Anda di halaman 1dari 16

Sistitis dengan Ascending Infection

Sonya Leonardy Low


102010260
E2
Mahasiswa Fakultas Kedokteran, Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Arjuna Utara No. 6 Jakarta Barat
Email : sonyaleonardylow@hotmail.com
Pendahuluan :
Infeksi saluran kemih adalah infeksi yang terjadi di sepanjang saluran kemih,
termasuk ginjal itu sendiri, akibat proliferasi suatu mikroorganisme. Sebagian besar
infeksi saluran kemih disebabkan oleh bakteri, tetapi jamur dan virus juga bisa
menjadi penyebabnya. Infeksi bakteri tersering disebabkan oleh Escherichia coli,
suatu kontaminan tinja yang sering ditemukan di anus. Dikatakan Escherichia coli
menjadi kuman patogen kalau jumlahnya lebih dari 100000 koloni /ml urin
Infeksi saluran kemih sering terjadi pada anak perempuan dan wanita. Salah
satu penyebabnya adalah uretra wanita yang lebih pendek sehingga bakteri
kontaminan lebih mudah memperoleh akses ke kandung kemih. Itu yang kita sebut
dengan sistitis. Urethra yang pendek meningkatkan kemungkinan mikroorganisme
yang menempel di lubang urethra selama berhubungan kelamin memiliki akses ke
kandung kemih. Disini yang akan kita bahas adalah mengenai sistitis yaitu infeksi
yang terjadi pada kandung kemih dan sudah mulai berlanjut ke ascending infection,
sudah menuju ke pielonefritis.
Mind maping

Pembahasan :
Anamnesis

Anamnesis harus dilakukan secara menyeluruh. Keluhan nyeri harus benarbenar ditelusuri untuk mengetahui nyeri apa yang dirasakan oleh pasien yang dapat
digunakan oleh dokter untuk menegakkan diagnosis. Anamnesis terdiri dari keluhan
utama, riwayat penyakit sekarang, riwayat penyakit dahulu, riwayat penyakit
keluarga, riwayat sosial dan lingkungan

Riwayat penyakit sekarang 1

Onset keluhan nyeri berapa lama?

Karakteristik nyerinya seperti apa?

Penyebaran nyeri?

Aktivitas yang dapat membuat bertambahnya nyeri ataupun berkurangnya nyeri?

Apakah ada nyeri pada saat BAK?

Apakah ada nocturia?

Apakah kemaluannya terasa panas pada saat BAK?

Apakah ada pus di urinnya?

Apakah ada riwayat muntah?

Apakah ada gross hematuria?

Apakah ada riwayat nyeri yang sama sebelumnya?

Apakah ada demam? Sudah berapa lama?

Apakah ada disuria?

Apakah ada polakisuria? Sudah berapa lama?

Apakah ada nyeri di suprapubik? Menjalar atau tidak?

Apakah ada nyeri di pinggang kanan?

Riwayat penyakit dahulu


Ditanyakan apakah sudah pernah menderita keluhan-keluhan ini sebelumnya?
Sudah pernah berobat ke dokter lain? Dan setelah berobat apakah sudah sembuh?

Riwayat penyakit keluarga


Ditanyakan apakah keluarganya pernah menderita hal yang sama seperti dirinya?

Riwayat sosial dan lingkungan


Ditanyakan apakah sudah menikah? Sudah berhubungan seksual? Seminggu bisa
berapa kali berhubungan? Sakitnya timbul setelah berhubungan seksual atau tidak?
Apakah suaminya pernah terkena hal yang sama? Nyeri pada saat BAK?

Pemeriksaan fisik 1
Inspeksi
Pada inspeksi abdomen, lihat apakah ada vena-vena kolateral pada dinding
anterior abdomen, apakah ada caput medusae, apakah ada massa tumor sehingga
abdomen tampak tidak simetris, dan dilihat juga apakah ada pembuncitan abdomen.
Palpasi
Pada palpasi, prosedur yang dilakukan meliputi palpasi superficial untuk
melihat apakan ada nyeri tekan, palpasi dalam untuk melihat apakah ada massa,
palpasi limpa dan hepar untuk mengetahui apakah ada pembesaran dan atau nyeri
tekan, dan palpasi ginjal yang meliputi palpasi ballottement. Karena adanya hati,
ginjal kanan letaknya lebih rendah dari ginjal kiri. Bagian bawah dari ginjal kanan
dapat teraba pada individu yang kurus sedangkan ginjal kiri biasanya tidak dapat
teraba kecuali bila ada pembesaran. Palpasi ginjal dilakukan dengan metode bimanual
kemudian dikonfirmasi dengan metode ballottement. Pada palpasi ginjal dengan
metode bimanual, satu tangan diletakkan di posterior pada sudut kostovertebra
sedangkan tangan satunya diletakkan di anterior dibawah tepi costa, pada saat pasien
inspirasi kedua tangan ditekan bersamaan untuk meraba ginjal. Pada palpasi ginjal
dengan metode ballotement, satu tangan diletakkan di posterior pada sudut
3

