Anda di halaman 1dari 12

Avezia Geby - 120140202004

Mengimplementasikan Capability Based


Planning Dalam Revolution in Military Affairs
di Indonesia
Avezia Geby Ariane, 120140202004, Program Studi Ekonomi Pertahanan
Universitas Pertahanan Indonesia
dinamika hubungan Indonesia dengan beberapa negara
AbstractTulisan ini membahas tentang bagaimana
mengimplementasikan Capability Based Planning yang terkait
dengan akuisisi pertahanan dalam proses Revolution in Military
Affair (RMA) yang ada di Indonesia. Dalam tulisan ini, akan
dibahas mengenai bagaimana seharusnya pemilihan serta
perencanaan kekuatan pertahanan dilihat dari perspektif
capability based planning. RMA sendiri berarti adanya
transformasi pertahanan yang menyeluruh baik dalam sisi
doktrin, strategi, organisasi dan teknologi. Salah satu bentuk
nyata RMA adalah Minimum Essential Force (MEF). CBP akan
mengidentifikasi komponen=komponen RMA melalui kapabilitas
yang dimiliki oleh Indonesia.
Index Terms Revolution in Military Affair (RMA), Capability
Based Plannig (CBP), akuisisi pertahanan, Minimum Essential
Force (MEF), industri pertahanan

tetangga. Seiring dengan globalisasi yang telah menjadi


sebuah fenomena yang mengubah seluruh aspek kehidupan
manusia baik sistem sosial, ekonomi, politik bahkan hingga
aspek kehidupan terkecil dari seorang individu, ancaman
kedaulatan dan keutuhan wilayah menjadi sebuah ancaman
yang bersifat multidimensional. Perkembangan negara-negara
di dunia yang menciptakan situasi tidak menentu dan sulit
diprediksi memaksa setiap negara untuk semaksimal mungkin
memastikan keutuhan wilayahnya serta stabilitas negaranya.
Perubahan

setiap

aspek

kehidupan

atas

modernisasi,

perkembangan teknologi, globalisasi menimbulkan banyak


I. PENDAHULUAN
Indonesia yang terletak di antara dua benua,
berbatasan langsung dengan sepuluh negara di wilayah laut
dan tiga negara di wilayah darat merupakan sebuah negara
dengan posisi yang sangat strategis. Posisi strategis ini tentu
memberikan banyak dampak positif, namun juga tidak sedikit

ancaman dalam bentuk baru seperti terorisme, ancaman lintas


perbatasan, perkembangan senjata nulkir, penyelundupan
barang ilegal dan lain-lainnya. Sejalan dengan munculnya
perubahan bentuk ancaman terhadap sebuah negara, pola
pertahanan masing-masing negara pasti akan berubah seiring
dengan berjalannya waktu.

dampak negatif yang muncul terutama dalam keamanan


wilayah. Luas dan letak wilayah Indonesi membuat Indonesia
harus lebih teliti dan cermat dalam menyusun rencana strategis
pertahanan. Kondisi lingkungan strategis sekitar Indonesia
juga mempengaruhi bagaimana Indonesia harus menyusun
strategi pertahanannya.
Luasnya wilayah Indonesia tersebut berimplikasi
ancaman yang dihadapi Indonesia, beberapa diantaranya
adalah keamanan wilayah perbatasan yang juga memengaruhi

Melihat berbagai macam bentuk ancaman yang ada,


tidak dapat dipungkiri bahwa Indonesia harus segera
membangun postur pertahanan negara dengan lebih serius
sebagai

satu

bentuk

detterence

terhadap

kawasan.

Pembangunan postur pertahanan yang baik dimulai dengan


penyusunan strategi dan pembentukan komponen utama yang
kuat, dalam hal ini adalah TNI. Reformasi dalam TNI dimulai
pasca reformasi dengan munculnya TAP MPR Nomor
VII/MPR/2000 tentang Peran Tentara Nasional Indonesia dan
Peran Kepolisian Negara Republik Indonesia, yang berisi

Artikel ini ditulis untuk memenuhi persyaratan UAS Mata Kuliah Akuisisi
Penulis, Avezia Geby Ariane, merupakan mahasiswa Pascasarjana
Program Studi Ekonomi Pertahanan, Universitas Pertahanan Indonesia.
Penulis sebelumnya menempuh pendidikan S1 di jurusan Ilmu Hubungan
Internasional, Universitas Katolik Parahyangan.

tentang pemisahan tugas serta fungsi dari TNI dan POLRI.


Keetapan MPR tersebut diperkuat dengan adanya UU Nomor

Avezia Geby - 120140202004

3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara serta UU Nomor 34

Perencanaan berdasarkan kapabilitas atau Capability Based

Tahun 2004 tentang Tentara Nasional Indonesia.

