Anda di halaman 1dari 19

MANAGING RISK

( PERTEMUAN KE 4)

Disusun oleh :
Ni Made Novi Susilowati, SE, Ak (1490661023)
Ni Luh Putu Sri Sandhi, ST (1490661024
I Gusti Ngurah Agung Ariwiantara (1490661033)

PROGRAM PASCA SARJANA


PROGRAM STUDI MAGISTER MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS UDAYANA
TAHUN 2015
KONTEN PAPER
A. PENGHINDARAN RISIKO
B. PENAHANAN RISIKO

Pengelolaan Risiko (Managing Risk) | 2

C. PEMINDAHAN RISIKO
1. TRANSFER RISIKO KEPADA PERUSAHAAN ASURANSI
2. TRANSFER RISIKO KEPADA BUKAN PERUSAHAAN ASURANSI
3. HEDGING
4. INCORPORTED
D. KEPUTUSAN PEMILIHAN ALTERNATIF PENGELOLAAN RISIKO
E. PENGENDALIAN RISIKO
1. TEORI DOMINO
2. RISK CHAIN
3. FOKUS DAN TIMING PENGENDALIAN RISIKO
F. BAHAN DISKUSI : PENERAPAN ISO 31000 DALAAM PENGELOLAAN
RISIKO PADA BANK PERKREDITAN RAKYAT (STUDI KASUS BANK
PERKREDITAN RAKYAT X)

PENGELOLAAN RISIKO
(MANAGING RISK)
A. PENGHINDARAN RISIKO (RISK AVOIDANCE)
Penghindaran risiko adalah salah satu alternatif strategi dalam manajemen risiko
dimana jika memungkinkan, risiko dapat dihilangkan tanpa adanya pengaruh negatif terhadap
pencapaian tujuan. Akan tetapi dalam kebanyakan situasi risiko tidak bisa dihindari.
Perusahaan akan melaksanakan suatu bisnis tertentu untuk memperoleh keuntungan, dalam
melakukan aktivitas bisnis tersebut perusahaan akan menghadapi risiko yang berakaitan

Pengelolaan Risiko (Managing Risk) | 3

dengan setiap aktivitas tersebut karenanya sangat kecil kemungkinan untuk dapat
menghindari risiko.
Strategi ini juga merupakan strategi yang penting karena akan dapat menekan risiko
hingga nilai nol dengan kata lain tidak lagi diperlukan teknik manajemen risiko yang lain
karena potensi kerugiannya sudah dihapuskan sama sekali, akan tetapi strategi ini tetap
memiliki kelemahan. Sebagai ilustrasi, sebuah perusahaan konstruksi ditawari kontrak sebuah
proyek swasta di suatu daerah dengan keadaan politik yang tidak stabil. Setelah dianalisa,
kemungkinan perusahaan untuk terkena risiko tersebut sangat tinggi dan akan merugikan
secara financial. Dalam posisi ini, apabila perusahaan memilih strategi penghindaran risiko
maka perusahaan akan menolak proyek tersebut karena perusahaan akan mendapat kerugian
akibat risiko tersebut. Disisi lain, perusahaan berhasil menghindar dari risiko yang mungkin
akan diterima tetapi perusahaan akan kehilangan peluang untuk mendapatkan keuntungan
dari proyek tersebut.
Sebelum perusahaan memilih strategi ini, terdapat beberapa elemen kunci yang
diperhatikan dimana untuk situasi yang :

Aktivitas secara inheren berbahaya dan atau berpotensi mengakibatkan cidera serius

Risiko mendatang yang akan muncul berada diluar kendali perusahaan

Kegiatan ini tidak diperlukan untuk memenuhi tujuan pendidikan

Risiko yang tidak dapat diterima oleh perusahaan

Perusahaan tidak ingin mencurahkan sumber daya yang diperlukan untuk pengelolaan
risiko dengan baik
Apabila risiko telah diidentifikasi dengan benar sesuai langkah langkah yang

komprehensif, dapat diambil keputusan apakah risiko harus dihindari atau tidak.

B. PENANGGUNGAN ATAU PENAHANAN RISIKO (RISK RETENTION)


Yang dimaksud dengan penahanan risiko direncanakan adalah dimulai dari upaya
untuk mengetahui seluruh risiko yang mungkin timbul, atau mengindentifikasi risiko yang
ada kemudian menyusun berbagai tindakan yang akan diambil. Pada kondisi ini tindakan
yang diambil menjadi tanggung jawab perusahaan sendiri dan tidak dialihkan pada pihak lain
atau pihak ketiga diluar perusahaan contohnya perusahaan lebih menekankan pada pelatihan
mengemudi dan seleksi pengemudi yang ketat dalam upaya mengantisipasi risiko terjadinya
kerusakan kendaraan akibat kecelakaan. Pada kondisi ini perusahaan lebih memilih

