Anda di halaman 1dari 8

PENDIDIKAN BAGI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS

Yusmala Hayati
Pendidikan Matematika ,FKIP Universitas Lampung (Unila)
Abstrak
Mencoba memahami dunia pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus ( ABK)
sebagai upaya perluasan dan pemerataan pelayanan pendidikan di Indonesia.
Istilah Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) adalah sebagai pengganti istilah lama
anak cacat atau penyandang cacat. Sebenarnya istilah Anak Bekebutuhan Khusus
adalah untuk menunjuk mereka yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental,
intelektual, dan/atau sosial. Pemerintah memahami pada kondisi yang memiliki
kekurangan dan kelebihan kemampuan khususnya dalam bidang pendidikan.
Itulah Anak Berkebutuhan Khusus .

Menurut pasal 15 UU No. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas, bahwa jenis


pendidikan bagi Anak berkebutuan khusus adalah Pendidikan Khusus. Pasal 32
(1) UU No. 20 tahun 2003 memberikan batasan bahwa Pendidikan khusus
merupakan pendidikan bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam
mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik, emosional,mental, sosial,
dan/atau memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa. Teknis layanan
pendidikan jenis pendidikan khusus untuk peserta didik yang berkelainan atau
peserta didik yang memiliki kecerdasan luar biasa dapat diselenggarakan secara
inklusif atau berupa satuan pendidikan khusus pada tingkat pendidikan dasar dan
menengah. Jadi pendidikan khusus hanya ada pada jenjang pendidikan dasar dan
menengah.

Untuk

jenjang

pendidikan

tersedia.Bagaimana

strategi

pembelajaran

tinggi
dalam

secara

khusus

perkembangan

belum
anak

berkebutuhan khusus? Dari jurnal yang akan di bahas maka pada makalah ini akan
dipaparkan bagaimana dalam pembelajaran,kelebihan dan kekurangan serta
temuan dan hasil penelitian yang berkaitan dengan anak berkebutuhan khusus.

Kata kunci : pembelajaran,menyelidiki dan membandingkan efektifitas keluarga

PENDAHULUAN
Anak Bekebutuhan Khusus pada awalnya dikenal sebagai Anak Luar Biasa
(ALB)

sehingga pendidikannya juga dikenal sebagai Pendidikan Luar Biasa

(PLB), dimana UU No. 2 tahun 1989 pasal 8 ayat 1 menegaskan bahwa Warga
negara yang memiliki kelainan fisik dan/atau mental berhak memperoleh
pendidikan luar biasa .Pada masa itu lembaga pendidikannya juga dikenal
sebagai Sekolah Luar Biasa (SLB).
Perkembangan selanjutnya dalam bidang pendidikan pasal 5 ayat 2 UU No. 20
Tahun 2003 mengganti istilah Pendidikan Luar Biasa menjadi Pendidikan Khusus
dengan menjamin

bahwa Warga negara yang memiliki kelainan fisik,

emosional, mental, intelektual, dan/atau sosial berhak memperoleh pendidikan


khusus . Selain itu ayat 4 juga menjamin bahwa Warga negara yang memiliki
potensi kecerdasan dan bakat istimewa berhak memperoleh pendidikan khusus .
Jadi kelainan ditinjau dari kekurangan dan kelebihannya.
Selanjutnya lembaga pendidikan bagi ABK dapat kita pahami atas dasar UU No.
20 tahun 2003 Pasal 15 yakni

Jenis pendidikan mencakup pendidikan umum,

kejuruan, akademik, profesi, vokasi, keagamaan, dan khusus. Sedangkan pasal


32 ayat 1 UU No. 20 Th 2003 menegaskan bahwa Pendidikan khusus
merupakan pendidikan bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam
mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik, emosional, mental, sosial,
dan/atau memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa .
Oleh karena itu sebagai lembaga pendidikan jalur pendidikan formal jenjang
PAUD, Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah, maka lembaga pendidikan
dalam koridor pendidikan khusus untuk semua jenjang harus berpedoman pada
UU No. 20 Tahun 2003. Dari segi lembaga dan jenjang Pendidikan Khusus

meliputi Jenjang PAUD adalah TKLB, Jenjang Pendidikan Dasar adalah SDLB
dan SMPLB, sedang untuk jenjang Pendidikan Menengah adalah SMALB.