Planning (CBP) dilakukan dalam proses RMA karena melihat

Dalam upaya modernisasi militer, perlu adanya


perumusan kebijakan penganggaran untuk pembelanjaan

dinamika lingkungan dan ancaman yang tidak lagi bisa


melihat perencanaan lewat Threat Based Planning (TBP).

pertahanan yang bisa memenuhi kebutuhan pertahanan. TNI

Dalam penelitian ini, penulis bertujuan untuk

sebagai komponen utama pertahanan memerlukan suatu

mengatahui bagaimana

perencanaan pembangunan kekuatan yang matang. Karena itu

Based Planning (CPB) dalam Revolution in Military Affairs

disusunlah MEF atau Minimum Essential Forces sebagai

(RMA) di Indonesia. Hal ini sangat penting dilakukan untuk

standar kekuatan pokok dan minimum TNI. Secara realita

melihat adanya kesenjangan antara kondisi ancaman, situasi

MEF dibangun untuk merefleksikan kekuatan optimal

kawasan, kemajuan teknologi serta transformasi di bidang

pemberdayaan sumber daya nasional yang ada dan dibangun

pertahanan yang sedang dialami oleh Indonesia. Dalam tulisan

ini, akan diidentifikasi faktor-faktor apa yang seharusnya bisa

Pemenuhan MEF dibagi dalam tiga Renstra (rencana

diperhatikan lebih dalam untuk perencanaan postur pertahanan

strategis), Renstra I pada tahun 2009-2014, Renstra II pada

jangka panjang. Selama ini perencanaan pembelian barang

tahun 2015-2019, dan Renstra III pada tahun 2020-2024. Saat

militer terkesan bersifat spontan, padahal yang dimaksud

ini Indonesia sudah memasuki Renstra II untuk pembangunan

dengan Renstra I, II, dan III dalam MEF bertujuan untuk

kekuatan pertahanan. Fokus Renstra II ada pada penambahan

merencanakan secara strategis kapabilitas komponen utama

kapabilitas militer Indonesia. Kementerian Pertahanan sangat

pertahanan Indonesia.

sesuai dengan kemampuan sumber ekonomi nasional.

fokus terhadap penyelesaian proyek kapal selam Changbogo


2

mengimplementasikan Capability

Penelitian ini akan menggunakan metode kualitatif

dan pesawat tempur IFX/KFX dengan Korea Selatan. Selain

dengan jenis penelitian deskriptif analitis. Penulis akan

itu, Angkatan Darat sedang mengembangkan Medium Battle

melakukan hubungan antar variabel untuk dianalisa. Sumber

Tank bersama Turki. Kementerian Pertahanan juga dalam misi

data yang digunakan adalah sumber data sekunder berupa

penggantian pesawat tempur F-5 yang akan dipensiunkan.

artikel, jurnal ilmiah, serta buku. Alat analisis dalam penelitian

Calon pengganti pesawat tempur F-5 masih menjadi

ini adalah model defense planning yang menggunakan

pertimbangan antara pesawat Sukhoi Su-35, Dassault Rafale,

capability

dan JAS Grippen.

based

planning.

Dimana

dalam

teorinya,

penggunaan CBP dalam perencanaan memiliki ciri-ciri

Pemenuhan Minimum Essential Forces adalah sebuah

lingkungan strategis yang lebih dinamis, ancaman yang tidak

bentuk dari transformasi militer yang konkrit secara teknologi.

terprediksi, skenario ancama yang tidak spesifik, garis batas

Penggunaan

meningkatkan

dan aktor yang semakin kabur, hubungan antar instansi yang

kapabilitas kekuatan militer merupakan bentuk dari Revolution

harus semakin kuat serta pilihan strategi yang direncanakan

in Military Affairs (RMA). Kemajuan teknologi dalam RMA

harus seimbang. CBP menarik untuk menjadi alat analisa

berarti sama dengan adanya transformasi dalam pertahanan

untuk revolution in military affairs yang terjadi di Indonesia.

kemajuan

teknologi

dalam

Indonesia. Kemajuan teknologi militer yang dimiliki Indonesia

Lingkup penelitian transformasi militer dibatasi pada

disesuaikan dengan kapabilitas yang dimiliki oleh Indonesia

sejak munculnya UU No. 3 Tahun 2002 Tentang Pertahanan

dilihat baik secara ekonomi maupun beberapa faktor lain.

Negara hingga sekarang saat masa pemenuhan MEF Renstra


tahap II.

Peraturan Menteri Pertahanan Republik Indonesia No. 19 Tahun 2012


2
Jakarta Greater, 2013, Minimum Essential Forces Tahap II,
http://jakartagreater.com/minimum-essential-force-tni-tahap-2-2015-2019/,
diakses tanggal 1 Mei 2015
3
Liputan 6, 2014, Mengenal pesawat tempur Eurofighter yang dibidik
Indonesia, http://news.liputan6.com/read/2127946/mengenal-pesawat-tempureurofighter-yang-dibidik-indonesia, diakses tanggal 1 Mei 2015

Avezia Geby - 120140202004

II. TINJAUAN PUSTAKA

teknologi yang maju dengan biaya yang diharapkan lebih

Pembahasan capability based planning (CBP) dalam


revolution in military affairs (RMA) bukan yang pertama.

sedikit

menjelaskan

perencanaan

dalam

bagaimana
RMA,

CPB

namun

mempengaruhi

dapat

mengurangi

jumlah

personel

dan

memperbanyak jumlah teknologi.

Meskipun dalam beberapa judul penelitian tidak secara


eksplisit

karena
Selain

itu,

terdapat

pembahasan

perencanaan

berdasarkan kapabilitas dalam RMA pada

dipastikan

Secara teoritis, RMA dijelaskan oleh Steven Metz

perencanaan berdasarkan kapabilitas selalu muncul dalam

dan James Kievit6 dalam Strategy and the Revolution in

transformasi pertahanan.

