Anda di halaman 1dari 75

HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP REMAJA

TERHADAP TINDAKAN HUBUNGAN SEKSUAL


PRANIKAH DI SMK NEGERI X MEDAN
TAHUN 2009

Oleh:

JOKO PRANOTO
060100202

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2009
Joko Pranoto : Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Remaja Terhadap Tindakan Hubungan Seksual Pranikah Di
Smk Negeri X Medan Tahun 2009, 2010.

HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP REMAJA


TERHADAP TINDAKAN HUBUNGAN SEKSUAL
PRANIKAH DI SMK NEGERI X MEDAN
TAHUN 2009

Karya Tulis Ilmiah Ini Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat


Untuk Memperoleh Kelulusan Sarjana Kedokteran

Oleh:
JOKO PRANOTO
060100202

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2009

Joko Pranoto : Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Remaja Terhadap Tindakan Hubungan Seksual Pranikah Di
Smk Negeri X Medan Tahun 2009, 2010.

LEMBAR PENGESAHAN

Judul : Hubungan Pengetahuan dan Sikap Remaja Terhadap Tindakan


Hubungan Seksual Pranikah di SMK Negeri X Medan Tahun
2009.
Nama : Joko Pranoto
NIM : 060100202

Pembimbing

Penguji I

Nenni Dwi A Lubis, Sp. MSi

dr. Dina Keumala Sari, Sp. GK

NIP. 19761004 200312 2 002

NIP. 132303378

Penguji II

dr. Elmeida Effendi, Sp. KJ


NIP. 19720501 199303 2 004

Medan, 2 Desember 2009


Dekan,
Fakultas Kedokteran
Universitas Sumatera Utara

Prof. dr. Gontar Alamsyah Siregar, Sp.PD, KGEH


NIP. 195 402 201 980 111 001
Joko Pranoto : Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Remaja Terhadap Tindakan Hubungan Seksual Pranikah Di
Smk Negeri X Medan Tahun 2009, 2010.

ABSTRAK

Masa remaja merupakan masa peralihan dari masa anak menuju masa dewasa.
Pesatnya arus komunikasi dan informasi serta tersedianya prasarana yang
menunjang mengakibatkan perilaku reproduksi menyimpang yang dapat
mempengaruhi kesehatan reproduksi. Hal ini tentu saja dapat menimbulkan
keadaan yang berbahaya dalam perilaku seksual remaja terutama hubungan
seksual pranikah.
Jenis penelitian yang dilakukan adalah survei deskriftif-analitik dengan
menggunakan kuesioner untuk mengetahui gambaran perilaku hubungan seksual
pranikah. Populasi dari penelitian ini adalah semua siswa kelas II dan III SMK X
Medan sebanyak 803 orang dan total sampel yang diambil dalam penelitian ini
adalah sebanyak 98 siswa.
Dari penelitian diperoleh berturut-turut tingkat pengetahuan responden baik 15%,
sedang 77%, dan kurang 8%. Umumnya sikap responden digolongkan baik
(65%), sisanya masing-masing bersikap dalam kategori sedang dan kurang yakni
31% dan 4%. Hampir seluruh responden tidak melakukan hubungan seksual
pranikah (telah bersikap baik), namun terdapat 2% responden yang melakukan
hubungan seksual pranikah . Berdasarkan uji Chi square tidak terdapat hubungan
antara pengetahuan ataupun sikap terhadap tindakan hubungan seksual pranikah.
Dari hasil penelitian ini diharapkan sekolah SMK X memberikan penyuluhan atau
pendidikan khusus tentang kesehatan reproduksi remaja agar remaja memiliki
sikap dan tingkah laku yang bertanggung jawab mengenai kesehatan
reproduksinya.
Kata Kunci : Hubungan seksual pranikah, responden

Joko Pranoto : Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Remaja Terhadap Tindakan Hubungan Seksual Pranikah Di
Smk Negeri X Medan Tahun 2009, 2010.

ABSTRACT

The Period of adolescents age is the transition period from childhood to adult.
Howadays, Reproduction problems occurs due to the crisis of communication an
information facilities. This Problem is dangerous and is the major influence for
sexual behavior, mainly among pre-marriage sexual relationships
This research is done by holding out a descriptive-analytic by using a queisonner
to know the prevalence of pre-marriage sexual behavior. The population of this
research is all the students in class II dan III of SMK X Medan which consist of
803 people and the total sample is 98 students.
From the research is know that the knowledge of respondent is good (15%),
moderate 77%, and less 8%. Overall, the respondents attitude is good (65%), the
balance has fall into the moderate category and less (31% and 4%), Almost all
respondents did not have sex before marriage (already be nice), but there are 2%
of the respondents who has a pre-marriage sexual relationship. According
between knowledge and behavior against pre-marriage sexual relationship.
Therefore, according to this research, we hope that SMK X will advice or will
have sex education regarding adolescent reproduction so that teenagers will be
responsible for their acts.
Keyword : pre-marriage sexual relationship, respondent

Joko Pranoto : Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Remaja Terhadap Tindakan Hubungan Seksual Pranikah Di
Smk Negeri X Medan Tahun 2009, 2010.

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas
rahmad dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan laporan hasil penelitian ini
dengan judul: Hubungan Pengetahuan dan Sikap Remaja Terhadap Tindakan
Hubungan Seksual Pranikah di SMK X Tahun 2009. Dimana hasil penelitian ini
merupakan tugas akhir dan menjadi salah satu syarat mencapai gelar Sarjana
Kedokteran di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

Penulis mengakui banyaknya kekurangan dalam tulisan ini sehingga laporan hasil
penelitian ini tidak mungkin penulis sebut sebagai suatu karya yang sempurna.
Kekurangan dan ketidak sempurnaan tulisan ini tidak dapat dilepaskan dari
berbagai macam rintangan dan halangan yang selalu datang pada diri penulis.
Penulis rasakan semua itu sebagai suatu ujian dan pengalaman yang sangat
berharga dalam kehidupan penulis. Hanya kesabaran, keteguhan dan ketekunan
yang penulis coba lakukan untuk terselesainya karya ini hingga terselesainya
laporan hasil penelitian ini.

Penulis sadar dengan kekurangan diri penulis untuk melakukan banyak hal
sendirian. Mau ataupun tidak, penulis telah melibatkan beberapa orang, kelompok
atau elemen lain untuk membantu, mendukung, dan memberikan saran yang
sangat berharga bagi penulis. Kepada merekalah penulis ucapkan banyak
terimakasih. Beberapa yang dapat penulis sebut telah mempunyai peranan yang
sangat besar dalam penulisan ini penulis akan sebut sebagai berikut:
1. Bapak Prof. dr. Gontar Alamsyah Siregar, Sp.PD-KGEH, selaku Dekan
Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
2. Ibu Nenny Dwi A Lubis, SP, Msi selaku Dosen Pembimbing dalam tugas
akhir ini, atas segala kesabaran dan ilmu yang telah diberikan.

Joko Pranoto : Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Remaja Terhadap Tindakan Hubungan Seksual Pranikah Di
Smk Negeri X Medan Tahun 2009, 2010.

3. Kedua Orang tua Penulis, Alm. Wira Suwardi dan Roslaini Nst atas segala
pengorbanan dan kasih sayangnya yang diberikan kepada penulis.
Tetaplah iringi ananda dengan doa dan kasih sayang kalian.
4. Kepada adik-adik penulis, Mustika Pratiwi dan Tri Prabowo atas segala
doa dan semangat yang telah diberikan kepada penulis.
5. Ibu Dra. Sulistianingsih selaku Kepala SMK X yang telah memberikan
izin kepada penulis untuk meneliti di sekolah tersebut.
6. Kepada Teman-teman penulis ( Taufik, Amin, Andre, Ari, Khairuddin,
Wira, Annisa, Sarah, Yunny, Dona) yang telah membantu penulis dalam
pengambilan data di SMK X.
7. Seluruh teman-teman Stambuk 2006, terima kasih atas dukungan dan
bantuannya.
8. Serta semua pihak baik langsung maupun tidak langsung yang telah
memberikan bantuan dalam penulisan laporan penelitian ini. Kepada
semua pihak tersebut penulis haturkan banyak terima kasih.

Akhir kata penulis Ucapkan Terima Kasih atas semua dan apapun yang telah
diberikan kepada penulis. Semoga Allah SWT selalu membalas semua
kebaikan yang selama ini diberikan kepada penulis dan melimpahkan rahmatNya.

Medan, November 2009


Penulis,

Joko Pranoto
060100202

Joko Pranoto : Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Remaja Terhadap Tindakan Hubungan Seksual Pranikah Di
Smk Negeri X Medan Tahun 2009, 2010.

DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN PERSETUJUAN ................

ABSTRAK ....................................................................................................

ii

ABSTRACT ..................................................................................................

iii

KATA PENGANTAR.......

iv

DAFTAR ISI.....

vi

DAFTAR TABEL.

viii

DAFTAR GAMBAR

ix

DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang.

1.2 Rumusan Masalah ...

1.3 Tujuan Penelitian .

1.4 Manfaat Penelitian

TINJAUAN PUSTAKA...

2.1 Perilaku.

2.2 Remaja..

12

2.3 Hubungan Seksual Pranikah

17

2.4 Kesehatan Reproduksi .

21

KERANGKA KONSEP DAN DEFENISI OPERASIONAL...

23

3.1 Kerangka Konsep.

23

3.2 Defenisi Operasional ...

23

3.3 Hipotesis ..

26

BAB 2

BAB 3

Joko Pranoto : Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Remaja Terhadap Tindakan Hubungan Seksual Pranikah Di
Smk Negeri X Medan Tahun 2009, 2010.

METODE PENELITIAN

26

4.1 Jenis Penelitian

26

4.2 Waktu dan Tempat Penelitian..

26

4.3 Populasi dan Sampel Penelitian ..

26

4.4 Metode Pengumpulan Data .

28

4.4 Pengolahan dan Analisis Data .

28

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN .........................

29

5.1 Hasil Penelitian .......................................................................

29

5.1.1 Deskripsi Lokasi Penelitian ............................................

29

5.1.2 Deskripsi Karekteristik Responden ................................

29

5.1.3 Tingkat Pengetahuan ......................................................

30

5.1.4 Tingkat Sikap .................................................................

31

5.1.5 Tindakan Hubungan Seksual Pranikah ..........................

32

5.1.6 Tingkat Pengetahuan Siswa Berdasarkan Tindakan ......

34

5.1.7 Tingkat Sikap Berdasarkan Tindakan Siswa ..................

34

5.2 Pembahasan .............................................................................

35

5.2.1 Pengetahuan Tentang Hubungan Seksual Pranikah........

35

5.2.2 Sikap Siswa Tentang Hubungan Seksual Pranikah .......

36

5.2.3 Tindakan Hubungan Seksual Pranikah ..........................

37

5.2.4 Tingkat Pengetahuan Berdasarkan Tindakan Siswa.......

38

5.2.5 Tingkat Sikap Berdasarkan Tindakan Siswa...................

39

KESIMPULAN DAN SARAN ...................................................

40

6.1 Kesimpulan ..............................................................................

40

6.2 Saran ........................................................................................

40

DAFTAR PUSTAKA

41

BAB 4

BAB 5

BAB 6

LAMPIRAN

Joko Pranoto : Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Remaja Terhadap Tindakan Hubungan Seksual Pranikah Di
Smk Negeri X Medan Tahun 2009, 2010.

DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 3.1

Variabel, Defenisi Operasional, Alat Ukur, Hasil Ukur,


dan skala Ukur .................................................................

24

Tabel 5.1

Distribusi Berdasarkan Jenis Kelamin .............................

30

Tabel 5.2

Distribusi Berdasarkan Umur ..........................................

30

Tabel 5.3

Distribusi Berdasarkan Tingkat Pengetahuan Siswa .......

30

Tabel 5.4

Distribusi Tingkat Pengetahuan Siswa Berdasarkan


Jenis Kelamin ...................................................................

31

Tabel 5.5

Distribusi Berdasarkan Tingkat Sikap Siswa ...................

31

Tabel 5.6

Distribusi Tingkat Sikap Siswa berdasarkan Jenis


Kelamin ............................................................................

32

Tabel 5.7

Distribusi Berpacaran Berdasarkan Jenis Kelamin ..........

32

Tabel 5.8

Distribusi Tindakan Hubungan Seksual Pranikah Siswa


Berdasarkan Jenis Kelamin ..............................................

Tabel 5.9

Distribusi Tingkat Pengetahuan Berdasarkan Tindakan


Hubungan Seksual Pranikah ............................................

Tabel 5.10

33

34

Distribusi Tingkat Sikap Siswa Berdasarkan Tindakan


Hubungan Seksual Pranikah ............................................

35

Joko Pranoto : Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Remaja Terhadap Tindakan Hubungan Seksual Pranikah Di
Smk Negeri X Medan Tahun 2009, 2010.

DAFTAR GAMBAR

Halaman
Gambar 2.1 Proses Terbentuknya Sikap dan Reaksi............

Gambar 3.1 Kerangka Konsep Penelitian.............

23

Joko Pranoto : Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Remaja Terhadap Tindakan Hubungan Seksual Pranikah Di
Smk Negeri X Medan Tahun 2009, 2010.

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1

Daftar riwayat Hidup Peneliti

Lampiran 2

Kuesioner

Lampiran 3

Informed Consent

Lampiran 4

Surat Izin Penelitian

Lampiran 5

Data Induk

Joko Pranoto : Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Remaja Terhadap Tindakan Hubungan Seksual Pranikah Di
Smk Negeri X Medan Tahun 2009, 2010.

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Untuk menghasilkan generasi penerus bangsa yang berkualitas secara biopsiko
sosial maka penting diketahuinya kesehatan reproduksi sejak usia dini.
Persiapan dini dapat dimulai sejak usia remaja yang merupakan masa
peralihan dari masa anak menuju masa dewasa. Pesatnya arus globalisasi dan
suburnya industri video dan buku-buku pornografi serta kurangnya kontrol
orangtua dan tersedianya prasarana yang menunjang perilaku reproduksi
menyimpang dapat menyebabkan remaja lepas kontrol dalam hal kesehatan
reproduksi remaja. Kondisi ini menyebabkan banyaknya remaja yang hamil
pranikah dan tertular infeksi menular seksual akibat kurangnya pengetahuan
dan sikap remaja terhadap perilaku kesehatan reproduksi (Mochsen, 2004).

Menurut data Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional Pusat (BKKBN


Pusat) menyatakan hasil survei terakhir suatu lembaga survei yang dilakukan
di 33 provinsi tahun 2008 terhadap remaja usia sekolah SMP dan SMA,
sebanyak 63 persen remaja mengaku sudah mengalami hubungan seks
sebelum nikah dan 21 persen diantaranya melakukan aborsi. Berdasar data
penelitian pada 2005-2006 di kota-kota besar mulai Jabotabek, Medan,
Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Makassar, masih berkisar 47,54 persen
remaja mengaku melakukan hubungan seks sebelum nikah. persentase remaja
yang melakukan hubungan seksual pranikah tersebut mengalami peningkatan
jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya (Yahdillah, 2008).

