Anda di halaman 1dari 66

BAB II

GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH


2.1. Aspek Geografis dan Demografi
2.1.1. Letak dan Luas Wilayah
Secara

GeografisKabupaten

Mamuju

terletak

pada

Bagian Barat Pulau Sulawesi dan berposisi pada bentangan


Selat Makassar, yakni

1 38 110 2 54 552 Lintang

Selatan, 11 54 47 13 5 35 Bujur Timur , Jakarta (0 0


0 , Jakarta = 160 48 28 Bujur Timur Green Witch).
Dengan batas wilayah :
a. Sebelah Utara dengan Kabupaten Mamuju Utara
b. Sebelah Timur dengan Kabupaten Luwu Utara, Provinsi
Sulawesi Selatan
c. Sebelah Selatan dengan Kabupaten Majene, Kabupaten
Tana Toraja dan Kabupaten Mamasa
d. Sebelah Barat dengan Selat Makassar.
Kabupaten Mamuju dengan luas wilayah 801.406 Ha,
secara administrasi Pemerintahan, terdiri atas 16 Kecamatan,
143 Desa, 10 Kelurahan, dan 4 (UPT) Unit Pemukiman
Transmigrasi.Diantara 16 Kecamatan yang ada di Kabupaten
Mamuju, 15 kecamatan berada di wilayah daratan dan 1
kecamatan di wilayah kepulauan.
Ibukota Kabupaten terletak di Kecamatan Mamuju.
Berdasarkan orbitasi, Kecamatan yang letaknya terjauh dari
ibukota

kabupaten

adalah

Ibukota

Kecamatan

Karossa

(Karossa) yaitu sejauh 171 Km, dan ibukota kecamatan yang


terdekat dari ibukota kabupaten adalah Kecamatan Simboro
yang berjarak 6 Km dari Mamuju.
Kabupaten Mamuju juga memiliki wilayah kepulauan
yakni Kecamatan Kepulauan Bala-balakang, yang merupakan
pemekaran dari Kecamatan Simboro dan Kepulauan. Pulaupulau

yang

termasuk

dalam

wilayah
II-1

KecamatanKepulauanBala-balakang

adalah

Pulau

Salissingang, Samataha, Popoongang, Saboyang, Malamber,


Sumanga, Sabakatang, Ambo, Seloang, Lamudaan, Tapilagan
dan Pulau Lumu, yang letaknya di Selat Makassar dan
berbatasan dengan Pulau Kalimantan.
2.1.2.

Luas Wilayah
Mengenai luas wilayah perkecamatan, jumlah Desa dan

Kelurahan serta UPT pada masing-masing kecamatan dapat


dilihat pada tabel 2.1 berikut ini :
Tabel 2. 1. Luas Wilayah, Jumlah Desa, Kelurahan dan
UPT pada Masing-masing Kecamatan di Kabupaten
Mamuju
No

Kecamatan

Luas

Prosent

Desa/U

Kelurah

(Ha)
50.41

ase
6,29

PT
7

an
2

1,59

.
1.

Tapalang

2.

Tapalang Barat

3.

Mamuju

12.71

2,00

4.

Simboro

1,14

6/1

5.

Kalukku

16.02

5,76

11/1

6.

Kalumpang

22,19

13

7.

Bonehau

9,169

11,86

8.

Papalang

46.19

2,00

9.

Sampaga

1,20

10

Pangale

177.8

2,90

Tommo

21

7,34

14

11

Budong-

95.07

14,23

11

Budong

6,79

15

12

Topoyo

16.04

1,25

Tobadak

13,34

11/2

13

Karossa

9.594

0,11

Kep. Bala-

23.25

14

balakang

2
II-2

58.82

15

114.0

16

43

54.38
8
10.01
3
106.9
31

Jumlah

9.000
801.
406

100,00

143/4

10

Sumber : BPS, Mamuju Dalam Angka, 2010

2.1.3.

Topografi
Keadaan topografi Kabupaten Mamuju pada umumnya

adalah daerah dengan curah hujan tinggi dan daerah yang


tidak curam dengan kisaran kemiringan antara 15 persen 45 persen. Kondisi ini mempengaruhi topografi wilayah
sehingga bervariasi mulai dari daerah datar, landai dan
daerah agak curam. Hal ini juga mempengaruhi tingkat
kepekaan tanah terhadap erosi, yakni daerah yang cukup
stabil, daerah yang terancam dan daerah yang rentan erosi.
Bagian wilayah dengan kemiringan lereng antara 0 2
persen luas terbesar terdapat di wilayah Kecamatan BudongBudong, yakni 30.048 Ha atau 26,55 persen. Sedang untuk
kemiringan lereng antara 2 persen - 15 persen terdapat di
Kecamatan Kalumpang seluas 25.066 Ha atau 30,52 persen
dan bagian wilayah dengan kemiringan antara 15 persen - 25
persen luas terbesar juga berada di Kecamatan Kalumpang
yakni 105.735 Ha atau 47,01 persen. Untuk kemiringan di
atas 40 persen juga terdapat di Kecamatan Kalumpang yakni
77.890 Ha.

II-3

Jika dicermati konfigurasi wilayah Kabupaten Mamuju


menurut kemiringan lereng, maka bagian wilayah yang
termasuk

datar

adalah

bagian

sebelah

Barat

yang

berbatasan dengan Selat Makassar. Sebaliknya, semakin ke


Timur secara gradual juga tingkat kemiringan ini semakin
tinggi

dengan

berbukit.
Ditinjau

kondisi

dari

aspek

lahan

yang

ketinggian

bergelombang
wilayah,

dan

Kabupaten

Mamuju dapat dibedakan menjadi 6 (enam) zona masingmasing zona dengan ketinggian antara 0 25 m, zona antara
25 m 100 m, zona dengan ketinggian antara 100 m 500
m, zona dengan ketinggian 500 m 1.000 m, zona dengan
ketinggian antara 1.000 m 1.500 m dan zona dengan
ketinggian di atas 1.500 m.
Secara umum berdasar

zona

ketinggian

di

atas

menunjukkan bahwa pada Bagian Selatan sebagian besar


mempunyai ketinggian di bawah 100 m, sedang semakin ke
Utara ketinggiannya semakin meningkat rata-rata di atas 500
m. Secara proporsional, ketinggian wilayah tersebut dapat
digambarkan sebagai berikut :
a.

Zona ketinggian 0 25 M dengan luas 35.875 Ha


atau 4,43 persen

b.

Zona ketinggian 25 m 100 m dengan luas


130.186 Ha atau 16,06 persen

c.

Zona ketinggian 100 m 500 m dengan luas


206.106 Ha atau 25,46 persen

d.

Zona dengan ketinggian 500 m 1.000 m


dengan luas 159.769 Ha atau 19,71 persen

e.

Zona dengan ketinggian 1.000 m 1.500 m


dengan luas 128.669 Ha atau 16,06 persen

f.

Zona dengan ketinggian di atas 1.500 m dengan


luas 148.714 Ha atau 16,06 persen

2.1.4.

Tanah dan Kandungan Geologi


II-4

Berdasar data geologi Kabupaten Mamuju, jenis tanah di


daerah ini dapat digolongkan 5 (lima) jenis, yakni tanah
Alluvial, Regosol, Andosol dan tanahMediteran. Kandungan
dari masing-masing jenis tanah tersebut dapat dilihat pada
tabel 2.2
Tabel : 2.2. Jenis & Kandungan Tanah di Kabupaten Mamuju.
No.

Jenis Tanah

1.

Aluvial

Keterangan
Bahan induk endapan liat dan pasir
endapan (lanau) dan endapan marin
dengan bentuk wilayah pada umumnya
datar termasuk kelas satu (tidak peka erosi)

2.

Regosol

Bahan induk endapan pasir tufa volkan


masam sampai intermediat dan tufa volkan
alkali,

bentuk

wilayah

berombak,

bergelombang sampai berbukit termasuk


kelas lima (sangat peka erosi)
3.

Rensial

Bentuk wilayah berbukit dengan bahan


induk

tuff

dan

kapur

karang

bertuffa

termasuk kelas lima (sangat peka erosi)


4.

Andosol

Bentuk wilayah bergunung dan bahan induk


tufa vulkan masam dan alkali termasuk
kelas empat (peka erosi)

5.

Mediteran

Bentuk

wilayah

berombak

sampai

bergelombang dengan bahan induk tufa


vulkan masam sampai intermediat, servih
bertufa, kompleks serpi bertufa, kompleks
servih

batuan

pasir

dan

tufa

batuan

pletonik, basah termasuk kelas tiga (agak


pekah erosi)

Sedang untuk kandungan geologi di Kabupaten Mamuju


secara

garis

besarnya

dibagi

menjadi

(dua),

yakni

kelompok bahan galian konstruksi dan kelompok galian


II-5

industri. Berdasar data pada Departemen Pertambangan dan


Energi, diketahui bahwa untuk kelompok bahan galian
konstruksi meliputi :
a. Granodiorit, tersebar di daerah Salubiro dan Bulukaling
Kecamatan Karossa dengan perkiraan cadangan volume
sebesar 58.443.750 meter kubik.
b. Granit, tersebar di daerah Takandeang dan Pasada
Kecamatan Tapalang serta di daerah Kamande, Lebeng,
Sulumayang

Kecamatan

Kalukku

dan

di

Tamasapi,

Takaurangang Kecamatan Mamuju serta di Kecamatan


Simkep dengan perkiraan volume sekitar 59.218.780
meter kubik.
c. Batu

Gamping,

tersebar

di

daerah

Sulunggadua,

Marabau, Kalukambeo, Botteng Kecamatan Mamuju, di


Pakarawang Kecamatan Kalumpang, dan di Takandeang,
Tajimane Kecamatan Tapalang dengan perkiraan volume
sekitar 342.635.800 meter kubik.
d. Batu Pasir, tersebar di daerah Kombiling, Kalukumbeo,
Salupangkang
Barakang

dan

Pangale,

Salumabongi,

Topoyo
Bajo

Kecamatan
Kecamatan

Ranga-Ranga

dan

Topoyo,

di

Pangale,

di

Balakalumpang

Kecamatan Kalukku dengan volume sekitar 630.887.500


meter kubik.
e. Konglomerat, tersebar di daerah Passapa, Tangkau,
Topoyo Baru di Kecamatan Budong-Budong, di daerah
Lebeng, Gentungan Kecamatan Kalukku dan Rangas,
Tumuki Kecamatan Mamuju serta Tapana, Tamao dan
Pempioang Kecamatan Tapalang dengan volume sekitar
134.475.000 meter kubik.
f. Breksi

Vulkanik, tersebar

di daerah Belang-belang,

Guliling, Rantedango, Sinyonyoi Kecamatan Kalukku, dan

II-6

Bone-Bone,

Sodo,

Bayor-Bayor

Kecamatan

Mamuju

dengan volume sekitar 154.462.500 meter kubik.


Sementara untuk kelompok bahan galian industri meliputi :
a. Batu Sabak, tersebar di daerah Tobinta, Salubejau dan
Salubarana

Kecamatan

Karossa

dengan

cadangan

volume sekitar 22.050.000 meter kubik.


b. Sekis,

tersebar

Batusitanduk

di

daerah

Kecamatan

Tabolang,

Kalando

Budong-Budong

dan

dengan

cadangan volume sekitar 2.200.000 meter kubik.


c. Batu

Gamping,

terdapat

di

daerah

Salupangkang

Kecamatan Topoyo dengan cadangan volume sekitar


5.625.000 meter kubik.
d. Tuff, tersebar di daerah Boang, Sumare, Tinaungan
Kecamatan

Simkep

dan

di

Nipa-nipa,

Pansiangan

Kecamatan Tapalang Barat dengan cadangan volume


sekitar 15.581.250 meter kubik.
e. Lempung,

tersebar

di

daerah

Karossa,

Benggaulu,

Durikumba, Lara, Salubarana dan Tomemba Kecamatan


Karossa dengan cadangan volume sekitar 1.297.575.000
meter kubik.

2.1.5.

Hidrologi dan Klimatologi


Secara klimatologis Kabupaten Mamuju tidak memiliki

perbedaan dengan daerah lain di Indonesia yaitu hanya


dikenal dua musim, yaitu musim kemarau dan penghujan.
Pada bulan Juni sampai dengan September arus angin bertiup
dari Australia dan tidak banyak mengandung uap air,
sehingga mengakibatkan musim kemarau. Sebaliknya pada
bulan Desember sampai dengan Maret arus angin yang
banyak mengandung uap air berhembus dari Asia dan
Samudera Pasifik sehingga terjadi musim hujan.

II-7

Curah hujan di Kabupaten Mamuju tertinggi terjadi pada


bulan Januari sebesar 3 926,0 mm kubik dengan hari hujan
111. Sedangkan curah hujan terendah terjadi pada bulan
Maret 1 422 mm kubik dengan jumlah hari hujan 72, dan
mempunyai kelembaban udara berkisar antara 70 persen
sampai 80 persen atau rata-rata kelembaban udara berkisar
75persen.
Keadaan alam Kabupaten Mamuju secara garis besar
beriklim tropis. Suhu udara berkisar antara 27 31 derajat
Celcius atau rata-rata 29 derajat Celcius. Kelembaban udara
rata-rata antara 70 persen - 80 persen, kecepatan angin 10,8
km/jam dan tekanan udara berkisar 1.010,7 Milibar serta
penyinaran matahari mencapai 75,8persen.
Menurut klasifikasi Schmitt dan Ferguson type iklim di
Kabupaten Mamuju bervariasi B, C, D dan E seperti tabel 2.3.
Tabel 2. 3.
No.

Data Type Iklim Kabupaten Mamuju

Type

Bulan Basah

Bulan Kering

Luas (Ha)

7 9 bulan

Di bawah 2

485.226

1.

Iklim
B1

2.

C1

5 6 bulan

bulan

331.205

3.

D1

3 4 bulan

Di bawah 2

108.612

4.

E1

di bawah 3

bulan

36.679

5.

B2

bulan

Di bawah 2

60.063

6.

C2

7 9 bulan

bulan

83.994

5 6 bulan

Di bawah 2
bulan
Di bawah 3
bulan
2 3 bulan

Sedangkan untuk curah hujan di Kabupaten Mamuju


adalah 1.000 mm per hari dan rata-rata hari hujan sebanyak
II-8

kurang lebih 114 hari per tahun. Mengenai data curah hujan
tersebut dapat dilihat pada tabel 2.4.
Tabel 2. 4.
Rata-Rata Curah Hujan Per Tahun di Kabupaten Mamuju, 2009
No.

