Anda di halaman 1dari 18

PBL 2

Kasus Pembunuhan Anak Sendiri

Kelompok

: A3

1. Apriyogi Dwi Jaya

102010122

2. Alitha Rachma Oktavia

102010278

3. Ika Puspita

102011036

4. Meryn

102011133

5. Yoshua

102011174

6. Maria Donata Keli

102011198

7. Alexandro Wiyanda

102011296

8. Novella Iona Tiffany

102011356

Fakultas Kedokteran
Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Arjuna Utara No.6 Jakarta 11510

PENDAHULUAN
Pembunuhan Anak Sendiri (PAS) adalah merupakan suatu bentuk kejahatan

terhadap

nyawa yang unik sifatnya. Unik dalam arti si pelaku pembunuhan haruslah ibu kandungnya
sendiri, dan alasan atau motivasi untuk melakukan kejahatan tersebut adalahkarena si ibu
takut ketahuan bahwa ia telah melahirkan anak.
Di Jakarta dilaporkan bahwa 90-95% dari sekitar 30-40 kasus PAS per tahundilakukan
dengan cara asfiksia mekanik. Bentuk kekerasan lainnya adalah kekerasantumpul di kepala
(5-10%) dan kekerasan tajam pada leher atau dada (1 kasus dalam 6-7tahun).
Pembunuhan

Anak

sendiri

(PAS)

menurut

undang-undang

di

Indonesia

adalah pembunuhan yang dilakukan oleh seorang ibu atas anaknya pada ketika dilahirkan
atau tidak berapa lama setelah dilahirkan, karena takut ketahuan bahwa ia melahirkan anak.
Pada Tindak pidana pembunuhan anak, faktor psikologik ibu yang baru melahirkan
diperhitungkan sebagai faktor yang meringankan, keadaan tersebut menyebabkan si ibu
melakukan pembunuhan tidak dalam keadaan sadar yang penuh, dan belum sempat timbul
rasa kasih sayang.

Skenario
Sesosok mayat bayi baru lahir ditemukan di suatu tempat sampah. Masyarakat
melaporkannya kepada polisi. Mereka juga melaporkan bahwa semalam melihat seorang
perempuan yang menghentikan mobilnya didekat sampah tersebut dan berada di sana cukup
lama. Seorang dari anggota masyarakat sempat mencatat nomor mobil perempuan tersebut.
Polisi mengambil mayat bayi tersebut dan menyerahkannya kepada anda sebagai dokter
direktur rumah sakit. Polisi juga mengatakan bahwa sebentar lagi si perempuan yang
dicurigai sebagai pelakunya akan dibawa ke rumah sakit untuk diperiksa. Anda harus
mengatur segalanya agar semua pemeriksaan dapat berjalan dengan baik dan akan
membriefing para dokter yang akan menjadi pemeriksa.

PEMBAHASAN
I.

Aspek Hukum1,2
Bila ditemukan mayat bayi di suatu tempat yang tidak semestinya, misalnya di tempat

sampah, got, sungai dan sebagainya, maka bayi tersebut mungkin adalah korban pembunuhan
anak sendiri (pasal 341,342), pembunuhan (338, 339, 340, 343), lahir mati kemudian dibuang
(pasal 181) atau bayi yang ditelantarkan sampai mati (pasal 308).
Pasal 341

: Seorang ibu yang karena takut akan ketahuan melahirkan anak pada saat
anak dilahirkan atau tidak lama kemudian, dengan sengaja merampas nyawa
anaknya, diancam karena membunuh anaknya sendiri dengan pidana penjara

Pasal 342

paling lama 7 tahun.


: Seorang ibu yang untuk melaksanakan niat yang dtentukan karena takut akan
ketahuan bahwa ia akan melahirkan anak, pada saat anak dilahirkan atau tidak
lama kemudian merampas nyawa anaknya, diancam karena melakukan

Pasal 343

pembunuhan dengan rencana, dengan pidana penjara paling lama 9 tahun.


: Kejahatan yang diterangkan dalam pasal 341 dan 3432 dipandang bagi orang
lain yang turut serta melakukan sebagai pembunuhan atau pembunuhan

Pasal 181

dengan rencana.
: Barang siapa

mengubur,

menyembunyikan,

membawa

lari

atau

menghilangkan mayat dengan maksud menyembunyikan kematian atau


kelahirannya, diancam dengan pidana penjara selama 9 bulan atau pidana
Pasal 308

denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.


: Jika seorang ibu karena takut akan diketahui orang tentang kelahiran
anaknya, tidak lama sesudah melahirkan, menempatkan anaknya untuk
ditemukan atau meninggalkannya dengan maksud untuk melepaskan diri dari
padanya, maka maksimum pidana tersebut dalam pasal 305 dan 306 dikurangi
separuh.

