Anda di halaman 1dari 17

IDENTIFIKASI DAN PENATALAKSANAAN PASIEN IV

MODUL 5. PERAWATAN TRAUMA PADA GIGI SULUNG

SEMESTER VI BLOK 2
TAHUN AKADEMIK 2014/2015
KELOMPOK 2
Kenny Rama Widya

2012.07.0.0008

Ardin Christian

2012.07.0.0009

Emerald Navy W P

2012.07.0.0019

LidyaHarjanti

2012.07.0.0028

Ricana Indrawan

2012.07.0.0037

Wellyanto

2012.07.0.0049

Kristin Gaby Rosari

2012.07.0.0058

Asa Rina Thohiroh

2012.07.0.0074

Sheila Masitha Dewipuspa

2012.07.0.0079

Noer Avila Firdauzi

2012.07.0.0083

Hafizhuddin Muhammad

2012.07.0.0092

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS HANG TUAH
SURABAYA
2015

KATA PENGANTAR
Ucapan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena telah menyertai
serta membimbing penulis selama proses pembuatan makalah, sehingga makalah yang berjudul
Perawatan trauma pada gigi sulung dapat terselesaikan dengan baik dan tepat pada waktunya.
Makalah ini membahas mengenai cara mendiagnosis, pertimbangan dalam menentukan diagnosis
dan bagaimana cara menentukan rencana perawatan yang baik dan tepat pada kasus trauma yang
mengenai gigi sulung.
Makalah ini tentu saja tidak dapat terselesaikan dengan baik tanpa bantuan dari berbagai
pihak. Untuk itu, tak lupa kami ucapkan terima kasih kepada:
1. Monika Elidasai, drg., Sp. BM. selaku penanggung jawab modul,
2. Fani Pangabdian, drg., Sp. KG. selaku fasilitator kelompok 2,
3. Semua pihak yang membantu kami penulis secara langsung maupun tidak langsung.
Penulis berharap makalah ini dapat bermanfaat serta memudahkan pembaca untuk dapat
mengenal lebih jauh tentang perawatan trauma pada gigi sulung. Apabila dalam pembuatan
makalah ini terdapat hal yang kurang tepat, penulis mohon agar mendapat masukkan sehingga
penulis mengetahui dan dapat memperbaikinya.

Surabaya, 26 Juni 2015

Tim Penyusun

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Seorang anak perempuan berusia berusia 6 tahun datang diantar ibunya ke RSGM, dengan
keluhan gigi depan kanan atas goyang dan terlihat lebih panjang dari gigi sebelahnya akibat jatuh
waktu bermain sepeda 4 hari yang yang lalu. Penderita saat ini merasakan sakit pada gigi
tersebut sehingga mengganggu saat makan dan minum.Berat badan anak 24 kg. Pada
pemeriksaan intra oral tampak gigi 51 ekstrusi, mobility (+) . Orang tua penderita berharap gigi
anaknya tersebut bisa dirawat . Radiografi terlampir.

1.2 Batasan Topik


1.2.1
1.2.2
1.2.3
1.2.4
1.2.5
1.2.6

1.2.7
1.2.8
1.2.9

Prosedur Diagnosis
Interpretasi hasil radiografi
Diagnosis akhir dan alasan
Etiologi terjadinya trauma pada gigi sulung
Klasifikasi trauma dan Kegoyangan gigi
Rencana perawatan pada kasus : Ekstraksi
a. Definisi
b. Indikasi dan Kontraindikasi
c. Persiapan dan Armamentarium
d. Teknik
e. Komplikasi
f. Prognosis
Obat Post Ekstraksi
Perawatan trauma secara umum pada gigi sulung
Kesimpulan

1.3 Keywords
1.3.1 Ekstrusi
1.3.2 Trauma
1.3.3 Mobility (+)
1.4 Peta Konsep

Trauma
(Gigi Sulung Anterior RA)

Pemeriksaan Subyektif

Gigi Goyang
Gigi lebih panjang
Sakit

Pemeriksaan Obyektif

Gigi Ekstruksi
Mobilitas

Pemeriksaan Penunjang

Radiografi

Diagnosis
Nekrosis Pulpa disertai Ekstruksi dan Resorpsi
fisiologis

Rencana Perawatan
Obstruksi Gigi 51

Indikasi
Kontraindikasi
Teknik

Obat Post Terapi

Persiapan dan
Armamentarium
Komplikasi

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Prosedur Diagnosis

Data pribadi
Nama
: Sheilla
TTL/umur
: Surabaya, 1 April 2009/6th
Alamat
: Jl. Arif Rahman Hakim no. 3
Telepon
: Jenis Kelamin : Perempuan
Orang tua/Wali: Ibu Ana

