Anda di halaman 1dari 4

IV.

Studi Kasus Reparation for Injuries Case


Reparation for Injuries Case merupakan kasus yang melahirkan penegasan terhadap
personalitas yuridik organisasi internasional. Kasus ini terjadi pada tahun 1948 dan kemudian
Mahkamah Internasional (International Court of Justice/ICJ) memberikan advisory opinion
pada tahun 1949. Dengan adanya kasus ini, organisasi internasional yang ada di dunia
mendapatkan penegasan mengenai status yuridiknya. Meskipun sebenarnya status yuridik
dari organisasi internasional telah ada, namun sampai sebelum adanya kasus ini, masih belum
ada kepastian hukum mengenai bisa atau tidaknya sebuah organisasi internasional untuk bisa
berperkara sebagaimana layaknya subyek hukum internasional lainnya. ICJ telah membuat
suatu terobosan hukum dengan mengeluarkan advisory opinion berkenaan dengan kasus ini.
4.1. Ringkasan Kasus
Pada tahun 1948, tepatnya tanggal 17 September, seorang mediator PBB bernama Count
Folke Bernadotte dan ajudannya Kolonel Serot, terbunuh dalam perjalanan dinas ke
Yerusalem. Mereka dibunuh oleh anggota dari kelompok Lehi, yang terkadang disebut
dengan Stern Gang. Kelompok ini merupakan organisasi radikal zionis yang telah
melakukan beberapa serangan terhadap warga Inggris dan Arab. Pembunuhan terhadap
Bernadotte ini, telah disepakati oleh ketiga pemimpin kelompok Lehi, yaitu : Yitzhak Shamir,
Natan Yelli-Mor, dan Yisrael Eldad, dan direncanakan oleh kepala operasi Lehi di Yerusalem,
Yehoshua Zetler.
Empat orang yang dipimpin oleh Meshulam Makover, kemudian menyerang kendaraan yang
ditumpangi oleh Bernadotte, dan salah satu diantara mereka yaitu Yehoshua Cohen
menembak Bernadotte.
4.2. Fakta Hukum
Dari kasus tersebut, terdapat empat permasalahan hukum yang muncul :
1. Count Folke Bernadotte adalah pejabat sipil internasional yang bekerja untuk PBB
2. Count Folke Bernadotte adalah warga negara Swedia
3. Pembunuh Bernadotte, Yehoshua Cohen, adalah warga negara Israel
4. Pembunuhan terhadap Bernadotte terjadi di wilayah pengawasan Israel.
4.3. Permasalahan Hukum
Berkenaan dengan kasus di atas, Sekjen PBB Trygve Lie mempersiapkan memorandum, dan
disampaikan pada Sidang Majelis Umum PBB pada tahun 1948. Memorandum tersebut berisi
3 permasalahan pokok :[13]
1. Apakah suatu negara mempunyai tanggung jawab terhadap PBB atas musibah atau
kematian dari salah seorang pejabatnya?
2. Kebijaksanaan secara umum mengenai kerusakan dan usaha-usaha untuk
mendapatkan ganti rugi
3. Cara-cara yang akan ditempuh untuk penyampaian dan penyelesaian mengenai
tuntutan-tuntutan.

Setelah mendengarkan memorandum dari Sekjen PBB, Majelis Umum kemudian meminta
pendapat dari ICJ, dengan mengajukan permasalahan hukum sebagai berikut :[14]
1. Apakah PBB sebagai sebuah organisasi mempunyai kapasitas untuk dapat mengajukan
gugatan terhadap pemerintah de jure maupun de facto untuk mendapatkan ganti rugi atas
kerugian yang dialami oleh :
a. PBB;
b. Korban atau orang-orang yang menerima dampak dari kejadian yang menimpa korban.
2. Apabila pertanyaan 1(b) dapat diterima, apakah tindakan yang harus dilakukan PBB untuk
mengembalikan hak Negara tempat korban menjadi warganya ?
4.4. Putusan ICJ
Terhadap permasalahan hukum yang diajukan oleh Majelis Umum, ICJ memberikan jawaban
sebagai berikut :
1. Untuk pertanyaan 1(a), ICJ secara mutlak sepakat bahwa PBB dapat melakukan hal
tersebut
2. Untuk pertanyaan 1(b), ICJ memberikan pendapat dengan 11 suara melawan 4 bahwa
PBB dapat mengajukan gugatan meskipun pemerintah yang diminta
pertanggungjawabannya bukanlah anggota PBB
3. Untuk pertanyaan 2, ICJ memberikan pendapat dengan 10 suara melawan 5 bahwa
apabila PBB membawa gugatan karena kerugian yang dialami pejabatnya, tindakan
tersebut hanya dapat dilakukan apabila gugatannya didasarkan pada pelanggaran
kewajiban kepada PBB.
4.5. Analisa Kasus
ICJ menganggap bahwa personalitas yuridik dari organisasi internasional merupakan sifat
yang mutlak dimiliki oleh setiap organisasi internasional.[15] Disamping itu, organisasi
internasional memiliki personalitas internasional sebagai hak, yang merupakan suaru
konsekuensi dari dasar pembentukan organisasi itu yang berada di bawah hukum
internasional.[16] Personalitas yuridik organisasi tersebut memungkinkannya untuk
melakukan tindakan-tindakan internasional, bahkan bagi negara-negara yang belum diketahui
sebelumnya di dalam instrumen pokoknya.[17]
Kesimpulan
Berdasarkan sejarah perkembangan dan preseden yang telah terjadi berkenaan dengan
organisasi internasional, maka kedudukan organisasi internasional sebagai subyek hukum
internasional tidak lagi dapat dikesampingkan. Dengan adanya Reparation for Injuries Case,
organisasi internasional mempunyai personalitas yuridik yang tidak berbeda dengan negara.
Namun dalam konteks ICJ, organisasi internasional belum bisa merubah Statute of
International Court of Justice yang hanya memperbolehkan negara menjadi pihak yang
bersengketa dalam ICJ.
Terlepas dari masalah tersebut, organisasi internasional telah menjadi salah satu non-state