Dari berbagai penelitian menunjukkan, perilaku seksual pada remaja


mempunyai korelasi dengan sikap remaja terhadap seksualitas. Penelitian
tentang perilaku seksual di empat kota tahun 2001 menunjukkan 3,6% remaja
di kota Medan, 8,5% remaja dikota Yogyakarta, 3,4% di Surabaya, serta
Joko Pranoto : Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Remaja Terhadap Tindakan Hubungan Seksual Pranikah Di
Smk Negeri X Medan Tahun 2009, 2010.

31,1% remaja di kota Kupang telah terlibat hubungan seksual secara aktif
(Tito, 2001). Sementara 42,3 persen pelajar di Cianjur sudah pernah
melakukan hubungan seks saat duduk di bangku sekolah (BKKBN, 2007). Di
kota Denpasar dari pelajar SLTA di dapati 23,4% mempunyai pengalaman
hubungan seksual (Indieclesta, 2008).

Selain itu hasil survey UNFPA tahun 2000 mengenai jumlah penduduk usia
20-24 tahun yang melakukan hubungan seks pranikah di beberapa kota besar
yaitu Manado, Surabaya, Malang dan Denpasar sebesar 26-29%, Bandung
20,2%, Bogor 30%, dan Sukabumi 26,5% (BKKBN, 2004).

Remaja merupakan usia yang rentan dalam menanggapi perubahan yang ada
di sekitarnya. Hasil riset Synoviet tahun 2004 juga membuktikannya. Riset
dilakukan di empat kota yakni Jakarta, Surabaya, Bandung dan Medan. Dari
450 responden, 44% mengaku berhubungan seks pertama kali pada usia 16-18
tahun. Bahkan ada 16 responden yang mengenal seks sejak usia 13-15 tahun.
Sebanyak 40% responden melakukan hubungan seks di rumah. Sedangkan
26% melakukan ditempat kost, dan 20% lainnya di hotel (Sukendar, 2005).

Meningkatnya perilaku seksual yang menyimpang juga meningkatkan


permasalahan seksual salah satunya adalah kehamilan yang tidak diinginkan
(KTD) yang akan berdampak pada kasus aborsi dan kematian ibu dan janin.
WHO memperkirakan resiko kematian akibat kehamilan dua kali lebih tinggi
pada remaja usia 15-18 tahun dibandingkan dengan wanita usia 20-24 tahun.
Deputi Bidang Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi Badan
Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Siswanto Agus Wilopo
mengatakan setiap tahun terjadi 2,6 juta kasus aborsi di Indonesia. Jika diratarata, setiap jamnya terdapat 300 wanita telah menggugurkan kandungannya.
Dari jumlah itu, 700 ribu di antaranya dilakukan oleh remaja usia di bawah 20
tahun dan sebanyak 11,13 persen dari semua kasus aborsi di Indonesia
dilakukan karena kehamilan yang tidak diinginkan (Yudhi, 2008).
Joko Pranoto : Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Remaja Terhadap Tindakan Hubungan Seksual Pranikah Di
Smk Negeri X Medan Tahun 2009, 2010.

Di samping itu kehamilan pada usia remaja juga mengakibatkan kemacetan


persalinan karena ketidakseimbangan antara besar bayi dengan luas panggul.
Akibat lainnya adalah penyakit menular seksual (PMS) yang terjadi di dunia
tiap tahunnya terus meningkat sedang di Indonesia berdasarkan data
Departemen Kesehatan hingga September 2008, dari 15.210 penderita AIDS
atau orang yang hidup dengan HIV/AIDS di Indonesia, 54 persen di antaranya
adalah remaja (Yahdillah, 2008).

Berdasarkan data dan uraian diatas, ternyata kejadian perilaku seks pranikah
seperti phenomena gunung es yang hanya menunjukkan sebagian kecil dari
kasus yang sebenarnya, tidak terlihat dari luar namun insidensinya terus
meningkat. Ditambah lagi dengan kemajuan teknologi yang semakin pesat
menyodorkan terbukanya kesempatan penyalahgunaan teknologi di daerah
yang sangat mudah menjangkau sumber informasi seperti kota Medan. Untuk
itu maka peneliti tertarik untuk mengetahui tingkat perilaku seksual remaja
tingkat SMA di Medan yang dikhususkan pada SMK X Medan yang pada
tahun 2008 didapati dua orang siswinya dikeluarkan dari sekolah karena hamil
di luar nikah.

1.2 Rumusan Masalah


Bagaimana hubungan pengetahuan dan sikap remaja terhadap tindakan
hubungan seksual pranikah di SMK X Medan tahun 2009?

1.3 Tujuan Penelitian


1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap remaja terhadap
tindakan hubungan seksual pranikah di SMK X Medan tahun 2009.

Joko Pranoto : Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Remaja Terhadap Tindakan Hubungan Seksual Pranikah Di
Smk Negeri X Medan Tahun 2009, 2010.

1.3.2 Tujuan Khusus


1. Untuk mengetahui tingkat pengetahuan siswa tentang hubungan
seksual pranikah di SMK X Medan tahun 2009.
2. Untuk mengetahui sikap siswa tentang hubungan seksual pranikah di
SMK X Medan tahun 2009.
3. Untuk mengetahui tindakan siswa tentang hubungan seksual
pranikah di SMK X Medan tahun 2009.

1.4 Manfaat Penelitian


1. Bagi peneliti
Untuk menambah pengetahuan peneliti tentang bagaimana perilaku
seksual remaja terutama hubungan seksual pranikah siswa SMK X Medan
dan sebagai wahana dalam menerapkan ilmu metodelogi penelitian yang
telah didapatkan dalam kuliah.
2. Bagi Siswa
Memberikan pengetahuan kepada siswa tentang hubungan seksual
pranikah dan kesehatan reproduksi remaja melalui penyuluhan yang
diberikan pada saat pengambilan data.
3. Bagi sekolah
Sebagai bahan masukan bagi SMK X Medan agar memberikan pendidikan
seksual bagi siswanya sehingga remaja memiliki pengetahuan dan sikap
yang bertanggung jawab mengenai kesehatan reproduksinya.
4. Bagi pemerintah
Sebagai data yang dapat digunakan serta bahan masukan bagi Pemerintah
supaya lebih intensif lagi dalam mengatasi permasalahan seksualitas pada
remaja.

Joko Pranoto : Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Remaja Terhadap Tindakan Hubungan Seksual Pranikah Di
Smk Negeri X Medan Tahun 2009, 2010.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Perilaku
Skinner (1938) yang dikutip oleh Notoadmodjo (2003), merumuskan bahwa
perilaku merupakan respons atau reaksi seseorang terhadap stimulus
(rangsangan dari luar). Oleh karena perilaku ini terjadi melalui proses adanya
stimulus terhadap organisme, dan kemudian organisme tersebut merespons,
maka teori Skinner ini disebut teori S-O-R atau Stimulus-OrganismeRespons.

Dilihat dari bentuk respons terhadap stimulus ini, maka perilaku dapat
dibedakan menjadi dua:
a. Perilaku tertutup (Covert behavior)
Respons seseorang terhadap stimulus dalam bentuk terselubung atau
tertutup (covert). Respons atau reaksi terhadap stimulus ini masih terbatas
pada perhatian, persepsi, pengetahuan/kesadaran, dan sikap yang terjadi
pada orang yang menerima stimulus tersebut, dan belum dapat diamati
secara jelas oleh orang lain. Oleh sebab itu disebut covert behavior atau
unobservable behavior, misalnya: seoang ibu hamil tahu pentingnya
periksa kehamilan, seorang pemuda tahu bahwa HIV/AIDS dapat menular
melalui hubungan seks, dan sebagainya.
b. Perilaku Terbuka (Overt behavior)
Respons seseorang terhadap stimulus dalam bentuk tindakan nyata atau
terbuka. Respons terhadap stimulus tersebut sudah jelas dalam bentuk
tindakan atau praktek (practice), yang dengan mudah dapat diamati atau
dilihat orang lain. Oleh sebab itu disebut overt behavior, tindakan nyata
atau

praktek

(practice),

misalnya

seorang

ibu

memeriksakan

kehamilannya atau membawa anaknya ke puskesmas untuk diimunisasi,


penderita TB paru minum obat secara teratur, dan sebagainya.
Joko Pranoto : Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Remaja Terhadap Tindakan Hubungan Seksual Pranikah Di
Smk Negeri X Medan Tahun 2009, 2010.

2.1.1 Pengetahuan (Knowledge)


Menurut Notoatmodjo (2003), bahwa pengetahuan adalah hasil dari
tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap satu
objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia yakni
indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian
besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga.

Pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai enam


tingkatan, yaitu:
1. Tahu (Know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari
sebelumnya. Termasuk kedalam pengetahuan tingkat ini adalah
mengingat kembali (recall) sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan
yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu,
tahu ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Kata
kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari
antara lain menyebutkan, menguraikan, mendefenisikan, menyatakan,
dan sebagainya.
2. Memahami (Comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan
secara

benar

tentang

objek

yang

diketahui,

dan

dapat

menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telah


paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan,
menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan, dan sebagainya
terhadap objek yang dipelajarinya.
3. Aplikasi (Application)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi
yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya).
Aplikasi disini dapat diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan
hukum-hukum, rumus, metode, prinsip dan sebagainya dalam konteks
atau situasi yang lain.
Joko Pranoto : Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Remaja Terhadap Tindakan Hubungan Seksual Pranikah Di
Smk Negeri X Medan Tahun 2009, 2010.

4. Analisis (Analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau
suatu objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam
satu struktur organisasi, dan masih ada kaitannya satu sama lain.
5. Sintesis (Synthesis)
Sintesis menunjukkan pada suatu kemampuan untuk meletakkan atau
menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan
yang baru. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk
menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang sudah ada.
6. Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan
justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaianpenilaian itu didasarkan pada kriteria yang ditentukan sendiri atau
menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada.

2.1.2 Sikap (Attitude)


Menurut Notoadmodjo (2003), sikap merupakan reaksi atau respon yang
masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau objek.
Beberapa batasan lain tentang sikap ini dapat dikutip sebagai berikut.

An individuals social attitude is a syndrome of response consistency


with regard to social object (Campbell, 1950)

A mental and neural state of rediness, organized through expertence,


exerting a directive or dynamic influence up on the individuals response
to all objects and situation with which it is related (Allport, 1954).

Attitude entails an existing predisposition to response to social objects


which in interaction with situational and other dispositional variables,
guides and direct the overt behavior of the individual (Cardno, 1955).

Joko Pranoto : Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Remaja Terhadap Tindakan Hubungan Seksual Pranikah Di
Smk Negeri X Medan Tahun 2009, 2010.

Dari batasan-batasan di atas dapat disimpulkan bahwa manifestasi sikap


itu tidak dapat langsung dilihat, tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih
dahulu dari perilaku yang tertutup. Sikap secara nyata menunjukkan
konotasi adanya kesesuaian reaksi terhadap stimulus tertentu yang dalam
kehidupan sehari-hari merupakan reaksi yang bersifat emosional
terhadap situasi sosial. Newcomb, salah seorang ahli psikologi sosial,
menyatakan bahwa sikap itu merupakan kesiapan atau kesediaan untuk
bertindak, dan bukan merupakan pelaksanaan motif tertentu. Sikap
belum merupakan suatu tindakan atau aktivitas, akan tetapi merupakan
predisposisi tindakan suatu perilaku. Sikap itu masih merupakan reaksi
tertutup, bukan merupakan reaksi terbuka atau tingkah laku yang
terbuka. Sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap objek di
lingkungan tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap objek.

Diagram di bawah ini dapat lebih menjelaskan uraian tersebut.

Stimulus
Rangsangan

Proses Stimulus

Reaksi

Tingkah laku
(terbuka)

Sikap
(tertutup)

Gambar 2.1 Proses terbentuknya Sikap dan Reaksi

Joko Pranoto : Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Remaja Terhadap Tindakan Hubungan Seksual Pranikah Di
Smk Negeri X Medan Tahun 2009, 2010.

Dalam bagian lain Allport (1954) menjelaskan bahwa sikap itu


mempunyai tiga komponen pokok.
1. Kepercayaan (keyakinan), ide, dan konsep terhadap suatu objek.
2. Kehidupan emosional atau evaluasi terhadap suatu objek.
3. Kecenderungan untuk bertindak (tend to behave).

Ketiga komponen ini secara bersama-sama membentuk sikap yang utuh


(total attitude). Dalam penentuan sikap yang utuh ini, pengetahuan,
pikiran, keyakinan, dan emosi memegang peranan penting.

Seperti halnya dengan pengetahuan, sikap ini terdiri dari berbagai


tingkatan.
1. Menerima (receiving)
Menerima diartikan bahwa orang (subjek) mau dan memperhatikan
stimulus yang diberikan (objek).
2. Merespon (responding)
Memberi jawaban apabila ditanya, mengerjakan dan menyelesaikan
tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap. Karena dengan
suatu usaha untuk menjawab pertanyaan atau mengerjakan tugas
yang diberikan, terlepas dari pekerjaan itu benar atau salah, adalah
berarti bahwa orang menerima ide tersebut.
3. Menghargai (valuing)
Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan suatu
masalah adalah suatu indikasi sikap tingkat tiga.
4. Bertanggungjawab (responsible)
Bertanggungjawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan
segala resiko merupakan sikap yang paling tinggi.

Pengukuran sikap dapat dilakukan secara langsung ataupun tidak


langsung. Pengukuran sikap secara langsung dapat dilakukan dengan
mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang stimulus atau objek yang
Joko Pranoto : Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Remaja Terhadap Tindakan Hubungan Seksual Pranikah Di
Smk Negeri X Medan Tahun 2009, 2010.

bersangkutan atau memberikan pendapat dengan menggunakan kata


setuju atau tidak setuju terhadap pertanyaan-pertanyaan terhadap objek.

2.1.3 Tindakan atau Praktek (Practice)


Menurut Notoatmodjo (2003), bahwa suatu sikap belum otomatis
terwujud dalam suatu tindakan (overt behavior). Untuk mewujudkan
sikap menjadi suatu perbuatan nyata diperlukan faktor pendukung atau
suatu kondisi yang memungkinkan, antara lain adalah fasilitas. Praktek
ini memiliki beberapa tingkatan.
1. Persepsi (Perception)
Mengenal dan memilih berbagai objek sehubungan dengan tindakan
yang akan diambil adalah merupakan praktek tingkat pertama.
2. Respon terpimpin (guided response)
Dapat melakukan sesuatu sesuai dengan urutan yang benar dan
sesuai dengan contoh adalah merupakan indikator praktek tingkat
dua.
3. Mekanisme (mechanism)
Apabila seseorang telah dapat melakukan sesuatu dengan benar
secara otomatis, atau sesuatu itu sudah merupakan kebiasaan, maka
ia sudah mencapai praktek tingkat tiga
4. Adopsi (adoption)
Adopsi adalah suatu praktek atau tindakan yang sudah berkembang
dengan baik. Artinya tindakan itu sudah dimodifikasinya tanpa
mengurangi kebenaran tindakan tersebut.

Pengukuran perilaku dapat dilakukan secara tidak langsung yakni


dengan wawancara terhadap kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan
beberapa jam, hari, atau bulan yang lalu (recall). Pengukuran juga dapat
dlakukan secara langsung, yakni dengan mengobservasi tindakan atau
kegiatan responden.

