Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Dewasa ini penyakit Dengue Haemorhagic Fever (DHF) yang sering disebut dengan
demam berdarah oleh masyarakat awam dapat ditemukan nyaris di seluruh belahan dunia,
terutama di negara-negara tropik dan subtropik baik sebagai penyakit endemik maupun
epidemik. Dengue Haemorhagic Fever (DHF) adalah penyakit yang disebabkan oleh
virus dengue, sejenis virus yang tergolong arbovirus dan masuk ke dalam tubuh penderita
melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypty dan Aedes Albopictus. Kedua jenis nyamuk ini
terdapat hampir di seluruh pelosok Indonesia, kecuali di tempat-tempat ketinggian lebih
dari 1000 meter di atas permukaan laut. Gejala utama yang ditimbulkan yakni demam,
nyeri otot dan nyeri sendi yang disertai ruam atau tanpa ruam. Anak yang terjangkit
demam berdarah dengue di Indonesia semakin melonjak dari tahun ke tahun, bahkan
hingga menyebabkan kematian.
Untuk menurunkan angka kejadian maka diperlukan upaya dari seluruh warga
masyarakat dan peran tenaga kesehatan, khususnya tenaga keperawatan dalam mencegah
dan menanggulangi terjangkitnya demam berdarah dengue. Maka untuk mengatasi
masalah klien dengan Dengue Haemorhagic fever (DHF), perawat melakukan asuhan
keperawatan dengan menggunakan proses keperawatan.

Dalam melakukan asukhan

keperawatan yang komprehensip perawat harus memiliki pengetahuan yang baik tentang
penyakit Dengue Haemorhagic Fever (DHF), sehingga pada pelaksanaannya perawat
dapat menghindari kesalahan kesalahan yang terjadi dalam melakukan proses
keperawatan dan memberikan pelayanan asuhan keperawatan yang tepat pada klien. Oleh
karena itu, kami membuat makalah dengan judul Asuhan Keperawatan pada Pasien
dengan Dengue Haemorhagic Fever (DHF) sebagai acuan dari kelompok kami.
1.2.

Rumusan Masalah
1.2.1. Bagaimana Asuhan Keperawatan pada pasien Dengue Haemorhagic Fever (DHF)?

1.3.

Tujuan Penulisan
1.3.1. Tujuan umum
-

Mampu menerapkan asuhan keperawatan kepada pasien dengue haemorhagic


fever (DHF)
1

1.3.2. Tujuan Khusus


-

Mampu melakukan pengkajian pada pasien dengue haemorhagic fever (DHF)

Mampu memprioritaskan masalah dan menegakkan diagnose keperawatan


pada pasien dengue haemorhagic fever (DHF)

Mampu menyusun rencana rencana tindakan keperawatan dalam tindakan


nyata yang sesuai dengan masalah yang diprioritaskan

1.4.

Manfaat Penulisan
1.4.1. Bagi mahasiswa dapat dijadikan bahan referensi
1.4.2. Bagi intitusi dapat dijadikan sebagai bukti fisik
1.4.3. Meningkatkan kualitas pemberian askep pada pasien
1.4.4. Bagi masyarakat umum dapat menambah pengetahuan baru.

BAB II
PEMBAHASAN
DENGUE HAEMORHAGIC FEVER (DHF)

