Anda di halaman 1dari 16

BLOK IDENTIFIKASI DAN PENATALAKSANAAN PASIEN 4

MODUL 5. PERAWATAN TRAUMA PADA GIGI SULUNG

DISUSUN OLEH :
KELOMPOK 3
NILA NOVITA

(2012.07.0.0013)

TIFFANY AUGUSTA POSUMA

(2012.07.0.0015)

JANNICO DJANUARDI

(2012.07.0.0018)

AYUB DIDIK SUSANTO

(2012.07.0.0036)

RAAFIULITA RETANA KANSHA

(2012.07.0.0038)

AJENG HANUN WINNY K.

(2012.07.0.0047)

ANNISA MUTARA PERTIWI

(2012.07.0.0053)

AGUSTINUS KENNY WIJAYA

(2012.07.0.0055)

SHINTA NURMARAYA FEBRIANTI

(2012.07.0.0060)

TANTRI LISWANTI

(2012.07.0.0076)

SANY ANTIKA WIJAYA

(2012.07.0.0084)

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS HANG TUAH
SURABAYA
2015
KATA PENGANTAR
Ucapan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena telah
menyertai serta membimbing penulis selama proses pembuatan makalah, sehingga
makalah yang berjudul Perawatan trauma pada gigi sulung dapat terselesaikan dengan
baik dan tepat pada waktunya. Makalah ini membahas mengenai cara mendiagnosis,
pertimbangan dalam menentukan diagnosis dan bagaimana cara menentukan rencana
perawatan yang baik dan tepat pada kasus trauma yang mengenai gigi sulung.
1

Makalah ini tentu saja tidak dapat terselesaikan dengan baik tanpa bantuan dari
berbagai pihak. Untuk itu, tak lupa kami ucapkan terima kasih kepada:
1. Monika Elidasai, drg., Sp. BM. selaku penanggung jawab modul,
2. Yoifah Rizka,drg., Sp. Perio. selaku fasilitator kelompok 3,
3. Semua pihak yang membantu kami penulis secara langsung maupun tidak
langsung.
Penulis berharap makalah ini dapat bermanfaat serta memudahkan pembaca
untuk dapat mengenal lebih jauh tentang perawatan trauma pada gigi sulung. Apabila
dalam pembuatan makalah ini ada hal yang kurang tepat, penulis mohon agar mendapat
masukkan sehingga penulis mengetahui dan dapat memperbaikinya.

Surabaya, 26 Juni 2015

Tim Penyusun

ii

DAFTAR ISI
Kata Pengantar.................................................................................................................2
Daftar Isi......................................................................................................................... 3
BAB 1. Pendahuluan
1.1 Latar Belakang.......................................................................................4
1.2 Batasan Topik........................................................................................4
1.3 Peta Konsep...........................................................................................5
BAB 2. Pembahasan
2.1 Prosedur Diagnosis................................................................................6
2.2 Interpretasi PP................................................................................7
2.3 Diagnosis akhir dan alasan............................................................7
2.4 Etiologi trauma dental pada anak...................................................7
2.5 Klasifikasi trauma .........................................................................8
2.6 Prognosis........................................................................................9
2.7 Rencana perawatan (Penatalaksanaan trauma pada gigi sulung dan

pada kasus).....................................................................................
...............................................................................................................9
2.8 Indikasi dan kontraindikasi............................................................11
2.9 Prosedur ekstraksi gigi sulung.......................................................12
2.10.............................................................................................................. In

struksi dan obat post ekstraksi.......................................................13


BAB 3. Penutup
3.1 Kesimpulan............................................................................................14
Daftar Pustaka.................................................................................................................15

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang

Seorang anak perempuan berusia berusia 6 tahun datang diantar


ibunya ke RSGM, dengan keluhan gigi depan kanan atas goyang dan terlihat lebih
panjang dari gigi sebelahnya akibat jatuh waktu bermain sepeda 4 hari yang yang
lalu. Penderita saat ini merasakan sakit pada gigi tersebut sehingga mengganggu
saat makan dan minum.Berat badan anak 24 kg. Pada pemeriksaan intra oral
tampak gigi 51 ekstrusi, mobility (+) . Orang tua penderita berharap gigi anaknya
tersebut bisa dirawat . Radiografi terlampir.
1.2 Batasan topik
1.2.1 Prosedur Diagnosis
1.2.2 Interpretasi PP
1.2.3 Diagnosis akhir dan alasan
1.2.4 Etiologi trauma dental pada anak
1.2.5 Klasifikasi trauma
1.2.6 Prognosis
1.2.7 Rencana perawatan (Penatalaksanaan trauma pada gigi sulung dan pada
kasus)
1.2.8 Indikasi dan kontraindikasi
1.2.9 Prosedur ekstraksi gigi sulung
1.2.10 Instruksi dan obat post ekstraksi

