Anda di halaman 1dari 20

Penemuan Mayat Bayi di Dalam Tempat Sampah

Citra P D C 102010307
B5
3 Desember 2013
Universitas Kristen Krida Wacana
Alamat korespondensi :
Citracahya91@yahoo.com
Fakultas kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jl.Terusan arjuna no.6 Jakarta Barat 11510
PENDAHULUAN

Ilmu Kedokteran Forensik adalah salah satu cabang spesialistik yang mempelajari
pemanfaatan ilmu kedokteran untuk kepentingan penegakan hukum serta keadilan. Ilmu
kedokteran forensik telah dikenal sejak zaman Babilonia, yang mencatat ketentuan bahwa dokter
saat itu mempunyai kewajiban untuk memberi kesembuhan bagi para pasiennya dengan
ketentuan ganti rugi bila hal itu tidak dicapai.
Dalam perkembangannya lebih lanjut, ternyata ilmu kedokteran forensik tidak sematamata bermanfaat dalam urusan penegakan hukum dan keadilan di lingkup pengadilan saja,tetapi
juga bermanfaat dalam segi kehidupan bermasyarakat lain. Untuk dapat memberi bantuan yang
maksimal bagi pelbagai keperluan tersebut di atas, seorang dokter dituntut untuk dapat
memanfaatkan ilmu kedokteran yang dimilikinya secara optimal.
Dalam menjalankan fungsinya sebagai dokter yang diminta untuk membantu dalam
pemeriksaan kedokteran forensik oleh penyidik, dokter tersebut dituntut oleh undang-undang

1 | forensik

untuk melakukannya dengan sejujur-jujurnya serta menggunakan pengetahuan yang sebaikbaiknya.


Oleh karena itu, dalam bidang ini dipelajari tata laksana mediko-legal, tanatologi,
traumatologi, toksikologi, teknik pemeriksaan dan segala sesuatu yang terkait, agar semua dokter
dalam memenuhi kewajibannya membantu penyidik, dapat benar-benar memanfaatkan segala
pengetahuan kedokterannya untuk kepentingan peradilan sera kepentingan lain yang bermanfaat
bagi kehidupan bermasyarakat.
PEMBAHASAN

Pembunuhan Anak Sendiri (PAS) adalah merupakan suatu bentuk kejahatan terhadap nyawa
yang unik sifatnya. Unik dalam arti si pelaku pembunuhan haruslah ibu kandungnya sendiri, dan
alasan atau motivasi untuk melakukan kejahatan tersebut adalahkarena si ibu takut ketahuan
bahwa ia telah melahirkan anak.1
Di Jakarta dilaporkan bahwa 90-95% dari sekitar 30-40 kasus PAS per tahundilakukan
dengan cara asfiksia mekanik. Bentuk kekerasan lainnya adalah kekerasantumpul di kepala (510%) dan kekerasan tajam pada leher atau dada (1 kasus dalam 6-7tahun).1
Cara yang paling sering digunakan dalam kasus PAS adalah membuat keadaanasfiksia
mekanik yaitu pembekapan, pencekikan, penjeratan dan penyumbatan.1
Pembunuhan Anak sendiri (PAS) menurut undang-undang di Indonesia adalah pembunuhan
yang dilakukan oleh seorang ibu atas anaknya pada ketika dilahirkan atau tidak berapa lama
setelah dilahirkan, karena takut ketahuan bahwa ia melahirkan anak.1
Pada Tindak pidana pembunuhan anak, faktor psikologik ibu yang baru melahirkan
diperhitungkan sebagai faktor yang meringankan, keadaan tersebut menyebabkan si ibu
melakukan pembunuhan tidak dalam keadaan sadar yang penuh, dan belum sempat timbul rasa
kasih sayang.1
I.

ASPEK HUKUM

2 | forensik

Menurut undang-undang di Indonesia, pembunuhan anak sendiri adalah


pembunuhan yang dilakukan oleh seorang ibu atas anaknya pada ketika dilahirkan atau
tidak berapa saat setelah dilahirkan karne atkut ketahuan bahwa ia melahirkan anak.
Aspek hukumnya tercantum didalam :
1. Pasal 341 : seorang ibu yang karena takut akan ketahuan melahirkan anak pada saat anak
dilahirkan atau tidak lema kemudian, dengan sengaja merampas nyawa anaknya, diancam
karena membunuh anak sendiri dengan pidana penjara paling lama 7 tahun.
2. Pasal 342 : seorang ibu yang untuk melaksanakan niat yang ditentukan karena takut akan
ketahuan melahirkan anak pada saat anak dilahirkan atau tidak lema kemudian, dengan
sengaja merampas nyawa anaknya, diancam karena membunuh anak sendiri dengan
rencana pidana penjara paling lama 9 tahun.
3. Pasal 343 : bagi orang lain yang turut campur dalam kejahatan yang diterangan dalam
pasal 341 dan 342 dianggap kejahatan itu sebagai pembunuhan atau pembunuhan dengan
rencana.
4. Pasal 181: barang siapa mengubur, menyembunyikan, membawa lari atau menghilangkan
mayat dengan maksud menyembunyikan kematian atau kelahirannya, diancam dengan
pidana menjara selama 9 bulan atau pidana denda paling banyak 4500 rupiah.
5. Pasal 304 : Barang siapa dengan sengaja menempatkan atau membiarkan seorang dalam
keadaan sengsara, padahal menurut hukum yang berlaku baginya atau karena persetujuan
dia wajib memberi kehidupan, perawatan atau pemeliharaan kepada orang itu, diancam
dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan atau pidana denda paling
banyak empat ribu lima ratus rupiah.
6. Pasal 305 : Barang siapa menempatkan anak yang umurnya belum tujuh tahun untuk
ditemukan atau meninggalkan anak itu dengan maksud untuk melepaskan diri
daripadanya, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun enam bulan.
7. Pasal 306 :
(1) Jika salah satu perbuatan berdasarkan pasal 304 dan 305 mengakibatkan luka-luka
berat, yang bersalah diancamdengan pidana penjara paling lama tujuh tahun enam bulan.
(2) Jika mengakibatkan kematian pidana penjara paling lama sembilan tahun.
8. Pasal 307 : Jika yang melakukan kejahatan berdasarkan pasal 305 adalah bapak atau ibu
dari anak itu, maka pidana yang ditentukan dalam pasal 305 dan 306 dapat ditambah
dengan sepertiga.
9. Pasal 308 : Jika seorang ibu karena takut akan diketahui orm t t lahiran anaknya, tidak
lama sesudah melharkan, menempatkan anaknya untuk ditemukan atau meninggalkannya
3 | forensik

