Anda di halaman 1dari 14

Saat penyerahan barang, pengakuan terutang PPN, dan tanggal pembuatan faktur pajak sering

membingungkan bagi para pengusaha kena pajak (PKP), terutama untuk penjualan barang kena pajak
(BKP) atau jasa kena pajak (JKP) dengan kondisi penyerahan (term of delivery) tertentu. Menjadi
agak rumit ketika tanggal pengiriman berbeda dengan tanggal barang diterima oleh si pembeli (karena
jarak tempuh). Belum lagi jika invoice (faktur penjualan) diterbitkan pada tanggal yang berbeda lagi.
Misalnya: PT. JAK adalah PKP yang berlokasi di Tangerang, menjual 3 unit peralatan tambang
kepada PT. Lestari yang berlokasi Makassar-Sulawesi, dengan kondisi penyerahan (term of delivery)
Franco gudang PT. Lestari. JAK mengirimkan barang pada tanggal 20 Agustus 2011 via sea freight
(kapal laut), dan barang tiba di gudang PT. Lestari pada tanggal 27 Agustus 2011. PT. JAK
menerbitkan invoice tertanggal 29 Agustus 2011.
Pertanyaannya:

Tanggal berapa seharusnya PT. JAK mengakui terutang PPN? Tanggal berapa Faktur Pajak
Keluaran seharusnya diterbitkan? Dan, kapan seharusnya PPN dibayar dan dilaporkan?
Bagaimana, jika misalnya PT. JAK sudah menerima pembayaran pada tanggal 19 Agustus
2011 (sebelum barang dikirimkan)?

Ini hanya salah satu contoh kasus penjualan dengan satu jenis penyerahan saja, dan kebetulan berupa
barang kena pajak yang tergolong bergerak (dikirimkan). Pada prakteknya, penyerahan atau penjualan
barang kena pajak itu bisa berupa: (a) barang bergerak atau dikirimkanseperti contoh kasus di atas;
(b) bisa berupa barang tidak bergerakmisalnya: penjualan rumah; (c) bisa jadi berupa penjualan jasa
(services), dengan berbagai macam kondisi penyerahan (term of delivery).
Jika melihat Undang-Undang PPN Nomor 42 Tahun 2009, pada pasal 11 ayat (1) huruf a dan huruf
c, disebutkan bahwa:
[quote]Terutangnya pajak terjadi pada saat penyerahan Barang Kena Pajak dan pada saat penyerahan
Jasa Kena Pajak.[/quote]
Dalam memori penjelasannya ditegaskan bahwa:
[quote]Pemungutan Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah menganut
prinsip akrual. Artinya terutangnya pajak terjadi pada saat penyerahan Barang Kena Pajak atau Jasa
Kena Pajak meskipun pembayaran atas penyerahan tersebut belum diterima atau belum sepenuhnya
diterima.[/quote]
Kembali contoh kasus di atas. Jika merujuk pada bunyi undang-undang seharusnya terutang PPN
terjadi pada saat dirimkan yaitu 20 Agustus 2011. Masalahnya: Mungkinkah melakukan pengakuan
terutang PPN pada tanggal 20 Agustus sementara PT. JAK baru menerbitkan invoice (mengakui
penjualan) pada tanggal 29 Agustus 2011?
Bisa saja dipaksakan supaya sesuai dengan undang-undang PPN, tapi buku komersialnya akan sangat
kacau. Karena jika merujuk ke teori akuntansitermasuk kelaziman praktek bisnis, PT. JAK baru
akan mengakui penjualan, paling cepat saat barang tiba di gudangnya PT. Lestari (ingat term of
delivery-nya adalah Franco Gudang PT. Lestari), yaitu pada tanggal 27 Agustus 2011.
Dalam prinsip akuntansi yang berlaku umum (PABU), penyerahan dianggap telah terjadi apabila
risiko dan manfaat kepemilikan barang telah berpindah ke tangan pembeli dan jumlah pendapatan dari
transaksi tersebut dapat diukur dengan handal. Dan pengakuan penjualan, pendapatan, serta piutang

dicerminkan dengan penerbitan invoice/faktur penjualanyang sekaligus menjadi dokumen sumber


sebagai dasar pencatatan pengakuan.
Penasaran dengan kasus ini, saya mencoba menulusri peraturan-peraturan terkait dengan PPN.
Beruntung saya menemukan Surat Edaran Ditjend Pajak No. SE-50/PJ/2011 (tertanggal 3 Agustus
2011). Di sana dijabarkan mengenai:

Saat Penyerahan Barang Kena Pajak


1) Untuk penyerahan Barang Kena Pajak berwujud yang menurut sifat atau hukumnya berupa
barang bergerak, terjadi pada saat: (a) Barang Kena Pajak berwujud tersebut diserahkan secara
langsung kepada pembeli atau pihak ketiga untuk dan atas nama pembeli; (b) Barang Kena Pajak
berwujud tersebut diserahkan secara langsung kepada penerima barang, untuk pemberian cuma-cuma,
pemakaian sendiri, dan penyerahan dari pusat ke cabang atau sebaliknya dan/atau penyerahan
antarcabang; (c) Barang Kena Pajak berwujud tersebut diserahkan kepada juru kirim atau pengusaha
jasa angkutan; atau (d) harga atas penyerahan Barang Kena Pajak diakui sebagai piutang atau
penghasilan, atau pada saat diterbitkan faktur penjualan oleh Pengusaha Kena Pajak, sesuai dengan
prinsip akuntansi yang berlaku umum dan diterapkan secara konsisten.
2) Untuk penyerahan Barang Kena Pajak berwujud yang menurut sifat atau hukumnya berupa
barang tidak bergerak, terjadi pada saat penyerahan hak untuk menggunakan atau menguasai
Barang Kena Pajak berwujud tersebut, secara hukum atau secara nyata, kepada pihak pembeli.
3) Untuk penyerahan Barang Kena Pajak tidak berwujud, terjadi pada saat: (a) harga atas
penyerahan Barang Kena Pajak tidak berwujud diakui sebagai piutang atau penghasilan atau pada saat
diterbitkan faktur penjualan oleh Pengusaha Kena Pajak, sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku
umum dan diterapkan secara konsisten; atau (b) kontrak atau perjanjian ditandatangani atau saat mulai
tersedianya fasilitas atau kemudahan untuk dipakai secara nyata, sebagian atau seluruhnya, dalam hal
saat sebagaimana dimaksud pada huruf (a) tidak diketahui.

Saat Penyerahan Jasa Kena Pajak


1) terjadi pada saat harga atas penyerahan Jasa Kena Pajak diakui sebagai piutang atau penghasilan
atau pada saat diterbitkan faktur penjualan oleh Pengusaha Kena Pajak sesuai dengan prinsip
akuntansi yang berlaku umum dan diterapkansecara konsisten;
2) terjadi pada saat kontrak atau perjanjian ditandatangani, dalam hal saat sebagaimana dimaksud pada
angka 1) tidak diketahui; atau
3) terjadi pada saat mulai tersedianya fasilitas atau kemudahan untuk dipakai secara nyata, baik
sebagian atau seluruhnya, dalam hal pemberian cuma-cuma atau pemakaian sendiri Jasa Kena Pajak.

Saat Penerbitan (Tanggal) Faktur Pajak


Pengusaha Kena Pajak wajib membuat Faktur Pajak untuk setiap penyerahan Barang Kena Pajak
dan/atau Jasa Kena Pajak pada saat:

Penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak.


Penerimaan pembayaran dalam hal penerimaan pembayaran terjadi sebelum penyerahan
Barang Kena Pajak dan/atau penyerahan Jasa Kena Pajak.

Lebih jauh, juga diatur untuk bentuk-bentuk penyerahan khusus yang saat penerbitan (tanggal) faktur
pajaknya terjadi:

pada saat penerimaan pembayaran termin dalam hal penyerahan sebagian tahap pekerjaan,
sehubungan dengan penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak yang
diselesaikan dalam suatu masa tertentu, misalnya penyerahan jasa pemborong bangunan; atau
pada saat Pengusaha Kena Pajak Rekanan Pemerintah menyampaikan tagihan, sehubungan
dengan penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak kepada Pemungut PPN
Bendahara Pemerintah.

Dalam hal satu faktur penjualan diterbitkan untuk mencatat atau mengakui beberapa kali pengiriman
barang yang sesuai dengan dokumen pengiriman barang (delivery order), atas penyerahan barang
tersebut dapat diterbitkan satu Faktur Pajak, baik dalam bentuk Faktur Pajak atau faktur penjualan
(dalam hal faktur penjualan berfungsi sebagai Faktur Pajak). Penerbitan faktur penjualan tersebut
adalah sebagai dasar pengakuan piutang atau pencatatan penghasilan bagi Pengusaha Kena Pajak
Penjual dan harus dilakukan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum dan dilakukan
secara konsisten.
Sebagai petunjuk tehnis pelaksanaan, surat edaran tersebut juga menampilkan beberapa contoh kasus.