Military Affairs: From Strategy to Policy, bahwa gagasan

Penelitian pendahulu yang pertama berjudul The

RMA pertama kali muncul di Uni Soviet dengan nama

Canadian Forces and the Revolution in Military Affairs: A

Military Technical Revolution pada akhir tahun 1970an. Lalu

Time for Change, ditulis pada tahun 2001 oleh Gary Garnett,

berkembang menjadi RMA di AS yang pada akhirnya juga

Vice Chief of the Canadian Defense Staff.4 Garnett meneliti

berfokus pada perkembangan teknologi. Metz dan Kievit

bahwa dewasa ini, pergerakan dunia yang semakin dinamis

menyatakan bahwa RMA dapat meningkatkan kefektifan

mengharuskan militer juga semakin berkembang lebih

perang dengan cara perubahan empat hal secara simultan,

dinamis. Capability based planning digunakan sebagai

yaitu: perubahan teknologi; perkembangan sistem; inovasi

persektif dasar untuk pengurangan personil dan penambahan

operasional; dan adaptasi organisasional. Namun pada

teknologi hingga penyusunan Strategy 2020, sebuah petunjuk

akhirnya, terdapat prioritas utama yang pasti akan dipilih yaitu

pelaksanaan rencana pembangunan pertahanan Kanada hingga

perubahan dalam teknologi militer.

tahun 2020. Garnett juga menyatakan bahwa memiliki

Metz dan Kievit kembali menjelaskan bahwa pada

perencanaan yang berdasarkan kapabilitas dapat dengan tepat

akhirnya

mengalokasikan sumber daya yang dimiliki dengan strategi

kapabilitas masing-masing. Semakin jauh RMA berkembang

yang akan dijalankan.

dalam sebuah negara, semakin banyak nilai positif dan

Garnett melanjutkan bahwa RMA yang terjadi di

definisi

RMA

akan

berubah

sesuai

dengan

negatifnya. Semakin besar bentuk teknologi militer yang

setiap negara pasti berbeda bentuknya, namun pada umumnya

dikembangkan,

pasti perubahan utama akan muncul dalam strategi pertahanan

pertanyaan yang muncul untuk AS dan semakin berkembang

negara tersebut. Perspektif CBP dalam RMA yang terjadi di

bentuk ancaman yang ada dalam lingkungannya. Yang

Kanada

Planning

terpenting menurut Metz dan Kievit adalah bagaimana

Guidance milik Canadian Force, yang untuk pertama kalinya

pemerintah menghubungkan setiap komponen dalam RMA

memberikan arahan formal untuk Canadian Joint Task List

yaitu

terhadap skenario kekuatan yang berdasarkan kapabilitas.

mengimplementasikannya ke dalam kebijakan yang sesuai

Menurut Garnett dalam jurnal yang ditulisnya, Canadian

dengan kapabilitas AS.

secara

langsung

mengubah

Defense

Force pada saat itu sedang bertransformasi menuju sebuah


kekuatan yang lebih efektif dan berkelanjutan.
penelitian lain oleh Gary Chapman, 2003, berkata bahwa
5

RMA memiliki definisi yang berbeda-beda , namun jika


kembali

sebetulnya

RMA

konteks

teknologi

AS,

dan

semakin

banyak

organisasional

lalu

RMA sendiri memiiki transformasi seiring dengan


berjalannya kondisi ancaman. Fokus RMA di AS pada awal

Selain penelitian yang dilakukan oleh Garnett,

diperhatikan

strategi,

dalam

terfokus

tahun 1990an berbeda dengan fokus RMA saat ini. Paul K.


Davis,

dalam

artikelnya

yang

berjudul

Military

Transformation? Which Transformation, and What Lies

pada

4
Garnett, 2001, The Canadian Forces and the Revolution in Military
Affairs: A Time for Change, Canadian Military Journal.
5
Chapman, 2003, An Introduction to the Revolution in Military Affairs,
XV Armaldi Conference on Problems in Global Security

6
Metz & Kievit, 1995, Strategy and the Revolution in Military Affairs:
From
Strategy
to
Policy
,
http://www.au.af.mil/au/awc/awcgate/ssi/stratrma.pdf, pp. 3-12

Avezia Geby - 120140202004

Ahead?7 Karena itu berdasarkan persepktif CBP, Kementerian

Indonesia menuju transformasi pertahanan Indonesia di masa

Pertahanan harus segera berganti mindset dari perencanaan

yang akan datang. Pemenuhan MEF menjadi salah satu

ancaman yang terskenario ke dalam sebuah perencanaan yang

komponen penting di dalam RMA. Seperti yang diutarakan

fokus kepada kapabilitas yang dibutuhkan saat krisis dan

oleh Davis sebelumnya, Syawfi uga mengutarakan bahwa

konflik. Pendekatan berdasarkan kapabilitas yang dimiliki

RMA berubah sesuai dengan kondisi negara dimana RMA itu

sangat dibutuhkan dalam hal fungsional, seperti apa saja yang

berproses. Keempat komponen yang ada dalam RMA juga

dibutuhkan untuk menyerang musuh, bagaimana kapabilitas

akan mengubah fokusnya, sesuai dengan kapabilitas yang

kita jika kita menyerang dalam kondisi tertentu, teknologi

dimiliki oleh negara tersebut agar dapat terpenuhi.

seperti apa yang dapat kita kembangkan sesuai dengan


kapabilitas kita, hal tersebut seharusnya dapat dipetakan
kembali

oleh

pemerintah

dalam

menyusun

setiap

kebijakannya.
Dalam paparannya di bahan ajar Revolusi Krida
Yudha dan Kalkulasi Strategis, Idil Syawfi8 menjelaskan
bahwa RMA di Indonesia terdiri dari empat komponen yaitu
teknologi, doktrin, organisasi, dan strategi. Dimana keempat
komponen

tersebut

memiliki

hubungan

saling

berkesinambungan.