Pengelolaan Risiko (Managing Risk) | 4

menganggarkan

dana

untuk

meningkatkan

ketrampilan

mengemudi

daripada

mengasuransikan kendaraan.
Penahanan atau penaggungan risiko dapat terjadi secara terencana ataupun tidak. Jika
suatu perusahaan mengevaluasi risiko risiko yang ada, kemudian memutuskan untuk
menahan sebagian atau seluruh risiko, maka perusahaan tersebut menahan risiko dengan
terencana. Pada sisi lain, perusahaan tidak sadar akan adanya risiko yang dihadapinya dimana
perusahaan tidak melakukan langkah langkah tertent. Dalam situasi tersebut perusahaan
dapat dikatakan menahan risiko dengan tidak terencana. Penahanan risiko tidak direncanakan
adalah merupakan bentuk kegagalan perusahaan dalam mengindentifikasi risiko yang
mungkin terjadi sehingga pada saat risiko itu terjadi perusahaan tidak memiliki anggaran atau
tidak memiliki tindakan yang telah terencana dalam mengatasinya. Misalnya risiko kegagalan
peluncuran produk terkait dengan tenaga ahli yang beralih pada perusahaan lain, atau
tuntutan konsumen terhadap produk, dan lain-lain
Risiko yang ditahan ini bisa didanai dan bisa juga tidak didanai. Jika perusahaan tidak
menetapkan pendanaan yang khusus ditujukan untuk mendanai risiko tertentu, jika risiko
tersebut benar-benar muncul maka muculnya risiko tidak akan dibiayai. Dalam beberapa
situasi, pilihan tersebut masuk akal dimana perusahaan menduga bahwa risiko yang timbul
merupakan risiko bisnis seperti bisnis supermarket yang dianggap bahwa pencurian barang
oleh pembeli merupakan risiko bisnis maka tidak perlu dibuat pendanaan yang khusus.
Kerugian yang timbul akibat pencurian tersebut dapat dialihkan menjadi biaya operasional.
Akan tetapi jika kerugian yang timbul sangat besar, maka perusahaan dapat mengalami
kesulitan jika harus membiayai kerugian tersebut. Dalam situasi apabila potensi kerugian
yang timbul sangat besar, perusahaan dapat mendanai risiko tersebut dimana pendanaannya
dapat dilakukan melalui beberapa cara diantaranya :

Dana Cadangan
Dana cadangan ini berarti perusahaan secara periodik menyisihkan dana untuk
membiayai kerugian yang mungkin timbul akibat risiko tertentu. Perusahaan dapat
juga menyiapkan dana cadangan dalam bentuk aset likuid berupa kas atau juga dapat
membangun akses ke pasar keuangan yang baik sehingga perusahaan dapat

memperoleh dana dari pasar keuangan apabila terjadi sesuatu yang merugikan.
Self-insurance
Pengelolaan dana cadangan untuk antisipasi kerugian akibat risiko dapat ditingkatkan
lagi menjadi semacam asuransi untuk internal perusahaan sendiri atau yang dikenal

Pengelolaan Risiko (Managing Risk) | 5

dengan istilah self insurance. Istilah ini bukan berarti adanya transfer risiko ke pihak
luar melainkan risiko masih akan ditanggung perusahaan. Dengan self insurance,
perhitungan dilakukan dengan lebih teliti untuk menentukan berapa besarnya premi
yang harus disisihkan serta besarnya tanggungan yang bisa diberikan. Kerugian yang
terjadi lebih besar dari yang ditanggung maksimum, bisa dialihkan ke pihak luar. Self
insurance bisa dilakukan jika eksposur diperusahaan cukup besar sehingga skala

ekonomisnya tercapai dan risiko dapat diprediksi dengan baik.


Captive Insurers
Dilakukan dengan mendirikan anak perusahaan asuransi yang menjadi bagian dari
perusahaan. Risiko dalam perusahaan bisa saja diasuransikan ke captive insurers
tersebut. Terdapat beberapa alasan kenapa captive insurers menjadi menarik,
diantaranya :
1. Di beberapa

negara,

perlakuan

pajak

sedemikian

rupa

sehingga

menguntungkan untuk membuat captive insurers dalam arti pajak yang


dibayarkan menjadi lebih kecil.
2. Kontrak asuransi menjadi lebih fleksibel karena praktis berurusan dengan
pihak internal. Kadang kadang manajer captive insurers sekaligus menjadi
manager risiko dalam sebuah perusahaan. Dalam hal ini asimetri informasi dan
problem keagenan bisa dihilangkan, sederhananya dapat diilustrasikan karena
manajer risiko sekaligus menjadi manager captive insurers ,maka premi yang
dibayar tentu lebih kecil dibanding membeli asuransi dari pihak luar.

C. PEMINDAHAN RISIKO (RISK TRANSFER)


Bila skala ekonomis tidak terpenuhi, serta merasa tidak memilki kompetensi dan
waktu untuk mengelola risiko maka alternatif yang dapat dipilih dalam mengelola risiko
adalah melakukan transfer risiko atau risk transfer. Pada kondisi ini dengan mengalokasikan
sejumlah biaya tertentu (biaya lebih rendah jika dibandingkan biaya yang mungkin
dikeluarkan bila risiko terjadi) pada pihak lain yang memiliki kemampuan dan kapasitas yang
lebih baik sehingga bisa mendiversifikasilan risiko lebih baik atau karena mempunyai
keahlian untuk melakukan manajemen risiko lebih baik.
Pemindahan risiko dapat dilakukan dengan cara :
1.

Transfer risiko kepada perusahaan asuransi (mengasuransikan).

Pengelolaan Risiko (Managing Risk) | 6

2.

Transfer risiko kepada perusahaan yang bukan perusahaan asuransi (non insurance
transfer).

3.