Bulan

Curah Hujan

Hari Hujan

1.

Januari

3142

13

2.

Februari

7986

10

3.

Maret

8456

4.

April

12.917

12

5.

Mei

11.109

10

6.

Juni

3.771

7.

Juli

4.263

8.

Agustus

3.440

9.

September

2.518

10.

Oktober

6.524

11.

November

11.156

12

12. Desember
Sumber : Distanak, 2010

11.093

11

2.1.6.

Potensi Pengembangan Wilayah


Kabupaten Mamuju memiliki karakteristik wilayah yang

agak berbeda dengan yang lainnya. Karakteristik inilah yang


menjadi modal daya saing bagi Kabupaten Mamuju.
Wilayah Kabupaten Mamuju yang membentang dari Kec.
Tapalang sampai Kec. Karossa. Dan dari arah pantai sampai
pada pegunungan seperti Kec. Kalumpang. Kawasan nelayan
sepanjang garis pantai di pantai barat. Kawasan pertanian
pangan di dataran rendah seperti Kec. Kalukku, Kec. Pangale,
Kec. Tommo. Kawasan perkebunan di dataran lereng-lereng
dan perbukita yang tidak terlalu tinggi seperti Kec. Karossa,
Kec. Tobadak, Kec. Budong-budong bagian atas.
Di samping keberagaman fisik juga keberagaman etnis
seperti Jawa, Madura, Bali, Lombok, Sunda, Batak, Bugis,
Makassar, Toraja, Timor dan lokal Mandar-Mamuju. Demikian
II-9

juga keberagaman budaya dan agama yang kesemuanya


tadi memberikan pengaruh terhadap pengelolaan sumber
daya alam yang ada di tempat tersebut.
2.1.6.1. Kawasan Perkotaan
Dengan melihat dengan keberagaman fisik dan non fisik
Kabupaten Mamuju maka berdasarkan kajian rancangan
Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Mamuju 2011-2031,
bahwa untuk pengembangan sistem Perkotaan sebagai
berikut :
a. Pusat Kegiatan Nasional Promosi (PKNp) = Mamuju,
Tampa padang dan Belang-Belang.
b. Pusat Pelayanan Kawasan (PPK) :
1) Pusat

Pelayanan

Kawasan

(PPK)

Tapalang

dan

sekitarnya, yang terdiri dari Kecamatan Tapalang, dan


Tapalang Barat.
Pelayanan

2) Pusat

Kawasan

(PPK)

Kalumpang

dan

sekitarnya, terdiri dari Kecamatan Bonehau, dan


Kecamatan Kalumpang.
Pelayanan Kawasan

3) Pusat

(PPK)

Pangale

dan

sekitarnya, terdiri dari Kecamatan Pangale, Kecamatan


Sampaga,

Kecamatan

Papalang

dan

Kecamatan

Tommo.
4) Pusat

Pelayanan

sekitarnya,

terdiri

Kawasan

(PPK)

dariKec.Topoyo,

Topoyo
Kec.

dan

Budong-

budong, Kec. Tobadak dan Kec. Karossa.


c. Pusat Pelayanan Lingkungan merupakan pusat-pusat

kegiatan yang meliputi masing-masing kecamatan di


Kabupaten Mamuju.
Kemudian untuk pengembangan wilayah pada sistem
Perkotaan adalah :
(1) Berpusat di Kota Mamuju dengan wilayah pengaruh

Kecamatan : Mamuju, Tampa padang dan BelangBelang, PKNp MATABE diarahkan untuk :
a. Kawasan terpadu kegiatan industri dan Kawasan
Ekonomi Khusus (KEK) Pelabuhan Belang-Belang.
II-10

b.
c.
d.
e.

Perdagangan;
Pergudangan;
Petikemas;
Simpul intermoda transportasi laut, udara, darat

dan kereta api.


(2) Pusat pengembangan di Kota Galung Kecamatan
Tapalang, Pusat Pelayanan Kawasan (PPK) Tapalang
dan sekitarnya diarahkan untuk :
a. Pusat pengembangan perikanan laut;
b. Pengembangan
tanaman
perkebunan
(kakao/cokelat);
c. Pengembangan tanaman pangan (padi dan sayursayuran);
d. Pengembangan obyek wisata pantai.
(3) Pusat pengembangan di Kota Kalumpang Ibukota
Kecamatan Kalumpang, Pusat Pelayanan Kawasan
(PPK) Kalumpang dan sekitarnyadiarahkan untuk :
a. Pengembangan kawasan industri rumah tangga
(Home Industries);
b. Pengembangan tambang galian mineral (batu
bara, emas, besi, dan galian golongan C);
c. Pengembangan PLTA;
d. Pengembangan perkebunan tanaman tahunan
(kopi, kemiri, kakao dan mangga);
e. Pengembangan perikanan tambak (budi daya
ikan air tawar);
f. Pengembangan peternakan;
g. Pengembangan lokasi wisata sejarah dan alam.
(4) Pusat Pengembangan di Pangale, Pusat Pelayanan
Kawasan (PPK) Pangale dan sekitarnya, diarahkan :
a. Pengembangan pertanian tanaman pangan;
b. Pengembangan perkebunan;
c. Pengembangan tanaman buah-buahan, perikanan
darat (budi daya tambak);
d. Pengembangan wisata tirta (pantai).
(5) Pusat
pengembangan
di
Kota
PusatPelayanan

Kawasan

sekitarnya diarahkan :
a. Pusat pengembangan

(PPK)
tanaman

Topoyo,

Topoyo

dan

perkebunan

(Kelapa Sawit, Kakao, dan Jeruk);


II-11

b. Pengembangan Perikanan darat (tambak) dan


laut;
c. Pengembangan tanaman pangan dan holtikultura;
d. Pengembangan hasil hutan (kayu, rotan dan
damar);
e. Pengembangan wisata tirta/pantai dan alam (air
terjun).
2.1.6.2. Kawasan perdesaan
Kawasan perdesaan adalah kawasan yang mempunyai
kegiatan

utama

pertanian,

termasuk

pengelolaan

sumberdaya alam dengan susunan fungsi kawasan sebagai


tempat

permukiman

perdesaan,

pelayanan

jasa

pemerintahan, pelayanan sosial dan kegiatan ekonomi.


Berdasarkan

karakterisitknya,

kawasan

perdesaan

di

KabupatenMamuju berada di Kec. Tapalang,Kec. Tapalang


Barat,Kec. Bonehau, Kec. Kalumpang, Kec. Papalang, Kec.
Sampaga, Kec. Tommo, Kec. Budong- Budong, Kec. Pangale,
Kec.Topoyo, Kec. Karossa dan Kec. Tobadak dan sebagian di
wilayah Kec. Simboro, Kec. Mamuju, Kec. Kalukku, dengan
jumlah desa secara keseluruhan sebanyak 143 desa.
2.`1.7.

Pola ruang
Pola ruang merupakan alokasi pemanfaatan ruang yang
prinisipnya merupakan perwujudan dari upaya pemanfaatan
sumberdaya

alam

di

suatu

wilayah

melalui

pola

pemanfaatan yang diyakini dapat memberikan suatu proses


pembangunan yang berkelanjutan.
2.1.7.1. Kawasan Lindung
Berdasarkan kajian dalam rancangan Rencana Tata
Ruang Wilayah Kabupaten Mamuju 2011-2031, Kawasan
lindung adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi
utama

melindungi

pengelolaannya

kelestarian

dilakukan

lingkungan

melalui

upaya

hidup

dan

penetapan,

pelestarian dan pengendalian pemanfaatan kawasan lindung


II-12

yang

dilakukan

untuk

mencegah

timbulnya

fungsi

lingkungan hidup.
Pola ruang untuk kawasan lindung meliputi :
a. Kawasan Hutan Lindung;
b. Kawasan yang memberi perlindungan terhadap kawasan

bawahannya;
c. Kawasan perlindungan setempat;
d. Kawasan suaka alam, kawasan pelestarian alam dan
kawasan cagar budaya;
e. Kawasan rawan bencana alam;
f. Kawasan lindung geologi;
g. Kawasan lindung lainnya.

Pengaturan kawasan lindung


Kawasan

hutan

lindung

memiliki

pengaturan

sebagai

berikut:
a. Hutan lindung yang telah ada berdasarkan peraturan

atau perundangan yang berlaku tetap dipertahankan.


b. Penggunaan lahan yang telah ada (pemukiman, sawah,
tegalan,

tanaman

kawasan

ini

tahunan,

perlu

adanya

dan

lain-lain)

pembatasan

dalam

pendirian

bangunan baru untuk pemukiman, sehingga fungsi


lindung yang diemban dapat dilaksanakan.
lahan yang akan mengurangi

c. Penggunaan

fungsi

konservasi secara bertahap dialihkan fungsinya sebagai


kawasan lindung sesuai kemampuan dana yang ada.
d. Penggunaan lahan baru tidak diperkenankan bila tidak

menjamin fungsi lindung terhadap hidrologis, kecuali


jenis penggunaan yang sifatnya tidak bisa dialihkan
(menara TV, jaringan listrik, telepon, air minum, dll) hal
tersebut tetap memperhatikan azas konservasi.
Adapun

Kawasan

hutan

lindungdi

Kabupaten

Mamuju

sebesar 689.440,37 ha, dengan perlindungan kawasan


bawahannya meliputi kawasan konservasi dan resapan air
yang memiliki pengaturan antara lain:
a. Di areal hutan produksi dengan pengelolaan yang baik;
b. Di areal kebun/ tegalan dikembangkan diversifikasi

II-13

tanaman tahunan perkebunan dan tanaman tahunan


buah-buahan yang sesuai dan pencegahan erosi;
areal lahan kritis diusahakan perkerasan

c. Di

penanaman

tanaman

tahunan

perkebunan,

dan
buah-

buahan atau tanaman kayu-kayuan untuk bangunan/


perkakas rumah tangga.
d. Di areal permukiman diusahakan dengan cara :
1) Pemeliharaan teras sebaik mungkin;
2) Penanaman
pohon
buah-buahan,

perkebunan

maupun kayu-kayuan dipekarangannya;


tersedia sebagian lahan pekarangan

3) Minimal

untuk serapan air hujan.


2.1.7.2. Kawasan Perlindungan
(1) Kawasan perlindungan setempat meliputi :
a. Kawasan sempadan sungai;
b. Kawasan terbuka hijau kota.
(2) Kawasan sempadan sungai terletak di :
a. Kawasan sekitar Sungai Karama anak sungainya;
b. Kawasan sekitar Sungai Budong-Budong dan anak

sungainya.
(3) Kawasan terbuka hijau kota adalah ruang terbuka hijau
di Kabupaten Mamuju termasuk adalah Ruang Terbuka
Hijau Jalan, Ruang Terbuka Hijau milik pihak Swasta dan
Ruang Terbuka Hijau Sawah Lestari. Pengembangan
penggunaan lahan saat ini di beberapa wilayah yang
ada di Sulawesi Barat, temasuk dalam hal ini adalah
Kabupaten Mamuju, mulai mengarah pada upaya untuk
mempertahankan lahan sawah yang saat ini sudah
mulai banyak berubah fungsi.
2.1.7.3. Kawasan Budidaya
Kawasan Budidaya adalah wilayah yang ditetapkan
dengan fungsi utama untuk dibudidayakan atas dasar kondisi
dan potensi sumber daya alam, sumber daya manusia dan
sumber daya buatan. Dalam pola ruang wilayah Kabupaten
Mamuju

terdapat

beberapa

kawasan

yang

merupakan
II-14

kawasan budidaya strategis. Adapun kawasan budidaya


strategis tersebut antara lain :
2.1.7.3.1. Kawasan hutan produksi
(1) Kawasan peruntukan hutan produksi terdiri dari :
a. hutan produksi terbatas;
b. hutan produksi biasa;
c. hutan produksi yang dapat dikonversi.
(2) Kawasan hutan produksi terbatas di Kabupaten Mamuju
memiliki luas total 254.599,28 Ha
(3) Kawasan hutan produksi biasa tetap di Kabupaten
Mamuju memiliki luas total 64.810,59 Ha.
(4) Kawasan hutan yang dapat dikonversi, di Kabupaten

Mamuju memilki luas 36.829,66 Ha.


2.1.7.2.2. Kawasan hutan rakyat
Kawasan hutan rakyat

yang

dapat

dikonversi

di

Kabupaten Mamuju memiliki luas 682,92 Hektar.


2.1.7.2.3. Kawasan pertanian
(1) Kawasan peruntukan

pertanian,

meliputi:

sawah,

tegalan (tanah ladang), kebun campur, perkebunan,


pengembangan holtikultura, peternakan, perikanan,
serta kawasan lainnya.
(2)
Kawasan peruntukan

pertanian

lahan

sawah

diarahkan sebagai berikut : Sawah beririgasi teknis


yang

ditetapkan

pertanian

pangan

sebagai

kawasan

terletak

di

lahan

abadi

Kecamatan

Kalukku,Pangale, dan Tommo.


2.1.7.2.4. Kawasan Perkebunan
Kawasan peruntukan perkebunan terletak di :
a. Sentra tanaman kakao berada di Kec. Karossa, Kec.
Tommo dan Kec. Mamuju;
b. Sentra tanaman kelapa sawit berada di Kec.Tobadak,
Kec. Budong-Budong dan Kec.Karossa;
c. Sentra tanaman kelapa berada di Kec. Tapalang, Kec.
Papalang dan Kec. Mamuju.
2.1.7.2.5. Kawasan Perikanan
Kawasan peruntukan perikanan dan peternakan terdiri dari :
II-15

1. Kawasan peruntukan perikanan meliputi : perikanan

tangkap, perikanan budi daya air payau, dan perikanan


budi daya air tawar.
a. Rencana

pengelolaan

perikanan

tangkap

di

Kabupaten Mamuju diarahkan sepanjang pantai barat


Pantai Mamuju dengan lokasi khususnya di Kec.
Mamuju, Kec. Simboro, Kep. Bala-Balakang dan
kemudian Kec. Kalukku, Kec. Tapalang, Kec. Tapalang
Barat, Kec. Papalang, Kec. Sampaga, Kec. Pangale,
Kec. Topoyo dan Kec. Karossa.
b. Rencana pengelolaan perikanan laut di Kabupaten
Mamuju diarahkan di

Kec. Mamuju, Kec. Simboro,

Kec. Bala-Balakang dan Kec. Budong-Budong.