kostovertebra untuk menekan ginjal ke anterior, sedangkan tangan satunya diletakkan


di anterior dibawah tepi costa. Selama inspirasi, ginjal dapat dipalpasi diantara kedua
tangan. Lakukan pemeriksaan terhadap ginjal kanan dan kiri. Bila ginjal teraba di
antara kedua tangan, berarti pemeriksaan ballottement positif dan mengindikasikan
adanya pembesaran ginjal.
Perkusi
Pada perkusi, dilakukan pengetukan pada dinding abdomen. Normalnya akan
didapatkan bunyi timpani pada seluruh dinding abdomen (kecuali daerah hepar).
Perkusi pada sudut kostovertebra dilakukan bila ada rasa nyeri yang diduga berasal
dari ginjal. Perkusi dilakukan dengan tangan kiri diletakkan pada sudut kostovertebra,
lalu pukul tangan kiri dengan bagian ulnar tinju tangan kanan. Gunakan tenaga yang
cukup besar untuk menimbulkan persepsi tapi tanpa menimbulkan rasa nyeri pada
pasien normal. Bila didapatkan rasa nyeri pada pemeriksaan ini, mengindikasikan
pyelonefritis, tapi dapat juga disebabkan hanya karena rasa nyeri otot.
Pada pemeriksaan kandung kemih, normalnya tidak dapat teraba. Bila
kandung kemih terisi, dapat teraba sebagai pembengkakan bulat halus yang menonjol
pada pubis. Pada perkusi didapatkan bunyi pekak pada kandung kemih
Auskultasi
Pada auskultasi didengarkan suara bising usus, ada tidaknya bruit sistolik yang
dapat didengar pada aneurisma aorta, pada pembesaran hati karena hepatoma, atau
pada stenosis arteri renalis. 1
Pemeriksaan Penunjang 2
Urinalisis
Leukosuria atau piuria merupakan salah satu petunjuk penting terhadap dugaan adalah
ISK. Leukosuria dinyatakan positif bilamana terdapat lebih dari 5 leukosit /LPB
sedimen saluran kemih. Adanya silinder leukosit pada sedimen air kemih
menunjukkan adanya keterlibatan ginjal. Namun adanya leukosuria tidak selalu
menyatakan adanya ISK karena dapat juga dijumpai inflamasi tanpa infeksi. 2

Hematuria dupakai oleh beberapa peneliti sebagai petunjuk adanya ISK yaitu
bilamana dijumpai 5-10 eritrosit/LPB sedimen air kemih . Hematuria dapat pula
disebabkan oleh berbagai keadaan patologis baik berupa kerusakan glomerulus
ataupun oleh sebab lain misalnya urolithiasis, tumor ginjal ataupun nekrosis
papilaris.2
Bakteriologi secara mikroskopis
Pada pemeriksaan mikroskopis dapat digunakan air kemih segar tanpa diputar atau
perwarnaan gram. Bakteri dinyatakan positif bermakna bilamana dijumpai satu
bakteri lapangan pandang minyak emersi.2
Bakteriologi secara biakan bakteri
Pemeriksaan biakan bakteri contoh air kemih dimaksudkan untuk memastikan
diagnosis ISK yaitu bila ditemukan bakteri dalam jumlah bermakna sesuai dengan
Cattell. Pada beberapa pasien ISK dapat dijumpai hitung bakteri yang lebih rendah,
hal ini dapat disebaban oleh : kontaminasi air kemih dengan antiseptic, mendapat
kemoterapi,biakan tidak sesuai , media yang menghambat pertumbuhan, pengurangan
jumlah koloni karena perlekatan bakteri dengan sel pus, obstruksi di bawah tempat
infeksi, infeksi terbatas pada uretra, infeksi yang kronik.2
Tes kimiawi
Beberapa tes kimiawi dapat dipakai untuk penyaring adanya bakteriuria diantaranya
yang paling sering ialah tes reduksi griess nitrate. Dasarnya adalah sebagian besar
mikroba kecuali enterococci, mereduksi nitrat bila dijumapi lebih dari 100.0001.000.000 baktero. Konversi ini dapat dilihat dengan perubahan warna pada uji carik.
Tes terutama dipakai untuk penyaringan atau pengamatan pada pasien rawat jalan.
Sensitivitas pemeriksaan ini 90,7% dan spesifiktas 99,1% untuk mendeteksi bakteri
gram negative. Hasil negative palsu dapat terjadi, bila pasien sebelumnya diet rendah
nitrat, diuresis yang banyak infeksi oleh enterococci, asetobacter.2
Tes plat celup( dlip slide)