2.1 Definisi
Dengue haemorhagic fever (DHF) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue
sejenis virus yang tergolong arbovirus dan masuk kedalam tubuh penderita melalui
gigitan nyamuk aedes aegypty (Christantie Efendy,1995 ).
Dengue haemorhagic fever (DHF) adalah penyakit yang terdapat pada anak dan orang
dewasa dengan gejala utama demam, nyeri otot dan nyeri sendi yang disertai ruam atau
tanpa ruam.
DHF sejenis virus yang tergolong arbovirus dan masuk kedalam tubuh penderita
melalui gigitan nyamuk aedes aegypty (betina) (Seoparman, 1990).
DHF adalah demam khusus yang dibawa oleh aedes aegypty dan beberapa nyamuk
lain yang menyebabkan terjadinya demam. Biasanya dengan cepat menyebar secara
efidemik. (Sir, Patrick manson, 2001).
2.2 Etiologi
1. Virus dengue sejenis arbovirus.
2. Virus dengue tergolong dalam family Flavividae dan dikenal ada 4 serotif, Dengue
1 dan 2 ditemukan di Irian ketika berlangsungnya perang dunia ke II, sedangkan
dengue 3 dan 4 ditemukan pada saat wabah di Filipina tahun 1953-1954. Virus
dengue berbentuk batang, bersifat termoragil, sensitif terhadap in aktivitas oleh
diatiter dan natrium diaksikolat, stabil pada suhu 70oC. Keempat serotif tersebut
telah di temukan pula di Indonesia dengan serotif ke 3 merupakan serotif yang
paling banyak.
2.3 Patofisiologi
Virus akan masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk aedes aegypty dan
kemudian akan bereaksi dengan antibody dan terbentuklah kompleks virus-antibody.
Dalam sirkulasi akan mengaktivasi system komplemen. Akibat aktivasi C3 dan C5 akan
dilepas C3a dan C5a,dua peptida yang berdaya untuk melepaskan histamine dan
merupakan mediator kuat sebagai factor meningkatnya permeabilitas dinding pembuluh
darah dan menghilangkan plasma melalui endotel dinding itu.
Terjadinya trobositopenia, menurunnya fungsi trombosit dan menurunnya faktor
koagulasi (protombin dan fibrinogen) merupakan factor penyebab terjadinya perdarahan
hebat , terutama perdarahan saluran gastrointestinal pada DHF. Yang menentukan
beratnya penyakit adalah meningginya permeabilitas dinding pembuluh darah,
menurunnya volume plasma, terjadinya hipotensi, trombositopenia dan diathesis
hemorrhagic, renjatan terjadi secara akut.

Nilai hematokrit meningkat bersamaan dengan hilangnya plasma melalui endotel


dinding pembuluh darah. Dan dengan hilangnya plasma klien mengalami hipovolemik.
Apabila tidak diatasi bisa terjadi anoxia jaringan, acidosis metabolic dan kematian.
2.4 Tanda dan gejala
1. Demam tinggi selama 5 7 hari.
2. Mual, muntah, tidak ada nafsu makan, diare, konstipasi.
3. Perdarahan terutama perdarahan bawah kulit, ptechie, echymosis, hematoma.
4. Epistaksis, hematemisis, melena, hematuri.
5. Nyeri otot, tulang sendi, abdoment, dan ulu hati.
6. Sakit kepala.
7. Pembengkakan sekitar mata.
8. Pembesaran hati, limpa, dan kelenjar getah bening.
9. Tanda-tanda renjatan (sianosis, kulit lembab dan dingin, tekanan darah menurun,
gelisah, capillary refill lebih dari dua detik, nadi cepat dan lemah).
2.5 Pemeriksaan penunjang

Darah
1. Trombosit menurun.
2. HB meningkat lebih 20 %
3. HT meningkat lebih 20 %
4. Leukosit menurun pada hari ke 2 dan ke 3
5. Protein darah rendah
6. Ureum PH bisa meningkat
7. NA dan CL rendah

Serology : HI (hemaglutination inhibition test).


1. Rontgen thorax : Efusi pleura.
2. Uji test tourniket (+)

2.6 Penatalaksanaan
Tirah baring
Pemberian makanan lunak
Pemberian cairan melalui infus
Pemberian obat-obatan : antibiotic, antipiretik
Anti konvulsi jika terjadi kejang
4

Monitor tanda-tanda vital (Tekanan Darah, Suhu, Nadi, RR).


Monitor adanya tanda-tanda renjatan
Monitor tanda-tanda perdarahan lebih lanjut
Periksa HB,HT, dan Trombosit setiap hari.