Lindung Nilai/Hedging

4.

Membentuk perseroan terbatas (Incorporated)

1) Transfer risiko kepada perusahaan asuransi (mengasuransikan).


Asuransi merupakan metode transfer risiko yang paling umum, khususnya risiko
murni (pure risk). Asuransi merupakan kontrak perjanjian antara yang diasuransikan (insured)
dan perusahaan asuransi (insurer), dimana insurer bersedia memberikan kompensasi atas
kerugian yang dialami pihak yang diasuransikan, dan pihak pengasuransi (insurer)
memperoleh premi asuransi sebagai balasannya. Ada empat hal yang diperlukan dalam
transaksi asuransi: (1) perjanjian kontrak, (2) pembayaran premi, (3) tanggungan (benefit)
yang dibayarkan jika terjadi kerugian seperti yang disebutkan dalam kontrak, dan (4)
penggabungan (pool) sumberdaya oleh perusahaan asuransi yang diperlukan untuk membayar
tanggungan.
Prinsip bisnis asuransi didasarkan pada upaya mengumpulkan (pool) sumberdaya,
bukannya mengumpulkan risiko. Melalui premi yang diterima perusahaan asuransi, sampai
pada skala ekonomisnya akan memperkecil probabilitas tidak bisa memenuhi kewajibannya.
Pada kondisi ini pihak asuransi dapat menghitung tingkat biaya yang akan dibebankan
mengingat mereka sudah dapat menghilangkan risiko ketidak pastiannya.
Dewasa ini asuransi telah berkembang menjadi suatu bidang usaha/bisnis yang
menarik dan memiliki peranan yang penting dalam menunjang dunia bisnis, keluarga dan
masyarakat. Cara penanganan risiko melalui pemindahan risiko kepada perusahaan asuransi,
merupakan cara yang penting dalam Manajemen Risiko.
Dalam transaksi asuransi melibatkan dua pihak, yaitu tertanggung dan penanggung.
Pihak penanggung (perusahaan asuransi) menjamin pihak tertanggung, bahwa tertanggung
akan mendapatkan penggantian terhadap suatu kerugian yang mungkin akan dideritanya,
sebagai akibat dari suatu peril yang mungkin terjadi yang menimpanya sebagai kontra
prestasinya pihak tertanggung diwajibkan membayar sejumlah uang yang disebut dengan
premi.
a) Pengertian Asuransi
Pengertian asuransi menurut Kitab Undang-undang Hukum Dagang Pasal 246 : Asuransi
atau pertanggungan adalah suatu perjanjian, dengan mana seorang penanggung
mengikatkan diri kepada tertanggung dengan menerima suatu premi, untuk memberikan

Pengelolaan Risiko (Managing Risk) | 7

penggantian kepadanya karena suatu kerugian, kerusakan, atau kehilangan keuntungan


yang diharapkan, yang mungkin terjadi karena suatu peristiwa tak tertentu.Berdasarkan
pengertian di atas, maka dalam asuransi terkandung 4 unsur, yaitu :
1. Pihak tertanggung (insured) wajib membayar uang premi kepada penanggung.
2. Pihak penanggung (insurer) wajib membayar uang santunan/pertanggungan kepada
pihak tertanggung atas suatu kejadian tak tertentu yang menimbulkan kerugian.
3. Suatu peristiwa (accident) yang tak tertentu (tidak diketahui sebelumnya)
4. Kepentingan (interest) yang mungkin akan mengalami kerugian karena peritiwa yang
tak tertentu.
b) Manfaat Asuransi
Manfaat asuransi bagi tertanggung, antara lain :
1. Rasa aman dan perlindungan
2. Polis asuransi dapat dijadikan jaminan untuk memperoleh kredit
3. Berfungsi sebagai tabungan dan sumber pendapatan.
4. Alat penyebaran risiko
5. Membantu meningkatkan kegiatan usaha.
c) Prinsip Asuransi
1. Insurable interest, yaitu adanya kepentingan terhadap barang yang dipertanggungkan.
2. Utmost good faith, yaitu adanya itikad baik dari kedua belah pihak. Tertanggung dan
penanggung tidak boleh mengembangkan fakta yang dapat menyebabkan kerugian
bagi pihak lain.
3. Indemnity, berarti mengembalikan posisi finansial tertanggung setelah terjadi
kerugian seperti pada posisi sebelum terjadinya kerugian tersebut. Dengan demikian
indemmity ini merupakan prinsip ganti rugi oleh penanggung terhadap tertanggung.
Prinsip ini tidak berlaku untuk asuransi jiwa dan asuransi kecelakaan.
4. Proximate Cause, adalah suatu sebab aktif yang mengakibatkan terjadinya suatu
peristiwa secara berantai atau berurutan tanpa intervensi suatu kekuatan lain.
5. Subrogasi, pada prinsipnya merupakan hak penanggung yang telah memberikan ganti
rugi kepada tertanggung untuk menuntut pihak lain yang mengakibatkan kepentingan
asuransinya mengalami kerugian.
d) Risiko yang dapat diasuransikan (insurable risk)
Secara umum risiko yang dapat diasuransikan memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
1. Loss-Unexpected, yaitu terjadinya suatu peristiwa yang menimbulkan kerugian adalah
benar-benar tidak direncanakan, jadi tidak dapat diperkirakan bahwa peristiwa
tersebut benar-benar akan terjadi.
2. Reasonable, yang dimaksudkan disini, yaitu risiko yang dapat dipertanggungkan
adalah benda yang memiliki nilai, baik dari pihak penanggung maupun dari pihak
tertanggung.