Beberapa pabrik mengeluarkan biakan buatan yang berupa lempeng plastic bertangkai
Dimana pada kedua sisi permukaanya dilapisi pembenihan padat khusus. Lempeng
tersebut dicelupkan ke dalam air kemih paasien atau di genaangin air kemih. Setelah
itu lempeng tersebut dimasukka kembali ke dalam tabung plastic, tempat
penyimpanan semula dilakukan pengeraman selama pada suhu 37 derajat. Penentuan
jumlah kuman/ml dilakukan denngan membandingkan pola pertumbuhan pada
lempeng pembenihan dengan rangkaian gmabr yang memperlihatkan keadaan sesuai
denga kepadatan koloni yang sesuai dengan jumlah antara 1000 dab 10,000..000
dalam tia ml air kemih diperiksa. Caranya mudaj dilakukan, akurat. Kalian harus blnja
dan bljr perarturan

adalah jenis kuman dan kepekaanya tidak dapat diketahui.

Walaupun demikian celup ini dapat dikirim ke laboratorium.2


Working Diagnosis
Sistitis adalah inflamasi pada mukosa vesica urinaria yang disebabkan oleh
bakteri dan paling sering infeksinya disebabkan oleh urethra
Etiologi 3
1. aliran balik urine dari urethra ke dalam kandung kemih( refluks uretrovesical)
2. adanya kontaminasi fekal pada meatus urethra
3. pemakaian kateter atau sistoskop
4. mikroorganisme yang paling sering adalah E. coli, Proteus, Staphylococcus
aureus
5. bahan kimia : deterjent yang dicampurkan ke dalam air untuk rendam duduk,
deodorant yang disemprotkan ke vulva, obat-obatan misalnya siklofosfamid
yang dimasukkan intravesika untuk terapi kanker buli-buli
6. infeksi ginjal
7. protat hipertrofi karena adanya urine sisa
8. infeksi usus

9. infeksi kronis dri traktus bagian atas


10. adanya sisa urine
11. stenosis dari traktus bagian bawah
Epidemiologi3
Sistitis dilaporkan menjadi penyakit bacterial tersering. Pada tahun 2001 lebih
dari 10 juta kunjungan rumah sakit karena penyakit ini. Sistitis lebih banyak
menyerang wanita daripada pria . ini terjadi karena urethra pada wanita lebih
pendek daripada laki-laki dan menyerang semua usia. Pada survey telepon, 2000
sampel wanita berumur lebih dari 18 tahun, dan mempunyai riwayat UTI dalam
12 bulan terakhir dilaporkan hasilnya yaitu 33% pada wanita berumur 24 tahun
mempunyai riwayat infeksi saluran kemih. Pada studi terakhir dilaporkan 450
kasus sistitis interstitial yang terjadi per 100000 populasi
Dewasa

wanita

rentan

terhadap

ISK

karena

penyebabnya

saluran

urethra( saluran yang menghubungkan kandung kemih ke lingkungan luar tubuh)


perempuan lebih pendek daripada laki-laki sehingga kulit gampang masuk
Urinary tract infection atau yang dikenal dengan infeksi traktus urinarius
merupakan kasus yang sering terjadi. Insidens ISK per tahun adalah 13/10000,
ditemukan tinggi terutama pada wanita berusia muda dengan factor predisposisi
struktur anatomi dan aktif secara seksual. Kasus IKS juga sering ditemukan pada
infants dan lansia dengan factor resiko abnormalitas anatmoi serta status hormonal
Mikrooganisme penyebab ISK yang paling dominan, terhitung menyebabkan
lebih dari 85% kasus ISK adalah bakteri-bakteri gram negative yang merupakan
flora

normal

pada

traktus

gastrointestinal.