2.7 Web Of Caution DHF


Arbovirus (melalui nyamuk aedes aegeypti)
Infeksi virus dengue (Viremia)
Beredar dalam aliran darah
Membentuk & melepaskan zat C3a, C5a, bradikinin,serotonin, thrombin, histamin
Merangsang PGE2 di Hipotalamus
Mengaktifkan system komplemen

Hipertermia

Peningkatan reabsorbsi Na+


Permeabilitas
dan H2O
membran meningkat

Agregasi trombosit Kerusakan endotel pembuluh darah


Resiko Syok Hipovelemik
TromboSitopeni
Merangsang mengaktivasi faktorRejatan
pembekuan
hipovelemik dan hipotensi

DIC
Resiko perdarahan

Kebocoran plasma

Perdarahan

Resiko perfusi jaringan tidak efektif

Resiko syok (Hipovolemik)

Hipoksial jaringan

Asidosis metabolik

Kekurangan volume cairan

Paru-paru

Hepar

Efusipleura

Penekanan intraabdomen

Ketidakefektifan pola nafas

Nyeri

Ke extravaskuler

Abdomen
Acites
Mual muntah

Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tu

2.8 ASUHAN KEPERAWATAN


1.PENGKAJIAN
a.

Identitas Klien
Tanggal wawancara, tanggal MRS, No. RMK, Nama, Umur, Jenis kelamin,
Suku/Bangsa, Agama,

Pendidikan,

Pekerjaan,

Status

perkawinan, Alamat,

Penanggung jawab.
b. Keluhan Utama
Alasan/keluhan yang menonjol pada pasien DHF untuk datang ke rumah sakit
adalah panas tinggi dan anak lemas
c. Riwayat Kesehatan
1) Riwayat Kesehatan Sekarang
2) Riwayat kesehatan menunjukkan adanya sakit kepala, nyeri otot, pegal seluruh
tubuh, sakit pada waktu menelan, lemah, panas, mual, dan nafsu makan
menurun.
3) Riwayat Kesehatan masa lalu
Pasien biasa mengalami serangan DHF dengan type Virus lain
4) Riwayat Kesehatan Keluarga
Memiliki riwayat saudara atau keluarga dengan penyakit yang sama dengan
pasien
d. Pola Kebiasaan
1) Nutrisi dan metabolisme : frekuwensi , jenis, pantangan, nafsu makan
berkurang, nafsu makan menurun
2) Eliminasi alvi ( buang air besar ) kadang-kadang anak mengalami
diare/kontifasi.sementara DHF pada grade III IV sering terjadi melena.
3) Eliminasi urine ( buang air kecil ) perlu dikaji apakah sering kencing,
sedikit/tidak pada DHF grade IV hematuri
4) Tidur dan istirahat, anak sering menegalami kurang tidur karena sering
mengalami sakit / nyeri otot dan persendian sehinga kualitas dan kuantitas
tidur maupun istirahat kurang
5) Kebersihan diri, Upaya keluarga untuk menjaga keberihan diri dan linkungan
cenderung kurang terutama untuk membersihkan tempat sarang nyamuk
aedes aegypti.
6) Pengaturan suhu tubuh, mengkaji suhu tubuh pasien apakah terdapat tanda
gejala hypertermi seperti badan terasa hangat, menggigil, berkeringat dan
kemerahan serta data penunjang lainnya.

7) Perilaku dan tanggapan bila ada keluarga yang sakit serta upaya untuk
e.

menjaga kesehatan
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik, meliputi inspeksi, palpasi, auskultrasi, dan perkusi, dari
ujung rambut sampai ujung kaki.berdasarkan tingkatan ( grade ) DHF, keadaan fisik
anak adalah sebagai berikut :
1) Grade I

: kesadaran kompasmenthis, keadaan umum lemah, tanda-

tanda vital dan nadi lemah.