PEMBAHASAN.
Untuk menangani ABK tersebut dalam setting pendidikan inklusif di Indonesia,
tentu memerlukan strategi khusus. Pendidikan inklusi mempunyai pengertian
yang beragam. Stainback dan Stainback (1990) mengemukakan bahwa: sekolah
inklusi adalah sekolah yang menampung semua siswa di kelas yang sama.
Sekolah ini menyediakan program pendidikan yang layak, menantang, tetapi
sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan setiap siswa, maupun bantuan dan
dukungan yang dapat diberikan oleh para guru agar anak-anak berhasil. Lebih dari
itu, sekolah inklusi juga merupakan tempat setiap anak dapat diterima, menjadi
bagian dari kelas tersebut, dan saling membantu dengan guru dan teman
sebayanya, maupun anggota masyarakat lain agar kebutuhan individualnya dapat
terpenuhi. Selanjutnya, Staub dan Peck (1995) menyatakan bahwa: pendidikan
inklusi adalah penempatan anak berkelainan tingkat ringan, sedang, dan berat
secara penuh di kelas reguler. Hal ini menunjukkan bahwa kelas reguler
merupakan tempat belajar yang relevan bagi anak berkelainan, apapun jenis
kelainannya dan bagaimanapun gradasinya. Sementara itu, Sapon-Shevin (ONeil,
1995) menyatakan bahwa pendidikan inklusi sebagai sistem layanan pendidikan
yang mempersyaratkan agar semua anak berkelainan dilayani di sekolah-sekolah
terdekat, di kelas reguler bersama-sama teman seusianya. Oleh karena itu,
ditekankan adanya perombakan sekolah, sehingga menjadi komunitas yang
mendukung pemenuhan kebutuhan khusus setiap anak, sehingga sumber belajar
menjadi memadai dan mendapat dukungan dari semua pihak, yaitu para siswa,
guru, orang tua, dan masyarakat sekitarnya.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menyelidiki dan membandingkan
efektivitas keluarga, anak, dan intervensi berdasarkan keluarga-anak pada tingkat
gejala ADHD pada siswa kelas tiga.Selanjutnya secara teknis operasional
pendidikan khusus diatur dengan Permendiknas No. 01 tahun 2008 tentang

Standar Operasional Pendidikan Khusus yang secara sederhana dapat dipahami


sbb :
1. Pengelompokan siswa adalah bagian A untuk siswa Tunanetra, bagian B
untuk siswa Tunarungu, bagian C untuk siswa Tuangrahiata ringan, Bagian
C1 untuk siswa Tunagrahita sedang, Bagian D untuk siswa Tunadaksa,
bagian D1 untuk siswa Tunadaksa sedang dan bagian E untuk anak
Tunalaras.
2. Pengelolaan kelas diatur untuk jenjang TKLB dan SDLB maksimum 5
anak per kelas, dan untuk SMPLB dan SMALB 8 anak perkelas.
3. Kurikulum yang diterapkan adalah KTSP dalam bentuk kurikulum
jenjang TKLB, SDLB, SMPLB dan SMALB masing-masing untuk bagian
A, B, C, C1, D, D1 dan E
4. Pembelajaran bersifat indifidual.
5. Pembagian tugas untuk jenjang TKLB dan SDLB adalah guru kelas,
sedang untuk SMPLB dan SMALB sebagai guru matapelajaran.
6. Persyaratan untuk menjadi guru pada TKLB dan SDLB diharuskan
berijazah S1 (sarjana) Pendidikan Khusus (PK) atau Pendidikan Luar
Biasa (PLB), sedang untuk guru SMPLB dan SMALB dapat S1 PK / PLB
atau S1 matapelajaran yang diajarkan di SMPLB dan SMALB.
Pada saat Peraturan Pemerintah No. 25 Tahun 2000 masih berlaku, pembinaan
SLB berada di Pemerintah Provinsi. Kewenangan penyelenggaraan SLB berada di
Dinas Pendidikan Provinsi. Atas kondisi ini ( pada saat itu) Pemerintah Kabupaten
belum menempatkan pembinaan SLB sebagai tanggungjawabnya. Pembinaan
dititipkan pada Pengaswas TK/SD. Bagi SDLB tak masalah, tetapi bagi SMPLB
dan SMALB adakalanya menemui situasi yang kurang menguntungkan. Hal ini
berlangsung hingga lahir PP No. 38 Tahun 2007.
Perkembangan selanjutnya pembinaan umum kelembagaan mengacu pada UU
No. 32 tahun 1999 dan PP No. 38 Tahun 2007 dimana pada hakekatnya adalah
sama dengan pembinaan terhadap pendidikan jenjang PAUD, Pendidikan Dasar
dan Pendidikan Menengah pada umumnya. Hal yang membedakan adalah
pembinaan teknis pendidikannya. Atas dasar ketentuan ini selanjutnya SECARA