1.3

Peta konsep:

Trauma dental gigi 51

Anamnesis
( Jatuh 4 hari yang lalu, nyeri saat
makan & minum, gigi lebih
panjang dan goyang

Pemeriksaan Klinis
IO: Ekstrusi gigi 51, Mobilitas (+)

PP (RO)
Klasifikasi Trauma

Dx. Nekrosis pulpa dan ekstrusi


gigi deisertai resorpsi akar
gisiologis

Prognosis

Rencana Perawatan (Ekstraksi)

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Prosedur Diagnosis
Data pribadi
5

Nama

: Andi

TTL/umur

: Surabaya, 1 januari 2009/6th

Alamat

: Jl. Keputih tegal no.33

Telepon

:-

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Orang tua/Wali

: Ibu Siti

Dokter

: Istien Wardhani, drg, sp.KGA

Mahasiswa

: Tantri

Catatan medis
1. Apakah anak ini sedang menerima perawatan medis?
2. Kapan kunjungan terakhir pada dokternya?
3. Tujuannya?
4. Penyakit-penyakit sebelumnya (Jantung, alergi, measles, nephritis, diabetes,
coeliac/diare, gangguan perdarahan, cacar air, rheumatic, fever, asthma,
epilepsy/gangguan endrokin,dll)?
5. Temperatur? Normal
6. Nafsu makan? Normal
7. Makan permen?
8. Makan kue-kue kering/basah?
9. Makan waktu tidur?
10. Bentuk muka? Simetri
11. Kebiasaan-kebiasaan (tangan/ lengan sebagai bantal, bernafas melalui
mulut, menggigit bibir/kuku/pipi, menghisap jempol/jari, tongue thrusting,
bruxism)?
12. Apakah pernah mengunjungi dokter gigi?
13. Apakah pernah dirawat di RS?
14. Co-operative? Baik
Hasil anamnesa
Keluhan Utama: gigi depan kanan atas goyang dan ekstrusi akibat jatuh waktu
bermain sepeda 4 hari yang lalu, sakit saat makan dan minum.
Pemeriksaan klinis
IO: gigi 51 goyang, vitalitas (-), EPT (-), perkusi (+), palpasi (+)

2.2. Interpretasi PP
-

Tampak resorpsi 1/3 apikal pada gigi 51


Tampak benih gigi pada perapikal regio 11 dan 21 sudah menembus tulang

alveolar
Diskontinuitas lamina dura
Pelebaran ligament periodontal

2.3 Diagnosis Akhir dan Alasan

Dx : Nekrosis pulpa dan ekstrusi gigi 51 disertai resorpsi akar fisiologis


Alasan:
Anamnesis: gigi depan kanan atas goyang dan ekstrusi akibat jatuh waktu

bermain sepeda 4 hari yang lalu, sakit saat makan dan minum.
Pemeriksaan klinis: Gigi 51 ekstrusi, mobilitas (+)
PP (RO): Tampak resorpsi 1/3 apikal pada gigi 51, tampak benih gigi pada
perapikal regio 11 dan 21 sudah menembus tulang alveolar, diskontinuitas
lamina dura

2.4 Etiologi Trauma Dental pada Anak


Sebagian

besar

disebabkan

oleh

trauma

(jatuh

saat

bermain,

kecelakaan/saat anak baru belajar berjalan)


Beberapa hal yang perlu diperhatikan: (Rao, 2012)
1. How

: Proses terjadinya trauma dapat digunakan untuk menentukan

keparahan trauma.
2. When : Untuk menentukan jenis keparahan
3. Where : Untuk mengetahui di mana terjadinya trauma, keparahan
Etiologi utama pada gigi geligi dapat dibedakan menjadi:
-

Direct : Gigi secara langsung terkena benda-benda seperti bola, stik, dll.