Gambar 2: RMA Roadmap

Gambar 2 menunjukkan garis besar perkembangan


transformasi militer yang diharapkan tercapai pada tahun
2050. Dimulai dari jaman Orde Baru dimana militer masih
terlibat dalam bisnis dan politik, sehingga muncul istilah
tentara bisnis. Lalu maju ke arah reformasi sektor keamanan
yang ditandai dengan TAP MPR mengenai pemisahan tugas
dan fungsi TNI serta Polri, hingga UU TNI No. 34 Tahun
2004. Selanjutnya pada MEF yang dimulai dari tahun 2009
dan diharapkan akan tercapai pada tahun 2024, sampai kepada
transformasi penuh kekuatan pertahanan Indonesia pada tahun
Gambar 1: Komponen dalam RMA

2050.
Model analisa penelitian ini berdasarkan beberapa

Hubungan dari keempat komponen tersebut jika


direncanakan sesuai dengan kapabilitas akan membawa
7

Davis, 2011, Military Transformation? Which Transformation, and What


Lies Ahead?, National Security Research Division Journal, pp. 11-41
8
Syawfi, 2012, Revolusi Krida Yudha dan Kalkulasi Strategis, Bahan
Ajar Mata Kuliah Politik Pertahanan Indonesia, Universitas Katolik
Parahyangan, 20 Mei 2012

teori yang telah dijelaskan di dalam subbab ini bisa

Avezia Geby - 120140202004

digambarkandengan:

4.

Tingkat probabilitas kerawanan tertinggi


bagi Indonesia yang menjadi sumber-sumber
ancaman atau sumber-sumber konflik di
masa datang

Perubahan
strategi, teknologi,
doktrin, organisasi

RMA

Transformasi
kekuatan
pertahanan

CBP

5.

Luas wilayah dan karakteristik geografi


Indonesia yang terdiri atas pulau-pulau
dengan wilayah perairan yang luar dan
terbuka

III.

6.
CAPABILITY BASED PLANNING DALAM REVOLUTION
IN MILITARY AFFAIRS

Kemampuan

rasional

negara

dalam

membiayai pertahanan negara, termasuk

Penerapan RMA bukanlah sebuah hal yang mudah

dalam pembangunan kapabilitas pertahanan

karena RMA akan berpengaruh secara simetris kepada

negara dengan tidak mengorbankan sektor-

doktrin, strategi, dan postur pertahanan yang dimiliki oleh

sektor lain.

Indonesia. Dalam Peraturan Menteri Pertahanan No. 15 Tahun

Dalam hal ini, MEF dianggap sebagai sebuah

2009 mengenai Pembinaan Teknologi dan ndustri Pertahanan,

perencanaan yang mampu menjamin kepentingan strategis

RMA dipertimbangkan sebagai rujukan dalam pembinaan

pertahanan yang mendesak.

teknologi dan industri pertahanan.

pemenuhan

MEF

10

merupakan

Pengadaan alutsista dalam


sebuah

bentuk

prioritas

Dalam subbab sebelumnya dijelaskan bahwa MEF

penambahan kekuatan pokok minimal dan mengganti alutsista

merupakan sebuah bentuk capability based planning dalam

yang tidak layak pakai. Seperti yang sebelumnya dijelaskan

RMA yang harus dicapai pada tahun 2024. Hal tersebut

dalam subbab I, fokus Renstra II tahun 2015-2019 adalah

berdasarkan uraian yang terdapat pada Kebijakan Umum

pemenuhan penambahan alutsista untuk matra darat, laut dan

Pertahanan Negara melalui Peraturan Presiden No. 7 Tahun

udara yang dimana salah satunya adalah penggantian pesawat

2008. Berdasarkan Perpres tersebut, pembangunan komponen

F-5 dengan pesawat baru.

utama

didasarkan

kepada

konsep

pertahanan

Perencanaan

berbasis

kekuatan

pertahanan

berdasarkan

kapabilitas (capability based defense). Dalam Buku Putih

kapabilitas atau CBP sebetulnya merupakan alternative dari

Pertahanan,

perencanaan berdasarkan ancaman (threat based planning).

terdapat

beberapa

faktor

utama

mengapa

pertahanan negara dirancang berdasarkan kapabilitas, yaitu:9


1.

2.

Perkiraan ancaman terhadap Indonesia dan

dinamika

segala kepentingannya, yakni ancaman yang

ketidakjelasan kondisi ancaman. CBP cenderung berfokus

menjadi domain fungsi pertahanan, termasuk

kepada pertanyaan apa yang seharusnya dilakukan dan

tugas-tugas pelibatan pertahanan yang sah

dibutuhkan dibandingkan dengan peralatan apa yang akan

Strategi

yang

kita ganti. Namun hal tersebut kembali lagi kepada

dan

bagaimana output yang diinginkan oleh sebuah negara. Karena

pertahanan nirmiliter sebagai satu kesatuan

pendekatan yang digunakan berdasarkan kapabilitas, maka

pertahanan

outcome dari CBP haruslah berupa strategi yang terus dapat

Pertahanan

menyinergikan

Negara

pertahanan

negara

yang

militer
utuh

dan

perencanaannya

lebih

responsive

kepada

berkembang sesuai dengan kapabilitas yang ada.

menyeluruh.
3.

CBP memiliki karakteristik yang lebih rasional karena

memenuhi

Dalam Guide to Capability Based Planning yang

standar penangkalan agar dapar menangkal

dibuat oleh Tripartite Technical Cooperation Program antara

Tingkat

penangkalan

yang

ancaman yang diperkirakan


10

Buku Putih Pertahanan Indonesia, 2008, hal. 119

Luthfi, 2012, Implementasi Revolution in Military Affairs Dalam


Kebijakan Pertahanan Indonesia, pp. 61-62

Avezia Geby - 120140202004

Inggris, AS, Kanada, Australia, dan New Zealand,11 dijelaskan

dilakukan oleh Tripartite Technical Cooperation Program12,

bahwa ada beberapa langkah dasar dalam CBP seperti pada

yaitu:

gambar di bawah ini

1.

