Anda di halaman 1dari 5

APLIKASI THERMOCHROMIC PIGMENT PADA PERMUKAAN KAIN PAKAIAN BAYI

SEBAGAI INDIKATOR SUHU TUBUH


THERMOCHROMIC PIGMENT APPLICATION ON BABY CLOTHES SURFACE AS
INDICATOR OF BODY TEMPERATURE
Rijali Nurman1, Riska Wulandari2 dan Syaeful Maruf3
Kimia Tekstil, Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil, Bandung, 40272, Indonesia
E-mail: rijali.nurman@gmail.com
ABSTRAK
Panas demam yang dialami bayi diusia kurang dari satu tahun selalu menjadi masalah yang mengkhawatirkan
bagi setiap orang tua dimanapun, oleh karena itu penanganan tanggap darurat yang bisa mengidentifikasi gejala
sakit panas anak bisa mencegah gejala demam berkembang menjadi lebih serius. Artikel ini berisi tinjauan
literatur mengenai pengembangan produk pakaian bayi sebagai media komunikasi antara bayi dengan orang
tuanya apabila terjadi kenaikan suhu tubuh yang tidak normal dengan terjadinya perubahan warna motif di kain
o
o
pakaian bayi tersebut pada rentang suhu 36 C 41 C. Proses penelitian pertama dilakukan pencapan pada
kain kapas untuk pakaian bayi menggunakan pasta cap yang telah dicampur dengan thermochromic pigment,
kemudian dilakukan evaluasi yaitu uji kandungan zat, ketahanan luntur dan uji efek thermochromic setelah
proses pencucian.
Kata kunci: Termokromik, pigmen, indikator suhu, pakaian bayi
ABSTRACT
The fever of infants always be the most terrifying problems for every parent in the world, therefore the quick
response to identify the fever symptom can prevent being worst. The article contain a literature review about
product development for baby wear as the communication media between infant and their parents whenever the
o
temperature of body is raising above normal by a color change in the pattern of the baby clothes between 36 C
o
41 C. The preliminary study was conducted printing process on cotton fabric for baby wear using a binder which
has been mixed with thermochromic pigment , then to evaluate the test substance, such as colour fastness and
thermochromic test effect after the washing process.
Keywords: Thermochromic, pigment, indicator temperature, baby wear

1. PENDAHULUAN
Penerapan Thermochromic pigment pada pakaian bayi sebagai indikator suhu tubuh ini bisa dikatakan masih
baru untuk diteliti di bidang produk tekstil dalam dunia medis. Terlebih lagi konsep produk yang ditawarkan pada
penelitian ini memberikan kemudahan serta cara baru untuk bisa lebih memahami dan berinteraksi dengan
kondisi bayi yang belum bisa berkomunikasi. Di Indonesia aplikasi teknologi ini belum banyak dikembangkan,
sehingga masih merupakan area yang menjanjikan untuk diteliti.
Pada penelitian ini sifat Thermochromic pigment pada pakaian bayi diaplikasikan untuk mendeteksi kondisi suhu
bayi di saat panas demam. Pakaian ini akan memberikan informasi mengenai kondisi suhu tubuh bayi, warna
motif pada pakaian akan berubah pada saat suhu tubuh bayi meningkat. Temperatur yang terdapat pada tinta
akan berkisar pada suhu normal pada tubuh, sekitar 36,5-37 derajat Celcius [1]. Apabila suhu meningkat, warna
motif akan berubah.

Untuk itu tujuan penelitian ini adalah menciptakan produk pakaian bayi dengan inovasi teknologi temperatur
indikator yang ditunjukan oleh perubahan warna pada kain pakaian bayi tersebut, dengan tanpa
mengesampingkan aspek kenyamanan serta keamanan penggunaanya yang mengacu pada Peraturan Menteri
Perindustrian Republik Indonesia Nomor: 07/M-IND/PER/2/2014 tentang Pemberlakuan Standar Nasional
Indonesia (SNI) Persyaratan Zat warna Azo, Kadar Formaldehida dan Kadar Logam Terekstraksi pada kain
untuk pakaian bayi secara wajib [2, 3].