Pengelolaan Risiko (Managing Risk) | 8

3. Catastrophic, yaitu risiko tersebut tidak akan menimbulkan rugi yang sangat besar
yang terjadi bersamaan.
4. Homogeneous, berarti barang yang akan dipertanggungkan homogen.
e) Kontrak Asuransi
Kontrak asuransi disebut juga dengan contingent of contract, yaitu kontrak atau janji
dimana perusahaan asuransi akan melakukan sesuatu tergantung pada terjadinya suatu

peristiwa, misalnya terbakarnya rumah yang dipertanggungkan.


Dasar dari seluruh kontrak asuransi adalah disebut prinsip indemnifikasi atau
principle of indemnification, yaitu suatu kontrak untuk mengganti kerugian pihak

tertanggung. Dokumen dasar dari kontrak asuransi disebut polis.


f) Jenis Usaha Perasuransian
Penggolongan asuransi dapat dilakukan dengan melihat aspek jenis usahanya. Menurut
Undang-undang No.2 tahun 1992 tentang usaha perasuransian, jenis usaha perasuransian
meliputi :
1. Usaha asuransi terdiri dari :
Asuransi kerugian (non life insurance)
Asuransi jiwa (life insurance)
Reasuransi (reinsurance)
2. Usaha penunjang usaha asuransi terdiri dari :
Pialang asuransi yaitu usaha yang memberikan jasa keperantaraan dalam
penutupan asuransi dan penanganan penyelesaian ganti rugi asuransi dengan

bertindak untuk kepentingan tertanggung.


Pialang reasuransi yaitu usaha yang memberikan jasa keperantaraan dalam
penempatan reasuransi dan penanganan penyelesaian ganti rugi reasuransi dengan

bertindak untuk kepentingan perusahaan asuransi.


Penilai kerugian asuransi yaitu usaha yang memberikan jasa penilaian terhadap

kerugian pada obyek asuransi yang dipertanggungkan


Konsultan aktuaria yaitu usaha yang memberikan jasa konsultan aktuaria
Agen asuransi yaitu pihak yang memberikan jasa keperantaraan dalam rangka

pemasaran jasa asuransi untuk dan atas nama penanggung.


g) Asuransi Kerugian
Usaha asuransi kerugian menurut Undang-undang No. 2 tahun 1992 yaitu usaha yang
memberikan jasa-jasa dalam penanggulangan risiko atas kerugian, kehilangan manfaat
dan tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga yang timbul dari peristiwa yang tidak
pasti. Sedangkan perusahaan asuransi kerugian adalah perusahaan yang hanya dapat
menyelenggarakan usaha dalam bidang usaha asuransi kerugian termasuk reasuransi.
Menurut UU No. 2 tahun 1992 tersebut perusahaan asuransi kerugian tidak
diperkenankan melakukan kegiatan diluar usaha asuransi kerugian dan reasuransi.

Pengelolaan Risiko (Managing Risk) | 9

Asuransi kerugian di beberapa negara juga disebut general insurance yang terdiri dari
asuransi kebakaran, pengangkutan laut dan udara, kendaraan bermotor, kompensasi bagi
pegawai, profesi, jaminan dan sebagainya.
Selanjutnya usaha asuransi kerugian dalam prakteknya di Indonesia dapat dibagi sebagai
berikut :

Asuransi kebakaran yaitu asuransi yang menutup risiko kebakaran, petir, ledakan dan

kejatuhan pesawat.
Asuransi pengangkutan
Asuransi aneka yaitu jenis asuransi kerugian yang tidak dapat digolongkan ke dalam
asuransi kebakaran dan asuransi pengangkutan.
Jenis asuransi aneka ini antara lain meliputi : asuransi kendaraan bermotor, asuransi
kecelakaan diri, pencurian, uang dalam pengangkutan, uang dalam penyimpanan,
kecurangan

h) Reasuransi
Pengertian sederhana reasuransi (reinsurance) pada prinsipnya adalah pertanggungan
ulang atau pertanggungan yang dipertanggungkan atau sering disebut asuransi dari
asuransi. Di beberapa buku teks dapat diambil suatu kesimpulan mengenai pengertian
reasuransi ini yaitu suatu sistem penyebaran risiko di mana penanggung menyebarkan
seluruh atau sebagian dari pertanggungan yang ditutupnya kepada penanggung yang lain.
Pihak yang menyerahkan pertanggungan (tertanggung) disebut dengan ceding company
dan yang menerima pertanggungan (penanggung) disebut reinsurer atau disebut juga
reasuradir.

Sedangkan menurut UU No. 2 tahun1992 perusahaan reasuransi adalah

perusahaan yang memberikan jasa dalam pertanggungan ulang terhadap risiko yang
dihadapi oleh perusahaan asuransi kerugian atau perusahaan asuransi jiwa.
Dalam menjalankan kegiatan usahanya, perusahaan asuransi senantiasa dihadapkan pada
perhitungan tingkat risiko yaitu jumlah klaim yang harus dibayarkan pada tertanggung
dibanding dengan kemampuan finansialnya.