actors yang dapat mempengaruhi berjalannya interaksi diantara masyarakat internasional.


Khususnya pengaruh organisasi internasional dalam fungsinya sebagai pembuat hukum
(quasi-legislative) internasional.

Case Study reparation for Injuries Case


Reparation for Injuries Case is a case that spawned yuridik affirmation of the
personality of an international organization. This case occurred in 1948 and later
the ICJ (International Court of Justice / ICJ) give advisory opinion in 1949. With
this case, the international organization in the world to get confirmation on the
status of yuridiknya. Though the actual status of international organizations have
yuridik there, but until prior to this case, there is still no legal certainty about
whether or not an international organization to be able to litigants as appropriate
subjects of international law. ICJ has made a breakthrough law by issuing
advisory opinion with regard to this case.
4.1. Case Summary
In 1948, precisely on 17 September, a United Nations mediator Count Folke
Bernadotte named and his aide Colonel Serot, was killed in a business trip to
Jerusalem. They were killed by members of the Lehi group, which is sometimes
called the "Stern Gang". This group is a radical Zionist organization that has
conducted several attacks against British and Arab. The murder of Bernadotte's,
has been agreed by the three leaders of Lehi group, namely: Yitzhak Shamir,
Natan Yelli-Mor, and Yisrael Eldad, and planned by Lehi operations chief in
Jerusalem, Yehoshua Zetler.
Four people led by Meshulam makover, then attacked a vehicle driven by
Bernadotte, and one of them is Yehoshua Cohen shot Bernadotte.
4.2. Legal Facts
Of these cases, there are four legal issues arise:
Count Folke Bernadotte are international civil servants who work for the UN
Count Folke Bernadotte was a Swedish citizen
Killer Bernadotte, Yehoshua Cohen, are citizens of Israel
The murder of Bernadotte occurred in the supervision of Israel.

4.3. Legal Issues


With regard to the above case, the UN Secretary General Trygve Lie preparing
memoranda, and presented at the UN General Assembly in 1948. The
memorandum contains three main problems: [13]
Whether a country had a responsibility to the UN on disaster or the death of
one of its officials?
General wisdom about the damage and attempts to get compensation
In ways that will be pursued for the delivery and settlement of the claims.

After listening to the memorandum of the Secretary General of the United

Nations, the General Assembly then requested the opinion of the ICJ, by filing
legal issues as follows: [14]
1. Does the UN as an organization has the capacity to be able to file a lawsuit
against the government de jure or de facto to obtain compensation for losses
suffered by:
a. The United Nations;
b. Victims or those who receive the impact of what happened to the victim.
2. If question 1 (b) may be accepted, whether action should be taken of the UN
to restore the rights of the State where the victims become citizens?
4.4. ICJ verdict
To the legal issues raised by the General Assembly, the ICJ gives the following
reply:
For question 1 (a), ICJ unanimously agreed that the United Nations can do that
For question 1 (b), ICJ to give an opinion with 11 votes against 4 that the
United Nations can file a lawsuit, although the government is held accountable is
not a member of the United Nations
For question 2, the ICJ to give an opinion by 10 votes against 5 that when the
United Nations to bring a lawsuit because of losses suffered by its officials, such
action can only be conducted if the complaint based on the breach of obligations
to the United Nations.

4.5. Case Analysis


ICJ considers that yuridik personality of international organizations is an absolute
properties possessed by any international organization. [15] In addition,
international organizations have an international personality as a right, which is
the basis for the establishment suaru consequence of that organization under
international law. [16 ] Personality yuridik the organization enabled it to
undertake international action, even for countries that have not been previously
known in the underlying instrument. [17]
Conclusion
Based on the historical development of and precedents that have occurred with
respect to international organizations, the position of international organizations
as subjects of international law can no longer be ruled out. With the reparation
for Injuries Case, an international organization which does not have the
personality yuridik different countries. But in the context of the ICJ, international
organizations have not been able to change the Statute of the International
Court of Justice that only allows states becoming parties to the dispute in the ICJ.
Regardless of these problems, international organizations have become one of
the non-state actors that may affect the passage of the interaction between the
international community. In particular the influence of international organizations
in its function as legislator (quasi-legislative) internationally.