Anda di halaman 1dari 11

Sejarah dan Asal Usul Surabaya

Surabaya merupakan ibukota provinsi Jawa Timur. Sebuah Kota Metropolitan


kedua setelah Jakarta. Surabaya juga dikenal sebagai kota Pahlawan. Karena di
sanalah pernah terjadi peperangan dahsyat antara /arek-arek suroboyo/ melawan
pasukan inggris, yang berhasil menewaskan Jenderal Mallaby dari pihak inggris.
Sampai sekarang, tanggal 10 November diperingati sebagai hari Pahlawan. Untuk
memperingati berkobarnya perjuangan utk mempertahankan kedaulatan RI di
Surabaya. Di sana pula terdapat Jembatan suramadu yang merupakan salah satu
icon Indonesia Asal Usul Nama Surabaya.
Ada banyak versi tentang asal usul nama surabaya ini, namun semuanya
berkaitan erat dengan kemenangan Raden Wijaya saat melawan pasukan tartar.
Versi pertama: Menurut sebagian buku *surabaya* berasal dari kata *Sura* dan
*Baya*. Sura berarti Jaya, menang, selamat. Sedangkan Baya artinya bahaya.
Sehingga Surabaya kurang lebih berarti "Selamat dari Bahaya". Selamat dari
bahaya pada kalimat ini berarti, berhasil dikalahkannya pasukan Tartar (ada yg
mengatakan bangsa China) oleh pasukan majapahit.
Ke dua: Surabaya berasal dari kata *suro* dan *boyo * Kata Suro berarti ikan
Suro, sebuah ikan hiu yang besar. dan boyo berarti buaya. Di sini suro merupakan
1

lambang dari pasukan tartar yang datang dari laut, sedangkan pasukan Majapahit
digambarkan sebagai Boyo yang menyerang dari darat. Ke tiga : Konon saat
pertempuran antara Majapahit dengan Bangsa Tartar terjadi. Ada 2 prajurit yang
sangat tangguh dari kerajaan majapahit. mereka bernama *Jaka Sura *dan *Jaka
Baya*. Kemenangan Majapahit atas bangsa Tartar tidak terlepas dari kontribusi
mereka berdua dalam pertempuran. Sayang, mereka berdua sangat sombong dan
menganggap merekalah manusia yang paling kuat. Hingga ada seorang tua yang
sakti mengutuk mereka. Jaka Sura menjadi ikan Sura, sedangkan Jaka Baya
menjadi seekor buaya. Hal ini ternyata tidak membuat mereka berubah, mereka
masih saja bertengkar untuk memperebutkan wilayah dan makanan masingmasing. Sehingga terjadi pertempuran yang dahsyat antara mereka kedua
binatang tersebut. Pertempuran baru berakhir saat mereka sama-sama mati.
Raden wijaya yang melihat pertempuran tersebut, kemudian menamakan tempat
itu dengan nama surabaya.
Versi ketiga ini merupakan legenda ttg Surabaya. *Hari Jadi * Hari jadi Surabaya
adalah 31 Mei 1293, yang mana tanggal tersebut merupakan tanggal saat prajurit
majapahit berhasil mengalahkan pasukan tartar. sumber SejarahKota.com.
Diberdayakan oleh Blogger. Kota Surabaya adalah ibukota Provinsi Jawa Timur,
Indonesia. Surabaya merupakan kota terbesar kedua di Indonesia setelah Jakarta,
dengan jumlah penduduk metropolisnya yang mencapai 3 juta jiwa, Surabaya
merupakan pusat bisnis, perdagangan, industri, dan pendidikan di kawasan
Indonesia timur. Surabaya terkenal dengan sebutan Kota Pahlawan karena
sejarahnya yang sangat diperhitungkan dalam perjuangan merebut kemerdekaan
bangsa Indonesia dari penjajah. Sebelum kedatangan Belanda
Surabaya dulunya merupakan gerbang Kerajaan Majapahit, yakni di muara Kali
Mas. Bahkan hari jadi Kota Surabaya ditetapkan sebagai tanggal 31 Mei 1293.
Hari itu sebenarnya merupakan hari kemenangan pasukan Majapahit yang
dipimpin Raden Wijaya terhadap pasukan kerajaan Mongol utusan Kubilai Khan.
Pasukan Mongol yang datang dari laut digambarkan sebagai ikan SURO (ikan
hiu/berani) dan pasukan Raden Wijaya yang datang dari darat digambarkan
sebagai BOYO (buaya/bahaya), jadi secara harfiah diartikan berani menghadapi
2

