Anda di halaman 1dari 17

Rahasia Kedokteran Terhadap Penyakit

Menular Seksual Pasien


Wilfridus Erik

102010309

Olivia Halim Kumala

102011002

Nathania Hosea

102011054

Adinda Aotearoa Afta

102011152

Antonius Jonathan

102011182

Monica Cynthia Dewi

102011233

Stefanus Jonathan

102011376

Jelita Septiwati Sitanggang

102011385

_________________________________________________________________________
PENDAHULUAN
Profesi kedokteran diharapkan memiliki sikap profesionalisme, yaitu sikap yang
bertanggungjawab, sikap kompetensi dan wewenang yang sesuai waktu juga tempat, sikap
etis sesuai etika profesi, bekerja sesuai standar yang ditetapkan, dan untuk bidang kesehatan
diperlukan adanya sikap altruis (rela berkorban).
Didalam menentukan tindakan di bidang kesehatan medis, perlu dipertimbangkan
tentang kebutuhan pasien, namun keputusan tetap harus didasarkan pada hak-hak asasi
pasien. Dalam pengambilan keputusan sebagai tenaga medis pun kita perlu mempelajari
tentang etika yang merupakan disiplin ilmu yang mempelajari baik buruk atau benar salahnya
suatu tindakan perbuatan seseorang/ institusi dilihat dari moralitas.
PEMBAHASAN
Skenario VI. Seorang pasien laki-laki datang ke praktek dokter. Pasien ini dan keluarganya
adalah pasien lama dokter tersebut, dan sangat akrab serta selalu mendiskusikan kesehatan
keluarganya dengan dokter tersebut. Kali ini pasien laki-laki ini datang sendirian dan
mengaku telah melakukan hubungan dengan wanita lain seminggu yang lalu. Sesudah itu, ia
masih tetap berhubungan dengan istrinya. Dua hari terakhir ia mengeluh bahwa alat
kemaluannya mengeluarkan nanah dan terasa nyeri. Setelah diperiksa ternyata ia menderita
GO. Pasien tidak ingin diketahui istrinya tahu, karena bisa terjadi pertengkaran diantara
1

keduanya. Dokter tahu bahwa mengobati penyakit tersebut pada pasien ini tidaklah
sulit,tetapi oleh karena ia telah berhubungan juga dengan istrinya maka mungkin istrinya juga
sudah tertular.Istrinya juga harus diobati.
Dari skenario ini rumusan masalahnya adalah seorang pasien penderita GO yang
menginginkan dokternya merahasiakan penyakitnya dari istrinya, tetapi ingin juga untuk
mengobati istrinya. Dalam kasus ini dokter akan menjelaskan kepada istri korban mengenai
penyakit yang dideritanya tanpa langsung memberitahukan masalah suaminya.
Etika Kedokteran
Etika adalah disiplin ilmu yang mempelajari baik buruk atau benar salahnya suatu
sikap dan atau perbuatan seseorang individu atau institusi dilihat dari moralitas. Ada dua
macam etika yang harus kita pahami bersama dalam menentukan baik dan buruknya perilaku
manusia terutamanya apabila menyangkut ilmu profesi kedokteran yang berhadapan dengan
pasien:
A. Etika deskriptif, yaitu etika yang berusaha meneropong secara kritis dan rasional sikap
dan prilaku manusia dan apa yang dikejar oleh manusia dalam hidup ini sebagai sesuatu
yang bernilai. Etika deskriptif memberikan fakta sebagai dasar untuk mengambil
keputusan tentang prilaku atau sikap yang mau diambil.
B. Etika normative, yaitu etika yang berusaha menetapkan berbagai sikap dan pola prilaku
ideal yang seharusnya dimiliki oleh manusia dalam hidup ini sebagai sesuatu yang
bernilai. Etika normatif memberi penilaian sekaligus memberi norma sebagai dasar dan
kerangka tindakan yang akan diputuskan.1
Kode Etik Kedokteran Internasional berisikan tentang kewajiban umum, kewajiban
terhadap pasien, kewajiban terhadap sesama dan kewajiban terhadap diri sendiri. Selanjutnya,
Kode Etik Kedokteran Indonesia dibuat dengan mengacu kepada Kode Etik Kedokteran
Internasional. Selain Kode Etik Profesi di atas, praktek kedokteran juga berpegang kepada
prinsip-prinsip moral kedokteran, prinsip-prinsip moral yang dijadikan arahan dalam
membuat keputusan dan bertindak, arahan dalam menilai baik-buruknya atau benar-salahnya
suatu keputusan atau tindakan medis dilihat dari segi moral. Pengetahuan etika ini dalam
perkembangannya kemudian disebut sebagai etika biomedis. Etika biomedis memberi
pedoman bagi para tenaga medis dalam membuat keputusan klinis yang etis (clinical ethics)
dan pedoman dalam melakukan penelitian di bidang medis.

