Anda di halaman 1dari 28

SPESIFIKASI TEKNIS

Keterangan :
- Item pekerjaan yang dipakai adalah hanya item pekerjaan
yang terdapat pada Rencana Anggaran Biaya (RAB). Abaikan item
pekerjaan yang tidak terdapat dalam RAB.
1. UMUM
1.1. Lingkup Pekerjaan
a. Pekerjaan Persiapan
b. Pekerjaan Pokok
c. Pekerjaan Lain-lain
1.2. Lokasi Pekerjaan
Lokasi pekerjaan terletak di Kabupaten Aceh Besar
1.3. Syarat Pemeriksaan Bahan Bangunan
Apabila tidak ditentukan lain dalam kontrak maka semua bahan bangunan yang dipakai harus
memenuhi persyaratan standar seperti yang tercantum dalam peraturan-peraturan berikut : PUBI1982, PBI-1971, PKKI NI-5 dan Peraturan-peraturan lain yang berlaku.
2. PEKERJAAN PERSIAPAN
Dalam waktu tidak lebih dari 14 (empat belas) hari sebelum pekerjaan dimulai, kontraktor harus
menyerahkan kepada Direksi rencana kerja terinci meliputi lokasi dan cakupan daerah kerja, jenis
pekerjaan, metode kerja, analisa teknik dan peralatan, urutan dan tahapan pekerjaan serta jadwal
kerja untuk disetujui Direksi.
2.1. Menghubungi Aparat Desa
Penyedia jasa sebelum memulai pekerjaan, bersama direksi harus menghubungi lebih dahulu para
Kepala Desa/Aparat Desa lainnya yang berwenang dari wilayah kerjanya untuk memberitahukan
kehadiran dan menjelaskan semua rencana kerjanya di daerah tersebut.
2.2. Pengukuran dan Pematokan (Uitzet)
Sebelum memulai pekerjaan, kontraktor terlebih dahulu harus mengadakan pengukuran/uitzet
dengan pengawasan Direksi/Pengawas Lapangan. Alat yang dipakai dalam pengukuran ini minimal
adalah alat waterpass. Pengikatan dalam pengukuran ini dilakukan terhadap patok-patok tertentu
yang berfungsi sebagai titik tetap yang lokasinya akan ditunjukkan oleh Direksi/Pengawas
Lapangan. Data ini dapat diperoleh dengan mengajukan permitaan secara tertulis kepada Direksi.
Sebelum memulai pengukuran, kontraktor diharuskan untuk memeriksa semua titik-titik tetap ini
dan membuat titik tetap tambahan lainnya sedemikian sehingga jarak 2 titik tetap tidak lebih dari 1
kilometer.
Ketelitian pengukuran harus selalu dalam batas-batas kesesamaan sebagai
berikut :
Titik-titik untuk tampang melintang, boleh terletak kurang dari 2 cm dari posisi yang ditentukan,
baik dalam arah vertikal maupun horizontal.
Pengukuran titik tinggi harus diselesaikan pada sebuah titik tetap atau dibawa kembali ke titik
perrtama. Kesalahan penutupan harus kurang dari 10 L mm, dimana L adalah panjang atau jarak
sirkuit pengukuran dalam Km.

Patok-patok yang menunjukkan tinggi akhir dari pekerjaan tanah harus dipasang dengan tidak
melewati 0,25 cm dari titik tinggi yang benar.
Garis singgung dan lengkung, perbedaannya dengan yang benar harus kurang dari 2 cm
terhadap posisi yang benar. Titik untuk bangunan harus terletak tidak lebih dari 0,25 cm dari
kedudukan yang sebenarnya, kecuali pada pemasangan baja dan peralatannya memerlukan yang
lebih tinggi. Hasil pengukuran uitzet ini, berupa data dan gambar sket hasil pengukuran, harus
diserahkan kepada Direksi. Oleh Direksi, hasil ini akan diperiksa. Dan apabila terdapat kesalahan,
baik itu pada pengukuran, perhitungan, maupun penggambaran, maka kontraktor harus
memperbaikinya sampai betul dan mendapat persetujuan Direksi. Hasil pengukuran uitzet yang
benar akan dipakai untuk menentukan trase saluran, tempat bangunan air atau bangunan
pelengkap lainnya. Oleh karena itu kontraktor tidak diperbolehkan memulai suatu pekerjaan
saluran/bangunan sebelum posisi, ukuran-ukurannya, dan ketinggian-ketinggiannya disetujui oleh
Direksi. Pematokan pada as trase saluran dalam pengukuran ini, harus dilakukan pada setiap
interval 50 m dan pada setiap belokan dengan menggunakan patok kayu. Pematokan pada lokasi
bangunan-bangunan air harus dilakukan dengan menggunakan patok beton. Pada setiap patok
yang dipasang agar dicantumkan nomor urut dan elevasi hasil pengukuran. Jika pada waktu
pengukuran/uitzet trase saluran dijumpai ketidaksesuaian antara gambar dengan keadaan
lapangan, maka kontraktor harus secepatnya melapor kepada direksi untuk mendapat
penyelesaiannya. Kontraktor wajib mengadakan pengukuran awal atas biayanya sendiri untuk
mempersiapkan gambar pelaksanaan. Pengukuran memanjang maupun melintang pada trase
saluran dan bangunan dilakukan sesuai gambar/penyesuaian di lapangan. Jarak patok pengukuran
maksimum 30 meter untuk jarak lurus atau kurang dari 30 meter untuk jarak tidak lurus atau daerah
bergelombang.
2.3. Pemasangan Profil (bouwplank)
Pada setiap pembuatan saluran dan bangunan, kontraktor diwajibkan memasang bouwplank/profil
dan mencantumkan elevasi serta nama bangunannya. Pemasangan bouwplank/profil harus
berdasarkan peil elevasi ketinggian dari patok pengukuran dan pemasangannya dapat
dilaksanakan apabila pengukuran dinyatakan selesai dan benar serta mendapat persetujuan dari
Direksi. Bouwplank harus dibuat dari papan kayu kelas III yang lurus dan rata. Pemasangan
bouwplank harus didahului dengan pengukuran yang menggunakan alat ukur. Pemasangannya
harus cukup kuat. Kebenaran dari pemasangan bouwplank akan diperiksa oleh Direksi. Setelah
pemeriksaan ini selesai dan hasilnya benar, barulah pekerjaan saluran atau bangunan dapat
dimulai. Bouwplank dibuat dari papan atau bahan lain yang disetujui oleh Direksi. Bentuk dan
ukuran harus disesuaikan dengan bentuk bangunan yang akan dibuat.
2.4. Kantor Direksi
Kontraktor harus membangun dan melengkapi dengan layak, dan memelihara selama masa
Kontrak, bangunan kantor dan sarana tempat tinggal bagi staf dan personil pemberi tugas serta
direksi di lapangan,sesuai kebutuhan yang relevan dan sesuai spesifikasi teknik.
2.5. Gudang dan Workshop
Kontraktor harus memelihara dan menyediakan satu bangunan untuk gudang dan workshop di
lapangan pada tempat yang ditentukan oleh Direksi untuk tempat penyimpanan dan pelaksanaan
pekerjaan penunjang yang mendukung pelaksanaan pembangunan.
2.6. Pembuatan Papan Nama Proyek
Penyedia jasa wajib membuat 1 (satu) buah papan nama proyek berukuran 50 x 100 cm yang isi
tulisan dan penempatannya ditentukan bersama-sama dengan Direksi/Pengawas Lapangan.

2.7. Jalan Masuk dan Jalan Angkut Sementara


Kontraktor harus membangun dan merawat semua jalan masuk dan jalan angkut yang diperlukan
untuk melaksanakan pekerjaan termasuk drainase, jembatan, gorong-gorong dan sejenisnya yang
berhubungan dengannya. Setelah pekerjaan selesai jalan tersebut harus diserahkan kepada
Pimpinan Proyek atau jalan tersebut harus dibongkar dan daerah itu dipulihkan sesuai dengan
ketentuan yang ada atau seperti diperintahkan Direksi jalan-jalan yang digunakan sebagai jalan
masuk sementara harus ditingkatkan, dirawat dan selanjutnya direhabilitasi oleh kontraktor sesuai
dengan ketentuan Direksi dan Pemerintah Daerah. Jalan-jalan masuk sementara yang perlu
dibangun harus memenuhi kemiringan dan lebarnya cukup sehingga bisa dilalui dengan leluasa
oleh kendaraan proyek. Dalam waktu tidak lebih dari 30 (tiga puluh) hari sebelum kontraktor
bermaksud mulai membangun jalan masuk sementara atau jalan angkut sementara atau bagian
dari padanya, kontraktor harus menyerahkan kepada Direksi untuk mendapat persetujuannya
rencana pembangunan secara rinci yang mencakup :
Lokasi, tata letak dan lintasan jalan-jalan tersebut
Rincian desain jalan termasuk lebar, kemiringan dan lain-lain dan rincian dari semua drainase
dan fasilitas penyeberangan yang berkaitan
Bahan untuk membangun jalan dan darimana asalnya
Metode kerja dan jadwal pekerjaan membangun jalan
Pembuatan jalan masuk dan jalan angkut hanya bisa dimulai setelah mendapat persetujuan
Direksi. Persetujuan Direksi tidak membebaskan kontraktor dari kewajiban dan tanggun jawabnya
yang tercantum dalam kontrak.
2.8. Pekerjaan Sementara untuk Mengendalikan Air (Dewatering)
Kontraktor harus mendesain, membangun dan merawat semua pekerjaan sementara untuk
mengoperasikan air dan pengeringan (dewatering) dan harus menyediakan, memasang,
mengoperasikan dan merawat peralatan pemompaan dan perlengkapan lain untuk mengalihkan air
dari daerah kerja sehingga pekerjaan bisa dilaksanakan dengan baik. Kontraktor harus
memperbaiki atas biaya sendiri semua kerusakan yang timbul akibat gagalnya pekerjaan
sementara untuk mengendalikan air. Semua pekerjaan sementara tersebut di atas harus mendapat
persetujuan Direksi dan harus dibongkar pada saat yang disetujui Direksi setelah kegunaannya
dianggap selesai.
3. PEKERJAAN GALIAN DAN BONGKARAN
3.1. Cakupan pekerjaan
Yang dimaksud dengan penggalian mencakup semua pekerjaan yang berhubungan dengan
kegiatan berikut :
Pembersihan, pencabutan dan pengupasan
Pemotongan
Penggalian Parit
Penggalian tempat pengambilan batu gunung dan bahan bangunan batu kali, pasir dan tanah
Penggalian lain yang diperintahkan Direksi.
3.2. Perencanaan dan Persetujuan untuk Mulai Pekerjaan
Dalam waktu tidak lebih dari 30 (tiga puluh) hari sebelum pekerjaan penggalian dimulai, kontraktor
harus menyerahkan kepada Direksi rencana kerja terinci meliputi lokasi dan cakupan daerah kerja,
jenis pekerjaan penggalian, metode kerja dan peralatan, urutan dan tahap pekerjaan serta jadwal