bahaya yang datang mengancam. Maka hari kemenangan itu diperingati sebagai
hari jadi Surabaya. Pada abad ke-15, Islam mulai menyebar dengan pesat di
daerah Surabaya. Salah satu anggota Wali Songo, Sunan Ampel, mendirikan
masjid dan pesantren di daerah Ampel. Tahun 1530, Surabaya menjadi bagian
dari Kerajaan Demak. Menyusul runtuhnya Demak, Surabaya menjadi sasaran
penaklukan Kesultanan Mataram, diserbu Panembahan Senopati tahun 1598,
diserang besar-besaran oleh Panembahan Seda ing Krapyak tahun 1610, diserang
Sultan Agung tahun 1614. Pemblokan aliran sungai Brantas oleh Sultan Agung
akhirnya memaksa Surabaya menyerah. Suatu tulisan VOC tahun 1620
menggambarkan Surabaya sebagai negara yang kaya dan berkuasa. Panjang
lingkarannya sekitar 5 mijlen Belanda (sekitar 37 km), dikelilingi kanal dan
diperkuat meriam. Tahun tersebut, untuk melawan Mataram, tentaranya sebesar
30 000 prajurit[1]. Tahun 1675, Trunojoyo dari Madura merebut Surabaya, namun
akhirnya didepak VOC pada tahun 1677. Dalam perjanjian antara Paku Buwono II
dan VOC pada tanggal 11 November 1743, Surabaya diserahkan penguasaannya
kepada VOC. Zaman Hindia-Belanda. Pada zaman Hindia-Belanda, Surabaya
berstatus sebagai ibukota Karesidenan Surabaya, yang wilayahnya juga mencakup
daerah yang kini wilayah Kabupaten Gresik, Sidoarjo, Mojokerto, dan Jombang.
Pada tahun 1905, Surabaya mendapat status Kotamadya (Gemeente). Pada tahun
1926, Surabaya ditetapkan sebagai ibukota provinsi Jawa Timur. Sejak itu
Surabaya berkembang menjadi kota modern terbesar kedua di Hindia-Belanda
setelah Batavia. Sebelum tahun 1900, pusat kota Surabaya hanya berkisar di
sekitar Jembatan Merah saja. Sampai tahun 1920-an, tumbuh pemukiman baru
seperti daerah Darmo, Gubeng, Sawahan, dan Ketabang. Pada tahun 1917
dibangun fasilitas pelabuhan modern di Surabaya. Tanggal 3 Februari 1942,
Jepang menjatuhkan bom di Surabaya. Pada bulan Maret 1942, Jepang berhasil
merebut Surabaya. Surabaya kemudian menjadi sasaran serangan udara Sekutu
pada tanggal 17 Mei 1944. Pertempuran mempertahankan Surabaya
Setelah Perang Dunia II usai, pada 25 Oktober 1945, 6000 pasukan Inggris-India
yaitu Brigade 49, Divisi 23 yang dipimpin Brigadir Jenderal Aulbertin Walter
Sothern Mallaby mendarat di Surabaya dengan perintah utama melucuti tentara
3

Jepang, tentara dan milisi Indonesia. Mereka juga bertugas mengurus bekas
tawanan

perang

dan

memulangkan

tentara

Jepang.