Dokter
: Istien Wardhani, drg, sp.KGA
Mahasiswa
: Ardin
Catatan medis
1. Apakah anak ini sedang menerima perawatan medis?
2. Kapan kunjungan terakhir pada dokternya?
3. Tujuannya?
4. Penyakit-penyakit sebelumnya (Jantung, alergi, measles, nephritis, diabetes,
coeliac/diare, gangguan perdarahan, cacar air, rheumatic, fever, asthma,
epilepsy/gangguan endrokin,dll)?
5. Temperatur? Normal
6. Nafsu makan? Normal
7. Makan permen?
8. Makan kue-kue kering/basah?
9. Makan waktu tidur?
10. Bentuk muka? Simetri
11. Kebiasaan-kebiasaan (tangan/ lengan sebagai bantal, bernafas melalui mulut,
menggigit bibir/kuku/pipi, menghisap jempol/jari, tongue thrusting, bruxism)?

12. Apakah pernah mengunjungi dokter gigi?


13. Apakah pernah dirawat di RS?
Co-operative? Baik

Hasil anamnesa

Keluhan Utama: gigi depan kanan atas goyang dan ekstrusi akibat jatuh waktu bermain
sepeda 4 hari yang lalu, sakit saat makan dan minum.

Pemeriksaan klinis

IO: gigi 51 goyang, vitalitas (-), EPT (-), perkusi (+), palpasi (+)
2.2 Interpretasi hasil radiografi
-

Tampak resorpsi 1/3 apikal pada gigi 51


Tampak benih gigi pada perapikal regio 11 dan 21 sudah menembus tulang alveolar
Diskontinuitas lamina dura

Pelebaran ligament periodontal

2.3 Diagnosis Akhir dan Alasan


Diagnosis kasus: nekrosis pulpa disertai ekstrusi gigi dan resorbsi fisiologis

Alasan: Berdasarkan hasil anamnesis didapatkan keluhan gigi goyang, gigi lebih panjang, sakit
akibat jatuh karena bermain sepeda 4 hari yang lalu. Dari hasi pemeriksaan klinis, ekstraoral
tidak ada kelainan, intraoral ditemukan gigi 51 ekstrusi dan mobilitas positif. Pemeriksaan
penunjang menunjukkan gigi 51 mahkotanya lebih incisal daripada gigi sebelah-sebelahnya (61
atau 52), ada resorbsi akar fisiologis, benih gigi 11 dan 21 sudah menembus tulang alveolar, serta
gambaran pelebaran ligamen periodontal (patologis).

2.4 Etiologi Terjadinya Trauma pada Gigi Sulung


Trauma pada gigi sulung seringkali disebabkan oleh karena jatuh saat bermain,
kecelakaan, atau saat anak baru belajar berjalan. Hal ini lebih sering terjadi pada anak laki-laki,
dan biasanya mengakibatkan fraktur mahkota, akar, ekstrusi, dan intrusi.
Dalam menentukan etiologi terjadinya trauma perlu memperhatikan:

How

When

Where

: bagaimana proses terjadinya trauma. Hal ini digunakan untuk menentukan


keparahan trauma
: kapan trauma terjadi. Hal ini untuk menentukan keparahan trauma dan
mengetahui kemungkinan keberhasilan perawatan (prognosis). Semakin cepat
ditangani, umumnya prognosis akan semakin baik.
: dimana trauma terjadi. Lokasi terjadinyatrauma selain menentukan tingkat
keparahan trauma juga memungkinkan untuk mengetahui kemungkinan terjadinya
infeksi. Misalnya saja jatuh pada area yang kotor, dikhawatirkan bisa terjadi
infeksi tetanus. Atau ketika terjadi trauma yang mengakibatkan avulsi, gigi yang
terjatuh di tanah atau tempat kotor tentunya prognosis lebih buruk daripada gigi

yang terjatuh ke lantai.


Gejala-gejala lain yang atau masalah yang dialami bersama dengan trauma. Misalnya saja
pusing, bengkak, gigi hilang, dan lain-lain yang mungkin berpengaruh dalam pemilihan
rencana perawatan yang akan dilakukan.