Oleh karena itu dalam menanggulangi

kemungkinan terjadinya risiko yang melebihi kemampuan keuangan perusahaan asuransi


yang bersangkutan, maka perlu dilakukan pembagian atau penyebaran risiko yang
ditutupnya dengan cara mempertanggungkan kembali sebagian dari risiko yang
ditutupnya tersebut. Proses pertanggungan ini disebut reasuransi.
i) Koasuransi

Pengelolaan Risiko (Managing Risk) | 10

Dalam kegiatan usaha perasuransian, terutama dalam hal penutupan asuransi, merupakan
suatu prinsip bahwa risiko yang ditutup harus disebarkan kepada pihak lain untuk
menghindari beban risiko melebihi batas kemampuannya. Dengan adanya penyebaran
risiko tersebut, maka sebagian risiko yang ditutupnya itu akan ditanggung sendiri,
sementara sebagian lainnya dibebankan pada perusahaan asuransi lain yang ikut
menanggung, prinsip ini disebut dengan spreading of risk principle.

Selanjutnya,

penyebaran risiko tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan 2 (dua) cara yaitu :
a. Koasuransi (co-insurance)
b. Reasuransi (reinsurance)
Koasuransi pada dasarnya adalah pertanggungan yang dilakukan secara bersama atas
suatu objek asuransi.

Biasanya nilai pertanggungan berjumlah besar, sehingga

perusahaan asuransi tersebut dalam rangka menyebarkan risikonya perlu menawarkan


atau mengajak beberapa perusahaan asuransi lain untuk ikut mengambil bagian
pertanggungan atas penutupan risiko tersebut. Dalam mekanisme koasuransi ini dikenal
istilah leader yang bertugas untuk mengorganisasi dan mengelola pelaksanaan
pertanggungan tersebut.
Sering kedua cara tersebut dipakai secara bersamaan sebagai suatu kombinasi gabungan
yang digunakan sekaligus. Suatu perusahaan asuransi yang akan melakukan penutupan
risiko dalam jumlah besar yang melebihi kemampuan keuangannya akan melakukan cara
koasuransi sebelum melakukan reasuransi. Selanjutnya, setelah koasuransi dilakukan
barulah kemudian mencari perusahaan reasuransi untuk menyebarkan risiko untuk bagian
yang ditutupnya. Dalam melakukan koasuransi ini terdapat 2 (dua) cara penutupan yaitu
koasuransi yang penutupannya menggunakan satu polis saja dan koasuransi dengan
menggunakan polis masing-masing sesuai dengan besarnya jumlah bagian yang ditutup.
Cara penutupan yang manapun dipilih sangat tergantung pada kesepakatan perusahaan
asuransi yang terlibat.
2) Transfer risiko kepada perusahaan yang bukan perusahaan asuransi (non insurance
transfer).
Pemindahan risiko kepada pihak non insurance biasanya dilakukan melalui kontrakkontrak bisnis biasa atau melalui kontrak khusus untuk pemindahan risiko. Isi kontrak adalah
berkenaan dengan pemindahan tanggung jawab atas kerugian terhadap :
a. Harta kekayaan

Pengelolaan Risiko (Managing Risk) | 11

b. Net Income
c. Personil
d. Tanggungjawab (liabilities) kepada pihak ketiga.
Pemindahan ini dapat dibeda-bedakan berdasarkan ruang lingkup dari tanggung jawab
yang dipindahkan, mulai dari ekstrim; transferer/penanggung hanya memindahkan tanggung
jawab

keuangan

untuk

kerugian

akibat

tindakan

yang

tidak

disengaja

oleh

transferee/tertanggung, sampai pada ekstrim; tertanggung akan menerima ganti-rugi


berkenaan dengan peril yang disebutkan dalam kontrak dan tidak peduli apa penyebab dari
kerugian tersebut.
Ada beberapa keterbatasan dari nonisurance transfer, antara lain :
1. Kontrak mungkin hanya memindahkan sebagian dari risiko yang menurut pendapat
Manajer Risiko harus dipindahkan ke pihak lain. Oleh sebab itu Manajer Risiko harus
mempelajari dengan cermat isi kontrak pemindahan.
2. Bahasa yang digunakan dalam kontrak adalah Bahasa Hukum, sehingga kadangkadang sukar dipahami oleh orang awam (termasuk Manajer Risiko), sehingga mudah
menimbulkan salah pengertian.
3. Kontrak dapat dibatalkan oleh pengadilan bila isinya bertentangan dengan undangundang, peraturan pemerintah, kebijaksanaan pemerintah atau dianggap tidak wajar bagi
tertanggung.
Contoh :

Melalui perjanjian leasing, pihak lessor dapat memindahkan tanggung jawab keuangan
kepada penyewa untuk kerusakan harta, tanggung jawab kepada pihak ketiga, tanggung
jawab mana sebelum ada kontrak berada pada lessor.

Melalui leasing, leassee (penyewa) juga dapat memindahkan kerugian potensialnya


kepada lessor.

Dengan leasing berarti leassee bebas dari risiko turunnya harga barang yang disewa,
risiko keusangan ekonomis, risiko keusangan teknis. Risiko mana akan ditanggung bila
barang itu milik sendiri.

Perusahaan menyerahkan pengangkutan produknya kepada perusahaan transportasi,


bertujuan untuk memindahkan risiko dalam pengangkutan kepada perusahaan
transportasi.