Indirect: Gigi secara tidak langsung terkena benda-benda, efek trauma


pada dagu yang menyebabkan penutupan kuat antara gigi mandibular dan
maksila (sering terjadi karena jatuh, perkelahian/kecelakaan lalu lintas)

2.5 Klasifikasi Trauma


Klasifikasi menurut Ellis & Davey: (Braham & Morris, 1980)
Kelas 1: Fraktur sederhana dari mahkota gigi dengan terbuka sedikit/ tidak sama
sekali sebagian dentin dari mahkotanya (hanya mengenai enamel).
Kelas 2: Fraktur yang terjadi pada mahkota dengan terbukanya dentin yang luas
tapi belum mengenai pulpa.
Kelas 3: Fraktur pad amahkota gigi dengan terbukanya dentin yang luas dan sudah
mengenai pulpa.
Kelas 4: Trauma pada gigi yang menyebabkan gigi menjadi non vital disertai/
tanpa disertai dengan hilangnya struktur mahkota gigi.
Kelas 5: Trauma pada gigi yang menyebabkan hilangnya gigi yang disebut avulsi.
Kelas 6: Fraktur pada akar disertai dengan / tanpa hilangnya struktur mahkota
gigi.
Kelas 7: Trauma yang menyebabkan berpindahnya gigi ( intrusi, ekstrusi, labial,
palatal, bukal, distal, mesial, rotasi) tanpa disertai adanya fraktur mahkota/ akar
gigi.
Kelas 8: Trauma yang menyebabkan fraktur mahkota yang besar pada gigi tapi
gigi tetap pad a tempatnya dan akar gigi tidak mengalami perubahan.
Kelas 9: Semua kerusakan pada gigi sulung akibat trauma pada gigi depan.
Menurut Hargeaves & Craig: ( Rao, 2012)
Kelas 1: Tidak ada fraktur/ fraktur enamel dengan atau tanpa perpindahan gigi.

Kelas 2: Fraktur mahkota yang melibatkan enamel dan dentin tanpa terbukanya
pulpa dan tanpa perpindahan gigi
Kelas 3: Fraktur dari mahkota dan terbukanya pulpa dengan atau tanpa
perpindahan gigi.
Kelas 4: Fraktur akar dengan/ tanpa fraktur koronal, dengan atau tanpa
perpindahan gigi.
Kelas 5: Berpindahnya gigi.

2.6 Prognosis
Tergantung pada kondisi pulpa (vital/ nekrotik), radang akut/ kronis. Harus
memperhatikan keluhan subjek, reaksi tes vitalitas dan perkusi.
Prognosis baik bila:
1. Ekstraksi secepat mungkin sehinga tidak mengganggu gigi permanen yang
2.
3.
4.
5.

tumbuh.
Jaringan periodontal baik
Tidak ada Fraktur akar
Tidak ada intrusi yang mengganggu erupsi gigi pengganti
Bila terjadi avulsi < 20 menit prognosis baik. Jika > 60 menit prognosis

buruk karena ligamen periodontal mengalami kerusakan.


6. Penanganan trauma semakin cepat, maka prognosis semakin baik (<20
menit)
Pada kasus prognosis baik karena gigi 51 dilakukan ekstraksi sehingga tidak
mengganggu gigi 11 yang akan erupsi.
(Grossman LI, 1995)

2.7 Rencana Perawatan (Elisa, 2012)


Rencana perawatan umum: ekstraksi
9

Pencabutan gigi (ekstraksi) merukapak suatu proses pengeluaran gigi dari


alveolus, dimana pada gigi tersebut tidak dapat dilakukan perawatan lagi.
Ekstraksi juga merupakan operasi bedah yang melibatkan jaringan bergerak dan
jaringan lunak dari rongga mulut, akses yang dibatasi oleh bibir dan ppi, dans
elanjutnya dihubungkan atau disatukan oleh gerakan lidah dan rahahng. Definisi
pencabutan gigi yang ideal adalah pencabutan tanpa rasa sakit satu gigi utuh atau
akar gigi dengan trauma minimal terhadap jaringan pendukung gigi, sehingga
bekas pencabutan gigi dapat sembuh dengan sempurna dan tidak terdapat masalah
prostetik dimasa mendatang
Perawatan fraktur pada gigi permanen muda
1. Pada fraktur klasi I adalah kerusakan gigi pada email. Kebanyakan pada trauma
yang baru disertai dengan luksasi dan sebagai restorasinya dikerjakan dengan
sistem etsa dan resin komposit, disertai dengan mengembalikan posisi dan
splinting pada gigi yang goyah
2. Pada fraktur klas II adalah kerusakan gigi pada email dan dentin, kalau disertai
dengan /luksasi maka perawatan disertai dengan splinting. Untuk restorasi
mahkota dikerjakan:
Perlindungan pulpa kalsium hidroksit,
Restorasi komposit dengan etsa dan
Kontrol vitalitas 6-8 minggu
3. Pada fraktur klas III adalah kerusakan gigi dengan pulpa terbuka. Untuk
perawatannya dikerjakan:
Perawatan pulpotomi (yang baik jika perawatan pulpa dilakukan 1-2 hari
setelah mendapatkan trauma) prognosa. Hasil yang diharapkan pulpa tetap hidup
Perawatan pulpektomi (bila vitalitas gigi tidak dapat dipertahankan). Bagi
ujung akar masih ternuka dilakukan dengan perawatan apeksifikasi lebih dahulu.
Jika ada mobilitas dilakukan splinting