Joko Pranoto : Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Remaja Terhadap Tindakan Hubungan Seksual Pranikah Di
Smk Negeri X Medan Tahun 2009, 2010.

2.1.4 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pembentukan Perilaku


Notoatmodjo (2003) menyatakan bahwa faktor yang menentukan atau
membentuk perilaku disebut determinan perilaku. Teori yang sering
menjadi acuan dalam penelitian-penelitian kesehatan masyarakat ini
adalah:
a. Teori Lawrence Green
Green mencoba menanalsis perilaku manusia dari tingkat kesehatan.
Kesehatan seseorang atau masyarakat dipengaruhi oleh dua faktor
pokok, yakni faktor perilaku (behavior factors) dan faktor di luar
perilaku (non behavior causes). Selanjutnya perilaku itu sendiri
ditentukan atau terbentuk dari tiga faktor.
1. Faktor-faktor predisposisi (predisposing factors), yang terwujud
dalam pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan, nilai-nilai,
dan sebagainya.
2. Faktor-faktor pendukung (enabling factors), yang terwujud
dalam lingkungan fisik, tersedia atau tidak tersedianya fasilitasfasilitas atau sarana-sarana kesehatan, misalnya puskesmas, obatobatan, alat-alat kontrasepsi, dan sebagainya.
3. Faktor-faktor pendorong (renforcing factors), yang terwujud
dalam sikap dan perilaku petugas kesehatan, atau petugas yang
lain,

yang

merupakan kelompok

referensi dan perilaku

masyarakat.

b. Teori Snehandu B. Kar


Kar mencoba menganalisis perilaku kesehatan dengan bertitik tolak
bahwa perilaku itu merupakan fungsi dari:
1. Niat seseorang untuk bertindak sehubungan dengan kesehatan
atau perawatan kesehatannya (behavior intention)
2. Dukungan sosial dari masyarakat sekitarnya (social-support)
3. Adanya atau tidak adanya informasi tentang kesehatan atau
fasilitas kesehatan (accessibility of information)
Joko Pranoto : Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Remaja Terhadap Tindakan Hubungan Seksual Pranikah Di
Smk Negeri X Medan Tahun 2009, 2010.

4. Otonomi pribadi yang bersangkutan dalam hal ini mengambil


tindakan atau keputusan (personal autonomy)
5. situasi yang memungkinkan untuk bertindak atau tidak bertindak
(action situation).

c. Teori WHO
WHO mengatakan bahwa seseorang berperilaku karena adanya
empat alasan pokok (determinan), yaitu:
1. Pemikiran dan perasaan (thoughts and feeling)
Hasil pemikiran-pemikiran dan perasaan-perasaan seseorang
atau lebih tepat diartikan pertimbangan-pertimbangan pribadi
terhadap objek atau stimulus, merupakan modal utama untuk
bertindak atau berperilaku. Yakni dalam bentuk pengetahuan,
persepsi, sikap, kepercayaan-kepercayaan, dan penilaianpenilaian seseorang terhadap objek (dalam hal ini adalah objek
kesehatan).
2. Adanya acuan atau referensi dari seseorang atau pribadi yang
dipercaya (personnal references).
3. Sumber daya (resources) yang tersedia merupakan pendukung
untuk terjadinya perilaku seseorang atau masyarakat. Kalau
dibandingkan dengan teori Green, sumber daya ini adalah sama
dengan faktor enabling (sarana dan prasarana atau fasilitas).
4. Sosio budaya (culture) setempat biasanya sangat berpengaruh
terhadap terbentuknya perilaku seseorang.

2.2 Remaja
2.2.1 Pengertian Remaja
Remaja atau adolescene berasal dari bahasa latin adolescere yang berarti
tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa istilah ini mencakup
kematangan mental, emosional, sosial dan fisik (Rahmawati, 2006).

Joko Pranoto : Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Remaja Terhadap Tindakan Hubungan Seksual Pranikah Di
Smk Negeri X Medan Tahun 2009, 2010.

Menurut Piaget (dalam Hurlock, 1999) secara psikologis masa remaja


adalah usia dimana individu berintegrasi dengan masyarakat dewasa.
Masa remaja adalah usia dimana anak tidak lagi merasa di bawah tingkat
orang dewasa melainkan berada dalam tingkat yang sama, sekurangkurangnya dalam masalah hak, integrasi dalam masyarakat, mempunyai
banyak aspek efektif, kurang lebih berhubungan dengan masa puber.
Termasuk juga perubahan intelektual yang mencolok, transformasi yang
khas dari cara berpikir remaja memungkinkan untuk mencapai integrasi
dalam hubungan sosial orang dewasa, yang kenyataannya merupakan
ciri khas yang umum dari periode perkembangan (Rahmawati, 2006).

Sedangkan pada tahun 1974, WHO memberikan defenisi tentang remaja


lebih konseptual. Dalam defenisi tersebut dikemukakan kriteria yaitu
biologis, psikologis dan sosial ekonomi. Remaja adalah suatu masa
dimana:
1. Individu berkembang dari saat pertama kali ia menunjukkan tandatanda seksual sekundernya sampai ia mencapai kematangan seksual.
2. Individu mengalami perkembangan psikologis dan pola identifikasi
dari kanak-kanak menjadi dewasa.
3. Terjadi peralihan dari ketergantungan sosial-ekonomi yang penuh
kepada keadaan yang relatif lebih mandiri.
Ditinjau dari kesehatan WHO menetapkan batas usia 10-20 tahun
sebagai batasan usia remaja (Rahmawati, 2006).

Sementara itu defenisi remaja untuk masyarakat Indonesia yang dikutip


dalam Sarwono (2000) adalah menggunakan batasan usia 11-24 tahun
dan belum menikah dengan pertimbangan sebagai berikut:
1. Usia 11 tahun adalah usia dimana pada umumnya tanda-tanda
seksual sekunder mulai tampak (kriteria fisik).

Joko Pranoto : Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Remaja Terhadap Tindakan Hubungan Seksual Pranikah Di
Smk Negeri X Medan Tahun 2009, 2010.

2. Dibanyak masyarakat Indonesia, usia dianggap akil balik, baik


menurut adat maupun agama, sehingga masyarakat tidak lagi
memperlakukan mereka sebagai anak-anak (kriteria sosial).
3. Pada

usia

tersebut

mulai

ada

tanda-tanda

penyempurnaan

perkembangan jiwa seperti tercapainya identitas diri (ego identity,


menurut Erik Erikson), tercapainya fase genital dari perkembangan
psikoseksual (Freud) dan tercapainya puncak perkembangan kognitif
(Piaget) maupun moral (Kohilberg) (kriteria psikologis).
4. Batas usia 24 tahun merupakan batas maksimal yaitu untuk memberi
peluang

bagi

mereka

sampai

batas

usia

tersebut

masih

menggantungkan diri kepada orangtua.


5. Dalam defenisi di atas, status perkawinan sangat menentukan karena
arti perkawinan masih sangat penting dalam masyarakat kita secara
menyeluruh, seseorang yang sudah menikah pada usia berapa pun,
dianggap dan di perlakukan sebagai orang dewasa (Rahmawati,
2006).

2.2.2 Ciri-Ciri Remaja


Hurlock (1999) mengatakan ada delapan ciri-ciri remaja, yaitu:
1. Masa remaja sebagai periode yang penting
Dianggap periode yang penting karena fisik dan akibat psikologis.
Perkembangan fisik yang cepat penting disertai dengan cepatnya
perkembangan mental, terutama pada awal masa remaja. Semua
perkembangan ini menimbulkan perlunya penyesuaian mental dan
perlunya membentuk sikap, nilai dan minat baru.
2. Masa remaja sebagai periode peralihan
Dalam periode peralihan, status individu tidaklah jelas dan terdapat
keraguan akan peran yang harus dilakukan. Pada masa ini, remaja
bukan lagi seorang anak dan juga bukan orang dewasa. Status yang
tidak jelas ini menguntungkan karena status memberi waktu

Joko Pranoto : Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Remaja Terhadap Tindakan Hubungan Seksual Pranikah Di
Smk Negeri X Medan Tahun 2009, 2010.

kepadanya untuk mencoba gaya hidup yang berbeda dan menentukan


pola perilaku, nilai dan sifat yang paling sesuai bagi dirinya.
3. Masa remaja sebagai periode perubahan
Ada lima perubahan yang dialami oleh remaja yaitu:

Pertama, meningginya emosi

Kedua, perubahan tubuh, minat dan peran yang diharapkan oleh


kelompok sosial.

Ketiga, remaja selalu merasa ditimbuni banyak masalah.

Keempat, dengan berubahnya minat dan pola maka nilai-nilai


berubah.
Kelima, sebagian besar remaja bersikap ambivalen terhadap
perubahan.
4. Masa remaja sebagai usia bermasalah
Ada dua hal yang menyebabkan kesulitan mengatasi masalah baik
pria maupun wanita, yaitu:
Pertama, sepanjang masa kanak-kanak, masalah anak-anak
sebagian diselesaikan oleh orangtua dan guru, sehingga banyak
remaja tidak berpengalaman dalam mengatasi masalah.
Kedua, karena para remaja merasa diri mandiri, sehingga mereka
ingin mengatasi masalahnya sendiri, menolak bantuan dari
orangtua dan guru.
5. Masa remaja sebagai masa mencari identitas
Hal ini sesuai dengan yang dijelaskan Erik Erikson, yaitu masa
mencari identitas dari seperti usaha untuk menjelaskan siapa dirinya,
apa perannya dalam masyarakat.
6. Masa remaja sebagai usia yang menimbulkan ketakutan
Anggapan streotipe budaya bahwa remaja adalah anak-anak yang
tidak rapi, yang tidak dapat dipercaya dan cenderung merusak dan
berperilaku

merusak,

menyebabkan

orang

dewasa

harus

membimbing dan mengawasi kehidupan remaja takut bertanggung


jawab dan bersikap tidak simpatik terhadap perilaku remaja normal.
Joko Pranoto : Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Remaja Terhadap Tindakan Hubungan Seksual Pranikah Di
Smk Negeri X Medan Tahun 2009, 2010.

7. Masa remaja sebagai masa yang tidak realistik


Remaja cenderung memandang kehidupan melalui kaca berwarna
merah jambu. Ia melihat dirinya dan orang lain sebagaimana yang
dia inginkan dan bukan sebagaimana adanya, terlebih dalam hal citacita. Cita-cita yang tidak realistik ini hanya bagi dirinya juga bagi
keluarga dan teman-temannya, menyebabkan meningginya emosi
yang merupakan cirri dari awal masa remaja.
8. Masa remaja sebagai masa ambang dewasa
Dengan semakin mendekatnya usia kematangan yang sah, para
remaja menjadi gelisah untuk meninggalkan streotipe belasan tahun
dan untuk memberikan kesan bahwa mereka sudah ampir dewasa.
Berpakaian dan bertindak sebagai orang dewasa ternyata tidaklah
cukup (Rahmawati, 2006).

Secara umum masa remaja dibagi menjadi tiga bagian, yaitu sebagai
berikut:
1. Masa remaja awal (12-15 tahun)
Pada masa ini individu mulai meninggalkan peran sebagai anak-anak
dan berusaha mengembangkan diri sebagai individu yang unik dan
tidak tergantung pada orangtua. Fokus dari tahap ini adalah
penerimaan terhadap bentuk dan kondisi fisik serta adanya
konformitas yang kuat dengan teman sebaya.
2. Masa remaja pertengahan (15-18 tahun)
Masa ini ditandai dengan berkembangnya kemampuan berpikir yang
baru. Teman sebaya masih memiliki peran yang penting. Namun
individu sudah lebih mampu mengarahkan diri sendiri (selfdirected). Pada masa ini remaja mulai mengembangkan kematangan
tingkah laku, belajar mengendalikan impulsifitas, dan membuat
keputusan-keputusan awal yang berkaitan dengan tujuan vokasional
yang ingin dicapai. Selain itu penerimaan dari lawan jenis menjadi
penting bagi individu.
Joko Pranoto : Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Remaja Terhadap Tindakan Hubungan Seksual Pranikah Di
Smk Negeri X Medan Tahun 2009, 2010.

3. Masa remaja akhir (19-22 tahun)


Masa ini ditandai oleh persiapan akhir untuk memasuki peran-peran
orang dewasa. Selama periode in remaja berusaha memantapkan
tujuan vokasional dan mengembangkan sense of personal identity.
Keinginan yang kuat untuk menjadi matang dan diterima dalam
kelompok teman sebaya dan orang dewasa, juga menjadi ciri dari
tahap ini (Agustiani, 2006).

2.3 Hubungan Seksual Pranikah


Hubungan seks didefinisikan sebagai persenyawaan, persetubuhan dan satu
aktivitas merangsang dari sentuhan kulit secara keseluruhan, sampai
mempertemukan alat kemaluan lelaki ke dalam organ vital wanita.
Rangsangan ini adalah naluri alamiah semua makhluk hidup untuk
menyambung generasi seterusnya agar gen ini tidak terputus. Sedangkan
hubungan seksual pranikah merupakan tindakan seksual yang dilakukan tanpa
melalui proses pernikahan yang resmi menurut hukum maupun menurut
agama dan kepercayaan masing-masing individu (Setyawan, 2007).

2.3.1 Dampak Dari Melakukan Hubungan Seksual Pranikah


2.3.1.1 Aspek Medis
Dari aspek medis, melakukan hubungan seksual pranikah
memiliki banyak konsekuensi, sebagai berikut :
1. Kehamilan yang tidak diinginkan (KTD) pada usia muda
Mudanya usia ditambah minimnya informasi tentang
bagaimana seorang perempuan bisa hamil, mempertinggi
kemungkinan terjadinya kasus kehamilan
diinginkan.

Menurut

data

PKBI,

37.700

yang tidak
perempuan

mengalami kehamilan yang tidak diinginkan. Dari jumlah itu,


30,0% adalah masih remaja, 27,0% belum menikah, 12,5%
masih berstatus pelajar atau mahasiswa dan sisanya adalah
ibu rumah tangga (Yudhi, 2008).
Joko Pranoto : Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Remaja Terhadap Tindakan Hubungan Seksual Pranikah Di
Smk Negeri X Medan Tahun 2009, 2010.

2. Aborsi
Dengan status mereka yang belum menikah maka besar
kemungkinan kehamilan tersebut tidak dikehendaki dan
aborsi merupakan salah satu alternatif yang kerap diambil
oleh remaja. Setiap tahun terdapat sekitar 2,6 juta kasus
aborsi di Indonesia, yang berarti setiap jam terjadi 300
tindakan pengguguran janin dengan resiko kematian ibu.
Sedikitnya 700 ribu diantaranya dilakukan oleh remaja atau
perempuan berusia di bawah 20 tahun. Sebanyak 11,13% dari
semua kasus aborsi di Indonesia dilakukan karena kehamilan
yang tidak diinginkan (Yudhi, 2008).
3. Meningkatkan resiko terkena Kanker Rahim
Pengidap penyakit Kanker Mulut Rahim biasanya perempuan
usia produktif, aktif melakukan hubungan seks, sering
berganti pasangan seks, kawin dalam usia relatif muda
(kurang dari 17 tahun) dan sering melahirkan.
4. Terjangkit Penyakit Menular Seksual
PMS adalah penyakit yang dapat ditularkan dari seseorang
kepada orang lain melalui hubungan seksual. Seseorang
beresiko tingi terkena PMS bila melakukan hubungan seksual
dengan berganti-ganti pasangan, baik melalui vagina, oral
maupun anal. Bila tidak diobati dengan benar, penyakit ini
dapat berakibat serius bagi kesehatan reproduksi, seperti
terjadinya kemandulan, kebutaan pada bayi yang baru lahir
bahkan kematian. Di Indonesia yang banyak ditemukan saat
ini adalah Gonore (GO), sifilis (raja singa), herpes kelamin,
klamidia, trikomoniasis vagina, kutil kelamin

hingga

HIV/AIDS.