Dimana bunyi pasal 305 dan 306 adalah sebagai berikut :


Pasal 305
: Barang siapa menempatkan anak yang umurnya belum tujuh tahu untuk
ditemukan atau meninggalkan anak itu dengan maksud untuk melepaskan diri
Pasal 306

dari padanya, diancam dengan pidana penjara paling lama 5 tahun 6 bulan.
: (1) Jika salah satu perbuatan berdasarkan pasal 304 dan 305 itu
mengakibatkan luka-luka berat, yang bersalah diancam dengan pidana penjara
paling lama 7 tahun 6 bulan.
3

(2) Jika mengakibatkan kematian, pidana penjara paling lama 9 tahun.

Sedangkan bagi orang lain yang melakukan atau turut membunuh seorang anak
dihukum karena pembunuhan atau pembunuhan berencana, dengan hukuman yang lebih berat
yaitu penjara 15 tahun (pasal 338 ; tanpa rencana) atau 20 tahun, seumur hidup/hukuman mati
(pasal 339,340 ; dengan rencana).
Untuk memenuhi kriteria pembunuhan anak sendiri, dengan sendirinya bayi atau anak
tersebut harus dilahirkan hidup setelah seluruh tubuhnya keluar dari tubuh ibu. Bila bayi lahir
mati kemudain dilakukan tindakan membunuh, maka tindakan ini bukanlah pembunuhan
anak sendiri ataupun pembunuhan.

II.

Aspek Medikolegal1,2

Pasal 133 KUHAP


(1)

Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban baik
luka, keracunan ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang merupakan tindak
pidana, ia berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran
kehakiman atau dokter dan atau ahli lainnya.

(2)

Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan secara
tertulis, yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan luka atau
pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat.

(3)

Mayat yang dikirim kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter pada rumah sakit
harus diperlakukan secara baik dengan penuh penghormatan terhadap mayat tersebut
dan diberi label yang memuat identitas mayat, dilak dengan diberi cap jabatan yang
dilekatkan pada ibu jari kaki atau bagian lain badan mayat.

Pasal 134 KUHAP


(1)

Dalam hal sangat diperlukan dimana untuk keperluan pembuktian bedah mayat tidak
mungkin lagi dihindari, penyidik wajib memberitahukan terlebih dahulu kepada
keluarga korban.

(2)

Dalam hal keluarga keberatan, penyidik wajib menerangkan dengan sejelas-jelasnya


tentang maksud dan tujuan perlu dilakukannya pembedahan tersebut.

(3)

Apabila dalam waktu dua hari tidak ada tanggapan apapun dari keluarga atau pihak
yang diberi tahu tidak diketemukan, penyidik segera melaksanakan ketentuan
sebagaimana dimaksud dalam pasal 133 ayat (3) undang-undang ini.

Pasal 179 KUHAP


(1)

Setiap orang yang diminta pendapatnya sebagai ahli kedokteran kehakiman atau
dokter atau ahli lainnya wajib memberikan keterangan ahli demi keadilan.

(2)

Semua ketentuan tersebut di atas untuk saksi berlaku juga bagi mereka yang
memberikan keterangan ahli, dengan ketentuan bahwa mereka mengucapkan sumpah
atau janji akan memberikan keterangan yang sebaik-baiknya dan yang sebenarnya
menurut pengetahuan dalam bidang keahliannya.

Pasal 181 KUHAP


(1)

Hakim ketua sidang memperlihatkan kepada terdakwa segala barang bukti dan
menanyakan kepadaya apakah Ia mengenal benda itu dengan memperhatikan
ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45 undang-undang ini.

(2)

Jika perlu benda itu diperlihatkan juga oleh hakim ketua sidang kepada saksi.

(3)

Apabila dianggap perlu untuk pembuktian, hakim ketua sidang membacakan atau
memperlihatkan surat atau berita acara kepada terdakwa atau saksi dan selanjutnya
minta keterangan seperlunya tentang hal itu.

Pasal 184 KUHAP


(1)

Alat bukti yang sah ialah:


a.keterangan saksi;
b.keterangan ahli;
c.surat;
d.petunjuk;
e.keterangan terdakwa.

(2)

Hal yang secara umum sudah diketahui tidak perlu dibuktikan.

Pasal 185 KUHAP


(1)

Keterangan saksi sebagai alat bukti ialah apa yang saksi nyatakan di sidang
pengadilan.

(2)

Keterangan seorang saksi saja tidak cukup untuk membuktikan bahwa terdakwa
bersalah terhadap perbuatan yang didakwakan kepadanya.

(3)

Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) tidak berlaku apabila disertai
dengan suatu alat bukti yang sah lainnya.

(4)

Keterangan beberapa saksi yang berdiri sendiri-sendiri tentang suatu kejadian atau
keadaan dapat digunakan sebagai suatu alat bukti yang sah apabila keterangan saksi

itu ada .hubungannya satu dengan yang lain sedemikian rupa, sehingga dapat
membenarkan adanya suatu kejadian atau keadaan tertentu.
(5)

Baik pendapat maupun rekan, yang diperoleh dari hasil pemikiran saja, bukan
merupakan keterangan saksi.