kerja untuk mendapat persetujuan. Persetujuan Direksi tidak membebaskan kontraktor dari
tanggung jawab kontraktor menyangkut keamanan pekerjaan dan kerusakan terhadap pekerjaan
atau pihak ketiga yang timbul akibat pekerjaan kontraktor.
3.3. Pembuangan dan Penggunaan Hasil Galian
Hasil galian mungkin terdiri atas dua jenis bahan yaitu bahan yang bisa digunakan dalam
pembangunan selanjutnya dan bahan yang tidak bisa dimanfaatkan dan harus dibuang di tempat
pembuangan. Pemanfaatan hasil galian untuk bahan bangunan harus mendapat persetujuan
Direksi. Metode penggalian harus sedemikian rupa sehingga sebanyak mungkin hasil galian bisa
dimanfaatkan untuk bahan bangunan. Kontraktor boleh menggunakan hasil galian yang akan
dibuang untuk dimanfaatkan sebagai bahan bangunan untuk bangunan sementara seperti misalnya
jalan sementara, perkerasan di daerah gudang sementara dan lain sebagainya. Hasil galian yang
tidak bisa dimanfaatkan harus dibuang ke tempat pembuangan yang ditentukan oleh Direksi. Cara
pembuangan bahan galian harus mengikuti cara yang ditentukan oleh Direksi. Pembuangan hasil
galian ke sungai atau di luar daerah yang ditentukan tidak diperbolehkan dan kontraktor harus
menanggung kerugian yang timbul akibat pembuangan yang tidak memenuhi ketentuan Direksi
kepada pihak ketiga.
3.4. Penggalian dalam Air
Sebagian kecil penggalian bendungan pengelak (cofferdam) dan saluran pengelak mungkin harus
dilakukan di dalam air. Kontraktor harus menggunakan metode dan peralatan yang sesuai dan
untuk itu kontraktor harus sudah memperhitungkannya dalam harga satuan yang diusulkannya.
3.5. Klasifikasi Penggalian
Untuk keperluan penghitungan dan pembayaran penggalian dibagi menjadi tiga macam.
3.5.1. Penggalian Batu
Penggalian batu adalah penggalian batu atau bahan alam lainnya yang tidak dapat dikerjakan
dengan alat pemindah tanah konvensional dan tidak dapat dibongkar dengan cara menggaru
(ripping) menggunakan traktor Caterpillar D8 atau ekuivalennya yang dilengkapi dengan garu
tunggal, maka dari itu untuk membongkar bahan alam ini harus digunakan ledakan.
3.5.2. Penggalian Batuan Lapuk
Batuan lapuk adalah bahan alam yang penggaliannya tidak bisa dilakukan dengan alat
pemindahan tanah konvensional dan harus menggunakan traktor Caterpillar D8 atau ekuivalen
dilengkapi dengan garu tunggal. Apabila untuk menggali bahan yang sebenarnya bisa digaru tetapi
kontraktor memilih menggunakan peledakan maka pembayarannya dianggap sebagai penggalian
batuan lapuk. Bahan ini mungkin akan ditemukan di portal terowongan dan mungkin di saluran
pengelak dan di daerah bendungan utama.
3.5.3. Penggalian Tanah
Penggalian tanah meliputi penggalian dan pemindahan semua jenis hasil pelapukan atau tanah
terangkut yang tidak termasuk dalam dua macam penggalian terdahulu, bahan ini dapat digali dan
dipindahkan dengan alat konvensional tanpa ledakan atau penggaruan. Bahan yang termasuk di
dalam kelompok tetapi tidak terbatas antara lain semua jenis tanah, lempung, lanau, pasir, kerikil,
kerakal, dan bongkah lepas atau batuan lepas yang volumenya kurang dari 1 m3. Penggalian dan
pemindahan semua tanah terangkut, tanah organik, kayu, sisa tumbuhan dan sejenisnya yang
tersisip diantara tanah asli.
3.6. Pekerjaan Bongkaran

Pekerjaan bongkaran yang dilaksanakan oleh pihak kontraktor harus dilakukan dengan hati-hati.
Hasil bongkaran tidak boleh dipergunakan kembali. Apabila dalam bongkaran terdapat bahan
bangunan seperti besi, bekas pintu air dan lain-lain harus diserahkan kepada pihak direksi.
4. PEKERJAAN TIMBUNAN
4.1. Cakupan pekerjaan
Pekerjaan yang tercakup dalam Bab ini dengan judul di atas meliputi semua pekerjaan tanah dan
pekerjaan yang terkait yang merupakan permanen atau diperlukan dalam kaitannya dengan
pekerjaan permanen yang tidak secara khusus diuraikan dalam Bab lain dalam Spesifikasi Teknis
ini.
Pekerjaan ini meliputi tidak terbatas pada :
Penimbunan kembali bangunan
Stabilisasi timbunan
Pertamanan (landscaping) dan pekerjaan restorasi termasuk penggalian
dan/atau penimbunan, pemasangan tanah penutup (top soilling) dan
penanaman rumput.
Pembuatan dan pemeliharaan tempat penimbunan dan tempat
pembuangan sisa galian (soil bank)
Pekerjaan tanah lain seperti ditunjukkan dalam gambar atau diperintahkan
Direksi.
4.2. Bahan-bahan
Timbunan tanah bisa terdiri atas bahan aluvium, bahan kolovium, bahan
batuan lapuk residual dari galian, tanah dari tempat pengambilan tanah atau
kupasan tanah penutup. Bahannya harus bergradasi baik, berupa campuran
homogen antara lempung lanau, pasir dan kerikil dengan komposisi yang
ditentukan di bawah ini. Komposisi tersebut bisa diubah sesuai keperluan
seperti ditunjukkan dalam gambar atau seperti diperintahkan Direksi.
Bahan untuk pekerjaan tanah umum berasal dari hasil galian dari berbagai
bagian pekerjaan permanen; tempat pengambilan tanah (borrow area); tanah
residual; endapan aluvium dan kolovium; lombong batu di batuan lapuk; bahan
dari lombong batu, atau hasil pengolahan dari bahan tersebut di atas atau
kombinasinya.
Gradasi tanah timbunan harus bergradasi baik (well graded) dalam batasbatas
berikut :
Ukuran maksimum tidak lebih dari 20 cm, kecuali kalau ditentukan lain;
Bahan harus mengandung bagian yang lolos saringan No. 4 (47,6 mm)
tidak kurang dari 50% sampai 100%;
Bahan harus mengandung butiran berukuran lempung (0,002 mm) tidak
lebih dari 50%.
Indeks Plastisitas (PI) bahan yang ditentukan dengan ASTM Standards D 423
dan D 424, tidak kurang dari 10 dan tidak lebih dari 30.
4.3. Pekerjaan Sampai Garis, Permukaan dan Elevasi yang ditentukan
Kontraktor harus mengerjakan semua pekerjaan tanah sampai mencapai
garis, elevasi atau dimensi yang ditunjukkan dalam gambar atau seperti

diperintahkan atau disetujui Direksi. Rincian pekerjaan ini tidak selalu


ditunjukkan secara lengkap dalam gambar kontrak, dalam hal itu rinciannya
harus mengikuti perintah Direksi dalam bentuk gambar kerja tambahan atau
perintah tertulis di lapangan sesuai dengan ketentuan dan Spesifikasi Umum
dan Syarat-syarat Kontrak, dan disetujui Direksi, dan bisa diubah atau
dimodifikasi bilamana perlu menurut pendapat Direksi.
4.4. Penyiapan Fondasi
Kecuali bila ditentukan lain dalam gambar atau diperintahkan oleh Direksi,
fondasi pekerjaan urugan (embankment) atau timbunan harus dibersihkan,
dibongkar dan dikupas sesuai dengan ketentuan mengenai pekerjaan tersebut
yang ditentukan dalam Spesifikasi ini. Semua depresi besar, ketidak-teraturan,
dan rongga di fondasi dan bekas-bekas sumuran uji atau galian lain yang lebih
dalam dari galian yang ditunjukkan gambar, harus ditimbun kembali sesuai
perintah Direksi dengan bahan yang sama dengan timbunan di atasnya, dan
dipadatkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku untuk timbunan yang
bersangkutan.
Menjelang penghamparan lapisan pertama bahan timbunan, permukaan
fondasi harus dibersihkan dari semua bahan-bahan lepas dan benda-benda
lain yang tidak pada tempatnya. Semua air yang ada di tempat tersebut harus
disingkirkan dengan cara yang disetujui Direksi. Apabila perlu, permukaan
fondasi harus dibasahi sebelum ditimbun untuk mendapatkan ikatan yang baik
dengan lapisan timbunan pertama. Setiap pekerjaan penimbunan untuk
pekerjaan permanen hanya boleh dimulai setelah mendapat persetujuan
Direksi.
4.5. Pemadatan
Segera setelah penempatan setiap lapisan, timbunan harus dipadatkan
menggunakan self propelled tamping roller atau alat sepadan sehingga
menjadi lapisan yang seragam kepadatannya. Jumlah lintasan alat pemadat
akan ditentukan Direksi berdasar hasil uji kontrol yang akan dilakukan selama
konstruksi. Direksi tetap berhak merubah jumlah lintasan alat pemadat setiap
saat selama konstruksi, tergantung hasil uji kontrol. Tidak akan ada
penyesuaian pembayaran untuk bahan kalau Direksi memerintahkan
penambahan atau pengurangan jumlah lintasan. Jenis alat pemadat yang
akan dipakai kontraktor harus disetujui Direksi, beban, operasi dan kecepatan
alat tersebut harus dapat mencapai tingkat keseragaman dan kepadatan
sesuai ketentuan Direksi. Apabila digunakan lebih dari satu alat pemadat,
maka alat pemadat yang dipakai harus sejenis dengan berat, dimensi dan ciri
operasi yang sama. Jika pekerjaan penimbunan diberhentikan karena akan
turun hujan, permukaan timbunan atau urugan harus dimiringkan dan
dihaluskan untuk melancarkan drainase. Sebelum penempatan dan
pemadatan lapisan selanjutnya, permukaan harus digaru dan diatur
kandungan airnya sesuai ketentuan yang berlaku.
5. PEKERJAAN TIMBUNAN KEMBALI
5.1. Cakupan pekerjaan
Kontraktor harus menimbun macam-macam bangunan baik bangunan
permanen maupun pekerjaan lain seperti ditunjukkan dalam gambar atau
seperti diperintahkan Direksi.
Penimbunan kembali harus dilakukan dengan bahan yang bisa dibagi dalam 3

jenis berikut :
1. Timbunan Acak (random backfill, ordinary backfill);
2. Timbunan Kedap (impervious backfill);
3. Timbunan Lulus (free draining backfill);
Tergantung lokasi, jenis, fungsi bangunan atau pekerjaan. Bahan timbunan
harus dari jenis, dan dengan permukaan dan dimensi seperti ditunjukkan
dalam gambar atau seperti diperintahkan Direksi sesuai dengan ketentuan
berikut.
Apabila jenis bahan timbunan tertentu tidak ditentukan dalam gambar atau
bahannya hanya ditentukan sebagai timbunan atau timbunan biasa maka
bahan seperti itu harus diartikan sebagai timbunan acak seperti ditentukan
berikut.
5.2. Bahan-bahan
Persyaratan bahan harus memenuhi ketentuan berikut, kecuali apabila
ditentukan lain oleh Direksi :
1. Timbunan Acak
Timbunan acak terdiri atas bahan yang sesuai dengan persyaratan untuk
Timbunan tanah umum yang ditentukan dalam Sub-Bab 20.2.1 dan SubBab 20.2.2, dengan modifikasi ukuran butir maksimum 10 cm kecuali
diperintahkan lain oleh Direksi.
2. Timbunan Kedap
Timbunan kedap terdiri atas bahan yang sama dengan bahan inti
bendungan seperti ditentukan dalam Spesifikasi ini.
3. Timbunan Lulus
Timbunan lulus harus diseleksi dari bahan berderai (granular) yang bisa
didapat dari kerikil sungai yang bersih atau hancuran batu dari lombong,
dicuci dan diayak bila perlu, sampai bergradasi baik dengan batas ukuran
butir sebagai berikut :
Ukuran butir maksimum 15 cm;
Bagian yang lolos dari saringan no. 4 (4,76 mm) tidak kurang dari 15%
dan tidak lebih dari 75%;
Bagian yang lolos dari saringan no. 200 (0,074 mm) tidak lebih dari 5%.
Bahan ini harus bebas dari lempung.
5.3. Penempatan dan Pemadatan
Pemilihan, penempatan dan penyebaran bahan timbunan harus sedemikian
rupa sehingga penyebearan dan gradasi timbunan seluruhnya tidak
mengandung lensa, kantong atau lapisan yang terdiri atas bahan yang tekstur,
gradasi, kandungan air atau kepadatannya sangat berbeda dengan bahan di
sekitarnya.
Timbunan harus dipadatkan dengan menggunakan alat yang sesuai dengan
ruang kerja yang tersedia dan alat yang digunakan harus mendapat
persetujuan Direksi. Bahan timbunan harus ditempatkan secara menerus,
kurang lebih horizontal dengan ketebalan yang memungkinkan tercapainya
kepadatan sesuai dengan Sub-Bab 20.3.3 di seluruh lapisan. Ketebalan
lapisan sebelum dipadatkan tidak boleh lebih dari 20 cm, kecuali ditentukan
lain oleh Direksi.

