obat ini tersedia dalam bentuk tablet 0,02 mg, 0,03 mg, 0,05
-

mg dan 0,5 mg.


Indikasi : Gejala vasomotor sedang atau parah yang dihubungkan
dengan menopause (Tidak ada bukti bahwa estrogen efektif mengatasi
gejala kecemasan atau depresi yang mungkin terjadi selama atau
sebelum menopause, oleh sebab itu tidak boleh diberikan untuk indikasi
tersebut). Hipogonadism pada wanita. Terapi paliatif karsinoma prostat
yang tak dapat dioperasi, pada tahap lanjut terapi paliatif kanker
payudara

yang

tak

dapat

dioperasi,

hanya

dilakukan

dengan

pertimbangan khusus : misalnya pada wanita yang sudah lebih 5 tahun


postmenopause dengan penyakit yang makin parah dan resisten
d.

terhadap radiasi.
Tamoksifen
66

Sediaan : Tamoksifen tersedia dalam bentuk tablet 10 mg dan 20 mg.

Indikasi : Tumor payudara.

Mekanisme kerja : Berikatan secara kompetitif dengan reseptor


estrogen pada tumor atau target lain, membentuk kompleks nuklear yang
menurunkan

sintesis DNA dan menghambat efek estrogen, agen

nonstreroidal dengan sifat antiestrogenik yang berkompetisi dengan


estrogen untuk berikatan di bagian aktif pada payudara dan jaringan lain,
sel terakumulasi pada fase Go dan G1. Sehingga tamoksifen lebih sifat
sitostatik daripada sitosidal.
e. Testosteron propionate
~

Sediaan : Obat ini tersedia dalam bentuk kapsul, injeksi, topikal,


mucoadhesive, pellet, dan transdermal.

Indikasi : Tumor payudara.

Mekanisme kerja : Androgen endogen bertanggung jawab terhadap


pertumbuhan dan perkembangan organ seks pria dan mempertahankan
karakteristik seks sekunder pada pria yang mengalami defisiensi
androgen.

Macam Macam Obat Kemoterapi


Obat kemoterapi ada beberapa macam, diantaranya adalah :
1.

Obat

golongan Alkylating

agent,

platinum

Compouns, dan Antibiotik

Anthrasiklin obst golongan ini bekerja dengan antara lain mengikat DNA di inti
sel, sehingga sel-sel tersebut tidak bisa melakukan replikasi.
2.

Obat golongan Antimetabolit, bekerja langsung pada molekul basa inti sel,
yang berakibat menghambat sintesis DNA.

3.

Obat golongan Topoisomerase-inhibitor, Vinca Alkaloid, dan Taxanes bekerja


pada gangguan pembentukan tubulin, sehingga terjadi hambatan mitosis sel.

4.

Obat golongan Enzim seperti, L-Asparaginase bekerja dengan menghambat


sintesis protein, sehingga timbul hambatan dalam sintesis DNA dan RNA dari
sel-sel kanker tersebut.

Mekanisme Kerja Obat Anti Kanker Dan Kemoterapi Kanker


Sebagian besar obat kemoterapi (sitostatika) yang digunakan saat ini
bekerja terutama terhadap sel-sel kanker yang sedang berproliferasi, semakin
aktif sel-sel kanker tersebut berproliferasi maka semakin peka terhadap
67

sitostatika

hal

prolifersainya

ini

disebut Kemoresponsif, sebaliknya

maka

kepekaannya

semakin

semakin

rendah

lambat
hal

ini

disebut Kemoresisten.
Pada inti sel, pada waktu sel membelah (mitosis). Makin cepat sel
bermitosis, makin sensitive terhadap kemoterapi. CELL CYCLE PHASE SPECIFIC,
yaitu obat yang bekerja pada sel yang berkembang aktif, jadi harus diberikan
secara kontinyu. CELL CYCLE PHASE NON SPECIFIC, yaitu obat yang bekerja
pada sel yang berkembang maupun yang istirahat, jadi dapat diberikan secara
single bolus.
Indikasi Dan Kontraindikasi Obat Anti Kanker Dan Kemoterapi
Indikasi
Persyaratan Pasien yang Layak diberi Kemoterapi :
Pasien dengan keganasan memiliki kondisi dan kelemahan kelemahan,
yang apabila diberikan kemoterapi dapat terjadi untolerable side effect.
Sebelum memberikan kemoterapi perlu pertimbangan sbb :
1.

Menggunakan kriteria Eastern Cooperative Oncology Group (ECOG) yaitu


status penampilan <= 2

2.

