Anda di halaman 1dari 14

NAMA : ANGGITA PATRA ALI

NPM
: H1AP09004
PENGUJI
: dr. ZULKI MAULUB
RITONGA, Sp. An

STATUS UJIAN
A.

B.

IDENTITAS
Nama pasien
: An. Cat
Nomor MR
: 69.24.18
Jenis kelamin
: Perempuan
Usia
: 7 tahun
Pekerjaan : Pelajar
Alamat
: Ulu Talo, Seluma
Agama
: Islam
Diagnosa : Tonsilitis Kronis
Tindakan : Tonsilektomi
ANAMNESA
Keluhan Utama
(Diperoleh melalui autoanamnesis pada tanggal 6 Juli 2015)
Nyeri menelan sejak 3 bulan yang lalu.
Riwayat Penyakit Sekarang
Sejak 3 bulan yang lalu, pasien mengeluhkan nyeri saat menelan. Nyeri menelan
dirasakan saat makan baik makanan keras maupun makanan lunak. Keluhan juga disertai
demam. Pasien juga mengorok saat tidur dan kadang terbangun dari tidur mendadak
karena sulit bernafas. Pasien juga sering mengalami batuk pilek yang hilang timbul.
Dalam sebulan keluhan bisa muncul hingga 2 kali. Keluhan juga timbul bila pasien
mengkonsumsi makanan berminyak dan minuman dingin. Pasien sudah berobat ke dokter
dan penyakit diketahui sebagai radang amandel namun keluhan tetap hilang timbul.
Riwayat Penyakit Dahulu
Tidak ada keluhan yang sama yang pernah dirasakan pasien. Riwayat penyakit
hipertensi dan asma disangkal oleh pasien. Pasien tidak memiliki riwayat alergi makanan
ataupun obat.
Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak ada riwayat penyakit keluarga yang berhubungan dengan keluhan yang
dialami pasien.
Riwayat Sosial
Pasien merupakan seorang pelajar SD, tinggal bersama orang tua. Sering jajan
makanan dan minuman diluar.

C. PEMERIKSAAN FISIK
(Diperiksa tanggal 6 Juli 2015)

Keadaan Umum
Keadaan Umum

: Tampak sakit sedang

Kesadaran

: Compos Mentis

Status Gizi

: BB : 25 kg; TB : 120 cm

Tanda Vital
Tekanan Darah

: 110/60 mmHg

Nadi

: 92x/menit

Pernafasan

: 22x/menit

Suhu

: 36,8oC

VAS Score

:5

Status Generalis
a. Kepala
Bentuk
Rambut
b. Wajah
Inspeksi
c. Mata
Konjungtiva
Sclera
Pupil
d. Telinga
Bentuk
e. Hidung
Bagian luar
Septum
f. Mulut dan Tenggorok
Bibir
Mukosa mulut
Tonsil
Faring
Mallampati score
Tiromental junction
Temporomandibular junc
g. Leher
Bendungan vena
Kelenjar tiroid
Trakea
JVP
KGB
h. Kulit
Warna
i. Thoraks
Paru
Inspeksi dan palpasi

: Normochepali, tidak ada deformitas


: Hitam, Tidak rontok
: Bentuk simetris, tidak pucat, dan tidak ikterik
: Tidak anemis
: Tidak ikterik
: Isokhor, reflek cahaya langsung +/+
Reflek cahaya tidak langsung +/+
Gerakan bola mata baik
: Dalam batas normal
: Normal, tidak terdapat deformitas
: Terletak di tengah dan simetris
: Normal, tidak pucat, tidak sianosis
: Normal, tidak hiperemis
: Hiperemis, T3-T3, permukaan tidak rata, kriptae
melebar
: Tidak hiperemis, arcus faring simetris, uvula ditengah
: II pilar faring (-) uvula (+) palatum mole (+)
: 7 cm
: baik
:
:
:
:
:

Tidak terdapat bendungan vena


Tidak membesar, mengikuti gerakan, simetris
Di tengah, deviasi (-)
(5-2) cmH2O
tidak membesar, tidak ada massa

