Anda di halaman 1dari 12

Bab I

PRESENTASI KASUS

IDENTITAS
Nama
Umur
Agama
Pekerjaan
Alamat
Tanggal masuk
Ruang rawat
No CM

:
:
:
:
:
:
:
:

Tn. Slamet Kamdani


73 Tahun
Islam
Tani
Pulutan, Sidorejo, Salatiga
12 Nopember 2011
Cempaka

A. ANAMNESA
Keluhan utama : Susah BAK sejak 1 bulan yll.
>>Riwayat Penyakit Sekarang :
Sejak 1 bulan yang lalu OS merasakan susah buang air kecil. Pancaran
melemah dan terkadang harus disertai dengan mengedan. Kemudian OS
memeriksakan diri ke dokter dan dipasang kateter. Jika kateter dilepas, OS susah
BAK. OS tidak merasakan pusing, mual, muntah, BAB (+) normal, BAK melalui
kateter, kadang-kadang batuk.
>>Riwayat Penyakit Dahulu :
Sebelumnya pasien tidak pernah mengalami kejadian serupa seperti sekarang.
Tidak ada riwayat kencing keluar batu.
B. PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan Umum
Kesadaran
Vital Sign

: baik
: Compos Mentis
: T : 130/80 mmHg
N : 76 x/menit

S : 36 9 0C
R : 24 x/menit

Status Generalis
Pemeriksaan Kepala
Bentuk kepala
: mesocephal, simetris
Pemeriksaan mata
Palpebra
: edema (-/-)
Konjungtiva
: anemis (-/-)
Sklera
: ikterik (-/-)
Pemeriksaan telinga : otore (-/-), deformitas (-/-), nyeri tekan (-/-)
Pemeriksaan hidung : deformitas (-/-), rhinorrhea (-/-)
Pemeriksaan mulut : bibir kering (-), faring hiperemis (-)
Pemeriksaan Leher

Kelenjar tiroid : tidak membesar


Kelanjar limf.
: tidak membesar, nyeri tekan (-)
JVP
: JVP R-0 cmHg
Pemeriksaan dada
Jantung
Inspeksi
: ictus cordis tidak terlihat
Palpasi
: ictus cordis teraba
Perkusi : batas jantung
Atas
: SIC II linea midclavicularis sin
Kanan
: SIC VI linea parasternalis dext
Kiri
: SIC VI linea axillaris anterior sin
Auskultasi : BJ S1>S2 reguler, mur-mur (-)
Paru
Inspeksi : gerak simetris, retraksi (-), ketinggalan gerak (-)
Palpasi
: fremitus taktil kanan = kiri
Perkusi
: sonor pada seluruh lapang paru
Auskultasi
: SD vesikuler, ST (-/-)
Pemeriksaan Abdomen
Inspeksi
: distensi (-), pelebaran vena (-)
Auskultasi
: peristaltik (+) normal
Palpasi
: nyeri tekan suprapubic (-), massa (-)
Perkusi
: timpani, nyeri ketok kostovertebral (-)
Pemeriksaan Ekstremitas
Superior
: deformitas (-), jari tabuh (-), udem (-/-)
Inferior
: deformitas (-), sianosis (-), udem (-/-)
Pemeriksaan dalam : sfingter ani mencengkeram kuat, mukosa licin, ampula
rectum tidak kolaps, teraba prostat kenyal, kanan dan kiri tidak simetris, nyeri
tekan (-), sulcus medianus tidak teraba, tidak berbenjol-benjol.
C. Diagnosis kerja
Pembesaran prostat jinak (BPH)
DD; karsinoma prostat
D. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan darah rutin, kimia darah :
Sel darah putih
: 8,32 (5,00-10,00)
Sel darah merah
: 3,92 (4,50-5,50)
Trombosit
: 300
(150-400)
Hb
: 11,1 (14,0-17,4)
Hct
: 33,53 (45,00-52,00)
GDS
: 113
(<150)
Urea
: 21,2 (20-40)
Kreatinin
: 0,8
(0,5-1,2)
SGOT
: 19
(5-40)
SGPT
: 25
(5-35)

Albumin

: 5,05

(3,7-5,2)

Pemeriksaan Radiologi :
USG prostat tanggal 12 Nopember 2011
Hepar dan Vesica Fellea
Lien
Pankreas
Ren Dx/Sn
Vesica Urinaria
Aorta
Prostat