NORMATIF tanggungjawab pembinaan berada di pundak PEMERINTAH


KABUPATEN melalui dinas terkaitnya. Pemerintah Provinsi dan Pemerintah
Pusat sifatnya memvasilitasi.
Oleh karena itu demi terselenggaranya pembinaan teknis, idealnya setiap
Kabupaten memiliki minimal seorang Pengawas Pendidikan Khusus, sehingga
diharapkan pembinaan teknis edukatif tidak terlewatkan.
Kelebihan dan kekurangan
Kelebihan pendidikan terpisah yang dirasakan oleh

sebagai menyediakan

lingkungan belajar bebas aman dengan profesional yang terlatih untuk memahami
kebutuhan mereka lebih baik. Selain sekolah-sekolah khusus yang dilengkapi
untuk kebutuhan anak-anak dengan kebutuhan khusus. Ada mengajar kelompok
kecil, dan keterampilan sosial dan penyesuaian, harga diri dan rasa aman
emosional dapat dicapai dalam struktur terpisah dilindungi.
Kekurangan pendidikan terpisah untuk anak-anak kebutuhan khusus anak-anak
dengan kebutuhan khusus bisa merasa dikecualikan dan merasa bahwa mereka
tidak dapat mengatasi dengan anak-anak dari kemampuan yang normal di kelas
umum. Lingkungan buatan yang diciptakan dan rekan-rekan normal mereka tidak
bisa mempengaruhi siswa terpisah. Antusiasme yang ditunjukkan dalam
mendukung segregasi, menempatkan kelompok responden tegas dalam kategori
konservatif berkaitan dengan isu inklusi dan pemisahan. Mereka telah memilih
untuk kompensasi anak berkebutuhan khusus dalam pengaturan terpisah daripada
pengaturan inklusif yang lebih demokratis di kelas umum. Namun, ada
pemahaman yang menggembirakan di grup ini yang segregasi adalah menciptakan
ruang buatan mana anak-anak sedang dikeluarkan dari masyarakat sekolah umum.
KENDALA YANG DIHADAPI
1. Kendala senantiasa kita temui dan kita hadapi dalam perjalanannya
hingga sekarang, walaupun kita sadar bahwa pelayanan pendidikan bagi
anak berkebutuhan khusus pada hakekatnya sama dengan pelayanan
pendidikan pada umumnya. Akan tetapi
2. inilah kenyataannya.

3. Kendala dari sisi anak, belum semua anak dapat mengikuti program
pendidikan khusus karena berbagai sebab.
4. Kendala dari sisi tenaga guru, entah karena apa, dari dahulu hingga
sekarang jumlah tenaga guru belum mencukupi.
5. Masih minimnya publikasi dan sosialisasi,

sehingga adakalanya

masyarakat kurang mengetahui keberadaan TKLB, SDLB, SMPLB dan


SMALB di daerahnya, serta minimnya dukungan stikholder yang ada.
6. Kendala dari sisi pembinaan ( menurut hemat penulis) ada beberapa sebab
antara lain :

Belum tercipta kesamaan persepsi di jajaran pendidikan khusus


( SDLB, SMPLB, dan SMALB) sehingga ada yang belum bisa
menerima kenyataan bahwa aturan normatif nya pembinaan adalah
PP No. 38 Tahun 2007. Ada sebagian sekolah (khususnya swasta)
yang masih berbeda persepsi dengan pembina di tingkat kabupaten.