2.1.7.2.6. Pertambangan
Kawasan
peruntukan
pertambangan

bahan

pertambangan

galian

golongan

meliputi
bahan

galian

konstruksi dan golongan bahan galian industri. Adapun


jenis

dan

pertambangan

bahan

galian

di

Kabupaten

Mamuju adalah sebagai berikut :


(1)Kelompok Bahan Galian Konstruksi
Granodiori Tersebar di daerah Salubiro dan Bulukaling Kecamatan
t

Karossa

dengan

perkiraan

Granit

58.443.750 m3.
Tersebar di daerah

Takandeang

KecamatanTapalang;
Le'beng,

cadangan

sebesar

dan

Pasada

di daerah Kamande,

Sulumayang

KecamatanKalukku,

dan

Tamasapi, Takaurang Kecamatan Mamuju serta di


Kecamatan

Simkep

dengan

cadangan

volume

Batu

59.218.780 m9.
Tersebar
di

Gamping

Kalukambeo, Botteng Kecamatan Mamuju; daerah


Pakarawang

daerah

Kecamatan

Salunggadua,
Kalumpang

dan

Marabau,
daerah

Takandeang, Tajimane Kecamatan Tapalang, dengan


II-16

cadangan volume sekitar 342.635.800 m3.


Batu Pasir

Tersebar

di

daerah

Kombiling,

Kalukumbeo,

Salupangkang, dan Topoyo KecamatanTopoyo, daerah


Barakan,

dan

Salumabongi,
Kecamatan

Bajo

Kecamatan

Ranga-Ranga,
Kalukku,

Pangale,

dan

dengan

daerah

Balakalumpang

cadangan

volume

Konglomer

630.887.500 m.
Tersebar di daerah Passapa, Tangkau, dan Topoyo

at

Baru Kecamatan Budong-Budong, daerah Le'beng,


dan Gentungan Kecamatan Kalukku; daerah Rangas
Kecamatan
Mamuju;

Simkep

serta

daerah

Tapana,

Tumuki

Tamao,

Kecamatan

dan

Pembloang

KecTapalang, dengan cadangan volume 134.475.000


Breksi

m3 .
Tersebar

Vulkanik

Rantedango, Sinyonyoi Kecamatan Kalukku, daerah

di

Bone-Bone,
Mamuju

daerah
So'do,

dengan

Belang-Belang,

dan

Bayor-Bayor

cadangan

Guliling,
Kecamatan

volume

sekitar

154.462.500 m3.
(2)Kelompok Bahan Galian Industri
Batu
Tersebar di daerah Tobinta, Salubejau dan Salubarana
Sabak

Kecamatan

Sekis

sebesar 22.050.000 m3.


Tersebar di daerah Tobalang,
Batusitanduk

Karossa

dengan

cadangan
Kalanda,

volume
dan

Kecamatan Budong-Budong; dengan

Batu

cadangan volume sebesar 2.200.000 m3.


Terdapat di daerah Salupangkang Kecamatan Topoyo

Camping
Tufa

dengan cadangan volume sebesar 5.615.000 m3.


Tersebar di daerah Boang, SLimare, Tinaungan
KecamatanSimkep
Pasiangan

Lempung

dan

di

KecamatanTapalang

daerah
Barat,

Nipa-Nipa,
dengan

cadangan volume 15.581.250 m3.


Tersebar di daerah Karossa, Benggaulu, Durikumba,
Lara, Salubarana dan Tomemba Kec. Karossa dengan
II-17

cadangan volume sebesar 1.297.575.000 m3.

2.1.7.2.7. Kawasan Perindustrian


Penetapan kawasan peruntukan industri di Kabupaten
Mamujubahwa kawasan peruntukan industri di Kabupaten
Mamuju berdasarkan pada arahan yang diberikan pada
pendekatan

Produksi

dan

pertimbangan-pertimbangan

Pemasaran
pada

dan

berbagai

setiap

potensi

pengembangn industri, dengan lokasi terdapat di sekitar


pelabuhan Belang-Belang.
2.1.8.

Kawasan Rawan Bencana Alam


Kawasan rawan bencana adalah kawasan yang sering

atau berpotensi tinggi mengalami bencana alam. Kawasan


rawan bencana banjir antara lain meliputi kawasan dataran
dan pesisir yang berfungsi sebagai kawasan budidaya.
Kawasan rawan bencana alam di Kabupaten Mamuju
adalah kawasan yang diidentifikasi sering dan berpotensi
tinggi mengalami bencana alam seperti, gempa bumi, banjir,
dan tanah longsor. Perlindungan terhadap kawasan rawan
bencana alam dilakukan untuk melindungi manusia dan
kegiatannya dari bencana yang disebabkan oleh alam
maupun secara tidak langsung oleh perbuatan manusia.
Zonasi peta gempa bumi Kabupaten Mamuju telah
dibuat untuk keperluan identifikasi zona gempabumi untuk
keperluan

mitigasi

bencana

alam.

Investigasi

zona

gempabumi berdasar pada magnetudo gempa, kedalaman


hypocernter dan percepatan tanah maksimum.
Dengan mengkorelasikan dengan peta geology dan peta
administratif untuk mendapatkan zona rawan bencana alam,
Dari Analisis dan interprestasi sejarah terinvestigasi sekitar
870 di kabupaten Mamuju yang bermagnetude di atas 4 SR
wilayah yang termasuk rawan efek gempa adalah Kecamatan
Tapalang, Mamuju, Kalumpang, dan Kecamatan Papalang
II-18

adalah zona yang rawan gempa dengan nilai PGA 116-463


gal. Sedang Tommo, Pangale, Budong-budong, Tapoyo dan
Karossa termasuk wilayah yang aman dari pengaruh gempa.
Percepatan tanah diwilayah ini lebih kecil dari 100 gal.
(Sumber : Hasil analisis RTRW Kab. Mamuju)
Untuk Kawasan Rawan banjir terdapat di kecamatan
kalukku, Budong-Budong dan Kecamatan Papalang, ketiga
kecamatan ini diidentifikasi sering dan berpotensi tinggi
mengalami bencana banjir dan longsor.
Permasalahan banjir dapat direduksi, sehingga dampak
yang ditimbulkan dapat ditekan seminimal mungkin. Dengan
demikian,

secara

prinsip

masalah

banjir

tidak

dapat

dihilangkan atau ditiadakan sama sekali, sehingga menjadi


tanggung jawab bersama untuk melakukan pemantauan dan
penanganan
sehingga

melalui

dampak

penyediaan

negatif

dapat

saranadan

prasarana,

direduksi

semaksimal

mungkin.
2.1.9.

Demografi
Berdasarkan hasil Sensus Penduduk Kabupaten Mamuju

selama lima tahun terakhir mengalami pertumbuhan yang


pesat. Pertumbuhan selama lima tahun terakhir sekitar 4,1
persen rata-rata per tahun

dari

280.359 jiwa pada tahun

2005. Pada tahun 2010 sudah mencapai 336.973 jiwa. Berarti


selama lima tahun pekembangannya sebesar 56.614 jiwa.
Jumlah penduduk terbesar terdapat di dua kecamatan yaitu
Kecamatan Mamuju dengan penduduk sebesar 55.105 jiwa
(16,40 persen) dan Kecamatan Kalukku dengan penduduk
sebesar 49.250 jiwa (14,7 persen). Rasio jenis kelamin/sex
Ratio (SR) penduduk adalah sekitar 106,02 artinya untuk
setiap 100 penduduk perempuan terdapat antara 106
penduduk

laki-laki.

Dengan

perkataan

lain,

komposisi

penduduk Kabupaten Mamuju berdasarkan jenis kelamin,


II-19

lebih

besar

jumlah

penduduk

laki-laki

dibandingkan

penduduk perempuan.

Grafik 2.1. Jumlah Penduduk


2005-2010
336,973

350,000
300,000

280,359

296,828

284,026

305,473

315,053

250,000
Penduduk (jiwa)
200,000
150,000
100,000
50,000
2005

2006

2007

2008

2009

2010

Sumber : Mamuju Dalam Angka &Hasil Sensus Penduduk 2010

Pertumbuhan penduduk yang cukup pesat ini tidak bisa


dipungkiri karena di Kabupaten Mamuju merupakan daerah
tujuan migran karena memiliki daya tarik yaitu pusat
pemerintahan,

pusat

jasa,

pusat

pekerjaan

baru

dan

sebagainya.
Mamuju juga dikenal dengan daerah Indonesia Mini,
mengingat

di

Kabupaten

Mamuju

terdapat

pembauran

beberapa etnis besar di Indonesia yaitu, Jawa, Sunda, Bali,


Sasak (NTB), NTT, dan dari etnis Sulawesi yaitu Mandar,
Bugis, Makassar dan Toraja. Hal ini bisa dipahami bahwa
Mamuju merupakan daerah migran, baik migran atas alasan
pekerjaan, bisnis, maupun migrasi khusus (Transmigrasi).
Tabel 2. 5.

II-20

Penduduk Kabupaten Mamuju Per Kecamatan dan Jenis


Kelamin
Tahun 2010
No.

Kecamatan

Laki-

Perempu

Laki

an

Jumlah

1.

Tapalang

9.144

8.939

18.083

2.

Tapalang Barat

4.601

4.528

9.129

3.

Mamuju

28.048

27.057

55.105

4.

Simboro

11.819

11.381

23.200

1.221

1.126

2.347

5.

Kep. Balabalakang

6.

Kalukku

25.169

24.081

49.250

7.

Papalang

10.917

10.478

21.395

8.

Sampaga

7.132

6.854

13.986

9.

Tommo

10.291

9.116

19.407

10.

Kalumpang

5.641

5.159

10.800

11.

Bonehau

4.557

4.065

8.622

12.

Budong Budong

11.751

11.072

22.823

13.

Pangale

5.808

5.160

11.418

14.

Topoyo

13.386

12.381

25.767

15.

Karossa

11.387

10.617

22.004

16.

Tobadak

12.541

11.096

23.637

173.413

163.560

336.973

Rati
o
102,2
9
101,6
1
103,6
6
103,8
5
108,4
4
104,5
2
104,1
9
104,0
6
112,8
9
109,3
4
112,1
0
106,1
3
103,5
3
108,1
2
107,2
5
113,0
2
106,
02

Sumber : BPS Kab. Mamuju, Hasil Sensus Penduduk 2010

II-21

2.2. Aspek Kesejahteraan Masyarakat


2.2.1.

Perekonomian Daerah
Indikator yang dipakai

untuk melihat sejauh mana

pertumbuhan ekonomi yang telah dicapai dapat diukur dari


Produk Domestik Bruto (PDRB) baik berdasarkan harga
berlaku maupun harga konstan.
Pertumbuhan ekonomi dapat dilihat dari besarnya nilai
PDRB (atas dasar harga konstan) yang diperoleh pada tahun
tertentu dibandingkan dengan nilai PDRB tahun sebelumnya.
Penggunaan angka atas dasar harga konstan ini dimaksudkan
untuk menghindari pengaruh perubahan harga. Perubahan
yang

diukur

adalah

perubahan

produksi

sehingga

menggambarkan pertumbuhan riil ekonomi.


2.2.1.1. Perkembangan PDRB Kabupaten Mamuju Tahun 20052010
PDRB Kabupaten Mamuju dari tahun ke tahun terus
mengalami peningkatan. Pada tahun 2010 nilainya mencapai
sekitar 3.357.953,64 juta rupiah (PDRB atas dasar harga
berlaku).

Bila

dibandingkan

dengan

tahun

2005

Rp1.383.122,90juta, terjadi peningkatan sebesar sebesar


41,19persen. Besar kecilnya perkembangan PDRB Kabupaten
Mamuju berpengaruh pada besar kecilnya sumbangan PDRB
Propinsi Sulawesi Barat.
Dengan angka teresebut diketahui bahwa kontribusi
Kabupaten Mamuju terhadap pembentukan PDRB Sulawesi
Barat relatif besar dan makin meningkat dari tahun ke tahun
Perkembangan

PDRB

Kabupaten

Mamuju

lebih

besar

daripada perkembangan PDRB Propinsi Sulawesi Barat. (Tabel


2.6.)
Tabel 2. 6

II-22

Perbandingan PDRB Kabupaten Mamuju dan PDRB


Sulawesi Barat atas Dasar Harga berlaku tahun
2005-2010. (Rp. juta)

Sulawesi
Barat
Mamuju

2005

2006

2007

2008

2009

2010

4.422.946,
41

5.124.812
,71

6.192.785
,55

7.778.000
,57

8.671.818,
05

1.383.122,
90

1.612.117
,42

1.952.206
,28

2.493.460
,86

2.859.291,
00

10.986.624,
75
3.327.886,6
4

Sumber : BPS Kab. Mamuju Dalam Angka Tahun 2010.


2.2.1.2. Pertumbuhan ekonomi
Pertumbuhan ekonomi dapat dilihat dari besarnya nilai
PDRB (atas dasar harga konstan) yang diperoleh pada tahun
tertentu dibandingkan dengan nilai PDRB tahun sebelumnya.
Penggunaan angka atas dasar harga konstan ini dimaksudkan
untuk menghindari pengaruh perubahan harga. Perubahan
yang

diukur

adalah

perubahan

produksi

sehingga

menggambarkan pertumbuhan riil ekonomi.


Dari berbagai langkah kebijakan yang dilakukan dalam
perencanaan pembangunan khususnya di bidang ekonomi
dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi dari tahun 20052010

mencapai

pertumbuhan

4,24

persen.

penduduk

Hal

yang

ini

diikuti

signifikan

dengan
terhadap

pendapatan rill perkapita pada tahun 2010.

Grafik : 2.2. Pertumbuhan Ekonomi


Kabupaten Mamuju 2005-2010 (%)
12
10
8
6 6.35
4
2
0
2005

9.69
6.93

2006

7.96

2007

2008

10.59
8.26

2009

2010

Sumber : BPS Kab. Mamuju, 2010

Pada rentang tahun 2005 sampai 2010 ini melalui


II-23

berbagai

langkah

kebijakan

yang

diambil

Pemerintah

Kabupaten Mamuju untuk menggerakkan roda perekonomian


maka hasil yang diperoleh ternyata pada periode tahun 20052008 target RPJMD Periode 2005-2010 sebesar 6,3 % sudah
terlampaui.
Pertumbuhan ekonomi dapat dilihat dari besarnya nilai
PDRB

yang

berhasil

diciptakan

pada

tahun

tertentu

dibandingkan dengan nilai PDRB tahun sebelumnya.


Bila diperhatikan selama periode 2005 2010 tersebut,
terlihat bahwa perekonomian Kabupaten Mamuju dari tahun
ke tahun tampak terjadi perbaikan, yakni pada tahun 2005
tumbuh sekitar 6,35 persen sedangkan pada tahun 2010
melonjak

sekitar

pertumbuhan

10,59persen,

dengan

rata-rata

0,85 persen per tahun atau dalam rentang

waktu 2005-2010 terdapat pertumbuhan 4,24persen.