Pasukan

Jepang

menyerahkan semua senjata mereka, tetapi milisi dan lebih dari 20000 pasukan
Indonesia menolak. 26 Oktober 1945, tercapai persetujuan antara Bapak Suryo,
Gubernur Jawa Timur dengan Brigjen Mallaby bahwa pasukan Indonesia dan milisi
tidak harus menyerahkan senjata mereka. Sayangnya terjadi salah pengertian
antara pasukan Inggris di Surabaya dengan markas tentara Inggris di Jakarta
yang dipimpin Letnan Jenderal Sir Philip Christison. 27 Oktober 1945, jam 11.00
siang, pesawat Dakota AU Inggris dari Jakarta menjatuhkan selebaran di
Surabaya yang memerintahkan semua tentara Indonesia dan milisi untuk
menyerahkan senjata. Para pimpinan tentara dan milisi Indonesia marah waktu
membaca selebaran ini dan menganggap Brigjen Mallaby tidak menepati
perjanjian tanggal 26 Oktober 1945. 28 Oktober 1945, pasukan Indonesia dan
milisi menggempur pasukan Inggris di Surabaya. Untuk menghindari kekalahan di
Surabaya, Brigjen Mallaby meminta agar Presiden RI Soekarno dan panglima
pasukan Inggris Divisi 23, Mayor Jenderal Douglas Cyril Hawthorn untuk pergi ke
Surabaya dan mengusahakan perdamaian. 29 Oktober 1945, Presiden Soekarno,
Wapres Mohammad Hatta dan Menteri Penerangan Amir Syarifuddin Harahap
bersama Mayjen Hawthorn pergi ke Surabaya untuk berunding. Pada siang hari,
30 Oktober 1945, dicapai persetujuan yang ditanda-tangani oleh Presiden RI
Soekarno dan Panglima Divisi 23 Mayjen Hawthorn. Isi perjanjian tersebut adalah
diadakan perhentian tembak menembak dan pasukan Inggris akan ditarik mundur
dari Surabaya secepatnya. Mayjen Hawthorn dan ke 3 pimpinan RI meninggalkan
Surabaya dan kembali ke Jakarta. Pada sore hari, 30 Oktober 1945, Brigjen
Mallaby berkeliling ke berbagai pos pasukan Inggris di Surabaya untuk
memberitahukan soal persetujuan tersebut. Saat mendekati pos pasukan Inggris
di gedung Internatio, dekat Jembatan merah, mobil Brigjen Mallaby dikepung oleh
milisi yang sebelumnya telah mengepung gedung Internatio. Karena mengira
komandannya akan diserang oleh milisi, pasukan Inggris kompi D yang dipimpin
Mayor Venu K. Gopal melepaskan tembakan ke atas untuk membubarkan para
milisi. Para milisi mengira mereka diserang / ditembaki tentara Inggris dari dalam
4

gedung Internatio dan balas menembak. Seorang perwira Inggris, Kapten R.C.
Smith melemparkan granat ke arah milisi Indonesia, tetapi meleset dan malah
jatuh tepat di mobil Brigjen Mallaby. Granat meledak dan mobil terbakar.
Akibatnya Brigjen Mallaby dan sopirnya tewas. Laporan awal yang diberikan
pasukan Inggris di Surabaya ke markas besar pasukan Inggris di Jakarta
menyebutkan Brigjen Mallaby tewas ditembak oleh milisi Indonesia.
Letjen Sir Philip Christison marah besar mendengar kabar kematian Brigjen
Mallaby dan mengerahkan 24000 pasukan tambahan untuk menguasai Surabaya.
9 November 1945, Inggris menyebarkan ultimatum agar semua senjata tentara
Indonesia dan milisi segera diserahkan ke tentara Inggris, tetapi ultimatum ini
tidak diindahkan. 10 November 1945, Inggris mulai membom Surabaya dan
perang sengit berlangsung terus menerus selama 10 hari. Dua pesawat Inggris
ditembak jatuh pasukan RI dan salah seorang penumpang Brigadir Jendral Robert
Guy Loder-Symonds terluka parah dan meninggal keesokan harinya.
20 November 1945, Inggris berhasil menguasai Surabaya dengan korban ribuan
orang prajurit tewas. Lebih dari 20000 tentara Indonesia, milisi dan penduduk
Surabaya tewas. Seluruh kota Surabaya hancur lebur. Pertempuran ini merupakan
salah satu pertempuran paling berdarah yang dialami pasukan Inggris pada
dekade 1940an. Pertempuran ini menunjukkan kesungguhan Bangsa Indonesia
untuk mempertahankan kemerdekaan dan mengusir penjajah.
Karena sengitnya pertempuran dan besarnya korban jiwa, setelah pertempuran
ini, jumlah pasukan Inggris di Indonesia mulai dikurangi secara bertahap dan
digantikan oleh pasukan Belanda. Pertempuran tanggal 10 November 1945
tersebut hingga sekarang dikenang dan diperingati sebagai Hari Pahlawan.
sumber wikipedia.com kisah lain yang serupa.... SURABAYA, KOMPAS.com--Jejak
"Kraton Surabaya" dalam bentuk foto sejarah, buku sejarah, perangko Surabaya
dari masa ke masa, dipamerkan di Muesum "House of Sampoerna" sejak 2 Mei
hingga 2 Juni 2013. "Tidak banyak yang tahu bahwa sejarah Surabaya itu berawal
dari pertempuran sengit antara pasukan Raden Wijaya dengan tentara Mongol di
Hujung Galuh yang dimenangkan pasukan Raden Wijaya pada 31 Mei 1293,
5