Di dalam menentukan tindakan di bidang kesehatan atau kedokteran, keputusan


hendaknya mempertimbangkan Etika Profesi Kedokteran. Etika adalah disiplin ilmu yang
mempelajari baik buruk atau benar salahnya suatu sikap dan atau perbuatan seseorang
individu atau institusi dilihat dari moralitas. Penilaian baik-buruk, benar-salah dari sisi moral
tersebut menggunakan pendekatan teori etika yang cukup banyak jumlahnya. Terdapat dua
teori etika yang paling banyak dianut orang adalah teori deontologi dan teleologi. Deontologi
mengajarkan bahwa baik-buruknya suatu perbuatan harus dilihat dari perbuatannya itu sendiri
sedangkan teleologi mengajarkan untuk menilai baik-buruk tindakan dengan melihat hasil
atau akibatnya. Deontologi lebih mendasarkan kepada ajaran agama, tradisi dan budaya,
sedangkan teologi lebih kearah penalaran (reasoning) dan pembenaran (justifikasi) kepada
azas manfaat. 1,2
Kaidah dasar (prinsip) Etika / Bioetik adalah aksioma yang mempermudah penalaran
etik. Prinsip-prinsip itu harus spesifik. Pada praktiknya, satu prinsip dapat dibersamakan
dengan prinsip yang lain. Tetapi pada beberapa kasus, karena kondisi berbeda, satu prinsip
menjadi lebih penting dan sah untuk digunakan dengan mengorbankan prinsip yang lain.
Keadaan terakhir disebut dengan prima facie. Konsil Kedokteran Indonesia, dengan
mengadopsi prinsip etika kedokteran barat, menetapkan bahwa, praktik kedokteran Indonesia
mengacu kepada 4 kaidah dasar moral (sering disebut kaidah dasar etika kedokteran atau
bioetika), juga prima facie dalam penerapan praktiknya.

Prinsip-Prinsip Etika Profesi. Beauchamp and childress (1994) menguraikan bahwa untuk
mencapai suatu keputusan etis diperlukan empat kaedah dasar moral dan beberapa rules
dibawahnya, yaitu:1
A. Prinsip beneficence, yaitu prinsip moral yang mengutamakan tindakan yang ditunjukan
kepada kebaikan pasien. Dokter harus mengusahakan agar pasien yang dirawatnya terjaga
keadaan kesehatannya. Pengertian berbuat baik di sini adalah bersikap ramah atau
menolong, lebih dari sekedar memenuhi kewajibannya. Tindakan konkrit dari
beneficience meliputi:
1. Mengutamakan altruisme (menolong tanpa pamrih, rela berkorban untuk kepentingan
orang lain)
2. Menjamin nilai pokok harkat dan martabat manusia
3. Memandang pasien/keluarga/sesuatu tidak hanya sejauh menguntungkan dokter
4. Mengusahakan agar kebaikan/manfaatnya lebih banyak dibandingkan dengan
keburukannya
3

5. Paternalisme bertanggung jawab/berkasih sayang


6. Menjamin kehidupan baik
7. Pembatasan goal based
8. Maksimalisasi pemuasan kebahagiaan / preferensi pasien
9. Minimalisasi akibat buruk
10. Kewajiban menolong pasien gawat darurat
11. Menghargai hak-hak pasien secara keseluruhan
12. Tidak menarik honorarium di luar kepantasan
13. Maksimalisasi kepuasan tertinggi secara keseluruhan
14. Mengembangkan profesi secara terus-menerus
15. Memberikan obat berkhasiat namun murah
16. Menerapkan Golden Rule Principle, dimana kita harus memperlakukan orang lain
seperti kita ingin diperlakukan oleh orang lain.
B. Prinsip non-maleficence, yaitu prinsip moral yang melarang tindakan yang memperburuk
keadaan pasien. Prinsip ini dikenal sebagai primum non nocere atau do not harm.
Tindakan konkrit dari non-maleficence meliputi:
1. Menolong pasien emergensi
2. Kondisi untuk menggambarkan criteria ini adalah:
3. Mengobati pasien yang luka
4. Tidak membunuh pasien (tidak melakukan euthanasia)
5. Tidak menghina/mencaci maki/memanfaatkan pasien
6. Tidak memandang pasien hanya sebagai objek
7. Mengobati secara tidak proporsional
8. Mencegah pasien dari bahaya
9. Menghindari misinterpretasi dari pasien
10. Tidak membahayakan kehidupan pasien karena kelalaian
11. Memberiksan semangat hidup
12. Melindungi pasien dari serangan
13. Tidak melakukan white collar crime dalam bidang kesehatan/ kerumah-sakitan yang
merugikan pihak pasien/ keluarganya.
C. Prinsip autonomy, yaitu prinsip moral yang menghormati hak-hak pasien (the rights to
self determinations). Maksudnya tiap individu harus diperlakukan sebagai makhluk hidup
yang memiliki otonomi (hak untuk menentukan nasibnya sendiri). Tindakan konkrit dari
autonomi meliputi:2
1. Menghargai hak menentukan nasibnya sendiri
2. Tidak mengintervensi pasien dalam membuat keputusan (pada kondisi elektif)
3. Berterus terang
4. Menghargai privasi
5. Menjaga rahasi pasien
6. Menghargai rasionalitas pasien
7. Melaksanakan informed consent
8. Membiarkan pasien dewasa dan kompeten mengambil keputusan sendiri
9. Tidak mengintervensi atau menghalangi autonomi pasien