Berdasarkan

urutannya,

mikroorganisme tersering Escherichia coli, Proteus, Klebsiella, dan Enterobacter.


Selain itu, jamur juga menjadi sering agen etiologi lower ISK
ISK dibedakan menjadi infeksi saluran kemih atas dan bawah. ISK pada
bagian bawah melibatkan sistitis yang merupakan inflamasi pada kandung kemih
atau bladder. ISK pada bagian atas melibatkan pielonefritis yang merupakan

inflamasi pada ginjal serta sistem pengumpulnya yang bisa juga merupakan
ascending infection dari sistitis
Sistitis jarang terjadi pada laki-laki. Wanita lebih rentan terhadap
perkembangan sistitis karena urethra yang relative pendek membuat bakteri tidak
harus menempuh perjalanan jauh untuk memasuki kandung kemih dan karena
jarak yang relative pendek antara pembukaan urethra dan anus. Lebih dari 85%
kasus sistitis disebabkan oleh E. coli, bakteri yang ditemukan di saluran
pencernaan yang lebih rendah. Hubungan seksual dapat meningkatkan resiko
sistitis karena bakteri dapat diperkenalkan ke dalam kandung bakteri melalui
urethra selama aktivitas seksual.setelah bakteri masuk kandung kemih. Factor lain
yang berperan meningkatkan infeksi saluran kemih pada anak perempuan dan
wanita adalah kecenderungan budaya menahan urine, serta iritasi kulit lubang
urethra pada wanita sewaktu berhubungan kelamin. Wanita hamil mengalami
relaksasi semua otot polos yang dipengaruhi oleh progresteron, termasuk kandung
kemih dan ureter, sehingga mereka cenderung menahan urine di bagian bagian
tersebut, yang meningkatkan resiko pertumbuhan bakteri. Uterus pada kehamilan
juga dapat menghambat aliran urine pada keadaan tertentu. Factor protektif yang
melawan infeksi saluran kemih pada wanita adalah pembentukan selaput mucus
dependen estrogen yang membungkus kandung kemih, yang memiliki fungsi
antimikroba. Pada menopause, kadar estrogen turun dan perlindungan ini lenyap.
Pada dua jenis kelamin, proteksi terhadap infeksi saluran kemih terbentuk oleh
sifat alami urine yang asam dan berfungsi sebagai tahan antibakteri. Infeksi
saluran kemih dapat terjadi pada pria meskipun jarang terjadi. 3
Patogenesis 4,5
Beberapa factor predisposisi sistitis yang terdiri dari descending infection,
invasi mikroorganisme dari organ sekitarnya misalnya diverticulitis, trauma akibat
pembedahan, batu atau benda asing lainnya, sisa urin, neoplasma, ascending urethra
dengan instrumentasi misalnya sistoskopi, katerisasi, lain-lain penyakit di luar saluran
dan ginjal seperti diabetes mellitus.
Sistitis akut pada wanita biasanya terbatas pada daerah trigonum, paling sering
ascending urethritis, sistitis akut sering terjadi setelah melakukan senggama. Sistitis
8

akut jarang berat sehingga menimbulkan komplikasi( gangrenous sistitis atau


fulminating ulcerative. Obstruksi outlet dari kandung kemih merupakan salah satu
factor predisposisi terpenting untuk menimbulkan infeksi saluran kemih bawah( lower
urinary tract infection). Sisa urin( residual urine) merupakan media yang berguna
untuk pertumbuhan mikroorganisme.
Patogenesis terjadinya UTI terjadi melalui 2 mekanisme, yaitu penyebaran
melalui darah( hematogenous spread) dan ascending infection. Infeksi hematogenous
lebih jarang terjadi daripada ascending infection, sering ditemukan pada pasien
immunocompromised, penggunaan terapi immunosupresif dan debilitated patients.
Mikroorganisme sebagai agen etiologi pada ISK melalui penyebaran darah merupakan
organisme non enteric seperti staphylococci, jamur, virus. Infeksi hematogenous pada
ginjal sering berasal dari endocarditis infektif dan septicemia. ISK melalui
hematogenous spread melibatkan pyelonephritis dan dapat disertai dengan sistitis.
ISK melalui ascending infection sebagian besar berasal dari flora feses
sehingga disebut dengan infeksi endogenous. Pada keadaan normal, vesica urinaria
dan urin bersifat steril. Pada ISK, ada beberapa langkah yang harus terjadi sampai
akhirnya terjadilah infeksi pada pada ginjal yaitu

Kolonisasi bakteri koliform di uretra distal dan introitus( pada wanita).