Joko Pranoto : Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Remaja Terhadap Tindakan Hubungan Seksual Pranikah Di
Smk Negeri X Medan Tahun 2009, 2010.

2.3.1.2 Aspek Sosial-Psikologis


Dari aspek psikologis, melakukan hubungan sekual pranikah
akan menyebabkan remaja menjadi memiliki perasaan dan
kecemasan tertentu, sehingga bisa mempengaruhi kondisi
kualitas sumber daya manusia (remaja) dimasa yang akan datang.
Kualitas SDM remaja ini adalah :
1. Kualitas mentalis. Kualitas mentalis remaja perempuan dan
laki-laki yang terlibat perilaku seksual pranikah akan rendah
bahkan cenderung memburuk. Mereka tidak memiliki etos
kerja dan disiplin yang tinggi, karena dibayangi masa
lalunya. Cepat

menyerah pada nasib, tidak sanggup

menghadapi tantangan dan ancaman hidup, rendah diri dan


tidak sanggup berkompetisi.
2. Kualitas kesehatan reproduksi. Hal ini erat kaitannya dengan
dampak medis karena kondisi fisik perempuan khususnya.
Sedangkan laki-laki akan memiliki kesehatan yang rendah.
3. Kualitas

keberfungsian

keluarga.

Seandainya

mereka

menikah dengan cara terpaksa, akan mengakibatkan kurang


dipahaminya peran-peran baru yang akan disandangnya
dalam membentuk keluarga yang sakinah.
4. Kualitas ekonomi keluarga. Kualitas ekonomi yang dibangun
oleh keluarga yang menikah karena terpaksa, tidak akan
memiliki kesiapan dalam pemenuhan kebutuhan ekonomi
keluarga.
5. Kualitas pendidikan. Remaja yang terlibat perilaku seksual
pranikah, kemudian menikah, tentunya akan memiliki
keterbatasan dalam pendidikan formal.
6. Kualitas partisipasi dalam pembangunan. Karena kondisi
fisik, mental, dan sosial yang kurang baik, remaja yang
terlibat perilaku seksual pranikah, tidak dapat berpartisipasi
dalam pembangunan.
Joko Pranoto : Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Remaja Terhadap Tindakan Hubungan Seksual Pranikah Di
Smk Negeri X Medan Tahun 2009, 2010.

Adapun beberapa gangguan seksual yang dapat dialami laki-laki


dan perempuan karena melakukan hubungan seksual pranikah
yaitu :

Gangguan pada laki-laki :


1. Impotensi : jika itu yang terjadi sebagai akibat dari faktor
psikologis, maka gangguan itu muncul karena perasaan
khawatir yang berlebihan, takut kalau pacarnya hamil dan
lain-lain.
2. Jika laki-laki mendapatkan ejakulasi sebelum terjadi atau
beberapa detik setelah penetrasi, ini terjadi karena rasa cemas
akibat takut dosa atau ketahuan orang, dan lain-lain.

Gangguan pada perempuan :


1. Frigiditas : kelainan yang mengakibatkan perempuan tidak
atau kurang mempunyai gairah seksual. Ini terjadi karena
hubungan psikologis seperti cewek tidak senang dengan
pasangan seksualnya,

perasaan

malu,

takut, perasaan

bersalah, disamping bisa juga karena faktor organik.


2. Anorgasmus : tidak tercapainya orgasme/kepuasan jika
berhubungan seks, ini bisa terjadi jika perempuan mengalami
frigitas, atau juga karena gangguan dan tekanan psikologis
akibat hubungan seks pranikah.
3. Vaginismus: kejang dari 1/3 bagian bawah otot vagina. Ini
bisa terjadi karena perempuan memiliki pengalaman buruk
pada hubungan seks pranikah.
4. Disparemia: perasaan sakit yang timbul pada saat melakukan
hubungan seksual (Mashum, 2004).

Joko Pranoto : Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Remaja Terhadap Tindakan Hubungan Seksual Pranikah Di
Smk Negeri X Medan Tahun 2009, 2010.

2.4 Kesehatan Reproduksi


Istilah reproduksi berasal dari kata re yang artinya kembali dan kata
produksi yang artinya membuat atau menghasilkan. Jadi istilah
reproduksi mempunyai arti suatu proses kehidupan manusia dalam
menghasilkan keturunan demi kelestarian hidupnya. Sedangkan yang
disebut organ reproduksi adalah alat tubuh yang berfungsi untuk
reproduksi manusia (BKKBN, 2004).

Kesehatan reproduksi adalah keadaan kesejahteraan fisik, mental, dan


sosial yang utuh bukan hanya bebas dari penyakit atau kecacatan, dalam
segala aspek yang berhubungan dengan sistem repoduksi, fungsi serta
prosesnya (Hadi, 2008).

Sedangkan kesehatan reproduksi remaja adalah suatu kondisi sehat yang


menyangkut sistem, fungsi dan proses reproduksi yang dimiliki remaja.
Pengertian sehat disini tidak semata-mata berarti bebas penyakit atau
bebas dari kecacatan namun juga sehat secara mental serta sosial
kultural. Remaja perlu mengetahui kesehatan reproduksi agar memiliki
informasi yang benar mengenai proses reproduksi serta berbagai faktor
yang ada disekitarnya. Dengan informasi yang benar diharapkan remaja
memiliki sikap dan tingkah laku yang bertanggung jawab mengenai
kesehatan reproduksi (Hadi, 2008).

Adapun faktor-faktor yang dianggap berperan dalam munculnya


permasalahan seksual pada remaja, menurut Sarwono (1994) adalah
sebagai berikut.
1. Perubahan-perubahan hormonal yang meningkatkan hasrat seksual
remaja. Peningkatan hormon ini menyebabkan remaja membutuhkan
penyaluran dalam bentuk tingkah laku tertentu.

Joko Pranoto : Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Remaja Terhadap Tindakan Hubungan Seksual Pranikah Di
Smk Negeri X Medan Tahun 2009, 2010.

2. Penyaluran tersebut tidak dapat segera dilakukan karena adanya


penundaan usia perkawinan, baik secara hukum oleh karena adanya
undang-undang tentang perkawinan, maupun karena norma sosial
yang semakin lama semakin menuntut persyaratan yang terus
meningkat untuk perkawinan (pendidikan, pekerjaan, persiapan
mental dan lain-lain)
3. Norma-norma agama yang berlaku, dimana seseorang dilarang untuk
melakukan hubungan seksual sebelum menikah. Untuk remaja yang
tidak dapat menahan diri memiliki kecenderungan untuk melanggar
hal-hal tersebut.
4. Kecenderungan pelanggaran makin meningkat karena adanya
penyebaran informasi dan rangsangan melalui media masa yang
dengan teknologi yang canggih menjadi tidak terbendung lagi.
Remaja yang sedang dalam periode ingin tahu dan ingin mencoba,
akan meniru apa dilihat atau didengar dari media massa, karena pada
umumnya mereka belum pernah mengetahui masalah seksual secara
lengkap dari orangtuanya.
5. Orangtua sendiri, baik karena ketidaktahuannya maupun karena
sikapnya yang masih mentabukan pembicaraan mengenai seks
dengan anak, menjadikan mereka tidak terbuka pada anak, bahkan
cenderung membuat jarak dengan anak dalam masalah ini.
6. Adanya kecenderungan yang makin bebas antara pria dan wanita
dalam masyarakat, sebagai akibat berkembangnya peran dan
pendidikan wanita, sehingga kedudukan wanita semakin sejajar
dengan pria (Setyawan, 2007).

Joko Pranoto : Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Remaja Terhadap Tindakan Hubungan Seksual Pranikah Di
Smk Negeri X Medan Tahun 2009, 2010.

BAB 3
KERANGKA KONSEP DAN DEFENISI OPERASIONAL

3.1 Kerangka Konsep Penelitian


Yang menjadi kerangka konsep pada penelitian Hubungan pengetahuan dan
sikap remaja terhadap tindakan hubungan seksual pranikah adalah variabel
independen yaitu pengetahuan dan sikap siswa tentang hubungan seksual
pranikah dan variabel dependen yaitu tindakan hubungan seksual pranikah.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar berikut ini:

Variabel Independen

Variabel dependen

PENGETAHUAN
HUBUNGAN SEKSUAL
PRANIKAH
SIKAP

Gambar 3.1 Kerangka Konsep Penelitian


3.2 Defenisi Operasional
Variable penelitian yang akan diteliti sebagai berikut :
1. Pengetahuan siswa adalah segala sesuatu yang diketahui siswa tentang
hubungan seksual pranikah dan memahaminya.
Pengetahuan responden diukur melalui 13 pertanyaan, responden yang
menjawab Benar akan diberi skor 1, sedangkan Salah diberi skor 0,
sehingga skor tertinggi yang dapat dicapai responden adalah 13.
2. Sikap siswa adalah respon/penilaian siswa terhadap segala sesuatu tentang
hubungan seksual pranikah.

Joko Pranoto : Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Remaja Terhadap Tindakan Hubungan Seksual Pranikah Di
Smk Negeri X Medan Tahun 2009, 2010.

Sikap diukur melalui 10 petanyaan, responden yang menjawab slahdiberi


skor 0, Benar akan diberi skor 1. sehingga skor tertinggi yang dapat
dicapai responden adalah 10.
3. Hubungan seksual pranikah merupakan respon seseorang terhadap
stimulus dalam bentuk nyata atau terbuka. Ada dua hal mengenai tindakan
yaitu Ya, jika siswa melakukan hubungan seksual pranikah, dan Tidak,
jika siswa tidak melakukan hubungan seksual pranikah.

Tabel 3.1 Variabel, Defenisi Operasional, Alat Ukur,


Hasil ukur, dan Skala ukur
Variabel

Defenisi

Alat Ukur

Hasil Ukur

Skala

Operasional
Pengetahuan Pengetahuan
siswa

Ukur
Kuesioner

tentang

Baik, apabila menjawab

Ordinal

benar > 75%

hubungan

Sedang, apabila

seksual

menjawab benar 40-75%

pranikah

Kurang, apabila
menjawab benar <40%

Sikap

Sikap

siswa Kuesioner

Baik, apabila menjawab

tentang

benar > 75%

hubungan

Sedang, apabila

seksual

menjawab benar 40-75%

pranikah

Kurang, apabila

Ordinal

menjawab benar <40%


Tindakan

Tindakan atau Kuesioner

Baik apabila siswa tidak Ordinal

praktek secara

melakukan

nyata

seksual pranikah.

dalam

hubungan

hubungan

Tidak baik, apabila siswa

seksual

melakukan

pranikah

seksual pranikah

hubungan

Joko Pranoto : Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Remaja Terhadap Tindakan Hubungan Seksual Pranikah Di
Smk Negeri X Medan Tahun 2009, 2010.

Uji Validitas dan Reliabilitas


Telah dilakukan uji validitas terhadap 20 orang siswa SMK Eria, yang
menghasilkan dari 30 pertanyaan pengetahuan diperoleh 13 pertanyaan yang
valid, dari 22 pertanyaan sikap diperoleh 10 pertanyaan yang valid. Setelah
dilakukan proses validitas, maka pertanyaan-pertanyaan tersebut di uji
terhadap

reliabilitasnya dan

hasilnya

yaitu

reliabel sehingga dapat

dipergunakan pada penelitian ini.

3.3 Hipotesis
Pengetahuan:
H0 = Tidak ada hubungan antara pengetahuan remaja tentang seks pranikah
terhadap tindakan hubungan seksual pranikah di SMK XMedan.
Ha = Terdapat hubungan antara pengetahuan remaja tentang seks pranikah
terhadap tindakan hubungan seksual pranikah di SMK X Medan.

Sikap:
H0 = Tidak ada hubungan antara sikap remaja tentang seks pranikah terhadap
tindakan hubungan seksual pranikah di SMK X Medan.
Ha = Terdapat hubungan antara sikap remaja tentang seks pranikah terhadap
tindakan hubungan seksual pranikah di SMK X Medan.

Joko Pranoto : Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Remaja Terhadap Tindakan Hubungan Seksual Pranikah Di
Smk Negeri X Medan Tahun 2009, 2010.

BAB 4
METODE PENELITIAN

4.1 Jenis Penelitian


Jenis penelitian ini adalah penelitian survei yang bersifat deskriptif-analitik
dengan menggunakan desain Cross sectional.

4.2 Waktu dan Tempat Penelitian


4.2.1 Waktu
Penelitian ini dilakukan di SMK X Medan mulai bulan februari hingga
Desember 2009. Dimulai dari penelusuran pustaka, survei awal,
pengumpulan data, sampai penulisan laporan.
4.2.2 Lokasi
Lokasi yang dipilih menjadi tempat penelitian adalah SMK X Medan.
Pemilihan lokasi penelitian ini didasarkan atas pertimbangan bahwa
telah diketahuinya dua orang siswi yang dikeluarkan dari sekolah
dikarenakan hamil di luar nikah pada tahun 2008. Selain itu juga
sekolah tersebut juga berada pada wilayah yang banyak dijumpai
warung internet dengan harga yang mudah dijangkau oleh siswa
sehingga memudahkan masuknya informasi secara bebas, khususnya
informasi yang bersifat negatif.

4.3 Populasi dan Sampel Penelitian


4.3.1 Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa/siswi kelas I dan II
di SMK X Medan pada tahun ajaran 2008/2009, yang pada saat
pengambilan data dilakukan siswa/siswi tersebut akan berada di kelas II
dan III. Hal ini dilakukan karena pada bulan Mei siswa yang kelas III
mengikuti UAN. Sehingga populasi dalam penelitian ini berjumlah 803
siswa yang terdiri dari siswa kelas I dan II.
Joko Pranoto : Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Remaja Terhadap Tindakan Hubungan Seksual Pranikah Di
Smk Negeri X Medan Tahun 2009, 2010.

4.3.2 Sampel
Penariakan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan cara
kelompok atau gugus (cluster sampling), dimana peneliti mengambil
satu kelompok kelas siswa dari setiap jurusan yang ada. Dan disini
pengambilan data dilakukan pada siswa kelas II yaitu Tataboga 4,
Akomodasi Perhotelan 2, Kecantikan 1, dan Tata Busana 2. Adapun
penarikan sampel menurut Notoatmodjo (2003) adalah:

Keterangan:
N = Besar populasi
n = Besar Sampel
d = Tingkat kepercayaan/ketepatan yang diinginkan (0,1)

Karena ditakutkan terdapat data yang kurang lengkap (drop out) pada
saat pengambilan data, maka peneliti mengestimasi penambahan sampel
sebesar 10% dari minimal sampel yang seharusnya sehingga sampel
minimal menjadi 98 siswa.
Kriteria Inklusi
Joko Pranoto : Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Remaja Terhadap Tindakan Hubungan Seksual Pranikah Di
Smk Negeri X Medan Tahun 2009, 2010.