(6)

Dalam menilai kebenaran keterangan seorang saksi, hakim harus dengan sungguhsungguh memperhatikan
a

persesuaian antara keterangan saksi satu dengan yang lain;

persesuaian antara keterangan saksi dengan alat bukti lain;

Alasan yang mungkin dipergunakan oleh saksi untuk memberi keterangan


yang tertentu;

Cara hidup dan kesusilan saksi serta segala sesuatu yang pada umumnya
dapat mempengaruhi dapat tidaknya keterangan itu dipercaya.

(7)

Keterangan dari saksi yang tidak disumpah meskipun sesuai satu dengan yang lain
tidak merupakan alat bukti namun apabila keterangan itu sesuai dengan keterangan
dari saksi yang disumpah dapat dipergunakan sebagai tambahan alat bukti sah yang
lain.

Pasal 186 KUHAP


Keterangan ahli ialah apa yang seorang ahli nyatakan di suatu sidang pengadilan.

III.

Pemeriksaan Jenazah (Bayi)

Kematian bayi dapat disebabkan oleh proses persalinan (trauma lahir), kecelakaan (bayi
terjatuh, partus presipitatus), pembunuhan atau alamiah (penyakit). Oleh karena itu
pemeriksaan harus dilakukan benar-benar secara teliti.
1. Pemeriksaan Luar
a. Penentuan maturitas bayi1
7

Walaupun dalam undang-undang tidak dipersoalkan umur bayi, tetapi kita harus
menentukan apakah bati tersebut cukup bulan atau belum cukup bulan (prematur)
ataukah non-viable. Karena pada keadaan prematur atau non-viable, kemungkinan
bayi tersebut meninggal akibat proses alamiah besar sekali sedangkan kemungkinan
mati akibat pembunuhan anak sendiri adalah kecil.
Viable adalah keadaan bayi/janin yang dapat hidup diluar kandungan lepas dari
ibunya. Kriteria untuk itu adalah umr kehamilan lebih dari 28 minggu dengan
panjang badan (kepala-tumit) lebih dari 35 cm, panjang badan (kepala-tungging)
lebih dari 23 cm, berat badan lebih dari 1000 g, lingkar kepala lebih dari 32 cm dan
tidak ada cacat bawaan yang fatal.
Bayi yang cukup bulan (matur) bila umur kehamilan > 36 minggu dengan panjang
badan kepala-tumit lebih dari 48 cm, panjang badan kepala-tungging 30-33 cm, berat
badan 2500-3000 g dan lingkar kepala 33 cm.
Ciri eksterna lain pada bayi cukup bulan adalah lanugo sedikit (terdapat pada dahi,
punggung dan bahu), pembentukan tulang rawan telinga telah sempurna (bila daun
telinga dilipar akan cepat kembali ke keadaan semula), diameter tonjolan susu 7 mm
bagian depan kaki, testis sudah turun ke dalam skrotum, labia minora sudah tertutup
oleh labia mayora yang telah berkembang sempurna, kulit berwarna merah muda
(pada kulit putih) atu merah kebiruan (pada kulit berwarna) yang setelah 1-2 minggu
berubah menjadi lebih pucat atau coklat kehitaman, lemak bawah kulit merata
seingga kulit tidak keriput (pada bayi prematur kulit keriput).
b. Tanda bayi sudah atau belum dirawat1
Pada bayi yang telah dirawat akan ditemukan hal-hal sebagai berikut :
- Tali pusat : tali pusat telah terikat, diputuskan dengan gunting atau pisau lebih
kurang 5 cm dari pusat bayi dan diberi obat antiseptik. Bila tali pusat
dimasukkan ke dalam air, akan terlihat ujungnya terpotong rata. Terkadang ibu
menyangkal melakukan pembunuhan dengan mengatakan telah terjadi partus
presipitatus (kebrojolan). Pada keadaan ini tali pusat akan terputus dekat
perlekatannya dengan ujung tidak rata. Selain itu, hal lain yang tidak sesuai
dengan partus preipitatus adalah terdapatnya caput suksedaneum, molase hebat
-

dan fraktur rulang tengkorak, serta ibu yang primipara.


Verniks kaseosa (lemak bayi) telah dibersihkan, demikian pula bekas-bekas
darah. Pada bayi yang dibuang ke dalam air, verniks tidak akan hilang dan masih
8

dapat ditemukan di daerah lipatan kuli seperti ketiak, belakang telinga, lipat paha
-

dan lipat leher.