10. Mencegah pihak lain ,emgintervensi pasien dalam membuat keputusan, termasuk
keluarga pasien sendiri
11. Sabar menunggu keputusan yang akan diambil pasien pada kasus non emergensi
12. Tidak berbohong kepada pasien meskipun demi kebaikan pasien
13. Menjaga hubungan.
D. Prinsip justice, yaitu prinsip moral yang mementingkan fairness dan keadilan dalam
mendistribusikan sumber daya (distributive justice). Maksudnya adalah memperlakukan
semua pasien sama dalam kondisi yang sama. Tindakan konkrit yang termasuk justice
meliputi:
1. Memberlakukan segala sesuatu secara universal
2. Mengambil porsi terakhir dari proses membagi yang telah ia lakukan
3. Memberi kesempatan yang sama terhadap pribadi dalam posisi yang sama
4. Menghargai hak sehat pasien (affordability, equality, accessibility, availability,
quality)
5. Menghargai hak hukum pasien
6. Menghargai hak orang lain
7. Menjaga kelompok yang rentan (yang paling merugikan)
8. Tidak membedakan pelayanan pasien atas dasar SARA, status social, dll
9. Tidak melakukan penyalahgunaan
10. Memberikan kontribusi yang relative sama dengan kebutuhan pasien
11. Meminta partisipasi pasien sesuai kemampuannya
12. Kewajiban mendistribusi keuntungan dan kerugian (biaya, beban, sanksi) secara adil
13. Mengembalikan hak kepada pemiliknya pada saat yang tepat dan kompeten
14. Tidak memberi beban berat secara tidak merata tanpa alasan sah/tepat
15. Menghormati hak populasi yang sama-sama rentan penyakit/gangguan kesehatan
16. Bijak dalam makroalokasi.1,3
Peranan Etika Dalam Profesi:
A. Suatu kelompok diharapkan akan mempunyai tata nilai untuk mengatur kehidupan
bersama kerana nilai-nilai etika itu tidak hanya milik satu atau dua orang, atau segolongan
orang saja, tetapi milik setiap kelompok masyarakat, bahkan kelompok yang paling kecil
yaitu keluarga sampai pada suatu bangsa.
B. Salah satu golongan masyarakat yang mempunyai nilai-nilai yang menjadi landasan
dalam pergaulan baik dengan kelompok atau masyarakat umumnya maupun dengan
sesama anggotanya, yaitu masyarakat profesional. Golongan ini sering menjadi pusat
perhatian karena adanya tata nilai yang mengatur dan tertuang secara tertulis (yaitu kode
etik profesi) dan diharapkan menjadi pegangan para anggotanya.
C. Sorotan masyarakat menjadi semakin tajam manakala perilaku-perilaku sebagian para
anggota profesi yang tidak didasarkan pada nilai-nilai pergaulan yang telah disepakati
bersama (tertuang dalam kode etik profesi), sehingga terjadi kemerosotan etik pada
masyarakat profesi tersebut. 1,4
5

Tujuan Kode Etik Profesi:


A.
B.
C.
D.
E.
F.
G.

Untuk menjunjung tinggi martabat profesi.


Untuk menjaga dan memelihara kesejahteraan para anggota.
Untuk meningkatkan pengabdian para anggota profesi.
Untuk meningkatkan mutu profesi.
Untuk meningkatkan mutu organisasi profesi.
Meningkatkan layanan di atas keuntungan pribadi.
Mempunyai organisasi profesional yang kuat dan terjalin erat.2

Praktek kedokteran juga berpegang kepada prinsip-prinsip moral kedokteran, prinsip-prinsip


moral yang dijadikan arahan dalam membuat keputusan dan bertindak, arahan dalam menilai
baik-buruknya atau benar-salahnya suatu keputusan atau tindakan medis dilihat dari segi
moral. Pengetahuan etika ini dalam perkembangannya kemudian disebut sebagai etika
biomedis. Etika biomedis memberi pedoman bagi para tenaga medis dalam membuat
keputusan klinis yang etis (clinical ethics) dan pedoman dalam melakukan penelitian di
bidang medis.Nilai-nilai materialisme yang dianut masyarakat harus dapat dibendung dengan
memberikan latihan dan teladan yang menunjukkan sikap etis dan profesional dokter.
Pembuatan keputusan etik terutama dalam situasi klinik, dapat juga dilakukan dengan
pendekatan yang berbeda dengan pendekatan kaidah dasar moral diatas. Jonsen, Siegler, dan
Winslade mengembangkan teori etik yang menggunakan 4 topik yang esensial dalam
pelayanan klinik, yaitu :
A. Medical indication. Pada topik ini dimasukkan semua prosedur diagnostik dan terapi yang
sesuai untuk mengevaluasi keadaan pasien dan mengobatinya. Penilaian aspek indikasi
medis ini ditinjau dari sisi etiknya, terutama menggunakan kadiah beneficence dan nonmaleficence. Pertanyaan etika pada topic ini adalah serupa dengan seluruh informasi yang
selayaknya disampaikan kepada pasien pada informed consent.
B. Patient preferences. Pada topik ini kita memperhatikan nilai dan penilaian pasien tentang
manfaat dan beban yang akan diterimanya, yang berarti cerminan kaidah autonomy.
Pertanyaan etiknya meliputi pertanyaan tentang kompetensi pasien, sifat volunteer sikap
dan keputusannya, pemahaman atas informasi, siapa pembuat keputusan bila pasien tidak
kompeten, nilai dan keyakinan yang dianut pasien, dan lain-lain.
C. Quality of life. Topik ini merupakan aktualisasi salah satu tujuan kedokteran, yaitu,
memperbaiki, menjaga, atau meningkatkan kualitas hidup insani. Apa, siapa, dan
bagaimana melakukan penilaian kualitas hidup merupakan pertanyaan etik sekitar
prognosis, yang berkaitan dengan beneficence, non-maleficence, dan autonomy.

D.