Kriteria Inklusi pada penelitian ini adalah siswa yang terdaftar sebagai
siswa di SMK Negeri X Medan dan bersedia menjadi responden serta
bersedia memberikan keterangan saat pengambilan data berlangsung.

Kriteria Eksklusi
Kriteria eksklusi pada penelitian ini adalah siswa yang tidak hadir pada
saat pengambilan data dan siswa yang hadir tetapi tidak bersedia
menjadi responden pada penelitian ini.

4.4 Metode Pengumpulan Data


Pengumpulan data dilakukan dengan data primer dan data sekunder, yaitu:
4.4.1 Data Primer
Data

primer

memberikan

diperoleh
penjelasan

dengan
dan

cara

menggunakan
pengisian

kuesioner

kuesioner

serta

tersebut

sebelumnya. Dan telah dilakukan uji validitas dan reliabilitas terhadap


kuesioner.
4.4.2 Data Sekunder
Data sekunder dalam penelitian ini diperoleh melalui catatan
administator kantor tata usaha SMK X Medan mengenai data siswa dan
gambaran umum SMK X Medan.

4.5 Pengolahan dan Analisis Data


Data yang telah dikumpulkan, diolah dengan menggunakan program SPSS
(Statistical Product and Service Solution) 17, an analisis data dilihat analisa
statistik univariat dan bivariat antara pengetahuan dan sikap terhadap tindakan
seksual pranikah menggunakan uji Chi Square dengan tingkat kemaknaan
95% dan p value hitung yang diharapkan adalah < 0,05 yang menyatakan
terdapatnya hubungan. Hasil disajikan dalam bentuk narasi dan tabel distribusi
frekuensi.

BAB 5
Joko Pranoto : Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Remaja Terhadap Tindakan Hubungan Seksual Pranikah Di
Smk Negeri X Medan Tahun 2009, 2010.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.1 Hasil Penelitian


Proses pengambilan data untuk penelitian ini telah dilakukan pada tanggal 13
Oktober 2009 di SMK X, dengan jumlah responden yang mengisi kuesioner
adalah sebanyak 115 siswa dan 15 diantaranya dikeluarkan karena mengalami
ketidaklengkapan data sehingga total sampel dalam penelitian ini menjadi
sebanyak 100 orang. Berdasarkan jawaban kuisioner yang telah dikumpulkan dan
dianalisa, maka dapat disimpulkan hasil penelitian dalam paparan di bawah ini.

5.1.1 Deskripsi Lokasi Penelitian


SMK X didirikan pada tahun 1976 yang berada di bawah naungan Dinas
Pendidikan Kota Medan. Sekolah Menengah Kejuruan ini memiliki masa
pendidikan selama tiga tahun dengan empat program keahlian yang dimiliki,
yaitu:
1. Tata Kecantikan

: 4 Kelas

2. Akomodasi Perhotelan

: 7 Kelas

3. Tata Boga

: 10 Kelas

4. Tata Busana

: 10 Kelas

Sekolah ini memiliki jumlah total siswa sebanyak 803 siswa dengan jumlah siswa
laki-laki sebanyak 84 siswa dan jumlah siswi perempuan sebanyak 719 serta
memiliki tenaga pengajar produktif sebanyak 52 orang.

5.1.2 Deskripsi Karekteristik Responden


Jumlah responden yang berjenis kelamin perempuan pada penelitian ini jauh lebih
banyak jika dbandingkan dengan jumlah responden berjenis kelamin laki-laki
yaitu sekitar 1 : 10 (Tabel 5.1).

Joko Pranoto : Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Remaja Terhadap Tindakan Hubungan Seksual Pranikah Di
Smk Negeri X Medan Tahun 2009, 2010.

Tabel 5.1 Distribusi Berdasarkan Jenis Kelamin di SMK X Tahun 2009


Jenis kelamin
Frekuensi
Persentase
Laki-Laki

9%

Perempuan

91

91%

Sebagian besar responden adalah berusia 16 tahun yaitu sebanyak 77 orang (77%)
dan berturut-turut responden berusia 17 tahun dan 15 tahun adalah sejumlah 15
orang (15%) dan tujuh orang (7%) (Tabel 5.2).

Tabel 5.2 Distribusi Berdasarkan Umur di SMK X Tahun 2009


Umur
Frekuensi
Persentase
15 Tahun

8%

16 Tahun

77

77%

17 Tahun

15

15%

5.1.3 Tingkat Pengetahuan


Dalam Kuesioner terdapat 13 pertanyaan mengenai tingkat pengetahuan
responden. Dikatakan pengetahuan baik jika persentase jawaban benar lebih dari
75%, sedang diantara 40-75% dan kurang dari 40%.

Secara umum tingkat pengetahuan responden adalah sedang dengan jumlah


berurutan antara tingkat pengetahuan sedang, baik dan kurang adalah 77 %, 15%
dan 8 % (Tabel 5.3).

Tabel 5.3 Distribusi Berdasarkan Tingkat Pengetahuan Siswa Tentang


Hubungan Seksual Pranikah di SMK X Tahun 2009
Tingkat Pengetahuan
Frekuensi
Persen (%)
Baik

15

15%

Sedang

77

77%

Kurang

8%

Joko Pranoto : Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Remaja Terhadap Tindakan Hubungan Seksual Pranikah Di
Smk Negeri X Medan Tahun 2009, 2010.

Sebagian besar siswa laki-laki memiliki tingkat pengetahuan sedang (89%), sama
halnya dengan siswi perempuan yang juga memiliki tingkat pengetahuan yang
terbanyak adalah sedang (76%) (Tabel 5.4).

Tabel 5.4 Distribusi Tingkat Pengetahuan Siswa Tentang Hubungan Seksual


Pranikah Berdasarkan Jenis Kelamin di SMK X Tahun 2009
Tingkat Pengetahuan
Total
Baik

Jenis Kelamin

Sedang

Kurang

Laki-laki

11

89

100

Perempuan

14

15

69

76

91

100

5.1.4 Tingkat Sikap


Dalam Kuesioner terdapat 10 pertanyaan mengenai sikap tentang hubungan
seksual pranikah dimana dikatakan tingkat sikap yang baik jika jawaban sikap
yang tepat sebanyak > 75%, sedang 40-75%, dan kurang < 40%.

Tingkat sikap responden yang terbanyak adalah baik yaitu sebesar 65% dari total
jumlah responden, yang kemudian diikuti tingkat sikap sedang dan kurang sebesar
31 % dan 4 % (Tabel 5.5).

Tabel 5.5 Distribusi Berdasarkan Tingkat Sikap Siswa Tentang Hubungan


Seksual Pranikah Siswa di SMK X Tahun 2009
Tingkat Sikap
Frekuensi
Persen (%)
Baik

65

65%

Sedang

31

31%

Kurang

4%

Tingkat sikap siswa laki-laki yang terbanyak adalah baik yaitu sebesar 67% dan
tidak ada siswa laki-laki yang memiliki tingkat sikap yang kurang. Begitu juga
halnya siswi perempuan yang memiliki tingkat sikap terbesar yaitu baik (65%)
(Tabel 5.6).
Joko Pranoto : Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Remaja Terhadap Tindakan Hubungan Seksual Pranikah Di
Smk Negeri X Medan Tahun 2009, 2010.

Tabel 5.6 Distribusi Tingkat Sikap Siswa Tentang Hubungan Seksual


Pranikah Berdasarkan Jenis Kelamin di SMK X Tahun 2009
Tingkat Sikap
Total
Jenis Kelamin

Baik

Sedang

Kurang

Laki-laki

67

33

100

Perempuan

59

65

28

31

91

100

5.1.5 Tindakan Hubungan Seksual Pranikah Siswa


Tabel 5.7 dibawah ini menggambarkan bahwa 78% siswa laki-laki dan 76% siswi
perempuan sudah pernah berpacaran. Dan sejauh mana tindakan siswa laki-laki
selama berpacaran adalah 67% sudah pernah berpegangan tangan, 33% sudah
pernah mencium/dicium di pipi, 11% sudah pernah mencium/dicium bibir, dan
tidak ada siswa laki-laki yang sudah pernah memegang payudara ataupun alat
kelamin pacar/lawan jenisnya. Sedangkan siswi perempuan 67% sudah pernah
berpegangan tangan, 31% sudah pernah mencium/dicium pipi, 21% sudah pernah
mencium/dicium bibir, serta sebanyak 6% dan 3 % siswi perempuan berurutan
yang sudah pernah dipegang payudaranya dan alat kelaminnya.

Tabel 5.7 Distribusi Berpacaran Siswa berdasarkan Jenis Kelamin di SMK


X Tahun 2009
Jenis Kelamin
Laki-Laki

Jenis Tindakan

Ya

Perempuan

Tidak

Ya

Tidak

Berpacaran

78

22

69

76

22

34

Memegang/berpegang Tangan

67

33

61

67

30

33

Mencium/dicium Pipi

33

67

28

31

63

69

Mencium/dicium Bibir

11

89

25

27

66

73

Memegang/dipegang Payudara

100

86

94

Memegang/dipegang Alat Kelamin

100

88

97

Joko Pranoto : Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Remaja Terhadap Tindakan Hubungan Seksual Pranikah Di
Smk Negeri X Medan Tahun 2009, 2010.

Dari 100 orang responden, tidak terdapat siswa laki-laki yang pernah melakukan
hubungan seksual pranikah, beda halnya dengan siswi perempuan yang terdapat
dua orang (2%) siswi yang sudah melakukan hubungan seksual pranikah. Adapun
pasangan melakukan hubungan seksual kedua siswi tersebut adalah dengan
pacarnya dan satu orang di antaranya adalah dengan tunangannya. Alasan
melakukan hubungan seksual pranikah kedua siswi adalah dikarenakan cinta atau
perasaan suka sama suka dan tempat melakukan hubungan seksual tersebut adalah
satu orang di rumah dan satu orang di kos (Tabel 5.8).

Tabel 5.8 Distribusi Tindakan Hubungan Seksual Pranikah Siswa


Berdasarkan Jenis Kelamin di SMK X Tahun 2009
Jenis kelamin
Laki-Laki

Perempuan

100

- Pacar/tunangan

100

- Teman (tanpa ikatan)

- Pria hidung belang

- Perasaan suka sama suka

100

- Alasan ekonomi

- Kepuasan

- Rumah

50

- Kost

50

- Hotel

Tindakan hubungan Seksual Pranikah

Siswa

yang

sudah

pernah

melakukan

hubungan seksual pranikah


Pasangan hubungan seksual pranikah

Alasan

melakuakan

hubungan

seksual

pranikah

Tempat

melakukan

hubungan

seksual

pranikah

Joko Pranoto : Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Remaja Terhadap Tindakan Hubungan Seksual Pranikah Di
Smk Negeri X Medan Tahun 2009, 2010.

5.1.6 Tingkat Pengetahuan Siswa Berdasarkan Tindakan Siswa Tentang


Hubungan Seksual Pranikah di SMK X Tahun 2009
Berdasarkan tindakan hubungan seksual pranikah, diperoleh bahwa dari 15 orang
responden yang berpengetahuan baik terdapat satu orang responden (7%) yang
melakukan hubungan seksual pranikah dan dari 77 responden berpengetahuan
sedang terdapat satu orang responden (2%) yang melakukan hubungan seksual
pranikah tetapi tidak ada responden yang berpengetahuan kurang melakukan
hubungan seksual pranikah. Sedangkan berdasarkan uji Chi Square dengan
menggunakan program komputer antara pengetahuan dan tindakan diperoleh nilai
p value sebesar 0,364 yaitu nilainya lebih besar dari 0,05 yang berarti H0 diterima
(Tabel 5.9).

Tabel 5.9 Distribusi Pengetahuan Siswa Berdasarkan Tindakan Melakukan


Hubungan Seksual Pranikah di SMK X Tahun 2009
Tindakan
Jumlah
Ya
Tidak
p value
Pengetahuan
n

Baik

14

93

15

100

Sedang

76

98

77

100

Kurang

100

100

0,364

5.1.7 Tingkat Sikap Siswa Berdasarkan Tindakan Siswa Tentang Hubungan


Seksual Pranikah di SMK X Tahun 2009
Tabel 5.10 menggambarkan bahwa tidak terdapat responden yang memiliki sikap
baik ataupun kurang pernah melakukan tindakan hubungan seksual pranikah,
sedangkan terdapat dua orang responden yang memiliki sikap sedang melakukan
tindakan hubungan seksual pranikah. Berdasarkan uji Chi Square dengan
menggunakan program komputer antara sikap dan tindakan diperoleh nilai p value
sebesar 0,103 yaitu nilainya lebih besar dari 0,05 sehingga berarti H0 diterima.

Joko Pranoto : Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Remaja Terhadap Tindakan Hubungan Seksual Pranikah Di
Smk Negeri X Medan Tahun 2009, 2010.

Tabel 5.10 Distribusi Sikap Siswa Berdasarkan Tindakan Melakukan


Hubungan Seksual Pranikah di SMK X Tahun 2009
Tindakan
Sikap

Ya

Jumlah

Tidak

Baik

65

100

65

100

Sedang

29

93

31

100

Kurang

100

100

p value

0,103

5.2 Pembahasan
5.2.1 Pengetahuan Siswa Tentang Hubungan Seksual Pranikah
Dari hasil penelitian diperoleh bahwa sebagian besar responden mempunyai
tingkat pengetahuan sedang yaitu sebanyak 77%, dan yang berpengetahuan baik
sebanyak 15% serta yang berpengetahuan kurang sebanyak 4%. Berdasarkan
penelitian yang dilakukan oleh Kusniaty (1998) perbedaan tingkat pengetahuan
ini dapat disebabkan oleh beberapa hal :
1. Perbedaan kesempatan untuk memperoleh informasi tentang seksual
2. Kurangnya informasi seksual dari orangtua
3. Adanya berbagai informasi yang menyesatkan yang menimbulkan terjadinya
salah persepsi tentang seksual
4. Adanya keingintahuan yang dalam terhadap masalah seksual.

Apabila dilihat penelitian terdahulu tentang Pengetahuan, Sikap, dan Tindakan


Seksualitas Remaja di Kotamadya Medan Tahun 1993 yang dilakukan oleh
Ahmad (1993), maka didapatkan persamaan mengenai tingkat pengetahuan
responden dimana tingkat pengetahuan responden terbanyak adalah sama-sama
sedang yaitu 81,71%, sementara pengetahuan baik sebanyak 10,97% dan 7,32%
berpengetahuan kurang. Hal ini juga didukung oleh hasil penelitian serupa yang
dilakukan Megawati (1999) mengenai Pemahaman Reproduksi Sehat Terhadap
Perilaku Seks Pada pelajar SMU Negeri 1 Medan Tahun 1999 yaitu sebagian
Joko Pranoto : Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Remaja Terhadap Tindakan Hubungan Seksual Pranikah Di
Smk Negeri X Medan Tahun 2009, 2010.

besar responden berpengetahuan sedang yaitu sebanyak 64,5%, dan 35,5%


berpengetahuan baik dan tidak ada responden yang berpengetahuan kurang.