Stakeholder
Involvements

Identification

&

stakeholder

akan

mengontrol informasi, sumber daya dan


otoritas terhadap pelaksanaan perencanaan
sehingga harus diikutsertakan ke dalam
proses yang akan berlangsung
2.

Inputs to Capability Based Planning:


Informasi

yang

dibutuhkan

dalam

pelaksanaan CBP adalah (namun tidak


terbatas

kepada)

tujuan,

konteks

isi,

kendala, batasan, karakteristik tertentu


3.

Partition Design: Dalam pelaksanaan CBP


lebih

mudah

untuk

dilaksanakan

diidentifikasi

dalam

kecil/partisi

dan

bentuk-bentuk

sehingga

lebih

mudah

penangannya jika ada kendala.


4.

Use of Scenario: meskipun CBP bersifat


dinamis, namun dalam pelaksanaannya
tetap

digunakan

skenario

untuk

menggambarkan hubunga antara kebijakan


dan tujuan kapabilitas
5.

Capability

Goals:

pengaturan

tujuan

penting untuk dilaksanakan agar terlihat


hingga

Gambar 3: Skema CBP dalam kebijakan pertahanan

tingkatan

mana

tujuan

yang

diinginkan harus tercapai


6.

Dalam skema di atas, dijelaskan bahwa skema

Capability Assessment: penilaian dalam

dimulai dengan bimbingan menyeluruh, lalu bergerak kearah

CBP penting dilakukan untuk melihat

mengidentifikasi perbedaan kapabilitas, mencari opsi dan

apakah tujuan yang dimaksud sesuai dengan

berakhir dengan perencanaan yang terjangkau. Yang perlu

semua faktor lainnya


7.

diperhatikan dalam hal ini adalah kebanyakan alutsista

Development

and

Costing

of

Force

memiliki fungsi ganda bagi beberapa matra sekaligus, karena

Development Options: merupakan suatu

itu dalam perencanannya, seharusnya ada komunikasi yang

langkah

terarah bagi setiap matra dalam hal perencanaan alutsista.

capability mismatches dengan affordable

Untuk mengimplementasikan CBP dengan baik, harus

capability
8.

terbentuk struktur manajemen dan pembagian tanggung jawab

Tritartite Technical Cooperation Program, 2011, Guide to Capability


Based Planning, pp. 3-4

of

dalam

mencocokkan

Investment:

evaluasi

keseimbangan harga yang dikeluarkan dan

yang baik terlebih dahulu. Setelah itu, beberapa langkah


11

Balance

utama

12

Tritartite Technical Cooperation Program, 2011, Guide to Capability


Based Planning, pp. 11-17

Avezia Geby - 120140202004

9.

investasi yang akan didapatkan

akhir ini dalam pembelian pesawat pengganti F-5 Tiger.

Presentation of Result: presentasi terhadap

Selama ini fokus pemerintah hanya kepada berapa besar harga

output yang dihasilkan dari CBP

dari pesawat pengganti tersebut, bagaimana perawatannya

10. Audit Trail


11. Future

serta apakah Indonesia bisa mendapatkan jumlah yang sama

Issues

for

Capability

Based

Planning
Kesebelas
bagaimana

langkah

seharusnya

CBP

sesuai dengan yang digantikan. Pada pendekatan CBP,


pembelian pesawat tempur pengganti F-5 Tiger bisa dianalisa

diatas

adalah

dilakukan

rekomendasi

dalam

sebuah

pengadaan

dengan konteks akuisisi. Dimana apakah pemelian pesawat


pengganti itu memiliki sumber anggaran yang besar atau kecil,
harus membeli baru atau bekas yang akan diretrofit,
bagaimana bentuk pembiayaannya, apakah ada skema lain dari
cara pembeliannya, bagaimana value for money yang

IV. ANALISA
Berdasarkan beberapa bagian sebelumnya dalam
penelitian ini, telah dijelaskan tentang bagaimana MEF
menjadi bagian dari RMA karena MEF merupakan sebuah
gebrakan baru dari Kementerian Pertahanan pada tahun 2009
agar komponen utama pertahanan memiliki kemampuan
minimal. Secara realita MEF dibangun untuk merefleksikan
kekuatan optimal pemberdayaan sumber daya nasional yang
ada dan dibangun sesuai dengan kemampuan sumber ekonomi
nasional (Permenhan No. 19 Th. 2013) MEF merupakan suatu
bentuk pembanguna kekuatan Komponen Utama menuju ideal
dengan tahapan-tahapan tertentu. Bisa dikatakan bahwa MEF
adalah sebuah rencana pembangunan kekuatan pertahanan
Indonesia yang tahu diri dengan anggaran pertahanan
Indonesia yang setiap tahunnya tidak pernah lebih dari 1%
APBN.
Pengadaan Alutsista untuk meningkatkan kapabilitas
pertahanan negara sesuai dengan rencana strategis yang telah
disusun seringkali terkendala banyak hal salah satunya adalah
keterbatasan APBN untuk alokasi anggaran pertahanan. Dari
seluruh negara ASEAN, Indonesia menempati tempat ketiga
terbawah dengan anggaran pertahanan paling kecil diantara 10
negara ASEAN lainnya. Melihat kemampuan Indonesia yang
tidak sebesar negara-negara lainnya, seharusnya pemerintah
melihat dan mengkaji ulang bagaimana cara perencanaan dan
pengadaan alutsista. Dalam hal ini, yang terpenting jika
menggunakan perpektif capability based planning adalah
seberapa jauh kegunaan alutsista tersebut dan apakah mampu
Indonesia dalam membelinya. Seperti yang disebutkan akhir-