sehingga Hujung Galuh berganti menjadi Curabhaya yang berarti keberanian


menghadapi bahaya," kata Manajer Museum HoS Rani Anggraini di Surabaya,
Kamis.
Ia menjelaskan sejak kepemimpinan Raden Wijaya pada 1293 itu, Surabaya
menggunakan sistem pemerintahan kekratonan (kerajaan) hingga akhirnya
Surabaya jatuh ke tangan penjajah Belanda pada tahun 1755 yang mengganti
pusat pemerintahan dari "kraton" ke "Residence Wooning" yang kini disebut
sebagai Gedung Grahadi. "Jejak kraton itu sulit dilacak, karena tidak ada tetenger
atau monumen sejarah yang menandai, tapi berbagai literatur sejarahwan
Surabaya dan Belanda memperkirakan Kraton Surabaya itu meliputi kawasan dari
Kebonrojo sebagai Taman Kraton, Tugu Pahlawan sebagai alun-alun utara hingga
Alun-alun Contong (Baliwerti-Bubutan) sebagai alun-alun selatan," katanya.
Dengan pameran bertajuk "Surabaya Fest" itu, katanya, pihaknya ingin
mengembalikan memori warga Surabaya akan nilai-nilai budaya yang masih ada
melalui foto peta Surabaya dan buku sejarah "Babad Surabaya" serta koleksi
perangko Surabaya di Museum "HoS" untuk merayakan HUT ke-720 Kota
Surabaya.
"Kami juga memamerkan sejarah jasa pelayanan pos melalui berbagai koleksi
kartu pos, perangko, surat kuno, warkat, wesel, telegram, filateli, dan sebagainya,
karena Kebonrojo yang pernah menjadi Taman Kraton kini menjadi Kantor Pos,
kemudian sebagian bangunan Residence Wooning (Grahadi) merupakan kantor
pos pertama di Surabaya yang dibangun Belanda dengan nama Kantor Pos
Simpang pada tahun 1815. Jadi, sejarah Surabaya erat dengan sejarah kantor
pos," katanya. Untuk memperdalam wawasan masyarakat mengenai sejarah
Kekratonan Surabaya dan pos Indonesia itu, Surabaya Heritage Track (SHT)
mengadakan program tematik tur "Surabaya Insight" pada 2 Mei - 2 Juni 2013
pada hari Selasa - Minggu pukul 15.00-16.30 WIB. "Di hari Selasa - Kamis
(weekdays), trackers diajak mengunjungi Kantor Pos Simpang dan Kantor Pos
Kebon Rojo untuk mengetahui sejarah pos Indonesia secara lebih mendalam,
sedangkan di hari Jumat - Minggu (weekend), trackers berkesempatan
mempelajari