Contoh Kasus Saat Penyerahan, Saat Terutang PPN dan Tanggal Faktur Pajak
Saya ambil dari surat edaran yang sama.
1. Untuk penyerahan Barang Kena Pajak bergerak:
Contoh-1: PT Aman menyerahkan Barang Kena Pajak secara langsung kepada Tuan Igna pada
tanggal 15 Mei 2011. Atas transaksi penyerahan Barang Kena Pajak tersebut PT Aman menerbitkan
Faktur Pajak pada tanggal 15 Mei 2011.
Contoh-2: PT Berkah yang berkedudukan di Jakarta menjual Barang Kena Pajak kepada PT Ceria di
Surabaya dengan syarat pengiriman (term of delivery) loco gudang penjual (fob hipping point).
Barang Kena Pajak dikeluarkan dari gudang PT Berkah dan dikirim ke gudang PT Ceria pada tanggal
10 Juni 2011 dengan menggunakan perusahaan ekspedisi dengan tanggal DO (delivery order) 10
Juni 2011. Barang diterima oleh PT Ceria pada tanggal 12 Juni 2011. Atas transaksi penyerahan
Barang Kena Pajak tersebut, PT Berkah menerbitkan Faktur Pajak pada tanggal 10 Juni 2011. Dalam
hal pada contoh 1 dan contoh 2 di atas, faktur penjualan (invoice) diterbitkan tidak pada tanggal

penyerahan secara langsung atau pada saat diserahkan kepada juru kirim atau pengusaha jasa
angkutan karena kondisi tertentu, maka Faktur Pajak wajib dibuat pada saat penerbitan faktur
penjualan. Penerbitan faktur penjualan tersebut harus dilakukan sesuai dengan prinsip akuntansi yang
berlaku umum dan dilakukan secara konsisten.
Contoh 3: PT Cantik di Jakarta menjual Barang Kena Pajak kepada PT Sentosa di Semarang dengan
syarat pengiriman (term of delivery) franco gudang pembeli (fob destination). Barang dikeluarkan
dari gudang PT Cantik dan dikirim ke gudang PT Sentosa pada tanggal 12 Agustus 2011 dengan
menggunakan perusahaan ekspedisi. Barang diterima oleh PT Sentosa pada tanggal 13 Agustus 2011.
PT Cantik menerbitkan faktur penjualan (invoice) pada tanggal 16 Agustus 2011. Atas penyerahan
Barang Kena Pajak tersebut, PT Cantik wajib menerbitkan Faktur Pajak pada tanggal 13 Agustus
2011 atau paling lama tanggal 16 Agustus 2011.
2. Untuk penyerahan Barang Kena Pajak tidak bergerak:
Contoh-1: Perjanjian jual beli sebuah rumah ditandatangani tanggal 1 Mei 2011. Perjanjian
penyerahan hak untuk menggunakan atau menguasai rumah tersebut dibuat atau ditandatangani
tanggal 1 September 2011. Faktur Pajak harus diterbitkan pada tanggal 1 September 2011. Bila
sebelum surat atau akte tersebut dibuat atau ditandatangani, barang tidak bergerak telah diserahkan
atau berada dalam penguasaan pembeli atau penerimanya, maka Faktur Pajak harus diterbitkan pada
saat barang tersebut secara nyata diserahkan atau berada dalam penguasaan pembeli atau penerima
barang.
Contoh-2: Rumah siap pakai dijual dan diserahkan secara nyata pada tanggal 1 Agustus 2011. Faktur
Pajak harus diterbitkan pada tanggal 1 Agustus 2011/ Bila sebelum surat atau akte tersebut dibuat atau
ditandatangani, barang tidak bergerak telah diserahkan atau berada dalam penguasaan pembeli atau
penerimanya, maka Faktur Pajak harus dibuat pada saat barang tersebut secara nyata diserahkan atau
berada dalam penguasaan pembeli atau penerima barang.Contoh-3: Rumah siap pakai dijual dan
diserahkan secara nyata pada tanggal 1 Agustus 2011. Perjanjian jual beli ditandatangani tanggal 1
September 2011. Faktur Pajak harus diterbitkan pada tanggal 1 Agustus 2011.
3. Untuk penyerahan Jasa Kena Pajak:
Contoh-1: PT Semangat menyewakan satu unit ruko kepada PT Diatetupa dengan masa kontrak
selama 12 (dua belas) tahun. Dalam kontrak disepakati antara lain:
PT Diatetupa mulai menggunakan ruko tersebut pada tanggal 1 September 2011; Nilai kontrak sewa
selama 12 tahun adalah Rp 120.000.000,00 (seratus dua puluh juta rupiah). Pembayaran sewa adalah
tahunan dan disepakati dibayar setiap tanggal 29 September 2011 dengan pembayaran sebesar Rp
10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah) per tahun. Pada tanggal 29 September 2011 PT Diatetupa
melakukan pembayaran sewa untuk tahun pertama.
Atas penyerahan Jasa Kena Pajak tersebut, PT Semangat wajib menerbitkan Faktur Pajak pada tanggal
29 September 2011 dengan Dasar Pengenaan Pajak sebesar Rp.10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah).
Contoh 2: PT Toryung mengontrak Firma Cerah Konsultan untuk memberikan jasa konsultasi
manajemen dan pelatihan kepada staff marketing PT Toryung selama 6 (enam) bulan dengan nilai
kontrak Rp60.000.000,00 (enam puluh juta rupiah). Pembayaran jasa konsultasi akan dilakukan setiap
bulan. Firma Cerah Konsultan mulai memberikan jasa konsultasi sejak tanggal 1 Juli 2011. Pada
tanggal 10 Agustus 2011, Firma Cerah Konsultan mengajukan tagihan untuk pembayaran jasa
konsultasi bulan Juli sebesar Rp10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah). PT Toryung melakukan
pembayaran atas tagihan tersebut pada tanggal 20 Agustus 2011. Atas transaksi tersebut, Firma Cerah