: Bentuk dan besar DBN, echo struktur homogen,


system vena dan bilier regular, tak tampak sludge,
batu, kista, nodul, dan masa. Mukosa VF DBN
: DBN
: DBN
: Ukuran DBN, Kortek dan Medulla berbatas tegas.
PCS dan Ureter 1/3 Proksimal Ren Dx/Sn tak
melebar. Tak tampak ,batu, kista nodul dan massa.
: Dinding regular, mukosa menebal, tak tampak
Divertikel, Batu dan Massa.
: Dinding regular, diameter 25,4 mm, KGB Para Aorta
tak membesar
: Membesar dengan echostruktur homogen tanpa
kalsifikasi kira-kira terukur 51,0x61,0x54,4 mm.

K E S AN :
Cystitis
BPH
Aneurisma aorta abdominalis daerah proximal

BAB II
PEMBAHASAN
A. DEFINISI DAN EPIDEMIOLOGI
Kelenjar prostat adalah salah satu organ genitalia pria yang terletak
disebelah inferior buli buli dan membungkus uretra posterior. Bila mengalami
pembesaran, organ ini membuntu uretra pars prostatika dan menyebabkan
terhambatnya aliran urin keluar dari buli buli. Bentuknya sebesar buah kenari
dengan berat normal pada orang dewasa 20 gram. McNeal (1976) membagi
kelenjar prostat dalam beberapa zona, antara lain : zona perifer, zona sentral,zona
transisional, zona fibromuskuler anterior, dan zona periuretra. Sebagian besar
hiperplasia prostat terdapat pada zona transisional.
Hiperplasi prostat benigna merupakan penyakit pada pria tua dan jarang
ditemukan pada usia yang kurang dari 40 tahun. Keadaan ini dialami oleh 50%
pria yang berusia 60 tahun dan kurang lebih 80% pria yang berusia 80 tahun.
Prostat normal pada pria mengalami peningkatan ukuran yang lambat dari
lahir sampai pubertas. Pada waktu itu ada peningkatan cepat dalam ukuran, yang
kontinyu sampai usia akhir 30-an. Pertengahan dasawarsa kelima, prostat
dapatmengalami

perubahan

hipertropi.

Pembesaran

kelenjar

prostat

mengakibatkan terganggunya aliran urin sehingga menimbulkan gangguan miksi.


Etiologi pasti hipertropi prostat benigna belum jelas, walaupun tampaknya tidak
terjadi pada pria yang dikastrasi sebelum pubertas, dan tidak berlanjut setelah
kastrasi. Kelainan ini bisa disertai dengan peningkatan dalam kandungan di

hidrotestoteron jaringan atau dengan perubahan rasio androgen terhadap estrogen,


yang diketahui berubah dengan penuaan. Sekitar 1 dalam 100 pria akan
memerlukan pembedahan untuk keadaan ini.
B. PATOFISIOLOGI
Biasanya ditemukan gejala dan tanda obstruksi serta iritasi. Gejala dan
tanda obstruksi saluran kemih berarti penderita harus menunggu pada permulaan
miksi, miksi terputus, menetes pada akhir miksi, pancaran miksi menjadi lemah
dan rasa belum puas sehabis miksi. Gejala iritasi disebabkanhipersensitivitas otot
detrusor berarti bertambahnya frekuensi miksi, nokturia, miksi sulit ditahan dan
disuria. Gejala obstruksi terjadi karena detrusor gagal berkontraksi cukup kuat
atau gagal berkontraksi cukup lama sehingga kontraksi terputus putus. Gejala
iritasi terjadi karena pengosongan yang tidak sempurna pada saat miksi atau
pembesaran miksi atau pembesaran prostat menyebabkan rangsangan pada
kandung kemih sehingga vesika sering berkontraksi meskipun belum penuh.
Gejala dan tanda ini diberi skor untuk menentukan berat keluhan klinis. Apabila
vesika menjadi dekompensasi, akan terjadi retensi urin sehingga pada akhir miksi
masih di dalam kandung kemih dan timbul rasa tidak tuntas pada akhir miksi. Jika
keadaan ini berlanjut, pada suatu saat akan terjadi kemacetan total sehingga
penderita tidak mampu lagi miksi. Karena produksi urin terus terjadi, pada suatu
saat vesika tidak mampu lagi menampung urin sehingga tekanan intra vesika terus
meningkat. Apabila tekanan vesika menjadi menjadi lebih tinggi daripada tekanan
sfingter dan obstruksi, akan terjadi inkontinensia paradoks. Retensi kronik
menyebabkan refluks vesiko-ureter,hidroureter, hidronefrosis dan gagal ginjal.
Proses kerusakan ginjal dipercepat bila terjadi infeksi. pada waktu miksi,

