Anda di halaman 1dari 4

BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan
Setelah penulis mengkaji permasalahan yang diangkat melalui beberapa
penelitian yang telah dilakukan maka penulis berkesimpulan bahwa:
Perkembangan moral santri di PP Al-Islah terjadi karena adanya peralihan
penting dari kesadaran harus (must consciousness) menuju ke kesadaran
wajib (ought

conciousness ). Sanksi ekternal menyerah pada sanksi

internal. Pengalaman larangan takut harus memudar berganti dengan


pengalamam pilihan, harga diri, dan wajib. Kebiasaan taat bertganti dengan
skema nilai-nilai yang memberi arah kepada prilaku.
1. Perkembangan moral santri di PP. Al-Islah secara bertahap berkembang
dalam tiga tingkatan /periode.
A. Periode usia 12 hingga 15 tahun
Pola perkembangan moralnya berupa :
-

Orientasi tindakan moral penyesuaian antar pribadi

Orientasi pada usaha menghindari hukuman atau taat pada aturan


sebagai sarana untuk diterima.

Tekanan diletakan atas kesesuaian dan menjadi anak yang baik

Takut terjadi pengucilan dalam lingkungan

Adanya unsur ibadah dalam memandang tindakan moral.

B. Periode usia 16 hingga 18 tahun


Pola perkembangan moralnya berupa:
-

Orientasi hukum dan tata tertib

Orientasi dilaksanakan usaha melaksanakan tugas/ kewajiban


mematuhi peraturan dan usaha mempertahankan kehidupan
bersama.

Nilai-nilai moral yang merupakan bagian dari moral telah terhayati


dengan penuh kesadaran

81

82
C. Periode usia 19 hingga 21 tahun
Pola perkembangan moralnya berupa:
-

Terbimbing oleh rasionya

Mempertimbangkan

dan

memperhatikan

sudut

pandang

masyarakat pada umamnya


-

Dalam mengambil keputusan berdasarkan apa yang baik dan tepat


berdasarkan suatu kontrak/ perjanjian baik sosial maupun pribadi

Para santri telah menyadari relatifnya nilai-nilai pribadi.

Jika ditinjau dari teori perkembangan cognitf maka perkembangan


moral santri berada dalam tahapan morality autonomous dalam teori Jean
Piaget. Sedang dalam teori Kohlberg maka perkembangan moral santri
berada dalam stadium konvensisional (conventional reasoning morality
stage) dan post-convensional (post- conventional reasoning morality
stage)
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan moral santri
Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan moral santri diantaranya
adalah:
a. Peran disiplin dan tata tertib yang ketat
b. Pendidikan langsung
c. Lingkungan santri, yang terdiri:
-

Lingkungan educatife, yaitu lingkungan dimana para santri


melakukan aktivitas pembelajaranya (ngaji).

Lingkungan pergaulan santri, yaitu lingkungan dimana para santri


bergaul.

B. Saran-saran
Saran-saran yang dapat penulis berikan berdasarkan kesimpulan penelitian
diatas adalah sebagai berikut:
1. Mengingat para santri adalah individu yang sedang berkembang secara
dinamis, maka sangat penting bagi pendidik moral (dalam hal ini kyai,
para ustadz, orang tua dan para guru) agar memperhatikan kondisi

83
psikologi para santri sehingga dalam proses pembelajaranya (berusaha
menjadi

manusia

bermoral)

tidak

terjadi

kesalahan

dalam

menanamkanmoral. Tidak sekedar doktrinasi an.sich. namun dalam


membimbing para santri lebih mengarah pada proses menuju pada
pembentukan moral.
2. Untuk tetap bisa mewujudkan pembetukan moral anak yang masih dalam
proses perkembanganya, diharapkan para pendidik moral (kyai, para
ustadz,orang tua, para guru dan para santri yang lebih senior) tetap
berpegang teguh pada nilai-nilai moral (ada keselarasan antara tindakan
dan perketaan) sehingga santri akan memiliki teladan sebagai peganganya.
Karena sedikit banyak santri akan melihat/ meniru perbuatan moral para
pendidik tersebut.
3. Dalam lingkungan pondok agar tetap menjaga dan melestarikan tata tertib
pondok, menjaga nilai-nilai moral dan berusaha membangun komonikasi
yang hangat diantara santri wa- ahluhu.
4. para orang tua santri sebagai pendidik moral awal harus memahami betul
kondisi psikologis perkembangan anak serta berusaha menjadi teladan
yangt baik bagi anak-anaknya.

C. Penutup
Alhamdulillah, puji syukur penulis panjatkan kehadirat-Nya yang dengan
rakhmat, taufik dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan penulisan
skripsi ini walau melalui berbagai cobaan baik fisik maupun non-fisik, materi
maupun non-materi.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih sangat jauh dari kesempurnaan,
sehingga sangat diharapkan adanya kritik, saran konstruktif pembaca demi
penyempurnaan skripsi ini. Dialog kritis merupan suatu sarana menuju
pemahaman baru. Karena pada dasarnya pengetahuan dibangaun berdasarkan
proses dialog. Maka sripsi ini pun didasari pada proses dialog antara teori
dengan realita yang ada.

84
Akhirnya penulis mengharapkan ridho Allah SWT semoga skripsi yang
sangat sederhana ini dapat bermanfaat bagi penulis pada khususnya dan
pembaca pada umumnya.