Anda di halaman 1dari 29

PSCA

(Perdarahan Saluran Cerna bagian Atas)


Oleh : dr.Agung Prahara

Definisi

Perdarahan saluran cerna bagian atas


adalah perdarahan saluran makanan
proksimal mulai dari esofagus, gaster,
duodenum, jejunum proksimal (Batas
anatomik di Ligamentum Treitz).

Epidemiologi
Memiliki prevalensi sekitar 75 % hingga
80% dari seluruh kasus perdarahan akut
saluran cerna.
Angka kematian dari perdarahan akut
saluran cerna, masih berkisar 3 % hingga
10%
Peptic ulcers adalah penyebab terbanyak
pada pasien perdarahan saluran cerna,
terhitung sekitar 40 % dari seluruh kasus.

Penyebab lainnya seperti erosi gastric (15 %


- 25 % dari kasus), perdarahan varises (5 %
- 25 % dari kasus).
Mallory-Weiss Tear (5 % - 15 % dari kasus).
Penggunaan aspirin ataupun NSAIDs
memiliki prevalensi sekitar 45 % hingga 60
% dari keseluruhan kasus perdarahan akut.

Di Indonesia perdarahan karena ruptura


varises gastroesofagus merupakan
penyebab tersering yaitu sekitar 50-60%.
Gastritis erosif hemoragika sekitar 25-30%.
Tukak peptik sekitar 10-15%
Mortalitas secara keseluruhan masih tinggi
yaitu sekitar 25%, kematian pada penderita
ruptur varises bisa mencapai 60%
sedangkan kematian pada perdarahan non
varises sekitar 9-12%.

Etiologi dan Patofisiologi

Duodenal ulcer
Gastric atau duodenal erosions
Varices
Gastric ulcer
Mallory Weiss tear
Erosive esophagitis
Angioma
Arteriovenous malformation
Gastrointestinal stromal tumors

Terjadinya penyakit atau kelainan saluran


cerna bagian atas disebabkan oleh
ketidakseimbangan faktor agresif dan faktor
defensif, dimana faktor agresif meningkat
atau faktor defensifnya menurun.

Faktor agresif antara lain asam lambung,


pepsin, refluks asam empedu, nikotin, obat
anti inflamasi non steroid (OAINS) dan obat
kortikosteroid, infeksi Helicobacter pylori
dan faktor radikal bebas

Faktor defensif yaitu aliran darah mukosa


yang baik, sel epitel permukaan mukosa
yang utuh, prostaglandin, musin atau
mukus yang cukup tebal, sekresi
bikarbonat, motilitas yang normal,
impermeabilitas mukosa terhadap ion H+
dan regulasi pH intra sel.

Varises esofagus adalah vena collateral yang


berkembang sebagai hasil dari hipertensi
sistemik ataupun hipertensi segmental portal.

kematian sel dalam hepar mengakibatkan


peningkatan tekanan vena porta akibatnya
terbentuk saluran kolateral dalam submukosa
esophagus dan rektum serta pada dinding
abdomen anterior untuk mengalihkan darah dari
sirkulasi splenik menjauhi hepar meningkatnya
tekanan dalam vena ini, maka vena tersebut
menjadi dilatasi dan timbul varises.

Penyebab perdarahan non varises yang banyak di


Indonesia yaitu gastritis erosif, tukak peptik.
Gastritis erosif dan tukak peptik ini berhubungan
dengan pemakaian obat anti inflamasi non steroid
(OAINS), infeksi Helicobacter pylori dan stres.

Faktor yang meningkatkan resiko penyakit tukak


gaster dari penggunaan NSAIDs : usia, jenis
kelamin, dosis yang tinggi atau kombinasi dari
NSAIDs, NSAIDs dalam jangka waktu yang lama,
penggunaan disertai antikoagulan, dan severe
comorbid illness.

Sindroma Mallory-Weiss adalah sebuah kondisi


di mana lapisan mukosa di bagian distal
esophagus pada gastroesophageal junction
mengalami laserasi yang dapat menyebabkan
hematemesis (muntah darah).
Perdarahan muncul ketika luka sobekan telah
melibatkan esophageal venous atau arterial
plexus.
Sindrom Mallory-Weiss biasanya sekunder
terhadap peningkatan mendadak tekanan
intraabdominal

Manifestasi Klinik
Manifestasi klinis pasien dapat berupa :
Hematemesis.
Melena.
Anemia, sinkope, instabilitas hemodinamik
karena hipovolemik dan gambaran klinis
dari komorbid seperti penyakit hati kronis,
penyakit paru, penyakit jantung, penyakit
ginjal.