Pakaian. Perawatan terhadap bayi antara lain adalah memberi pakaian atau
penutup tubuh pada bayi.

c. Pemeriksaan mulut1
Melihat apakah ada benda asing yang menyumbat, apakah terdapat robekan pada
palatum mole akibat sumbatan atau kekerasan.
d. Tanda kekerasan1
Pada kass pembunuhan anak atau bayi, cara yang sering digunakan adalah yang
menimbulkan

asfiksia

seperti

pembekapan,

pencekikan,

penenggelaman,

penyumbatan jalan napas, dan kadang dimasukan kedalam koper, tas, dan lain-lain.
Pembunuhan anak sendiri dengan kekerasan tumpul biasanya adalah perlakuan
berulang sehingga dapat ditemukan memar yang berat hingga menimbulkan patah
tulang atau retak tulang, terutama di daerah kepala.
e. Trauma lahir1
Trauma lahir juga dapat menyebabkan tanda-tanda kekerasan seperti :
- Kaput suksedaneum. Kaput suksedaneum memberikan gambaran mengenai
lamanya persalinan. Makin lama persalinan berlangsun, timbul kaput
suksedaneum yang makin hebat. Secara makroskopik akan terlihat sebagai
edema pada kulit kepala bagian dalam di daerah presentasi terendah yang
berwarna kemerahan. Kaput suksedaneum dapat melewati perbatasan antara
sutura tulang temgkorak dan tidak terdapat perdarahan di bawah periosteum
-

tulang tengkorak.
Sefal hematom. Perdarahan setempat diantara periosteum dan permukaan luar
tulang atap tengkorak dan tidak melampaui sutura tulang tengkorak akibat
molase yang hebat. Umumnya terdapat pada tulang parietal dan skuama tulang
oksipital. Makroskopik terlihat sebagai perdarahan di bawah periosteum yang

terbatas pada satu tulang dan tidak melewati sutura.


Fraktur tulang tengkorak. Patah tulang tengkorak jarang terjadi pada trauma
lahir, biasanya hanya berupa cekungan tulang saja pada tulang ubun-ubun
(celluloid ball fracture). Penggunaan forceps dapat menyebabkan fraktur

tengkorak dengan robekan otak.


Perdarahan intrakranial, subarachnoid, dan epidural akan dibahas pada
pemeriksaan dalam.

f. Tanatologi1
9

Pemeriksaan terhadap adanya lebam mayat, kaku mayat, penurunan suhu,


pembusukan, adiposera, mummifikasi, dan lainnya untuk dapat memperkirakan juga
saat kematian.
g. Tanda-tanda maserasi (aseptic decomposition)1
Maserasi merupakan autolisis yang aseptik pada fetus yang sudah mati dan tersisa di
dalam kantung amnion. Bakteri pembusuk tidak terlibat dalam proses ini. Perubahan
maserasi hanya dapat terlihat ketika fetussudah mati beberapa hari sebelum kelahiran.
Normalnya, perubahan terjadi dalam satu minggu.
Adapun syarat-syarat terjadinya maserasi intrauterin adalah:
-Fetus telah mati dan sisanya masih tersimpan dalam uterus dalam waktu lebih dari 24
jam, bahkan akan lebih baik jika pembentukan maserasi terjadi dalam 3-4 hari atau
lebih (jika fetus mati dalam uterus dan dikeluarkan dalam 24 jam, maka sulit untuk
mengetahui apakah fetus mati sebelum atau selama kelahiran dan tidak ada bukti
terjadinya maserasi ataupun mummifikasi)
-Fetus dikelilingi dengan banyak cairan amnion (jika jumlah cairan amnionnya
sedikit, kekurangan darah, dan tidak ada sirkulasi udara dalam uterus, maka fetus
akan mengering yang disebut mummifikasi)
-Membran luar masih tersisa (sehingga tidak ada sirkulasi udara yang terjadi)
-Ibu dari janin masih hidup
Ciri-ciri dari maserasi intarauterin:
-Tubuh yang sudah mati akan halus, odematous, faksid, dan mendatar. Jika diletakkan
pada permukaan yang datar, fetus yang sudah mati akan terlihat lurus dan datar tanpa
menunjukkan kurvaktur yang normal
-Berwarna merah-tembaga atau seprti merah-daging.
-Kavitas serous terisi cairan merah keruh
-Tubuh berbau asam yang khas (racid odour) tapi tidak ada gas yang terbentuk.
-Adanya spalding sign yaitu tanda radiologis terjadinya overlapping dari tulangtulang tengkorak. Overlapping dari tulang-tulang tengkorak terjadi karena penyusutan
serebrum dan kematian fetus dalam uterusmenyebabkan fetus yang sudah mati
tersebut dianggap sebagai benda asing dan uterus akan berusaha untuk
mengeluarkannya dengan kontraksi yang kuat.
2. Pemeriksaan Dalam
a. Rongga dada
Pada bayi yang lahir mati akan ditemukan iga yang masih datar dan diafragma belum
turun, masih setinggi iga ke 3-4. Pada bayi yang lahir hidup, dada sudah
mengembang dan diafragma sudah turun sampai ke sela iga 4-5.
b. Pemeriksaan makroskopik paru
10