2.2.1.3. Pertumbuhan ekonomi sektoral
Diantara 9 sektor ekonomi, pada tahun 2010 tampak
bahwa sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan
tumbuh cukup pesat dengan mencatat pertumbuhan dari
14,4 persen (Tahun 2005) menjadi 23,47 persen (Tahun
2010), sedangkan Sektor pertanian yang merupakan andalan
Kabupaten

Mamuju

pada

tahun

2010

tumbuh

sekitar

8,48persen.
Selama periode tahun 2005-2010, pertumbuhan riil
masing-masing sektor ekonomi terlihat berfluktuasi, dengan
rata-rata tertinggi dimiliki oleh sektor ekonomi terlihat
berfluktuasi, dengan rata-rata tertinggi dimiliki oleh sektor
keuangan, sewa dan jasa perusahaan yakni 3,46 persen per
tahun dan rata-rata terendah dimiliki oleh sektorbangunan
yakni sekitar 0,15 persen.
Pertumbuhan ekonomi suatu wilayah sangat dipengaruhi
oleh pertumbuhan dan peranan sektor ekonominya. Untuk itu
penyajian statistik pendapatan regional secara sektoral
II-24

merupakan

alat

bantu

untuk

melihat

perubahan

dan

perkembangan tersebut. Dari penyajian ini juga dapat dilihat


sektor-sektor yang mengalami penurunan atau peningkatan
sehingga bisa digunakan sebagai bahan analisis lebih lanjut.
Selain indikator tersebut perekonomian kabupaten
Mamuju sangat dipengaruhi oleh sumber pembiayaan baik
berupa Investasi dalam negeri maupun luar negeri dan
pendapatan daerah yang diperoleh daerah .
Tabel 2.7 : Pertumbuhan Ekonomi Sektoral Kabupaten Mamuju
Tahun 2006 - 2010(%)
N
o
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Sektor

2006

2007

2008

2009

2010

4,56
8,45
10,16
Penggalian
9,93
Industri Pengolahan
7,00
Listrik, Gas dan Air Bersih
11,47
Konstruksi/Bangunan
6,21
Perdagangan,
Hotel
dan
6,48
Restoran
Pengangkutan dan
12,88

1,83
30,15
12,82
21,01
29,69
13,86
22,46
14,14

1,43
23,37
6,57
15,06
47,96
6,14
16,72
38,36

3,39
6,98
6,17
17,3
4,72
6,96
13,67
20,74

8,48
20,18
10,80
14,99
1,14
10,48
20,99
23,47

13,88

16,05

17,6

11,61

7,96

9,69

8,26

Pertanian
Pertambangan

dan

Komunikasi
Keuangan, Persewaan dan
Jasa Perusahaan
Jasa-Jasa
PDRB

6,93

10,5
9

Sumber Data : Badan Pusat Statistik Kabupaten Mamuju, 2010

2.2.1.4. Pendapatan per kapita


Sebagai

indikator

dan

alat

bantu

yang

dapat

menunjukkan bahwa peningkatan kesejahteraan masyarakat,


bisa dilihat dari pendapatan per kapita. Pendapatan per
kapita merupakan nilai rata-rata dari pembagian pendapatan
seluruh penduduk Mamuju dibagi dengan seluruh jumlah
penduduk di Mamuju. Angka rata-rata ini yang dipakai
II-25

sebagai tolok ukur benarkah pendapatan rata-rata per


seorangan di Kabupaten Mamuju meningkat.
Di

dalam

Nasional

Rencana

(RPJMN

Pembangunn

2009-2014),

Jangka

percepatan

Menengah

pertumbuhan

ekonomi ini tercermin pula dalam peningkatanpendapatan


per kapita masyarakat Indonesia. Pendapatan per kapita
masyarakatIndonesia telah mencapai USD 2.271 pada akhir
2008, naik hampir dua kali lipat jikadibandingkan dengan
pendapatan per kapita tahun 2004, yaitu sebesar USD 1.186.
Dengan kenaikan ini, Indonesia telah masuk ke dalam
kelompok negara berpendapatan menengah bawah (lower
middle income countries) Percepatan pertumbuhan ekonomi
tersebut telah menurunkan tingkat kemiskinan.
Di dalam konteks Kabupaten Mamuju pendapatan per
kapita bila dibandingkan dengan pendapatan per kapita
Nasional masih cukup jauh. Secara nasional tahun 2009
pendpatan per kapita nasional sebesar : USD 2.271 atau
sekitar Rp. 24,3 juta rupiah (dengan kurs 1 USD=Rp.9.300,-).
Pada

tahun

pendapataan

yang
per

sama
kapita

Kabupaten
sebesar

Mamuju

memiliki

Rp.9.057.589,-

yang

meningkat pada tahun 2010 menjadi :Rp. 9.847.902,-.


Bila dilihat perkembangan sejak dari tahun 2005 ke
tahun 2010 pendapatan per kapita mengalami peningkatan
yang cukup signifikan. Tahun 2005 pendapatan per kapita
sebesar Rp. 5.064.974,- pada tahun 2010 meningkat menjadi
Rp. 9.847.902,-Artinya selama periode ini naik 94,5persen.
Secara garis besar bisa dikatakan perkembangan rata-rata
pendapatan perseorangan penduduk Mamuju selama 5 tahun
meningkat Sekitar Rp. 4,78 juta.

II-26

Grafik : 2.3
Pendapatan Per Kapita

Pendapatan Per Kapita (Rp)

9,847,902
9,057,589
10,000,000
8,170,320
9,000,000
8,000,000
6,594,165
7,000,000
5,669,841
6,000,0005,064,974
5,000,000
4,000,000
3,000,000
2,000,000
1,000,000
0
2005 2006 2007 2008 2009 2010

2.2.2.

Pendapatan Per Kapita


(Rp)

Perkembangan Indeks Pembangunan Manusia (IPM)


Model pembangunan masyarakat telah menempatkan

manusia sebagai titik sentral pembangunan yang berarti


bahwa pembangunan yang dilaksanakan adalah dari rakyat
(of people), untuk rakyat (for people), dan oleh rakyat (by
people). IPM dapat digunakan sebagai ukuran kebijakan dan
upaya

yang

dilakukan

dalam

kerangka

pembangunan

manusia khususnya upaya pemberdayaan dan peningkatan


kualitas sumber daya manusia (SDM) dan partisipasi dalam
pembangunan. Namun indeks ini hanya akan memberikan
gambaran perbandingan antar waktu serta antar wilayah.

II-27

Indeks
Pembangunan
Manusia

(IPM)

Kabupaten
Mamuju

pada

tahun

2009

sebesar
Angka
tersebut

69,90.
IPM
sedikit

lebih baik dibanding tahun 2008 sebesar 68,50. Namun,


selisih peningkatan tersebut kurang signifikan mengingat
posisi IPM Kabupaten Mamuju pada tahun 2008 dan 2009
tidak beranjak pada peringkat ke-4 se Sulawesi Barat.
Berdasarkan kriteria UNDP nilai IPM kurang dari 51
digolongkan sebagai IPM sedang, nilai IPM antara 51 sampai
dengan 79 (51-79) digolongkan sebagai IPM menengah dan
nilai IPM di atas 79 (> 79) digolongkan tinggi. Dengan
demikian sesuai dengan kriteria tersebut, IPM Kabupaten
Mamuju tergolong IPM menengah, baik pada tahun 2005
sampai pada tahun 2009.
Melihat kondisi yang demikian maka ke depan upaya
untuk

menaikkan

indeks

pembangunan

manusia

selalu

ditingkatkan melalui peningkatan agregat paritas daya beli,


indeks kesehatan maupun indeks pendidikan.
2.2.3.

Kemiskinan
Secara Nasional percepatan pertumbuhan ekonomi yang

terjadi di Indonesia telah berhasil menurunkan tingkat


kemiskinan.

Tingkat

kemiskinan

berdasarkan

garis

kemiskinan, telah menurun menjadi 14,1 persen (atau 32,5


juta orang) pada Maret 2009, jika dibandingkan dengan 16,7
persen (36,1 juta orang) pada tahun 2004. Keberhasilan
II-28

penanggulangan kemiskinan selain merupakan hasil dari


tercapainya laju pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi
juga

didukung

oleh

berbagai

program

intervensi

yang

merupakan bagian dari pemenuhan hak dasar rakyat, yang


terus dilakukan untuk memberikan akses yang lebih luas
kepada kelompok masyarakat yang berpenghasilan rendah
agar dapat menikmati lajunya percepatan pertumbuhan
ekonomi.
Di Kabupaten Mamuju, peningkatan IPM memberikan
dampak pada derajat kesejahteraan masyarakat, hal ini
dibuktikan dengan penurunan angka kemiskinan sebesar
7,85 persen dari Tahun 2005

ke 2009 dimana angka

kemiskinan tersebut dibawah 50persen dari Provinsi Sulawesi


Barat, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Grafik dibawah
ini.
Grafik 2.4
Angka Kemiskinan Kab. Mamuju 2005-2010
30
25

23.87

20
15

19.3
16.73

15.96
11.96

10

15.23

15.29

13.58

11.07
8.11

8.13

MAMUJU
SULBAR

8.17

5
0
2005

2006

2007

2008

2009

2010

Sumber : BPS Kab. Mamuju & Bappeda Sulbar 2010

Dari data di atasbahwa pada awal tahun kebijakan dan


pelaksanaan kebijakan Pemerintah Kabupaten Mamuju dalam
rangka penurunan kemiskinan terbukti nyata. Dari data awal
II-29

pada tahun 2005 kemiskinan di Mamuju sebesar 15,96


persen, selama rentang lima tahun mampu diturunkan
sebesar 7,83 persen sehingga pada tahun 2010

telah

mencapai 8,17 persen. Artinya bila dibandingkan dengan


jumlah penduduk saat sekarang sebanyak 336.973

jiwa

diperkirakan masih ada sekitar 27.531 jiwa.


Biladibandingkan

dengan

Provinsi

Sulawesi

Barat

ternyata upaya Pemerintah Kabupaten Mamuju juga lebih


berperan, karena pada konteks Provinsi Sulawesi Barat
penurunan kemiskinan baru dapat diturunkan sebesar 7,58
persen dari angka semula tahun 2005 sebesar 23,87 persen
menjadi 15,29 persen pada tahun 2009.
Keberhasilan penurunan angka
berangkat

dari

beberapa

kemiskinan tersebut

program

penanggulngan

kemiskinan di lingkup Kabupaten yang dilaksanakan oleh


SKPD terkait, juga dukungan yang penuh dari Pemerintah
Pusat yang ditempuh dengan cara :
Pertamaadalah melalui subsidi (seperti subsidi pangan,
pupuk, benih,

dankredit program)

serta

dalam

bentuk

bantuan sosial (Bansos), seperti Program Jaminan.Kesehatan


Masyarakat (Jamkesmas), Bantuan Operasi Sekolah (BOS),
dan

ProgramKeluarga

Harapan

(PKH).

Program

ini

dilaksanakan untuk membantu pemenuhankebutuhan dasar


yang tidak atau belum mampu dipenuhi oleh kemampuan
sendiri. Disamping itu, telah dialokasikan juga anggaran
berupa

Bantuan

Langsung

Masyarakatsebagai

bagian

Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri,


dan danapenjaminan kredit/pembiayaan bagi usaha mikro,
kecil, menengah (UMKM) dankoperasi melalui Program Kredit
Usaha

Rakyat

memperluas

(KUR).Keduaadalah

kesempatan

usaha

mempermudah

dan

denganmenghilangkan

berbagai pungutan yang muncul di berbagai daerah akibat


II-30

eforiareformasi

dan

desentralisasi

yang

telah

banyak

yang

sangat

membebani usaha mikro, kecil danmenengah.


2.2.4.

Angkatan kerja dan pengangguran


Ketenagakerjaan

merupakan

aspek

mendasar dalam kehidupan manusia karena mencakup


dimensi ekonomi dan sosial.

Setiap upaya pembangunan

selalu diarahkan pada perluasan kesempatan kerja sehingga


penduduk

dapat

memperoleh

pembangunan.Salah

satu

manfaat

sasaran

utama

langsung

dari

pembangunan

terciptanya lapangan kerja baru dalam jumlah dan kualitas


yang memadai sehingga dapat menyerap tambahan tenaga
kerja setiap tahun.

Grafik 2.5
Tenaga Kerja Menurut Lapangan Usaha
63.93

70.3

65.93

80

63.81
Manufacture

60
40
20

17.41
3.21

23.32
6.3

26.26
7.81

0
2006

2007

2008

28.17

Service
Agriculture

8.02

2009

Sumber : BPS Kab. Mamuju, Mamuju Dalam Angka 2010

Lapangan pekerjaan di Kabupaten Mamuju umumnya


bergerak pada sektor pertanian (pertanian), sektor industri
II-31

(pertambangan, listrik, gas, air, bangunan/konstruksi) dan


sektor jasa/service (perdagangan, angkutan, keuangan, jasa
perusahaan dan jasa perorangan). Penyerapan tenaga kerja
(usia 10 tahun ke atas) pada sektor industri/manufacture
mencapai 8,02 persen, pada

sektor pertanian/agriculture

63,81 persen, dan sektor jasa/service mencapai 28,17


persen. Jika dibandingkan Tahun sebelumnya bahwa terjadi
penurunan penyerapan ketenagakerjaan sektor agriculture
sebesar 2,12 persen, hal ini disebabkan karena banyaknya
tenaga kerja di sektor pertanian berpindah ke sektor jasa dan
industri. Hal ini sejalan dengan Grafik dibawah ini dimana
terjadi penurunan angka pengangguran pada Tahun 2008
sebesar 3,32persen dan meningkat 0,04 persen pada tahun
2009 sehingga menjadi 3,36 persen namun jika dibandingkan
pada

Tahun

2005

sebesar

15,89persen

maka

terjadi

penurunan sebesar 12,53 persen pada tahun 2009.

Grafik 2.6
Angka Pengangguran Kab. MamujuTahun 2005-2009
18
16 15.89
14
12
10
8
6
4
2
0
2005

9.72
5.4
3.32
2006

2007

2008

3.36
2009

Angka Pengangguran
Sumber : BPS Kab. Mamuju, Mamuju Dalam Angka 2010

2.3. Aspek Pelayanan Umum


II-32

2.3.1.