Contextual features. Dalam topik ini dibahas pertanyaan etik seputar aspek non medis
yang mempengaruhi keputusan, seperti faktor keluarga, ekonomi, agama, budaya,
kerahasiaan, alokasi sumber daya, dan faktor hukum.1,3

Informed Consent
Informed Consent terdiri dari dua kata yaitu informed yang berarti telah mendapat
penjelasan atau keterangan (informasi), dan consent yang berarti persetujuan atau memberi
izin. Jadi informed consent mengandung pengertian suatu persetujuan yang diberikan setelah
mendapat informasi. Dengan demikian informed consent dapat didefinisikan sebagai
persetujuan yang diberikan oleh pasien dan atau keluarganya atas dasar penjelasan mengenai
tindakan medis yang akan dilakukan terhadap dirinya serta resiko yang berkaitan dengannya.
Tiga elemen Informed consent,
A. Threshold elements
Elemen ini sebenarnya tidak tepat dianggap sebagai elemen, oleh karena sifatnya
lebih ke arah syarat, yaitu pemberi consent haruslah seseorang yang kompeten (cakap).
Kompeten disini diartikan sebagai kapasitas untuk membuat keputusan medis. Kompetensi
manusia untuk membuat keputusan sebenarnya merupakan suaut kontinuum, dari sama sekali
tidak memiliki kompetensi hingga memiliki kompetensi yang penuh. Diantaranya terdapat
berbagai tingkat kompetensi membuat keputusan tertentu (keputusan yang reasonable
berdasarkan alasan yang reasonable).
Secara hukum seseorang dianggap cakap (kompeten) apabila telah dewasa, sadar dan
berada dalam keadaan mental yang tidak di bawah pengampuan. Dewasa diartikan sebagai
usia telah mencapai 21 tahun atau telah pernah menikah. Sedangkan keadaan mental yang
dianggap tidak kompeten adalah apabila mempunyai penyakit mental sedemikian rupa
sehingga kemampuan membuat keputusan menjadi terganggu.2,4
B. Information elements
Elemen ini terdiri dari dua bagian yaitu, disclosure (pengungkapan) dan understanding
(pemahaman). Pengertian berdasarkan pemahaman yang adekuat membawa konsekuensi
kepada tenaga medis untuk memberikan informasi (disclosure) sedemikian rupa sehingga
pasien dapat mencapai pemahaman yang adekuat. Dalam hal ini, seberapa baik informasi
harus diberikan kepada pasien, dapat dilihat dari 3 standar, yaitu :
1. Standar Praktik Profesi. Bahwa kewajiban memberikan informasi dan kriteria keadekuat-an informasi ditentukan bagaimana biasanya dilakukan dalam komunitas
7

tenaga medis. Dalam standar ini ada kemungkinan bahwa kebiasaan tersebut di atas
tidak sesuai dengan nilai-nilai sosial setempat, misalnya resiko yang tidak bermakna
(menurut medis) tidak diinformasikan, padahal mungkin bermakna dari sisi sosial
pasien.
2. Standar Subyektif. Bahwa keputusan harus didasarkan atas nilai-nilai yang dianut oleh
pasien secara pribadi, sehingga informasi yang diberikan harus memadai untuk pasien
tersebut dalam membuat keputusan. Kesulitannya adalah mustahil (dalam hal
waktu/kesempatan) bagi profesional medis memahami nilai-nilai yang secara
individual dianut oleh pasien.
3. Standar pada Reasonable Person. Standar ini merupakan hasil kompromi dari kedua
standar sebelumnya, yaitu dianggap cukup apabila informasi yang diberikan telah
memenuhi kebutuhan umumnya orang awam.5

C. Consent elements
Elemen ini terdiri dari dua bagian yaitu, voluntariness (kesukarelaan, kebebasan) dan
authorization (persetujuan). Kesukarelaan mengharuskan tidak ada tipuan, misrepresentasi
ataupun paksaan. Pasien juga harus bebas dari tekanan yang dilakukan tenaga medis yang
bersikap seolah-olah akan dibiarkan apabila tidak menyetujui tawarannya. 2,4 Consent dapat
diberikan :
1. Dinyatakan (expressed)
a. Dinyatakan secara lisan
b. Dinyatakan secara tertulis. Pernyataan tertulis diperlukan apabila dibutuhkan bukti
di kemudian hari, umumnya pada tindakan yang invasif atau yang beresiko
mempengaruhi kesehatan penderita secara bermakna. Permenkes tentang
persetujuan tindakan medis menyatakan bahwa semua jenis tindakan operatif
harus memperoleh persetujuan tertulis.
2. Tidak dinyatakan (implied). Pasien tidak menyatakannya, baik secara lisan maupun
tertulis, namun melakukan tingkah laku (gerakan) yang menunjukkan jawabannya.
Meskipun consent jenis ini tidak memiliki bukti, namun consent jenis inilah yang
paling banyak dilakukan dalam praktik sehari-hari. Misalnya adalah seseorang yang
menggulung lengan bajunya dan mengulurkan lengannya ketika akan diambil
darahnya.
Suatu informed consent baru sah diberikan oleh pasien jika memenuhi minimal 3 (tiga)
unsure sebagai berikut :
A. Keterbukaan informasi yang cukup diberikan oleh dokter
8