Diagnosis
Anamnesis
Riwayat penyakit hati kronis, riwayat
dispepsia,riwayat mengkonsumsi
NSAID,obat rematik,alkohol,jamu
jamuan,obat untuk penyakit jantung,obat
stroke. Kemudian ditanya riwayat penyakit
ginjal,riwayat penyakit paru dan adanya
perdarahan ditempat lainnya.

Pemeriksaan Fisik

Tekanan darah dan nadi posisi baring


Perubahan ortostatik tekanan darah dan nadi
Ada tidaknya vasokonstriksi perifer (akral
dingin)
Kelayakan nafas
Tingkat kesadaran
Produksi urin.

Pemeriksaan fisik lainnya yang penting


yaitu masa abdomen, nyeri abdomen,
rangsangan peritoneum.
colok dubur.
Naso Gastric Tube (NGT).

Pemeriksaan Penunjang:
Elektrokardiagram (terutama pasien berusia
> 40 tahun)
BUN, kreatinin serum
Elektrolit (Na, K, Cl)
Endoskopi
Angiograpy
Conventional radiograpic imaging.

Penatalaksanaan
STABILISASI HEMODINAMIK
Pada kondisi hemodinamik tidak stabil,
berikan infus cairan kristaloid (misalnya
cairan garam fisiologis dengan tetesan
cepat dengan menggunakan dua jarum
berdiameter besar (minimal 16 G).

Transfusi darah diberikan pada


keadaan berikut ini :
Perdarahan dalam kondisi hemodinamik
tidak stabil
Perdarahan baru atau masih berlangsung
dan diperkirakan jumlahnya 1 liter atau
lebih
Perdarahan baru atau masih berlangsung
dengan hemoglobin kurang dari 10 gr%
atau hematokrit kurang dari 30%
Terdapat tanda-tanda oksigenasi jaringan
yang menurun

Kumbah lambung
Salah satu usaha menghentikan
perdarahan yang sudah lama dilakukan
adalah kumbah lambung lewat pipa
nasogastrik dengan air suhu kamar.

Pemberian vitamin K
Pemberian vitamin K pada pasien dengan
penyakit hati kronis yang mengalami
perdarahan PSCA diperbolehkan, dengan
pertimbangan pemberiaan tersebut tidak
merugikan dan relatif murah.

Vasopressin
Vasopressin dapat menghentikan
perdarahan SCBA lewat efek vasokonstriksi
pembuluh darah splanknik.
Pemberiaan vasopressin dilakukan dengan
mengencerkan sediaan vasopressin 50 unit
dalam 100 ml dekstrose 5%, diberikan 0,5-1
mg/menit/IV selama 20-60 menit dan dapat
diulang tiap 3 sampai 6 jam

Somatostatin dan analognya (octreotid)


Somatostatin dan analognya (octreotid) diketahui
dapat menurunkan aliran darah splanknik,
khasiatnya lebih selektif dibanding dengan
vasopressin.
Dosis pemberian somastatin, diawali dengan bolus
250 mcg/iv, dilanjutkan per infus 250 mcg/jam
selama 12-24 jam atau sampai perdarahan
berhenti, octreotid dosis bolus 100 mcg intravena
dilanjutkan perinfus 25 mcg/jam selama 8-24 jam
atau sampai perdarahan berhenti

Obat-obatan golongan antisekresi asam


Obat-obatan golongan antisekresi asam
yang dilaporkan bermanfaat untuk
mencegah perdarahan ulang PSCA karena
tukak peptik ialah inhibitor proton dosis
tinggi.
bolus omeprazole 80 mg/iv kemudian
dilanjutkan per infus 8 mg/KGBB/jam
selama 72 jam

Balon tamponade
Penggunaan balon tamponade untuk
menghentikan perdarahan varises esofagus
dimulai sekitar tahun 1950, paling populer
adalah sengstaken blakemore tube (SBtube) yang mempunyai 3 pipa serta 2 balon
masing-masing untuk esofagus dan
lambung.

Terapi endoskopi
ditujukan pada perdarahan tukak yang
masih aktif atau tukak dengan pembuluh
darah yang tampak. Metode terapinya
meliputi:
Contact thermal (monopolar atau bipolar
elektrokoagulasi, heater probe)
Noncontact thermal (laser 3). Nonthermal
(misalnya suntikan adrenalin, polidokanol,
alkohol, cyanoacrylate, atau pemakain klip).

PEMBEDAHAN
Pembedahan pada dasarnya dilakukan bila
terapi medik, endoskopi dan radiologi dinilai
gagal.

Terima Kasih