1.1 DEMAM
Demam pada anak merupakan hal yang paling sering dikeluhkan oleh orang tua mulai di ruang praktek dokter
sampai ke unit gawat darurat (UGD) anak. Demam pada umumnya merupakan respon tubuh terhadap suatu
infeksi. Umur anak dan tanda serta gejala yang muncul sangat penting dalam menentukan kemungkinan adanya
penyakit yang serius. Penilaian awal akan membantu menentukan beratnya penyakit anak dan urgensi
pengobatannya.
o

Menurut kamus kedokteran Stedmans edisi ke-25, demam adalah peningkatan suhu tubuh diatas normal (98,6
o
F/ 37 C). Sedangkan menurut edisi ke-26 dalam kamus yang sama, demam merupakan respon fisiologis tubuh
terhadap penyakit yang di perantarai oleh sitokin dan ditandai dengan peningkatan suhu pusat tubuh dan
aktivitas kompleks imun. Dalam protokol Kaiser Permanente Appointment and Advice Call Center definisi
o
o
demam untuk semua umur, demam didefinisikan temperatur rektal diatas 37 C, aksilar diatas 37,5 C dan diatas
o
o
o
38,2 C, sedangkan demam tinggi bila suhu tubuh diatas 39,5 C dan hiperpireksia bila suhu >41,1 C[1].

Gambar 1. Gambar bagian tubuh yang mengalami perubahan

suhu saat timbul gejala panas demam.

1.2 PAKAIAN BAYI


Pakaian bayi pada umumnya ialah menggunakan kain berbahan catoon dikarenakan memiliki daya serap yang
baik dan memberikan kenyamanan lebih yang mana terasa sejuk dan juga ketahanan mulurnya cukup baik
terhadap pencucian. Beberapa macam bahan yang dapat digunakan sebagai pakaian bayi selain dari bahan
catoon antara lain spandek, flannel, dan lain-lain. Selain itu adapula bahan campuran yang digunakan seperti
polyester-kapas yang mana dibutuhkan sifat polyester yang dapat menyimpan panas sehingga pakaian menjadi
terasa lebih hangat, bahan ini khususnya digunakan untuk bayi yang baru lahir.

1.3 THERMOCHROMIC PIGMENT


Thermochromic pigment menawarkan potensi yang menarik dari segi estetika maupun fungsional pada produk
tekstil khususnya dalam ruang lingkup teknologi smart textile [4, 5]. Termokromik di definisikan sebagai zat yang
dapat berubah warna apabila dipengaruhi oleh suhu dan dijelaskan pada gambar dibawah ini

Gambar 2. Gambar perubahan zat warna thermochromic pigmen

Termokromik dikembangkan belum lama ini dan terutama diaplikasikan sebagai pewarna plastik atau tekstil
untuk aplikasi komersial yang luas. Dua tipe dasar dari tinta termokromik adalah kristal cair dan pewarna leuco,
jenis Kristal cair lebih jarang digunakan daripada pewarna leuco karena kesulitan dalam produksi dan perlunya
pelatihan khusus untuk menggunakannya. Tipe kristal cair lebih sensitif terhadap perubahan suhu daripada
pewarna leuco, yang berarti bahwa mereka digunakan dalam percobaan halus di mana perubahan suhu yang
kecil harus diperhatikan sehingga mendapatkan hasil yang lebih akurat. Sedangkan Pewarna Leuco lebih
banyak digunakan dari pada kristal cair dalam berbagai produk yang berbeda yang hanya memerlukan
keakuratan pembacaan suhu yang tidak terlalu tinggi[6, 7].
Tinta termokromik memiliki beberapa kegunaan, mulai dari yang tidak menentu sampai dengan hal yang lebih
serius. Beberapa penggunaan diantaranya pada dunia fesyen yang sudah sangat umum pada kaos atau cincin
mood yang berubah-ubah warna sesuai kondisi fisik yang ia alami, contoh lainya digunakan untuk mengukur
suhu cairan dalam cangkir kopi dan mengetahui kapan harus mengambil sebotol sirup dari microwave yang
ditunjukan oleh label pada botol tersebut. Lain lagi pada hal yang lebih serius, salah satu contohnya pada
indikator suhu seseorang dengan selembar kertas yang ditempelkan di dahi, ataupun sebagai indikator suhu
yang ditempelkan pada mesin produksi di pabrik-pabrik industry[8, 9, 10].
2. METODE PENELITIAN
Dalam melakukan penelitian Aplikasi Thermochromic Pigment Pada Permukaan Kain Pakaian Bayi Sebagai
Indikator Suhu Tubuh, maka dilakukan langkah-langkah:

2.1 STUDI LITERATUR


Studi literatur dilakukan dengan mencari data dari berbagai sumber di internet yang berhubungan dengan
permasalahan untuk memperluas wawasan teoritis serta mendukung rancangan penelitian yang akan dilakukan.

2.2 PENGUJIAN
Pengujian dilakukan pada kain contoh uji yang telah dilakukan pencapan blok motif tinta thermochromic dengan
campuran pengental Rubber GL perbandingan thermochromic pigment : pengental adalah 1 : 4, dilakukan
pengujian pada kain contoh uji yaitu pengujian rentang warna menggunakan perendaman air dengan suhu yang
bervariasi dan pengujian ketahanan luntur akibat pencucian.