Pendidikan
Hingga akhir tahun 2009, Kabupaten Mamuju memiliki

sekolah Taman Kanak-Kanak (TK) sebanyak 155 unit, Sekolah


Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) sebanyak 430 unit,
Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) dan Madrasah
Tsanawiyah (MTs) sebanyak 115 unit, Sekolah Lanjutan
Tingkat Atas (SLTA) dan Madrasah Aliyah (MA) sebanyak. 55
unit, SMK : 15 Unit dan Perguruan Tinggi sebanyak 6 Unit.
Dari masing-masing jenjang pendidikan di atas, untuk
tingkat TK memiliki murid sebanyak 7.474 orang, SD dan MI
sebanyak 59.477 orang, SLTP dan MTs sebanyak 16.817
orang, SLTA dan MA sebanyak 11.023 orang. Sementara
Tenaga

Pengajar

(Guru)

untuk

masing-masing

jenjang

pendidikan tersebut adalah tingkat TK sebanyak 538 orang,


tingkat SD/MI sebanyak 3.995 orang, tingkat SLTP/MTs
sebanyak

1.454 orang dan tingkat SLTA/MA sebanyak 833

orang.
Berdasar pada perbandingan jumlah murid dan tenaga
pengajar seperti di atas, maka rasio murid terhadap guru
untuk

masing-masing-masing

jenjang

pendidikan adalah

tingkat TK yakni 13,82, tingkat SD/MI yakni 15,30, tingkat


SLTP/MTs yakni 12,12 dan tingkat SLTA/MA yakni 9,92 Sedang
untuk ratio murid terhadap sekolah berdasar angka-angka di
atas adalah tingkat TK sebesar 48,22 persen, untuk tingkat
SD/MI yakni138,32 persen, tingkat SLTP/MTs yakni 182,79
persendan untuk tingkat SLTA/MA adalah 200,42 persen.
2.3.1.1. Angka Partisipasi Sekolah

Pembangunan pendidikan sampai tahun terakhir, telah


menunjukkan
meningkatnya

peningkatan
Angka

yang

Partisipasi

ditandai

Kasar

maupun

dengan
Angka

partisipasi Murni pada setiap jenjang pendidikan.


Tabel : 2.8
APK dan APM pada Semua Jenjang Pendidikan

II-33

Kab Mamuju periode Tahun 2005 - 2009.


NO
1.

Uraian

2005

2006

2007

2008

2009

20,21

21,40

22,35

30,27

33,97

117,04

118,32

118,64

118,96

119,38

58,64

67,07

73,15

79,25

85,34

SD/MI

35,40

43,40

56,99

70,58

84,17

17,77

19,87

20,05

28,90

32,86

SMA/MA/SMK

99,48

101,03

102,95

103,23

103,51

APM

46,91

52,27

57,45

62,24

67,02

24,24

28,46

39,98

49,50

50,03

APK
TK

2.

SMP/MTs

TK
SD/MI
SMP/MTs
SMA/MA/SMK

2.3.1.2. Angka Melek Huruf


Angka Melek Huruf menunjukkan kemajuan yang sangat
positif dimana Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kab.
Mamuju menghasilkan kinerja yang sangat baik dengan
berhasil menurunkan angka melek huruf sebesar 2.904 orang
dari Tahun 2005 (13.026 orang) seperti yang terlihat pada
Gambar dibawah ini;
2.3.1.3. Angka Kelulusan
Indikator capaian kinerja pemerintah dalam bidang
pendidikan juga dapat dilihat dari aspek peningkatan mutu,
relevasi dan daya saing.

Indikator ini dapat memberikan

informasi tentang sejauhmana tingkat kelulusan yang dicapai


pada setiap tingkatan pendidkan dari SD sederajat sampai
II-34

SMA

sederajat.

memberikan

Dimana

pada

perkembangan

Tahun

yang

2009

sangat

sangat

signifikan

dibandingkan Tahun 2005 yaitu peningkatannya rata-rata


berkisar sebesar 10%, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada
Tabel dibawah ini:
Tabel : 2.9
Angka Kelulusan Kabupaten Mamuju
Tahun 2005-2009

NO
1.
2.
3.

Angka
Kelulusan

2005

2006

2007

2008

2009

SD/MI
SMP/MTs
SMA/MA/SMK

85,95
84,55
83,14

87,15
79,79
99,87

87,40
54,14
88,27

74,24
93,55
97,88

99,7
94,1
84,6

2.3.1.4. Rasio Murid terhadap Guru


Salah satu indikator yang banyak digunakan untk
melihat perkembangan pembangunan pendidikan adalah
rasio murid terhadap guru.

Angka menunjukkan rata-rata

murid yang harus dihadapi oleh seorang guru.


Grafik: 2.9
Rasio Murid Terhadap Guru Kab. Mamuju
Tahun 2005 - 2009

II-35

Jika dilihat gambar diatas, maka rasio guru pada Sekolah


Dasar (SD/MI) mengalami penurunan rasio yang sangat tinggi
dibandingkan tingkatan pendidikan lainnya yaitu sebesar
13,99, hal ini menujukkan bahwa pada Tahun 2006 2009
penerimaan/pengangkatan guru baik yang telah honorer
maupun umum di sekolah dasar lebih banyak dibandingkan
pada SLTP dan SLTA.
Upaya pemerintah daerah dalam meningkatkan mutu
juga dilakukan melalui kegiatan lomba mata pelajaran, lomba
MIPA, lomba pidato Bahasa Inggris, lomba kreativitas siswa
dan Porseni tingkat SD, SMP dan SMA mulai ditingkat sekolah
hingga

tingkat

Kabupaten,

guna

mencari

siswa

yang

berprestasi yang akan berlomba ditingkat propinsi hingga


tingkat nasional. Disamping prestasi siswa menunjukkan
grafik peningkatan yang cukup menggembirakan, setiap
tahunnya juga dilaksanakan seleksi guru berprestasi dalam
upaya

meningkatkan

kempetensi

dan

prestasi

tenaga

pendidik.
2.3.2.

Kesehatan
Untuk
mendukung

upaya

pelayanan

kesehatan

masyarakat, hingga akhir tahun 2010 Kabupaten Mamuju


II-36

memiliki 314 tempat pelayanan kesehatan yang terdiri atas 1


buah Rumah Sakit, 29 unit Puskesmas, 160 unit Puskesdes
serta 124 unit Praktek Dokter.
Sedangkan untuk tenaga kesehatan medis (S1) dan
paramedis pada tahun 2010 dokter (dokter umum : 69 orang,
dan dokter gigi : 24 orang Sementara tenaga bidan sebanyak
84orang dan perawat sebanyak 291orang. (Sumber Dinkes
Tahun 2010).
Berdasar pada perkembangan 5 (lima) tahun terakhir,
jenis

penyakit

menular

yang

mengancam

kesehatan

kebanyakan penduduk adalah Diare, TBC dan Malaria. Pada


tahun 2010, untuk penyakit menular tersebut tercatat jumlah
penderita masing-masing untuk penyakit Diare sebanyak
21.656kasus, penyakit TBC sebanyak 142kasus dan untuk
penyakit Malaria ditemukan sebanyak 15.988 kasus.
Kabupaten Mamuju juga dihadapkan pada masalah
sosial berupa adanya anak terlantar, keluarga miskin dan
penduduk lanjut usia. Untuk masing-masing jenis masalah
sosial tersebut pada akhir tahun 2009 tercatat anak terlantar
sebanyak 1.361 orang, keluarga miskin sebanyak 31.210 KK
dan lanjut usia sebanyak 1.046

orang dan 2.995 Keluarga

dengan kondisi perumahan dan lingkungan yang tidak layak.

2.3.2.1. Penurunan Angka Kematian Ibu, Bayi dan Balita


Kematian ibu adalah kematian perempuan pada saat
hamil atau kematian dalam kurun waktu 42 hari sejak
terminasi kehamilan tanpa memendang lamanya kehamilan
atau tempat persalinan, yakni kematian yang disebabkan
karena kehamilannya atau pengelolaannya, tetapi bukan
karena sebab-sebab lain seperti kecelakaan, terjatuh dan
lain-lain (Budi Utomo 1985).

II-37

GRAFIK : 2.10 ANGKA KEMATIAN IBU, BAYI, DAN BALITA KAB. MAMUJU TAHUN 2005-2009
90
80
70
60
50
40
30
20
10
0

85

2005
17

2006

25

78

73 74

2007
31

21

2009

26

15 18

AKI

2008

14 11

AKB

9 11

AKABA

Pada tahun 2005 Jumlah Kematian Ibu (AKI) di Kab.


Mamuju sebesar 17 orang dan pada tahun 2006 mengalami
peningkatan sebesar 47 % yaitu sebesar 25 orang. bila
dibandingkan tahun

2007 jumlah kematian ibu maternal

sebanyak 21 kasus mengalami penurunan di tahun 2008


sebanyak 15 kasus ( 302,9 per 100.000 kelahiran hidup ) dan
mengalami peningkatan lagi pada tahun 2009 dengan Angka
Kematian Ibu meternal sebesar 18 kasus ( 360,7 per 100.000
kelahiran hidup ) dan tidak ditemukan kematian ibu bersalin
pada tahun 2008 dan 2009.Adanya kematian ibu maternal
disebabkan karena adanya gangguan kehamilan pada ibu
dan persalinan yang tidak ditolong oleh tenaga kesehatan
atau dukun terlatih.
Pada tahun 2005 angka kematian bayi di Kab. Mamuju
sebesar 31 orang dan pada tahun 2006 angka kematian bayi
meningkat menjadi 85 orang atau sebesar 174 % dan pada
tahun 2007 angka kematian bayi kembali menurun menjadi
78 orang atau sebesar 8,23 % dari angka tahun 2006. AKB
Kabupaten Mamuju tahun 2009 sebesar 14,8 per 1000
kelahiran hidup dengan jumlah kematian bayi 74 kasus dan
dibandingkan

dengan

tahun

2008

AKB

mengalami

peningkatan dari 14,7 Per 1000 kelahiran hidup dengan


jumlah kasus 73 bayi .

II-38

Angka Kematian Balita (AKABA) adalah jumlah kematian


anak berusia 0-4 tahun (59 Bulan) selama satu tahun
tertentu per 1.000 anak umur yang sama pada pertengahan
tahun itu (termasuk kematian bayi). AKABA menggambarkan
faktor-faktor

lingkungan

yang

berpengaruh

terhadap

kesehatan anak balita seperti Gizi, sanitasi, penyakit menular


dan kecelakaan.
Pada tahun 2005 jumlah kematian balita di Kab. Mamuju
yaitu 26 orang dan pada tahun 2006 menurun menjadi 14
orang atau sebesar 46 % dari jumlah tahun 2005. Sedangkan
pada tahun 2007 sampai dengan tahun 2008 kembali
menurun rata-rata 20 % dari angka kematian tahun 2006.
AKABA Kabupaten Mamuju tahun 2009 yang tercatat
sebesar 2,2 per 1.000 kelahiran hidup dengan jumlah jumlah
balita mati 11 kasus, mengalami peningkatan pada tahun
2009 dari 1,8 per 1.000 kelahiran hidup tahun 2008 dengan
jumlah 9 kasus AKABA .
Penyebab

Umum

kematian

ibu

adalah

karena

perdarahan, eklamsia, infeksi, partus lama dan lain-lain,


sedangkan penyebab umum kematian bayi dan balita adalah
karena BBLR, asfiksia, cacat bawaan, diare, ISPA, tipoid,
malaria, malnutrisi dan lain-lain.
2.3.2.2. Penurunan Angka Kejadian Gizi Buruk (AKGB)
Gizi buruk adalah suatu istilah teknis yang umumnya
dipakai oleh kalangan gizi, kesehatan dan kedokteran. Anak
balita sehat atau kurang gizi secara sederhana dapat
diketahui

dengan

membandingkan

antara

berat

badan

menurut umurnya dengan standar yang telah ditetapkan.


Apabila berat badan menurut umur sesuai dengan standar,
anak disebut gizi baik. Kalau sedikit dibawah standar disebut
gizi kurang dan apabila jauh dibawah standar dikatakan gizi
buruk.
II-39

Pada tahun 2005 jumlah kejadian gizi buruk pada bayi di


Kab. Mamuju yaitu 2 orang dan pada tahun 2006 menjadi 4
orang atau meningkat sebesar 50 % dari tahun 2005. Dan
pada tahun 2007 dan 2008 mengalami penurunan menjadi 3
orang atau menurun sebesar 25 % dari angka tahun 2006.
Dan dibandingkan dari tahun 2005 2008 mengalami
peningkatan pada tahun 2009 sebanyak 8 kasus penderita
gizi buruk pada bayi .

GRAFIK : 2.11 ANGKA KEJADIAN GIZI BURUK KAB. MAMUJU


TAHUN 2005 - 2009

70
60

2009

2008

2007
30

50

2006

2005

40
8

5
13

3
3
4
2
Bayi

12
2
Balita

30
20
10
0

Faktor penyebab kekurangan gizi di Kabupaten Mamuju


adalah :
- Asupan makanan bayi dan Balita tidak mencukupi
kebutuhan tubuh
- Pendidikan tentang gizi masih kurang
- Pola asuh dari orang tua kurang
- Penyakit infeksi pada anak bayi dan balita.
2.3.2.3. Angka Harapan Hidup
Angka
harapan
hidup
merupakan
alat
mengevaluasi

kinerja

pemerintah

dalam

untuk

meningkatkan

kesejahteraan penduduk pada umumnya dan meningkatkan


derajat kesehatan pada Khususnya. Keberhasilan program
kesehatan

dan

program

program

pembangunan

social

ekonomi pada umumnya dapat dilihat dari peningkatan umur


II-40

harapan hidup penduduk dari suatu Negara. Meningkatnya


perawatan

kesehatan

melalui

Puskesmas,

akan

meningkatkan akses terhadap pelayanan kesehatan, mampu


memenuhi kebutuhan gizi dan kalori, mampu mempunyai
pendidikan yang lebih baik sehingga memperoleh pekerjaan
dengan penghasilan yang memadai yang pada akhirnya akan
meningkatkan

derajat

kesehatan

masyarakat

dan

memperpanjang umur harapan hidupnya.