Etiologi utama trauma membagi penyebab trauma menjadi 2:


a. Langsung
Gigi secara langsung terkena benda penyebab trauma.
b. Tidak langsung

Gigi secara tidak langsung terkena trauma, contohnya pasien jatuh sehingga rahang terbentur
lantai, akan tetapi yang mengalami kerusakan adalah giginya.
Trauma langsung dan tidak langsung pada gigi anak dapat disebabkan karena terjatuh dan
berkelahi, atau kecelakaan (olahraga, lalu lintas, permainan). Khusus untuk trauma yang terjadi
secara langsung misalnya dapat disebabkan oleh pengunyahan yang disebut fraktur spontan. Hal
ini dapat terjadi karena tekanan pengunyahan pada gigi yang mengalami karies besar sehingga
gigi dapat retak atau patah saat menggigit benda keras (Finn, 1973).

2.5 Klasifikasi Trauma dan Kegoyangan Gigi


Klasifikasi trauma gigi sulung dan permanen secara umum menurut Ellis dan Devey :

Kelas 1: Fraktur yang sederhana dari mahkota gigi dengan terbuka sedikit atau tidak

sama sekali sebagian dentin dari mahkotanya (hanya mengenai bagian enamel).
Kelas 2: Fraktur yang terjadi pada mahkota gigi dengan terbukanya dentin yang luas,

tetapi belum mengenai pulpa (hanya mengenai bagian dentin).


Kelas 3: Fraktur pada mahkota gigi dengan terbukanya dentin yang luas, sudah mengenai

pulpa (dentin dan pulpa tekena).


Kelas 4: Trauma pada gigi yang menyebabkan gigimenjadi non vital disertai dengan

ataupun tanpa disertai hilangnya struktur mahkota gigi.


Kelas 5: Trauma pada gigi yang menyebabkan hilangnya gigi yang disebut avulsi.
Kelas 6: Fraktur pada akar disertai dengan ataupun tanpa disertai hilangnya struktur

mahkota gigi.
Kelas 7: Trauma yang menyebabkan berpindahnya gigi (intrusi, ekstrusi, labial, palatal,
bukal, distal, mesial, rotasi) tanpa disertai adanya fraktur mahkota atau akar gigi.

Kelas 8: Trauma yang menyebabkan fraktur mahkota yang besar pada gigi (total

distruction) tetapi gigi tetap pada tempatnya dan akar gigi tidak mengalami perubahan.
Kelas 9: Semua kerusakan pada gigi sulung akibat trauma pada gigi depan.

Klasifikasi trauma gigi sulung secara khusus menurut Ellis :

Kelas I : Fraktur enamel.


Kelas II : Fraktur enamel dan dentin.
Kelas III : Fraktur enamel, dentin, dan pulpa.
Kelas IV : Fraktur akar.
Kelas V : Avulsi.

Derajat kegoyangan:

Derajat 1: Bila penderita merasakan adanya kegoyangan gigi, tapi operator tidak melihat

adanya kegoyangan.
Derajat 2: Gigi terasa dan terlihat goyang.
Derajat 3: Kegoyangan gigi ke arah horizontal oleh lidah.
Derajat 4: Kegoyangan gigi ke arah horizontal dan vertikal oleh lidah.

2.6 Rencana Perawatan Ekstraksi


a. Definisi
Pencabutan gigi (ekstraksi) merupakan suatu proses pengeluaran gigi dari alveolus,
dimana pada gigi tersebut tidak dapat dilakukan perawatan lagi. Ekstraksi juga merupakan
operasi bedah yang melibatkan jaringan bergerak dan jaringan lunak dari rongga mulut, akses
yang dibatasi oleh bibir dan ppi, dans elanjutnya dihubungkan atau disatukan oleh gerakan lidah
dan rahahng. Definisi pencabutan gigi yang ideal adalah pencabutan tanpa rasa sakit satu gigi

utuh atau akar gigi dengan trauma minimal terhadap jaringan pendukung gigi, sehingga bekas
pencabutan gigi dapat sembuh dengan sempurna dan tidak terdapat masalah prostetik dimasa
mendatang
b. Indikasi dan Kontraindikasi
Indikasi
1.

Natal tooth / Neonatal tooth

2.