Dari tabel 5.4 dapat dilihat bahwa siswa laki-laki umumnya berpengetahuan
sedang dan baik, dan tidak ada siswa yang berpengetahuan kurang. Hal ini
mungkin dikarenakan pihak laki-laki lebih sering mencari informasi tentang
seksual baik melalui media cetak maupun media elektronik. Dengan kata lain lakilaki lebih berani secara terbuka memenuhi keingintahuannya tentang seks. Dalam
memenuhi keingintahuannya tersebut laki-laki lebih sering bertanya kepada teman
sebaya maupun yang lebih tua. Meskipun demikian , tingkat pengetahuan
responden baik laki-laki maupun perempuan yang terbanyak adalah sedang.

5.2.2 Sikap Siswa Tentang Hubungan Seksual Pranikah


Dari tabel 5.5 diperoleh bahwa 65% responden memiliki sikap yang baik terhadap
hubungan seksual pranikah, 31% memiliki sikap yang sedang dan sebanyak 4%
memiliki sikap yang kurang. Bila dibandingkan dengan hasil penelitian sejenis
yang dilakukan Kusniaty (1998), diperoleh persamaan hasil bahwa sikap
responden terbanyak adalah baik yaitu 58,67%, dan 36,2% responden memiliki
sikap yang sedang dan sebanyak 5,1% memiliki sikap yang kurang.

Tetapi beda halnya dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Ahmad (1993)
yang memperoleh sikap responden terbanyak adalah sedang yaitu sebanyak
62,5%, sedangkan sikap baik sebanyak 33,25% serta 4,25% memiliki sikap
kurang. Hasil yang sama juga terlihat pada penelitian Megawati (1999), dimana
diperoleh tingkat sikap terbanyak adalah sedang sebesar 60%, dan sikap baik
sebesar 30% serta sikap kurang sebesar 10%.

Perbedaan-perbedaan hasil ini mungkin disebabkan oleh berbagai macam hal


diantaranya pengetahuan, keyakinan, lingkungan, dan emosi yang merupakan
memegang peranan penting dalam penentuan sikap. Seseorang akan bersikap baik
(positif) terhadap suatu objek bila objek itu memberikan suatu kesenangan
Joko Pranoto : Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Remaja Terhadap Tindakan Hubungan Seksual Pranikah Di
Smk Negeri X Medan Tahun 2009, 2010.

terhadap individu tersebut, dan sebaliknya seseorang akan memiliki sikap negatif
(kurang) bila dia tidak suka terhadap objek itu.

5.2.3 Tindakan Hubungan Seksual Pranikah Siswa


Berdasarkan tabel 5.8 dapat dilihat bahwa dari 100 orang responden yang mengisi
kuesioner, terdapat dua responden (2%) yang sudah pernah melakukan hubungan
seksual pranikah. Walaupun persentasenya rendah hanya sekitar 2% namun telah
mampu memberikan gambaran bahwa terjadi pergeseran perilaku seksual tersebut
ke arah keserbabolehan (permisif).

Responden yang sudah pernah melakukan hubungan seksual pranikah ini adalah
keduanya perempuan, dimana terdapat perbedaan hasil penelitian dengan yang di
lakukan oleh Ahmad (1993) dimana 85% dari 11,75% responden yang melakukan
hubungan seksual pranikah adalah laki-laki. Begitu juga dengan hasil penelitian
Megawati (1999) yang memperoleh sebesar 2,2 % siswa pernah melakukan
hubungan seksual pranikah dan semuanya adalah laki-laki. Laki-laki memang
lebih rentan atau lebih sering melakukan hubungan seksual pranikah namun pada
penelitian ini terjadi perbedaan perbandingan jumlah responden laki-laki dan
perempuan yang sangat besar sekitar 1:10, sehingga resiko ditemukannya
perempuan yang sudah pernah melakukan hubungan seksual pranikah jauh lebih
besar jika dibandingkan dengan laki-laki.

Berdasarkan dari tabel 5.8 juga dapat dijelaskan bahwa adapun pasangan
melakukan hubungan seksual pranikah adalah mayoritas melakukannya dengan
pacar dan satu diantaranya sudah bertunangan. Tempat melakukan hubungan
seksual pranikah adalah di rumah dan di kost, dimana pada umumnya kebanyakan
siswa melakukan hubungan seksual pranikah berada di luar rumah, ketika siswa
tidak berada pada pengawasan orangtua. Namun, pengawasan orangtua dalam
rangka mengurangi peluang remaja dalam berperilaku beresiko tidaklah cukup.
Hubungan yang harmonis antara orangtua dan anak seringkali merupakan
perlindungan yang utama bagi mereka terhadap perilaku yang beresiko (Raina dan
Joko Pranoto : Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Remaja Terhadap Tindakan Hubungan Seksual Pranikah Di
Smk Negeri X Medan Tahun 2009, 2010.

Mercy, 2003). Mayoritas alasan responden melakukan hubungan seksual pranikah


adalah rasa saling suka dan cinta. Menurut Hanafiah (2002), alasan yang
dikemukakan dalam berhubungan seksual pranikah biasanya sebagai bukti cinta,
sayang, pengikat hubungan, serta berencana menikah dalam waktu dekat.

5.2.4 Tingkat Pengetahuan Siswa Berdasarkan Tindakan Siswa Tentang


Hubungan Seksual Pranikah
Dilihat dari pengelompokan tingkat pengetahuan siswa berdasarkan tindakan
melakukan hubungan seksual pranikah pada tabel 5.9, terlihat bahwa siswa yang
tidak melakukan hubungan seksual terbesar adalah pada pengetahuan sedang dan
tidak ada siswa yang berpengetahuan kurang pernah melakukan hubungan seksual
pranikah, sedangkan siswa yang melakukan hubungan seksual pranikah memiliki
tingkat pengetahuan sedang dan baik. Hasil ini berbeda dengan pendapat Sarwono
(1999) yaitu kurangnya pengetahuan tentang seksual dapat menyebabkan
terjadinya hubungan seksual pranikah. Hal senada juga digambarkan dari hasil
penelitian Hartono (1988) di sekolah SMU di Jakarta dan Surabaya yang
menunjukkan pemahaman yang baik terhadap akibat hubungan seksual pranikah
akan menurunkan resiko melakukan hubungan seksual pranikah. Kenyataan ini
menggembirakan karena dengan pemahaman demikian diharapkan remaja akan
berhati-hati dalam mengambil keputusan untuk melakukan hubungan seksual
pranikah.

Berdasarkan tabel 5.9 juga diperoleh hubungan antara pengetahuan dan tindakan
dengan p value hitung sebesar 0,364. Dimana nilai ini akan menggambarkan
apakah H0 ditolak atau diterima dengan H0 ditolak jika p value 0,05.
Berdasarkan p value hitung diperoleh p value hitung > 0,05 yang berarti H0
diterima. Hal ini menggambarkan bahwa tidak terdapat perbedaan tindakan yang
berarti baik siswa yang memiliki pengetahuan baik, sedang dan kurang atau
dengan kata lain tidak terdapat hubungan antara pengetahuan dan tindakan
hubungan seksual pranikah. Hal ini mungkin dikarenakan bahwa tidak hanya
tingkat pengetahuan yang dapat mempengaruhi terjadinya suatu tindakan, yaitu
Joko Pranoto : Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Remaja Terhadap Tindakan Hubungan Seksual Pranikah Di
Smk Negeri X Medan Tahun 2009, 2010.

berdasarkan teori Lawrence Green menyatakan bahwa tindakan seseorang


terbentuk dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu faktor-faktor predisposisi, faktorfaktor pendukung, dan faktor-faktor pendorong. Dimana pengetahuan termasuk
faktor predisposisi bersama dengan sikap, kepercayaan, keyakinan, dan nilai-nilai
yang terdapat di masyarakat. Selain itu faktor pendukung juga memiliki peranan
penting dalam terjadinya suatu tindakan yaitu dengan tersedianya sarana, fasilitas,
ataupun kesempatan untuk terwujudnya suatu tindakan.

5.2.5 Tingkat Sikap Siswa Berdasarkan Tindakan Siswa Tentang Hubungan


Seksual Pranikah
Dilihat dari pengelompokan tingkat sikap siswa berdasarkan tindakan melakukan
hubungan seksual pranikah pada tabel 5.10 terlihat bahwa sebagian besar siswa
yang tidak melakukan hubungan seksual pranikah adalah siswa yang memiliki
sikap baik, dan siswa yang melakukan hubungan seksual pranikah keduanya
memiliki sikap yang sedang. Sikap terbentuk karena adanya interaksi seseorang
terhadap lingkungan fisik maupun sosial di sekitarnya. Berbagai faktor yang
mempengaruhi pembentukan sikap antara lain adalah pengalaman pribadi,
kebudayaan, orang lain yang dianggap penting dan media massa (Saifuddin,
1998).

Berdasarkan tabel 5.10 juga diperoleh hubungan antara sikap dan tindakan dengan
p value hitung sebesar 0,103. Dimana nilai ini akan menggambarkan apakah H0
ditolak atau diterima dengan H0 ditolak jika p value hitung 0,05. Berdasarkan p
value hitung diperoleh p value hitung > 0,05 yang berarti H0 diterima. Hal ini
menggambarkan bahwa tidak terdapat perbedaan tindakan yang berarti baik siswa
yang memiliki tingkat sikap baik, sedang dan kurang ataupun dengan kata lain
bahwa tidak terdapat hubungan antara sikap dengan tindakan hubungan seksual
pranikah. hal ini mungkin dikarenakan banyak faktor-faktor lain yang berperan
dalam terbentuknya suatu tindakan yaitu kepercayaan, keyakinan, nilai-nilai di
masyarakat, sarana, fasilitas, media komunikasi, dan kesempatan yang mendorong
terjadinya suatu tindakan.
Joko Pranoto : Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Remaja Terhadap Tindakan Hubungan Seksual Pranikah Di
Smk Negeri X Medan Tahun 2009, 2010.

BAB 6
KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan
1. Sebagian besar tingkat pengetahuan responden tentang hubungan seksual
pranikah adalah pada tingkatan sedang dengan persentase 77%, sedangkan
tingkat pengetahuan baik dan kurang berturut-turut adalah 15% dan 8%.
2. Sebagian besar tingkat sikap responden tentang hubungan seksual pranikah
adalah baik yaitu sebesar 65%, tingkat sikap sedang sebesar 31% dan tingkat
sikap kurang sebesar 4%.
3. Sebagian besar responden memiliki tindakan hubungan seksual pranikah yang
baik yaitu dengan tidak melakukan hubungan seksual pranikah, tetapi sebesar
2% responden pernah melakukan hubungan seksual pranikah.
4. Tidak terdapat hubungan antara pengetahuan dan tindakan hubungan seksual
pranikah.
5. Tidak terdapat hubungan antara sikap dan tindakan hubungan seksual pranikah.

6.2 Saran
Berdasarkan pengalaman saat melakukan penelitian dan analisa terhadap hasil
penelitian penulis mencoba memberikan saran-saran sebagai berikut :
1. Perlu penelitian yang lebih lanjut terhadap penelitian ini, terutama dalam hal
menggali faktor-faktor yang mungkin dapat menyebabkan tindakan hubungan
seksual pranikah.
2. Sebaiknya pihak sekolah mengadakan penyuluhan atau pendidikan khusus
mengenai kesehatan reproduksi remaja yang sehat agar remaja memiliki sikap
dan tindakan yang bertanggung jawab mengenai kesehatan reproduksinya.
3. Dibutuhkan peran serta dan kerjasama antara guru, petugas medis, orangtua
ulama, masyarakat dan pemerintah baik secara formal maupun nonformal guna
memberikan dan melakukan pengawasan terhadap proses reproduksi yang
sehat pada remaja.
Joko Pranoto : Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Remaja Terhadap Tindakan Hubungan Seksual Pranikah Di
Smk Negeri X Medan Tahun 2009, 2010.

DAFTAR PUSTAKA

Adiningsih, N.U., 2004. Fenomena Remaja : Seks, Aborsi, HIV/AIDS.


http://www.suarapembaharuan.com, diakses 9 Maret 2009.

Ahmad, S., 1993. Tinjauan Pengetahuan, Sikap dan Tindakan Seksualitas Remaja
di Kotamadya Medan Tahun 1993. FKM USU, Medan: 88

Ahmadi, 1999. Psikologi Sosial. Penerbit Rineka Cipta : Jakarta.

Anshor, M.U., 2006. Fikih Aborsi (Wacana Penguatan Hak Reproduksi


Perempuan). PT Kompas Media Nusantara : Jakarta.

Bagus,

2008.

Pendidikan

Seksual

pada

Remaja

di

Bandung.

http://eidariesky.wordpress.com. /Pendidikan-seksual-pada-remaja. diakses 18


Maret 2009.

Gunarsa, S.D., dan Yulia, 2000. Psikologi Praktis ; Anak, Remaja dan Keluarga.
Cet.4. PT BPK Ginung Mulya : Jakarta.

Hanafiah, L., 2002. Pacaran : Benarkah Faktor Utama Hubungan Seksual


Pranikah. http://situs.kesreproBKKBN.info/krr, diakses 3 September 2009.

Hartono, D., 1998. Perilaku Seksual Remaja dan Persepsi Mereka Tentang
Pendidikan Seksual di Sekolah dalan Jaringan epidemiologi Nasional Temu
Tahunan VIII. Kumpulan Makalah: Jakarta.

Heri, 2005. Kesehatan Reproduksi Remaja. http.//Situs.kesreproBKKBN.info/krr,


diakses 10 Maret 2009.

Joko Pranoto : Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Remaja Terhadap Tindakan Hubungan Seksual Pranikah Di
Smk Negeri X Medan Tahun 2009, 2010.

Kusniaty, E., 1998. Pengetahuan dan Sikap Pelajar SMU Negeri Manna Tentang
Kesehatan Reproduksi di Kabupaten Bengkulu Selatan. FKM USU. Medan: 68

Lubis, M., 2000. Perilaku Seksual di 3 Kota. http: www.blogger. com/lubis.ico.


perilaku-seksual-di-3-kota, diakses 9 Maret 2009.

Mashum,Y.,

Widyandana,

2004.

Gangguan-gangguan

Seksualitas.

http://www.Hariankompas.com. Diakses 18 Maret 2009.

Megawati, S., 1999. Pemahaman Reproduksi Sehat Terhadap Perilaku Seks pada
Pelajar SMU Negeri Medan Tahun 1999. FKM USU. Medan : 62

Mochsen, R., 2004. Pengaruh Bimbingan Kelompok terhadap Peningkatan


Pengetahuan dan Sikap Remaja SMU tentang Kesehatan Reproduksi Remaja.
http://lib.unair.com, diakses 12 Maret 2009.

Negara,

oka,

2008.

Remaja

dan

Perubahan

Psikososial.

Http://www.okanegara.com. Diakses 18 Maret 2009.

Notoatmodjo, S., 2005. Promosi Kesehatan Teori dan Aplikasi. Rineka Cipta :
Jakarta

Raihana, dan Mercy, 2003. Hubungan Antara Remaja Aktif Seksual Dengan
Kurangnya Pengewasan Orangtua. http://situs.kesrepro.info/krr, diakses 3
September 2009.

Riduwan, 2005. Skala Pengukuran Variabel-Variabel Penelitian. Alfabeta :


Bandung.