Kolonisasi ini dipengaruhi oleh kemampuan dari bakteri untuk menempel
pada sel mukosa urethra. Penempelan bakteri ini melibatkan adhesion pada
fimbriae bakteri yang berinteraksi dengan reseptor di permukaan sel
uroepitelial.

Migrasi dari urethra ke vesica urinaria. Organisme dapat sangat mudah masuk
ke vesica urinaria dari urethra pada prosedur kateterisasi. Tanpa prosedur
kateterisasi atau instrumentasi lainnya, ISK lebih sering ditemukan di wanita ,
dikarenakan lebih pendeknya urethra pada wanita, absennya properto
antibacterial pada wanita seperti cairan prostat perubahan hormonal yang lebih
sering terjadi mempengatuhi perlekatan bakteri pada mukosa urethra dan
trauma uretra akibat aktivitas seksual

Multiplikasi di vesica urinaria. Secara normal, organisme yang masuk ke


vesica urinaria akan dibersihkan melalui mekanisme pengeluaran urin dan
mekanisme antibacterial. Namun, pada kasus adanya obstruksi jalan keluar,
atau disfungfsi vesica urinaria, terjadi pengosongan vesica urinaria yang tidak
sempurna dan terjadi peningkatan volume residu urim. Karena adanya stasis,
bakteri yang ada di vesica urinaria dapat bermultiplikasi dengan mudah tanpa
harus dikeluarkan melalui urin atay dieradikasikan di dinding vesica urinaria.
Oleh karena itu hal ini menjelaskan tingginya frekuensi ISK pada pasien
dengan kasus obstruksi traktus urinarius bawah.

Refluks vesicourethral. Selain obstruksi , factor predisposisi lainnya yang


berperan penting dalam pathogenesis ascending infection adalah inkompetensi
dari katup vesicourethral, yang dapat membiarkan bakteri untuk naik menuju
ureter lalu ke pelvis renalis. Secara normal, katup vesicourethral bersifat satu
arah yang mencegah terjadinya aliran balik urin dari vesica urinaria ke ureter,
khususnya pada saat micturisi( terjadi peningkatan tekanan intravesical).
Biasanya inkompetensi katup vesicoureteral dapat juga disebabkan dari infeksi
pada vesica urinaroa itu sendiri, yang dapat mengakibatkan refluks
vesicoureteral. Tanpa adanya mekanisme refluks vesicoureteral, infeksi
biasanya hanya terlokalisasi di vesica urinaria. Oleh karena itu, mayoritas
pasien dengan infeksi bakteri berulang atau persistent pada traktus urinarius
lebih sering menderita sistitis dan urethritis dibandingkan pielonefritis.
Naiknya bakteri dari kandung kemih ke ginjal disebabkan refluks vesicoureter
dan menyebarnya infeksi dari pelvis ke korteks karena refluks intrarenal.
Refluks vesicoureter adalah keadaan patologis karena tidak berfungsinya
valvula vesicoureter sehingga aliran urin naik dari kandung kemih ke ginjal.
Valvulo

vesicoureter

yang

tidak

berfungsi

ini

disebabkan

karena

memendeknya bagian intravesikal ureter yang bisa terjadi secara kongenital,


pada perkembangan embrio ureter yang abnormal sehingga orifisium ureter
terletak lebih ke lateral, edema mukosa ureter akibat infeksi, jejasan sumsum
tulang belakang, tumor pada kandung kemih dan penebalan dinding kandung
kemih

10

Refluks intrarenal. Pada saat urin dengan organisme penginfeksi mengalami


refluks hingga ke pelvis renalis, urin terinfeksi dapat masuk ke dalam
parenkim ginjal melalui duktus pada papilla renalis. Refluks intrarenal ini
lebih sering terjadi pada kutub atas dan kutub bawah ginjal, dimana papilla
renalisnya lebih datar dan cekung dibandingkan kutub tengah ginjal yang
papilanya lebih lancip dan cembung 4,5