10

4. Pada fraktur klas IV adalah gigi non vital dengan tanpa hilangnya struktur
mahkota. Perawatannya gigi tersebut adalah:
Dilakukan pulpektomi, dan untuk estetika perlu perawatan
Bleaching jika ada perubahan wama mahkota gigi
5. Pada fraktur klas V adalah hilangnya gigi atau lepasanya gigi dan soket dan
perawatannya dilakukan replantasi.
Prognosa baik jika perawatannya dilakukan setelah V2 jam lepasnya gigi dan
soket
6. Pada fraktur klas VI adalah fraktur yang terjadi pada akar gigi baik yang 1/3
dari ujung akar, bagian tengah-tengah akar atau 1/3
Dilakukan splinting (fraktur akar 1/3 dan apikal)
Pada fraktur akar 1/3 dan gingiva dilakukan pencabutan
7. Pada fraktur klas VII adalah gigi mengalami perubahan tempat dan sebagai
perawatannya adalah:
Dikembalikan kemudian splinting. Untuk ini perlu evaluasi vitalitas gigi 1
bulan, 3 bulan sampai I tahun
8. Pada fraktur klas VIII adalah fraktur akar miring pada mahkota sampai akar
Dilakukan pencabutan gigi

2.8 Indikasi dan Kontraindikasi (Finn, 1973)


Indikasi:
1. Natal tooth/ Neonatal tooth yang mengalami maloklusi, dapat mengiritasi
sehingga menyebabkan ulserasi pada lidah dan mengganggu untuk
menyusui.

11

2. Gigi dengan karies luas,karies mencapai bifurkasi dan tidak dapat


direstorasi.
3. Infeksi periapikal dan tidak dapat disembuhkan kecuali dengan
pencabutan.
4. Gigi yang sudah waktunya tanggal dengan catatan gigi pengganti sudah
akan erupsi.
5. Gigi sulung yang persistensi
6. Gigi sulung yang impacted (menghalangi pertumbuhan gigi tetap)
7. Gigi yang mengalami ulkus dekubitus.
8. Untuk perawatan ortodonsi.
9. Supernumerary tooth
10. Gigi dan abses dentoalveolar
Kontraindikasi:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Anak yang sedang menderita infeksi akut dari mulut (contoh: stomatitis)
Blood discrasia/ kelainan darah
Penyakit jantung rheumatic akut/ kronik, congenital dna penyakit ginjal
Dentoalveolar abses, celulitis
Infeksi sistemik akut
Malignasi/ tumor ganas
Gigi yang tulangnya mendapat penyinaran radiasi tetap.
Diabetes Melitus yang tidak terontrol.

2.9 Prosedur Ekstraksi Gigi Sulung (Mathewson et al, 1995)


1. Persiapan operator dan perawat
2.Persiapan alat dan bahan
3.Persiapan daerah kerja
4.Persiapan pasien
5.Persiapan anestesi
Persiapan
a. Sebelum perawatan dilakukan, adalah penting menenangkan
emosi pasien (anak) dan orang tuanya. Biasanya setelah terjadi
kecelakaan, anak akan shock sehingga bila dokter gigi
langsung melakukan perawatan terhadap luka/trauma yang