sejarah

kota

Surabaya
6

yang

dahulunya

menganut

sistem

pemerintahan kekratonan dengan mengunjungi Kampung Kraton, Balai Kota dan


Gedung Cak Durasim yang dahulunya merupakan Istana Kanoman," katanya.
Untuk melengkapinya, Galeri Seni "HoS" menggandeng para mahasiswa Jurusan
Pendidikan Seni Rupa dan Desain Grafis Universitas Surabaya (Unesa) untuk
menggelar pameran bertajuk "Ludruk Cak!" pada 17 Mei - 9 Juni 2013 yang
dikuratori oleh Asysam selaku dosen pembimbing. "Pameran yang menampilkan
27 karya seni yang terdiri dari 25 karya 2D meliputi seni lukis, grafis, dan fotografi
serta dua karya dalam bentuk 3D (instalasi) sebagai hasil visualisasi ludruk oleh
25 peserta mahasiswa Unesa itu bertujuan untuk melestarikan kesenian ludruk
yang merupakan salah satu identitas seni pada Kota Surabaya," katanya.
Kesenian Ludruk berawal dari sebuah kesenian teater rakyat yang dipelopori oleh
seorang seniman pria bernama Santik yang berasal dari Jombang pada tahun
1907. Di Surabaya, kesenian ini dipopulerkan oleh Cak Durasim pada tahun 1931
dan lebih dikenal dengan sebutan Ludruk, yang berasal dari bahasa Jawa Ngoko
lodrok yang berarti lawakan. Selain itu, ada pula "Surabaya Corner" yang
memberi ruang kepada tujuh "clothing line" asal Surabaya untuk berpameran,
yakni Sawoong, Roode Brug Soerabaia, Toendjoengan Djawa Timoeran, dan
Tuljaenak pada Mei-Juni, kemudian Soerabaia 45, Karepmu, dan Cak Cuk akan
hadir di bulan Juni. "Kemunculan beberapa merek clothing line dengan keunikan
masing-masing namun tetap menonjolkan ciri khas Surabaya itu menunjukkan
semangat generasi muda Surabaya untuk lebih memperkenalkan kota Surabaya
ke masyarakat luas, misalnya Sawoong yang menghadirkan berbagai produk
dengan foto objek bangunan-bangunan lama di kota Surabaya, Roode Brug
Soerabaia yang lebih fokus pada peristiwa dan tokoh-tokoh sejarah perjuangan,"
katanya.
SEJARAH SURABAYA
Peranan Surabaya sebagai kota pelabuhan sangat penting sejak lama. Saat itu
sungai Kalimas merupakan sungai yang dipenuhi perahu-perahu yang berlayar
menuju pelosok Surabaya. Kota Surabaya juga sangat berkaitan dengan revolusi
Kemerdekaan Republik Indonesia. Sejak penjajahan Belanda maupun Jepang,
7

rakyat Surabaya (Arek Suroboyo) bertempur habis-habisan untuk merebut


kemerdekaan. Puncaknya pada tanggal 10 Nopember 1945, Arek Suroboyo
berhasil menduduki Hotel Oranye (sekarang Hotel Mojopahit) yang saat itu
menjadi simbol kolonialisme. Karena kegigihannya itu, maka setiap tanggal 10
Nopember, Indonesia memperingatinya sebagai hari Pahlawan. Bukti sejarah
menunjukkan bahwa Surabaya sudah ada jauh sebelum zaman kolonial, seperti
yang tercantum dalam prasasti Trowulan I berangka 1358 M. Dalam prasasti
tersebut terungkap bahwa Surabaya (Churabhaya) masih berupa desa ditepian
sungai Berantas sebagai salah satu tempat penyeberangan penting sepanjang
sungai tersebut. Surabaya (Churabhaya) juga tercantum dalam pujasastra Negara
Kertagama yang ditulis oleh Mpu Prapanca tentang perjalanan pesiar baginda
Hayam Wuruk pada tahun 1385 M dalam pupuh XVII (bait ke 5, baris terakhir)
Walaupun bukti tertulis tertua mencantumkan nama Surabaya berangka tahun
1358 M Pprasasti Trowulan) dan 1365 M (Negara Kertagama), para ahli menduga
bahwa Surabaya sudah ada sebelum tahun-tahun tersebut.
Menurut hipotesis Von Faber, Surabaya didirikan tahun 1275 M oleh Raja
Kertanegara sebagai tempat pemukiman baru bagi prajuritnya yang berhasil
menumpas pemberontakan Kemuruhan tahun 1270 M. Hipotesis yang lain
mengatakan bahwa Surabaya dulu bernama Ujung Galuh.
Versi lain mengatakan bahwa nama Surabaya berasal dari cerita tentang
perkelahian hidup dan mati Adipati Jayengrono dan Sawunggaling. Konon setelah
mengalahkan tentara Tartar, Raden Wijaya mendirikan sebuah Keraton di Ujung
Galuh dan menempatkan Adipati Jayengrono untuk memimpin daerah itu. Lamalama karena menguasai ilmu Buaya, Jayengrono makin kuat dan mandiri sehingga
mengancam kedaulatan Majapahit. Untuk menaklukkan Jayengrono diutuslah
Sawunggaling yang menguasai ilmu Sura. Adu kekuatan dilakukan dipinggir
sungai Kalimas dekat Peneleh. Perkelahian adu kesaktian itu berlangsung selama
tujuh hari tujuh malam dan berakhir dengan tragis, karena keduanya meninggal
kehabisan