dengan maksud untuk melepaskan diri daripadanya, maka maksimum pidana tersebut
dalam pasal 305 dan 306 dikurangi separuh.2
II.

PROSEDUR MEDIKOLEGAL

Prosedur medikolegal meliputi:


1. Pengadaan visum et repertum.
2. Tentang pemeriksaan kedokteran terhadap tersangka
3. Pemberian keterangan ahli pada masa sebelum persidangan dan pemberian
keterangan ahli di dalam persidangan.
4. Kaitan visum et repertum dengan rahasia kedokteran.
5. Tentang penerbitan Surat Keterangan Kematian dan Surat Keterangan Medik..
Penemuan dan pelaporan Sesosok mayat bayi ditemukan oleh masyarakat di
tempat sampah dan dilaporkan kepada polisi. Selain itu, didapatkan informasi bahwa
seorang perempuan yang menghentikan mobilnya dan berada cukup lama di dekat
III.

sampah dan ada warga yang mencatat plat mobilnya.3


THANATOLOGI

Tanatologi berasal dari kata thanatos (yang berhubungan dengan kematian) dan
logos (ilmu). Tanatologi adalah bagian dari ilmu kedokteran forensic yang mempelajari
kematian dan perubahan yang terjadi setelah kematian serta factor yang mempengaruhi
perubahan tersebut. Dalam tanatologi dikenal beberapa istilah tentang mati yaitu mati
somatic (mati klinis), mati suri. Mati seluler, mati serebral dan mati otak (mati batang
otak).4
Mati somatic (mati klinis) terjadi akibat terhentinya fungsi ketiga system
penunjang kehidupan, yaitu susunan saraf pusat, system kardiovaskular dan system
pernapasan, yang menetap. Secara klinis tidak dapat ditemukan reflex-refleks, EEG
mendatar, nadi tidak teraba,denyut jantung tidak terdengar, tidak ada gerak pernapasan
dan suara napas tidak terdengar pada auskultasi.4
Mati suri adalah terhentinya ketiga system kehidupan diatas yang ditentukan
dengan alat kedokteran sederhana. Dengan peralatan kedokteran canggih masih dapat
dibuktikan bahwa ketiga system tersebut masih berfungsi. Mati suri sering ditemukan
pada kasus keracunan obat tidur, tersengat aliran listrik dan tenggelam.4
Mati seluler adalah kematian organ atau jaringan tubuh yang timbul beberapa saat
setelah kematian somatic. Daya tahan hidup masing-masing organ atau jaringan tidak
bersamaan. Pengetahuan ini penting dalam transplantasi organ.4

4 | forensik

Mati serebral adalah kerusakan kedua hemisfer otak yang ireversibel kecuali
batang otak dan serebelum, sedangkan kedua system lainnya yaitu system pernapasan dan
kardiovaskular masih berfungsi dengan batuan alat.4
Mati otak adalah bila terjadi kerusakan seluruh isi neuronal intracranial yang
ireversibel, termasuk batang otak dan serebelum. Dengan diketahui mati otak(mati batang
otak) maka dapat dikatakan seseorang secara keseluruhan tidak dapat dinyatakan hidup
lagi, sehingga alat bantu napas dapat dihentikan.4
A. Tanda kematian tidak pasti
a. Pernapasan berhenti, dinilai selama lebih dari 10 menit (inspeksi, palpasi,
auskultasi)
b. Terhentinya sirkulasi, dinilai selama 15 menit, nadi karotis tidak teraba
c. Kulit pucat, tetapi bukan merupakan tanda yang dapat dipercaya, karena
mungkin terjadi spasme agonal sehingga wajah tampak kebiruan.
d. Tonus otot menghilang dan relaksasi
e. Pembuluh darah retina mengalami segmentasi beberapa menit setelah
kematian.
f. Pengeringan kornea menimbulkan kekeruhan dalam waktu 10 menit yang
masih dapat dihilangkan dengan penetesan air.4
B. Tanda kematian pasti
a. Livor mortis
b. Rigor mortis (cadaveric spasm,heat stiffening, cold stiffening)
c. Penurunan suhu
d. Pembusukan
e. Adiposera
f. Mumifikasi.4
C. Perkiraan saat kematian
a. Perubahan pada mata (kekeruhan kornea yang telah menetap menandakan 6
jam pasca kematian).
b. Perubahan dalam lambung (keadaan lambung dan isinya mungkin membantu
dalam mebuat keputusan)
c. Perubahan rambut (kecepatan tumbuh rambut dapat dipergunakan untuk
memperkirakan saat kematian bagi pria yang punya kebiasaan mencukur
kumis/jenggot)
d. Pertumbuhan kuku ( untuk memperkirakan saat kematian dari saat terakhir
korban memotong kuku).
e. Perubahan cairan LCS (kadar nitrogen asam amino kurang dari 14 mg%
menunjukkan kematian belum lewat 10 jam, kadar nitrogen non-protein
kurang dari 80 mg% menunjukkan kematian belum 24 jam, kadar keratin
5 | forensik

kurang dari 5 mg% dan 10 mg% masing-masing menunjukkan kematian


belum mencapai 10 jam dan 30 jam).
f. Kadar kalium dalam cairan vitreus
g. Kadar semua komponen darah (belum ditemukan perubahan yang dapat

