Anda di halaman 1dari 5

Untung Suropati dan Perbudakan

Sekelumit tentang Sejarah Bali : Perbudakan,


Untung Suropati, dan Mengwi

Pulau Bali jatuh ke tangan Majapahit pada tahun 1343. Kaum Bali Aga yang
merasa telah dicurangi sebelum dan sewaktu perang, terus memberontak
sehingga Sri Kresna Kepakisan yang ditunjuk Tribuwana Tunggadewi sebagai
raja vassal ingin pulang ke Jawa dan berniat menyerahkan kembali mandat
yang diterimanya. Sebagai seorang yang berasal dari keluarga Brahmana
Kediri, hatinya tidak tahan dengan pertumpahan darah yang dahsyat.
Tribuwana Tunggadewi memilihnya karena leluhur sang mantan Brahmana
masih ada hubungan darah dengan wangsa Warmadewa, penguasa lama
Bali. Kresna Kepakisan disemangati Gajah Mada untuk tetap bertahta di Bali.
Ia menyuruhnya untuk merangkul orang Aga dengan mempelajari
kebudayaan mereka. Setelah mengadakan riset budaya, ia menemukan
kesalahan-kesalahannya dan melakukan tindakan yang patut dipuji sejarah.
Pertama-tama, ia sembahyang ke pura Besakih, pura yang dimuliakan orang
Aga, di mana ia tak pernah sembahyang sebelumnya. Kemudian ia
mengadakan upacara kremasi yang megah untuk menghormati raja dan
para bangsawan Bali yang gugur dalam invasi Majapahit dan memuliakan

juga mereka sebagai leluhur, dan merekrut orang Aga dalam pemerintahan.
Sejak itu, pulau Bali berangsur-angsur aman dan terjadilah pernikahan
campuran antara orang Aga dan orang Bali Majapahit. Bali menjadi pulau
yang aman, bersatu, dan relatif sejahtera.
Kejatuhan Majapahit ke tangan Demak pada abad ke-15 yang diiringi oleh
migrasi sebagian orang Majapahit ke Bali, membuat Bali mencapai kejayaan.
Ia menjadi pulau merdeka yang bersatu dan mendapat limpahan kekayaan
ide dan seni budaya yang dibawa para imigran. Dan tokoh-tokoh besar
muncul, diantaranya raja Dalem Waturenggong.Di balik semua legenda
tentang Dalem Watu Renggong , ia adalah seorang raja yang mementingkan
persatuan. Panglima tertingginya adalah mahapatih Ularan seorang Aga
yang masih keturunan mahapatih Bali jaman dinasti lama; Ki Pasung
Grigis.Kekuasaan kerajan Bali Gelgel meliputi Blambangan, Lombok, dan
Sumbawa.
Dengan wafatnya Waturenggong, Bali melemah. Para keturunannya tak
secakap sang raja bijak. Daerah koloni melepaskan diri satu persatu, bahkan
Bali sempat diserang Mataram, era Sultan Agung, pada 1639. Namun invasi
bisa dipukul Patih Jelantik Bogol secara dini di pantai Kuta. Pada akhirnya
pada akhir abad ke -17, karena sebab yang kompleks, Bali terpecah menjadi
beberapa kerajaan.
Kerajaan terbesar adalah Buleleng yang beribu kota di Singaraja, dengan raja
legendaris Ki Barak Panji Sakti keturunan Patih Jelantik. Untuk mencegah
serangan Mataram ke Bali, ia yang mewarisi cita-cita besar raja-raja Bali
sebelumnya, menginvasi Blambangan. Pasukan Truna Goak -nya berhasil
menaklukkan Blambangan di ujung timur Jawa. Kerajaan Mataram yang
sedang berekspansi ke barat memandang musuh dari timur membuat
posisinya terjepit, memutuskan memberi tanda perdamaian. Ki Barak
dihadiahi seekor gajah Sumatra sebagai hewan tunggangan dan kesayangan.
Sesungguhnya, ia yang kehilangan putra kesayangannya dalam
pertempuran Blambangan, telah kehilangan semangat. Kesedihan
membuatnya menarik diri dari kehidupan duniawi dan kemudian hidup bagai
seorang pertapa.
Ambisi dan harapannya diwariskannya kepada iparnya yang cakap, Anak
Agung Putu, raja Mengwi yang kerajaannya kedua terbesar setelah Buleleng.
Ia menjalin persahabatan dengan bangsawan-bangsawan Blambangan yang
pro Bali, tidak menjalankan pendudukan.
Pada akhirnya Lelanang Jagat di pulau Jawa adalah Belanda. Dan disinilah
terjadi hubungan unik antara Belanda dan Bali. Masa terpecahnya Bali
adalah lembar suram dalam sejarah Bali. Kerajaan-kerajaan saling bersaing
secara militer. Perang tak hanya terjadi antara kerajaan, tapi bisa terjadi
antara kerajaan dengan sebuah desa yang kuat yang bisa jadi akan menjadi