5.4. Pekerjaan Penyimpanan Sementara dan Pembuangan


Kontraktor harus mengelola tempat-tempat pembuangan dan penyimpanan
sementara untuk bahan galian yang tidak bisa dipakai yang berasal dari
penggalian, tempat pengambilan tanah atau lombong batu atau tempat untuk
menyimpan sementara bahan galian yang akan dipakai untuk pekerjaan yang
tidak dapat secara spesifik dimasukkan dalam pekerjaan tertentu. Tempat dan
luas daerah pembuangan dan penyimpanan sementara tersebut harus seperti
ditunjukkan dalam gambar atau seperti diperintahkan atau disetujui Direksi.
Tempat pembuangan atau penyimpanan sementara yang ditunjukkan dalam
gambar atau diperintahkan Dreksi harus dibersihkan dari tanaman dan tanah
penutup dengan cara yang berlaku dalam Spesifikasi Teknik ini.
Pengupasan hanya perlu dilakukan apabila dianggap perlu oleh kontraktor,
atau diperintahkan Direksi untuk mencegah kontaminasi terhadap bahan atau
untuk menjamin stabilitas buangan dan/atau simpanan sementara. Apabila
diperlukan, pengupasan harus dilakukan sesuai dengan ketentuan mengenai
pengupasan yang berlaku dalam Spesifikasi Teknik ini.
Daerah pembuangan dan penyimpanan umumnya harus diratakan dan
dipotong sehingga terbentuk permukaan yang teratur sesuai denga ketentuan
Direksi.
Bahan buangan atau simpanan sementara di dekat sungai, alur, saluran atau
bangunan drainase permanen harus terlindung dari erosi oleh aliran sungai
atau air permukaan, disamping itu harus disediakan sarana untuk mengatur
atau membelokkan aliran untuk mencegah kontaminasi di jalan air tersebut.
Pekerjaan ini meliputi tetapi tidak terbatas pada pembuatan saluran gendong
(catch drain), saluran elak, mulut saluran buang (outfall), talang dan goronggorong
untuk drainase di sekitar atau melalui daerah pembuangan dan
penyimpanan.
Bangunan pelindung erosi di tempat pembuangan permanen harus berupa
bangunan permanen. Tempat buangan harus dibangun sesuai gambar atau
seperti diperintah Direksi. Apabila ditentukan, ditunjukkan dalam gambar atau
diperintahkan Direksi bahan buangan harus ditempatkan secara berlapis-lapis
secara teratur dan dipadatkan dengan alat pemadat atau dengan cara yang
diperintahkan atau disetujui Direksi. Permukaan buangan permanen yang
sudah selesai diurug harus rata dan rapih dan harus dimiringkan untuk
drainase sesuai perintah atau persetujuan Direksi, dan harus dirawat agar
rapih dan teratur, serasi dengan bentang alam sekitarnya. Apabila ditunjukkan
dalam gambar atau diperintahkan Direksi, tempat buangan permanen harus
ditutupi tanah penutup dan ditanam rumput, semak atau pohon.
6. PEKERJAAN GEBALAN RUMPUT
6.1. Cakupan pekerjaan
Pekerjaan ini akan terdiri dari penyediaan lempeng-lempeng rumput dan
menanamnya untuk memberikan suatu lapisan rumput yang mantap dan subur
yang akan mempertahankan pertumbuhannya dalam setiap cuaca dan
mencegah erosi dari bahan dimana ditanamkan.
6.2. Bahan-bahan
Rumput dalam lempengan yang akan digunakan pada suatu tempat/lokasi
harus merupakan jenis-jenis yang berasal dari daerah tersebut. Rumput ini
harus tidak berbahaya dan tidak menusuk pada orang dan binatang dan tidak
dari suatu jenis yang diakui sebagai suatu gangguan terhadap pertanian.

Rumput ini harus bebas dari penyakit dan rumput berbahaya dan harus
berakar dalam. Lempengan-lempengan harus dipotong dengan sistem
akarnya utuh dan diambil bilamana tanah tersebut basah atau telah diairi
secara bantuan. Lempengan harus ditumpuk pada rak-rak dalam lapisanlapisan
bersama dengan sebanyak mungkin uap lembab. Lempenganlempengan
tersebut harus dilindungi dari matahari dan angin dan diberi air
setiap 4 jam. Lempengan-lempengan tersebut harus ditanam dalam waktu 2
(dua) hari setelah dipotong.
6.3. Pelaksanaan
Kontraktor harus memasang gebalan rumput untuk perlindungan lereng,
urugan atau galian seperti ditunjukkan dalam gambar atau diperintahkan oleh
Direksi. Gebalan yang dipakai harus bermutu baik untuk ukuran daerah itu.
Batang dan akar rumputnya harus sehat dan rumputnya didapat dari tanaman
yang tanahnya tebal dan berasal dari daerah yang lingkungannya sama
dengan daerah tempat gebalan akan dipasang. Gebalan harus bebas dari
gulma dan tanaman lain yang tidak dikehendaki. Ketika gebalan dipotong,
tinggi rumput tidak boleh lebih dari 10 cm, dan gebalannya waktu akan
ditanam harus mempunyai lapisan tanah yang memadai dan menempel di
akar rumput. Gebalan harus dipasang di tempat yang direncanakan dalam
waktu 24 jam setelah dipotong. Gebalan yang sudah ditanam harus disiram air
menggunakan alat yang sesuai dan disetujui Direksi. Kontraktor harus
memelihara, termasuk menyiram air bila perlu dan melindungi gebalan yang
sudah dipasang selama pertumbuhan rumput. Apabila tumbuh gulma atau
tumbuhan lain yang mengganggu pertumbuhan rumput, maka gulma dan
tumbuhan tersebut harus disingkirkan.
7. PEKERJAAN BETON
7.1. Umum
Bab ini meliputi penyediaan semua bahan-bahan, tenaga dan peralatan yang
diperlukan untuk menghasilkan semua beton yang di-cor langsung di tempat
sesuai yang tercantum di dalam kontrak.
7.2. Semen
Semua semen harus digunakan Semen Portland yang memenuhi syaratsyarat
yang tercantum pada ASTM C.150-89 Type-I. Semen harus senantiasa
terlindung dengan baik dari hujan dan lembab, dan setiap bagian semen yang
telah rusak oleh lembab atau tidak memenuhi persyaratan yang tersebut di
atas harus ditolak dan disingkirkan dari lokasi pekerjaan. Semen yang oleh
kontraktor telah disimpan selama lebih dari 60 (enam puluh) hari harus
memperoleh persetujuan konsultan terlebih dahulu sebelum dipergunakan
pada pekerjaan. Semen-semen yang berbeda merek, jenis atau berasal dari
pabrik yang berbeda harus disimpan secara terpisah. Penggunaan semen sisa
yang dikumpulkan dari kantong-kantong bekas atau kantong-kantong yang
telah dibuang tidak diperbolehkan.
7.3. Air
Air yang dipergunakan pada pengadukan dan perawatan beton atau tujuan
lainnya harus bersih dan bebas dari minyak, garam-garam, asam, alkali, gula,
rumput, atau bahan-bahan lain yang merusak beton dan tulangan. Air tidak
boleh mengandung lebih dari 1000 ppm sulfat dalam bentuk SO3 atau 500

ppm chlorida asam dalam bentuk Cl. Apabila sumber air adalah suatu anak
sungai yang telah disetujui atau sumber lainnya, maka tempat pengambilan
harus ditutup sedemikian rupa sehingga pasir, lumpur, rumput atau bahanbahan
asing lainnya tidak dapat ikut ke dalam air. Air yang digunakan juga
harus memenuhi persyaratan Pasal 3.6. Peraturan Beton Bertulang Indonesia
(PBI) 1971-NI.2.
7.4. Agregat
Agregat beton harus memenuhi semua syarat-syarat yang tercantum di dalam
ASTM C.33-90 dan Peraturan Beton Bertulang Indonesia (PBI) 1971-NI.2,
Pasal 3.3, 3.4 dan 3.5.
7.4.1. Agregat Halus
Agregat halus harus berupa pasir alam yang bersih dan tajam serta
bebas dari bahan-bahan organis atau kotoran-kotoran lain.
7.4.2. Agregat Kasar
Agregat kasar untuk beton harus terdiri atas batu pecah, kerikil, terak
tanur tinggi, atau bahan keras lainnya yang disetujui, yang memiliki
kesamaan karakteristik berupa butir-butir yang bersifat tahan lama,
bebas dari selaput lekat yang tidak diinginkan, lempung dan kotorankotoran
lainnya. Batu pecah atau kerikil pecah harus digunakan pada
pembuatan beton.
7.4.3. Batu Belah
Batu untuk beton siklop, pasangan batu atau pasangan batu kosong,
harus memiliki mutu yang telah disetujui, kuat dan tahan lama dan
bebas dari pembelahan-pembelahan, bidang sambungan, retakanretakan
dan cacat struktural lainnya, atau ketidak sempurnaan yang
cenderung merusak daya tahannya terhadap cuaca. Batu itu harus
memiliki permukaan yang bulat, lusuh, atau lapuk. Semua batu yang
lapuk harus ditolak. Batu-batu itu harus dijaga sedemikian rupa hingga
bebas dari kotoran, minyak atau bahan-bahan perusak lainnya yang
dapat mengganggu daya lekat adukan. Paling lambat 28 hari sebelum
mulai dengan pengadukan beton untuk yang pertama kali, kontraktor
harus menyerahkan data secara lengkap tentang masing-masing
sumber agregat yang diajukan kepada konsultan untuk mendapat
persetujuan.
Data-data yang diserahkan harus memuat paling sedikit :
Lokasi sumber agregat
Sertifikat yang dikeluarkan oleh sebuah laboratorium yang
independen, yang menyatakan bahwa masing-masing sumber
agregat memenuhi syarat-syarat yang tercantum didalam ASTM
C.33-90 dan Peraturan Beton Bertulang Indonesia (PBI) 1971-NI.2
Pasal 3.3, 3.4, dan 3.5 beserta data-data asli geologi.
Bukti-bukti tertulis yang menunjukkan bahwa leveransir agregat
sanggup memenuhi kebutuhan akan jumlah bahan yang
diperlakukan selama masa pelaksanaan pembangunan.
Data-data instalasi pemecah dan penyaring yang digunakan untuk
menghasilkan agregat kasar.
Kontraktor harus menggunakan agregat yang sudah disetujui oleh
konsultan/Direksi untuk semua pekerjaan beton.