Dalam perjanjian sewa-menyewa rumah, pemilik rumah memindahkan risiko kerusakan


kepada penyewa, yang biasanya terhadap kerusakan karena kelalaian penyewa.

Pengelolaan Risiko (Managing Risk) | 12

3) Hedging
Hedging atau lindung nilai pada dasarnya mentransfer risiko kepada pihak lain yang
lebih bisa mengelola risiko lebih baik melalui transaksi instrumen keuangan. Merupakan
salah satu bentuk risk transfer dengan melibatkan pihak lain sebagai penanggung jawab bila
terjadi kejadian yang tidak diinginkan terjadi. Hedging biasanya terkait dengan perlindungan
terhadap kewajiban membayar atau kebutuhan akan uang asing. Misalnya kewajiban untuk
dapat membayar hutang dalam dolar atau dalam mata uang asing lainnya, atau juga
kewajiban untuk membayar pembelian bahan baku dalam mata uang asing seperti dolar atau
pounstreling dan yen. Perubahan kurs mata uang asing terhadap rupiah misalnya dapat
menimbulkan kerugian yang sangat besar misalnya saja waktu kejadian kerusuhan Mei 1998
yang mendorong dollar terapresiasi terhadap rupiah yang mencapai 500%. Pada kondisi ini
perusahaan yang melakukan hedging dengan kepemilikan atau opsi membeli dollar dimasa
depan akan sangat tertolong mengingat sesuai dengan perjanjian forward atau future yang
bersangkutan tidak harus membeli pada kurs yang akan datang tetapi berdasarkan
kesepakatan yang berlaku dalam kontrak. Untuk kondisi seperti ini hedging sangat mirip
dengan asuransi.
Cara kerja hedging mirip dengan asuransi, yaitu jika kerugian dialami karena risiko
tertentu, perusahaan memperoleh kompensasi dari kontrak lainnya. Jika diasuransikan maka
kompensasi diberikan oleh perusahaan asuransi sedangkan pada hedging dengan instrumen
derivatif, kompensasi diberikan oleh pihak lain (counter party) yang menjual kontrak
derivatif tersebut.
4) Incorporated
Incoporated aatau membentuk perseroan terbatas merupakan alternatif bentuk transfer
risiko bagi individu mengingat

dengan pembentukan perseroan terbatas, kewajiban

pemegang saham dalam perseroan terbatas hanya terbatas pada modal yang disetorkan.
Kewajiban tersebut tidak akan sampai ke kekayaan pribadi. Secara efektif, sebagian risiko
perusahaan ditransfer ke pihak lain, dalam hal ini biasanya kreditur (pemegang hutang). Jika
perusahaan bangkrut, maka pemegang saham dan pemegang hutang akan menanggung risiko
bersama, meskipun dengan tingkatan yang berbeda. Pemegang hutang biasanya mempunyai
prioritas yang lebih tinggi dibandingkan dengan pemegang saham. Misalkan perusahaan
bangkrut, asetnya dijual, hasil penjualan aset tersebut akan diberikan ke pemegang hutang.

Pengelolaan Risiko (Managing Risk) | 13

Jika masih ada sisa, pemegang saham baru bisa memperoleh bagiannya. Tetapi kewajiban
pemegang saham tidak akan sampai pada harta pribadinya.
D. KEPUTUSAN PEMILIHAN ALTERNATIF PENGELOLAAN RISIKO
Secara umum jika risiko memiliki frekuensi yang sering dengan severity yang rendah
maka alternatif risiko ditahan merupakan alternatif yang paling optimal. Jika risiko
mempunyai frekuensi yang kecil tetapi mempunyai severity yang besar, maka alternatif
ditransfer merupakan alternatif yang optimal. Jika frekuensi dan severity tinggi maka
perusahaan dapat memutuskan untuk menghindari risiko tersebut. Hal tersebut dapat
dirangkum dalam tabel dibawah ini:

Frekuensi
(Probabilitas)
Rendah
Tinggi

Severity
(Keseriusan)
Rendah
Tinggi
Rendah
Tinggi

Teknik yang dipilih


Ditahan
Ditransfer
Ditahan
Dihindari

Misalnya risiko kecelakaan mobil dari perspektif individu mempenyai frekuensi


rendah dengan tingkat severity yang tinggi. Untuk risiko semacam ini, alternatif yang dengan
pemindahan risiko (risk transfer) merupakan alternatif yang optimal, karena itu akan lebih
baik bagi individu untuk membeli asuransi kecelakaan mobil dibandingkan dengan menahan
risiko tersebut. Risiko kebakaran atau terkena serangan badai merupakan contoh lain risiko
yang memiliki ciri frekuensi yang rendah dengan severity yang tinggi.
Besar kecilnya severity dan frekuensi bersifat relatif tergantung dari sudut
pandangnya. Misalnya kerugian sebesar satu milyar rupiah bagi perusahaan kecil tentunya
akan berarti besar (tingkat severity tinggi) dan sebaliknya bagi perusahaan besar, mungkin
nilai tersebut memiliki tingkat severity yang kecil.
Suatu perusahaan dapat menggunakan kombinasi dari alternatif pengelolaan risiko.
Misalnya suatu perusahaan mengasuransikan kerugian kebakaran diatas angka 1 milyar
rupiah sedangkan dibawah angka tersebut, perusahaan bersedia menanggung (menahan)
risiko tersebut. Dalam hal ini, perusahaan menggunakan alternatif menahan risiko sekaligus
melakukan transfer risiko.