Jumlah lekosit >=3000/ml

3.

Jumlah trombosit>=120.0000/ul

4.

Cadangan sumsum tulang masih adekuat misal Hb > 10

5.

Creatinin Clearence diatas 60 ml/menit (dalam 24 jam) ( Tes Faal Ginjal )

6.

Bilirubin <2 mg/dl. , SGOT dan SGPT dalam batas normal ( Tes Faal Hepar ).

7.

Elektrolit dalam batas normal.

8.

Mengingat toksisitas obat-obat sitostatika sebaiknya tidak diberikan pada


usia diatas 70 tahun.
Status

Penampilan

Penderita

Ca

Performance

Status

Status

penampilan ini mengambil indikator kemampuan pasien, dimana penyait


kanker semakin berat pasti akan mempengaruhi penampilan pasien. Hal ini
juga menjadi faktor prognostik dan faktor yang menentukan pilihan terapi
yang tepat pada pasien dengan sesuai status penampilannya.
Kontra Indikasi Kemoterapi
Kontra indkasi absolut:

pada stadium terminal

Kehamilan trimester pertama


68

Kondisi septikemia dan koma.


Kontra indikasi relatif :

Bayi <>8g/dl, leukosit > 3000/mm

Bentuk Sediaan Dan Dosis Dari Obat Kemoterapi


Bentuk Sediaan
Kemoterapi dapat diberikan dengan cara Infus, Suntikan langsung (pada otot,
bawah kulit, rongga tubuh) dan cara Diminum (tablet/kapsul).

Dalam bentuk tablet atau kapsul yang harus diminum beberapa kali sehari.
Keuntungan kemoterapi oral semacam ini adalah: bisa dilakukan di rumah.

Dalam bentuk suntikan atau injeksi. Bisa dilakukan di ruang praktek dokter,
rumah sakit, klinik, bahkan di rumah.

Dalam bentuk infus. Dilakukan di rumah sakit, klinik, atau di rumah (oleh
paramedis yang terlatih).

Dosis
Dihitung berdasar Luas Permukaan Tubuh (LPB). Sedangkan LPB dihitung
dengan table berdasarkan tinggi badan dan berat badan. Apabila tubuh pasien
makin kurus selama pemberian kemoterapi seri I dan II maka untuk pemberian
seri selanjutnya harus diukur lagi LPB-nya, mis: BB = 56 kg, TB = 150 cm, LPT
= 1,5m2. Dosis obat X : 50 mg/m2, berarti penderita harus mendapat obat 50
x 1,5 mg = 75 mg.
Efek Samping Kemoterapi
Intensitas efek samping tergantung dari karakteristik obat, dosis pada
setiap pemberian, maupun dosis kumulatif, selain itu efek samping yang
timbul pada setiap penderita berbeda walaupun dengan dosis dan obat yang
sama, faktor nutrisi dan psikologis juga mempunyai pengaruh bermakna.
Efek

samping

gastrointestinal,

yang

supresi

selalu

sumsum

hampir
tulang,

dijumpai

adalah

gejala

kerontokan

rambut.

Gejala

gastrointestinal yang paling utama adalah mual, muntah, diare, konstipasi,


faringitis, esophagitis dan mukositis, mual dan muntah biasanya timbul selang
beberapa lama setelah pemberian sitostatika dan berlangsung tidak melebihi
24 jam.
Gejala supresi sumsum tulang terutama terjadinya penurunan jumlah
sel darah putih (leukopenia), sel trombosit (trombositopenia), dan sel darah
merah (anemia), supresi sumsum tulang belakang akibat pemberian sitistatika
69

dapat terjadi segera atau kemudian, pada supresi sumsum tulang yang terjadi
segera, penurunan kadar leukosit mencapai nilai terendah pada hari ke-8
sampai hari ke-14, setelah itu diperlukan waktu sekitar 2 hari untuk menaikan
kadar laukositnya kembali. Pada supresi sumsum tulang yang terjadi kemudian
penurunan kadar leukosit terjadi dua kali yaitu pertama-tama pada minggu
kedua dan pada sekitar minggu ke empat dan kelima. Kadar leukosit kemudian
naik lagi dan akan mencapai nilai mendekati normal pada minggu keenam.
Leukopenia