12

terjadi, sementara rasa takut dan cemas yang dirasakan anak


belum hilang, kemungkinan anak akan menunjukkan sikap
yang tidak koperatif.
b. Tindakan selanjutnya adalah menanggulangi keadaan yang
gawat akibat trauma, misalnya menghentikan perdarahan,
penanggulangan fraktur tulang rahang (jika ada) serta
meredakan rasa sakit. Luka pada jaringan dibersihkan dari
kotoran dengan menggunakan air garam hangat (warm saline
dapat menghilangkan rasa sakit), H2O2 3 % , Betadine
Solution atau air.
c. Meminta ijin tertulis dari orang tua (informed consent) atas
persetujuan tindakan yang akan dilakukan
d. Kunjungan untuk pencabutan sebaiknya pagi hari dan
dijadwalkan agar anak tidak menunggu lama.
e. Instrumen yang akan dipakai sebaiknya jangan diletakkan di
meja dan diambil hanya saat akan dipakai saja. Selain itu
jangan mengisi jarum suntik di depan pasien karena dapat
memicu rasa takut dan cemas anak.
f. Sebaiknya katakan yang sebenarnya pada anak.
g. Rasa sakit saat disuntik dapat dihindari dengan cara berikut :
-

Memakai jarum suntik kecil dan tajam.

Anastesi topikal terlebih dahulu di sekitar area yang


akan dianastesi.

Deponir pelan-pelan.

Penekanan dengan jari di daerah yang mau disuntik


agar membuat daerah tersebut vasokonstriksi dan akan
mengurangi rasa sakit.

h. Aspirasi saat penyuntikan anastesi dilakukan untuk mencegah


anastetikum masuk ke dalam pembuluh darah dan jika terjadi
alergi, dapat diketahui dan dicegah.

13

i. Waktu bekerjanya anastesi kurang lebih 5 menit. Sebaiknya


dijelaskan pada anak bahwa nanti dia akan merasakan kebas,
kesemutan.
j. Ekstraksi dilakukan rotasi 1 arah dan penarikan.
2.10 Instruksi & Obat Post Ekstraksi
a.
b.
-

Intruksi
Menjaga OH
Makan makanan yang lunak
Tidak boleh makanan yang hangat apalagi panas
Tidak boleh menghisap
Sikat gigi menggunakan sikat yang lembut
Obat post ekstraksi
Antiinflamasi non steroid : untuk anak-anak diberikan ibuprofen. Dosis 410mg/kg setiap 6 jam. Pada kasus BB anak adalah 24 kg, sehingga dosis

yang diberikan adalah 96-240 mg per setia kali pemberian.


Antimikroba : pencilin atau amoxicilin. Dosis 220-40 mg/kg. Pada kasus
BB anak adalah 24 kg, sehingga dosis yang diberikan adalah 480-960 mg
per 3 kali pemberian. Pemberian pada kasus adalah berupa sirup dengan
pemberian menggunakan sendok teh dengan dosis 125mg/5Ml, sehingga
pemberiannya adalah 4 kali pemberian.
BAB III
PENUTUP

3.1

Kesimpulan
Diagnosis pada kasus adalah nekrosis pulpa dan ekstruksi gigi disertai

dengan resorpsi akar fisiologis. Menurut klasifikasi Ellis & Davey, kasus ini
termasuk klasifikasi kelas VII yang ditandai dengan berpindahnya gigi (ekstrusi)
tanpa adanya fraktur mahkota ataupun akar. Penatalaksanaan pada kasus adalah
dilakukan ekstraksi gigi sulung. Ekstraksi menjadi perawatan yang dipilih dengan
pertimbangan umur pasien dan gigi permanen yang sudah akan erupsi, dapat

14

dilihat dari foto radiografis yang menunjukkan gigi permanen telah menembus
tulang alveolar. Perlu diingat mengenai prosedur ekstraksi gigi yang berbeda
dengan orang dewasa, mengingat pasien berusia 6 tahun sehingga lebih mudah
cemas dan takut.

DAFTAR PUSTAKA

Braham RL, Morris NE, 1980. Textbook of Pediatric Dentistry. USA: Williams
and Wiley
Elisa.2012.TRAUMATIK INJURI PADA GIGI ANAK.P7-9
Finn, 1973. Clinical Pedodontics. 4th ed. Philadelphia: WB Saunders Company, p
392-3

15

Grossman LI, Oliet S, Rio CED, 1995. Ilmu Endodontik dalam Praktek. Ed 11.
Philadelphia: EGC, p 20
Mathewson RJ, Primosch RE, Morrison JT, 1995. Fundamentals of Pediatric
Dentistry. Missouri: Quintessence Publishing Co, Inc
Rao A, 2012. Principles and Practice of Pedodontics. 2nd Edition. New Delhi:
Joypec Brothers Medical Publishers (P) Ltd. P.311

16