tenaga.

Supaya

tidak

menimbulkan

kesimpang-siuran

dalam

masyarakat maka Walikotamdya Kepala Daerah Tingkat II Surabaya, dijabat oleh


Bapak Soeparno, mengeluarkan Surat Keputusan No. 64/WK/75 tentang
8

penetapan hari jadi kota Surabaya. Surat Keputusan tersebut menetapkan tanggal
31 Mei 1293 sebagai tanggal hari jadi kota Surabaya. Tanggal tersebut ditetapkan
atas kesepakatan sekelompok sejarahwan yang dibentuk oleh Pemerintah Kota
bahwa nama Surabaya berasal dari kata Sura ing Bhaya yang berarti
Keberanian menghadapi bahaya diambil dari babak dikalahkannya pasukan
Mongol oleh pasukan Jawa pimpinan Raden Wijaya pada tanggal 31 Mei 1293.
LEGENDA IKAN SURA DAN BUAYA
Dahulu, di lautan luas sering terjadi perkelahian antara Ikan Hiu Sura dengan
Buaya. Mereka berkelahi hanya karena berebut mangsa.Keduanya sama-sama
kuat, sama-sama tangkas,sama-sama cerdik, sama-sama ganas dan sama-sama
rakus.Sudah berkali-kali mereka berkelahi belum pernah ada yang menang atau
pun yang kalah. akhirnya mereka mengadakan kesepakatan. "Aku bosan terusmenerus berkelahi, Buaya," kata ikan Sura. "Aku juga, Sura.Apa yang harus kita
lakukan agar kita tidak lagi berkelahi?" tanya Buaya Ikan Hiu Sura sudah punya
rencana untuk menghentikan perkelahiannya dengan Buaya segera menerangkan.
"Untuk mencegah perkelahian di antara kita,sebaiknya kita membagi daerah
kekuasaan menjadi dua. Aku berkuasa sepenuhnya di dalam air dan harus
mencari mangsa di dalam air,sedangkan kamu barkuasa di daratan dan
mangsamu harus yang berada di daratan. Sebagai batas antara daratan dan air,
kita tentukan batasnya,yaitu tempat yang dicapai oleh air laut pada waktu pasang
surut!" "Baik aku setujui gagasanmu itu!" kata Buaya. Dengan adanya pembagian
wilayah kekuasaan, maka tidak ada lagi perkelahian antara Sura dan Buaya.
Keduanya telah sepakat untuk menghormati wilayah masing-masing. Tetapi pada
suatu hari,Ikan Hiu Sura mencari mangsa di sungai. Hal ini dilakukan dengan
sembunyi-sembunyi agar Buaya tidak mengetahui. Mula-mula hal ini memang
tidak ketahuan. Tetapi pada suatu hari Buaya memergoki perbuatan Ikan Hiu Sura
ini.Tentu saja Buaya sangat marah melihat Hiu Sura melanggar janjinya. "Hai
Sura, mengapa kamu melanggar peraturan yang telah kita sepakati berdua?
Mengapa kamu berani memasuki sungai yang merupakan wilayah kekuasaanku?"
tanya Buaya. Ikan Hiu Sura yang merasa tak bersalah tenang-tenang saja. "Aku
9