Dilihat dari tahun ke tahun, Angka harapan hidup di
Kabupaten Mamuju terjadi peningkatan. Angka Harapan
Hidup tahun 2004 berdasarkan data yang dikeluarkan oleh
Badan Pusat Statistik yaitu

Tahun 2005 (67,4 tahun), Tahun

2006 (67, 5 tahun), Tahun 2007 (67,78 tahun) dan

Tahun

2008 (68,00 tahun) dan terakhir pada tahun 2009 sudah


mencapai 68,26 tahun.
GRAFIK 2.12 :USIA HARAPAN HIDUP (TAHUN)
68.4
68.26

68.2
68

68

67.8

67.78
USIA HARAPAN HIDUP (TAHUN)

67.6
67.4 67.4

67.5

67.2
67
66.8
2005

2006

2007

2008

2009

Mening

katnya Angka Harapan Hidup secara tidak langsung juga


memberi gambaran tentang adanya peningkatan kualitas
hidup

dan

derajat

kesehatan

masyarakat

serta

turut

berpengaruh terhadap Indeks Pembangunan Manusia.


2.3.3. Agama
Aspek sosial budaya daerah ini meliputi salah satunya
meliputi gambaran sosial keagamaan. Penduduk Kabupaten
Mamuju

dapat

dikategorikan

sebagai

masyarakat
II-41

yangmemiliki keragaman latar belakang agama dan budaya.


Dari sebanyak penduduk Kabupaten Mamuju tahun 2009,
sebanyak 336.973 orang atau 89,9 persen adalah mereka
yang beragama Islam, sebanyak

302.1350 orang.Pemeluk

agama Kristen sebanyak 23.641 orang atau 8,5


pemeluk agama Katolik, sebanyak. 3.717

persen,

orang atau 1,1

persen , pemeluk agama Hindu dan sebanyak 6.224 orang


atau

persen dan pemeluk agama Budha : 1.251 orang

atau 0,4 persen.


Selain keragaman latar belakang agama dan keyakinan,
masyarakat Kabupaten Mamuju juga memiliki latar belakang
etnik dan budaya yang bervariasi. Walaupun tidak terdapat
catatan angka-angka yang tepat mengenai hal ini, dapat
digambarkan bahwa sebagian besar masyarakat Mamuju
adalah etnik Mandar, kemudian etnik Bugis, Makassar, Toraja
dan sebagian lagi adalah etnik Jawa dan Madura.
2.3.4.Koperasi dan Usaha Kecil Menengah
Sejak tahun 2005-2009 beberapa langkah kebijakan
telah diambil Dinas Koperasi,UKM dan Perdagangan. Upaya-upaya
itu antara lain pelaksanaan program yang meliputi pembinaan,
penyuluhan, pelatihan, kemitraan, bantuan sarana dan prasarana,
rehabilitasi, pembangunan serta pemupukan modal kerja baik di
bidang kelembagaan, manajemen, promosi maupun pemasaran.
Program-program Perkoperasian yang dilaksanakan melalui
pembinaan kelembagaan dan usaha melalui kemitraan BUMN,
BUMD dan Swasta untuk perkuatan modal kerja.Pelaksanaan dan
program

pembangunan

prasarana
pengawasan

pendidikan
dan

koperasi,
dan

peningkatan

pelatihan

penghargaan

koperasi,

koperasi

sarana

dan

pembinaan,

berprestasi

dan

peningkatan pengembangan jaringan kerjasama usaha koperasi.


Grafik : 2.13 Jumlah Koperasi
Di Mamuju

II-42

250

240

229
217
203

200

200
JUMLAH KOPERASI
150

140

152 AKTIF
KOPERASI

164

171

KOPERASI TIDAK AKTIF

100

50 KOPERASI
PEMBINAAN
50

2005

2006

2007

2008

2009

Dari pelaksanaan program dan kegiatan tersebut diperoleh hasil


seperti terlihat dalam grafik bahwa perkembangan Koperasi secara
umum dari tahun 2005-2009 jumlah koperasi 240 Unit berkembang
rata-rata 4.05%
intensif dari

pertahun,

dari hasil pembinaan koperasi secara

Dinas Koperasi, UKM dan Perdagangan maka Koperasi

berkualitas meningkat sebanyak 171 unit demikian pula jumlah


anggota koperasi meningkat dari 33.323 anggota menjadi 37.150
anggota meningkat rata-rata 11.48%. Selama periode ini pula bantuan
Modal kerja Koperasi juga telah disalurkan pada tahun 2005-2008 telah
bergulir sebanyak Rp. 636 juta rupiah, untuk 60 koperasi aktif.

II-43

Di Bidang Usaha Kecil dan Menengah, kegiatan selama tahun


2005-2009, seperti terlihat dalam tabel tersebut bahwa untuk Usaha
Mikro semakin hari semakin baik perkembangannya. Untuk Usaha kecil,
Menengah dan Besar perkembangannya meningkat tipis.

Tabel : 2.10
Perkembangan UKM Kab. Mamuju Tahun 2005 -2010
MIKRO

USAHA KECIL

MENENGAH

BESAR

(org)

(org)

(Unit)

(unit)

2005

760

998

30

2006
2007

903
1.104

1.053
1.114

45
50

5
7

2008

1.372

1.118

55

10

2009

1.635

1.119

64

15

2010

1.953

1.814

338

51

Tahun

Sumber : Dinas Koperasi, UKM & perdagangan.


Pembinaan

pada usaha mikro, kecil dan menengah dari

tahun

2005 sampai dengan 2010 sangat meningkat yaitu usaha mikro ratarata

31,4 %/thn, usaha kecil rata-rata 16,4 %/thn,. Perkembangan

Usaha Mikro, Kecil dan Menengah dapat mencerminkan perkembangan


perekonomian

baik

regional

maupun

nasional,

hal

ini

dapat

mengurangi pengangguran dan meningkatkan pendapatan perkapita


serta menekan tingkat kemiskinan.
Dalam pembinaan di bidang Perdagangan dan Pengelolaan Pasar,
dari beberapa pembinaan di bidang perdagangan dampak secara tidak
langsung dapat diperoleh

bahwa pembinaan perizinan perdagangan

dari tahun 2005 sampai 2009 yaitu 2347 Surat Izin Usaha Perdagangan
(SIUP) mengalami peningkatan 32,74% dan peningkatan tiap tahun
rata-rata 6,55%, sedangkan pembinaan pelayanan tanda
perusahaan (TDP)

daftar

dari tahun 2005 sampai dengan tahun 2009 yaitu

2428 TDP mengalami peningkatan 25,38% peningkatan tiap tahun ratarata 5,1%.

II-44

Guna mendukung pemasaran produk lokal Kabupaten Mamuju


maka

dilaksanakanlah

pameran

setiap

tahun.

Peserta

adalah

perwakilkan dari UKM seperti pada expo pameran Koperasi dan UKM,
Expo Investasi di Yogya, Makassar dan Jakarta serta di Mamuju

baik

lingkup Provinsi Sulbar maupun Tingkat Kabupaten.


Untuk pendistribusian BBM khususnya minyak tanah dan gas elpiji
kondisinya tetap stabil berkat koordinasi yang baik dengan Pertamina
dan

agen-agen

walaupun

diakui

sehingga
bahwa

masyarakat
harga

sampai

terpenuhi
sekarang

kebutuhannya,
belum

stabil.

Berkembangnya sektor perdagangan di Kabupaten Mamuju didukung


oleh pembangunan pasar Desa dan Pasar Kecamatan melalui Dana
APBD, APBN dan Dana Stimulan dari Kementrian Koperasi.
Selama 2005-2010 selama rentang waktu lima tahun telah berhasil
merehab sebanyak 17 unit pasar sedangkan untuk pembangunan pasar
desa telah dibangun 46 unit pasar desa dan untuk pembangunan pasar
kecamatan telah terbangun sebanyak 6 unit pasar.

2.3.5.

Pemerintahan Umum

Organisasi Kelembagaan Pemerintah Daerah


Struktur

organisasi

dalam

lingkungan

Pemerintah

Kabupaten Mamuju diatur dalam 7(Tujuh) Peraturan Daerah,


yakni Peraturan Daerah Nomor

11 Tahun2007 tentang

Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Sekretariat Daerah


dan Sekretariat DPRD, Peraturan Daerah Nomor 12 Tahun
2007

tentang

Pembentukan

Organisasi

dan

Tata

KerjaLembaga Teknis Daerah, Peraturan Daerah Nomor 13


Tahun 2007 tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja
Dinas

Daerah,

Peraturan

Daerah

Nomor

14

Tahun

2007Tentang Pembentukan Organisasi dan Tata KerjaKantor


Satuan Polisi Pamong Praja, Peraturan Daerah Nomor 15
Tahun 2007 tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja
Kecamatan Dalam wilayah Kabupaten Mamuju, Peraturan
Daerah Nomor 16 Tahun 2007 tentangOrganisasi dan Tata
II-45

Kerja Kelurahan, serta Peraturan DaerahNomor 10Tahun 2009


tentangOrganisasi dan Tata Kerja Badan Penanggulangan
Bencana Daerah.

Sekretariat terdiri dari :


a. Sekretariat Daerah Kabupaten Mamuju
b. Sekretariat DPRD Kabupaten Mamuju.
Dinas daerah terdiri dari :
a.

Dinas

Pendapatan

dan

Pengelolaan

Keuangan

Daerah
b.

Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah raga

c.

Dinas Kesehatan

d.

Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi

e.

Dinas Perhubungan

f. Dinas KOMINFO dan Pelayanan Perizinan SISTAP


g.

Dinas Kependudukan, Catatan Sipil dan Pertanahan

h.

Dinas Koperasi, UKM dan Perdagangan

i. Dinas Pekerjaan Umum


j. Dinas Tata Ruang dan Kebersihan
k.

Dinas Pariwisata dan Kebudayaan

l. Dinas Pertanian dan Peternakan


m.

Dinas Kehutanan dan Perkebunan

n.

Dinas Kelautan dan Perikanan

o.

Dinas Pertambangan, energi dan Perindustrian.

Lembaga Teknis Daerah terdiri dari :


a. Inspektorat Daerah
b. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah
c. Badan Kepegawaian dan Diklat Daerah
d. Badan Pemberdayaan Masyarakat, Pemerintahan Desa,
Pemberdayaan Perempuan dan KB
e. Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah
II-46

f. Badan Kesatuan Bangsa, Politik dan Linmas.


g. Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan
Pertanian, Perikanan,dan Kehutanan
h. Badan Penanggulangan Bencana Daerah.
i. Rumah Sakit Umum Daerah.
j. Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah.
k. Kantor Satuan Polisi Pamong Praja.
2.3.6.

Pertanian
Dalam upaya meningkatkan pendapatan dan taraf hidup

petani

melalui

kegiatan

pengembangan

pertanian

dan

meningkatkan produksi pangan untuk memenuhi kebutuhan


pangan lokal dan dalam negeri dalam rangka mencapai
ketahanan

pangan

nasional;Meningkatkan

Produktifitas

komoditas pertanian pangan untuk memanfaatkan pasar


bahan baku industri pengelolaan ekspor; dan Mendorong
pengembangan ekonomi pedesaan melalui pengembangan
agribisnis yang berwawasan lingkungan; maka selama kurun
waktu 5 (lima) tahun terjadi peningkatan produksi padi dan
beras dari tahun ke tahun seperti yang tergambar pada Tabel
dibawah ini;
Tabel 2.11

:Peningkatan Produksi Padi dan Beras


Kab. Mamuju Tahun 2005 2010

2005

2006

2007

2008

2009

1.

Luas Panen 20.62

20.75

23.23

24.48

25.63

2.

(Ha)
Produktivita

3.

s (Kw/Ha)
Produksi

48,66

47,23

49,39

49,50

49,65

48,87

100.3

98.00

114.7

121.2

127.2

134.0

56

77

06

68

26

4.

URAIAN

Padi (Ton)
Produksi

2010
26.94
0

II-47

Beras (Ton)

50.17

49.00

57.38

60.60

63.63

80.41

3,5

8,5

Tabel 2.12 :
Peningkatan Produksi Jagung Kab. Mamuju Tahun
2005 2010
Tahun

Luas Panen

Produktifitas

Produksi

Keteranga

(Ha)
3.849
5.931
13.395
14.440
15.218
16.53o

(Kw/Ha)
44,79
45,75
48,61
48,71
48,78
48,80

(Ton
17.241
27.134
64.523
70.335
74.233
80.671

2005
2006
2007
2008
2009
2010

Tabel 2.13 :Peningkatan Kedelai Kab. Mamuju Tahun


2005 2010
Tahun

Luas Panen

Produktifitas

Produksi

Keteranga

(Ha)
715
373
380
744
850
1415

(Kw/Ha)
19,26
19,50
20,00
19,73
19,72
19,73

(Ton
1.377
727
760
1468
1696
2792

2005
2006
2007
2008
2009
2010

Dari pembangunan pertanian tersebut terlihat peningkatan


produksi.
Terjadinya peningkatan produksi disebabkan :
Bertambahnya baku lahan sawah

dengan adanya pencetakan sawah baru


Penggunaan

benih

bermutu/unggul dengan adanya bantuan dari pusat


Meningkatnya indeks pertanaman

dengan

terbangunnya

infrastruktur

pembangunan

saluran drainase dan pompanisasi


II-48

Potensi luas baku lahan


sawah Kab. Mamuju dari
Tahun 2005 hingga Tahun
2009

mengalami

peningkatan, hingga saat


ini luas baku lahan sawah
sebesar 24.435 Ha yang
terdiri dari; sawah tadah
hujan seluas 17.678 Ha, irigasi teknis/Desa seluas 4.982 Ha,
pompanisasi 1.775 Ha. Luas tanam dan luas panen 5 tahun terakhir
menunjukkan kenaikan yang signifikan, hal ini tidak lain adalah
kontribusi dari pembangunan infrastruktur.
2.3.7.

Peternakan
Sedangkan

dibidang

Peternakan,

populasi

ternak

memperlihatkan kenaikan yang berkisar 1% dari setiap


jenis ternak, hal ini dapat dilihat pada Tabel dibawah ini;
Tabel 2.14 : Jumlah Populasi (ekor) Ternak di Kab.
Mamuju Tahun 2005 2010
NO
1.

2.
3.

URAIAN
Ternak Besar
- Sapi
- Kerbau
- Kuda
Ternak Kecil
- Kambing
- Babi
TernakUnggas
- Ayam Buras
- Ayam Ras
- Itik

2005

2006

2007

2008

2009

2010

34.662
3.285
273

38.964
3.569
317

44.911
3.819
346

48.436
5.514
534

52.238
7.968
824

56.573
9.674
980

4.668
47.893

13.066
63.589

14.679
67.375

22.752
104.431

35.264
161.868

40.201
216.887

991.277
3.760
49.374

1.000.73

1.120.8

1.457.07

1.894.19

2.197.26

7
10.510
50.060

27
12.087
51.309

5
12.500
103.386

7
12.927
208.319

2
25.940
216.456

Di bidang peternakan, melalui program intensifikasi dan


ekstensifikasi

peternakan,

produksi

daging

pada

RPH

ataiupun luar RPH meningkat signifikan, bahkan ada yang


mencapai sampai melebihi 300%.