: Kuning langsat, tidak pucat


: Bentuk dan gerak simetris kiri dan kanan

Auskultasi
Jantung
Auskultasi
j. Abdomen
Inspeksi
Palpasi

: suara nafas vesikuler, ronkhi -/-, wheezing -/: Dalam batas normal
: bunyi jantung 1 dan 2 reguler, murmur (-), gallop (-)
: abdomen simetris kiri dan kanan, datar, striae (-)
: Nyeri tekan daerah umbilikus dan hipogastrik, tidak

teraba massa, hepar dan lien tak teraba.


Perkusi
: timpani di semua regio abdomen
Auskultasi
: bising usus normal
k. Ekstremitas
Tidak tampak deformitas
Akral hangat pada keempat ekstremitas
Tidak terdapat udem pada keempat ekstremitas
D. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan laboratorium (tanggal 5 Juli 2015)
Hemoglobin

: 13,8 mg/dl

Hematokrit

: 40%

Leukosit

: 7300/ul

Trombosit

: 203.000/ul

Waktu perdarahan

: 115 menit

Waktu pembekuan

: 3,09 menit

GDS

: 99 mg %

Serologis
Anti HIV (-)
VDRL (-)
Urin
pH : 4.5-8
Berat Jenis : 1.003-1.030
Glukosa (-)
Protein (-)
Bilirubin (-)
Elektrolit Darah
Natrium 136-146 mmol/L
Kalium 3,5-5.0 mmol/L
E. DIAGNOSIS
Tonsilitis Kronis
F. KONSUL ANESTESI
Prinsip setuju tindakan anestesi, saran :
1. Puasa 6 jam pre op
2. Pasien ASA II

3. Cairan pre op Ringer Laktat


H. PRE-OPERATIF

Premedikasi
Premedikasi yang diberikan pada pasien yaitu Dexamethason 10 mg.
Cairan infus yang diberikan Ringer Laktat 1 kolf.
Tindakan sebelum premedikasi dilakukan:
Pasien diposisikan pada posisi supinasi
Memasang sensor finger pada ibu jari tangan pasien untuk monitoring SpO2.
Memasang manset pada lengan pasien untuk monitoring tekanan darah.
Memastikan cairan infus berjalan lancar.

I. DURANTE OPERATIF
a) Induksi anestesi
1. Persiapan alat dan mesin anestesi
Mempersiapkan mesin anestesi, monitor anestesi, face mask, tensi meter, saturasi

oksigen serta mengecek tabung O2, N2O, Isofluran, dan Sevofluran.


Mempersiapkan STATICS:
S = Scope. Stetoskop untuk mendengarkan suara paru dan jantung. Laringoskop.

Pilih bilah dan blade yang sesuai dengan usia pasien. Lampu harus cukup terang.
T = Tube. ETT(endotrakeal tube) ukuran 6,5
A = Airway. Orofaringeal Airway (guedel, orotracheal airway)
T = Tape. Plester untuk fiksasi eksterna.
I = Introducer. Mandrin atau stilet dari kawat yang mudah dibengkokkan untuk

pemandu supaya pipa trakea mudah dimasukkan.


- C = Connector. Penyambung antara pipa dan peralatan anestesi.
- S = Suctions. Penyedot ludah, lendir, dll.
2. Mempersiapkan obat anestesi yaitu :
- Pethidin 15 mg
- Propofol 50 mg
- Roculax (Rocuronium bromide) 15 mg
- Efedrin HCL
3. Waktu anestesi dan operasi
Jam anestesi mulai
: 08.45 WIB
Jam anestesi selesai : 09.45 WIB
Jam operasi mulai
: 09.00 WIB
Jam operasi selesai
: 09.30 WIB
b) Prosedur anestesi
General Anestesi dengan teknik intubasi
1. Masukkan obat-obat anestesi dengan cara bolus yaitu pethidin 15 mg, kemudian
propofol 50 mg, selanjutnya roculax 15 mg.
2. Periksa refleks bulu mata, jika refleks bulu mata ( - ), lakukan pemasangan face
mask. Dalamkan anestesi dengan menggunakan gas volatile yang poten yaitu
sevofluran 3 vol %, O2 2 L/ menit, N2O 1 L/ menit, selama 5-10 menit.
3. Obat rocuronium bekerja 3 menit, perhatikan pergerakan dinding dada simetris,
kemudian segera lakukan intubasi.
4. Teknik Intubasi

Lepaskan face mask, pegang laringoskop dengan menggunakan tangan kiri.