Manifestasi Klinis6
Gejala klinis ISK tidak khas dan bahkan pada sebagian oasien tanpa gejala.
Gejala yang sering ditemukan ialah dysuria, polakisuria, terdesak kencing yang
biasanya terjadinya bersamaan. Nyeri suprapubic dan daerah pelvis. Polakisuria
terjadi akibat kandung kemih tidak dapat menampung urin lebih dari 500 ml karena
mukosa yang meradang sehingga sering kencing. Stranguria yaitu kencing yang susah
dan disertai kejang otot pinggang yang sering ditemukan pada sistitis akut. Tenesmus
ialah rasa nyeri dengan keinginan mengosongkan kandung kemih meskipun telah
kosong. Nokturia ialah cenderung kencing pada malam hari akibat kapasitas kandung
kemih menurun. Sering ditemukan enuresis nokturna sekunder yaitu ngompol pada
orang dewasa, prostatismus yaitu kesulitan memulai kencing dan kurang deras arus
kencing. Nyeri urethra, kolik ureter dan ginjal. Gejala klinis ISK sesuai dengan bagian
saluran kemih yang terinfeksi sebagai berikut

adalah pada ISK bagian bawah

terutama sistitis , keluhan pasien biasanya berupa rasa sakit atau rasa panas di urethra
pada waktu kencing dengan air kemih yang sedikit-sedikit serta ada rasa tidak enak di
daerah suprapubic. Gejala sakit kepala, malaise, mual, muntah, demam mengigil, dan
nyeri di pinggang biasanya pada infeksi traktus urinarius atas, maka dari itu pada
pasien pada kasus scenario 2 menyatakan dirinya ada demam, makanya kita sebut
dengan sistitis dengan ascending infection. 6
Penatalaksanaan 7
Non farmakologis atau suportif :
1. Usahakan untuk buang air seni pada waktu bangun di pagi hari. Buang air seni
dapat membantu mengeluarkan bakteri dari kandung kemih yang akan keluar
bersama urin.

11

2. Minum air putih minimal 8 gelas atau 2,5 liter setiap hari merupakan suatu
kewajiban
3. Sementara buah-buahan, sari buah, juice, sangat baik untuk dikonsumsi sebab
dapat melancarkan peredaran darah
4. Sebaiknya menghindari berbagai jenis makanan seperti soto jeroan sapi, es
krim, keju, milkshake, kopi
5. Menjaga dengan baik kebersihan sekitar organ intim dan saluran kencing
6. Setiap buang air seni, bersihkanlah dari depan ke belakang, hal ini untuk
mengurangi kemungkinan bakteri masuk ke saluran urin dari rectum
7. Membersihkan organ intim dengan sabun khusus yang memliki pH balanced
8. Buang air seni sesering mungkin ( setiap 3 jam)
9. Pilih toilet umum dengan toilet jongkok
10. Jangan cebok di toilet umum dari air yang ditampung di bak mandi atau
ember. Pakailah shower atau keran
11. Ganti selalu pakaian dalam setiap hari. Gunakan pakaian dalam dari bahan
katun yang menyerapa keringat agar tidak lembab
Farmakologis 7
Pada sistitis cukup diberikan terapi dengan antimikroba dosis tunggal atau jangka
pendek ( 1-3 hari), tetapi bila hal ini tidak memungkinkan, dipilih antimikroba yang
masih cukup sensitive terhadap kuman E. coli antara lain nitrofurantoin, trimethoprim
sulfametoxsazol atau ampisilin. Lini pertama pada pengobatan sistitis ini adalah
trimethoprim-sulfametoxazol selama 3 hari. Sedangkan lini kedua pengobatan sistitis
adalah fluroquinolon selama 3 hari
Kadang kadang diperlukan obat-obatan golongan antikolinergik( propantelin
bromide) untuk mencegah hiperititabilitas buli-buli dan fenazopiridin hidroklorida