dapat

menurunkan

daya

tubuh,

trombositopenia

dapat

mengakibatkan perdarahan yang terus-menerus/ berlabihan bila terjadi erosi


pada traktus gastrointestinal.
Kerontokan rambut dapat bervariasi dari kerontokan ringan dampai
pada kebotakan. efek samping yang jarang terjadi tetapi tidak kalah penting
adalah kerusakan otot jantung, sterilitas, fibrosis paru, kerusakan ginjal,
kerusakan hati, sklerosis kulit, reaksi anafilaksis, gangguan syaraf, gangguan
hormonal, dan perubahan genetik yang dapat mengakibatkan terjadinya
kanker baru.
Kardiomiopati akibat doksorubin dan daunorubisin umumnya sulit
diatasi, sebagian besar penderita meninggal karena pump failure, fibrosis
paru umumnya iireversibel, kelainan hati terjadi biasanya menyulitkan
pemberian

sitistatika

selanjutnya

karena

banyak

diantaranya

yang

dimetabolisir dalam hati, efek samping pada kulit, saraf, uterus dan saluran
kencing relatif kecil dan lebih mudah diatasi.
Tergantung

jenisnya, Kemoterapi ada

yang

diberikan

setiap

hari,

seminggu sekali, tiga minggu sekali, bahkan sebulan sekali. Berapa seri
penderita harus menjalani Kemoterapi, juga tergantung pada jenis kanker
penderita. Yang paling ditakuti dari kemoterapi adalah efek sampingnya. Ada
orang yang sama sekali tidak merasakan adanya efek samping Kemoterapi.
Ada yang mengalami efek samping ringan. Tetapi ada juga yang sangat
menderita

karenanya.

Ada-tidak

atau

berat-ringannya

efek

samping

kemoterapi tergantung pada banyak hal, antara lain jenis obat kemoterapi,
kondisi tubuh Anda, kondisi psikis Anda, dan sebagainya. Efek samping
Kemoterapi timbul karena obat-obat kemoterapi sangat kuat, dan tidak hanya
membunuh sel-sel kanker, tetapi juga menyerang sel-sel sehat, terutama selsel yang membelah dengan cepat. Karena itu efek samping kemoterapi
muncul pada bagian-bagian tubuh yang sel-selnya membelah dengan cepat.

70

Efek samping dapat muncul ketika sedang dilakukan pengobatan atau


beberapa waktu setelah pengobatan.
F Efek samping yang bisa timbul adalah antara lain:
1.

Lemas
Efek samping yang umum timbul. Timbulnya dapat mendadak atau perlahan.
Tidak langsung menghilang dengan istirahat, kadang berlangsung terus
hingga akhir pengobatan.

2.

Mual dan Muntah


Ada beberapa obat Kemoterapi yang lebih membuat mual dan muntah. Selain
itu ada beberapa orang yang sangat rentan terhadap mual dan muntah. Hal ini
dapat dicegah dengan obat anti mual yang diberikan sebelum,selama, atau
sesudah pengobatan Kemoterapi. Mual muntah dapat berlangsung singkat
ataupun lama.

3.

Gangguan Pencernaan
Beberapa jenis obat Kemoterapi berefek diare. Bahkan ada yang menjadi diare
disertai dehidrasi berat yang harus dirawat. Sembelit kadang bisa terjadi. Bila
diare: kurangi makanan berserat, sereal, buah dan sayur. Minum banyak untuk
mengganti cairan yang hilang. Bila susah BAB: perbanyak makanan berserat,
olahraga ringan bila memungkinkan.

4.

Rambut Rontok
Kerontokan rambut bersifat sementara, biasanya terjadi dua atau tiga minggu
setelah kemoterapi dimulai. Dapat juga menyebabkan rambut patah di dekat
kulit kepala. Dapat terjadi setelah beberapa minggu terapi. Rambut dapat
tumbuh lagi setelah kemoterapi selesai.

5.

Otot dan Saraf


Beberapa obat kemoterapi menyebabkan kesemutan dan mati rasa pada jari
tangan atau kaki serta kelemahan pada otot kaki. Sebagian bisa terjadi sakit
pada otot.

6.

Perdarahan
Keping darah (trombosit) berperan pada proses pembekuan darah. Penurunan
jumlah trombosit mengakibatkan perdarahan sulit berhenti, lebam, bercak
merah di kulit.

7.

Anemia
Anemia adalah penurunan jumlah sel darah merah yang ditandai oleh
penurunan Hb (hemoglobin). Karena Hb letaknya di dalam sel darah merah.
71

Akibat anemia adalah seorang menjadi merasa lemah, mudah lelah dan
tampak pucat.
8.