Pengelolaan Risiko (Managing Risk) | 14

Penggunaan alternatif pengelolaan risiko tersebut diatas perlu dilengkapi dengan


pengendalian risiko. Pengendalian risiko yang baik dapat memperkecil risiko sehingga
alternatif menahan risiko dapat dipilih. Untuk alternatif mentransfer risiko, pengendalian
risiko dapat menurunkan harga yang dibayarkan untuk mentransfer risiko. Misalnya,
perusahaan dapat mengendalikan risiko kebakaran bangunan dengan cara memasang alarm
kebakaran dan penyediaan tabung pemadam kebakaran sehingga premi asuransi kebakaran
dapat diturunkan.
Manajemen risiko adalah bagian yang tidak terpisahkan dari manajemen proses.
Manajemen risiko adalah bagian dari proses kegiatan didalam organisasi dan pelaksananya
terdiri dari mutlidisiplin keilmuan dan latar belakang, manajemen risiko adalah proses yang
berjalan terus menerus.
Elemen utama dari proses manajemen risiko, seperti yang terlihat pada gambar
dibawah meliputi:
a. Penetapan tujuan
Menetapkan strategi, kebijakan organisasi dan ruang lingkup manajemen risiko yang akan
dilakukan.
b.

Identifikasi risiko
Mengidentifikasi apa, mengapa dan bagaimana faktor-faktor yang mempengaruhi
terjadinya risiko untuk analisis lebih lanjut.

c.

Analisis risiko
Dilakukan dengan menentukan tingkatan probabilitas dan konsekuensi yang akan terjadi.
Kemudian ditentukan tingkatan risiko yang ada dengan mengalikan kedua variabel
tersebut (probabilitas x konsekuensi).

d.

Evaluasi risiko
Membandingkan tingkat risiko yang ada dengan kriteria standar. Setelah itu tingkatan
risiko yang ada untuk beberapa hazards dibuat tingkatan prioritas manajemennya. Jika
tingkat risiko ditetapkan rendah, maka risiko tersebut masuk ke dalam kategori yang
dapat diterima dan mungkin hanya memerlukan pemantauan saja tanpa harus melakukan
pengendalian.

e.

Pengendalian risiko
Melakukan penurunan derajat probabilitas dan konsekuensi yang ada dengan
menggunakan berbagai alternatif metode, bisa dengan transfer risiko, dan lain-lain.

f.

Monitor dan Review

Pengelolaan Risiko (Managing Risk) | 15

Monitor dan review terhadap hasil sistem manajemen risiko yang dilakukan serta
mengidentifikasi perubahan-perubahan yang perlu dilakukan.
g.

Komunikasi dan konsultasi


Komunikasi dan konsultasi dengan pengambil keputusan internal dan eksternal untuk
tindak lanjut dari hasil manajemen risiko yang dilakukan.
Manajemen risiko dapat diterapkan di setiap level di organisasi. Manajemen risiko

dapat diterapkan di level strategis dan level operasional. Manajemen risiko juga dapat
diterapkan pada proyek yang spesifik, untuk membantu proses pengambilan keputusan.

Gambar Lingkup Analisis Risiko dalam Proses Manajemen Risiko

Pengelolaan Risiko (Managing Risk) | 16

E. PENGENDALIAN RISIKO (RISK CONTROL)


Untuk risiko yang tidak bisa dihindari, organisasi perlu melakukan pengendalian risiko.
Pengendalian risiko bertujuan untuk mengurangi probabilitas munculnya kejadian,
mengurangi tingkat keseriusan (severity), atau keduanya. Agar dapat mengendalikan risiko
dengan lebih baik, diperlukan pemahaman terhadap karakteristik risiko. Dalam rangka
memahami risiko, ada beberapa teori yang ingin menelusuri penyebab munculnya risiko,
antara lain teori domino dan teori rantai risiko.

Teori Domino (Heinrich, 1959)


Menurut teori ini, kecelakaan bisa dilihat sebagai urutan lima tahap seperti digambarkan
dalam kartu domino berikut. Jika satu kartu jatuh, maka akan mendorong kartu kedua jatuh,
dan seterusnya sampai kartu domino terakhir jatuh.

Pengelolaan Risiko (Managing Risk) | 17

Bagan Kartu Domino :

Ada lima tahapan yang merupakan rangkaian kecelakaan, yaitu :


1. Lingkungan sosial dan faktor bawaan yang menyebabkan seseorang berperilaku tertentu
(misal mempunyai temperamen tinggi sehingga gampang marah).
2. Personal fault (kesalahan individu), dimana individu tersebut tidak mempunyai respon
yang tepat (benar) dalam situasi tertentu.
3. Unsafe act or physical hazard (tindakkan yang berbahaya atau kondisi fisik yang
berbahaya).
4. Kecelakaan
5. Cedera
Penelitian oleh Heinrich menunjukkan bahwa faktor ketiga (tindakan yang berbahaya)
menjadi penyebab utama dari kecelakaan kerja (88%). Beberapa contoh tindakan yang
berbahaya adalah bekerja tanpa alat pengaman yang memadai, teman kerja yang mengganggu
konsentrasi kerja, serta peralatan yang tidak digunakan sebagaimana mestinya.
Berdasarkan hasil tersebut, pengendalian risiko yang efektif bisa dilakukan dengan
memfokuskan pada faktor ketiga misalnya menghilangkan tindakan yang berbahaya,
menghilangkan kondisi fisik yang rentan terhadap risiko.
Rantai risiko (Risk Chain)
Menurut Mekhofer, 1987, risiko yang muncul bisa dipecah ke dalam beberapa komponen :
1. Hazard (kondisi yang mendorong terjadinya risiko)
2. Lingkungan di mana hazard tersebut berada
3. Interaksi hazard dengan lingkungan