Saifuddin,

A.,

1998.

Penomena

Perilaku

Seksual

pada

Remaja.

http://akademik.untag.ac.id, diakses 3 September 2009.


Joko Pranoto : Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Remaja Terhadap Tindakan Hubungan Seksual Pranikah Di
Smk Negeri X Medan Tahun 2009, 2010.

Sarwono,

S.W.,

1999.

Kesehatan

Reproduksi

Remaja.

http://bpkpenebur.or.id/kps-jkt, diakses 3 September 2009.


Sarwono, S.W., 2006. Psikologi Remaja. PT Raja Grafindo Persada : Jakarta

Setyawan, et al. 2007. Pendidikan Seksual SMA Negeri 1 Bandung.


http://siapapunbolehbaca.multiply.com/favicon.ico, diakses 10 Maret 2009

Sukendar, E., Hidayat, R., Farida, I., 2005. Revolusi Seks Dibangku Sekolah.
http://www.Gatra.com, diakses 12 Maret 2009.

Tito, 2001. Potret Remaja dalam Data. http://www.kompas.com, diakses 10


Maret 2009.

Yahdillah, 2008. BKKBN:63% Remaja Berhubungan Seks Diluar Nikah.


http://www.ilmupsikologi.com, diakses 10 Maret 2009.

Yudhi, 2008. 9000 Perempuan di Indonesia Aborsi. http://www. 9000Perempuan-diIndonesia-aborsi/.com/favicon.ico. . Diakses 18 Maret 2009.

Joko Pranoto : Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Remaja Terhadap Tindakan Hubungan Seksual Pranikah Di
Smk Negeri X Medan Tahun 2009, 2010.

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

3X4

Nama

: Joko Pranoto

Tempat/tanggal Lahir

: Kisaran/4 Juli 1988

Agama

: Islam

Alamat

: Jl. Sei Kopas No 30 A, Kisaran

Riwayat Pendidikan

: 1. SD 014610 Kisaran
2. SMP Negeri 2 Kisaran
3. SMA Negeri 1 Kisaran

Riwayat Organisasi

: Anggota Departemen Pengabdian Masyarakat


BEM PEMA FK USU

Joko Pranoto : Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Remaja Terhadap Tindakan Hubungan Seksual Pranikah Di
Smk Negeri X Medan Tahun 2009, 2010.

INFORMED CONSENT

Saya adalah mahasiswa program S1 Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran


Universitas Sumatera Utara yang melakukan penelitian dengan tujuan untuk
mengetahui tingkat pengetahuan, sikap dan tindakan siswa SMK X Medan
mengenai hubungan seksual pranikah.

Setiap data yang ada pada kuesioner ini tidak akan disebarluaskan. Data-data
tersebut hanya akan digunakan untuk kepentingan penelitian dan segala
kerahasiaan menjadi tanggungjawab peneliti. Sehingga saya mengharapkan
jawaban yang saudara berikan sesuai dengan pendapat saudara dan jujur tanpa
dipengaruhi oleh orang lain.

Saya yang bertanda tangan di bawah ini :


Nama

Alamat :
Menyatakan bahwa saya bersedia menjadi responden dalam penelitian
yang berjudul Hubungan pengetahuan dan sikap remaja terhadap tindakan
hubungan seksual pranikah di SMK X Medan tahun 2009.
Demikian surat pernyataan persetujuan ini saya sampaikan dengan sadar
tanpa ada paksaan dari siapapun

Responden

Peneliti

(JOKO PRANOTO)

Joko Pranoto : Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Remaja Terhadap Tindakan Hubungan Seksual Pranikah Di
Smk Negeri X Medan Tahun 2009, 2010.

KUESIONER PENELITIAN
HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP REMAJA TERHADAP
TINDAKAN HUBUNGAN SEKSUAL PRANIKAH
DI SMK X MEDAN
TAHUN 2009

Petunjuk pengisian:
1. Pilihlah salah satu jawaban yang paling benar dan berikan tanda (X) pada
salah satu jawaban tersebut.
2. Setelah

selesai,

kembalikan

kuesioner

ini

kepada

petugas

yang

memberikannya kepada anda.


3. Angket ini tidak ada kaitannya dengan institusi pendidikan dimana anda
mengikuti pendidikan.

No. Responden

Umur

Jenis Kelamin

Kelas

I. Pengetahuan remaja tentang hubungan seksual


1. Yang dimaksud dengan hubungan seksual ialah...
a.

Pengetahuan mengenai berhubungan kelamin antara laki-laki dan


perempuan

b.

Kekuatan/dorongan hidup yang ada diantara laki-laki dan perempuan


yang

memungkinkan

terjadinya

keturunan/kelangsungan

hidup

manusia
c.

Persenyawaan, persetubuhan & aktivitas merangsang dari sentuhan


kulit secara keseluruhan, sampai mempertemukan alat kemaluan lakilaki kedalam organ vital wanita

Joko Pranoto : Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Remaja Terhadap Tindakan Hubungan Seksual Pranikah Di
Smk Negeri X Medan Tahun 2009, 2010.

2. Yang dimaksud dengan hubungan seksual pranikah adalah.


a. Tindakan yang dilakukan seseorang untuk memuaskan nafsunya baik
dengan lawan jenis maupun sesama jenisnya
b. Tindakan yang melibatkan sentuhan secara fisik anggota badan antara
pria dan wanita yang telah mencapai pada tahap hubungan intim tanpa
ikatan perkawinan
c. Masuknya penis ke dalam vagina dengan dasar suka sama suka
3. Hubungan kelamin sebelum menikah dapat berakibat..
a. Menyebabkan ketidaksuburan / kemandulan
b. Menyebabkan penyakit kandungan
c. Menyebabkan kehamilan yang tidak diinginkan
4. Kehamilan dapat terjadi karena..
a. Bertemunya antara sperma dan ovum
b. Bercumbu/bermesraan antara laki-laki dan perempuan
c. Hubungan kelamin antara laki-laki dan perempuan
5. Kehamilan dapat dicegah dengan cara...
a.

Aborsi

b.

Minum jamu

c.

Obat/alat kontrasepsi

6. Untuk menjaga kesehatan reproduksinya, sebaiknya perempuan hamil


pada usia..
a. 17-20 tahun
b. 20-35 tahun
c. > 35 tahun
7. Umur melakukan hubungan seksual yang meningkatkan resiko terkena
kanker rahim adalah.....
a. < 17 tahun
b. 20-35 tahun
c. > 35 tahun

Joko Pranoto : Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Remaja Terhadap Tindakan Hubungan Seksual Pranikah Di
Smk Negeri X Medan Tahun 2009, 2010.

8. Gangguan yang sering timbul pada seorang pria akibat melakukan


hubungan seksual pranikah adalah.
a. Kemandulan
b. Akan terserang penyakit kelamin
c. Impotensi dan ejakulasi dini
9. Dibawah ini adalah gangguan-gangguan yang dapat ditimbulkan akibat
berhubungan seksual pranikah pada perempuan, kecuali....
a.

Tidak tercapainya orgasme / kepuasan jika berhubungan kelamin

b.

Perasaan sakit yang timbul pada saat melakukan hubungan seksual

c.

Perempuan memiliki gairah seksual yang meningkat

10. Dampak psikologis yang dapat ditimbulkan akibat hubungan seksual


pranikah adalah....
a. Pendiam, kaku, lebih suka menyendiri dan tidak mau berteman
dengan orang lain
b. Rasa bersalah, depresi, marah dan agresi
c. Lebih aktif dan kualitas hidupnya meningkat
11. Perilaku

seksual

yang

sering

dilakukan

remaja

saat

ini

ialah

masturbasi/onani, berpacaran, dan bersenggama. Yang dimaksud dengan


masturbasi/onani ialah...
a.

Kebiasaan buruk berupa manipulasi terhadap alat genital dalam


rangka menyalurkan hasrat seksualnya

b.

Sentuhan, pegangan tangan, sampai pada ciuman yang pada dasarnya


untuk menikmati dan memuaskan dorongan seksual

c.

Mengalihkan

hasrat

seksual

kepada

kegiatan-kegiatan

seperti

menonton dan membaca pornografi, dan berfantasi


12. Yang dimaksud dengan Penyakit Menular Seksual adalah.
a. Penyakit yang diderita akibat ganti-ganti pasangan
b. Penyakit yang diderita orang-orang yang mempunyai perilaku seks
menyimpang
c. Sekelompok penyakit yang ditularkan/menular melalui hubungan
seksual
Joko Pranoto : Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Remaja Terhadap Tindakan Hubungan Seksual Pranikah Di
Smk Negeri X Medan Tahun 2009, 2010.

13. Penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual adalah, kecuali.


a. Kanker rahim
b. HIV/AIDS
c. Kutil Kelamin

II. Sikap remaja tentang hubungan seksual


1. Perilaku seksual pranikah adalah hal yang tidak wajar untuk remaja yang
bersekolah seperti kamu :
a. Setuju

b. Tidak Setuju

2. Berhubungan kelamin dengan lawan jenis tanpa ikatan perkawinan adalah


hal yang sah-sah saja asalkan dengan dasar rasa saling suka sama suka:
a. Setuju

b. Tidak Setuju

3. Sebaiknya memakai alat kontrasepsi ketika melakukan hubungan seksual


pranikah :
a. Setuju

b. Tidak Setuju

4. Melakukan hubungan seksual adalah bukti cinta seseorang kepada lawan


jenis/pacarnya :
a. Setuju

b. Tidak Setuju

5. Nilai keperjakaan/keperawanan pada seseorang pria/wanita adalah tidak


penting zaman sekarang ini:
a. Setuju

b. Tidak Setuju

6. Kurangnya informasi yang tepat tentang kesehatan reproduksi dan


seksualitas dapat menimbulkan kejadian hubungan seksual pranikah :
a. Setuju

b. Tidak setuju

7. Remaja dipandang belum pantas mendapatkan pengetahuan tentang


seksual:
a Setuju

b. Tidak Setuju

8. Film porno bukan salah satu pemicu untuk melakukan hubungan seksual
pranikah :
a. Setuju

b. Tidak Setuju

Joko Pranoto : Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Remaja Terhadap Tindakan Hubungan Seksual Pranikah Di
Smk Negeri X Medan Tahun 2009, 2010.

9. Melakukan aborsi pada kehamilan akibat melakukan hubungan seksual


pranikah :
a. Setuju

b. Tidak Setuju

10. Menikah akibat kehamilan yang tidak diinginkan akan mengakibatkan


kualitas hidup dan keluarga menurun :
a. Setuju

b. Tidak setuju

III. Tindakan remaja tentang seksual


1. Apakah kamu pernah berpacaran?
a. Ya

b. Tidak

2. Jika Ya, sampai sejauh mana hubungan dengan pacar kamu? Apakah
kamu pernah
a. Berpegangan tangan dengan pacar/lawan jenis/tanpa ikatan
b. Mencium/dicium di pipi dengan pacar/lawan jenis/tanpa ikatan
c. Mencium/dicium di bibir dengan pacar/lawan jenis/tanpa ikatan
d. Memegang/dipegang payudara dengan pacar/lawan jenis/tanpa ikatan
e. Memegang/dipegang alat kelamin secara langsung dengan pacar/lawan
jenis/tanpa ikatan. (jawaban boleh lebih dari 1)
3. Apakah kamu pernah melakukan hubungan seksual pranikah dengan
lawan jenis tanpa ikatan perkawinan?
a.

Ya (lanjut pertanyaan no. 4) b. Tidak

4. Jika pernah, dengan siapa kamu melakukannya?


a. Pacar/tunangan

c. Pria hidung belang

b. Teman (tanpa ikatan)

d. Lain-lain (sebutkan) ................

5. Mengapa kamu melakukannya?


a. Suka-sama suka/Cinta

c. Kepuasan

b. Alasan ekonomi

d. Lain-lain (sebutkan) ...............

6. Dimana kamu melakukannya?


a. Rumah

c. Hotel

b. Kost

d. Lain-lain (sebutkan)

Joko Pranoto : Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Remaja Terhadap Tindakan Hubungan Seksual Pranikah Di
Smk Negeri X Medan Tahun 2009, 2010.

TINGKAT PENGETAHUAN

No
Resp

JK

Umur

P1

P2

P3

P4

P5

P6

P7

P8

P9

P10

P11

P12

P13

PTotal

Pengetahuan

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22

Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan

16
16
16
16
15
17
16
16
17
16
16
16
16
16
15
16
17
15
16
16
16
16

B
B
B
B
B
B
B
B
B
S
S
B
S
S
B
S
S
B
B
B
B
B

S
B
B
S
B
B
B
S
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
S
B
S
B

B
B
B
S
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B

B
B
B
B
B
B
B
S
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B

B
B
S
B
B
B
S
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B

B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
S
B
B
B
B
B
B

B
S
B
B
S
S
S
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B

S
B
S
S
B
B
B
S
S
B
S
S
S
S
B
S
B
B
S
S
S
S

B
S
B
B
S
S
S
B
S
B
B
B
S
S
S
B
S
B
B
S
S
S

S
S
S
S
S
S
S
S
S
B
B
S
S
B
S
B
S
B
S
S
S
S

B
S
S
S
S
S
S
B
S
B
S
B
S
S
S
B
B
B
B
S
S
S

B
S
B
B
S
S
S
B
S
S
B
S
S
B
B
S
S
B
B
S
S
S

B
S
S
S
S
S
S
S
S
S
S
S
S
S
S
B
B
B
B
S
S
S

10
7
8
7
7
7
6
8
7
10
9
9
6
8
9
9
9
13
10
7
6
7

Baik
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
Baik
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
Baik
Baik
Sedang
Sedang
Sedang

Joko Pranoto : Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Remaja Terhadap Tindakan Hubungan Seksual Pranikah Di Smk Negeri X Medan Tahun 2009, 2010.

23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49

Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Laki-Laki
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Laki-Laki
Laki-Laki
Laki-Laki
Laki-Laki
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Laki-Laki
Laki-Laki
Laki-Laki

16
16
16
16
16
16
16
17
16
16
16
15
17
16
16
17
16
16
17
16
17
16
16
16
16
17
16

B
S
B
B
B
B
B
S
S
S
S
B
S
B
B
B
S
B
B
B
S
S
S
S
S
S
B

B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
S
B
S
B
B
S
B
B
S
B
B
B
B
B
S
B
B

B
B
B
B
B
B
B
B
B
S
B
B
S
S
B
B
B
B
B
B
S
B
B
B
B
S
S

B
S
S
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
S
B
B
S
B
S
S
B
B
B
B
B
B
B

B
B
B
B
S
S
S
S
S
S
B
B
B
B
B
B
B
B
S
B
B
S
B
B
B
B
B

B
B
B
S
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B

B
S
S
S
B
B
B
B
B
B
S
B
B
B
S
B
S
B
B
B
S
B
B
B
B
B
B

S
S
B
S
S
S
S
S
S
B
B
S
S
B
S
S
S
S
B
B
S
S
S
B
S
S
S

S
S
B
B
B
B
S
S
B
S
S
S
B
S
S
B
S
S
B
S
B
S
B
S
B
B
S

S
S
S
S
B
S
B
S
S
S
S
B
B
S
S
S
B
B
S
B
S
B
S
B
B
S
S

S
S
S
B
B
B
S
S
S
S
S
S
S
B
B
B
S
S
S
B
S
S
S
S
S
S
B

S
S
S
S
B
B
S
B
S
S
S
S
S
B
B
S
S
S
S
B
S
S
B
B
B
B
S

S
S
S
S
S
S
S
S
S
S
S
S
S
S
B
S
S
S
B
B
S
S
S
S
S
S
S

7
4
7
7
10
9
7
6
6
5
5
8
6
8
9
8
5
8
7
11
5
6
8
9
8
7
7

Joko Pranoto : Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Remaja Terhadap Tindakan Hubungan Seksual Pranikah Di Smk Negeri X Medan Tahun 2009, 2010.