Masukan laringoskop dari sisi mulut bagian kanan geser ke kiri, sambil
menelusuri lidah pasien sampai pangkal lidah, terlihat epiglotis, di belakang
epiglotis tampak plica vocalis kemudian masukan segera NTT sampai batas garis

hitam pada NTT (22).


Lepaskan facemask, sambungkan ke NTT, sambil dipompa. Pastikan NTT sudah

masuk trakea dan periksa suara napas kanan = kiri dengan stetoskop.
Pompa balon 10 cc udara. Lakukan pemasangan guedel.
Selanjutnya fiksasi eksterna NTT dengan plester. Hubungkan connector dengan

mesin anestesi.
Pompa balon 12x/menit, dengan volume tidal sekitar 300-400 cc, hingga pasien

5.

bernafas spontan.
Teknik Ektubasi
Memastikan pasien telah bernapas secara spontan
Melakukan suction pada airway pasien
Menutup isofluran dan N2O, meninggikan O2 sampai 4-6 L/ menit
Mengempiskan balon, memastikan bahwa pasien sudah bangun dengan
memberikan rangsangan taktil, melepaskan plester, dan NTT. Segera pasang face

mask dan pastikan airway nya lancar dengan triple manuver.


Setelah pasien benar benar terbangun, lepaskan guedel lalu pindahkan pasien ke

ruang recovery room.


c) Monitoring anestesi

Perhitungan Terapi Cairan:

Cairan pengganti puasa

: 90 ml x 9 jam = 810 cc

Maintenance

: 2 ml x 25 kg = 50 cc

Stress operasi

: 4 x 25 kg = 100 cc

EBV

: 75 x 25 kg = 1875 cc

Perdarahan:

Tabung suction

: 100 cc

Kassa kecil

: 6 x 10 cc = 60 cc

Perkiraan total perdarahan : 160 cc

Volume urin

IWL : 15 x 25 kg / 24 jam = 375/24 jam = 15,625/ jam = 16 cc/jam

: 150 cc

Cara Pemberian:

Jam I : (50 % x 810) + 50 + 100 = 555 cc


Perhitungan balance cairan:

Input

Output : Urin + IWL + perdarahan = 150 cc + 16 cc + 160 cc = 342 cc

Balance cairan = + 213 cc

: 555 cc 1 kolf RL

J. POST OPERATIF
Keadaan pasca operasi :
Ketorolak 30 mg drip dalam RL 500 cc
Asam Traneksamat 250 mg drip dalam RL 500 cc
Aldrete score
: 9 (layak ditransport ke ruang perawatan)
Warna kulit
: Normal (2)
Motorik
: Gerak 2 anggota tubuh (1)
Pernapasan
: Spontan (2)
Tekanan darah
: 20 mmHg dari pre op (2)
Kesadaran
: Sadar penuh mudah dipanggil (2)
Tekanan darah
: 110/70 mmHg
Nadi
: 92 kali per menit
Suhu
: Afebris
Pupil

: Isokor

i. Preoperatif
Penilaian pertama pada preoperatif adalah riwayat kesehatan pasien. Tanyakan kepada
pasien riwayat operasi dan anestesi yang terdahulu dan penyakit serius yang pernah dialami. 1
1 Latief, SA, Suryadi, KA, Dachlan, MR. 2001. Penuntun Praktis Anestesi. Jakarta : Bagian
Anestesiologi dan Terapi Intensif FKUI

