Anda di halaman 1dari 6

MAKALAH

Globalisasi dalam Islam


Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah Agama

KATA PENGANTAR
Puji syukur atas kehadiran Tuhan YME karena atas rahmat dan hidayahNya,maka
makalah yang diberi judul Pengertian globalisasi dalam Islam ini bisa terselesaikan tepat pada
waktunya guna memenuhi tugas mata kuliah bahasa indonesia. Dalam makalah ini penulis ingin
memaparkan tentang pengaruh globalisasi dalam perkembangan moral remaja baik pengaruh
negatif maupun pengaruh positif.

Didalam proses penyusunan makalah ini kami mengucapkan banyak terima kasih kepada semua
pihak yang telah membantu terselesaikannya makalah ini.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini banyak kekurangan,untuk itu
penulis sangat mengaharapkan kritik dan saran dari para pembaca yang tentunya bisa menjadikan
makalah ini lebih baik lagi. Semoga makalah ini berguna bagi pembangunan moral anak bangsa
untuk lebih menghormati dan menghargai hak asasi orang lain.
Semarang, Juni 2010

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Sebagaimana telah kita ketahui, era globalisasi ditandai dengan kemajuan di bidang
teknologi komunikasi, transportasi dan informasi yang sedemikian cepat. Kemajuan di bidang ini
membuat segala kejadian di negeri yang jauh bahkan di benua yang lain dapat kita ketahui saat
itu juga, sementara jarak tempuh yang sedemikian jauh dapat dijangkau dalam waktu yang
singkat sehingga dunia ini menjadi seperti sebuah kampung yang kecil, segala sesuatu yang
terjadi bisa diketahui dan tempat tertentu bisa dicapai dalam waktu yang amat singkat.
Persoalan-persoalan yang terjadi di suatu negara yang semula disembunyikan atau
ditutup-tutupi menjadi transparan dan dapat diketahui secara detail, begitu juga dengan
persoalan-persoalan pribadi seseorang yang dipublikasikan melalui media massa. Dalam konteks
ekonomi-politik, kenyataan tersebut bahkan dijadikan faktor penting untuk melihat kemungkinan
memudarnya batas-batas teritorial negara-bangsa.

Proses globalisasi ini memiliki pengaruh yang sangat besar bagi perkembangan nilai-nilai
agama. Realitas ini mendapat respon yang cukup beragam dari kalangan pemikir dan aktivis
agama. Agama sebagai sebuah pandangan yang terdiri dari berbagai doktrin dan nilai
memberikan pengaruh yang besar bagi masyarakat. Hal ini diakui oleh para pemikir, antara lain
Robert N. Bellah dan Jose Casanova, mereka mengakui pentingnya peran agama dalam
kehidupan sosial politik masyarakat dunia. Dalam konteks ini agama memainkan peranan yang
penting di dalam proses globalisasi. Agama bukan hanya pelengkap tetapi menjadi salah satu
komponen penting yang cukup berpengaruh di dalam berbagai proses globalisasi. Karena begitu
pentingnya peran agama dalam kehidupan masyarakat, maka perlu kiranya kita memahami
sejauh mana posisi agama di dalam merespon berbagai persoalan kemasyarakatan.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan diatas maka dapat di
rumuskan beberapa masalah yang akan dibahas dalam makalah ini yaitu :
1. Apa pengertian Globalisasi?
2. Bagaimana pandangan Islam mengenai Globalisasi?
3. Dampak Globalisasi?