2.3 LOKASI PENELITIAN


Lokasi Penelitian dan pengujian ini dilakukan di labortorium pencapan, gedung manunggal Sekolah Tinggi
Teknologi Tekstil Bandung.

2.4 DIAGRAM ALIR PERCOBAAN

Perumusan
Masalah

Studi Pustaka

Pengumpulan
Data

Percobaan

Pengolahan Data

Analisa data

Penarikan
Kesimpulan

Gambar 3. Diagram Alir Metode Penelitian

3. HASIL DAN PEMBAHASAN


3.1 UJI PENCUCIAN
Kain contoh uji dengan proses curing mengalami penurunan ketuaan warna dibandingkan dengan kain contoh
uji yang tidak dilakukan proses curing dikarenakan kadar air juga zat warna yang ada pada permukaan telah
diuapkan oleh suhu panas yang membuat kenampakan dari ketuaan warna pada motif menurun.
Kain contoh uji dengan proses curing setelah dicuci tidak mengalami penurunan ketuaan warna dari
sebelumnya dan motif tidak rusak / luntur dikarenakan proses curing membuat zat warna masuk kedalam serat
dan saling berikatan karena dipengaruhi oleh suhu panas dari mesin stenter.
o

Zat warna thermochromic tidak mengalami kerusakan hingga suhu diatas 100 C, menyatakan zat warna
thermochromic pigment yang digunakan memiliki ketahanan yang cukup baik untuk diterapkan pada produk
tekstil pakaian.
Efek Thermochromic pada kain contoh uji yang telah dilakukan proses curing menjadi lebih sensitive terhadap
suhu ruangan, dikarenakan uap air didalam pasta yang dapat memperlambat reaksi pigmen terhadap
rangsangan suhu disekitar telah berkurang oleh proses drying dan curing.

3.2 PENGUJIAN RENTANG WARNA


Pengujian rentang warna menggunakan perendaman air dengan suhu yang bervariasi yang kemudian kenaikan
suhu didalam air diukur menggunakan thermometer serta kenampakan warna pada kain contoh uji dicatat pada
setiap rentang suhu yang berbeda, maka didapatkan hasil sebagai berikut:
- Suhu 10 - 15oC : Berwarna biru tua
o
- Suhu 15 - 20 C: Biru Muda
o
- Suhu 20 - 25 C: Biru Kehijauan
o
- Suhu 25 - 30 C: Hijau
o
- Suhu 30 - 35 C: Hijau Kekuningan
o
- Suhu 35 - 40 C: Kuning Pudar
o
- Suhu > 40 C: Warna Pudar
Dari data tersebut maka suhu yang digunakan untuk mengidentifikasi panas tubuh ialah pada rentang suhu 35 o
40 C yang mana warna motif akan berubah dari Hijau kekuningan hingga menjadi kuning pudar.

4. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan yang telah diuraikan sebelumnya, maka dapat ditarik
kesimpulan untuk mendapatkan hasil yang maksimal diperlukan proses pencampuran pigmen dan binder yang
baik serta waktu dan suhu curing yang tepat, sedangkan untuk dapat digunakan sebagai indikator suhu tubuh
pada pakaian bayi rentang warna yang dipakai ialah saat warna hijau kekuningan hingga menjadi kuning pudar
bila suhu semakin meningkat.

DAFTAR PUSTAKA
[1] dr. Nia Kania, SpA., MKes Penataleksanaan demam pada anak (2001)
[2] Peraturan Menteri Perindustrian Republik Indonesia Nomor: 07/M-IND/PER/2/2014 tentang Pemberlakuan Standar Nasional
Indonesia (SNI) Persyaratan Zat warna Azo, Kadar Formaldehida dan Kadar Logam Terekstraksi pada kain untuk pakaian bayi
secara wajib.
[3] SNI 08-7036-2004 tentang Cara uji kadar formaldehida bebas pada bahan tekstil
[4] Robert M Christie, Sara Robertson and Sarah Taylor Design Concepts for a Temperature-sensitive Environment Using
Thermochromic Color Change (2007) 1-11.
[5] M. A. Chowdhury, M. Joshi and B. S. Butola, Photochromic and Thermochromic Colorants in Textile Applications (2014) 115-119
[6] Marjan Kooroshnia, Leuco Dye-Based Thermochromic Inks: Recipes as a Guide for Designing textile surfaces (2013) 1-6
[7] Handbook of Thermochromic liquid crystal Technology, Hallcrest
[8] Ondrej Pank, The study of thermochromic offset inks (2009) 248-252
[9] Wrap Org, Thermochromic inks and reducing household food waste (2013)
[10] Smart Colours, Technology Enhacement Programme