7.5. Bahan Tambahan


Bahan tambahan tidak boleh dibubuhkan pada adukan beton manapun apabila
tidak tercantum keharusan untuk itu atau tanpa memperoleh ijin tertulis dari
Direksi. Setiap permohonan ijin penggunaan bahan tambahan harus dilampiri
dokumen-dokumen yang menjelaskan keuntungan yang akan diperoleh
ataupun pengaruhnya terhadap adukan beton yang akan dipergunakan.
Apabila memang ada ketetapan yang mengharuskan penggunaannya, maka
bahan tambahan harus dipergunakan betul-betul sesuai dengan petunjukpetunjuk
pabriknya dan atas perintah dari direksi.
Semua bahan tambahan harus memenuhi segala persyaratan yang tercantum
di dalam ASTM C. 494-86. Walaupun penggunaan bahan tambahan telah
disetujui, tetapi kontraktor dan leveransirnya tetap harus bertanggung jawab
atas mutu beton yang dipergunakan dalam pekerjaan ini.
7.6. Penimbunan/Penyimpanan Bahan
7.6.1. Semen
Semen harus disimpan di dalam ruangan yang layak dan tidak
terpengaruh oleh cuaca, ditempatkan pada lantai papan yang tidak
terletak langsung pada tanah. Ruangan tersebut harus sedemikian
rupa sehingga sirkulasi bebas udara disekitar kantong-kantong semen
adalah seminim mungkin. Semua semen yang menjadi lembab,
mengerak atau menggumpal tidak boleh dipergunakan. Kegiatan
penakaran bahan adukan beton harus diorganisasikan sedemikian
rupa hingga semen yang paling lama berada di lokasi harus
dipergunakan terlebih dahulu. Semen yang telah berumur 6 bulan atau
lebih sejak pembuatannya di pabrik sama sekali tidak boleh
dipergunakan.
7.6.2. Agregat
Agregat harus disimpan sedemikian rupa sehingga senantiasa bersih
dan bebas dari pencemaran dan terlindung dari pemisahanpemisahan.
Apabila tidak ada lantai keras yang bersih untuk
penimbunan, maka bagian timbunan yang langsung berhubungan
dengan tanah setebal 150 mm tidak boleh dipergunakan. Timbunantimbunan
agregat yang berbeda ukurannya harus dijaga agar
senantiasa terpisah satu dengan lainnya dan agar tetap bersih selama
musim hujan agregat harus sudah ditimbun sebelum musim tersebut
tiba.
7.7. Penakaran dan Pengadukan
7.7.1. Penakaran
Penakaran bahan-bahan beton harus dilakukan pada suatu instalasi
takar. Peralatan yang digunakan untuk mengukur volume bahanbahan
bangunan itu harus dapat mengukur dengan cara yang cocok
dan positif untuk menentukan jumlah yang dipergunakan pada setiap
takaran.
Semen Portland
Semen portland kantongan ataupun dalam keadaan bubuk boleh
dipergunakan. Seluruh semen harus ditakar pada suatu alat ukur
volume yang telah disetujui. Ketepatan penakaran diijinkan lebih
atau kurang 5 persen dari volume yang diinginkan.

Air
Air boleh diukur dengan berat volume. Kesalahan pengukuran
tidak boleh lebih dari 1 persen. Apabila pengukuran air bukan
dengan menimbang, maka peralatan ukur harus mempunyai
sebuah tangki pelengkap darimana tangki ukur akan diisi. Tangki
ukur harus dilaksanakan dengan pengukuran katup dan katup
disebelah luar sehingga dapat diadakan pengukuran tinggi air,
kecuali ada sarana lain untuk menetapkan dengan teliti jumlah air
di dalam tangki itu. Volume tangki pelengkap paling sedikit harus
sama dengan volume tangki ukur.
Agregat
Semua agregat yang dihasilkan atau diolah dengan metode
hidrolis dan agregat yang telah dicuci, harus ditimbun atau
disimpan untuk jangka waktu paling sedikit 12 jam sebelum ditakar
sebagai tindakan untuk pengeringan air. Apabila kadar air agregat
tersebut sangat tinggi atau seragam, direksi dapat menetapkan
masa penyimpanan atau penimbunan yang lebih dari 12 jam.
Penakaran harus dilakukan sedemikian rupa sehingga tercapai
ketelitian dengan toleransi 10 persen dari volume bahan yang
diinginkan.
7.7.2. Pengadukan
Beton harus diaduk pada sebuah alat pengadukan yang telah
mendapat persetujuan. Apabila yang akan digunakan adalah sebuah
alat aduk tunggal maka alat tersebut harus berkapasitas aduk 1 meter
kubik. Apabila kapasitas nominal alat aduk tersebut kurang dari 1
meter kubik, maka harus disediakan dua instalasi yang sama. Semua
alat aduk harus berpenggerak motor dan harus mempunyai kapasitas
aduk nominal minimum lebih besar dari 0,4 meter kubik.
Bahan yang sudah ditakar harus dimasukkan ke dalam bejana putar
sedemikian rupa sehingga sebagian air akan masuk lebih dulu dari
semen dan agregatnya. Aliran air harus seragam dan pada saat 15
detik pertama dari masa aduk tersebut berakhir maka semua air harus
sudah berada di dalam bejana putar. Masa aduk dihitung sejak semua
bahan kecuali air telah masuk ke dalam bejana putar. Waktu aduk
tidak boleh kurang dari 60 detik untuk pengaduk berkapasitas 1m5
meter kubik atau tidak boleh kurang dari 90 detik. Apabila
penghitungan waktu dimulai pada saat pencurah bahan mencapai
posisi tegak maksimum, maka harus ditambahkan 4 detik kepada
waktu aduk yang telah ditetapkan sebelumnya. Waktu aduk berakhir
pada saat corong curah adukan membuka. Pengadukan harus
berlanjut terus sampai semua bahan-bahan itu tercampur dengan
seksama dan merata serta adukan beton berwarna dan betekstur
seragam. Sebelum diisi kembali, maka seluruh adukan harus sudah
dikeluarkan dari pengaduk. Adukan-adukan beton harus kelihatan
sama diantara satu dengan lainnya. Pengaduk harus dioperasikan
dengan kecepatan bejana putar seperti tercantum pada label dari
pabrik yang menempel pada pengaduk. Setiap bagian adukan beton
yang mengalami masa pengadukan kurang dari waktu yang ditetapkan
akan ditolak dan harus dibuang oleh kontraktor tanpa memperoleh
ganti rugi. Personil yang bertanggung jawab atas pelaksanaan operasi

takar aduk beton harus orang-orang yang terlatih dan berpengalaman


di dalam pembuatan beton dengan metoda ini.
7.8. Persiapan Fondasi Beton
Sebelum beton dicor kontraktor harus membersihkan seluruh permukaan
galian pondasi dari minyak, selaput-selaput yang tidak diinginkan, fragmen
batu yang lepas-lepas atau tidak utuh, tanah, lumpur dan air menggenang atau
mengalir sedemikian rupa sehingga memuaskan direksi dan demikian pula
kontraktor harus menjaga agar permukaan-permukaaan tetap bebas dari air
selama pengecoran berlangsung. Pengecoran sama sekali tidak boleh
dilaksanakan sebelum direksi memeriksa dan memberikan persetujuan
mengenai dasar pondasi itu. Apabila adukan beton dicor terhadap dinding
tanah atau material lainnya yang cenderung untuk jatuh atau longsoran,
tindakan-tindakan harus diambil untuk mencegah jatuhnya material tersebut ke
atas beton yang masih basah. Apabila terjadi kejatuhan bahan, maka semua
bagian beton yang terkena pengotoran harus dibuang dan diganti tanpa
memperoleh biaya tambahan. Sesaat sebelum beton di cor pada permukaan
batu, permukaan tersebut harus dibersihkan dengan teliti dengan
menggunakan semprotan air berkecepatan tinggi atau cara lain yang dapat
diterima oleh direksi. Kecuali ditetapkan lain oleh direksi, suatu adukan semen
kental harus disapukan ke atas permukaan yang telah bersih tersebut dengan
mempergunakan sebuah sapu yang kaku. Adukan tersebut harus memiliki
perbandingan pasir, semen dan jumlah bahan pembantu yang sama dengan
yang dimiliki oleh beton yang akan digunakan. Lapisan adukan semen di atas
tidak diperlukan apabila ada ketentuan untuk memasang lantai kerja beton
atau lapisan pelindung pondasi lainnya pada permukaan batu tersebut. Untuk
pondasi di atas tanah, pertama harus dipasang lantai kerja beton minimum
100 mm sebagai persiapan pengecoran beton pondasi, dan permukaan
atasnya harus dibuat kasar untuk menjamin ikatan dengan dasar pondasi
sebagaimana yang tercantum di dalam gambar.
Apabila beton harus dicor di atas bahan yang airnya selalu mengalir, maka
lapisan penghantar harus dipasang untuk mencegah adukan semen rterserap
keluar dari beton. Jenis-jenis dan ketentuan mengenai lapisan penghantar
akan dipertimbangkan, tetapi usulan kontraktor harus memperoleh persetujuan
dari konsultan terlebih dahulu.
Semua biaya yang dikeluarkan guna mempersiapkan pondasi untuk
pengecoran, terkecuali pemasangan lantai kerja beton pada tanah dasar lunak
seperti ditentukan di atas, harus sudah tercakup di dalam harga satuan beton
yang tercantum di dalam kontrak.
7.9. Pengecoran
Kontraktor harus mengecor dan merawat keras beton sesuai dengan cara-cara
yang tercantum di dalam ACI 318M-89 Chapter 5 dan syarat-syarat yang
tercantum di dalam PBI-1971-NI-2 serta syarat-syarat di dalam pasal ini.
7.9.1 Persetujuan
Direksi harus diberitahu mengenai pengecoran beton 48 jam sebelum
pekerjaan itu dimulai. Sebelum persetujuan akhir dari direksi diperoleh
maka dengan alasan apapun sama sekali tidak diperkenankan untuk
melaksanakan pengecoran. Semua ijin dan persetujuan pengecoran
harus tertulis dan ditanda-tangani oleh kontraktor dan pengawas.
7.9.2 Pengangkutan dan Pengecoran Beton