1.3. Tujuan
Penulisan makalah ini memiliki beberapa tujuan antara lain :
1. Agar pembaca mengetahui apa yang dimaksud internet.
2. Agar pembaca mengetahui pengaruh-pengaruh apa saja yang ditimbulkan oleh internet.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Globalisasi
Menurut asal katanya, kata "globalisasi" diambil dari kata global, yang maknanya
ialah universal. Achmad Suparman menyatakan Globalisasi adalah suatu proses menjadikan
sesuatu (benda atau perilaku) sebagai ciri dari setiap individu di dunia ini tanpa dibatasi oleh
wilayah Globalisasi belum memiliki definisi yang mapan, kecuali sekedar definisi kerja
(working definition), sehingga tergantung dari sisi mana orang melihatnya. Ada yang
memandangnya sebagai suatu proses sosial, atau proses sejarah, atau proses alamiah yang akan
membawa seluruh bangsa dan negara di dunia makin terikat satu sama lain, mewujudkan satu
tatanan kehidupan baru atau kesatuan ko-eksistensi dengan menyingkirkan batas-batas
geografis, ekonomi dan budaya masyarakat.
Di sisi lain, ada yang melihat globalisasi sebagai sebuah proyek yang diusung oleh
negara-negara adikuasa, sehingga bisa saja orang memiliki pandangan negatif atau curiga
terhadapnya. Dari sudut pandang ini, globalisasi tidak lain adalah kapitalisme dalam bentuknya
yang paling mutakhir. Negara-negara yang kuat dan kaya praktis akan
mengendalikan ekonomi dunia dan negara-negara kecil makin tidak berdaya karena tidak mampu
bersaing. Sebab, globalisasi cenderung berpengaruh besar terhadap perekonomian dunia, bahkan
berpengaruh terhadap bidang-bidang lain seperti budaya dan agama. Theodore Levitte
merupakan orang yang pertama kali menggunakan istilah Globalisasi pada tahun 1985.

2.2. Pandangan Islam mengenai Globalisasi


Islam adalah agama global dan universal. Tujuannya adalah menghadirkan risalah
peradaban islam yang sempurna dan menyeluruh, baik secara spirit, akhlak maupun materi. Di
dalamnya, ada aspek duniawi dan ukhrowi yang saling melengkapi. Keduanya adalah satu
kesatuan yang utuh dan integral. Universalitas atau globalitas islam menyerukan kepada semua
manusia, tanpa memandang bangsa, suku bangsa, warna kulit dan deferensiasi lainnya. Hal ini
dijelaskan Allah SWT. dalam al-Quran,
Al-Quran itu hanyalah peringatan bagi seluruh alam. (Qs. at Takwir:27)
Semenjak abad VII H., nabi Muhamad SAW. sudah menerapkan konsep globalisasi
dalam berbagai aspek kehidupan. Misalnya ketika beliau mengirim utusannya membawa suratsurat beliau kepada para raja dan para pemimpin di berbagai negara tetangga. Di antara para raja
dan pemimpin itu adalah Raja Romawi dan Kisra Persia. Dengan demikian, ketika beliau wafat
maka seluruh bangsa Arab sudah mampu meneruskan globalisasi yang telah dirintis oleh beliau.
Perlu dipahami bahwa globalisasi islam berangkat dari kesatuan antara tataran konseptual dan
tataran aktual, dan ini merupakan salah satu keistimewaan islam. Bahkan menurut Fathi Yakan,
globalisasi islam memiliki keistimewaaan-keistimewaan, yaitu:
Memiliki keseimbangan antara hak dan kewajiban
Membangun suatu masyarakat yang adil dan memiliki kekuatan
Memiliki landasan atau konsep kesetaraan manusia tanpa diskriminasi, baik status sosial,
etnis, kekayaan, warna kulit dan sejenisnya
Menjadikan musyawarah sebagai landasan sistem politik
Menjadikan ilmu sebagai kewajiban bagi masyarakat untuk mengembangkan bakat-bakat
kemanusiaan dan lain-lain

Globalisasi yang kita pahami adalah globalisasi islam. Dalam kerangka filosofis
keumatan, kita harus memahami bahwa islam adalah aturan universal yang bisa menjangkau
dunia. Ia bisa melampaui ruang dan waktu, dan tak terbatasi. Globalisasi islam adalah proses
mengglobalkan nilai-nilai universalitas, seperti toleransi, kebersamaan, keadilan, kesatuan,
musyawarah dan lain-lain.