B. Kompetensi pasien dalam memberikan persetujuan


C. Kesukarelaan (tanpa paksaan atau tekanan) dalam memberikan persetujuan.
Di Indonesia perkembangan informed consent secara yuridis formal, ditandai dengan
munculnya pernyataan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) tentang informed consent melalui SK
PB-IDI No. 319/PB/A.4/88 pada tahun 1988. Kemudian dipertegas lagi dengan PerMenKes
No. 585 tahun 1989 tentang Persetujuan Tindakan Medik atau Informed Consent. Hal ini
tidak berarti para dokter dan tenaga kesehatan di Indonesia tidak mengenal dan melaksanakan
informed consent karena jauh sebelum itu telah ada kebiasaan pada pelaksanaan operatif,
dokter selalu meminta persetujuan tertulis dari pihak pasien atau keluarganya sebelum
tindakan operasi itu dilakukan.Secara umum bentuk persetujuan yang diberikan pengguna
jasa tindakan medis (pasien) kepada pihak pelaksana jasa tindakan medis (dokter) untuk
melakukan tindakan medis dapat dibedakan menjadi tiga bentuk, yaitu:
A. Persetujuan Tertulis, biasanya diperlukan untuk tindakan medis yang mengandung resiko
besar, sebagaimana ditegaskan dalam PerMenKes No. 585/Men.Kes/Per/IX/1989 Pasal 3
ayat (1) dan SK PB-IDI No. 319/PB/A.4/88 butir 3, yaitu intinya setiap tindakan medis
yang mengandung resiko cukup besar, mengharuskan adanya persetujuan tertulis, setelah
sebelumnya pihak pasien memperoleh informasi yang adekuat tentang perlunya tindakan
medis serta resiko yang berkaitan dengannya (telah terjadi informed consent);
B. Persetujuan Lisan, biasanya diperlukan untuk tindakan medis yang bersifat non-invasif
dan tidak mengandung resiko tinggi, yang diberikan oleh pihak pasien;
C. Persetujuan dengan isyarat, dilakukan pasien melalui isyarat, misalnya pasien yang akan
disuntik atau diperiksa tekanan darahnya, langsung menyodorkan lengannya sebagai
tanda menyetujui tindakan yang akan dilakukan terhadap dirinya.5,6
Tujuan Pelaksanaan Informed Consent. Dalam hubungan antara pelaksana (dokter)
dengan pengguna jasa tindakan medis (pasien), maka pelaksanaan informed consent,
bertujuan :
A. Melindungi pengguna jasa tindakan medis (pasien) secara hukum dari segala tindakan
medis yang dilakukan tanpa sepengetahuannya, maupun tindakan pelaksana jasa tindakan
medis yang sewenang-wenang, tindakan malpraktek yang bertentangan dengan hak asasi
pasien dan standar profesi medis, serta penyalahgunaan alat canggih yang memerlukan
biaya tinggi atau over utilization yang sebenarnya tidak perlu dan tidak ada alasan
medisnya;
B. Memberikan perlindungan hukum terhadap pelaksana tindakan medis dari tuntutantuntutan pihak pasien yang tidak wajar, serta akibat tindakan medis yang tak terduga dan
9

bersifat negatif, misalnya terhadap risk of treatment yang tak mungkin dihindarkan
walaupun dokter telah bertindak hati-hati dan teliti serta sesuai dengan standar profesi
medik.
Perlunya dimintakan informed consent dari pasien karena informed consent mempunyai
beberapa fungsi sebagai berikut :
A.
B.
C.
D.
E.
F.
G.

Penghormatan terhadap harkat dan martabat pasien selaku manusia


Promosi terhadap hak untuk menentukan nasibnya sendiri
Untuk mendorong dokter melakukan kehati-hatian dalam mengobati pasien
Menghindari penipuan dan misleading oleh dokter
Mendorong diambil keputusan yang lebih rasional
Mendorong keterlibatan publik dalam masalah kedokteran dan kesehatan
Sebagai suatu proses edukasi masyarakat dalam bidang kedokteran dan kesehatan.2

Aspek Hukum Informed Consent


Dalam hubungan hukum, pelaksana dan pengguna jasa tindakan medis (dokter, dan
pasien) bertindak sebagai subyek hukum yakni orang yang mempunyai hak dan kewajiban,
sedangkan jasa tindakan medis sebagai obyek hukum yakni sesuatu yang bernilai dan
bermanfaat bagi orang sebagai subyek hukum, dan akan terjadi perbuatan hukum yaitu
perbuatan yang akibatnya diatur oleh hukum, baik yang dilakukan satu pihak saja maupun
oleh dua pihak.Dalam masalah informed consent dokter sebagai pelaksana jasa tindakan
medis, disamping terikat oleh KODEKI (Kode Etik Kedokteran Indonesia) bagi dokter, juga
tetap tidak dapat melepaskan diri dari ketentuan-ketentuan hukun perdata, hukum pidana
maupun hukum administrasi, sepanjang hal itu dapat diterapkan.Pada pelaksanaan tindakan
medis, masalah etik dan hukum perdata, tolok ukur yang digunakan adalah kesalahan kecil
(culpa levis), sehingga jika terjadi kesalahan kecil dalam tindakan medis yang merugikan
pasien, maka sudah dapat dimintakan pertanggungjawabannya secara hukum. Hal ini
disebabkan pada hukum perdata secara umum berlaku adagium barang siapa merugikan
orang lain harus memberikan ganti rugi. Sedangkan pada masalah hukum pidana, tolok ukur
yang dipergunakan adalah kesalahan berat. Oleh karena itu adanya kesalahan kecil (ringan)
pada pelaksanaan tindakan medis belum dapat dipakai sebagai tolok ukur untuk menjatuhkan
sanksi pidana.7
Aspek Hukum Perdata, suatu tindakan medis yang dilakukan oleh pelaksana jasa
tindakan medis (dokter) tanpa adanya persetujuan dari pihak pengguna jasa tindakan medis
(pasien), sedangkan pasien dalam keadaan sadar penuh dan mampu memberikan persetujuan,
maka dokter sebagai pelaksana tindakan medis dapat dipersalahkan dan digugat telah
melakukan suatu perbuatan melawan hukum (onrechtmatige daad) berdasarkan Pasal 1365
10