Pengecoran beton pada posisi akhirnya harus selesai dalam waktu


satu jam sejak air dicampurkan kepada semen dan agregat di instalasi
aduk takar. Pengecoran harus dilaksanakan sedemikian rupa
sehingga dapat dihindari penundaan pengecoran lapisan adukan baru
di atas lapisan sebelumnya. Suatu lapisan beton baru tidak boleh di
cor di atas lapisan di bawahnya sebelum lapisan di bawahnya berubah
menjadi plastik akibat penggetaran. Apabila penangguhan sudah
demikian lama sehingga syarat-syarat di atas tidak dapat dipenuhi lagi,
maka permukaan beton harus dianggap sebagai siar pelaksanaan.
7.9.3 Pemampatan/Pemadatan Beton
Semua pemadatan/pemampatan beton harus memenuhi prosedur dan
syarat-syarat yang tercantum di dalam pasal 6.4 PBI 1971-NI.2 semua
beton dimampatkan di tempat pengecoran dengan alat penggetar
(vibrator) yang dicelupkan ke dalam acuan dengan diameter yang
cocok disesuaikan dengan jarak antara dua tulangan sehingga alat
penggetar bisa masuk pada sela-selanya. Alat penggetar harus
mempunyai frekuensi yang tinggi dan paling rendah harus 85 getaran
per detik.
Selam pengecoran beton berlangsung, kontraktor harus menggunakan
alat penggetar paling sedikit dua buah. Disamping itu harus disediakan
pula satu unit alat penggetar sebagai cadangan sebelum dimulainya
pekerjaan. Penggetaran tidak boleh dilakukan untuk menghasilkan
pergerakan adukan ke arah horizontal (mendatar) tetapi harus
menghasilkan pemampatan arah vertikal. Pengawasan harus
diadakan untuk menjamin agar supaya daerah yang dimampatkan
saling bersambungan dan tidak ada bagian/daerah yang terlewatkan.
Penggetaran berjalan terus menerus dan ujung alat penggetar
dimasukkan ke dalam acuan secara pelan-pelan dan diangkat harus
secara pelan-pelan pula. Perpindahan alat penggetar tidak boleh
melampaui jarak 600 mm atau tidak boleh melebihi radius getaran
dimana acuan beton masih terkena penggetaran.
Tidak boleh dilakukan penggetaran dengan cara memukul bekisting
atau besi tulangan atau menempelkan alat penggetar pada dinding
bekisting atau besi tulangan dimana beton sudah mulai mengeras.
Penggunaan alat penggetar tidak boleh mengakibatkan rusaknya
permukaan bekisting bagian dalam dan perpindahan ataupun
rusaknya besi tulangan. Tidak diperkenankan penggetaran yang
berlebihan sehingga menimbulkan penggenangan air semen atau
daerah dimana terjadi pemisahan antara agregat dengan air semen.
Pencabutan tongkat getar harus dilaksanakan dengan pelan agar tidak
terjadi rongga di dalam adukan.
7.9.4 Pengecoran Beton di Bawah Permukaan Air
Pengecoran beton di bawah permukaan air hanya boleh dilakukan
apabila ada persetujuan dari direksi serta dilaksanakan di bawah
pengawasannya, dan dengan mempergunakan metoda-metoda yang
diuraikan berikut ini.
Untuk mencegah pemisahan adukan, beton harus dituangkan secara
hati-hati dengan talang atau pipa karet atau dengan bucket yang bisa
dibuka dan ditutup bagian bawahnya, atau dengan cara lain yang
disetujui, dan beton tidak boleh terganggu setelah di cor. Pengawasan
khusus harus diberikan untuk menjaga agar supaya air tidak mengalir

ke bagian beton yang telah mengendap. Beton harus diatur


sedemikian rupa sehingga dihasilkan permukaan beton yang
mendekati rata. Apabila digunakan corong pipa cor (talang), maka alat
tersebut harus terdiri atas tabung/pipa berdiameter tidak kurang dari
250 mm dengan tiap-tiap bagian dilengkapi dengan penyambung flens
dan gasket. Penyangga corong pipa cor harus sedemikian rupa
sehingga memungkinkan ujung pipa dapat bergerak dengan bebas di
atas seluruh permukaan yang di cor dan juga mungkin apabila
diperlukan dapat diturunkan dengan cepat untuk mengecilkan atau
menutup aliran adukan. Corong pipa cor harus diisi dengan cara
tertentu untuk mencegah tersapunya adukan beton oleh air. Ujung
curah/pipa harus senantiasa betul-betul terbenam ke dalam acuan
beton dan pipanya harus senantiasa berisi cukup banyak beton
sehingga dapat mencegah air masuk ke dalamnya.
Apabila beton di cor dengan mempergunakan bucket yang bagian
bawahnya bisa dibuka dan ditutup, penutup yang mudah dibuka.
Bucket harus diturunkan perlahan-lahan dan hati-hati sampai
menumpu di atas tanah dasar pondasi yang sudah disiapkan atau di
atas lapisan beton yang telah di cor. Bucket tersebut kemudian
diangkat perlahan sekali selama pencurahan, dengan tujuan untuk
menjaga agar supaya air tidak mengalir ke sekitar beton dan
mencegah adukan tidak berubah dari susunannya.
7.10. Perlindungan Terhadap Cuaca dan Perawatan Beton
Pengecoran tidak boleh dimulai apabila hujan lebat sedang turun atau akan
turun, dan seandainya hujan turun pada saat suatu pengecoran tengah
berlangsung, kontraktor harus melindungi pekerjaan beton terhadap hujan
sehingga dapat dicegah kerusakan pada adukan beton atau permukaan yang
baru selesai di cor, sedemikian rupa sehingga semen di dalam beton tidak
terganggu dan tidak dilarutkan oleh air hujan yang masuk. Apabila terjadi
keadaan cuaca semakin memburuk, maka direksi adalah satu-satunya orang
yang berhak memutuskan apakah pengecoran boleh diteruskan atau tidak.
Apabila pengecoran dilaksanakan pada keadaan cuaca panas, maka selama
masih mungkin pekerjaan harus dilindungi dari penyinaran langsung oleh
matahari dan dari pengeringan oleh angin. Pelindung terhadap hujan harus
dipasang di atas bangunan yang baru selesai di cor, agar perataan permukaan
dan penyelesaian akhir dapat dilaksanakan di tempat yang kering. Semua
beton yang baru selesai di cor harus dirawat keras dengan cara membuat
beton tersebut senantiasa basah selama paling sedikit 7 hari setelah
pengecoran.
7.11. Pengerjaan Akhir Permukaan Beton
Pengerjaan akhir permukaan beton seperti yang ditunjukkan dalam gambar
kerja atau yang ditetapkan khusus harus diartikan sebagaimana diuraikan di
bawah ini :
i. Permukaan Hasil Cetakan
Permukaan hasil cetakan adalah permukaan yang dibentuk dengan
mempergunakan bekisting beton. Ada dua jenis pengerjaan akhir
permukaan ini.
F1 - untuk permukaan yang akan kontak dengan aliran air atau terlihat
dari luar dimana ketidak-teraturan dan penyimpangan bentuk harus

dijaga sampai batas yang telah ditentukan.


F2 - untuk semua permukaan hasil cetakan lainnya
Ketidak-teraturan permukaan diklasifikasikan sebagai tiba-tiba atau
berangsur. Ketidak-teraturan yang tiba-tiba adalah termasuk tetapi tidak
terbatas pada penyimpangan sebagai akibat bergesernya atau kesalahan
menempatkan bekisting, atau karena adanya ikatan yang longgar pada
bekisting kayu, atau cacat lainnya pada bekisting, yang akan diuji dengan
pengukuran langsung. Ketidak-teraturan berangsur akan diukur dengan
sebuah template yang berupa sebuah mistar paling sedikit 1,5 meter.
Rongga-rongga kecil pada permukaan sebagai akibat kurangnya pasir
untuk mengisi lobang-lobang diantara kerikil (honeycombing) tidak
dianggap sebagai ketidak-teraturan.
Permukaan harus dibentuk dengan mempergunakan cetakan plywood
berperekat damar (resin) atau material lain yang telah disetujui. Ketidakteraturan
permukaan yang melebihi batas maksimum yang ditetapkan
harus dihaluskan dengan batangan karborandum atau piring atau roda
asah listrik. Ketidak-teraturan maksimum yang diijinkan adalah sebagai
berikut. Untuk F1 sebesar 5 mm dan 3 mm dan untuk F2 sebesar 8 mm
dan 5 mm dimana angka yang pertama adalah untuk berangsur dan yang
kedua untuk tiba-tiba.
ii. Permukaan Bukan Hasil Cetakan
Permukaan tanpa cetakan adalah permukaan-permukaan yang tidak
dibentuk dengan bekisting. Ada dua jenis pengerjaan akhir pada
permukaan tanpa cetakan :
U1 - pengerjaan akhir halus/licin untuk permukaan-permukaan yang akan
berhubungan dengan air yang mengalir atau terlihat dari luar
dimana ketidak-teraturan dan penyimpangan bentuk harus dijaga
agar tidak melampaui batas yang telah ditentukan.
U2 - pengerjaan akhir kasar untuk permukaan tanpa cetakan yang
lainnya.
Pengerjaan akhir kasar akan berupa meratakan permukaan beton sehingga
diperoleh suatu permukaan yang seragam dan rata dengan tercantum di
dalam gambar kerja atau ketetapan lainnya. Ketidak-teraturan permukaan
tidak boleh tampak mengurangi sifat-sifat struktur dari bangunan dan
kelebihan adukan beton dapat dibuang dengan menggunakan template.
Pekerjaan akhir halus terdiri dari pertama-tama adalah menyiapkan suatu
pekerjaan akhir kasar dan kemudian permukaan itu digosok-gosok sambil
ditekan dengan mempergunakan sendok baja atau kayu yang bagian
bawahnya licin. Pengerjaan akhir kasar tersebut kelihatan mulai mengeras
dan harus dikerjakan sedemikian rupa sehingga menghasilkan suatu
permukaan yang bebas dari cacat-cacat dan seragam dalam
penampilannya.
Ketidak teraturan maksimum yang diijinkan untuk pengerjaan akhir halus
U1 adalah sama denga untuk pengerjaan akhir F1 di atas.
7.12. Perbaikan Beton
Semua ketidak sempurnaan permukaan beton harus diperbaiki sesuai dengan
ketentuan direksi. Perbaikan pada beton hasil cetakan harus diselesaikan
dalam waktu 24 jam setelah bekisting dibuka. Semua pekerjaan perbaikan
harus dilaksanakan sedemikian rupa sehingga pelindung atau proses
perkerasan dari beton-beton di sekitarnya tidak terganggu. Beton yang rusak,

keropos (honeycombed), pecah atau kerusakan-kerusakan lainnya dan beton


yang dikarenakan permukaannya mengalami penurunan melebihi batas-batas
terpaksa harus dibongkar dan dibangun kembali hingga permukaan tersebut
mencapai ketinggian yang ditentukan, harus dibongkar dan diganti dengan
adukan atau beton sebagai yang ditetapkan oleh direksi.
8. PEKERJAAN PENULANGAN BETON
8.1. Bahan
Semua tulangan beton harus berupa tulangan ulir untuk diameter > 12 mm
dengan tegangan leleh minimum 4000 kg/cm2 dan tulangan polos untuk
diameter 12 mm dengan tegangan leleh minimum 2400 kg/cm2 kecuali
ditetapkan lain pada gambar kerja dan harus sesuai dengan ASTM A.615-72
atau PBI-1971NI.2.
Semua tulangan anyam yang dibuat dari kawat baja yang dilas harus
memenuhi persyaratan yang tercantum di dalam ASTM A. 185-79.
Salinan sertifikat uji harus diserahkan kepada Konsultan pada pengangutan
setiap jumlah tulangan ke tempat kerja. Sertifikat ini harus menunjukkan
bahwa bahan-bahan tersebut secara keseluruhan telah memenuhi semua
standar-standar di atas dan sertifikat itu harus dikeluarkan oleh suatu
laboratorium yang independen yang telah disetujui oleh Konsultan.
8.2. Fabrikasi
Semua tulangan beton harus dipotong dan dibengkokkan sesuai dengan
panjang dan bentuk yang telah ditetapkan pada gambar kerja. Kontraktor
harus menyiapkan sendiri jadwal dan gambar-gambar pembengkokkan
tulangan dan menyerahkannya kepada Konsultan 28 hari sebelum tulangan
beton tersebut di fabrikasi untuk memperoleh persetujuannya. Semua
pembengkokkan harus memenuhi syarat-syarat yang tercantum pada ACI
318M-89, Pasal 7 atau PBI 1971-NI.2, Pasal 5 ayat 5,4; 8.2 dan setelah
difabrikasi, besi-besi tulangan harus diberi tanda yang jelas atau nomor-nomor
yaitu berupa tanda-tanda tulangan yang sesuai dengan yang tercantum pada
jadwal dan gambar-gambar pembengkokkan.
8.3. Penyimpanan
Tulangan baja harus ditangani dengan hati-hati dan ditumpuk di atas
penyangga hingga terletak cukup jauh di atas tanah. Tulangan-tulangan itu
juga harus dijaga agar tidak dicemari oleh kotoran-kotoran, lumpur, minyak,
cat dan lain-lain, dan harus bebas dari karat yang lepas-lepas, berkepingkeping
atau lunak.
8.4. Pemasangan dan Pengikatan
Semua tulangan harus dipasang sesuai dengan gambar kerja dan syaratsyarat
yang tercantum di dalam ACI 318M-89 Pasal 7 atau PBI 1971-NI.2
Pasal 5.5 dan 5.6.
Sebagai tambahan pada Pasal 7.3 ACI 318M-89, maka untuk menempatkan
tulangan dengan tepat harus ditempuh cara-cara sebagai berikut :
a) Dudukan plastic buatan pabrik yang sesuai untuk diameter batang
tulangan dan penutup betonnya, di bawah semua tulangan bawah pelat
beton dan pada semua dinding.
b) Blok dan pengatur selimut luar dengan ukuran yang sesuai dengan
penutup beton yang ditentukan di bawah semua tulangan balok. Blok-blok