Konsultan wajib menerbitkan Faktur Pajak pada tanggal 10 Agustus 2011 dengan Dasar Pengenaan
Pajak sebesar Rp10.000.000,00 (sesuai dengan nilai tagihan) meskipun pembayaran baru diterima
tanggal 20 Agustus 2011.
Contoh 3: PT Setiyakom adalah suatu perusahaan jasa telekomunikasi. PT Setiyakom melakukan
penagihan kepada pelanggan sesuai dengan periode pemakaian selama satu bulan. Pengumpulan datadata pemakaian dari pelanggan memerlukan waktu beberapa hari, sehingga faktur penjualan baru
dapat
diterbitkan
beberapa
hari
setelahnya.
Untuk pemakaian oleh pelanggan pada tanggal 1 30 Juni 2011, PT Setiyakom menerbitkan faktur
penjualan (melakukan penagihan) pada tanggal 5 Juli 2011. Untuk kasus ini, Faktur Pajak diterbitkan
pada saat penyerahan jasa tersebut dinyatakan atau dicatat sebagai piutang atau penghasilan, yaitu
pada akhir periode pemakaian (30 Juni 2011) atau paling lama pada saat diterbitkannya faktur
penjualan (5 Juli 2011).
Matriks saat penerbitan Faktur Pajak untuk beberapa contoh penyerahan di bidang
jasa telekomunikasi adalah sebagai berikut:

(Sumber: Surat Edaran Ditjend Pajak No. SE-50/PJ/2011 Tanggal 3 Agustus 2011 dan UndangUndang PPN Nomor 42 Tahun 2009).

Subjek PPN, Saat dan tempat terutang PPN, Tarif, DPP

A. Subjek Pajak
1. Pengusaha
Dalam pasal 1 huruf k UU PPN 1984 dirumuskan bahwa, pengusaha adalah orang pribadi atau badan
dalam bentuk apapun yang dalam lingkungan perusahaan atau pekerjaannya menghasilkan barang,
mengimpor barang, mengekspor barang, melakukan usaha perdagangan, memanfaatkan barang tidak
berwujud dari luar daerah pabean, melakukan usaha jasa atau memanfaatkan jasa dari luar daerah pabean.
2. Pengusaha Kena Pajak
Dalam pasal 1 huruf UU PNN 1984 ditentukan bahwa pengusaha Kena Pajak adalah:

Pengusaha yang telah dikukuhkan menjadi pengusaha Kena Pajak, berarti telah memiliki Nomor Pengukuhan
Pengusaha Kena Pajak
Pengusaha yang menyerahkan BKP dan atau/ JKP
Pengusaha yang mengekspor BKP yang telah dikukuhkan sebagai PKP
Pengusaha Kecil yang mengajukan permohonann untuk dikukuhkan menjadi PKP
3. Pengusaha Kecil
a. Sejak 1 Januari 2003 Batasan Pengusaha kecil adalah Rp 600.000.000 (enam ratus juta rupiah) untuk
pengusaha yang melakukan penyerahan Barang Kena Pajak dan atau Jasa Kena Pajak.
b. Sebelum 1 Januari 2003 Batasan Pengusaha Kecil adalah :

1. Rp 360 Juta peredaran bruto setahun untuk :

Pengusaha yang melakukan penyerahan BKP atau JKP


Pengusaha yang melakukan penyerahan BKP dan JKP, tetapi penyerahan BKP lebih dari 50% dari total
peredaran bruto dan penerimaan bruto
2. Rp 180 Juta peredaran bruto setahun untuk :