Pengelolaan Risiko (Managing Risk) | 18

4. Hasil dari interaksi


5. Konsekuensi dari hasil tersebut
Sebagai contoh, di gudang yang banyak bahan mudah terbakar (misal kertas) terdapat
kompor dengan menggunakan minyak tanah. Gudang adalah lingkungannya, sedangkan
kompor tersebut adalah hazard. Kompor dengan menggunakan minyak tanah meningkatkan
risiko kebakaran (hazard). Interaksi antara gudang dengan kompor didalamnya akan semakin
meningkatkan risiko kebakaran, sehingga suatu saat terjadi kebakaran (faktor keempat).
Konsekuensi dari kebakaran adalah kerugian yang cukup signifikan.
Manajer risiko bisa mengatasi risiko melalui cara menghilangkan hazard, misalnya
kompor minyak tanah diganti kompor listrik. Lingkungan dibuat agar lebih tahan terhadap
munculnya risiko misal dengan menyingkirkan bahan-bahan yang mudah terbakar.
Konsekuensi dari hasil (kebakaran) yang berupa kerugian bisa dikurangi misalnya dengan
membuat tembok lebih tahan api sehingga kebakaran pada ruang tersebut tidak mudah
menjalar ke tempat lain.
Fokus dan Timing Pengendalian Risiko
a.

Fokus pengendalian risiko


Pengendalian risiko bisa difokuskan pada usaha mengurangi kemungkinan (probability)
munculnya risiko dan mengurangi keseriusan (severity) konsekuensi risiko tersebut,
misalnya memakai peralatan pengamanan selama bekerja bisa mengurangi kemungkinan
terjadinya kecelakaan kerja. Memasang airbag di mobil merupakan contoh untuk
mengurangi severity kecelakaan mobil. Kantong udara tersebut tidak mencegah
terjadinya kecelakaan.
Pemisahan (separation) dan duplikasi (duplication) merupakan dua bentuk umum
metode untuk mengurangi keseriusan risiko. Contoh pemisahan adalah menyebar operasi
perusahaan, sehingga jika terjadi kecelakaan kerja, karyawan yang menjadi korban akan
terbatas.
Duplikasi dilakukan dengan cara menyimpan produk yang serupa atau mirip di tempat
yang terpisah. Contohnya menyimpan file penting di beberapa tempat misal hard disk PC
di kantor, hard disk di notebook dan flash disk atau CD.
Tentunya kita bisa menggunakan metode mengurangi kemungkinan munculnya risiko
dengan pengurangan severity secara bersamaan. Sebagai contoh, dokter ahli bedah
belajar metode baru dalam pembedahan yang lebih canggih dan lebih aman. Dengan
metode baru tersebut, dokter tersebut bisa mengurangi probabilitas terkena risiko digugat

Pengelolaan Risiko (Managing Risk) | 19

akibat mal praktik, dan juga sekaligus menurunkan severity tuntutan jika risiko gugatan
terjadi.
b.

Timing pengendalian risiko


Dari sisi timing (waktu), pengendalian risiko bisa dilakukan sebelum, selama, dan
sesudah risiko terjadi. Sebagai contoh, perusahaan bisa melakukan training untuk
karyawannya mengenai peraturan, prosedur, dan teknik untuk menghindari kecelakaan
kerja. Karena aktivitas tersebut dilakukan sebelum terjadinya kecelakaan kerja, maka
aktivitas tersebut merupakan aktivitas sebelum risiko terjadi.
Pengendalian risiko juga bisa dilakukan pada saat terjadinya risiko. Sebagai contoh,
kantong udara pada mobil secara otomatis akan mengembang jika terjadi kecelakaan.
Pengendalian risiko juga bisa dilakukan setelah risiko terjadi, contohnya, perusahaan bisa
mengelola nilai sisa dari bangunan yang terbakar, atau memperbaiki mobil yang rusak
karena kecelakaan kemudian bisa dijual lagi dengan harga yang lebih tinggi. Jika hal
semacam ini bisa dilakukan, maka kerugian (serevity) bisa dikurangi.

DAFTAR PUSTAKA
Hanafi, Mamduh M. 2014. Manajemen Risiko. Edisi Kedua, Yogyakarta : UPP STIM
YKPN
Meilania, Tiurma A.A.D. 2014. Penerapan ISO 31000 dalam Pengelolaan Risiko Pada
Bank Perkreditan Rakyat (Studi Kasus Bank Perkreditan Rakyat X). Jurnal
Administrasi Bisnis Vol. 10 No. 1 Hal. 17-32. Center for Business Studies, FISIP
Univerasitas Parahyangan.