2.3. Beberapa fakta penting mengenai Globalisasi


Apabila kita mengkaji secara mendalam tentang globalisasi, akan ditemui beberapa fakta
penting:
Pertama: Globalisasi hanya baru dari sudut istilah, tidak dari sudut maksudnya. Ini
kerana pertukaran, pemindahan dan perkongsian dalam berbagai tempat sudah berlaku di antara
manusia. Bahkan antara tujuan Allah Subhanahu wa Taala menciptakan manusia adalah untuk
mereka saling berglobalisasi seperti firman-Nya:

Wahai umat manusia! Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari


lelaki dan perempuan, dan Kami telah menjadikan kamu berbagai bangsa dan
bersuku puak, supaya kamu berkenal-kenalan (dan beramah mesra antara satu
dengan yang lain). Sesungguhnya semulia-mulia kamu di sisi Allah ialah orang
yang lebih taqwanya di antara kamu, (bukan yang lebih keturunan atau
bangsanya). Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, lagi Maha Mendalam
PengetahuanNya (akan keadaan dan amalan kamu).[13]

Globalisasi berkembang pesat sejak 20 hingga 30 tahun yang lalu dan perkembangan
inilah yang melahirkan nama Globalisasi itu sendiri. Antara faktor yang menyebabkan
perkembangan ini adalah kemajuan teknologi manusia, media massa, elektronik, transportasi dan
kemajuan diri manusia itu sendiri.
Kedua: Globalisasi tidak seluruhnya membawa manfaat dan tidak seluruhnya membawa
mudarat. Ia bercampur aduk antara manfaat dan mudarat, antara positif dan negatif. Globalisasi
pasar-pasar yang besar misalnya, membawa manfaat peluang pekerjaan, peningkatan ekonomi
negara dan kemudahan kepada pelanggan. Akan tetapi ia juga membawa mudarat seperti
penindasan kepada pedagang kecil yang kecil dan pmbuangan uang bagi pelanggan yang tidak
berhemat dalam membeli barang.
Ketiga: Sekali pun globalisasi pada mulanya bermaksud pertukaran, pemindahan dan
kerjasama antara negara, kenyataannya menunjukkan bahwa ia tidak berwujud dalam bentuk dua
hal yang adil. Sebaliknya, ada negara yang bersifat mengglobalisasi dan ada negara yang
bersifat diglobalisasi.
Maksud saya dengan mengglobalisasi adalah negara yang menyebarkan ilmu,
pemikiran, ekonomi, kebudayaan dan agama mereka kepada negara lain. dan diglobalisasi,
adalah negara yang bersifat hanya menerima ilmu, pemikiran, ekonomi, kebudayaan dan agama
dari negara yang mengglobalisasi tanpa menilai sama membawa manfaat atau mudarat.
2.4 Dampak Globalisasi
Globalisasi ini membawa dampak positif dan negatif bagi kepentingan bangsa dan ummat
kita. Dampak positif, misalnya, makin mudahnya kita memperoleh informasi dari luar sehingga
dapat membantu kita menemukan alternatif-alternatif baru dalam usaha memecahkan masalah
yang kita hadapi. (Misalnya, melalui internet kini kita dapat mencari informasi dari seluruh
dunia tanpa harus mengeluarkan banyak dana seperti dulu. Demikian pula, dalam hal tenaga
kerja, dana, maupun barang). Di bidang ekonomi, perdagangan bebas antar negara berarti makin
terbukanya pasar dunia bagi produk-produk kita, baik yang berupa barang atau jasa (tenaga
kerja).
Dampak negatifnya adalah masuknya informasi-informasi yang tidak kita perlukan atau
bahkan merusak tatanan nilai yang selama ini kita anut. Misalnya, budaya perselingkuhan yang
dibawa oleh film-film Italy melalui TV, gambar-gambar atau video porno yang masuk lewat
jaringan internet, majalah, atau CD ROM, masuknya faham-faham politik yang berbeda dari
faham politik yang kita anut, dsb. di bidang ekonomi, perdagangan bebas juga berarti
terbukanya pasar dalam negeri kita bagi barang dan jasa dari negara lain.
Dalam kaitannya dengan ummat Islam Indonesia, dampak negatif yang paling nyata
adalah perbenturan nilai-nilai asing, yang masuk lewat berbagai cara, dengan nilai-nilai agama
yang dianut oleh sebagian besar bangsa kita. Mengingat agama Islam adalah agama yang