Pengusaha yang melakukan penyerahan BKP atau JKP


Pengusaha yang melakukan penyerahan BKP dan JKP, tetapi penyerahan JKP lebih dari 50% dari total
peredaran bruto dan penerimaan bruto.
c. Beberapa hal seputar pengukuhan PKP :
1. Pengusaha kecil yang omsetnya telah melampaui batasan omset Rp 600 juta, wajib
melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak paling lambat
akhir bulan setelah bulan terlampauinya batasan tersebut. Apabila batas waktu
pelaporan tersebut terlampaui, maka saat pengukuhan sebagai PKP adalah awal
bulan berikutnya. Contoh : Bapak Meidi terdaftar di KPP Jakarta Kebayoran Baru Dua
memiliki toko onderdil mobil di Pusat Onderdil Fatmawati, omset bulan Januari s.d.
April 2004 mencapai Rp 500 juta. Sementara omset bulan Mei 2004 adalah Rp 300
Juta. Dengan demikian, batasan Pengusaha Kecil telah terlampaui pada bulan Mei
2004, sehingga Bapak Meidi harus segera melaporkan usahanya untuk dikukuhkan
sebagai PKP kepada KPP Jakarta Kebayoran Baru Dua selambat-lambatnya 30 Juni
2004. Namun jika Bapak Meidi baru melaporkan usahanya pada tanggal 20 Juli 2004,
maka saat pengukuhan PKP terhitung mulai tanggal 1 Juli 2004.
2. Dalam hal pengukuhan dilakukan secara jabatan, maka saat pengukuhan adalah awal
bulan kedua setelah bulan terlampauinya batasan pengusaha kecil. Jika dalam contoh
diatas, Bapak Meidi tidak melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai PKP ke KPP
Jakarta Kebayoran Baru Dua dan berdasarkan hasil ekstensifikasi pada bulan
Desember 2004 diketahui bahwa batasan Pengusaha Kecil telah terlampaui pada
bulan Mei 2004. Maka saat pengukuhan sebagai PKP terhitung sejak tanggal 1 Juli
2004 dan atas PPN terutang bulan Juli s.d. Nopember 2004 beserta sanksi bunga 2 %
sebulan dari PPN terhutang.
3. Kewajiban untuk memungut, menyetorkan dan melaporkan PPN dan PPnBM yang
terhutang dimulai sejak saat pengukuhan sebagai PKP.

B. Saat dan Tempat terutang PPN


Pajak Pertambahan Nilai terutang atas penyerahan BKP atau JKP. Objek pajaknya penyerahan BKP atau
JKP. Dan terutang di tempat penyerahan BKP atau JKP walaupun penyerahan tersebut masih dalam satu
entitas seperti penyerahan dari pusat ke cabang atau sebaliknya, dan penyerahan antar cabang. Dasarnya
adalah Pasal 12 ayat (1) UU PPN yang berbunyi sebagai berikut :
Pengusaha Kena Pajak yang melakukan penyerahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf a,
huruf c dan huruf f terutang pajak di tempat tinggal atau tempat kedudukan dan tempat kegiatan usaha
dilakukan atau tempat lain yang ditetapkan dengan Keputusan Direktur Jenderal Pajak.
Lebih lanjut Pasal 14 Peraturan Pemerintah No. 143 tahun 2000 mengatur :

(1) Tempat Pajak terutang atas penyerahan Barang Kena Pajak dan atau Jasa Kena Pajak di dalam
Daerah Pabean adalah di tempat tinggal atau tempat kedudukan dan tempat kegiatan usaha dilakukan, yaitu
di tempat Pengusaha dikukuhkan atau seharusnya dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak.
(2)
Tempat
Pajak
terutang
atas
:
a. Impor Barang Kena Pajak, adalah di tempat Barang Kena Pajak dimasukkan ke dalam Daerah Pabean;
b. Pemanfaatan Barang Kena Pajak tidak berwujud dan atau Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean adalah di
tempat tinggal orang pribadi atau tempat kedudukan badan dalam hal orang pribadi atau badan tersebut
bukan sebagai Wajib Pajak atau di tempat orang pribadi atau badan tersebut terdaftar sebagai Wajib Pajak;
c. Kegiatan membangun sendiri oleh Pengusaha Kena Pajak yang dilakukan tidak dalam kegiatan usaha atau
pekerjaannya atau oleh bukan Pengusaha Kena Pajak, adalah di tempat bangunan tersebut didirikan.