Kitab Undang-undang Hukum Perdata (KUHPer). Hal ini karena pasien mempunyai hak atas
tubuhnya, sehingga dokter dan harus menghormatinya;Aspek Hukum Pidana, informed
consent mutlak harus dipenuhi dengan adanya pasal 351 Kitab Undang-Undang Hukum
Pidana (KUHP) tentang penganiayaan. Suatu tindakan invasive (misalnya pembedahan,
tindakan radiology invasive) yang dilakukan pelaksana jasa tindakan medis tanpa adanya izin
dari pihak pasien, maka pelaksana jasa tindakan medis dapat dituntut telah melakukan tindak
pidana penganiayaan yaitu telah melakukan pelanggaran terhadap Pasal 351 KUHP.
Sebagai salah satu pelaksana jasa tindakan medis dokter harus menyadari bahwa informed
consent benar-benar dapat menjamin terlaksananya hubungan hukum antara pihak pasien
dengan dokter, atas dasar saling memenuhi hak dan kewajiban masing-masing pihak yang
seimbang dan dapat dipertanggungjawabkan. Masih banyak seluk beluk dari informed
consent ini sifatnya relative, misalnya tidak mudah untuk menentukan apakah suatu inforamsi
sudah atau belum cukup diberikan oleh dokter. Hal tersebut sulit untuk ditetapkan secara pasti
dan dasar teoritis-yuridisnya juga belum mantap, sehingga diperlukan pengkajian yang lebih
mendalam lagi terhadap masalah hukum yang berkenaan dengan informed consent ini.2,4
Rahasia Kedokteran
Rahasia kedokteran adalah suatu norma yang secara tradisional dianggap sebagai
norma dasar yang melindungu hubungan dokter dan pasien. Sesuai dengan sumpah dokter,
kode etik kedokteran internasional, dan peraturan oemerintah no.10 tahun 1966 yang
mengatur kewajiban simpan rahasia kedokteran oleh seluruh tenaga kesehatan. Namun dalam
PP ini diberikan pengecualian apaiba terdapat Peraturan Perundang-undangan (PP) yang
sederajat atau lebih tinggi (UU), dalam pasal 48 ayat (2):5

Untuk kepentingan kesehatan pasien


Untuk memenuhi permintaan aparat penegak hukum dalam rangka penegakan hukum
Permintaan pasien sendiri
Berdasarkan ketentuan undang-undang

Peraturan lain yang membenarkan pembukaan rahasia kedokteran antara lain adalah
ketentuan pasal 50 KUHAP, pasal 51 KUHAP, pasal 48 KUHAP, dan pasal 49 KUHAP.
Dalam permenkes no.749a, rekam medis boleh dibuka untuk pendidikan dan penelitian.
Dalam kaitannya dengan keadaan memaksa, dikenal dua keadaan yaitu:5
1. Overmacth: pengaruh daya paksa yang memadai
2. Noodtoeestand: keadaan yang memaksa
Dapat diakibatkan pertentangan antara dua kepentingan hukum, pertentangan antara
kepentingan hukum dan kewajiban hukum, dan pertentangan antara dua kewajiban
11

hukum. Salah satu contoh noodtoestand adalah kasus dokter yang menemukan child
abuse yang berat dan dicurigai akan bertambah parah dihari kemudian.
Untuk memahami rahasia jabatan ditilik dari sudut hukum,tingkah laku seorang
dokter dibagi menjadi 2 jenis :
1. Tingkah laku yang bersangkutann dalam pekerjaan sehari-hari
Dalam hal ini yang harus diperhatikan ialah :
a. Pasal 322 KUHP yang berbunyi :
(1) Barang siapa dengan sengaja membuka suatu rahasia, yang menurut jabatan
atau pekerjaannya, baik yang sekarang maupun yang dahulu ia diwajibkan
untuk menyimpannya, dihukum dengan pidana perkara paling lama sembilan
bulan atau denda paling banyak sembilan ribu rupiah
(2) Jika kejahatan itu dilakukan terhadap seorang yang tertentu,maka perbuatan itu
hanya dituntut atas pengaduan orang tersebut.
2. Tingkah laku dalam keadaan khusus
Menurut hukum, setiap warga Negara dapat dipanggil oleh pengadilan untuk didengar
sebagai saksi. Selain itu, seorang yang mempunyai keahlian dapat dipanggil sebagai
ahli. Dengan demikian, dapatlah terjadi, bahwa seorang yang mempunyai keahlian,
umpamanya seorang dokter, dipanggil sebagai saksi, sebagai ahli sekaligus sebagai
saksi ahli.3
Sebagai saksi atau saksi ahli mungkin sekali ia diharuskan memberi keterangan
tentang seorang yang sebelum itu telah menjadi pasien yang diobatinya. Ini berarti ia
seolah-olah diharuskan melanggar rahasia pekerjaannya. Kejadian ini bertentangan
dan dapat dihindarkan karena adanya hak undur diri seperti yang tercantum dalam
pasal 277 reglemen Indonesia yang diperbaharui, bunyinya :
(1) Barang siapa yang martabatnya, pekerjaannya atau jabatannya yang sah,
diwajibkan menyimpan rahasia, boleh minta mengundurkan ddari memberi
penyaksian, akan tetapi hanya dan terutama mengenai hal yang diketahuinya
dan dipercayakan kepadanya karena martabatnya, pekerjaannya atau
jabatannya itu.
Dalam pasal 48 undang-undang No 29 tahun 2004 tentang praktik kedokteran
pada paragraph 4 mengenai rahasia kedokteran, dinyatakan bahwa setiap dokter atau
dokter gigi dalam melaksanakan praktik kedokteran wajib menyimpang rahasia
kedokteran. Rahasia kedokteran dapat dibuka hanya untuk kepentingan pasien,
memenuhi permintaan aparatur penegak hukum dalam rangka penegakan hukumn
permintaan pasien sendiri atau berdasarkan ketentuan undang-undang.3
12

Kewajiban seorang dokter untuk menyimpan rahasia kedokteran telah diatur dalam,4
A.