IV.

digunakan untuk memperkirakan saat kematian).


h. Reaksi supravital.4

PEMERIKSAAN LUAR dan DALAM

a. Pemeriksaan Ibu
Pada pemeriksaan ibu seusai persalinan didapatkan:
1. Keadaan umum
Biasanya masih lemah terutama dalam 48-72 jam pertama. Rasa nyeri juga masih
bisa dirasakan akibat kontraksi uterus yang sangat kuat.
2. Payudara
Payudara membesar dan penuh berisi susu. Areola payudara bewarna gelap,
putting susu lebih menonjol dan tamppak tuberkel montgomeri. Dalam 24 jam
pertama setelah persalinan, payudara mengeluarkan kolostrum dan kemudian
disusul dengan pengeluaran air susu ibu.
3. Pemeriksaan abdomen
Uterus mengeras dan mengalami kontraksi setelah persalinan. Setelah
melahirkan, uterus teraba persis dibawah umbilicus dan ukurannya perlahanlahan mengecil dan akhirnya kembali ke dalam rongga pelvis setelah 10 sampai
2 minggu setelah persalinan.
4. Organ genital
Vagina: bisa terlihat memar dan laserasi karena proses persalina. Vagina lunak,
berongga dan mungkin terdapat robekan yang masih baru terjadi. Robekan juga
bisa terjadi pada bagian frenulum labiorum pudenda. Perineum juga kadangkadang mengalami laserasi.
Serviks: segera setelah melahirkan, ostium uteri eksternum masih mengalami
pembukaan sebesar 2 jari.
Lokia: cairan yang dikerluarkan dari uterus, biasanya berlangsung selama 2
sampai 3 minggu setelah melahirkan. 1-4 hari lokia rubra, cairan bewarna merah
terang.3
b. Pemeriksaan Jenazah Bayi
Pada pemeriksaan jenazah bayi ditemukan:
Antropometri bayi :
- Berat bayi 2700 gr
- Panjang badan 45 cm
- Usia janin dalam kandungan = 45/5 x 4 minggu = 36 minggu
- Kepala tungging : 35cm
6 | forensik

- Lingkar kepala oksipito frontal : 33 cm


- Diameter dada : 8 cm
- Diameter perut : 7cm
- Lingkar dada : 31 cm
- Lingkar perut : 29 cm
Pameriksaan luar :
- Terdapat sianosis yang bisa ditemukan diujung jari tangan bayi.
- Terdapat lebam mayat pada jenazah yang lebih gelap (merah
keunguan/kebiruan) dan lebih luas (pada dada bagian atas,leher dan
-

wajah).
Terdapat tanda kekerasan berupa gambaran tangan serta memar pada bibir

bayi.
- Dapat dilihat pada dada bayi sudah mengembang turun hingga iga ke 4-5.
- Terdapat rambut yang sudah tumbuh.
- Kuku jari tangan melewati ujung jari.
- Alis mata sudah lengkap.
- Testis yang sudah turun ke scrotum.
Pemeriksaan dalam :
- Adanya pelebaran pembuluh darah sehingga ditemukan tardieu spot atau
-

bintik-bintik perdarahan atau petechiael hemorrhage.


Adanya perbendungan atau kongesti, dapat dilihat pada hepar yang

bewarna lebih gelap dan bertepi tumpul.


Paru sudah memenuhi rongga dada dan menutupi sebagian kandung
jantung. Paru-paru bewarna merah muda tidak merata dengan pleura yang
tegangdan menunjukan gambaran mozaik. Apeks paru kanan paling dulu
atau jelas terisi karena halangan paling minimal. Gambaran marmer terjadi
akibat pembuluh darah intertisial berisi darah. Konsistensi seperti spons

dan teraba derik udara.


Pemeriksaan uji apung paru positif
Pemeriksaan mikroskopik paru

manunjukan

alveoli

paruyang

mengembang sempurna tanpa emfisema serata tidak terdapat projection.


Pada pewarnaan Ladewig, serabut retikulin tampak tegang.
Pemeriksaan radiologi menujukan adanya udara duodenum namun belum sampai pada
usus besar.
Pemeriksaan DNA memperlihatkan adanya kecocokan dengan wanita yang dibawa
polisi yang dicurigai sebagai tersangka.3
V.

INTERPRETASI TEMUAN

7 | forensik

Sesososk mayat bayi baru lahir ditemukan di suatu tempat sampah.Masyarakat


melaporkannya kepada polisi.Mereka juga melaporkan bahwa semalam melihat seorang
perempuan yang menghentikan mobilnya didekat sampah tersebut dan berada disana
cukup lama.Seorang dari anggota masyarakat sempat mencatat nomor mobil perempuan
tersebut.
Polisi mengambil mayat bayi tersebut dan menyerahkannya kepada anda sebagai
direktur rumah sakit. Polisi juga mengatakan bahwa sebentar lagi perempuan yang
dicurigai sebagai pelakunya akan dibawa kerumah sakit untuk diperiksa. Anda harus
mengatur segalanya agar semua pemeriksaan dapat berjalan dengan baik dan akan
membriefing para dokter yang akan menjadi pemeriksa.
Seorang bayi laki-laki ditemukan dalam keadaan lahir mati, korban ditemukan
didalam kardus aqua yang ditutupi koran yang bertanggalkan tanggal 3 Desember dan
kain bedong putih. Korban ditemukan tanpa pakaian namun dalam keadaan bersih, tali
pusat sudah terputus dari urinya, ada lebam didaerah punggung dan bokong, korban
kaku sempurna.
Pada pemeriksaan luar didapatkan:

Bayi cukup bulan


Bayi sudah dibersihkan dan pada mulut tidak terdapat benda asing yang menyumbat
Tali pusat sudah terpotong
Terdapat jejas kuku pada pipi kanan dan kiri bayi

Pada pemeriksaan dalam ditemukan:

Dada sudah mengembang


Paru sudah mengisi rongga dada dan menutupi sebagian kandung jantung. Paru
berwarna merah muda tidak merata dengan pleura yang tegang dan menunjukan
gambar mizaik karena alveoli sudah terisi udara, konsistensi seperti spons teraba

derik udara.
Uji apung paru positif

Pada kasus di atas ditemukan bahwa korban ialah sesosok mayat bayi baru lahir yang
ditemukan dengan keadaan jasad yang masih baik.Dari hasil temuan tersebut, maka
dilakukan penyelidikan terhadap mayat bayi, dan ibu.Menurut penyelidikan pada kasus
8 | forensik

tersebut, dapat disimpulkan bahwa bayi tersebut meninggal dikarenakan asfiksia.


Namun, berdasarkan karateristik yang terdapat pada korban, tidak ditemukan adanya
luka terbuka, tidak ada luka tekan, maupun jejas jerat pada leher, maka dari itu kasus
pidana tersebut kemungkinan sementara mengarah kepada pembunuhan anak dengan
membiarkannya mati terlantar, dengan kondisi psikologis ibu yang masih harus diuji dan
penyelidikan masih harus dikembangkan demi mendapat informasi yang sebenarbenarnya sesuai dengan aspek hokum dan medikolegal.
Tanda-tanda
Tanda-tanda maserasi

Pengembangan dada

Pemeriksaan
makroskopik paru

9 | forensik

Lahir hidup
-

a. Dada sudah
mengembang
b. Diagfragma sudah
turun sampai sela
iga 4-5
a. Paru sudah mengisi
rongga dada dan
menutupi sebagian
kandung jantung.
b. Paru berwarna
merah muda tidak
merata dengan
pleura tegang.
c. Menunjukkan
gambaran mozaik
karena alveoli telah

Lahir mati
a. baru terlihat setelah
8-10 hari kematian
inutero
b. bila kematian baru
terjadi 3 atau 4 hari:
perubahan berupa
vesikel atau bula
yang berisi cairan
kemerahan,
epidermis berwarna
putih dan berkeriput,
bau tengik, dan
tubuh mengalami
perlunakan.
c. Organ-organ tampak
basah tetapi tidak
berbau busuk
a. Iga masih mendatar
dan diagfragma
masih setinggi iga 34
a. Paru-paru masih
tersembunyi
dibelakang kandung
jantung atau telah
mengisi rongga
dada.
b. Paru-paru berwarna
kelabu ungu merata
seperti
hati,konsistensi
padat, tidak teraba

Uji apung paru


Pemeriksaan
mikroskopik paru

10 | f o r e n s i k

berisi udara.
d. Gambaran marmer
akibat pembuluh
darah interstitial
berisi darah.
e. Konsistensi seperti
spons dan teraba
derik udara
f. Pengisian paru
dalam air : terlihat
jelas keluarnya
gelembung udara
dan darah
g. Berat paru
bertambah 2 kali
karena
berfungsinya
sirkulasi darah
jantung paru.
a. Hasil positif
a. Alveoli paru
mengembang
sempurna dengan
atau tanpa
emfisema obstruktif
b. Tidak terlihat
projection
c. Pewarnaan gomori
atau ladewig :
serabut retikulin
tampak tegang

derik udara dan


pleura yang longgar.

a. Hasil negative
a. Tanda khas untuk
paru bayi yang
belum bernafas
adalah adanya
tonjolan yang
berbentuk seperti
bantal yang akan
bertambah tinggi
dan dasar menipis
sehingga tampak
seperti dada
(club-like)
b. Pada paru bayi
yang belum
bernafas dan
saudah
membusuk
dengan
pewarnaan
Gomori atau
ladewig:tapak
serabut retikulin
pada permukaan
dinding alveoli
berkelok-kelok

seperti rambut
yang keriting.
VI.

CARA MATI

Cara Kematian
Pada kasus pembunuhan, harus diingat bahwa ibu berada dalam keadaan panik sehingga
ia akan melakukan tindakan kekerasan yang berlebihan walaupun sebenarnya bayi
tersebut berada dalam keadaan tidak berdaya dan lemah sekali.
Cara yang tersering dilakukan adalah yang menimbulkan asfiksia dengan jalan
pembekapan,