C. Tarif
Tentang berapa besarnya tarif untuk PPN ini telah ditetapkan dalam UU PPN, yaitu diatur dalam Pasal 7
Dalam pasal 7 ayat (1) disebutkan bahwa Tarif Pajak Pertambahan Nilai adalah 10% (sepuluh
persen).Sedangkan Tarif Pajak Pertambahan Nilai sebesar 0% (nol persen diterapkan atas:
a. ekspor Barang Kena Pajak Berwujud;
b. ekspor Barang Kena Pajak Tidak Berwujud; dan
c. ekspor Jasa Kena Pajak.
Sebagamana telah diketahui bahwa Pajak Pertambahan Nilai adalah pajak yang dikenakan atas konsumsi
Barang Kena Pajak di dalam Daerah Pabean. Oleh karena itu atas:
a. Barang Kena Pajak Berwujud yang diekspor;
b. Barang Kena Pajak Tidak Berwujud dari dalam Daerah Pabean yang dimanfaatkan di luar Daerah Pabean;
atau
c. Jasa Kena Pajak yang diekspor termasuk Jasa Kena Pajak yang diserahkan oleh Pengusaha Kena Pajak yang
menghasilkan dan melakukan ekspor Barang Kena Pajak atas dasar pesanan atau permintaan dengan bahan
dan atas petunjuk dari pemesan di luar Daerah Pabean, dikenai Pajak Pertambahan Nilai dengan tarif 0% (nol
persen).Pengenaan tarif 0% (nol persen) tidak berarti pembebasan dari pengenaan Pajak Pertambahan Nilai.
Dengan demikian, Pajak Masukan yang telah dibayar untuk perolehan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena
Pajak yang berkaitan dengan kegiatan tersebut dapat dikreditkan.
Tarif pajak sebesar 10% tersebut sebagaimana tersebut diatas dapat diubah menjadi paling rendah 5% (lima
persen) dan paling tinggi 15% (lima belas persen) yang perubahan tarifnya diatur dengan Peraturan
Pemerintah.Berdasarkan pertimbangan perkembangan ekonomi dan/atau peningkatan kebutuhan dana
untuk pembangunan, Pemerintah diberi wewenang mengubah tarif Pajak Pertambahan Nilai menjadi paling
rendah 5% (lima persen) dan paling tinggi 15% (lima belas persen) dengan tetap memakai prinsip tarif tunggal.
Perubahan tarif sebagaimana dimaksud pada ayat ini dikemukakan oleh Pemerintah kepada Dewan

Perwakilan Rakyat dalam rangka pembahasan dan penyusunan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja
Negara.

D. DPP ( Dasar Pengenaan Pajak)


Untuk melakukan perhitungan PPN yang terutang adalah dengan mengalikan dasar pengenaan pajak
(DPP) dengan tarif pajak.
Harga Jual, yaitu nilai berupa uang, termasuk semua biaya yang diminta atau seharusnya diminta oleh
penjual karena penyerahan BKP, tidak termasuk PPN yang dipungut menurut UU ini dan potongan harga yang
dicantumkan dalam Faktur Pajak.
o
o

Nilai Berupa uang + semua biaya potongan harga dalam FP = Harga Jual
Semua biaya ini termasuk : biaya asuransi, biaya pengangkutan, biaya pengiriman,
biaya pemeliharaan, biaya garansi, dan biaya lain yang diminta atau seharusnya
diminta oleh penjual karena penyerahan BKP tersebut

Penggantian, yaitu nilai berupa uang, termasuk semua biaya yang diminta atau seharusnya diminta
oleh pengusaha karena penyerahan JKP, ekspor JKP, atau ekspor BKP Tidak Berwujud, tetapi tidak termasuk
PPN yang dipungut menurut UU ini dan potongan harga yang dicantumkan dalam Faktur Pajak atau nilai
berupa uang yang dibayar atau seharusnya dibayar oleh Penerima Jasa karena pemanfaatan JKP dan/atau
oleh penerima manfaat BKP Tidak Berwujud karena pemanfaatan BKP Tidak Berwujud dari luar Daerah
Pabean di dalam Daerah Pabean.
o
o

Nilai Berupa uang + semua biaya potongan harga dalam FP = Penggantian


Semua biaya ini termasuk : biaya asuransi, biaya pengangkutan, biaya pengiriman,
biaya pemeliharaan, biaya garansi, dan biaya lain yang diminta atau seharusnya
diminta oleh penjual karena penyerahan, Ekspor, pemanfaatan JKP / BKP tidak
berwujud tersebut