PP.No.10 tahun 1966.


1. Pasal 1 PP No 10/1966. Yang dimaksud dengan rahasia kedokteran ialah segala
sesuatu yang diketahui oleh orang-orang tersebut dalam pasal 3 pada waktu atau
selama melakukan pekerjaannya dalam lapangan kedokteran.
2. Pasal 2 PP No 10/1966. Pengetahuan tersebut pasal 1 harus dirahasiakan oleh orangorang yang tersebut dalam pasal 3, kecuali apabila sautu peraturan lain yang sederajat
atau lebih tinggi dari pada PP ini menentukan lain.
3. Pasal 3 PP No 10/1966. Yang diwajibkan menyimpan rahasia yang dimaksud dalam
pasal 1 ialah:
a. Tenaga kesehatan menurut pasal 2 UU tentang tenaga kesehatan
b. Mahasiswa kedokteran, murid yang bertugas dalam lapangan pemeriksan,
pengobatan dan atau perawatan dan orang lain yang ditetapkan oleh menteri
kesehatan.
4. Pasal 4 PP No/1966. Terhadap pelanggaran ketentuan mengenai wajib simpan rahasia
yang tidak atau dapat dipidana menurut pasal 322 atau pasal 112 KUHP, menteri
kesehatan dapat melakukan tindakan administratif berdasakan pasal UU tentang
tenaga kesehatan.
5. Pasal 5 PP No 10/1966. Apabila pelanggaran yang dimaksud dalam pasal 4 dilakukan
oleh mereka yang disebut dalam pasal 3 huruf b, maka menteri kesehatan dapat
mengambil tindakan-tindakan berdasarkan wewenang dan kebijaksanaannya.

B.

Kode Etik Kedokteran Indonesia (KODEKI)6


1. Pasal 7c. Seorang dokter harus menghormati hak-hak pasien, hak-hak sejawatnya, dan
hak tenaga kesehatan lainnya, dan harus menjaga kepercayaan pasien.
2. Pasal 12. Setiap dokter wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang
seorang pasien, bahkan juga setelah pasien itu meninggal dunia.

Pada dasarnya rahasia kedokteran harus tetap disimpan walaupun pasien tersebut telah
meninggal. Rahasia kedokteran ini begitu dijunjung tinggi dalam masyarakat, sehingga
walaupun dalam pengadilan meminta seorang dokter untuk membuka rahasia kedokteran,
seorang dokter memiliki hak tolak (verschoningsrecht). Hak ini telah diatur dalam pasal 170
KUHAP, yang menentukan bahwa mereka yang diwajibkan menyimpan rahasia
pekerjaan/jabatan dapat minta dibebaskan dari kewajiban untuk memberi keterangan sebagai
saksi. Namun ayat kedua dari pasal 170 KUHAP tersebut membatasi hak tolak sesuai dengan
13

pertimbangan hakim. Hal ini tentunya diterapkan bila kepentingan yang dilindungi
pengadilan lebih tinggi dari rahasia kedokteran.2
Penatalaksanaan
Gonorrhea atau di kalangan masyarakat umum dikenal dengan nama GO adalah
penyakit menular seksual yang disebabkan oleh bakteri Neisseria gonorrhea. Penyakit ini
terutama menyerang mereka yang sering bergonta ganti pasangan seksual. Karena sifat
penularannya yang mudah dan cepat, maka seorang pengidap GO sudah mampu menularkan
penyakitnya hanya dengan sekali berhubungan seksual.
Gonorrhea adalah sebuah penyakit infeksi yang disebabkan oleh Neisseria gonorrhea
yang penularannya melalui hubungan kelamin baik melalui genito-genital, oro-genital, anogenital. Bakteri ini dapat hidup dan mudah berkembang dengan cepat di dalam saluran
pembiakan / peranakan seperti pangkal rahim (cervix), rahim (uterus), dan tuba fallopi
(saluran telur) bagi wanita dan juga saluran kencing (urine canal) bagi wanita dan lelaki.
Sehingga pada laki-laki gejalanya adalah kencing bernanah sedangkan pada wanita seringkali
tidak bergejala karena letak rahim yang di dalam.8

Gejala GO
Pada wanita, GO tidak menimbulkan gejala apapun sehingga sering luput dari
diagnosa dokter. Hal ini menyebabkan seorang wanita pengidap GO tidak menyadari
dirinya terinfeksi lalu menularkannya ke orang lain. Sebaliknya pada laki laki, GO
dapat menimbulkan gejala yang sangat hebat seperti rasa terbakar pada saat kencing,
gangguan frekuensi kencing dan keluar nanah dari ujung penis. Bila GO tidak
tertangani dengan baik maka pada laki laki dapat menimbulkan peradangan pada
pabrik sperma berupa epididymitis dan orchitis. GO juga sering menimbulkan gejala
sistemik seperti rasa nyeri pada persendian, demam, bercak bercak pada kulit dan lain
lain.
Gejala GO juga bisa mengenai tenggorokan (faringitis) terutama bagi mereka
yang gemar melakukan oral seks. Gejala pada anus juga bisa terjadi bila hubungan
seksual dilakukan secara anal.