beton ini harus dibuat dari beton yang pada usia 28 hari mempunyai kuat
tekan kubus paling kecil 20 MPa dan mempunyai bentuk sedemikian rupa
sehingga dapat dijamin kestabilannya sewaktu pelaksanaan pengecoran
beton.
c) Dudukan dan pengatur jarak diantara tulangan atas dan bawah pelat
beton dan diantara dua lapisan tulangan pada dinding-dinding. Bendabenda
ini harus difabrikasi dari tulangan polos bulat berdiameter minimum
6 mm dan dibentuk sedemikian rupa sehingga benda-benda tersebut
tidak akan bergeser sewaktu beton dicor.
d) Dudukan harus dibuat sedemikian rupa sehingga sesuai dengan penutup
beton tulangan yang dimaksud, untuk menyangga tulangan atas pelat
beton. Benda-benda ini harus difabrikasi seperti pada butir c di atas.
Pengaturan jarak antar dudukan tulangan dengan cara di atas harus
didasarkan ukuran dan jarak tulangan tetapi di dalam keadaan apapun harua
mampu menyangga dengan kaku tulangan-tulangan tersebut dan pengaturan
jarak ke segala jurusan tidak boleh lebih dari 1200 mm.
Dengan alasan apapun selama pengecoran berlangsung, pekerja-pekerja
tidak boleh menggeser tulangan dari posisinya. Untuk mencegah terjadinya
peristiwa itu, kontrktor harus memasang papan-papan dan penyanggapenyangga
untuk membuat lantai untuk berpijak pekerja (perancah) yang
berdiri bebas dari tulangan-tulangan beton.
Apabila Kontraktor bermaksud menambah jumlah sambungan pada tulangan
maka sambungan-sambungan ini harus memenuhi syarat-syarat yang
tercantum dalam Pasal 7 dari ACI 318M-89 atau PBI 1971-NI.2 Pasal 8.12
dan 8.13. kontraktor harus mendokumentasikan posisi dan detail-detail
sambungan tersebut dan menyerahkannya kepada Konsultan untuk disetujui.
Fabrikasi untuk perubahan-perubahan di atas tidak boleh dimulai sebelum ada
persetujuan tertulis dari Konsultan.
9. PASANGAN BATU
9.1. Umum
Pasangan batu akan digunakan dalam pembangunan berbagai bangunan dan
pendukungnya yang mencakup namum tidak terbatas kepada, bangunan
hidraulik, pelapis saluran dan bangunan pelindung, saluran drainase, dinding
penahan (retaining wall), penahan lereng, pondasi untuk bangunan, pembatas
jalan, dan lain sebagainya. Semua pekerjaan pasangan batu harus
dilaksanakan berdasarkan persyaratan yang tersebut dalam bab ini, dan juga
kepada persyaratan garis, level, gradasi dan dimensi sebagaimana yang
ditentukan dalam Gambar maupun yang disyartkan oleh Direksi.
Bahan dan metode konstruksi untuk pasangan batu harus memenuhi Standar
yang disebutkan dalam bab ini Spesifikasi Umum. Peraturan Indonesia yng
berlaku untuk material adalah N.I 13 (Batu Belah) dan PUBI-1982 (Peraturan
Umum Bahan Bangunan di Indonesia). Selain itu spesifikasi juga harus
mengacu kepada Standar Perencanaan Irigasi yang diterbitkan oleh Dirjen
Pengairan, Departemen Pemukiman dan Pengembangan Prasarana Wilayah,
Republik Indonesia.
9.2. Material Pasangan Batu
Material yang harus digunakan dalam pasangan batu adalah sebagai berikut :
1. Batu
Batu pasangan harus berasal dari batuan sungai maupun hasil

pemecahan sebagaimana yang disetujui oleh Direksi, tidak saling melekat


satu sama lainnya dan tidak memiliki cacat lainnya. Batu harus memiliki
spesifikasi gravity tidak kurang 2.5. Batu pasangan harus terdiri dari
ukuran yang beragam, dipasang dengan bantuan pemukulan dengan palu
sehingga saling berdekatan dan tidak ada siar besar diantaranya. Setiap
batu harus memiliki berat antara 6 hingga 25 kg. batu yang lebih kecil
dapat digunakan, namun harus memperoleh persetujuan dari Direksi
terlebih dahulu. Ukuran maksimum batu harus dibatasi hingga 2/3
ketebalan pelat atau dinding yang akan dibangun. Atau tidak boleh lebih
besar dari pada 30 cm. Kecuali diizinkan oleh Direksi, penggunaan batu
bulat, hanya diizinkan dalam jumlah yang terbatas dengan pencampuran
dengan batu bersudut, dan tidak boleh digunakan untuk dinding dengan
ketebalan kurang dari 40 cm. Batu pasangan yang disimpan di lokasi
proyek harus dijaga agar pada saat akan dipasang berada dalam
keadaan basah.
2. Adukan Semen Untuk Perekat
Adukan semen untuk perekatan pasangan batu harus terdiri dari
campuran semen Portland dan aggregate/pasir halus yang sesuai dengan
persyaratan bahan. Tiga jenis adukan yang akan digunkan sebagaimana
tercantum dalam Gambar maupun atas arahan, Direksi, adalah seperti
berikut :
1 bagian semen dengan 2 bagian aggregate/pasir halus untuk
bangunan berkekuatan tinggi.
1 bagian semen dengan 3 bagian aggregate/pasir halus untuk
pasangan batu yang terkena aliran air.
1 bagian semen dengan 4 bagian aggregate/pasir halus untuk
pasangan batu pondasi dan bangunan yang tidak terkena aliran
aliran air.
Adukan harus dicampur dengan air secukupnya hingga menghasilkan
adukan yang konsisten.
9.3. Pemasangan dan Penyusunan Batu
Sebelum dipasang, batu harus dibersihkan secara menyeluruh terhadap
kotoran tanah, pasir, dan kotoran lainnya. Selain itu batu juga harus dipasang
dalam keadaan basah. Dala pemasangan, batu harus ditata dengan tangan
sedemikian rupa sehingga permukaan rata dari batu, tegak lurus terhadap
arah tegangan utama dan seluruh adukan semen melekat di seluruh
pertemuan permukaan batu. Penataan lebih lanjut dilakukan dengan
pemukulan palu baja. Apablia pemukulan ini menimbulkan kerusakan pada
batu, maka batu tersebut harus diambil, dibersihkan dan dipasang kembali
dengan adukan semen baru. Setiap celah pertemuan batu harus dipenuhi
dengan adukan. Harus diyakinkan pula bahwa seluruh permukaan batu
terlapisi oleh adukan semen. Jarak siar antar batu tidak boleh kurang dari 10
milimeter dan tidak boleh lebih dari 50 milimeter dan tidak diperbolehkan
adanya permukaan batu yang bersentuhan langsung dengan batu lainya.
Ukuran dan distribusi batu harus sedemikian rupa sehingga dapat diperoleh
penyediaan volume adukan semen yang se-sedikit mungkin. Pemasangan
batu harus dilakukan berselang-seling sehingga setiap titik pertemuan batu

memiliki arah vertical dan horizontal. Harus dihindarkan pula adanya bidang
pertemuan batu yang lurus horizontal dan sambung menyambung.
10. PLESTERAN
10.1. Umum
Pekerjaan plesteran akan dilaksanakan pada setiap permukaan konstruksi
yang baru selesai dibangun dan bagian-bagian lain yang dianggap perlu
dilaksanakan.
10.2. Bahan-bahan
Semen yang akan digunakan yang bermutu baik dan pasir yang akan dipakai
pasir yang tidak tercampur.
10.3. Adukan Semen
Adukan semen harus terdiri dari campuran semen Portland dan
aggregate/pasir halus yang sesuai dengan persyaratan bahan. Dua jenis
adukan yang akan digunakan sebagaimana tercantum dalam Gambar
maupun atas arahan Direksi, adalah seperti berikut :
1 bagian semen dengan 2 bagian aggregate/pasir halus untuk pasangan
yang terkena aliran air.
1 bagian semen dengan 3 bagian aggregate/pasir halus untuk pasangan
yang tidak terkena aliran aliran air.
Adukan harus dicampur dengan air secukupnya hingga menghasilkan adukan
yang konsisten dengan ketebalan sesuai gambar rencana.
10.4. Pelaksanaan
Pekerjaan ini akan dilaksanakan dalam 2 lapisan, lapisan 1 yaitu dilaksanakan
plesteran sesuai spesifikasi di atas dan lapisan 2 akan dilakukan dengan
adukan aci yang mempunyai kekentalan yang memenuhi syarat. Sebelum
pekerjaan ini dilaksanakan terlebih dahulu permukaan yang akan diplester
akan dibuat kasar dan bersih atau ditentukan lain oleh Direksi.
11. PASANGAN BATU KOSONG
11.1. Umum
Jika disyaratkan dalam gambar atau ditunjukkan oleh Direksi, pada saluran
buang, saluran air dan permukaan lereng harus diberikan pasangan batu
kosong berdasarkan persyaratan berikut ini. Pasangan batu kosong harus
secara umum ditata dengan tangan dengan menggunakan peralatan ringan
seperlunya untuk penyediaan dan penanganan material, dan harus berupa
satu lapis batu-batu padat dengan ukuran yang kira-kira seragam. Pasangan
batu kosong harus berjenis pekerjaan batu kosong yang tidak saling melekat,
yang dalam spesifikasi ini disebut dengan pasangan batu kosong kering (dry
stone pitching), atau jenis pekerjaan batu pasangan dengan adukan semen
yang akan disebut dengan pasangan batu kosong dengan adukan (mortared
stone pitching).
11.2. Material
Material yang harus digunakan dalam pasangan batu adalah sebagai berikut :
1. Batu pasangan harus berasal dari batuan sungai maupun hasil
pemecahan sebagaimana yang disetujui oleh direksi, tidak saling melekat

satu sama lainnya dan tidak memiliki cacat lainnya.