Nilai Impor, yaitu nilai berupa uang yang menjadi dasar penghitungan bea masuk ditambah pungutan
berdasarkan ketentuan dalam peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai kepabeanan dan
cukai untuk impor BKP, tidak termasuk PPN dan PPnBM yang dipungut menurut UU ini.
o

Nilai Impor = Cost, Insurance, Freight (CIF) + Bea Masuk

Nilai Ekspor, yaitu nilai berupa uang, termasuk semua biaya yang diminta atau seharusnya diminta
oleh eksportir.
Nilai lain yang dipakai sebagai dasar untuk menghitung pajak yang terutang. Yang termasuk dalam
nilai lain adalah :

Harga jual atau penggantian setelah dikurangi laba kotor


Perkiraan harga jual rata-rata
Harga pasar wajar
Persentase tertentu dari harga jual, tagihan atau imbalan
Harga faktual yang dianggap wajar

CARA

MENGHITUNG

PAJAK,

TARIF

DAN

DASAR

PENGENAAN

PAJAK

PERTAMBAHAN NILAI (PPN)


A. Cara Menghitung Pajak
Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah yang terutang dihitung dengan cara
mengalikan tarif pajak dengan Dasar Pengenaan Pajak (DPP)

B.

Tarif PPN

1. Tarif PPN
Diatur dalam Pasal 7 UU PPN 1984, antara lain:
a.

Tarif Pajak Pertambahan Nilai adalah 10% (sepuluh persen)

b. Tarif Pajak Pertambahan Nilai sebesar 0% (Nol Persen) diterapkan pada:


1) Ekspor Barang Kena Pajak berwujud,
2) Ekspor Barang Kena Pajak tidak berwujud, dan/atau
3) Ekspor Jasa Kena Pajak.
c.

Tarif pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diubah menjadi paling rendah 5% (lima
persen) dan paling tinggi 15% (lima belas persen) yang perubahan tarif nya diatur dengan Peraturan
Pemerintah (PP)

C. Dasar Pengenaan Pajak (DPP)


Dasar Pengenaan Pajak adalah jumlah Harga Jual, Penggantian, Nilai Impor, Nilai Ekspor, atau nilai
lain yang dipakai sebagai dasar untuk menghitung pajak yang terutang.
1. Harga Jual
Harga Jual adalah nilai berupa uang, termasuk semua biaya yang diminta atau seharusnya diminta
oleh penjual karena penyerahan Barang kena Pajak, tidak termasuk Pajak Pertambahan Nilai yang
dipungut menurut Undang-Undang ini dan potongan harga yang dicantumkan dalam Faktur Pajak.

2. Penggantian
Penggantian adalah nilai berupa uang, termasuk semua biaya yang diminta atau seharusnya diminta
oleh pengusaha karena penyerahan Jasa Kena Pajak, ekspor Jasa Kena Pajak, atau ekspor Barang
Kena Pajak Tidak Berwujud, tetapi tidak termasuk Pajak Pertambahan Nilai yang dipungut menurut
Undang-Undang ini dan potongan harga yang dicantumkan dalam Faktur Pajakatau nilai berupa uang
yang dibayar atau seharus nya dibayar oleh penerima jasa karena pemanfaatan Jasa Kena Pajak
dan/atau oleh penerima manfaat Barang Kena Pajak Tidak Berwujud karena pemanfaatan Barang
Kena Pajak Tidak Berwujud dari luar daerah pabean didalam daerah pabean.

3. Nilai Impor
Nilai impor adalah nilai berupa uang yang menjadi dasar perhitungan bea masuk ditambah pungutan
berdasarkan ketentuan dalam peraturan perUndang-Undanga an yang mengatur mengenail
kepabeanan dan cukai untuk impor Barang Kena Pajak, tidak termasuk Pajak Pertambahan Nilai dan
Pajak Penjualan atas Barang Mewah.

Nilai Impor = Cost, Insurance, and Freight (CIF) + Bea Masuk + Bea Masuk Tambahan
4. Nilai Ekspor
Nilai ekspor adalah nilai berupa uang, termasuk semua biaya yang diminta atau seharusnya diminta
oleh eksportir.

5. Nilai Lain.
Nilai laian adalah nilai berupa uang yang ditetapkan sebagai dasar pengenaan pajak. Ketentuan
mengenai nilai lain sebagai dasar pengenaan apajk diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor:
75/PMK.03/2010 tanggal 31 Maret 2010, ditetapkan sebagai berikut:
a.

Pemakaian sendiri/pemberian Cuma-Cuma, DPP adalah harga jual/penggantian dikurangi laba kotor.

b. Penyerahan media rekaman suara atau gambar DPP adalah perkiraan Harga Jual rata-rata
c.