2) Grade II
: kesadaran kompasmenthis, keadaan umum lemah, ada
perdarahan sepontan,petikie, perdarahan gusi, dan telinga, serta nadi lemah,
kecil dan tidak teratur
3) Grade III
: kesadaran apatis, samnollen, keadaan umum lemah,nadi
lemah, kecil dan tidak teratur
4) Grade IV
: kesadaran koma, tanda-tanda vital : nadi tidak teraba, tensi
tidak teratur, pernafasan tidak teratur, ekstermitas dingin, berkeringat dan kulit
tanpak biru.
Sistem Integumen
1) Adanya petekie pada kulit, turgor kulit menurun dan muncul keringat dingin
dan lembab.
2) kuku sianosis / tidak
3) kepala dan leher. Kepela terasa nyeri, muka tanpak kemerahan karena demam,
mata anemis, hidung kadang mengalami perdarahan ( epistaksis ) padsa grade
II,III dan IV. Pada mulut didapatkan mukosa mulut kering, terjadi perdarahan
gusi dan telinga
4) Dada, bentuk simentris dan kadang-kadang terasa sesak, pada foto torax
terdapat adanya cairan yang tertimbun pada paru sebelah kanan (efusi plaura ).
Rares (+), Ronchi (+), yang biasanya terdapat pada grade III dan IV
5) Abdomen mengalami nyeri tekan, pembesran hati ( hepatomegali ) dan esites.
6) Ekstremitas, akral dingin, serta terjadi nyeri otot, sendi serta tulang

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diagnosa keperawatan yang dapat ditemukan pada pasien DHF :
a Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses penyakit (viremia).
b Nyeri berhubungan dengan proses patologis penyakit.
c Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan
dengan mual, muntah, anoreksia.
8

d Kurangnya

volume

cairan

tubuh

berhubungan

dengan

peningkatan

permeabilitas dinding plasma.


e Gangguan aktivitas sehari-hari berhubungan dengan kondisi tubuh yang
lemah.
f Resiko terjadi syok hypovolemik berhubungan dengan kurangnya volume
cairan tubuh.
g Resiko infeksi berhubungan dengan tindakan invasif (pemasangan infus).
h Resiko terjadi perdarahan lebih lanjut beorhubungan dengan trombositopenia.
i Kecemasan berhubungan dengan kondisi pasien yang memburuk dan
perdarahan yang dialami pasien.
3. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN
a. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses penyakit (viremia).
Tujuan :
-

Suhu tubuh normal (36 37C).


Pasien bebas dari demam.

Intervensi :
1) Kaji saat timbulnya demam.
Rasional : untuk mengidentifikasi pola demam pasien.
2) Observasi tanda vital (suhu, nadi, tekanan darah, pernafasan) setiap 3 jam.
Rasional : tanda vital merupakan acuan untuk mengetahui keadaan umum pasien.
3) Anjurkan pasien untuk banyak minum (2,5 liter/24 jam.7)
Rasional : Peningkatan suhu tubuh mengakibatkan penguapan tubuh meningkat
sehingga perlu diimbangi dengan asupan cairan yang banyak.
4) Berikan kompres hangat.
Rasional : Dengan vasodilatasi dapat meningkatkan penguapan yang mempercepat
penurunan suhu tubuh.
5) Anjurkan untuk tidak memakai selimut dan pakaian yang tebal.
Rasional : pakaian tipis membantu mengurangi penguapan tubuh.
6) Berikan terapi cairan intravena dan obat-obatan sesuai program dokter.
Rasional : pemberian cairan sangat penting bagi pasien dengan suhu tinggi.
b. Nyeri berhubungan dengan proses patologis penyakit.
Tujuan :
- Rasa nyaman pasien terpenuhi.
- Nyeri berkurang atau hilang.
Intervensi :
1) Kaji tingkat nyeri yang dialami pasien
Rasional : untuk mengetahui seberapa berat nyeri yang dialami pasien.
9

2) Berikan posisi yang nyaman, usahakan situasi ruangan yang tenang.