Tujuan dari preoperatif adalah melakukan identifikasi kondisi yang tidak terduga yang
mungkin memerlukan terapi sebelum operasi atau perubahan dalam penatalaksanaan operasi
atau anestesia perioperatif, menilai penyakit yang sudah diketahui sebelumnya, kelainan,
terapi medis atau alternatif yang dapat mempengaruhi anestesia perioperatif, memperkirakan
komplikasi pascabedah, dan sebagai dasar pertimbangan untuk referensi berikutnya. 2 Selain
itu, dengan mengetahui keadaan pasien secara keseluruhan, dokter anestesi bisa menentukan
cara anestesi dan pilihan obat yang tepat pada pasien. Kunjungan preoperasi pada pasien juga
bisa menghindari kejadian salah identitas dan salah operasi.
Evaluasi harus dilengkapi dengan klasifikasi status fisik pasien berdasarkan skala The
American Society of Anaesteshesiologist (ASA) yaitu:3

Selanjutnya dokter anestesi harus menjelaskan dan mendiskusikan kepada pasien


tentang manajemen anestesi yang akan dilakukan, hal ini tercermin dalam informed consent.
Anamnesis bisa dimulai dengan menanyakan adakah riwayat alergi terhadap makanan
dan obat-obatan, riwayat DM, riwayat asma, riwayat hipertensi, riwayat penyakit sekarang,
riwayat penyakit dahulu, juga riwayat operasi dan anestesi sebelumnya yang bisa
menunjukkan kemungkinan komplikasi anestesi.
Pemeriksaan fisik yang dilakukan pada pasien yang sehat dan asimtomatik setidaknya
meliputi tanda-tanda vital (tekanan darah, heart rate, respirasi, suhu) dan pemeriksaan airway,
jantung, paru-paru, neurologis, dan sistem muskuloskeletal. Pemeriksaan airway juga sangat
penting. Pemeriksaan gigi geligi, tindakan buka mulut, lidah relatif besar, leher pendek dan
kaku sangat penting untuk diketahui apakah akan menyulitkan dalam melakukan intubasi.

2 The Association of Anaesthetists of Great Britain and Ireland. 2007. Recommendations For
Standards Of Monitoring During Anaesthesia And Recovery
3 Barash P.G, Cullen B.F, Stoelting R.K. Clinical Anesthesia 5thed. Lippincott Williams & Wilkins

Pemeriksaan penunjang laboratorium rutin seperti pemeriksaan kadar hematokrit,


hemoglobin, leukosit, trombosit, urinalisis, ureum, kreatinin, EKG, dan foto polos thoraks
pada pasien.
Hal penting lainnya pada kunjungan pre operasi adalah informed consent yang tertulis
mempunyai aspek medikolegal yang dapat melindungi dokter bila ada tuntutan. Dalam proses
informed consent perlu dipastikan bahwa pasien mendapatkan informasi yang cukup tentang
prosedur yang akan dilakukan dan resikonya. Tujuan kunjungan pre operasi bukan hanya
untuk mengumpulkan informasi yang penting, tetapi juga membantu membentuk hubungan
dokter-pasien. Bahkan pada interview yang dilakukan secara empatis dan menjawab
pertanyaan penting serta membiarkan pasien tahu tentang harapan operasi menunjukkan hal
tersebut setidaknya dapat membantu mengurangi kecemasan yang dirasakan pasien.4

Penilaian Tampakan Faring dengan Skor Mallampati


Skor Mallampati digunakan untuk memprediksi kemudahan intubasi. Hal ini
ditentukan dengan melihat anatomi rongga mulut didasarkan pada visibilitas dasar uvula,
pilar faring dan palatum molle.
Klasifikasi tampakan faring pada saat mulut terbuka maksimal dan lidah dijulurkan
Gradasi
Pilar faring
Uvula
1
+
+
2
+
3
4
maksimal menurut Mallampati dibagi menjadi 4 grade, yaitu:
Penampakan faring pada tes Mallampati

4 Miller RD. Anesthesia. 5th ed Churcill Livingstone. Philadelphia 2000.

Palatum molle
+
+
+
-

Premedikasi anestesi
Premedikasi ialah pemberian obat 1-2 jam sebelum induksi anestesi dengan tujuan
untuk melancarkan induksi, rumatan dan bangun dari anesthesia diantaranya yaitu:2
1. Meredakan kecemasan dan ketakutan

2.
3.
4.
5.
6.