Paru-paru bayi yang sudah bernapas (sudah teraerasikan) berwarna merah muda tidak
homogen tetapi berupa bercak-bercak (mottled) dan menunjukkan gambaran mozaik
berupa daerah-daerah poligonal yang berwarna lebih muda dan menimbul di atas
permukaan berselang-seling dengan yang berwarna lebih tua dan kurang menimbul.
Gambaran tersebut tampak jelas pada tepi lobus paru. Tepi-tepi paru tumpul.
Paru-paru bayi yang belum bernapas (belum teraerasikan) berwarna merah hitam
seperti warna hati bayi, homogen, tidak menunjukkan gambaran mozaik dan tepitepinya tajam. Kadang-kadang tampak guratan-guratan yang membentuk pola
daerah-daerah poligonal pada permukaan paru. Warna daerah-daerah yang poligonal
itu tidak berbeda satu sama lain dan juga tidak berbeda dengan warna paru di bagian
lainnya.
Uji apung paru positif yang membuktikan telah terdapatnya udara dalam alveoli paru.
Dengan cara mengeluarkan seluruh alat rongga dada kemudian dimasukkan dalam
air, dan memperhatikan apakah kedua paru terapung. Kemudian dilanjutkan dengz\an
mengapungkan paru kanan dan kiri secara tersendiri. Dan lobus paru dipisah dan
diapungkan diair. Selanjutnya membuat 5 potongan kecil ( 5 mm x 10 mm x 10
mm) dari masing-masing lobus dan diapungkan kembali. Pada paru yang telah
mengalami pembusukan, potongan kecil dari paru dapat mengapung sekalipun paru
belum pernah bernapas. Hal ini disebabkan oleh pengumpulan gas pembusukan pada
jaringan interstisial paru, yang dengan menekan potongan paru yang bersangkutan
antara 2 karton, gas pembusukan dapat didesak keluar. Uji apung paru dinyatakan
positif bila potongan paru yang telah ditekan antara dua karton sebagian besar masih
tetap

mengapung.

Penekanan tersebut bertujuan untuk menyingkirkan gas pembusukan dan tidal air,
yang terdapat dalam jaringan intertisial paru-paru yang membusuk. Namun, bila paru
tersebut sudah mebusuk sekali, alveoli sudah pecah atau menjadi pecah pada
penekanan, maka residual air tersingkirkan sehingga jaringan paru akan tenggelam.
Dengan demikian bayi yang telah bernapas dapat dinilai sebagai belum bernapas
setelah dilahirkan. Hal ini merupakan salah satu alasan mengapa pada hasil uji apung
paru yang negatif tidak dapat dibuat kesimpulan bahwa bayi pasti belum bernapas.
Bila uji apung paru negatif, hanya dapat dibuat kesimpulan bayi mungkin belum
bernapas.

11

Uji apung paru harus dilakukan menyeuruh sampai potongan kecil paru mengingat
kemungkinan adanya pernapasan sebagian yang dapat bersifat buatan atau alamiah
(vagitus uterinus)
c. Pemeriksaan mikroskopik paru
akan tampak jaringan paru dengan alveoli yang telah terbuka dengan dinding alveoli
yang tipis.
Cara

pengambilan

jaringan

untuk

pemeriksaan

mikrosopis,

yaitu

dengan

memasukkan seluruh paru kanan ke dalam formalin netral 10%. Setelah kira-kira 12
jam dibuat beberapa irisan melintang pada paru untuk memungkinkan fiksatif
meresap dengan baik ke dalamnya. Setelah difiksasi selama 48 jam diambil
potongan-potongan melintang dari ketiga lobus dengan menggunakan scalpel yang
tajam atau pisau silet. juga dari sisa paru kiri diambil beberapa potongan jaringan.
Biasanya digunakan pewarnaan hematoksilin eosin, namun untuk paru yang sudah
membusuk , Reh (34) menganjurkan pewarnaan cara Gomori, tatapi dapat pula
dilakukan dengan pewarnaan cara Ladewig yang lebih murah.
Dengan pewarnaan cara Gomori, ruang kosong akibat gas pembusukan atau akibat
aerasi dapat dibedakan, karena serabut-serabut retikulin yang terdapt pada septa
alveoli relatif resisten terhadap pembusukan. Pada pembusukan, ruang kosong
menunjukkan batas yang tidak rata karena tidak dibatasi oleh serabut retikulin yang
tegang, sebaliknya pada ruang kosong akibat aerasi, menunujukkan batas yang rata
dimana tampak serabut yang tegang. Di sini sukar untuk menentukan, apakah anak
bernapas pada waktu sebelum atau sesudah dilahirkan. Ada kalanya anak masih
dalam kandungan sudah bernapas dan menangis, vagitus uterinus/vaginalis. Dimana
apabila selaput ketuban pecah dan air ketuban keluar, sehingga terjadi hubungan
antara dunia luar dengan anak dalam kandungan. Pada saat yang singkat ini, udara
terisap oleh anak, anak benapas kemudian menangis. Bila rahim berkontraksi
kembali, vagitus uterinus tidak terjadi lagi. 3,4,5
Struktur seperti kelenjar bukan merupakan tanda paru bayi yang belum bernapas
tetapi merupakan ciri paru janin yang belum mencapai usia gestasi 26 minggu. Tanda
khas untuk bayi yang belum bernapas adalah adanya tonjolan (projection), yang
berbentuk seperti bantal (cushion-like) yang kemudian akan bertambah tinggi dengan
dasar menipis sehingga ampak seperti gada (club-like). Pada permukaan ujung bebas
projection tampak kapiler yang berisi banyak darah. Pada paru bayi yang belum
12