Rasional : Untuk mengurangi rasa nyeri dan memberi rasa nyaman.
3) Alihkan perhatian pasien dari rasa nyeri.
Rasional : Dengan melakukan aktivitas lain pasien dapat melupakan perhatiannya
terhadap nyeri yang dialami.
4) Berikan obat-obat analgetik
Rasional : Analgetik dapat menekan atau mengurangi nyeri pasien.
c. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi, kurang dari kebutuhan berhubungan dengan
mual, muntah, anoreksia.
Tujuan
- Kebutuhan nutrisi pasien terpenuhi, pasien mampu menghabiskan makanan sesuai
dengan posisi yang diberikan /dibutuhkan.
Intervensi :
1) Kaji keluhan mual, sakit menelan, dan muntah yang dialami pasien.
Rasional : Untuk menetapkan cara mengatasinya.
2) Kaji cara / bagaimana makanan dihidangkan.
Rasional : Cara menghidangkan makanan dapat mempengaruhi nafsu makan
pasien.
3) Berikan makanan yang mudah ditelan seperti bubur.
Rasional : Membantu mengurangi kelelahan pasien dan meningkatkan asupan
makanan .
4) Berikan makanan dalam porsi kecil dan frekuensi sering.
Rasional : Untuk menghindari mual.
5) Catat jumlah / porsi makanan yang dihabiskan oleh pasien setiap hari.
Rasional : Untuk mengetahui pemenuhan kebutuhan nutrisi.
6) Berikan obat-obatan antiemetik sesuai program dokter.
Rasional : Antiemetik membantu pasien mengurangi rasa mual dan muntah dan
diharapkan intake nutrisi pasien meningkat.
7) Ukur berat badan pasien setiap minggu.
Rasional : Untuk mengetahui status gizi pasien
d. Kurangnya volume cairan tubuh berhubungan dengan peningkatan permeabilitas
dinding plasma.
Tujuan
- Volume cairan terpenuhi.
Intervensi :
1) Kaji keadaan umum pasien (lemah, pucat, takikardi) serta tanda-tanda vital
Rasional : Menetapkan data dasar pasien untuk mengetahui penyimpangan
dari keadaan normalnya.
10

2) Observasi tanda-tanda syock.


Rasional : Agar dapat segera dilakukan tindakan untuk menangani syok.
3) Berikan cairan intravena sesuai program dokter
Rasional : Pemberian cairan IV sangat penting bagi pasien yang mengalami
kekurangan cairan tubuh karena cairan tubuh karena cairan langsung masuk ke
dalam pembuluh darah.
4) Anjurkan pasien untuk banyak minum.
Rasional : Asupan cairan sangat diperlukan untuk menambah volume cairan
tubuh.
5) Catat intake dan output.
Rasional : Untuk mengetahui keseimbangan cairan.
e. Gangguan aktivitas sehari-hari berhubungan dengan kondisi tubuh yang lemah.
Tujuan :
-

Pasien mampu mandiri setelah bebas demam


Kebutuhan aktivitas sehari-hari terpenuhi

Intervensi :
1) Kaji keluhan pasien.
Rasional : Untuk mengidentifikasi masalah-masalah pasien.
2) Kaji hal-hal yang mampu atau yang tidak mampu dilakukan oleh pasien.
Rasional : Untuk mengetahui tingkat ketergantungan pasien dalam memenuhi
kebutuhannya.
3) Bantu pasien untuk memenuhi kebutuhan aktivitasnya sehari-hari sesuai
tingkat keterbatasan pasien.
Rasional : Pemberian bantuan sangat diperlukan oleh pasien pada saat
kondisinya lemah dan perawat mempunyai tanggung jawab dalam pemenuhan
kebutuhan sehari-hari pasien tanpa mengalami ketergantungan pada perawat.
4) Letakkan barang-barang di tempat yang mudah terjangkau oleh pasien.
Rasional : Akan membantu pasien untuk memenuhi kebutuhannya sendiri
tanpa bantuan orang lain.
f. Resiko terjadinya syok hypovolemik berhubungan dengan kurangnya volume cairan tubuh
Tujuan
- Tidak terjadi syok hipovolemik.
- Tanda-tanda vital dalam batas normal.
- Keadaan umum baik.
Intervensi :
1) Monitor keadaan umum pasien