Demikian pula di jajaran pembina pendidikan kabupaten, masih ada


sebagian pembina tingkat Pemerintah Kabupaten yang belum berkenan
menempatkan

pendidikan

khusus

sebagai

bagian

dari

tanggungjawabnya. Hal ini berdampak pada terbatasnya pembinaan


dalam segala aspeknya. Mudahan ini kerliru !

Apabila telah tercipta kesepaham di tingkat Pembina Kabupaten,


belum semua Kabupaten memiliki seorang pengawas Pendidikan
Khusus sebagai pembina teknisnya.

Belum tercipta kesamaan persepsi bentuk pembinaan terhadap


pendidikan khusus antara jajaran Pembina tingkat Provinsi, Tingkat
kabupaten dasn kalangan sekolah sendiri. Ini sebuah kenyataan.

Temuan/Hasil Penelitian
Hingga saat ini,temuan atau hasil penelitian yang berkaitan dengan pendidikan
bagi anak berkebutuhan khusus ( ABK) sebagai upaya perluasan dan pemerataan
pelayanan pendidikan di Indonesia masih sedikit dilakukan peneliti. Secara
teoritis, inklusi adalah filsafat yang menekankan pentingnya menyatukan siswa
yang beragam, keluarga, pendidik dan anggota masyarakat, dalam rangka

menciptakan sekolah-sekolah dan lembaga-lembaga sosial lainnya yang


didasarkan pada rasa hormat, penerimaan dan milik. Pendidikan inklusif
mengakui bahwa semua siswa peserta didik yang mendapatkan keuntungan dari
menantang, bermakna, kurikulum yang sesuai. Ini berarti teknik instruksi
dibedakan yang membahas student' s kekuatan dan kebutuhan yang unik. Inklusi
berusaha untuk membangun kolaboratif, mendukung, dan memelihara masyarakat
peserta didik yang didasarkan pada memberikan semua peserta didik layanan dan
akomodasi yang mereka butuhkan untuk berhasil, serta menghormati dan belajar
dari satu sama perbedaan individu other's (Salend, 2005: 6).
PENUTUP
Sebagai simpulan akhir adalah sbb :
Anak berkebutuhan khusus (ABK) adalah mereka yang memiliki kelainan fisik,
emosional, mental, intelektual, dan/atau sosial, baik dalam tingkat keterbatasan
maupun kelebihan.Pendidikan bagi ABK tergolong dalam jenis pendidikan
khusus, jalur pendidikan formal, jenjang

PAUD, Pendidikan Dasar, dan

Pendidikan Menengah. Bentuk kelembagaan pendidikan khusus wujudnya adalah


TKLB, SDLB, SMPLB dan SMALB bagian A, A, C, C1, D,D1 dan E.
Pembelajaran diberikan secara indifidual yang dikelompokan atas dasar kelas
sesuai bagian ketunaannya. Tenaga guru Pendidikan khusus terdiri dari guru
khusus berijasah S1 PK/PLB dan S1 Matapelajaran. Keterbatasan kemampuan
sosialisasi

keberadaan

pendidikan

khusus.

Pembinaan

secara

normatif

menerapkan pembinaan berdasar UU No. 20 Tahun 2003, PP No. 38 Tahun 2007


dan Permendiknas No. 01 Tahun 2008. Belum tercipta kesamaan persepsi
terhadap bentuk pembinaan pendidikan khusus antara pembina tingkat provinsi,
tingkat kabupaten maupun kalangan sekolah.

DAFTAR PUSTAKA

https://search.yahoo.com/yhs/search?
p=artikel+anak+berkebutuhan+khusus&ei=UTF-8&hspart=mozill
Barkley, R.A., Cook, E.H., & Jr. Diamond, A. (2002). International consensus
statement on ADHD. Clinical Child and Family Psychology Review, 5,
89-111.
Andersson, Birgitta och Thorsson, Lena (2007), Drfr inkludering samt Att
arbeta
srskilt
std
ngra
perspektiv,
retrieved
from
http://iloapp.appelklyftig.com/blo g/21? ShowFile&doc= 1276540493.
pdf, accessed 010311.
pendidikan khusus. Pembinaan secara normatif menerapkan pembinaan berdasar
UU No. 20 Tahun 2003, PP No. 38 Tahun 2007 dan Permendiknas No.
01 Tahun 2008.