Sedang
Kurang
Sedang
Sedang
Baik
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
Kurang
Kurang
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
Kurang
Sedang
Sedang
Baik
Kurang
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang

50
51
52
53
54
55
56
57
58
59
60
61
62
63
64
65
66
67
68
69
70
71
72
73
74
75
76

Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan

16
16
16
15
16
16
15
16
16
16
16
16
16
16
16
16
17
17
16
16
15
16
16
16
16
16
16

S
B
B
B
B
B
B
B
S
S
S
S
S
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
S
B
S
S

S
B
B
B
B
B
B
B
S
B
B
S
B
B
S
S
B
B
B
B
B
S
B
S
S
B
B

B
B
B
B
B
B
S
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B

B
B
B
B
B
B
B
B
B
S
S
B
B
B
B
B
S
B
B
B
B
S
B
B
B
B
B

S
B
B
S
B
B
B
B
B
S
S
B
B
B
B
B
B
S
B
B
B
B
B
B
B
B
B

B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
S
B
B
B
B
B
B
B

B
B
S
S
B
B
S
S
S
S
S
B
B
S
S
B
B
B
B
B
S
S
B
S
B
B
B

S
S
B
B
B
S
S
S
B
B
B
S
S
B
S
S
B
B
S
B
B
B
B
S
S
S
S

S
S
B
B
S
S
B
S
B
B
B
S
B
S
B
S
B
S
S
S
B
S
S
S
B
S
S

B
B
S
S
S
B
B
B
B
B
B
B
S
S
B
B
B
B
S
S
S
S
S
B
S
B
B

S
B
S
S
B
B
S
S
B
B
B
S
B
B
S
S
S
S
S
S
B
S
S
S
S
B
S

B
B
S
S
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
S
S
B
S
S
B
S
S
S
B
B
S
B

S
B
S
S
B
S
S
S
S
S
S
S
S
S
S
S
S
S
S
S
S
B
S
S
S
S
S

6
11
8
7
11
10
8
8
9
8
8
7
9
9
7
7
10
8
7
8
9
6
8
6
8
8
8

Joko Pranoto : Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Remaja Terhadap Tindakan Hubungan Seksual Pranikah Di Smk Negeri X Medan Tahun 2009, 2010.

Sedang
Baik
Sedang
Sedang
Baik
Baik
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
Baik
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang

77
78
79
80
81
82
83
84
85
86
87
88
89
90
91
92
93
94
95
96
97
98
99
100

Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Laki-Laki
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan

17
16
16
16
16
16
16
16
16
16
16
16
17
16
16
15
16
16
16
17
16
16
16
17

B
B
B
S
B
B
S
S
B
S
B
B
S
S
S
B
B
S
B
B
B
B
S
S

B
B
B
S
B
B
B
S
B
S
B
B
B
B
S
B
B
S
B
S
B
B
B
B

B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
S
B
B
B
B
B
B
B
B
S
B
B
B
B

B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
S
S
B
B
B
B
B

S
B
B
B
B
B
B
B
B
S
B
B
S
B
B
B
S
S
S
B
B
B
B
B

B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
S
B
B
B
B
B

B
B
S
S
B
B
S
B
B
B
B
B
S
B
B
B
B
S
S
B
B
B
S
B

B
B
S
B
S
S
S
S
B
S
S
S
S
B
B
S
B
S
B
S
S
S
S
S

B
B
S
B
S
S
B
B
S
S
S
S
B
S
S
B
S
B
S
S
B
S
S
B

S
S
S
B
B
S
S
S
B
B
B
S
B
B
S
B
S
B
S
S
B
S
S
S

S
S
S
S
B
B
B
B
B
S
B
S
S
B
S
B
S
S
S
S
S
S
S
S

S
B
B
S
S
S
B
S
S
S
S
S
B
B
S
S
S
S
S
B
B
B
S
B

B
B
S
S
S
S
S
S
S
B
S
B
B
S
S
S
S
S
B
S
S
S
S
S

9
11
7
7
9
8
8
7
10
6
8
8
8
10
6
10
7
4
5
6
10
8
5
8

Joko Pranoto : Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Remaja Terhadap Tindakan Hubungan Seksual Pranikah Di Smk Negeri X Medan Tahun 2009, 2010.

Sedang
Baik
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
Baik
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
Baik
Sedang
Baik
Sedang
Kurang
Kurang
Sedang
Baik
Sedang
Kurang
Sedang

TINGKAT SIKAP

No
Resp

S1

S2

S3

S4

S5

S6

S7

S8

S9

S10

STotal

Sikap

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22

B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
S
S
S

B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
S
S
B
B
B
B
B
B
S
S

S
S
S
B
B
B
B
B
S
B
B
B
B
B
S
B
B
B
B
B
B
B

B
B
B
B
B
B
B
S
B
B
B
B
S
S
B
B
B
B
S
B
B
B

B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
S
S
S

B
B
B
B
B
B
B
B
B
S
B
B
B
B
S
B
B
B
B
S
S
S

B
S
B
B
S
B
S
S
B
B
B
B
S
S
S
B
B
B
B
S
S
S

B
S
B
B
S
B
B
B
S
S
S
S
S
S
S
B
B
S
B
S
S
S

B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
S
S
B
B
B
S
B
B
B
S
S

B
B
B
B
B
B
B
S
S
S
B
B
B
B
S
B
B
B
S
S
S
S

9
7
9
10
8
10
9
7
7
7
9
8
5
6
5
10
9
9
8
4
2
2

Baik
Sedang
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Sedang
Sedang
Sedang
Baik
Baik
Sedang
Sedang
Sedang
Baik
Baik
Baik
Baik
Sedang
Kurang
Kurang

Joko Pranoto : Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Remaja Terhadap Tindakan Hubungan Seksual Pranikah Di Smk Negeri X Medan Tahun 2009, 2010.

23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49

S
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
S
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B

S
B
B
S
B
B
B
B
S
S
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
S

B
B
B
B
B
S
S
S
B
S
S
B
S
B
B
B
B
S
S
B
S
S
B
B
B
B
B

B
B
B
B
B
B
B
B
S
S
B
B
B
B
B
S
B
B
B
S
B
B
B
B
B
B
S

S
B
B
B
B
B
B
S
B
S
B
B
B
B
B
S
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B

S
B
B
S
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
S
S
B
B
B
B
B
S
S
B

S
S
B
B
B
B
B
B
B
S
B
S
B
B
B
B
B
B
B
B
S
S
B
B
B
B
S

S
S
B
B
B
B
B
S
S
S
B
B
B
B
B
S
S
B
B
B
S
S
B
B
B
B
S

S
B
S
B
B
B
B
B
S
S
B
S
B
B
B
B
B
B
B
B
S
S
B
B
B
B
B

S
S
B
S
B
B
B
S
B
S
B
B
S
B
B
B
B
B
B
B
S
B
B
B
B
B
B

2
7
9
7
10
9
9
6
6
2
9
8
8
10
9
7
9
8
8
9
5
6
10
10
9
9
6

Joko Pranoto : Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Remaja Terhadap Tindakan Hubungan Seksual Pranikah Di Smk Negeri X Medan Tahun 2009, 2010.

Kurang
Sedang
Baik
Sedang
Baik
Baik
Baik
Sedang
Sedang
Kurang
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Sedang
Baik
Baik
Baik
Baik
Sedang
Sedang
Baik
Baik
Baik
Baik
Sedang

50
51
52
53
54
55
56
57
58
59
60
61
62
63
64
65
66
67
68
69
70
71
72
73
74
75
76

B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B

B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
S
S
B
B
B
B
B

S
B
B
B
B
S
S
S
B
B
B
S
B
S
S
S
S
S
S
B
B
B
B
B
B
B
S

B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
S
B
B
B
B
S
B
B
S
B
B
S
B

B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
S
B
B
B
B
B
B
B

S
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
S
B
B
B
S
S
B
B
B
B
B
S
B
S

B
S
B
B
B
B
B
S
B
S
S
B
B
B
B
B
B
B
B
S
B
S
S
B
B
B
B

S
B
B
B
S
S
B
B
B
B
B
B
B
B
S
B
S
B
B
S
S
S
S
S
B
S
B

B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
S
B
B
B
B
B

B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
S
B
S
B
B
B
S
S
B
B
B
B

7
9
10
10
9
8
9
8
10
9
9
9
10
8
7
8
8
7
8
6
8
5
6
9
9
8
8

Joko Pranoto : Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Remaja Terhadap Tindakan Hubungan Seksual Pranikah Di Smk Negeri X Medan Tahun 2009, 2010.

Sedang
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Sedang
Baik
Baik
Sedang
Baik
Sedang
Baik
Sedang
Sedang
Baik
Baik
Baik
Baik

77
78
79
80
81
82
83
84
85
86
87
88
89
90
91
92
93
94
95
96
97
98
99
100

S
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B

B
B
B
B
B
B
B
S
B
S
B
B
B
B
B
B
B
B
S
S
B
B
B
B

B
B
B
B
B
S
S
S
B
S
B
B
B
B
B
S
S
S
S
B
S
S
B
S

B
B
B
B
B
B
B
S
B
B
B
B
B
S
B
B
B
B
B
S
B
B
B
B

B
B
B
B
B
B
B
S
B
B
B
B
B
B
B
B
S
B
S
B
B
S
B
B

B
B
B
B
B
B
S
S
B
B
B
B
S
B
B
B
S
B
B
B
B
B
B
B

B
B
B
S
B
B
B
B
B
B
B
S
B
S
B
B
B
B
S
B
B
B
B
B

B
B
B
S
B
B
S
S
B
B
B
B
S
S
B
S
B
S
S
B
B
B
B
S

B
B
S
B
B
B
B
B
B
S
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B

B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
S
B
B
B
S
B
S
B
B
S
S
B
B

9
10
9
8
10
9
7
4
10
7
10
8
8
7
10
7
7
7
5
8
8
7
10
8

Joko Pranoto : Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Remaja Terhadap Tindakan Hubungan Seksual Pranikah Di Smk Negeri X Medan Tahun 2009, 2010.

Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Sedang
Sedang
Baik
Sedang
Baik
Baik
Baik
Sedang
Baik
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
Baik
Baik
Sedang
Baik
Baik

TINDAKAN

No

Berpegangan Mencium/dicium Mencium/dicium Dipegang/memegang Dipegang/memegang


Berpacaran
Bibir
Payudara
Resp
Tangan
Pipi
Alat Kelamin
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20

Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Tidak
Tidak
Tidak
Ya
Tidak
Tidak
Tidak
Ya
Ya
Ya
Tidak
Ya
Ya
Ya
Tidak

Ya
Ya
Tidak
Ya
Ya
Tidak
Tidak
Tidak
Ya
Tidak
Tidak
Tidak
Ya
Ya
Ya
Tidak
Ya
Ya
Ya
Tidak

Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Ya
Tidak
Tidak
Tidak
Ya
Ya
Tidak
Tidak

Tidak
Tidak
Ya
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Ya
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Ya
Ya
Tidak
Tidak

Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak

Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak

Joko Pranoto : Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Remaja Terhadap Tindakan Hubungan Seksual Pranikah Di Smk Negeri X Medan Tahun 2009, 2010.

Melakukan
Hubungan
Seksual
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak

21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47

Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Tidak
Ya
Ya
Tidak
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Tidak

Ya
Ya
Ya
Ya
Tidak
Ya
Ya
Ya
Ya
Tidak
Tidak
Tidak
Ya
Tidak
Ya
Ya
Tidak
Ya
Ya
Ya
Ya
Tidak
Ya
Ya
Ya
Ya
Tidak

Tidak
Tidak
Tidak
Ya
Ya
Ya
Tidak
Tidak
Tidak
Ya
Ya
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Ya
Tidak
Ya
Tidak
Tidak
Tidak
Ya
Tidak
Tidak
Ya
Ya
Tidak

Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Ya
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Ya
Ya
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Ya
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak

Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Ya
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak

Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Ya
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak

Joko Pranoto : Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Remaja Terhadap Tindakan Hubungan Seksual Pranikah Di Smk Negeri X Medan Tahun 2009, 2010.

Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak

48
49
50
51
52
53
54
55
56
57
58
59
60
61
62
63
64
65
66
67
68
69
70
71
72
73
74

Ya
Ya
Ya
Tidak
Tidak
Tidak
Ya
Ya
Tidak
Tidak
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Tidak
Tidak
Ya
Ya
Ya
Ya

Ya
Ya
Ya
Tidak
Tidak
Tidak
Ya
Ya
Tidak
Tidak
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Tidak
Tidak
Ya
Tidak
Ya
Ya
Tidak
Tidak
Ya
Ya
Ya
Ya

Tidak
Tidak
Ya
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Ya
Tidak
Tidak
Tidak
Ya
Tidak
Tidak
Tidak
Ya
Ya
Ya
Ya

Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Ya
Ya
Tidak
Ya
Ya
Tidak
Ya
Tidak
Ya
Ya
Ya
Ya

Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Ya
Tidak
Ya
Tidak

Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak

Joko Pranoto : Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Remaja Terhadap Tindakan Hubungan Seksual Pranikah Di Smk Negeri X Medan Tahun 2009, 2010.

Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak

75
76
77
78
79
80
81
82
83
84
85
86
87
88
89
90
91
92
93
94
95
96
97
98
99
100

Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Tidak
Tidak
Ya
Ya
Ya
Tidak
Ya
Ya
Tidak
Ya
Ya
Tidak
Ya
Tidak
Ya
Ya
Ya
Ya

Ya
Ya
Ya
Ya
Tidak
Ya
Ya
Ya
Tidak
Tidak
Ya
Ya
Ya
Tidak
Ya
Ya
Tidak
Ya
Ya
Tidak
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya

Ya
Tidak
Tidak
Tidak
Ya
Ya
Ya
Ya
Tidak
Tidak
Tidak
Ya
Tidak
Tidak
Tidak
Ya
Tidak
Ya
Ya
Tidak
Ya
Tidak
Tidak
Ya
Tidak
Tidak

Ya
Tidak
Ya
Tidak
Tidak
Tidak
Ya
Ya
Tidak
Tidak
Ya
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Ya
Tidak
Ya
Tidak
Tidak
Ya
Tidak
Tidak
Ya
Tidak
Tidak

Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Ya
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Ya
Tidak
Tidak

Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Ya
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Ya
Tidak
Tidak

Joko Pranoto : Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Remaja Terhadap Tindakan Hubungan Seksual Pranikah Di Smk Negeri X Medan Tahun 2009, 2010.

Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Ya
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Ya
Tidak
Tidak

Joko Pranoto : Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Remaja Terhadap Tindakan Hubungan Seksual Pranikah Di Smk Negeri X Medan Tahun 2009, 2010.