Anda di halaman 1dari 3

TANYA JAWAB

PERATURAN BANK INDONESIA NO.1


NO. 1 6 /12/PBI/201
12 /PBI/2014
/PBI/2014 TANGGAL 24 JULI 2014
TENTANG OPERASI MONETER SYARIAH
1.

Q
A

2.

Apa latar belakang dikeluarkannya Peraturan Bank Indonesia (PBI) tentang


Operasi Moneter Syariah (OMS) ini?
ini?
PBI ini dikeluarkan untuk meningkatkan efektivitas Operasi Moneter Syariah
(OMS) dalam rangka menghadapi dan mengantisipasi perkembangan ekonomi,
keuangan, dan moneter. Peningkatan efektivitas OMS dilakukan dengan cara
menggabungkan pengaturan PBI tentang Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS)
ke dalam PBI tentang OMS. Di dalam PBI ini diatur juga pengelolaan likuiditas
dan pengayaan instrumen OMS guna mendukung pengembangan pasar valuta
asing domestik dan pencapaian sasaran operasional kebijakan moneter.

Apa yang dimaksud Operasi Moneter Syariah?

Operasi Moneter Syariah adalah pelaksanaan kebijakan moneter oleh Bank


Indonesia dalam rangka pengendalian moneter melalui kegiatan operasi pasar
terbuka dan penyediaan standing facilities berdasarkan prinsip syariah.

Kegiatan apa sajakah yang merupakan kegiatan OPT Syariah?


Syariah ?

Kegiatan OPT Syariah meliputi:


a. penerbitan SBIS;
SBIS memiliki karakteristik antara lain dapat diagunkan kepada Bank
Indonesia dan tidak dapat diperdagangkan di pasar sekunder. Pihak yang
dapat memiliki SBIS adalah Bank.
b. jual beli surat berharga dalam Rupiah yang memenuhi prinsip syariah yang
meliputi SBSN, dan surat berharga lain yang berkualitas tinggi dan mudah
dicairkan;
c. penempatan berjangka (term deposit) syariah dalam valuta asing; dan/atau
d. transaksi lainnya baik di pasar uang Rupiah maupun di pasar valuta asing.

4.

Q
A

Kapan OPT Syariah dilakukan dan dengan mekanisme apa?


OPT Syariah dapat dilaksanakan setiap Hari Kerja baik melalui mekanisme lelang
maupun non-lelang.

5.

Q
A

Kegiatan apa sajakah yang merupakan kegiatan Standing Facilities Syariah?


Syariah ?
Standing Facilities Syariah adalah fasilitas yang disediakan oleh Bank Indonesia
kepada Bank dalam rangka OMS melalui mekanisme nonlelang, dengan cara:
a. penyediaan fasilitas simpanan (deposit facility) dalam bentuk Fasilitas
Simpanan Bank Indonesia Syariah (FASBIS); dan
b. penyediaan fasilitas pembiayaan (financing facility) dalam bentuk repo surat
berharga dalam rupiah.

3.

6.

Q
A

Bagaimana pengaturan atas pelaksanaan standing facilities syariah


syariah?
Dalam PBI tentang OMS ini ditambahkan pengaturan bahwa standing facilities
syariah dilaksanakan setiap hari kerja.

7.

Q
A

Siapakah peserta OMS?


Peserta OMS terdiri dari:
a. peserta OPT Syariah, yaitu Bank dan/atau pihak lain yang ditetapkan oleh
Bank Indonesia; dan
b. peserta Standing Facilities Syariah, yaitu Bank.

8.

Apakah perseorangan dapat menjadi peserta OMS


OMS ?

Dengan diberlakukannya PBI tentang OMS ini, maka perseorangan tidak dapat
lagi menjadi peserta OMS.

Terkait
dengan
pengayaan
OMS guna
mendukung
instrumen
pengembangan pasar valuta asing domestik,
domestik , Instrumen apa yang
mendukung hal tersebut?
Transaksi penempatan berjangka (term deposit) syariah dalam valuta asing yang
selanjutnya disebut Term Deposit Syariah dalam valas.
Bank Indonesia menetapkan dan memberikan imbalan atas penempatan
berjangka (term deposit) syariah dalam valas.

9.

10.
10 .

Q
A

11.
11 .

Q
A

12.
12 .