2. Batu harus memiliki spesifik gravitiy tidak kurang dari 2,5.
3. Batu pasangan harus terdiri dari ukuran yang beragam, dipasang dengan
bantuan pemukulan dengan palu sehingga saling berdekatan dan tidak
ada siar besar diantaranya. Setiap batu harus memiliki berat antara 6
hingga 25 kg. batu yang lebih kecil dapat digunakan, namun harus
memperoleh persetujuan dari direksi terlebih dahulu. Ukuran maksimum
batu harus dibatasi hingga 2/3 ketebalan pelat atau dinding yang akan
dibangun, atau tidak boleh lebih besar dari 30 cm. kecuali diizinkan oleh
direksi, penggunaan batu bulat, hanya diizinkan dalam jumlah yang
terbatas dengan pencampuran dengan batu bersudut, dan tidak boleh
digunakan untuk dinding ketebalan kurang dari 40 cm.
4. Batu pasangan yang disimpan di lokasi proyek harus dijaga agar pada
saat akan dipasang berada dalam keadaan basah.
11.3. Persiapan Penataan Pasangan Batu Kosong
Kontraktor harus mempersiapkan penataan pasangan batu kosong dengan
merapikan muka galian dengan baik hingga diperoleh level dan ukuran yang
disyaratkan segaimana dalam gambar atau yang ditunjukkan oleh direksi.
Semua batu lepas dan lunak harus disingkirkan dan galian yang melewati
kedalaman yang diinginkan harus ditimbun kembali dengan material pengisi
yang dipadatkan sesuai dengan persetujuan atau petunjuk direksi.
Satu lapis lantai kerja dari pasir yang dipadatkan atau material filter drainase
yang bergradasi, harus dipasang dengan ketebalan menurut gambar atau
yang ditunjukkan oleh direksi, untuk memberikan permukaan rata yang
paralel dengan permukaan pasangan batu kosong. Kecuali ditentukan lain
pada gambar atau yang ditunjukkan oleh direksi, lapis lantai kerja harus
dipasang berdasarkan petunjuk seperti yang telah tersebut dalam ayat
13.2.10 timbunan kembali dan lantai kerja.
12. BATU LINDUNG RIP-RAP
12.1. Umum
Jika ditunjukkan pada gambar atau oleh direksi, kontraktor harus
menyediakan dan memasang batu lindung rip-rap pada saluran air, saluran
buang, gorong-gorong, bangunan hidrolis, sumber air yang telah ada dan
permukaan lereng dengan mengikuti persyaratan di bawah ini. Untuk
kebutuhan pelaksanaan, pengukuran dan pembayaran, batu lindung rip-rap
sebagaimana dalam persyaratan berikut ini harus digolongkan sebagai
pekerjaan yang terpisah dan dibedakan dari pekerjaan batu bongkah pada
selimut bendungan.
Batu lindung terdiri dari dua kategori :
1. Batu lindung rip-rap type A
Batu lindung rip-rap type A digunakan pada pekerjaan perlindungan pada
sungai besar dan kecil yang ada, jembatan, gorong-gorong, keluaran
saluran, dan pekerjaan serupa lainnya pada sungai atau yang berbatasan
dengan sungai. Material yang digunakan untuk batu lindung ripa-rap type
A harus berupa batu sungai alami dan batu-batu besar yang tersedia di
lokasi bendungan atau dari sungai yang terdekat.
2. Batu lindung rip-rap type B
Batu lindung rip-rap type B digunakan pada pekerjaan perlindungan pada
saluran, saluran buang, dan struktur lainnya yang berhubungan, serta

perlindungan lereng. Material yang digunakan untuk batu lindung type B


harus berupa batu bersudut hasil penambangan atau hasil pemecahan
batu-batu besar.
12.2. Material
Material untuk batu lindung rip-rap harus terdiri dari campuran partikel dengan
ukuran yang bergradasi, keras, padat dan dapat tahan lama. Ukuran partikel
maksimum dan minimum harus berdasarkan persyaratan pada gambar atau
sesuai dengan petunjuk direksi namun secara umum ukurannya harus berada
diantara 100 mm dan 600 mm. Kecuali ditentukan lain dalam gambar atau
oleh direksi, kisaran ukruan partikel harus berdasarkan pada ketebalan
lapisan sedemikian rupa sehingga ukuran partikel minimun tidak melebihi 1/3
ketebalan lapisan dan ukuran partikel maksimum tidak melebihi ketebalan
lapisan. Material harus cukup bergradasi diantara ukuran maksimum dan
minimum. Jumlah total dari material halus pada batu lindung rip-rap termasuk
lempung, lanau, pasir atau serpihan batu yang diizinkan adalah tidak melebihi
5% dari volumenya. Seluruh material dan sumbernya untuk batu lindung riprap
harus mendapatkan persetujuan Direksi.
12.3. Persiapan Muka Dasar untuk Batu Lindung Rip-Rap
1. Dasar Galian dan Timbunan
Pada dasar galian dan dasar timbunan dimana akan ditempatkan batu
lindung rip-rap, kontraktor harus melakukan persiapan dengan meratakan
hingga dicapai garis level dan ukuran sebagaimana yang disyaratkan
pada Gambar atau sesuai petunjuk Direksi. Semua material urai dan
lunak harus disingkirkan dan kelebihan galian atau penurunan dasar
galian harus ditimbun kembali dengan material pengisi yang dipadatkan
sebagaimana petunjuk atau persetujuan Direksi.
Satu lapis lantai kerja dari pasir yang dipadatkan atau material filter
drainase yang bergradasi harus disediakan dan dipasang hingga
ketebalan seperti yang ditunjukkan pada Gambar atau oleh Direksi.
Kecuali ditunjukkan lain dalam Gambar atau Direksi, lapisan lantai kerja
atau lapisan filter tersebut harus dipasang berdasarkan petunjuk
pemasangan lantai kerja dan/atau lapisan drainase pada pekerjaan
pasangan batu sebagaimana yang telah disyaratkan dalam bab ini.
2. Sungai Besar dan Sungai Kecil Yang Telah ada di Lapangan
Pada kasus dimana batu lindung Rip-Rap akan dipasang di atas endapan
batu-batu besar, kerikil, pasir atau tanah yang stabil pada sungai besar
dan kecil yang ada, penyiapan dan pemasangan filter lantai kerja dapat
diabaiakan namun harus mendapatkan persetujuan Direksi, dengan
catatan bahwa Direksi tetap berhak untuk mengistruksikan penyingkiran
endapan tanah, lanau, pasir halus dan material lainnya yang menurut
penilaiannya harus dilakukan dan untuk menginstruksikan penyebaran
material endapan tersebut secukupnya untuk mendapatkan permukaan
yang cukup rata untuk penempatan batu rip-rap. Dengan persetujuan
Direksi, dan jika diperlukan, pekerjaan ini dapat dilakukan dalam keadaan
basah dengan menggunakan peralatan mekanis yang sesuai atau dengan
cara manual.

12.4. Penempatan Batu Lindung Rip-Rap


Batu lindung rip-rap dapat ditempatkan dengan cara penempatan manual
dengan peralatan mekanis, yang sesuai untuk ketebalan dan luas lapisan batu
lindung rip-rap yang akan dipasang, dan sesuai untuk ukuran dan gradasi
material yang akan ditangani.
Batu lindung rip-rap harus ditempatkan atau dijatuhkan dengan cara yang
akan menjamin bahwa material akan stabil di tempatnya dengan ketebalan
yang disyaratkan, dan bergradasi dengan baik sehingga tidak ada celah besar
yang tidak berisi.
Pada kondisi batu lindung rip-rap Type A akan ditempatkan pada endapan
kerikil atau yang serupa pada sungai alami yang ada, jika diperlukan dan atas
persetujuan Direksi, pekerjaan pemasangan dapat dilakukan dalam keadaan
basah dengan menggunakan peralatan mekanis yang sesuai atau dengan
cara manual.
Jika ditunjukkan dalam Gambar atau oleh Direksi, pada permukaan batu
lindung rip-rap yang ditempatkan secara manual harus dipasang batu-batu
dengan ukuran yang lebih besar dan seragam, dan ditempatkan secara
manual dengan tangan untuk mendapatkan permukaan luar yang cukup rapat.
13. LUBANG DRAINASE DAN LUBANG CUCURAN
13.1. Umum
Lubang drainase dan lubang cucuran harus dibentuk di bangunan beton dan
pasangan batu atau dibor melalui bangunan beton dan/atau batuan.
Lubang drainase dan lubang cucuran harus tersedia pada dinding beton dan
pasangan batu, bangunan penahan, pelapis saluran seperti dan dimana
ditunjukkan pada Gambar, diminta sesuai dengan Spesifikasi atau yang
diperintahkan oleh Direksi.
Lubang drainase juga harus dib or pada lereng galian batu dan pondasi
dimana ditunjukkan pada Gambar atau diperintahkan oleh Direksi.
13.2. Pengerjaan dan Bahan-bahan
Apabila lubang drainase disediakan pada bangunan beton atau pasangan
batu maka lubang tersebut harus dibentuk, selama pengecoran beton atau
pengerjaan pasangan batu, dengan pipa PVC berdiameter 50 mm atau
berdiameter lain seperti ditunjukkan pada Gambar atau diperintahkan oleh
Direksi.
Kecuali jika ditunjukkan lain pada Gambar atau diperintahkan oleh Direksi,
pada lubang drainase dan lubang cucuran pada beton dan pasangan batu
harus disediakan sebuah kantong penyaring di belakang bagian bangunan
tersebut. Kantong penyaring tersebut harus terbuat dari batu pecah dan gravel
terpilih yang bergradasi baik untuk mencegah hilangnya lantai kerja dan/atau
bahan-bahan pondasi dan tertahan pada tempatnya oleh lapisan penyaring
yang berupa bahan sintesis geotekstil atau yang sejenis yang ditunjukkan
pada Gambar atau disetujui oleh Direksi. Ijuk atau bahan organic sejenis tidak
boleh dipakai sebagai bahan penyaring untuk pekerjaan permanen, kecuali
jika disetujui atau diperintahkan lain oleh Direksi.
14. PASANGAN BRONJONG ANYAM
14.1. Umum
Jika ditunjukkan pada Gambar atau oleh Direksi, Kontraktor harus
menyediakan dan memasang bronjong pada tempat-tempat sebagaimana

yang telah ditentukan dalam gambar rencana dengan mengikuti persyaratan


dibawah ini.
14.2. Material
Kawat yang dipakai untuk pekerjaan dengan diameter 4 mm.
Ukuran batu minimum adalah 16 cm dengan bentuk dan ukuran batu
yang seragam sehingga dapat ditahan oleh saringan kawat bronjong.
Batu isian akan dipergunakan batu yang keras tidak mudah rusak dan
pecah oleh air.
14.3. Pelaksanaan
Pekerjaan bronjong akan dilaksanakan dengan tahap awal melilit kawat dililit
3 kali dan akan membentuk segi enam dengan jarak sisi-sisinya 7,5 cm.
Setelah selesai mengerjakan kawat tersebut, maka akan dilanjutkan secara
cermat sehingga memperkecil rongga diantara batu.
15. PASANGAN BRONJONG PABRIKASI
15.1. Umum
Jika ditunjukkan pada Gambar atau oleh Direksi, Kontraktor harus
menyediakan dan memasang bronjong pada tempat-tempat sebagaimana
yang telah ditentukan dalam gambar rencana dengan mengikuti persyaratan
dibawah ini. Pekerjaan bronjong fabrikasi meliputi pekerjaan : penyediaan,
pengangkutan dan pemasangan kawat bronjong yang diisi dengan batu
gunung seperti yang ditunjuk pada gambar rencana.
15.2. Material
Bahan Kawat yang bronjong terbuat dari bahan galvanis berdiameter 3
mm yang mempunyai fleksibilitas yang tinggi sesuai dengan spesifikasi
Standar Indonesia.
Ukuran batu minimum adalah 12 - 16 cm dengan bentuk dan ukuran
batu yang seragam sehingga dapat ditahan oleh saringan kawat
bronjong. Batu isian akan dipergunakan batu yang keras tidak mudah
rusak dan pecah oleh air.
15.3. Pelaksanaan
Kawat tersebut telah dianyam sedemikian rupa dari pabrik dengan ukuran
sesuai dengan kebutuhan di lapangan dengan isian batu sebanyak 1 M3.
Sebelum pengisian batu, maka kawat bronjong akan ditegakkan sampai
dengan bentuk yang diinginkan dan pada saat pengisian batu akan dilakukan
dari bagian bawah bronjong sampai penuh dan kemudian ditutup. Setiap
bronjong akan dihubungkan dengan ikatan yang didekatnya, hal ini dilakukan
agar bronjong menjadi kokoh dalam kedudukannya.
16. PENGADAAN PINTU
Pekerjaan ini terdiri dari persiapan, penyediaan, pemasangan dan pemeliharaan
pintu air. Untuk type dan ukuran serta pemasangan akan dilaksanakan sesuai
spesifikasi teknis pekerjaan ini. Semua pintu akan dibuat di pabrik/benkel yang
khusus dan ahli dalam pekerjaan tersebut setelah pabrik/bengkel mendapat
persetujuan Direksi.