Natal tooth
: Gigi erupsi sebelum lahir
Neonatal tooth: Gigi erupsi setelah 1 bulan lahir dan biasanya gigi
Maloklusi
Dapat mengititasi : Menyebabkan ulserasi pada lidah
Mengganggu untuk menyusui
Gigi dengan karies luas, karies mencapai bifuurkasi dan tidak dapat direstorasi sebaiknya

dilakukan pencabutan kemudian dilakukan space mentainer


3.

Infeksi periapikal atau interradikular dan tidak dapat disembuhkan kecuali dengan
pencabutan

4.

Gigi yang sudah waktunya tanggal dengan catatan bahwa gigi pengganti sudah akan erupsi

5.

Gigi sulung yang penetrasi

6.

Gigi yang mengalami ulkus decubitus

7.

Untuk perawatan orodonsi

8.

Supernumerary tooth

9.

Gigi dengan abses dentoalveolar

Kontraindikasi
1.

Anak yang sedang menderita infeksi akut dimulutnya


Misal: Infeksi stomatitis akut, herpetic stomatitis

2.

Blood discrasia atau kelainan darah


Kondisi ini mengakibatkan terjadinya perdarahan dan infeksi setelah pencabutan, sehingga
pencabutan dilakikan setelah konsul dengan ahli penyakit darah.

3.

Malignasi atau tumor ganas

4.

Gigi yang tulangnya mendapatkan penyinaran radiasi teptap

5.

DM yang tidak terkontrol

Kondisi ini, apabila dilakukan pencabutan akan menyebabkan perdarahan dan luka pun sulit
sembuh.
c. Persiapan dan Armamentarium
Persiapan
a. Sebelum perawatan dilakukan, adalah penting menenangkan emosi pasien (anak) dan
orang tuanya. Biasanya setelah terjadi kecelakaan, anak akan shock sehingga bila dokter
gigi langsung melakukan perawatan terhadap luka/trauma yang terjadi, sementara rasa
takut dan cemas yang dirasakan anak belum hilang, kemungkinan anak akan
menunjukkan sikap yang tidak koperatif.
b. Tindakan selanjutnya adalah menanggulangi keadaan yang gawat akibat trauma,
misalnya menghentikan perdarahan, penanggulangan fraktur tulang rahang (jika ada)
serta meredakan rasa sakit. Luka pada jaringan dibersihkan dari kotoran dengan
menggunakan air garam hangat (warm saline dapat menghilangkan rasa sakit), H2O2 3 %
, Betadine Solution atau air.
c. Meminta ijin tertulis dari orang tua (informed consent) atas persetujuan tindakan yang
akan dilakukan
d. Kunjungan untuk pencabutan sebaiknya pagi hari dan dijadwalkan agar anak tidak
menunggu lama.
e. Instrumen yang akan dipakai sebaiknya jangan diletakkan di meja dan diambil hanya saat
akan dipakai saja. Selain itu jangan mengisi jarum suntik di depan pasien karena dapat
memicu rasa takut dan cemas anak.
f. Sebaiknya katakan yang sebenarnya pada anak.
g. Rasa sakit saat disuntik dapat dihindari dengan cara berikut :
- Memakai jarum suntik kecil dan tajam.
- Anastesi topikal terlebih dahulu di sekitar area yang akan dianastesi.
- Deponir pelan-pelan.
- Penekanan dengan jari di daerah yang mau disuntik agar membuat daerah tersebut
vasokonstriksi dan akan mengurangi rasa sakit.

h. Aspirasi saat penyuntikan anastesi dilakukan untuk mencegah anastetikum masuk ke


dalam pembuluh darah dan jika terjadi alergi, dapat diketahui dan dicegah.
i. Waktu bekerjanya anastesi kurang lebih 5 menit. Sebaiknya dijelaskan pada anak bahwa
nanti dia akan merasakan kebas, kesemutan
Setelah ekstraksi, dilakukan rotasi 1 arah dan penarikan
d. Teknik
Teknik pencabutan gigi sulung tidak berbeda dengan orang dewasa, tetapi hal yang perlu
diketahui:
1. Rongga mulut anak lebih kecil sehingga dalam

melakukan tindakan ekstraksi lebih sulit.

2. Perkembangan tulang rahang masih berjalan.


3. Struktur tulang pada anak- anak mengandung
dewasa.

bahan organic yang lebih tinggi daripada

4. Perhatikan bentuk anatomi gigi sulung.


5. Adanya benih gigi permanen dibawah gigi sulung.

Ada ijin tertulis dari orang tua (informed consent).