penyumbatan

jalan

napas,

penjeratan,

pencekikan

dan

penenggelaman.Kadang-kadang bayi dimasukkan ke dalam lemari, kopor dan


sebagainya.
Pembunuhan dengan melakukan kekerasan tumpul pada kepala jarang dijumpai.Bila
digunakan cara ini, biasanya dilakukan dengan berulang-ulang, meliputi daerah yang luas
hingga menyebabkan patah atau retak tulang tengkorak dan memar jaringan otak.
Sebaliknya pada trauma lahir, biasa hanya dijumpai kelainan yang terbatas, jarang sekali
ditemukan fraktur tengkorak dan memar jaringan otak.
Pembunuhan dengan senjata tajam jarang ditemukan.Pernah ditemukan tusukan di
daerah palatum mole, melalui foramen magnum dan merusak medula oblongata.
Pembunuhan dengan jalan membakar, menyiramkan cairan panas, memberikan racun,
dan memuntir kepala sangat jarang terjadi.
Pembekapan adalah cara yang mudah dan nyaman dan dapat tanpa meninggalkan
bekas, akan tetapi bila tenaga yang diberikan terlalu besar (dimana hal tersebut sering
terjadi) maka akan meninggalkan bekas kekerasan.
Penjeratan adalah cara lain yang umum. Tindakan tersebut menghasilkan bekas
jeratan, yang dapat terlihat di leher, yang harus dibuktikan apakah hal tersebut dilakukan
sebelum kematian. Dapat dinyatakan, meskipun tanpa bukti, bahwa jeratan dapat
dilakukan oleh ibu untuk membantu persalinan sendiri. Penjelasan lain yang mungkin
adalah bahwa bayi terjerat secara tidak sengaja oleh tali pusat. Panjang tali pusat pada
kasus tersebut diperlukan. Terdapat variasi yang cukup luas mengenai panjang tali pusat ;
panjang normal adalah sekitar 20 inci akan tetapi dapat mencapai 57 inci. (Bandlocque,
11 | f o r e n s i k

dikutip oleh Smith (1850) yang melaporkan adanya tali pusat sepanjang 59,5 inci).
Pemeriksaan tali pusat dapat menunjukkan bahwa tali pusat telah dipegang secara kasar
yaitu hilangnya jelly Wharton, yang dapay menyingkirkan kemungkinan jeratan tak
sengaja dan menunjukkan penggunaan tali pusat oleh ibunya (atau orang lain) sebagai
alat jerat. Pada kejadian tersebut juga dapat ditemukan tanda kekerasan pada leher bayi.
Jeratan dengan tangan, atau mencekik, nampaknya hanya menghasilkan memar
atau lecet yang relatif tidak signifikan pada kulit leher walaupun dapat ditemukan memar
yang cukup luas pada pemeriksaan dalam alat leher.Memar yang luas dan lecet pada
leher, kadang dapat meluas sampai wajah dan dada, lebih mungkin disebabkan oleh
kepanikan ibu yang tidak berpengalaman saat mencoba membantu persalinannya sendiri.
Bayi dapat pula disumbat jalan nafasnya.menunjukkan adanya massa adonan atau
pasta yang menutup faring dan dia menyatakan bahwa penggunaan sumbat adalah cara
infantisida yang umum. Kesulitan timbul bila sumbat yang digunakan adalah kain yang
kemudian dicabut setelah bayi mati.Dapat tidak ditemukan bukti selain pucat pada daerah
yang tertekan sumbatan. Lumpur, seperti pada kasus Easton, atau koran juga pernah
digunakan; pada kasus di Perancis, polisi dapat membuktikan bahwa sumbat yang
digunakan merupakan bagian dari koran yang ditemukan di kamar si wanita.
Infantisida dengan menghantam kepala bayi ke dinding atau lantai jarang
terjadi.Hal tersebut dapat menimbulkan fraktur kominutif dengan laserasi kulit kepala
dan mungkin dapat ditemukan bekas yang menunjukkan bahwa bayi dipegangi saat
kejadian.Dapat pula dipikirkan bahwa fraktur terjadi sebagai akibat persalinan cepat saat
ibu dalam keadaan berdiri. Akan tetapi persalinan tidak dapat menghasilkan ekspulsi
yang kuat dan cepat dan panjang tali pusat normal yaitu sekitar 20 inci sangat mungkin
akan mencegah bayi jatuh dengan keras; panjang tali pusat tentu saja berariasi yaitu di
bawah 5-6 ini. Bahkan bila bayi jatuh ke tanah, tenaga yang diterima tidak akan cukup
untuk menimbulkan fraktur; tidak ada satupun hal demikian terjadi pada 183 persalinan
cepat menurut pengalaman Klein. Pengalaman Chaussier (juga dikutip oleh Taylor,
1957) tidak cukup dapat merekonstruksi persalinan capat dan dengan demikian insidens
fraktur yang relatif tinggi pada percobaannya tidak dapat mewakili akibat dari proses
persalinan yang cepat. Bila ditemukan caput succedaneum dan molase yang jelas,

12 | f o r e n s i k

persalinan tidak terjadi dengan cepat dan hal ini dapat menimbulkan keraguan terhadap
cerita si ibu.
Fraktur tengkorak yang terjadi saat atau akibat persalinan memiliki karakteristik
tertentu.Fraktur tersebut tidak menimbulkan laserasi pada kulit kepala. Fraktur biasanya
terjadi pada tulang parietal dan berjalan ke bawah pada sudut tertentu ke arah sutura
sagital sepnajang sekitar satu inci. Bentuknya dalah fraktur garis. Pada kejadian lebih
jarang, fraktur dapat terjadi dari ubun-ubun depan ke eminensia frontalis. Fraktur akibat
forceps dapat disertai laserasi kulit kepala; fraktur terjadi pada titik yang secara normal
dipegang oleh forceps dan biasanya berupa fraktur beralur.Orang yang memasang forceps
juga harus ada untuk memberi keterangan menganai cedera yang terjadi.
Penenggelaman dapat juga menjadi cara untuk membuang bayi lahir mati. Ibu
dapat menaruh bayi di kloset dan menyatakan ia melahirkan saat menggunakannya atau
bila ia memakai ember, ia mengaku bayi lahir ke dalam ember. Penyelidikan kemudian
dapat diarahkan ke kemungkinan persalinan cepat, jarang pada primipara, dan adanya
cairan, yang menyerupai air di dalam ember, di saluran cerna dan saluran nafas bayi.
Infantisida dengan membakar jarang terjadi meskipun, seperti penenggelaman,
pembakaran sering merupakan cara untuk membuang korban infantisida atau bayi lahir
mati.Menemukan bahwa bahwa tes yang biasa pada kematian akibat pembakaran tidak
dapat diterapkan seluruhnya, tapi ia menekankan pentingnya ditemukan benda asing,
sesuatu yang lebih dari partikel karbon, di paru-paru bayi yang terbakar. Mungkin
demonstrasi saturasi karbonmonoksida yang tinggi adalah bukti kematian karena
pembakaran pada kasus ini.Sisa-sisa kalsifikasi dapat ditemukan di tempat pembakaran
tapi hal tersebut jelas tidak mungkin membuktikan infantisida; tuduhan penyembunyian
kelahiran mungkin dapat diberikan.
Infantisida dengan melukai seperti menggorok leher jarang ditemukan.Cara ini
menunjukkan niat untuk membunuh.Dapat ditekankan bahwacedera yang terjadi
merupakan akibat kecelakaan saat memotong tali pusat. Jenis alat yang digunakan sangat
penting karena , meskipun mungkin, kemungkinannya sangat kecil bahwa cedera akibat
pisau cukur atau pisau lipat merupakan kecelakaan; hal yang mungkin bila alatnya adalah
gunting. Pada kejadian manapun sangatlah penting untuk menentukan apakah cedera
yang ditemukan mungkin akibat kecelakaan.Sebuah luka iris yang luas di leher hampir
13 | f o r e n s i k