16.1 Pintu Klep Fiber Resin


Pintu Klep Fiber Resin terbuat dari bahan Fiber Resin. Ketebalan fiber resin
+ 4 cm. Untuk rangka yang masuk ke dalam sponing pilar dibuat dari besi T
yang dilapisi fiber resin. Setiap lapisan fiber resin harus dilapisi dengan mat
(bahan penguat fiber resin). Sebelum dipasang, pintu klep harus di uji coba
di lapangan, sehingga pintu klep tidak mengapung saat diletakkan dalam air.
Sebagai bahan pemberat, pintu klep diisi air yang dimasukkan melalui kran
yang terbuat dari bahan PVC.
16.2 Pintu Ulir
Untuk pintu ulir pada bangunan air, harus terbuat dari besi baja dengan
ketebalan 4 mm. Sebelum dipasang, pintu harus sudah mendapat
persetujuan dari pihak direksi.
17. PEKERJAAN PENGAMAN PANTAI (REVETMENT)
17.1. Cakupan Pekerjaan
Pekerjaan yang mencakup dalam Bab ini dengan judul di atas meliputi semua
pengaman pantai dan pekerjaan yang terkait merupakan permanen atau
diperlukan dalam kaitannya dengan pekerjaan permanen yang tidak secara
khusus diuraikan dalam Bab lain dalam Spesifikasi Teknis ini.
Pekerjaan ini meliputi :
1. Pekerjaan Tanah
Galian Tanah Berlumpur
Galian Tanah Berpasir
Timbunan Tanah Didatangkan
2. Pekerjaan Revetment
Pemasangan Filter Cloth/Geotextile
Pemasangan Batu 5 50 Kg
Pemasangan Batu 250 1000 Kg
17.2. Bahan
Batu berukuran 5 s/d 50 Kg yaitu batu yang keras tidak mudah rusak dan
pecah oleh air.
Batu berukuran 250 10000 Kg yaitu batu yang keras tidak mudah rusak
dan pecah oleh air.
Geotextile Non Woven
17.3. Pelaksanaan
a. Galian Tanah Berlumpur
Penggalian ini akan dilaksanakan untuk perapihan tanah asli guna
meletakkan batu akan dikerjakan sepanjang jalur rencana pembuatan
tanggul. Sebelum penggalian dilaksanakan terlebih dahulu dilakukan
pengukuran memanjang dan melintang guna mendapatkan titik-titik dasar
elevasi yang akurat. Semua galian akan dikerjakan sesuai dengan
persyaratan yang telah ditentukan dalam spesifikasi serta mencapai garisgaris
yng ditunjukkan pada gambar rencana atau ditentukan lain oleh

Direksi dengan menggunakan tenaga manusia. Semua lubang


penggalian akan ditutup kembali sedemikian rupa sehingga terlihat rapi.
Tanah hasil dari penggalian yang tidak disetujui oleh Direksi untuk bahan
timbunan akan dibuang/diangkut ke tempat pembuangan yang telah
disetujui oleh Direksi.
b. Galian Tanah Berpasir
Penggalian ini akan dilaksanakan untuk pembuatan pondasi batu gunung.
Daerah galian akan dikerjakan sepanjang jalur rencana pembuatan
tanggul. Sebelum penggalian dilaksanakan terlebih dahulu dilakukan
pengukuran memanjang dan melintang guna mendapatkan titik-titik dasar
elevasi yang akurat. Semua galian akan dikerjakan sesuai dengan
persyaratan yang telah ditentukan dalam spesifikasi serta mencapai garisgaris
yng ditunjukkan pada gambar rencana atau ditentukan lain oleh
Direksi dengan menggunakan tenaga manusia. Semua lubang
penggalian akan ditutup kembali sedemikian rupa sehingga terlihat rapi.
Tanah hasil dari penggalian yang tidak disetujui oleh Direksi untuk bahan
timbunan akan dibuang/diangkut ke tempat pembuangan yang telah
disetujui oleh Direksi.
c. Timbunan Tanah Didatangkan
Timbunan pada pekerjaan ini harus dikerjakan oleh kontraktor sesuai
dengan ketentuan terkait dari penjelasan di atas. Kecuali secara spesifik
disetujui atau diperintahkan lain oleh Direksi.
d. Pemasangan Filter Cloth/Geotextile
Pemasangan lapisan geotextile akan dilaksanakan pada lapisan bawah
dan belakang tumpukan batu guna mengamankan konstruksi tumpukan
batu yang terletak di atas pasir atau di tempat-tempat lain yang diperlukan
sesuai petunjuk Direksi. Material yang akan digunakan adalah geotextile
jenis polythlene yang merupakan lapisan selimut tipis, sehingga
memberikan perlindungan terhadap tumpukan batu agar menghindari
terjadinya penurunan dan keruntuhan. Pemakaian geotextile
menggunakan spesifikasi dari pabrik yang sesuai dengan standar industry
Metode Pemasangan Geotextile :
1. Tahap awal yang akan dilaksanakan adalah menyiapkan lahan,
singkirkan benda tajam seperti tunggul pohon, sisa-sisa akar pohon
yang mengakibatkan tertusuknya geotextile.
2. Melakukan pengukuran ulang untuk mengetahui apakah elevasi
tanah asli sesuai dengan elevasi rencana dasar tumpukan batu.
3. Sebelum geotextile digelar terlebih dahulu dianyam dan dijahit
dengan mempergunakan benang nilon dan jarum jahit tangan sesuai
dengan lebar kebutuhan yang akan dipasang/digelar.
4. Setelah geotextile digelar pada sisi luar dipasang pancang pasak
bamboo untuk menghindari geotextile tergulung/terlipat.
5. Pelaksanaan sambungan geotextile akan dikerjakan sedemikin rupa
sehingga tetap merata ketebalannya sehingga fungsi geotextile
sebagai saringan masih tetap terjaga.
e. Pemasangan Batu 5 50 Kg
Setelah pekerjaan galian tanah dilaksanakan sesuai kemiringan
permukaan untuk penempatan susunan batu selanjutnya akan
dipasang/disusun batu dengan berat 5 50 kg (batu Sekunder) mulai dari
lapisan dasar hingga mencapai elevasi yang ditentukan dalam gambar
rencana dengan menggunakan excavator. Pekerjaan ini dilaksanakan

pada lapisaan pertama. Pemasangan batu ini akan diatur sisi batu yang
satu dengan yang lainnya serapat mungkin dengan memperkecil ronggarongga
antara batu tersebut sehingga tumpukan batu menjadi kokoh
terhadap pengaruh gelombang.
f. Pemasangan Batu 250 1000 Kg
Setelah batu 5 50 kg (Batu sekunder) mencapai elevasi yang ditentukan
kemudian akan dilanjutkan dengan penyusunan batu dengan berat 250
1000 kg (batu primer) sabagai batu pengunci dengan menggunakan alat
excavator. Pemasangan batu ini akan diatur sisi batu yang satu dengan
yang lainnya serapat mungkin dengan memperkecil rongga-rongga antara
batu tersebut sehingga tumpukan batu menjadi kokoh terhadap pengaruh
gelombang.
18. DOKUMENTASI
Kontraktor harus mengadakan dan menyerahkan kepada Proyek photo-photo
dokumentasi pelaksanaan pekerjaan dalam keadaan lengkap beserta negatifnya.
Photo-photo tersebut harus dibuat pada setiap keadaan/tahapan pekerjaan dengan
tempat/posisi pengambilan yang tetap, yaitu :
1. Satu keadaan pada saat pekerjaan belum dimulai (kondisi 0%)
2. Satu keadaan pada saat pekerjaan sedang dikerjakan (kondisi 50%)
3. Satu keadaan pada saat pekerjaan telah selesai dikerjakan (kondisi 100%)
19. PENGUKURAN AWAL (MC-0) DAN AS BUILT DRAWING (MC-100)
1. Kontraktor harus segera melakukan pengukuran awal (MC-0) segera setelah
menerima Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK). Sebelum membuat rencana
design, kontraktor harus mendiskusikan hasil pengukuran dengan pihak direksi
dan konsultan pengawas.
2. Sebelum melaksanakan pekerjaan, gambar MC-0 harus sudah disetujui oleh
Pihak Direksi.
3. Kontraktor harus melakukan pengukuran untuk as built drawing, meliputi
pengukuran memanjang dan melintang pada kondisi pelaksanaan pekerjaan
100%. Hasil pengukuran digambar pada kertas ukuran A1 dan digunakan
sebagai dasar untuk menghitung MC-100.
4. Pengukuran untuk as built drawing harus sudah mulai dikerjakan pada kondisi
fisik pekerjaan atau bagian pekerjaan telah mencapai 95% dan diharapkan
pada saat kondisi fisik 100% gambar as built drawing sudah dapat diselesaikan.
20. LAPORAN
1. Kontraktor harus membuat dan melaporkan secara terinci dalam formulir yang
telah ditentukan Direksi/Pengendali Kegiatan, susunan staf pelaksanaan,
jumlah dari berbagai macam tenaga kerja, keterangan tentang peralatan
konstruksi dan lain-lain.
2. Kontraktor wajib menyiapkan dan menandatangani Laporan Harian yang berisi :
a. Jumlah dan macam bahan serta peralatan yang ada di lapangan
b. Jumlah tenaga kerja untuk setiap macam tugas/keterampilan
c. Jumlah dan jenis peralatan yang masih dapat digunakan dan yang rusak
d. Jenis pekerjaan atau bagian pekerjaan permanen yang dilaksanakan
e. Taksiran volume pekerjaan volume pekerjaan permanen dilaksanakan
f. Keadaan cuaca, termasuk hujan, angin topan, banjir dan peristiwa-peristiwa
alam lain yang mempengaruhi kelangsungan pekerjaan.
g. Dan catatan-catatan lain yang berkenaan dengan pelaksanaan, perubahan

desain dan lain-lain.


5. Kontraktor harus membuat Laporan Mingguan yang merupakan hasil himpunan
laporan harian (hari senin s/d sabtu), diserahkan kepada Direksi setiap hari
senin untuk diperiksa dan pengesahan. Laporan mingguan tersebut berisikan
volume/bobot pekerjaan yang selesai dilaksanakan.
6. Kontraktor harus membuat Laporan Bulanan yang mencatat mengenai
kemajuan progress fisik yang telah dicapai di lapangan yang telah diperiksa dan
disahkan oleh Direksi.
7. Disamping kewajiban untuk menyediakan laporan, kontraktor juga harus
menyiapkan Kantor Lapangan untuk Direksi/Pengendali Kegiatan dengan
perlengkapan yang memadai, buku Harian, Buku Direksi/Pengendali Kegiatan
dan Buku Tamu yang setiap saat harus tersedia di kantor lapangan, dimana
sewaktu-waktu Direksi dapat memberikan perintah dan catatan-catatan dalam
buku tersebut.