berdasarkan hukum (syariah), maka perbenturan nilai itu akan amat terasa di bidang syariah
ini. Globalisasi informasi telah membuat ummat kita mengetahui praktek hukum (terutama
hukum keluarga) di negeri lain, terutama di negeri maju, yang sebagian sama dan sebagian lagi
berbeda dari hukum Islam. Keberhasilan negara maju yang sekuler dalam bidang ekonomi telah
membuat segala yang berasal dari negara tersebut tampak baik dan hal ini dapat menimbulkan
keraguan atas praktek yang selama ini kita anut. Contoh hukum Islam yang berbeda dari hukum
sekuler di negeri maju antara lain: hukum waris, kedudukan wanita dan pria dalam perkawinan,
kedudukan anak pungut/anak angkat dalam keluarga, hak asasi anak, hak asasi manusia, hukum
rajam, hukum potong tangan, definisi zina, perkawinan campur, dlsb. Kemajuan teknologi di
bidang rekayasa genetik (cloning), misalnya, juga telah menimbulkan persoalan hukum keluarga
(waris dan perwalian).
2.5. Langkah dasar menghadapi globalisasi
Berikut ini langkah langkah dasar dilakukan oleh generasi muda islam menghadapi
globalisasi.
1. Penguasaan atas referensi keIslaman
Penguatan keislaman akan menjadi pegangan kita menghadapi Globalisasi. Kisah kisah
rasul yang menjdi tauladan untuk kita. seperti kata pepatah Tak kenal maka tak
sayang. Pelajaran penting dari fenomena-fenomena tersebut adalah bahwa dalam dunia yang
penuh dengan kreasi ini, penuh dengan tantangan yang mengglobal seperti saat ini, yang harus
kita lakukan adalah merasionalisasikan pemahaman yang kita yakini secara terbuka yang
dilandasai oleh penguasaan atas ilmu pengetahuan atau kemampuan mendialogkan islam
secara global dengan bahasa zamannya. Sehingga ketika melangkah itu dengan kepastian, ketika
bersikap itu dengan ketegasan tanpa ragu sedikitpun. Dan peran berani tampil ini merupakan
langkah cerdas yang lebih kontekstual dengan kondisi manusia saat ini. Karena tampilannya
adalah tampilan yang mengedepankan kewarasan intelektual dan bukan emosional semata.
Untuk selanjutnya, biarlah dunia menonton dan segera menjadikan islam sebagai referensi utama
peradabannya.
Yang jelas, kebangkitan umat islam akan menjadi catatan sejarah dengan berbagai
dinamika yang memiliki syarat-syaratnya tersendiri; yang tanpa itu kebangkitan hanya sekedar
menjadi wacana dan tidak akan pernah ada dalam realitas kehidupan dan sejarah. Untuk itu, yang
kita lakukan adalah merumuskan syarat-syarat itu, agar proposal kepemimpinan umat yang
sering didengungkan bisa diwujudkan sesegera mungkin.
2. Penyiapan calon pemimpin
Kaderisasi atau regenerasi dan penyolidan simpul-simpul umat dan anak bangsa. Yang
jelas, generasi muda mesti menceburkan diri dalam realitas umat. Generasi muda harus
membawa diri ke ruang-ruang komunitas umat secara langsung. Hidup bersama mereka,
memberikan pengarahan atas apa yang mereka bingungkan, memberikan jawaban atas apa yang
mereka tanyakan. Sehingga yang terjadi adalah pembentukan pola pikir, pola tingkah, pola sikap
dan seterusnya; dan tidak berhenti pada komunikasi dan hubungan berdasarkan kepentingan
sesaat.
Artinya, Indonesia harus menjadi inisiator sekaligus pelaku utama kebangkitan islam
dalam merekayasa peta baru peradaban dunia. Jika ini yang menjadi titik tolak obsesinya, maka
dalam waktu yang tidak lama kebangkitan islam akan menjadi kenyataan, dan itu berawal dari