dihasilkan oleh pesawat pengganti tersebut jika Indonesia


membeli dalam jumlah tertentu, apakah ada manfaat dual-use
baik untuk kegunaan militer dan kegunaan sipil, dan yang
terpenting adalah apakah Indonesia benar-benar membutuhkan
pesawat pengganti dengan spesifikasi tertentu itu. Banyak hal
yang dapat mempengaruhi pembelian alutsista baru dan
terkadang hal tersebut dikesampingkan hanya karena beberapa
faktor lain yang tidak signifikan.
Beberapa hal lain dalam perencanaan alutsista yang
sering terlupakan adalah apakah Indonesia bisa mendapatkan
transfer teknologi dari hasil pembelian alutsista tersebut.
Penguatan industri pertahanan juga menjadi suatu bentuk
peningkatan kapabilitas kekuatan pertahanan yang harus
dikembangkan. Sempat beberapa saat modernisasi alutsista
TNI selalu terhambat oleh embargo beberapa negara, dengan
adanya peningkatan kapabilitas industri pertahanan dalam
pembuatan alutsista, hal tersebut diharapkan tidak terjadi lagi.
Dalam Perpres No. 42 Tahun 2010, dijelaskan bahwa Industri
Pertahanan adalah industri nasional yang produknya baik
secara sendiri maupun kelompok atas penilaian Pemerintah
dapat dimanfaatkan untuk kepentingan pemenuhan sarana
pertahanan. Dimana seharusnya industri pertahanan bisa
digunakan secara maksimal untuk kepentingan pertahanan.
Ketertinggalan industri pertahanan Indonesia seharusnya bisa
ditindaklanjuti lebih jauh agar tercipta kemandirian sistem
persejataan.
Keseriusan Pemerintah dalam melakukan revitalisasi
industri pertahanan juga dilakukan dengan melengkapi
berbagai

regulasi

terkait

dengan

industri

pertahanan.

Avezia Geby - 120140202004

Pemerintah berharap dengan revitalisasi tersebut industri


pertahanan

dapat

menghasilkan

alat

utama,

Dalam hal doktrin dan strategi, sebetulnya sudah

sistem

disebutkan dalam buku putih pertahanan Indonesia tentang

persenjataan, dan berbagai alat pendukungnya yang sesuai

konsep pertahanan berbasis kapabilitas. Namun dalam

dengan teknologi yang berkembang sehingga memberikan

kenyataannya, pertahanan Indonesia masih cenderung bersifat

sumbangan terhadap kemandirian sarana pertahanan. Selain

threat based planning, dimana Indonesia masih menunggu

itu, melalui revitalisasi ini industri pertahanan diharapkan

ancaman seperti apa yang akan dihadapi dengan skenario

menghasilkan berbagai teknologi yang sesuai dengan karakter

menghadapi ancaman yang terbatas. Seiring dengan kondisi

dan cara perang mutakhir. Kebijakan industri pertahanan

lingkungan yang semaki dinamis, doktrin pertahanan akan

dibuat dengan harapan akan adanya kemandirian pada

mengalami perubahan dengan kemajuan teknologi dan

pertahanan Indonesia seperti yang tercantum dalam hakikat

komunikasi.

pertahanan negara. Pembangunan saat ini dilihat dari dinamika

disebutkan bahwa perang pada abad ke-21 mengandalkan

strategis yang tertuang dalam rencana pembangunan jangka

keunggulan teknologi persenjataan, profesionalisme prajurit

panjang. MEF merupakan rencana strategis jangka panjang

dan manajemen yang modern. Doktrin Pertahanan Negara

yang tertuang dalam pembangunan yang dibagi setiap lima

mengakui

tahun. Bisa dikatakan MEF merupakan sebuah kebijakan

mempengaruhi konsepsi pertahanan di bidang doktrin, strategi

sadar diri pemerintah Indonesia terhadap kemampuan untuk

pertahanan, serta postur dan kebijakan pertahanan di setiap

meningkatkan pertahanan yang terkendala anggaran. Dengan

negara. Respon Indonesia terhadap RMA dalam melakukan

adanya KKIP, pemenuhan MEF diharapkan akan lebih

penangkalan adalah melakukan kemandirian dalam bidang

terencana dan terstruktur sehingga tercipta postur pertahanan

teknologi, terutama teknologi militer yang diharapkan berefek

Indonesia dengan kondisi alutsista yang dapat memberikan

terhadap daya tangkal bangsa. Dalam strategi penangkalan ini,

daya gentar dan daya tangkal maksimal.