pasti menyingkirkan kecelakaan. Kemungkinan pelaku panik saat kejadian dapat


membuat seorang wanita melakukan tindakan dimana ia tidak dapat bertangung jawab,
akan tetapi tindakan tersebut tetap menunjukkan serangan yang diniatkan. Luka tusuk
juga tidak sering dijumpai, pelaku dapat menyatakan bahwa itu merupakan
kecelakaan.Ujung gunting dapat menusuk bayi saat memotong tali pusat yaitu gunting
terpeleset pada tubuh bayi.Posisi dan keadaan luka, dapattidak konsisten dengan cedera
akibat kecelakaan.Panik dapat dijadikan alasan.Alat yang secara normal tidak digunakan
untuk memotong tali pusat seperti jarum, paku, atau pisau dengan bilah yang tipis
cenderung menyingkirkan kemungkinan kecelakaan. Alat tersebut dapat ditusukkan
dengan keahlian tertentu ke ubun-ubun , canthus medial mata, pelipis atau ke sumsum
tulang belakang; pada kondisi tersebut kecelakaan atau panik tidak dapat diterima sebagai
penyebab cedera. Cara-cara tersebut tampak sebagai cara yang digunakan sekarang di
India tapi itu bukan cara baru.
Peracunan saat ini adalah cara infantisida yang jarang. Pada masa lalu, tinctura
opium, arsenik, antimon, fosfor kuning dan asam sulfat yang terkonsentrasi, yang
diperoleh dari korek api atau overdosis pencahar telah digunaka. Kemunginan adanya
barbitrat dalam jumlah banyak tampaknya tidak pernah dieksploitasi.Hal tersebut adalah
kejahatan dimana alasan kecelakaan atau ketidakseimbangan mental menjadi lemah.
Mekanisme Kematian
Asfiksia adalah suatu keadaan yang ditandai dengan terjadinya gangguan
pertukaran udara pernapasan mengakibatkan oksigen darah berkurang (hipoksia), disertai
peningkatan karbondioksida (hiperkapnea).Dengan demikian organ tubuh mengalami
kekurangan oksigen dan dapat menyebabkan kematian (asphyxial death).Hipoksia dapat
diberi batasan sebagai suatu keadaan yang menggambarkan sel gagal untuk melakukan
metabolism secara efisien, dahulu dikenal dengan anoksia.
Dalam kenyataan sehari hari hipoksia merupakan gabungan dari empat kelompok yang
memiliki ciri tersendiri, namun mengakibatkan keadaan yang sama, yaitu ;
1.

Hipoksik hipoksia
Dalam keadaan ini oksigen gagal masuk dalam sirkulasi darah.

2.

Anemia hipoksia

14 | f o r e n s i k

Yang tersedia tidak mampu membawa oksien yang cukup untuk metabolism dalam
jaringan.
3.

Stagnan hipoksia
Suatu keadaan yang menggambarkan terjadinya suatu kegagalan dalam sirkulasi.

4.

Histotoksik hipoksia
Keadaan yang menggambarkan oksigen yang terdapat di dalam darah, oleh karena hal

tertentu tidak dapat digunakan oleh jaringan, dibagi dalam 4 kelompok, antara lain :
Histotoksik hipoksia ekstraselular
Enzim pernapasan jaringan (cytochrom oxydase) mengalami keracunan.Misal : pada

keracunan sianida dan CO.


Histotoksik hipoksia periselular
Oksigen tidak dapat masuk kedalam sel oleh karena terjadi penurunan permeabilitas
membrane sel.
Misal : pada keracunan eter dan chloroform.

Substrate histotoksik hipoksia


Bahan makanan (substrat) untuk metabolism yang efisien tidak cukup tersedia.Misal :
Hipoglikemia
Metabolik histotoksik hipoksia
Hasil akhir dari pernapasan selular (end product) tidak dapat dieliminasi sehinga
metabolism berikutnya tidak dapat berlangsung karena gangguan metabolism sel

VII.

memakai oksigen.Misal : pada uremia dan keracunan gas CO2.