bernapas yang sudah membusuk, dengan pewarnaan Gomori atau Ladewig, tampak
serabut-serabut retikulin pada permukaan dinding alveoli berkelok-kelok seperti
rambut yang keriting, sedangkan pada bagian projection berjalan di bawah kapiler
sejajar dengan permukaan projection dan membentuk gelung-gelung terbuka
(oper,loops). Pada bayi lahir mati, mungkin pula ditemukan tanda inhalasi cairan
amnion yang luas karena asfiksia intrauterin, misalnya akibat tertekannya tali pusat
atau solusio plasenta sehingga terjadi pernapasan janin prematur. Tampak sel verniks
akibat deskuamasi sel-sel permukaan kulit, berbentuk segi panjang dengan inti
piknotik berbentuk huruf S bila dilihat dari atas samping terlihat seperti bawang
(onion-bulb). Juga tampak sedikit sel amnion yang bersifat asidofilik dengan batas
tidak jelas dan inti terletak eksentrik dengan batas yang juga tidak jelas. Mekonium
yang berbentuk bulat berwarna jernih sampai hijau tua mungkin terlihat dalam
bronkioli dan alveoli. Kadang ditemukan deskuamasi sel epitel bronkus yang
merupakan tanda dari maserasi dini atau fagositosis mekonium oleh sel-sel dinding
alveoli. Kolon dapat menggelembung berisi mekonium, yang merupakan tanda usaha
untuk bernapas (struggle to breathe).
Pada paru bayi yang lahir hidup dan sudah bernapas, alveoli paru mengembang
sempurna dengan atau tanpa emfisema obstruktif, serta tidak terlihat adanay
projection. Pada pewarnaan Gomori atau Ladewig, serabut retikulin akan tampak
tegang. Pada pernapasan parsial yang singkat, mungkin hasil uji apung paru negatif
dan mikroskopik memperlihatkan gambaran alveoli yang kolaps dengan dinding yang
berhimpitan atau hampir berhimpitan. Kadang dapat ditemukan edema yang luas
dalam jaringan paru, membrana duktus alveolaris yang tersebar dalam jaringan paru,
yang mungkin berasal dari lemak verniks atau atelektasi paru akibat obstruksi oleh
membran duktus alveolaris.
d. Tanda asfiksia
Ditemukannya Tadieus spots pada permukaan paru, jantung, timus, dan epiglotis.
e. Pemeriksaan kepala
Pada pemeriksaan kepala bayi baru lahir, kulit disayat dan dilepaskan seperti pada
orang dewasa. Tulang tengkorak dibuka dengan guntung, dnegan cara menusuk
fontanel mayor 0,5-1 cm dari garus pertengahan dan dilakukan pengguntingan pada
tulang dahi dan ubun-ubun ke depan dan ke belakang pada sisi kiri dan sisi kanan. Ke
depan sampai kira-kira 1 cm di atas lengkung atas rongga mata (margo superior
13

orbita) dan ke belakang sampai perbatasan dengan tulang belakang kepala. Kemudian
dilakukan pengguntingan ke arah lateral sampai 1 cm di atas basis mastoid dengan
menyisakan tulang pelipis diatas telinga kira-kira sepanjang 2 cm.
Kedua keping tulang atap tengkorak dipatahkan ke arah lateral. Biasanya duramater
ikut tergunting karena melekat erat pada tulang. Perhatikan apakah terdapat
perdarahan subdural atau subarachnoid. Perhatikan keadaan falks serebri dan
tentorium serebeli terutama pada perbatasannya (sinus rektus dan sinus transversus)
apakah terdapat robekan. Selanjutnya dilakukan pengeluaran otak seperti pada orang
dewasa. Tujuan pembukaan tengkorak ini adalah supaya falks serebri serta tentorium
tetap dalam keadaan utuh sehingga tiap kelainan dapat ditentukan dengan jelas.
Perdarahan pada subaraknoid dan epidural sangat jarang terjadi. Perdarahan
intrakranial yang lebih sering terjadi, yaitu di subdural akibat laserasi tentorium
serebeli dan falks serebri; robekan vena galeni di dekat pertemuannya dengan sinus
rektus, robekan sinus sagitalis superior dan sinus transversus dan robekan bridging
veins dekat sinus sagitalis superior. Perdarahan ini timbul pada molase kapala yang
hebat atau kompresi kepala yang cepat dan mendadak oleh jalan lahir yang belum
melemas (pada partus presipitatus).
f. Pemeriksaan saluran cerna
Dapat dilihat dengan foto rontgen. Bila hanya terdapat di dalam lambung atau
duodenum berarti telah hidup 1-2 jam, bila dalam usus besar berati telah hidup 5-6
jam, dan bila telah terdapat dalam rektum berarti telah hidup 12 jam. Tetapi harus
diingat kemungkinan adanya pernapasan buatan atau gas pembusukan.
g. Ginjal
Pada hari ke 2-4 akan terdapat deposit asam urat yang berwarna jingga berbetuk
kipas (fan-shaped), lebih banyak dalam piramid daripada medula ginjal. Hal ini akan
menghilang setelah hari ke 4 saat metabolisme terjadi.
h. Pemeriksaan pusat penulangan
Pemeriksaan ini dapat memperkirakan umur janin.
Tabel 1. Perkiraan umur janin berdasarkan pusat penulangan.
Pusat penulangan
Klavikula
Tulang panjang (diafisis)
Iskium
Pubis