Kulit dapat menjadi kering dan berubah warna


Lebih sensitive terhadap matahari. Kuku tumbuh lebih lambat dan terdapat
garis putih melintang.
Setiap obat memiliki efek samping yang berbeda! Reaksi tiap orang
pada tiap siklus juga berbeda! Tetapi Anda tidak perlu takut. Bersamaan
dengan kemoterapi, biasanya dokter memberikan juga obat-obat untuk
menekan efek sampingnya seminimal mungkin. Lagi pula semua efek samping
itu bersifat sementara. Begitu kemoterapi dihentikan, kondisi Anda akan pulih
seperti semula.
Beberapa produk suplemen makanan mengklaim bisa mengurangi efek
samping kemoterapi sekaligus membangun kembali kondisi tubuh Anda. Anda
bisa menggunakannya, tetapi konsultasikanlah dengan ahlinya, dan sudah
tentu dengan dokter Anda juga.
Saat ini, dengan semakin maraknya penggunaan obat-obatan herbal
(yang semakin diterima kalangan kedokteran), banyak klinik yang mengaku
bisa memberikan kemoterapi herbal yang bebas efek samping. Kalau Anda
bermaksud menggunakannya, pastikan yang menangani Anda di klinik
tersebut adalah seorang dokter medis. Paling tidak Anda harus berkonsultasi
dengan dokter yang merawat Anda, dan lakukan pemeriksaan laboratorium
secara teratur untuk memantau hasilnya.

Cara mengatasi efek samping Kemoterapi

Pemberian anti mual dan muntah

Saat merasa mual duduk ditempat yang segar

Makan makanan tinggi kadar protein dan karbohidrat (sereal, bakso,


puding, susu, roti panggang, sup, yoghurt, keju, susu kental, kurma, kacang,
dll)

Lakukan perawatan mulut dengan menggosok gigi sebelum tidur dan


setelah makan. Bila tidak dapat menggosok gigi karena gusi berdarah,
gunakan pembersih mulut

Berikan pelembab bibir sesuai kebutuhan

Hindari rokok, makanan pedas dan air es.


Dalam

beberapa

penelitian

kemoterapi

mampu

menekan

jumlah

kematian penderita kanker tahap dini, namun bagi penderita kanker tahap
akhir / metastase, tindakan kemoterapi hanya mampu menunda kematian
72

atau

memperpanjang

usia

hidup

pasien

untuk

sementara

waktu.

Bagaimanapun manusia hanya bisa berharap sedangkan kejadian akhir


hanyalah Tuhan yang menentukan.
DAFTAR PUSTAKA
Muttaqien,Arif.2009. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan
System Kardiovaskuler Dan Hematologi. Jakarta : Salemba Medika.
Smeltzer, Suzana.2001. Buku Ajar Keperawatan Medical Bedah Brunner &
Suddart. Jakarta : EKG
Setiabudy,Rahajuningsi,SH.1992

Jakarta:Hemostasis

dan

trombosit.Balai

Penerbit FKUI.
Kresno,Boedina,siti.1998

Jakarta:Pengantar

hematology

dan

ilmunohematologi.Balai Penerbit FKUI.


Widman,K

Frances.1989.Tinjauan

klinis

atas

hasil

pemeriksaan

Laboratorium.Jakarta:Penerbit Buku kedokteran EGC


Adam, Syamsunir., 1995, DASAR DASAR PATOLOGI seri keperawatan, EGC,
Penerbit Buku Kedokteran, Jakarta
Dorland, 2001, KAMUS KEDOKTERAN, EGC, Penerbit Buku Kedokteran, Jakarta
Gibson, J.M., 1996, MIKROBIOLOGI DAN PATOLOGI MODERN untuk perawat ,
EGC, Penerbit Buku Kedokteran, Jakarta
Robbins, Stanley L.; Kumar, Vinay., 1995, BUKU AJAR PATOLOGI I, edisi 4, EGC,
Penerbit Buku Kedokteran, Jakarta
Chrestella, Jessy. 2009. Neoplasma. Departemen Patologi Anatomi Fakultas
Kedokteran USU: Medan
Campbell, N. A.; J. B. Reece and L. G. Mitchell. 2000. Biologi Edisi Kelima Jilid
I. Penerbit Erlangga, Jakarta. : 438 p.
Harper, H. A. ; V. W. Rodwell and P. A. Mayes. 1977. Biokimia Edisi
Ketujuhbelas. Penerbit Buku Kedokteran E. G. C. Jakarta : 743 p.
Jusup, M. 1989, Genetika I. Struktur dan ekspresi Gen. Institut Pertanian Bogor.
Sugiono.

2004. Asam

Nukleat

dan

Sintesis

Protein.

Bahan

kuliah,

Fakultas Biologi UNSOED. Purwokerto

73