kerajaan jika bertumbuh. Raja-raja Bali mengekspor orang-orang yang tak


mampu membayar hutang kepada raja, para pemberontak taklukkan, dan
para prajurit musuh yang tertangkap sebagai budak. Budak adalah ekspor
utama Bali selain beras. Bali menjadi pusat penyuplai budak belian,
Sebagian budak belian Bali itu sebenarnya bukan orang Bali saja tapi juga
orang-orang dari dari pulau-pulau di timurnya, yang dijual dengan perantara
lanun dan orang bahari Bugis. Karena berpengalaman militer, budak asal Bali
banyak yang direkrut sebagai tentara kolonial dalam politik ekspansinya.
Pemerintahan kolonial Belanda mendatangkan banyak buruh Tionghoa untuk
bertambang di Sumatra, bekerja di Batavia, dan tempat-tempat lainnya.
Mula-mula yang datang hanya kaum prianya sehingga mereka terpaksa
menikahi budak-budak belian. Mereka cenderung memilih budak dari Bali
dan Nias dengan pertimbangan bahwa mereka mau memasak daging babi.
Sebagian lelaki dan perempuan Bali di masa ini jatuh bagai pariah dan
mereka ada yang diekspor hingga jauh ke Afrika, ke Bourbon (sekarang
disebut lile de Runion ), pulau koloni Perancis.
Batavia jaman dulu adalah tempat bertemunya berbagai ras dan suku. Orang
dan budaya Betawi modern adalah hasil perpaduan berbagai suku, ras, dan
budaya. Pengaruh kebudayaan Bali pada kebudayaan Betawi antara lain tari
Ondel-Ondel yang diinspirasikan oleh tari Barong Landung (patung tinggi
besar dari kertas dan bambu berbentuk manusia yang ditarikan) serta
pemakaian akhiran in dalam bahasa Betawi. Misalnya main(-in), dimandi(in), dikadal(-in).
Pada akhirnya orang Belanda berhenti mengekspor budak Bali karena
mereka kerap berontak. Dan pemberontakan terbesar adalah
pemberontakan Untung Suropati.
Menurut Babad Tanah Jawa, sejak muda ia telah menjadi budak belian.
Pertama-tama, ia diperbudak oleh van Beber yang kemudian melegonya
kembali kepada Moor. Majikan kedua ini merasa kehidupan dan karirnya
membaik sejak memiliki si budak, untuk itu ia menamainya Untung. Tapi
Untung kemudain menjalin cinta dengan Suzane, anak majikannya dan
ketahuan . Ia lalu dipenjara, namun berhasil meloloskan diri beserta kawankawannya. Bagai Spartacus di jaman Romawi, ia mengumpulkan para budak
dan gelandangan Bali untuk membentuk gerombolan yang kerap menyerang
patroli dan kepentingan-kepentingan Belanda.
Ia diburu oleh kapten Ruys namun perwira ini malah menawarinya menjadi
serdadu Belanda seperti banyak budak Bali lainnya. Saat itu Belanda sedang
berupaya menaklukkan Banten. Untung dan kawan-kawannya bersetuju.
Setelah dilatih militer, karirnya terus menanjak hingga mencapai pangkat
Letnan.