Kunjungan untuk pencabutan sebaiknya pagi hari dan dijadwalkan agar anak tidak menunggu
lama.
Instrumen yang akan dipakai sebaiknya jangan diletakkan di meja dan diambil hanya saat akan
dipakai saja. Selain itu jangan mengisi jarum suntik di depan pasien karena dapat memicu rasa
takut dan cemas anak.
Sebaiknya katakan yang sebenarnya pada anak.

Rasa sakit saat disuntik dapat dihindari dengan cara berikut :


Memakai jarum suntik kecil dan tajam.
Anastesi topikal terlebih dahulu di sekitar area yang akan dianastesi.
Deponir pelan-pelan.
Penekanan dengan jari di daerah yang mau disuntik agar membuat daerah tersebut
vasokonstriksi dan akan mengurangi rasa sakit.

Aspirasi saat penyuntikan anastesi dilakukan untuk mencegah anastetikum masuk ke dalam
pembuluh darah dan jika terjadi alergi, dapat diketahui dan dicegah.
Waktu bekerjanya anastesi kurang lebih 5 menit. Sebaiknya dijelaskan pada anak bahwa nanti
dia akan merasakan kebas, kesemutan.
Setelah ekstraksi, dilakukan rotasi 1 arah dan penarikan.

Prosedur ekstraksi :
1.

Gunakan bein lurus untuk melepaskan attached gingiva dari servikal gigi labial dan palatal.

Sedikit luksasi pada gigi.


2.

Untuk gigi rahang atas, gunakan tang untuk memberikan tekanan di darah apikal. Luksasi

awal menuju ke bagian langit-langit kemudian ke bagian labial. Gigi diputar dalam 1 arah secara
terus menerus dengan gerakan rotasi.
3.

Membentu bagian labial dan palatal dari tulang alveolar seperti biasanya.

4. Tempatkan spn/ kasa di atas luka untuk membantu menghentikan perdarahan.


Tempatkan spon baru steril di atas luka dan berikan instruksi.
e. Komplikasi
1. Fraktur Akar
Sering terjadi saat ekstraksi, untuk menghindari diperlukan kehati2an serta teknik yang benar
dalam melakukan pencabutan
2. Trauma benih gigi permanen
Kemungkinan yang dapat timbul saat ekstraksi adalah benih gigi permanen ikut tercabut,
berubah posisi atau terluka. Untuk menghindarinya diperlukan pencabutan yang baik dan hati2.
3. Dry Socket
Jarang terjadi pada anak2 karena vaskularisasinya masih baik. Apabila terjadi pada anak2 <10
tahun perlu diwaspadai infeksi yang tidak umum seperti actinomycosis atau gangguan sistemik
seperti anemia, defisiensi nutrisi, dll.
4. Perdarahan

Mungkin terjadi apabila menderita penyakit darah atau adanya sisa tulang dan akar yang
menyebabkaniritasi jaringan.
5. Tertelannya gigi atau sisa akar
Sering terjadi karena ekstraksi dengan menggunakan anastesi, karena terlalu kuat dalam
pencabutan sehingga sering kali gigi dan akar meleset dari forceps dan tertelan.
f. Prognosis
Baik apabila secepat mungkin ditangani sehingga tidak menggangu gigi permanen yang
akan tumbuh, jar. periodontalnya baik, tidak ada fraktur akar, tidak ada intrusi yang mengganggu
erupsi gigi pengganti, bila terjadi avulsi <20 menit prognosisnya baik sedangkan >60 menit
buruk karena ligamen periodontal mengalami kerusakan. Pada kasus progonosisnya baik karena
gigi 51 diakukan ekstraksi sehingga tidak mengganggu gigi permanen 11 yang akan erupsi.

2.7 Obat Post Ekstraksi


1. Anti inflamasi non steriod : anak-anak diberikan ibuprofen karena jarang mengganggu saluran
cerna. Dosisnya 5-10 mg/ kg BB. Untuk berat badan 24 kg, dosisnya 120-240 mg/ setiap kali
pemberian
2. Antibiotik
Diberikan terutama jika ada pembukaan pulpa dan jaringan periodontal (infeksi).
Jarang diberikan pada traumatisme ringan walaupun melibatkan lesi jaringan lunak.
Biasa dipakai untuk profilaksis.
Aplikasi secara lokal pada akar gigi yang mengalami avulsi dengan doxycylin 1 mg/ 20 ml
untuk mengurangi kemungkinan resorbsi akar dan dapat meningkatkan vaskularisasi pulpa.
Aplikasi sistemik dapat menggubakan penicilin dan derivat dalam dosis tinggi atau 20-40 mg/
kg BB. Untuk berat badan 24 kg, dosisinya 480-960 mg/ hari. Aplikasi sistemik bisa juga

menggunakan doxycylin dengan dosis normal atau chepalosporin 25 mg/ kg BB, dan untu berat
badan 24 kg, dosisnya 600 mg/ hari untuk 3x pemberian.
Penderita yang alergi penicilin dapat diganti dengan memberi eritromycin.