Indonesia. Negeri ini adalah sebuah negara berpenduduk mayoritas muslim terbesar di dunia.
Karena itu, negeri ini idealnya mesti menjadi pelaku utama dalam meretas peran-peran besarnya
sebagai juru bicara kebaikan-kebaikan Islam di belahan dunia.
3. Penguatan diplomasi dan jaringan
Kalau kita membaca sejarah kenabian Muhamad Saw., maka kita akan mendapatkan
catatan penting bahwa kekuatan jaringan dan masifikasi diplomasi adalah dua hal yang menyatu
dan tak terpisahkan dalam agenda perjalanan dakwahnya. Dengan dua kekuatan ini Rasulullah
SAW. dan para sahabatnya mampu membangun sebuah peradaban besar sampai Madinah. Beliau
dan para sahabatnya menjalin hubungan politis, ekonomis bahkan lintas budaya dengan berbagai
suku dan tokoh-tokoh yang ada. Dari sini bisa kita pahami bahwa awal penyebaran islam
diskenario oleh manusia-manusia yang sangat unggul dalam diplomasi untuk membumikan
islam. Selain itu, tentu mereka juga memiliki keluasan jaringan. Sehingga sampai saat ini kita
bisa melihat bagaimana islam itu berkembang dan diakui bahkan diyakini oleh banyak manusia
sebagai satu-satunya dien yang mampu menyeting peradaban untuk waktu yang cukup lama.
Melalui ayat tersebut juga bisa dipahami bahwa rahasia kekuatan umat islam terletak
pada mafhum mukhalafah (pemahaman kebalikan) dari akhir ayat tersebut, yakni kefaqihan
ummat pada agamanya. Kuncinya ada pada al-fiqh. Yang dimaksud al-fiqh di sini bukanlah fiqih
dalam terminologi ilmu hukum Islam semata. Lebih dari itu, al-fiqh sesuai dengan makna
dasarnya adalah al-fahmud-daqiq atau pemahaman yang mendalam mengenai substansi dan
berbagai sisi agama dan peradabannya. Jadi mengetahui (al-ilm) saja tidak cukup, perlu
ditingkatkan ke level memahami (al-fahm). Tapi memahami juga tidak cukup, perlu pendalaman
hingga pada tingkat pemahaman yang mendalam (al-fiqh) atau al-fahmud-daqiq.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Globalisasi adalah suatu proses menjadikan sesuatu (benda atau perilaku) sebagai ciri
dari setiap individu di dunia ini tanpa dibatasi oleh wilayah sedangkan menurut Islam Globalisasi
islam adalah proses mengglobalkan nilai-nilai universalitas, seperti toleransi, kebersamaan,
keadilan, kesatuan, musyawarah dan lain-lain.
3.2 Saran
Dengan meningkatkan iman dan taqwa kita kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dengan iman
dan taqwa yang teguh, maka segala macam godaan untuk menyimpang dari hukum Allah akan
dapat ditepis.
Karena umat Islam harus memiliki media komunikasi yang canggih untuk mengimbangi
era modernisasi dan globalisasi yang serba canggih ini, baik teknologi informasi maupun
komunikasi. Dan yang terpenting sekarang ini adalah, mari kita semua sama-sama berusaha
membentengi diri dan keluarga dengan keimanan, ketaqwaan dan akhlakul karimah dibarengi
dengan sumber daya yang kuat, keterampilan kerja, ilmu pengetahuan dan teknologi, didukung
semangat persatuan dan kesatuan, insya Allah kita akan diberi kemenangan dan kejayaan oleh
Allah sepanjang waktu dan zaman.