teknologi memiliki peranan penting karena substansi RMA

Dalam rangka untuk merealisasikan MEF, KKIP

Dalam

bahwa

buku

RMA

Doktrin

yang

Pertahanan

berkembang

Negara,

pesat,

yang paling menonjol adalah teknologi.13

menyusun blueprint yang menjadi perpaduan program antara

Pelaksanaan perubahan doktrin kembali bergantung

KKIP, Kemhan, dan Dewan Riset Nasional untuk rencana

kepada teknologi yang dimiliki. Menurut Doktrin Tri Dharma

pengembangan alutsista. KKIP sebagai pihak yang mengambil

Eka Karma (Tridek) 2010, penguasaan teknologi akan

kebijakan dalam industri pertahanan, Kemhan/TNI sebagai

berperan penting dalam pelaksanaan strategi TNI dalam

pengguna yang memahami rencana pembangunan kekuatan

menangkal ancaman militer. Dengan penguasaan teknologi,

pokok dan kekuatan idealnya, Dewan Riset Nasional yang

pembangunan kekuatan dapat diarahkan kepada terwujudnya

akan membidangi penelitian dan pengembangan bersifat riset

kualitas dan kuantitas prajurit yang profesional, andal, dengan

terapan. Cetak biru yang disusun oleh KKIP menunjukkan

alutsista yang modern serta organisasi yang efektif. Kekuatan

adanya sasaran pada setiap tahapan pembangunan industri

sepeti itulah yang diinginkan oleh TNI untuk melakukan

pertahanan dalam jangka waktu tertentu dan koordinasi

penangkalan ancaman militer.

dengan lembaga tertentu. MEF dengan setiap renstra sudah


memiliki

blueprint

mana

kapabilitas dapat terlihat dalam postur setiap matra. Sistem

pembangunan kekuatan pertahanan dan lembaga mana saling

yang digunakan pada TNI sekarang sudah penuh dengan

bekerja sama dalam pembangunan tersebut. Penyusunan

teknologi, sehinggal tidak perlu memiliki banyak personel.

blueprint KKIP ini merupakan suatu bentuk CBP pada tahap

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penggunaan

capability assessment, dimana ada pengkajian ulang antara

teknologi yang mengubah karakter dan cara berperang telah

perencanaan

mengubah organisasi dalam tubuh militer untuk menyesuaikan

dan

tersendiri

faktor-faktor

perencanaan tersebut.

terhadap

lain

yang

sejauh

Dalam hal organisasi, perencanaan berdasarkan

ada

dalam

13

Doktrin Pertahanan Negara, 2007, pp. 81

Avezia Geby - 120140202004

diri. Perubahan yang terjadi pada TNI adalah perubahan

ataupun dibeli dalam bentuk joint production.

sistem dari padat personel menjadi padat teknologi serta

Salah satu cara untuk mengejar ketertinggalan dalam

adanya perubahan peningkatan kemampuan unit-unit militer

penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam alat dan

sesuai dengan kemajuan teknologi.

sistem persenjataan, kegiatan penelitian dan pengembangan


(litbang/research and development) peralatan pertahanan yang
mendukung kepada pemenuhan kekuatan pokok minimum
sangatlah

V. KESIMPULAN DAN SARAN


Perpektif capability based planning (CBP) dalam
revolution in military affairs (RMA) pada pertahanan
Indonesia memiliki banyak tantangan yang harus segera
ditindaklanjuti.

Karena

pendekatan

yang

digunakan

berdasarkan kapabilitas yang dimiliki, seharusnya pemerintah


dapat memilihi mana hal yang bisa menjadi prioritas utama
dan mana hal yang bisa dikesampingkan terlebih dahulu. Hal
ini utamanya dalam pemenuhan MEF sebagai bentuk konnrit
dari transformasi militer menuju militer yang lebih modern.
Dengan pembangunan postur pertahanan kekuatan pokok
minimum (MEF) yang akan dicapai selama 15 tahun,
Indonesia telah meletakkan fondasi bagi terselenggaranya
postur ideal pertahanan di masa depan. Meskipun MEF tidak
secara instan membuat kekuatan pertahanan Indonesia
meningkat drastis, namun tahapan yang dirancang dapat
mempermudah untuk mengevaluasi tercapai atau tidaknya
pembangunan postur pertahanan ini.
Selain dengan perencanaan pengadaan alutsista dari
luar, ada baiknya jika pemerintah lebih memperhatikan juga
industri pertahanan dalam engeri yang dapat digunakan untuk
meningkatkan kapabilitas kekuatan pertahanan Indonesia.
Pembentukan Komite Kebijakan industri Pertahanan yang
berlandaskan Peraturan Presiden No. 42 tahun 2010 yang
diperbaharui dengan Perpres No. 59 Tahun 2013, merupakan
sebuah harapan untuk lebih memfokuskan diri pada industri
pertahanan dalam negeri. Latar belakang dibentuknya KKIP
adalah untuk menyelaraskan antara kebutuhan alutsista TNI
dengan kemampuan produksi industri pertahanan nasional
(Kemenkumhan,

2011).

Jadi

setiap

kebijakan

industri

pertahanan akan dirumuskan terlebih dahulu oleh KKIP


sebelum kebijakan diambil. Hal ini perting dilakukan untuk
memastikan kapabilitas setiap alutsista yang dihasilkan

penting

pertahanan

dalam

disamping
negeri.

pengembangan

Kemenristek

industri

sendiri

sudah

memasukkan rencana pengembangan litbang inhan pada


Agenda Riset Nasional (ARN) periode 2015-2019.14 Untuk
mendukung ketersediaan alutsista yang mempunyai daya
detterence tinggi dan sejalan dengan program Komite
Kebijakan Industri Pertahanan, maka penguasaan Iptek
pertahanan dan keamanandimaksudkan untuk mendorong
kemandirian
teknologi

dalam

teknologi

pendukung

pendukung

daya

gempur,

daya

gerak,

Komando,

Kendal, Komunikasi, Komputer, Informasi, Pengamatan dan


Pengintaian

(K4IPP), teknologi

pendukung

dan

alat

perlengkapan khusus, kajian strategis hankam, dan sumber


daya pertahanan. Untuk itu, pada kurun waktu 2015- 2019
penelitian, pengembangan, dan penerapan Iptek pertahanan
dan keamanan difokuskan pada pesawat tempur, kapal
perang/kapal selam, roket balistik dan kendali, kendaraan
tempur, radar, elektronika pertahanan, pesawat Udara Nir
Awak (UAV), dan munisi kaliber besar.15
Didukung dengan beberapa kebijakan yang sudah
ada, pemerintah sebaiknya bisa memanfaatkan kebijakankebijakan

tersebut

untuk

memaksimalkan

transformasi

pertahanan Indonesia dengan mengimplementasikan CBP.