KESIMPULAN

Pada kasus pembunuhan, harus diingat bahwa ibu berada dalam keadaan panik
sehingga ia akan melakukan tindakan kekerasan yang berlebihan walupun sebenarnya
bayi tersebut berada dalam keadaan tidak berdaya dan lemah sekali. Cara yang tersering
dilakukan adalah yang menimbulkan asfiksia dengan jalan pembekapan, penyumbayan
jalan nafas, penjeratan, pencekikan, dan penenggelaman. Kadang-kadang bayi dimasukan
ke dalam lemari, kopor, dan sebagainya.2
Untuk memenuhi kriteria pembunuhan anak sendiri, dengan sendirinya bayi atau
anak tersebut harus dilahirkan hidup setelah seluruh tubuhnya keluar dari tubuh ibu
(separate existence). Bila bayi lahir mati kemudian dilakukan tindakan membunuh, maka
hal ini bukanlah pembunuhan anak sendiri ataupun pembunuhan. Juga tidak dipersoalkan
15 | f o r e n s i k

apakah bayi yang dilahirkan merupakan bayi yang cukup bulan atau belum cukup bulan,
VIII.

maupun viable atau nonviable.


Visum Et Repertum
Visum et Repertum adalah keterangan yang dibuat dokter atas permintaan
penyidik yang berwenang mengenai hasil pemeriksaan medis terhadap manusia, hidup
maupun mati, ataupun bagian/diduga bagian tubuh manusia, berdasarkan keilmuannya
dan di bawah sumpah untuk kepentingan peradilan.5
Penegak hukum mengartikan Visum et Repertum sebagai laporan tertulis yang
dibuat dokter berdasarkan sumpah atas permintaan yang berwajib untuk kepentingan
peradilan tentang segala hal yang dilihat dan ditemukan menurut pengetahuan yang
sebaik-baiknya.5
Perbedaan Visum et Repertum dengan Catatan Medis
Catatan medis adalah catatan tentang seluruh hasil pemeriksaan medis beserta
tindakan pengobatan atau perawatan yang dilakukan oleh dokter.Catatan medis disimpan
oleh dokter atau institusi dan bersifat rahasia, tidak boleh dibuka kecuali dengan izin dari
pasien atau atas kesepakatan sebelumnya misalnya untuk keperluan asuransi.Catatan
medis ini berkaitan dengan rahasia kedokteran dengan sanksi hukum seperti yang
terdapat dalam pasal 322 KUHP.
Sedangkan Visum et Repertum dibuat berdasarkan Undang-Undang yaitu pasal
120, 179 dan 133 KUHAP dan dokter dilindungi dari ancaman membuka rahasia jabatan
meskipun Visum et Repertum dibuat dan dibuka tanpa izin pasien, asalkan ada
permintaan dari penyidik dan digunakan untuk kepentingan peradilan.5
Jenis Visum et Repertum
Ada beberapa jenis Visum et Repertum, yaitu:
1. Visum et Repertum Perlukaan atau Keracunan
2. Visum et Repertum Kejahatan Susila
3. Visum et Repertum Jenazah
4. Visum et Repertum Psikiatrik
Tiga jenis visum yang pertama adalah Visum et Repertum mengenai tubuh atau
raga manusia yang berstatus sebagai korban, sedangkan jenis keempat adalah mengenai
mental atau jiwa tersangka atau terdakwa atau saksi lain dari suatu tindak pidana. Visum
et Repertum perlukaan, kejahatan susila dan keracunan serta Visum et Repertum psikiatri
adalah visum untuk manusia yang masih hidup sedangkan Visum et Repertum jenazah
adalah untuk korban yang sudah meninggal. Keempat jenis visum tersebut dapat dibuat

16 | f o r e n s i k

oleh dokter yang mampu, namun sebaiknya untuk Visum et Repertum psikiatri dibuat
oleh dokter spesialis psikiatri yang bekerja di rumah sakit jiwa atau rumah sakit umum.5
Format Visum et Repertum
Meskipun tidak ada keseragaman format, namun pada umumnya Visum et
Repertum memuat hal-hal sebagai berikut:
Visum et Repertum terbagi dalam 5 bagian:
1. Pembukaan:
* Kata Pro Justisia artinya untuk peradilan
* Tidak dikenakan materai
* Kerahasiaan1
2. Pendahuluan: berisi landasan operasional ialah obyektif administrasi:
* Identitas penyidik (peminta Visum et Repertum, minimal berpangkat Pembantu Letnan
Dua)
* Identitas korban yang diperiksa, kasus dan barang bukti
* Identitas TKP dan saat/sifat peristiwa
* Identitas pemeriksa (Tim Kedokteran Forensik)
* Identitas saat/waktu dan tempat pemeriksaan1
3. Pelaporan/inti isi:
* Dasarnya obyektif medis (tanpa disertai pendapat pemeriksa)
*Semua pemeriksaan medis segala sesuatu/setiap bentuk kelainan yang terlihat dan
diketahui langsung ditulis apa adanya (A-Z)
4. Kesimpulan: landasannya subyektif medis (memuat pendapat pemeriksa sesuai dengan
pengetahuannya) dan hasil pemeriksaan medis (poin 3)
* Ilmu kedokteran forensik
* Tanggung jawab medis
5. Penutup: landasannya Undang-Undang/Peraturan yaitu UU no. 8 tahun 1981 dan LN
no. 350 tahun 1937 serta Sumpah Jabatan/Dokter yang berisi kesungguhan dan kejujuran
tentang apa yang diuraikan pemeriksa dalam Visum et Repertum tersebut.5

17 | f o r e n s i k

Visum Et Repertum
Bagian Ilmu Kedokteran Forensik
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Arjuna Utara no. 6 Jakarta Barat 11470

Nomor : 3456-SK III/2345/16/10


Jakarta, 3 Desember 2013
Lamp. : Satu sampul tersegel--------------------------------------------------------------------------------Perihal : Hasil Pemeriksaan Pembedahan Atas bayi A ---------------------------------------------------PROJUSTITIA
VISUM ET REPERTUM
No.02/TU.RSUKRIDA/I/2013

Yang bertanda tangan di bawah ini, dr.Citra, dokter pada Bagian Ilmu Kedokteran
Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana Jakarta Barat, menerangkan
bahwa

atas

permintaan

tertulis

dari

Kepolisian

Resort

Polisi

Jakarta

Barat

No.