penderita harus selalu mengedan sehingga lama kelamaan menyebabkan hernia


atau hemoroid. Karena selalu terdapat sisa urin, dapat terbentuk batu endapan di
dalam kandung kemih. Batu ini dapat menambah keluhan iritasi dan menimbulkan
hematuria. Batu tersebut dapat pula menyebabkan sistitis dan bila terjadi
refluks,dapat terjadi pielonefritis

C. GEJALA KLINIS
Biasanya gejala gejala pembesaran prostat jinak, dikenal sebagai
Lower Urinary Tract Symptoms ( LUTS ), dan dapat dibedakan menjadi :
1. Gejala iritatif
Frekuensi: sering miksi
Frekuensi terutama terjadi pada malam hari ( nokturia ) karenahambatan
normal dari korteks berkurang dan tonus sfingter danuretra berkurang

selama tidur.
Nokturia : terbangun untuk miksi pada malam hari
Nokturia dan frekuensi terjadi karena pengosongan yang tidak lengkap

pada tiap miksi sehingga interval antar miksi lebih pendek.


Urgensi : perasaan miksi yang sangat mendesak
Disuria : nyeri pada saat miksi
Urgensi dan disuria jarang terjadi, jika ada disebabkan

2.

oleh

ketidaksatabilan detrusor sehingga terjadi kontraksi involunter.


Gejala obstuktif
Pancaran melemah
Rasa tidak lampias sehabis miksi
Terminal dribbling : menetes setelah miksi
Terminal dribbling dan rasa belum puas sehabis miksi terjadi karena
jumlah residu urin yang banyak dalam buli buli.
Hesitancy : bila mau miksi harus menunggu lama
Terjadi karena detrusor membutuhkan waktu yang lama untuk dapat
melawan resistensi uretra.

Straining: harus mengedan jika miksi


Intermittency: kencing terputus putus
Terjadi karena detrusor tidak dapat mengatasi resistensi uretrasampai akhir
miksi

Waktu miksi memanjang


Yang akhirnya menjadi retensio urin dan inkontinen karena overflow.

D. PEMERIKSAAN KLINIS
Pemeriksaan colok dubur / digital rectal examination ( DRE )
Merupakan pemeriksaan yang sangat penting, DRE dapat memberikan gambaran
tonus sfingter ani, mukosa rektum, adanya kelainan lain sepertibenjolan di dalam
rektum dan tentu saja meraba prostat. Pada perabaanprostat harus diperhatikan :

Konsistensi pada pembesaran prostat kenyal


Adakah asimetri-Adakah nodul pada prostat
Apakah batas atas dapat diraba dan apabilabatas atas masih dapat diraba
biasanya besar prostat diperkirakan <60 gr.

Pada BPH akan ditemukan prostat yang lebih besar dari normal atau normal
(Tidak ada korelasi antara besar prostat dengan obstruksi yang ditimbulkannya),
permukaan licin dan konsistensi kenyal.
E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Pemeriksaan laboratorium
Analisis urin dan pemeriksaan mikroskopik urin penting untuk
melihatadanya sel leukosit, bakteri, dan infeksi. Bila terdapat hematuria,
harusdiperhatikan etiologi lain seperti keganasan pada saluran kemih, batu,
infeksisaluran