II-49

Tabel 2.15 : PRODUKSI DAGING KAB. MAMUJU THN. 2005-2010


(KG)
N
o

Tahun
2005

Ternak

2006

2007

2008

2009

2010

133,80
1
2
3
4
5

Sapi
Kerbau
Kuda
Kambing
Babi
Ayam

110,531
1,546
300
5,225
24,807

127,641
3,479
1,340
13,703
328,320

ras/buras
Ayam ras

723,596

7
8

Pedaging
Itik manila

3,121
41,968

Peningkatan

0
2,900
900
25,274

528.900
511,758
6,820
2,275
41,580
40,125

655,050
7.775
2.616,30
68.191,20
48,150
1.136.519,

310,917

16,422,298

80

58,269
200,598

18,750
41,354

24.385,40
53.760,72

daging

dikarenakan

adanya

3.150
480
134.550
571.675
1.235.001

22.072
131.781

program

intensifikasi dan ektensifikasi peternakan produksi daging


dari peternakan, peningkatan juga terjadi

di Pemotongan

RPH.
2.3.8.

Perkebunan
Peningkatan produksi Kakao melalui pemberian pupuk ,

baru diketahui pada 6 bulan kemudian. Saat ini diketahui luas


Tanaman Kakao
45.000,

maka

Mamuju

punya

68.330,52 Ha, dengan jumlah Petani


dapat

dipastikan

keterbatasan

Pemerintah

untuk

Kabupaten

memenuhi

secara

keseluruhan petani Kakao.


Di samping komoditi unggulan kakao, komoditi lainnya
adalah Kelapa Sawit. Areal Kelapa sawit dari tahun ke tahun
juga meneingkat dari luasan 42.401 Ha pada tahun 2005
mejadi 155.345 Ha pada tahun 2009. Sedangkan tanaman
lainnya nampaknya mulai berkurang seperti kelapa, kemiri,
kopi dan cengkeh. Hal ini diakibatkan pada penurunan karena
faktor usia dan perilaku petani beralih kepada komoditi
lainnya seperti kakao maupun sawit, yang lebih menjanjikan,
bersifat massal dan para petani dalam keluarga sudah sangat
familiar dibandingkan dengan komoditi lainnya. Adapun
II-50

perkembangan komoditi perkebunan dari tahun 2005-2010


dapat dilihat dalam tabel di bawah ini :
Tabel 2.16 :Perkembangan Produksi Tanaman Perkebunan
Kab. Mamuju Tahun 2005 2010

N
O
1.
2.
3.
4.
5.
6.

TAHUN (Ton)
KOMODITI
Kelapa
Kakao
Kelapa
Sawit
Kemiri
Kopi

2005

2006

2007

2008

14.845
46.111
42.401
1.195
855
346

9.109
50.136
50.000
1.092,

7.375
30.421
81.000
939,5
606
234,5

7.060
13.289
105.78

Robusta
Cengkeh

Selain

1
550,5
207,35

tersebut

diatas,

2009

7.107
7.413
16.069 17.00
,5
2
155.34 164.9

9
725
309
126

capaian

2010

5
76
102,45 11.04
268
4
74,8
307
79,51

kinerja

juga

pada

kegiatan peningkatan produksi Perkebunan Tahun 2005-2010,


dalam upaya;
Merehabilitasi tanaman kurang produktif

seluas

8.000 Ha
Mengidentifikasi

tanaman

yang

tidak

terawat seluas 5.000 Ha


Meremajakan tanaman tua, rusak seluas

1.250 Ha

Melakukan

dengan

memberikan

penguatan
bantuan

kelompok
upah

tani
kerja

pemeliharaan303 kelompok.
-

Melatih petani sebanyak 1.375 orang

Memberikan

alat

pertanian

seperti;

chainsaw 93 unit, gunting galah 5.000 unit, Handsprayer


2.850 unit
II-51

2.3.9.

Perikanan dan Kelautan

Dalam Program Pengembangan Perikanan Tangkap meliputi


berbagai

kegiatan

yaitu;

(1)

Pengembangan TPI 1
unit, (2) Peningkatan
dengan

Kapal

Perikanan,

(3)

Pengembangan
Sarana

dan

Tekhnologi

Peningkatan

Ikan

dan

(4)

Pengembangan Sistem Penyuluhan Perikanan.


Capaian

program

dan

kegiatan

dapat

dilihat

dari

peningkatan produksi rumput laut yang sangat signifikan jika


dibandingkan dari Tahun 2005 sampai pada Tahun 2010
dapat dilihat pada Tabel berikut ini :
Tabel 2.17 : Perkembangan Produksi Perikanan Darat dan Laut
dan Tambak Kabupaten Mamuju Tahun 2005 2010
N
o
1.
2.

Uraian
Perikanan Laut
Perikanan
Darat
Tambak :
- Udang
- Bandeng
- Kolam
- Rumput

TAHUN (Ton)
2007
2008

2005

2006

6.415

6.401 6.593

791.7

476,5 426,5
733,5 2.854,

2
890,2
6

Laut
12
480

42,94
495

2009

2010

7.984

8.385

9.022

600
4.500,

690,6

911,42
5.154,

9,76
600

44
750

2
4.991,
8
103,6
754,3

9
104
546

Sumber : Dinas Perikanan & kelautan dan BKP5K

2.4. Aspek Daya saing daerah


2.4.1. Fokus Fasilitas Wilayah/Infrastruktur
2.4.1.

Infrastruktur Jalan
II-52

Selanjutnya adalah fasilitas jalan yang menghubungkan


antara Kabupaten Mamuju dengan daerah sekitarnya dan
yang

menghubungkan

antar

wilayah

dalam

Kabupaten

Mamuju. Panjang jalan tersebut secara keseluruhan sampai


tahun

2009

adalah

197,625

Km

berupa

jalan

kerikil,

sepanjang :76,705 Km adalah jalan Lapen dan jalan Hotmix


sepanjang : 135, 343 Km.
Tabel : 2.18 Panjang jalan di Kabupaten Mamuju
Tahun
2005
2006
2007
2008
2009
Sumber : Dinas PU,

Hotmix

Lapen
15,889
20,235
5,115
8,156
27,310

52,116
49,989
15,928
17,310
2009.

Kerikil
31,900
50,235
18,300
11,027
86,163

GRAFIK 2.14 : Prasarana Jalan berdasarkan permukaan Panjang jalan

86.163

52.116
49.989 50.235
31.900
Hotmix
15.889
20.235

Lapen
18.300
5.115

15.928

2005

2006

2007

Kerikil
17.310

27.310

11.027
8.156
2008

2009

Kondisi Jalan Kabupaten Mamuju dalam 5 tahun terakhir


terlihat pada gambar diatas kondisi jalan dalam keadaan
rusak masih sangat dominan dari segi kuantitasnya dalam 5
Tahun terakhir sepanjang 1.640,20 Km, kemudian kondisi
jalan keadaan Baik sepanjang 1.229.87 Km disusul dengan
kondisi jalan Rusak sedang dan Rusak berat.
II-53

Grafik 2.15 : Kondisi jalan Kabupaten Mamuju


685.70

700.00

538.37

600.00
500.00

400.00 Baik 263.41


300.00
145.00
200.00

Sedang
144.19

546.50

474.66
Rusak

479.84

Rusak Berat
216.54

209.61

103.16

99.16

100.00
0.00

2006

2007

2008

Kondisi jalan Rusak pada tahun 2006 sangat dominan


dari kondisi jalan lainnya tetapi sejak tahun 2007 dan 2008
Kondisi Jalan Baik sudah dominan

lebih besar dari segi

kualitasnya dengan kondisi jalan lainnya, hal ini terbukti


keinginan Pemerintah memperbaiki kondisi jalan sangat
besar akan tetapi kondisi jalan sedang, rusak dan rusak berat
tetap merupakan taanggungjawab pemerintah untuk segera
memperbaiki

demi

menjaga

kepercayaan

masyarakat

terhadap kinerja pemerintah.


Kedepan,

Pemerintah

masih

mempunyai

tugas

meneruskan perbaikan infrastruktur jalan yang dirasakan


belum memenuhi standar layak.
2.4.2.

Infrastruktur Pertanian
Diantara prasarana dan sarana daerah yang penting

adalah berkaitan dengan pengembangan pertanian, sarana


perdagangan

dan

sarana

transportasi.

Untuk

sarana

pertanian yang cukup vital adalah irigasi untuk mendukung


budidaya padi. Hingga tahun 2009, Kabupaten Mamuju masih
mengandalkan irigasi sawah pada pengairan sederhana. Dari
16 wilayah kecamatan di Mamuju, hanya 12 kecamatan yang
memiliki

pengairan

sederhana,

yakni

Tapalang

dengan

kapasitas areal 795 Ha, Tapalang Barat dengan kapasitas 45


II-54

Ha, Kalukku untuk areal 2.856 Ha, Papalang untuk areal


2.800 Ha, Sampaga untuk areal 1.632

Ha, Tommo untuk

areal 3.197 Ha, Kalumpang seluas 450 Ha, Bonehau seluas


273 Ha, Budong-Budong seluas 1.613 Ha, Pangale seluas
4.508 Ha, Topoyo seluas 125 Ha dan Kecamatan Karossa
seluas 2.726 Ha. (Sumber:BPS Mamuju, 2009)
Tabel 2.19

: Pembangunan Infrastruktur Bidang

Pertanian Tahun 2005 2010


N

Uraian

2005

2006

2007

2008

2009

2010

7.620

16.700

5.000

12.50

16.00

12.08

1.145

4.250

6.916

270

3.700

2.380

Drainase/Salur
1

an Buang
(M/Ha)
JaringanIrigasi
(M/Ha)

JITUT (M/Ha)

3.850

150

200

250

100

JIDES (M/Ha)

4.250

6.916

270

250

100

300

500

100

2.000

1.500

8.954

12.47

20.72

Cetak sawah
baru
Jalan Usaha

Tani

1.011
,05
4,500

Sumber : Dinas Pertanian & Peternakan, 2010

2.4.3.

Perhubungan
Seiring

dengan

perkembangan

daerah

danperkembangan penduduk di Kabupaten Mamuju.Dimana


Kota

Mamuju

sebagai

pusat

adminsitrasipemerintahan

Propinsi dan Kabupaten. Hal iniberakibat aktifitas penduduk


dalam bermobilisasisangat tinggi.Pada sektor perhubungan
darat peningkatannyasangat tinggi. Ini diakibatkan oleh
adanyaperkembangan
membaiksejak

tahun

sarana
2005

jalan
yang

lalu.

yang
Jalan

mulai
Trnas

II-55

Sulawesimerupakan jalan utama arus barang dan jasa


antarwilayah maupun di dalam wilayah KabupatenMamuju.
Sebagaibentuk

pelayanan

KabupatenMamuju

telah

di

angkutan

fasilitasi

darat

Terminal

di

angkutan

daratyanitu : Terminal angkutan darat Regional diSimbuang


yang melayani jalur Antar Kota antarPropinsi dan antar Kota
Dalam Propinsi, TerminalMamuju di Karema untuk melayani
angkutan kotadan desa, kemudian sub terminal yang ada
diTasiu, Trailu, Topoyo dan Karossa. Dengan perhitungan
jumlah Angkutan Desa
Kabupaten

Mamuju,

(Angkudes), AKDP dan AKAP di

dimana

sampai

pada

tahun

2010

jumlahnya ada 24.209 buah. Akumulasi perhitungan total


jumlah kapasitas tempat duduk penumpang adalah sebanyak
518.650. ini sudah termasuk angkutan darat (angkudes,
Angkutan Antar Kota

Dalam Propinsi dan AngkutanDarat

Antar Kota Antar Propinsi.


Dengan melihat Posisi Kabupaten yang strategis di
manaKabupaten

Mamuju

merupakan

lintasan

pelayaran

menujuKalimanatan, Pulau Jawa dan Bali serta

Secara

regionalSulawesi

antara

merupakan

daerah

lintasan

Makassar-Pare-Pare-Mamuju-Pasangkayu, Palu dan Manado,


sehinggasangatlah wajar bilaKabupaten Mamuju memiliki
Pelabuhan Laut danpelabuhan rakyat di sepanjang Pantai
Mamuju.Sebagai bentuk pelayanan publik dan komersial
telahdilayani

dengan

adanya

beberapa

Pelabuhan

pelabuhan Ferryyang melayani Mamuju-Samarinda & Balik


Papan yangdilayani dua 2( dua) kapal ferry dengan volume
penyebarangansetiap

hari.Kemudian

Pelabuhan

Samudra

Belang-Belang diKalukku yang melayani angkutan komersial


Semen,

Pupuk,dan

tambang

Galian

dan

Mangaan.

Pelabuhan ini melayanirute antar Pulau.Di lain itu masih ada


beberapa

pelabuhan

rakyat

yangdifungsikan

sebagai
II-56

pelabuhan

penumpang

ataupun

pendaratanikan,

seperti

Kasiwa Kota Mamuju, Karampuang, Pelabuhanrakyat Rangas,


Tampapadang, Budong-Budong, Karama,Tumbu dan Karossa.
Sektor

perhubungan

semakinmeningkat.
diKecamatan

Keberadaan

Kalukku

seiringdengan

udara
Bandara

semakin

dibenahinya

semakinhari

hari

fasilitas

Tampapadang

semakin
bandara.

ramai
Saat

sekarangbandara ini sudah melayani penerbangan komersiil


antaraMakassar dan Mamuju dengan link ke kota-koita
besarlainnya.
Penerbangan
LionAir

(Wings

Padawaktu-waktu

Komersiil
Air)

ini

dengan

lain

pula

dilayani

oleh

penerbangan
penerbangan

Masakapai

setiap

hari.

chraterpun

denganpesawat sejenis ATR dan Cassa.Untuk penerbangan


Perintis dilayani oleh SabangMeuruke Air Charter (SMAC)
yang melayani ruteMamuju- Balik papan, dan Mamuju-Palu
denganpenerbangan 3 (tiga) kali seminggu.
Keberadaan

beberapaOperator

penerbangan

yang

sempat dilayani bandaraTampapadang seperti DAS, Merpati


Air, Pelita Air danEkpress Air membuktikan bahwa Bandara
Tampapadangjuga sudah layak dan mampu bersaing dalam
melayani jasapenerbangan.Untuk event-event tertentu sepeti
angkutan jamaah haji,bandara Tampapadang sudah mampu
melayani penerbangannyadengan pesawat berbadan lebar
yaitu Boeing 737-200 milikMerpati air Lines. Ke depan seiring
dengan perkembanganpenduduk dan perkembangan daerah,
maka Bandara tersebutakan ditingkatkan untuk memfasilitasi
penerbangan domestiknasionalantar kota besar di wilayah
Indonesia,

denganpenambahan

penerbangan

dan

operatornya.