12

sebagai antiseptic dari saluran kemih. Selain itu untuk mengurangi ketidaknyamanan
akibat infeksi dapat digunakan piridium( analgesic urinarius). Kalau curiga
pielonefritis, jangan diberikan nitrofurantoin.
Komplikasi 3
Sistitis jarang menimbulkan suatu komplikasi. Namun tidak menutup
kemungkinan komplikasi pada sistitis, komplikasi pada sistitis dapat merupakan
perlukaan pada kandung kemih maupun menyebabkan pielonefritis akut. Setelah
menjadi pielonefritis akut, komplikasi jauh dari sistitis adalah pembentukan abses,
penbentukan emphysematous, emphysematous pyelitis, emphysematous sistitis, gagal
ginjal akut, sepsis, nekrosis papiler ginjal, pielonefritis xantogranulomatous
Prognosis 3
Dengan pemakaian antibiotic yang tepat, prognosis sistitis baik namun sering
menyebabkan rekurensi. Pada kasus sistitis dengan komplikasi dibutuhkan
pengulangan urinalisis dan kultur urin untuk memastikan hilangnya infeksi.
Pencegahan 8
Menjaga genital area bersih dan mengingat untuk menghapus dari depan ke belakang
dapat mengurangi kesempatan untuk memperkenalkan bakteri dari wilayah dubur
uretra. Meningkatkan asupan cairan dapat memungkinkan sering buang air kecil
untuk flush bakteri dari kandung kemih. Kencing segera setelah hubungan seksual
dapat membantu menghilangkan bakteri yang mungkin telah diperkenalkan selama
hubungan seksual. Menahan diri dari kencing untuk waktu yang lama mungkin
membolehkan bakteri waktu untuk mengalikan, sehingga sering buang air kecil dapat
mengurangi risiko cystitis dalam orang-orang yang rentan terhadap infeksi saluran
kemih. Minum jus cranberry mencegah beberapa jenis bakteri untuk melampirkan ke
dinding kandung kemih dan mungkin mengurangi kesempatan infeksi. Cranberry
ekstrak tablet juga telah ditemukan untuk menjadi efektif dalam mencegah cystitis
dan adalah alternatif yang mungkin bagi mereka yang tidak suka rasa jus cranberry.8
Differential diagnosis :

13

Pielonefritis akut 8
Pielonefritis akut adalah reaksi inflamasi yang merupakan akibat infeksi
bakteri pielum parenkim ginjal, tubulus, pelvis ginjal dari jaringan interstisial dari
salah satu atau kedua ginjal. Pielonefritis dapat pula didefinisikan sebagai oeradangan
pada ginjal dan pelvis renis yang dimulai pada jaringan interstitial dan dengan cepat
meluas mengenai rubulus, glomerulus serta pembuluh darah, dan keadaan ini dapat
disebablan oleh infeksi bakteri. Manifestasi klinis pada pasien pielonefritis akut
mungkin dapat menunjukkan gejala-gejala seperti nyeri di sudut kostovertebra dengan
onset yang mendadak disertai tanda sistemik infeksi seperti menggigil, demam,
malaise, dan mual muntah. Kelainan kemih dapat terjadi, dan biasanya berupa piuria
dan bakteriuria. Selain itu gejala yang sering muncul adalah gejala yang berhubungan
dengan infeksi saluran kemih bagian bawah seperti dysuria, frekuensi atau urgensi.
Gejala lainnya seperti nyeri panggul, pinggang dan perut, suara usus yang melemah
seperti pada ileus paralitik dan hematuria dapat terjadi pada pielonefritis ini.
Pengobatan pada pielonefritis akut adalah penggunaan antibiotic yang bersifat
bakterisdal dan spectrum luas (ampisilin, gentamisin, ciproflokxacin, ofloxacin,
trimethoprim sulfametoxazole)sehingga mampu berpenetrasi ke jaringan ginjal dan
kadarnya di dalam urin tinggi. Golongan obat ini adalah golongan obat
aminoglikosida yang dapat dikombinasikan dengan aminopenisilin yang dapat
dikombinasi dengan asam klavulanat atau sulbaktam , karboksipenisilin, sefalosporin,
atau fluorkuinolon 8
Urolithiasis 8
Urolithiasis adalah pembentukan kalikuli saluran kemih atau kondisi yang
berhubungan dengan kalikuli saluran kemih. Kalkuli adalah pengerasan abnormal
biasanya terdiri dari garam mineral yang terjadi pada hewan. Kalikuli dapat terjadi di
beberapa organ manusia terutama organ yang cenderung menyimpan atau meregulasi
garam mineral atau metabolit atau mucus yang dapat mengendap dan mengeras.
Urolitiasis adalah adanya batu di saluran kemih. Saluran kemih ini dimulai dari ginjal,
ureter, vesica urinaria( kantung kemih) dan urethra. Batu saluran kemih dapat
ditemukan pada bagian-bagian tersebut dan memberikan gejala yang berbeda
walaupun memang pembentukan ini terjadi di ginjal. Batu yang paling sering adalah
batu ca oksalat, sedangkan batu struvit, batu asam urat dan batu sistin agak jarang
14