14

Gejala GO pada laki laki akan timbul sekitar 4 sampai 8 hari setelah
melakukan kontak seksual dengan penderita GO, walaupun terkadang pada beberapa
kasus memerlukan waktu yang lebih panjang dari itu.

Mendiagnosa GO
Gonorrhea dapat dengan mudah didiagnosa dengan melakukan pemeriksaan
mikroskopis pada lendir atau nanah yang keluar dari penis. GO juga bisa didiagnosa
dari biakan lendir yang berasal dari saluran kencing, anus atau tenggorokan. Pada
pasien dengan gejala sistemik seperti nyeri pada sendi atau gejala pada kulit, kuman
GO bisa dibiakan dari bahan darah. Saat ini beberapa metode tes diagnostik secara
cepat sudah banyak dikembangkan sehingga waktu yang dibutuhkan untuk
mendiagnosa GO menjadi lebih singkat.

Pengobatan GO
Pengobatan GO tanpa komplikasi, cukup dengan sekali suntikan ceftriakson
125mg. Sayangnya saat ini sudah banyak strain kuman GO yang resisten atau kebal
terhadap beberapa jenis antibiotika. Beberapa antibiotika alternatif yang bisa menjadi
pilihan adalah Cefixime 400mg, Ciprofloxacin 500mg, Ofloxacin 400mg, dan
Levofloxacin 250mg yang diberikan dengan dosis tertentu setiap hari. Pengobatan GO
sebaiknya dalam pengawasan dokter agar pengobatan berlangsung dengan tepat untuk
mencegah terjadinya resistensi kuman.

Edukasi
Bila kebetulan yang menderita GO adalah pasangan suami istri dan selama
menderita GO mereka melakukan hubungan seksual aktif maka keduanya harus
berobat meskipun sang istri tidak menimbulkan gejala apapun. Hal ini untuk
mencegah terjadinya fenomena pingpong yaitu bila hanya suami yang diobati maka
ia akan dapat tertular kembali oleh istrinya demikian sebaliknya.

KESIMPULAN
15

Seorang pasien laki-laki yang datang ke praktek dokter keluarganya mengeluh dua
hari terakhir bahwa alat kemaluannya mengeluarkan nanah dan terasa nyeri,yang
didapatkan nya akibat perselingkuhan dengan wanita lain,pasien tidak ingin diketahui
istrinya tahu, karena bisa terjadi pertengkaran diantara keduanya,disini dokter tahu bahwa
mengobati penyakit tersebut pada pasien ini tidaklah sulit,tetapi oleh karena ia telah
berhubungan juga dengan istrinya maka mungkin istrinya juga sudah tertular.Istrinya juga
harus diobati.
Disini yang harus dijaga oleh seorang dokter adalah untuk tetap menjaga rahasia
kedokteran ialah pertama-tama dokter harus menjelaskan kepada pasien bahwa
pengobatan penyakit tersebut sebenarnya tidak sulit, tetapi karena ia telah berhubungan
juga dengan istrinya, maka kemungkinan istrinya juga sudah tertular dan harus diobati.
Dokter juga menjelaskan adanya kemungkinan-kemungkinan dimana AIDS bisa saja
tertular melalui hubungan seksual yang tidak sehat,karena dokter memegang prinsip
rahasia kedokteran pasien, maka dokter tidak boleh membocorkan apapun yang dialami
pasien kepada siapapun termasuk kepada sang istri.Dokter seharusnya hanya bisa
menyarankan agar pasien berusaha jujur dan bertanggung jawab atas apa yang dilakukan
nya,tetapi semua keputusan tetap di tangan pasien tersebut,karena dokter tidak bisa
memaksa sesuai hak Autonomy seorang pasien dan sesuai rahasia jabatan kedokteran.

DAFTAR PUSTAKA
1. Sampurna B, Syamsu Z, Siswaja TD. Bioetik dan hukum kedokteran pengantar bagi
mahasiswa kedokteran dan hukum. Pustaka Dwipar; Jakarta: 2007. h. 8-12,30-32,535,62-7,77-9
2. Budiyanto arif,Widiatmaka Wibisana,dkk .Peraturan Perundang-Undangan Bidang
Kedokteran edisi 2. Jakarta : Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia;1994 h 20-36
3. Peraturan

perundang-undangan

bidang

kedokteran.

cetakan

kedua.

Bagian

Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta; 1994, hal


17
4. Kode

Etik

Kedokteran.

http://www.ilunifk83.com/t130-kode-etik-kedokteran-

indonesia. 18 Januari 2009. Diunduh 8 Januari 2014.

16

5. Samil, Suprapti R. Etika kedokteran indonesia. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka


Sarwono Prawirohardjo, 2001.
6. Rekam
Medis dan

Informed

Consent.

http://repository.ui.ac.id/contents/koleksi/11/b6fa37a62692182ad455b08bac8ac3d8bc
639f55.pdf. 27 April 2009. Diunduh 8 Januari 2014.
7. Majelis Kehormatan Etik Kedokteran Indonesia Ikatan Dokter Indonesia. dikti.go.id.
2006. Diunduh 8 Januari 2014.
8. Centers for Disease Control and Prevention. Sexual Transmitted Disease Gonorrhea.
Edisi 2010. Diunduh dari http://www.cdc.gov/std/gonorrhea/stdfact-gonorrhea.htm, 8
Januari 2014.

17