Q
A

Apakah terhadap Term Deposit Syariah dalam valas yang dimiliki dapat
dilakukan early redemption ?
Atas Term Deposit Syariah dalam valas yang dimiliki dapat dilakukan early
redemption sepanjang memenuhi prosedur dan persyaratan sebagaimana diatur
dalam Surat Edaran Bank Indonesia.
Apakah Term Deposit Syariah dalam valas dapat menjadi pengurang dalam
perhitungan Posisi Devisa Neto (PDN)?
(PDN) ?
Ya. Term Deposit Syariah dalam valas dapat menjadi pengurang PDN paling
tinggi sebesar nilai yang terendah dari:
a. nilai PDN secara keseluruhan pada akhir hari kerja yang bersangkutan
sebelum dikurangi dengan penempatan berjangka (term deposit) syariah
dalam valuta asing;
b. nilai penempatan berjangka (term deposit) syariah dalam valuta asing; atau
c. 5% (lima persen) dari modal Bank Umum Syariah.
Bagaimana pengaturan perhitungan dan pelaporan TD Syariah dalam valas
yang menjadi pengurang PDN?
Pelaporan TD Syariah dalam valas yang menjadi pengurang PDN untuk Bank
Umum Syariah (BUS) dan Unit Usaha Syariah (UUS) diatur sebagai berikut:
a. Dalam hal transaksi TD Syariah dalam valas dilakukan oleh BUS, maka
perhitungan TD Syariah dalam valas sebagai pengurang PDN dan pelaporan

harian PDN yang sudah memperhitungkan TD Syariah dalam valas sebagai


pengurang, dilakukan oleh BUS melalui Laporan Harian Bank Umum (LHBU)
b. Dalam hal transaksi TD Syariah dalam valas dilakukan oleh UUS, maka TD
Syariah dalam valas dapat digunakan sebagai pengurang PDN bank umum
konvensional yang memiliki UUS. Perhitungan dan pelaporan harian PDN
yang sudah memperhitungkan TD Syariah dalam valas sebagai pengurang,
dilakukan oleh bank umum konvensional yang memiliki UUS.
c. Dalam hal BUS tidak menyampaikan laporan melalui LHBU maka penempatan
berjangka (term deposit) syariah dalam valuta asing tidak diperhitungkan
sebagai pengurang posisi devisa neto.
13.
13 .

Q
A

Adakah sanksi terkait transaksi TD Syariah dalam valas?


Ada. Sanksi akan dikenakan terhadap BUS dan UUS yang mengikuti Transaksi TD
Syariah dalam valas yang tidak dapat memenuhi kewajiban setelmen berupa
kewajiban penyediaan dana di Bank Indonesia atau transfer dana ke rekening
Bank Indonesia di bank koresponden yang cukup untuk penyelesaian kewajiban
pada tanggal penyelesaian transaksi. Dalam hal ini BUS dan UUS dikenakan
sanksi teguran tertulis dan kewajiban membayar sebesar persentase tertentu dari
nilai transaksi yang batal, yang diumumkan oleh Bank Indonesia pada saat
pengumuman rencana transaksi.

14.

Dalam hal apa peserta OMS dikenakan sanksi terkait kegiatan OMS dalam
rupiah?
rupiah?
Dalam hal transaksi OMS dinyatakan batal karena Peserta OMS tidak
menyediakan dana yang cukup pada rekening giro Rupiah di Bank Indonesia
dan/atau surat berharga dalam Rupiah yang cukup pada rekening surat berharga
di Bank Indonesia atau di lembaga kustodian untuk penyelesaian kewajiban pada
tanggal penyelesaian transaksi.

15

Q
A

Dalam bentuk apakah sanksi itu?


Teguran tertulis dan kewajiban membayar sebesar 0,01% dari nilai transaksi
OMS yang dinyatakan batal paling sedikit sebesar Rp10.000.000,00 (sepuluh
juta rupiah) dan paling banyak sebesar Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah)
untuk setiap transaksi OMS yang dinyatakan batal.
Dalam hal terjadi pembatalan transaksi OMS untuk yang ketiga kalinya dalam
kurun waktu 6 (enam) bulan, selain dikenakan sanksi tersebut di atas, peserta
OMS juga dikenakan sanksi berupa sanksi berupa penghentian sementara untuk
mengikuti kegiatan OMS selama 5 (lima) hari kerja berturut-turut.
Sanksi berupa penghentian sementara tidak berlaku untuk transaksi repo

financing facility peserta OMS yang berasal dari transaksi fasilitas likuiditas
intrahari syariah yang tidak lunas.