dibandingkan batu kalsium oksalat. Manifestasi klinis batu saluran kemih dipengaruhi
oleh letak batu. Berdasarkan letaknya dibagi di ginjal, ureter, vesica urinaria, dan
urethra. Di ginjal, batu saluran kemih biasanya asimptomatik. Kadang bisa disertai
hematuria( makroskopik 25% dan mikroskopik 75%) dan apabila terlalu besar
misalnya staghorn caliculi dapat menganggu fungsi fisiologis ginjal. Pada ureter
gejalanya bisa asimptomatik atau simptomatik. Gejala asimptomatik biasanya ada
apabila diameter batu kurang dari 5 mm. gejala simtomatik biasanya terjadi pada
diameter lebih dari 7 mm. contoh gejala simtomatik adalah nyeri kolik, sumbatan
saluran kemih( bisa hidronefrosis) terutama di persimpangan ureteropelvis. Bahkan
dapat terjadi hematuria. Nyeri kolik pada sumbatan ureter ini cukup khas biasanya
nyeri dimulai dari sisi pinggang belakang yang tersumbat kemudian menjalar ke perut
anterior di sisi sama dilanjutkan ke testis atau perineum. Gejala di vesica urinaria
biasanya asimptomatik dan sedikit hematuria jika sudah terlalu besar bisa sampai
menyumbat sfingter urethra. Gejala di urethra biasanya hanya gangguan pengeluaran
urin dan bisa keluar dengan sendirinya . pengobatan bisa digunakan pada batu ca
oksalat dipakai kolestiramin, suplemetasi nitrat, allopurinol bila hiperurecemia, tiazid
bila hiperkalsiuria, pada batu sistin penisilamin, alkalinasasi urin, batu struvit dipakai
mandelamin dan vit c serta antibiotic kotrimoksazol, batu asam urat dipakai
allopurinol untuk hiperurecemianya. Kalau memang sudah benar- benar parah,
diindikasikan untuk bedah atau pengambilan batu dengan menggunakan ESWL. 8
Sindroma urethra akut
Sindroma urethea akut merupakan presentasi klinis sistitis tanpa ditemukan
mikroorganisme . manifestasi klinis pada sindroma urethra akut sama seperti sistitis
yakni, dysuria, polakisuria, nyeri suprapubic.
Kesimpulan
Sistitis merupakan peradangan pada vesica urinaria yang disebabkan paling sering
oleh bakteri Escherichia coli. Manifestasi klinis pada sistitis yang sering terjadi adalah
nyeri suprapubic, dysuria, polakisuria. Pada scenario juga terdapat demam, nyeri pada
sudut costovertebra, ini menegaskan bahwa penderita sudah mengarah ke komplikasi
dari sistitis yaitu pielonefritis akut. Pengobatan pada sistitis dapat diberikan antibiotic
yaitu trimethoprim dan sulfametoxazol. Prognosa baik apabila diberikan antibotik
15

yang adekuat, akan tetapi bila sudah mengarah ke pielonefritis akut, harus langsung
benar-benar dipantau agar tidak berkomplikasi menjadi gagal ginjal akut.
Daftar pustaka
1. 1. Gleadle J. At a glance: anamnesis dan pemeriksaan fisik. Jakarta: EGC;
2003. h.98-9.
2. Sukandar E. Buku ajar: ilmu penyakit dalam jilid II. Edisi ke-5. Jakarta:
Internal publishing; 2009. h.1008-14.
3. Purnomo BB. Dasar-dasar urologi. Edisi Ke-2. Jakarta: Perpustakaan Nasional
Republik Indonesia; 2003. h.62-65.
4. Sjasuhidrajat R. Buku ajar ilmu bedah. Edisi ke-2. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC; 2004. h.756-63.
5. Price SA, Wilson LM. Patofisiologi: konsep klinis proses-proses penyakit
volume 2. Edisi ke-6. Jakarta: EGC; 2006. h.918-24.
6. Cotran, Rennke H, Kumar V. Buku ajar patologi. Edisi ke-7. Jakarta: EGC;
2007. h.591-3.
7. Corwin EJ. Buku saku patofisiologi. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC;
2009. h.718
8. Sukandar E. Nefrologi klinik. Edisi 3. Bandung: Pusat Informasi Ilmiah (PII)
Bagian Ilmu Penyakit Dalam FK UNPAD; 2006. h.26-93.

16