melanggar kesepakatan? Bukankah sungai ini berair.Bukankah aku sudah bilang,


bahwa aku adalah penguasa di air? Nah, sungai ini 'kan ada airnya, jadi juga
termasuk daerah kekuasaanku, " Kata Ikan Hiu Sura. "Apa? Sungai itu 'kan
tempatnya di darat, sedang daerah kekuasaanmu ada di laut, berarti sungai itu
adalah darerah kekuasaanku!" Buaya ngotot. "Tidak bisa. Aku 'kan tidak pernah
bilang kalau di air itu hanya air laut, tetapi juga airsungai" jawab Hiu Sura? "Kau
sengaja mencari gara-gara,Sura?" "Tidak! kukira alasanku cukup kuat dan aku
memang dipihak yang benar!" kata Sura. "Kau sengaja mengakaliku.Aku tidak
sebodoh yang kau kira!" kata Buaya mulai ,marah. "Aku tidak perduli kau bodoh
atau pintar, yang penting air sungai dan air laut adalah kekuasaanku!" Sura tak
mau kalah. Karena tidak ada yang mau mengalah, maka pertempuran sengit
antara Ikan Hiu Sura dan Buaya terjadi lagi. Pertarungan kali ini semakin seru dan
dahsyat. Saling menerjang dan menerkam, saling menggigit dan memukul. Dalam
waktu sekejap, air disekitarnya menjadi merah oleh darah yang keluar dari lukaluka kedua binatang tersebut. Mereka terus bertarung mati-matian tanpa istirahat
sama sekali. Dalam pertarungan dahsyat ini, Buaya mendapat gigitan Hiu Sura di
pangkal ekornya sebelah kanan. Selanjutnya, ekornya itu terpaksa selalu
membengkok kekiri. Sementara ikan Sura juga tergigit ekornya hingga hampir
putus, lalu ikan Sura kembali ke lautan. Buaya puas telah dapat mempertahankan
daerahnya.
Pertarungan antara ikan Hiu yang bernama Sura dan Buaya ini sangat berkesan di
hati masyarakat Surabaya. Oleh karena itu,nama Surabaya selalu dikait-kaitkan
dengan peristiwa ini. Dari peritiwa inilah kemudian dibuat lambang Kota Surabaya
yaitu gambar "ikan sura dan buaya". Namun ada juga sebahagian berpendapat,
asal usul Surabaya berasal dari kata Sura dan Baya. Sura berarti Jaya atau
selamat. Baya berarti bahaya, jadi Surabaya berarti "selamat menghadapi
bahaya". Bahaya yang dimaksud adalah serangan tentara Tar-tar yang hendak
menghukum Raja Jawa.Seharusnya yang dihukum adalah Kartanegara, karena
Kartanegara sudah tewas terbunuh, maka Jayakatwang yang diserbu oleh tentara
Tar-tar itu. Setelah mengalahkan Jayakatwang, orang Tar-tar itu merampas harta
benda dan puluhan gadis-gadis cantik untuk dibawa keTiongkok. Raden Wijaya
10

tidak terima diperlakukan seperti itu. Dengan siasat yang jitu, Raden Wijaya
menyerang tentara Tar-tar di pelabuhan Ujung Galuh hingga mereka menyingkir
kembali ke Tiongkok. Selanjutnya, dari hari peristiwa kemenangan Raden Wijaya
inilah ditetapkan sebagai hari jadi Kota Surabaya. Surabaya sepertinya sudah
ditakdirkan untuk terus baergolak.Tanggal 10 November 1945 adalah bukti jati diri
warga Surabaya yaitu berani menghadapi bahaya serangan Inggris dan Belanda.
Di zaman sekarang, setelah ratusan tahun dari cerita asal usul Surabaya tersebut,
ternyata pertarungan memperebutkan wilayah air dan darat terus berlanjut. Di
kalamusim penghujan tiba kadangkala banjir menguasai kota Surabaya. Pada
musim kemarau kadangkala tempat-tempat genangan air menjadi daratan kering.
Itulah Surabaya.

11