Pol.:B/789/VR/IX/11/Serse tertanggal 2 Desember 2013, maka pada tanggal empat Desember


tahun dua ribu tigabelas, pukul Sembilan lewat tiga puluh menit Waktu Indonesia bagian Barat,
bertempat di ruang bedah jenazah Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida
Wacana telah melakukan pemeriksaan atas jenazah yang menurut surat permintaan tersebut
adalah:
Nama

: ---------------------------------------------------------------------------------------

Jenis kelamin : Laki-laki---------------------------------------------------------------------------Umur

: Cukup bulan dalam kandungan-------------------------------------------------

Berat badan

: dua ribu lima ratus gram -------------------------------------------------------

Panjang badan: Empat puluh lima sentimeter --------------------------------------------------18 | f o r e n s i k

Kebangsaan

: Indonesia---------------------------------------------------------------------------

Agama

:---------------------------------------------------------------------------------------

Pekerjaan

:---------------------------------------------------------------------------------------

Alamat

:---------------------------------------------------------------------------------------

Mayat telah diidentifikasi dengan sehelai label berwarna merah muda, dengan materai
lak merah, terikat pada ibu jari kaki kanan.-------------------------------------------------------------Hasil Pemeriksaan
I. Pemeriksaan Luar
1. Mayat terbungkus kain panjang.----------------------------------------------------------------2. Mayat tidak berpakaian.--------------------------------------------------------------------------3. Tali pusat terpotong tepi rata---------------------------------------------------------------------4. Mayat adalah seorang bayi laki-laki bangsa Indonesia dengan panjang badan empat puluh
lima sentimeter dan berat badan dua ribu lima ratus gram.----------------------------------5. Lebam mayat terdapat pada punggung, daerah pinggang, bokong, dan wajah berwarna
merah keunguan, tidak hilang pada penekanan.-----------------------------------------------6. Sianosis terdapat pada ujung-ujung jari.-------------------------------------------------------7. Rambut kepala berwarna hitam, tumbuh lurus, relatif kasar dan panjang lima sentimeter.
Kedua mata tertutup. Alis mata sudah lengkap.-----------------------------------------------8. Hidung berbentuk biasa. Kedua daun telinga berbentuk biasa. Rawan telinga sudah
terbentuk.
9. Dari lubang hidung, telinga, mulut, dan lubang tubuh lainnya tidak keluar apa-apa.----10. Dada mengembang turun hingga rusuk ke empat sampai lima.-----------------------------11. Pada jari-jari tangan, kuku jari melewati ujung jari.-----------------------------------------12. Alat kelamin berbentuk biasa tidak menunjukkan kelainan. Lubang dubur berbentuk biasa
tidak menunjukkan kelainan.--------------------------------------------------------------------13. Pada daerah mulut dan hidung terdapat tanda kekerasan tumpul dengan jejak seperti
tangan. Memar pada bibir bagian dalam dan pipi.--------------------------------------------II. Pemeriksaan Dalam (Bedah Jenazah)
14. Paru memenuhi rongga dada dan menutupi sebagian kandung jantung. Paru kanan terdiri
dari tiga baga, bewarna merah muda tidak merata dengan perabaan seperti karet busa dan
dari irisan dalam air terlihat gelembung udara.-------------------------------------------------19 | f o r e n s i k

Paru kiri terdiri dari dua baga, berwarna merah muda tidak merata dengan perabaan seperti
karet busa dan dari irisan dalam air terlihat gelembung udara.-------------------------------15. Pada permukaan paru dan jantung ditemukan bintik-bintik perdarahan.--------------------16. Hati berwarna gelap, bertepi tumpul.-------------------------------------------------------------Kesimpulan
Pada pemeriksaan mayat bayi laki-laki, cukup bulan dalam kandungan, hidup pada saat
dilahirkan, ditemukan tanda-tanda perawatan, ditemukan jejas memar akibat kekerasan tumpul
pada mulut dan hidung karena pembekapan yang menyebabkan terjadinya asfiksia.------------Demikian saya uraikan dengan sebenar-benarnya berdasarkan keilmuan saya yang sebaikbaiknya mengingat sumpah sesuai dengan KUHAP.---------------------------------------------------

Dokter yang memeriksa,

dr. Citra

DAFTAR PUSTAKA
1. Budiyanto A, Widiatmaka W, Sudiono S, Munim TWA, Hertian S, Sampurna B, dkk.
Ilmu Kedokteran Forensik. Jakarta: Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia; 1997.p. 57-176.
2. Staf pengajar bagian kedokteran forensik fakultas Kedokteran Universitas Indonesia..
Teknik autopsi forensik. Cetakan ke-4. Jakarta: Bagian Kedokteran Forensik Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia; 2000. h.21-44, 56-7, 63.
3. Mansjoer A, Suprohaita, Wardhani WI, Setiowulan W. Kapita Selekta Kedokteran 3 rd ed,
II. Jakarta: Media Aesculapitus; 2000
4. Safitry O. Mudah membuat Visum et Repertum Kasus Luka. Jakarta: Departemen Ilmu
Kedokteran Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2013
5. Idries AM, Tjiptomartono AL. Penerapan ilmu kedokteran forensik dalam proses

penyidikan. Jakarta: Sangung Seto; 2008.


20 | f o r e n s i k