Umur (bulan)
1,5
2
3
4
14

Kalkaneus
Manubrium sterni
Talus
Sternum bawah
Distal femur
Proksimal tibia
kuboid

5-6
6
Akhir 7
Akhir 8
Akhir 9/setelah lahir
Akhir 9/setelah lahir
Akhir 9/setelah lahir
Bayi perempuan lebih cepat

Pemeriksaan pusat penulangan dapat dilakukan secara radiologis atau pada saat
autopsi sebagai berikut.
- Kalkaneus dan kuboid
Lakukan dorsofleksi kaki dan bulat insisi mulai dari antara jari kaki ke 3 dan ke
4 ke arah tengah tumit. Dengan cara ini dapat dilihat pusat penulangan pada
-

kalkaneus, kuboid, serta talus.


Distal femur dan proksimal tibia
Lakukan fleksi tungkai bawah pada sendi lutut dan buat insisi melintang pada
lutut. Patela dilepas dengan memotong ligamentum patela. Buat irisan pada
femur dari arah distal ke proksimal sampai terlihat pusat penulangan pada
epifisis distal femur (bukan penulangan diafisis). Hal yang sama dilakukan
terhadap ujung proksimal ke arah distal. Pusat penulangan terletak di bagian
tengah berbentuk oval berwarna merah dengan diameter 4-6 mm.

i. Perubahan sirkulasi darah1


Setelah bayi lahir akan terjadi obliterasi arteri dan vena umbilikalis dalam waktu 304
hari. Duktus tertutup setelah 3 minggu-1 bulan tetapi kadang tidak menutup
walaupun telah tidak berfungsi. Duktus arteriosus akan menurup setelah 3 minggu-1
bulan.
3. Pemeriksaan penunjang
Pada kasus kematian bayi yang dicurigai sebagai pembunuhan anak sendiri maka perlu
dilakukan pemeriksaan penunjang untuk dicocokan dengan pelaku yang dicurigai sebagai
ibu. Pemeriksaan yang dilakukan adalah pemeriksaan golongan darah dan pemeriksaan
DNA.
Meskipun pemeriksaan golongan darah memiliki tingkat kepercayaan yang kecil, namun
pemeriksaan ini tetap dilakukan. Pencocokan golongan darah anak dan ibu didasarkan
pada hukum mendel. Sehingga apabila ditemukan perbedaan antara golongan darah anak
dan ibu, tidak menyingkirkan kemungkinan adanya hubungan darah (anak-ibu) dan akan
ditelusuri berdasarkan pola penurunannya.
Tabel 2. Pewarisan golongan darah

15

Ibu / Ayah
O
A
B
AB

O
O
O,A
O,B
A,B

A
O,A
O,A
O,A,B,AB
A,B,AB

B
O,B
O,A,B,AB
O,B
A,B,AB

AB
A,B
A,B,AB
A,B,AB
A,B,AB

Pemeriksaan DNA dianggap sebagai pemeriksaan yang paling akurat. Analisis DNA
merupakan penemuan mutakhir bagi ilmu kedokteran forensik, uji keayahan dan
hubungan saudara (sibling test). DNA (deoxyribonucleic acid) ditemukan di semua sel
tubuh.

Sampel dapat diambil dari darah, apus mukosa mulut(buccal swab), akar rambut,janin
(sel-sel janin dalam cairan amnion) atau dari setiap sel bagian tubuh; juga bisa dari
sperma pada kasus pemerkosaan.
Untuk menentukan status keayahan (test paternitas), DNA yang digunakan adalah DNA
inti. Dalam sel manusia, DNA dapat ditemukan di inti sel dan mitokondria. DNA yang
diturunkan oleh ayah kepada anaknya adalah DNA inti. Pada saat fertilisasi sang ayah
akan memberikan informasi genetiknya dalam bentuk DNA saja, sedangkan sang ibu
akan menurunkan komponen inti sel beserta selnya (ovum), sehingga DNA mitokondria
merupakan turunan atau warisan dari sang ibu.
Test yang digunakan untuk mengungkap ibu biologis dari seorang anak disebut sebagai
test maternitas. Dalam test ini, material yang diperlukan adalah DNA seperti halnya test
paternitas. Namun DNA yang digunakan bukan hanya DNA inti, melainkan dapat
menggunakan DNA mitokondria. Keunikan pola pewarisan DNA mitokondria
menyebabkan DNA ini dapat digunakan sebagai penanda untuk mengidentifikasi
hubungan kekerabatan secara maternal/garis ibu.
Tes maternitas bertujuan untuk menentukan apakah seorang wanita adalah ibu biologis
dari seorang anak. Tes ini juga membandingkan pola DNA anak dengan terduga ibu
untuk menentukan kecocokan DNA anak yang diwariskan dari terduga ibu.3