Tanggung jawab besar ada pada pemerintah karena seperti
yang tercantum dalam bagan di subbab sebelumnya, puncak
dari CBP adalah government guidance.
Dari penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa RMA
yang ada di Indonesia masih bersifat terbatas. Salah satu
bentuk RMA yang paling konkrit adalah MEF. Meskipun
tidak

secara

formal

menyatakan

bahwa

transformasi

pertahanan Indonesia merujuk kepada RMA, namun beberapa


14
Jakarta Greater, 2014, Kemenristek Susun Agenda Riset Nasional (ARN)
perode 2015-2019, http://jakartagreater.com/kemenristek-susun-agenda-risetnasional-arn-periode-2015-2019/, diakses pada tanggal 2 Mei 2015
15
Ibid.

Avezia Geby - 120140202004

10

bukti empiris menyatakan bahwa terjadi beberapa perubahan


dan pembangunan postur pertahanan. Dalam analisis dokumen
didapatkan

bahwa

Pemerintah

untuk

CBP

menjadi

melaksanakan

latar

belakang

transformasi

bagi
postur

pertahanan. Kenyataannya CBP tidak mudah dilakukan karena


pengimplementasian perencanaan berdasarkan kapabilitas
berarti harus mengubah banyak mindset yang sebelumnya
sudah berkembang lama. CBP dari setiap negara memang
berbeda, namun setidaknya terdapat sedikit kesamaan dalam
CBP di RMA setiap negara, semua berawal dari perubahan
struktur organisasi dan terjadi peningkatan teknologi militer.
Perubahan

yang

dilakukan

oleh

Kementerian

Pertahanan dan TNI adalah dengan meniitikberatkan pada


efektivitas

dan

pemanfaatan

teknologi.

Secara

umum,

penataan organisasi terkait perkembangan teknologi dilakukan


dengan cara perampingan sehingga menjadi efektif dan
berbasis kinerja. Selain itu, kebijakan signifikan dikeluarkan
dengan perubahan sistem padat personel menjadi padat
teknologi. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa
penggunaan teknologi yang mengubah karakter dan cara
berperang telah mengubah organisasi dalam tubuh militer
untuk menyesuaikan diri

Avezia Geby - 120140202004

11

REFERENCES
Sumber buku:
[1]

Wahyuni, S, Qualitative Research Method: Theory ans Practice,


Jakarta: Salemba Empat, 2012, pp. 121-123
[2] Yusgiantoro, P, Ekonomi Pertahanan: Teori dan Praktik, Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama, 2014.

Sumber reports:
[3]

-- Guide to Capability-Based Planning, Tripartite


Cooperation Program, Washington, Washington DC

Technical

Sumber handbooks:
[4]

NATO Research and Technology Board: Panel On Studies, Analysis and


Simulation (SAS), Handbook in Long Term Defense Planning, 2001.

Sumber journals :
[5]
[6]
[7]

Davis, P. (2011), Military Transformation? Which Transformation, and


What Lies Ahead?, National Security Research Division Journal, pp. 1141
Garnett, G. (2001) The Canadian Forces and the Revolution in Military
Affairs: A Time for Change, Canadian Military Journal.
Metz & Kievit, (1995) Strategy and the Revolution in Military Affairs:
From
Strategy
to
Policy,
http://www.au.af.mil/au/awc/awcgate/ssi/stratrma.pdf, pp. 3-12

Sumber conference paper:


[8]

Chapman, G. (2003) An Introduction to the Revolution in Military


Affairs, XV Armaldi Conference on Problems in Global Security

Sumber thesis:
[9]

Luthfi, M., Implementasi Revolution in Military Affairs Dalam


Kebijakan Pertahanan Indonesia M.S. thesis, FISIP, UI., Depok., Jabar,
2012.

Sumber lain:
[10] Jakarta Greater, (2013), Minimum Essential Forces Tahap II,
http://jakartagreater.com/minimum-essential-force-tni-tahap-2-20152019/, diakses tanggal 1 Mei 2015
[11] Jakarta Greater, (2014), Kemenristek Susun Agenda Riset Nasional
(ARN) perode 2015-2019, http://jakartagreater.com/kemenristek-susunagenda-riset-nasional-arn-periode-2015-2019/, diakses pada tanggal 2
Mei 2015
[12] Liputan 6, (2014) Mengenal pesawat tempur Eurofighter yang dibidik
Indonesia, http://news.liputan6.com/read/2127946/mengenal-pesawattempur-eurofighter-yang-dibidik-indonesia, diakses tanggal 1 Mei 2015
[13] Peraturan Menteri Pertahanan Republik Indonesia No. 19 Tahun 2012
[14] UU Nomor 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara
[15] UU Nomor 34 Tahun 2004 tentang Tentara Nasional Indonesia
[16] Doktrin Pertahanan Negara
[17] Postur Pertahanan Negara
[18] Buku Putih Pertahanan Negara

Avezia Geby - 120140202004

12