kemih,

walaupun

BPH

sendiri

dapat

menyebabkan

hematuria.Elektrolit, kadar ureum dan kreatinin darah merupakan informasi

dasar dari fungsi ginjal dan status metabolik.Pemeriksaan Prostat Spesifik


Antigen ( PSA ) dilakukan sebagai dasar penentuan perlunya biopsi atau
sebagai deteksi dini keganasan. Bila nilaiPSA < 4 ng/ml tidak perlu biopsi.
Sedangkan bila nilai PSA 4 10 ng/ml,hitunglah Prostate Spesifik Antigen
Density ( PSAD ) yaitu PSA serum dibagidengan volume prostat. Bila PSAD
0,15 maka sebaiknya dilakukan biopsiprostat, demikian pula bila nilai PSA
> 10 ng/ml.
2. Pemeriksaan radiologis
Pemeriksaan yang biasa dilakukan adalah foto polos abdomen,
pielografi intra vena, USG dan sistoskopi. Tujuan pemeriksaan pencitraan ini
adalahuntuk memperkirakan volume BPH, menentukan derajat disfungsi buli
buli dan volume residu urin, dan mencari kelainan patologi lain, baik
yangberhubungan maupun tidak dengan BPH. Dari foto polos dapat dilihat
adanya batu pada traktus urinarius,pembesaran ginjal atau buli buli. Dapat
juga dilihat lesi osteoblastik sebagaitanda metastasis dari keganasan prostat
serta osteoporosis akibat kegagalanginjal.Dari pielografi intra vena dapat
dilihat supresi komplit dari fungsi renal, hidronefrosis dan hidroureter, fish
hook appearance ( gambaran ureter berbelok-belok di vesica ), indentansi pada
dasar buli buli, divertikel, residu urin, atau filling defect di vesica. Cara
pencitraan yang lain ialah pemeriksaan USG. Cara pemeriksaan iniuntuk
prostat

hipertrofi

dianggap

sebagai

pemeriksaan

yang

baik

oleh

karenaketepatannya dalam mendeteksi pembesaran prostat, tidak adanya


bahaya radiasi dan juga relatif murah.
F. PENATALAKSANAAN
1. Observasi ( wacthfull waiting )

Biasanya dilakukan pada pasien BPH dengan keluhan ringan (Skor Madsen
Iversen kurang dari sama dengan 9 ). Nasehat yang diberikan pada pasien adalah
mengurangi minum setelah makan malam untuk mengurangi terbangun pada
malam hari untuk buang air kecil ( nokturia ), menghindari obat obat
dekongestan ( parasimpatolitik ), menguangi minum kopi dan tidak diperbolehkan
minum alkohol agar tidak terlalu sering miksi. Setiap tiga bulan kontrol keluhan
( sistem skor), sisa kencing dan pemeriksaan colok dubur.
2. Terapi medikamentosa
Prostat Hiperplasia yang telah memberikan keluhan klinik biasanya akan
menyebabkan penderita datang ke dokter. Secara klinik biasanya derajat berat
gejala klinik dibagi menjadi 4 gradasi yaitu : Derajat satu, apabila ditemukan
keluhan prostatismus , pada DRE ditemukan penonjolan prostat dan sisa urin
kuang dari 50ml. Derajat dua apabila ditemukan gejala dan tanda sepeti derajat
satu , prostat lebih menonjol, batas atas masih teraba, dan sisa urin lebih dari 50ml
tetapi kurang dari 100ml. Derajat tiga seperti derajat dua, hanya batas atas prostat
atas tidak teraba lagi dan sisa urin lebih dari 100ml. Derajat empat apabila telah
terjadi retensi urin total. Pada penderita derajat satu pada umumnya belum
memerlukan tindakan operatif tetapi tindakan konservatif, yaitu :
Penghambat adrenegik-alfa
Obat obat yang sering dipakai adalah prazosin, doxazosin, terazosin, alfuzosin
atau yang lebih selektif alfa 1a (tamsulosin). Penggunaan antagonis alfa 1a karena
secara selektif mengurangi obstuksi pada buli buli tanpa merusak kontraktilitas
detrusor. Obat obat ini menghambat reseptor reseptor yang banyak ditemukan
pada otot polos trigonum, leher vesica, prostat dan kapsul prostat sehingga terjadi
relaksasi di daerah prostat. Hal ini akan menurunkan tekanan di daerah uretra pars
prostatika sehingga gangguan aliran seni dan gejala gejala akan berkurang.