Penyerahan film cerita, DPP adalah perkiraan hasil rata-rata perjudul film.

d. Penyerahan produk hasil tembakau, DPP adalah harga jual eceran.


e.

BKP persediaanan/atau aktiva yang menurut semula tidak untuk diperjualbelikan, yang masih tersisa
pada saat pembubaran, DPP adalah harga pasar wajar.

f.

Penyerahan BKP/JKP dari pusat kecabang atau sebaliknya dan penyerahan BKP/JKP antar cabang,
DPP adalah Harga Pokok Penjualan atau harga eceran.

g.

Penyerahan BKP kepada pedagang perantara, DPP adalah harga yang disepakati antara pedagang
perantara dan pembeli.

h. Penyerahan BKP melalui juru lelang, DPP adalah harga lelang.


i.

Jasa pengiriman paket, DPP adalah 10% dari tagihan atau jumlah yang seharusnya ditagih.

j.

Jasa biro perjalanan atau jasa biro pariwisata, DPP adalah 10% dari tagihan atau yang seharus nya
ditagih.
Pajak Masukan sehubungan dengan:

Penyerahan jasa yang dilakukan oleh pengusaha biro perjalanan dan pariwisata

Penyerahan jasa pengiriman paket.


Tidak dapat dikreditkan karena dalam PPN yang dibayar telah diperhitungkan dengan pajak
masukan atas perolehan BKP/JKP tersebut.

D. Contoh Perhitungan PPN dan PPnBM


Mengatur cara menghitung Pajak Pertambahan Nilai yang terutang. Contoh perhitungan PPN dan
PPnBM
1. Pengusaha Kena Pajak A menjual tunai Barang Kena Pajak dengan harga jual Rp. 25.000.000
PPN

= 10% x Rp. 25.000.000


= Rp. 2.500.000

PPN Rp. 2.500.000 adalah pajak keluaran yang dipungut oleh PKP A atas penjualan BKP
2. Pengusaha Kena Pajak B melakukan penyerahan Jasa Kena Pajak dengan memperoleh penggantian
Rp. 20.000.000
PPN

= Rp. 10% x Rp. 20.000.000


= Rp. 2.000.000

PPN Rp. 2.000.000 adalah pajak keluaran yang dipungut PKP B atas penyerahan JKP.

3. Seseorang mengimpor Barang Kena Pajak dari luar pabean dengan nilai impor Rp. 15.000.000
PPN

= 10% x Rp. 15.000.000


= Rp. 1.500.000

PPN Rp. 1.500.000 dipungut melalui Direktorat Jenderal Bea dan Cukai

4. Pengusaha Kena Pajak D melakukan ekspor Barang Kena Pajak dengan nilai ekspor Rp. 10.000.000
PPN

= 0% x Rp. 15.000.000
= Rp. 0

PPN Rp. 0 adalah pajak keluaran

5. Pengusaha Kena Pajak A mengimpor Barang Kena Pajak dengan nilai impor Rp. 5.000.000 Barang
Kena Pajak tersebut, selain dikenakan Pajak Pertambahan Nilai, missalnya juga dikenakan Pajak
Penjualan atas Barang Mewah dengan tarif 20% dengan demikian, perhituangan Pajak Pertambahan
Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah yang terutang atas impor Barang Kena Pajak tersebut
adalah:
Dasar Pengenaan Pajak =Rp. 5.000.000
Pajak Pertambahan Nilai
10% x Rp. 5.000.000 =Rp. 500.000
PPnBM
20% x Rp.5.000.000

=Rp. 5.000.000
= Rp.1.000.000

6. Pengusaha Kena Pajak D menyerahkan Barang Kena Pajak secara Cuma-Cuma untuk membantu
korban bencana merapi Yogyakarta senilai Rp. 330.000.000 termasuk laba 10%. Berapa PPN yang
terutang atas penyerahan BKP tersebut:

DPP

100

x harga jual termasuk laba

100 + %laba

100

x Rp. 330.000.000

110

= Rp. 300.000.000
PPN

= 10% x Rp. 300.000.000


= Rp. 30.000.000

7.

PT. sentosa adalah PKP dengan bidang usaha pemborong bangunan telah selesai pembangunan
sendiri satu unit gedung seluas 400 M2 untuk rumah direksi, dengan biaya Rp. 183.000.000 termasuk
PPN atas pembelian bahan bangunan Rp. 13.000.000 hitung PPN yang terutang atas kegiatan ini?
Jawab.
DPP

= Penggantian

PPN

= 10% X ( Rp. 183.000.000 Rp. 13.000.000)


= 10% X Rp. 170.000.000
= Rp. 17.000.000