Memperlancar induksi anesthesia


Mengurangi sekresi kelenjar ludah dan bronkus
Meminimalkan jumlah obat anestetik
Mengurangi mual muntah pasca bedah
Mengurangi efek yang membahayakan
Premedikasi yang diberikan pada pasien yaitu Dexamethasone 10 mg

untuk mengurangi efek yang membahayakan.2


ii. Durante Operatif
1. Induksi Anestesi2
Teknik Pemasangan intubasi trakea sebagai general anestesi
a. Dalamkan anestesi dengan menggunakan gas volatile yang poten selama
5-10 menit.
b. Berikan opioid (fentanil 2,5-5 mikrogram/kgbb, alfentanil 15-25
mikrogram/kgbb, sufentanil 0,25-0,5 mikrogram/kgbb, atau ramifentanil
0,5-1 mikrogram/kgbb).
c. Berikan lidokain 1,5 mg/kgbb intravena atau intratrakea.
d. Menggunakan beta-adrenergik blockade dengan esmolol

0,3-1,5

mg/kgbb, propanolol 1-3 mg, atau labetatol 5-20 mg).


e. Menggunakan anestesia topikal pada airway.
Penggunaan induksi pertama dengan propofol. Dosis profopol adalah
1-2 mg/kgBB sehingga dosis yang dibutuhkan pada pasien 100 mg (BB =
50kg). Propofol dikemas dalam cairan emulsi lemak berwarna putih susu
bersifat isotonik dengan kepekatan 1%. Propofol mengurangi aliran darah
otak, tekanan intracranial dan kecepatan metabolik otak. Efek hipnotik
sedative propofol menyebabkan pemulihan lebih cepat dan jarang terdapat
mual dan muntah. Onset of action dari propofol adalah 1 menit dan durasi of
action 5-10 menit.5
Analgetik yang diberikan pada pasien ini adalah fentanyl 100 g.
dosisnya adalah 2-5 g /kgBB. Turunan fenilperidin ini merupakan agonis
opioid poten. Sebagai suatu analgesik, fentanil 25-125 kali lebih poten
dibandinngkan morfin. Awitan yang cepat dan lama aksi yang singkat
mencerminkan kelarutan lipid yang lebih besar dibandingkan morfin.
Stabilitas kardiovaskular dapat dipertahankan walaupun dalam dosis besar
saat digunakan sebagai anetesi tunggal. Waktu pemberian fentanil 30 detik,
5 Omoigui, Sota. 2012. Obat-Obatan Anestesi Edisi II. Jakarta : EGC