Biasanya pasien merasa bekuang keluhan keluhannya dalam wakt 1 -2 minggu


setelah ia memulai makan obat. Efek samping yang mungkin timbul adalah pusing
pusing (dizziness), capek, sumbatan hidung, dan rasa lemah. Selain itu juga
dapat menyebabkan penurunan tekanan darah. Jadi dalam pemberian obat ini
harus diperhatikan tekanan darahnyauntuk menghindari terjadinya hipotensi yang
dapat membahayakan penderita.
Penghambat enzim reduktase
Obat yang dipakai adalah finasteride (proscar) dengan dosis 1 x 5 mg/hari. Obat
golongan ini dapat menghambat pembentukan DHT sehingga prostat yang
membesaar akan mengecil. Namun obat ini berkerja lebih lambat dari pada
golongan alfa bloker dan manfaatnya hanya jelas pada pembesaran prostat yang
besar. Efektivitasnya masih diperdebatkan karena baru menunjukkan perbaikan
sedikit dari pasien setelah 6 12 bulan pengobatan bila dimakan terus menerus.
Salah satu efek samping obat ini adalah melemahkan libido, ginekomastia, dan
dapat menurunkan PSA (masking effect). Cara pengobatan konservatif dengan
obat yang lain adalah dengan obat obat anti androgen yang dapat mulai pada
tingkat hipofisis misalnya dengan pemberian Gn-RH analogue sehingga menekan
produksi testoteron oleh sel Leydig berkurang. Cara ini tentu saja menyebabkan
penurunan libido oleh karena penurunan testoteron darah. Pada tingkat yang lebih
rendah dapat pula diberikan obat anti androgen yang mekanismenya mencegah
hidrolise testoteron menjadi DHT dengan memberikan penghambat 5 alfa
reduktase inhibitors, sehingga jumlah DHT berkurang tetapi jumlah testoteron
tidak berkurang, sehingga libido juga tidak berkurang. Obat anti androgen lain
yang juga berkerja pada tingkat prostat adalah obat yang mempunyai mekanisme
kerja sebagai inhibitors kompetitif terhadap reseptor DHT sehingga DHT tidak

dapat membentuk kompleks DHT- reseptor. Obat ini juga tidak menurunkan kadar
testoteron dalam darah, sehingga libido tidak turun. Kesulitan pengobatan
konsevatif ini adalah menentukan berapa lama obat harus diberikan dan efek
samping dari obat ini. Pengobatab lain yang juga invasive adalah pengobatan
dengan memanaskan prostat dengan gelombang ultrasonik atau gelombang radio
kapasitif yang disalurkan pada kelenjar prostat dengan antena yang dipasang pada
ujung kateter proksimal pada balon. Pemanasan ini dilakukan pada suhu 45
sampai 47 derajat celcius selama 1 sampai 3 jam. Efek dari pemanasan ini akan
menyebabkan vakuolisasi pada jaringan prostat dan penurunan tonus jaringan
sehingga tekanan uretra menurun sehingga obstruksi berkurang. Dengan cara
pengobatan ini menggunakan alat THREMEX II memperoleh hasil perbaikan kira
kira 70 80 % pada sptom obyektif dan 50- 60 % perbaikan pada flowrate
maksimal. Mekanisme mengenai efek pemanasan prostat ini semuanya belum
jelas, salah satu teori yang masih harus dibuktikan ialah bahwa dengan pemanasan
akan terjadi perusakan pada reseptor alfa yang berada pada leher vesika dan
prostat. Cara pengobatan lain yang juga kurang infasif adalah dilatasi uretra pada
prostat dengan memakai balon yang berkembang didalamnya. Cara ini dikenal
sebagai Trans Uretrha Baloon Dilatation (TUBD), dan pelopor cara ini adalah
Burhenne, Castaneda, Reddy dan Hubert. TUBD ini biasanya memberikan
perbaikan sementara.
1. Filoterapi
Pengobatan filoterapi yang ada di Indonesia adalah eviprostat. Substansianya
misalnya Pygeum africanum, Sawpalmetto, Serenoa repeus, dll. Efeknya
diharapkan terjadi setelah 1 2 minggu setelah pemberian
1. Terapi Bedah

Waktu penanganan untuk tiap pasien bervariasi tergantung beratnya gejala dan
komplikasi.

Indikasi

absolut

untuk

terapi

bedah

adalah

1. Retensi urin berulang


2. Hematuria
Tanda penurunan fungsi ginjal
Infeksi saluran kemih berulang
Tanda tanda obstruksi berat yaitu divertikel, hidroereter, dan hidronefrosis
Ada batu saluran kemih
Jenis pengobatan ini paling tinggi efektivitasnya. Intervensi bedah yang dapat
dilakukan meliputi :
- Transuretrhal Resection of the Prostat (TUR P)
- Transuretrhal Insision of the Prostat (TUI P)
- Prostatektomi terbuka
- Prostatektomi dengan laser dengan Nd-YAG atau Ho-YAG