11

Rasional : memantau kondisi pasien selama masa perawatan terutama pada


saat terjadi perdarahan sehingga segera diketahui tanda syok dan dapat segera
ditangani.
2) Observasi tanda-tanda vital tiap 2 sampai 3 jam.
Rasional : tanda vital normal menandakan keadaan umum baik.
3) Monitor tanda perdarahan.
Rasional : Perdarahan cepat diketahui dan dapat diatasi sehingga pasien tidak
sampai syok hipovolemik.
4) Chek haemoglobin, hematokrit, trombosit
Rasional : Untuk mengetahui tingkat kebocoran pembuluh darah yang dialami
pasien sebagai acuan melakukan tindakan lebih lanjut.
5) Berikan transfusi sesuai program dokter.
Rasional : Untuk menggantikan volume darah serta komponen darah yang
hilang.
6) Lapor dokter bila tampak syok hipovolemik.
Rasional : Untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut sesegera mungkin.
g. Resiko infeksi berhubungan dengan tindakan invasif (infus).
Tujuan :
- Tidak terjadi infeksi pada pasien.
Intervensi :
1) Lakukan teknik aseptik saat melakukan tindakan pemasangan infus.
Rasional : Tindakan aseptik merupakan tindakan preventif terhadap
kemungkinan terjadi infeksi.
2) Observasi tanda-tanda vital
Rasional : Menetapkan data dasar pasien, terjadi peradangan dapat diketahui
dari penyimpangan nilai tanda vital.
3) Observasi daerah pemasangan infus.
Rasional : Mengetahui tanda infeksi pada pemasangan infus.
4) Segera cabut infus bila tampak adanya pembengkakan atau plebitis.
Rasional : Untuk menghindari kondisi yang lebih buruk atau penyulit lebih
lanjut.
h. Resiko terjadinya perdarahan lebih lanjut berhubungan dengan trombositopenia.
Tujuan :
- Tidak terjadi tanda-tanda perdarahan lebih lanjut.
- Jumlah trombosit meningkat.
Intervensi :
1) Monitor tanda penurunan trombosit yang disertai gejala klinis.
Rasional : Penurunan trombosit merupakan tanda kebocoran pembuluh darah.
12

2) Anjurkan pasien untuk banyak istirahat


Rasional : Aktivitas pasien yang tidak terkontrol dapat menyebabkan
perdarahan.
3) Beri penjelasan untuk segera melapor bila ada tanda perdarahan lebih lanjut.
Rasional : Membantu pasien mendapatkan penanganan sedini mungkin.
4) Jelaskan obat yang diberikan dan manfaatnya.
Rasional : Memotivasi pasien untuk mau minum obat sesuai dosis yang
diberikan.
i. Kecemasan berhubungan dengan kondisi pasien yang memburuk dan perdarahan
yang dialami pasien.
Tujuan :
- Kecemasan berkurang.
Intervensi :
1) Kaji rasa cemas yang dialami pasien.
Rasional : Menetapkan tingkat kecemasan yang dialami pasien.
2) Jalin hubungan saling percaya dengan pasien.
Rasional : Pasien bersifat terbuka dengan perawat.
3) Tunjukkan sifat empati
Rasional : Sikap empati akan membuat pasien merasa diperhatikan dengan
baik.
4) Beri kesempatan pada pasien untuk mengungkapkan perasaannya
Rasional : Meringankan beban pikiran pasien.
5) Gunakan komunikasi terapeutik
Rasional : Agar segala sesuatu yang disampaikan diajarkan pada pasien
memberikan hasil yang efektif.

13

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dengue Haemorhagic Fever (DHF) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus
dengue, sejenis virus yang tergolong arbovirus dan masuk ke dalam tubuh penderita melalui
gigitan nyamuk Aedes Aegypty dan Aedes Albopictus. Dimana tanda dan gejalanya:
1. Demam tinggi selama 5 7 hari.
2. Mual, muntah, tidak ada nafsu makan, diare, konstipasi.
3. Perdarahan terutama perdarahan bawah kulit, ptechie, echymosis, hematoma.
4. Epistaksis, hematemisis, melena, hematuri.
5. Nyeri otot, tulang sendi, abdoment, dan ulu hati.
6. Sakit kepala.
7. Pembengkakan sekitar mata.
8. Pembesaran hati, limpa, dan kelenjar getah bening.
9. Tanda-tanda renjatan (sianosis, kulit lembab dan dingin, tekanan darah menurun,
gelisah, capillary refill lebih dari dua detik, nadi cepat dan lemah).

14