onset of action 5-15 menit, durasi of action 30-60 menit. Pada pasien yang
secara hemodinamik stabil, analgesic dapat diberikan 2-4 menit sebelum
laringoskopi untuk memperlemah respon presor terhadap intubasi.6
Teknik anestesi yang dipilih adalah intubasi dengan endotrakeal tube
karena diperkirakan operasi akan berlangsung lama (lebih dari 1 jam) dan
agar lebih mudah mengontrol pernafasan diberikan muscle relaxant, karena
obat ini sangat membantu dalam pelaksanaan general anestesi serta
memudahkan untuk melakukan tindakan intubasi trakea. Muscle relaxant
yang diberikan yaitu Roculax (rocuronium bromide) 25 mg, dosisnya adalah
0,3 0,5 mg/ kgbb. Sehingga yang dibutuhkan dengan berat badan 50 kg
adalah 25 mg. Rocuronium merupakan obat pemblokir neuromuskular
nondepolarisasi steroid dengan lama aksi serupa dengan vekoronium yaitu
15-150 menit. Tidak ada perubahan yang secara klinis bermakna dalam
parameter hemodinamik. Awitan aksi rocuronium yaitu 45-90 detik, efek
puncaknya 1-3 menit.7
Pada general anestesi dibutuhkan kadar obat anestesi yang adekuat
yang bisa dicapai dengan cepat di otak dan perlu dipertahankan kadarnya
selama waktu yang dibutuhkan untuk operasi. Hal ini merupakan konsep yang
sama baik pada anestesi yang dicapai dengan anestesi inhalasi, obat intravena,
atau keduanya. Pada kasus ini maintenance anestesi diberikan dengan anestesi
inhalasi. Obat anestesi inhalasi yang dipakai adalah sevofluran 2 vol %.
Terapi cairan intravena dapat terdiri dari infus kristaloid, koloid, atau
kombinasi keduanya. Cairan yang paling umum digunakan adalah larutan
Ringer laktat. Ringer laktat umumnya memiliki efek yang paling sedikit pada
komposisi cairan ekstraseluler dan menjadi cairan yang paling fisiologis
ketika volume besar diperlukan. Kehilangan darah selama durante operasi
biasanya digantikan dengan cairan kristaloid sebanyak 3 hingga empat kali
jumlah volume darah yang hilang.
2. Prosedur Anestesi

6 Syamsuhidayat, R dan Wim, de Jong. 2004.Buku Ajar Ilmu Bedah.Jakarta:EGC


7 Wallace MC, Haddadin AS. Systemic and pulmonary arterial hypertension. In: Hines RL, Marschall KE,
editors. Stoeltings anesthesia and co-existing disease. 5th ed. Philadelphia: Elsevier; 2008.p.87-102.

Anestesi umum (general anestesi) atau bius total disebut juga dengan
nama narkose umum (NU). Anestesi umum adalah meniadakan nyeri secara
sentral disertai hilangnya kesadaran yang bersifat reversibel. Anestesi umum
biasanya dimanfaatkan untuk tindakan operasi besar yang memerlukan
ketenangan pasien dan waktu pengerjaan lebih panjang.Cara kerja anestesi
umum selain menghilangkan rasa nyeri, menghilangkan kesadaran, dan
membuat amnesia, juga merelaksasi seluruh otot. Maka, selama penggunaan
anestesi juga diperlukan alat bantu nafas, selain deteksi jantung untuk
meminimalisasi kegagalan organ vital melakukan fungsinya selama operasi
dilakukan.
Tindakan yang dilakukan pada pasien ini menggunakan general
anestesi dengan teknik intubasi trakea. Intubasi trakes adalah tindakan
memasukkan pipa trakea ke dalam trakea antara pita suara dan bifurkasio
trakea. Indikasi intubasi trakea adalah :
a. Menjaga patensi jalan nafas oleh sebab apapun.
b. Mempermudah ventilasi positif dan oksigenasi
c. Pencegahan terhadap aspirasi dan regurgitasi.
Sedangkan kesulitan dalam melaksanakan intubasi yaitu, leher pendek
berotot, mandibula menonjol, maksila/gigi depan menonjol, uvula tak terlihat
(mallampati score 3 atau 4), gerak sendi temporomandibular terbatas, gerak
vertebra servikal terbatas.
Adapun komplikasi selama pelaksaaan intubasi yaitu trauma gigi
geligi, laserasi bibir, gusi, laring, merangsang saraf simpatis, intubasi
bronkus, intubasi esophagus, aspirasi, dan spasme bronkus.
3. Monitoring Anestesi
Mempertahankan

kestabilan

hemodinamik

selama

periode

intraoperatif adalah sama pentingnya dengan pengontrolan hipertensi pada


periode preoperatif. Pada hipertensi kronis akan menyebabkan pergeseran
kekanan autoregulasi dari serebral dan ginjal. Sehingga pada penderita
hipertensi ini akan mudah terjadi penurunan aliran darah serebral dan iskemia
serebral jika TD diturunkan secara tiba-tiba. Terapi jangka panjang dengan
obat antihipertensi akan menggeser kembali kurva autregulasi kekiri kembali

ke normal. Karena kita tidak bisa mengukur autoregulasi serebral sehingga


ada beberapa acuan yang sebaiknya diperhatikan, yaitu:8
- Penurunan MAP sampai dengan 25% adalah batas bawah yang maksimal
-

yang dianjurkan untuk penderita hipertensi.