2.8 Perawatan trauma secara umum pada gigi sulung


1. Secara visual diperiksa gigi dan jaringan sekitar baik dalam dan luar mulut. Diperiksa
apakah terdapat fraktur mahkota/ perubahan letak gigi. keadaan pulpa, laserasi,
pendarahan dll.
2. Perlu dibuat foto rontgen untuk mengetahui pertumbuhan dan perkembangan gigi, akar,
maupun jika terdapat fraktur.
3. Perlu manipulasi gigi & palpasi untuk mengetahui kegoyangan dan reaksi terhadap
perkusi.
4. Dilakukan pemeriksaan vitalitas gigi, EPT, termal dilihat apakah masih vital/ non vital.
Vitalitas gigi juga mungkin dibantu dengan melihat perubahan warna gigi. Jika non vital,
biasanya gigi akan berubah menjadi abu-abu/ hitam.
5. Pemeriksaan klinis dengan memperhatikan pernafasan, adekuasi, dan perdarahan. Dilihat
ada tidaknya tanda-tanda seperti muntah, pusing, perdarahan, gigi yang tertelan. Jika
terjadi muntah, pusing, perdarahan pada anak, ditakutkan terjadi trauma otak.
6. Daerah cedera dibersihkan dengan hati-hati dari kotoran dan debris dengan H2O23%, air
hangat, warm saline, atau air biasa.
7. Apabila ada gigi avulsi, harus segera dibersihkan dari kotoran dengan hati-hati dengan
mengalirkan air. Jangan menggosok bagian akar gigi karena bisa merusak ligament
periodontal. Hal ini tidak mungkin dilakukan jika kondisi gigi buruk.
8. Anak yang jatuh di tempat kotor, dapat beresiko tetanus dan berbahaya bagi kesehatan
anak. Perlu dipertimbangkan untuk melakukan profilaksis tetanus.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Diagnosis pada kasus adalah nekrosis pulpa dan ekstruksi gigi disertai dengan resorpsi
akar fisiologis. Menurut klasifikasi Ellis & Davey, kasus ini termasuk klasifikasi kelas VII yang

ditandai dengan berpindahnya gigi (ekstrusi) tanpa adanya fraktur mahkota ataupun akar.
Penatalaksanaan pada kasus adalah dilakukan ekstraksi gigi sulung. Ekstraksi menjadi perawatan
yang dipilih dengan pertimbangan umur pasien dan gigi permanen yang sudah akan erupsi, dapat
dilihat dari foto radiografis yang menunjukkan gigi permanen telah menembus tulang alveolar.
Perlu diingat mengenai prosedur ekstraksi gigi yang berbeda dengan orang dewasa, mengingat
pasien berusia 6 tahun sehingga lebih mudah cemas dan takut.

DAFTAR PUSTAKA

Braham RL, Morris NE, 1980. Textbook of Pediatric Dentistry. USA: Williams and Wiley
Elisa.2012.TRAUMATIK INJURI PADA GIGI ANAK.P7-9
Finn, 1973. Clinical Pedodontics. 4th ed. Philadelphia: WB Saunders Company, p 392-3

Grossman LI, Oliet S, Rio CED, 1995. Ilmu Endodontik dalam Praktek. Ed 11. Philadelphia:
EGC, p 20
Mathewson RJ, Primosch RE, Morrison JT, 1995. Fundamentals of Pediatric Dentistry. Missouri:
Quintessence Publishing Co, Inc
Rao A, 2012. Principles and Practice of Pedodontics. 2 nd Edition. New Delhi: Joypec Brothers
Medical Publishers (P) Ltd. P.311
McDonald, Avery and Dean, 2004. Dentistry for the Child and Adolecent. 8th ed. Indiana
University School of Dentistry. Mosby Company. Indianapolis.