Untung beserta pasukannya kemudian ditugaskan untuk melucuti senjata


Pangeran Purbaya , pangeran Banten, yang berniat menyerahkan diri ke
Tanjungpura namun hanya mau menyerah kepada tentara kolonial pribumi.
Dalam upacara penyerahan diri, pasukan Belanda totok pimpinan Vaandrig
Kuffeler bertingkah arogan dan memperlakukan sang pangeran dengan
kasar. Untung tidak terima dengan hal ini dan terjadilah pertengkaran antar
kedua pasukan yang berujung pertempuran. Pasukan Untung
menghancurkan pasukan Kuffeler di sungai Cikalong pada 28 januari 1684.
Pangeran Purbaya tetap berniat menyerahkan diri ke Tanjungpura. Sang istri,
Gusik Kusuma, tidak mau menyerah dan memilih untuk kembali ke rumah
orangtunya di Kartasura. Dalam pelarian menuju Kartasura berkali-kali
Untung menghancurkan tentara Belanda. Setiba di Kartasura, ayah Gusik
Kusuma, Pangeran Nerangjaya yang sangat anti VOC menikahkan putrinya
dengan Untung.
Bahkan atas loby mertuanya, Sultan Amangkurat I Mataram mengangkat
Untung sebagai bupati Pasuruan.Sambil menjalankan pemerintahan dengan
gelar Adipati Wironegoro, Untung tetap berperang dengan Belanda. Pada
tahun 1699,kekuasaannya sudah mencapai Madiun. Sedangkan Blambangan
dibawah pengaruh Mengwi dan wilayah Mengwi bahkan sudah mencapai
Probolinggo. Terbentuklah aliansi antara Untung Suropati, Blambangan, dan
Bali (Mengwi).
Mataram bergejolak, Pangeran Puger merebut tahta dibantu oleh Belanda
dan memakai gelar Pakubuwono I . Amangkurat III, tidak terima dan
bergabung dengan pasukan Untung Suropati di Pasuruan.
Belanda kemudian bersekutu dengan kekuatan Cakraningrat II yang merasa
kekuasaannya di Surabaya dan Madura terancam oleh aliansi Untung
Suropati. Gabungan tentara VOC, Pakubuwono, dan Madura lambat laun
mendesak Untung Suropati. Amangkurat III memutuskan untuk menyerah
kepada Belanda. Kemudian Belanda meneruskan serangan ke jantung
pertahanan Untung di Pasuruan setelah satu persatu merebut bentengbentengnya. Dalam pertempuran Bangil, 1706, Suropati gugur. Gugur
sebagai seorang raja bukan sebagai budak. Perjuangannya diteruskan oleh
istri dan anak-anaknya, walau perlawanan mereka tak segemilang Untung.
Ketika aliansi Blambangan, Untung, dan Mengwi berada di puncak kejayaan,
Mengwi melantik Mas Purba dengan gelar Pangeran Danurejo sebagai raja
Blambangan pada 1697. Ia memiliki dua istri. Istri pertamanya adalah salah
satu putri Untung dan istri keduanya adalah putri dari Mengwi. Ia meninggal
pada tahun 1736, jauh setelah kematian mertuanya Untung Suropati.
Ia digantikan anaknya dari istri pertama yang bernama Mas Nuyang atau
Mas Jingga dengan gelar Danuningrat . Walaupun diangkat oleh Mengwi, ia

merasa lebih nyaman bergabung dengan Belanda yang menurutnya lebih


kuat.Kemudian ia membunuh Rangga Satata, perwakilan Mengwi, dan
melarikan diri dari Blambangan untuk meminta perlindungan VOC. Karena ia
cucu Untung Suropati, Belanda setengah hati menerimanya dan cenderung
mengabaikannya. Ia kembali ke Blambangan dan ditangkap oleh pasukan
Mengwi, dibawa ke Bali, lalu dieksekusi di pantai Seseh pada 1764. Belanda
akhirnya menyerang Blambangan melalui Banyualit pada 1767 dan
merebutnya dari penguasaan Mengwi dengan mudah.
Wong Agung Wilis, anak Danurejo dari istri kedua kembali dari Mengwi. Ia
pertama-tama mengaku mau bekerja sama dengan Belanda dan diijinkan
tingal di rumah saudara tirinya Pangeran Pati. Tapi dengan diam-diam,
dengan popularitasnya, ia mampu menarik hati rakyat Blambangan dari
berbagai etnis untuk berontak melawan Belanda. Tentaranya terdiri dari
orang Bugis, Mandar, Tionghoa, dan Bali. Dengan bantuan finansial dari
Mengwi, 6000 pasukan, dan persenjataan bantuan Inggris pada tahun 1768
ia merebut benteng Banyualit. Di waktu yang sama wabah penyakit
berjangkit dan menimbulkan ribuan korban nyawa. Belanda mengurungkan
niat merebut kembali benteng untuk sementara. Akhirnya dengan bantuan
Surakarta dan Madura, pada akhirnya Agung Wilis berhasil dikalahkan lalu
dibuang ke Banda. Dari pengasingannya ia berhasi melarikan diri ke Seram,
kembali ke Mengwi dan mati karena usia lanjut tahun 1780.
Pada akhirnya, satu persatu kerajaan Bali ditaklukkan Belanda. Buleleng
yang didukung Karangasem, Klungkung, dan Mengwi bertahan selama 3
tahun, diserang 1846 dan benar-benar kalah dengan jatuhnya benteng
Jagaraga pada 1849. Mengwi mengalami pelemahan sejak kekalahan di
Blambangan dan akibat konflik internal. Pada akhirnya sebelum sempat
berperang dengan musuh utamanya, Belanda, Mengwi jatuh ke tangan
Badung yang dibantu Tabanan dan tentara Bugis pada tahun 1891.
Badung yang pada abad ke-18 masih merupakan wilayahnya Mengwi, tidak
memberikan perlawanan berarti kepada Belanda dan jatuh lewat perang
puputan tanpa strategi militer yang baik pada 1906. Gianyar dan Bangli
memilih bernaung di bawah Belanda tanpa kekerasan. Tabanan tidak
membela Badung ketika diserang Belanda. Rajanya ragu antara memilih
berperang atau mengambil posisi seperti Gianyar. Ia bunuh diri beserta
pangerannya dalam tahanan Belanda. Reputasi Tabanan diselamatkan putri
raja, Sagung Wah, yang sempat menghimpun rakyat untuk berperang walau
akhirnya hidupnya berakhir di pengasingan di Lombok. Terakhir Klungkung
jatuh lewat puputan pada 1908.