Penurunan MAP sebesar 55% akan menyebabkan timbulnya gejala
hipoperfusi otak.
Terapi dengan antihipertensi secara signifikan menurunkan angka

kejadian stroke. Pengaruh hipertensi kronis terhadap autoregulasi ginjal,


kurang lebih sama dengan yang terjadi pada serebral. Anestesia aman jika
dipertahankan dengan berbagai teknik tapi dengan memperhatikan kestabilan
hemodinamik yang kita inginkan. Anestesia dengan volatile (tunggal atau
dikombinasikan dengan N2O), anestesia imbang (balance anesthesia) dengan
analgetik + N2O + pelumpuh otot, atau anestesia total intravena bias
digunakan untuk pemeliharaan anestesia. EKG diperlukan untuk mendeteksi
terjadinya iskemia jantung. Produksi urine diperlukan terutama untuk
penderita yang mengalami masalah dengan ginjal, dengan pemasangan
kateter urine, untuk operasi-operasi yang lebih dari 2 jam.
Salah satu tugas utama dokter anestesi adalah menjaga pasien yang
dianestesi selama operasi. Parameter yang biasanya digunakan untuk monitor
pasien selama anestesi adalah:
1.
2.
3.
4.

Frekuensi nafas, kedalaman dan karakter


Heart rate, nadi, dan tekanan darah
Warna membran mukosa, dan capillary refill time
Kedalaman / stadium anestesi (tonus rahang, posisi mata, aktivitas reflek

palpebra)
5. Kadar aliran oksigen dan obat anestesi inhalasi
6. Pulse oximetry: saturasi oksigen, suhu.
Pada kasus ini selama proses anestesi, saturasi oksigen pasien tidak
pernah < 95%, tekanan darah pasien dalam batas normal (S 95-110, D 60-70).
iii. Post-Operatif
Pada post operatif, diberikan obat analgetik berupa novaldo (metamizole
sodium) 1000 mg di drip RL 1 kolf.
8 Neligan P. Hypertension and anesthesia; Available at: http:// www. 4um.com/
tutorial/anaesthbp.htm. Accessed Aug 16th 2007.

Aldrete scoring
No
1.

KRITERIA
Warna Kulit

SCORE
2

2.

a. Kemerahan / normal
b. Pucat
c. Sianonis
Aktifitas Monorik
a. Gerak 4 anggota tubuh
b. Gerak 2 anggota tubuh
c. Tidak ada gerakan

1
0
2
1
0

3.

Pernafasan
a. Nafas dalam, batuk, dan tangis kuat
b. Nafas dalam dan adekuat
c. Apnea atau nafas tidak adekuat

2
1
0

4.

Tekanan Darah
a. 20 mmHg dari preoperasi
b. 20-50 mmHg dari preoperasi
c. +50 mmHg dari preoperasi

2
1
0

5.

Kesadaran
a. Sadar penuh mudah dipanggil
b. Bangun jika dipanggil
c. Tidak ada respon

2
1
0

Ket :
a. Pasien dapat pindah ke bangsal, jika score
minimal 8 pasien
b. Pasien dipindah ke ICU, jika score < 8 setelah
dirawat selama 2 jam
Aldrete score pada pasien ini yaitu 9 (layak dibawa keruang perawatan).
a.
b.
c.
d.

Warna kulit : normal (2)


Motorik
Pernafasan
Tekanan darah
e. Kesadaran

: gerak 2 anggota tubuh (2)


: spontan (2)
: 20 mmHg dari pre op (2)
: sadar penuh mudah dipanggil (2)

Beri Nilai