IV.
Pemeriksaan Tersangka (Ibu)
1. Identitas
2. Pemeriksaan Fisik1
Pemeriksaan dilakukan menyeluruh melalui pemeriksaan luar dan dalam.
16

Menentukan perempuan tersebut dalam keadaan hamil atau tidak. Untuk ini
diperiksa:
- Payudara secara makroskpis maupun mikroskopis.
- Ovarium, mencari adanya corpus luteum persisten secara mikroskopik.
- Uterus, lihat besarnya uterus, kemungkinan sisa janin dan secara mikroskopik
adanya sel-sel trofoblast dan sel-sel deciduas.

Adanya bekas-bekas kehamilan


- Adanya garis-garis pada perut bekas peregangan kehamilan (striae gravidarum)
- Dinding perut kendur
- Rahim dapat diraba di atas symphisis (tulang di dekat alat kencing)
- Payudara besar, areola mame hiperpigmentasi

Adanya bekas persalinan


- Adanya robekan pada perineum (daerah panggul)
- Vagina: bisa terlihat memar dan laserasi karena proses persalina. Vagina lunak,
berongga dan mungkin terdapat robekan yang masih baru terjadi. Robekan juga
bisa terjadi pada bagian frenulum labiorum pudenda. Perineum juga kadang-

kadang mengalami laserasi.


Serviks: segera setelah melahirkan, ostium uteri eksternum masih mengalami

pembukaan sebesar 2 jari.


Lokia: cairan yang dikerluarkan dari uterus, biasanya berlangsung selama 2
sampai 3 minggu setelah melahirkan. 1-4 hari lokia rubra, cairan bewarna merah
terang.3

3. Pemeriksaan Psikis
Pemeriksaan psikis sangat diperlukan dan dibutuhkan kerja sama dengan psikiatri untuk
mendeteksi adanya kemungkinan gangguan kejiwaan, misalnya ibu tersebut tidak
mengetahui tindakan dan akibat dari tindakan yang dilakukannya dan tidak dapat
mempertanggung jawabkan hasil perbuatannya. 6
4. Pemeriksaan Penunjang
Pada ibu dapat dilakukan pemeriksaan kadar HCG dalam darah/urin karena pada ibu yang
baru melahirkan masih dapat dijumpai kadar HCG. Pemeriksaan golongan darah dan
DNA diperlukan untuk dicocokan dengan mayat bayi yang ditemukan. Pemeriksaan
histopatogi dapat dilakukan bila masih didapati sisa plasenta (desidua).
V.

Kesimpulan

17

Kasus pembunuhan anak sendiri merupakan pelanggaran hukum yang unik. Untuk
menentukan suatu kasus pembunuhan anak adalah pembunuhan anak sendiri, harus
memenuhi kriteria : pelaku adalah ibu kandung dan bayi lahir hidup. Pada kasus pembunuhan
anak sendiri perlu diperhatikan aspek psikis karena apabila terdapat gangguan kejiwaan maka
tersangka dianggap tidak mampu mempertanggung jawabkan tindakannya, sedangkan apabila
tersangka ternyata tidak memiliki gangguan kejiwaan dan tindakannya didasarkan pada rasa
takut akan diketahui orang lain maka dapat dikenai hukuman pidana.

Daftar Pustaka
1

Budiyanto.A, Widiaktama.W, Sudionoa.S, Hertian.S, Sempurna.B, et al. Ilmu


Kedokteran Forensik. Edisi Pertama cetakan kedua. Jakarta : Bagian Kedokteran
Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 1997.h.165-76

Peraturan perundang-undangan bidang kedokteran. cetakan kedua. Jakarta : Bagian


Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 1994. h.
11,13,18,20,40

Jason Payne-James, Roger W. Byard, Tracey S. Corey, Carol Henderson.


Encyclopedia of Forensic and Legal Medicine. England: Oxford, Elsevier Academic

Press; 2005.
Timmermans S. Postmortem: How Medical Examiners Explain Suspicious Deaths. N

Engl J Med 2007; 356:2759-60.


5 Made Agus Gelgel Wirasuta. Analisis toksikologi forensic dan interpretasi temuan
6

analisis. Indonesian Journal of Legal and Forensic Sciences 2008; 1(1):47-55.


Yusti Probowati R. Peran psikologi dalam investigasi kasus tindak pidana. Indonesian
Journal of Legal and Forensic Sciences 2008; 1(1):26-31.

18