II-57

2.4.4. Pariwisata
Seperti di ketahui bahwa Kabupaten Mamuju memiliki
banyak tempat yang menarik untuk dikembangkan menjadi
obyek wisata. Disadari bahwa potensin obyek wisata belum
terlihat ke daerah lain karena keterbatasan dana untuk
pengembangan dan promosinya, sehingga wisatawan yang
datang baru wisatawan domestik, walau diakui bahwa
wisatawan asingpun walaupun dengan porsi sedikit tetap ada
yang berkunjung ke Mamuju khususnya dalam event-event
tertentu seperti Sandeq Race, Masossor Manurung dsb. Pada
tahun 2007 terdapat 12.943 pengunjung, 2008 sebanyak :
17.593 dan pada tahun 2009 sebanyak 17.915 pengunjung
wisatawan yang mengunjungi Kabupaten Mamuju. (BPS,
Mamuju dalam angka 2010) Mereka menuju ke obyek-obyek
wisata seperti Sodo Kali Mamuju, Pantai Lombang-lombang,
Taman wisata Gentungan, Polo Pantai, pantai Belang-belang,
air terjun tamasapi, sumber air panas dan sebagainya.
Hotel di Kabupaten Mamuju merupakan salah satu faktor
penunjang

meningkatnya

dunia

pariwisata

Kabupaten

Mamuju. Sampai tahun terakhir ini sudah tercatat Akomodasi


Hotel: Hotel berbintang tiga: 1 Unit, Hotelnonberbintang
39unitdenganjumlah kamar sebanyak 536 kamar dan tempat
tidur sebanyak 887 tempat tidur. (BPS, Statistik Daerah Kab.
Mamuju 2010)
Sedangkan kontribusi sektor pariwisata seperti yang
dilaporkan BPS Kabupaten Mamuju menunjukkan bahwa
kontribusi sektor pariwisata sebesar 8,60 % dari total PDRB
Kabupaten Mamuju.
2.4.4.

Telekomunikasi

dan

Informasi

II-58

Peningkatan
informasi

pelayanan

bertujuan

untuk

jasa

telekomunikasi

mengatasi

dan

ketimpangan

penyebaran informasi. Pelayanan jasa ini diharapkan dapat


menembus

hingga

batas-batas

terpencil

yangf

sulit

mendapatkan akses informasi. Di Kabupaten Mamuju upaya


tersebut sudah berjalan melalui jasa Pos dan Giro untuk jasa
persuratan, kemudian operator telfon PSTN (PT. Telkom) dan
operator telfon GSM yaitu : Telkomsel, Satelindo dan Excel
comindo. Dari 16 Kecamatan Di kabupaten Mamuju sebagian
besar sudah dapat memanfaatkan jaringan telfon PSTN
ataupun GSM

bahkan untuk operasi internet sudah dapat

dimanfaatkan walaupun kuota yang masih terbatas. Hanya


Kecamatan

Bonehau,

Kalumpang

dan

kepulauan

BalaBalakang yang belum mendapatkan akses jaringan


informasi baik itu POS, telfon PSTN ataupun GSM.
2.4.5.

Fokus

Iklim

berinvestasi
2.4.5.1 Keamanan & ketertiban
Sebagaimana

diketahui

bahwa

Kabupaten

Mamuju

sebagai bagian dari wilayah Propinsi Sulawesi barat emnjadi


ibukota Propinsi, memiliki luasan yang cukuo besar dan
merupakan daerah yang strategis bila ditinjau dari sisi
mobilitas sosial, ekonomi, perdagangan dan keragaman
sosial budaya, bahasa adat istidat dan agama. Semua ini bila
dibina dan dikembangkan menjadi kekuatan yang luar biasa.
Tetapi bila dibiarkan akan menjadi sumber kerawanan di
masa depan.

Gambaran secara ringkas selama ini di

Kabupaten Mamuju statistik terhadap trend kerawanan sosial


tidak terlalu menonjol dan semua itu bisa ditangani oleh
pihak yang berwenang.
Dengan demikian maka iklim investasi di Kabupaten
Mamuju dapat dikatakan cukup kondusif, apalagi dengan
II-59

ditopang oleh sikap buadaya masyarakat Mamuju yang cukup


terbuka kepada siapapun yang membawa manfaat bagi
kesejahteran masyarakat.

Tabel 2.20 : Kinerja Keamanan Kabupaten Mamuju


Jenis

2005

2006

2007

2008

2009

2010

Demontrasi

27

23

26

27

Gangguan
Kamtibmas

Sumber : Badan Kesbangpol Kab. Mamuju, 2010

2.4.5.2. Perbankan
Selama kurun waktu 2007-2010 jumlah Bank

di

Kabupaten Mamuju bertambah dari tahun ke tahun. Dengan


meningkatnyabjumlah
berinvestasi

semakin

Bank

bmenunjukkan

meningkat

bahwa

sehingga

iklim

membawa

pengarush pada pertumbuhan ekonomi atau PDRB. Julah


bank pada tahaun 2010 sebanyak 16 Bank dan lembaga
keuangan non Bank lainnya seperti Perusahaan asuransi,
Pegadaian, PT. Pos, BPR, KSP dan sebagainya.
Apabila dilihat pada kontribusi bank terhadap PDRB
maka kontribusi Bank mengalami peningkatan dari 1,96 pada
tahun 2007 mengalami peningkatan maenjadi 2,84 persen di
tahun 2009.
2.4.5.1. Fokus Sumberdaya Manusia
2.4.6.1 Sumberdaya Aparatur
Hingga tahun 2010 jumlah aparatur Pemerintah di
Kabupaten Mamuju adalah 6.271 orang. Terdiri dari laki-laki
sebanyak 3.415, dan perempuan : 2.856 orang. Dari jumlah
II-60

tersebut jika klasifikasi berdasar latar belakang pendidikan


terdiri atas mereka yang berpendidikan Sekolah Dasar
sebanyak

40 orang atau 0,64

persen, aparatur dengan

pendidikan SLTP sebanyak 92 orang atau 1,467 persen


aparatur dengan pendidikan SLTA sebanyak 2.246 orang atau
35,82 persen, aparatur dengan pendidikan Diploma I, II, dan
III serta Sarjana Muda

sebanyak 1.109 orang atau 17,68

persen, aparatur dengan pendidikan Sarjana (S1) sebanyak


2.644 orang atau 42,2 persen dan yang berpendidikan Pasca
Sarjana (S2) sebanyak 139 orang atau 2,22 persen S3 : 1
orang atau0,01 persen. Dari klasifikasi golongan : sebanyak
86 orang golongan I, sebanyak : 2.252 orang adalah
golongan II, sebanyak 2.962 orang adalah golongan III dan
sisanya sebanyak 971 orang adalah golongan IV.
2.4.6.2. Kualitas tenaga kerja
Sebenarnya Sumber daya manusia tenaga kerja di
Kabupaten Mamuju cukup melimpah, tetapi berhubung pasar
kerja tidak terdistribusi dengan baik maka luapan pencari
kerja cukup besar bila dibandingkan dengan angkatan kerja
yang ada. Pada tahun 2009 yang sangat dominan pencari
kerja adalah tingkatan lulusan SLTA dan tingkatan Sarjana,
baik yang terdaftar, ditempatkan maupun belum tersalur.
Tabel 2.21 : Jumlah Pencari kerja yang terdaftar ,
ditempatkan dan belum tersalur menurut tingkat
pendidikan.
N
o
1
2
3
4
5

Pendidikan

Terdaftar

SD
SLTP
SLTA
D1
D2

165
249
4.057
95
1.804

Ditempatka

Belum

n
580
18
245

tersalur
165
249
3.477
77
1.559
II-61

6
7
8
9

D3
S1
S2
S3

1.264
3.429
13
-

209
415
6
-

1.055
3.077
7
-

2.4.6.3. Tingkat Ketergantungan


Komposisi penduduk menurut umur di Kabupaten
Mamuju masih didominasi kelompok umur 15 tahun ke
bawah. Sedangkan angkatan kerja produkstif umur 15 tahun64

tahun

tidak

terlalu

jauh

jumlahnya.

Sehingga

menyebabkan rasio ketergantungannya cukup tinggi.


Tabel 2.22 : Rasio ketergantungan Penduduk Kab.
Mamuju tahun 2007-2009
No
1
2
3
4
5

Uraian
Jumlah Penduduk
< 15 thn
Jumlah penduduk
> 64 tahun
Jumlah usia tidak
produktif
Jumlah penduduk
usia 15-64
Rasio
Ketergantungan

2007

2008

2009

113.507

119.936

115.972

7.968

7.623

11.518

121.475

127.559

127.460

175.353

177.914

187.593

0,7

0,8

0,7

II-62

Tabel : 2.23

Hasil Analisis Gambaran Umum Kondisi Daerah

Terhadap Capaian Kinerja Penyelenggaraan Urusan


Pemerintahan
Kabupaten Mamuju *)

No.

Aspek/Fokus/Bidan
g Urusan/Indikator
Kinerja
Pembangunan
Daerah

Capaian Setiap tahun


2006

2007

2008

2009

2010
**)

6,93

7,96

9,69

8,26

10,59

11,66

1,78

5,12

8.170.32

9.075.58

9.847.90

2
8,17

ASPEK
1

KESEJAHTERAAN
MASYARAKAT
Kesejahteraan dan

1.1

pemerataan
Ekonomi
Otonomi daerah,
Pemerintahan
Umum,Administras
i Keuangan Umum,
Perangkat Daerah,
Kepegawaian dan

1.1.1

persandian.
Pertumbuhan PDRB
%

1.1.2

Laju Inflasi %

1.1.3

PDRB per kapita (Rp)

1.1.4
1.1.5
1.1.6

Angka Kemiskinan
(%)
Indeks Pembangunan
Manusia
Angka pengangguran

5.669.842

6.594.165

11,96

10,4

8,11

8,13

67,3

67,6

68,5

68,9

9,72

5,4

3,32

3,36

3,36

88,77

89,08

89,5

89,5

ASPEK PELAYANAN
UMUM
Pelayanan Urusan
Wajib
1.2.1

Pendidikan

1..2.1

Angka Melek Huruf

II-63

1.2.2

Angka Rata-rata lama

6,72

6,79

6,90

6,90

118,32

118,64

118,96

119,38

91,30

sekolah

1.2.3

APK SD/MI/Paket A

1.2.4

APK SMP/Mts/Paket B

67,07

73,15

79,25

85,34

83,20

1.2.5

APK SMA/MA/SMK

43,40

56,99

70,58

84,17

61,92

87,15

87,40

74,24

99,7

100

79,79

54,14

93,55

94,1

94,1

99,87

88,27

97,88

84,6

84,6

22,78

19,62

16,85

15,30

13,01

12,54

12,59

11,96

67,5

67,78

68,2

68,28

68,4

25

21

15

18

18

85

78

73

74

11

17

18

25

27

32

0,5

30

30

Angka Kelulusan
1.2.6
1.2.7.
1.2.8.
1.2.9
1.2.1
0
1.3.
1.3.1.
1.3.2.
1.3.3.
1.3.4.
1.3.5.
1.3.6.

SD/MI
Angka kelulusan
SMP/Mts
Angka Kelulusan
SMA/MA
Rasio Murid : Guru
(SD)
Rasio Murid : Guru
(SMP)
Kesehatan
Usia Harapan Hidup
Angka Kematian
Ibu/1000 penduduk
Angka kematian Bayi
Jumlah Rumah
sakit/PKM
Keberadaan
Puskesmas Modern
Puskesmas rawat
Inap

1.3.7

Prevalensi Gizi buruk

1.3.8

Desa UCI (%)

2.
2.1

12

13

Pelayanan Urusan
Pilihan
Pertanian

2.1.2.

Produktifitas padi/Ha

2.1.3

Produksi padi (ton)

2.1.4

Surplus padi (ton)

47,23

49,39

49,50

49,65

48,87

98.007

114.777

121.206

127.268

134.026

II-64

2.1.5

Produksi kakao

2.1.6

Desa Mandiri Pangan

2.1.7
2.1.8
2.1.9

Kontribusi Pertanian

Produksi kayu (M3)

0
2.1.1

(ton)
Produksi rumput laut

2.1

31.769,53

43.039,10

105.789

54,82
27.235,8
1

Luasan Hutan rakyat

2.1.1

81.000

58,30

terhadap PDRB %

(Ha)
Produksi ikan laut

50.000

(ton)

155.345

17.002

51,35

49,56

11.439,2

1.179

50.000

75.000

6.401

6.593

7.984

8.385

9.022

495

600

750

754,3

546

240.646

399.736

416.075

36,18

48,60

47,64

1.952,2

2.495,8

2.853,3

102,17

105,52

105,48

35 %

40 %

40 %

Proses

Draft
Ranperd

ASPEK DAYA SAING


DAERAH
Pengeluaran
Konsumsi rumah
tangga per kapita
(Rp/bln)
Pengeluaran

2.2.

2.3.
2.4.

konsumsi non
pangan per kapita
(%)
Produktifitas Total
Daerah (Milyar)
Nilai tukar petani %
Infrastruktur

2.4.

2.5.

2.6.

2.7

Infrastruktur dasar
(%)
Ketersediaan regulasi
tata ruang &
turunannya
Terbentuknya kota
otonom
Terciptanya gerakan
kebersihan

Proses

Proses

a
Belum

Belum

Belum

Belum

Belum

Belum

Baik

Baik

masyarakat
2.8

Desa mandiri energi


Pemerintahan Umum

2.9

Kinerja

II-65

kepemerintahan
2.10
2.11

Kinerja keuangan

Disclaime

WDP

Keberadaan SOP &


SPM pada SKPD
Keamanan,

WDP

WDP

WDP

Belum

Belum

Belum

Aman

Aman

Berfungsi

Berfungsi

ketertiban
masyarakat dan
Demokrasi
Terjaminnya
2.12

keamanan &
ketertiban
masyarakat

2.13

2.14

Meningkatnya
kualitas demokrasi

Partisipasi
pemilih >75

Berfungsinya
lembaga demokrasi

*) Diisi sesuai dengan nama Kabupaten


**) Diisi sesuai dengan ketersediaan data.

II-66